Diposkan pada ApReeL Kwon, Baek Hyun, BROTHERSHIP, Chan Yeol, Chen, D.O, EXO, EXO Planet, EXO-K, Family, Fanfiction, Fantasy, friendship, Genre, Kai, Kris, Lay, Lu Han, Oneshot, Se Hun, Suho, TAO, Type, Xiu Min

Neverland – Our Happines…

Neverland

Bring us back our happines!

Fanfic by @Apreelkwon

.

.

Fanfic / oneshot/ Just EXO with EXO-L

this is form my deepest heart. I Miss you guys, Kris – Luhan. ❤

.

.

Tempat ini bernama Neverland. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan untuk tinggal dan nyaman berada disini. Tapi, memang siapa yang tidak akan betah tinggal disini. Dunia yang penuh dengan tawa, semua yang menyenangkan dan mereka yang menemaniku. Tentu aku tidak sendirian disini. Ada dua belas anak laki – laki yang selalu berada disampingku. Mereka sungguh teman yang baik, kalian harus percaya itu. Aku sungguh bahagia bersama mereka dan tinggal ditempat ini.

Terduduk ditengah padang rumput hijau, sambil mendengarkan cicitan burung bernyanyi bersama alunan angin sudah menjadi rutintasku bersama mereka. Salah satu dari mereka bangkit dengan wajah berbinar.

“Ayo ayo, selanjutnya angin akan memainkan melody kesukaan kita, ayo semua berbaris,” dia memang selalu yang paling semangat. Dua dari barisan ikut bergabung dengannya didepan, cocok sekali, mereka bertiga memang yang paling ramai diantara kami.

tsh~ kita sudah hampir setiap hari melakukan ini apa kau tak bosan?” ucap dia yang paling tinggi dengan nada malas. Aku meliriknya yang duduk disebelah kiriku. Selalu begitu, meski dia bilang bosan, tapi dia tetap akan berdiri disana bernyanyi dan menari dengan semangat. Aku menyukainya. Sangat.

“Aku tidak bosan, lagi pula orang special didepan kita sangat suka saat kita melakukan ini bukan?” yang paling tinggi dari trio perusuh itu mengerling nakal kearahku. Sudah kubilang trio itu adalah pembangkit tawa kita, aku juga mencintai mereka. Ah sungguh.

Mereka sudah berbaris didepan sana siap menunggu angin mengalunkan melodinya. Aku yang termangu menatap mereka, juga menunggu dengan hati berdebar. Ini bukan pertama kalinya aku menyaksikan mereka menari dan bernyanyi dihadapanku, tapi tetap saja perasaan berdebar ini tidak hilang. Dan mungkin tidak akan pernah hilang.

Burung berhenti bercicit dan sang angin mulai memainkan nada pertamanya. Bam! Dua belas lelaki nakal, malas, ribut, pendiam mereka semua hilang. Berubah menjadi dua belas lelaki berkharisma yang siap menghantam hatimu dengan suara dan tarian mereka.

Aku tanpa sadar menjerit histeris, kedua tanganku bertepuk heboh dan mulutu tidak berhenti menceracau seperti orang gila. “ahhhhh~ I Love You….

Angin berhenti tepat ketika mereka mengakhiri penampilan dengan pose andalan mereka. “Kalian memang lelaki luar biasa,” ucapku lantang sambil menunjukan dua jempolku. Mereka tersenyum bahagia dan aku kembali bertepuk tangan. Disini memang hanya aku yang bertepuk tangan, tapi itu adalah suara paling menyenangkan menurut mereka.

“Saat kau bertepuk tangan, itu seperti siraman air es ditengah musim kemarau kami,” ucapnya yang bermata paling indah dan selalu memperlakukanku dengan manis. Dia mengaku yang paling gentleman dari semuanya. Meski sisa dari mereka tidak mengakuinya, tapi aku setuju dengannya. Dia memang gentleman kami.

“Kau suka dengan penampilan kami tadi?” tanya dia yang berkulit paling putih dan kami akui dia adalah pemimpin kami. Aku mengangguk antusias.

“Sangat,”

Mendengar jawabanku, dia kembali tersenyum kemudian membelai pucuk kepalaku dengan lembut sambil berkata. “Hanya kau yang kami miliki, terus beri kami tepuk tangan itu, selamanya, bagaimana? Dan aku juga mereka akan selalu hanya untukmu?”

Tanpa banya berfikir aku kembali menangguk dengan senyuman bahagia. Ku edarkan pandangan pada mereka yang tengah terduduk dan menatapku. “Tenang, aku akan selalu ada untuk kalian,” jawabku dan mereka bersorak bahagia.

Ya kami bahagia saat itu.

.

.

Waktu, tidak ada hitungan waktu disini. Tanpa mengetahui kapan dan dimana, begitulah kami menjalani hidup. Apalah artinya waktu, saat semua kebahagian sudah ada dalam genggamanmu saat itu juga. Tugas kami hanya satu, terus menggenggam semua itu dan jangan lepaskan. Dan aku tidak akan pernah melepaskan semua ini.

Kami bahagia. Meski sudah sekian lama angin tidak kunjung datang untuk memainkan melodinya. Tidak ada angin berarti aku tidak bisa menyaksikan mereka menari dan bernyanyi hanya untuku.

“Kapan angin akan datang?” ucapku dari pinggir tebing jurang yang dibawahnya terdapat hamparan padang lavender.

“Hei apa yang kau lakukan!” teriak satu orang dibelakangku. Dengan segera dia menarik lenganku menjauh dari tebing itu. “Bodoh!” ucapnya.

Ah, si lesung pipi. Pas sekali dia datang disaat aku membutuhkan sesuatu yang bisa menentramkan hatiku. “Kenapa angin tidak juga datang?” tanyaku sambil menggenggam tangannya erat kemudian berjalan pelan menuju tepi jurang.

“Kau mencari angin sampi ke tepi jurang ini? Ini berbahaya,” ucapnya.

“Aku tahu, aku hanya penasaran kenapa angin ada dilembah sana tapi tidak ada untuk kita,”

Si lesung pipi melongok pandangannya kedalam lembah lavender dibawah sana dan menyakisan angin tengah memainkannya. Dia tersenyum membuat dua lesung pipinya terlihat menggemaskan. “Bersabarlah, sebentar lagi giliran kita,”

“Yang lain sudah sering menghiburku seperti itu, tapi sampai sekarang belum juga datang,”

“Hei, memangnya kebahagianmu hanya datang saat melihat kami menari dan bernyanyi?” satu pertanyaan yang membuatku terdiam juga berfikir.

Tidak. Melihat mereka berulah, bertingkah, tersenyum, tertawa, tertidur, saling meledek dan tentunya untuk terus bersama mereka sudah merupakan kebahagian paling indah untuku. Kenapa aku begitu egois dengan terus meminta mereka melakukan hal – hal yang hanya menyenangkan untuku. Lambat laun, perilaku ini hanya akan membuat mereka kecewa. Aku harus merubahnya.

Dengan segera aku menggeleng. “Tidak. Dengan bersama kalian aku sudah bahagia,” jawabku.

“Ah,, itu baru orang spesial kami,” jawabnya sambil membelai rambutku pelan. “Ayo kita kembali, mereka dari tadi mencarimu,”

Betul. Mereka selalu ada untuku, begitupun denganku.

.

.

Dulu aku sangat menanti angin itu datang kemudian aku bisa kembali melihat mereka menari dan bernyanyi bersama angin. Seperti kata si lesung pipi, angin kemudian memang datang. Mereka bahagia terlebih aku.

Dengan alunan melodi baru, mereka kembali berbaris didepanku dan membuat tubuhku kembali terasa seperti tersengat listrik. Kapan aku akan berhenti merasakan perasaan seperti ini? Hahaha..

Dan arti kebahagian bagi kami, aku pertanyakan kembali. Satu dari mereka pergi tanpa kabar.

Malam itu masih seperti biasa kami mengucap selamat malam dan terlelap dibawah sinar bulan. Tidak ada yang berbeda. Dan saat pagi menyapa aku melihat mereka terduduk dengan lesu, hanya sebelas orang. Dimana dia si jangkung.

“Mana dia?” tanyaku masih tidak merasakan hal buruk. Mereka tidak menjawab. Raut wajah mereka juga tidak bersahabat. Satu dari sebelas itu, si pemimpin berdiri kemudian menghampiriku.

“Semua ini memang berat, tapi kita masih bisa bertahan bukan?”

Aku masih tidak mengerti. Tapi semua abu – abuku menjadi jelas saat si pemimpin memberikanku sepucuk surat. Tulisan tangan si jangkung, dengan lugas dia menuliskan tidak akan tinggal di neverland lagi dan akan menjadi warga penghuni lembah bunga matahari. Kedua bola mataku membulat, apa ini?

Mereka yang pergi tanpa izin dari neverland akan sulit untuk bisa kembali. Meski dia bisa kembali, kemungkinan kisah kita tidak akan kembali sama. Itu aturan tertulis. Dan bagaimana dia bisa melakukan ini pada kami? Pergi diam – diam? Dia bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan.

“Bagaimana bisa?” tanyaku dengan mata berkaca. Pasalnya, hari – hari sebelumnya dia tidak menampakan sedikit masalahpun. Lalu apa alasannya.

“Dia-”

“Kurang ngajar, dia pengkhianat!” si pemimpin bermaksud menjawab pertanyaanku. Tapi dari kumpulan sana terdengar satu umpatan yang sungguh menakutkan. Si ahli kungfu yang memang sangat dekat dengan si Jangkung terlihat begitu marah, mukanya memerah dan air mata tidak berhenti mengalir diwajahnya. Dia sedih, tapi makian yang dia keluarkan.

“Kita berniat menghabiskan seumur hidup disini, tapi apa yang dia lakukan? Lebih tergiur dengan tempat lain?” si yang paling muda ikut berbicara.

Pagi itu matahari bersinar cerah, bunga – bunga mulai bermekaran, angin pun mengalun merdu tapi semua wajah kami bagai awan kelabu. Satu persatu mereka pergi, meninggalkanku memilih tempat untuk menyendiri. Aku tahu betul bagaimana perasaan mereka. Merasa ditinggalkan dan terlupakan.

Melihat kesebelas bersedih membuat amarahkupun melunjak. “Pengkhianat,” umpatku sambil melempari burung yang bernyanyi disampingku. Waktu dimana aku menimang untuk tetap tinggal atau pergi.

.

.

Dan aku tetap tinggal. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama mereka. Ini sungguh jahat, jika sungguh meninggalkan mereka disaat hati mereka hancur. Ya, hatiku juga hancur saat itu. Tapi, kami mencoba menata semuanya dan membuat kebahagian kembali muncul.

“Hahahaha, sudah kubilang kalian akan berakhir,” ucap dia si cerewet dengan suara lantang, saat sore hari kami tengah menikmati waktu senggang.

“Berhenti terlalu percaya diri, kau belum tahu keahlianku,” ucap si tinggi. Ah iya, sejak dia yang paling tinggi pergi, si tinggi dari tim trio cerewet mendapatkan predikat yang paling tinggi dari kami semua. Tapi, aku menolak untuk mengakui semua itu.

Dia memang pergi meninggalkan kami, tapi aku masih mengharapkan dia kembali. Rasanya tidak lengkap disini hanya ada dua belas orang, aku rindu suara malas dia tapi kemudian dengan semangat dia melakukan semuanya. Hahhaa

Tanpa sebelas orang itu tahu, diam – diam aku selalu berjalan ke ujung neverland berdiri di perbatasan dengan lembah matahari. Kedua mataku sibuk mencari dia –si jangkung, di antara kerumunan banyak orang. Dan aku menemukannya. Meski disana banyak sekali orang, mata ini masih bisa menangkap sosoknya dengan jelas.

Dihari kepergiannya aku memaki dan mengumpat atas tindakan bodohnya. Tapi melihat dia disana, melakukan aktivitas bersama keluarganya dan bisa dengan bebas melakukan hal yang dia sukai tanpa harus melanggar aturan aku bahagia. Dia tersenyum lebih cerah.

“Ah, dia sepertinya sangat bahagia,” ucapku.

“Kebahagian biasanya memang harus ditukar dengan hal menyakitkan terlebih dahulu,”

Aku terkesiap saat satu suara menyahut dari sampingku. Dia yang menari paling lincah dari semuanya. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali, takut.

“Kenapa harus diam – diam untuk melihat dia, aku, kami tidak akan pernah melarangmu,” ucapnya sambil tersenyum.

“Aku tidak ingin menyakiti hati kalian,” jawabku.

“Kami malah akan sakit hati jika kau melupakannya,”

Aku menautan kedua alisku. “Bohong!” jawabku sambil mendengus. “Kau sendiri sudah menghapus dia dari anggota kelompok kalian,”

“Kapan?”

“Apa kau tidak sadar sering menyebut ‘Kami ber-sebelas’, jadi kau mengakui sekarang kalian hanya sebelas orang?”

Aku mendengar dia membuang nafas berat. “Aku tidak ingin mengatakannya, tapi apa kau lupa? Neverland mempunyai aturan,”

“Tapi kalian masih mengingatnya bukan?”

“Tentu, karena dia saudara kami dimanapun dia berada sekarang,”

.

.

“Apa ada kutukan di tempat ini? Siapa selanjutnya yang pergi?” ucapku berteriak dengan suara isakan yang juga tidak bisa aku sembunyikan.

Mereka semua terdiam. Sepuluh duduk dengan kepala tertunduk dan satu orang berdiri didepanku dia yang memiliki mata paling indah dan selalu mengaku sebagai seorang gentleman. Aku tidak ingin melihatnya, maksudku aku tidak ingin melihatnya pergi.

“Maafkan aku, aku hanya ingin kalian tahu, aku tetap mencintai kalian,” ucapnya dengan suara bergetar.

“Lalu kenapa kau pergi?”

“Tinggal ataupun pergi tidak akan mengubah apapun kan? Kita masih bisa saling mencintai,”

“Mustahil,” jawabku. Nafasku terlalu sesak untuk melanjutkan kalimat lainnya. Dan aku tidak tahu kalimat apa lagi yang harus aku katakan untuk membuatnya bertahan. Beribu kata cinta sudah aku lontarkan padanya sejak beberapa hari yang lalu, air mata tidak henti aku tunjukan padanya, tapi semua itu tidak menggoyahkan pendiriannya.

“Aku pergi,” ucapnya yang seketika kembali memecah tangisku.

Mereka terdiam. Si bungsu yang sering menghabiskan waktu dengannya terlihat berlari menjauh dengan langkah panjang – pangjang. Si pemimpin mencoba tersenyum kemudian mereka saling berangkulan. Si lesung pipi berdiri ikut merangkulnya.

“Selamat tinggal, kau akan tetap menjadi saudaraku. Jika nanti kita bertemu dan kebetulan angin lewat mari kita bernyanyi dan menari bersama lagi,” ucapnya tegar lengkap dengan senyuman.

Bagaimana bisa dia bersikap setegar itu? fikirku.

“Semuanya, Aku pulang,” ucapnya. Mereka mengangguk kemudian melambaikan tangannya mengiringi langkahnya yang semakin menjauh. Dia pulang. Ya, sama seperti si jangkung dia pulang kembali ke pelukan keluarganya.

Aku kembali menangis.

Si lesung pipi menghampiriku, dia memeluku hangat. “Semua ini terlalu berat untukmu bukan? Tapi percayalah, semua akan segera berlalu”

“Aku tidak ingin kalian berpisah, aku ingin kalian seperti dulu, apa itu terlalu sulit.”

“Hidup adalah pilihan, cepat atau lambat kaupun akan mendapatkan giliran untuk memilih, sampai saat itu tiba mari kita nikmati waktu yang tersisa.” Mereka semua duduk mengelilingiku kemudian aku menatap mereka satu persatu.

“Kau masih bersama kami bukan?” tanya si penari.

“Hanya kau kekuatan kami,” ucap si cerewet dengan wajah merah.

“Beri kami tepuk tanganmu lagi,” ucap si pendiam.

Mereka bermula dari dua belas dan sekarang tinggal sepuluh. Pertanyaannya bagaimana aku bisa meninggalkan mereka ditengah kerapuhan semua ini. Lebih dari siapapun, sekarang merekalah yang paling bersedih. Aku pun mengangguk dan untuk sekian lama aku mendapatkan senyuman tulus mereka lagi, meski sekarang hanya dari sepuluh orang.

.

.

-Kkeut.

Iklan

Penulis:

Sometimes you gotta be BOLD, just rock the world... Boo-yah!

64 tanggapan untuk “Neverland – Our Happines…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s