Devil (2/3)

Devil (2/3)

lk

Starring by :

LU HAN | SHIN NAOMI

Author :

Byun Deer Kookiary

Genre :

Romance ? and School life

Length :

ThreeShot

!! PG 17 !!

Before :

Teaser and Talk

Chapter 1

SORRY FOR TYPO ^_^

Let’s Start

-Author Pov-

Naomi melirik Lu Han yang masih asik mengikat sepatunya. Salah satu kaki gadis itu sengaja di hentak – hentakkan dengan skala kecil. Mulut mungilnya terus saja bergerak – gerak, seperti sedang membacakan mantra. Di dalam hatinya Naomi menggerutu, atau lebih tepatnya menyumpahi. Lihatlah pemuda itu sekarang, sudah ada kacamata bertengger di hidungnya. Baju yang semula berantakan telah ia masukkan dan oh, jangan lupa mimik wajahnya. Dia benar – benar setan yang bersembunyi di balik bulu domba. Apa aku salah ?

“apa yang kau lihat ?” tertangkap basah. Naomi buru – buru mengalihkan pandangannya keluar pintu apartment. Di dalam hati, gadis itu kembali menggerutu. Tau darimana pemuda itu kalau sedari tadi Naomi melirik kearahnya ? Heol, apa mungkin dia memiliki indra keenam ? menyeramkan.

Lu Han selesai mengikat tali sepatunya. Ia kemudian bangkit dan mendorong tubuh Naomi ke depan dengan pelan. Gadis itu terkejut ketika tangan Luhan menyentuh pinggangnya. Sontak Naomi memberi jarak antara dirinya dan juga Lu Han. “aku hanya ingin mengunci pintu apartment ku, jangan salah paham”

Naomi pura – pura tak mau peduli. Dengan langkah yang menurutnya sudah besar, Naomi berjalan menuju lift, diikuti dengan Lu Han di belakangnya. ‘sungguh pagi yang menyebalkan’

Naomi menatap lapangan sekolah. Kosong, seperti hari senin saja. Bukankah sekarang adalah jam olahraganya kelas 12 Ilmu Alam 1 ? astaga, mata Naomi terbelalak kaget ketika menyadari bahwasanya 12 Ilmu Alam 1 merupakan kelas Lu Han. Gadis itu merutuk dan lebih memilih memperhatikan guru—– eumm, Naomi sendiri tak tau siapa nama guru itu. Sepertinya dia guru baru. Masa bodoh jika ia guru baru atau bukan, yang Naomi perlukan adalah menang dari pemuda mesum itu. Ya, harus.

Baru 30 menit Naomi memperhatikan guru di depan kelas namun entah sudah berapa kali ia menguap. Naomi selalu berusaha tetap terjaga. Ia bahkan sudah mencubit pipi ataupun mencentil dahinya beberapa kali. Tapi tetap saja rasa kantuk itu datang kembali. Bosan bukanlah kata yang bisa menjelaskan keadaan Naomi sekarang. Mungkin tragedi bisa lebih mendekati.

Naomi mengetuk – ngetukkan jarinya di atas meja. Gadis itu kemudian ‘iseng’ melirik kearah lapangan dan wuahh~ tampaklah si mesum sedang duduk pada salah satu tiang dengan membaca buku yang judulnya entah apa. Naomi memutar bola matanya bosan, tapi tatapannya masih ditujukan pada si mesum. Jadi siapa yang munafik sekarang ? bukankah Naomi selalu merutuk dan kesal bahkan marah terhadap Lu Han ? Tapi kenapa sosok itu sekarang menjadi menarik ? ah, mungkin karena pelajaran yang diterangkan guru di depan benar – benar tragedi terburuk yang hadir dalam riwayat hidup Naomi. Alasan konyol, tapi itu memang kenyataan.

“jika bukan di sekolah, gadis itu pasti jadi mangsanya” omel Naomi ketika melihat Lu Han sedang di dekati oleh seorang gadis. Sepertinya gadis itu satu kelas dengan Lu Han, mengingat pakaian olah raga yang juga ia pakai. Ah, sudahlah. Lagian bukan masalah Naomi tentang siapa dan apa keperluan gadis itu dengan Lu Han. Yang Naomi butuhkan hanyalah kelemahan si mesum, sehingga ia bisa kabur. Ya, lebih simpelnya seperti itu.

Naomi mendengus pelan sebelum kembali memfokuskan pikirannya terhadap pelajaran yang ada di depan kelas. Bosan dan mengantuk memang. Tapi, tidak ada lagi hal menarik yang perlu dilihat atau dilakukan. Membuka ponsel untuk browsing internet mengenai berita terbaru MinHo hanya menambah list masalah yang terjadi didalam hidup gadis itu.

­—

Bel yang bebunyi dua kali secara berturut – turut menandakan bahwa waktu istirahat telah tiba. Para guru serentak keluar dari kelas yang diajarnya. Begitu pula dengan siswa – siswi yang ingin menghabiskan waktu istirahat sekedar untuk mengganjal perut yang sudah meronta, ataupun mengobrol dengan temannya yang berbeda kelas. Begitupula dengan Naomi. Bahkan gadis itu sangat memuja yang dinamakan jam istirahat. Setidaknya ia bisa mengistirahatkan otaknya yang selalu berpikir, kapan para guru itu akan berhenti mengoceh di depan kelas.

Naomi bangkit dari duduknya. Ia memutuskan untuk pergi ke kantin. Membeli makanan apapun yang menurutnya bisa menghilangkan rasa stress di otak. Namun sepertinya apa yang Naomi perkirakan tak semulus mobil baru milik tetangganya. Lihatlah. Si mesum sudah berdiri di depan kelas.

“apa yang ingin kau lakukan ?” Naomi sinis sekali menanggapi kehadiran Lu Han. Setelahnya, ia kembali melanjutkan langkah yang tertunda . mulut mungil itu menggerutu. Jika ini bukan sekolah, Naomi mungkin akan mengambil otak Luhan dan membawanya ke perempatan jalan sehingga bisa di ajak bermain lompat tali. Tidak berkaitan memang, namun rasa kesalnya benar –benar telah naik.

“berhenti, berbalik dan ikuti aku. Berani memberontak ? kupastikan kau tidak bisa berjalan besok pagi” secara tiba – tiba Luhan memegang lengan Naomi. Membisikkan beberapa suku kata mengerikan yang tentu saja membuat bulu kuduk Naomi meremang. Ughh, jangan lupakan seringaiannya itu. Untung saja lorong disana masih sepi lantaran para siswa banyak yang ke kantin. Jadi, besar persentase yang memungkinkan Naomi untuk kabur tidak lebih dari 7 persen. Miris sekali.

Luhan berbalik, meninggalkan Naomi yang masih terdiam dengan bisikan yang ia lontarkan. Setidaknya kali ini otak Naomi bekerja 2 kali lebih cepat. Sampai – sampai ia berlari untuk mengejar Luhan yang sebenarnya baru berjarak 4 meter. Well, apa yang Luhan katakan benar – benar jelas dan terstruktur. Naomi juga baru mengetahui, kalau Luhan bukanlah tipe pria yang suka main – main dengan ucapannya.

Tak berapa lama kemudian tampaklah sebuah pintu dengan debu di kedua sisinya. Naomi menatap ngeri pintu itu. Ia bahkan merasa ada hawa aneh yang terpancar dari dalam ruangan itu. Kepala Naomi bergerak reflek untuk menolak memasuki wilayah terlarang itu. “kau bercanda, bukan ?” mata Naomi menatap jahil kearah Luhan. Tidak sepenuhnya jahil. Ia hanya ingin memastikan kalau Luhan tidak akan menyuruhnya masuk ke dalam wilayah terlarang. Sebut saja wilayah terlarang itu dengan perpustakaan.

Luhan tersenyum…… manis ? bagaimana mungkin pemuda itu bisa tersenyum manis melihat wajah takut Naomi ? atau, apa mungkin kesenangan Lu Han adalah membuat sengsara Naomi ? BISA JADI.

“aku berani mempertaruhkan semua uang bulananku bahwa kau pasti tidak pernah masuk ke dalam perpustakaan ? benar ?” Bingo! Bahkan untuk mengetahui letaknya saja Naomi merasa enggan.

“Eo, kau benar. Lalu kenapa kau membawaku kesini ? waktu istirahat bahkan hanya tersisa setengah jam lagi dan aku belum memakan apapun. Alasan ? kurasa jika otakmu masih hidup, kau pasti tau kenapa perutku belum diisi.” Sungut Naomi dengan wajah yang benar – benar kesal.

Luhan terkekeh. “kita bahkan tidak belajar apapun tadi malam dan sekarang, aku ingin mengulanginya. Tidakkah kau berpikir bahwa seorang Luhan adalah pria yang baik ?”

“baik dalam hal menyengsarakan kehidupanku. Dan oh, lagipula kau tidak perlu repot – repot mengajarkanku. Karena a—–”

Naomi terpaksa menelan kembali semua protesnya yang ditujukan untuk Luhan, lantaran pemuda itu menariknya secara sepihak untuk masuk ke dalam perpustakaan. Disaster ? tragedy ? ini bahkan lebih mengerikan dari pada film boneka Annabelle yang diputar ayahnya 4 hari silam.

Setelah masuk, Luhan lantas berjalan menuju sudut perpustakaan. Kepalanya selalu menunduk ketika berselisih dengan penjaga perpus ataupun beberapa guru yang sedang mencari referensi untuk bahan ajarnya. Tangan itu masih saja menggenggam tangan Naomi.

“duduklah” Luhan mempersilahkan Naomi duduk di kursi yang di depannya telah tersedia meja dengan beberapa macam buku. Dan jika diterangkan, tiap buku memiliki ketebalan yang bervariasi. Sepertinya pemuda itu benar – benar ingin membuat Naomi menjadi orang gila.

“kau gila ?” Naomi menatap ngeri kearah Luhan. “kenapa kau serius sekali mengajarkanku ? bahkan guru tua itu tidak menggajimu” omel gadis itu, namun Luhan tak menanggapinya. Ia malah asik menandai beberapa bagian buku yang menurutnya merupakan hapalan penting yang harus tersemat di otak Naomi. Apapun yang terjadi, Naomi harus hapal semua itu. Harus. Walaupun pada akhirnya mereka berdua harus berakhir diatas ranjang. Baiklah, lupakan saja kalimat terakhir.

“hapal bagian yang berwarna biru. Aku akan mengujimu 5 menit lagi” Naomi ternganga. Perintah Luhan benar – benar kelewat batas. Jangankan 5 menit. 1 bulan saja ia belum tentu menguasai satu bab pelajaran fisika. Belum lagi kimia dan sepangkatnya.

“aku tidak mau. Kau pikir otakku seperti pria tua yang menemukan listrik itu ? dia bahkan memiliki IQ jauh diatasku.” Naomi menjauhkan kembali buku yang Luhan berikan.

“bukankah kau menyukai warna biru ? setidaknya kau akan mengingat beberapa bagian.”

“bagaimana jika aku tidak mengingat satupun ?” ancam Naomi.

Luhan menyeringai. Ia menutup buku berjudul ‘Rahasia para pengikut Olimpiade Matematika’. Jarak yang semula normal, sekarang menyusut. Wajah Luhan tepat berada di depan Naomi, dan mata jernih itu….. “disini bahkan lebih sepi daripada sudut ruangan sebuah klub malam. Ingin mengambil resiko ?”

Naomi tergagap. Matanya berusaha mencari objek lain untuk dilihat. Apapun, asalkan jangan Luhan. Itu hanya membuatnya semakin merasa takut dengan segala pikiran kotor yang hinggap di otaknya entah sejak kapan. “kau lebih mengerikan daripada tokoh – tokoh horror yang pernah kutonton” rutuk Naomi sebelum larut dengan bacaannya.

Apa ini ?

Naomi terkesan bahkan terkesima ketika melihat apa yang Luhan tandakan dengan warna biru benar – benar mudah diingat. Tidak hanya singkat, namun semuanya juga sudah menyangkup. Ini seperti kesimpulan dari sebuah kesimpulan. Baiklah, sekarang Naomi tau sepintar apa dan semesum apa seorang Luhan. Tidak butuh waktu lama bagi Naomi untuk membaca buku yang memiliki jumlah halaman lebih dari 120-an itu.

“waktumu habis dan sekarang jawab semua pertanyaan ini.” Luhan menarik buku yang masih Naomi baca. Ia lantas memberikan secarik kertas yang telah berisi beberapa soal dengan cara jawaban yang sama persis dengan apa yang ia tandakan di buku sebelumnya. Setidaknya ia berharap gadis angkuh itu bisa menjawab soal. Satupun juga tak apa.

“5 menit” Luhan mengintimidasi. Naomi berdecak sebal sebelum melihat soal pemberian Luhan. Ia benar – benar sengsara dengan sikap penyuruh Luhan. Andai saja Luhan memiliki rambut yang cukup panjang, mungkin Naomi akan menariknya. Hingga perlu ke akar – akarnya sekalian.

Tidak sia – sia. Pengajaran Luhan kali ini benar – benar berbekas. Bahkan Naomi bisa mengingat dengan jelas beberapa rumus yang sebelumnya tak ia ketahui bentuknya. Keduanya terlihat cukup akur, walau terkadang Naomi selalu memprotes dengan perintah Luhan yang kelewat batas. Hingga akhirnya bel masuk jam kelima berbunyi. Menyadarkan kedua insan itu untuk segera memasuki ruang kelas masing – masing.

Luhan bangkit lebih dulu, sementara Naomi malah disuruh membereskan buku – buku yang tertata dengan tidak rapinya diatas meja. Setelah merasa semuanya rapi, Naomi menegakkan kepalanya dan

CHU~

Sebuah kecupan singkat di bibir berhasil di dapatnya dari ‘si mesum’ Luhan. Naomi hendak protes dan memukul kepala Luhan, namun pemuda itu menahan tangannya.

“kau telah bekerja keras. Pastikan kau tidak mati kelaparan.” Luhan memberikan sebungkus roti gandum pada Naomi dan setelahnya ia berjalan keluar dari perpustakaan. Mendahului Naomi yang masih mematung.

Kau bahkan bisa menjadi sangat menjengkelkan dan juga baik dalam satu satuan waktu.

Siapa sebenarnya kau ? Lu han ?

“Min Ho, Ring Ding Dong, Sherlock, Noona is really pretty, hello” Naomi selalu mengucapkan semua kata itu jika rasa kantuk mulai menyerang. Dan ya, sekarang ia sangat membutuhkan kata – kata itu. Mengingat sudah hampir 10 jam ia berada di sekolah itu dan untungnya, sekarang adalah jam pelajaran terakhir.

“Syukurlah” Naomi langsung merebahkan kepalanya diatas meja lantaran bel pulang sekolah yang baru saja berbunyi. Ia bahkan merasa sangat bersyukur karena bisa bertahan berada di dalam kelas tanpa membolos satu hari ini dan kalau boleh jujur, mungkin Luhan menjadi salah satu latar belakangnya.

Beberapa siswa bersiap – siap untuk pulang, lain halnya dengan 17 siswa yang harus tinggal untuk mengikuti kelas tambahan dikarenakan nilai yang tidak mencapai kriteria ketuntasan, termasuk Naomi. Di dalam hati Naomi merasa kesal dengan teman sekelasnya yang bisa lolos dari kelas tambahan. Ia ingin dan sangat bersyukur jika saja Luhan lupa ingatan dengan kelas tambahan kali ini. Namun sayangnya, khayalan Naomi hanya tertinggal di alam mimpi saja. melihat Luhan yang telah bersender pada pintu kelasnya dengan kacamata dan baju bak ‘anak paling baik sejagat raya’ membuat Naomi benar – benar ingin berteriak kesal.

Pandai sekali pria itu menyembunyikan sifat mesumnya

Dengan malas, Naomi menyeret tasnya. Membawa benda persegi itu ke punggung dan kakinya mulai berjalan mendekat kearah Luhan. Jika saja Naomi bisa membaca pikiran orang – orang, mungkin ia akan mendengarkan rasa kagum dan iri semua siswi yang masih tinggal dikelasnya. Sialnya, Naomi malah tak ingin dan tak mau tau dengan pikiran semua teman sekelasnya yang tinggal. Yang gadis itu inginkan hanyalan ponsel, berita terbaru ataupun foto terbaru Min Ho, tempat tidur dan juga selimut. Oh, jangan lupakan boneka beruangnya yang berwarna merah muda.

“bisakah kau melupakan kelas tambahan sehari saja ? aku bahkan sudah membaca buku fisika dan matematika saat jam istirahat tadi.” Untuk kali pertama, Naomi memohon pada Luhan. Mereka sekarang sedang berjalan keluar dari sekolah. Keadaan yang awalnya hening, sekarang telah dipecahkan oleh Naomi. Luhan menoleh sebentar kearah Naomi.

“kau tak memikirkanku ? hampir semua waktu luangku sudah terpakai untuk mengajarimu” Naomi menghentikan langkahnya secara mendadak. Sudut bibirnya tertarik, membentuk sebuah lengkungan. Matanya berbinar – binar, seperti mengeluarkan kilauan.

“bagaimana jika kau berhenti saja menjadi tutorku ? bukankah dengan begitu kau bisa mendapatkan waktu luangmu kembali ? ah benar, kenapa tidak dari kemarin saja kau berkata seperti ini ?” Naomi sangat antusias, bahkan lebih antusias daripada ketika Min Ho mengangkat baju hingga memperlihatkan ABSnya.

Sama halnya dengan Naomi. Luhan juga menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan sekarang, mereka tengah saling berhadapan. Naomi mengatupkan kedua tangan dan mata bulatnya masih berbinar – binar menatap Luhan. “sebaiknya kau menghubungi guru itu dan semuanya akan berakhir sekarang juga.”

Naomi menyodorkan ponselnya pada Luhan. Berharap pemuda itu mengambil dan menghubungi guru —. Tapi,

Apa yang Luhan lakukan benar – benar diluar akal sehat. Ia memang mengambil ponsel Naomi, tapi tidak digunakan untuk menghubungi ibu —. Luhan malah meletakan ponsel biru itu ke dalam saku celananya. “Baka!” Naomi mengernyit. Bibirnya terangkat sebelah dengan suku kata jepang yang Luhan katakan. Setidaknya ia pernah menonton satu anime dan ya, di dalam anime itu Baka sama artinya dengan bodoh.

“A—apa yang kau lakukan ?” Naomi menunjuk ponselnya yang sudah masuk ke dalam saku celana Luhan. Ketika berusaha untuk mengambilnya, Luhan malah menahan tangan gadis itu dan mengangkatnya hingga sejajar dengan wajah mungil miliknya.

“waktu luangku memang tinggal sedikit. Tapi setidaknya, ada sesuatu yang—” Luhan mencium punggung tangan Naomi singkat sebelum melanjutkan perkataannya. “bisa memenuhi keinginanku”

SHOCK!

Naomi lantas menarik tangannya yang dipegang oleh Luhan. Ia kemudian menggosok – gosok punggung tangan yang baru saja Luhan cium. Bahasa kasarnya, Naomi ingin menghapus najis yang menempel disana. Sampai sekarang ia masih menganggap Luhan sebagai musuh terberat yang harus disingkirkan. Kalau bisa di lenyapkan saja.

“AAAAAAAA!!!! MESUM, BYUNTAE, SERIGALA BERBULU DOMBA!!!! AKU INGIN MENCEKIKMU!!!” Naomi berlari meninggalkan Luhan. Gadis itu sangat ingin membunuh Luhan seperti halnya nenek Jung membunuh kutu – kutu yang bersarang di rambutnya 13 tahun lalu. Sungguh.

Luhan tersenyum melihat tingkah lucu Naomi. Setidaknya gadis itu berhasil membuat hari – hari Luhan yang sebelumnya hanya monoton pada satu hal menjadi lebih bervariasi. Luhan yang biasanya hanya peduli dengan belajar dan juga hal – hal negatif –yang kita ketahui apa – apa saja itu- sekarang malah disibukkan untuk menjinakkan seorang gadis bernama Shin Naomi.

Menjinakkan Naomi bukanlah hal yang mudah, namun bukan juga hal yang sulit. Naomi hanyalah seorang gadis polos yang bersikap ‘sok’ memberontak kepada para guru ataupun seluruh struktur sekolah. Lebih simpelnya, ia menginginkan perhatian. Dan yang Luhan masih bingungkan adalah, jika Naomi ingin mencari perhatian lantas gadis itu anggap apa kasih sayang ayah dan juga ibunya yang bisa dibilang lebih dari perasaan sayang orang tua kebanyakan pada anaknya ?

Luhan hanya menggeleng pelan dengan tingkah Naomi. Ya, walaupun baru satu setengah hari. Tapi Luhan merasa ingin dan selalu ingin untuk lebih mengenal Naomi. Love at first Sight ? entahlah. Luhan hanya ingin mengetahui pemberontakan macam apa yang akan Naomi lakukan untuk bisa bolos dari kelas tambahan. Hanya itu, tidak lebih. Dan menggoda Naomi mungkin akan menjadi hobby Luhan di waktu mendatang. Setidaknya ekspresi gadis itu berpuluh puluh kali lipat lebih lucu daripada guyonan para pelawak ulung.

“ponselmu!” Luhan menengadahkan tangannya, meminta benda segi empat yang tampaknya sangat menyita perhatian Naomi. Bahkan sudah lebih dari lima belas menit gadis itu mengacuhkan Luhan. Naomi tidak hanya ditegur sekali, namun Luhan sudah menegurnya sekitar 5 atau 6 kali. Tapi gadis itu masih bersikukuh untuk tetap memegang ponselnya.

“Hei, Hei” Naomi kaget ketika Luhan mengambil ponselnya secara paksa. Tatapannya mengarah pada Luhan dengan penuh berkobar – kobar. Pandangannya mengisyaratkan kalau ia benar – benar ingin memakan Luhan saat ini juga.

“kau harus mulai mengerjakan tugas – tugasmu.” Naomi berdecak mendengar perintah Luhan. Ughh~ kenapa pria itu masih saja setia mengganggu hidupnya ? mau sampai kapan ia memerintah Naomi seperti ini ? jika dihitung – hitung, sudah 11 hari Luhan menjajah kehidupan Naomi. Bukan hanya sekali, pria itu bahkan selalu menyabotase waktu istirahat Naomi. Termasuk waktu senggang Naomi di hari Minggu. Sial!

“apakah kau tidak pernah berpikir untuk melepaskanku ? membiarkanku menghapal semuanya dengan caraku sendiri. Bukan dengan diperintah seperti ini. Kau bahkan lebih mengerikan daripada Ibu Jung yang selalu menarik telingaku di setiap jam pelajarannya.” Naomi membuang buku cetak pelajaran Kimia yang Luhan suruh kerjakan. Matanya berkilat, namun diselimuti kesedihan. Luhan melihat itu dan ada rasa nyeri yang menyerang dadanya secara mendadak.

Luhan memang usil. Luhan memang suka memerintah. Luhan memang senang melihat wajah merah Naomi ketika marah. Bahkan Luhan juga senang dengan cacian Naomi yang seringkali menyuruhnya untuk pergi. Namun, situasi ini terasa sangat berbeda dari sebelum – sebelumnya. Pemuda itu hendak menanyakan apa yang terjadi, namun Naomi telah lebih dulu memotongnya.

“apa kau tau betapa sakitnya hatiku, huh ?” Luhan memiringkan kepalanya. Heran. Penasaran dengan apa yang akan Naomi katakan selanjutnya.

“dia, dia yang kusayangi dan kucintai tiga tahun lalu. Dia, dia—” air mata Naomi jatuh dan jujur, Luhan sangat ingin memeluk Naomi. Meredam emosinya dan tidak membiarkan air suci itu jatuh. Tapi sayang, Naomi malah menepis tangan Luhan yang hendak mendekat.

“aku tau kodratku disini hanyalah seorang fans. Ya, hanya sebatas fans. Tapi, apakah aku salah untuk merasa sedih jika dia, Choi Minho yang selama ini kubanggakan telah memiliki kekasih ? dan kau tau ? Minho bahkan sudah mengkonfirmasinya 4 hari yang lalu dan aku baru mengetahuinya sekarang. Tidakkah keadaan ini sangat—- ARGHHHHH!!” Naomi geram bercampur sedih. Ia berdiri dan menendang meja bundar yang menjadi tempat belajarnya cukup keras sehingga membuat benda bundar itu terbalik. Gadis itu lantas menghapus air matanya kasar sebelum memutuskan untuk membereskan semua barang – barangnya. Setelah memastikan semua barangnya masuk ke dalam tas, Naomi pergi meninggalkan Luhan.

“Ponselmu” Naomi menatap Luhan marah. Air matanya masih mengalir. Gadis itu mengacuhkan dan kembali mengikat tali sepatunya yang entah sejak kapan terasa sangat sulit untuk dilakukan. Luhan yang melihat Naomi kesulitan, lantas berjongkok di depan gadis itu. Ia menahan tangan Naomi yang sedari tadi selalu saja salah membuat simpul pada sepatunya.

“kau –marah ?” Luhan menatap lurus dan dalam pada mata Naomi. Tatapannya tulus. Namun Naomi masih merasa sangat marah pada Luhan lantaran Luhan menyita ponsel yang ia gunakan untuk mencari kepastian hubungan Minho dengan gadis bermarga Park yang merupakan salah satu anggota girlband.

“pertanyaan bodoh. Sudahlah, biarkan saja aku pergi. Belajar hanya membuat kepalaku semakin pusing.” Naomi kembali menepis tangan Luhan. Beruntungnya Naomi, karena tali sepatu berhasil membentuk sebuah simpul. Ia tersenyum lantas bangkit dari posisi jongkok. Naomi hendak memegang ganggang pintu Apartment Luhan, namun pemuda itu menahannya dan menariknya ke dalam sebuah pelukan hangat.

“maaf karena aku terlalu mendominasi, maaf jika aku terlalu memerintah, maaf jika aku—-”

“BODOH!! MIN HO BODOH!! APA YANG DIA LIHAT DARI WANITA ITU ? TIDAKKAH DIA MEMIKIRKAN PERASAAN PARA PENGGEMARNYA ? AKHHHH!!!! MIN HO BODOH!!!” Naomi berteriak menyalurkan semua perasaan marah dan juga sedih. Ia bahkan memukul – mukul dada Luhan, seolah – olah pemuda itu adalah Choi Min Ho. Artis yang selama ini ia cintai dan bangga – banggakan. Luhan tak mengatakan apapun. Ia hanya menenangkan Naomi dengan cara mengusap punggung gadis itu dengan pelan.

“merasa baikan ?” Naomi menoleh ke belakang dan mendapati Luhan tengah berjalan kearahnya dengan membawa dua cup kopi hangat di tangannya. Gadis itu mengangguk pelan dan menghapus kembali bekas air mata yang tertinggal di pipinya. Luhan yang melihat itu hanya tersenyum dan ketika jaraknya dengan Naomi telah dekat, ia memberikan satu cup coffe pada Naomi.

“Gomawo” Naomi menerima kopi pemberian Luhan. Hawa panas yang menguar dari kopi itu Naomi manfaatkan untuk menghangatkan wajahnya yang kedinginan karena hembusan angin. Ah, aku lupa memberitahukan kepada kalian. FYI, Naomi dan Luhan sekarang berada di atap gedung apartment Luhan.

“aku tidak tau akan semenyakitkan ini. Mengetahui orang yang kau cintai telah dimiliki oleh orang lain. Rasanya seperti baru saja terjatuh ke dalam gunung merapi yang siap meletus” Naomi menyeruput kopi hangat pemberian Luhan. Tatapannya yang beberapa saat lalu kental dengan kesan marah bercampur sedih, sekarang telah mereda.

Luhan menoleh kearah Naomi sekilas. Ia kemudian mengelus puncak kepala Naomi dan menyenderkan kepala Naomi diatas bahunya. “setidaknya akan terasa lebih melegakan jika kau bisa membagi perasaanmu bersama orang lain” nada Luhan terdengar sangat menenangkan di telinga Naomi. Untuk pertama kalinya, Naomi tersenyum dengan apa yang Luhan lakukan padanya.

“kau tau ? kau terlihat tidak semenyebalkan seperti sebelumnya” Naomi kembali menyeruput kopinya. Kepala gadis itu masih terlalu nyaman bersender pada bahu Luhan. Ia teramat sangat enggan untuk mengubah posisinya.

“tentu saja. memangnya sejak kapan seorang Lu Han menjadi orang yang menyebalkan ?” percaya diri sekali Luhan mengatakan itu, pikir Naomi. Gadis itu kemudian tertawa kecil sebelum memukul lengan Luhan pelan. “percaya diri sekali. Dasar pria mesum berkacamata. Kau tau ? sudah 17 kali kau mencuri ciumanku. Dasar mesum”

Luhan terkekeh pelan mendengar rutukan Naomi. Setidaknya ia tidak melewati batas yang telah ditetapkan. Semua ciuman hanyalah ciuman singkat. Tidak lebih. “lalu, kenapa kau tidak pernah menghindar ?” Luhan kembali menggoda.

“A—aku” Naomi tergagap. Ia menegakkan kepalanya dari bahu Luhan. Matanya bergerak ke segala arah, berusaha mencari alasan yang tepat. Sepertinya.

“kau melakukannya secara tiba – tiba. mana mungkin aku bisa menghindar.” Naomi mengerucutkan bibirnya kesal. Luhan kembali terkekeh.

“pandai sekali kau mencari alasan.” Nada bicara Luhan benar – benar mengesalkan. Untuk kesekian kalinya, Naomi merasa ingin memukul wajah Luhan dan mencekiknya hingga mulut mungil nan manis itu mengeluarkan busa. Eh ? tunggu! Mulut manis ? astaga >.<

“menyebalkan sekali” dengus Naomi.

Keadaan diam mendominasi selanjutnya. Naomi dan Luhan sama – sama larut dengan pikiran masing – masing. Arah tatapan keduanya juga sama – sama mengarah pada pemandangan kota Seoul di malam hari. Sungguh indah dengan berbagai warna lampu yang memancar dari setiap gedung.

“Aku–” keduanya sama – sama mengeluarkan kata aku dari mulutnya dan kemudian mereka tertawa bersamaan.

“sebaiknya laki – laki mengalah” sungut Naomi dan Luhan mengangguk.

“kau ingin mengucapkan apa ?” tanya Luhan.

Tatapan Naomi masih lurus. Menurutnya, pemandangan kota Seoul lebih menarik daripada wajah Luhan. “Lu, jika ini terlalu lancang kau boleh tidak menjawabnya” Naomi ragu untuk mengutarakan pertanyaannya, namun Luhan segera memotongnya. “aku tak apa. lanjutkan” Luhan mengatakan kalimat itu juga masih dengan tatapan yang mengarah pada pemandangan kota Seoul.

“kenapa kau memakai kacamata ke sekolah Lu ? bukankah matamu baik – baik saja ?” pertanyaan polos Naomi membuat Luhan terkekeh.

“bukankah sudah kukatakan ? aku ingin menutupi aura ketampananku” Naomi mengerucutkan bibirnya. Ia tidak puas dengan jawaban Luhan yang terkesan mengada – ngada dan Naomi yakin, pasti Luhan memiliki alasan lain. Bukankah terdengar konyol jika kau memakai kacamata hanya untuk menutupi kadar ketampananmu ? malahan kebanyakan orang menggunakan kacamata untuk tampil lebih tampan.

“aku serius” Naomi merajuk.

Luhan tersenyum kecil melihat wajah kesal Naomi. Pemuda itu kemudian menengadahkan kepalanya menatap langit. Tak banyak bintang yang bisa dilihat, namun Luhan bukan ingin melihat bintang. Ia sepertinya sedang menerawang. Luhan tersenyum kecut, sepertinya ada sesuatu hal pahit yang ia simpan sejak lama. Naomi melihat itu dan ia merasa bersalah.

“ah sudahlah, tak apa jika kau tidak mau menjawabnya.” Naomi kembali menatap lurus ke depan seraya menghabiskan kopinya yang memang tinggal sedikit.

“belum jam 9. Mau melanjutkan kelas tambahan ?” Luhan berdiri lebih dulu. Tangannya terulur ke bawah. Siapa tau saja gadis itu mau melanjutkan kelas tambahan setelah percek cokan yang aneh beberapa saat lalu.

Naomi yang memang sudah merasa baikan setelah diberi masukan oleh Luhan lantas menyambut uluran tangan Luhan. Gadis itu tersenyum sebentar. Ia memposisikan tubuhnya tepat di depan Luhan dan selanjutnya ia mendaratkan bibir mungilnya diatas bibir Luhan. Berniat untuk melakukan ciuman singkat, namun naluri liar Luhan malah terbangun olehnya.

Luhan tidak membiarkan kesempatan langka ini berakhir begitu saja. Dengan cepat, Luhan menahan tengkuk Naomi dan mendorongnya supaya ciuman mereka lebih dalam. Naomi yang memberontak malah membuat Luhan semakin gencar untuk melakukan lebih. Ciuman itu terasa lebih panas tatkala tangan Luhan hampir masuk ke dalam kaos Naomi. Tapi untungnya, Naomi langsung menginjak kaki Luhan dan berakhirlah kegiatan biadab itu.

Setelah ciuman berakhir, Naomi langsung menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru – parunya. Sementara Luhan ? ah, pria itu. ia malah tersenyum melihat wajah Naomi yang memerah.

“apa – apaan kau ?” Naomi mengarahkan telunjuknya pada Luhan. Tatapan gadis itu berapi – api. Seperti ingin membakar Luhan.

“aku hanya ingin membalas perbuatanmu. Ah, seharusnya kau lebih sering saja melakukannya” Luhan mendekatkan wajahnya pada Naomi. Pemuda itu menyeringai untuk sekian kalinya di depan Naomi.

“DASAR MATA EMPAT MESUM!!!!” Maki Naomi dan langsung meninggalkan Luhan.

“Oh Ayolah. Siapa yang memulainya, eh ?” Goda Luhan, namun Naomi memilih untuk pura – pura tak mendengar.

“atau mungkin, gadis yang memulai itu memang menginginkan leb—”

“HENTIKAN MESUM!!! PERKATAANMU BAGAIKAN KOTAK MUSIK RUSAK DI TELINGAKU!!” kesal Naomi dengan nada tinggi. “sebaiknya kita selesaikan kelas tambahan hari ini dan kau harus mengantarku pulang”

“Bagaimana jika aku tak mau ?” Luhan menaikkan sebelah alisnya. Mereka berdua masih berada dalam perjalanan menuju apartment Luhan.

“aku akan jalan sendiri. Kau pikir aku tak punya akal ?”

Luhan bersedekap dada. “waw, ternyata kau cukup berani juga. Bagaimana jika ada pria jahat dan lebih mesum mencegatmu ?” mata Naomi terbelalak kaget mendengarnya.

“aku akan melawan mereka tentu saja” tukas Naomi mantap. Walaupun di dalam hati sebenarnya gadis itu merasa ragu. Tentu saja ragu, Naomi bahkan tidak tau teknik – teknik melindungi diri yang baik.

“benarkah ?” goda Luhan lagi.

“ARGHHHH!!” Naomi menggeram. “kau menyebalkan Lu Han” teriaknya seraya berlari, meninggalkan Lu han di belakang.

Lu Han hanya tersenyum. Tangannya tersemat ke dalam saku celananya. Di dalam hati, pemuda itu merasa sangat puas melihat wajah kesal, marah, malu bahkan senang Naomi. Oh astaga, mungkinkah Lu Han benar – benar jatuh ke dalam pesona aneh Naomi ?

Hari ini, Naomi sengaja datang lebih cepat ke sekolah lantaran semalam, ia sudah berjanji pada Seri –teman sekelasnya– untuk meminjamkan buku latihannya. Wajah Naomi tampak lebih segar seperti beberapa hari belakangan. Entah apa yang melatar belakangi senyuman itu. hanya saja Naomi merasa hidupnya lebih menyenangkan karena pemuda itu. ya, pemuda menyebalkan sekaligus mesum.

Ketika melewati ruang kepala sekolah. Samar – samar Naomi mendengar ada suara dari dalam. Tumben sekali kepala sekolah datang pagi – pagi sekali, pikir gadis itu. karena penasaran, ia mendekatkan alat pendengarnya ke pintu ruangan kepala sekolah.

“bukankah ini prestasi yang luar biasa ? salah satu siswa kita di terima di salah satu Universitas paling bergengsi di Inggris” itu suara bapak kepala sekolah. Naomi manggut – manggut seraya menepukkan kedua tangannya pelan. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.

Karena merasa tidak terlalu penting, Naomi kemudian memutuskan untuk pergi dari ruang kepala sekolah. Namun, baru satu langkah pergi. Telinga Naomi mendengar satu nama yang familiar. Ia kembali merapatkan tubuhnya pada pintu ruangan kepala sekolah.

“Lu Han pasti akan senang mendengarnya” Mata Naomi terbelalak kaget. Lu Han ? Universitas di Inggris ? bukankah ujian masuk Universitas hanya tinggal beberapa hari lagi ?

Rasanya sakit, sungguh sakit mendengar Lu Han diterima di salah satu Universitas bergengsi di Inggris. Tapi kenapa ? kenapa harus sakit ? Naomi bahkan merasakan rasa sakit kali ini lebih sakit daripada ketika ia mengetahui fakta bahwa Minho –idolanya– sudah memiliki kekasih.

Kenapa seperti ini ?

Kenapa harus sakit ?

Kenapa harus Luhan ?

//CUTTTTTT!!//

Adududuhhh~

Ini chapter beneran melenceng dari apa yang aku harapin sebelumnya dan jujur, aku ngerasa kalo feelnya gak banget. Dan alurnya berantakan sekaleee -_-

Maaf ya kalau aku ngecewain kalian *Bow

Buat yang baca dan komentar beserta like, makasih ya ^_^

Buat yang baca tapi gak komentar juga makasih ^_^

Hmm, karena terlalu absurb aku mungkin bakalan protect chapter akhir..

Tapi gak tau deh,

Kalo banyak yang suka, aku gak jadi protect *labil banget

Hahaha..

Makasih aja deh buat kalian semua ^_^

Annyeong ^_^

66 thoughts on “Devil (2/3)

  1. Thor kapan nih ada chapter 3 udah ga sabar banget , btw makin seru aja nib ceritanya semangat ya thor buat next chapter

  2. Ahh thor ini ga absurd ko ini keren banget malah ^_^

    Jadi Naomi mulai suka sama Lu Han? ahh baguslah ^^ Lu Han juga sepertinya suka sama Naomi kkk
    penasaran sama alasan Lu Han kenapa dia make kaca mata ke sekolah, padahal matanya ga bermasalah??

    Thor kalo chap endnya di protect kasih tau ya cara buat dapatin pwnya ^_^

    Keep writing thor🙂

  3. wahhhhh…
    ceritanya mkn seru dan menarik chinguuu..
    ditunggu chapter berikutnya…
    jgn diprotect yaa chingu chapter terakhir…
    jebball…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s