[Minri’s Diary – 10] Prom Night

propm.jpg large

[Minri’s Diary – 10] Prom Night

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Support cast : find them!

Genre : Romance, school life, friendship.

Length : Vignette, series.

Rating : PG-13

Note : Do not copycat without my permission. Hello readers!! Long time no see T^T … I MISS YOU ALL! Enjoy my fict~

You always be my King, Baek…

Menunggu itu memang hal yang paling menyebalkan. Apalagi kalau yang ditunggu sudah berjanji akan datang tepat waktu. Seperti halnya aku yang sedang menunggu Baekhyun di ruang tengah rumah dengan gaun merah muda lembut, panjang selutut dan penuh renda aku tidak bisa duduk sembarangan. Rambutku yang ikal aku biarkan tergerai menutup bahu. Aku membubuhkan jepit rambut mahkota kecil di atas kepalaku.

Bukan tanpa tujuan aku berpakaian seperti itu. Hari ini, tepatnya malam ini, adalah hari Prom di sekolah kami. Persiapan yang cukup matang membuatku yakin bahwa aku tidak perlu gugup menghadapi hari ini. Tapi nyatanya tetap saja jantungku tidak bisa diajak kompromi. Kegugupanku sama sekali tidak bermutu, aku hanya tidak yakin apakah penampilanku cukup serasi jika aku bersanding (oke, mungkin kami hanya bergandengan tangan) dengan Baekhyun karena aku sudah membayangkan anak itu begitu tampan jika mengenakan tuxedo.

“Belum berangkat juga, Honey?”

Aku menoleh pada ibuku yang sedang menuruni anak tangga.

“Baekhyun masih belum datang, Mom.”

“Coba hubungi dia, barangkali dia lupa. Atau kau bisa menjemputnya lebih dulu.” Ibu terus berjalan menghampiriku. Sampai berdiri di depanku, dia membenarkan rambutku yang mungkin sudah tidak begitu rapi seperti pada awalnya. Ibuku cukup membantu dalam hal mendandaniku.

“Tega sekali kalau dia melupakanku. Aku tidak akan memaafkannya. Dan… mana mungkin perempuan menjemput lelakinya lebih dulu, Mom. Itu tidak pernah terjadi.”

Ibuku tertawa ringan, lalu menepuk pelan bahuku.

“Kaubilang Baekhyun itu berbeda dari lelaki manapun ‘kan?”

“Dia memang agak kekanakan. Tapi tetap saja! Ish.” Aku mengerucutkan bibirku, ibuku malah menarik pelan pipiku.

“Tetap tersenyum, Honey. Tunggu saja, mungkin Baekhyun sedang bersiap agar dia tampak begitu tampan di depanmu.”

Mom….” sanggahku, dengan wajah malu-malu.

“Baiklah, Mom ke dapur dulu, kalau kau perlu sesuatu kau bisa panggil Mom.

Thanks, Mom.” Aku memberi pelukan singkat pada ibuku. Setelah itu ibuku pergi ke dapur, meninggalkanku sendiri lagi di ruang tengah.

Aku kembali melirik jam dinding. Sudah lebih dari sepuluh menit dari perjanjian, Baekhyun belum juga tampak. Dia bahkan tidak menghubungiku. Keadaan seperti ini kekesalanku bisa berubah jadi kekhawatiran karena anak itu memang terkadang ceroboh hingga terjadi sesuatu yang buruk—aku harap tidak terjadi apapun padanya.

Sejak tadi, Sungyoung mengirim pesan singkat padaku. Dia menanyakan keberadaanku. Gadis itu cukup terkejut saat aku katakan bahwa aku masih berada di rumah padahal acara berlangsung sepuluh menit lagi. Ugh, sepertinya aku memang akan melewatkan hari ini. Kurasa aku tidak akan pernah ikut Prom sekolah dalam catatan hidupku.

Aku baru akan kembali ke kamar saat bel rumahku berbunyi.

Ting tong!

Bunyi bel rumahku beberapa kali dan terdengar tidak sabaran. Dengan langkah hati-hati (aku sedang memakai heels) aku berjalan menuju pintu. Sampai ketika aku membuka pintu itu lalu aku membeku sesaat.

Dia… Baekhyun, bukan?

Lelaki bertuxedo hitam berdiri di depan rumahku dengan sisiran rambut rapi dan senyum kotaknya yang khas. Samar-samar kulihat titik keringat di dahinya. Dia menarik tanganku membuatku tersadar dan mengerjapkan mata.

“Ayo berangkat!”

“Moooom! Aku pergi dulu!” Tidak tahu lagi kalau berteriak seperti itu sopan atau tidak. Aku tidak punya waktu untuk kembali ke dalam dan berpamitan. Baekhyun menuntun tanganku menuju mobil putih di depan rumah.

Sebentar, sejak kapan Baekhyun bisa menyetir?!

***

“Maafkan aku sudah terlambat menjemput Minri,” ucap Baekhyun saat kami berdua berada di dalam mobil. Ternyata Baekhyun tidak menyetir, tapi dia meminta Hyung-nya untuk mengantarkan kami berdua. Aku merasa sedikit tidak enak.

“Tidak apa-apa, kurasa kita masih sempat untuk mengikuti semua list di daftar acara.” Aku tersenyum menenangkan, kuharap dia segera menghapus wajah khawatirnya itu. Karena tidak ada yang boleh mengganggu ketampanannya malam ini.

Apa aku baru saja mengatakan bahwa Baekhyun itu tampan? Oh, tenang saja, aku tidak sedang salah bicara. Baekhyun memang tampan. Bukan berarti sebelumnya aku tidak mengakui kalau dia tampan. Hanya saja, seringkali aku melihat wajahnya yang kekanakan, lucu dan menggemaskan—juga manis. Sekarang, dia tampak begitu berbeda. Aku takut tidak bisa mengalihkan pandangan sedikitpun. Aku malu kalau ketahuan.

Baekhyun terus-terusan menggenggam tanganku, membuat wajahku kian menghangat. Dia memandang ke luar jendela membuatku hanya bisa memandangi wajahnya dari samping. Tapi tak apa, lebih baik begini, daripada dia menatapku. Jantungku bisa melompat keluar nanti.

“Minri sangat cantik hari ini.”

“Huh?” aku sedikit terkesiap mendengar Baekhyun bicara tidak begitu nyaring, namun masih bisa tertangkap di pendengaranku.

“Aku bilang Minri sangat cantik. Seperti peri.” Dia menoleh padaku, membuat jarak wajah kami begitu dekat. Dia tersenyum. Tolong aku.

“K-kau juga, tampan.” Baekhyun tersenyum semakin lebar.

Cup!

Dia-mencium-pipiku.

Tepat setelah itu mobil berhenti. Kami telah tiba di tempat tujuan. Ada cukup banyak lampu berwarna-warni di taman depan sekolah, membuatku tidak mengenali bahwa tempat ini adalah sekolah. Mungkin karena langit malam juga membuat semuanya terasa berbeda.

Hyung, trims.” Baekhyun menepuk pelan bahu kakaknya, lalu lelaki itu berbalik dan tersenyum. Wajah lelaki itu dan Baekhyun sedikit mirip.

“Tak apa. Lain kali akan kuajari kau menyetir. Kau kan sudah punya kekasih. Tidak enak terus di antar seperti ini.”

Aku merasa sedikit merepotkan, jadi aku menurunkan pandanganku. Namun kurasa lelaki itu menyadarinya hingga kudengar dia berkata. “Bukan salahmu Nona cantik. Jangan pikir kalau kau merasa merepotkanku. Bagaimanapun aku sayang adikku yang tengil ini.” Lelaki itu baru akan mengusak kepala Baekhyun, namun Baekhyun menahannya. Apa dia takut tatanan rambutnya akan rusak?

Hyung.” Baekhyun memberengutkan wajahnya. Kurasa Baekhyun kesal disebut tengil oleh kakaknya sendiri.

“Sudah sana atau kalian akan terlambat.”

“Ah, iya. Kami pergi dulu.” Baekhyun membuka pintu mobil, lantas bergegas membukakan pintu mobil untukku. Aku menahan senyum. Ck, anak ini, membuatku merasa begitu tersanjung.

Aku melihat ke sekitarku, sudah tampak sepi. Sepertinya semua orang sudah berada di aula. Aku dan Baekhyun berjalan beriringan. Ketika kami tiba di depan pintu, kakiku rasanya melemas. Ada banyak sekali orang. Sebenarnya bukan orang asing. Tapi aku tetap merasa kurang percaya diri.

Baekhyun mengeratkan gandengan lengan kami, lalu berjalan masuk ke aula yang cukup besar itu. Tempat itu sudah di desain sedemikian rupa hingga menjadi tempat yang indah, dengan lampu dan hiasan dinding yang bagus.

Beberapa orang memandangi kami. Mungkin karena kami datang terlambat. Aku merasa tidak enak menjadi perhatian seperti ini.

“Minri, Baekhyun, disebelah sini.”

Syukurlah, setidaknya suara itu menyelamatkanku untuk segera menepi. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Sungyoung bersama dengan pangeran jangkungnya yang tersenyum lebar. Kami menghampiri pasangan itu.

“Untunglah kalian tidak terlambat,” ucap Sungyoung.

“Karena mahkota King and Queen—“

“Stt!” Sungyoung menyenggol lengan Chanyeol, mereka tampak sedang memberi kode satu sama lain. Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan hanya bisa terdiam.

“Kalian sudah mengambil minum? Sirup stroberi di sebelah sana enak sekali.” Sungyoung menarik lenganku membuat tautan tanganku dan Baekhyun terlepas. Aku menoleh pada lelaki itu, dan dia mengangguk, mengizinkanku untuk pergi sebentar mengambil minum.

“Kudengar kau akan menampilkan permainan biola-mu, malam ini.” Ucapku setelah aku menyambut segelas sirup stroberi yang merah menyala dalam gelas kaca. Stroberi mengingatkanku pada Baekhyun.

“Ya, hanya penampilan singkat. Aku sedikit gugup.” Sungyoung meneguk minumannya. Lalu menghela nafas. Aku menepuk bahunya pelan.

“Kau pasti bisa. Anggap saja hanya ada Chanyeol yang meliatmu bermain.”

“Membayangkan hal itu, aku pasti mengacaukan permainanku, Minri-ya.”

Aku tertawa mendengar ucapan Sungyoung. Tak lama setelah itu, mikrofon berdenging pelan. Kemudian disusul pembawa acara yang menyapa kami semua. Seorang lelaki berperawakan pendek dan bermata bulat bersama dengan kekasihnya yang manis, Kyungsoo dan Jinhee, mereka teman kami juga. Agak sedikit aneh melihat Kyungsoo berdiri disana sebagai pembawa acara, karena biasanya Kyungsoo tidak banyak bicara. Dia seperti alien. Ups. Tapi bersama gadis yang banyak bicara itu, Kyungsoo tampak lebih hidup.

Hai semuanya!! Bagaimana pestanya? Keren tidak?

YAAA!!” semua orang memusatkan perhatian ke panggung kecil dimana ada Kyungsoo dan Jinhee berdiri disana.

Sekarang saatnya. Acara yang paling kita tunggu! Pemilihan King and Queen!!

Semua orang bersorak, membuat suasana menjadi ramai. Kulihat Jongin membawa sebuah kotak cukup besar ke atas panggung. Jinhee dan Kyungsoo sedang mengacak-acak isinya—yang merupakan kumpulan nama pasangan yang resmi maupun tidak, ditulis oleh siapapun yang menginginkan namanya atau temannya berada disana. Sayang sekali aku tidak menuliskan namaku dan Baekhyun—eh, memangnya apa yang aku harapkan…

“Minri-ya, menurutmu siapa yang akan menjadi King and Queen malam ini?” Sungyoung menyenggol lenganku tepat saat aku menatap ke arah Baekhyun. Di belakang Baekhyun ada pasangan Sehun dan Hana. Mereka tampak berkilauan di bawah sinaran lampu.

“Kurasa Sehun dan Hana pantas menerimanya, dan teman-teman pasti banyak memberi suara atas pasangan itu.”

“Kau berpikiran bahwa aku dan Chanyeol tidak pantas?”

“Astaga! Oh, maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, maksudku—“

Sungyoung tertawa, membuatku ingin merosot saat itu juga. Aku pikir dia akan marah padaku atau mungkin saja aku salah bicara padanya.

“Aku bercanda, tahu. Aku tidak mengharapkan hal-hal semacam itu. Kau tahu kan aku malas menjadi pusat perhatian.”

“Aku pun begitu…”

Jinhee mengangkat satu kertas yang baru saja di ambilnya. Tiba-tiba aku merasa gugup. Musik latar suara detak jantung memperparah keadaan.

“… adalah 6 dan 9!!—hah? Apa-apaan ini?” Jinhee tampak bingung. Dia membolak balikan kertas putih itu, tidak menemukan apapun selain angka 6 dan 9.

“Enam sembilan itu…” aku menoleh pada Jongin, lelaki tan itu tampak berpikir. Kemudian Sehun memukul pelan belakang kepala Jongin.

“Kau pasti berpikiran mesum.”

“Kau menuduhku lebih dulu, berarti kau yang telah berpikiran seperti itu, cadel.” Jongin memasang tampang datar, lalu berniat membalas pukul kepala Sehun. Namun dia mengurungkan niat karena perhatiannya lebih pada pembawa acara—Jinhee yang baru saja mengambil kertas kedua, karena yang pertama dianggap sebagai kesalahan.

Baekhyun dan Minra!!

Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak. Sementara aku masih tidak bisa percaya nama Baekhyun disebut, tapi bukan bersamaku. Minra, gadis cantik kelas bahasa. Aku mencari sosok Baekhyun, namun dia tidak berada di tempatnya lagi.

Sebentar, aku rasa ada sedikit kesalahan. Tulisan garis pendek ini hanya coretan ketidaksengajaan. Jadi biar kuulang. Yang menjadi King and Queen tahun ini adalah Baekhyun dan Minri!!

Tiba-tiba aku merasa ada yang menarik tanganku. Lalu di detik berikutnya, orang itu mencium bibirku. Aku membeku dengan mata mengerjap lambat. Otakku mendadak mengalami disfungsi. Ketika orang itu menjauhkan wajahnya, aku sadar bahwa dia adalah Baekhyun.

Hik. Aku cegukan. Entah apa sebabnya.

Dan tepat setelah itu, kami menjadi pusat perhatian. Sorakan dari teman-teman untuk meminta kami naik ke panggung terdengar begitu bersemangat.

Baekhyun-ssi, Minri-ssi, dipersilakan naik ke panggung.”

Baekhyun memamerkan senyuman manisnya sembari menggenggam tanganku, lalu membawa langkah kami ke depan. Ini memang sedikit konyol. Tapi entah mengapa aku merasa begitu senang. Seolah-olah seluruh dunia tahu bahwa kami adalah pasangan kekasih.

Waaah cantik dan tampan ya, Kyung?

Yap!

Jinhee dan Kyungsoo membantu memakaikan mahkota di kepala kami. Lalu mereka memberiku sebucket bunga mawar merah.

Cium! Cium!” kurasa ada provokator yang mengucapkan kata itu hingga teman-teman yang lain juga ikut menyorakkannya. Oh tidak, aku malu sekali.

“Baek, kita tidak akan melakukan—hik—seperti apa yang mereka minta ‘kan?” cegukanku masih belum hilang. Dan ini menyebalkan.

“Eum….” Baekhyun hanya memajukan langkahnya, semakin dekat, sorakan teman-temanpun semakin keras. Aku menjauhkan wajahku. Baekhyun menahan kepalaku dengan satu tangannya lalu… dia mencium keningku. Riuh tepuk tangan terdengar, kemudian Baekhyun mundur selangkah. Lalu membawaku turun dari panggung.

Baiklah, kita lanjutkan acara kita. Selanjutnya ada penampilan dari penyanyi bersuara emas, Kim Jongdae!!

Setelah kami turun dari panggung, beberapa teman-teman memberikan selamat. Baekhyun mengambil alih bunga di tanganku lalu meletakkannya ke atas meja kosong yang ada di pojok ruangan itu. Beberapa pasangan tampak berdansa. Baekhyun berdiri di hadapanku. Lalu dia menyelipkan kedua tangannya ke pinggangku, membuatku sedikit terkesiap.

“Hari ini—hik—terasa aneh. Kau dan aku terpilih menjadi—hik—King and Queen. Padahal—hik—aku sama sekali tidak mengajukan nama.”

Kami melangkah pelan mengikuti alunan musik. Aku mulai mengangkat kedua tanganku, lalu melingkarkannya ke leher Baekhyun. Degupan jantungku terasa begitu cepat. Padahal ini bukan pertama kalinya aku berada dalam jarak begitu dekat dengannya. Cegukanku yang masih belum reda, membuat dadaku sedikit sakit.

Musik berganti menjadi melodi gesekan biola yang lembut. Aku menurunkan tanganku dari leher Baekhyun lantas fokus melihat ke depan. Sungyoung sedang bermain biola. Kemampuannya memang tidak main-main. Aku merasa familiar dengan lagu yang dimainkannya. Lagu kesukaanku. Wow. Aku dan Sungyoung sempat melakukan kontak mata, gadis itu tersenyum sesaat sebelum memejamkan mata menikmati permainannya.

Kulihat di barisan paling depan, Chanyeol menatap gadisnya tanpa kedip. Lelaki jangkung itu tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada gadisnya itu.

Permainan berakhir, Sungyoung menyelesaikan dengan begitu indahnya.

“Minri, ayo kita ke taman.”

“Memangnya ada apa?”

***

“Apa kau—hik—tidak merasakan keanehan yang sama, Baek?” tanyaku saat kami berdua sedang mengitari taman sekolah.

“Keanehan?” Baekhyun bertanya balik padaku, lalu dengan gerakan –entah secepat apa—Baekhyun menyandarkan tubuhku ke pohon. Aku terkesiap dan menahan napas.

“Ada apa—hik—Baek?” Baekhyun menatap wajahku lamat-lamat. Satu keanehan lagi yang aku temukan, Baekhyun tampak lebih dewasa.

Baekhyun mendekatkan wajahnya perlahan, lantas menempelkan bibirnya cukup lama. Aku terdiam sebelum akhirnya kami sama-sama menggerakkan bibir, cukup menikmati kehangatan yang kami bagi. Ugh, ingatkan aku bahwa kami sedang berada di sekolah.

Baekhyun melepaskan tautan bibir kami. Baekhyun lagi-lagi tersenyum.

Sebentar, cegukanku sudah hilang. Wah!

“Apa Minri tahu ini hari apa?”

“Ada yang istimewa?”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya, kemudian berjalan meninggalkanku. Aku mengekor di belakangnya sampai kami menemukan sebuah bangku panjang dan kami duduk disana.

“Baek…” aku menggoyang lengannya. Karena takut dia tidak kunjung mengajakku bicara.

”Jangan bicara padaku sebelum Minri ingat apa yang istimewa hari ini.” Setelah itu Baekhyun benar-benar diam. Rasanya aku ingin membongkar isi kepalaku dan memilah satu per satu kejadian hingga aku mengingat tentang hari ini.

“Permainan biolamu sungguh mengagumkan!” Kudengar suara Chanyeol cukup menggema di taman yang sepi ini.

“Jangan mengacak-acak rambutku. Dasar idiot.” Ups, kejam sekali Ahn Sungyoung. “Tapi terimakasih selalu menemaniku saat latihan.”

Setelah itu ada jeda sekitar tiga menit. Aku tidak bisa menebak apa yang mereka lakukan. Aku hanya mendengar suara mereka, namun tidak melihat sosok mereka mungkin terhalang pepohonan.

“Kupikir kau sungguh menulis nama Minra.” Aku menajamkan pendengaranku. Mungkin kebingunganku akan segera terjawab setelah mendengar obrolan Chanyeol dan Sungyoug.

“Mana mungkin. Minra itu gadis genit.” Chanyeol berucap dengan lantang. “Rencana kita berhasil kan?” tanya Chanyeol, sedikit memelankan bicaranya.

Rencana?

“Ya, dan sekarang kedua anak itu menghilang dari pesta.”

“Sebenarnya untuk apa kita melakukan hal ini, Sungyoung-ah?”

“Baekhyun pernah bicara soal hari jadi mereka yang bersamaan dengan hari Prom. Aku hanya iseng memberi kejutan pada mereka.”

“Kau memang Sungyoung-ku yang baik!” Ada jeda beberapa saat.

“K-kau… menciumku lagi.”

Aku menoleh pada Baekhyun yang tampak memandangi rerumputan dan menendang pelan kerikil. Aku memegang satu tangannya.

“Baek, kurasa aku ingat hari apa ini. Hari ini—“

“Kau baru saja mendengarnya dari Sungyoung,” sahut Baekhyun bahkan ketika aku belum menyelesaikan kalimatku.

“Maafkan aku….” Aku menunduk. Baekhyun seperti marah sungguhan.

“Tidak apa-apa. Dengan begitu aku punya alasan untuk menghukum Minri.”

Baekhyun menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Memandangiku dengan sengit, sebelum dia tersenyum lalu mendekatkan wajahnya.

Aku menahan bibirnya dengan telapak tanganku, membuat keningnya berkerut.

“Bi-biar aku saja.” Aku langsung menempelkan bibir kami. Aku melingkarkan kedua tangan di lehernya. Kurasakan bibirnya tersenyum di tengah ciuman kami yang hangat ini. Beberapa menit kemudian aku melepaskan tautan bibir kami, lantas menunduk dengan wajah memerah. Ugh, aku malu.

“Aku memaafkan Minri,” bisik Baekhyun.

“Ternyata kalian disini!”

Aku segera menjauh dari Baekhyun saat suara Sungyoung terdengar dekat. Kuharap dia tidak melihat apa yang baru saja terjadi.

“H-hai,” sapaku.

Sungyoung dan Chanyeol berjalan menghampiri kami. lalu aku berdiri. Kemudian disusul Baekhyun.

“Gomawo Sungyoung-ah.” Aku maju selangkah lalu memeluknya singkat. Gadis itu tampak mengerutkan kening, namun tetap membalas pelukanku.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Aku melepaskan mahkotaku lalu meletakkannya di kepala Sungyoung. “Mahkota ini lebih cocok untukmu.”

“Hah? Kau kenapa sih?”

“YAK tiang! Turunkan badanmu!” Baekhyun menarik-narik tuxedo Chanyeol. Namun lelaki jangkung itu masih enggan menurunkan badannya. “Sial! Kenapa kau tinggi sekali.” Baekhyun naik ke atas bangku taman, lalu meletakkan mahkota yang tadi miliknya, di kepala Chanyeol. Rasanya aku ingin tertawa.

“Kami pergi dulu ya,” ucapku, lalu menggandeng tangan Baekhyun. Aku berniat mengajak Baekhyun masuk ke dalam aula lagi, tapi Baekhyun menghentikan langkahnya.

“Aku ingin di luar saja, bersama Minri.”

“Baiklah.”

“Ayo berdansa lagi.”

Sebelum Baekhyun meletakkan tangannya di pinggangku, aku lebih dulu memeluknya. Merasakan kehangatan tubuh Baekhyun. Aku tahu saat-saat seperti ini akan berlalu. Kami akan melanjutkan ke perguruan tinggi dan aku yakin hari-hari kami akan sibuk sekali. “Aku sayang padamu, Byun.”

“Aku juga, Minri-ya, semoga kita terus bersama-sama.”

Aku mengangguk dalam pelukan Baekhyun. Dan mengucapkan keinginan yang sama, dalam hati.

***END***

baek tux

minri dress

Halooo~ aku kembali. Lama tak jumpa ya. Hiks. Sibuk terus. Tanya aja ASY /ga. Dan sepertinya aku belum bisa bikin chapter yang baru.

SORRY FOR TYPO.

Ohiya, aku blm balesin komentar di wvfil, plan sama minri’s diary 09 ya. Komentar kalian ga bisa aku reply di EFW, susah banget ga ada pilihan reply-nya jadi aku ngetik sendiri. Ini balesan utk wvfil dulu. Mungkin belum semua terbalas (aku slesein nanti) cek disini deh > comments <

THANKS FOR READ!!

SEE YOU :**

©Charismagirl, 2014.

65 thoughts on “[Minri’s Diary – 10] Prom Night

  1. Ping-balik: [Side Story of Minri’s Diary] Prom | EXO Fanfiction World

  2. tumben disini adegan kisseu nya banyak,,,hahaha..
    bikin qt yang baca ikut tersipu malu…hehehe…
    selalu suka sama pasangan ini,,,
    dan entah kenapa disini adegan romance dan yang lain nya lebih dapet lagi🙂
    gomawoyo chingu🙂

  3. Andai kebayang Baekhyun nya ganteng banget T.T iri banget sama Minri wkwk=)) aku ngakak beneran pas banyak kata ‘Hik’ nya. Ditunggu lagi ff nya. Cast nya tetep BaekMinri aja yah. Udah cocok banget sama tuh couple. Suka suka~ next yaaaahhh, hwaiting^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s