Diposkan pada Fanfiction

Innocent Girl

FF titipan dari temen ^^ ceritanya simple, tapi aku suka sama temanya. Enjoy, dan jangan lupa comment ya~

Innocent Girl cover

Tittle: Innocent Girl

Author: WWW

Genre: Schoolife, Psycologi

Main cast: Han Hyoki, Xi Luhan

Legth: Oneshoot

PG: 15

Disclaimer: inspirasi ff ini muncul pas author lagi di alam mimpi. Pas itu author mimpi sekelas sama Luhan. Terus pas bangun, authro ngayal-ngayal sebentar, and akhirnya… jadi deh ide buat mbuat FF ini. okey, Happy reading for all ^^

Dunia ini memang sudah gila.

Hal-hal yang berbau porno sekarang sudah merajalela, bahkan gak ada sensor. Dulu, kalo ada anak nglihat gambar atau adegan ciuman, orangtua langsung sigap menutup mata anaknya. Tapi dulu gak sefrontal sekarang. Dulu, ciuman atau yang berbau porno langsung di cut atau di sensor. Tapi sekarang? jarang ada sensor lagi. Semua itu kayak digembleng begitu aja dimata kita tanpa filter. Orang tua juga kayak gak memberlakukan lagi aturan lama: menutup mata anaknya pas ada adegan porno. Bahkan, jaman sekarang banyak hal-hal (seperti film, lagu, bahkan mainan, dll) yang menjurus ke… yang namanya… sex.

Aku Hyoki. Sudah 17 tahun. Kata orang, kalau sudah umur segitu, namanya sudah dewasa. Sudah boleh tau semua tentang orang dewasa, termasuk sex. Tapi gak tau kenapa, sampai umur segini, aku masih tabu kalau ngomongin sex.

“ah… emh…”

“kalian nonton apa?” tanyaku ke temanku yang menggerombol menonton video di laptop. Beberapa dari mereka menggigit bibir bawahnya dengan penuh nafsu.

Mereka gak jawab. Aku langsung aja nrombol dan ngintip.

“astaga!!” responku itu membuat semua temanku menoleh ke aku.

“ah… hehe.. maaf… lanjutkan.”aku tau mereka terganggu, jadi lebih baik aku pergi saja dari situ.

Saking tabunya aku sama hal-hal yang seperti itu, aku sampai dikira gak normal sama temen-temen. Tapi tidak buat sahabatku. Sahabatku malah memberitahu aku kalau sex diluar nikah itu sangat berbahaya. Jadi, dia mengatasi ketabuanku dengan cara yang tepat.

“virus HIV itu bisa nular di 3 jalur. Sperma, indung telur, dan darah. Jadi, kalau kita melakukan sex sama orang yang kena HIV, ya kita tertular.” Jelas Dongyo, sahabatku, sambil membawa buku tebal.

“terus?! Gimana caranya kita tahu orang itu kena HIV atau enggak? Kalau nikah gimana?”

“menurut penelitian, masa inkubasi virus HIV 7-10 tahun. Jadi, sulit membedakan orang yang udah kena HIV atau belum kalau secara kasat mata. Kalau kita mau nikah, lebih baik cek ke dokter apa pasanganmu itu positiv HIV atau negatif.”

“cara mencegahnya gimana?”

“cara pencegahannya mudah kok. Hindari saja yang namanya sex bebas dan setia pada pasangan.”

“oh, jadi meskipun pacar kita kena HIV, terus melakukan sex sama dia, tapi kita setia sama dia, kita gak kena HIV?”

Dongyo langsung menepok jidatnya sampai hampir kena kacamata tebalnya. “ya tetep kena lah”

“katamu tadi, setia pada pasangan bisa mencegah virus HIV” kataku polos.

Tapi, lambat laun aku mulai berusaha menghilangkan ke tabuanku tentang sex, meskipun perkembangannya masih sangat lambat.

***

Aku berjalan melewati koridor sekolah. Ini hari keduaku aku bersekolah di sini, di sekolah yang lebih parah dari sekolah lamaku. Anak-anaknya disini banyak yang ‘frontal’. Apalagi yang perempuan. Mereka frontal memamerkan paha mulusnya dengan rok yang sependek mungkin, juga memamerkan bentuk badannya dibalik kemeja yang ngepres.

Kalau aku berjalan di sini, aku berasa orang culun. Bagaimana tidak? Rokku sepanjang lutut, itu pun sudah aku pendekkan kemaren. Kemejaku juga tak sengepres mereka. Masih ada celah longggar untuk angin masuk. Aku berasa alien disini.

Seorang laki-laki menghalangi langkahku. Kami hampir saja bertabrakkan. Tinggiku hanya selehernya. Jadi pandanganku tertutup sama dadanya yang berkemeja. Kami lalu saling berpandangan. Tapi aku tidak menatap matanya. Tusuk permen yang muncul dari mulutnya menyita perhatianku.

Aku bergeser ke kiri untuk melanjutkan jalanku, dia juga ikut. Aku ke kanan, dia juga ikut. Kami sama-sama bingung.

“haish! Oppa, silakan jalan duluan…” pintaku menyuruhnya lewat di sampingku.

Dia melepas pemennya. “oppa?” lalu ia pergi begitu saja.

“kau tidak mau kupanggil oppa?” gerutuku heran setelah ia sudah pergi. Padahal ia terlihat lebih tua dariku. Hanya mukanya saja sih memang masih unyu-unyu. Tapi aku bisa membedakan mana yang unyu-unyu tua dan mana yang unyu-unyu muda.

Baru saja aku duduk di bangkuku, ‘oppa’ tadi tiba-tiba masuk kelasku. Berjalan dengan santai menyaku kedua tangannya dengan mulut yang masih mengemut permennya. Aku bingung, kenapa dia ada disini? apa dia mengikutiku?

Dia berjalan ke bangkuku. Aku semakin yakin dia akan menghampiriku. Apa dia masih protes ku panggil ‘oppa’tadi?. Apa seburuk itukah ‘oppa’ baginya?

Aroma parfumnya lewat di hidungku bersamaan dia lewat. Ternyata aku salah, dia tidak menghampiriku. Dia terus berjalan hingga akhirnya dia duduk di bangku.

“eh Ahjung, dia anak kelas ini?” bisikku pada teman sebangkuku.

“siapa?”

Aku menoleh sebentar ke ‘oppa’itu. “dia yang makan permen”

“ohh… iya! Dia anak sini. masak kamu gaktau?”

Sekarang aku tahu alasannya kenapa dia gak mau kupanggil ‘oppa’. Karena kita seumuran.

“ya… aku kan baru 2 hari disini, jadi aku masih belum hafal semua muka disini.”

“namanya Luhan. Dia cowok paling polos disini.”

“polos?” aku coba melihat dia lagi. Memang iya sih masih terlihat polos. Apalagi dia makan permen cupcup, malah terlihat seperti anak TK.

aku langsung memalingkan muka dari Luhan setelah dia membalas pandanganku.

“iya. dia polos. Polooooooos sekali. Kau kemarin sudah ku ceritakan kan kalau semua anak disini sudah pernah melakukan itu? nah, cuma Luhan saja satu-satunya anak disini yang belum pernah melakukan itu.”

“melakukan apa?” tanyaku polos.

“melakukan itu.”

“itu apa?”

Ahjung menepok dahinya. Dia lelah menghadapi pertanyaanku ini. Habis, aku tidak tahu apa yang dimaksudkan Ahjung melakukan apa.

“s… sex” jawabnya lirih.

“APA?!”

Ahjung langsung membungkam mulutku karena suaraku terlalu keras. Aku memang terlalu sensitif dengan kata-kata itu. Ya, karena ketabuanku dengan hal itu belum sepenuhnya hilang.

“jangan keras-keras! nanti dikira kita membicarakan dia”

“memang iya kan?”

***

Sepertinya, ibuku salah menyekolahkanku disini. Atau ibuku malah sengaja menyekolahkanku disini biar aku cepat dewasa? Tapi menurutku ini terlalu berlebihan. Apa kepolosanku terlalu berlebihan menurutnya? Hingga ia tega menyekolahkanku di tempat yang seperti ini, ditempat yang setiap hari menyuguhkan kesexyan seragam sekolah wanita dan pergaulan perempuan dan laki-laki tiada batas? Kalau ibu tidak sengaja menyekolahkanku disini, untuk apa dia menolak keinginanku untuk pindah dari sini?

Baiklah, aku harus tetap jalani keseharianku disini walau masih berpangkat polos.

“Apa?! kau belum pernah?!” kaget Ahjung, Bora dan Woomin.

Angguku pelan. “Memang apa salahnya kalau aku belum pernah melakukan itu? lagipula aku juga belum siap.” Jelasku pada mereka yang menggerombol di bangkuku.

Mereka mendengus prihatin.

“Hyoki… kau sekarang tidak sedang tinggal di jaman kerajaan! Ini jaman modern, tahun 2014 abad 21 milenium ke-2, beb. Kalau kamu masih virgin, kau dianggap ketinggalan jaman” ujar Bora menggebu-gebu. Dia berkata seperti itu bukan mencibirku, tapi seakan menyadarkanku.

“tapi… aku masih 17tahun. Aku belum siap melakukan itu. berdekatan dengan laki-laki saja, aku deg-degan setengah mati. Apalagi dia meniduriku”

“anak ini sepertinya butuh bimbingan khusus” Woomin menepuk pundakku simpatik.

“maksudmu?” aku membelalakan mata. Mencoba melihat apa yang dipikirkan Woomin.

Bimbingan khusus yang Woomin maksud adalah…

Pagi hari yang dingin, aku harus rela kedinginan juga di bagian pahaku. Jadinya aku harus menutupinya dan berjalan tidak senyaman dulu. Kemeja yang kupakai membuatku repot karena aku hanya punya dua tangan. Dan kedua tanganku sudah kubuat untuk menutupi pahaku, sedangkan kemejaku juga menuntutku untuk ditutup. Seragam milik Bora ini benar-benar menyebalkan. Juga tidak membuatku konsen berjalan karena sibuk menutupi ini itu.

Aku berjalan aneh seperti ini menyusuri koridor. Menunduk-nunduk, berharap tidak ada yang memperhatikan. Tapi, namanya juga tempat terbuka, jadi mereka bisa melihatku. Andai saja tanganku banyak seperti gurita, pasti aku bisa menutup paha, badan dan mukaku.

BRUKKK

Seorang laki-laki menabrakku karena aku tidak begitu konsentrasi berjalan. Saking kerasnya, ia membuatku terjatuh berbaring dan… dia… ada diatasku!

Mata kami sama-sama membulat dan saling menatap. Untung saja kedua tangannya spontan menyanggah lantai, jadinya kami tidak sampai… dan aku bisa melihat wajahnya yang memerah, juga melihat batang permen cupcup muncul dari mulutnya. Dia…

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA” teriakanku menggelegar. Sampai membuat Luhan enyah dari posisi kami.

Ia melepas permennya sejenak, lalu menggenggamnya di kedua tangannya. Seperti mau menyembah dewa-dewa Konghuchu “a! Ah! mi… mi… mianhae…” dia langsung pergi.

Aku masih mematung di tempat. Aku tidak percaya apa yang barusan terjadi. Khayalanku langsung meluber kemana-mana. Rasa khawatir seandainya dia tidak menyanggahkan tangannya dilantai, muncul dikepalaku berserta akibatnya. Apalagi aku sedang berpakaian seperti ini.

“Ah… mianhae!”dia datang lagi. Kali ini dia datang untuk membantuku berdiri.

“Mianhae!”dia menunduk dan langsung pergi. Aku juga segera pergi dari situ. Kejadian ini membuatku shock.

***

Aku berjalan malam-malam di koridor sekolah. Aku tidak tahu kenapa aku ada disini. Seingatku, aku tadi sudah ada di rumah siang harinya. Tapi kenapa aku ada disini lagi dan masih memakai seragamnya Bora?

Aku yang tidak tahu menahu ini tetap berjalan menyusuri koridor. Kurasakan koridor ini lebih panjang dari biasanya. Juga lebih gelap. Aku heran pada diriku, kenapa aku tidak ketakutan di suasana yang mencekam ini.

Aku tak peduli, aku terus berjalan.

BRUKKK

Lagi-lagi aku ditabrak seorang laki-laki. Aku yakin aku tadi berjalan konsentrasi, tapi kenapa aku masih saja bisa ketabrak?

Tabrakan itu membuatku lagi-lagi seperti posisiku bertabrakan dengan Luhan tadi pagi. Dan yang menabrakku juga Luhan lagi. Anehnya, aku tidak terkejut atau apa. Kami hanya diam.

Mata Luhan berubah jadi tajam. Perlahan ia dekatkan wajahnya padaku sampai dekat sekali, karena dia tidak sedang makan permen cupcup. Aku hanya diam, tapi jantungku memompa darah begitu cepat. Membuat panas dingin sekujur tubuhku. Perlahan tangan Luhan melepaskan sanggahannya dari lantai. Kehangatan darinya mulai kurasakan perlahan… perlahan… dan… Kamipun berposisi…

“WAAAAAAAAAAAAAAAAAAA”

“Hyoki!! Kau tidak apa-apa?!” tanya Ahjung.

Aku terbangun. Aku melihat sekelilingku dengan jantung yang masih berdetak kencang. Anak-anak sekelas dan guruku melihatku heran. Ternyata aku ketiduran dikelas, dan tadi itu hanya mimpi.

Aku spontan menoleh ke Luhan. Dia mengedipkan kedua matanya di wajah polosnya dengan penuh tanya. Aku langsung memalingkan wajahku ketakutan.

“kenapa… dia… yang… muncul?” batinku.

***

Sejak mimpi itu, aku jadi takut ketemu Luhan. Kalau aku melihat wajahnya, mimpiku dengannya saat itu selalu terbayang-bayang. Aku jadi malu sendiri. Tidak hanya membayangi, tapi juga muncul khayalan kalau aku dengannya melakukan itu.

“WAAAAAAAAAAAAA”aku langsung lari ketika aku melihat Luhan berjalan ke arahku. Bora, Ahjung dan Woomin kaget melihatku yang sedari tadi hanya diam saja lalu tiba-tiba berteriak dan lari ketakutan.

“anak itu kenapa?”tanya Bora heran.

Aku melihat-lihat buku di perpus. Lalu aku tak sengaja menemukan buku yang judulnya tabu bagiku. “Proses Pembuahan Manusia”.

Aku ragu antara mau membacanya atau tidak.

SSTTT

Seseorang mendekatiku dan mengambil buku di rak atas. Spontan membuatku menoleh padanya. Dia juga menoleh padaku dengan polosnya.

Permen cupcup yang sedang ia makan membuatku membelalakan mata. Aku langsung lari dari situ. Dia… siapa lagi laki-laki yang suka makan permen cupcup kalau bukan LUHAN!

“WAAAAAAAAAAAA”aku hanya bisa berteriak dalam hati. Karena aku disadarkan oleh rak-rak buku ini yang mengisyaratkan kalau ini perpus.

Aku mengambil beberapa roti untuk makan siang bersama Bora, Ahjung dan Woomin. Mereka menungguku di meja makan. Dengan santai aku menghapirinya.

CKKK

Salah satu rotiku jatuh karena aku kerepotan membawanya.

Tangan seseorang membantuku mengambilkannya saat aku juga akan mengambilnya.

“WAAAAAAAAAAAAAA” teriakanku menggemparkan kantin. Aku lari dari situ dan membiarkan roti itu dibawa olehnya. Oleh Luhan.

Kulihat, wajah polosnya (yang masih makan permen cupcup) bertanya-tanya.

“WAAAAAAAAAAAAA AKU BISA GILAAAAAAAAAA” aku ngomel-ngomel sendiri di kaca toilet. Untung toilet sedang sepi, jadi tidak ada yang mendengar omelanku ini. Juga Luhan tidak akan datang kesini untuk bertanya: kau kenapa?. Ah! Kenapa Luhan lagi?!

Aku jadi berfikir, mungkin tempat nongkrongku disini saja supaya Luhan tidak muncul di hadapanku.

“Hyoki, kau kenapa sih?” tanya Ahjung yang datang tiba-tiba bersama Woomin dan Bora.

“Ah, tak apa. aku hanya ketakutan”

“takut apa?”tanya Bora seraya membenarkan kemejanya di kaca supaya terlihat lebih sexy.

“ehm…”

“cerita saja, kami kan sahabatmu.” Ujar Woomin.

“aku… aku takut sama Luhan”

Aku bisa menebak ekspresi mereka. Pasti kaget. Tuh kan bener.

“Luuuhan?” serentak mereka. Mungkin ini gila bagi mereka karena Luhan tidak punya wajah seram.

Aku mengangguk pelan.

“kenapa kau takut padanya?” tanya Woomin penasaran.

“aku… kemarin betabrakan dengannya”

Semua hanya menahan tawa. Aku tau ini konyol, tapi tidak lucu bagiku.

“kenapa harus takut kalau cuma bertabrakan? memangnya dia akan mengancam untuk membunuhmu karena kau sudah menabraknya?” tanya Bora.

“tidak. kami… saat kami bertabrakan, kami jatuh bersama dan… posisi kami… AAAAAAAA” aku memegang kepalaku, tidak ingin mengingat kejadian itu lagi.

“posisi apa?” tanya mereka penasaran.

“dia… di… atas… dan aku… di bawah”

“HAHAHAHAHA” mereka serentak tertawa.

“ya ampun beb, kami polos sekali” Bora merangkulku. Ia mencubit pipiku dan memandang wajahku lewat kaca.

“AAAAAAAA tapi aku takuuuuut”

“ckckck… kalau aku jadi kau, aku langsung tarik bajunya, lalu… kan mumpung dia masih suci”ujar Woomin.

“WAAAAAAAAAAA” aku langsung melangkah mundur. Apa yang dikatakan Woomin membuatku merangsang membayangkan hal yang tidak-tidak dengan Luhan.

“sepertinya kau harus melakukan tahap kedua bimbingan khusus kami”ujar Ahjung.

Mereka mengenalkanku pada Kris. Laki-laki tinggi seperti tiang dari kelas sebelah. Kabarnya dia playboy. Tapi kata Bora, dia orang yang tepat untuk mengenalkanku pada dunia dewasa.

Aku dan Kris bertemu di dekat kantin sepulang sekolah.

“Kau… belum pernah kencan sebelumnya?”tanyanya.

“belum.” Aku jawab sambil menunduk. Kau taukan kalau aku nerveous dekat laki-laki.

“ouh… kalau begitu, bagaimana kalau kita kencan besok.”

“ah?” kencan? Baru pertama kali aku diajak kencan dengan lelaki. Aku ingin menolaknya, tapi ini harus kulakukan karena demi menghilangkan ketabuanku.

“bagaimana? kau mau?” Hembusan nafas Kris di pipiku membuatku kaget dan memaksaku untuk menatap mata tajamnya.

“e… ba… baiklah” aku memaksakan senyumku keluar untuknya. Kris pun membalas senyumanku.

“WAAAAAAAAAAAAAAAA”

Kris kaget dengan teriakanku.

“Kau kenapa?” Kris menahan tanganku untuk pergi.

“a… aku…. aku takut… dengan sosok pria di belakangmu!” aku melepas paksa tanganku dari Kris, lalu lari.

“siapa? Hantu?” tanyanya. Ia lalu menoleh. Ia pasti melihat sesosok laki-laki polos sedang memakan permen cupcup berdiri polos dibelakangnya.

“kau hantu?” tanya Kris pada sosok itu.

Laki-laki itu melepas sejenak permen cupcupnya untuk menjawab “aku Luhan, bukan Hantu”

Entah kenapa Kris juga ikutan lari ketakutan.

“kenapa sih gadis itu?” tanya Luhan lalu memasukan kembali permen cup-cupnya.

***

Kami berdelapan mengadakan kencan bersama. Aku dengan Kris sedangkan Bora, Ahjung dan Woomin dengan pacarnya masing-masing.

Aku hanya memandang polos mereka bertujuh yang sedang asyik mengobrol di meja restoran cepat saji. Pakaian Bora, Ahjung dan Woomin sangat sexy, membuatku merasa jadi anak kecil diantara mereka karena pakaianku yang masih terbilang imut ini. Hanya sweeter dan celana jins. Malam ini, aku benar-benar polos sekali.

Kris yang daritadi menghiraukanku, lalu memandangku. Dia sepertinya sadar kalau aku daritadi diacuhkan.

Tiba-tiba tangannya menyentuh bibirku. Apa yang akan dia lakukan?

“Hm… kau lucu sekali”

Ternyata dia membersihkan noda makanan di pinggir mulutku. Aku jadi deg-degan. Wajahku mulai memerah. Lebih memerah lagi saat ia tersenyum padaku.

Malam mulai larut. Aku belum juga pulang. ini kali pertamaku aku pergi sampai malam dengan teman-teman. Biasanya kalau malam seperti ini, aku ada dirumah sedang belajar ataupun chating dengan Dongyo.

Mereka mengajakku ke sebuah hotel.

“kenapa kita kesini?”tanyaku ke Kris. Tanganku dibiarkan melingkar di lengannya. Itupun dia yang menyuruhku bergandengan tangan seperti itu.

“kita akan kencan di dalam hotel.”

“apa kencannya belum selesai?”tanyaku dalam hati.

Aku lalu bertanya pada Bora.

“apa yang akan kita lakukan di hotel ini?”

“kau pasti akan tahu. Ya kan beb” Bora merangkul kekasihnya.

“tunggu sebentar! Apa kita akan menyewa kamar?” tanyaku karena aku sudah mulai mengerti apa maksud ‘kencan’disini.

“yap! Akhirnya kau mengerti juga”

Aku pasang wajah bimbang. Akankah kesucianku hilang malam ini? kata-kata Dongyo tentang HIV langsung terngiang ditelingaku.

“tenang… dia pakai pengaman kok” ujar Bora berusaha menenangkanku.

“pengaman?” gumamku.

“ayo sayang… aku sudah gak kuat! ayo kita duluan saja” kata-kata kekasih Bora itu membelalakan mataku. Sampai mereka berjalan menyusuri tangga, mataku masih belum menciut. Lalu disusul Ahjung dan Woomin dengan pasangannya masing-masing mengikuti Bora.

“ah! Semoga malam ini malam yang indah untukmu!”kata Woomin padaku.

Aku masih diam terpaku di bawah tangga. Aku benar-benar tak percaya malam ini aku akan mengikuti jejak mereka. Bangga atau tidak, aku tidak tahu. Kini aku jadi diambang kebingungan.

“maaf lama menunggu”Kris tiba-tiba muncul dan merangkulku.

“kajja…” dia mengajakku pergi ke kamar yang sudah ia pesan. Salivaku membuatku menelannya tiba-tiba. Langkahku juga masih ragu. Ya tuhan, apakah malam ini kesucianku diambil pria tinggi nan kaya yang merangkulku ini?

Suara HP Kris tiba-tiba berbunyi. Itu menghentikan langkah kami.

“yeobseyo?”

Aku memperhatikan dia bertelpon.

“hah? Oh! Iya, baiklah, tunggu sebentar.”

Kris seperti ada urusan.

“Hyoki ah~ maaf aku membuatmu menunggu lagi. Aku ada urusan sebentar dengan temanku. Dia datang kesini. Aku tidak akan lama.” Kris pun meninggalkanku sendirian di tangga.

Di tangga ini terlihat sepi. Lebih baik aku menunggu Kris di ruang tunggu saja.

Kuhabiskan waktuku menunggu Kris untuk berfikir. Haruskan aku menerima malam ini? tapi kata Dongyo, sex bebas itu berbahaya. Tapi kata Bora, Kris akan pakai pengaman, jadi itu bisa aman. Huh, aku jadi bingung. Menggingat teman sekelasku semua, bahkan hampir satu sekolah sudah pernah melakukan, membuatku memilih untuk menerima malam ini. Tapi kata-kata Dongyo tetap mempertahankan diriku agar menolak malam ini. Aku jadi dilema.

Tapi… apa jadinya ya kalau akau menerima malam ini? akankah aku teriak histeris saat Kris membuka pakaiannya? Lalu pingsan saat Kris mulai mendekatiku. Itu masih mending kalau pinsan, kalau jantungku berhenti mendadak bagaimana? sejujurnya, aku belum siap.

Ya tuhan! Apa yang harus kulakukan?!

Seseorang menghentikan langkah kakinya tepat di depan mataku. Agak jauh sedikit sih. Aku hanya bisa melihat sepatu kets lucunya karena aku sedang menunduk.

Kulihat wajah pemilik sepatu itu dan membuatku terkejut.

“WAAAAAAAAAAAAA”

Aku lari meninggalkan dia. Bahkan lari meninggalkan hotel.

“hah!”aku ngosngsan setelah sampai di halte. Astaga! Dia benar-benar hantu! Tidak di sekolah, tidak disini, wajah polosnya yang memunculkan tusuk permen cupcup itu selalu muncul di hadapanku! Apa dia mengikutiku?!

Akupun tersadar kalau aku sudah ada di luar hotel. Sejauh itukah aku lari dari dia? Kulihat sekitar, sudah sepi. Hanya suara kendaraan yang meramaikan jalanan ini. Lebih baik aku pulang saja, daripada aku kembali nanti aku bertemu Luhan lagi.

Bus tidak juga datang. Aku mulai kedinginan disini. Suasananya juga menakutkan. Apa lebih baik aku kembali saja ya ke hotel? Pasti Kris juga sedang menunggu.

“Hai manis!”segerombolan, kira-kira 5 orang laki-laki mendekatiku. Mereka tampak menyeramkan.

Aku tidak membalas sapaannya. Aku langsung mengambil Hpku dan berpura-pura sibuk.

“wow, sombong sekali kau…”

Aku tidak peduli. Aku terus memandangi HP. Aku sms pada eoma agar appa menjemputku disini.

“A!” salah satu dari mereka menyentuhku.

Mereka bukan tambah takut, tapi malah mendekat. Ya Tuhan tolong aku!

“Hei ahjussi…” seseorang memanggil mereka. suaranya cukup keras padahal truk dan mobil lalulalang berisik.

“Luhan?” mungkin kali ini aku harus menahan ketakutanku melihat Luhan. Semoga Luhan datang untuk menolongku.

Luhan lalu menghampiriku. “jangan goda pacarku!” dia lalu menggandeng tanganku.

“hei anak kecil! Masih kecil sudah pacaran! Makanya kau tidak becus menjaga pacarmu itu. Lebih baik berikan dia pada kami saja! kami lebih macho”

Luhan hanya menatap sinis para pria yang wajahnya mesum itu.

“tidak akan!” Luhan langsung membawaku pergi. Para ahjussi-ahjussi mesum itu tidak berbuat apa-apa.

Sepanjang jalan, aku kuatkan imanku untuk tidak berfikir apa-apa. Rasanya pingin membludak, lari dari Luhan. Tapi, melihat suasana malam yang mengerikan seperti ini, aku jadi takut. Baiklah, aku akan tetap pasrah di genggaman Luhan.

Dia tiba-tiba berhenti. Lalu mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sesuatu itu membuatku mendenguskan nafas. Permen cupcup. Dasar anak polos!

Ia lalu melepas genggamannya untuk membuka bungkus permen itu. mungkin karena aku memperhatikannya membuka permen itu, dia jadi menoleh padaku.

Dia menyodorkan permen itu padaku.

“ah.. tidak usah… ini sudah malam, tak baik makan permen”

Dia pun memasukan permen itu ke dalam mulutnya.

“kau kenapa takut padaku?” tanyanya sambil permen itu masih ada di mulutnya. Tapi ia taruh di sisi kiri supaya bisa bicara.

Pertanyaan itu membuatku terangsang lagi dengan pikiran-pikiran yang aneh.

“ah…. ehm… tidak… tidak apa-apa…”

“kau aneh sekali”

“maaf…” aku jadi sungkan.

Suasana hening seketika. Kami terus berjalan menyusuri trotoar yang panjang sekali. Kami seperti tidak punya tujuan.

“kau sedang apa di hotel?”tanyanya membuka memecah keheningan.

“ah! Aku…” haruskah kuceritakan padanya?

“aku melihatmu dengan Kris. Apa kalian mau berkencan di hotel?”

Kalau kau tahu, kenapa tanya? Dasar!

“ehm… iya. Tapi! Aku tidak jadi melakukannya. “

“karena kau takut padaku dan kabur dari situ.”

“ehem. Itu semua gara-gara kau! Aku jadi tidak jadi kencan dengannya”

Dia lalu berhenti. “salah sendiri takut denganku”

muka polosnya rasanya ingin kuinjak-injak.

***

Keesokan harinya, aku mulai tidak takut lagi dengan Luhan gara-gara kemarin. Rasanya, kemarin itu aku lebay sekali sampai teriak-teriak ketakutan padahal yang muncul hanya sesosok Luhan. Hm… aku memang lebay.

Di toilet, aku mendengar suara tangisan. Aku kira itu hantu, ternyata bukan.

“Bora?” aku mendapati Bora menangis tersedu-sedu di depan kaca. Hidung merahnya menandakan kalau dia sudah lama sekali menangisnya.

“Hyoki…”ia lalu memelukku. Sesuatu lalu jatuh dari tangannya.

“kau kenapa?”

Pertanyaanku malah membuat tangisannya menggelegar.

“sudah, tak apa, ceritakan padaku.”

Ia melepas pelukanku. “aku…. aku hamil”

“apa?!”aku terbelalak tak percaya. “ta.. tapi kau kan baru kemarin melakukannya. Kok kau bisa tahu kalau kau hamil?”

“kau tahu kan kalau aku tidak hanya kemarin saja melakukannya.”

Aku kaget mendengar berita itu. Bagaimana bisa? Kata Bora, pacarnya selalu pakai pengaman, tapi kok Bora bisa sampai hamil?

Aku hanya bisa mengelus-elus pundak Bora sebagai rasa kasihanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain itu.

“aku takut apa kata orang nanti…” Bora kembali ke pelukanku. Menurutku, itu salah Bora sendiri, jadi ia harus menanggung akibatnya.

“aku tak mengharapkan anak ini!” Bora memukul-mukul perutnya setelah ia melepas pelukanku.

“eh Bora jangan!”

Bora lalu pergi meninggalkanku sendirian di toilet.

Mendengar berita itu, aku berasa disadarkan oleh Tuhan. Kalau saja aku mengikuti mereka agar kehilangan virginku, kira-kira aku bisa tidak ya mengurus bayiku? Ah, terlalu jauh! kira-kira aku bisa tidak ya menjaga imageku didepan orang-orang kalau aku hamil di luar nikah? Ngeri membayangkannya kalau sampai aku tidak diaku anak oleh orangtuaku. Ngeri juga membayangkannya kalau aku nanti melakukan aborsi lalu aku stres dan depresi. Mungkin juga aku bisa jadi mayat karena aku bunuh diri gara-gara depresiku. Mengerikan.

Kenapa pikiranku jadi kemana-mana? Huft…

***

Keesokan harinya, aku mendengar berita buruk lagi. Bahkan lebih buruk. Membuat gempar seluruh kelas.

Kudapati bangku Bora kosong. Woomin dan Ahjung menangis, sedangkan teman-teman yang lainnya (termasuk aku), seperti tersambar bledek mendengar berita ini. Berita yang katanya sudah yang ke dua kalinya terjadi di kelas ini dangan kasus yang sama: bunuh diri.

Baru saja kemarin aku mengkhayal yang tidak-tidak tentang nasib hamil diluar nikah lalu bunuh diri, aku tak menyangka itu bisa terjadi juga. Dan aku tidak menyangka itu menimpa temanku sendiri, Bora. Ku dengar, setelah kemarin ia minta pertanggungjawaban pada pacarnya dan pacarnya tidak mau tanggung jawab, ia bunuh diri menabrakkan diri di rel kereta.

“Bora…” Woomin menangis pada bangku Bora yang kosong. Mereka teman sebangku.

Tak terasa, aku juga ikut menangis. Kasihan Bora. Nasibnya jadi buruk hanya gara-gara satu malam yang nikmat. Aku jadi bersyukur pada Tuhan, karena Dia memberikan pangkat polos untukku.

Ngomong-ngomong soal ‘polos’, aku jadi ingat Luhan. Karena menurutku yang polos di kelas ini cuma dia dan aku. Kulihat dirinya dibangkunya sedang duduk menyaksikan Woomin menangisi Bora. Di suasana yang duka ini, mulutnya masih saja mengemut permen cupcup.Tapi matanya terlihat menaruh rasa kasihan pada Bora. Luhan… mungkin kita harus bersyukur diberi pangkat polos oleh Tuhan, karena mungkin kita dihindarkan oleh Tuhan dari perbuatan yang keji.

Luhan lalu melihatku juga. Seperti mendengar apa yang aku batinkan. Aku langsung membuang muka darinya.

***

Aku sekarang sedang menunggu bus di halte. Aku pulang terlalu sore karena aku harus melaksanakan piket. Jadinya aku menunggu bus di halte ini sendirian. Bus juga tak kunjung datang.

Mungkin aku terlalu serius menanggapinya atau apa, kejadian Bora ini tidak menjadikan anak-anak disekolahku jera untuk melakukan sex bebas. Rupanya sex bebas sudah menjadi kebutuhan bagi siswa-siswi disekolahku. Tidak ada perubahan atau kesadaran dalam diri mereka walaupun jumlah kejadian seperti Bora di sekolahku sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi. Bahkan, disekolahku juga ada penderita HIV. Aku hanya bisa menggelengkan kepala mengetahui kenyataan ini. Prihatin.

Rupanya, ibuku mempunyai tujuan menyekolahkanku disini. Dan sekarang aku mulai merasakan tujuan ibuku itu. Ibuku ingin aku mengetahui tentang sex (karena ia paham sekali kalau aku anak polos) dan akibat melakukan sex sebelum waktunya. Terimakasih ibu.

Aku mendengar langkah kaki mendekatiku. Lantas aku menoleh ke orang itu.

Kami hanya diam-diaman. Laki-laki itu lalu mendekat padaku. Aku tidak lari dari situ karena aku sudah tidak takut lagi dengannya. Dengan Luhan.

Tapi… kenapa aku malah deg-degan? Kulihat sekeliling tidak ada orang. Hanya ada kami berdua.

Dia lalu menyodorkanku permen cupcup dari saku kemejanya untuk menghilangkan kecanggungan. Rupanya dia ingin berbagi ‘kebahagiannya’bersamaku.

“haruskah aku menerimanya?” tanyaku.

Dia mengangguk polos.

“baiklah, kelihatannya juga enak.” Aku langsung meraih permen kebanggaan Luhan itu. Kubuka bungkusnya, permen itu berwarna merah dan terlihat manis. Aku langsung saja melahapnya.

Kamipun, si duo polos dari kelas 3A, makan permen cupcup bersama, di halte sambil menunggu bus, hingga akhirnya hujan datang menyerang kami.

END

Iklan

Penulis:

Writer - Painter - Gamer - Reader

37 tanggapan untuk “Innocent Girl

  1. Kalo kataku sih baca ff ini tuh asik banget. Ngefeel bgt kalau sekolah hyoki-luhan itu siswa-siswinya uda biasa dgn sex… Dan lagi pesan moralnya nyampe. Gk seperti ff kebanyakan yg cuma ngandalin “skinship berlebihan” tp tdk ada pesan yg bisa diambil dr ffnya.
    Aku penasaran sama luhan. Kalau bisa sequel sih, ngebahasa luhan hehe

    1. Terimakasih… kamu juga asik kok (?)

      Author gak nyangka kalo pesan moralnyabakalan nyampek . Kirain yang bakalan nyampek cuma adegan2 ‘itu’nya aja XD.

      sequel… Insya Allah ya… Doakan bisa 😄

      terimakasih udah baca and ngasih kritik ^^

    1. Wuuu /tepuk tangan/ Thankyou so much atas kritikannya!! 😄 dari sekian kritikan, baru kali ini author nemu kritikan blak2an kayak gini 😄 akhirnya… :’D

      oke, lain kali bakalan author perhatiin lagi alur ceritanya juga pemberian rasa pada ceritanya.
      Terimakasih udah mbaca and ngasih kritik ^^

  2. pendapat aku juga sama kaya dyasongni, soalnya kan disini sisi pandangnya s hyoki bukan luhan atau yang lain. terus kata-kata nya kurang baku. jadi agak gak enak dibacanya *menurutAku
    terus bklan lebih enak pake POV POV an bklan lebih ngeh/? dibacanya
    bagus sih ngasih cerita kek gini, keep writing ya~~

    1. Nah itu dia! karena disini POVnya Hyoki, jadi author gak mendominan ke Luhan 😀 .

      Okeh, lain kali kalau author bikin FF lagi, bakal author perhatiin kata-katanya XD.

      Hehe, kamu bukan orang pertama yang nyuruh author untuk bikin POV POV an XD. Sejujurnya, author agak kurang suka sama sistem itu. Author lebih suka pake sistem orang ketiga serba tahu atau orang pertama. soalnya lebih bisa mengusai isi ceita (apalagi yang orang ketiga serba tahu). Btw, kebanyakan FF author pake sistem orang ketiga :D.

      Makasih udah baca dan ngritik ^^

  3. Ini ff masih sebuah misteri, siapa Luhan sebenarnya? Kenapa Luhan polos dan jauh dari kata sex bebas? Apa jangan-jangan Ia anak di luar nikah? kenapa Luhan selalu berada di sekitar Hyoki? Kenapa luhan seperti tidak ada yang dekat dengan siapapun? Apa ada rencana membahas soal Luhan? Tapi ff nya Daebak!! ^ ^ pesan moralnya bagus banget untuk remaja di abad ke 21 ini 😛 Ditunggu sequelnya!! 😀

    1. Jujur, author sueneng banget nemu readers yang sekritis ini! :’ daebak! makasih! XD.

      Misteri Luhan emang sengaja dipampang buat ‘bumbu’ di FF ini. dengan begitu, si pambaca bisa penasaran a.k.a kepo. #jahatya? /jujur, author suka banget nglihat orang kepo/

      Untuk sequel, insya Allah ya author buatin 😄
      doain aja bisa.

      sekali lagi, makasih banyak udah baca sama kritiknya (y) ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s