Letter From Nowhere : #4 Letter – Sebelum Tetesan Hujan

nowhere

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter :1 . 2 . 3 .

.

.

Thaks buat komen kalian di chapter sebelumnya, bikin aku makin semangat buat posting fanfic ini tepat waktu. Sekarang senin kan? waktunya Letter From Nowhere, dan mau ngasih tau, chapter ini bakal panjang dari biasanya. Entahlah, aku ga bisa berhenti ngetik buat chapter ini, mau dicut ilang nanti feelnya, so.. put attention guys ^^

.

.

Sebelum Tetesan Hujan

Jongin kembali terbangun pagi ini dikamar kakaknya yang penuh dengan tempelan artikel yang membahas keuangan negara. Ya, Joonmyeon -kakak Jongin sekarang bekerja di Kementrian Keuangan Negara dengan jabatan yang lumayan bisa dia banggakan. Sejak SMA kakaknya memang sudah menunjukan minatnya pada bidang ekonomi, yang selanjutnya mendapat dukungan penuh dari kedua orang tua mereka untuk mendalami minatnya itu.

Bangkit dari kasur berbalut sprei coklat, Jongin beranjak membuka jendela dan membiarkan sinar pagi matahari menyapa wajahnya. Udara dan hangat ini memberikan sedikit rasa nyaman pada Jongin setelah semalaman dia merasakan dingin dan takut. Ingatannya kembali pada kejadian semalam, ketika dia mendapati Soojung tengah membeku didepan pintu rumahnya. Pertanyaan muncul dibenaknya, malam sebelumnya Soojung berhasil masuk kenapa semalam dia malah menunggu Jongin? semua terjawab ketika Soojung berkata “Bantu aku Jongin,” perempuan secara umum memang mahluk lemah yang butuh perlindungan. Dan lagi Jongin bertanya, apa dia bisa membantu Soojung? tapi mendiamkan temannya seperti itupun, setelah Jongin tahu segalanya juga sangat kejam. Cukup sekali saja Jongin menjadi penabur dosa, dia tidak bisa membiarkan sahabatnya yang lain menderita karenanya.

Hari ini sebenarnya Jongin ada dua mata kuliah, tapi semua dia batalkan setelah mendengar cerita Soojung semalam. Jongin punya rencana lain hari ini. Setelah membasuh muka dan menggosok giginya, Jongin beranjak menuju dapur untuk membuat sedikit sarapan kecil.

Berkutat dengan Nasi, telur dan sedikit kimchi, Jongin berhasil dengan dua piring Nasi Goreng. Satu untuknya dan satu untuk Soojung.

Setelah selesai menata sarapannya, Jongin beralih pada ponsel disaku celana trainingnya. Membuka menu pesan, kemudian mengetikan kalimat pada nomor yang dari semalam sudah Jongin rencanakan.

to : Chanyeol Hyeong

Hyeong, bisa bertemu hari ini?

Tidak lama, sekitar selang 3 menit kemudian pesan Jongin untuk Chanyeol sudah dibalas. Dengan segera Jongin membacanya.

From : Chanyeol Hyeong

Ada apa ini? Orang asing menghubungiku tiba – tiba, hahaha aku bekerja seperti biasanya. Ada sesuatu? kau datang saja ketempatku dulu,

to : Chanyeol Hyeong

Oke Hyeong, sekitar satu jam lagi aku tiba disana.

Jongin menyimpan kembali ponselnya kemudian beranjak menuju kamarnya. Dibukanya pelan, pintu berwarna putih berpelitur coklat itu, kemudian Jongin melongokan kepalanya kedalam kamar.

Lampu kamar masih menyala, jendela masih tertutup dan Soojung disana masih terlelap dibalut selimut hangat milik Jongin. Tidak tega untuk membangunkannya, karena semalam Soojung baru tertidur menjelang pagi, segera Jongin menutup pintu itu lagi.

Kembali keruang makan, Jongin menuliskan noted kemudian dia tempelkan dimeja makan.

Soojung,

Makanlah, jika kau sudah bangun. Aku keluar sebentar. Jangan pergi kemana – mana dulu.

-Jongin.

.

.

Kurang lebih satu jam kemudian, dengan menggunakan subway dan berjalan sebentar, Jongin sekarang sudah berdiri didepan gedung tempat Chanyeol bekerja. Gedung yang mungkin setinggi 16 lantai itu, tempat dimana tercetak idol – idol baru yang siap menjalankan tugasnya untuk menjadi penyebar hallyu Wave.

Jongin merapatkan coat coklatnya dari hembusan angin dingin diawal Februari, kemudian melangkah menuju salah satu cafe yang terletak tepat disamping gedung manajemen artis tersebut.

Setelah memesan satu coklat panas, Jongin mengambil kursi disamping kaca besar yang langsung memberikan pemandangan jalan Seoul. Ketika pesanannya datang, Jongin kembali meraih ponselnya kemudian melakukan panggilan pada nomor Chanyeol.

Hyeong aku sudah sampai, dicafe samping kantormu,” ucap Jongin. “Oke, aku tunggu,”

Tidak lama, orang yang ditunggu Jongin datang. Lelaki dengan tinggi 180cm lebih, rambut hitam rapih tertata, senyum yang selalu terpatri diwajahnya, suara berat yang berkharisma itulah sosok Chanyeol. Park Chanyeol yang menurut Jongin merupakan sosok lelaki idaman bagi wanita. Lihat saja, ketika masuk kedalam cafe, sudah berapa wanita yang menyapanya.

Chanyeol terlihat memutar pandangannya, sampai akhirnya kedua mata itu mendapat sosok Jongin yang tengah tersenyum kepadanya. Chanyeol melambaikan tangannya, berjalan sebentar kecounter barista untuk memesan lalu berjalan kearah Jongin.

“Oh, lihat siapa ini..” tanya Chanyeol setelah duduk tepat didepan Jongin.

Hyeong apa kau sekarang seorang idol?” tanya Jongin sambil tertawa kecil.

“Kenapa?”

“Aku perhatikan sejak tadi banyak sekali gadis yang menyapamu,”

“Ini cafe tepat samping tempatku bekerja, jadi semua yang disini rata-rata karyawan atau para trainee.” jelas Chanyeol sambil mengucapkan terimakasih pada pelayan perempuan yang mengantarkan pesanannya. Lihat, bahkan pelayan itu terlihat tersipu ketika Chanyeol memberinya senyuman.

“Kenapa kau begitu terkenal,” kekeh Jongin lagi.

“Karena aku tampan,” jawab Chanyeol menimpali lelucon Jongin. “Dan, aku adalah musisi terkenal dengan lagu yang selalu berada dinomor 1 chart bulanan. Mereka tahu aku adalah orang dibalik kesuksesan idol mereka”

“Oh, sudahlah,” ucap Jongin sambil memutar bola matanya.

“Hahaha, kau yang bertanya Jongin. Aku hanya menjawab berdasarkan fakta”

Chanyeol sejak SMA memang terkenal dengan keahliannya bermain gitar dan meramu kata menjadi bait – bait lagu yang indah. Pernah sekali dia membuatkan lagu untuk Seulgi yang baru putus cinta dan lagu itu sukses membuat Seulgi kembali menangis, terkenang cintanya yang berakhir.

Dengan bekal wajah tampan, bakat bermusik, dia sempat memilih untuk menjadi artis. Tapi seluruh keluarganya menolak. Mereka bilang, apa gunanya otak yang pintar jika ujung – ujungnya menjadi artis. Karena memang passionnya ada dimusik. Chanyeol memutuskan untuk menjadi orang yang bekerja dibalik layar, dibalik kesuksesan idol – idol yang membawakan lagunya.

“Hahah, ayolah. Sekarang siapa yang tidak kenal EXO dengan lagu – lagu hits mereka, dan siapa yang meramu lagu itu? tangan – tangan ini, ” ucap Chanyeol sambil memamerkan sepuluh jari lentiknya tepat diwajah Jongin.

“Aku mencintai musik Jongin, maka dari itu aku memutuskan berjalan disini. Kau?” Chanyeol menghentikan ucapannya kemudian menatap Jongin. “Kau sungguh meninggalkan minatmu pada tari? kalau kau mau, kau bisa debut sebagai salah satu idola di perusahaanku,”

Jongin tertawa mendengar ide konyol Chanyeol, kemudian melemparkan bungkus gula sachet tepat kearah Chanyeol. “Gila, tidak terbayang olehku menjadi bagian dari mereka, ah membayangkannya saja membuatku mual,”

“Hahaha, kenapa?”

“Tidak akan pernah, hahaha..”

Mereka melanjutkan berbincang – bincang sekedar menanyakan kabar, apa yang sedang dilakukan, Chanyeol juga bertanya kabar kakak Jongin. Sampai akhirnya Jongin ingat dengan maksud dia bertemu Chanyeol hari ini. Tentang Soojung.

Ah, Hyeong. Aku ingin berkumpul seperti dulu,”

“Siapa?”

“Kita, Hyeong, Soojung, Seulgi…” namun lidah Jongin kelu ketika harus menyebutkan nama salah satu temannya. Sehun.

“Sehun,” lanjut Chanyeol. “Kau sudah bertemu Sehun? kalian sudah dewasa, bicarakan masalah kalian. Aku lelah melihat kalian berdua seperti ini,”

“Nanti, mungkin…” jawab Jongin. “Hyeong, apa kabar Soojung?” tanya Jongin lagi.

Chanyeol yang tengah mengaduk kopi keduanya, terlihat terdiam. Kemudian dia menegak kopi itu sebelum menjawab pertanyaan Jongin. “Dia baik – baik saja, sedang sibuk dengan kuliahnya yang sebentar lagi selesai, ah kalian sebentar lagi lulus bukan?”

Jongin mengangguk untuk pertanyaan Chanyeol yang terakhir. “Aku rindu anak itu, boleh aku main kerumahmu hyeong?” lanjut Jongin.

Chanyeol meletakan cangkir kopinya, meninggalkan suara gelenting yang membuat jantung Jongin berdebar. Apa dia akan marah? bisik Jongin. Chanyeol terlihat membuang nafas berat, jeda tercipta diantara mereka. Chanyeol bahkan enggan untuk menatap kearah Jongin dan sibuk memandang jalanan Seoul yang ramai, terlihat bahwa Chanyeol sedang menimbang apa yang harus dia katakan.

“Aku tahu semuanya hyeong, Soojung ada dirumahku sekarang,” Jongin memberanikan diri mengeluarkan maksud utamanya. Mendengar kalimat Jongin, rahang Chanyeol terlihat mengeras.

Hyeong?

“Enam tahun sudah berlalu Jongin, kita sudah berbeda,” ucap Chanyeol dengan suara yang bisa dikategorikan dingin.

“dan kau sudah tidak bisa memandangan Soojung sebagai adikmu lagi Hyeong?” Jongin tahu ini salah, tidak baik menyulut emosi orang dengan kalimatnya yang begitu menohok.

“Kau tidak akan mengerti Jongin,”

Yaps, memang. Aku tidak pernah mengerti dengan hidup ini, tidak pernah sama sekali. Tapi aku mengerti rasa bersalah Soojung.” ucap Jongin dengan berani. “Apa hyeong sudah mengjenguk ibu Soo- ah, bukan maksudku ibumu dirumah sakit? Soojung menangis karena hal itu,”

Diam. Chanyeol tidak menjawab kalimat menyudutkan Jongin. Dia terus memandang keluar cafe menjatuhkan matanya entah pada orang yang sedang berjalan, atau mobil yang terjebak macet.

Hyeo-

“Aku belum bisa membicarakan ini Jongin. Mian,” Chanyeol bangkit dari duduknya kemudian melangkah meninggalkan Jongin.

Jongin yang mendapatkan reaksi Chanyeol seperti ini segera berdiri dan mengejar lelaki itu. Setelah berhasil meraih tangannya, Jongin berkata dengan pelan. “Soojung untuk sementara diam dirumahku, jadi hyeong tidak perlu khawatir,” yang dijawab anggukan pelan dari Chanyeol.

Selanjutnya, Chanyeol kembali melangkah membelah kerumunan gadis yang sedang meneriakan nama idola didepan gedung tempat Chanyeol bekerja. Ini akan menjadi waktu yang sulit untuk Chanyeol.

.

.

Kembali pada kejadian malam itu. Ketika Jongin mendapati Soojung terduduk didepan pintu rumahnya dengan tubuh menggigil kedinginan dan mata sembab karena menangis. Sejak malam ulang tahunnya Jongin sadar, ada sesuatu terjadi dengan Soojung.

Malam itu setelah memapah Soojung masuk kerumahnya, memberikan Soojung selimut dan secangkir teh hangat, Jongin menyaksikan perempuan ah bukan sahabatnya itu kembali menangis.

Jongin tidak bisa banyak berbuat, dia hanya bisa duduk mendekati Soojung kemudian dengan pelan memeluknya dan membiarkan Soojung membasahi kausnya malam itu.

“Ibuku masuk rumah sakit Jongin, jantungnya kambuh dan kali ini sangat fatal, aku takut” ucap Soojung dengan suara masih bergetar dan air mata masih mengalir di pipinya. “Dan itu semua karena aku,” lanjut Soojung.

“Ceritakan padaku apa yang terjadi,”

Dan Soojung menceritakan semuanya.

Jongin tahu tentang latar keluarga Soojung. Dia adalah anak tunggal dan ditinggal ayahnya meninggal saat kelas 6 sekolah dasar. Tahun kedua SMP, ibu Soojung memutuskan untuk menikah lagi. Soojung tidak menolak, karena ia tahu posisi ibunya. Tapi bukan berarti Soojung menyetujui 100%. Dia memiliki sarat jika nanti ibunya sudah mendaftarkan secara resmi pernikahannya Soojung tidak mau mereka memaksa Soojung untuk berganti marga, ibunya setuju. Soojung juga bilang, dia tidak bisa hadir di pernikahan ibunya, itu juga disetujui.

Kemudian terbentuklah keluarga baru, Ibu Soojung yang menikah dengan lelaki duda satu anak. Ayah Chanyeol. Chanyeol dan Soojung resmi menjadi kakak adik tiri.

Terbiasa hidup sebagai anak tunggal, Soojung mendapatkan satu kenyamanan baru ketika Chanyeol -sebagai kakak tirinya, tidak banyak menuntut. Seiring berjalannya waktu, Soojung berhasil menerima kehadiran Chanyeol sebagai kakak yang sangat ia sayangi. Ya, Soojung sangat menyayangi Chanyeol, sebagai kakaknya. Bahkan Soojung tidak pernah menempelkan status tiri, ketika mengenalkan Chanyeol pada orang lain.

Delapan tahun menghabiskan waktu bersama, Jongin bahkan menjadi salah satu orang yang tahu seperti apa hubungan kakak – adik Chanyeol – Soojung, ternyata sebuah rasa lain muncul. Chanyeol memandang Soojung sebagai wanita, bukan adik kesayangan yang selalu dia lindungi semasa sekolah. Tidak.

Puncaknya, sekitar dua minggu lalu. Ketika Ayah mereka mengadakan makan malam bersama rekan bisnisnya, disana Soojung dikenalkan dengan anak dari kenalan Ayah mereka. Lelaki itu bernama Kim MyeongSoo. Lelaki yang berhasil menarik perhatian Soojung.

Klimaks dimulai. Chanyeol mulai bersikap aneh, dia benci ketika Soojung terus membicarkan tentang Myeongsoo. Ketika Ayah mereka berencana mengadakan acara makan malam lagi, khusus dengan keluarga Kim, Chanyeol menolak habis – habisan. Terbongkar semua. Chanyeol mengeluarkan perasaan bertahun – tahun yang dia pendam. Kejujuran yang menggoncakan keluarga mereka. Ayahnya memarahi Chanyeol habis – habisan, Ibu mereka masuk rumah sakit karena syok berat. Dan disini Soojung sekarang bersama Jongin.

Oppa bahkan seminggu ini tidak pernah kerumah. Ayah terus berjaga dirumah sakit, dia bahkan tidak masuk kekantornya.” ucap Soojung sambil terisak. “Tapi Oppa tidak pernah muncul sejak saat itu, bahkan untuk melihat kondisi Ayah dan Ibu

Soojung kembali menangis, Jongin kembali meraih tubuhnya dan memeluk memberikan kekuatan.

“Kau tahu Jongin? aku merasa terkhianati. Dia seakan cuci tangan dengan semua kekacauan yang dia ciptakan sendiri, aku ingin menemuinya tapi aku tidak sanggup.”

“Jangan, jangan dulu..” ucap Jongin.

“Aku takut dengan kondisi ibu. Tidak masalah dia tidak menjenguk Ibu, karena memang hanya ibu tiri baginya. Tapi apa dia tidak kasihan melihat Ayahnya yang seminggu ini terus terjaga, Ayah juga bisa sakit kalau terus – terusan seperti ini. Aku merasa dia telah menodai rasa cinta kami selama ini,” lanjut Soojung lagi.

“Sudah, sudah, sekarang aku sudah mengerti keadaannya. Kau sudah makan?” tanya Jongin yang dijawab gelengan lemah Soojung. “Kubuatkan Sup oke?”

Jongin mengusap pipi putih Soojung dengan ibu jarinya untuk menghilangkan jejak air mata kemudian tersenyum manis. “Kuatlah Jung Soojung,”

“Jongin,” ucap Soojung. “Aku ada satu permintaan,”

“Boleh,” jawab Jongin kemudian. “Kau boleh tinggal disini untuk sementara waktu.”

“Bagaimana kau tahu?” ucap Soojung, saat Jongin berhasil menebak permintaanya.

“Bukankah dari dulu aku adalah orang yang serba tahu tentang kalian?” tanya Jongin yang dijawab anggukan setuju Soojung.

.

.

Jongin melangkah pulang dengan langkah berat dan otak yang terus memutar apa yang Soojung katakan semalam. Tentang Chanyeol dan Soojung. Dilihat dari kesedihannya, nampaknya Soojung kecewa dan marah karena Chanyeol tidak muncul sejak insiden itu. Jika Jongin menimbang juga, apa yang Chanyeol lakukan memang salah.

Bukan tentang cinta, tapi tentang tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan.

Ah, Jatuh cinta itu tidak salah, tapi terkadang cinta selalu datang pada waktu dan orang yang salah,” ucap Jongin bergumam sambil merapatkan coatnya. Rumahnya sudah terlihat Jongin berjalan lebih cepat, tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang keluar dari pekarangan rumahnya.

Seseorang, ya seseorang yang sangat Jongin kenal.

“Oh Sehun?” ucap Jongin.

Sehun terlihat keluar dari pekarangan Jongin, berhenti didepan rumahnya kemudian menatap rumah Jongin sebelum akhirnya dia kembali berlalu.

Jongin sebenarnya ingin menghampiri Sehun lalu bertukar sapa dengan sahabat lamanya itu, tapi entah kenapa gelagat Sehun mencurigakan. Seketika Jongin teringat dengan surat – surat aneh yang belakangan ini sering datang padanya.

“Jangan bilang?” kedua mata Jongin melebar ketika teringat dengan surat aneh dan kedatangan Sehun.

Setelah Sehun jauh dari rumahnya, Jongin segera berlari memasuki pekarangan rumah kemudian dengan tergesa membuka pintu depan. Setelah berhasil membuka pintu, Jongin dengan hati berdebar mencari – cari sepucuk surat didepan sana. Di dekat rak sepatu, dibawah tempat mengganti sliper, dibelakang pintu tapi nihil.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Soojung dengan aneh saat meliaht Jongin seperti orang gila mencari sesuatu didepan pintu.

Jongin sadar dari kekalutannya, dia menghembuskan nafas kemudian menggeleng pelan. Dia menatap Soojung kemudian teringat dengan kedatangan Sehun. Jongin baru ingat ada Soojung dirumahnya. Mungkin saja Soojung memanggil Sehun kesini.

“Apa tadi ada orang lain kesini?” tanya Jongin.

“Tidak ada,”

“Sehun?”

“Sehun?” tanya Soojung.

Jongin mengangguk. “Ehm, apa ada Sehun kesini?” tanya Jongin.

“Tidak ada, dan… kalian sudah berbaikan?” tanya Soojung menyelidik.

Jongin hanya menghembuskan nafas berat, kembali teringat dengan Sehun yang tadi dia lihat didepan rumahnya. Surat tidak ada, Soojung pun tidak tahu, apa yang dilakukan Sehun? apa dia menyimpan bom untuk menghancurkan rumah ini dan membunuh Jongin?

“Kim Jongin?” tanya Soojung lagi sambil mengayunkan tangannya didepan wajah Jongin.

“Ah, mian..

“Kenapa?”

“Tidak ada,” jawab Jongin sambil menggunakan sliper kemudian melangkah menuju ruang tengah.

Jongin terduduk disofa coklat ruang tengah, Soojung ikut terduduk disana. Televisi tengah menayangkan acara musik mingguan dimana acara puncak pemberian medali pada grup yang mendapatkan nilai tertinggi dari berapa banyak lagu mereka didengarkan public sedang diumumkan.

“Dua grup idola itu dari manajemen tempat oppa mu bekerja bukan?” tanya Jongin saat membaca dua nama grup dilayar televisi.

ehm..” jawab Soojung.

“Siapa yang akan menang?” tanya Jongin.

“Tiga grup dan dua grup lagu hits mereka ciptaan oppaku. Dan lagi, EXO sedang digilai akhir – akhir ini, nampaknya mereka yang akan menang,” jawab Soojung dengan jutek.

Jongin tersenyum kemudian mengacak pelan rambut Soojung. “Yang bersalah oppamu, kenapa kau malah membenci idola yang dia asuh,” ucap Jongin.

“Dari awal aku memang tidak suka grup itu,” jawab Soojung sambil menunjuk kearah televisi yang tengah menampilkan dua belas lelaki menyerukan terimakasih. Sesuai prediksi Soojung, EXO menang.

“Malam ini aku akan tidur dirumah sakit Jongin. Ayah akan kupaksa pulang, aku juga mungkin akan kerumah dulu untuk membawa beberapa barang,” ucap Soojung membuka percakapan baru.

“Kapan kerumah dulu?”

“Sekarang,” jawab Soojung. “Ada beberapa yang ingin aku bawa kerumah sakit,” lanjut Soojung.

“Baiklah, aku temani. Kalau kau mengijinkan aku juga bersedia menemanimu menginap dirumah sakit,” ucap Jongin.

Soojung berbalik menghadap Jongin kemudian tersenyum. “Dengan senang hati, Ayah mungkin akan pulang kalau tahu kau menemaniku. Kau serius?”

Jongin mengangguk.

“Baiklah, tunggu sebentar aku mengambil sesuatu dulu dikamar,” Soojung berlalu masuk kekamar Jongin yang sudah dua malam menjadi kamarnya. Sekitar lima menit kemudian Soojung keluar dengan coat yang sudah melekat ditubuhnya. “Sekarang?” tanya Soojung. “Antar aku kerumah dulu,”

Jongin mengangguk kemudian beranjak dari duduknya, “oke,”

Lampu dimatikan, begitupula televisi. Soojung sudah memasang sepatunya tinggal menunggu Jongin. Ketika sudah siap, mereka membuka pintu depan rumah Jongin, namun satu hal membuat Jongin terdiam.

“Hujan,” ucap Jongin dengan suara bergetar kemudian melangkah mundur.

Soojung yang melihat ini tergurat ekspresi khawatir diwajahnya. Dia menutup pintu kemudian menatap Jongin. “Kau baik – baik saja?” tanya Soojung.

Jongin masih terdiam seakan dia tidak menyadari kehadiran Soojung disana.

“Kim Jongin,” ucap Soojung sambil menyentuh tangan Jongin. “Ini tidak akan berhasil, kau dirumah saja, biar aku kerumah sakit sendirian,”

Jongin menatap Soojung kemudian Soojung memberinya satu senyuman. Seakan tidak memiliki kekuatan, Jongin melangkah menuju kamarnya dengan bantuan Soojung. “Kalau hujan bertahan sampai nanti malam, aku sepertinya tidak akan menginap, sekarang kau tidur saja,”

“Aku minta maaf Soojung,”

“Kau tidak salah Jongin,”

Soojung melangkah meninggalkan Jongin dikamar itu. Setelah pintu tertutup, Soojung membuang nafas berat kemudian menyandarkan tubuhnya dipintu kamar Jongin. “Aku tidak tahu dia masih seperti ini setelah tiga tahun berlalu.”

.

—————————————

.

Enam bulan berlalu sejak penerimaan murid baru. Jongin yang kebetulan menjadi teman sebangku Wendy, sudah begitu akrab dengannya. Mengerjakan tugas bersama, berkelompok, bercerita masalah sekolah, dan banyak lagi.

Kalau diperinci mungkin bukan cuma Wendy yang sekarang menajadi teman akrab Jongin tapi ada yang lain juga, Soojung, Seulgi, Sehun dan Chanyeol.

Wendy, Jongin dan Soojung satu kelas jadi mereka bertemu setiap hari dan menjadikan mereka teman akrab. Sehun teman satu kamar Jongin yang entah sejak kapan dimulai, Jongin dan sehun menjadi begitu akrab. Soojung dan Seulgi teman satu kamar, selang beberpa bulan kemudian ketika penghuni kamar mereka ada yang pindah, Wendy masuk sebagai pengganti. Lalu, Seulgi dan Sehun juga berada dikelas yang sama. Semua hal kebetulan ini semakin mempererat pertemanan mereka. Dan tentang Chanyeol, selain dia adalah kakak Soojung, mereka sering mendapat bantuan dari Chanyeol untuk menyelesaikan tugas sekolah.

Jadi terbentuklah koloni persahabatan itu. Jongin, Soojung, Wendy, Sehun, Seulgi dan Chanyeol.

Seperti sore ini. Setelah selesai dengan aktivitas dikelas, mereka berkumpul diatap gedung asrama lelaki. Mereka berenam berkumpul disana, membicarakan hal sepele dan bersenda gurau.

“Ah, kalian tahu? ternyata Jongin memiliki bakat terpendam,” ucap Wendy ketika mereka tengah menghabiskan camilan diatap asrama.

“Apa?” tanya Seulgi antusias sambil melirik Jongin. Sudah menjadi ciri khas Seulgi memang, mencari hal aneh dari sahabatnya untuk dijadikan bahan olokan.

“Jongin ternyata pandai menari,” sambung Wendy. “Beberapa hari lalu aku meminjam ponselnya, disana ada video saat dia menari mungkin waktu SMP dia hebat sekali,” ucap Wendy antusias.

“Hah! kalau menari semua orang juga bisa,” ucap Sehun sambil memasukan beberapa potong keripik kedalam mulutnya. “Termasuk aku,”

Soojung melirik jijik pada temannya satu ini. “Tidak juga,” jawab Soojung. “Robot tinggi satu ini tidak bisa menari sama sekali,” lanjut Soojung sambil menujuk Chanyeol yang tengah bermain dengan gitarnya.

“Tapi Chanyeol Oppa pandai bermain gitar dan bernyanyi,” sambung Seulgi.

“Menyanyi?” ucap Soojung, “Aku fikir, aku, Wendy dan Seulgi juga memiliki suara yang tidak terlalu buruk untuk menyanyi,” lanjut Soojung yang dijawab anggukan Wendy dan Seulgi. “Tidak temasuk Jongin dan Sehun dengan suara kaleng jatuhnya, hahahhaa…

Satu lelucon Soojung sontak membuat mereka tertawa juga geram bagi Jongin dan Sehun. Mereka berdua bergantian melempari Soojung dengan remah keripik. Kebersamaan yang mungkin akan membuat iri beberapa orang.

Chanyeol baru saja mengusulkan untuk bernyanyi ketika dia mula menarikan jarinya diatas senar gitar dan Wendy sudah memilih lagu, tapi kemudian hujan turun. Soojung, Seulgi dan Sehun menikmati hujan dengan melakukan kejar – kejaran dibawah hujan.

Jongin juga ingin ikut bergabung ketika tangan panjang Chanyeol menariknya. Tapi langkah Jongin terhenti ketika dia melihat Wendy berlari menghindari hujan menuju gudang. Jongin menunjuk Wendy kemudian Chanyeol melepas tarikannya.

Jongin berlari menyusul Wendy yang terlihat beringsut menjauh dari air hujan. “Kenapa?” tanya Jongin.

Wendy yang tengah mengeringkan sisa air hujan dikakinya terperanjat mendapati Jongin ada disampingnya. “Apanya?” tanya Wendy bingung.

“Kau tidak suka hujan? kau terlihat takut seperti itu,”

“Aku ini putri duyung, aku benci air,” jawab Wendy sambil tertawa.

“Kau ini,” Jongin ikut tertawa.

“Serius, aku takut air,” ucap Wendy

Jongin tertawa. “Aku juga, aku takut air melunturkan ketampananku, hahahha

.

.

Bersama tetesan air hujan aku mengirim surat ini padamu,

Jongin apa kabar?

Banyak hal didunia ini yang aku sesali. Aku menyesal kenapa tuhan menggariskan hidupku seperti ini. Aku bahkan bisa hancur hanya karena air hujan yang menyentuhku.

Tapi terimakasih,

Kau dengan tanganmu membawaku berlari dibawah hujan hari itu. Setelah sekian lama, akhirnya aku merasakan tetes demi tetes air hujan jatuh tepat ditubuhku, berkat dirimu Jongin.

Terimakasi telah mengabulkan permintaanku.

W.Son

.

.

Bersambung

kalian tahu kenapa aku ga bisa ngetik buat chap ini? tolong aku terbius dengan kedekatan Soojung Jongin. Guys, bagaimana ini, apa boleh aku membiarkan Jongin dan Soojung manis seperti ini OTL.

as always, mind to review ^^

XOXO

51 thoughts on “Letter From Nowhere : #4 Letter – Sebelum Tetesan Hujan

  1. Ping-balik: Letter From Nowhere : #6 Letter – Mari Kita Bicarakan | EXO Fanfiction World

  2. Woah… soojung trnyta pnya msalah sma chanyeol, trus itu sehun mw ngpain sih? dia yg suka ngrim surat itu kali ya? stu psangan yg d rmalan itu soojung sma jongin kah?

  3. maaf baru komen di chapter ini. ceritanya bener-bener bagus, tiap karakter punya konflik masing-masing, dan alur dari waktu sekarang ke flashback yang bikin penasaran sama apa sebenarnya terjadi sama persahabatan mereka.. ditunggu chapter berikutnya.. Fighting !!!

  4. Ping-balik: Letter From Nowhere : #5 Letter – Cerita para Lelaki | EXO Fanfiction World

  5. ini masih ada lanjutannya kan?
    udah muncul belum?
    kalau belum cepetan ya lanjutan ff nya.. penasaran sama apa yang selanjutnya terjadi..

  6. Jujur aku awalnya gabegitu suka kalo pairingnya gak sama OC, tapi baca cerita ini bikin pikiran aku berubah. Ceritanya bagus banget, bener-bener bisa nge-gambarin gimana persahabatan mereka selama ini.
    Terus feelnya juga kerasa, ditambah ada adegan kisah cinta antar saudara. Bener-bener favorit aku deh😀 Btw si Wendy itu nggak meninggal kan? Tapi bnyak yang ngira dia meninggal ya? Sebenernya yang Ramalan masa depan part tiga aku juga udah baca, penasaran bnget katanya bakal ada satu pasangan. Siapa ya? Padahal bagus kalau ada tiga pasangan, sesui jumlah. Dn aku paling ngeship ntar SooJung x Chanyeol xD. Wkwkw :V duh bagus banget pokoknya. Sampe komentar panjang gini -_- saya suka saya suka (?) Semangat ya :3 ditunggu kelanjutanya ‘-‘ jangan lama2 loh kalo post /?😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s