Secret Darling | 16th Chapter

secret-darling

:: SECRET DARLING | 16th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by chocolatesoda © Café Poster Art ^^

.

Summary :

Shin Minhee adalah gadis berusia 18 tahun yang terjebak pernikahan konyol dengan seorang laki-laki berusia 21 tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang menjebak mereka selama satu malam di Pulau Jeju.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter | 14th Chapter | 15th Chapter

.

Airmata Minhee meleleh, dan botol air mineral yang ada di tangannya terjatuh tanpa sadar. Botol itu menggelinding menuju sisi lain dari halte, dan baru berhenti saat membentur sepatu seorang anak lelaki yang berdiri tak jauh dari Minhee yang sedang terduduk sendirian di kursi tunggu halte.

Lelaki itu melihat Minhee, lalu melangkah mendekati gadis itu setelah sebelumnya memungut botol yang berhenti menggelinding di depan sepatunya itu.

“Mine,” sapa laki-laki itu dengan suara hangatnya yang biasa ia gunakan untuk menyapa Minhee. Nada suara sama yang tak pernah berubah semenjak sebelas tahun yang lalu, namun kini yang berbeda hanya suaranya yang sudah membesar karena faktor kedewasaan.

Minhee tak bergeming saat Jungkook duduk di sampingnya, lalu menyodorkan botol itu ke depan Minhee dengan senyum lebar yang terlukis.

“Mine?” ulang Jungkook saat Minhee tak kunjung memberikan respon. Laki-laki itu menatap Minhee lebih jelas, dan saat itulah ia terkejut melihat airmata yang meleleh satu persatu menuruni pipi Minhee.

“Mine, ada apa denganmu?” Tanya Jungkook cemas seraya bergegas menghapus airmata yang meleleh di pipi Minhee.

Minhee tersadar saat tangan Jungkook menyentuh pipinya, sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukan Jungkook. Minhee spontan menepis tangan Jungkook dan menghapus airmata itu dengan tangannya sendiri.

“Sedang apa kau di sini?” Tanya Minhee cepat sambil mengucek mata guna membersihkan airmata yang masih menggenang di pelupuk matanya.

“Menunggu bus,” jawab Jungkook. “Aku menemukan botol airmu terjatuh, dan aku melihatmu. Aku menghampirimu untuk mengembalikan botol ini, lalu kulihat kau menangis. Aku hanya ingin menghapus airmatamu, namun kau malah menepis tanganku.”

Minhee merebut botol itu dari tangan Jungkook tanpa berkata apa-apa. Namun hal itu malah membuat Jungkook semakin penasaran dan mendekatkan wajahnya pada Minhee. Minhee tersentak, dan buru-buru mendorong Jungkook menjauh.

“Apa masalahmu, hah?!” hardik Minhee kalut. Gadis itu berdiri dan menatap Jungkook tajam.

“Aku hanya penasaran atas apa yang sedang terjadi padamu,” jawab Jungkook tenang. “Mine, kita baru terpisah selama sebelas tahun namun kau sudah banyak berubah seperti ini. Ada apa denganmu?”

“Tolong jangan ganggu aku saat aku memiliki masalah,” ujar Minhee lalu menelungkupkan wajahnya sesaat di telapak tangan.

“Aku hanya mencoba untuk membantumu,” sahut Jungkook sambil ikut berdiri dari duduknya. “Saat kau menangis, aku akan selalu ada di dekatmu, seperti dulu. Aku tidak akan merubah itu, Mine.”

“Maaf, tapi aku tak bisa lagi, Jungkook…” balas Minhee dengan isak yang mulai terdengar. Jungkook terkesiap mendengar isakan Minhee. Tangannya terulur untuk meraih Minhee, membawanya dalam dekapan seperti apa yang selalu terjadi di masa kecil mereka dahulu. Jungkook adalah tempat dimana Minhee bisa menumpahkan tangisannya, karena Jungkook adalah laki-laki yang paling peduli pada Minhee ketika ayahnya sedang pergi bekerja.

Namun uluran tangan Jungkook terhenti saat ucapan Minhee mematahkan harapannya yang sudah ia tanamkan sejak masa lalu, “karena aku tak akan bisa menjadi milikmu, Jungkook. Maafkan aku…”

Jungkook terpana. Minhee berlari pergi meninggalkan halte itu dengan membawa airmatanya yang kembali tumpah. Jungkook tak bisa bergeming. Tak bisa dipungkiri hatinya patah saat mendengar Minhee mengatakan kalimat itu. Kalimat yang menyatakan bahwa Jungkook tak bisa memiliki gadis itu lagi seperti masa lalu.

 

.

.

| 16th Chapter |

.

.

 

 

Minhee tidak tahu mengapa keadaannya bisa sekacau ini. Perasaannya sudah berbentuk tak karuan lagi sekarang, dan satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini adalah segera tiba di atas bantalnya lalu menangis sepuasnya. Minhee sudah menangis sepanjang perjalanan dalam bus tadi, namun ia masih berusaha untuk menahannya. Seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah Minhee terus-menerus memperhatikan Minhee yang menghadapkan wajahnya ke jendela, seakan mengerti jika gadis muda yang ada di sebelahnya itu sedang menangis. Wanita paruh baya itu tidak berani menegur Minhee sedikitpun, namun Minhee bisa merasakan kecemasan dan rasa penasaran yang dirasakan bibi itu.

 

Minhee meraih kenop pintu apartemennya. Pintu itu masih terkunci, menandakan ia bahkan tiba lebih dulu dibandingkan Sehun. Minhee terisak pelan. Gadis itu menghapus asal airmata yang meleleh di pipinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sibuk mencari anak kunci dalam saku tasnya.

Tangan Minhee masih gemetar saat berusaha memutar anak kunci, dan akhirnya setelah memutar anak kunci sebanyak dua kali, pintu itu bisa terbuka sekarang. Minhee segera menyerobot masuk, dan menutup pintu yang ada di balik punggungnya. Apartemen itu sepi dan dingin. Minhee melanjutkan tangisannya di meja makan. Gadis itu menelungkupkan wajahnya di atas kedua lengannya yang menekuk hingga airmatanya membasahi lengan kardigan yang ia kenakan.

Minhee tidak menghitung berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk menangis, yang jelas ia sampai jatuh tertidur karena terlalu lelah meratapi kesedihan dan patah hatinya. Minhee baru terbangun saat ia mendengar suara ketukan di pintu depan. Ketukan itu semakin lama semakin mengeras, dan Minhee segera terbangun saat namanya dipanggil pula oleh seseorang yang ada di balik pintu. Ketukan dan bel pintu terdengar bersahut-sahutan, membuat Minhee bergegas membuka pintu tersebut. Bahkan ia tak sempat berpikir untuk membenahi penampilannya yang berantakan.

Minhee memutar anak kunci yang masih terpasang di lubang kunci sisi dalam, lalu membuka pintu itu. Langkah Minhee terhenti saat ia bertemu dengan laki-laki itu. Pandangan mereka sempat saling membentur di udara selama beberapa puluh detik lamanya, sebelum akhirnya Minhee memilih untuk membuang pandangannya lebih dulu. Tanpa kata gadis itu bergegas membalikkan tubuhnya, namun langkahnya terhenti saat laki-laki itu menahan pergelangan tangan kirinya.

 

“Lepaskan aku,” ucap Minhee dingin. “Aku sedang tidak enak badan, aku mau melanjutkan istirahatku.”

“Jangan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku,” balas laki-laki itu dengan nada datar.

“Pertanyaan apa lagi?” timpal Minhee dengan sedikit nada gusar yang tertahan. Tangan kanan gadis itu mengepal, menahan airmata yang hendak meleleh lagi dari pelupuk matanya.

“Kau tidak mendengarkan kata-kataku tempo hari, huh?” ucap laki-laki itu lagi. “Kubilang jangan dekati dia lagi. Aku tidak suka kau berdekat-dekatan dengannya.”

Minhee mengerti betul apa maksud dari semua ucapan Sehun. Sehun tak pernah suka pada Jungkook. Tak pernah. Dan yang ia inginkan adalah Minhee selalu mengingat bahwa seorang Oh Sehun tak pernah menyukai Jeon Jungkook. Sehun selalu ingin Minhee menjauh dari semua interaksi bersama Jungkook.

Jadi… Apakah ia sempat melihat pertemuan tak sengaja Jungkook dan Minhee di halte kampus tadi?

Pikiran Minhee mendadak berkabut, namun di sisi lain ia tak ingin menunjukkan sisi lemah dan kalahnya di depan Sehun. Dengan cepat Minhee menguasai hatinya, dan bersiap membalas kata-kata Sehun dengan nada yang lebih tajam.

“Lalu apa masalahmu?” sinis Minhee sambil tersenyum miring. “Kookie adalah sahabatku sejak kecil. Apa aku tak boleh dekat dengannya lagi? Kau bahkan selalu melarangku, meskipun aku tak pernah melarangmu dekat dengan sahabat lamamu yang telah kembali.”

Sehun terkesiap. Tanpa sadar ia merenggangkan genggamannya pada pergelangan tangan Minhee. Minhee melangkahkan kakinya kembali, melepaskan dirinya dari penahanan Sehun. Gadis itu masuk ke kamarnya, meninggalkan Sehun sendirian mematung di depan pintu apartemen mereka.

Perlahan Sehun menatap pintu kamar gadis itu yang kini sudah tertutup rapat.

 

Dia sudah tahu?

 

***

 

“Lupakan soal pembicaraan kita kemarin,”

Minhee tersentak saat tiba-tiba Sulli datang dan merangkul bahunya. Minhee menoleh dan melihat senyum ketulusan yang mengembang di wajah seniornya itu. Mau tak mau Minhee ikut tersenyum membalasnya, walau Sulli melihat itu tak lebih dari sebuh senyum palsu.

“Mereka akan baik-baik saja,” hibur Sulli sambil mengacak lembut puncak kepala Minhee. “Jangan terlalu cepat patah hati, Minhee-ya.”

“Aku tidak apa-apa, sunbaenim,” jawab Minhee dengan sebuah senyum yang lebih tulus. Gadis itu menghela napas panjang, menahannya selama beberapa detik sambil memejamkan kedua matanya, sebelum akhirnya menghembuskannya kembali secara perlahan.

“Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu kemarin,” rengut Sulli.

“Ya, sunbaenim sudah memperingatkanku, hanya saja aku terlalu bandel dan terlalu ingin tahu tentang segala hal. Jadi… Ya, aku bisa terima kalau ini semua salahku sendiri,” ujar Minhee sambil memilin ujung kertas naskahnya.

“Semuanya akan baik-baik saja,” hibur Sulli lagi. “Perlukah kubantu kau untuk mengawasi mereka, hm?”

Minhee terkekeh kecil mendengar tawaran Sulli. “Ah, tidak perlu repot-repot, sunbaenim. Aku tahu, kau pasti terlalu sibuk untuk hal-hal kecil semacam itu.”

“Hoseok bisa membantuku soal manajemen drama,” sahut Sulli sambil mengangkat bahunya. “Jadi aku bisa tetap membantumu, bagaimana?”

Minhee menggeleng dengan senyumnya. “Tidak perlu, sunbaenim…”

“Tapi aku merasa tidak enak hati padamu,” sahut Sulli kecewa.

“Aku tidak apa-apa, sunbaenim. Seperti yang kau bilang sebelumnya, aku yakin tidak ada hal apapun yang terjadi di antara mereka. Kau sudah menanamkan sugesti positif itu padaku tadi, dan kini tampaknya sudah mulai bekerja. Oh, jangan coba-coba mengancurkan usahamu sendiri, sunbaenim,” celoteh Minhee.

Sulli terkekeh gemas mendengar celotehan Minhee. Sedikit mulai ada rasa lega di hatinya, sebab nada bicara Minhee yang riang tampaknya sudah bisa kembali lagi seperti semula. Semoga kata hatinya benar, tidak ada yang pernah berubah.

“Baiklah, kau bisa panggil aku setiap kau membutuhkan bantuan, oke?” sahut Sulli ramah sambil beranjak meninggalkan Minhee. “Dan jangan lupa hapalkan naskahmu.”

Minhee tersenyum dan mengangguk pada Sulli. Sulli beranjak, membuat Minhee kembali sendirian kini. Gadis itu mengulangi terapi pernapasannya kembali, supaya perasaannya bertambah tenang. Ia harus kembali menghapalkan naskahnya, itu adalah yang terpenting sekarang mengingat tenggat waktu latihan mereka yang semakin sempit.

 

“Hei,”

Minhee menolehkan kepalanya. Hatinya sedikit mencelos ketika tahu siapa orang yang memanggilnya barusan. Detik berikutnya Minhee mencoba tidak peduli. Gadis itu mengabaikan sang laki-laki begitu saja dengan cara pura-pura sibuk dengan naskahnya, walaupun laki-laki itu duduk di sebelahnya sekarang.

“Kau masih marah padaku?” Tanya Jungkook dengan nada kecewa.

Uhm… Tidak.” Jawab Minhee singkat. Selebihnya gadis itu pura-pura terlihat sibuk menghapalkan deretan dialognya dan berkomat-kamit sendiri.

Jungkook mendecak. “Mine,”

Minhee terpaksa menolehkan kepalanya kembali untuk menghadapi Jungkook yang terus-menerus mengganggunya. “Apa lagi?”

“Aku hanya ingin membantumu, Mine. Kenapa kau malah terkesan menyembunyikan semuanya dariku?” protes Jungkook.

“Sudahlah, aku tidak apa-apa.” jawab Minhee singkat. “Bisakah kau meninggalkanku, Jungkook? Kau tidak melihatku sedang sibuk? Maaf.”

Jungkook mengeluh, “baiklah.”

Jungkook pada akhirnya mau memenuhi permintaan Minhee. Laki-laki itu bangkit, dan Minhee sedikit melirik saat Jungkook melangkah pergi dari tempatnya. Minhee menghembuskan napasnya keras.

 

Kenapa kau datang kembali saat aku tidak mungkin lagi menjadi milikmu?

 

 

Latihan drama mereka hari ini berjalan cukup lancar. Setidaknya bagi Minhee. Beruntung karena selama latihan berlangsung serius tadi, Minhee bisa cukup berkonsentrasi dengan naskah. Masalah pribadinya sedang pelik, ia tahu. Namun ia bertekad tak ada yang boleh mengetahui itu, termasuk Sulli. Selama ini Sulli hanya sebatas tahu jika Minhee menyukai Sehun, dan Minhee sama sekali tak berminat untuk mengatakan pada Sulli tentang kenyataan yang sebenarnya. Jadi Minhee berusaha akan menyembunyikan ekspresinya sebaik mungkin. Tak ada orang lain yang boleh tahu jika hatinya sedang berantakan saat ini.

 

“Minhee-ya,” seorang senior laki-laki memanggil Minhee. Dia bukan Hoseok, dan sebenarnya Minhee sama sekali tidak mengenal senior itu. Minhee hanya tahu bahwa senior itu bukan salah satu pemeran drama, ia masuk dalam panitia namun tidak satu angkatan dengan Hoseok maupun Sulli. Pada akhirnya Minhee menuruti kata senior itu untuk mendekat ke arahnya, walaupun hatinya sibuk bertanya-tanya.

“Ada apa, sunbaenim?” Tanya Minhee formal.

Senior itu terkekeh sambil berkacak pinggang. “Eoh, tidak perlu terlalu formal begitu,”

“Maaf,” Minhee menundukkan kepalanya sopan. “Kau seniorku, dan bagaimanapun aku harus selalu sopan padamu. Aku tidak mau dianggap sebagai adik tingkatan yang tidak tahu etika.”

Senior itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa Minhee duga senior itu mengetukkan gulungan kertas tipis ke atas puncak kepalanya. Tidak sakit memang, namun itu cukup membuat Minhee terkejut.

Aish, kau tidak tahu apa fungsi lain dari drama ini? Drama ini dilakukan sebagai sarana antara senior dan junior dalam menjalin kerja sama dan keakraban. Kenapa kau tidak mengilhami itu, eoh? Jangan hanya karena aku seniormu, kau jadi kaku begitu terhadapku. Sepertinya… Kau hanya mau dekat dengan Sulli sunbae, begitu?” celoteh senior itu lagi.

“Baiklah, terserah apa kata senior saja,” gumam Minhee kecil. Namun senior itu masih bisa mendengar suara Minhee, lalu terkekeh diam-diam.

“Hei, hari ini jadwalmu piket membersihkan ruangan ini,” ujar senior itu lagi.

“Apa?” ulang Minhee kaget. “Aku? Piket?”

“Ya,” jawab senior itu ringan. “Ada apa memangnya? Apa kau pikir kita tidak memiliki jadwal piket tersendiri selama pelatihan ini?”

“Tapi—“

“Kau akan piket hari ini,” potong senior itu. “Dan kau tak perlu khawatir, kau bisa bekerja sama dengan Jungkook.”

“A—apa?!” sahut Minhee spontan.

“Kau keberatan?” senior itu memicing pada Minhee.

“Ah, bukan—bukan begitu, sunbaenim…” gagap Minhee.

“Baiklah, karena tidak ada keberatan maka kuanggap kau setuju dengan jadwalmu. Nanti aku akan memberitahu Jungkook juga, oke?” ujar senior itu sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Minhee. Minhee masih mematung memandangi kepergian senior itu.

Raut wajah Minhee mengeruh, terlebih saat ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Namun ketika ia tersadar akan sesuatu, secepat itu pula ia merubah pikirannya.

 

Huh, memangnya dia akan peduli aku akan pulang jam berapa?

 

Minhee lalu mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam tas, dan tepat saat itulah Sulli menghampirinya.

“Minhee-ya, kau tidak apa-apa, kan?” bisik Sulli kecil sambil memandangi Minhee.

Minhee menolehkan kepalanya membalas tatapan Sulli sambil mengerutkan keningnya.

“Soal jadwal piketmu…” lanjut Sulli, “aku sudah meminta agar jadwalmu disatukan dengan jadwalku atau jadwal Eunji saja, mengingat kami yang paling dekat denganmu selama latihan drama ini. Namun Woobin menolaknya. Ia bilang pekerjaan akan lebih ringan jika jadwalnya disilangkan antara laki-laki dan perempuan. Dan kau tahu, Hoseok menyetujuinya.”

Minhee tersenyum sambil tetap sibuk membereskan perlengkapannya. “Oh, tidak masalah, sunbaenim. Jadwal piket bersama siapapun aku akan menerimanya,”

“Kau dan Jungkook satu kelas, kan?” lanjut Sulli lagi. “Kalau begitu, kuharap kalian tak terlalu canggung saat harus membersihkan ruangan ini berdua. Buatlah obrolan bersamanya, Minhee. Sepertinya Jungkook lelaki yang cukup menyenangkan,”

“Ya, aku akan mencobanya.” jawab Minhee singkat. Sulli tersenyum sekali lagi sambil menepuk bahu Minhee, sebelum akhirnya ikut melangkah keluar ruangan menyusul yang lainnya.

Minhee sudah selesai dengan perlengkapannya sendiri, dan kini tengah duduk sambil memandangi satu-persatu kru drama yang lain meninggalkan ruangan latihan. Ruangan itu berangsur sepi, dan Minhee merasakan itu sebab Jungkook sendiri masih ada di sisi ruangan yang lain. Eunji menjadi orang terakhir yang keluar dari ruangan itu. Sebelum melewati pintu, gadis itu tersenyum lebar ke arah Minhee sambil mengangkat kepalan tangannya di udara. Ungkapan penyemangat untuk Minhee, dan Minhee hanya membalasnya dengan senyuman datar.

 

“Apa semuanya sudah selesai?” Tanya Jungkook tiba-tiba.

Minhee tersadar dari tatapan kosongnya dan cepat-cepat melihat ke arah Jungkook. Gadis itu mengangguk sebagai jawaban, lalu bangkit berdiri dari posisi duduknya yang semula.

“Bagaimana dengan pembagian tugasnya? Kau menyapu dan aku mengepel lantai?” runding Jungkook.

“Aku akan menyapu dan membereskan properti yang masih berantakan,” usul Minhee. “Bagaimana?”

Jungkook mengangguk lalu menyambungnya, “kulihat sapu ada di bagian belakang sana. Kurasa kau yang harus bekerja lebih dulu, Mine. Aku akan mencampurkan air dengan pembersih lantai terlebih dahulu,”

“Baiklah,”

 

Minhee bergegas melangkah ke ruangan bagian belakang untuk mengambil sapu sekaligus memulai pekerjaannya, sedangkan Jungkook menuju arah yang lain. Setidaknya kerja sama ini akan menyenangkan. Minhee berpikir seperti itu karena Jungkook tak lagi mengganggunya dengan rentetan pertanyaan.

 

 

“Sulli-ssi!”

Sulli yang sedang sibuk dengan beberapa file drama di tangannya seketika berhenti melakukan kegiatannya. Gadis itu menoleh kesana-kemari untuk mengetahui siapa yang telah memanggil namanya barusan. Saat menoleh ke arah kiri gadis itu melihat seorang laki-laki berusaha menghampirinya, namun kening gadis itu mengerut ketika sadar siapa laki-laki itu.

“Oh, Sehun-ssi? Ada apa?” Tanya Sulli ketika mereka sudah bertemu.

“Apa kau melihat Hoseok? Aku sedang mencarinya,” jawab Sehun masih dengan napas terengah-engah.

“Oh, tadi kulihat ia masih ada di ruang latihan drama kami,” jawab Sulli.

“Drama?” Sehun bertanya lagi. “Divisi kalian akan segera mengadakan pentas drama lagi tahun ini?”

“Ya, sekitar musim depan,” jawab Sulli. “Memangnya ada apa?”

“Oh, tidak. Hanya saja tadi ada dosen yang menitipkan suatu berkas padaku untuk diberikan kepada Hoseok,” jawab Sehun.

“Baiklah, kurasa kau harus cepat ke sana jika ingin menemui Hoseok. Aku khawatir dia sudah pulang,” sahut Sulli. “Kau tahu ‘kan, dimana letak ruangan itu?”

Sehun mengangguk. “Dan jika aku tersesat nanti, setidaknya aku menemukan orang lain yang bisa kutanya,”

“Baiklah, semoga Hoseok belum pulang,” sahut Sulli sambil tersenyum kecil. Mereka berpisah arah setelah Sehun mengucapkan terimakasih.

Selanjutnya Sehun melanjutkan langkahnya menuju ruangan latihan drama yang Sulli maksud tadi. Ruangan itu tidak menyatu seutuhnya dengan gedung fakultas, namun ada di sisi lain gedung fakultas seni. Dulu Sehun sering diajak Kai ke sana, berhubung sampai semester ketiga Kai masih cukup aktif dalam komunitas seni kampus. Namun sekarang tidak lagi, dan entah sudah berapa lama Sehun tidak berkunjung lagi ke sana. Sebagai mahasiswa teknik arsitektur, Sehun bahkan sudah sedikit lupa jalan menuju gedung fakultas seni.

 

Hari sudah semakin sore, dan sampai sekarang ia bahkan belum menyampaikan titipan dosen tadi pada Hoseok. Rencananya hari ini ia tak akan pulang lebih lambat dari Minhee, namun sepertinya hari ini rencana itu harus gagal lagi.

Belakangan ini Sehun semakin sadar bahwa hubungannya dan Minhee berubah menjadi renggang kembali. Sehun ingin selalu memperbaikinya, namun di setiap ia berhasil maka di setiap itu pula akan ada hal lain yang menghancurkannya kembali.

 

Sehun terus melangkah menyusuri sekitaran gedung fakultas seni. Dan setelah menyusuri hampir separuhnya, akhirnya Sehun berhasil menemukan satu pintu besar dengan plang berketerangan bahwa ruangan itu adalah ruang latihan drama.

Sehun menarik napas lega. Namun sebelum meraih kenop pintunya, Sehun sedikit cemas melihat hanya ada dua pasang sepatu yang ada di rak depan. Kening Sehun sempat mengerut saat ia merasa mengenali salah satu dari dua pasang sepatu itu. Sepasang sepatu kets yang selama beberapa waktu terakhir selalu dilihatnya tersimpan di rak sepatu apartemennya. Sepatu milik Minhee.

 

Astaga, sudahlah. Minhee adalah mahasiswi sastra, dan ini fakultas seni. Kau pikir untuk apa dia berada di sini, Oh Sehun? Tidak, ini bukan sepatu Minhee. Hanya saja bentuknya serupa. Tidak mungkin hanya Minhee yang memiliki sepatu dengan model seperti ini di Korea Selatan.

 

Sehun menepis kecurigaannya sendiri. Awalnya ia merasa cemas, sebab hanya melihat dua pasang sepatu tergeletak di atas rak. Itu artinya hanya ada dua orang dalam ruangan ini, bukan? Dan jika saja yang di dalam itu Minhee dan ia sedang bersama seorang lelaki lain… Uhm, entahlah. Tapi yang jelas, Sehun sangat berharap bahwa salah satu mahasiswa yang masih berada di dalam sana adalah Jung Hoseok.

Sehun lupa mengetuk pintu. Ia sudah terlampau lelah berkeliling mencari Hoseok kemana-mana, dan pada akhirnya ia tiba di depan ruang latihan ini. Hari sudah terlampau sore sekarang, dan jika Sehun belum juga menemukan Hoseok, Sehun bertekad akan mengembalikan berkas itu pada dosen yang tadi memberi mandat kepadanya dengan alasan ia tidak berhasil menemukan Hoseok.

Sehun mendorong pintu itu supaya terbuka, dan hawa dingin dari mesin pendingin ruangan segera menerpa kulit tubuhnya. Sehun melangkahkan kakinya masuk. Namun baru satu tepakan, laki-laki itu menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia mematung dengan separuh tubuh yang baru memasuki pintu. Dan tatapannya terkunci, ia tertegun.

 

Dan jika saja yang di dalam itu Minhee dan ia sedang bersama seorang lelaki lain… Uhm, entahlah.

 

Bayangan mimpi buruk Sehun yang baru ia tepis beberapa detik yang lalu pun menjadi kenyataan. Dugaannya meleset jauh. Tidak ada Hoseok di dalam sana. Tapi di dalam sana ada Minhee—istrinya sendiri—dan kini Sehun bisa melihat dengan jelas betapa dekat jarak tubuh gadis itu dengan lelaki lain yang ada bersamanya sekarang.

Dan… Hell! Bagaimana bisa Sehun melupakan wajah itu?!

Jelas-jelas Sehun selalu mengingat bagaimana wajah seorang lelaki lain yang ia curigai akan merebut Minhee dari genggamannya. Lelaki yang Minhee berikan sebuah nama panggilan manis, bagian dari sisa-sisa kenangan masa lalu mereka.

Kookie.

 

Ada rasa panas yang menggelegak dalam darah Sehun, membantu menyebarkan gejolak emosi ke seluruh tubuhnya. Rasa cemburu? Mungkin. Ia merasa tidak rela melihat Minhee-nya kembali berinteraksi sedekat itu dengan lelaki lain. Tidak rela sedikitpun.

Sehun marah, namun ia tak bisa mengungkapkan itu. Sejak kecil ia dan Luhan memiliki pola emosi yang nyaris serupa. Mereka tak pernah mengatakan pada siapapun jika memendam amarah, mereka tidak bisa menyakiti orang-orang yang membuat mereka marah, hanya saja mereka akan lebih memilih untuk menusuk orang-orang itu lewat dinginnya sikap mereka. Mereka memang bukan sosok yang menunjukan emosi, tapi lebih memilih memendam dan menyimpan emosi itu untuk diri mereka sendiri. Hanya bongkahan es yang terlihat oleh orang lain.

Sehun masih membungkam mulutnya. Ia tak berkata apa-apa, namun dengan cepat ia mengeluarkan dirinya kembali dari ruangan itu. Satu-satunya indikasi yang menunjukan kemarahannya hanyalah genggaman kuatnya pada map berkas yang masih ada di tangannya. Map berkas yang seharusnya sudah berada di tangan Hoseok kini.

Sehun tidak berlari, namun ia melangkah cepat meninggalkan gedung fakultas seni yang semakin menjauh di balik punggungnya. Laki-laki itu mengambil jalan menuju gerbang kampus. Ia menyerah mencari Hoseok. Ia memilih untuk pergi, pergi sejauh mungkin untuk menghindari bayangan kebersamaan Minhee dan Jungkook yang membuat darahnya mendidih.

Cih, suami mana yang rela melihat istrinya berada sedekat itu dengan lelaki lain? Minhee miliknya, dan hanya dia yang berhak untuk berada sedekat itu dengan Minhee. Itu yang seharusnya. Pengingkaran pernyataan itu adalah hal yang semakin membuat emosi Sehun memuncak.

 

Sehun berhasil keluar dari gerbang kampus dengan napas terengah-engah menahan lelah sekaligus emosi yang membakarnya. Ia berdiri di halte dekat gerbang kampus kini, menunggu bus walau sedikit tidak sabar. Ia tidak bisa menunggu, karena menunggu dan berdiam diri malah akan semakin memperparah emosinya.

 

“Sehun?”

Sehun tidak merespon panggilan itu. Ia mendengar dengan jelas saat ada suara seorang perempuan yang memanggilnya dari sisi kiri, namun ia sengaja tidak meresponnya.

“Sehun, ada apa denganmu?” Tanya suara itu lagi, kali ini dengan volume suara yang semakin jelas. Sehun sengaja tidak melirik saat gadis itu melangkah mendekatinya, dan kini sudah berdiri di sebelahnya.

“Sehun, kau—“ ucapan gadis itu terputus saat Sehun pada akhirnya menoleh ke arahnya.

“—ada apa denganmu?” lanjut gadis itu pelan. “Apa kau baik-baik saja?”

Sehun menarik senyumnya tipis dengan ekspresi terpaksa yang sangat kentara. Gadis itu mengulum senyum sedih melihatnya. Ia tahu jika laki-laki yang ada di sebelahnya itu sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang. Ia sudah mengenal laki-laki itu bertahun-tahun, dan ia sudah mengerti.

“Aku ingin pergi ke Hangan Park sore ini,” lanjut gadis itu lembut sambil tersenyum. “Mungkin kau tidak keberatan untuk bercerita sedikit padaku. Bagaimana jika kau ikut denganku saja ke sana?”

 

 

Matahari yang mulai terbenam di ujung cakrawala tampak dengan jelas dari tepi Sungai Han sekarang. Begitu indah, ditemani oleh lampu-lampu neon beraneka warna yang mulai dinyalakan untuk sedikit menggantikan cahaya matahari yang perlahan semakin meredup.

Hari ini cuaca cerah, dan tampaknya lebih banyak pengunjung di hari ini dibandingkan dengan beberapa hari lalu disaat Sehun mengajak Minhee mengunjungi tempat yang sama. Masih tak banyak yang berubah. Perahu-perahu wisata itu masih tampak mempesona dengan neonnya yang berwarna mencolok, matahari terbenam yang masih tampak begitu hangat menyisakan semburat jingga di langit, serta angin yang bertiup lembut. Satu-satunya yang berubah adalah gadis yang berjalan bersama Sehun menyusuri Sungai Han ini. Dia bukan lagi Shin Minhee.

 

“Pasti mood-mu sedang tidak bagus,” tebak Daeun sambil memperhatikan perahu-perahu wisata yang melintas di atas permukaan sungai.

Sehun tidak menjawabnya. Namun lagi-lagi gadis yang ada di sebelahnya itu begitu mengerti alasan mengapa pertanyaannya diabaikan.

Sunset di Seoul tak kalah indah dengan sunset yang ada di Los Angeles,” sahut Daeun lagi, kini dengan tema yang berbeda. “Bahkan aku lebih suka melihat sunset yang ada di tanah kelahiranku sendiri,”

Sehun lagi-lagi tidak menanggapinya. Ia masih terdiam, dan Daeun sendiri dengan jujur merasa bahwa ia tak pernah tersinggung walaupun Sehun seakan membiarkannya mengoceh sendirian.

“Tinggal di Seoul membuatku merasa lebih baik,” celoteh Daeun lagi. “Aku memberontak dari perintah appa yang menyuruhku melanjutkan kuliah di sana. Aku lebih memilih kembali ke Seoul, kembali menempati apartemen lamaku, kembali melanjutkan kuliahku yang sempat terbengkalai di sini…”

Gadis itu terus mengoceh sendirian di sepanjang perjalanan mereka menyusuri Sungai Han sampai matahari benar-benar tenggelam.

“Dan aku menolak Eden. Aku tidak pernah merasa cocok dengannya, ia terlalu lembut untukku,” Daeun tersenyum tipis dan menyikut lengan Sehun pelan, “itulah alasan mengapa aku kembali ke Seoul. Karena aku lebih memilihmu daripada Eden.”

“Kupikir kau akan selamanya tinggal di sana,” respon Sehun tiba-tiba. Ia tak balas menatap Daeun, ia masih menatap lurus. Namun kata-kata itu sudah cukup menunjukkan kemajuan, setidaknya ia sudah mau merespon celotehan Daeun sedari tadi.

Appa menyuruhku tinggal di sana. Appa menyuruhku melanjutkan kuliah di sana. Appa menyuruhku bertunangan dengan Eden. Dan appa melarangku kembali ke Seoul. Ajaibnya, aku melanggar semua perintahnya.” Cibir Daeun.

“Aku sempat mengecek e-mail yang kau kirimkan saat kau mengambil foto bersama Eden di Disneyland,” sahut Sehun lagi. “Mengapa kalian berpisah? Kupikir kalian cocok.”

“Bukankah sudah kubilang, ia terlalu lembut untukku. Aku tidak menyukai itu,” rengut Daeun. “Memangnya bagaimana denganmu sendiri, Tuan Oh? Mengapa kau sibuk mengomentari hubunganku dengan Eden, disaat kau bahkan tidak jelas sudah memiliki pacar atau belum. Huh!”

Tepat saat itu juga, mereka melewati bangku taman yang tempo hari menjadi pilihan Sehun dan Minhee saat berkunjung ke Hangan Park. Langkah Sehun terhenti, dan itu otomatis membuat langkah Daeun juga terhenti. Gadis itu terdiam heran saat melihat Sehun memandangi bangku taman itu lama, namun ia juga bingung bagaimana cara ia bertanya alasannya.

“Aku lelah. Bisakah kita duduk sejenak di sini?” pinta Sehun.

“Oh, baiklah,” jawab Daeun yang masih sedikit bingung. “Tapi memangnya… Kenapa harus di sini?”

“Aku hanya suka tempat ini,” jawab Sehun ringan. “Mungkin karena… Uhm, akses pemandangan yang lebih bagus dari sini?”

Daeun mengerutkan keningnya. “Kupikir dimanapun kita duduk, pemandangannya akan sama saja,”

Sehun tidak mempedulikan sahutan sahabatnya lagi. Ia duduk begitu saja di bangku itu, dan ia duduk persis di posisinya saat ia bersama Minhee dulu. Sehun memandangi hamparan Sungai Han dengan aliran tenang yang ada di depan sana, sekaligus matahari yang tinggal tampak seperempatnya. Sehun tersenyum kecil, ia teringat Minhee.

 

“Hei, kau tersenyum sendirian?” tegur Daeun sambil mengernyit. “Kau aneh!”

“Memangnya tidak boleh?” protes Sehun.

“Aku hanya khawatir pada reputasiku sendiri,” celoteh Daeun. “Aku tidak mau orang-orang salah menilai reputasiku. Kau sedang tersenyum sendirian tanpa sebab, dan aku sendiri sedang berada di sebelahmu sekarang. Apakah orang-orang tidak akan salah menebak bahwa aku sedang duduk bersama orang depresi?”

“Kau yang lebih mengerti apakah aku sedang depresi atau tidak hari ini,” sahut Sehun.

Daeun mengerutkan keningnya. “Kau betul-betul sedang depresi, huh?”

Sehun hanya mengangkat bahunya, tak menjawab. Daeun mengerutkan keningnya lalu ikut menatap hamparan air Sungai Han yang mengalir tenang.

“Kau akan segera menjalani sidang kelulusan, bukan?” Tanya Daeun dengan tema yang berbeda tiba-tiba.

Sehun menolehkan kepalanya sebentar, lalu kembali menatap hamparan Sungai Han. “Ya.”

“Senangnya bisa lulus sebentar lagi,” sahut Daeun sambil tersenyum samar. “Aku harus mengulang semester, dan sepertinya aku harus lulus tahun depan. Kita tidak akan bisa lagi duduk bersebelahan saat upacara kelulusan, bukan begitu?”

“Itu resikomu karena terlalu lama mengambil cuti kuliah, lalu kau malah kabur ke Los Angeles.” Cibir Sehun sambil memutar matanya.

Appa mengancam akan memboikot semua akses hidupku di Seoul jika aku tak mau menuruti perintahnya untuk datang ke Los Angeles.” Ujar Daeun kecut. “Dan itulah yang membuatku terpaksa meninggalkan semua kehidupanku di Seoul. Hanya untuk menjalani kehidupan sesaatku yang konyol di LA.”

“Apa saja yang kau lakukan disana?” Tanya Sehun penasaran. Pasalnya Daeun sendiri menghabiskan waktu hidup berbulan-bulan di Los Angeles, sampai-sampai Sehun berpikir sahabatnya itu tak akan pernah kembali ke Seoul lagi.

“Aku menghadiri pernikahan appa disana,” jawab Daeun dengan nada rendah.

Sehun cepat-cepat menoleh dan menatap Daeun tak percaya. “Appa-mu menikah lagi?”

“Ya,” jawab Daeun sambil tersenyum getir. “Dan wanita itu juga seorang janda. Mantan suaminya pernah terlibat kasus kriminal di Korea Selatan.”

“Kukira appa-mu menikahi orang asing,” sahut Sehun. “Dia wanita berdarah Korea?”

Fully Korean,” jawab Daeun. “Mantan suaminya juga orang Korea asli, begitupun dengan anak semata wayang mereka.”

“Oh, jadi kau mempunyai saudara sekarang?” goda Sehun. “Berarti sekarang kau tak lagi menjadi anak tunggal yang disayang appa-mu.”

Appa tidak pernah sayang padaku,” cibir Daeun sinis. “Ia hanya berusaha memenuhi kewajibannya sebagai ayah, mencukupi semua kebutuhanku di Korea. Ia berada di Amerika, dan ia sebenarnya tak pernah peduli padaku. Makanya aku tak pernah tahu tentang rencana pernikahan appa. Kau tak pernah bisa membayangkan bagaimana shock-nya aku ketika ajudan appa memberitahuku tentang pernikahan appa saat di perjalanan dari bandara menuju rumah di LA.”

Sehun terdiam mendengarkan semua cerita Daeun soal ayahnya. Sebenarnya selama bertahun-tahun menjadi sahabat, Sehun tak pernah sekalipun bertemu dengan ayah Daeun. Daeun hanya tinggal di apartemen penthouse sendirian, ia gadis yang digelimangi kekayaan namun tak pernah mempunyai siapapun dalam keluarganya. Ayahnya sendiri tinggal di belahan benua yang berbeda, tak pernah mengunjungi Daeun secara langsung tetapi hanya sekedar menyapanya lewat kecanggihan teknologi.

“Kau beruntung memiliki keluarga yang utuh dan menyayangimu sepenuhnya,” sahut Daeun pelan lalu tersenyum kecil pada Sehun. “Kau punya orangtua yang menyayangimu, dan juga Luhan oppa yang melindungimu walau kadang suka jahil padamu. Kau beruntung memiliki segalanya. Kau pasti bahagia telah memiliki mereka.”

Sehun tersenyum kecil dengan tatapan yang menerawang. “Ya, dan aku juga sangat merindukan mereka.”

“Merindukan?” Tanya Daeun tiba-tiba. “Merindukan? Bukankah selama ini kau selalu tinggal bersama mereka?”

Sehun tertegun sendiri. Astaga, ia salah bicara! Bukankah selama ini Daeun hanya tahu jika Sehun selalu tinggal bersama keluarga Oh? Daeun bahkan sama sekali tak tahu ihwal pernikahan rahasia Sehun bersama Minhee.

Minhee? Oh, bagaimana kabar gadis itu sekarang?! Astaga, bukankah sekarang sudah gelap?!

 

“Oh, ternyata sudah malam,” sahut Sehun mengalihkan pembicaraan tiba-tiba. Ia menengadahkan kepalanya menatap langit yang sudah berubah warna menjadi kelam sekarang, membuat Daeun juga ikut menengadahkan kepalanya menatap langit.

“Aku nyaris lupa,” sahut Daeun kecil. “Baiklah, temani aku dulu membeli tteokboki, setelah itu kita pulang. Oh ya, aku akan mentraktirmu juga. Bagaimana? Kau mau, kan?”

Tteokboki?” ulang Sehun. Ia semakin teringat pada Minhee, begitu Daeun menyebutkan nama makanan kesukaan Minhee. Tteokboki, bukankah Minhee selalu memesan itu setiap mereka makan malam di restoran?

 

“Kau terlalu lama berpikir,” keluh Daeun tak sabar. Gadis itu tiba-tiba meraih tangan Sehun, lalu menariknya menuju deretan kedai makanan yang berjajar di sepanjang jalan begitu keluar dari kawasan Hangan Park.

“Aku sudah lama tidak tinggal di Seoul, jadi aku sedikit lupa kedai mana yang menjual tteokboki terenak di sekitar sini. Kau tahu, Sehun?” Tanya Daeun sambil tetap menarik tangan Sehun menerobos keramaian orang-orang.

“Oh, aku hanya tahu kedai minuman yang ada di sekitar sini,” jawab Sehun.

Daeun memutar matanya. “Bubble tea lagi?”

“Bukan, kedai kopi.”

“Oh, jadi sekarang kau mulai menyukai kopi? Bukankah dulu kau pernah bilang akan selamanya membenci minuman pahit?” celoteh Daeun.

“Aku memesan cokelat panas di sana,” jawab Sehun lagi.

“Jangan katakan jika kau ke kedai kopi sendirian,” sahut Daeun sambil terus melangkah. “Menyedihkan sekali.”

“Tidak. Aku ke sana bersama—“ Sehun memutus kalimatnya sejenak. Minhee. Apa ia harus menyebut nama Minhee di depan Daeun?

“—aku kesana bersama Luhan hyung. Ya, aku menemaninya. Kau tahu ‘kan, Luhan hyung sangat menyukai kopi.” Lanjut Sehun. Bohong. Sehun berbohong.

 

“Sepertinya ini kedai yang paling ramai,” sahut Daeun setelah menghentikan langkahnya di depan sebuah kedai dan melihat-lihat kedai itu sejenak. “Pengunjung ramai artinya makanannya enak, atau harganya murah. Bagaimana kalau kita makan malam di sini saja?”

 

Sehun tertegun mendengar kata makan malam. Makan malam. Bagaimana dengan Minhee sekarang? Apakah ia juga sudah makan malam?

 

 

Minhee melangkah pelan keluar dari balok elevator. Jika dilihat lebih dekat, cara berjalan gadis itu tak seperti biasanya. Ia berjalan dengan menyeret kakinya, membuat langkahnya terpincang-pincang. Gadis itu terus mengaduh sakit di setiap langkah yang dipijaknya.

 

Minhee terjatuh saat membersihkan ruangan latihan tadi sore. Ia baru saja selesai menyapu salah satu sisi, dan tidak tahu bahwa bagian lantai yang ada di belakangnya baru saja tersentuh kain pel Jungkook. Jungkook adalah anak lelaki, jadi ia tak terlalu ahli dalam pekerjaan rumah tangga. Kain pel yang digunakan Jungkook masih terlalu basah, menyebabkan lantai terlalu licin. Minhee terpeleset, dan ia jatuh terduduk di atas lantai vinyl dengan keras.

Minhee nyaris menangis saat itu, andai saja Jungkook tidak cepat membanting tongkat pelnya dan menghampiri Minhee dengan tergopoh-gopoh. Minhee menolak dengan keras saat Jungkook menawari akan menggendongnya sampai ke sofa yang ada di sudut sana. Akhirnya Jungkook menawari untuk memapah Minhee saja. Minhee menerima tawaran yang satu itu, dan pada awalnya Jungkook memulai pertolongannya dengan membantu Minhee bangkit.

Di luar dugaan, Minhee kembali terpeleset. Membuat ia tepat berada di depan Jungkook dengan begitu tipisnya jarak yang memisahkan keduanya. Jungkook dan Minhee sama-sama sempat terpaku selama beberapa belas detik, namun ketika sadar mereka langsung memisahkan diri masing-masing. Jungkook membantu Minhee sampai ke sofa, walau Minhee tahu bahwa perasaan Jungkook sudah tak menentu semenjak kejadian barusan. Minhee sendiri menolak perasaan aneh itu. Minhee tak mau hati lamanya memang lagi, Minhee tak akan membiarkan dirinya jatuh kembali pada sosok Jungkook.

Ia sudah memiliki Sehun, dan… Bukankah mereka berdua juga sudah bertekad akan saling menjaga perasaan masing-masing?

 

Minhee meraih kenop pintu apartemennya dan mencoba memutarnya. Macet. Atau lebih tepatnya belum terbuka?

Sehun belum pulang? Lagi?

 

Minhee mengeluh kecewa, lalu menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu. Minhee menekan rasa sakit yang berdenyut di pinggulnya, akibat benturan keras dengan lantai tadi. Apalagi lantai ruangan latihan mereka terbuat dari bahan vinyl yang keras. Bayangkan saja, terbanting di atas lantai vinyl? Oh, great!

Minhee membalikkan tubuhnya. Gadis itu pada akhirnya membuka pintu itu dengan kunci cadangan miliknya sendiri. Dan Minhee sungguh lega karena ia berhasil tiba di apartemennya dengan selamat, walau harus berjalan terpincang-pincang menahan sakit selama perjalanan tadi. Minhee menghirup udara dalam apartemennya yang sedikit pengap, efek dari tidak bertukarnya udara selama berjam-jam.

Ia meletakkan tasnya begitu saja di atas sofa ruang tamu, lalu bergegas menuju dapur untuk mengambil jus segar dari dalam kulkas. Saat melewati dapur, otomatis ia akan melewati kamar Sehun, dan tepat sekali saat itu pintu kamar Sehun terkuak cukup lebar. Minhee memundurkan langkahnya kembali ke depan pintu kamar Sehun, lalu memandangi sekilas keadaan kamar suaminya itu. Berantakan—ciri khas kamar lelaki. Minhee selalu melihat kamar dengan kondisi yang tak jauh berbeda dengan kamar itu, yakni kamar Minhyuk saat di rumah orangtua mereka dulu.

Minhee sedikit penasaran dan pada akhirnya tergelitik untuk meneliti kamar Sehun lebih jauh. Gadis itu mendekati pintu kamar Sehun, dan perlahan mulai menguak pintunya lebih lebar lagi. Ia memulai langkahnya memasuki ruangan itu, dan hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sebuah tempat penyemat foto yang ada di atas nakas Sehun. Tempat penyemat foto milik Sehun terlihat unik sekali, dengan batang-batang besi perak dan penyemat berbentuk hati yang ada di ujungnya. Terlihat ada tiga foto dan sebuah catatan yang tersemat di sana, memenuhi batang yang tersedia.

Foto pertama adalah foto Sehun bersama Luhan, foto kedua adalah foto Sehun bersama Kai, dan yang ketiga adalah foto Sehun bersama Minhee. Minhee sedikit takjub dengan foto terakhir. Minhee tak tahu kapan Sehun mencetak foto itu, namun ia masih jelas mengingat dimana foto itu diambil. Sehun dan Minhee sedang memakan sebuah cupcake cokelat di tepi Sungai Han dan mereka makan dari sisi yang berbeda. Wajah mereka begitu dekat, dan Minhee masih ingat betapa kesulitannya Sehun mengambil foto itu dengan tangannya sendiri. Beruntunglah foto itu bisa terambil dengan sempurna. Minhee tersenyum kecil, sepertinya suaminya itu memang cukup berbakat menjadi fotografer.

Foto Sehun saat bersama Luhan sepertinya diambil saat Sehun masih SMP. Ia masih tampak begitu polos, begitupun Luhan yang tampak terlalu imut saat mengenakan jersey Manchester United miliknya. Sedangkan Sehun nampaknya baru saja pulang sekolah saat foto itu diambil, sebab Sehun masih mengenakan seragam sekolahnya dengan ekspresi wajah yang kusut.

Foto Sehun bersama Kai sepertinya diambil di usia Sehun yang lebih dewasa. Mungkin saat mereka SMA. Minhee tak tahu acara apa yang sedang diikuti oleh Sehun dan Kai dalam foto itu, yang jelas mereka sama-sama mengenakan kostum berupa kaos hitam polos yang dibalut oleh kemeja putih yang tampak sempurna melekat di tubuh tegap mereka berdua. Mereka sama-sama mengenakan hat dengan warna hitam. Bedanya Kai tampak mengenakan hat itu dengan posisi yang benar, namun Sehun justru mengenakan hat itu dengan posisi yang sengaja dimiringkan. Minhee tersenyum kecil melihatnya.

 

Laki-laki dengan senyum lebar ini adalah Luhan hyung—kakakku. Kami bertemu saat aku terlahir ke dunia, dan kami melalui masa kecil bersama. Sedangkan laki-laki dengan seringai menyebalkan satunya adalah Kai—sahabatku. Kami bertemu di usia sekolah, dan ia masih sahabat terhebatku sampai dengan detik ini. Kami bertiga tumbuh dewasa bersama-sama. Dan, satu-satunya wanita dalam deretan foto ini adalah Minhee. Ia datang bahkan di saat aku belum sepenuhnya menjadi dewasa. Awalnya aku sama sekali tak kenal siapa dia. Dia tiba-tiba hadir dalam hidupku, namun waktu dengan liciknya berhasil membuatku jatuh cinta padanya. Mungkinkah ia yang akan menjadi cintaku sampai kami tua nanti?

Minhee-ya, kau yang paling aku cintai!

 

Minhee tak bisa menahan senyumnya saat membaca catatan kecil yang tersemat di salah satu penyemat berbentuk hati itu. Ia mengusap deretan kata itu.

“Semoga kau sungguh-sungguh, oppa…” Minhee berharap tulus.

 

Penjelajahan Minhee beralih menuju meja yang selama ini sepertinya digunakan Sehun untuk belajar. Di meja itu Minhee tak banyak menemukan barang-barang, karena sepertinya Sehun sengaja membiarkan meja itu kosong. Minhee hanya menemukan beberapa jilid diktat kuliah milik Sehun, kertas kalkir bergambar yang sedikit tak teratur dalam map, juga materi-materi yang dicatat Sehun dalam lembar-lembar kertas tulis. Sehun sepertinya tidak berbakat dalam menggambar biasa, sebab Minhee tidak menemukan coretan gambar Sehun selain gambar tugas kuliahnya. Mungkin saja tak ada yang percaya bahwa ia adalah seorang calon arsitek. Satu yang perlu diketahui adalah gambar arsitek sangat berbeda dengan gambar yang ada dalam bayangan orang awam. Saat melihat maket-maket hasil tugas Sehun, Minhee baru percaya bahwa Sehun adalah calon arsitek yang berbakat.

Minhee merapikan meja belajar Sehun, menyusun berbagai kertas yang ada di sana sampai terlihat rapi. Namun setelah selesai dengan semua itu, Minhee terpaku melihat salah satu benda yang sedikit luput dari perhatiannya karena pada awalnya tertutup buku-buku.

Sebuah snowglobe, dan Minhee sungguh terkejut saat menyadari itu adalah Winnie The Pooh’s limited edition snowglobe. Minhee bahkan melihat logo resmi Disney yang ada di bagian bawah snowglobe itu. Besar kemungkinan bahwa snowglobe itu seharusnya untuk Minhee, mengingat kemungkinan kecil benar-benar Sehun yang memilikinya. Memangnya sejak kapan lelaki itu menyukai tokoh kartun imut seperti Winnie The Pooh?

Namun… Siapa yang memberikan Minhee snowglobe itu? Pasti hanya orang-orang terdekatnya yang tahu bahwa ia menggilai kartun Winnie The Pooh.

Sedangkan bila benda itu memang pemberian Sehun untuknya… Siapa yang memberitahunya bahwa Minhee sangat menyukai Winnie The Pooh? Lalu, kapan pula Sehun membelinya? Jelas-jelas itu adalah official stuff yang hanya dijual di gerai resmi Disney. Baiklah, coret kemungkinan bahwa benda itu benar-benar pemberian Sehun.

 

Minhee menggenggam snowglobe itu dalam telapak tangan kanannya, lalu membawanya keluar kamar. Minhee mengurungkan niatnya mengambil jus, namun kini ia justru lebih tertarik memandangi snowglobe itu dari atas konter dapur. Ia tak bisa berhenti menebak siapa yang telah memberikannya barang itu, dan juga alasan aneh mengapa Sehun tidak menyampaikan hadiah itu padanya.

Minhee meletakkan kepalanya di atas meja makan, memandangi snowglobe yang kini terletak di depan wajahnya. Snowglobe itu adalah salah satu benda yang paling ia inginkan semenjak kecil dulu, namun sayang Disneyland terlalu jauh sehingga Minhee tidak bisa membeli koleksi itu di gerai resminya.

Tiba-tiba Minhee membelakan matanya. Kepala gadis itu langsung terangkat tegak ketika ia sadar akan sesuatu. Tangannya kembali menggenggam snowglobe itu erat saat suatu kilasan masa lalu kembali berkelebat dalam benaknya.

 

 

 

 

| T B C |

 

 

 

 

Halo semuanyaaaaaa ~~~~~

 

Sebagai cuap-cuap pertama, aku ingin sekalian menyampaikan kepada kalian di sini (dan juga buat yang kemarin sudah memberikan pemikiran soal rencana Secret Darling mau dibukukan), bahwa Secret Darling tidak jadi aku bukukan🙂

Kenapa?

Well, sebenernya dalam lubuk hatiku, aku juga kepengen punya satu karya yang berhasil dibukukan. Tapi, seperti yang sudah aku bilang di postingan tempo hari, pada hakikatnya fanfiksi itu ngga boleh dibukukan. Karena penggunaan nama si tokoh idola/foto si idola yang terpampang sebagai cover buku dalam fanfiksi bisa terbentur masalah royalti (secara hukum).

Jadi aku putuskan, yaudah deh gapapa aku teruskan mempublikasi cerita ini di blog. Mungkin belum saatnya aku bikin novel, mihihi. Aku percaya, kalian pun tahu mana karya yang ori dan mana karya yang plagiat🙂

 

Dan yaaaaa…. Ada yang menyadari satu fakta di atas? Hehe.

Buat episode kemaren, kan Sehun ngasih boneka Winnie The Pooh ya buat Minhee. Nah, jawaban kenapa bisa Sehun tahu Minhee suka Winnie The Pooh sebenernya ada di chapter ini. Jawaban tentang siapa orangnya, bakal terungkap di chapter depan. Jadi, orang yang ngasih snowglobe ke Minhee sekaligus orang yang ngasih tahu Sehun tentang tokoh kartun favorit Minhee itu orang yang sama😀

Siapa yang bisa menebak siapa dia, hm?😀

 

Oh ya, ada yang bisa membayangkan gimana kecenya Kai-Sehun pas di foto yang ditemuin Minhee? Bayangin kostum mereka yang ala-ala anak modern-dance gitu ya😀 Saran deh, bayangin kostum mereka pas jaman teaser perkenalan member EXO. Kayaknya teaser nomer 13 sama 14 deh😀

Ah, sumpah itu teaser yang paling bikin histeris >.< #fangirlingan

 

Oh iya, buat yang kemaren sudah mengunjungi blog pribadi aku tapi (sedikit) kecewa melihat postingan protek aku di sana…. (Well, postingan itu isinya curhatan pribadi aku, makanya aku protek😀 )

Sekarang aku ada cerita yang sudah kupublikasi di sana😀

Ceritanya AU Kai, ada yang berminat baca?

Visit here : The Story About Am🙂

 

Nah, sekian cuap-cuap aku kali ini ~

Pendapat kalian soal chapter ini aku tunggu selalu yaa ^^

Semoga kalian suka sama persembahan aku di chapter yang ini😀

 

Have some nice days, guys! 😉

 

[!] : Pengumuman buat semua pembaca Secret Darling, mulai chapter depan (chapter 17) Secret Darling tidak akan posting di wp ini lagi. Atas beberapa pertimbangan aku memutuskan buat meneruskan cerita ini di wp pribadi aku (visit here).

Alasan aku memindahkan lokasi posting?

Format komenan di wp ini sudah diubah, jadi aku ngga bisa scroll up-down buat liat komen-komen terawal. Aku sudah mencoba konsul ke admin, tapi sejauh ini aku belum diberi pemberitahuan lebih lanjut. Supaya memudahkan aku melihat komentar, membalas (jika aku sempat), dan memudahkan kalian juga buat berkomentar; maka silahkan kunjungi wp pribadiku untuk mengecek lebih jauh lagi.

Sekedar informasi, aku usahakan Secret Darling ngga akan berhenti di tengah jalan.

Jadi dimohon dukungannya ya, semua🙂

Maaf jika selama ini aku selalu menghilang selesai posting dan belum bisa membalas satu-persatu dari komentar kalian. Tapi terimakasih yang banyak selalu aku haturkan untuk kalian semua, pembaca kesayangan aku🙂

Jika ada pertanyaan, boleh tanya ke akun sosmed aku @shineshen97.

 

 

shineshen

.

.

Oh, I almost forget😀

I want to introduce a new cast, hehe..

Let’s say hi to another 19 y.o boy, Park Woobin! ^^

Woo Bin

372 thoughts on “Secret Darling | 16th Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s