Daddy & Baby[Chapter 3]

request-pc56

Nealra Present Daddy & Baby with

Kim Suho||Park Chanyeol||Do Kyungsoo||Kim Jongin||Oh Sehun

and Park Jungnam||Jung Soojung||Joy Park||Lee Jieun||Kim Yesung

special Kim Junho

in Romance||School-life||Family||PG-13||Chaptered

Casts belong to their self and GOD. Story is author mine

Poster by arin yessy @ Poster Channel

FF ini adalah versi cowok dari My Future & Generation

HAPPY READING!

Tidak seperti hari biasanya, kelima daddy dapat menjemput Junho bersama-sama. Mereka memasuki apartement dengan canda tawa. Tepat saat mereka masuk, tampak keadaan rumah yang benar-benar kacau.

Jongin buru-buru menuju ke ruang tamu. Ia membulatkan matanya setelah mendapati seorang yeoja tertidur di sofa mereka “Jung nuna!”

Chanyeol yang mendengar sebuah nama tak asing segera masuk. Ia sama terkejutnya dengan Jongin “Sembunyikan Junho!” pekiknya. Tapi kemudian dia sadar kalau Junho sedang ada di gendongannya.

Chanyeol baru saja akan keluar ketika yeoja itu terbangun lalu mendapati Jongin dan Chanyeol. Sambil mengucek matanya, yeoja itu berkata “Hai, Jongina~ Dan Chanyeol! Harusnya kau menyapa nunamu!”

Saat ini, Chanyeol sedang dalam posisi berbalik sehingga yeoja itu belum mendapati keberadaan Junho “Aku ingin memanggil Suho hyung dulu” ucap Chanyeol berusaha setenang mungkin.

Tiba-tiba terdengar suara tawa Junho. Semua terkejut. Yeoja yang telah sepenuhnya sadar itu menatap curiga kearah adiknya “Apa yang kau sembunyikan, Park Chanyeol?”

Chanyeol tak punya pilihan lain selain berbalik, ia menunjukkan Junho pada nunanya, Jung. Jung tampak berpikir lalu menghela nafasnya sambil mendekati Chanyeol “Imutnya~” Jung mengambil Junho dari dekapan Chanyeol.

Disaat yang sama, Sehun, Kyungsoo, dan Suho memasuki apartement. Mereka sama terkejutnya melihat kedatangan Jung terlebih lagi ketika Jung menggendong Junho.

“J-jung nuna~” Sehun tergagap. Jung menyadari kedatangan tiga namja lain “Annyeong, Sehuna, Kyungsooya, Suhoya!” Sapanya ramah pada ketiga namja itu.

Jung lalu menyuruh kelima namja yang notabennya lebih muda darinya itu untuk duduk di sofa “Kenapa bayi yang imut ini bisa ada di rumah kalian?” tanya Jung. Tak ada yang menjawab untuk beberapa saat.

“Seseorang menitipkannya pada kami. Akan segera diambil sama orang tuanya kok” Jongin memilih buka suara.

“Bukan anak salah satu dari kalian?” Pertanyaan Jung membuat kelima namja ini speechless. Kembali keheningan menguasai apartement itu.

“Tak ada yang menjawab? Berarti benar” Jung menatap wajah Junho lalu membandingkannya dengan kelima namja yang ada di depannya “Suho?” terka Jung.

Perlahan Suho mengangkat wajahnya dengan berani “Iya. Junho adalah anakku, nuna” Jung tampak berpikir.

“Tolong jangan memberitahu orang tua Suho tentang ini, nuna” Timpal Chanyeol cepat. Jung beralih menatap adiknya “Tidak mungkin aku melalukannya. Bahkan aku iri pada kalian anak jaman sekarang. Kalian bisa berbuat seperti ini. Kalau saja aku punya kesempatan, aku juga ingin melakukan hal-hal gila seperti kalian”

“Jadi, nuna tidak akan memberitahu orang tua Suho hyung?” Sahut Sehun. Jung mengangguk sambil tersenyum “Sebagai gantinya, aku akan menjaga Junho”

Sudah bisa ditebak. Kelima namja ini bersiap mengeluarkan pendapatnya “Kami berlima sudah cukup kok menjaga Junho” Chanyeol menjadi yang pertama.

“Tapi kalian kan sekolah, tidak mungkin kalian membawanya ke sekolah” Jawab Jung, santai.

“Kami menitipkan Junho pada tempat penitipan anak di D.O Mall, nuna” Jongin menyahut. Jung tersenyum santai “Kalian masih sekolah, tidak seharusnya kalian menghabiskan uang kalian setiap harinya hanya untuk menitipkan Junho sementara ada aku yang bisa menjaganya”

“Jadwal sekolah dan kegiatan ekskul kami tidak pernah terganggu oleh Junho. Kami bisa mengaturnya, karena seperti yang nuna tahu, kami bukan hanya seorang dua orang, tapi kami berlima. Dan untuk masalah pengeluaran biaya penitipan, aku bisa meminta manager untuk menggratiskannya” Ucap Kyungsoo panjang lebar. Cukup lama Jung tidak menjawab, membuat keempat namja lain mulai bersorak dalam hatinya.

Perlahan Jung tersenyum “Walau begitu, aku yakin, ada saat dimana kalian semua sibuk dan tidak punya waktu mengurus Junho. Dan dalam setiap melakuka sesuatu, ada titik jenuh yang tak dapat kalian hindari. Untuk masalah penitipan…” Jung menggeleng-geleng sebelum melanjutkan ucapannya “Kau tak seharusnya berkata seperti itu Do Kyungsoo. Apa kau ingin memberitahu semua orang kalau kalian menjaga seorang bayi?” Kyungsoo tersentak, dia lupa mempertimbangkan hal itu. Kyungsoo tak dapat lagi menatap Jung.

“Baiklah, nuna. Kyungsoo hyung saja sudah menyerah. Tapi, nuna tidak akan tinggal disinikan?” Tanya Sehun, berharap. Jung tersenyum manis “Pertanyaan yang bagus, baby Sehun. Karena aku akan tinggal bersama kalian”

Kembali semua orang telah menduga hal ini “Kamar di apartement ini hanya lima, nuna. Dan itu semua sudah sesuai sama kami. Tapi nuna tidak perlu khawatir, aku akan memesan satu apartement untuk nuna dan menyelesaikan semua masalah administrasinya”

Jung berdiri dengan Junho yang masih dalam dekapannya. Ia menepuk pelan pundak Suho “Aku lebih suka tinggal bersama adik-adikku. Kau tidak perlu repot-repot begitu, Suhoya. Lagi pula kalau aku mau pesan kamar, aku akan bayar sendiri kok”

Ia berjalan ke sebuah pintu kamar yang terletak di pojok kiri “Aku ingin memilih kamar. Kalian tidak masalah kan kalau aku menggunakan kamar kalian?” Kelima namja itu mengangguk dengan wajah yang terpaksa.

“Ini kamarku, nuna” Suho membuka pintu kamar paling pojok itu. Tampaklah dekorasi kamar yang lebih didominasi warna hitam putih dengan kesan yang simpel, dewasa, dan gentleman. Bahkan aromanya pun sangat gentleman “Terlalu kuat kesan cowoknya. Aku ga suka”

Mereka lanjut ke kamar yang di sampingnya. Jung berusaha membuka pintu itu tapi rupanya terkunci “Aku buka dulu, nuna” Sahut Kyungsoo.

Di belakang, Jongin dan Sehun berbisik “Jung nuna pasti akan memilih kamar Kyungsoo hyung” bisik Jongin. Sehun mengangguk “Kamar Kyungsoo hyung memang paling keren”

Kembali ke depan, Kyungsoo membuka pintu kamar yang paling besar di apartement mereka. Terpampanglah sebuah kamar yang kental akan kesan klasik, simple tapi mewah. Tatapan Jung terhenti pada sebuah piano “Aku tidak bisa main piano, jadi aku tidak akan tidur di kamar ini”

Mereka beralih ke kamar yang berada pada sudut 120 derajat. Sebelum Jung membuka pintu kamar itu, Jongin lebih dulu menahannya “Jangan nuna! Nuna akan menyesal ketika melihat isi kamarku. Sebaiknya lanjut ke kamar sebelah”

Sehun dan Chanyeol terkikik melihat tingkah Jongin. Ia memang benar, kamarnya sangat tidak pantas untuk di lihat oleh orang lain. Kamar yang paling kecil itu tidak mendapat cahaya matahari sama sekali. Dengan buku dan baju yang berhamburan dimana-mana. Serta gambar-gambar porno yang bertebaran.

“Aku tetap ingin melihatnya, Kim Jongin. Cepat pindah” Jung menggeser Jongin. Jongin hanya bisa menunduk. Sementara Jung telah membuka kamar itu, disaat yang sama, aroma apek menyembur dari dalam kamar. Jung menutupnya dengan segera “Tidak pantas menjadi kamar” Komennya, membuat Chanyeol dan Sehun kembali tertawa.

Tanpa berbasa-basi, Jung membuka kamar selanjutnya. Kamar ini lebih di dominasi warna putih dengan perpaduan hitam, cokelat, dan krem. Sementara langit-langit kamar berwarna biru tua. Di beberapa tempat dapat ditemukan dengan mudah stiker. Di cermin, meja belajar, rak buku, lemari, dan bahkan di dinding terpasang stiker berwarna-warni.

“Aku bosan dengan aroma adikku” Jung menutup pintu kamar itu sebelum ada yang mengakui kamar tadi. Pada kenyataannya, dia sudah bisa menebak kalau kamar itu adalah milik Chanyeol.

“Ini kamarnya, baby Sehun yah” Jung membukanya dengan bersemangat. Kamar ini terlihat berbeda dari empat kamar lain yang hanya menggunakan beberapa kombinasi warna, sementara di kamar ini jauh lebih berani. Dengan perpaduan warna biru cerah, kuning,merah, dan hijau, kamar itu terlihat sangat menggemaskan.

Jung memasuki kamar Sehun. Hanya kamar Sehun yang ia masuki, sebelumnya ia hanya berdiri di depan pintu “Bahkan aromanya seperti bayi. Sehun memang baby” Jung mencubit pipi kiri Sehun, gemas

Sehun mengelus bekas cubitan tadi sambil menahan sakit “Ini bukan aromaku, nuna. Ini aromanya Junho. Junho tidur bersamaku”

“Benarkah? Kalau begitu, aku akan tidur disini” Jung menelungkupkan Junho di tempat tidur lalu berbaring.

“Kau tidur bersamaku saja, Sehuna” Chanyeol menepuk bahu Sehun. Sehun hanya dapat mengangguk.

~*~

            Minggu pagi yang lebih banyak dihabiskan untuk bersantai kini berubah drastis. Sejak pagi buta, Jung telah membangunkan semua penghuni rumah untuk bersiap-siap jogging. Junho yang terbangun karena lapar juga ikut Jung sertakan.

Hanya Suho, Kyungsoo, Junho yang sadar sepenuhnya saat mereka berada di lift. Jongin bahkan menekuk lututnya lalu tidur di pojokan lift. Sementara Chanyeol bersandar pada dinding sambil tertidur, walau beberapa kali ia harus terjatuh. Sehun sendiri tidur sambil berdiri dengan meletakkan kepalanya di pundak Suho.

“Kyungsooya, Suhoya, Junhoya, apa semalam kita begadang? Tidak kan? Kita hanya tidur setelah jam 3 pagi karena bermain Go Stop” Jung menatap ketiga namja itu bergantian.

“Itu namanya begadang, nuna” Respon Suho. Jung tertawa sambil memukul bahu Suho “Aku sih biasanya tidur jam 5 pagi. Maaf, aku lupa kalau kalian siswa”

Mereka sampai di taman. Chanyeol dan Sehun mulai sadar. Sementara Jongin belum sepenuhnya sadar. Jung dan Junho memimpin di depan, disusul Sehun dan Chanyeol yang kini menjadi bersemangat. Di belakangnya ada Kyungsoo dan Suho yang membantu menarik Jongin.

Entah karena apa, Jung menutupi wajahnya saat seorang namja berpapasan dengannya. Sementara di belakang, namja itu menyapa Sehun dan mengobrol sejenak.

Chanyeol mengejar Jung dan telah berada di sampingnya “Nuna!” Tatapan Chanyeol tampak tidak percaya. Jung hanya tersenyum seperti biasanya.

“Jangan bilang ini alasan nuna kesini. Tapi, bukannya nuna sudah bertunangan”

“Pertunanganku sudah dibatalkan. Aku menemuimu untuk menjernihkan pikiranku”

“Tapi bukan Cuma karena itu kan? Atau jangan-jangan, yang membatalkan pertunangan itu adalah nuna?”

“Ya, itu memang aku. Bukankah aku dulu pernah bilang, satu-satunya orang yang bisa menjadi hyung iparmu adalah dirinya, bukan orang lain”

Langkah Chanyeol terhenti, sementara Jung tetap melanjutkan larinya. Chanyeol hanya dapat melihat nunanya dengan iba.

Mereka telah berkeliling beberapa kali putaran. Mereka memutuskan untuk beristirahat di salah satu bangku taman. Sehun mengambil Junho karena Jung tampak kelelahan berlari sambil menggendong Junho dengan penggendong bayi yang diletakkan di depan.

“Wah~ Memang Sehunlah yang paling bisa mengurus bayi” Puji Jung. Sehun hanya tersenyum

“Benar. Kenapa kau hebat sekali mengurus bayi, Sehun? Apa kau pernah mengikuti bimbingan menjadi daddy yang baik?” Tanya Jongin diselingi candaan.

“Apa Jongin belum tahu?” Jung bertanya pada siapapun yang ingin menjawab. “Tahu apa?” Jongin menjawab.

“Sehun kan punya adik yang saat ini berumur sekitar 3 tahun. Dia sering memperhatikan nanny-nya saat mengurus adiknya, dan lama kelamaan, dia malah ikut membantu pekerjaan nanny-nya dengan gembira” Jelas Jung. Jongin mengangguk-ngangguk, ini adalah fakta yang baru diketahuinya mengenai Sehun.

“Tapi….” Jongin menggantungkan ucapannya, ragu. Sehun menatapnya bertanya.

“Tapi, kau tidak akan mendekati Soojungkan? Soojung itu menyukai pria yang menyukai bayi dan bisa merawat bayi” Ucap Jongin, tersipu malu. Sehun menggeleng “Tidak mungkinlah”

“Soojung? Siapa? Pacar Jongin?” tanya Jung. Jongin menggeleng sambil tersenyum “Belum jadi pacar, nuna”

“Belum. Berarti akan jadi dong. Ciee Jongin” Goda Jung, Jongin tampak tersenyum malu.

“Sejak dekat sama Soojung, Jongin jadi banyak berubah ke arah yang lebih baik. Dan karena Soojung jugalah, Jongin yang dulu tidak suka sama Junho, kini bisa menyukainya” Ungkap Suho.

“Kau harus menyatakan perasaanmu Jongina. Selama masih belum ada pria di sampingnya, jalan masih terbuka lebar. Fighting, Jongin!” Jung memberi semangat.

~*~

            Kyungsoo dan Chanyeol baru saja berpisah, karena Kyungsoo mendapat panggilan dari pembina musikalnya, sementara Chanyeol memilih untuk langsung pulang. Kyungsoo memasuki ruang guru.

“Kyungsoo, sebentar lagi akan ada festival perayaan hari jadi sekolah. Saya ingin kau tampil berduet sebagai perwakilan dari Musikal” Ucap si pembina “Seandainya Jung Eunji tidak pindah, mungkin aku akan menyuruh kalian kembali berduet. Sayang dia sudah pindah. Jadi saya ingin kau berduet dengan Lee Jieun”

Kyungsoo berusaha mengingat, siapa Lee Jieun itu “Lee Jieun. Sepertinya dia teman sekelas Chanyeol, 3-2. Yang selama ini selalu berduet dengan Baekhyun karena aku menolak untuk berduet dengan siapapun”

“Sepertinya saya tidak perlu ikut. Biar Byun Baekhyun yang berduet dengan Lee Jieun. Toh mereka sudah punya chemistry yang bagus karena sering tampil bersama-sama” Kyungsoo memilih untuk menolak.

“Maaf, Do Kyungsoo. Saat ini kau tidak bisa memilih karena Lee Jieunlah yang memilihmu sebagai pasangan duetnya” Ucapan pembinanya ini membuat Kyungsoo mengernyitkan dahinya, bingung.

“Awalnya saya juga ingin Lee Jieun berduet dengan Byun Baekhyun. Karena jika mengingat saat kau berduet dengan Eunji, walau hasil akhirnya lebih dari memuaskan, tapi pada awalnya kalian sangat sulit untuk bekerja sama. Tapi, Jieun ingin kau berduet dengannya”  Lanjut si pembina.

~*~

            Hati Jongin sangat berbunga-bunga karena dia dan Soojung berada dalam satu kelompok hanya berdua. Sepulang sekolah, mereka akan langsung mengerjakan tugas itu di rumah Jongin.

Saat ini, mereka berdua tengah berjalan menuju ke Angelic Tower Apartement, disusul Sehun yang berjalan sendiri di belakang mereka layaknya obat nyamuk.

Kedatangan mereka disambut oleh Jung, Junho, dan rumah yang berantakan layaknya kapal pecah “Annyeong, Sehuna, Jongina, dan kamu?” Jung menatap Soojung.

“Jung Soojung imnida. Teman kelasnya Sehun dan Jongin” Soojung membungkuk kecil. Jung langsung senyum-senyum sendiri.

“Tapi nuna, apa yang terjadi pada rumah?” tanya Sehun sambil melirik ke sekeliling. Jung tertawa kecil “Tadi aku mencoba membersihkan karpet dengan pembersih debu, tapi belum selesai, Junho sudah menangis, makanya aku pergi ke kamar dulu. Eh ternyata pembersih debunya masih menyala. Alhasil pembersih debu itu mengamuk lalu membentur meja dan menjatuhkan vas bunga di meja. Lalu…”

“Sudah, nuna. Nanti kita bersihkan sama-sama” Sehun segera memotong ucapan Jung. Jung mengangguk.

“Itu adiknya Jongin kan?” Sahut Soojung setelah mengenali Junho. Jung mengangguk “Iya. Aku sendiri adalah kakaknya Park Chanyeol.Aku yang membawa Junho kesini, walau beberapa hari aku harus pergi dan meninggalkan Junho bersama kakaknya, tapi Jongin memang kakak yang terbaik, dia bisa menjaga Junho walau tanpa bantuanku. Sekarang aku sudah kembali jadi aku bisa membantu Jongin menjaga Junho”

Jongin tersipu malu, walau ucapan Jung itu hampir 100% bohong. Sehun sendiri hanya bisa tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.

“Oh ya, kalian belajar di kamar Jongin saja, ruangan ini masih harus dibersihkan” Seru Jung pada Jongin dan Soojung. Mereka mengangguk, tapi disaat yang bersamaan, Jongin sadar mengenai sesuatu “Kamarku?”

“Mian, Soojunga. Kau tunggu diluar dulu. Aku akan membersihkan kamarku. Cuma sebentar kok” Jongin buru-buru memasuki kamarnya tanpa menunggu jawaban Soojung.

Sementara Sehun telah berganti baju dan bersiap membersihkan rumah “Nuna, ayo kita bersihkan rumah”

“Ayo!” Semangat Jung. Baru saja ia ingin mengambil sapu yang dibawa Sehun, Sehun lebih dulu menahannya “Tidak perlu, nuna. Cukup jaga Junho”

Sehun mulai membersihkan. Ia mengambil pecahan vas bunga yang berserakan lalu mengelap meja yang basah karena air dari vas itu. Ia juga merapikan bunga-bunga itu. Jung greget melihat Sehun yang hanya sendiri membersihkan padahal sudah jelas, alasan terjadinya kekacauan ini adalah Jung “Aku juga ingin membantu Sehun. Aku yang membuat kekacauan ini jadi aku juga ingin membantu”

Sehun berpikir lalu menjawab “Nuna letakkan saja bantal sofa yang berceceran itu pada sofa” Jung mengangguk. Ia melakukan tugas yang diberikan padanya.

Saat ini, Soojunglah yang merasa greget, semua orang membersihkan sementara dia tidak melakukan apapun “Bagaimana kalau aku saja yang menggendong Junho unnie tidak kerepotan” Jung mengangguk cepat “Makasih yah” Ucapnya sambil menyerahkan Junho ke pangkuan Soojung.

Soojung tak henti-hentinya bercanda bersama Junho. Perlahan Junho mulai gelisah sampai akhirnya dia menangis “Chogiyo, susunya Junho mana yah?” tanya Soojung, merasa Junho kelaparan.

“Susu yang tadi sudah habis, sementara aku tidak membuatkannya susu. Habisnya Chanyeol ngelarang aku buat susu” Respon Jung. Sehun buru-buru mengambil alih. Ia menggendong Junho dengan kasih sayang, perlahan Junho mulai tidak menangis lagi “Aku akan membuat susu dulu. Tolong gendong Junho lagi yah”Sehun menyerahkan Junho pada Soojung.

“Sehuna, aku sudah selesai meletakkan bantal-bantal ini. Biar aku yang meletakkan foto-foto pada tempatnya yah?!” Seru Jung. Sehun menggeleng “Tidak perlu, nuna. Biar nuna saja yang merapikan karpet yang agak terlipat itu”

“Bagaimana kalau aku yang meletakkan foto-foto ini, nanti biar Jung nuna yang memberitahuku letaknya?” Soojung menyarankan diri. Sehun mengangguk “Itu lebih baik”

Tidak berselang lama, Sehun kembali dengan membawa sebotol susu. Sehun menyerahkannya pada Soojung “Terima kasih atas bantuannya” ucap Sehun sambil tersenyum tipis. Soojung balas tersenyum.

“Kau bisa duduk di sofa itu sekarang. Aku tahu kau kecapekan menggendong Junho sambil berdiri sejak tadi. Dan Jung nuna, nuna bisa istirahat sekarang. Aku tinggal menyapu sisa kotoran yang ada” Ucap Sehun.

Soojung merasa sangat lega setelah ia duduk “Tapi, Jongin kok belum keluar juga?” tanyanya sambil melirik ke pintu kamar Jongin. Jung hanya tertawa mendengar ucapan Soojung.

Beberapa menit kemudian, Jongin keluar dari kamarnya sambil membawa sekantung besar plastik hitam yang entah apa isinya. Ia memasuki dapur dan mendapati Sehun “Apa kau tahu kenapa semua kaset XX ku rusak?” tanya Jongin. Sehun menggeleng “XX apa? Tapi, tidak ada orang yang pernah memasuki kamarmu”

“Baru kali ini aku membersihkan kamarku, jadi baru kali ini aku tahu kalau kasetku rusak. Atau mungkin kasetku itu rusak karena bertumpuk dengan barang-barang lain” Jongin masih penasaran. Sementara Sehun mengindikkan bahunya.

Jongin menemui Soojung dengan keringat disekujur tubuhnya. Ia tampak benar-benar kelelahan “Kita bisa mulai mengerjakan tugas kita, Soojunga”

Soojung melirik jam tangannya, dan betapa terkejutnya ia mendapati jam yang sudah menunjukkan pukul 7 “Sudah jam 7, Jongina. Aku pasti akan segera dicari kalau tidak segera pulang”Soojung pun pamit tanpa sempat melihat kamar Jongin yang telah dengan susah payah Jongin bersihkan.

Jongin menjatuhkan dirinya di sofa setelah Soojung pergi “Sepertinya aku hanya menghabiskan hari ini dengan membersihkan. Harusnya aku membersihkan kamarku sejak dulu-dulu” Jongin mengacak rambutnya, frustasi.

~*~

            Kyungsoo memulai latihannya di ruang musikal sekolah bersama pasangan duet barunya. Ia tak akan ada niatan lagi untuk mengajak yeoja ke rumahnya terlebih ke dalam kamarnya.

Suara merdu milik Lee Jieun memang sangat sesuai dengan harmoni permaian piano dari seorang Do Kyungsoo. Beberapa anggota club yang ada di ruang latihan tampak fokus memperhatikan duet luar biasa mereka.

Lagu itu diakhiri dengan suara tinggi milik Jieun, menghasilkan tepuk tangan riuh dari anggota yang lain.

“Seandainya kita berduet lebih awal, tidak akan ada yang bisa menandingi kita” gumam Jieun. Kyungsoo memilih tak menjawab.

“Tapi, kenapa kau tidak ingin berduet? Apa yang kau takutkan?” tanya Jieun lalu meminum minumannya. Kembali Kyungsoo tak menjawab, ia hanya fokus pada lembaran-lembaran not yang ada di tangannya.

Jieun tertawa sinis “Kenapa tidak menjawab? Apa kau meremehkanku karena semua orang menyebutmu The King of Musical? Bagiku, kau hanya pecundang yang terlalu takut dan tidak berani menghadapi kenyataan yang sebenarnya. Byun Baekhyun itu jauh lebih baik darimu”

Kyungsoo mengangkat kepalanya lalu menatap tajam ke arah Jieun “Jika kau memang hanya ingin mengoceh, lebih baik kau duet bersama Byun Baekhyun!”

“Sepertinya kau benci penghinaan yah?! Pantas saja pembina menyuruhmu dan Jieun untuk berduet, ternyata kalian banyak kesamaan” Jieun berbalik membelakangi Kyungsoo “Kau tak seseru kelihatannya, Do Kyungsoo” Lalu ia pergi meninggalkan Kyungsoo.

~*~

            Hari ini adalah hari festival untuk merayakan ulang tahun EXO High School. Jung memanfaatkan hari ini untuk berkunjung ke sekolah adiknya. Suho dan Junho juga ikut menghabiskan waktu mereka di festival.

Suho bertemu beberapa teman SMAnya. Ia dan Jung pun berpisah. Suho memilih mengobrol dengan temannya, sementara Jung ingin segera berkeliling melihat stand-stand di masing-masing kelas.

Tujuan pertamanya adalah kelas milik dua magnae yang ada di rumah mereka. Jongin dan Soojung menyambut para tamu di depan kelas “Nuna sama Junho datang yah” girang Jongin.

“Iya dong. Oh ya, stand kalian apa?”

“Kelas 2-1 mempersembahkan Perjalanan Cinta Sejati” Jawab Jongin, bersemangat. Jung tampak tertarik dengan stand kelas 2-1 ini.

“Saem!” Jongin menyapa seorang pria dengan setelan yang berjalan ke arah mereka. Jung berbalik untuk mengetahui siapa pria itu. Jung dan pria itu sama terkejutnya saat mata mereka bertemu “Jung!” gumam pria itu.

“Oppa~” riang Jung.

“Saem apa kau mengenal Jung nuna?” tanya Jongin.

“Yesung oppa ini kan sunbae aku waktu sekolah dulu” Jawab Jung. Jongin mengernyitkan dahinya “Jadi maksudnya, saem ini adalah lulusan EXO High School juga?” Pria itu, Yesung mengangguk.

“Tidak disangka yah. Mungkin Saem lah guru pertama di sekolah ini yang juga lulusan sekolah ini” Timpal Soojung.

“Oh ya, aku sangat ingin mencoba stand milik kelas 2-1 ini. Oppa ingin menemaniku?” tanya Jung, manja. Mau tidak mau, Yesung mengangguk. Sebelumnya, Jung memberikan Junho pada Soojung.

“Ketika kalian masuk, kalian akan diberikan tantangan dan pertanyaan. Yang pada akhirnya akan menunjukkan bagaimana cinta kalian” Jelas Jongin.

Kedua orang itu pun masuk. Mereka disuguhi sebuah lorong panjang.

“Lama tidak bertemu, oppa” gumam Jung. Yesung mengangguk.

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah menemukan suami yang baik? Oh tunggu! Sepertinya bayi tadi adalah anakmu kan? Setahun lalu aku mendengar kabar kalau kau akan segera menikah” ucap Yesung panjang lebar dikarenakan kesalahtingkahannya.

“Maksud oppa, Junho? Junho itu anak dari temanku. Aku sendiri belum menikah dan sekarang tidak memiliki hubungan apapun dengan namja lain. Oppa tahu kan apa alasan dibalik itu semua?!”

Yesung menghentikan langkahnya “Kenapa kau masih tidak bisa berubah, Park Jungnam? Harusnya kau sudah hidup bahagia bersama namja yang kau cintai”

“Tapi oppa tahu kan siapa satu-satunya namja yang paling aku cintai. Aku sudah pernah bilang, tidak akan menikah dengan pria lain selain oppa”

“Berhentilah, Junga. Keputusanku juga tidak akan pernah berubah” Yesung tak melanjutkan jalannya dan memilih kembali keluar.

Jung hanya dapat terdiam di tempatnya. Perlahan ia mengingat ucapan Yesung 4 tahun lalu “Aku tidak akan pernah menikahmu, Park Jungnam. Aku bukan pria yang hanya ingin bersantai-santai sambil menikmati uang keluarga istrinya. Aku tidak ingin siapun menyebutku seperti itu. Bagaimanapun aku adalah laki-laki, dan aku punya harga diri sebagai laki-laki. Carilah pria yang sepadan denganmu. Begitupun denganku yang akan mencari yeoja yang sepadan denganku”

~*~

            Sekitar setengah jam lagi, Kyungsoo akan tampil. Ia punya kebiasaan untuk menyendiri sebelum tampil di atas panggung. Ia semacam bermeditasi di dalam pikirannya.

Kyungsoo berniat untuk menuju ke rooftop sekolah yang sudah biasa menjadi tempat untuk dirinya menyendiri. Ia berjalan melewati samping gedung utama karena koridor tengah penuh sesak oleh pengunjung festival.

Tiba-tiba seorang yeoja berambut lurus panjang menghentikan langkah Kyungsoo “Tolong terima surat ini, sunbae”

Kyungsoo mengambil surat itu sambil menatap si yeoja. Tepat setelah Kyungsoo mengambil surat itu, si yeoja pun pergi.

Kyungsoo itu terlalu berniat untuk membaca surat itu. Maklumlah sudah sering dapat surat cinta. Kyungsoo memilih mengantongkan surat itu.

~*~

            Festival telah usai sejak beberapa hari lalu. Dunia Kyungsoo menjadi amat tenang. Karena penampilan pada festival itu adalah penampilan terakhir seorang Do Kyungsoo sebagai siswa EXO High School.

Saat ini, Kyungsoo tengah menghabiskan jam istirahatnya di rooftop seperti biasa. Ia berniat mengambil Hpnya, tapi sebuah benda lain juga keluar dari saku bajunya. Benda itu adalah surat yang tempo hari diterimanya.

Iseng, Kyungsoo membuka surat itu “To Do Kyungsoo sunbaenim. Sunbae aku menyadari kalau kau berbeda dengan sunbae yang lain. Kau punya karisma yang selalu kau pertahankan. Aku tahu mendekatimu adalah hal yang sangat mustahil, tapi setidaknya, aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Aku selalu memperhatikanmu setiap latihan. Kau begitu menganggumkan. Aku sangat menyukaimu, sunbae. From Kim Namjoo”

Seperti biasa, Kyungsoo tak bereskpresi apapun saat membaca surat itu. Ia kembali melipat surat itu lalu mengantonginya.

“Hey, Do Kyungsoo!” Kyungsoo bangkit dari duduknya. Suara itu berasal dari seorang Lee Jieun “Walau duet kita telah berakhir, tidak semestinya kau memutuskan semua kontak kita begitu saja” Protes Jieun.

“Apa maumu?” tanya Kyungsoo langsung. Ia bisa menebak kalau Jieun pasti punya sesuatu yang penting sampai dia menemui Kyungsoo seperti ini.

“Kau sangat menakutkan, Do Kyungsoo. Aku hanya mencoba untuk berbasa-basi. Berbasa-basi itu sama sekali tidak salah”Kyungsoo kembali tidak merespon. Jieun menghela nafasnya lalu menatap lurus ke arah Kyungsoo “Ada temanku yang bilang kalau dia bertemu dengan Jung Eunji…”

Seketika Kyungsoo menatap Jieun dengan penuh tanya. Walau ia masih tetap tak bersuara.

“Dan kau tahu apa yang terjadi pada Eunji? Dia hamil” Lanjut Jieun, membuat ekspresi Kyungsoo yang selalu datar kini benar-benar berubah. Keterkejutannya sangat terlihat.

“Inilah yang kupertanyakan. Entah itu de ja vu atau memang benar. Eunji mulai berubah setelah hari dimana kalian latihan bersama di rumahmu. Awalnya semua orang iri pada Eunji, begitupun denganku. Tapi setelah mengetahui kabar ini. Bagiku kau hanya bajingan rendahan!” Jieun menekan kata diakhirnya kalimatnya.

Kyungsoo mulai tersulut emosi “Sebaiknya orang luar tidak perlu terlalu sok. Kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya”

“Karena aku tidak tahu makanya aku berkata seperti ini. Apapun yang terjadi, kau tetaplah serigala berbulu domba. Pemakan kemurnian seseorang!” Cibir Jieun dengan lidah pedasnya. Sontak saja Kyungsoo mendorong Jieun ke tembok, dan mengunci Jieun dengan lengan kanannya.

Tatapan kemarahan terpancar dengan jelas di mata Kyungsoo. Angin yang bertiupan kencang di sekitar mereka tak dapat meredakan situasi menegangkan ini.

“Apa maumu? Hah!” Jieun masih tetap melawan. Napas Kyungsoo memburu, ia mencoba untuk mengendalikan emosinya, tapi Jieun sudah terlalu kelewatan selama ini. Kyungsoo mendekatkan wajahnya dengan wajah Jieun lalu berbisik dengan penuh penekanan “Aku akan menghancurkanmu dan keluargamu jika kau masih berani bicara setelah ini!”

“Sunbae!” Kyungsoo dan Jieun refleks mencari asal sumber suara. Seorang yeoja berambut lurus panjang menatap mereka dengan tatapan kaget sekaligus jijik.

“Dia pasti sudah salah paham” gumam Jieun. Yeoja itu berlari meninggalkan rooftop. Jieun juga meninggalkan Kyungsoo dengan badan yang gemetar, sebab Do Kyungsoo tak akan pernah main-main dengan ancamannya.

Kyungsoo menatap langit biru “Sepertinya aku pernah melihat yeoja tadi”

~*~

            Kyungsoo tidak langsung pulang hari ini, masalah datang bersamaan di waktu yang tidak tepat. Ia merasa harus menenangkan pikirannya di rooftop tempatnya biasa. Kyungsoo berbaring di bangku panjang yang ada di rooftop sambil menatap langit biru.

Seorang yeoja berdiri di samping Kyungsoo membuat Kyungsoo tak mendapat cahaya matahari secara langsung. Kyungsoo mendudukkan dirinya sambil menatap yeoja itu, datar.

“Tumben ada Kyungsoo sunbae. Aku selalu kesini setiap pulang sekolah untuk latihan karena aku merasa latihan di tempat latihan club itu sangat tidak efektif. Jadi, jangan berani mengusirku, karena harusnya jam segini, rooftop adalah milikku” Tanpa menunggu balasan dari Kyungsoo, yeoja itu terlebih dahulu memasangkan headshet untuk dirinya.

“Jangan menatapku dengan yadong seperti hari saat sunbae mencium Jieun sunbae, yah?! Aku benci orang-orang yang yadong” Tambah yeoja itu.

Kyungsoo mengingat yeoja ini. Dia adalah yeoja yang memberikannya surat cinta dan yeoja yang salah paham mengira dirinya sedang berciuman dengan Jieun di rooftop. Dan kalau tidak salah, namanya adalah Kim Namjoo.

Yeoja itu memejamkan matanya lalu menari freestyle mengikuti alunan musik yang hanya bisa didengar oleh dirinya. Ia menari dengan lentur dan lembut. Perlahan Kyungsoo tak dapat mengalihkan pandangannya. Ekspresi lembut dan tenang dari yeoja itu seakan membuat hati Kyungsoo menjadi tenang. Pikiran dan hatinya tak dapat berbohong kalau Kyungsoo menganggumi yeoja itu di dalam hati kecilnya.

Yeoja itu mengakhiri dengan putaran pelan dan lembut. Ia membuka matanya dan mendapati Kyungsoo tengah menatapnya dalam “Jangan menatapku seperti itu, sunbae yadong!” Bentaknya.

Kyungsoo buru-buru menyadarkan dirinya “Kau salah paham” singkatnya. Yeoja itu menghela nafas tak percaya “Seseorang pernah bilang padaku, laki-laki itu tidak bisa dipercaya. Aku lebih baik bersama namja yang yadong asal dia mengakui keyadongannya, dibanding bersama namja yang kerjanya hanya bisa bohong”

“Aku bilang kau salah paham” Kyungsoo mengulangi kalimat yang sama dan kini dengan nada yang berbeda. Hal yang jarang terjadi pada Kyungsoo. Membalas ucapan orang yang tidak akrab dengannya pada saat yang tidak kritis.

Yeoja itu menggeleng “Tidak percaya!” Yeoja itu lalu duduk di samping Kyungsoo “Tapi sunbae, tumben sepulang sekolah kau ada disini. Ada masalah yah?”

“Yah, sedikit” Pertama kalinya Kyungsoo menunjukkan keterbukaannya pada orang yang baru beberapa kali bertemu dengannya.

Yeoja itu menepuk bahu Kyungsoo tanpa ragu-ragu “Masalah itu biasa, sunbae. Aku saja yang masih kelas satu, penuh dengan permasalahan pelik. Disaat seperti ini, sunbae harus menceritakan semua kecemasan sunbae pada orang lain. Itu adalah obat yang paling mujarab menyembuhkan masalah batin”

Yeoja itu masih tak berhenti bicara. Seakan mengguri Kyungsoo.  Tapi itulah yang membuat Kyungsoo bingung “Bagaimana bisa dia bertindak sesantai ini disaat dia pernah memberikanku surat cinta. Dia itu lupa atau apa?”

~*~

            Lagi-lagi, Kyungsoo tidak pulang bersama Chanyeol. Tapi kali ini bukan karena dia ingin menghabiskan waktu di rooftop, melainkan ia harus menemui ibunya setelah mendapat panggilan.

Sebuah limo putih telah menunggu di depan gerbang EXO High School. Si supir membuka pintu untuk Kyungsoo. Kyungsoo pun memasuki limo itu.

Mereka tiba di sebuah rumah yang amat besar bergaya klasik eropa yang terlihat sesuai dengan kamar milik Kyungsoo. Kyungsoo menyusuri koridor rumah mewahnya itu. Langkahnya terhenti pada sebuah pintu besar di ujung koridor.

Kyungsoo memasuki ruangan itu. Seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun duduk di sofa menunggu Kyungsoo. Segera saja Kyungsoo ikut duduk tanpa dipersilahkan “Apa yang ingin eomma katakan?”

Wanita yang ternyata eomma Kyungsoo itu meletakkan cangkir teh yang ada di tangannya lalu menjawab pertanyaan anak laki-lakinya itu “Eomma ingin mengatur kencan untukmu”

Kyungsoo berdelik malas “Apa sekarang eomma sudah menjadi ibu-ibu konglomerat yang suka menjodohkan anaknya?”

“Bukan begitu maksud eomma. Eomma hanya khawatir, karena diantara semua temanmu, hanya kau saja yang tidak pernah terlibat dalam kisah cinta. Bukankah aneh jika anak muda seusiamu tidak menyukai lawan jenis”

“Aku mengerti maksud eomma. Tapi eomma tidak mengharapkan apa-apa kan? Karena aku tidak akan berjanji bisa menerima pilihan eomma”

“Seorang Do Kyungsoo memang cerdas. Tak perlu dijelaskan panjang lebar, tapi sudah mengerti. Eomma hanya ingin kau bertemu dengan yeoja itu. Lagipula dia masih kelas satu kok. Sekolah di EXO High School juga. Mungkin kalian pernah bertemu, mungkin juga tidak”

“Dia anak siapa?”

“Anaknya Nyonya Park Suhyung, salah satu ketua dewan sekolah juga. Kalau tidak salah namanya Joy Park”

“Baiklah. Nanti eomma hubungi aku untuk kabar selanjutnya”

~*~

            Malam minggu ini, Jongin memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Soojung. Ia mengajak Soojung untuk candle light diner. Semua orang mendukung Jongin untuk menyatakan perasaannya, karena menurut mereka, memang Soojunglah yang Jongin butuhkan.

Jongin benar-benar berubah. Ia tidak lagi yadong seperti dulu. Ia juga mulai memperhatikan pelajarannya. Dan kamarnya yang dulu seperti kandang ayam kini tidak lagi. Ia membersihkannya setiap hari, kalau-kalau Soojung datang tiba-tiba.

Jongin mengambil tempat di rooftop salah satu restoran milik keluarganya. Rooftop itu telah dihiasi lilin dengan beberapa taburan bunga mawar di sekelilingnya. Jongin menatap Soojung bahagia saat ia menunjukkan hasil kerja kerasnya. Soojung amat terkejut melihat semua itu. Ia mencoba untuk tersenyum walau pada kenyataannya ia tidak ingin tersenyum.

Jongin baru saja ingin memanggil pelayan sebelum Soojung menghentikannya “Aku sudah bisa menebak apa yang ada di dalam pikiranmu, Jongin” ucap Soojung dengan tatapan yang sendu.

Jongin bingung bukan main melihat Soojung “Ke-kenapa, Soojunga? Apa kau tidak suka?”

“Bukan. Aku sangat menyukai semua ini. Tapi…”

~*~

            Kyungsoo baru saja tiba di restoran tempat dirinya akan bertemu dengan Joy Park, kencan butanya. Salah seorang pelayan mengantar Kyungsoo ke meja itu.

Tibalah Kyungsoo di meja itu. Ia terkejut, bukan hanya dirinya tapi yeoja bernama Joy Park yang telah lebih dulu duduk di salah satu kursi itu pun juga ikut terkejut.

“Kyungsoo sunbae, kenapa kau yang ada disini?”

“Dia Kim Namjoo, bukan? Tapi kenapa namanya Joy Park?”

~*~

            Jung yang merasa sumpek di rumah mengajak adik-adiknya untuk berjalan-jalan ke amusement park.

Tepat setelah mereka sampai, semua langsung berpencar. Sehun berlari-larian untuk segera memainkan setiap wahana. Begitupun dengan Chanyeol. Bahkan Jung pun juga seperti itu. Alhasil tersisa Suho, Junho dan kedua namja yang sejak tadi tidak bersemangat, Kyungsoo dan Jongin.

Mereka duduk di salah satu bangku. Junho dan Suho duduk di bangku bagian kanan, sementara Kyungsoo dan Jongin duduk di bangku bagian kiri.

Udara mulai agak memanas. Semua tampak kehausan. Suho memilih untuk membeli air “Kyungsoo, Jongin! Kalian jaga Junho dulu yah” Kyungsoo mengangguk tanpa menatap Suho.

Suho pun pergi. Tersisa dua namja yang terus saja asyik dalam pikiran mereka. Ekspresi kedua namja itu benar-benar sulit ditebak. Kyungsoo memang pendiam tapi dia tidak pernah berekspresi layaknya orang yang sedang kalut. Sementara Jongin yang aktif terlihat jauh lebih aneh.

Tidak berselang lama, Suho kembali “Kyungsoo! Jongin! Mana Junho?” tanya Suho sambil melirik ke sekeliling. Kedua namja itu masih tidak menjawab.

“Do Kyungsoo! Kim Jongin!” Teriak Suho, kalap. Barulah kedua orang itu tersadar “Ada apa sih, hyung?” tanya Jongin, malas.

“Ada apa, kau bilang?! Harusnya aku yang tanya, mana Junho?”

Kyungsoo refleks melirik ke sekeliling. Nihil. Ia terlalu fokus melamun sampai tidak melihat kemana Junho.

“Jangan bilang Junho hilang~”

TBC

Selesai juga… Ngebikin chap ini butuh waktu yang sangat lama.

Tapi author ngerasa ceritanya udah makin melenceng yah hhehe. Pokoknya yang merasa ga kuat bisa lari sekarang juga, tapi yang merasa masih bisa bertahan, comment, please~

Mungkin setelah chap ini, daddy and baby tidak akan bisa di post setiap hari minggu lagi, soalnya bentar lagi author mau ulangan semester, jadi harus belajar dulu.

34 thoughts on “Daddy & Baby[Chapter 3]

  1. Kirain Sica, ternyata kakaknya Chanyeol
    Kai di tolak Krystal ya? Kasian….
    Aku bingung sama surat itu
    Yang ngasih kan si SOYjoy, kok nama yang tercantum disana Kim namjoo
    Apa si namjoo nitip ntu surat sama si iJOy?
    #kokguejadikeposih

    Eunji udah hamil
    Lha, si jiyi kapan?
    Trus nanti kalok soyu hamil, ntu anak siapa?
    Pan ntu nenek-nenek ngelakuin ‘itu’ ama Kai & Sehun #yangjelasbukananakgue

    Ok, gue makin penasaran
    Good job thor!
    Keep writing

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s