Photos

FF titipan dari temen, spesial buat ultah abang Kai. Happy reading and don’t be a silent reader!

Photos cover
Tittle: PHOTOS
Author: WWW
Genre: Love
Leght: Oneshoot
Rate: 15
Main cast: Kai, Dongyoo
Backsound: Zhang Liyin-Back Then

Disclaimer: Author menulis FF ini berawal dari entah mengapa author tidak bisa tidur pas tengah malam. Terus author iseng-iseng ndengerin lagu. Pas gilirannya lagu Zhang Liyin yang Back Then, hati author terasa tersentuh, lalu terlintas di pikiran author sebuah inspirasi buat nulis jalan cerita FF ini. Dan kebetulan, pas author ndengerin lagu itu, author lagi ngliat fotonya Kai. Okey, maaf kalo di ff ini nanti banyak typo yang berserakan. Happy reading ^^

Dongyoo POV

Sedikit demi sedikit, tinta printku mengisi semua gambar di foto yang aku cetak sampai penuh. Aku harus sabar karena prosesnya yang lama, tapi hasilnya akan sempurna. Seiring print-printan ku itu berjalan mengeluarkan hasilnya, seiring juga aku pandangifoto itu di komputer. Dulu aku tidak menggunakan komputer ini untuk mencetak foto. Aku harus berjalan beberapa meter tiap akhir pekan untuk mencetaknya di toko cetak foto dekat rumah. Saking seringnya aku mencetak disana, kira-kira 2 tahun, pegawainya sampai hafal dan aku jadi pelanggan setia disana.
“si tampan ini lagi…” lontar pegawai foto itu setelah melihat hasil fotonya karena saking hafalnya. Aku hanya bisa diam dan tersipu.

Ku tempelkan robekan selotip Double Tip tepat di seluruh sudut dibalik selembar foto yang baru saja tercetak ini. Hanya butuh 60 detik aku bisa melepas lapisan luar selotip Double Tip ini, hingga yang tersisa tinggal bagian lengket yang berguna sebagai lem. Setelah itu, kucari tempat yang kosong atau yang sekiranya masih bisa muat untuk memampangkan foto ini dengan jelas di dinding ini. Terlalu banyak foto disini yang sudah aku tempel, jadi agak susah mencari tempat kosong.
Akhirnya aku menemukan tempat di sebelah kaca riasku. Menurutku, itu tempat yang tepat juga. Jadi sambil aku berias, aku bisa melihat wajahnya ini. Wajah yang mungkin kulihat untuk terakhir kalinya. Wajah yang sudah berubah semakin tampan dari yang lalu. Wajah yang membiarkan aku memiliki rasa padanya namun ia tak tahu. Jangankan rasaku akan dirinya, keterpakuanku terhadapnya saja ia pasti tak akan tahu.
Kedewasaan dan kematangannya sebagai lelaki mulai muncul jelas di wajahnya ini. Seperti sudah pantas menjadi mahasiswa, walau yang dipakai masih seragam SMA. Kai, masih bisakah aku melihatmu walau kau sudah bukan murid SMA lagi? Tak terasa, kita sudah berpisah. Tak bertemu sesering dulu. Aku tak tahu bagaimana jadinya aku nanti jika aku tidak melihat wajahmu setiap hari seperti sedia kala. Bisakah aku berlatih tidak melihatmu di kampus nanti, agar lama-lama kau tergusur dari pikiranku? Lalu, untuk apa foto-fotomu ini kupajang kalau aku harus berlatih melupakanmu, wahai cinta pertamaku? Akankah ku bakar satu persatu foto-fotomu ini, atau malah langsung kubakarsaja semua sekaligus? Tapi bukan hari ini. Mungkin esok, kalau aku sudah tak suka lagi padamu.
Tapi, ijinkan aku menempel foto terakhirmu ini di dinding kamarku, supaya lengkap foto-fotomu dari masa ke masa.

*flashback*
“wah Kai selamat ya, kau di terima di Beijing!”
“kami semua bangga jadi temanmu…”
“ah ya, terimakasih. Sama-sama, aku juga bangga jadi teman kalian”
Aku bisa melihatnya dari kejauhan, ia dikerumuni teman sekelas. Aku perhatikan sekeliling kanan dan kiri ku. Banyak orang. Aku pun segera menuju balik tembok. Ku ambil kameraku dan…
CKRIKK!
Hasil yang bagus! Aku berhasil men-shoot saat dia tersenyum sampai menyipitkan matanya.
“ayo kita foto bersama!” Suara itu tidak kuhiraukan. Aku masih asyik dengan hasil jepretanku.
“hei Dongyoo, sedang apa kau disana?”
Suara Han Ahn membuatku mengalihkan pandanganku ke dia.
“ayo ikut foto dengan kami!”
“ah! Iya…”
Aku segera menemui semua teman-teman sekelasku. Mereka mulai sibuk mencari posisi. Aku berharap aku bisa berdekatan dengan Kai. Tapi, semua berebut ingin dekat dengan Kai karena dia membawa bunga dari kepala sekolah sebagai siswa dengan nilai UN tertinggi di sekolah. Alhasil, aku telempar di paling pojok. Jauh dari Kai.
“1… 2… cheese!!!”
CKRIKK
*flashback off*

Author POV

Menyusuri jalanan yang sepi ini, dia tersenyum lagi. Senyumnya yang manis itu tersungging, sementara hidungnya menghirup lagi bunga dari kepala sekolah. Harum, seharum namanya hari ini. Senyumannya itu mungkin sudah yang kesekian ratus kali sejak pembukaan wisuda. Rasa senang dihatinya sedang penuh, bahkan sampai tumpah. Bagimana tidak? meski Kai terbilang tidak terlalu pintar di kelas, tapi ia mendapat keberuntungan yang besar. Sudah dapat nilai UN tertinggi, lolos beasiswa ke Beijing pula. Semua teman-temannya menjadi semakin kagum padanya.
Tiba-tiba, cahaya lampu mobil datang dan sampai menyilaukan matanya. Mobil itu berhenti di depannya sekaligus menghentikan langkahnya. Munculah dua orang dari mobil itu menghampirinya hingga membuatnya kaget. Penampilan kedua orang itu sejalan dengan apa yang mereka lakukan: menyergap Kai paksa untuk masuk ke mobilnya.
Kai memberontak kuat sampai kedua orang itu kewalahan. Bunga yang tadi ia pegang sampai jatuh entah kemana. Di jalanan itu juga sedang tidak ada orang, jadi Kai tidak ada yang menolong. Perkelahian pun terjadi berawal dari Kai yang berhasil mendorong sampai terjatuh orang yang menyergapnya. Dan dia langsung mendapat pukulan yang keras di pipinya dari orang yang satunya. Otomatis Kai membalasnya, dia tidak mau dianggap remeh. Mereka pun berkelahi. Orang itu sampai terjungkal karena pukulan Kai.
Kai lalu membersihkan darah yang muncul di mulutnya. Belum selangkah dia melangkah, ia mendapat pukulan lagi, kali ini pukulan itu berhasil membuat Kai tersungkur. Ia mendapat pukulan dari orang yang tadi ia dorong. Orang itu memukul Kai dengan sebatang kayu. Orang itu lalu menghampiri Kai yang tergeletaktak berdaya. Kai mulai merasa pusing akibat pukulan itu tadi yang mengenai punggung dan kepalanya. Ia tak sanggup berdiri. Dalam pandangannya yang mulai buram, orang itu langsung menarik kerah baju Kai sampai Kai berdiri. Orang itu menatap Kai tajam dan marah.
“ada apa sebenarnya ini?” Kai bertanya dalam hati. Kenapa dia di pukuli dan dipaksa masuk mobil itu? siapa yang menyuruh mereka?
Kai hanya bisa berdoa, meminta tolong pada Tuhan. Ia sudah tak kuat lagi. Darah di hidungnya mulai menetes. Orang itu malah tersenyum puas.

BUKK
Sekuat tenaga Kai menendang selangkangan orang itu sampai dia kesakitan. Dalam kesempatan itu, ia kabur.
“Hei tunggu!!”
Kai lari sekuat tenaga, dan sekuat memperjelas pandangannya yang goyah. Yang dibutuhkanya saat ini adalah tempat persembunyian.

Tangan mungil itu lalu bergeser ke foto sebelahnya setelah ia menyentuh foto yang baru ditempelnya. Ia bandingkan foto yang baru ia tempel dengan foto yang sedang ia sentuh. Tampak sebuah perbedaan yang jelas antara foto Kai yang masih duduk di kelas 10 SMA dengan Kai yang baru saja lulus. Disitu terlihat Kai kelas 10 sedang menggigit roti tapi dengan mata melotot. Suasana tergambar sedang ada di kantin. Kala itu…
*flashback*
Dongyoo sudah sampai kantin. Ia lalu disambut dengan pemandangan indah menurut Dongyoo. Ia melihat Kai sedang tersenyum menerima roti dari seseorang. Entah mengapa, padahal hanya sebuah senyuman sederhana, itu malah membuat Dongyoo terpanah. Pipinya tiba-tiba memerah saat melihat Kai dengan tampannya mengunyah roti itu. Dongyoo langsung beranjak dari situ. Ia bersembunyi di balik tembok, lalu mengeluarkan Hpnya.
CKRIKK
Dongyoo tiba-tiba tertawa melihat hasil jepretannya sendiri –Kai menggigit roti tapi dengan mata melotot-.
“HUAH!! HUAH!! PEDAS!!!” teriakan Kai yang heboh membuat Dongyoo kaget. dilihatnya Kai gelagapan mencari air sampai membuat kantin heboh. Bukannya malah membantu, mereka, teman-teman Kai, malah menertawainya. Dongyoo jadi ikut tertawa. Ternyata Kai dikerjai oleh temannya –memasukkan cabe di dalam rotinya- karena hari itu adalah hari ulang tahunnya.
“Happy Birthday to you…. Happy Birthday to you….” lalu datanglah teman Kai yang lain membawakan kue tart untuknya.
CKRIKK
Dongyoo mendapat angle Kai sedang tertawa dan terharu. Tampan sekali.
“Sedang apa kau?” tanya seseorang mengagetkan Dongyoo.
“ah! Ti… tidak!”Dongyoo langsung pergi dan lupa menyimpan hasil jepretannya.
*flashback off*
Dongyoo jadi senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu.

Foto itu bukan yang pertama kalinya untuk Dongyoo. Foto Kai pertamanya adalah saat beberapa menit Dongyoo memandang Kai untuk yang pertama kalinya dan pertama kalinya jatuh cinta dengan Kai. Dalam foto itu, terlihat Kai sedang membaca buku di depan kelasnya sambil jongkok dekat tempat sampah kelas. Dongyoo mengambil gambar itu diam-diam dari jendela. Kesan pertama foto itu memang tidak bagus, apalagi Dongyoo masih menggunakan kamera HP yang hasilnya tidak sejernih kamera yang ia punya sekarang. Tapi saat dia berhasil mengambil gambar itu, walau anglenya kurang baik, Dongyoo berbunga-bunga setengah mati. Sampa rumah, ia terus saja memandanginya.
Waktu terus berjalan, kekaguman Dongyoo akan Kai hanya terungkap lewat hasil jepretannya. Jika dihitung, hampir 400 foto Kai yang ia pajang di dinding kamarnya. Sampai dinding kamar Dongyoo terlihat seperti terlapisi foto-foto Kai saja. Mulai dari Kai kelas 10 sampai ia lulus. Mulai dari yang kurang jernih hasilnya, sampai yang jernih. Ada angle yang baik, ada juga angle yang buruk. Semua Dongyoo tempel semata-mata bentuk kecintaannya terhadap Kai. Dan mereka semua yang membuat Dongyoo semangat saat ia mulai loyo.

“Hm… aku berharap, ada sebuah foto ketika kita bersama…” ujar Dongyoo saat dia melihat foto yang ke 365 nya.
“Kai… andai aku bisa memelukmu…” ujarnya lagi. Ingatannya jadi melayang ke kejadian dari foto yang tertempel itu. Saat itu Kai ada di lorong kelas ketika semua murid sudah pulang. Sepi. Dongyoo tidak sengaja melihat Kai di tembak dengan gadis lain. Dongyoo tidak tahu Kai menerimanya atau tidak, yang ia tahu, gadis itu hanya memeluk Kai erat lalu menyatakan perasaannya. Kai hanya diam. Dalam keadaan itu, Dongyoo memotretnya.

“aku gila, bukan?” tanya Dongyoo tiba-tiba pada boneka kelincinya yang tergeletak di dekat bantalnya. Ia hela nafas sejenak, kemudian tersenyum lemah.
“ya… aku gila. Gila akan cinta. Aku benar-benar tak menyangka bisa seperti ini. aku seperti pulih dari mata butaku yang dibutakan oleh cinta Kai, lalu kaget setelah aku sudah bisa melihat dan kudapati seluruh dinding kamarku terlapisi foto-foto Kai. Semua ini, tidak berujung pada apa yang aku inginkan…”
Dongyoo lalu memeluk boneka kelincinya.
“sebentar lagi dia pergi ke Beijing. Tak tahu kapan dia kembali. Yang jelas, aku sudah tidak bisa menambah koleksi foto Kai lagi.”
Ia menghirup nafas lagi, dan mengeluarnya. Bersamaan dengan airmata.
“andai aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin ungkapkan rasaku padanya, supaya tidak terjadi seperti ini.”
Penyesalannya itu malah membuatnya sesak. Mendorongnya untuk mengeluarkan airmata lebih banyak lagi.
“menurutmu, ini buang-buang tenaga, bukan? Untuk apa aku memajang foto sebanyak ini kalau nyatanya Kai tidak bisa kumiliki? Aku hanya bisa menyentuhnya dalam bentuk gambar tanpa tahu kapan aku melakukan itu dengannya langsung. Aku bodoh! Aku bodoh! Harusnya pernyataan cintalah yang bisa membuat Kai tahu perasaanku, bukan yang seperti ini. kalau seperti ini, hanya aku, kau dan ibu saja yang tahu…” Dongyoo akhirnya menangisi semuanya dengan penuh sedu.
“Dongyoo, kau bodoh!” teriaknya.

Semakin Kai menahan rasa pusing dan sakitnya saat berlari, semakin Kai serasa mati rasa. Ia mulai tak kuat lagi, tapi dua orang di belakang itu tetap bersiteguh mengejar Kai. Darah di hidung Kai juga semakin banyak. Pandangan Kai semakin berputar hebat. Ia juga kehabisan nafas, sampai terasa seperti tercekik. Tapi ia tetap berlari dan berdoa pada Tuhan.
Nyawa Kai berasa sudah hampir di ujung tanduk. Ia mulai menyerah, tapi ia tidak mau mati konyol seperti ini. Larinya mulai melambat, dan pasrah jika ia tertangkap.
Tapi tuhan berkehendak lain. Ia menemukan sebuah rumah kecil yang terbuka lebar di dekat tikungan. Kai langsung memaximalkan tenaganya yang ada untuk masuk kerumah itu. Saking kencangnya ia berlari, ia masuk ke rumah itu sampai terjungkal. Pusingnya jadi bertambah. Ia kuatkan lagi dirinya untuk bersembunyi di manapun agar orang-orang itu tidak curiga kalau dia ada di rumah ini. Dilihatnya, tidak ada meja kursi di rumah itu. Lemari pun semua tertutup rapat. Hanya ada meja kecil di atas karpet yang kelihatannya tidak muat untuk Kai. Ruang tamu yang sangat sederhana.
Ia mendengar derupan langkah berlarian dari kejauhan. Tak banyak pikir, ia langsung saja masuk ke sebuah ruangan dari rumah itu yang terlihat jelas. Ruangan itu juga kebetulan terbuka lebar. Perlahan ia tutup pintu ruangan itu, lalu ia sandarkan tubuhnnya untuk mengganjal pintu itu. Kai mengambil nafas menghilangkan ngos-ngosannya. Derupan langkah orang-orang yang mengejarnya semakin mendekat, semakin mendekat, semakin jelas lalu…

***
Dongyoo selesai sikat gigi dan mencuci muka, rutinitasnya setiap malam sebelum tidur. Mata sembabnya mulai hilang akibat guyuran air. Itu terlihat saat ia bercermin di kaca kamar mandinya. Ia kemudian mencoba tersenyum, menghilangkan wajah sedihnya.
“mulai detik ini, aku harus berubah” katanya dalam hati.

Dongyoo keluar kamar mandi sambil masih mengeringkan wajahnya dengan handuk. Tiba-tiba ia merasa dingin berhembus lewat begitu saja di tubuhnya. Ia merinding. Dilihatnya pintu rumahnya terbuka lebar, makanya angin malam bisa masuk. Ia pun segera menutup pintunya.
Ia berjalan santai menuju kamarnya sambil menyenandungkan lagu supaya suasana tidak sepi. Acara wisuda membuatnya lelah hari ini. Ia ingin segera tidur.
JGREKK
STT
Dongyoo merasakan berat saat membuka pintu. Ia dorong lagi pintunya dan…
JDUKK!!
“AAAA!!!”Dongyoo kaget melihat sebuah badan jatuh kesamping.
“apa itu?” Dongyoo seperti kenal dengan pakaian orang itu. Seperti seragam SMAnya. Ia sentuh punggung itu. Terasa nyata.
“kenapa ada orang disini?”Dongyoo tak percaya. Ia pun langsung masuk ke kamarnya dan penasaran apa yang terjadi.
Dia langsung kaget setengah mati dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka. Matanya hampir mlotot keluar. “KAI?!!!”
Ia mendapati Kai tergeletak lemah di kamarnya dengan keadaan babak belur dan darah di hidungnya. Dongyoo spontan panik. “KAI BANGUN?!!” Dongyoo mengecek denyut nadinya. Kai hanya pingsan. Sekuat tenaga Dongyoo membawa Kai ke tempat tidurnya.
“EUHH!!! KAIII!!!!” badan Dongyoo yang lebih kecil benar-benar keberatan menggendong Kai. Tapi ia tidak menyerah. “EEEEEEUUUHH!!!! KAIII KENAPA KAU BEGINI?” Dongyoo sampai menangis.
“EEEEUUUAAAAAHHHH!!!!!” Dongyoo pun berhasil membawa Kai ke kasurnya.
“KAIII…..” Dongyoo masih panik dalam tangisnya. Ia bingung harus berbuat apa. Ia hanya masih menepuk-nepuk pipi Kai, berharap Kai sadar. Namun Ia langsung bergegas mencari obat untuk Kai.
Dongyoo keluar kamar masih tetap dalam keadaan menangis. Shock, kaget, takut dan tak percaya campur aduk. Kepanikannya membuatnya kebingungan. Kotak obat di laci jadi berantakan saking paniknya dia.
Perlahan Dongyoo membersihkan darah yang ada di hidung Kai.
“kenapa kau bisa seperti ini, Kai?” tanyanya tak percaya.
Kemudian Dongyoo mengobati luka memar di wajah Kai dengan air hangat. Ia pijatkan kain itu dengan lembut. Untung Kai masih belum sadar, jadi Kai tidak merasakan sakitnya memaran itu saat di pijat. Dongyoosedih melihat keadaan Kai seperti ini. Sampai air matanya ikut luruh perlahan.
“Kai…”

Suara detik jam kamar Dongyoo menyadarkan Kai. Perlahan dia siuman. Matanya perlahan terbuka, dilihatnya pertama kali adalah langit-langit kamar Dongyoo. Rasa perih akibat luka memarnya mulai ia rasakan, lalu ia merabanya. Tapi ia bersyukur masih di beri kesempatan hidup.
“dimana aku?”
Perlahan ia menoleh ke sebelah kanannya. Dilihatnya banyak terpampang foto. Pandangan Kai sudah tidak buram ataupun berputar lagi, jadi dengan jelas ia bisa melihat gambar di foto itu. Dan ia mengenal siapa orang yang ada di foto itu. Setelah ia menyorot keseluruh ruangan, matanya seperti bertanya-tanya, kenapa semua foto itu hanya berisikan dirinya.
“apa aku belum sadar?” batinnya menganggap dirinya masih di alam mimpi.
Ia mencoba bangun. Tapi…
“A!” memar di punggungnya mulai ia rasakan. Iapun yakin kalau dia sudah di alam nyata.
JGREKK
Dongyoo langsung terhenti ketika tahu Kai sudah sadar. Ia lega, namun foto-foto di kamarnya membuatnya tercekik dan ketakutan. Mulutnya kaku namun hatinya memberontak untuk menjelaskan kenapa foto-foto itu dipajang. Ingin rasanya membuang foto-foto itu dalam sekejap.
“Dongyoo?”
“K… Kai…” lirih Dongyoo. Dongyoo mendadak merasa suasana jadi canggung dan beku. Entah mungkin karena ia malu dengan foto-foto ini. Tapi Kai tidak merasakan canggung. Ia malah bersyukur bersembunyi di tempat yang tepat.
“Dongyoo… A… A!” senyum Kai berubah jadi rintihan kesakitan karena memar di punggungnya. Itu membuat Dongyoo langsung lari ke Kai untuk menolongnya.
“K… Kai… ma… mana yang sakit?” khawatir Dongyoo.
“seingatku, punggunggku di pukul…”
“a… aku am… ambilkan air hangat dulu ya!! Bertahanlah!”
Kai hanya menjawab dengan rintihan.

Di dapur Dongyoo masih panik. Sampai lupa menaruh tremos dimana.
“ARGH!!” tiba-tiba ia kesal. Terlintas di pikirannyafoto-foto itu. Hal itu membuatnya terusik. Tapi yang terpenting saat ini adalah keselamatan Kai. Jadi ia buang jauh-jauh dulu masalah foto-foto itu.

Setelah Dongyoo kembali, Kai berusaha bangun untuk membuka jasnya. Dia terlihat kesusahan.
“a… apa yang akan kau lakukan?” tanya Dongyoo sambil melotot.
“Kau mau mengobati punggungku kan?” jawab Kai polos.
“a… e… o… iya…” Dongyoo tersenyum canggung. Ia lupa kalau punggung Kai yang perlu di obati, jadi ia harus telanjang dada.
Muka Dongyoo langsung merah membayangkan Kai…
“Dongyoo… bisa kau bantu aku?”
“A?! Eh.. i… iya…”
Dengan menahan malu yang sudah membumbung tinggi, ia membantu Kai melepas pakaiannya.
Suasana jadi canggung ketika Kai sudah melepas bajunya.
“a! E… aish!!” Dongyoo langsung menutup mukanya. Mukanya merah sekali. Kai hanya tertawa kecil melihat tingkah polos Dongyoo itu.
“A Ah… Dongyoo, aku sudah siap.” Kai sudah tengkurap. Dongyoo pun segera membasahi handuk kecilnya, mengingat ia harus mengobati Kai, bukan yang lain. Kini di depan matanya terpampang jelas punggung Kai. Punggung tegap dan bagus, yang biasanya terlihat sedang tertutup seragam hingga membuat Kai terlihat gagah. Punggung yang membuatnya berangan-angan ingin memeluknya. Namun punggung itu sekarang butuh pengobatan, bukan pelukan.
Perlahan Dongyoo menekan-nekan punggung Kai dengan handuk celupan air hangat itu.
“A… Ah… pelan-pelan Dongyoo…” Kai mengernyit kesakitan.
“A! Maaf…”Dongyoo memperlembut pijatannya,walau Kai masih sedikit mengernyit kesakitan. Lama kelamaan, Kai terhanyut pijatan lembut Dongyoo. Rasa sakitnya perlahan mulai hilang. Suasana yang Dongyoo rasakan semakin canggung. Ia juga berkeringat karena nervous yang ia alami sekarang. Tapi Kai tenang-tenang saja. Malah semakin menikmati pijatan Dongyoo.
“Kau berbakat memotret juga ya…” ujar Kai memecah keheningan. Dongyoo memperlambat pijatannya. Hatinya seperti terhujam benda keras, ia takut Kai marah karena dia memotret Kai diam-diam. Ingin rasanya ia robek langsung foto-foto itu sekaligus.
“euh…”
Kai tersenyum. Lalu kembali terhanyut dalam pijatan Dongyoo.
“maaf…”
“maaf? Untuk apa?” tanya Kai.
“aku… diam-diam… mengambil gambarmu…”
“Hm… tak apa…” Kai tersenyum walau Dongyoo tidak bisa melihatnya jelas. Tapi nada bicaranya terdengar ramah. Itu sedikit menenangkan hati Dongyoo.
Suasana canggung lagi. Hening melapisi kamar ini. Ingin rasanya Dongyoo menyudahi semua ini. Tapi disisi lain, ia gembira sedang berduaan dengan Kai. Moment yang langka.Andai saja Kai dan dirinya lebih dari teman, Dongyoo akan semakin bahagia menikmati moment ini.
“Apa kau menyukaiku?” pertanyaan Kai yang tiba-tiba itu langsung memberhentikan pijatan Dongyoo.
“A?! Eh… ti… i…” Dongyoo bingung harus jawab apa. Ingin jawab tidak, tapi ia rasa ini kesempatan yang bagus untuk menyatakan yang sebenarnya.
“kenapa berhenti?”
“AH!!” Dongyoo melanjutkan pijatannya lagi.
“Maafkan aku…” ujar Kai.
“untuk apa?”
“maaf aku membuatmu memberhentikan pijatannya.”
Dongyoo kira Kai minta maaf untuk apa~ ternyata…
“A… tak apa…”

Beberapa lama kemudian, Dongyoo keluar kamar dan menutup pintunya. Terlihat wajahnya berkeringat seperti orang yang dikejar-kejar. Jantungnya saja masih berdetak kencang. Detakan itu perlahan normal kembali bersamaan dengan senyumannya yang menyimpul tipis, menyimpan kegembiraan.

Setelah punggung Kai sudah diobati dengan air hangat, Dongyoo mempersilakan Kai untuk istirahat di kamarnya. Awalnya Kai meminta Dongyoo menelpon keluarganya karena ia sungkan. Tapi karena sudah larut malam, Dongyoo membiarkan Kai menginap di rumahnya.

Dongyoo memandangi Kai yang tertidur nyenyak. Ia mencoba menyentuh tangan Kai. Ini kali pertamanya ia menyentuh tangan Kai. Mata Dongyoomulai berkaca-kaca karena masih tak percaya kalau foto-foto orang yang ia sukai yang memenuhi kamarnya, kini orang itu ada di kamarnya dan nyata.
“apa aku sedang bermimpi?” ujarnya lirih.
Tapi dinginnya malam mengatakan “tidak.”
Dongyoo menaikan selimutnya hingga sampai memenuhi tubuh Kai. Di depan matanya kini terpampang wajah orang yang dicintainya itu dengan jelas dan dekat. Pipi Dongyoo memerah seiring ia menyentuh pipi Kai. Tiba-tiba terlintas pertanyaan dalam diri Dongyoo, kenapa Kai bisa sampai disini? apa Tuhan mempertemukanku dengan dia untuk yang terahir kalinya? Mengingat itu, wajah Dongyoojadi sedih. Ia belum siap berpisah dengan Kai. Ia butuh waktu lebih banyak lagi untuk benar-benar siap menyatakan perasaannya. Dan keinginan untuk memiliki Kai, muncul lagi saat Kai muncul tiba-tiba di kamarnya.

Dongyoo POV

Wajah ini, wajah yang akhirnya bisa kusentuh ini, adalah wajah yang hebat. Hebat membuat diriku menaruh hati padanya, membuatkubuta, dan melakukan semua hal gila ini. Pemilik wajah ini, pernah muncul pertama kali di hadapanku ketika dia membuang sampah di dekat kelasku. Lalu menebarkan benih cinta padaku hingga membuatku susah berpaling sampai sekarang. Wajah ini juga yang menampilkan senyuman-senyuman khasnya, ekspresi-ekspresi lucunya, sampai aku tega mengabadikannya lewat ratusan lembaran foto. Juga pernah membuatku memecah tabunganku untuk membeli kamera agar gambarnya bisa terlihat jernih, lalu ku tempel di dinding kamarku, menambah bahan bakar untukku agar aku semangat dalam menjalani hidup.
Matanya ini, baru saja melihat rasaku lewat semua foto-foto itu. Walau aku belum menjawab pertanyaannya ‘apa aku menyukainya’, aku rasa matanya ini sudah tahu. Kuharap matanya ini tidak membuatnya marah setelah tahu semua ini.
“Eungh…” tiba-tiba ia mengerang, dan membalikan tubuhnya ke arahku.
“baiklah, sepertinya aku mengganggumu. Jaljayo…” aku beranjak meninggalkan Kai setelah aku matikan lampu kamarku.
Perlahan kututup pintunya. Tapi kenapa, aku ingin kembali masuk. Ada yang ingin aku lakukan.
“maafkan aku, Kai.”
***
Author POV

Kai dibangunkan oleh suara air mendidih dari dapur Dongyoo. Matanya perlahan terbuka, Ia kumpulkan nyawanya sampai penuh, sampai ia tersadar total. Punggungnya belum sepenuhnya sembuh, saat menggeliat saja ia masih kesakitan. Tapi ia sudah bisa bangun dan terduduk.
Kemudian ia melihat kesekeliling. Ia merasa ada yang aneh dari sebelumnya.
JGREKK
“Ah! Kau sudah bangun…” Dongyoo menghampiiri Kai dengan membawa semangkuk sereal untuk Kai. Kai hanya bingung melihat Dongyoo repot-repot membawakannya sarapan.
“ini, makanlah…” pintaDongyoo dingin.
“kau… mengapa kau lakukan semua ini?”
“sudahlah… makan saja…”
“terimakasih…” Kai perlahan menyedok sereal itu untuk ia masukan ke mulutnya.
“kalau kau sudah merasa baikan…” Dongyoo memandang Kai sebentar, lalu menunduk “kau boleh pulang…” ujarnya lirih dengan berat hati.
Kai mempelambat kunyahannya setelah mendengar itu. Tapi dia tidak marah, hanya kaget. Dia malah sungkan dan merasa pernyataan itu pantas diungkapkan Dongyoo karena ia sudah terlalu merepotkan. Tapi, kenapa Dongyoo terkesan seperti mengusir?
Dongyoo lalu beranjak meninggalkan Kai.

Dongyoo membersihkan halaman rumahnya setelah kemarin ia membuat kotor halaman itu dan tak sempat membersihkannya. Ia tiba-tiba berhenti setelah merasa ada yang memperhatikannya. Kai.
Kai dan Dongyoo hanya saling betatapan. Kai kemudian menyimpulkan senyum untuknya.
Setelah Kai memakai sepatu, Kai menghampiri Dongyoo yang melanjutkan menyapunya. Alhasil Dongyoo menghentikannya lagi.
“Dongyoo… terimakasih banyak untuk kemarin dan hari ini. aku tidak akan melupakan kebaikanmu ini, kebaikanmu selama ini, dan… “ Kai terasa kelu untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
Dongyoo hanya diam. Sekuat tenaga menahan tangis.
Tiba-tiba Kai menghampiri Dongyoo lebih dekat dan langsung memeluknya. Dongyoo spontan kaget. Airmatanya berhasil keluar.
“sebentar lagi, aku harus terbang ke Beijing…” kata-kata Kai itu menambah air mata Dongyoo.
“terimakasih… atas semuanya… atas juga hatimu yang tulus untuku…”
Isak tangis Dongyoo mulai terdengar. Mendengar itu, Kai semakin mengeratkan pelukannya.
“maafkan aku…” lirih Kai.
“Kai…” Dongyoo membalas pelukan Kai dan mempererat pelukannya. Ia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan itu. Seperti ingin waktu berhenti saja sampai disini agar ia tetap memeluk Kai seperti ini selamanya. Tapi, waktu tetap saja berjalan dan Kai melepas pelukannya.
“jangan menangis…” Kai menghapus airmata Dongyoo.
“jaga dirimu baik-baik disana…” ujar Dongyoo sembari mengatur nafasnya.
“pasti. Aku akan menjaga diriku demi dirimu. Selamat tinggal…”
Kai melangkah pergi. Dongyoo melepasnya dengan masih mengeluarkan banyak air mata. Sekarang Kai benar-benar pergi. Dongyoo bersyukur Kai pergi dengan meninggalkan satu kenangan berkesan dengannya walau hanya sesaat. Walau tidak sepadan dengan usahanya mengumpulkan foto-foto Kai yang akhirnya kini tinggal abu.
“Ku harap… kau masih menyimpan fotoku setelah kau mencopoti semuanya dari dinding kamarmu.” Ujar Kai tiba-tiba. Dongyoo tercengang. Iapun melirik abu yang sudah ada di tempat sampah.

Kai tersenyum “kalau ada kesempatan, aku akan mengunjungimu… Zaijian! ”

Dongyoo hanya membalasnya dengan senyuman tipis, namun tersimpan rasa menyesal. Perlahan, Kai menjauh dari pandangannya.

CKRIKK

END

30/10/2014

18 thoughts on “Photos

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s