[Last Part] You’re My Destiny part 10

ymd2

Cast :

Oh Sehun

Han Seul Rin

Kim Myung Soo

etc.

Genre : Sad, Romance, School Life.

Rating : PG

Haii,, makasih udah nungguin FF ini sampe lumutan *Kaya ada yang nungguin aja* Makasih buat ChanArt karena posternya. Untuk readers,, sebenernya aku udah pingin banget meng-End kan FF ini.. Dan semoga ending FF ini memuaskan para readers. Okedeh Happy Reading ! ^^

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8 | Part 9

‘Kriing’

Kelaspun bubar, para siswa berhambur keluar menuju habitat mereka di sekolah, kebanyakan dari mereka memilih untuk pergi ke kantin.

“Kau mau makan siang sekarang ?” tanya Sehun pada Seul Rin. Kalau dilihat dari jauh, posisi mereka sungguh romantis. Sehun duduk berlutut untuk menyamai tingginya dengan Seul Rin yang duduk di kursi roda.

Seul Rin menjawabnya dengan anggukkan, “Kalau begitu kajja !” ajak Sehun sambil meletakkan kotak bekal mereka di pangkuan Seul Rin, sedangkan ia sendiri mendorong kursi rodanya.

“Aaa” Seul Rin menyodorkan sepotong melon kemulut Sehun, akhir – akhir ini ia memang suka makan buah. Entah mengapa.

“Whoaa, mashita..” gumam Sehun sambil memberikan senyuman terbaiknya, “Akan lebih enak kalau disertai Melon Kiss” lanjutnya di bisikannya.

“Ya ! Apa yang kau katakan hah ?” teriak Seul Rin malu, bagaimana bisa Sehun bisa sefrontal itu ? Ia berbahaya.

“Haha, aku bercanda Chagi” Tawa Sehun menggelegar dimana – mana. Membuat teman – teman mereka tersenyum bahagia, terutama HunRin Shipper.

“Oh Sehun~ssi !” panggil seseorang. Yeoja itu berlari terengah – engah mendekati mereka berdua.

“Oh, ada apa Hyemun~ah ?” tanya Sehun heran.

“Kepala Sekolah… Memanggilmu”

“A-apa ?” Sehun melihat kearah Seul Rin sebentar, “Tak apa kalau kutinggal ?”

Seul Rin mengangguk, “Hyemun akan menemaniku kan ?”

Hyemun mengangguk dengan kuat, “Tentu, kita mau kemana Rin ?”

“Ke perpus saja, disana tenang”

“Aku pergi dulu, jaga dirimu. Arra ?” pesan Sehun kemudian mengecup puncak kepalanya.

Seul Rin dan Hyemun menatap kepergian Sehun yang semakin menjauh.

“Kau tambah pucat Rin”

“Jinjja ? Padahal aku sudah menebalkan lipgloss-ku” jawab Seul Rin sambil meraba bibir dan pipinya.

“Sebenarnya kau sakit apa ? Kurasa kejadian saat kau koma itu kau sudah sembuh total, kecuali kakimu tentunya.”

Dalam hati, Seul Rin bersyukur karena Hyemun tidak mengetahui tentang Kankernya. “Ani, mungkin hanya kelelahan.”

Hyemun menaikkan kedua bahunya tak peduli, iapun mendorong kursi roda Seul Rin menuju Perpustakaan.

“Kau beruntung Rin” gumam Hyemun tiba – tiba.

“Kau bisa bersatu dengan Sehun, bahkan menikah dengannya. Ya, walaupun ini terlalu dini tapi bukankah janji pernikahan itu membuktikan bahwa kita tulus mencintainya.”

Seul Rin bisa mendengar teriakan di hati Hyemun yang tertanam, tak seorangpun yang dapat melihatnya.

“Ajjumha dan keponakanku yang berada disini sungguh jahat padaku. Jikalau Luhan Oppa mau kembali ke Beijing lalu aku juga ikut ke Beijing mungkin ini semua sudah berakhir, kau tahu ? Aku lelah dengan kehidupanku di sini.”

“Kau bisa jujur pada Luhan Oppa Hye, kurasa jika ia tahu ia akan menyetujuimu.”

“Tak semudah itu,” ucapan Hyemun terpotong, ia mengambil napasnya dalam – dalam, kemudian menghembuskannya perlahan, “Aku sudah berkali – kali mengatakannya tapi ia tak peduli, aku bahkan hampir mengira bahwa ia bukan Luhan yang kutemui dulu.”

“Tapi kalian masih bisa bersatu, aku akan berdo’a untuk kalian”

“Terima kasih Rin, semoga kau dan Sehun selalu langgeng”

Seul Rin tersenyum miris mendengar perkataan Hyemun, “Kurasa tidak akan,”

“A-apa katamu ?”

Merasa keceplosan, Seul Rin sendiri merasa gelagapan, “Tidak, aku salah bicara”

****

Dalam perjalanan pulang Seul Rin selalu menatap tepi jalan, memperhatikan gerak  gerik dan senyuman anak kecil. Ia menginginkan ada kehidupan baru di rumah tangganya.

“Kau kenapa ?” tanya Sehun yang sedang menyetir, walaupun begitu ia juga sesekali melihat wajah Seul Rin yang seperti menginginkan sesuatu di kehidupan rumah tangga mereka.

“Eoh ?” Seul Rin menoleh kearah Sehun yang kelihatan bingung, “Wae ?”

Sehun menggeleng, “Ani, kau terlihat berbeda. Apa ada masalah ?” tanyanya.

Seul Rin menggeleng, “Aku hanya ingin ke suatu tempat, kau mau mengantarku ?”

“Tentu”

****

“Annyeong Eonni” sapa Seul Rin pada Ji Hye, anak pemilik panti asuhan.

“Annyeong Rin~ah, sudah lama tak kesini. Bogoshippo” jawab Ji Hye sambil merengkuh tubuh Seul Rin.

“Nado, Eonni~ya”

“Kakimu kenapa ?” tanya Ji Hye ketika melihat Seul Rin memakai kursi roda.

“Hanya kecelakaan kecil” jawab Seul Rin sambil menutupi wajah sedihnya.

“Cih, kecelakaan kecil katanya. Tapi koma berhari – hari” komentar Sehun ketika mendengar jawaban Seul Rin.

Ji Hye tampak asing dengan wajah Sehun, “Nugu ? Namchin ?”

Seul Rin menggeleng, “Suamiku, Oh Sehun”

Ji Hye terkekeh, “Dia namja yang sering kau ceritakan itu ? Manis juga”

“Ya ! Eonni !!”

“Haha, bercanda. Kalian cocok, sama – sama manis dan sempurna.” komentar Ji Hye dengan jujur. “Ah, ayo masuk.”

Sehun mendorong kursi roda Seul Rin memasuki panti asuhan.

“Kau sering kesini ?” tanya Sehun heran.

Seul Rin mengangguk, “Dulu, waktu SMP. Kau sering meninggalkanku, jadi aku pergi kesini”

Seul Rin melihat daftar anak disini, matanya tertuju pada sebuah nama.

“Kim Seul Rin, 2 bulan ? Kecil sekali anak ini” ujarnya.

“Dia sudah dirawat disini sejak bulan lalu. Eommanya meninggal karena Kanker dan ia tak memiliki Appa” ujar Ji Hye memberitahu.

Seul Rin terpaku melihat ranjang bayi di ruang tamu itu, “Itu Seul Rin ?” ujarnya menunjuk ranjang bayi.

Ji Hye mengangguk, “Ia sungguh manis, persis sepertimu. Nama dan sifat kalian sungguh mirip”

“Apa ? Ia masih bayi, mengapa ka tahu ia sepertiku ?”

Ji Hye tersenyum, ia menggendong Seul Rin kecil kemudian membawanya kearah Sehun dan Seul Rin, “Ia berbeda dengan bayi biasanya, ia tak terlalu rewel dan sering tertawa.”

Seul Rin tersenyum, ia terharu. Ia mengarahkan pandangannya ke Sehun, “Hun ?”

“Hmm ?” Sepertinya Sehun juga menyukai anak itu, karena terus menatap Kim Seul Rin.

“Aku ingin mengadopsinya”

****

2 bulan setelah Sehun dan Seul Rin mengadopsi Kim Seul, ya itu adalah panggilan kesayangan Sehun pada anaknya namun Seul Rin selalu marah ketika Sehun memanggil anak mereka Kim Seul, bagaimanapun nama anak mereka kini adalah Oh Seul Rin, persis dengan nama sang istri.

“Aku pergi dulu, jaga dia ne ?” pamit Sehun yang melesat ke sekolah.

Apa kalian bertanya mengapa hanya Sehun yang kesekolah ?

Seul Rin sudah tidak bisa mengikuti pelajaran lagi, kakinya yang lumpuh, mata yang mulai merabun bahkan indra pendengaran dan perabanya mulai rusak. Daripada membuat Sehun atau teman – teman yang lain susah, lebih baik ia yang mengalah. Toh ia juga bisa belajar dari Sehun.

“Seul Rin~ah, eomma bahagia karena Eomma tak sendirian lagi.” Ujar Seul Rin tersenyum miris.

“Nanti kalau Eomma sudah pergi kau yang akan menemani Appa, jangan membuat Appa sedih ne ?” pesan Seul Rin pada anaknya.

Kim Seul tersenyum bersumrigah, seperti mengerti apa yang dikatakan Eommanya. Seul Rin ikut tersenyum melihat senyuman itu, “Kau sudah berjanji ne ?” ujarnya kemudian mencium pipi Kim Seul.

‘Ting Tong’

Seul Rin meletakkan Kim Seul ke keranjang tidurnya, kemudian mendorong kursi rodanya ke pintu masuk.

‘Ceklek’

“Astaga,, Myung Soo Oppa. Silahkan masuk”

Seul Rin membukakan pintu masuknya lebih lebar, Myung Soopun masuk.

“Kau tak sekolah ?” tanya Myung Soo,

Seul Rin menggeleng, “Aku sudah sangat lemah, mataku tak bisa melihat papan tulis dengan jelas, untuk keluar saja rasanya lelah. Jadi aku berhenti sekolah, toh aku bisa belajar dari Sehun. Ada apa Oppa ?”

“Oh, tak apa”

“Bukan, maksudku kenapa Oppa datang ? Tak biasanya Oppa seperti ini”

Myung Soo membuka tas punggungnya kemudian mengeluarkan map kuning yang sudah tak familiar lagi bagi Seul Rin, pasti hasil pemeriksaan beberapa hari yang lalu.

“Apa semakin parah sampai – sampai Oppa datang kesini ?”

‘Deg’

Jantung Myung Sooo rasanya seperti berhenti berdetak sesaat.

“Benarkan ? Sudah kuduga. Memang apa hasilnya ?”  tanya Seul Rin.

Myung Soo menghembuskan napasnya berat, “Kau bilang kau mengalami gangguan penglihatan, pendengaran dan lainnya kan ? Itu sudah mulai parah Rin, kurasa kau harus memberi tahukan ini secepatnya pada Sehun. Mau tidak mau ia harus tau, jangan sampai kau meninggalkannya tanpa pamit, tanpa persiapan, jangan sampai itu terjadi. Jangan buat dia sedih.”

Perkataan Myung Soo membuat Seul Rin bungkam,

Menyadari itu Myung Soo merasa bersalah, “Maafkan aku, tapi aku hanya memberikan saran. Jangan membuat siapapun merasa bersalah disini, jangan sampai itu semua membuatmu tak tenang. Sekali lagi maafkan aku, aku harus pergi.”

Seul Rin menundukkan kepalanya, setelah mendengar pintu tertutup ia berteriak tak jelas, bahkan air matanya mengalir deras. Myung Soo benar, ia harus mengatakan ini pada Sehun, harus.

Bahkan suara tangisan Kim Seul juga terdengar di ruangan itu, bayi itu mungkin saja mengetahui maksud dari pembicaraan Eommanya dengan Myung Soo. Bayi itu dapat merasakannya.

****

Malam ini Seul Rin menemani Sehun yang mengerjakan tugas fisika, tentu saja ia sekalian belajar. Namun dari tadi Seul Rin tak fokus dengan pelajarannya, ia masih terngiang – ngiang dengan ucapan Myung Soo tadi pagi.

“Itu sudah mulai parah Rin, kurasa kau harus memberi tahukan ini secepatnya pada Sehun. Mau tidak mau ia harus tau, jangan sampai kau meninggalkannya tanpa pamit, tanpa persiapan, jangan sampai itu terjadi. Jangan buat dia sedih.”

“Eum, Sehuna~ah”

Sehun menoleh ketika Seul Rin memanggilnya, “Wae ? Ada yang kau tidak mengerti”

“Eum,, itu.. Aku ingin jujur padamu, kalau aku-“

‘Brakk’

“Ah, aku lelah. Lebih baik kita tidur, ini sudah larut” potong Sehun sambil menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.

“Tidak ! Jangan pergi sebelum aku mengatakan ini ! Aku memiliki Kanker, tepatnya Kanker Otak” ujar Seul Rin dengan nada yang tegas.

Pertahanan Sehun melemah, ia menatap Seul Rin yang kini menatapnya. “Aku sudah tahu, bahkan kita sudah membahasnya ketika kau bangun dari koma.”

Astaga, bagaimana mungkin ia melupakan itu, 4 bulan yang lalu mereka pernah membahasnya. Begitu parahnya kah sampai ia melupakan ingatannya ?

“Bukan itu yang ingin aku katakan.” ujar Seul Rin

Kali ini Sehun menatap Seul Rin lebih dalam, ia mendekati Seul Rin dan duduk disampingnya.

“Kurasa tak lama lagi aku akan pergi”

‘Degg’

Sehun tercekat, bagaimana mungkin yeoja ini langsung to the point ? Tak bisakah ia basa – basi dulu.

“Myung Soo Oppa bilang waktuku tak lama lagi” lanjutnya. Well, kita lihat sekarang ? Sepertinya Seul Rin berlebihan menanggapi ucapan Myung Soo, namja itu mengatakan bahwa penyakitnya semakin parah bukan waktunya yang semakin menipis.

“Bisakah kau merelakanku ?”

Pertanyaan Seul Rin membuat hati Sehun teriris, mereka baru menikah 4 bulan yang lalu. Sehun berjalan pergi meninggalkan Seul Rin yang masih terduduk di karpet tempat mereka belajar tadi.

Sehun memasuki kamarnya, menutup pintunya kemudian terduduk sambil menutupi wajahnya. Ia menangis sejadi – jadinya, ia merasa sudah gagal menjaga Seul Rin. Ia kira Kanker Seul Rin tak terlalu parah, mengingat Seul Rin Eomma yang meninggal ketika Seul Rin duduk di SD kelas 2 dengan penyakit yang sama.

“Mianhae, mianhae, jeongmal mianhae”

Dilain tempat Seul Rin juga menangis, ia merasa bersalah pada Sehun karena selama ini membohonginya. Bahkan tangisan Seul Rin sampai tersedak – sedak, wajahnya memerah dan juga basah.

Keesokkan harinya, Seul Rin mendapati dirinya tidur di ranjang tidurnya, kepalanya sedikit pusing karena terlalu lama menangis semalam. Ia yakin, Sehun yang membawanya ke kamar.

“Sudah bangun ?” tanya Sehun yang sudah dengan kaos putihnya, ia juga memakai training biru yang serasi dengan bajunya.

“Tentu, kau tak sekolah ?” tanya Seul Rin yang jelas mengingat hari ini adalah hari Sabtu.

“Aku membolos, kau mau menemaniku jalan – jalan ?”

Seul Rin mengangguk, “Kim Seul bagaimana ?”

“Ia kutitipkan ke Eomma, jadi tak masalah”

****

Mereka memutuskan untuk berjalan – jalan ketaman, karena itu adalah tempat yang tenang dan indah.

“Seul Rin~ah”

Seul Rin menatap kearah Sehun,

“Kau cantik, seperti bunga mawar”

Seul Rin tersenyum, “Benarkah ? Bunga itu menyakitkan, kau ingat bahwa terdapat banyak duri dibatangnya”

Sehun mengangguk, “Aku tahu, tapi mereka benar – benar sepertimu. Mereka cantik dan tajam, mereka cantik dan susah diraih dan juga menyakitkan, banyak orang yang menginkannya karena kecantikannya tapi mawar tetap diincar meskipun orang – orang itu akan terluka. Padahal, mawar itu rapuh, sulit dirawat, apabila tidak dirawat dengan baik mungkin ia sudah layu. Mawar itu sensitif dan tak bisa beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berubah – ubah. Maka dari itu aku memutuskan untuk merawat mawar itu, agar ia selalu cantik walaupun akhirnya mawar itu layu. Aku akan mengingat mawar itu sebagai hal yang terindah dan pantas dicintai”

Seul Rin terharu mendengarnya, bagaimana bisa Sehun begitu romantis hari ini ?

“Aku tak akan memaksa mawar itu agar selalu cantik, apabila ia memang butuh perhatian aku akan ada untuknya. Apabila sudah waktunya layu maka aku ikhlas, jangan sampai ia hidup tapi dengan kesengsaraan. Biarlah mawar itu bahagia walaupun aku sedih karena ia layu.”

Seul Rin semakin terharu, Sehun menghadap kearahnya kemudian memeluknya yang terduduk di kursi roda.

“Oh Seul Rin saranghae”

“Nado Sehun~ah”

“Aku ikhlas kau pergi, berjanjilah untuk selalu bahagia”

Seul Rin mengangguk, mereka berpelukan lebih erat. Sehun menangis di pelukannya,

“Sehun~ah, mengapa semuanya menggelap ?” ujar Seul Rin pada Sehun, suara Seul Rin semakin serak. Sehun yakin pasti yeoja itu menangis, dan waktunya semakin dekat.

“Aku.. Menyayangimu”

Sehun merasakan tubuh Seul Rin yang mulai kaku, apa mungkin ia sudah pergi ? Jujur, Sehun tak rela dan takkan pernah tapi demi Seul Rin dan kebahagiannya mungkin itu yang terbaik.

“Beristirahatlah, kau pasti lelah” ujar Sehun dalam pelukannya, ia merasa tak ada respon dari Seul Rin.

“Gomawo untuk selama ini, aku akan menjaga Seul Rin”

5 Tahun kemudian,

“Oh Seul Rin, jangan nakal ne ? Belajar yang baik arraseo ?” ujar seorang namja.

“Arraseo, Appa terlalu berlebihan. Jangan lupa untuk cari uang yang banyak biar bisa membelikanku album EXO terbaru. Oh iya, aku juga mau membeli rubik. Aku bosan dengan rubik yang hanya berwarna tidak ada gambarnya. Aku mau yang gambarnya EXO, yang berwarna seperti anak TK”

‘Pletakk’

“Auu, Appa ! Sakit tau !” ringis Seul Rin kecil, ia mengelus kepalanya yang kena jitak Appanya.

“Kau ini, masih untung sudah bisa. Kau menyindir Appamu yang tidak bisa main rubik hah ?” ujar Sehun, Appa Seul Rin.

“Ani, itu kenyataan.” Jawab Seul Rin sambil mehrong.

“Ya ! Ka-“

“Aku pergi dulu Appa ! Saranghae” teriak Seul Rin meninggalkannya, bocah itu berlari meninggalkannya.

Sehun sudah lulus kuliah, sekarang ia sudah bekerja menjadi seorang guru. Tujuannya bekerja hanya satu, untuk memenuhi kehidupannya dan memanjakkan Seul Rin. Ia tak mengerti bagaimana cara menjaga anak, jadi ia hanya bisa memanjakannya.

Andai saja Seul Rin belum meninggal mungkin Kim Seul –Sehun masih sering memanggilnya seperti itu tanpa sepengetahuan siapapun- bisa diajari oleh sang Eomma namun karena Seul Rin telah meninggal ya mau bagaimana lagi.

“Sehun Ssaem, kau sudah memiliki anak ?” tanya seorang siswi yang entah sejak kapan sudah berada di sekolah anaknya.

‘Astaga, bocah ini lagi’ gumam Sehun dalam hatinya.

“Ssaem, mengapa kau tidak mengatakannya ?” ujar siswi itu dengan suara yang memelas.

“Bagaimana ? Sudah lelah mengejarku ?” ujar Sehun yang mulai bahagia karena gadis itu sepertinya mulai lelah mengejarnya.

“Tentu saja tidak, bagaimana mungkin kau memiliki anak yang imut dan cantik seperti itu ? Pasti istrimu sangat cantik, tapi mana dia ?” tanya siswi itu lain.

“Ia memang sangat cantik, tidak sepertimu. Ia juga cerdas dan pintar, berbeda denganmu. Ia sudah meninggal 5 tahun yang lalu”

“Astaga, namja tampan sepertimu adalah duda ? Ah, sayang sekali, aku mau menjadi pengganti istrimu itu Ssaem”

“Ani !! Bisakah kau menjauh dari hidupku, Kang Chae Ri ?” teriak Sehun frustasi dengan siswinya yang umurnya hanya beda 4 tahun darinya itu, banyangkan ? Sejak Sehun magang di Seoul High School –Chae Ri kelas 2 SMA- dan sampai sekarang, sudah setahun, gadis itu tetap saja mengejarnya.

“Tidak, sampai aku mendapatkanmu Oh Sehun !”

Jangan lupakan sifat tak sopannya karena memanggil gurunya hanya dengan nama.

‘Tapi gadis itu ceria dan keras kepala, persis seperti Seul Rin’ –Oh Sehun

The end

Gimana end-nya ? Happy endingkan ? Kan fantastic udah janji xD, walaupun Sehun gak sama Seul Rin tapi daripada Seul Rin semakin kesakitan sama penyakitnya lebih baik ia ‘istirahat’ aja. Persis seperti katanya Sehun, kita gak boleh maksain kehendak orang lain apalagi kehendak Tuhan kalau itu memang harus terjadi.

Selesai juga 1 FF, tunggu karya berikutnya ne ? ^^

24 thoughts on “[Last Part] You’re My Destiny part 10

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s