Friendship Story : Love is an Adventure

FS-cover

Friendship Story: Love is an Adventure

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Ahn Sungyoung
  • Park Chanyeol

Other Cast :

  • Kim Myungsoo
  • Kim Jongdae

Genre : Romance, friendship, adventure.

Rating : PG-13.

Length : Vignette.

Note : Ide tercipta setelah baca FF uchi, ini sedikit sambungan dari FF dia yang sebelumnya (It’s over, Game Over). Kemaren fokus sama Myungsoo (karena sesuai judul itu buat Myungsoo), sekarang aku bikin dari view Minri-Baekhyun juga Sungyoung-Chanyeol. ENJOOOY!!

a-d-v-e-n-t-u-r-e

Para pendaki yang penuh semangat itu terus mendaki. Mereka tidak akan berhenti sebelum mencapai puncak. Terutama Sungyoung–yang tidak ingin menjadikan insiden dirinya terbawa arus menjadi penghalang untuk yang lain. Justru insiden tadi dapat dijadikan pelajaran agar mereka lebih berhati-hati.

Baekhyun melirik curiga pada Minri yang sejak beberapa menit lalu tampak kesakitan—meskipun gadis itu berusaha menyembunyikan. Lelaki itu sama sekali tidak menemukan alasan gadis itu meringis. Dan jika Baekhyun bertanya, Baekhyun tidak yakin gadis itu akan menjawab dengan jujur. Bukan berarti gadis itu pembohong, hanya saja Minri bukan tipikal gadis pengeluh.

“Berhenti menatapku seolah-olah aku mencuri sarapanmu, Tuan Byun.”

Baekhyun menghela nafas. Dia segera menggenggam tangan Minri, membawa gadis itu berjalan lebih cepat. Lalu ringisan itu terdengar lebih keras. Baekhyun berhenti lantas memegang kedua bahu Minri. Gadis itu jelas terkesiap, menerka-nerka apa yang akan Baekhyun lakukan dengan menatapnya seperti itu.

“Kenapa berhenti?” tanya Sungyoung dan Chanyeol hampir bersamaan karena mereka tepat berada di belakang Minri dan Baekhyun. Myungsoo pun ikut berhenti.

“Kalian duluan saja. Biar aku dan Minri di barisan belakang,” ucap Baekhyun.

“Jangan macam-macam, Byun.” Chanyeol tertawa jahil, membuat Sungyoung menyikut pinggangnya. Wajah Baekhyun sedang tidak bisa diajak bercanda, tapi tampaknya Chanyeol tidak mempedulikan hal itu.

“Ayo jalan lagi.” Myungsoo lebih dulu menyela ketika Baekhyun akan melakukan pembelaan diri. Mereka meneruskan pendakian yang terasa semakin curam, namun masih dalam tahap aman. Baekhyun menautkan tangannya dengan Minri,

“Katakan padaku dimana yang sakit.” Baekhyun menoleh pada Minri, namun gadis itu tetap menatap lurus ke depan, menghindari tatapan Baekhyun.

“Apa?” bukannya menjawab, Minri malah balik bertanya dengan nada datar.

“Kau tidak bisa membohongiku, nona Park.”

Minri melepaskan tautan tangan Baekhyun, kemudian melangkah mendahului lelaki itu. Namun baru beberapa langkah dia menjauhi Baekhyun, langkahnya terhenti. Minri menilik pergelangan kaki kanannya, membuat Baekhyun menyadari sesuatu. Pemuda itu segera menghampiri gadisnya, lantas menunduk. Minri ingin protes, tapi Baekhyun keburu melepas sepatu kanannya. Dan gadis itu ketahuan.

“Kapan kau mendapatkan luka ini?” tanya Baekhyun sembari mendongak.

Minri menarik kakinya kembali. Meskipun luka lecet itu tertutup kaos kaki, namun ada sedikit bercak darah yang menembus.

“Kemarin.” Baekhyun memasang tampang sengit setelah mendengar jawaban gadis itu. “Ini bukan masalah besar, Baek. Sudahlah.” Sambung Minri lagi. Berharap Baekhyun berhenti merecokinya.

“Kenapa kau tidak bilang padaku? Setidaknya luka ini harus ditutupi plester.”

“Sebenarnya kemarin sudah, tapi karena saat aku mencuci kaki tidak sengaja plester itu terlepas dan aku terlalu malas untuk minta pada Myungsoo.”

“Kau tahu kan aku punya banyak.”

“Kau pasti akan menanyaiku macam-macam!” Minri memberengutkan wajahnya lantas menunduk, bibirnya menggerutu.

“Karena aku khawatir padamu, Sugar.” Baekhyun berdiri, lalu mengacak rambut Minri. “Duduklah.” Tatapan Baekhyun melunak, Minri tidak bisa berbuat hal lain selain menurut dengan perkataan lelaki itu.

Baekhyun mengambil botol antiseptik dan kapas dari dalam tasnya. Minri memperhatikan Baekhyun yang tampak serius mengobati lukanya. Tanpa Baekhyun tahu, Minri tersenyum. Minri punya poin tambahan untuk alasannya mencintai lelaki itu.

Acckk!” Minri memekik saat Baekhyun menepuk pelan luka yang sudah diplesternya. Menghancurkan fantasinya tentang pesona kekasihnya itu. “Kenapa memukul kakiku, ish!”

“Jangan terluka lagi. Kau tahu ‘kan betapa khawatirnya aku mesipun ini hanyalah sebuah luka kecil.”

Itu sebabnya aku tidak ingin mengatakannya padamu.

Baekhyun tidak mendengar Minri membahas perkataannya. Lelaki itu sibuk membereskan peralatannya dan memasukkan ke dalam tas. “Apa hanya kau yang mengalami hal seperti ini? Lecet kaki? Kulihat yang lain tidak mengeluhkan hal ini.”

“Sepertinya iya.”

“Ada masalah dengan sepatumu?”

“Ti-tidak…”

“Park Minri, akan kutinggalkan kau di hutan ini jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya.”

Baekhyun tidak setega itu, tenang saja.

“Apa?!”

“Cepat katakan.”

Eung… Sepatu yang kupakai sudah mulai terasa menyempit.” Minri ingin melanjutkan langkahnya tapi Baekhyun menahan lengan gadis itu, merasa jawaban Minri tidaklah cukup membuatnya puas. Oh ayolah, mereka bisa ketinggalan rombongan.

“Lalu kenapa kau memakainya kalau kau tahu sepatu itu membuatmu tidak nyaman?”

“Aku menyukai sepatu ini. Hadiah pertamamu setelah kita menjalin hubungan serius. Aku ingin membuatmu senang, karena aku menghargai pemberianmu. Lagi pula warnanya merah muda.”

“Astaga, Minri! Kau tidak perlu melakukan hal itu. Akan kubelikan sepatu baru nanti.”

“Aku tidak memintamu membelikanku sepatu. Jangan membuang-buang uang.”

“Heeh? Siapa yang membuang uang. Apa salahnya membelikan sepatu untuk kekasih sendiri. Aku tidak memberikan cuma-cuma kok. Hari jadi kita tinggal beberapa hari lagi.”

“Oh, oh.” Hanya itu tanggapan dari Minri sebelum dia meneruskan langkahnya, kali ini Baekhyun tidak menahannya.

“Jangan bilang kalau kau lupa.” Baekhyun menyejajarkan langkahnya dengan Minri, lalu merangkul pinggang gadis itu. Minri menatap dedaunan kering yang berada di depannya sebelum akhirnya dia menginjaknya. “Jangan sedih. Aku tidak akan marah kalau kau memang lupa, kau kan memang pelupa.”

“Siapa yang sedih. Dan, yak! Aku tidak pelupa.” Minri mengerucutkan bibirnya, membuat Baekhyun menahan diri untuk tidak me—

Oh baiklah, jangan berpikiran macam-macam. Baekhyun hanya gemas pada wajah lucu gadis itu.

Minri memang memiliki rasa gengsi yang tinggi. Baekhyun perlu kesabaran ekstra, dan inisiatif tinggi untuk bertanya. Karena Minri tidak akan mengeluh padanya, kecuali untuk beberapa hal serius.

“Hey, sepertinya aku memang belum sarapan.”

“Hah?” Seingat Minri, tadi dia dan Baekhyun sarapan kentang rebus dan teh hijau hangat bersama teman-teman yang lain.

Cup!

Baekhyun mengecup sesaat bibir Minri, membuat gadis itu hanya bisa mengerjap bodoh.

“Sepertinya ciuman itu salah satu komponen sarapan pagiku.” Baekhyun menyengir. Sementara Minri memalingkan wajahnya yang menghangat.

Sial. Lelaki itu selalu punya cara membuatnya salah tingkah.

“Berisik kau, Byun Baekhyun.”

“Waaaah! Betapa indahnya!” Minri dan Baekhyun menoleh ke depan bersamaan mendengar suara Sungyoung. Sepertinya karena terlalu asik berdebat kecil mereka tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai puncak.

Kali ini Minri menarik tangan Baekhyun lebih dulu. Dia melupakan persoalan kakinya yang lecet ataupun kecupan dari lelaki itu. Mereka berlari dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya keluar dari area pepohonan. Hamparan rumput yang hijau menyambut, udara pagi terasa lebih hangat karena matahari mulai menampakkan diri.

Minri tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya setengah terbuka, sementara matanya mulai menjelajah satu per satu pemandangan yang bisa tertangkap oleh matanya.

“Kita berhasil,” gumam Baekhyun.

“Kita berhasil!!” ulang Minri sedikit lebih keras. Gadis itu melompat ke pelukan Baekhyun, hampir membuat kakinya tidak menapak di tanah. Lalu Minri melepaskan pelukannya itu dan berlari ke arah Sungyoung.

“Minri-ya, hati-hati kakimu!” pekik Baekhyun, namun tampaknya gadis itu tidak peduli. Dia asik merayakan keberhasilannya sendiri.

Minri menyingkirkan Chanyeol yang hampir memeluk Sungyoung, lalu lebih dulu memeluk gadis itu.

“Hey jangan menyelip.” Protes Chanyeol.

“Ahn Sungyoung, ini hebat. Menakjubkan.” Minri melepaskan pelukannya dengan Sungyoung, sembari tersenyum lebar. “Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.”

“Akupun begitu.”

“Termasuk insiden hanyut di sungai, ya?” Chanyeol menyela, merangkul bahu Sungyoung, bersama-sama menikmati pemandangan langit pagi di atas puncak. Minri mundur teratur. Dia memilih bergabung bersama yang lain yang sedang asik mengabadikan momen di sana.

“Peristiwa kemarin mengingatkanku pada masa kecilku, Yeol. Membuatku trauma. Jadi, kurasa aku tidak akan lupa—lagi.”

“Kau bisa ceritakan semuanya padaku, oke?”

“Malas ah, kejadian memalukan.”

“Semakin kau menyimpannya sendiri, semakin besar rasa ketakutanmu itu. Aku yakin trauma itu akan hilang jika kau bisa membangun keberanianmu. Ahn Sungyoung yang kukenal tidak pantang menyerah pada apapun.”

“Kau yakin aku bisa sembuh dari traumaku itu?”

“Tentu saja.” Chanyeol mengecup puncak kepala Sungyoung sembari tersenyum. Sungyoung merasa udara pegunungan tidak begitu dingin lagi. Tubuhnya menghangat diselimuti pelukan Chanyeol dari belakang. “Aku akan selalu melindungimu, Sungyoung-ah.”

“Terimakasih, Chanyeol. Terimakasih sudah menjagaku.”

“Ayo kita bergabung yang lain.”

Sungyoung meminta Chanyeol bergabung lebih dulu. Gadis itu menghampiri Myungsoo sedang menancapkan bendera kecil di salah satu area kosong. Mereka akan meninggalkan jejak, pertanda bahwa mereka pernah ke sana. Sungyoung menepuk bahunya pelan.

“Myung, terimakasih sudah menunjukkan kami tempat indah ini.”

Myungsoo telah menyelesaikan pekerjaannya, kemudian berbalik. Dia tersenyum sembari menggeleng. “Terimakasih pada usaha dan semangat kita semua. Aku hanya penunjuk jalan.”

“Apapun itu—“

“Kim Myungsoo! Ahn Sungyoung! Ayo kesini. Kita berfoto bersama.” Teriak Baekhyun. Bisa dibayangkan bagaimana suara lelaki itu menggema di puncak pegunungan.

“Berbahagialah, Sungyoung-ah,” gumam Myungsoo. Tidak ada yang bisa mendengar selain telinganya sendiri.

Matahari sudah di tengah langit ketika Chanyeol dan teman-teman berada di perjalanan menuju pulang. Karena mereka menggunakan dua mobil—satu milik Chanyeol dan satu lagi milik Myungsoo—Baekhyun dan Minri ikut dalam mobil Chanyeol bersama Jongdae.

Ketiga orang di bangku kedua telah tertidur pulas. Minri menyandarkan kepalanya di bahu Baekhyun, sementara Baekhyun menyender di kepala gadis itu. Kedua orang itu tampak manis, berbeda dengan Jongdae yang beberapa kali harus terantuk jendela. Namun Jongdae tetap melanjutkan tidurnya.

“Apa kau mengantuk?” tanya Sungyoung. Pengemudi yang mengantuk adalah salah satu penyebab terjadinya kecelakaan.

“Sedikit.”

“Kita berhenti sebentar.” Chanyeol menurut. Meskipun dia keras kepala, dia tidak akan mengabaikan yang namanya keselamatan. Terutama untuk gadisnya. Chanyeol menepikan mobilnya, lalu beberapa saat kemudian mobil Myungsoo melesat melewati mereka.

“Boleh aku pinjam ponselmu?”

“Untuk apa?” Chanyeol menyerahkan ponselnya meskipun belum mendapat jawaban dari Sungyoung. Sungyoung kehilangan ponselnya bersamaan dengan bawaannya yang lain dalam tasnya yang hanyut terbawa arus.

Sungyoung menyambut ponsel Chanyeol, lalu mengirimkan pesan singkat pada Myungsoo bahwa mereka memang sengaja berhenti.

“Aku memberitahu Myungsoo agar dia tidak perlu khawatir.”

“Hmm.” Chanyeol mengacak pelan rambut Sungyoung, lalu menyandarkan bahunya. “Jangan terlalu dekat dengan lelaki lain, kedekatan kalian membuatku cemburu, tahu.”

“Tidak perlu khawatir, meskipun kau idi—“ Sungyoung menelan kembali ludahnya saat Chanyeol menatapnya. “Maksudku, meskipun banyak lelaki lain di luar sana. Aku tidak akan bisa berhenti memikirkanmu.”

Ugh, sejak kapan kau berubah manis?”

“Aku mendengar Minri mengatakan hal ini pada Baekhyun.” Chanyeol ingin sekali tertawa keras, namun dia mengurungkan niatnya merasa suasa tidak memungkinkan. Sungyoung si pemberani itu ternyata polos juga.

Sungyoung merasa sedikit malu dengan perkataannya, maka dari itu dia memutuskan untuk membalikkan badan, memeriksa keadaan temannya yang duduk di belakang. Dia baru saja menemukan sebuah ide hingga Ia mengarahkan kamera ponsel di tangannya pada Minri dan Baekhyun.

“Kau sedang apa?” tanya Chanyeol, cukup penasaran.

“Aku akan menunujukkan foto mereka pada Minri nanti. Mereka tampak lucu.”

“Untungnya mereka tidak tidur dengan mulut menganga.”

“Apa kita sudah sampai?” tanya Minri dengan suara agak serak.

Sungyoung sedikit terkesiap, Ia segera menjauhkan tangannya. Minri tidak menyadari bahwa tadi Sungyoung sempat memotretnya.

“Belum, masih ada separuh jalan. Kita berhenti sebentar karena tampaknya Chanyeol mengantuk.”

“Oh.”

Kruuk.

Minri memegang perutnya yang malang. Tampaknya sudah waktunya mereka memberi asupan pada tubuh mereka. Minri menyengir saat Chanyeol dan Sungyoung bersamaan menatapnya.

“Kalian ada makanan tidak?” tanya Minri.

“Semua persediaan makanan sudah habis.” Ucapan Sungyoung membuat Minri menghela nafas kecewa.

Sungyoung mengarahkan pandangannya ke seberang jalan. Kemudian tersenyum senang.

“Minri, kita selamat. Coba lihat ke sana.” Sungyoung menunjuk restoran kecil yang ada di seberang. Dari nama restoran itu, tampaknya mereka mempunyai menu berbahan dasar ayam.

“Waaah ayam goreng!” Minri kehilangan rasa kantuknya. Dia sangat antusias ingin mengisi perut.

“Berisik.”

Minri menoleh pada Baekhyun yang masih memejamkan mata. Kepalanya menyandar di kursi. Entah lelaki itu tidur sungguhan atau tidak.

“Baek, ayo turun. Kita makan dulu.”

“Tidak mau. Aku mengantuk.”

“Terserah kau saj—“ Minri menoleh ke sisi yang lain. Jongdae tertidur pulas. “Tapi bagaimana caranya aku keluar kalau sisi pintu terhalang olehmu!”

“Minri, berjuang!” Sungyoung dan Chanyeol keluar lebih dulu dari mobil karena mereka juga merasa lapar.

Aish, tunggu aku.”

Baekhyun tersenyum tipis. Dia tidak benar-benar tidur. Minri masih kebingungan memikirkan cara untuk keluar, sampai akhirnya dia tetap melewati Baekhyun. Minri berdiri membungkuk, tepat saat berada di depan kaki Baekhyun, lelaki itu menarik pinggangnya membuat Minri terduduk di pangkuan Baekhyun.

“Lepaskan aku.”

“Sebentar saja.”

Baekhyun masih melingkarkan tangannya di pinggang Minri, dia bahkan menyandarkan kepalanya di punggung gadis itu.

“Aku sayang padamu.”

“Aku tahu itu Baek, sekarang lepaskan aku.”

“Baiklah, Sugar.”

“Jangan bermesraan dalam mobil!! Kalian lupa ada aku, ya.”

Ups, sepertinya mereka telah mengganggu tidur Jongdae.

“Jongdae-ya, kau lapar tidak? Di seberang jalan ada restoran kecil. Aku akan mentraktirmu.” Dan Baekhyun punya cara untuk membuat Jongdae diam.

Setelah selesai mengisi perut di restoran kecil yang mereka temui di tepi jalan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Pertama, Chanyeol menurunkan Jongdae di depan rumahnya. Kemudian rute selanjutnya ke rumah Baekhyun.

Berselang dua puluh menit dari rumah Jongdae, mobil Chanyeol akhirnya berhenti tepat di depan rumah Baekhyun. Baekhyun bersiap akan turun, sementara Minri masih asik memainkan ponselnya hingga membuat Baekhyun sedikit kesal.

Lelaki berperawakan sedang itu membuka pintu mobil, lalu turun. Dengan wajah kesal, lelaki itu mengulurkan tangannya ke dalam lalu menarik tangan Minri. Minri terkesiap—hampir membuatnya menjatuhkan ponselnya.

“Baek, rumahku masih beberapa blok lagi,” protes Minri.

“Kau-harus-turun-sekarang.”

“Tapi—ish!” Minri mendesis kesal, namun tetap menurut untuk turun dari mobil.

“Minri turun disini saja, nanti biar aku yang mengantarkannya pulang,” ucap Baekhyun pada siapapun yang mendengarnya. Lelaki itu mengambil keputusan sepihak. Minri bahkan tidak menyetujui apapun. “Terimakasih Yeol, hati-hati di jalan.”

“Baiklah kalau begitu. Dah…” Sungyoung melambai pelan. Lalu mobil Chanyeol kembali melesat di jalanan. Dari kaca spion tampak Minri yang mengomeli Baekhyun, namun gadis itu langsung terdiam ketika Baekhyun mencium bibirnya. Sungyoung menggeleng pelan. Sepertinya mereka lupa tentang keberadaan mereka. Mereka bahkan berada tepat di depan rumah Baekhyun.

“Yeol,”

“Ya?”

“Terimakasih sudah menjagaku.”

“Kau sudah mengatakannya di puncak tadi.”

“Entah rasanya masih belum cukup.”

“Sejak awal aku memutuskan menjadikanmu kekasihku, maka saat itu aku berjanji akan menjagamu sebisaku. You’re my precious, Sungyoung-ah….” Chanyeol memelankan mobilnya, kemudian berangsur mendekat. Dia mendaratkan kecupan di kening Sungyoung memberi kehangatan sendiri pada gadis itu.

“….”

“Aku pikir kita harus melakukan perjalanan seperti ini lagi dalam waktu dekat. Kita akan banyak menghabiskan waktu bersama.”

“Aku ingin ke pantai.”

“Setuju!”

“Kita ajak Baekhyun dan Minri juga.”

“Bukan ide buruk.”

***END***

Idk idk >,< apasih ini? hiks.

Aku bikin ini cuma nyambungin dikit ide ff-nya uchi. Maaf banget chi jadi melenceng :” apa kita perlu bikin series lagi? (sokbangetsihakupadahalsibukbanget-_-)

Sorry for typo

Keep support and love cast(s)

THANKS FOR READ. LOVE YAAAAA~ :**

©Charismagirl, 2014.

73 thoughts on “Friendship Story : Love is an Adventure

  1. Entah kenapa aku selalu suka ff yang dibuat eonni. Manis banget baekri aku sukaaaa. Ditunggu ff selanjutnya ya eon. Keep writing!!

  2. Ini Rima dgn Baek Minri nya kn ? Tp, knp PcyAsy msh ckup byk mendominasi ya ? Hehe mngkin krna ini emg sngja nglnjtin ff mrka x ya, jd g full BM smua,,

  3. Always Baek Minri yang paling romantis, Whoaaa suka nyengir sendiri tiap ada adegan romantisnya wakakak=)) unni pasti ada aja ide untuk bikin ff, selalu bagus pula, lah aku bikin ff oneshoot aja udah malesnya minta ampun. Keep Fighting unni^^ Bikin ff lagi yaa:D

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s