THE DEVIL GOT ME [ONESHOT]

the-devil

Tittle : The Devil Got Me

Author : sehunblackpearl

Main Cast :

  • Oh Sehun [EXO]
  • Kim Joo Young [OC]

Genre : Romance, dark romance, supernatural

Poster cr : imjustagirls @ artfantasy

Rated : PG

Summary : Joo Young tidakpernah dengan sengaja berharap iblis akan mengabulkan keinginannya. Tapi saat gadis-gadis keji itu memperoloknya dengan memberinya sebuah pemuda jerami untuk menjadi kekasihnya, dia hanya berbisik pada angin dan iblis mengabulkan permintaannya dengan mengubah pemuda jeraminya menjadi seorang pemuda tampan dengan dagu yang tajam, tatapan memabukkan, dan kulit sepucat kabut. Dan Joo Young merasa bahagia.

Disclaimer : Exo milik SM

Warning : I don’t accept bash and don’t tolerate siders and plagiator. Respect please🙂

A/N: Hai hellow🙂 Ada yang kangen aku gak? /gak/ I’m back readerdeul *cipok basah* hehe setelah sekian lama menghilang (lagi) saya kembali (lagi) dengan tidak tau diri dan membawa fanfic baru yang gaje /padahal you’re crazy and I’m out of my mind ga dipublish juga lanjutannya >< Maap yah saya suka ngaret dan ingkar janji tapi lupain aja deh ff itu untuk sementara dan let’s back to our main story *ceilaaah. Btw ff ini sebenarnya aku ambil ceritanya entah dari legenda atau folklore atau dongeng (sama aja) tentang “Rusalka si Pemintal dan Pemuda Iblis dari Jerami” yang aku baca di novel Alchemist and the Angel karangan Joanne Owen. Cuman ini aku ubah jadi Oh Sehun- Kim Joo Young mode dan banyak bagian yang aku tambahin di sana sini sampai-sampai cerita yang awalnya cuman 2k words bisa jadi 5k lol because I’m a fabulous b*tch /throw confetti/ Ini pertama kali aku buat ff tema dark dan supernatural gini, habis selama ini kan aku bikin ff yang ala drama korea sama komik-komik jepang gitu, jadi kali ini semacam eksperimen gitulah buat sesuatu yang berbeda. So happy reading guys dan jangan pernah lelah dengan saya maupun cerita saya. Dan jangan lupa review juga yaaah *cipok basah lagi*

.

The Devil Got Me

.

Ini cerita tentang seorang gadis yang memberikan hatinya pada objek yang salah

Terkadang dia tidak mengerti dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Gadis-gadis itu, dengan baju berumbai dan pita cantik menghiasi kepala mereka, membicarakan hal yang sama setiap hari berkumpul. Sekelompok gadis dalam perkumpulan tiap minggu di sebuah pesta memintal. Yang mereka lakukan setiap hari seraya memintal adalah menggosip, tertawa terkikih-kikih, dan berbagi rahasia saat mengubah wol kasar menjadi benang yang halus. Dan setiap minggu tidak pernah habis pembicaraan gadis-gadis itu tentang percintaan mereka. Mungkin membual atau mungkin mengatakan kebenaran bahwa pemuda ini dan pemuda itu sedang tergila-gila dan mengejar cinta mereka dan terkadang juga membuka rahasia kalau mereka mengejar-ngejar pemuda ini atau pemuda itu. Orang-orang yang sama dengan pembicaraan yang sama setiap minggu.

Tapi dia tidak mengerti dan tidak perduli dengan gossip itu. Kim Jooyoung, gadis penyendiri yang tak pernah turut serta maupun diundang dalam sesi menggosip yang menyenangkan bersama gadis-gadis lainnya. Hidupnya jauh dari hal seperti itu. Dia tidak pernah berbohong. Dan dia tidak ingin melakukan hal seperti itu. Kenyataannya dia tidak pernah dikejar-kejar pemuda ini maupun pemuda itu, mungkin dia tidak begitu menarik untuk menjadi objek cinta para pria hingga rumahnya tak sekali pun didatangi oleh para pria (kecuali para pria yang menginginkan saudara perempuannya, itupun sudah lebih dari lima tahun yang lalu, sebelum saudara perempuannya yang cantik itu menikah, saat itu Joo Young masih dua belas tahun) dan para petani bayaran ayahnya dan pedagang yang kadang berkunjung. Selain itu, tidak pernah ada laki-laki dalam kehidupannya. Karena sifat pemalu dan pendiam Joo Young yang tidak menarik bagi para pemuda desa.

“Kapan kau akan mendapatkan seorang pemuda yang akan menyukaimu?” Mereka mengolok-olok Joo Young minggu demi minggu. “Kenapa kau tidak membuat pemuda palsu untuk dirimu kalau kau tidak bisa menemukan pemuda yang sebenarnya?”

Tapi Joo Young tidak pernah menanggapi lelucon jahat gadis-gadis itu. ‘Huufft gadis jahat dengan lelucon jahat mereka. Suatu hari mereka akan dibalas.’ Begitu dia katakan pada dirinya minggu demi minggu. Dia hanya ingin untuk memintal dengan tenang. Karena itu adalah kegiatan yang sangat dia nanti-nanti setiap minggu.

Lalu, di suatu malam yang dingin getir, gagasan itu muncul di pikiran gadis-gadis itu; mereka akan membuatkan seorang pemuda dari jerami untuk Joo Young yang malang. Gadis yang paling besar di antara gadis-gadis itu mengambil sebuah tangga, memanjat ke atap rumah dan menarik seikat jerami dari atap. Kemudian, gadis-gadis itu mendandaninya menjadi bentuk seorang pemuda, memakaikan pakaian pada jerami itu dengan sehelai baju luar dan mendudukkannya di samping Joo Young.

“Joo Young-ah, temui kekasihmu!” para gadis tertawa. “Kenapa kau tidak berdansa dengannya, karena pemuda dari jerami ini adalah satu-satunya pemuda yang ditakdirkan untuk kau miliki.”

Pipi Joo Young terbakar merah terang menahan malu dan – dengan kibaran-kibaran dari roknya dan ayunan dari rambutnya – ia meninggalkan perkumpulan itu, membawa si pemuda jerami dan harga dirinya yang sudah mereka injak bersamanya sambil menangis.

“Aku akan menunjukkan takdirku pada kalian! Semoga iblis datang dan membuat pemuda ini menjadi nyata!” ujarnya di perjalanan pulangnya masih dengan mata yang tidak berhenti mengalirkan cairan yang menunjukkan dengan jelas betapa hancur hatinya. “Iblis, dataglah dan jadikan pemuda jerami ini hidup.” Bisiknya pada angin yang menerpa dingin wajahnya.

Masih dengan mata yang sembab dan bekas=bekas air mata yang belum dihapus di pipinya, Joo Young berlari pulang dan langsung memasuki kamarnya tanpa peduli menyapa ibu dan saudara laki-lakinya yang duduk di depan perapian dan meneriakkan namanya khawatir. Ia meletakkan pemuda dari jerami itu di atas sebuah kursi di sudut ruangan dan terisak-isak sendiri hingga tertidur, mengabaikan ketukan berkali-kali di depan pintunya.

Suara saudara laki-lakinya masih terdengar memanggil-manggilnya di luar pintu, menanyakan apakah ia baik-baik saja dan apakah terjadi sesuatu di perkumpulan malam ini. Tapi Joo Young menolak menjawab Joonmyun, saudara laki-lakinya yang penyabar itu. Dia terisak di atas bantalnya yang sudah basah karena air matanya dan membiarkan Joonmyun terus mengetuk pintunya serta menghiburnya, mengatakan semua akan baik-baik saja meskipun dia tidak tahu apa yang menjadi masalahnya. Malam itu Joo Young tertidur di atas bantalnya yang basah oleh air mata dan suara Joonmyun di luar kamarnya menjadi lagu penghantar tidurnya malam ini.

.

.

.

Joo Young terbangun jauh malam, dengan kepala yang berdenyut-denyut karena menangis semalaman. Dalam gelap, Joo Young berusaha meraba-raba di sekitar ruangannya, hendak keluar kamar, mengambil segelas air dan obat pereda sakit kepala. Selagi ia mencari-cari lilin dan korek api dalam gelap, ia mendengar goresan korek api yang dinyalakan dan sekejap ruangan itu mendapat sedikit pencahayaan dari korek api yang baru saja dinyalakan.

Joo Young mendongak dan betapa terkejutnya ia. Ia merasa kalau matanya sedang bermain-main dengan otaknya sehingga dia menggosok-gosok kedua matanya, memastikan penglihatan mustahilnya barusan, tapi matanya tidak salah sedikitpun. Di sana, di tempat ia meletakkan pemuda dari jeraminya, ia melihat seorang pemuda yang tampan – sehidup kau dan aku – duduk dengan korek api yang sudah terbakar setengahnya. Joo Young terpaku melihat pemuda tampan itu, dagunya yang tajam, rahangnya yang keras, kulitnya yang pucat sepucat kabut itu dan tatapannya yang seolah dapat menguliti Joo Young bahkan hingga bagian terdalam menatap Joo Young tanpa beralih sedikit pun. Joo Young membeku di tempatnya, lupa dengan keinginannya untuk mengambil air dan obat, bahkan pusing di tengkoraknya hilang begitu saja seolah memang tidak pernah ada di sana.

Joo Young membuka mulutnya hendak berbicara pada pemuda asing itu, tapi kemudian gelap. Korek yang dipegang pemuda tampan itu sudah terbakar habis dan kegelapan kembali menyelimuti ruangan itu. Joo Young segera bergerak lagi meraba-raba mencari koreknya dan saat dia menemukan benda itu dengan cepat, dia dengan sedikit terburu-buru dan tangan gemetar menggoreskan korek itu. Tapi karena tangannya gemetar, korek itu terjatuh dari tangannya, pada usaha kedua, dia mematahkan koreknya dan di usahanya yang ketiga dia berhasil menghasilkan api dan langsung mengarahkan koreknya ke ujung ruangan, di atas kursi, tempat pemuda tampan tadi telah duduk, tapi kursi itu kosong, membuat Joo Young menghela nafas kecewa. Tidak ada seorangpun di sana. Tidak pemuda tampan, dan tidak pemuda jerami itu. Hanya ada Joo Young sendiri tertinggal dalam gelap, dengan kepala yang sudah tidak lagi sakit. Tapi kali ini dengan keyakinan bahwa mungkin dia sudah gila dan berhalusinasi.

.

.

.

Jumat berikutnya, Joo Young pergi seperti biasa ke pesta memintal, karena ia senang memintal dan memutuskan untuk tidak membiarkan gadis-gadis yang keji itu untuk mengganggunya. ‘Gadis jahat dengan lelucon jahat mereka, kali ini aku tidak akan membiarkan mereka menggangguku.’ Ujarnya dalam hati.

“Di mana pacarmu?” Gadis-gadis itu tertawa saat ia duduk di tempatnya yang biasa di bagian belakang ruangan. “Apakah dia bahkan sudah meninggalkanmu?”

Tapi, Joo Young tetap mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dan mengatakan kepada para gadis itu bagaimana pemuda dari jeraminya berubah menjadi seorang pemuda yang tampan.

Kembali gadis-gadis itu menertawainya dan menyebutnya gila. Tapi saat mereka semua berkasak-kusuk dengan gelak tawa, pemuda tampan yang sama muncul di ruangan itu dan duduk di samping Joo Young. Pemuda dengan dagu yang tajam dan kulit sepucat kabut itu sedang menatap Joo Young mesra dengan tatapannya yang memabukkan.

Pemuda itu bertingkah laku seperti seorang pria terhormat sejati sepanjang malam, memberikan benang baru pada gadis-gadis itu saat mereka membutuhkannya, menyalakan lilin-lilin baru saat ujung lilin yang lama habis terbakar. Dia bahkan menawarkan cemilan daging lezat pada mereka saat mereka merasa lapar. Tapi jelas bagi semuanya kalau pemuda itu hanya menatap Joo Young. Pemuda itu memenuhi setiap kebutuhan Joo Young seolah-olah Joo Young adalah seorang putri, dan pemuda itu adalah pelamar yang mengabdikan diri untuk Joo Young. Di penghujung malam, pemuda itu mengantar Joo Young pulang, meninggalkan gadis-gadis yang lain yang penasaran bagaimana pemuda dari jerami bisa berubah menjadi seorang makhluk hidup.

Pemuda itu, yang mengaku bernama Sehun mengantarkan Joo Young sampai ke depan rumahnya dan meninggalkan kecupan selamat malam di dahi Joo Young sebelum menghilang bersama malam.

Hal yang sama terjadi di jumat yang selanjutnya, dan jumat selanjutnya dan yang selanjutnya, dan Joo Young tidak pernah merasa begitu bahagia seperti saat pemuda tampannya itu berada di sisinya. Tapi, setiap minggu setelah mengantar Joo Young pulang dan memberikan kecupan selamat malam di dahi atau pipi, dan terkadang mengecup hidung Joo Young atau dagunya, dan di malam lain, menatapnya lembut, menyentuh dagunya dan mengecup bibirnya ringan, Sehun akan lenyap ke dalam kepekatan malam dan hanya muncul kembali di perkumpulan yang selanjutnya. Ini membuat Joo Young sangat sedih, karena ia tidak tahu kemana atau kenapa Sehun pergi. Jadi, ia pun mencari nasihat dari seorang wanita tua yang bijak.

“Joo Young yang polos,” kata si wanita tua yang bijak. “Jawabannya mudah. Saat dia muncul berikutnya, kaitkan seuntai benang yang halus ke pakaiannya dan tetap pegang ujung benang yang satunya. Lalu, saat ia pergi, kau bisa mengikuti benang itu untuk menemukannya.”

Maka di waktu selanjutnya saat Sehun muncul, Joo Young melakukan seperti yang disuruh oleh wanita tua yang bijak itu. Saat Sehun mencondongkan tubuh untuk menyalakan sebuah lilin yang baru, Joo Young mengambil seuntai benang yang halus dan mengaitkannya ke bagian bawah celana panjangnya dengan satu jahitan. Dan malam itu setelah Sehun mengantarkannya pulang, mencium bibirnya sekali dan lenyap ke dalam malam, Joo Young mengikuti jejak dari benang itu. Benang itu menggiringnya melewati desa, melewati hutan, ke dalam halaman bertembok gereja, dan berhenti sampai di pekuburan, tempat peristirahatan terakhir dari ratusan kerangka manusia.

Joo Young mengintai ke dalam dan mengeluarkan napas kengerian, karena di dalam dinding dari rumah tulang ini terlihatlah Sehun, pemuda tampannya, menari di antara orang-orang yang sudah mati seperti seorang iblis gila. Terperanjat, Joo Young melihat Sehun sedang memilih-milih kerangka-kerangka itu dengan sebuah seringaian yang sangat aneh di wajahnya dan sebuah tatapan liar di matanya. Setiap kali ia menemukan sedikit daging yang tertinggal di sebuah tulang, ia akan menggerogotinya dengan riang, seolah-olah itu adalah camilan daging lezat yang telah ia tawarkan pada gadis-gadis di perkumpulan mereka. Dan setiap kali ia menemukan sepotong lemak, ia akan membentuknya menjadi sebuah lilin yang terlihat persis seperti lilin-lilin yang ia bawa ke pesta memintal itu.

Joo Young, dengan napas tercekat dan jantung berdegup jauh lebih cepat dari saat Sehun menciumnya dan membisikinya cinta, ia berlari pulang secepat yang bisa dilakukan kakinya, bersumpah tidak akan pernah pergi ke pesta memintal lagi, kalau-kalau pemuda jerami yang telah berubah menjadi pemuda tampan bernama Sehun dan telah berubah menjadi iblis ini, muncul untuknya di sana lagi.

Joo Young segera menyusup ke dalam selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu. Keringat dingin di sekujur tubuhnya dan dia tidak bisa bernapas normal meski sudah sekian menit berlalu sejak ia berlari seperti orang gila. Jantungnya berdebar kencang dan dalam hati ia berjanji besok ia akan menuruti nasihat Joonmyun untuk tidak lagi bergaul dengan pemuda Sehun yang tidak jelas asal-usulnya itu. Berjanji dalam hati dia benar-benar tidak akan pernah lagi menemui Sehun di peseta memintal, bahkan ia tidak akan lagi pergi ke pesta memintal itu dan melihat kekasih iblisnya itu.

Tapi, dimalam itu juga, saat jam menunjuk pukul dua belas, Joo Young mendengar sebuah ketukan di jendelanya. Itu adalah Sehun, pemuda tampannya.

Meski Joo Young merasa takut melihat Sehun yang berdiri di depan jendelanya dengan salju bertengger di beberapa bagian tubuhnya, terutama rambut dan bahunya. Joo Young tetap membuka jendelanya dan membiarkan Sehun masuk ke dalam kamarnya yang remang, hanya dengan penerangan seadanya, sebatang lilin yang sudah meleleh setengahnya.

“Kenapa kau datang tengah malam begini?” Tanya Joo Young berusaha bersikap normal, seolah hari ini ia tidak mengikuti Sehun. Seolah hari ini ia tidak melihat apa yang diperbuat pemuda tampannya itu.

“Ah, aku begitu merindukanmu kekasihku.” Jawab Sehun sambil tersenyum kepadanya. Menunjukkan senyum yang dapat melelehkan hati Joo Young yang serasa membeku karena musim dingin dan karena apa yang telah ia saksikan malam ini. Dan tatapan mata itu, di tengah cahaya remang, masih membuat Joo Young lagi-lagi jatuh cinta dengan pemuda tampannya ini.

Maka Joo Young tidak dapat tidak membalas tatapan mata Sehun dengan lembut. Dia pun balas tersenyum pada Sehun dan melangkah mendekat pada pemuda itu. Berusaha menyangkal otaknya yang terus mengingatkan padanya bahwa pria di hadapannya ini adalah pria iblis yang sama dengan yang dilihatnya sedang menggerogoti mayat malam itu. Dia terus melangkah semakin dekat dengan Sehun dan kemudian memeluk pemuda tampan itu. Menyandarkan kepalanya di dada bidang itu. ‘Ah, tidak apa hanya semalam. Selanjutnya aku tidak akan bertemu dengannya lagi.’ Ujarnya dalam hati.

Sehun, pemuda iblis tampan itu mengangkat dagu Joo Young dan memaksa gadis itu mendongak, menatap matanya. Kemudian dia dengan lembut mengecup bibir Joo Young yang dingin. Sekali. Kemudian melepasnya. Kemudian mengecupnya lagi. Dan lagi dan lagi. Kecupan-kecupan ringan itu mendarat lembut di bibir Joo young. Joo Young menutup mata menikmati perlakuan lembut kekasih yang sangat dicintainya itu sampai tak sadar pemuda itu menuntunnya sampai ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.

Saat Joo Young membuka matanya, yang dilihatnya adalah Sehun di atas tubuhnya dengan tangan di samping kanan dan kiri kepalanya, menatapnya masih dengan tatapan yang seolah dapat menguliti seluruh tubuhnya. Dan Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Joo Young dan bibir pemuda tampan itu mendarat di leher Joo Young, menciumnya lembut di sana, menghisapnya (membuat Joo Young memekik ringan), kemudian menjilatnya dengan lidahnya. Memberikan perasaan baru yang belum pernah dirasakan Joo Young seumur hidupnya. Tapi Joo Young menyukai sensasi itu, maka dia membiarkan Sehun saat pemuda itu melakukan hal yang sama di tempat lain. Joo Young hanya berharap orangtuanya tidak mendengar pekikan-pekikan aneh yang dikeluarkannya saat Sehun melakukan itu di bagian-bagian tubuhnya. Dan jangan sampai mereka tahu kalau pemuda tampannya sedang ada di kamarnya melakukan hal yang tidak baik padanya.

Saat Sehun menatapnya tepat di matanya, kemudian mengembalikan perhatiannya pada wajah Joo Young, Joo Young sudah kehilangan kemampuannya untuk berbicara bahkan untuk berpikir normal. Sehun kali ini kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Joo Young, membuat gadis itu menahan napasnya, melupakan harapannya tadi semoga orang tua dan saudaranya tidak akan tahu kalau ada seorang pria asing di kamarnya sedang menciumi leher dan bibirnya. Dia tidak sempat memikirkan hal seperti itu. Karena bahkan untukbernafas pun dia sudah kesulitan.

Tapi ciuman itu tidak pernah datang, Joo Young tidak merasakan bibir lembut itu di bibirnya, malah yang ada adalah sebuah bisikan yang sepertinya tepat di depan bibirnya karena dia dapat merasakan napas dingin Sehun di sana.

“Joo Young, Joo Young yang begitu lembut hati, Apa yang kau lihat saat kau mengikutiku?”

Joo Young membelalakkan matanya seketika itu juga, terperanjat dengan pertanyaan yang sama sekali tidak disangkanya akan datang. Ditatapnya mata Sehun yang berada tepat di depan matanya.

“Aku…” suaranya bergetar. “Aku.. t-ti-dak m-meli-hat apa-apa,” ujar Joo Young terbata-bata, diselimuti rasa takut dan gelisah karena ia tahu kalau ia memberitahu yang sebenarnya berarti ia menyerahkan jiwanya pada pemuda itu untuk selama-lamanya.

“Kau berbohong,” sahut Sehun masih menolak untuk mengalihkan pandangannya dari mata Joo Young. “Aku bisa melihatnya di matamu. Dan kalau begitu malam ini kakak lelakimu akan mati!” bisiknya selembut mungkin kemudian mencium kelopak mata Joo Young yang sudah ditutup gadis itu serapat mungkin. Kemudian Sehun menghilang begitu saja tanpa aba-aba. Meninggalkan Joo Young yang masih shock bersama kegelisahannya dan sebatang lilin yang sudah hampir habis terbakar di atas dipan. Tubuh Joo Young bergetar ngeri.

.

.

.

Dengan menyedihan, kata-kata Sehun menjadi nyata dan pada saat fajar, Joo Young mengetahui bahwa Joonmyun kakak lelakinya telah meningal dunia. Dengan kesedihan yang tak akan hilang bahkan setelah pemakaman saudara laki-lakinya itu, Joo Young menatap pada langit yang pucat, sepucat kulit pemuda iblisnya yang tampan.

Segera setelah pemakaman, Joo Young membaringkan tubuhnya di atas kasurnya dan terlelap hingga jauh malam, dan dia terbangun lagi saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, dengan ketukan di jendelanya persis seperti sebelumnya, mengejutkan Joo Young.

Kembali, Sehun dipersilahkannya masuk melalui jendela. Dan sekali lagi rasa cinta muncul dalam hati gadis polos itu, melupakan bahwa Sehunlah yang telah membuat saudara laki-laki yang disayanginya meninggal. Kembali dia berciuman dengan pemuda iblis itu. Berbagi kasih. Membiarkan pria itu menelusuri bagian tubuhnya yang ingin ditelusuri pria itu. Dan persis seperti malam sebelumnya, setelah menciumi leher dan dada gadis itu, Sehun kembali menghentikan bibirnya tepat di atas bibir Joo Young, menatap tajam pada gadis itu dan berbisik dengan napas dinginnya tepat di depan bibir Joo Young.

“Joo Young, Joo Young yang begitu lembut hati, Apa yang kaulihat saat kau mengikutiku?”

“Aku tidak melihat apa-apa,” Joo Young mengulang jawabannya, kali ini tidak dengan terbata-bata, namun getaran dalam suaranya masih terdengar jelas.

“Kau berbohong,” Sehun menyahut. “Aku bisa melihatnya di matamu. Dan kalau begitu malam ini saudara perempuanmu akan mati!” bisiknya tepat di telinga Joo Young. Dan lagi, dia mencium kelopak mata Joo Young sudah ditutup gadis itu serapat mungkin. Kemudian Sehun menghilang lagi bersama cahaya lilin yang redup karena sudah terbakar hingga habis. Meninggalkan Joo Young yang menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan tubuhnya bergetar hebat karena tangisannya.

.

.

.

Sekali lagi, kata-kata Sehun menjadi nyata dan saudara perempuan Joo Young meninggal. Dan setelah saudara perempuannya yang meninggal itu dimakamkan, kembali Joo Young mengurung diri di kamarnya dan terlelap hingga jauh malam. Dan dia terbangun lagi saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, dengan ketukan di jendelanya persis seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja kali ini Joo Young sudah tidak terkejut lagi. Dia sudah menunggu pemuda itu.

Lagi, dia mempersilahkan Sehun masuk ke dalam kamarnya yang remang melalui jendela. Dan rasa cintanya kembali muncul dalam hati gadis polos itu, menguasai seluruh syarafnya, membuatnya lupa Sehun telah membuat dua saudara yang disayanginya meninggal. Dia membiarkan Sehun mencium bibirnya. Memadu cinta dengan pemuda iblisnya. Membiarkan pemuda itu menjelajahi setiap inci tubuhnya sampai tak ada lagi bagian yang tak dijamah. Dan persis seperti malam-malam sebelumnya, setelah kembali memakaikan Joo Young bajunya dengan benar, Sehun kembali menciumi wajah gadis itu dan sengaja menghentikan bibirnya tepat di atas bibir Joo Young, menatap tajam pada gadis itu dan berbisik dengan napas dinginnya tepat di depan bibir gadisnya.

“Joo Young, Joo Young, yang begitu lembut hati, Apa yang kaulihat saat kau mengikutiku?”

“Aku tidak melihat apa-apa,” Joo Young mengulang jawabannya persis malam-malam sebelumnya.

“Kau berbohong,” Sehun menyahut. “Aku bisa melihatnya di matamu. Dan kalau begitu malam ini ayahmu akan mati!” bisiknya pada Joo Young sambil mengelus pipi Joo Young. Dan dia mencium kelopak mata Joo Young sudah ditutup gadis itu serapat mungkin sebelum kembali hilang bersama terpaan angin malam yang masuk ke dalam kamar Joo Young melalui jendela yang terbuka. Joo Young hanya menatap hampa pada langit-langit kamarnya. Berharap ini semua hanya mimpi buruk.

.

.

.

Kata-kata Sehun kembali terwujud dan saat fajar, Joo Young tidak begitu terkejut mendengar ibunya yang setengah menjerit setengah menangisi ayahnya yang sudah kaku dan dingin di atas tempat tidurnya. Dan hal itu terus berlanjut pada ibu, keponakan, iparnya hingga tidak ada satu pun yang tersisa kecuali Joo Young sendiri. Takut kalau ia akan menjadi yang selanjutnya, Joo Young pergi ke tetangga-tetangganya dan mengatakan kepada mereka apa yang harus dilakukan saat kematiannya tiba.

“Alih-alih mengangkut peti matiku melewati pintu pondok, kau harus menggali sebuah lubang di bawah ambang pintu dan pindahkan peti itu melalui lubang itu. Karena menurut adat istiadat, jika sebuah jasad dalam risiko dirasuki roh-roh jahat – seperti yang pastinya akan terjadi pada jasadku – jasad itu harus dipindahkan dengan cara ini untuk melindungi perjalanannya ke dunia yang selanjutnya. Kemudian, segera setelah berada di luar, kalian harus mengikatkan peti jenazah itu pada seekor kuda dan kubur aku kapan pun kuda itu berhenti.”

Malam itu, Sehun kembali mengetuk jendelanya dan setelah mencumbu gadis itu, dia bernyanyi.

“Joo Young, Joo Young, yang begitu lembut hati, Apa yang kau lihat saat kau mengikutiku?”

“Aku tidak melihat apa-apa,” kembali Joo Young mengulang jawabannya.

“Kau berbohong,” pria itu menyahut. “AKu bisa melihatnya di matamu. Dan kalau begitu malam ini kau juga mati!” dan pemuda itu mencium seluruh tubuh Joo Young sebelum menghilang dalam kepekatan malam. Joo Young dengan putus asa berbaring di atas tempat tidurnya, menunggu maut menjemputnya.

Malam itu, Joo Young meninggal dunia, sehingga tetangga-tetangganya menggali sebuah lubang di bawah ambang pintu. Tapi, lubang itu tidak cukup besar sehingga mereka berakhir dengan menggotong peti jenazahnya melewati pintu. Lalu, mereka mengikatkannya ke sebuah kuda dan menguburkannya saat kuda itu berhenti, yang berada di sebuah persimpangan jalan di mana tiga jalan bertemu.

.

.

.

Berbulan-bulan kemudian sejak saat itu, saat musim semi datang, Joo Young tumbuh dari kuburannya dalam bentuk sekuntum bunga putih yang indah. Seorang pemuda terhormat yang melewati bunga itu menyuruh pelayan lelakinya pergi untuk mencabutnya dari tanah. Tapi, bunga itu tiba-tiba lenyap di depan matanya, seolah-olah ia telah dibutakan oleh keindahan bunga itu.

“Aku tidak melihat bunga apap pun, Tuan,” kata si anak lelaki, menggaruk-garuk kepalanya. “Bunga itu lenyap.”

“Bocah bodoh!” teriak sang pria terhormat, karena ia bisa melihat keindahan bunga mekar itu sejelas seperti ia bisa melihat tangannya sendiri. “Kusir, turunlah dan petikkan bunga itu untukku.”

Jadi, sang kusir pergi untuk memetikkan bunga itu. Tapi, hal yang sama kembali terjadi. Bunga itu lenyap di depan matanya, seolah-olah ia telah dibutakan oleh keindahan bunga itu.

“Tidak ada bunga,” katanya sembari menggelengkan kepalanya. “Anak itu benar.”

Sekarang sendirian dalam kemarahan, si pemuda terhormat melangkah turun dari kereta kuda sendiri dan mencabut bunga itu dari tanah. “Lihat!” ia berseru, meletakkan bunga itu ke topinya agar tersimpan dengan aman. Dan Joo Young yang kini berbentuk bunga sudah menjadi milik pria terhormat itu, dibawa pulang bersama pemuda terhormat itu.

Saat malam menjelang, setelah makan malam di sebuah pesta yang sangat meriah, pemuda tersebut meletakkan topinya di meja rias dan pergi tidur. Segera setelah ia jatuh tertidur, bunga putih murni di dalam topinya berubah menjadi seorang wanita muda yang cantik. Itu adalah Joo Young. Joo Young merasa amat sangat lapar, tapi setelah mencari-cari sesuatu untuk dimakan di seluruh penjuru rumah, ia tidak menemukan apa pun, bahkan sepotong makanan pun tidak.

“Aku haus dan aku kelaparan. Tapi dia menghabiskan semuanyanya sebelum tidur.” ia bernyanyi dengan sedih sebelum kembali ke bentuk sebuah bunga.

Keesokan paginya, si pemuda bangun dan mendapati rumahnya ada dalam kekacauan. Ia bertanya pada pelayan lelakinya kalau ia telah melihat sesuatu yang tidak biasa. Tapi, anak lelaki itu tidak mendengar ataupun melihat apa pun. Jadi, si pemuda memerintahkannya untuk bersembunyi di dalam sebuah bilik kecil dan mengamati apa pun yang tidak biasa.

Dan kembali saat malam menjelang saat mengawasi dari tempat persembunyiannya, si anak lelaki menyaksikan bunga itu berubah menjadi Joo Young yang cantik. Sekali lagi, Joo Young mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan di seluruh lemari makanan. Akhirnya, ia menemukan sepotong kulit roti.

“Aku haus dan aku kelaparan. Paling tidak dia meninggalkan sedikit sebelum dia tidur.” ia bernyanyi sebelum pergi ke si pemuda dan mencium pipinya tiga kali untuk berterima kasih padanya. Beberapa saat kemudian, Joo Young kembali ke bentuk sebuah bunga. Keesokan harinya, anak lelaki itu menceritakan semua yang telah ia lihat pada tuannya.

Dan tuannya menjadi dipenuhi oleh keinginan untuk bertemu dengan gadis cantik itu. Jadi, sebelum ia pergi ke tempat tidur malam itu, si pemuda menyuruh tukang masaknya untuk menyiapkan makan besar. Lalu ia berbaring di tempat tidur, berpura-pura tidur.

Saat jam menunjukkan pukul dua belas, si pemuda melihat topi itu bergetar dan bunga yang indah itu berubah menjadi seorang gadis yang bahkan lebih cantik dari yang dapat dibayangkannya. Saat gadis itu melihat makan besar terhidang di atas meja, matanya berkilau dengan kegembiaraan. Kemudian, ia pergi ke si pemuda dan menciumnya tiga kali. Tapi, saat ia berbalik untuk pergi, pria itu menyambar tangannya dan tidak mau melepaskannya, jadi Joo Young mengubah dirinya sendiri menjadi seekor katak, lalu seekor ular, dan kemudian seekor kadal. Tapi, tak peduli bentuk apa yang ia ambil, ia tidak bisa lepas dari genggaman pemuda itu.

Tapi, pemuda itu sebenarnya tidak bermaksud untuk menyakiti Joo Young. “Aku akan melepaskanmu kalau kau setuju untuk menikah denganku dan kembali ke bentuk gadis cantik. Aku akan memperlakukanmu dengan baik dan memberimu makan dengan baik, serta memberimu kehidupan yang baik,” pemuda itu berjanji.

Joo Young pun setuju untuk menikah dengan pemuda itu. Dan pemuda itu menepati janjinya. Dia selalu memperlakukan Joo Young dengan baik dan Joo Young tak berkekurangan apapun ketika bersama pemuda terhormat itu.

Waktu berlalu, setelah dua tahun dalam kebahagiaan bersama pria terhormat itu, Joo Young akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Meskipun masih bayi, Joo Young dapat melihat garis ketampanan yang jelas pada wajah bayinya. Dagu yang tajam, mata yang indah dan tatapan yang membara, serta kulit pucat sepucat kabut. Yang entah kenapa mirip dengan pemuda iblis yang telah ditemuinya dulu. Tapi Joo Young yakin dia dan pemuda iblis itu sudah tak akan pernah lagi berseberang jalan. Maka dia memeluk bayi tampannya yang diberinya nama Luhan.

.

.

.

Tiga tahun berlalu sejak Joo Young terakhir kali teringat tentang pemuda iblisnya, yaitu sejak pertama kali ia melihat wajah bayi tampannya, Luhan. Pada sebuah kesempatan Joo Young diajak untuk kembali ke halaman gereja dalam sebuah festival desa. Joo Young yang telah melupakan pemuda iblis yang dulu begitu dicintainya itu, tidak merasakan apapun meski ia ada di tempat ia menyaksikan kegialaan kekasih iblisnya itu.

Tapi saat Joo Young mendapati dirinya sendirian sore itu, pemuda dari jerami yang berubah menjadi seorang pemuda tampan bernama Sehun itu muncul di sampingnya, mengatakan,

“Aku telah mencarimu tinggi-tinggi,” Dan ia memeluk Joo Young erat, seolah gadis itu akan lari jika ia melonggarkan pelukannya, kemudian kembali berbisik seolah frustasi “aku telah mencarimu rendah-rendah.”

Sehun, pemuda itu, masih terus memeluk Joo Young dan hanya melepaskan pelukannya untuk melihat wajah Joo Young yang telah dihiasi dengan kegelisahan dan rasa takut karena kembali bertemu dengan pemuda iblisnya. Dan Sehun menciumi wajahnya. Tidak peduli Joo Young yang membatu di pelukannya dan enggan memberikan reaksi, Sehun terus menciumi matanya, dahinya, hidungnya, dagunya, dan bibirnya. Menciumi seluruh wajah Joo Young dengan rakus seolah tidak ada hari esok.

“Kau akan jadi milikku saat bulan bersinar.” Bisik Sehun penuh kesedihan saat dirasanya Joo Young sama sekali tidak mau membalas ciuman dan pelukannya. Hati gadis itu telah menjadi sedingin salju yang turun malam itu saat saudara laki-lakinya meninggal.

Dan Sehun menghilang pada sore musim gugur yang dingin itu, bersama lambaian syal Joo Young yang tidak berhenti bergoyang mengikuti irama angin. Ah, kenapa dia harus kembali bertemu dengan pemuda iblis itu. Dan dia menjatuhkan lututnya di atas lantai batu halaman gereja itu.

.

.

Malam itu, Sehun muncul di luar kamarnya, tepat seperti yang telah ia lakukan bertahun-tahun sebelumnya. Mengetuk jendela kamar Joo Young. Joo Young gemetaran saat ia mendengar suara pemuda itu berbisik melalui jendela, menyebut namanya. Tapi dia tetap membuka jendela dan membiarkan Sehun masuk ke dalam kamarnya yang remang diterangi sebatang lilin.

Dan Joo Young mengutuk hatinya yang kembali dipenuhi rasa cinta melihat sosok pemuda iblis di depannya. Dan dia menghambur ke dalam pelukan Sehun penuh rasa rindu, seolah melupakan bahwa pemuda itu telah mengambil seluruh keluarganya, bahwa sore tadi dia bersikap seolah rasa cinta untuk Sehun sudah ditanggalkan dari hatinya, bahwa suaminya sedang berada di ruangan yang sama, tertidur lelap seperti orang mati.

Sehun menangkup wajah Joo Young dan segera menyerangnya dengan ciuman bertubu-tubi di mulutnya. Dan Joo Young membalas ciuman itu. Mereka berciuman dalam ruangan yang remang. Saling membalas ciuman satu dengan yang lain. Kedua tangan Sehun di wajah Joo Young, dan tangan Joo Young di dada Sehun. Selayaknya kekasih yang saling merindu, keduanya tidak mau saling melepas. Hingga paru-paru Joo Young seakan terbakar karena kekurangan udara.

Dan seperti di malam-malam itu, bertahun-tahun lalu, Sehun kembali mencumbu Joo Young. Menciumi setiap jengkal tubuh wanitanya itu. Dan berhenti saat dia sudah merasa puas, membetulkan busana Joo Young. Mencium seluruh wajahnya, dan sengaja menghentikan bibirnya tepat di depan bibir Joo Young, seperti malam-malam bertahun-tahun lalu. Berbisik dengan nafasnya yang dingin.

“Joo Young, Joo Young, yang begitu lembut hati, apa yang kau lihat saat kau mengikutiku? Jangan berdusta dan jangan berbohong. Berkatalah yang sebenarnya atau anakmu akan mati.” Bisiknya lembut sambil mencium kelopak mata Joo Young.

Kali ini, dengan rasa takut dan tidak dapat membayangkan anaknya yang masih kecil akan mati, Joo Young mengatakan pada pemuda iblisnya itu segala yang telah ia lihat, tentang apa yang dilakukan Sehun di dalam rumah tulang belulang, bahwa ia mengintip pemuda iblisnya itu menggerogoti daging dari kerangka manusia dan membuat lilin dari lemak manusia.

Segera setelah Joo Young bicara, tubuh dan jiwanya diserahkan kepada Sehun pemuda iblis itu untuk selamanya. Malam itu juga, setelah Sehun mencium bibirnya sebelum menghilang bersama malam, Joo Young meninggal untuk yang kedua kalinya.

.

.

.

Makam Joo Young yang telah ditinggalkan oleh semua peziarah malam itu didatangi oleh seorang pemuda tampan dengan dagu tajam dan kulit pucat sepucat kabut. Pemuda iblis Joo Young yang sangat dicintainya.

“Joo Young, Joo Young yang begitu lembut hatinya. Kemarilah dan temui aku kekasihku.” Sehun bernyanyi sambil mengelus tanah basah itu. “Joo Young, Joo Young yang begitu lembut hatinya. Bangunlah dari tidurmu dan temui aku kekasihku.” Begitu dia menyanyikan lullabinya berulang-ulang.

Hingga jauh malam, ketika jam menunjukkan pukul dua belas tepat tengah malam, Joo Young terbangun dari tidurnya dan dia melihat pemuda iblisnya. Dengan dagu tajam, mata yang seolah dapat mengulitinya, dan kulit sepucat kabut sedang tersenyum padanya.

“Aku begitu merindukanmu, kekasihku.” bisik pemuda iblis itu sambil mengecup ringan sudut mata Joo Young dan mengelus rambut panjangnya. “Datanglah ke pelukanku untuk selamanya.”

Ini adalah cerita tentang Kim Joo Young, yang melakukan yang terbaik dari yang bisa ia lakukan selama yang bisa ia lakukan, sampai takdir menjemputnya dan mengirimnya ke Iblisnya.

=END=

A/N: Sekian dan terima kasih *apaa iniiiih* Jangan lupa review yah guys thankyou and paipai. Salam dari istri Sehun:*

152 thoughts on “THE DEVIL GOT ME [ONESHOT]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s