Letter From Nowhere : #2 Letter – Anak Baru itu Tuan Putri

nowhere

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 .

.

.

Seperti yang dijanjikan, update seminggu sekali ya ^^
dan lagi di chapter pertama udah tunjukin masalahnya disini bakal banyak flashback. Jadi semoga ga bingung dengan flashbacknya.

.

.

Anak Baru itu Tuan Putri

Tiga bulan yang lalu ketika orang tua mereka pindah ke Busan, Jongin sempat menyesali keputusannya untuk tidak ikut. Ya, saat itu Jongin rindu dengan kehangatan rumah bersama kedua orang tuanya. Dia sempat menyesal mengambil keputusan untuk tetap tinggal di Seoul bersama kakaknya hanya untuk melanjutkan pendidikan.

Itu perasaan Jongin tiga bulan yang lalu. Tapi tidak dengan hari ini. Setelah tahu dia diterima di SMA kebanggan Seoul sebulan yang lalu, dia merasa keputusannya untuk tetap di Seoul adalah benar. Sekarang dengan senyum bangga, Jongin memandang pantulan bayangannya yang tengah berdiri dengan menggunakan seragam Seungri High School. SMA dengan stadar tinggi dan tidak mudah untuk masuk sana. Terutama masalah otak.

“Woah, liat adiku ini, kau nampak sangat pintar dengan seragam itu,” satu suara membuat Jongin memalingkan matanya dari cermin dan mendapati kakaknya sedang berdiri dipintu kamar Jongin.

“Aku terlihat tampan bukan?” ucap Jongin sambil tersenyum. “Tadi aku mengirimkan fotoku pada ayah dan ibu, mereka bilang aku lebih tampan darimu Hyeong,” lanjut Jongin bangga yang dijawab cibiran sang kakak.

“Kau baru masuk SMA nak,” ejek sang kakak. “Gas terus otakmu dan coba kalahkan aku,” lanjut sang kakak sambil tertawa.

“Baiklah – baiklah, memang tidak ada yang lebih pintar selain kakaku, Kim Joonmyeon. Tapi kau tidak lebih tampan dariku, hahahhaha” balas Jongin sambil tertawa puas.

Joonmyeon –kakak Jongin, melangkah masuk kemudian menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur nyaman Jongin. “Benarkah? Tapi wajahku ini berhasil membuat banyak perempuan mengantri untuk menjadi pacarku,” ucap Joonmyeon bangga.

Jongin membulatkan matanya, dia tersenyum licik kemudian duduk disamping Joonmyeon. “Coba ulangi kata – katamu Hyeong? Banyak perempuan yang mengincarmu? Lalu bagaiman denganmu?”

Joonmyeon merasa senang adiknya terpancing dengan kalimatnya. “Tentu saja aku menikmatinya,” jawab Joonmyeon kemudian.

Click.

“ASSAAA!” Jongin berteriak bahagia sambil menunjukan ponselnya yang berhasil merekam kata – kata Joonmyeon. “Akan aku berikan rekaman ini pada SeJi Noona. Tentang betapa kakaku ini menikmati kejaran perempuan lain,” ucap Jongin bahagia setelah menjadikan apa yang kakaknya ucapkan sebagai jebakan ampuh.

Joonmyeon berdecak sebal kemudian menghadiahkan pukulan pada perut Jongin. “Dasar bocah, kirimkan saja pada Seji dia tidak akan percaya,” ucap Joonmyeon kemudian berlalu meninggalkan kamar Jongin. “Cepat sarapan, kau jangan telat hari ini..”

“Send..” ucap Jongin sambil mengekor dibelakang Joonmyeon kemudian menunjukan ponselnya pada Joonmyeon. “Sudah aku kirim,” lanjutnya.

“Apa?” tanya Joonmyeon dengan wajah penuh tanya.

“Rekaman Hyeong. Aku kirim ke Seji Noona,” jawab Jongin penuh dengan kemenangan.

“YA! KIM JONGIN..!”

.

.

‘SELAMAT DATANG, MURID BARU SEUNGRI HIGH SCHOOL’

Jongin membaca spanduk besar yang terbentang didepan gerbang sekolah dengan mata berbinar. Sekolah yang menjadi incaran semua murid di Seoul, dan Jongin menjadi salah satunya.

“Kau memang keren Kim Jongin,” ucap Jongin sambil menepuk dadanya bangga.

“Berhenti mengagumi diri sendiri CEPAT MASUK DAN BARIS SEKARANG JUGAAAA!!”

Jongin hampir terjatuh karena kaget saat satu teriakan berhasil menyapa telinga sebelah kirinya. Senior dengan bandana merah ditangan kirinya yang menjadi penanda dia adalah panitia penerimaan murid baru tengah berdiri disampingnya. Ya, Jongin melupkan satu hal lagi. Selama seminggu senioritas dalam prosesi penerimaan murid baru akan berlangsung. Neraka bagi murid baru.

Jongin membungkukan tubuhnya pada senior, “NE SUNBAENIM!” jawab Jongin tidak kalah kencang dari teriakan seniornya, kemudian berlari kedalam area sekolah. Disana, dilapangan utama berkumpul banyak murid, Jongin menebak mereka adalah murid baru.

“Maaf, murid baru?” tanya Jongin saat dia sudah berbaur pada kelompok itu.

“Iya,” jawab salah satu murid.

“Ah, kenalkan Kim Jongin aku juga murid baru,” ucap Jongin.

“Ah, salam kenal juga, aku Ki Ha Myeong,”

Setelah bertukar sapa, Jongin berbaur dengan yang lain di lapangan itu yang katanya sedang menunggu semua berkumpul sebelum upacara penerimaan murid baru berlangsung.

Jongin tengah mendengarkan obrolan teman yang baru dia kenal dibarisan, saat satu suara deru motor memasuki area sekolah. Semua mata tertuju pada asal suara. Seorang perempuan dengan rambut hitam ikal dan kulit putih turun dari motor, kemudian disusul lelaki tinggi dengan rambut coklat si pegendara motor. Ketika melihat seragam perempuan itu yang belum memiliki name tag resmi Seungri, senior yang tadi meneriaki Jongin menghampiri si perempuan.

“KAU MURID BARU BER-” belum selesai teriakannya, lelaki jangkung yang membawa motor menghentikan teriakan dengan meletakan jarinya didepan mulut si senior.

“Kau terlalu berisik Kim JongDae,” ucap si lelaki jangkung.

Senior yang bernama Kim JongDae, mendelik kasar kearah lelaki jangkung. “Ya, Park Chanyeol. Kau murid baru, masuk barisan sana..”

Perempuan rambut hitam membungkuk hormat, Jongin kira setelahnya si perempuan akan langsung lari kearah lapangan tapi tidak. Perempuan itu menghampiri si lelaki jangkung kemudian mengecup pipinya.

Oh My God, aku yakin dia akan menjadi target senior selama proses penerimaan murid baru,” ucap Jongin sambil bergidik ngeri dengan kelakukan berani si perempuan. Fakta junior berpacaran dengan senior.

Jongin memalingkan pandanganya dari adegan menggelikan itu dan kembali terfokus pada perbincangan bersama murid baru lainnya. Tapi kemudian satu tepukan di pundak Jongin membuatnya berbalik dan mendapati perempuan tadi ada dibelakangnya. “Maaf, ini tempat murid baru kan?” tanya si perempuan sopan.

Setelah melihat adegan tadi, Jongin membayangkan perempuan ini merupakan tipikal yang berdandan heboh, parfum menyengat dan cara berbicara yang menyebalkan. Tapi ternyata tidak. Dia sama saja dengan murid perempuan yang lain. Mungkin adegan cium pipi tadi bisa Jongin kecualikan. “Ah, iya,” jawab Jongin sambil tersenyum.

“Aku Jung Soojung, kenal berkenalan denganmu,” ucap perempuan itu sambil mengulurkan tangan tanda perkenalan.

Jongin menyambutnya dengan senyum. “Kim Jongin,”

Setelah jabat tangan perkenalan itu selesai, Jongin membisikan pada otaknya untuk tidak gampang menilai orang. Setelah dilihat – lihat Soojung jauh dari bayangan Jongin dengan perempuan nakal dalam bayangannya.

“Tapi dia mencium senior didepan umum,” ucap Jongin sambil memperhatikan Soojung yang sedang sibuk berkenalan dengan murid baru lainnya.

“YA! YA! GUNAKAN BAJUMU DENGAN BENAR..”

Jongin memutar bola matanya saat teriakan senior bernama Jongdae kembali menyambangi telinganya. “Dia nampaknya menyiapkan energi banyak untuk hari ini,” dia melirik kearah sumber teriakan dan mendapati senior itu sedang memarahi murid lelaki yang memaki seragam tidak rapih. Kalau dilihat – lihat, murid itu memang cari mati. “Hari pertama dan dia sudah berani memakai seragam tidak dikancing seperti itu,” ucap Jongin sambil menggelengkan kepalnya saat melihat lelaki yang sedang dimarahi dan segera mengancing seragamnya.

Murid baru yang tadi dimarahi karena seragam berbaris disamping Jongin. “Sehun, Oh Sehun,” ucapnya dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.

Jongin mengedikpan matanya skeptis. Dua kali, dua orang yang Jongin kira aneh ternyata sama saja dengan dia. Pertama Soojung, sekarang murid bernama Sehun. Mereka berdua nampak berandal begundal tapi.. “Jongin, Kim Jongin-”

Buk!

Jongin belum selesai dengan kalimat perkenalannya ketika sesuatu mendorongnya dari belakang dan berakhir dengan Jongin terjatuh. Terjatuh, dengan seragam barunya. “Sial” umpat Jongin. Dia bangkit dan membersikan tanah yang tertinggal dibagian lutut seragamnya.

“Ya, ampun… maafkan aku, maafkan aku,” ucap satu suara sambil berlutut mencoba membersikan noda dilutut Jongin.

“Sudah tidak apa, percuma juga tidak akan hilang nodanya,” ucap Jongin kesal.

“Ah, benar juga. Percuma aku membersihkannya,” jawab perempuan yang tadi  membersikan noda dicelana Jongin dan Jongin yakin dia adalah si pendorong tadi. Mendengarkan jawabanya Jongin hanya bisa kaget. Selesai seperti itu.

“Intinya, aku minta maaf oke, aku buru – buru tadi. Senior berisik itu menyuruhku berlari,” lanjut perempuan itu ketika dia berdiri didepan Jongin. “Seulgi, Kang Seulgi,”

Jongin malas untuk berkomentar apa – apa lagi. “Kim Jongin,”

“Sekali lagi, maafkan aku Jongin,” ucap Seulgi sambil berlalu dari depan Jongin kemudian menghampiri gerombolan perempuan lain.

“Wah, perempuan itu..” ucap Sehun. Jongin baru sadar, dia tadi sedang berkenalan dengan Sehun ketika tiba – tiba insiden itu terjadi.

“Aku bertemu banyak murid aneh disini,” ucap Jongin sambil melipat tangannya kemudian menghembuskan nafas sebal.

“Perempuan memang seperti itu,” jawab Sehun sambil menepuk pundak Jongin. Mereka baru kenal beberapa menit yang lalu bukan? Jongin merasa anak ini juga aneh. Apa Jongin juga aneh?

Murid yang mecium senior, murid yang berdandan ala idol, murid yang sikapnya nyentrik, nampaknya pagi Jongin belum selesai ketika tiga mobil mewah memasuki area sekolah. Apa lagi sekarang?

Sekali lagi Jongin menghembuskan nafas sebal, ketika sosok perempuan dengan rambut hitam lurus keluar dari salah satu mobil itu. Disusul dengan beberapa orang yang memberikan tas kepadanya. Tuan Putri, itu yang terbesit dalam fikiran Jongin.

“Itu dia, Wendy Son. Anak pemegang saham sekolah ini,” terdengar percakapan dari murid didepan Jongin.

“Anak pemegang saham? Tentu, Tuan Putri,” ucap Jongin.

.

.

Jarum pendek jam berlabuh diangka delapan. Restoran sedang bersiap untuk tutup, terlihat beberapa karyawan sibuk merapihkan dapur termasuk Jongin dan Taemin yang sibuk dengan tumpukan piring kotor dan sisa bahan masakan. Jongin berniat membawa tumpukan piring kotor keruang cuci, tapi satu suara menghentikan langkahnya.

“Jongin bisa aku minta tolong,” ucap salah satu senior Jongin -MinSeok.

“Ah, iya kenapa Hyeong?

“Aku ada urusan mendadak, istriku sepertinya akan melahirkan. Barusan aku mendapatkan telfon order, kurir lain sudah pulang tinggal aku. Bisa kau menggantikanku?”

“Ah, tentu Hyeong,” jawab Jongin.

“Sebentar,” Minseok Jongin keluar dari pantry kemudian kembali dengan secarik kertas ditangannya. “Aku sangat berterimakasih Jongin, ini alamat dan pesanan mereka. Ah, dan kau bisa langsung pulang setelah mengantarkan pesanan jadi bawa saja dulu motornya,”

“Oke,”

“Terimakasih Jongin,” ucap Minseok sambil berlalu.

Jongin mengikuti langkah Minseok keluar dari Pantry. “Selamat Hyeong, kau akan menjadi ayah,” ucap Jongin sambil menepuk pundak Seniornya.

“Kau tahu Jongin, aku sangat khawatir. Lihat, tanganku sampai bergetar seperti ini,” jawab Minseok sambil menunjukan sepuluh jarinya yang pucat dan bergetar. “Aku pulang dulu, terimaksih”

“Oke, selamat Minseok Abonim..” canda Jongin yang dijawab acungan jempol Minseok.

“Kenapa?” tanya Taemin yang sudah berada disamping Jongin.

“MinSeok Hyeong memintaku menggantikan mengantarkan pesanan, istrinya mau melahirkan,”

“Wah, jadi ayah juga..”

Jongin hanya membalas dengan anggukan kemudian melangkah menuju dapur. Disana tinggal tersisa dua orang karyawan, dua perempuan yang sudah Jongin anggap kakaknya sendiri. “Noona, tiga porsi Chiken Garlic dua porsi Honey Combo 2 posri Potato Wedges dan 1 cola ukuran sedang,” ucap Jongin membacakan pesanan pada perempuan yang sedang merapihkan dapur.

“Mamalia mana yang kelaparan? Jumlah pesanannya sungguh,” ucap perempuan itu kaget saat mendengar pesanan yang dibacakan Jongin.

“Entahlah, pesanan dari-” ucap Jongin memberikan jeda sebelum akhirnya dia membacakan dari mana pesanan itu. “Asrama perempuan Seungri,”

Auhh lihatlah anak perempuan mana yang makan banyak malam – malam seperti ini, oke tunggu 5menit” jawab perempuan itu.

Jongin memberikan jempolnya sebagai jawaban, kemudian beranjak menuju belakang restoran untuk menyiapkan sepeda motor dan helmetnya. “Asrama Seungri? Sudah lama sekali,” ucap Jongin sambil memandang langit malam.

.

.

Seperti pesan Minseok, setelah Jongin selesai mengantarkan pesanan dia langsung pulang dengan membawa motor kurir kerumahnya. Pergi ke Seungri membuat fikiran Jongin melayang pada masa dia masih SMA. Bangunan disana sudah sedikit berbeda. Terdapat beberapa renovasi yang membuatnya tampil beda. Asrama perempuan pun sudah jadi lebih cantik dengan ornamen vintage di ruang tunggunya yang membuat kesan perempuan semakin kental.

21 Tahun umur Jongin sampai hari ini, Jongin merasa bagian terindah adalah ketika dia menjadi murid SMA tiga tahun yang lalu. Masa ketika dia mendapati lima teman unik yang mebuat harinya menjadi sangat berwarna.

Jongin tengah melepaskan helmet ketika dia merasakan ponselnya bergetar. Jongin dengan segera mengambil dari saku jaketnya. Bukan telfon, bukan pesan, bukan chating tapi hanya sebuah alarm pengingat. Pengingat bahwa hari ini adalah ulang tahunnya.

“Ah, selamat ulang tahun Kim Jongin,” ucap Jongin sambil kembali memasukan ponselnya kemudian melangkah menuju rumahnya. “Hyeong pulang tidak ya? Dia ingat ulang tahunku tidak ya?” tanya Jongin pada dirinnya sendiri. Karena setiap tahun kakaknya memang selalu ada dimalam ulang tahunnya.

Jongin memutar kenop pintu, kemudian menghitung sampai tiga dalam hatinya. Jongin berharap saat hitungan ketiga kakaknya akan berteriak dengan heboh. “selamat ulang tahun KIM JONGIN,

1

2

3

Clek.

“Selamat ulang tahun, Jongin..”

Tepat pada hitungan ketiga dan tepat ketika Jongin memasuki rumahnya, satu suara menyambut Jongin. Satu suara lembut dengan sedikit isakan, bukan suara heboh kakaknya yang dibauri suara tawa. Tapi suara dari seorang Jung Soojung yang sedang berdiri didepan Jongin dengan kue tart dihiasi beberapa lilin, hanya Soojung.

“Selamat ulang tahun Kim Jongin, sahabatku, dan aku merindukanmu bodoh,” ucap Soojung sambil berjalan mendekati Jongin dan Jongin baru sadar ada air mata di pipinya.

.

.

Kim Jongin Selamat ulang tahun,

Aku harap surat ini datang tepat dihari ulang tahunmu, siapapun kurir yang mendatangkan tepat waktu aku ucapkan terimakasih.

Selamat ulang tahun sahabatku, Kim Jongin. Semoga tahun ini menjadi keberuntunganmu.

Sekarang tutup matamu dan ucapkan apa yang kau harapkan. Percaya padaku, setiap pengharapan pasti akan ada pengabulan. Kau ingat ketika ulang tahun Seulgi dia berharap bisa menghadiri pesta dan beberapa hari kemudian ada festival kembang api dikota? Kita kemudian kesana secara berpasangan.

Atau kasus Sehun yang berharap bertemu dengan idolanya IU? Meski berujung dia memaksaku untuk menemaninya kesana.

Intinya setiap pengharapan pasti ada jawabannya.

Jadi cepat katakan doamu Jongin. Semua akan terkabul.

Kecuali kau mengharap kehadiranku.

With Love

Tuan Putri.

.

.

-Bersambung-

Mind to review guys ^^

XOXO❤

44 thoughts on “Letter From Nowhere : #2 Letter – Anak Baru itu Tuan Putri

  1. Ping-balik: Letter From Nowhere : #6 Letter – Mari Kita Bicarakan | EXO Fanfiction World

  2. Ping-balik: Letter From Nowhere : #5 Letter – Cerita para Lelaki | EXO Fanfiction World

  3. Aaaaaaaaaa daebak seru bgt, dan oh ya ampun si wendy jdi tuan putri? Bnr2.
    Lalu apakah distiap bagan akhir ffnya ada bkalan surat dri wendy? Tpi ktanya wendy udh meninggal? Lalu itu bsa ada srat dri spa?
    Thor daebak, tpi q mesti ngiranya end, soalnya author nulisnya bersambung. Tpi gk papa kok.
    See ya in the next pos

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s