At Least I Still With You

poster

Fanfic / OneShoot / Romance – Friendship / General / Chen – Neil(OC)

Untuk memiliki hati seseorang tidak harus menjadi kekasihnya bukan?

.

.

Mereka bilang posisi perempuan itu lebih beruntung. Kenapa? Karena mereka hanya tinggal menunggu lelaki yang mengejarnya. Berbeda dengan lelaki yang harus berjuang untuk menyatakan cinta pada perempuan yang mereka sukai, belum lagi jika ada lelaki lain yang juga mencitai perempuan itu.

Sekarang pertanyaannya? Apa yang bisa perempuan lakukan jika mereka yang mencintai lelaki itu tapi lelaki tidak menyadarinya? Haruskah perempuan juga melakukan pengejaran?

“Jangan, perempuan yang maju terlebih dahulu kadang memiliki nilai negative di mata lelaki,” itu jawaban Jongdae beberapa waktu lalu saat Neil bertanya padanya tentang opini perempuan yang menyatakan cinta terlebih dahulu.

Sekarang kalian tahu bukan? Posisi perempuan adalah posisi yang paling serba salah. Terlebih jika kalian seperti Neil, mencintai lelaki yang tidak menyadari perasaannya. Melangkah lebih maju? Neil takut lelaki itu hanya akan mundur perlahan.

Lalu apa yang harus Neil lakukan? Membiarkan perasaan ini dan membiarkan perempuan lain mengisi ruang kosong lelaki itu? Neil mengutuk perasaanya sendiri. Perasaan yang seharusnya memang tidak boleh hadir. Tidak, dia dan Jongdae adalah sahabat, apa yang bisa dia lakukan dengan perasaan ini.

Tempo hari Neil harus menahan rasa cemburu dan takutnya saat Jongdae dengan semangat menceritakan tentang murid pindahan yang menurutnya sangat imut. Jongdae bilang dia akan mendekati perempuan itu dan meminta pendapat Neil bagaimana cara mendekatinya.

Tapi dengan nafas berat Neil melarangnya. “Jangan dulu Jongdae, kau belum tahu dia seperti apa. Dan kau baru putus. Jangan jadikan perempuan lain pelarian.” Itu alasan Neil. Yang sebenarnya dia belum siap menyaksikan Jongdae bersama perempuan lain.

“Ah kau benar, murid baru itu memang terlalu mirip dengan Sunyeong,” ucap Jongdae lemas.

“Betulkan, kau masih dibawah bayang – bayang mantanmu, istirahatkan dulu hatimu..” tambah Neil yang disetujui dengan anggukan Jongdae.

Sekarang kasus anak baru itu sudah tidak pernah Jongdae ungkit lagi. Tapi Neil tidak tahu, perempuan mana lagi yang besok akan mengetuk hati sahabatnya ini. Membuat Jongdae tersipu dan membuat Neil harus mendengar ceritanya berjam – jam, berujung dengan pernyataan “Sepertinya aku jatuh cinta Neil-ah

Yang sekali lagi akan Neil bantah. “Bukan, kau hanya belum terbiasa sendiri,”

Dan Jongdae setuju.

Tapi sampai kapan Neil bisa menggunakan alasan itu, alasan yang suatu saat mungkin sudah tidak akan beguna karena memang hati temannya butuh seseorang yang mengisi kekosongan. Jika hati Jongdae membutuhkan penghuni, lalu bagaimana dengan hati Neil?

Tidak bisakah sahabat menjadi sepasang kekasih?

“Jongdae kau tahu, aku menyayangimu,” pernah sekali Neil nekat mengatakan hal itu pada Jongdae.

Jongdae terdiam kemudian dengan senyuman dia mengusap lembut kepala Neil. “Aku tahu bodoh, aku juga menyayangimu. Kalau kita tidak saling menyayangi tidak mungkin persahabatan ini sampai angka 5,”

Hari itu hati Neil harus kecewa lagi. Ya, Jongdae memang sepenuhnya menganggap Neil sebagai sahabat. Apa yang bisa dia lakukan? Hari itu Neil hanya menimpali tawa Jongdae dan mengangguk setuju.

Setuju bahwa mereka adalah sepasang sahabat yang saling menyayangi.

Tapi Neil sakit saat mengetahui Jongdae dan Sunyeong menjadi sepasang kekasih. Neil kenal betul dengan Sunyeong, mereka sempat satu kelas dan dia memang perempuan yang baik. Tapi tetap saja, semua itu tidak bisa menguburnya dalam rasa cemburu.

“Selamat ya, untuk kalian berdua..” ucap Neil dihari Jongdae mengumumkan bahwa dia dan Sunyeong menjadi sepasang kekasih. Hari itu kisah Jongdae dan Sunyeong dimulai. Dimana secara perlahan Neil harus menepi.

Tapi tidak lama Jongdae kembali menghampirinya menceritakan semua yang terjadi. “Sunyeong pindah, orang tuanya harus pindah tempat kerja,”

“Lalu kalian?”

“Putus, Sunyeong tidak bisa dengan hubungan jarak jauh,”

Hari itu setelah sekian lama, Neil memberanikan diri untuk memeluk sahabatnya dan memberikan tepukan halus pada punggung Jongdae. Pelukan yang memberikan Jongdae satu rasa nyaman dari rasa sakitnya dan satu pelukan yang menimbulkan desiran baru untuk Neil. “Kau akan menemukan yang lebih baik dari Sunyeong,”

Hari – hari Jongdae Neil kembali setelah kepergian Sunyeong. Menghabiskan sore hari dirumah Neil, mencari makan sampai tengah malam, pergi ke bioskop. Semua hal – hal yang menurut Neil hanya akan dilakukan oleh sepasang kekasih. Tapi mereka hanya sahabat.

Neil sudah bermimpi terlalu jauh. Dia menikmati hari – harinya bersama Jongdae dan dia tidak ingin perempuan lain menepikannya lagi. Tidak Sunyeong, tidak juga dengan murid baru itu.

Hari ini ditengah rintik hujan Neil memandangi ponsel yang sudah hampir dua jam dia genggam tanpa melakukan apapun. Semua sudah terencana dalam otaknya tapi dia masih ragu untuk melakukan hal itu. Ragu dan takut jika semua ini akan merubah cerita dia secara sepenuhnya.

Tapi, siapa tahu.

Beranjak dari tempat tidur menghampiri jendela yang penuh dengan tetesan air hujan, Neil membuat satu panggilan pada nama yang sudah sejak tadi dia temukan.

“Kenapa?” Tanya suara dari sebrang sana saat panggilan tersambung.

“Kau sedang apa?” Tanya Neil.

“Aku? Menonton TV, ini membosankan Neil-ah tidak ada siapapun dirumahku,”

Neil meremas ujung rok-nya gugup. “Sama, dari tadi aku hanya diam dikamar,”

“Apa tandanya kau bosan?”

“Ehm..” jawab Neil. “Kau kesini atau aku kesana?” Tanya Neil menanggapi pertanyaan Jongdae.

“Jangan, bagaimana kalau kita keluar saja. Mencari sesuatu yang mengenyangkan. Tapi tunggu hujan sedikit reda, aku jemput dengan motorku,”

“Motor? Jangan, bekas hujan tidak akan langsung kering. Kita naik bis saja.”

ooh gadis ini perhatian sekali, cepat kau cari pacar, haha baiklah.. jam berapa?”

Neil getir mendengar kalimat Jongdae. “Satu jam lagi, dimana? Tempat biasa?”

“Oke satu jam lagi kita bertemu disana,”

Dan sambungan ditutup.

“Ya, satu jam lagi Neil,” ucap Neil pada dirinya sendiri.

Neil mengusap uap air hujan dijendelanya dengan tangan bergetar kemudian menghembuskan nafas berat. “Semuanya akan baik – baik saja bukan?”

Ya, semuanya akan baik – baik saja. Setelah Neil mengatakan dia menyayangi Jongdae beberapa waktu lalu Jongdae tidak menyikapinya berlebih atau membuat hubungan mereka merenggang. Itu menenangkan.

Atau ketika Neil meminta bantuan Jongdae untuk menemaninya ke acara ulang tahun temannya, Jongdae biasa – biasa saja meski teman – teman Neil terus meledeki mereka. “Apa kami cocok kalau jadi sepasang kekasih?” lelucon Jongdae yang mengundang teriakan dari beberapa teman. Lelucon yang Jongdae ucapkan dengan senyuman tapi Neil harus menahannya dengan tangan bergetar.

Jongdae sepenuhnya yang Neil inginkan.

“Kau telat 10 menit,” ucap Jongdae saat Neil mengambil tempat duduk didepannya.

“Lebih baik lelaki yang menunggu dari pada perempuan bukan?” canda Neil yang dijawab anggukan Jongdae.

Jongdae mengangkat tangannya kearah pelayang café, tidak lama datang seorang pelayan dengan nampan ditangannya. Dua buah gelas diletakan diatas meja kami. Ini alasan mengapa Neil sangat menginginkan Jongdae. Tidak ada orang lain yang lebih mengenal dirinya selain Jongdae begitu pula sebaliknya. Neil adalah orang nomor satu yang tahu segalanya tentang Jongdae, segalanya.

Hanya Neil yang tahu bahwa ibu jongdae yang sekarang bukan ibu kandungnya. Hanya Neil yang tahu bahwa Jongdae memiliki adik tiri, hanya Neil yang tahu bahwa Jongdae menerima ibu tirinya karena Jongae mengerti posisi ayahnya.

Neil tahu semua tentang Jongdae.

“Kemarin aku bertemu BaekHyun,” ucap Jongdae membuka percakapan.

“BaekHyun?”

“Ehm, anak kelas vocal sama denganku,”

“Lalu?”

“Dia banyak bertanya tentangmu, mau aku kenalkan?” lanjut Jongdae yang otomatis menghentikan pergerakan Neil.

Ada orang lain menginginkannya? Tapi dia hanya menginginkan Jongdae. Neil terdiam, menatap Jongdae kemudian beralih menatap gelasnya, lalu menggeleng pelan.

“Kenapa? Sudah waktunya kau punya pacar,”

“Aku tahu,”

“Lalu?”

“Aku mencintai seseorang,” ucap Neil yakin sambil menatap Jongdae.

Jongdae terdiam dia juga menatap Neil yang membuat mereka saling bertukar pandang untuk beberapa detik. “Ceritakan padaku,”

“Aku mengenalnya sudah lama, aku tahu tentang dia, dia juga banyak tahu tentangku,”

“Apa aku mengenalnya?” Tanya Jongdae yang dijawab anggukan Neil. Satu anggukan yang membuat Jongdae menyelami setiap memorinya mencari lelaki yang dekat dengan Neil.

“Aku merasa nyaman bersamanya, aku sakit melihat dia dengan perempuan lain, aku bahagia saat dia putus dengan pacarnya,” Neil menarik nafas ditengah kalimatnya. “Keluarganya mengenalku, mereka menerimaku. Dia selalu ada untuku, begitu juga aku, bukankah kami cocok..”

Neil terdiam, Jongdae terdiam.

“Kau mencintainya” ucap Jongdae.

“sangat, aku sangat mencintainya,”

“Siapa dia?”

Neil kembali terdiam. Dia meremas ujung cardigan yang dia gunakan. Dia ragu, tapi Neil sudah tidak bisa mundur. Mengangkat pandangannyan, Neil menatap Jongdae yakin. “Maafkan aku Jongdae, tapi aku mencintaimu..”

Diam.

Kembali tediam.

Dan tetap diam.

Untuk sepuluh menit mereka tetap terdiam. Jongdae menatap gelas didepannya dan Neil tertunduk, fikirannya berkecamuh dengan apa yang akan Jongdae lakukan, tapi setengah hatinya lega telah menyampaikan perasaannya.

“Kau tahu Neil,” ucap Jongdae memecah kediaman sambil menatap Neil. “Tantangan terbesar ketika kau menjalin persahabatan dengan lawan jenis? Perasaan seperti ini,” Jongdae membuang nafas berat.

“Aku sempat mengkhawatirkan kondisi ini. Takut, tiba – tiba aku jatuh atau kau yang terjatuh. Aku sangat berharap kita akan menjadi sepasang sahabat yang saling memiliki. Kau tahu, ini lebih berharga dengan sepasang kekasih.”

“Kau dan aku sudah sangat saling mengenal satu sama lain, ya. Neil-ah jangan kalah dengan perasaan ini, satu yang harus kau ingat aku menyayanimu seperti aku menyayangi adiku, seperti aku menyayangi ibuku disurga, rasa sayang tanpa batas dan tidak butuh timbal balik. Aku bahkan akan memilihmu dari pada perempuan lain diluar sana. Kau sama pentingnya buatku Neil­-ah..

Neil masih terdiam. Tapi bening Kristal mulai mengalir dari ujung matanya. Dia tahu semua itu, dia tahu betapa Jongdae menganggapnya sangat penting. Apa dia telah mengotori persahabatan mereka? Apa sekarang Jongdae kecewa padanya? Dalam hati kecilnya, Neil merasa telah mengkhianati apa yang telah mereka jaga selama lima tahun terakhir ini.

“Baiklah, aku antar kau pulang sekarang. Aku tahu perasaanmu sedang tidak baik, aku mengerti kau juga perempuan,”

Jongdae bangkit dari duduknya. “Ayo,”

Tanpa banyak kata Neil bangkit dari duduknya mengikuti langkah Jongdae. Mereka melangkah dalam diam. Biasanya saat berjalan bersama seperti ini Jongdae ataupun Neil akan saling bertukar canda, tapi kali ini tidak. Melangkah terpaut jarak dan hanyut dalam sunyi.

Mereka berhenti didepan halte bus, kembali menunggu dalam diam. Saat Bus berhenti, Jongdae berdiri kemudian memberikan gesture dengan kepala pada Neil untuk naik. Melihat itu, Neil mengikuti tanpa protes. Tapi sampai di pintu Bis Jongdae tidak ikut dengannya, ini aneh, karena rumah mereka yang searah ditambah dari manapun mereka Jongdae selalu pulang megnantarkan Neil. Apa dia sungguh marah?

“Kau tidak pulang?” Tanya Neil memberanikan diri.

Jongdae menggeleng sambil tersenyum. “Untuk hari ini ada baiknya aku menjaga jarak dulu darimu, pulanglah..” ucap Jongdae sambil tersenyum.

Jawaban yang membuat Neil kembali merasakan rasa bersalah. Untuk pertama kalinya dia menerima penolakan seperti ini dari Jongdae. Hati kecilnya sakit tidak bisa memiliki Jongdae, tapi lebih sakit lagi ketika dia menjaga jarak seperti ini.

“Baiklah,” jawba Neil pelan kemudian melangkah menuju kursi paling belakang. Sekali lagi Neil memandang Jongdae yang masih berdiri disana, tapi ketika mata mereka bertemu dengan segera Jongdae mengalihkan pandangan membuat Neil semakin bersalah.

Bis melaju dan saat itu juga air mata Neil bergulir. “Aku salah..”

Memori Neil kembali memutar ingatan hari dimana Jongdae merespon pertanyaannya, “Jangan, perempuan yang maju terlebih dahulu kadang memiliki nilai negative di mata lelaki,” apa sekarang dimata Jongdae Neil sudah tidak seperti dulu lagi?

Sekali lagi penyesalan akan keputusan bodoh menyapu benak Neil. Diraihnya handphone yang terkubur didalam tas kecilnya, kemudian dengan cepat mengetikan satu pesan.

To : JongKim

Maafkan aku,

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Balasan dari Jongdae tidak pernah menyambangi handphonenya.

.

.

Senin, pagi menyambut, matahari masih bersinar seperti biasa, Ibu Neil masih berteriak untuk membangunkannya seperti biasa dan Neil masih bangun dengan malas seperti biasanya. Tapi ada satu perasaan khawatir menyambanginya.

Apa Jongdae masih marah? Apa Jongdae akan mendiamkannya hari ini? Apa yang harus dia lakukan? Pertanyaan itu berkecamuk dalam hati Neil. Dari semalam dia terus memegangi handphonenya jaga – jaga Jongdae menelfonnya, tapi jangankan menelfon, pesan sore yang kirim Neil pun tidak dia balas. Dengan ini Neil mengambil kesimpulan terburuk, Jongdae menjauhinya.

Neil selesai berganti baju dan turun dari kamarnya menuju ruang makan. Disana sudah ada ibu, ayah dan adiknya yang tengah menikmati sarapan. Belum ada Jongdae, karena biasanya dia selalu ikut sarapan bersama.

“Jongdae?” Tanya Neil saat dia mencapai kursinya.

“Belum datang,” jawab Neji –adiknya, sambil menggeleng.

Dan sarapan pagi itupun berlalu tanpa Jongdae bersama mereka, bertambah resah perasaan Neil. Jadi? Hari ini Neil harus naik Bis? Ini tidak biasa, karena dengan Jongdae ikut sarapan dirumahnya, mereka akan berangkat sekolah bersama menggunakan motor Jongdae.

“Aku berangkat,”

“Jongdae?” Tanya Ibu, “Dia tidak menjemputmu?”

“Tidak ada kabar,” jawab Neil.

“Kalian bertengkar?” kali ini Tanya Ayah Neil.

“Hanya sedikit salah paham, ya sudah aku berangkat soalnya aku harus na-”

Tiiiiiit, Tiiiiiit.

Belum selesai Neil dengan kalimatnya, satu suara menginterupsinya. Suara yang Neil kenal, Klakson motor Jongdae. Mendengar itu dengan segera jantung Neil berdegup lebih cepat, tangannya bergetar. Jongdae tidak marah? Fikir Neil.

“Itu suara motor Jongdae Hyung,” ucap Neji yang aku jawab dengan anggukan.

“Aku berangkat,” ucapk Neil sambil membuka pintu kemudian dengan langkah cepat – cepat membuka gerbang pintu rumahnya. Disana, ditepi jalan sudah ada Jongdae dengan sepeda motor merah lengkap dengan helm kuning milik Neil yang sering dia bawa.

Neil ragu melangkah mendekat, dia masih takut dan dia masih beranggapan bahwa Jongdae marah padanya.

“Cepat, nanti kita terjebak macet,” ucap Jongdae sambil berbalik.

“Ah iya,” ucap Neil sambil berlari kearah motor, mengambil helm yang Jongdae berikan kemudian duduk dan Jongdae dengan segera melajukan motornya.

Mereka kembali terdiam dan Neil tidak nyaman dengan mereka terus seperti ini. “Jongdae-ya

“Ehm..”

“Aku minta maaf..”

Ada Jeda, hanya suara deru mesin yang terdengar diantara mereka. “Jangan dibahas lagi ok, aku sudah melupakan hal yang terjadi kemarin dan menganggap seakan tidak terjadi apapun,”

“Tapi aku minta maaf,”

“Kau tidak perlu minta maaf Neil-ah, ini bukan salahmu… aku mengerti,”

“Bisa kita seperti biasa lagi?”

“Memang sekarang kita seperti apa?”

“Aku merasa kau seperti orang asing,”

“Itu perasaanmu saja, aku masih tetap sama..”

“Baiklah,” ucap Neil sambil membuang nafas berat.

“Ingat Neil-ah kau lebih berharga dari deretan perempuan yang pernah bersamaku. Kau perempuan ketiga yang penting dalam hidupku setelah adik dan ibuku. Kau tahu? Aku ingin kau menganggapku sebagai bagian terpenting dalam hidupmu. Dan itu tidak harus menjadi sepasang kekaish bukan? Aku sudah sangat nyaman denganmu seperti ini, dan aku tidak mau semua berubah hanya karena perasaan cinta sesaat, percayalah, kita sudah lebih dari sepasang kekasih. Kita saudara Neil,”

Jongdae mengeluarkan rentetetan kalimat yang seketika membuat air mata Neil kembali menetes. Dia mengangguk untuk kalimat Jongdae kemudian mendekap punggung Jongdae dengan erat. “Maafkan aku,”

“Sudahlah, kita lupakan semua itu Oke,”

“Ehm,” jawab Neil lagi sambil mengangguk. “Tapi Jongdae boleh aku melakukan satu hal lagi sebelum hari kita sebagai saudara kembali dimulai?”

“Apa itu?”

“Aku mencintaimu Kim Jongdae,”

Jongdae menghembuskan nafas berat. “Baiklah, ini yang terakhir Neil-ah. Aku juga mencintaimu,”

Mendengar itu Neil memejamkan mata dan kembali mengingat kalimat yang Jongdae ucapkan tadi. Tentang posisi dia di hati Jongdae yang setara dengan Ibu dan Adiknya, ingat itu Neil.

Selanjutnya, mereka seperti Neil Jongdae biasanya. Perjalanan ke sekolah kembali dipenuhi dengan cerita dan tawa antara dua sahabat yang sudah terikat perasaan saudara. Neil memang salah, tidak harus menjadi kekasih untuk memiliki hati seseorang bukan.

Mereka sampai diparkiran sekolah. Jongdae menghentikan motornya, Neil turun kemudian melepas helm dan menyerahkannya pada Jongdae.

Mereka berjalan beriringan menuju kelas sambil terus bertukar cerita, sampai Neil mengingat tentang teman Jongdae yang menyukainya.

“Jongdae, kenalkan aku pada Baekhyun,” ucap Neil yang menghentikan langkah Jongdae.

“Kenapa?”

“Kau bilang dia menyukaiku,”

“lalu?”

“Biar aku punya pacar,”

“Tidak, tidak sekarang,” jawab Jongdae sambil melangkah.

“Kenapa?”

“Apa kau tidak ingat? Kau baru patah hati, kau ditolak seorang kim jongdae,” ucap Jongdae sambil tertawa dan sontak membuat Neil malu.

Seperti kata Neil, untuk memiliki hati seseoang tidak harus menjadi kekasih bukan? Ada banyak ikatan yang membuatmu akan menjadi orang paling berharga dalam hidup seseorang, salah satunya menjadi sahabat tempatnya bersandar.

.

.

-Kkeut.

p.s : ada yang pernah ngalamin hal kaya gini? ini cuma sepenggal kisah dari masa SMA-ku. Yakin deh, persahabatan itu hal yang paling penting buat kita jaga. Terlebih kalo kita sahabatan sama lawan jenis. Kalo kalian sahabatan sama cowo, yakin, mereka bakal jadi pelindung nomor 1 kita, dia bakal jadi Ayah kedua kita, jadi kakak, jadi adik. Aku cuma mau ngingetin, jangan sampai persahabatan kalian goyah cuma karena perasaan sesaat.

42 thoughts on “At Least I Still With You

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s