Another Love Story [END] : 10 – ‘New Chapter’

 

ALS

Another Love Story : 10 – ‘New Chapter’

Fanfic presented By Apreelkwon

For BaekHyun and IU Lovers… This is it…

Cast : BaekHyun and IU
Genre : Romance , School Life
Type : Chaptered

.

sebelumnya : 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 . 8 . 9

.

How your love story?

This is just a common love story But…..

Lets Start.

[EVENT] Another Love Story : Love Letter

.

.

New Chapter

Dia berdiri tepat didepan rumah, terdiam untuk beberapa saat kemudian bermain dengan anak anjingnya. Jieun melihat itu, Baekhyun didepan rumahnya. Apa yang akan dia lakukan?. Kalau diingat – ingat seharian ini mereka tidak ada interaksi sedikitpun. Jieun kira setelah kejadian tempo hari, hari ini disekolah BaekHyun akan melakukan sesuatu, tapi ternyata tidak. Dikelas, jam istirahat, pulang sekolah Jieun sama sekali tidak menyadari dimana sosok Byun BaekHyun.

Dan sekarang dia ada didepan rumahnya. “Apa yang dia lakukan?” bisik Jieun sambil mengintip dari balik tirai ruang tamu rumahnya.

“Siapa?”

Jieun terperanjat, ketika Jinki entah sejak kapan sudah berada tepat disampingnya. “BaekHyun?” sambungnya kemudian. “Ajak dia masuk, kenapa dibiarkan diluar,”

“Eung?”

“Tidak mungkin, kalian sedang bertengkar?” tanya Jinki dengan ekspresi apa yang BaekHyun lakukan padamu.

Jieun segera menggelengkan kepalanya pelan untuk menyanggah prasangka buruk kakaknya. Dia hanya tidak ingin Jinki salah paham dengan semua ini. “eiy, bukan. Ini aku baru akan mengajaknya masuk, hanya sedikit kaget dia datang kesini tanpa memberitahu,”

Jinki mengangguk. “Ya sudah sana,” kemudian meninggalkan Jieun melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Jieun yang masih menimbang apa yang harus dia lakukan, menghampiri BaekHyun atau biarkan saja.

“Mari lihat apa yang akan dia lakukan,” ucap Jieun kemudian sambil membuang nafas berat. Memberanikan diri, Jieun membuka knop pintu rumahnya kemudian melangkah mendekati Baekhyun yang masih asik dengan dua anak anjingya. Sampai akhirnya dia menyadari kehadiran Jieun dan…

Ini baru satu hari dia tidak berinteraksi dengan BaekHyun, tapi entah kenapa saat melihat BaekHyun menatapnya seperti itu Jieun merasakan kerinduan yang amat dalam. Jieun merindukan tatapan berbinar itu. Milik BaekHyun.

“Hai..” ucap BaekHyun, kikuk.

Jieun mengenggam tangannya kuat. Suara itu, Jieun bahkan sudah sangat rindu dengan suara itu. Rindu bagaimana suara itu selalu menemani harinya dengan gurauan garing ataupun lelucon hambar. Terakhir yang Jieun dengar adalah suara dingin BaekHyun saat membentak KyungSoo. Suara yang tidak ingin Jieun dengar lagi.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jieun setelah berhasil membangun kesadarannya. Perlahan Jieun mengambil satu anak anjingya, untuk menutupi tingkah canggungnya.

BaekHyun terdiam, mata bulatnya menatap lurus tepat pada mata Jieun seakan BaekHyun tengah menjawab pertanyaannya melalui kontak mata. Tidak bisa, Jieun tidak bisa bertahan dalam kondisi ini terlalu lama. Bisa jadi saat ini juga Jieun menghambur kedalam pelukan BaekHyun dan menggagalkan semua scenarionya bersama KyungSoo. Tidak boleh, itu tidak boleh terjadi.

“Jieun, aku…”

BaekHyun melanjutkan kalimatnya, namun terlihat masih bingung dengan apa yang akan dia ucapkan. Tergambar jelas dari air muka BaekHyun.

Apa Baekhyun akan jujur dengan perasaannya? Fikir Jieun yang sontak membuatnya semakin tegang.

“Maaf untuk kejadian tempo hari, aku fikir-”

“Maaf juga BaekHyun, orang tuaku baru saja tiba dirumah, ini moment jarang terjadi. Bisa kita lanjutkan disekolah besok pembicaraan ini?”

Dengan cepat Jieun memotong kalimat BaekHyun dengan rentetan alasan palsu. Entahlah, Jieun merasa belum siap seandainya saat itu juga BaekHyun akan mengungkapkan semuanya. Tidak, bukan saat ini. BaekHyun terlihat mengerjap beberapa kali sebelum dia mengangguk, kemudian tersenyum.

Jangan, jangan lakukan itu Byun BaekHyun, erang Jieun dalam hati.

“Baiklah, aku katakan besok saja. Salam untuk orang tuamu,”

“ehm..” jawab Jieun sambil mengangguk kemudian dengan cepat melangkah masuk kedalam rumahnya lengkap dengan dua anak anjing dalam dekapan. Melangkah menuju rumah, tanpa sekalipun berbalik lagi kearah BaekHyun, tidak, Jieun ingin segera masuk kedalam rumah dan meredam hatinya.

Tidak berbalik untuk melihat BaekHyun. Tapi, tepat saat pintu tertutup dengan segera Jieun kembali melihat BaekHyun dari balik tirai. Dia masih disana, sampai beberapa menit kemudian dia pergi.

“Bodoh,” ucap Jieun sambil menjatuhkan dirinya diatas sofa. Jieun tidak bisa memendam semua ini seorang diri, satu nama langsung terbayang dalam ingatan Jieun. KyungSoo. Meraih handphone dari sakunya, Jieun segera mencari nama KyungSoo di list kontaknya. Menemukannya kemudian dengan segera membuat satu panggilan.

“KyungSoo, BaekHyun datang kesini sepertinya dia akan mengatakan sesuatu tapi aku tidak menanggapinya,” ucap Jieun segera setelah orang disebrang sana mengatakan Halo.

.

.

BaekHyun sedang mengendurkan urat syarafnya dengan menonton drama picisan bersama Luhan diruang tengah. Menonton drama dan melihat bagaimana interaksi antar pemeran utama memulai kisah cinta mereka, membuat BaekHyun bertanya ‘haruskah dia melakukan itu pada Jieun?’. Memberinya kejutan dengan setangkai mawar merah dimejanya, memberinya kecupan secara tiba – tiba, membawanya ketempat romantis atau sekedar mendengarkan lagu bersama, yang akan berujung kalian saling mencintai selamanya.

tsh~ apa dengan setangkai bunga akan membuat mereka hidup bersama,” ucap Baekhyun saat menyasikan adegan si Pria yang setiap pagi selalu menaruh bunga di loker siperempuan.

“Bisa saja,” jawab Luhan.

“Kalau aku lakukan itu pada Jieun?”

“Tergantung, apa Jieun tipikal perempuan seperti itu? untuk bertarung kau harus tahu arena tempurmu seperti apa,”

BaekHyun mengangguk kecil sambil matanya terus berfokus pada laya televisi. “Yang pasti Jieun tidak akan suka jika aku melakukan hal seperti itu, hehehe” sambung BaekHyun di adegan si pria tengah memojokan si perempuan kemudian menciumnya. Tapi imaginasi BaekHyun secara liar menggambar dalam otaknya, apa yang akan terjadi bila dia melakukan hal itu pada Jieun?. Pemikiran konyol yang sontak membuat BaekHyun tertawa.

“Jangan bilang kau membayangkannya?” tanya Luhan saat melihat BaekHyun yang tiba – tiba tertawa.

Baru saja BaekHyun akan menjawab pertanyaan Luhan, Ibu BaekHyun berteriak dari arah pintu masuk memberi tahu bahwa ada teman BaekHyun yang berkunjung. Luhan segera menatap BaekHyun, mereka mencoba menebak – nebak. Tapi tidak mungkin Jieun kan bertamu di malam hari seperti ini?.

“Laki – laki perempuan?” tanya Luhan pada sang Ibu saat dia masuk menghampiri mereka.

“Laki – laki,” jawab sang Ibu. “Memang BaekHyun punya teman perempuan apa? Cepat temui temanmu Ibu suruh masuk dia menolak, katanya ingin mengajakmu keluar sebentar,”

“Haha..” ucap Luhan meledek BaekHyun yang nampak malas beranjak dari peraduannya.

“Paling Chanyeol dengan masalah tugas matematikanya,”

Membayangkan mencium Jieun, kemudian membayangkan gadis itu datang kerumahnya, Baekhyun fikir dia mulai gila. Tapi lebih baik Chanyeol yang datang dari pada Jieun, kemudian membuat BaekHyun kembali terdiam seperti orang bodoh.

“Ada ap-”

“Baek boleh kita bicara sebentar,”

Tebakannya salah. Bukan Chanyeol dengan masalah tugas matematikanya, tapi yang berdiri didepan rumahnya adalah seorang Do KyungSoo. Terlalu kaget, BaekHyun bahkan tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Terdiam, seakan KyungSoo adalah mahluk dari planet lain.

“Kau tidak keberatan?” tanya KyungSoo lagi saat menyadari BaekHyun hanya terdiam.

“Oh tidak,” jawab Baekhyun masih dengan ekspresi kaget. “Tidak dirumah saja?”

KyungSoo menggeleng pelan. “Kedai ramen depan sepertinya menggoda, aku belum makan malam,” lanjut KyungSoo sambil memegangi perutnya.

Ada apa dengan anak ini? Datang seakan dia tidak ada masalah denganku?. Bisik BaekHyun dalam hati. Setelah menyetujui ajakan KyungSoo, Baekhyun masuk kedalam rumah untuk mengambil jaket juga dompetnya. Ya, KyungSoo belum makan bukan tadi dia bilang?.

“Aku pergi kedepan sebentar,” ucap BaekHyun saat melewati dua anggota keluarganya.

“Kemana?” teriak Luhan.

“Kedai ramen,”

“Bungkus satu untuku,”

“OH…!” teriak BaekHyun sedikit jengkel.

Dan sekarang sambil jalan beriringan Baekhyun bersama KyungSoo. Sejak menutup pintu rumah sampai dengan pintu pagar sekarang, BaekHyun belum mengeluarkan sepatah katapun. Pertama memang karena BaekHyun masih malas berurusan dengan KyungSoo. Masalah dia dengan Jieun saja belum selesai, kenapa dia harus dihadapkan dengan KyungSoo. Kedua karena BaekHyun bingung harus membicarakan apa. BaekHyun bahkan lupa, kalau dia dan KyungSoo adalah sepasang sahabat semenjak dia menjadi murid baru dikelas itu. Tapi kenapa BaekHyun merasa canggung sekarang?. Memang benar kata pepatah, wanita bisa menghancurkan segalanya.

“Bagaimana persiapan pentasmu dengan Chanyeol,”

Dan akhirnya KyungSoo yang membuka topik pembicaraan. “ehm.. berjalan lancar,” jawab BaekHyun kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Kau bernyanyi dan Chanyeol bermain gitar bukan?”

yeah.. apalagi yang Park Chanyeol bisa selain gitar kesayangannya,” canda BaekHyun yang membuat keduanya tertawa, meski milik BaekHyun terdengar sangat hambar. “Bagaimana dengan kau dan….. Jieun,” tanya BaekHyun ragu, tapi itu alur pembicaraan yang KyungSoo inginkan bukan?

KyungSoo menghentikan langkahnya, begitupun dengan BaekHyun. “Aku dan Jieun? Pertanyaanmu ambigu, ini tentang pentas kami atau rasa cemburumu,”

BAM!

Serasa mendapatkan pukulan telak diulu hati, BaekHyun merasakan sakit dan mual luar biasa saat KyungSoo melontarkan kalimat menjijikan tadi. Haruskah BaekHyun menonjok wajah putih bak porselen didepannya ini, rasanya senyuman KyungSoo pun terasa seperti cibiran bagi BaekHyun.

tsh~ kau bertanya seperti orang bodoh tidak mengerti topik pembicaraan,” jawab BaekHyun sambil melanjutkan langkahnya mendahului KyungSoo dua langkah.

“Awalnya Jieun akan bermain gitar dan aku bernyanyi, tapi rasanya tidak menyenangkan,” sambung KyungSoo saat dia sudah mengambil langkah sejajar disamping BaekHyun.

“Maksudmu tidak menyenangkan?” tanya BaekHyun malas dan terdengar sedikit kesal.

“Jieun sudah pandai bermain gitar dan aku sudah biasa bernyanyi sekali latihanpun beres, maka dari itu kami mengganti porsi, aku bermain piano Jieun bernanyi, itu membutuhkan setidanya lima kali latihan, kau tahu Baek-”

“Dan kau senang menghabiskan waktu dengan kekasih orang lain?” ucap BaekHyun frontal, memotong kalimat panjang KyungSoo yang terdengar amat sangat antusias.

“Maksudmu?” tanya KyungSoo bingung.

“Aku hanya bertanya kau senang menghabiskan hampir setiap harimu dengan Jieun?”

“Jieun perempuan yang asik,”

BaekHyun menghentikan langkahnya, berbalik menatap KyungSoo. Entahlah seperti apa tatapannya, antara jengah, marah, sedih dan memohon ‘KyungSoo bisa kau hentikan semua itu,’ “Bisakah kau menahan kalimatmu dan menganggap lelaki didepanmu ini sebagai kekasih seorang Lee Jieun?”

eng?

“Dan apa maksudmu Jieun gadis yang asik,”

“Dan bisakah kau Byun BaekHyun tidak marah seperti itu padaku hanya karena aku lebih sering bersama Jieun?”

BaekHyun menempatkan kedua tangannya pada pinggang sambil menghembuskan nafas berat. “Maksudmu Do KyungSoo?”

“Kau cemburu Byun BaekHyun, karena kau tidak mampu melakukan semua yang bisa aku berikan pada Jieun bukan?”

BUK!

“Dan bisakah kau diam Do KyungSoo dan berhenti menyombongkan dirimu,”

Satu hantaman tepat dimuka KyungSoo. Hadiah persahabatan dari BaekHyun untuk KyungSoo. Mendapati KyungSoo tersungkur ditepi jalan, BaekHyun hanya bisa merutuki dirinya yang tidak bisa menahan emosi. Tapi dia juga tidak bisa membiarkan KyungSoo yang menurutnya sudah keterlaluan.

“Hahahaa….. aku bahkan harus merelakan wajah mulusku agar amarahmu hilang,” ucap KyungSoo yang masih terduduk dijalanan, sambil tertawa dengan pipinya yang mulai meninggalkan semu lebam.

“Berapa lama kau menahan amarah itu Baek? Sebulan? Sejak insiden olah raga?” lanjut KyungSoo sambil berdiri. “aw, lumayan juga pukulanmu bung!”

KyungSoo masih meninggalkan sisa tawanya dan sekarang sudah berdiri tepat didepan BaekHyun yang memandangnya bingung, tunggu itu tatapan bingung atau marah?

“Kau sudah puas, masih ingin melepaskan marahmu padaku?”

“Apa maksudmu?”

“Aku bertanya padamu, kau sudah cukup melampiaskan amarahmu? Kalau kau sudah puas ijinkan aku bercerita,”

BaekHyun hanya terdiam sambil menatap KyungSoo malas.

“Baiklah nampaknya kau sudah puas, jadi sekarang giliran aku bercerita, bagaimana perasaanmu pada Jieun?”

“Itu bukan urusanmu,”

“Itu menjadi urusanku sejak kau meninggalkan lebam ini atas nama Jieun,” ucap KyungSoo. “Kau cemburu padaku? Kau berfikiran aku bermain curang padamu? Kau kira aku ada rasa pada Jieun? Apa kau kira kami ada main dibelakangmu?”

KyungSoo menghembuskan nafas berat kemudian menghentikan langkahnya, membuat BaekHyun juga berhenti. “Dilihat dari kau memperlakukanku layaknya musuh, nampaknya kau sudah mendapatkan perasaanmu pada Jieun,”

BaekHyun menatap KyungSoo dengan sebelah alisnya terangkat.

“Aku dan Jieun tidak ada apa – apa, sejak insiden pelajaran olah raga sampai tempo hari kau marah, status aku dan Jieun masih sekedar teman, aku hanya teman Jieun dan Jieun hanya menganggapku teman, tapi Jieun mengharap kau lebih,”

“Maksudmu,”

“Maafkan aku, aku dan Jieun bersekutu untuk membuatmu cemburu,”

BaekHyun? Saat mendengar kalimat ini dia bingung harus berekspresi seperti apa. Dia merasa di permainkan, apa harus mereka membantu dengan penipuan seperti ini? Tapi BaekHyun juga merasa senang, karena faktanya Jieun masih bersamanya. Tapi BaekHyun bingung perasaan mana yang harus dia munculkan sekarang didepan KyungSoo.

“Kau merasa dibohongi? Kau sudah meninggalkan lebam diwajahku, jadi anggap itu lunas oke,”

“Kyung-”

“kau dan Chanyeol cepat ke kedai ramen depan rumah BaekHyun, aku tunggu” ucap KyungSoo dalam panggilan telfon bersama Jongdae. Malam ini semuanya beres bukan? KyungSoo sudah berkata jujur pada BaekHyun dan BaekHyun sudah melampiaskan amarahnya pada KyungSoo. Jadi ijinkan malam ini mereka berempat kembali akrab.

“Aku memanggil mereka makan bersama, ayo..”

“Do KyungSoo,”

KyungSoo berbalik sambil berdecak sebal.

BUK!

“Yang ini karena kau telah mempermainkanku,” jawab BaekHyun sambil tersenyum.

Mau tidak mau, KyungSoo harus membayar permainannya dengan dua hantaman dari BaekHyun. Tapi, demi semua kembali seperti semula KyungSoo menerimanya.

“Bung! Kau harus membiayai perawatanku besok,” malam itu mereka kembali tertawa bersama.

.

.

Masih sekitar satu jam lagi sampai bel masuk berbunyi, sampai sekarang hanya satu dua murid yang sudah terlihat disekitar sekolah termasuk BaekHyun. Sejak pagi sekali Baekhyun sudah berada disekolah ada sesuatu yang harus dia kerjakan untuk hari ini. Suatu misi yang membuatnya susah untuk tidur tadi malam dan berangkat sangat pagi kesekolah hanya untuk memastikan semuanya akan berjalan sesuai dengan rencana. Tentu Baekhyun tidak melangkah sendirian, ada KyungSoo, Jongdae dan Chanyeol yang siap membantunya. Jika kalian bertanya apa misi ini untuk Jieun, jawabannya IYA.

“Today is my D-Day,” ucap BaekHyun sambil tersenyum menatap langit pagi dari atap sekolah.

BaekHyun mengambil handphone dari saku seragamnya kemudian mengetikan pesan singkat untuk tiga sahabatnya.

Aku sudah melakukan semuanya, sekarang aku bahkan sudah disekolah. Bantu aku sekali lagi kawan..

sent.

.

.

Tiga hari, kurang lebih sudah tiga hari Jieun berangkat 15menit lebih awal agar tidak satu bis dengan BaekHyun. Ya, Jieun tahu betul jam berangkat sekolah BaekHyun. Maka dari itu, beberapa hari ini Jieun menghindari pertemuan didalam bis. Untuk apa? Beberapa hari kemarin mungkin karena Jieun memang sedang sebal dengan BaekHyun, tapi untuk hari ini dia sendiri bingung kenapa malu untuk bertemu BaekHyun. Terbayang insiden tempo hari dimana BaekHyun datang menemuinya dan seperti akan mengatakan sesuatu, Jieun belum siap harus mendengar pengakuan BaekHyun….. didalam bis. Hanya itu.

15 menit lebih pagi berangkat sekolah, membuat Jieun memiliki sekitar 30 menit sebelum masuk kelas. Berangkat lebih pagi ternyata tidak buruk juga, dia bisa bersantai dulu dikelas dengan sekedar membaca novel ataupun mendengarkan musik. mempersiapkan mood untuk menjalani harinya di sekolah.

Jieun sampai didalam kelas, baru beberapa kursi yang terisi termasuk KyungSoo yang sudah duduk dibarisan belakang dengan headset menempel ditelinganya. Sebelum duduk dikursinya, Jieun berjalan menuju belakang kelas terlebih dahulu, untuk mengambil buku pelajarannya di loker.

Jieun terdiam didepan lokernya. Ada yang aneh. Jieun mendapatkan satu notes tertempel dipintu loker. Sebuah notes berwaran kuning dengan satu lolipop tertempel disana.

Halo Lee Jieun, jika kau mengijinkan bolehkah aku mengenalmu lebih jauh? Dari yang aku tahu kau sangat menyukai makanan manis bukan? Semoga Lolipop ini bisa membuat harimu menjadi manis.

-seorang lelaki.

Jieun mengerutkan keningnya. Seorang lelaki? Apa sekarang ada seseorang yang sedang mengaguminya?. Jieun mengambil notes itu, kemudian menyimpan lolipop kedalam saku jas seragamnya.

Ada lagi.

Saat Jieun membuka lokernya, disana terdapat satu kotak berwarna kuning dengan pita merah. Seingat Jieun kemarin didalam lokernya hanya terdapat satu buku dan tidak ada kotak ini. Segera Jieun mengambil kotak itu kemudian membukanya. Isinya sebungkus roti coklat dengan sebuah notes. Lagi.

Jadi apa kau mengijinkanku mengenalmu lebih jauh? Boleh? Ah roti ini katanya terkenal dikantin sekolah, apa kau pernah mencicipinya? Aku fikir ya, tapi barangkali kau belum sarapan, makanlah ini. Kita tidak bisa menebak hal yang akan terjadi hari ini bukan? Semangat.

-seorang lelaki.

“Seorang lelaki?” ucap Jieun.

Mengambil rotinya dan buku yang dia butuhkan, meninggalkan kotak itu didalam loker, Jieun berjalan menuju bangkunya. Masalah lelaki ini? Biarkan saja dulu, sekarang ijinkan Jieun menghabiskan roti ini karena kebetulan dia memang belum sarapan.

“Siapapun kau, terimakasih untuk roti ini,” ucap Jieun saat membuka bungkus roti sambil tersenyum. Baru Jieun akan membuang bungkusnya, tulisan merek roti ini mengingatkan Jieun pada satu peristiwa. “BaekHyun?” fikir Jieun.

Dengan segera Jieun melirik ke kursi paling belakang, tapi disana baru ada KyungSoo. Kursi BaekHyun masih kosong. “KyungSoo..!” teriak Jieun sambil melambaikan tangannya karena menyadari KyungSoo masih terlarut dalam musik ditelinganya.

KyungSoo yang menyadari lambaian tangan Jieun untuknya, segera melepas headset dari telinganya. “Kenapa?”

“Apa BaekHyun sudah datang?”

KyungSoo segera membalikan badannya ke kursi BaekHyun yang masih kosong. “Sepertinya belum, biasanya dia datang lima menit sebelum masuk kan, kenapa?”

“Tidak, hanya bertanya..” jawab Jieun sambil kembali pada posisinya semula. “Ini sama, roti yang BaekHyun belikan saat aku jatuh dikelas olahraga, mungkinkah? Atau memang dikantin sekolah hanya ada satu merek roti?”

Satu persatu murid mulai memenuhi kelas 1-4, Jiyeon –teman sebangku Jieun juga sudah datang.

“Ji, apa kau masih menyimpan catatan tempo hari dari Jung Ssaem?” tanya Jiyeon ketika dia sudah duduk dikursinya.

“Catatan?”

“Itu tentang aturan pertunjukan seni,”

“Ah sebentar,” catatan – catatan seperti itu memang tidak pernah Jieun bawa kerumah, Jieun beranggapan laci dibawah meja kelas adalah tempat paling aman untuk menyimpan catatan terkait kegiatan sekolah. Termasuk untuk yang satu ini.

Jieun membuka laci miliknya dan… lagi. Jieun mendapatkan satu kotak kuning dengan pita merah didalam sana. “Lagi?”

“Apa?” tanya Jiyeon penasaran. “Dari siapa? BaekHyun? Kalian sudah baikan?” yang dijawab gelengan kecil dari Jieun.

Jieun membuka kotak itu dan mendapati sebuah charm barcelet dengan gantungan gitar, bukan hanya itu dalam kotak ini juga terdapat kupon tidak lupa satu notes lagi.

Dari yang aku tahu, kau sangat pandai bermain gitar. Ini hadiah kecil untukmu. Dan, ah itu kupon untuk makan ice cream didepan sekolah. Jika kau bersedia. J

-Seorang lelaki.

“Seorang lelaki?” ucap Jiyeon. “Kau punya penggemar baru,”

Jieun menutup kotak itu dengan sedikit kesal. “Bukan orang baru,” jawabnya sambil menghembuskan nafas berat. Ya, memang ini bukan dari orang baru, Jieun tahu betul siapa pengirim kotak – kotak ini. Harus seperti apa perasaan Jieun, senang atau kecewa?

Baru Jieun akan beranjak dari duduknya, JongDae dengan histeris berlari kedalam kelas. Ya, setiap hari baik Jongdae atau Chanyeol –BaekHyun juga sebetulnya, memang selalu menjadi perusuh dikelas. Tapi ada apa kali ini yang membuatnya langsung berlari kedepan kelas.

“SEMUANYA…!!!!!” teria Jongdae dari depan kelas yang sontak menarik perhatian. “Hari ini kita kedatangan murid baru…!!!”

“Murid baru?”

“Baru? Ditengah semester seperti ini?”

“Siapa?”

Seperti itu kurang lebih ekspresi murid satu kelas. Termasuk Jiyeon. “Murid baru? Apa dia yang mengirimimu kotak – kotak itu? Apa dia seorang yang kau kenal Ji?”

Jieun menatap Jiyeon skeptis. Murid baru? Pengirim kotak? Seorang yang kukenal. Jieun yakin kotak – kotak tadi berasal dari BaekHyun, tapi murid baru? Orang yang dia kenal?.

“Kalian penasaran bukan siapa murid baru itu?” antusias Jongdae lagi yang disambut seruan berisik seisi kelas. “Tenang – tenang, silahkan masuk teman baru…!!” teriak Jongdae kearah pintu masuk.

Kelas yang tadinya berisik berubah menjadi sepi. Semua mata tertuju kearah pintu masuk. Termasuk Jieun. “Apa ceritanya ini murid baru tapi yang membawanya masuk bukan wali kelas,” tanya Jieun heran.

Benar saja. Pantas Jongdae yang membawa murid baru gadungan ini. Masuk seorang anak lelaki dengan seragam lengkap sambil tersenyum kepenjuru kelas. Senyum yang sangat manis untuk memulai kisah baru. “Hai semuanya, kenalkan aku Byun BaekHyun, senang bertemu kalian..”

Hening.

Mungkin penghuni kelas terlalu bingung dengan lelucon garing BaekHyun dan Jongdae. Murid baru? Terserah mereka saja, yang pasti sekarang seisi kelas tengah meneriaki mereka karena lelucon garingnya.

“Dasar, pacarmu memang tidak waras,” ucap Jiyeon bersungut, tapi tetap saja lelucon tadi meningalkan jejak tawa diwajahnya, diwajah semua penghuni kelas.

Jongdae yang masih tertawa puas berlari menuju barisan paling belakang yang kemudian diikuti BaekHyun. Ketika dia sampai di meja Jieun, BaekHyun berhenti kemudian tersenyum sangat manis kearah Jieun.

“Hei murid baru, jadi siapa namu?” tanya Jiyeon menimpali lelucon BaekHyun.

“Ah, namaku Byun BaekHyun,” jawab BaekHyun sambil menjabat tangan Jiyeon. “Jadi siapa namamu gadis manis,”

“Namaku Jiyeon,”

“Bukan kamu, tapi teman sebangkumu ini,”

“Hahahaha… hentikan bualan konyolmu Byun BaekHyun,” cibir Jiyeon.

Jieun masih terdiam. Baekhyun terduduk didepan meja Jieun kemudian memberikannya note berwarna kuning yang dia tempelkan dimeja Jieun. “Senang berkenalan denganmu Lee Jieun,” kemudian BaekHyun melangkah pergi menuju kursinya.

Jieun meniup sebal poninya, dia sebal tapi tanpa dia sadarai kedua tangannya berkeringat. Jieun meraih notes dari mejanya.

Boleh aku mengenalmu lebih jauh? Sepertinya aku sudah terjatuh padamu.

-Seorang lelaki atau bisa kau sebut lelaki itu Byun BaekHyun.

Itu yang tertulis pada notes kuning. Seperti tebakan Jieun semua ini memang aksi Byun BaekHyun.

“Woah, apa yang sedang pacarmu rencanakan,” ucap Jiyeon saat membaca note yang ada ditangan Jieun.

.

.

“Auramu nampak berbeda Baek,” bisik Jongdae ditengah mata pelajaran fisika.

“Sangat terlihat?” tanya BaekHyun.

“Sangat bodoh! Semoga sukses, jangan buat Jieun kembali kecewa,”

BaekHyun menghentikan aksi menyalin catatan dari papan tulis kemudian melirik Jongdae disampingnya. “Tidak akan, kalian sudah banyak membantuku. Terutama KyungSoo dengan pipinya itu,” ucap BaekHyun yang membuat Jongdae tertawa.

“Bagaimana selanjutnya?” tanya Jongdae.

BaekHyun melirik jam tangan yang melingkar ditangannyan. “Sepuluh menit lagi istirahat, aku akan segera menghilang. Nampaknya Jieun sangat sebal dengan leluconku tadi pagi. Biarkan dia tambah sebal baru aku keluarkan, oke”

“Bagus..”

Sepuluh menit kemudian bel istirahat berbunyi sebelum Jieun menyadari bahwa BaekHyun pergi, dengan segera BaekHyun berlari meninggalkan kelas menuju tempat persembunyian sementaranya.

“Dia sudah pergi?” tanya KyungSoo saat berbalik dan disana hanya tinggal Jongdae seorang.

“Tidak lama setelah bel berbunyi dia langsung pergi,”

“Dia nampak sangat bersemangat,” jawab Chanyeol.

Ketiga sahabat itu mungkin akan mebahas lebih lanjut rencana mereka, tapi mereka menyadari kehadiran Jieun disana. “Dimana BaekHyun?” tanya Jieun pada tiga orang itu.

“Pergi,” jawab Jongdae.

“Pergi kemana?” tanya Jieun lagi.

“Entahlah, dia tidak cerita pada kami,” ucap KyungSoo.

Jieun menatap KyungSoo dan dia mendapati satu yang aneh pada temannya itu. Wajah KyungSoo, terdapat memar disana. “Kyung wajahmu kenapa?” tanya Jieun yang sontak mengundang tawa bagi Chanyeol dan Jongdae.

“KyungSoo habis bayar hutang semalam,” timpal Chanyeol sambil tertawa lepas.

“Bayar hutang untukmu,” jawab KyungSoo yang juga menimpali tawa Chanyeol.

.

.

Jam istirahat sekitar 45 menit, 30 menit BaekHyun habiskan bersembunyi diatap gedung. Tebakannya pasti benar Jieun sedang bingung sekarang, atau bisa juga Jieun sangat sebal terhadap dirinya saat ini? Tidak masalah, itu memang yang diharapkan BaekHyun untuk saat ini.

Setelah menghabiskan set makan siangnya, BaekHyun melirik jam tangannya jam 12:50 masih tersisa 10 menit sebelum istirahat berakhir.

“Apa aku akan baik – baik saja?” tanya BaekHyun saat menyadari siang itu matahari lumayan terik.

Mengambil tas ransel yang dia simpan sejak pagi disini, BaekHyun turun melewati jalan belakang menghindari kemungkinan Jieun menunggunya didepan kelas. Jika itu terjadi gagal rencana yang sudah dia susun rapih.

Dan disini BaekHyun sekarang. Berdiri di lapangan basket yang letaknya tepat disamping kelas 1-4, tempat yang strategis. BaekHyun meletakan ransel yang dia bawa, kemudian mengeluaran benda penting dari dalamnya. Sebuah Microphone. Ide ini memang konyol tapi BaekHyun sudah siap melakukannya. Melirik sekeliling lapangan kosong, karena mungkin mereka sudah bersiap berada dikelas.

“Baiklah, kita mulai…” ucap BaekHyun sambil menghembuskan nafas.

Ngingggg….!

“Selamat siang semuanya,” ucap BaekHyun mengawali aksinya. “Sebelumnya, perkenalkan namaku Byun BaekHyun, murid baru di 1-4, maaf untuk mengganggu siang kalian…” lanjut BaekHyun beberapa kelas mulai ribut dan membuka jendela mereka untuk melihat BaekHyun. Termasuk kelas 1-4, BaekHyun bisa melihat di pojokan sana Jongdae, Chanyeol dan KyungSoo yang memberinya semangat, tapi BaekHyun belum melihat Jieun.

“Disini aku hanya ingin minta maaf, untuk seorang yang mungkin telah aku sakiti tanpa sengaja. Lee Jieun maafkan aku, untuk tidak memulai semuanya dengan kejujuran. Maaf untuk membuatmu merasa dipermainkan, maaf membuatmu menunggu, maaf membuatmu kecewa dan bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi?” BaekHyun berhenti untuk bernafas.

Beberapa murid sudah ada yan turun mengelilingi lapangan. murid perempuan terlihat histeris dan meneriakan nama Jieun juga BaekHyun. Dan dia muncul. Dengan bantuan Jiyeon, Jieun berdiri di jendela kelas 1-4 menyaksikan Baekhyun.

“seseorang bilang, sebuah hubungan harus diawali dengan kejujuran baru semuanya akan berjalan lancar. Jadi Lee Jieun, aku sungguh menyukaimu, aku bahagia setiap bersamamu, aku marah saat kau sering menghabiskan waktu bersama KyungSoo, aku sedih saat kau mendiamkanku, jadi..”

“Maukah kau menjadi kekasihku? Aku mungkin bukan lelaki sempurna, kelak mungkin aku akan membuatmu menangis, membuatmu kembali kecewa, membuatmu marah, membuatmu ingin meninggalkanku, tapi percayalah aku hanya memilikimu jadi apapun yang terjadi nanti, seperti hari ini aku akan dengan berani memperbaiki semuanya,”

“I Love you Lee Jieun…” ucap BaekHyun mengakhiri kalimat panjanganya.

Murid – murid mulai berteriak histeris. “Terima – terima…”

Jieun yang menyaksikan semua itu tidak bisa menutupi perasaan bahagianya, dia meraskan jantunya berdegup kencang, tangannya berkeringat dingin. Byun Baekhyun melakukannya?

“Ya..! apa yang kau lakukan, dia menunggumu..” ucap Jiyeon menyadarkan Jieun.

“BaekHyun sekarang seorang pemberani, apa kau hanya akan mendiamkannya?” ucap KyunSoo yang sekarang sudah berada disamping Jieun.

“Jieun cepat, kasian BaekHyun kepanasan,” seru anak perempuan lain dari jendela samping.

“Cepat Jieun, sepertinya sebentar lagi akan muncul guru yang akan menghukumnya,”

“Dia mencintaimu Jieun,” ucap KyungSoo kembali meyakinkan.

Jieun melirik BaekHyun lagi. Kali ini mereka saling bertemu mata dan Baekhyun melepaskan senyum termanisnya dari sana.

“Manusia bodoh!” rutuk Jieun sambil berlari meninggalkan kelas menuju lapangan dimana BaekHyun berada.

Ketika dia berlari semua orang menyorakinya, memberinya selamat dan memberi Jieun semangat.

“Selamat Jieun,”

“Kau beruntung mendapatkan gentleman seperti dia”

“Ya, kau sangat beruntung Lee Jieun,”

“Bisa kau berikan BaekHyun padaku,”

Seperti itu mungkin kalimat – kalimat yang Jieun tangkap. Memberikan BaekHyun untuk perempuan lain? Tidak terimakasih, lelaki ini milikku, ucap Jieun dalam hati sambil tersenyum.

Setelah berlari menuruni satu tangga, Jieun berhasil meraih tepi lapangan dan sekarang berjalan pelan menghampiri BaekHyun. Ini memalukan bagi Jieun dengan banyak murid yang menyaksian mereka.

“Ya, aku tidak menyuruhmu kesini, cukup jawab saja dari sana,” ucap Baekhyun sambil tertawa kikuk.

“Memang aku menyuruhmu melakukan semua ini? Memalukan tahu,” ucap Jieun sebal.

“Aku juga sebenarnya malu, tapi aku lebih malu lagi jika bertemu denganmu dan tidak mengatakan semua ini,”

Jieun mendekat. “Jadi ini yang ingin kau katakan tempo hari?”

“Bukan,” jawab BaekHyun sambil menggeleng. “Jadi, apa kau mau menjadi kekasih seorang Byun BaekHyun,”

“Tapi kau bilang tadi kau masih akan membuatku menangis nantinya, bagaiamana ini?”

“Aku bukan lelaki sempurna Lee Jieun,”

Jieun tersenyum dengan semua keberaniannya Jieun mendekati BaekHyun kemudian menjatuhkan satu ciuman dipipi BaekHyun. Butuh keberanian besar untuk melakukan semua ini didepan umum, tapi Jieun tidak bisa menahannya. “Aku juga mencintaimu Byun BaekHyun,”

BaekHyun tersenyum, kemudian melemparkan jempol kearah kelas 1-4 dimana disana terdapat Chanyeol, jongdae, KyungSoo dan Jiyeon yang menatap mereka bahagia.

“Percaya pada janjiku, meski aku bukan lelaki sempurna aku akan selalu berani seperti ini untuk mengungkapkan perasaanku,” ucap BaekHyun sambil mengulurkan tangannya yang membuat Jieun menatap BaekHyun bingung. “Jung Ssaem sedang berlari kesini sambil meneriaki namaku, bagaimana kalau hari ini kita bolos untuk merayakan semua ini?”

Jieun mengangguk setuju kemudian menyambut tangan Baekhyun, mereka berlari meninggalkan lapangan menuju keluar sekolah dengan Jung Ssaem yang juga mengejar mereka sambil meneriaki nama BaekHyun.

Woah… mereka akan menjadi pasangan legendaris di sekolah ini,” ucap Jiyeon saat melihat Jieun dan BaekHyun berlari sambil berpegangan tangan.

“Apa kau mau membuat legenda baru bersamaku,” ucap Chanyeol tiba – tiba.

“Maaf, aku sudah punya kekasih,” jawab Jiyeon sambil meninggalkan tiga sahabat BaekHyun, meninggalkan Chanyeol yang merasa malu dan dua dari mereka tertawa puas.

.

.

..THE END..

p.s : maaf banget yaa buat update ini telat banget. Tapi, terlepas dari apapun itu Selamat datang di Chapter Terakhir. Akhirnya tamat juga cerita ini. Seperti yang aku bilang, di Chapter akhir bakal ada kejutan kan? nah kejutan itu nama eventnya ‘Another Love Story : Love Letter‘ buat jelasnya kaya gimana bisa segera menuju ke page ini… HERE..

Makasih ya buat kalian semua ^^

love ya❤

sincerely..

Apreelkwon❤

66 thoughts on “Another Love Story [END] : 10 – ‘New Chapter’

  1. Hah, kenapa musti end..
    Terakhirnya agak menegangkan.
    Tapi untunglah baekhyun berani mengungkapkan perasaannya ke jieun. Aku juga ikut senang. Daebaklah pasangan baek – jieun. Kesian liat chanyeol… T_T.
    Ditunggu cerita – cerita selanjutnya.
    Hwaiting kak…!!!!!!.

  2. aaaa akhirnya baek ngungkapin perasaan dia yg sebenernya ke jieun, seneng deh..
    jadi makin suka sama byun baekhyun hehehehe apa sih

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s