[Minri’s Diary – 11] Unexpected Boy

11 un

Title : Unexpected Boy

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Length : Vignette, series.

Rating : PG-13.

Genre : Romance, fluff, teen.

Note : Do not copycat without my permission.

***

Kau benar-benar mengagumkan dan tidak terduga

Menjadi anak perempuan ternyata cukup merepotkan. Selain harus menjaga sikap dengan benar (perempuan punya banyak peraturan dibanding laki-laki), perempuan juga harus mengutamakan penampilan. Tapi aku sedang tidak ingin membahas penampilan sekarang. Karena aku sedang berada di depan rumah, menyiram tanaman masih dengan piyama yang kulapis dengan jaket. Dan fakta terpenting dari yang ingin aku katakan adalah aku baru saja bangun tidur!

Oh ayolah. Tidak ada yang salah dengan menyiram bunga kan? Ini masih pagi. Mentari bersinar cerah. Cukup untuk membangunkanku si tukang tidur dengan cara mengintip di sela tirai jendela dalam kamarku. Mungkin sedikit salah jika aku mendadak rajin. Penyebabnya hanya satu. Kalimat yang ibu katakan tadi malam.

Kau sudah cukup dewasa Minri-ya, bersikaplah seperti wanita sesungguhnya. Karena nanti pada saat kau menikah, kaulah akan mengurus rumah dan suamimu.

Yang benar saja, memasakpun aku tidak becus. Ugh, ibu maafkan anakmu yang tumbuh seperti ini. Cipratan minyak panas yang mengenai lenganku beberapa waktu lalu membuatku hampir tidak ingin masuk ke dapur lagi. Padahal aku hanya menggoreng telur. Malangnya.

Maka, aku akan mulai membantu ibu melakukan pekerjaan rumah. Harusnya aku bangun lebih pagi, agar banyak yang bisa aku kerjakan. Misalnya saja menyiapkan sarapan. Tapi ibu seperti membaca pikiranku. Ketidakyakinanku pada kemampuan memasak membuat ibu memintaku mengerjakan hal yang lain saja daripada aku akan membuat seluruh penghuni rumah sakit perut atau keracunan. Jangan berpikiran bahwa aku benar-benar tidak bisa memasak ya? Aku bisa merebus air, merebus mie instant, membuat nasi goreng keasinan dan aku pernah membuat kue tart bersama Baekhyun!

Baiklah, baiklah. Jangan tertawakan aku. Lagi pula aku belum ingin menikah sekarang. Aku masih pelajar yang sebentar lagi akan menjadi mahasiswi. Jadi aku punya cukup banyak waktu untuk belajar. Belajar mengurus rumah, suami dan anak. What? Apa aku akan menjadi istri dan ibu nantinya? Oh my god, tentu saja! Membayangkan hal ini membuatku sedikit merinding. Kira-kira siapa yang akan menjadi suamiku kelak, apa aku ditakdirkan bersama Baekhyun? Atau ti—

Daaar!!

Yaaak!” Suara yang mengejutkan itu membuatku melakukan gerakan refleks mengangkat selang hingga air yang mengalir mengenai orang itu. Ups, Baekhyun?

“Kenapa Minri menyiramku?” tanya Baekhyun sembari merentangkan tangan, memperhatikan sebagian tubuhnya yang basah tersiram air. Dia mengerucutkan bibirnya, kesal.

Aku mematikan kran, lantas menghampirinya. Dia berdiri di belakang pohon mawar yang kusiram dan menyapaku dengan cara yang mengejutkan. Jadi jangan salahkan aku kalau dia seketika kena siram.

“Maafkan aku, maaf.” Tapi sebaiknya aku minta maaf. Dia dan wajah cemberutnya itu membuatku tidak tega untuk menyalahkannya. Atau mengomelinya.

“Minri menyiram bunga sambil berpejam membuatku penasaran.”

Aku menyisir rambutnya ke samping dengan jariku. Rupanya siramanku tadi sampai mengenai rambut dan wajahnya. Kasihan. Padahal dia tentu sudah mandi. Aku yakin sekali karena aku bisa mencium wangi sabun yang biasa Baekhyun pakai. Setelah selesai dengan rambut, aku beralih mengusap wajahnya yang basah. Dia kesulitan menyapu wajahnya karena dia membawa buku di kedua tangannya.

“Ada apa kemari, Baek?” tanyaku saat aku selesai mengeringkan wajahnya.

Eiy, bukannya Minri sendiri yang bilang kalau pagi ini kita akan belajar bersama. Lupa ya?” Baekhyun mengalihkan buku di tangan kanannya ke tangan kiri, lalu mengangkat tangan kanannya yang kosong di depan wajahku.

Aww!” Aku mengusap dahiku yang baru saja disentil Baekhyun. Ish! Anak ini.

“Sebagai balasan karena Minri menyiramku.”

“Jadi kau belum memaafkanku?”

Eum….

Aku berbalik. Aku akan masuk ke dalam rumah dan menyudahi percakapan ini. Lalu membiarkan Baekhyun masuk, menungguku mandi setelah itu kami belajar bersama seperti apa yang dikatakan Baekhyun atas tujuannya datang kemari. Aku pikir tidak lama lagi dia akan memaafkanku dengan sendirinya.

“Aku akan memaafkan Minri kalau Minri membuatkanku susu stroberi.”

Heh?” Aku menghentikan langkahku, lantas berbalik. Dia masih berdiri di tempatnya tadi. Baiklah, kalau memang dia akan memaafkanku dengan cara itu, akan kuturuti. “Baiklah, Baekhyun. Ayo masuk.”

Dia beranjak dari tempatnya. Menghampiriku dengan setelah berlari. Aku baru akan melanjutkan langkahku saat Baekhyun semakin mendekat.

Cup!

Tapi aku membeku karena dia baru saja mencium pipiku.

“Selamat pagi, Minri.” Dia tersenyum lebar, lantas mendahuluiku masuk ke dalam rumah.

Hei matahari apa kau melihatnya? Ugh, aku malu. Untunglah tidak ada siapapun yang lewat. Dasar Baekhyun!

***

“Segelas susu stroberi untuk permintaan maaf.” Aku meletakkan segelas minuman kesukaannya di atas meja ruang tengah, tempat dimana kami berencana akan belajar bersama. Ujian masuk universitas tidak semudah yang dibayangkan jadi kami harus belajar lebih giat agar bisa masuk ke universitas yang kami inginkan.

“Terimakasih!” Baekhyun tersenyum sampai ke matanya, membuatku ikut tersenyum. Apa dia harus sesenang itu? Ini hanya segelas susu stroberi, Baek.

“Baiklah, tunggu disini, aku akan mandi. Dan selama itu kau harus menghabiskan minumannya.”

Arraseo.”

Aku baru akan melangkah menuju kamar. Dan aku berpapasan dengan ibuku yang sedang menuruni tangga. Dia melihat Baekhyun di ruang tengah.

“Baekhyun-ah, kau disini?” sapa ibuku.

Ne, selamat pagi, Eomoni.” Baekhyun meletakkan gelasnya. Lalu berdiri sebentar.

“Selamat pagi. Kau seperti baru saja kena siram.” Ibuku berucap sembari tertawa. Aku tahu beliau sedang bercanda. Tapi sesungguhnya ibu benar, Baekhyun baru saja kena siram. Dan anakmu inilah pelakunya.

Kulihat Baekhyun hanya tersenyum. Dan tampaknya ibuku tidak menanyakan lebih lanjut. Jadi Baekhyun meneruskan minumnya dan mulai membuka buku.

“Minri-ya, apa kau hanya akan membeku di tangga seperti itu?” ucap ibuku.

Ah, Ne,” aku menggaruk tengkuk. “Aku harus mandi.” Ucapku, kemudian melesat menuju kamar.

Aku menuruni tangga dengan membawa seperangkat alat tulis dan buku. Kulihat Baekhyun masih berada pada posisinya, namun gelasnya sudah kosong tanpa sisa. Dia menepati janjinya untuk menghabiskan minuman yang kubuat. Anak baik.

“Minri, ayo sini.” Ucapnya saat ia mendongakkan kepalanya dari buku.

Aku menghampirinya kemudian duduk di sampingnya. Baekhyun membuka halaman buku, kemudian mulai menjelaskannya padaku. Aku mendengarkannya, menulis dan menanyakan beberapa hal. Hingga satu jam terlewat.

“Kau hebat juga, kupikir liburan panjang membuatmu lupa pada pelajaran. Baekhyun jjang!” Aku menunjukkan jempolku di depan wajahnya.

“Minri juga hebat langsung mengerti dengan apa yang aku katakan.” Baekhyun mengacak rambutku pelan. Ya, aku beruntung memilikinya. Lelaki berwajah manis ini, selalu punya cara untuk membuatku kagum dan terpesona.

“Minri-ya,” panggil ibuku.

“Iya, Mom?” tanyaku sedikit terkesiap. Aku berbalik dan melihat ibuku berdiri tidak jauh dari kami. Wanita itu tampak sudah rapi dengan mantelnya dan membawa tas kecil di tangannya. Sepertinya mau pergi.

Eomma akan ke supermarket sebentar. Tolong jaga rumah ya.”

“Aku ikut.” Aku berdiri. Tapi ibu menggeleng, menolak aku untuk ikut.

“Disini saja. Lagi pula kau tidak sendirian.”

Oh, ibu benar. Ada Baekhyun. Ibu serius hanya meninggalkan kami berdua?! Well, sebenarnya tidak hanya sekali, tapi kami sudah sering di tinggalkan berdua dan lelaki ini hampir selalu punya cara yang menyenangkan agar kami tidak bosan. Misalnya menonton film, membuat kue, main playstation dan mengganggu anjing tetangga. Lupakan hal konyol terakhir.

“Hati-hati, Mom.” Aku melambaikan tangan saat mobil ibuku mulai berjalan menjauhi pekarangan rumah kami.

Baekhyun masuk lebih dulu, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa.

“Apa Minri masih ingin melanjutkan belajar?” tanya Baekhyun.

“Tidak.” Jawabku dengan helaan nafas.

“Baiklah.” Baekhyun mengendikkan bahunya. Kemudian mengambil ponsel di sakunya. Sementara aku membereskan buku-buku dan juga sampah makanan ringan.

Aku menduduki sofa di seberang Baekhyun saat pekerjaanku telah selesai. Anak itu masih fokus pada ponselnya, membuatku sedikit jengah karena dia mengabaikanku. Bukannya membantuku membereskan meja. Ish.

“Minri-ya,” panggilnya. “Kesini sebentar.”

Bukankah terdengar aneh ketika tubuhku secara otomatis melakukan apa yang Baekhyun perintahkan. Padahal aku baru saja kesal padanya. Ya yampun.

Aku duduk di sampingnya. Dia menunjukkanku layar ponselnya. Seseorang sedang dalam panggilan. Baekhyun menyambungkan video call dengan teman karibnya.

Hai Minri, Baekhyun.”

“Chanyeol-ah, apa kau bersama Sungyoung?” tanyaku langsung.

Yak! Turunkan ponselmu. Aku tidak bisa melihat mereka. Astaga!” Aku bisa mendengar suara Sungyoung di seberang sana tapi aku tidak dapat melihatnya. Hanya wajah Chanyeol yang ada di layar.

Hehe, maaf,” Chanyeol mengulurkan tangannya lebih jauh, lalu Sungyoung muncul dari bawah lengan Chanyeol. Punggung Sungyoung pasti menyentuh dada Chanyeol. Karena jarak mereka kurasa cukup dekat.

Halo Minri.”

“Kalian sedang apa?” tanyaku.

Kami sedang bicara dengan kalianaww kenapa kau mencubitku!” jawab Chanyeol dengan wajahnya yang tampak kesakitan. Biar kutebak, Sungyoung pasti baru saja mencubit pinggang Chanyeol.

Kami hanya… bermain musik.”

“Waah pasti seru.” Komentarku.

“Chanyeol bermain musik dan Sungyoung bernanyi. Benarkan?” ucap Baekhyun sembari merangkulkan satu lengannya di pinggangku.

“Ah, Tidak, tidak. Hanya dia. Aku menonton saja. Kau mau kemari?

“Sayang sekali aku tidak bisa. Ibu memintaku menjaga rumah. Bersama Baekhyun.”

Yak! Jauhkan tanganmu dari bahuku.” Layar tampak bergerak-gerak, kemudian kembali stabil saat ponselnya berada di tangan Sungyoung. “Baiklah, mungkin lain kali.” Sungyoung menoleh ke samping. “Yeol, apa ada yang ingin kau katakan?”

Kakiku pegal.

“Ish!” Sepertinya sepanjang pembicaraan, Chanyeol menekuk kakinya agar tinggi mereka sama. Harusnya mereka duduk saja. “Sampai jumpa Minri, Baekhyun.”

“Sampai jumpa.”

Baekhyun memutuskan video call itu, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.

“Pasti menyenangkan bermain musik sambil bernyanyi.” Gumamku.

“Ayo kita lakukan.” Baekhyun berdiri sembari mengulurkan tangannya di depan wajahku.

“Apa?”

“Bermain musik.” Baekhyun menarik tanganku, lalu membawaku ke ruang keluarga. Disini ada piano putihku yang dibelikan ibu saat ulang tahunku yang ke tujuh belas. Baekhyun duduk di depan piano, dan menarikku agar duduk di sampingnya. Dia mau apa?

Belum selesai aku dan kebingunganku, dia mulai menekan tuts piano itu.

Sejak kapan dia bisa memainkan piano?

Dia memainkan lagu entah apa. Terdengar romantis di telingaku. Jari-jari lentiknya bermain dengan indah. Dan dia menoleh padaku dengan senyumnya yang manis. Manis. Lama-lama dia bisa membuatku sakit jantung.

“Ba—bagaimana kau bisa sebagus itu?”

“Entahlah, mungkin naluri.”

Baekhyun menarik tanganku, lalu mengiringku memainkan sebuah lagu. Lalu ke dua tangan kami bersama-sama memainkan piano. Aku beberapa kali salah menekan tuts. Baekhyun hanya tertawa. Dia tetap melanjutkan permainannya.

Aku pikir lagunya belum selesai, tapi Baekhyun berhenti dan meraih tanganku, lantas mengecupnya. Kalau saja aku coklat, tak lama lagi aku pasti akan meleleh.

“Aku sayang Minri.”

Aku menarik tanganku. Lantas melingkarkan kedua tanganku di bahunya. Rambutnya yang lembut mengenai pipiku, terasa sedikit menggelitik. Aku mengeratkan pelukanku saat kurasa dia membalasnya.

Kau benar-benar mengagumkan dan tidak terduga. Kuharap kau memang takdirku, Byun Baekhyun..

***END***

Haaai!! ff yang aku bikin ketika aku kebangun tengah malam, pas udah jadi tau-tau langit di luar udah cerah aja (curhat bentar).

Akhirnya Minri’s diary kembali lagi! Setelah lulus SMA aku kira idenya habis sampe sana. Untunglah ya bisa dilanjut. Kkkk

Terimakasih sudah baca. Keep support!

XOXO❤

® Charismagirl, 2015.

99 thoughts on “[Minri’s Diary – 11] Unexpected Boy

  1. Aku harap Baek jg takdirku…😀
    Sprti biasa… mreka slalu manis…
    buat sdkit konflik nya donk…
    tkutnya klo manis trus mh nntinya jd bosen…
    tmbhin dkit pait nya ya…
    bkn kh life us never flat /?? gehe jd ngiklan ini…😀
    Semangat terus ya Rima…😉

  2. Aakhhhh!!!
    Selalu, unnie selalu bikin aku senyum2 sendri tiap baca ffnya unnie, kan aku jadi ngebiasin baek lagi
    Ini di post udh lama yah dan aku baru bisa baca sekarang😦 maafkan aku unnie~~~
    Kisah mereka bakal trus di tunggu~~

  3. hai eonni aq datang lagi hehehe
    hah….baekhyunminri emang manis bgt ya,entah kenapa selalu dapet feel kalo baca couple ini.
    Bayangin baekhyun main piano jadi inget miracle in december.Oh ya ada chanyeong juga tuh, eonni sahabatan sama author utheeviez ya?

  4. Aaaa baekhyun minri kembaliiiiii
    Dan ini sweet bgt kaaak. Sweeeet bgt. Kalo aku coklat pasti juga ikutan meleleh wkwkw
    Mau lagi dong kakrim.. Yang minri baekhyun jugaaaa
    Aku tyunggu ya wkwkw

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s