One Great Night

fsfsaf

One Great Night by HoneyLulu // PG // Vignette // Kim Jongin, Do Kyungsoo [EXO] // failed!Friendship, failed!Comedy, forever!Kaisoo

Lembaran baru baru saja dibuka, waktunya menorehkan hal-hal indah di sana!

Terkutuklah sesuatu bernama influenza di dunia ini.

Maksud Jongin, oke, mereka bisa saja datang sambil berkata: “Howdy! Long time no see, Bro!” dan kemudian singgah dalam tubuh malang seorang Kim Jongin untuk beberapa waktu—seolah tubuhnya ialah motel kecil di pinggiran kota—kapan pun mereka mau. Jongin, tentu saja, tidak akan begitu mempermasalahkannya. Apalagi kalau itu adalah hari di mana guru Matematikanya mengadakan ulangan aljabar dadakan ataupun hari di mana Jongin lupa mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Tetapi ‘TIDAK’ (uh-huh, dengan huruf kapital yang amat tebal, garis bawah, dan juga warna merah menyala) pada malam terakhir di tahun 2014; sebuah malam luar biasa yang harusnya kaulalui dengan berbagai macam hal menyenangkan seperti pergi ke villa murah di puncak gunung, bukannya terbaring tak berdaya di atas ranjang dan mengelap ingusmu.

“Hei, Jongin!” Jongin bisa mendengar suara Baekhyun yang unik lewat telepon, pun dengan hingar bingar di belakangnya. “What’s up?

‘What’s up’ terdengar begitu ambigu di telingaku, Baek. Kau sedang menanyakan keadaanku atau kau sedang menanyakan keadaanku?” tanya Jongin.

Baekhyun tergelak. “Oke, oke, maaf. Kelihatannya kau merasa sangat buruk karena tak bisa ikut kami menghabiskan malam tahun baru bersama-sama, ya? I know that feel, Bro.” katanya. “Dan—oh!—villa yang kami sewa lumayan juga. Tidak memakan banyak biaya dan mereka punya view yang cukup bagus di sini. Kau bisa melihat gemerlap kota juga kembang api dari atas. Satu lagi, daging BBQ yang Tao buat rasanya lezat sekali. Tak perlu kaubilang, aku pun juga heran bagaimana mungkin dia bisa melakukannya, tapi Tao mengatakan bahwa ini semua karena dia tinggal sendirian di apartemennya. Keren. Kupikir seseorang harus membuat suaka untuk para lelaki yang pandai masak di luar sana, Jongin, serius deh.” Baekhyun bercerita panjang lebar tentang betapa gembiranya mereka—Baekhyun, Chanyeol, Tao, Junmyeon, Sehun, serta Yixing—di villa kecil yang mereka sewa (tepatnya Junmyeon yang menyewanya, sih).

“Oh.” balas Jongin singkat. “Terima kasih atas dongeng sebelum tidurnya. Indah sekali. Aku mau tinggal di istana seperti sang putri juga.”

“Oh, ayolah, Jongin,” Baekhyun mencoba untuk meredam kekesalan karibnya itu. “Aku tahu kau jengkel, aku tahu kau sangat ingin bergabung dan bersenang-senang bersama kami, namun kau tidak perlu sesedih itu! Kita bisa melakukannya bersama lagi lain kali, mungkin tahun depan, atau di hari ulang tahun salah satu dari kita semua, atau kapan pun itu. Dan—yah—Junmyeon lah, tentu saja, yang akan membayar semuanya. Hehe. Benar begitu, kan?”

Jongin menghela nafas, kemudian masih dengan ketus ia menyahut, “Yah, terserah.”

“Baiklah, Jongin, sampai jumpa nanti!” pamit Baekhyun. “Get well soon, Man. Enjoy your night. Happy new year!” seru pria itu girang.

Thanks.

Lalu sambungannya terputus.

Kali ini Jongin bisa mendengar letusan kembang api yang saling bersahut-sahutan di luar sana. Euforia malam tahun baru sudah dimulai. Dan nampaknya, tak hanya kembang api yang meledak-ledak di langit malam itu, Jongin juga merasa ingin meledak detik itu juga. Ini menyebalkan, tahu! Dialog di telepon dengan Baekhyun barusan malah membuat semuanya menjadi terasa lebih buruk.

Hah. Jikalau Jongin adalah gadis 17 tahun yang tengah—ehem—menstruasi, mungkin dia sudah menangis sekeras-kerasnya pada bantalnya dan merasa bahwa dirinya adalah manusia paling menyedihkan sedunia.

“MASA BODOH DENGAN MALAM TAHUN BARU! ASJKASJKSAJSKJSKASJAK…”

“…”

“ASTAGA!”

“Apa?” tanya lelaki bermat bulat itu.

Kau tahu, punya jendela kamar—di lantai dua—yang berhadapan dengan jendela kamar tetangga sebelah rumahmu merupakan sesuatu yang agak absurd, terkadang. Mereka bisa saja mengintip sewaktu kau habis mandi atau melakukan hal-hal mengganggu lainnya. Termasuk, muncul tiba-tiba dan melayangkan tatapan aneh padamu. Jantung Jongin nyaris melompat keluar dibuatnya.

“Apanya yang apa?!”

“Apanya yang apanya yang apa?”

“Apa—oh, lupakan…” Segalanya cukup untuk menciptakan migrain instan bagi Kim Jongin sekarang. “Kau sedang apa di sana, hah? Kau mengusik privasi seseorang, tahu! Harusnya Undang-Undang mengatur tentang hal semacam itu.” protes Jongin.

Kyungsoo, tetangganya itu, mengangkat bahu. “Aku hendak menutup jendela kamar karena udara luar—sedikit—dingin dan tetanggaku baru saja berteriak aneh di hadapanku. Lagipula, aku tidak berniat mengganggumu.”

Jongin mendengus pelan, “Sebahagiamu, Kyung, sebahagiamu.”

Kyungsoo cuma nyengir mendengarnya. Tadinya dia ingin segera menutup jendela kamar. Tapi melihat muka Jongin yang ditekuk sedemikian rupa seperti kardus TV di gudang, membuat lelaki itu mengurungkan niatnya tersebut.

“Hei,” panggil Kyungsoo. “Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja.” ucap Jongin, penuh penekanan di setiap hurufnya. “Aku terserang flu di malam tahun baru sehingga aku tak bisa bergembira ria dengan kawan-kawanku di atas gunung dan—ya, aku baik-baik saja, Kyungsoo. Terima kasih sudah bertanya.” cerita Jongin.

King-of-Drama in action, ladies and gentlemen.” Kyungsoo bertepuk tangan sembari tertawa geli. “Ya ampun, kupikir seseorang harus mengemukakan teori tentang ‘Perayaan Malam Tahun Baru Ternyata Tidak Sepenting Itu’ dan menyadarkan jutaan umat manusia dari cara pandang mereka yang konyol soal tahun baru, termasuk kau juga, sih.”

Shut up, Kyung.”

“Baiklah.”

Hening sejemang. Kyungsoo tidak beranjak sedang Jongin memilih untuk menenggelamkan wajah ke bantalnya yang empuk. Hanya suara kembang api yang makin menjadi lah yang tersisa.

Kyungsoo mendapat ide.

“Woah, kukira kembang api-kembang api di langit luar terlampau bagus untuk dilewatkan begitu saja. Oke, aku duluan, Jongin,” pria mungil itu angkat bicara. “Dan, omong-omong, kau bisa turun dan menemuiku di halaman rumah dan memanggang daging bersama. Kalau kau tidak keberatan, sih, soalnya kupikir merenungi hidup lebih menarik untuk seorang pria pemikir sepertimu.”

Jongin mengangkat kepalanya. “Berisik!”

Kyungsoo tidak berniat untuk menanggapinya sedikit pun, dia mengulurkan tangan untuk menutup jendela kamarnya; namun sebelum sosoknya hilang di balik kaca, Jongin mengumumkan sesuatu yang cukup membuat Kyungsoo puas karenanya.

“Aku ikut.”

Daging-daging sapi itu mendesis cukup keras saat bara api dari balik jeruji besi pemanggang milik Kyungsoo itu menjilat-jilat setiap inchi bagian mereka, seakan-akan meminta tolong untuk tidak diperlakukan seperti itu. Mungkin mereka punya dua anak dan seorang istri di rumah dan—ya Tuhan, ampunilah ke mana arah pembicaraan ini pergi (dan juga selera humor penulis yang berada jauh di bawah permukaan laut. Ha.).

Jongin duduk di ayunan kayu panjang bercat putih di halaman rumah Kyungsoo. Dalam bungkusan jaketnya yang hangat (berhubung malam ini dingin dan—yah—dia masih belum merasa baikan, omong-omong), lelaki bersurai kecoklatan itu memandang langit yang seramai pasar malam di atas sana. Ia yakin ini belum seberapa, sih, menjelang detik-detik berakhirnya tahun 2014 pasti lebih dahsyat dibanding ini. Seperti, kau tahu, Perang Dunia ke-III baru saja dimulai. ‘Boom boom boom!’ di mana-mana.

“Nih,” Beberapa saat kemudian Kyungsoo menyodorkan satu porsi daging barbeque di depan batang hidung Jongin, uapnya masih menggulung-gulung di udara. “Awas, masih panas.”

“Terima kasih.” kata Jongin. Tampaknya aroma daging di hadapannya tersebut menggoyahkan nafsu makannya. Apalagi daging BBQ dipanggang dengan matang sempurna oleh Kyungsoo. Ia melahap daging BBQ tersebut pelan-pelan, soalnya tenggorokan Jongin sakit untuk menelan.

Baekhyun benar, seseorang harus mendirikan suaka untuk pria pandai memasak suatu hari nanti. Ha.

“Tadinya aku ingin membuat Jus Jeruk tetapi aku ingat kau sedang sakit dan kebetulan aku sedang kehabisan persedian buahnya, jadi aku buat teh hangat saja sebagai alternatif. Tidak buruk, kan?” tanya Kyungsoo, lantas duduk di samping Jongin.

“Tentu. Terima kasih, sekali lagi.”

Kyungsoo tidak hanya menyediakan seporsi daging dan segelas teh hangat untuknya, kalau kau mau tahu. Dia punya setumpuk makanan ringan seperti keripik Tortilla, setabung Pringles, dan berbagai jenis biskuit. Mungkin saja Kyungsoo mengeluarkan seluruh isi kulkas dan lemari makanan…untuknya? Kalau iya, Jongin patut berterima kasih banyak-banyak kepada lelaki di sisinya ini.

Malam itu mereka mengobrol panjang lebar. Dan Jongin tak menduga hal seperti ini dapat terjadi. Maksudku, yah, Jongin bukan tipikal orang yang gemar membicarakan hal tidak penting sampai ke sana kemari. Ditambah lagi, Jongin dan Kyungsoo bakal selalu berbeda pendapat dalam hal apapun. Seperti, jalan pikiran Jongin menuju ke arah Barat dan jalan pikiran Kyungsoo menuju ke arah Tenggara (karena Timur sudah terlalu mainstream).

“Pasti Chanyeol tengah memainkan gitar andalannya dan mereka bernyanyi bersama sekarang.” celetuk Jongin.

“Masih dibahas saja,” gerutu Kyungsoo. “Tapi, oke, kalau kau ingin mendengar musik aku bisa mengambil MP3 Player milikku di dalam. Aku punya banyak lagu di sana, meski sebagian besarnya lagu lawas, sih. Mungkin setidaknya ada beberapa lagu yang terdengar bagus di telingamu. Tunggu sebentar, biar aku—”

No, no, no,” Jongin mencegah Kyungsoo yang hendak beranjak masuk itu. “Aku tidak butuh.”

“Oke,” Kyungsoo kembali duduk. “Kau tamu paling menyebalkan yang pernah berkunjung ke rumahku, cukup tahu saja.”

“Kau yang mengundangku, by the way.”

“Karena aku kasihan pada muka mirismu, bodoh.”

“Oh.”

“Pulang sana.”

“Hah?!”

“Kembalikan dagingnya.”

“Kau pamrih!”

“Muntahkan teh hangatnya.”

“Kyungsoo!”

Tetapi, entahlah, tiap kali Jongin bicara dengannya, dia bisa melupakan sakitnya untuk sejenak. Jongin lupa akan betapa kesalnya dia karena tak bisa ikut serta teman-temannya menghabiskan malam tahan baru di villa. Jongin lupa akan betapa menyenangkannya makan daging BBQ buatan Tao yang lezat, dan dia berpikir kalau mungkin daging BBQ buatan Kyungsoo lah yang lebih enak. Jongin lupa akan betapa serunya mendengarkan permainan gitar dari Chanyeol dan nyanyian ceria dari Baekhyun, dan dia berpikir bahwa mengobrol dengan Kyungsoo asyik juga. Jongin lupa.

Kekesalannya hilang begitu saja seiring dengan kembang api demi kembang dilepaskan oleh banyak orang ke langit bebas; mengumandangkan semarak tahun baru, menebarkan gemerlap cahaya yang menakjubkan, menorehkan warna-warna abstrak yang indah, kembang api-kembang api tersebut bermekaran di atas langit seperti bunga-bunga pada waktu musim semi tiba, lima menit sebelum jam menunjukkan pukul dua belas malam.

“Kau tahu, Jongin?”

Di tengah desingan serta letusan kembang api itu, Kyungsoo bertanya pada Jongin tanpa mengalihkan pandangan dari langit malam.

“Tidak.”

Begitu pun dengan Jongin.

“Kadang-kadang aku jengkel pada orang-orang sepertimu.”

“Kau sudah mengatakannya berulang kali malam ini.”

“Maksudku,” Kyungsoo masih menatap ke atas langit, matanya yang bulat dan lucu itu berbinar terang. Mirip bulan. “Kebanyakan orang bakal seperti: ‘Yeayy, ini malam tahun baru! Ayo, berpesta! Selamat tahun baru, semuanya!’, lalu mereka bersenang-senang, berlomba-lomba meniup terompet dan menyulut kembang api, menghabiskan malam dengan penuh kegembiraan, hingga akhirnya mereka lupa akan apa esensi pergantian tahun itu sendiri.”

Jongin mengerti apa yang dimaksud dengan ‘Pemikiran Tengah Malam’.

“Wow, materi semacam itu terdengar berat buatku, kawan.”

Kyungsoo terkekeh. “Serius sedikit tidak ada salahnya, Man.” kata Kyungsoo. “Dan—yah—bukan ini yang wajib mereka lakukan, sebetulnya. Walaupun sudah menjadi tradisi tiap tahun. Tapi, memangnya apa yang harus dirayakan dari peralihan tahun, sih? Mereka kira apa manfaatnya semua ini? Apanya yang baru sehingga mereka melakukan semua ini? Tidak ada, Jongin, tidak ada—kalender adalah pengecualian.”

“Yeah, lalu?”

“Percuma saja mereka merayakan tahun baru sehebat itu. Tahunnya tidak baru, kok, tetap ada 12 bulan, 52 minggu, dan 365 atau 366 hari. Justru yang menentukan tahunnya baru atau tidak itu manusianya sendiri. Meski dari tahun ke tahun mereka selalu merayakan dan menyambut tahun baru dengan berpesta-pesta atau hal konyol lainnya, tetapi perilaku mereka dari tahun ke tahun tetap sama dan tak pernah melakukan perubahan demi kehidupan yang lebih barang sedikit pun, lantas apa yang mereka sebut dengan ‘baru’?” jelas Kyungsoo panjang lebar. “Kau tahu maksudku, kan?”

Jongin terdiam, pun juga Kyungsoo. Keduanya masih menengadah ke atas, kembang api di langit tak kunjung padam. Kemudian, sewaktu Jongin merasa kalau lehernya mulai pegal, dia menoleh ke arah Kyungsoo.

“Sejujurnya aku tidak begitu mengerti, sih.” jawab Jongin. Kyungsoo nyaris membenturkan kepalanya ke aspal mendengarnya. Kyungsoo menggerakkan sendi putar antara tulang belakang dan tulang tengkoraknya ke arah Jongin dan menatapnya dengan tatapan: ‘Yang benar saja?!’. Kemudian, Jongin melanjutkan, “Tapi pendapatmu barusan keren juga. Dapat  darimana? Buku? Televisi? Internet?”

Lantas Jongin tertawa—entah apanya yang lucu—dan Kyungsoo yang seharusnya protes tentang ucapan Jongin (itu hasil pemikirannya sendiri, tahu!) tersebut malah ikut terbahak juga. Lagipula, dia sendiri juga geli mendengar ceramahnya sendiri. Jarang-jarang ia menjadi Kyungsoo yang seserius itu.

Pada satu dari sekian malam yang menakjubkan di tahun itu, gelak tawa mereka pecah bersama-sama, menyalurkan kebahagiaan yang terpancar dari dalam diri mereka masing-masing.

“Kyung?”

“Hm?”

“Maaf merepotkanmu, omong-omong.”

Kyungsoo tersenyum santai, “No problem.

“Kyung?”

“Ya?”

Jongin menarik nafas, sebelum akhirnya berkata, “Selamat tahun baru.”

Kyungsoo turut tersenyum kepadanya, menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi, kemudian meletakkan sikunya di atas bahu kanan Jongin dengan seenak jidat. “Well, jangan jadi orang-orang seperti yang tadi kubilang, Jongin.” kata Kyungsoo. “Dan, berhenti bersikap menyebalkan!” tambahnya.

“Singkirkan sikumu!”

Yeah.

Tahun 2014—beserta kenangan juga pelajarannya—telah terlewati, rasanya cepat sekali.

Tahun 2015—beserta impian juga semangat baru yang berapi-api—telah datang menjemput saat ini.

Dan baik Kim Jongin maupun Do Kyungsoo, menyambutnya dengan senyum kegembiraan.

Lembaran baru baru saja dibuka, waktunya menorehkan hal-hal indah di sana!

end.

.

.

.

[ E X T R A ]

“Pasang kembang apinya yang benar, Chanyeol.”

Hyung, aku takut.”

“Hiks…”

“Berhenti menangis, Tao.”

“Semoga tidak terjadi hal-hal buruk yang tidak diharapkan.”

“Chanyeol, kau yakin ini akan berhasil?”

“Ayolah, kalian paranoid. Tentu saja aku yakin.”

“Kau yakin ini aman?”

“Ya.”

“Kau yakin penyangganya kuat?”

“Ya.”

“Kau yakin—”

“Astaga, aku sudah lama ingin melakukan ini, tahu!”

“APA?!?!?!”

“KAU BELUM PERNAH MELAKUKANNYA, YEOL?!?!?!”

BOOM!

“Belum.”

DORR!

“TIDAAAAAAAAAKKK, HYUNG! KEMBANG APINYA BERALIH FUNGSI MENJADI BAZOKA!”

.it’s seriouslyend.

Maafkan selera humor daku juga segala keanehan dan ketidakjelasan fic ini kawan TTvTT Nulis apa sih aku ini hikzhikz.

Btw, yang kembang api beralih fungsi jadi bazoka itu kejadian beneran waktu pergantian tahun 2013-2014 yang lalu. Jadi kita ini masang kembang api yang gede itu ditahan pake batu dan kawat (iya, kawat), dinyalain, terus dibiarin gitu kan. Nah tembakan pertama masih ke langit, terus tembakan kedua udah ngerasa ga enak, lalu tembakan ketiga dan seterusnya, kembang apinya miring dan…….DOR DOR DOR! Kembang apinya jadi bazoka, men! Bunga apinya ke mana-mana. Keren (EH?!). Dan itu makan korban hikz, syukurlah hanya menghasilkan luka cukup ringan heuheu. Kapok deh saya .-. Semoga hal semacem itu nggak terjadi pada kalian semua😄

Last but not least, GOOD BYE, 2014! THANKS FOR ALL THE LESSONS! AND WELCOME 2015! HOPEFULLY, WE’LL BECOME A BETTER PERSON IN THIS YEAR!

Terima kasih buat siapapun yang sudah rela menyisihkan waktunya buat baca atau cuma sekedar terdampar sebentar di fic gajelas macem begini ;;__;;

Love ya, guys!❤❤❤

p.s: maafkan juga jongin yang ngga panggil kyungsoo dengan sebutan ‘hyung’, dia khilaf ._.v

XOXO,

.

.

HoneyLulu

31 thoughts on “One Great Night

  1. Yaah,,!! Telat deh bacanya.
    Maaf ya Thor, seharusnya aku dah baca ini dari dulu. Tapi baru baca sekarang..
    Next cerita yg lain ya Thor,, ni cerinya Lucuuu..
    Cerita romantis yang lebih Greget OK !!
    Fighting Thor..

  2. Q telat bgt yaa haha
    Maklum baru2 ini rajin baca ff, kmren2 blm haha #gakpenting
    Wkwkwkwk asli ini lucu bgt,, drtd senyum2 sndri, sebenenya mau ketawa tp nnti disangka gila, ketawa sama hp #gubrakk
    Keren ff nya, daebakkk 👍👏👏👏

    • engga dooong eheheh lagian ini mau dibaca kapan aja juga gapapaa kok ehehehe x)) selamat datang di dunia per-ff-an(???)! x))

      ehehehe emang apa apa tentang kaisoo itu bikin gemes yaa wkwk. terima kasihh sudah baca dan komentar❤

  3. AH DEMIAPA AKU TELAT SEKALI BACA INI DI BULAN APRIL MENJELANG MEI ORZ;;; AAAAA ;;:

    Yaampun, aku sukabgt gaya bahasamuu! Kaisoo omg<3<3. Well, aku suka karakter mereka di sini (dan karakter bodoh Chanyeol yang ternyata memang melekat erat disetiap fanfiction manapun lol😄 ). Merek ucul aneeetttt> w <. Ditunggu ff bergenre friendship lagi, mengingat ff seperti ini termasuk langka dan harus dilestarikan8″D (soalnya aku banyak liatnya versi gs, yaoi atau oc).

    Syemangattt!;^D♡♡♡♡♥♥♥♥.

  4. Kaisoo emang deh paling TOP!! Dibanding bbq tao kayanya emang lebih enak punya kyungsoo deh. Tao mah bikin permen gula2 aja bentuknya gagal wkwkwk (showtime episode 12).

    Itu ngapain coba yg divilla bikin bazoka? Wkwkwk. Chanyeolnya pea pula….

    • HAHAHAH paling TOP yaa😄 Iklan kopi chorom :’) Yah iyaa dong secara Kyungsoo yang ngebuat wkwk da Tao mah apa atuh heheheheh😄

      Mereka nyalain kembang api terus miring wakakak jadi kayak bazoka kita deh hehe ciyaan banget :”) Chanyeol mah ngawurrr bukan kelakuan aja ngawur muka juga ngawur /hah /apa.

      Anyway, terima kasih sudah baca dan komentar xoxo❤

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s