Truly, I Love You (chapter 17) 1/2

truly-i-love-you

Title : Truly, I love You | Author : Kanemin| Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)| Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), Yunju, EunYeol|Length : chaptered| Genre : Romance, Married Life

Disclaimer: the idea is mine, everything on this fic based on my imagination, don’t ever too serious, why so serious?? this is just a fiction 😀

Poster by ImJustAGILRS @ Poster Channel

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

-Chapter 17-

-0-

Im falling a bit much for you

Sakura bangun lebih pagi dari biasanya. Ia bahkan sempat membereskan tempat tidurnya dahulu sebelum keluar dari kamar. Kali ini dasi sudah dipasangnya dengan rapi. Rambutnya pun sudah ia kuncir tinggi seperti biasa, menghiraukan pesan D.O kemarin yang menyuruhnya menurunkan rambutnya. Hari ini akan ada pelajaran olahraga dan sakura tak mau sampai rambut panjangnya itu menghalanginya.

Sesampainya di ujung tangga, dilihatnya D.O sudah duduk di meja makan dengan seragam sekolahnya lengkap. Hari itu D.O memang sudah diijinkan kembali ke sekolah. Dia hanya harus menjaga dengan baik pola makan dan juga istirahatnya. Sakura mendesah pelan, ia benci sekali keadaan seperti ini. Keadaan mereka setelah bertengkar dan pertengkaran itu belum selesai sama sekali dan mereka harus berada di satu meja yang sama.

Canggung sakura duduk di kursinya, berhadapan dengan D.O, ahjumma segera menuangkan susu ke gelas sakura. sakura mengambil roti dan mengolesnya dengan selai, dia sama sekali tidak mengangkat kepalanya untuk melihat D.O walau sedikit.

“nona,” kata ahjumma ketika menuangkan susu. Sakura menoleh dan mengangkat alisnya, “hari ini kim ahjussi tidak bisa mengantar nona, dia ada urusan keluarga.” Lanjut ahjumma.

Sakura mengerutkan keningnya, “ung? Lalu aku berangkat sendiri?”

“denganku.” celetuk D.O tiba-tiba tanpa memandang sakura.

Sakura menggigit bagian bawah bibirnya. “kurasa sebaiknya aku naik taksi saja.” Ucap sakura kemudian.

D.O mengangkat kepalanya, “apa kau pikir taksi dari sini ke sekolah murah?” ujarnya ketus.

Sakura menelan ludahnya, kenapa sih dia harus sinis padaku sepagi ini. Gumam sakura dalam hati. “tidak, tapi—“

“kutunggu di mobil, cepat selesaikan sarapanmu.” Sambar D.O dingin. Dia kehilangan nafsu makannya begtiu sakura secara tak langsung seolah-olah menolak naik mobil bersamanya.

Sakura meletakkan roti yang bahkan belum sempat digigitnya. “tidak bisakah dia ramah sedikit?! Ini kan masih pagi.” Omelnya sembari menyampirkan tasnya ke punggung.

“nona tak ingin membawa bekal saja?” tawar ahjumma.

“tidak usah. Aku berangkat dulu ahjumma.”

Sakura meniup poninya jengkel sebelum masuk ke mobil. Setelah menghela nafas panjang, ia membuka pintu depan dan masuk.

D.O mengetuk-ngetukkan jarisnya ke stir menunggu sakura. D.O menoleh sekilas begitu sakura masuk dan kembali mengarahkan kepalanya ke depan. Dari sudut matanya, D.O melihat sakura kesulitan menarik seat belt agar dapat dipasangkan. D.O berdecak pelan dan memiringkan badannya kearah sakura. Dengan mudah D.O menarik seat belt dan memasangkannya.

Sakura menelan ludahnya begitu merasa D.O berada terlalu dekat dengannya. Ia bahkan sampai menahan nafasnya. “terima kasih.” Ucapnya pelan. Sangat pelan hingga mungkin D.O tak mendengarnya.

D.O memang segera menyalakan mesin dan tak lama menjalankan mobil keluar dari gerbang.

Seperti yang sudah sakura bayangkan sebelumnya, suasana di dalam mobil begitu sunyi, sama sekali tak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Suara mobil D.O yang begitu lembut pun bahkan terdengar sangat jelas menandingi kesunyian yang tercipta di dalam mobil.

Sakura yang biasanya memulai pembicaraan kali ini memutuskan diam. Dia masih jengkel dengan sikap D.O semalam ditambah lagi pagi tadi laki-laki itu berkata sinis padanya. Sakura mengambil ponselnya dari tas dan memainkannya, berpura-pura sibuk lebih baik daripada ia harus melamun seperti orang bodoh. Pikirnya.

Ketika sakura sedang mengetik pesan untuk eunyeol tiba-tiba saja mobil yang di kendarai D.O berhenti mendadak. Dengan gerakan spontan, D.O merentangkan tangannya di depan tubuh sakura, menghalangi gadis itu agar tidak membentur dashboard walaupun ia sudah memakai seat belt. “ck! Jinjja!” dengusnya kesal. D.O membuka kaca mobilnya, “ya! Kau tidak lihat lampunya? menyebrang sembarangan seperti itu berbahaya kau tahu?!” bentaknya keras pada seorang anak pengendara sepeda yang tiba-tiba saja melintas di depan mobilnya. Mendapat tatapan tajam D.O, anak itu segera berlalu melajukan sepedanya. “menjengkelkan sekali.” Gumamnya kesal.

D.O melajukan lagi mobilnya sebentar dan menepi. Dia langsung menoleh kearah sakura yang terdiam syok. “kau tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

Sakura menarik nafasnya panjang dan menggeleng setelah menghembuskan nafasnya perlahan. Ia menoleh sebentar kearah D.O, “kau juga baik-baik saja kan?”

D.O mengangguk pelan, dia mengerutkan keningnya begitu melihat sorot mata sakura. dari sorot matanya jelas sekali kalau sakura tidak baik-baik saja. Hal yang baru saja terjadi memang hanya insiden kecil dan tidak ada yang terluka tetapi sakura terlihat begitu kaget. D.O memegang bahu sakura, “apa kau yakin kau baik-baik saja?” tanyanya lagi memastikan.

“hm.” Sakura mengangguk tanpa menatap D.O lagi.

“kita ke rumah sakit saja ya.” Tawar D.O sembari menyalakan lagi mesin mobilnya.

Sakura menoleh dan menggeleng cepat. “tidak perlu, aku tidak apa-apa sungguh.”

D.O mendengus pelan, “baiklah tapi kalau nanti ada apa-apa, langsung beritahu aku ya?”

“hm.”

Sakura’s POV

Aku memang merasa baik-baik saja sungguh, tapi entahlah tadi saat mobil berhenti tiba-tiba seperti itu aku merasakan rasa takut luar biasa yang membuat jantungku berdetak begitu kencang. Aku menarik nafasku perlahan dan mencoba bernafas senormal mungkin karena aku tak mau kyungsoo berpikir berlebihan. Aku memang mungkin hanya kaget saja, dan lagipula tak ada yang terluka saat insiden kecil tadi jadi aku sudah sebaiknya berhenti cemas dan takut seperti ini. Sejak tadi kyungsoo memang terus menoleh kearahku dan bukannya fokus pada jalan di depannya, dan aku tak mau kecelakaan sungguhan malah terjadi karena hal itu.

Kyungsoo memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil suho. Setelah mematikan mesin, dia menoleh lagi kearahku. “kau yakin kan tidak apa-apa?” Tanyanya.

“iya.” Jawabku pendek, kenapa kyungsoo malah jadi berisik seperti ini. Batinku.

Kyungsoo mengambil tasnya yang ia letakkan di jok belakang, “aku akan ada latihan baseball sebentar hari ini. Kalau kau mau pulang duluan bersama eunyeol beri tahu aku dulu, tapi kalau tidak kau tunggu saja aku sampai selesai.” Kyungsoo membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu, aku baru saja hendak menanggapi ucapannya, tapi kyungsoo sudah membuka lagi mulutnya, “dan jangan naik taksi sendirian, selain mahal kau juga tidak tahu kan supir taksi itu bisa dipercaya atau tidak.”

Aku menghela nafasku pelan, kyungsoo memang aneh. Sikapnya terus seperti ini, kadang sangat dingin melebihi angin musim gugur tapi juga bisa berubah menjadi sangat hangat seperti matahari musim semi. Aku menatapnya sebentar dan mengangguk. “aku keluar duluan ya.” Kataku melihat kyungsoo masih sangat sibuk mengaduk tasnya seperti mencari sesuatu.

“sakura.” panggil kyungsoo begitu aku baru hendak membuka pintu. Aku menoleh, “ini.” Kyungsoo menyerahkan sebuah kartu padaku.

“apa?” tanyaku heran.

“kemarin noona memberiku ini, dari eomma. Kartu kreditmu. sudah seharusnya kau punya kartumu sendiri, pakai sebijak mungkin.”

Aku mengerutkan alisku bingung, kartu kredit? Dari eomma? “kurasa aku tak membutuhkannya kyungsoo.”

“terima saja. Tidak ada orang yang tidak membutuhkan ini.” Kyungsoo menarik tanganku dan meletakkan kartu tersebut di telapak tanganku.

Dengan setengah hati aku menggenggam kartu tersebut, kalau aku berkata lagi aku malah hanya akan berakhir berdebat dengan kyungsoo dan kurasa itu bukan hal yang baik untuk dilakukan di sekolah. “arasseo, terima kasih. Akan kutelepon eomma nanti.” Kataku kemudian sebelum benar-benar keluar dari mobil.

Kurasa kedatanganku terlalu pagi. Masih jarang sekali anak-anak yang kulihat disana Dan tempat parkir sepeda juga masih kosong. Aku sedang merapikan dasiku begitu tiba-tiba saja ada yang menarik ikatan rambutku yang sejak pagi buta kurapikan tadi. Aku menoleh dan melihat kyungsoo berjalan di sebelahku tanpa menoleh sedikitpun kearahku dan segera setelah rambutku tergerai bebas, ia mempercepat langkahnya mendahuluiku. “kyungsoo!!” panggilku setengah berteriak, seolah tak mendengar ia tetap berjalan santai memasuki gedung sekolah. “ck. Menjengkelkan sekali.” Omelku.

“hoi!” teriak seseorang tepat di telingaku.

Aku menoleh kaget, “ya!” sentakku begitu melihat orang yang mengagetkanku barusan. Bukannya merasa bersalah, eunyeol malah tertawa senang sampai memegangi perutnya.

“astaga kau harus lihat wajahmu sakura,” ucap eunyeol di tengah tawanya.

Aku menatapnya jengkel dan berlalu. “kenapa semua orang jadi menjengkelkan pagi-pagi begini.” Omelku dengan nada tinggi. Aku masih jengkel dengan kyungsoo dan eunyeol bisa-bisanya meneriakiku seperti tadi ck! benar-benar.

“ya ampun kenapa kau marah sakura, aku kan hanya bercanda.” Tiba-tiba eunyeol sudah berjalan di sebelahku sembari menggandeng lenganku.

“kau menjengkelkan sama seperti kyungsoo.”

“kenapa lagi kau dengannya?”

“dia menarik ikatan rambutku.”

“karena?”

“dia tak suka aku menaikkan rambutku terlalu tinggi, dia bilang kulitku akan dilihat banyak orang—“

“tahan sebentar.” Eunyeol meletakkan telapak tangannya di depan wajahku dan mendadak berhenti.

“apa?” tanyaku jengkel.

“D.O sunbae bilang begitu?”

“eoh.”

Eunyeol memegangi tanganku erat. Dan menatapku dengan tatapan anehnya, “kemajuan astaga. Kalian. Ya ampun. Kenapa aku yang malu membayangkannya?”

Author’s POV

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap eunyeol. Tak hanya membuatnya jengkel, gadis itu juga membuatnya heran luar biasa. “kau ini aneh.”

“apa yang aneh? Aku hanya senang, astaga sakura itu namanya kemajuan lain antara kau dan D.O sunbae. Sebenarnya selama ini aku bertanya-tanya kapan kalian aku beriuman lagi—“

“ya!” teriak sakura dan kali ini ia benar-benar berteriak dengan suara yang sangat keras. Untungnya lorong sekolah masih kosong pagi itu, tapi sesaat setelah berteriak kearah eunyeol, pipi sakura malah merona merah.

Eunyeol menahan senyumnya, ia mengerti, ia sangat mengerti. “maaf aku salah bicara.” Masih sambil berusaha menahan tawanya, eunyeol membalik tubuhnya dan berjalan tanpa rasa bersalah menuju kelas mereka.

Sakura mendengus keras, “dasar anak itu. Ck!”

“aku akan sampai di rumah sakit secepat yang aku bisa.”

Bugh

Yunju yang sedang berbicara di telepon tak sengaja menabrak sakura yang sedang berdiri tepat di depan tangga yang dituruni yunju barusan. “ah mian.” Kata yunju sebentar, ia bahkan tidak sempat mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang ditabraknya.

“yunju eonni?” ucap sakura pelan, ia belum sempat memastikan, tapi yunju sudah berlari cepat keluar gedung sekolah. “kenapa dia panik begitu?” Tanya sakura pada dirinya sendiri. Sekilas tadi, sakura memang melihat raut kecemasan di wajah yunju. Sakura mengangkat bahunya, “molla.” Jawabnya atas pertanyaannya sendiri.

-0-

Bel pulang sekolah sudah berbunyi hampir setengah jam yang lalu. Namun masih banyak murid-murid yang memutuskan untuk tetap di sekolah. Sehun yang selesai kelas tadi langsung berlarian keluar, baru saja sampai dari ruang ganti. Dia sudah mengganti seragamnya dengan kostum baseball. “hyung.” Panggilnya pada yang lain yang sedang duduk di dekat lapangan menunggu pelatih.

“D.O hyung?” ujar sehun riang begitu ia melihat D.O sudah memakai seragam baseballnya dan duduk di sebelah chanyeol. “hyung~” sehun langsung memeluk D.O,

“ya, sehun-ah.” D.O berusaha melepaskan pelukan sehun yang erat itu. Entah kenapa sehun senang sekali memeluknya.

Chanyeol hanya tersenyum di sebelah D.O melihat tingkah sehun, sudah biasa sekali anak itu bersikap begitu. Chanyeol memukul-mukul bola baseball di tangannya, “kau memang sudah benar-benar boleh latihan D.O-ya?” tanyanya.

“hm.” Tanggap D.O pendek, dia sudah berhasil melepaskan pelukan sehun.

“dimana sakura?” Tanya suho yang juga duduk disana, menemani teman-temannya berlatih seperti biasa.

“bersama eunyeol.” Sambar sehun, “aku tadi melihat mereka duduk di kantin.” Jelasnya tanpa diminta. Sehun merapikan rambutnya yang coklat keemasan.

“bersama pacarmu?” kali ini baekhyun membuka mulutnya, tak tahan untuk menggoda sehun.

“ah mwoya.” Sehun bangkit, kalau baekhyun sudah buka mulut seperti ini sehun tau akan jadi apa dia nanti. “aku masuk ke lapangan ah~” tanpa menoleh lagi, sehun berlalu meninggalkan hyung-hyungnya yang sedang menertawakannya.

D.O mengeringkan rambutnya di depan cermin ruang ganti. Ia sudah mengganti lagi bajunya dengan seragam sekolah. Latihan selesai sekitar 15 menit yang lalu, walau teman-temannya masih ingin bermain di lapangan, D.O memutuskan untuk langsung pulang, sakura tadi menelponnya dan mengatakan kalau ia tak jadi pulang bersama eunyeol.

“memang kau tahu rumah yunju?”

“tidak.”

Saat D.O hendak beranjak, dua orang teman timnya masuk hendak berganti baju. “hai D.O” sapa yoongmin begitu melihat D.O

D.O membalas dengan anggukan singkat. Dia sedikit mengerutkan keningnya, dia seperti mendengar nama yunju dalam percakapan yoongmin saat masuk tadi. “yoongmin-ah, tadi saat masuk kau bilang apa?”

Yoongmin sedikit bingung tapi sedetik kemudian dia sadar dengan maksud D.O, “oh rumah yunju maksudmu?”

“eoh. Kalian sedang membicarakan apa memangnya?” Tanya D.O penasaran.

“yunju, hari ini dia tidak masuk sekolah. Kudengar karena ada orang tuanya yang sakit. Ya aku sempat berpikir untuk menengok tapi aku tak tahu rumahnya,” yoongmin tertawa diakhir kalimatnya. Sudah jadi rahasia umum kalau sejak yunju pindah ke sekolah yoongmin memang gencar sekali mendekati gadis itu, walau sampai sekarang hasilnya nihil.

D.O mengangguk mengerti, “ah baiklah, aku duluan.” Pamitnya.

Sakura menyender di mobil D.O menunggu laki-laki itu selesai latihan. Eunyeol sudah pulang duluan sekitar 15 menit yang lalu. Sakura menatap sekeliling bosan. Untungnya dari kejauhan sudah dilihatnya D.O sedang berjalan kearahnya. Langkah kaki D.O cepat sekali tak seperti biasanya.

Disaat yang bersamaan, suho juga sedang berjalan menuju mobilnya.

D.O berhenti tepat di depan sakura, “kau pulang bersama suho hyung saja ya.” Katanya langsung.

“eoh? Wae?” sakura menatap D.O bingung, heran kenapa tiba-tiba laki-laki itu malah menyuruhnya pulang bersama suho.

D.O menghindari tatapan mata sakura. “aku ada urusan sebentar, suho hyung.” D.O menghampiri suho mendekati mobilnya. “sakura bisa pulang bersamamu? Aku ada urusan dan kurasa akan lama. Kasihan sakura kalau menungguku.”

Suho mengangguk setuju. “baiklah. Tentu saja bisa.”

Sakura masih berdiri di tempatnya semula begitu D.O datang lagi, “kau bersama suho hyung ya,” D.O meraih tangan sakura dan memegangnya, ketika ia hendak menarik sakura gadis itu menahannya.

“kau mau kemana memangnya?” Tanyanya penasaran.

“aku ada urusan dan ini akan lama. Kau pulang saja bersama suho, sudah terlalu sore seperti ini.”

Sakura menatap D.O, dia menyerah. Memaksa sekalipun D.O tidak akan merubah keputusannya, D.O memang sudah berjanji akan pulang bersama tapi kalau sudah begini, sakura tak akan mampu memaksa. Sudah sore, ia sudah cukup lelah hari ini. Sakura mengangguk dan D.O segera menariknya menuju mobil suho.

Setelah sakura duduk di dalam mobil, D.O melongokkan kepalanya lewat jendela. “geurae. Gomawo hyung, jaga sakura baik-baik.” Pesan D.O pada suho yang sudah di balik stir.

“arasseo.” Balas suho singkat.

“suho hyung pasti menjagamu. Jangan pergi kemana-mana dan langsung makan juga istirahat begitu kau sampai, mengerti?” kali ini D.O berpesan pada sakura. gadis itu hanya mengangguk singkat. D.O mengacak pelan rambut sakura dan mengeluarkan kepalanya. Mobil suho perlahan keluar dari parkiran dan menghilang di balik gerbang.

D.O mendesah. “mianhae sakura.” katanya pelan berlalu menuju mobilnya.

-0-

Mobil berwarna hitam tersebut berhenti di depan sebuah rumah berpagar tinggi. D.O melihat sekeliling, setelah memastikan ia tak salah rumah, D.O memutuskan keluar dari mobil. Ia memencet bel dan tanpa menunggu lama, seorang wanita paruh baya yang berumur sekitar 40 tahun-an keluar. “annyeonghaseyo.” Sapa D.O ramah seraya membungkuk.

“annyeonghaseyo, ada perlu apa tuan muda?” Tanya ahjumma tersebut kemudian.

“saya ingin mencari yunju.”

“nona sedang tidak di rumah.”

“ada dimana dia?”

Ahjumma tersebut mengerutkan keningnya heran melihat D.O

“saya teman sekolahnya.” Ucap D.O seketika setelah mendapat tatapan yang kurang mengenakkan dari ahjumma di hadapannya.

“nona sedang di rumah sakit merawat tuan besar.”

D.O berpikir sebentar, benar dugaannya kalau yang sakit adalah ayah yunju mengingat ibunya memang sudah meninggal berbulan-bulan yang lalu. “boleh saya tahu nama rumah sakitnya, ahjumma?”

Walau masih memberikan tatapan menilai, ahjumma tersebut memberikan nama rumah sakit tempat ayah yunju dirawat. Tanpa menunggu lama, D.O langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit tersebut.

D.O sampai di lantai lima dan segera mencari ruang vip yang sebelumnya diberitahukan oleh pihak rumah sakit di meja informasi. Perlahan D.O mengamati setiap nomor kamar satu persatu. D.O menghentikan langkahnya begitu melihat seorang perempuan sedang duduk di depan sebuah kamar, walau wajahnya menunduk tetapi dengan seragam yang dikenakannya, D.O langsung tahu kalau gadis itu adalah yunju.

“yunju-ya?” panggilnya pelan.

Gadis yang dipanggil yunju tersebut mengangkat kepalanya, sorot matanya terlihat lelah tapi ia tersenyum lebar begitu melihat D.O yang berdiri di hadapannya dan tadi memanggilnya. “D.O?”

D.O tersenyum kecil, dia duduk di sebelah yunju dan membuat jarak. Yunju menoleh dan benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “kenapa kau bisa kesini? Kau tahu?”

“hm. Ayahmu sakit apa?” dari nada suaranya terdengar sekali kalau D.O sedikit canggung dengan suasana yang tercipta di antara mereka.

“serangan jantung. Tadi pagi dia jatuh di kantornya.” Ucap yunju. Ada nada sedih dalam suaranya, apa yang menimpa ayahnya memang sangat mengguncangnya. Apalagi sekarang hanya ayahnya lah yang ia miliki di dunia ini setelah ia ditinggal oleh mendiang ibunya. “tapi… kenapa kau bisa tahu aku disini?”

Mata D.O membelalak, ia sesungguhnya memang belum mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan seperti ini dan juga ia bukan orang yang pintar mengarang alasan. “aku tadi—“

“nona yunju?” laki-laki dengan jas dokter keluar dari ruangan di dekat mereka bersama seorang suster.

“ne?” yunju bangkit dan menghampiri dokter tersebut.

“kondisinya tuan seo sudah stabil, tapi biarkan dia istirahat malam ini.” Kata dokter bermarga Lee itu.

“terima kasih dokter.” Ucap yunju seraya membungkuk hormat.

Setelah dokter berlalu, yunju kembali duduk di tempatnya semula. “appa sudah baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat.” Jelas yunju tanpa diminta. D.O mengangguk mengerti. “terima kasih sudah datang D.O-ya, maaf kau tidak bisa langsung menjenguknya.”

“gwenchana. Yang penting ayahmu sehat dulu.”

“aku senang kau menyempatkan diri kesini. Terima kasih.”

“berhentilah berterima kasih. Sudah seharusnya kan orang sakit di jenguk seperti ini.” D.O bangkit dari tempatnya, “kau juga sudah menjaga ayahmu seharian ini, kau sebaiknya istirahat juga. Aku akan segera pulang.”

“aku benar-benar senang kau datang D.O-ya,”

Kali ini yunju menahan mulutnya untuk tidak mengatakan terima kasih lagi. D.O tersenyum kecil dan segera berlalu dari sana, yunju tak melepaskan matanya sampai D.O hilang di balik lift.

Yunju memegangi dadanya, sejak awal tadi menyadari kalau D.O datang, jantungnya sudah susah payah sekali berdetak dengan normal. Perasaan senang dan kagetnya berkumpul jadi satu dan dia juga heran kenapa ia tak sampai meledak detik itu juga. Walau kesedihan masih menguasai isi kepalanya, tapi yunju tak dapat berbohong, ia bahkan sampai berulang kali meyakinkan dirinya kalau laki-laki yang datang itu D.O, Do Kyungsoo yang selama ini selalu dirasa jauh dari jangkauannya dan entah angin dari mana tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Ia tak dapat berbohong kalau, walaupun ia sedih tapi perasaan senang yang berlimpah itu meski hanya sekejap tadi sempat membuatnya lupa akan kesedihannya.

Senyuman cerah yunju masih menghiasi wajah cantiknya sampai gadis itu masuk ke dalam ruang rawat ayahnya, “appa aku bahagia.” Katanya begitu ia memandang wajah ayahnya yang begitu tenang terlelap disana.

-0-

Bagi D.O kunjungannya memang hanya sekedar bentuk perhatian kecil darinya untuk temannya, tapi laki-laki itu salah. Bentuk perhatiannya itu ternyata dimaknai lebih olah sang gadis dan rasanya potongan perasaan yang sempat ingin dilupakan yunju malah dibawanya kembali, digenggamnya erat dan tak ingin dilepasnya.

-0-

Sakura membantu ahjumma mempersiapkan makan malam. Setelah sibuk di dapur, ia membantu menata makanan di meja makan. Sudah pukul 7 dan sebelumnya D.O tak bilang kalau ia akan pulang terlambat jadi sakura memutuskan untuk menunggu D.O agar mereka bisa makan malam bersama.

Sekitar setengah jam kemudian, suara mobil D.O terdengar memasuki gerbang. Sakura yang tadi sempat naik sebentar ke kamarnya mengambil ponsel segera berlari turun. “kyungsoo.” panggilnya semangat begitu D.O membuka pintu. D.O mengangkat kepalanya singkat dan hanya menaikkan sudut bibirnya sebagai tanggapan.

Sakura memberengut, laki-laki ini begini lagi. Katanya dalam hati. “kau belum makan kan? Aku tadi membantu ahjumma mempersiapkan makan malam. Ayo kita makan.”

“kau makan saja duluan. Aku akan mandi dulu.”

“kutunggu.” Ujar sakura cepat.

D.O mendesah, “terserahlah.”

-0-

TBC

jadi aku telat lagi, maaf lagi dan lagi. its something that i cant help, terlalu banyak paper di 2 minggu ini dan well aku emang baru nulis malam ini and im stuck. im freaking stuck and i decided to make it apart. promise you the next one akan aku pos rabu/kamis malam. seriously, im getting busy in every seconds of my life /crying/ and kpop being a big bullshit day by day /sobs/

dan juga soal moment sakura d.o janji akan di perbanyak lagi maaf soal cerita yang ga jelas ini padahal uda menjelang akhir T_T im so sorry 😦

hope you guys enjoy it and please patiently be waiting for the next ily ❤

358 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 17) 1/2

  1. astaga ini kyungsoo terlalu baik atau yunju yang terlalu berharap lebih. iya juga sih kalo ada cowo yang perhatian pasti orang itu bakalan ngartiin bahwa cowo itu punya perasaan. nyesek banget jadi sakura, dia nyiapin makan malam sama ahjumma tapi kyungsoo nya malah sama yunju oh ini sangat menyakitkan. semangat!!

  2. Kalok cuma perhatian kecil, knapa D.O harus terburu_buru pergi,dan tidak bilang sama sakura,kalo dia pengen ketemu ama yunju..
    Aiiiissss..!!! Karakter D.O emang Nggk bisa di tebak di Chapter ini,dan Chapter yg lainnya..
    Knapa siih,mggk saling jujur aja satu sama lai, sakura kan udah jujur sama kamu kyungsoo,,!!!
    Ahhh..!!! Baper lah..
    Aku tunggu next nya ya Thor, sumpah Greget bangeett..
    Saat kyungsoo mencium bibir sakura, bibir gue jadi keluh..
    Ahhh malah jadi ( Alay ) kayak gini..:):):*):) Wkwkwk
    Fighting Thor, I Like this FF..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s