The Smartass Project Chapter 1

smartassilachan

The Smartass Project by ilachan
Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo || Comedy, Friendship, Sliceoflife, Schoollife || G
Foreword:
Bagaimana jadinya jika kau mengerjakan tugas kelompok dengan ketiga siswa terpintar di sekolahmu? Apa kau akan bahagia? Mungkin tidak!

The Smartass Project:

Prolog


Sudah untuk yang ketiga kalinya aku mendesah lelah. Pelajaran fisika di jam-jam terahir sepertinya sudah membuat otakku menguap. Dengan letih aku menempelkan dahiku di pintu loker, memejamkan mata dan memikirkan hal apa saja yang aku lakukan setelah ini. Koridor didepan kelas sudah mulai dipenuhi siswa-siswi yang hendak bergegas pulang. Masing-masing dari mereka berkutat dengan loker milik mereka sendiri dan sesekali tawa terpecah diantara perbincangan mereka. Tapi aku tak peduli. Aku terus saja mengguman dan masih menempelkan dahi di pintu loker yang tertutup, mengabaikan ricuh di sepanjang koridor.

“Jam empat sore nanti aku sudah harus di stasiun.” kataku pada diri sendiri, “Ah, si Jongdae itu terlalu manja. Bagaimana mungkin remaja berusia tujuh belas tahun tidak mengetahui cara untuk pergi kerumah sepupunya. Kalau saja dia bukan anak pamanku, dia sudah aku telantarkan. Dan astaga, aku harus pergi kerja kelompok dengan trio abnormal itu.”

“Dan siapa yang kau sebut trio abnormal itu?”

Aku langsung membuka mataku dan menemukan Do Kyungsoo berdiri di belakangku dengan tatapan aneh. Kedatangannya yang tiba-tiba membuatku hampir memekik kaget. Sejak kapan dia berdiri di belakangku? Aku sama sekali tak menyadari kedatangannya dan entah kenapa aku meyakini dia punya ilmu ninja.

“Itu..” Apa dia benar-benar mendengar perkataanku barusan, “bukan apa-apa.” kataku asal.

Kyungsoo mengedikkan bahunya, acuh tak acuh kemudian berkata, “Lalu kenapa kau berbicara pada loker? Aku kira kau tadi sedang berdo’a.”

Sial. Pasti dia sudah menganggapku seperti orang aneh. Aku tak tau ingin menjawab bagaimana karena sepertinya topik kecil akan menjadi panjang jika aku bahas bersama Do Kyungsoo. Mataku terjatuh pas tas di bahunya dan menemukan topik pengalih perhatian karena aku baru saja teringat akan sesuatu.

“Kau mau kemana? Bukankah setelah ini kita harus mengerjakan tugas bahasa tentang sastra kuno itu?”

“Maaf aku tidak datang.” katanya singkat.

“Kenapa?”

“Guru Kim memberiku tugas untuk membantunya mengoreksi soal ulangan matematika kelas dua dan aku tak bisa berkata tidak padanya.”

“Oh.” Tentu Do Kyungsoo dengan senang hati membantu Guru Kim karena sepertinya dia adalah tipikal yang memang tidak bisa menolak bantuan. Tak heran kalau dia memang menjadi murid kesayangan guru. “Kalau begitu aku akan mengerjakannya dengan Baekhyun dan Chanyeol.”

“Tentu saja.” Timpal Kyungsoo cepat. “Bahasa dan sastra adalah pelajaran yang paling mudah sepanjang satu semester ini. Tanpa bantuanku aku yakin Baekhyun bisa meng-handle dengan baik. Tapi yeah, meskipun nilai sastranya tak sebaik milikku.”

Aku hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Alasannya karena pertama, dia mengatakan bahwa sastra adalah pelajaran yang paling mudah sepanjang semester kepada orang yang nilai sastranya ada di ujung tanduk. Kedua, dia meremehkan orang jenius di depan orang yang otaknya jauh dari superior. Ketiga, yang baru saja dia hina adalah Byung Baekhyun, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Aku tak habis pikir dengan cara kerja otak Do Kyungsoo meskipun fakta pahitnya yang setengah yang dia katakan ada benarnya juga.

“Oke, aku akan menghubungi Baekhyun dan Chanyeol. Terimakasih sudah memberitahuku.” Aku mengatakan dengan nada seramah mungkin meskipun otakku terus saja mengeluh, kenapa aku harus satu kelompok dengan manusia seperti ini.

“Tentu saja.” katanya lagi dengan intonasi yang sama seperti sebelumnya. “Kau harus segera mencari Baekhyun karena dia manusia yang cepat bergerak. Dan Park Chanyeol, kau bisa menemukannya di gedung olahraga. Dia punya jadwa latihan basket siang ini.”

“Baiklah, terimakasih. Uh, bolehkah aku meminta nomermu atau milik Baekhyun? Kau tau… agar kita bisa berkomunikasi dengan lancar dan mendiskusikan tugas ini bersama.” Untuk pertama kalinya seumur hidupku aku merasa menyesal telah mengucapkan suatu hal seolah-olah aku baru saja mengatakan hal yang paling kotor. Karena aku menduga respon Kyungsoo yang dia berikan padaku pasti tidaklah baik. Secara, sepanjang perkataan yang dia lontarkan sedari tadi selalu membuatku kehilangan kata-kata. Mulutnya yang konon kata orang-orang adalah mulut yang imut, mengelurkan terlalu banyak kata yang menyakitkan. Sebenarnya bukanlah perkataan yang kasar, hanya saja telingaku tak terima mendengarnya.

“Tidak akan.”

Aku tahu dia akan mengatakan ini.

“Bukankah tadi aku sudah bilang kalau Chanyeol ada di gedung olah raga. Kau tidak memintaku untuk mengantarku pergi kesana kan?” lanjut Kyungsoo dengan kata-kata yang lebih tajam, “Kau bisa meminta nomor Baekhyun padanya dan jangan sekali-kali kau mencuri nomerku padanya.”

“Tidak akan!” kataku dengan nada meninggi. Pria ini memang luarbiasa. Dia bisa membuatku naik pitam dengan sekali serang. “Aku tidak sudi lagi.” Jangan salahkan aku kalau kesabaranku sudah habis karena memang sedari tadi kesabaranku berlahan makin menipis. Aku sudah tak tahan lagi, kalau dia bisa mengucapkan kata-kata pedas, aku bisa lebih dari itu.

“Bagus, karena aku juga tak sudi membagi nomerku padamu.”

Dengan terang-terangan aku memutar bola mataku, merasa terhina sekali. Ketika aku hendak mengatakan sesuatu, Do Kyungsoo melambaikan tangan, memberikan isyarat kalau dia mau pergi. Aku hanya memperhatikan gerak geriknya hingga dia berjalan menjauh dariku. Tak beberapa lama kemudian, ditengah koridor dia berbalik dan mengatakan, “Sekedar memberitahu saja, aku sama sekali tak tertarik padamu. Jadi urungkan maksud untuk mendekatiku karena aku yakin kau punya niatan meskipun hanya sedikit.” katanya, lalu melenggang pergi tanpa menungguku beretorika.

“Astaga… astaga….” Mataku masih memperhatikan sosoknya yang semakin mengecil dan menjauh di sepanjang koridor. “Dia benar-benar… Do Kyungsoo itu benar-benar…” tanpa sadar tanganku mengepal dan ingin meninju sesuatu. “Oh, dia sungguh jahat sekali. Bagaimana bisa ada setan yang terperangkap di tubuh mungil itu dan punya otak superior. Dunia ini sungguh tidak adil.” mataku masih menatap bayangan Kyungsoo dan dengan kesal meneriakinya meskipun dia tak lagi bisa mendengarku. “TENTU SAJA KAU TAK TERTARIK PADAKU KARENA KAU TERLALU CINTA PADA DIRIMU SENDIRI!” lalu bayangan Kyungsoo menghilang dibalik tikungan. Bisik-bisik mulai tumbuh di sekelilingku, aku tau yang mereka maksud adalah aku. Terserah, aku tak memperdulikannya karena emosi menguasai diriku.

“Apa yang kau lakukan?”

Itu adalah pertanyaan serupa yang tadi sempat Kyungsoo ajukan. Masih dengan tatapan kesal aku melihat Baekhyun berjalan ke arahku. Dia membawa beberapa buku ditangan kirinya, dan tangan kanannya sibuk memutar-mutar ujung permen lolipop di mulutnya.

“Aku tak menyangka kau bisa berteman dengan….” Bedebah. Aku hampir saja mengumpati Kyungsoo di depan sahabatnya sendiri. Dengan susah payah aku mengendalikan emosiku dan sesekali menarik nafasku dalam-dalam.

“Aku berteman dengan siapa?” tuntut Baekhyun. Sepertinya dia tidak akan melepaskanku begitu saja. Dan jika dibiarkan maka amarahku yang seharusnya aku lemparkan pada Kyungsoo malah aku lampiaskan pada Baekhyun.

“Tidak. Lupakan itu tadi. Maafkan aku.” kataku dengan getstur melambaikan tangan seperti menepis lalat.

“Baiklah.” kata Baekhyun santai. Bahkan dia sempat tersenyum sebelum berbicara,”Kalau kau tak mau mengatakan alasan kenapa kau marah-marah di tengah koridor, aku tak masalah.”

Setelah melihat Baekhyun tersenyum, mau tak mau bibirku tertarik keatas dengan sendirinya. Mereka berdua bisa diibaratkan seperti kedua kutub yang berlawanan. Kehadiran Do Kyungsoo membuat suasana dan udara di sekelilingku berat hingga membuat sekujur tubuhku lelah. Pikiranku terus beradu memutuskan ingin memukul wajahnya atau tidak. Dengan kata lain, Do Kyungsoo membawa aura gelap dan berdampak negatif. Beda dengan Byun Baekhyun, hanya dengan melihatnya berjalan kearahku dan menanyakan apa yang aku lakukan suasana buruk yang tadi sempat di tinggalkan oleh Kyungsoo langsung hilang. Dia membawa suasana yang cerah dan bersemangat. Aku tak heran banyak orang yang senang berada di sekelilingnya.

“Baekhyun, soal tugas sastra kelompok kita… Kita tetap mengerjakannya hari ini bukan? Karena Kyungsoo tidak bisa datang jadi aku harap Chanyeol dan kau…”

“Oh!” Kata Baekhyun tiba-tiba dan mengagetkanku.”Sayang sekali Kyungsoo tidak bisa datang dan sayangnya aku juga tidak bisa mengerjakannya hari ini.”

“Apa?” kataku cepat dan nadaku meninggi. “Bagaimana bisa kalian..”

“Dengarkan aku dulu dan maafkan aku.” untuk kedua kalinya Baekhyun memotong kalimatku. Dengan sebal aku meniup poniku dan sepertinya Baekhyun menyadari kalau marahku sedikit demi sedikit bangkit, dengan cepat dia meminta maaf. “Aku punya urusan mendesak. Tugas kita mencari literatur sastra kuno dan aku sudah mendapatkan beberapa buku yang kiranya akan membantu tugas kita.” Dia memberikan tiga buah buku yang dia bawa kepadaku dan dengan seksama kubaca judul bukunya.

“Hey ini adalah buku karangan Lim Seyeon tahun 1980 dan sudah tidak di produksi lagi. Bagaimana bisa kau..?” Baekhyun terkikik mellihat wajahku yang dengan takjub memperhatikan salah satu sampul buku.

“Kau melupakan siapa aku? Aku adalah Byun Baekhyun si ensiklopedia berjalan. Aku mengetahui hal yang tak umum. Kau jangan meremehkanku.” katanya dengan intonasi cerianya.

Dengan asal aku mengangguk padanya, setengah menyetujui perkataannya. Tapi memang kalau di pikir-pikir Baekhyun memang mengetahui beberapa hal yang orang lain jarang ketahui. Seperti apa yang dikatakannya tadi, dia mengetahui hal-hal yang tak umum. Bahkan bukan hanya itu saja, Baekhyun adalah sumber informasi dan database sekolah yang berjalan. Dia mengetahui kabar lebih cepat dari pada koran pagi. Jika kau berpikir kau adalah orang pertama yang mendengar gosip atau kabar terhangat di sekolah, maka kau salah karena Byun Baekhyun sudah mengetahuinya sebelummu.

“Lalu, aku harus mulai dari mana?”

“Aku sudah memberi warna pada kalimat-kalimat penting di setiap buku dan aku sudah memberi tanda pada bab-bab yang perlu kita ulas. Aku tinggal merangkumnya sedikit sesuai dengan kalimatmu dan keterkaitan sastra dan jurnal lain akan kita bahas besok.”

Aku mendengarkan Instruksi Baekhyun sambil membuka acak halaman-halaman buku yang dia maksud. Dan benar apa yang dikatakannya, poin-poin penting sudah Baekhyun tandai dengan warna kuning dan beberapa halaman dia lipat ujungnya serta coretan-coretan catatan kecil tulisan Baekhyun memenuhi beberapa halaman.

“Aku harus merangkum ketiga buku ini?”

“Tidak, kau tinggal menulisnya saja. Kau sudah lihat kan poi-poin pentingnya yang aku beri tanda? Kau tak perlu merubahnya.”

“Tunggu sebentar, kau sudah membaca ketiga buku ini?” Aku berusaha keras membuat suaraku terdengar senormal mungkin. Tugas ini baru saja diberikan dua hari yang lalu dan Byun Baekhyun sudah selesai merangkum tiga buku sastra lama dalam waktu sekejap?

“Iya. Sebenarnya masih ada satu buku lagi yang ingin aku rangkum tapi tadi malam aku punya jadwal les biola.” Byun Baekhyun mengatakan hal yang luar biasa dengan wajah datarnya.

Aku hanya bisa tersenyum menimpalinya, senyum getir yang tadi juga sempat aku tampakkan pada Do Kyungsoo. Bedanya, tadi aku tersenyum sambil mengumpati Kyungsoo didalam hati, dan sekarang aku tersenyum sambil memuji Baekhyun di dalam pikiranku. Manusia dengan kekuatan otak seperti super komputer semacam Byun Baekhyun memang luar biasa. Selain pintar dia juga baik hati. Sungguh berbeda sekali dengan Do Kyungsoo.

“Terimakasih. Tak seharusnya kau mengerjakan semuanya sendiri.”

“Kau tak perlu berterimakasih.” Dia tertawa ringan lalu melanjutkan, “Anggap saja itu adalah permintaan maafku karena aku tak bisa ikut kalian mengerjakan tugas. Aku benar-benar punya urusan penting.”

“Oh, baiklah. Aku akan mengerjakan sisanya.” kataku ikut tersenyum.

“Baiklah, sepertinya aku harus pergi.” katanya sambil mengecek arlojinya. “Katakan pada Chanyeol apa yang aku katakan tadi, dia juga harus membantumu.”

“Oke.” sahutku, masih dengan cengiran yang menempel di wajahku.

“Sampai jumpa besok.” kata Baekhyun ceria sambil melambai padaku, dan berjalan pergi. Aku melambaikan tangan membalasnya kemudian dia berbalik lagi mengagetkanku. “Kalau ada yang ingin kau tanyakan, telfon saja aku. Kau bisa menemukan nomerku di halaman akhir buku.” Seru Baekhyun cukup keras. Aku mengangguk beberapa kali padanya dan akhirnya dia pergi sambil berlali lalu ke arah Kyungsoo pergi tadi lalu menghilang si tikungan yang sama.

Mungkin sajakah Baekhyun jelmaan dari malaikat? Dia terlalu baik.

***

Tak menunggu lama lagi, aku pergi ke gedung olah raga dimana tim basket Chanyeol pergi latihan. Dia adalah satu-satunya manusia terahir di kelompok yang harus bisa diajak mengerjakan tugas kelompok bersama. Ketika aku memasuki gedung, tim basket masih bertanding. Aku tak punya pilihan lain selain menunggu mereka selesai. Aku mengambil tempat duduk di tribun dan tak terlalu jauh dari pintu dimana aku masuk. Kuperhatikan sekelilingku rupanya bukan aku saja yang duduk di bangku penonton, tapi ada banyak siswi yang ikut menonton pertandingan. Beberapa diantara mereka meneriaki nama-nama pemain basket di lapangan. Bahkan ada segerombolan siswi yang duduk tak jauh di bawahku meneriaki nama Chanyeol. Ah, sepertinya bukan aku saja yang sedang menunggu Chanyeol selesai bermain basket.

Ketika pertandingan berlangsung, aku menyibukkan diri membaca buku-buku yang telah Baekhyun berikan padaku. Aku sama sekali tak memperhatikan pertandingan karena aku memang tak begitu tertarik dengan olahraga. Dari buku yang aku baca, aku mempelajari tak banyak dan cukup memahami poin-poin yang Baekhyun pertegas dengan coretan catatan kecil dan garis kuning di beberapa halaman. Dengan bantuan Baekhyun aku kurang lebih memahami semua yang aku baca. Mungkin kalau aku belajar sendiri akan lain bedanya.

Beberapa saat kemudian peluit pelatih berbunyi dan disusul sorak-sorai dari penonton, menandakan pertandingan telah usai. Setelah mendapatkan nasehat dari pelatih beberapa menit, para pemain satu persatu menghilang daru lapangan menuju ruang ganti.

Kuperhatikan jam kini sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Aku tak punya banyak waktu untuk mengerjakan tugas ini bersama Chanyeol karena sekali lagi, pada jam empat aku harus sudah tiba di stasiun menjemput sepupu tersayangku Kim Jongdae. Kuharap Park Chanyeol tidak menghabiskan banyak waktu untuk hanya sekedar berganti pakaian.

Kira-kira sepuluh sampai limabelas menit kemudian, Park Chanyeol keluar dari ruang ganti dan menyebrangi lapangan hendak keluar gedung. Dia sudah mengenakan seragamnya lengkap dengan blazer dan tas yang ada di punggungnya. Dengan terburu-buru aku menuruni tribun dan ingin menemuinya. Tapi ketika aku sudah sampai di bawah, hendak menemuinya di tengah lapangan, seseorang gadis sudah mencegatnya sebelumku. Akhirnya aku hanya bisa diam memperhatikan. Tak ada yang bisa aku perbuat karena kelompok dari gadis itu juga ada di sana, berdiri tak terlalu jauh darinya. Setelah aku perhatikan dengan seksama, mereka adalah gerombolan siswi yang tadi meneriaki nama Park Chanyeol ketika pertandingan berlangsung.

Kurang lebih selama dua menit mereka melakukan pembicaraan entahlah apa. Kemudian mata Park Chanyeol menemukanku berdiri menunggunya, mengatakan beberapa patah kata pada gadis itu dan berjalan pergi meninggalkannya. Park Chanyeol berjalan kearahku dengan diiringi gerakan mata dari sekelompok gadis itu. Bukan hanya Park Chanyeol, aku pun juga merasa tak nyaman.

“Kau menungguku bukan?” kata Chanyeol setengah berbisik setelah dia tiba dihadapanku.

“Uh.. Yeah.”

“Kalau begitu ayo kita pergi.” tanpa menunggu jawabanku selanjutnya, lengannya yang kekar sudah melingkar di pundakku, membuatku kaget.

“Ya! Apa yang…”

Tanganku sudah protes ingin mendorongnya tapi dia langsung memotong dengan bisikan tajam. “Diam saja dan tolong selamatkan aku dari mereka.”

Akhirnya aku mengerti bagaimana situasinya. Park Chanyeol memanfaatkanku untuk… Tunggu sebentar!

“Kau memanfaatkanku?!” Ujarku tak terima, dengan marah aku menghentikan langkahku mendadak membuat Chanyeol terpaksa ikut berhenti.

“Ayolah, aku akan sangat berhutang budi padamu.”

Aku tertawa sinis kemudian melepaskan tangannya yang merangkulku, “Berhutang budi, pantatku. Hari ini bisa saja menjadi hari terahir aku hidup.” Seharusnya Chanyeol tau apa maksudku. Dia adalah murid pintar, tampan dan populer. Para gadis mengidam-idamkannya, para pria ingin menjadi sepertinya. Tapi sayangnya otaknya tak terlalu pintar membaca situasi ataupun paling tidak memikirkan nasip orang yang ada dihadapannya saat ini. Oh, mungkin saja besok  aku menjadi musuh bersama satu sekolah. Park Chanyeol benar-benar tidak boleh mempermainkanku.

Oppa!” Seru seorang gadis yang tadi sempat punya urusan dengan Chanyeol. Secara bersamaan, pandanganku dan Chanyeol jatuh padanya. Kini dia berdiri bersama teman-teman satu gengnya dan jelas sekali tampang kesal mereka tertuju ke arah kami berdua (meski begitu aku lebih yakin yang mereka maksud adalah aku).

“Sorry Yejin, aku akan pergi kencan dengannya.”

Butuh waktu beberapa detik sampai syarafku menangkap apa yang terjadi, “Ya! Park Chanyeol! Jelaskan padanya kalau…” Belum selesai aku mengucapkan kalimat, dengan kasar Chanyeol mendekap mulutku dan menggunakan lengannya yang lain untuk melingkarkannya di leherku dan menyeretku keluar dari gedung bersamanya. Aku benar-benar kesal ingin menendang kaki Chanyeol tapi sayangnya dia terlalu kuat untuk dilepaskan. Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan menunggu waktu untuk membombardir dirinya dengan segala macam serapah yang aku ketahui.

***

“Kyungsoo dan Baekhyun tidak datang?”

Katanya cukup tenang sambil mengaduk-aduk es mocca yang baru saja dia pesan. Setelah insiden aneh tadi, aku dan Chanyeol pergi ke café yang tak jauh dari sekolah dengan niatan mengerjakan tugas sastra dan menyalin rangkuman dari buku yang Baekhyun berikan tadi. Tapi sepertinya setelah kejadian barusan, aku kehilangan selera belajarku dan beralih ingin menghajar Chanyeol di tempat.

“Sesuai dengan keinginanmu. Kita hanya berdua, kita bisa berkencan sekarang.” Jawabku sinis. Aku tak tau kenapa aku berkata pada Chanyeol seperti itu seolah-olah kita sudah lama saling mengenal. Yeah, mungkin kita sudah mengetahui nama masing-masing sejak kita ada di kelas yang sama, tapi kita tak pernah sedekat untuk saling mengatakan serapah atau cacian kecil di salah satu kalimat. Kita sama sekali asing dengan satu sama lain.

“Maafkan aku.”

Akhirnya dia mengatakannya juga, seru ku didalam hati.

“Aku tidak mengenalmu kecuali kau adalah teman sekelasku dan teman satu project sastra.” lanjutnya. Chanyeol masih sibuk dengan es moca-nya dan kupikir dia tak berani menatap mataku yang berkilat kesal. “Aku biasanya tak seperti itu. Maksudku, aku selalu saja tak tahan melihat gadis tadi.”

“Maksudmu Yejin?”

Dia mendongak dan menatapku. Aku tak bisa menebak apa yang di pikirkannya dan memutuskan untuk menunggu kalimat apa yang akan keluar darinya. Tapi setelah menunggu beberapa saat, dia hanya diam saja.

“Lalu apa hubunganmu dengannya?” kataku, tapi setelah itu aku langsung menyesal telah mengucapkannya. Tak seharusnya aku menanyakan hal pribadi seperti ini apalagi kepada orang yang tidak lain hanyalah teman satu project. “Maafkan aku, tapi kalau kau tak berkenan, kau tak usah menjawabnya.”

“Dia adalah pacarku.”

Kami berdua diam beberapa saat. Aku mengangguk singkat kemudian tertawa. Oh ternyata dia adalah… “Pacarmu?!”

Chanyeol mengangguk beberapa kali dan akhirnya ekspresi kaget dan kesalku keluar. Mulutku menganga lalu menutup. Mataku berputar dirongga, kembali mengingat kejadian beberapa saat yang lalu. Oh ini mengerikan. Yejin bersama teman-temannya jelas akan mengingat-ingat wajahku dan mungkin saat ini mereka sedang berkumpul mendiskusikan cara yang tepat untuk membunuhku. Matilah aku.

“Kenapa… Kenapa…” Aku menghela nafas berat, membiarkan kalimatku menggantung. Keinginan terahirku di tahun akhir sekolah adalah, aku ingin tenang dan tak punya masalah dengan siapapun. Aku sama sekali tak punya bayangan punya konflik dengan salah satu geng atau murid apalagi hal yang di perebutkan adalah seorang lelaki. Sungguh ini jauh dari bayanganku. Sialnya lagi, lelaki yang dimaksud adalah salah satu anggota smartass yang terkenal. Hidupku tak bisa lebih hancur dari ini.

“Kau tak usah panik.” kata Chanyeol seolah membaca pikiranku. “Dia tak akan berbuat jahat padamu.”

“Bagaimana kau bisa begitu yakin? Kau tak melihat bagaimana mereka menatapku? Mereka seperti ingin mengulitiku hidup-hidup!” sergahku marah. “Lagi pula, kenapa kau bisa sejahat itu kepada pacarmu?”

“Aku ingin dia membenciku.” katanya lirih. Chanyeol sudah pada batas limitnya. Topik yang dibawa bisa membuatnya lebih sedih lagi tapi aku tidak peduli. Aku kesal sekali padanya.

“Tapi pada kenyataannya mereka justru lebih membenciku. Terimakasih padamu.”

“Yejin harus membenciku karena dia dan aku harus berpisah.” lanjutnya, tanpa acuh pada perkataan kasarku.

Wae?”

“Setelah lulus aku akan belajar kedokteran di luar negeri. Aku harus berpisah dengannya sebelum itu, dan itu berarti kurang beberapa bulan lagi.”

Aku mendengus keras lalu buru-buru berubah menjadi mengendus. Tanganku reflek meraih mulutku dan sebisa mungkin menahan tawa yang tiba-tiba saja datang. Aku tak menyangka kalau Park Chanyeol punya sisi seperti ini. Apalagi, dia mengatakannya pada seseorang yang tidak terlau dia kenal sepertiku. Dia sungguh payah. Maksudku, dia bisa saja pintar dalam pelajaran, dia jago bermain basket tapi dia payah dalam hal percintaan. Aku sempat ingat tentang rumor pada waktu kelas satu, bahwa Chanyeol adalah salah satu Playboy Wannabe. Aku tak mengerti darimana datangnya gosip itu, tapi setelah melihat kenyataanya sekarang Park Chanyeol benar-benar jauh dari kata Playboy. Dia benar-benar polos dan Innocent dan cukup bodoh.

“Apa kau tidak punya rencana memberi tahunya?”  kataku setelah aku bisa menguasai diriku.

“Aku takut dia kecewa. Kau tau?”

“Astaga.” lagi-lagi. Aku bersusah payah untuk tidak menepuk jidatku. “Yejin justru akan lebih kesal kalau dia tidak diberitahu. Dia akan lebih lega kalau kau sendiri yang mengatakannya. Lagi pula, dari pada kau susah-susah membuatnya membencimu bukankah lebih baik kau membuatnya senang selagi kalian berdua bersama?”

“Kau memberikanku poin yang tepat.” katanya menyetujui.

Aku mengangguk senang setelah mengetahui Chanyeol menerima pendapatku. Tak mengulur waktu lama lagi, aku mengeluarkan laptop dan ketiga buku dari Baekhyun dimeja dan mulai mengatakan intruksinya pada Chanyeol seperti apa yang Baekhyun katakan. Topik pembicaraan yang kami bawa bukanlah soal romantisi Chanyeol dan Yejin lagi tapi sudah beralih tentang bahasan literatur dan sumber yang berkaitan tentang tugas sastra. Kami berdua membagi tugas dan akhirnya sibuk dengan laptop masing-masing dan sesekali diselingi dengan lelucon ringan. Bekerja sama dengan Chanyeol bukanlah seburuk yang aku bayangkan. Dia punya kepribadian yang terbuka dan menyenangkan. Selain itu dia cukup cepat beradaptasi dengan cara kerjaku, sehingga membuat kita bekerja sama dengan baik tanpa menyulitkanku dan menuntutku ini dan itu.

Tanpa terasa pukul sudah menunjukkan setengah empat yang itu berarti aku harus pergi menemui Jongdae. Aku bilang pada Chanyeol dan sempat beberapa kali meminta maaf karena harus meninggalkannya terlebih dahulu.

“Jadi, aku harus pergi dulu. Maafkan aku.”

“Tak apa. Kau bisa menyerahkan sisanya padaku. Kalau malam ini tak selesai, aku bisa menyerahkannya pada Baekhyun besok. Kau tau sendiri kalau dia punya otak super komputer, dia bisa mengerjakannya dua kali lebih cepat dari pada kita.”

Aku tertawa mendengarnya. Setengah diriku senang bahwa dia tak lagi terpuruk dengan masalahnya dengan Yejin atau apalah itu.

“Jadi, kau besok kau akan mengatakan padanya?” kataku setelah selesai memberesi semua benda milikku kedalam tas, siap meninggalkan café.

“Maksudmu?”

“Yejin.” kataku tak sabar.

“Tidak.”

Kata singkatnya mengkandaskan senyuman diwajahku dan tanpa perlu basa-basi aku melenggang pergi. Park Chanyeol sungguh sesuatu. Aku kira dia akan mendengarkanku dan menerima nasehatku tapi ternyata sama saja seperti sebelumnya. Dengan begini aku mendapatkan kesimpulan bahwa orang pintar juga punya sisi bodoh. Chanyeol bisa saja pandai dalam pelajaran maupun hebat dalam olahraga, tapi dia sungguh payah kalau sudah terbentur dengan romantisi.

Trio smartass itu benar-benar punya sisi yang aneh dan tak terduga.

Hari berikutnya, tak ada yang lebih mengesalkan dibanding beradu argumen dengan mereka bertiga secara bersamaan. Mereka bertiga punya jalan logika aneh masing-masing yang membuat kepalaku bedenyut lantaran tak mengerti apa yang mereka maksud. Harus aku akui, aku tak terlalu pintar dan tentu saja jauh jika dibanding mereka. Tapi setidaknya aku bukanlah kategori gadis bodoh karena, ingat, aku masih di kelas unggulan bukan?

Saat ini aku bersama trio smartass. Mendiskusikan tugas kami di bangku belakang dekat jendela, yang tidak lain adalah tempat duduk mereka. Kira-kira masih sepuluh menit kami memulai diskusi tapi sudah beberapa kali tanganku meluncur di dahi. Mereka benar-benar mengesalkan. Topik yang mereka perdebatkan semakin meluas dan tak lagi punya patokan. Akhirnya aku hanya diam mendengarkan mereka bertiga berceloteh.

“Sudah berapa kali aku bilang padamu Baek?” kata Kyungsoo sedikit mengguman sambil disibukkan dengan bidak-bidak yang tersebar diatas papan catur kecil miliknya, dia bermain sendiri. “Bahwa Lim Seyeon bukanlah sastrawan kuno. Dia hidup di tahun lima puluhan bukan berarti dia kuno.” lalu Kyungsoo mengambil salah satu bidak kuda hitam lalu meletakkannya kembali. “Skak mat.”

“Apa aku pernah bilang kalau dia adalah sastrawan kuno?” sergah Baekhyun, perhatiannya kini tertuju pada Kyungsoo yang duduk disampingnya dan mengabaikan harmonika serta pembersihnya yang tergeletak di meja.

“Tapi kau juga mengikut sertakan dalam buku yang kau rangkum. Topik tugas kita tentang literatur sastra kuno.” kata Chanyeol sambil disibukkan dengan menatap layar laptop, membaca kembali rangkuman yang kemarin telah aku ketik bersamanya.

“Dia memang bukanlah sastrawan kuno. Tapi paling tidak karyanya di pengaruhi oleh gaya lama sehingga unsur-unsur sastra dari sastrawan generasi kedua masih terasa kental.” kata Baekhyun.

“Yeah, benar apa yang Baekhyun katakan.” kataku, ikut berpendapat. “Sekilas aku membaca karya Lim, dan memang tulisannya sungguh klasik.”

“Kalian dengar itu?” ujar Baekhyun cepat-cepat.

“Kau mempercayai perkataan orang yang nilai sastranya paling rendah diantara kita?” serangan pertama Kyunsoo langsung menghujam perutku. Aku langsung mendelik marah padanya meski sia-sia karena pandangannya masih terfokus dengan bidak-bidak caturnya.

“Soo Soo itu sungguh tidak sopan.” kata Baekhyun dengan intonasi dramatis. “Kau harus meminta maaf.”

“Bukankah itu fakta?” kata Kyungsoo seolah-olah aku tak ada disana. Do Kyungsoo sungguh keterlaluan, kalau saja dia orang lain, mungkin aku sudah melemparnya keluar jendela. Serangan keduanya membuatku menggigit bibir bawahku, meredam amarah.

“Dang Kyungsoo! Mulutmu kotor, harus dibersihkan.” kini Chanyeol yang berbicara. “Karena aku adalah teman baik darinya, atas nama Do Kyungsoo aku meminta maaf padamu. Karena superior idiot yang berengsek ini terlalu angkuh untuk meminta maaf. Otaknya sudah dipenuhi formula-formula matematika sehingga menyisakan sedikit simpati dan perasaan didalamnya.”

“Terserah.” kataku lirih sambil berdiri hendak pergi. Aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan mereka, terutama perkataan pedas dari Kyungsoo. Aku memang bukanlah orang yang punya sesuatu untuk di banggakan tapi setidaknya aku masih punya harga diri yang patut kupertahankan. Benar apa yang dikatakan oleh Jieun, mereka bertiga dijauhi, disegani, dan dihormati karena tak seorangpun dari kami yang berani menyamakan diri dan kedudukan dengan mereka. Mereka bertiga hanya pantas untuk mereka sendiri. Tak ada orang lain yang dengan berani mendekati mereka. Itulah alasan kenapa selama tiga tahun ini mereka tak pernah punya teman lain atau berteman dengan orang baru. Mereka sungguh kasihan.

“Kau mau kemana?” kata Chanyeol memecah lamunanku, menatapku dengan penasaran. “Kau tak marah bukan?”

Marah. Aku benar-benar marah hingga ingin membalik meja dan melemparkannya saat ini juga, tapi aku tentu tak tega mengatakannya. Karena dengan begitu akan membuat diriku lebih buruk. Akhirnya aku hanya berdeham, mengendalikan suaraku dan berkata “Aku harus pergi ke toilet.”, tanpa menunggu persetujuan mereka aku pergi meninggalkan kelas dan dengan langkah gontai aku menuju ke toilet wanita terdekat.

“Hei.” Masih belum cukup jauh aku berjalan aku mendenger seseorang berseru padaku. Ketika aku menoleh, aku mendapati Baekhyun berlari kearahku lalu berhenti setelah berada didepanku.

“Aku tak memintamu menemaniku pergi ke toilet wanita.” aku mengatakannya setengah serius dan setengah bercanda.

Baekhyun tertawa mendengarnya lalu berkata, “Tentu saja tidak. Hanya saja aku khawatir.”

“Aku tak akan tersesat hanya karena pergi ke toilet Baek. “

“Bukan karena itu.” katanya sedikit tak sabar. “Aku tau kau sakit hati dengan perkataan Kyungsoo.”

Well….” aku tak tau harus mengatakan bagaimana karena memang begitulah kenyataannya. Aku tak bisa menyanggah atau menutupi karena itu akan membuat keadaanku semakin rumit.

“Perlu kau ketahui, Kyungsoo adalah manusia super introvert. Dia tidak bisa bersosialisasi dengan baik kecuali dengan aku dan Chanyeol. Dia akan menjadi sangat kasar kurang ajar seperti itu ketika dia ada di lingkungan orang baru. Dia biasanya tak seperti itu. Kau masih harus bersyukur karena dia masih menyapamu dan menganggapmu ada. Ah, aku masih ingat kejadian kelas dua SMP dulu. Dia selalu membuat gadis yang mendekatinya menangis.” kata Baekhyun menerawang, mengingat-ingat kejadian masa lalu kemudian terkekeh.

Mau tak mau aku ikut tersenyum mendengarnya. Jika yang terjadi pada Kyunsoo seperti itu adanya, berarti dia sungguh merasa tertekan ketika aku berada di sekelilingnya. Lalu, mungkin itulah alasan kenapa dia tak mau membagikan nomernya padaku kemarin. Kali ini aku merasa bersalah.

“Maksudmu aku harus bersyukur dia menyapaku?”

“Kalau kau berpikir dia melakukan hal yang keterlaluan padamu maka kau salah. Dia bisa lebih parah dari pada ini. Dia bisa saja menganggapmu tak ada atau bahkan langsung menganggapmu musuh bahkan ketika kali pertama bertemu. Jika dia memberimu kesempatan untuk berbicara atau dia berbicara padamu, itu berarti dia masih peduli denganmu. Meskipun… yeah.. Dia menyampaikannya dengan payah dan alhasil membuat presepsi salah.”

“Lalu aku harus bagaimana menghadapinya?”

“Kau harus bisa ekstra sabar.”

“Aku tidak bisa terus menerus sabar. Aku juga punya batas kesabaran.”

“Kalau kau kehilangan kesabaran dari Kyungsoo, kau tinggalkan dia dan jangan mengacuhkannya.”

Wae?”

“Itu tandanya batrenya sudah habis. Perlu di charge ulang ” Baekhyun tersenyum dan aku tertawa mendengarkan perkataan konyolnya, “Berbicara atau mendekati orang lain membutuhkan banyak keberanian bagi seorang introvert. Jadi, jika dia sudah tak terkendali lagi, tinggalkan saja dia.  Kalau batre keberaniannya sudah penuh, dia akan kembali berbicara padamu.”

Perkataan dan nasehat Baekhyun sungguh masuk akal dan serta merta langsung aku terima. Biasanya aku akan terus membantah jika ada yang memberitahuku ini dan itu apalagi dengan keadaan emosi yang ada di puncak. Tapi entah kenapa Baekhyun semacam punya aura untuk mempengaruhi orang lain dan secara langsung aku menerima pendapatnya dengan lapang dada.

“Jadi, apakah kau masih punya niatan pergi ke toilet?” kata Baekhyun memecah keheningan. Aku mengangguk kemudian dia berkata, “Baiklah, setelah ini kembalilah ke kelas. Kita masih punya tugas untuk dibahas bukan?”

Aku mengangguk lagi, lalu tersenyum “Terimakasih Baek.”

“Jangan kau pikirkan.” katanya terakhir kali sebelum dia memutar kakinya dan berjalan kembali ke kelas.

Aku tak menghabiskan waktu lama di toilet. Dan sebenarnya aku tak punya keinginan untuk buang air. Hanya saja, aku ingin pergi berpikir dan entah kenapa toilet adalah salah satu tempat pilihanku. Aku duduk didalam bilik, diatas kloset yang tertutup sambil memikirkan kata-kata dan nasehat yang tadi Baekhyun berikan. Pasti sangat susah sekali hidup menjadi Do Kyungsoo. Dia merasa takut bila dekat dengan orang lain saja sudah memberikan bayangan yang mengerikan. Pasti dia selama ini menahan diri ketika aku berkumpul bersama kelompoknya. Beberapa saat aku merasa putus asa, dan memikirkan project ini tak akan berhasil jika anggotanya punya pro dan kontra. Lalu aku teringat dengan perkataan Baekhyun bahwa Kyungsoo sebenarnya peduli denganku hanya saja dia menyampaikannya dengan caranya sendirilah yang membuat orang lain salah paham. Aku tak pernah menyangka bahwa Do Kyungsoo yang jenius itu bisa begitu ringkih dan penakut. Untung saja dia punya sahabat yang baik seperti Chanyeol dan Baekhyun.

Meskipun Chanyeol bukanlah orang yang baik dalam bertindak, tapi dia punya cara sendiri untuk mengendalikan kelompoknya. Tentu saja dia begitu lihai, karena dia adalah ketua tim basket dan tentu dia sudah biasa menghadapi pertikaian-pertikaian dalam kelompok. Kepemimpinannya tak bisa diragukan lagi. Sedangkan Baekhyun, dua kata untuk bocah ini “super baik”. Aku sudah mengetahui sejak lama dan bahwa Baekhyun punya kepribadian yang ceria. Sebelumnya aku  sempat berpikir kenapa Baekhyun tidak memiliki banyak teman padahal dia adalah siswa yang terkenal, lantaran dia punya jiwa sosial yang tinggi. Ternyata alasannya tidak lain adalah karena Do Kyungsoo. Baekhyun bisa saja berteman dengan siapapun di sekolah ini, bermain dengan siapapun dan kapanpun tapi dia lebih memutuskan menghabiskan waktunya bersama Kyungsoo. Dia menyadari bahwa Kyungsoo bukanlah tipikal orang yang bisa berteman dengan baik, akhirnya dia memutuskan untuk memiliki sedikit teman ketimbang meninggalkan Kyungsoo sendirian. Dan sepertinya begitu pula dengan Park Chanyeol.

Setelah sekian lama aku berdiam diri dibalik bilik, aku memutuskan untuk kembali ke kelas dan kembali menghadapi mereka bertiga. Tanganku sudah ada di pintu bilik, mendorongnya untuk terbuka tapi pintu hanya bergeming. Aku kembali mendorongnya, tiga kali, empat kali, tapi sama saja.

Aku merogoh kantong blazerku, mencari ponsel dengan maksud untuk menghubungi Jieun atau teman wanita lain meminta pertolongan. Adakah yang lebih buruk dari ini? Aku terjebak di bilik toilet wanita dan sialnya ponselku tertinggal di dalam tas. Dengan pasrah aku mengetuk pintu bilik beberapa kali dan meneriaki siapapun yang bisa menolongku keluar dari sini.

Alangkah naasnya, bukannya ditolong, seseorang malah menumpahkan satu ember penuh kearahku lewat atas bilik. Dan alhasil, sekujur tubuhku basah dan kedinginan. Aku bisa mendengar beberapa orang berdiri di depan bilikku saling berbisik dan terkikik senang, jelas menikmati kesengsaraanku. Tak lama kemudian mereka pergi dan jelas-jelas mereka menutup pintu toilet dengan keras. Kini aku sendirian, basah, kedinginan dan terkunci di balik pintu bilik toilet wanita. Aku hanya bisa berharap ada orang yang mencariku atau menemukanku.

Lalu, siapa pecundang yang mengunciku disini? Aku akan mencari tahu.

 -tbc-

yang sering maen ke blog q pasti udah tau kalo part yg ini udah aq update jauh2 hari. huhu. sorry baru inget kalo punya tanggungan ff disini. so how do you think?🙂

btw, maen-maen ke bloq ku juga ya : Iruza Izate

regards ilachan

25 thoughts on “The Smartass Project Chapter 1

  1. Hai…
    Boleh kan muji tulisanmu bagus? hahahaha
    Beneran, tulisanmu bagus. Nggak ada typo deh selama aku baca, udh gitu bawaannya enak aja pas baca. Ringan. Makasih sudah menciptakan karya yg bagus seperti ini.

    Keep writing^^

  2. aku seneng sama jalan ceritanya..gak bosenin.. gaya bahasanya juga ringan tapi dapet feelnya.. bagus eon (Y) lanjutt lagi.. okedeh aku bakal main ke blog eonni😀 fighting

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s