Another Love Story : EPILOGUE

ALS

‘E.P.I.L.O.G.U.E’

Fanfic presented By Apreelkwon

Read the rest of story here : Another Love Story

.

tidak ada kata The End dalam sebuah cerita, ketika kita membuka halaman baru, kisah baru akan kembali menyambutmu. This is called New Chapter.

.

.

.BaekHyun.

Ini bukan pertama kalinya aku menikmati satu cup ice cream bersama Jieun, terlebih lagi tempat ini bukan tempat asing untuk kami, terutama untuku. Tapi entah kenapa, aku merasakan hal yang berbeda sekarang. Dengan Jieun yang duduk didepanku yang tengah menikmati banana splitnya dan tentu dengan status barunya sebagai kekasihku secara ‘resmi.’ Kalian tahu seperti apa rasanya? Seperti ada hal tidak biasa, hal baru dan aku mendapati semua ini aneh. hahaha

Dua minggu telah berlalu sejak insiden dengan coolnya aku menyatakan cinta pada Jieun didepan umum. Kalau diingat lagi, woah.. ijinkan aku bertepuk tangan untuk diriku sendiri. Aku tidak percaya bisa mengatakan semua tentang perasaan pribadiku padanya, terlebih ini didepan umum. Aku hebat bukan? Sekarang Gentelman sungguh melekat didepan namaku. Nampaknya aku bangga dengan hal itu.

“Apa yang kau fikirkan?” tanya Jieun memutus lamunanku.

Aku menggeleng pelan sambil tersenyum. “Bukan apa – apa,”

“Katakan, kau terus menatapku dengan senyuman yang membuatku merinding,” lanjut Jieun.

Aku sudah berjanji padanya bukan? Untuk selalu jujur tentang semua yang aku rasakan. Jadi apa kali ini juga termasuk?.

“Kau tahu, ini sedikit aneh.” ucapku yang disambut tatapan kenapa? Dari Jieun. “Kita biasa menikmati ice cream disini bukan? Tapi entah kenapa rasanya berbeda”

Jieun terlihat tertawa kecil mengomentari kalimatku. “Apanya yang berbeda?”

“Pertama, ini pertama kalinya kita bertemu diluar jam sekolah. Kau tahu, bertemu denganmu tidak menggunakan seragam membuatku sedikit nervous. Kedua, ini pertama kalinya kita duduk berhadapan dengan status resmi sebagai… ehm.. sepasang kekasih..

Kali ini Jieun sungguh tertawa. Aku bahkan harus memberinya selembar tissue untuk menghapus fla coklat yang meleleh disekitar bibirnya. Ya aku juga baru menyadari, dua minggu terakhir ini Jieun semakin terbuka dengan apa yang dia rasakan. Tertawa lepas, marah, tersenyum, semua tidak ada yang disembunyikan. Tidak ada lagi rahasia antara kita. Aku fikir.

Tapi..

Sebentar..

Sepertinya ada satu pertanyaanku yang belum dia jawab.

“Ya Lee Jieun,”

“Ehm?”

“Kau masih ada satu hutang jawaban padaku,” ucapku sambil menatapnya intens.

Jieun memiringkan kepalanya, dua bola mata hitamnya juga berbalik menatapku. Aku baru menyadari dia sungguh lucu dengan ekspresi seperti itu. “Pertanyaan untuk?”

Nampaknya dia lupa. “Mari ku ingatkan, pertama dulu aku pernah bertanya kenapa dengan semua kenangan traumamu kau mau menjadi kekasihku, yang kemudian kau jawab tidak akan mengatakan semuanya sebelum aku menjawab pertanyaanmu, kenapa aku aku mengajakmu menjadi sepasang kekasih,,”

“Ah..”

“Jadi? Kurasa aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang jawab pertanyaanku.” Kau tahu? Aku penasaran apa yang membuat dia tanpa ragu menerimaku beberapa bulan lalu, padahal waktu itu aku baru dua minggu berada disana. Sebagai murid baru.

“Sebelum aku menjawabnya bolehkan aku bertanya satu hal?”

“Ini tidak adil, kau bahkan belum menjawab pertanyaanku,”

“Pertanyaanku berhubungan dengan pertanyaanmu,”

“Baiklah, katakan..”

“Ehm.. tapi kau jangan tersinggung oke?” aku mengangguk kecil sebagai jawabannya. “KyungSoo pernah bercerita padaku, bahwa aku adalah….. pacar pertammu..”

Ada jeda disini.

Ugh… aku rasa mukaku merah sekarang. Bagaimana bisa KyungSoo mengatakan ini padanya? Tunggu, tapi seingatku aku tidak pernah bercerita tentang ini pada KyungSoo. Hanya Luhan Hyeong yang…. ah, jangan bilang mereka….

ehm..” jawabku sambil menangguk.

Jieun terlihat tersenyum kecil. “Baiklah, jadi alasan kenapa aku menerima ajakanmu waktu itu”

Jieun menceritakan semuanya disini. Tentang bagaimana dia bertemu denganku saat dia tengah liburan dimasa traumanya dan tepat sekali.. dia berlibur ditempat tinggalku sebelumnya. Atas penjelasan Jinki hyeong dia mendapatkan persepsi bahwa aku adalah seorang lelaki yang bisa dipercaya, dibandingkan lelaki – lelaki yang menjadi sumber ketakutan Jieun. Bagaimana bisa? Ah.. nampaknya selama ini aku telah membuatnya kecewa.

“Jadi siapa wanita itu?” tanya Jieun mengakhiri penjelasan panjanganya.

“Siapa?”

“Wanita yang menangis dan juga membuatmu menangis, calon kekasihmu?

Satu pertanyaan Jieun yang membuatku serasa disambar petir. Bukan, bukan, perempuan itu bukan calon kekasihku. Melainkan, aku punya hutang besar padanya.

Aku menepuk dahiku ketika menyadari aku melupakan tentang perempuan itu. Sahabatku Kang Seulgi.

“Kenapa? Tebakan ku benar?” tanya Jieun.

“Salah, salah besar. Dia bukan calonku dia adalah sahabatku dan aku punya hutang besar padanya, terima kasih Lee Jieun kau sudah mengingatkanku,”

“Maksudmu?”

Sebelum menjawab pertanyaan Jieun dengan lebih jelas, aku meraih handphone yang tersimpan disaku jeansku. Dengan cepat aku mengetik pesan dan mengirimkan pada orang yang bersangkutan. Ah, aku dalam masalah.

To : Seulgi

Kang Seulgi, mian. Apa kau marah padaku? Aku sungguh lupa semuanya, maaf – maaf, jadi masih ingin kau lanjutkan.

­-sent.

Masalah, aku dalam masalah besar. Seulgi adalah sahabatku. Sama seperti Luhan hyeong aku dan dia sudah sangat dekat. Di hari kami pindah, dia merasa kecewa dan sangat sedih. Tentu bukan karena dia akan jauh dariku –meski aku saat itu merasa kehilangan, dia bilang tidak masalah jika dia tidak bertemu dengankupun, masalahnya adalah dia menyukai Luhan hyeong dan aku berjanji membantunya untuk mendapatkan Luhan hyeong. Pertanyaannya bagaimana bisa aku melupakan gadis mata kucing ini? Yaaa aku dalam masalah.

From : Seulgi

Aku fikir kau sudah melupakanku. Apa kau tidak salah baru menanyakan semua ini setelah KAU DUA BULAN TIDAK MENGABARIKU SAMA SEKALI!!!! Sebelah mananya kau membantuku?

Oh ya.. aku ada masalah baru

.

.

.Lee Jieun.

Aneh? bukan hanya Baekhyun yang merasakan hal itu. Saat dia mengatakan merasa aneh dengan semua hal baru ini, tanpa sadar aku mengangguk dalam hati. Ini aneh, tapi aku bahagia.

Kenapa?

Dua minggu ini seperti membuka buku dengan cerita berbeda. Hariku dimulai dengan debaran dimana setiap bangun tidur satu pesan BaekHyun menyambutku.

From : Byun<3

Selamat pagi. Aku fikir dirumahmu matahari bersinar terang juga kan? Aku mengirimkan hangat peluku lewat mereka. Hehehe

Aku fikir ini memang cheesy tapi biarlah. Kami masih dalam fase lovey-dovey, tahapan dimana cinta masih terasa seperti permen lolipop manis, lucu dan memikat. Nanti ada masa mungkin kami akan bertengkar, tidak bertukar sapa, menangis, mata bengkak, jadi sebelum semua itu terjadi biarkan aku menikmati semua roman picisan ini.

To : Byun<3

HUP! Aku baru saja membuka jendela kamar dan sinar matahari pagi menyambutku, jadi apakah itu pelukanmu? Hihih… sisakan kursi bis disampingmu untuku..

Menggelikan bukan? Hahaha

Sebelum kalian, mungkin ada orang yang lebih jengah dengan semua fase lovey-doveyku. Dia adalah Lee Jinki, kakaku. Ya, dia orang yang paling sebal dengan semua roman picisanku. Terlebih ketika aku memutuskan menamai dua anak anjingku dengan….

Eun dan Baek

Good Morning Baek.. jadi apa kau sudah menyapa Eun pagi ini?” ucapku saat turun keruang makan dan mendapati dua anak anjing itu tengah duduk tidak jauh dari Jinki Oppa.

“Hentikan Lee Jieun, kau membuatku malas sarapan. Dan sudah kubilang nama dua anjing itu Bat dan Man..

Aku menggeleng keras. “No No.. mereka berdua adalah Baek dan Eun..”

Dan entah untuk keberapa kalinya Jinki Oppa terlihat kesal mendengar nama pemberianku ini. Apa terdengar sangat berlebihan?

.

.

.Kim JongDae.

32

Kelas satu berlalu secepat kau membalikan telapak tangan. Selama satu tahun disini banyak terjadi perubahan. Ya memang, remaja adalah tahap dimana manusia akan mencari apa jati diri mereka. Jadi apa jati diriku? Akhir – akhir ini aku menemukan passion belajarku meningkat, nampaknya kelas dua ini aku mulai menitik karir sebagai Top Student hahaha..

Bukan hanya aku yang berubah. Orang sekitarku juga. Dan orang yang paling sangat berubah drastis adalah Byun BaekHyun. Aku sempat bangga dengannya yang berubah menjadi lelaki gentleman untuk mendapatkan cintanya. Tapi mendapati mereka jatuh cinta begitu dalam, membuatku malas harus terus disuguhi lovey-dovey mereka. Aku bahkan tidak menyangka Jieun tipikal perempuan yang menikmati roman pician seperti itu. hahhaa pepatah mengatakan, semua berubah ketika kita jatuh cinta. Ya, 100000% mereka berubah.

Kelas dua ini aku hanya berharap satu. Bisakah aku tidak sekelas lagi dengan Baekhyun dan Jieun didalamnya?

Sayang doaku tidak dikabulkan, ya tapi setidaknya ini lumayan. Kali ini aku satu kelas dengan Jieun dan beberapa dari murid 1-4. BaekHyun satu kelas dengan KyungSoo dan Chanyeol sendiri. Hahaha aku cukup miris dengan Park Chanyeol. Dia harus terbuang sendiri dia akan kesulitan luar dalam.

“Kim Jongdae!” seseorang meneriaki namaku dari arah pintu. Lee Jieun, lihat dia berubah bukan? Ceria, semangat, cerah, lee Jieun yang baru. “Jadi kita satu kelas?”

“Yeps.. dan aku beruntung tidak satu kelas dengan kekasihmu,”

“Sebegitu malasnya kau dengan kami,”

“Bukan tapi SANGAT MALAS,” jawabku sambil tertawa dimana Jieun juga ikut menimpali.

Bel masuk berbunyi, Jieun duduk dua kursi dariku dengan kursi kosong disampingnya, mungkin pemiliknya belum datang atau memang Jieun duduk sendiri. Dan aku, dengan murid asal 1-6 bernama Jung Daehyun. Oke, Kim Jongdae semangat!

Shim Ssaem masuk kelas, tapi dia tidak sendiri seorang perempuan dengan rambut hitam panjang sepunggung dan pipi chuby mengekor dibelakangnya. Tunggu, tunggu, aku bisa merasakan sesuatu.

“Perhatian semuanya, sebelum kita memulai kelas, kenalkan ini teman baru kalian dia murid pindahan… kenalkan dirimu,”

Dia mengangguk sopan kearah Shim Ssaem. Dengan segera dia menghadap kearah kami, tersenyum kemudian membunguk sopan yang membuat rambut hitamnya sedikit jatuh menutupi wajahnya. Tersenyum lagi. Kemudian…

“Salam kenal semuanya, kenalkan namaku Shim Hyemi, senang berkenalan dengan kalian,”

Shim Ssaem menyuruh Hyemi untuk duduk disamping Jieun yang kebetulan kosong. Tanpa sadar aku mengikuti arah perempuan itu menuju tempat duduknya. Dia terlihat tersenyum manis kearah Jieun sebelum mereka saling berjabat tangan.

Aku merasakan sesuatu. Sesuatu.

Shim Hyemi?

.

.

.Do KyungSoo.

30

BaekHyun dengan pengakuan didepan umum dan notes – notes untuk Jieun beberapa bulan lalu nampaknya menjadi trend sekolah ini untuk menyatakan cinta. Sudah berapa pasang yang melakukan hal serupa. Aku melihat Taemin anak 1-3 yang menyatakan cinta pada pacarnya saat pertandingan basket, tepat ketika dia mencetak skor. Kemudian ada Zhang Yixing, murid asal China yang menyatakan cintanya saat dia sedang menjadi DJ radio sekolah. Ya, trend yang membuat BaekHyun semakin membusungkan dadanya.

Tapi aku tidak pernah habis fikir aku juga akan menjadi target trend itu.

Sudah sekitar dua minggu pagiku selalu disambut dengan note pink yang menempel dipintu loker. Ucapan yang beragam, kadang hanya selamat pagi, semoga harimu sukses, kau yang terbaik. Sungguh, aku bukan tipikal lelaki yang menyukai hal seperti ini. Rahasia, terlebih pengagum rahasia.

“Lagi?” tanya BaekHyun yang sudah ada disampingku dan ikut membaca note ditanganku.

“Maaf jika note ini mengganggumu, tapi semoga harimu menyenangkan Do KyungSoo,” ucap BaekHyun membaca note itu. “Woah, Do KyungSoo kau…” BaekHyun menghentikan kalimatnya kemudian bertepuk tangan antusias. “Jadi apa yang akan kau lakukan?”

“Kau tahu Baek? Aku tidak menyukai hal semacam ini?” tanyaku sambil membuka loker dan menyimpan note diatas tumpukan note sebelumnya. Banyak.

“Aku tahu, tapi kau tidak penasaran dengan pengirimnya?” tanya BaekHyun.

“Ehm.. sejuah ini aku belum penasaran,”

“Kau jahat,”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Cari tahu siapa pengirimnya, dia menyukaimu,” ucap BaekHyun sambil menepuk bahuku kemudian berlalu menuju kursinya.

Haruskah aku penasaran dengan siapa dibalik note ini?

.

.

.Park Chanyeol.

6

Aku baru menyadari, ternyata otakku ini bukan jenis yang akan meraih kejayaan untuk bidang sekolah. Yaaa, kapasitas otak miliku terlalu minim untuk menyimpan semua mata pelajaran. Aku sudah menceritakan semua ini pada Ayahku dan dia hanya tertawa. Kenapa? Tentu, aku mewarisi otaknya, jadi mereka tidak memaksaku untuk mendapatkan prestasi gemilang disekolah.

Thanks dad.

Tapi sebagai balasannya, Ayah menantangku untuk menemukan keahlian lain yang nantinya akan membantuku untuk masuk universitas, karena kalau mengandalkan nilai sekolah nampaknya bayanganku untuk kuliah sangat minim. Kecuali aku rela kuliah di perguruan tidak memiliki akreditas bagus.

Dan aku menemukannya, jalanku untuk bersinar. Gitar dan tanganku. Ah, betul aku memang dewa musik. Sepuluh jariku jika sudah bergaul dengan gitar akan menghasilkan harmony yang memikat dan tentu saja tidak semua orang memiliki bakat seperti ini bukan? Jadi aku memutuskan untuk memperdalam pengetahuan musiku dengan masuk kelas les gitar pulang sekolah.

Kalian tahu? Aku semangat sekali memulai kelas ini, karena memang passionku ada pada musik. Tapi beberapa hari ini jalanku teralihkan. Alasanku berangkat kelas musik bukan lagi karena gitar kesayanganku, ah bahaya gitarku mungkin akan cemburu dan tidak sudi aku sentuh lagi, tapi bagaimana aku bisa menolak.

Wendy Son atau Son Seunhwan.

Gadis korea – amerika yang kebetulan mengambil kelas sama denganku telah membuatku terjatuh. Dia pandai bermain gitar dan juga suaranya indah. Bukan hanya itu, wajahnya, senyumnya, tawanya, matanya semuanya indah dimataku.

Kami sudah dua minggu dikelas yang sama, tapi baru akhir – akhir ini aku merasakan dia berbeda dimataku. My Wendy.

Aku membuka pintu kelas dan mendapati disana masih sepi. Memang, sekitar 15 menit lagi kelas baru dimulai. Mereka yang datangpun baru sedikit dan aku mendapati gadisku duduk disana. Dipojok sedang memainkan gitarnya sambil bersenandung merdu.

Aku tersenyum kemudian melangkah kearah gadisku duduk.

Hei My Wendy, how are you?” tanyaku dengan bahasa inggris yang mungkin terdengar aneh ditelinganya. Terlihat dengan ekspresinya ketika menatapku.

Fine,” jawabnya….. sangat merdu.

“Jadi bagaimana kita selanjutnya?”

Wendy mengalihkan perhatiannya dari gitar kemudian menatapku bingung. “Maksudmu ‘kita selanjutnya’”

“Aku minta kejelasan darimu Wendy, sepertinya aku jatuh cinta padamu..”

.

.

p.s : sebuah cerita emang ga ada kata END kan? jadi memungkinkan kedepannya bakal ada side story dari ALS ini ^^. Tapi dari beberapa spoiler diatas, kalo aku suruh milih kisah siapa yang bakal dibahas kalian milih mana?
Jongdae with love first sight with Hyemi?

Kyungsoo with misterious girls, and Kyung hate event like that
atau Chanyeol dengan obsesinya dengan perempuan amerika – korea itu?
hehehe…
Lets VOTE ^^

Pyeong..❤

109 thoughts on “Another Love Story : EPILOGUE

  1. aaaah aku suka semuanya, baekhyun dengan kisah roman picisannya sama jieun, jongdae dgn sesuatunya, kyungsoo dgn pengagum rahasianya, dan chanyeol dgn his wendynya hahaha, aku suka semuanya author.., gimana kalo author bikin side story semuanya -jongdae, kyungsoo, chanyeol- terus bikin twoshot deh hehehehehe saran aja sih, abis penasaran sama ceritanya..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s