Diposkan pada charismagirl

[Prolog] Angel of Death

AoD

Angel of Death

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : PG-15

Genre : Romance, fantasy, marriage-life.

Length : Drabble.

Note : Do not copycat without my permission. Enjoy!

Baekhyun tidak boleh mencintainya, dia hanya boleh mengambil jiwanya.

Baekhyun adalah dewa pengantar kematian. Dia punya tugas untuk mengambil jiwa manusia jika memang sudah waktunya. Mengantar mereka ke gerbang langit. Tidak kenal belas kasihan. Tidak ada terkecuali.

Matanya kelam seperti langit malam. Sekali kau menatapnya kau akan terjatuh ke dalam lembah ketakutan, kegelisahan, dan berujung pada kematian. Tapi di saat yang bersamaan, kau akan terpesona, jatuh cinta lalu memujanya.

Tidak pernah terelakkan bahwa sosoknya yang dingin itu begitu mempesona di matamu. Rambutnya kelam seperti matanya. Mata, hidung, bibir yang terbingkai dalam wajah tampannya.

Semua perasaan cintamu padanya tidak ada gunanya karena dia hanya akan membawamu pada sebuah rasa sakit yang tidak pernah terlintas oleh pikiranmu. Rasa sakit yang tidak pernah terasa oleh ragamu. Dan rasa sakit yang tidak pernah tertanam dalam hatimu.

Dia akan melakukannya. Dia merenggut jiwamu.

Selama dia diciptakan, dia selalu melakukan tugasnya dengan benar. Dia turun ke bumi. Merenggut satu per satu nyawa manusia yang memang sudah tercatat. Tidak peduli itu kakek tua yang ringkih, pria dan wanita dewasa, gadis remaja, pemuda, bahkan bayi sekalipun.

Dia membawa kematian padamu dengan berbagai cara.

Sampai suatu saat dia melakukan kesalahan pada tugasnya. Tidak pernah terpikirkan bahwa jauh, jauh di dalam tubuhnya dia mempunyai hati. Mendadak lemah dan tersentuh.

Tidak adakah yang bisa dia lakukan selain membawakan kesedihan pada makhluk bumi. Tidak adakah yang bisa dia lakukan selain membuat air mata berurai penuh kesengsaraan.

Ada. Dia menyelamatkan satu nyawa.

Pemimpin dewa yang mengetahui hal itu seketika murka pada dewa pengantar kematian itu –namanya Baekhyun. Baekhyun akan dihukum seberat-beratnya dan terancam dimusnahkan. Dia ingin melawan, tapi dia tak punya daya. Hingga pada akhirnya mereka membuat kesepakatan.

Baekhyun diberi kesempatan untuk turun ke bumi, melakukan tugasnya lagi. Namun, kali ini targetnya hanya satu. Seorang gadis yang tinggal sendirian di sebuah rumah sederhana. Gadis yang bekerja sebagai penulis novel.

Baekhyun harus tinggal bersama gadis itu selama enam bulan dan mengambil jiwanya saat umur gadis itu genap dua puluh dua.

Bagi dewa kematian macam Baekhyun, yang tidak punya belas kasihan, mestinya mudah melakukan semua itu.

Tapi, dia tidak pernah tahu bahwa akhirnya dia akan terjebak. Terikat dalam sebuah perasaan–dia bahkan tidak menyangka bahwa perasaannya masih berfungsi. Dia jatuh cinta.

Dan seketika tugas itu menjadi luar biasa berat baginya. Lebih berat daripada harus merenggut ratusan nyawa dalam bencana. Karena pada akhirnya dia harus memilih. Melakukan tugasnya dan dia akan kembali ke langit, dengan rasa hormat.

Atau.

Membiarkan dirinya dilenyapkan karena telah menyelamatkan nyawa manusia–gadis yang dicintainya.

***

Minri adalah seorang gadis sederhana. Hidup sendiri di tengah padatnya kota Seoul. Keluarganya tinggal di Gyeonggi-do.

Dia suka menulis. Dan hobinya itu membawanya pada sebuah kesuksesan baginya. Dia memilih rumah kecil sederhana yang terletak di pinggiran kota. Hiruk piruk keramaian tidak membuat semangatnya runtuh untuk tetap menulis.

Setidaknya setiap tiga bulan sekali dia akan menyerahkan hasil karyanya ke sebuah publisher besar di Seoul. Dia menjadi penulis tetap di penerbit itu. Orang-orang banyak memberikan respon positif terhadap hasil tulisannya. Dan dia merasa dirinya sudah cukup pantas untuk disebut sukses. Karena kesuksesan itu relatif. Menurut sudut pandang masing-masing.

Dia single–dan belum pernah menikah. Dia masih merasa nyaman dengan hidupnya sekarang. Dia punya teman-teman yang baik di sekitarnya. Misalnya Sungyoung gadis berisik dan perhatian yang bekerja sebagai editor. Ada juga Sehun–seorang pekerja di Kafe langganannya. Dan teman-temannya yang lain yang tidak bisa disebut.

Walaupun terkadang dia merasa iri pada teman-temannya yang sudah memiliki kekasih. Di umurnya sekarang, mestinya sudah cukup baginya untuk memiliki kekasih dan menjalin hubungan serius.

Namun dia tidak begitu mempedullikan hal itu.

Sampai, suatu ketika dia bertemu dengan seorang lelaki berperawakan sedang, berambut hitam, mempunyai mata yang sangat indah, hidung mungil dan bibir tipis. Dia mempesona–terlalu mempesona untuk ukuran manusia pada umumnya.

Dia harus mempedulikan perasaannya kali ini. Dan dia harus mengakui bahwa dia telah jatuh cinta pada lelaki itu.

Tidak pernah terpikir olehnya bahwa dia bisa kenal lebih dekat dengan lelaki itu.

Dan hidupnya berubah.

***

Malam itu hujan sedang turun dengan derasnya. Minri menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Duduk di sofa ruang tengah. Menyesap cappuccino hangat di tengah hujan begini adalah perpaduan yang sempurna.

Dia masih belum mengantuk, maka dari itu dia memutuskan untuk menonton acara televisi kesukaannya. Walaupun suara televisi itu tidak terlalu jelas karena teredam hujan, tapi setidaknya dia tidak merasa sendirian. Dan suasana mencekam sedikit berkurang.

Selama tinggal sendiri, dia merasa aman-aman saja pada dirinya. Tidak begitu mencemaskan perihal penjahat. Dia punya sedikit ilmu bela diri. Dia rasa itu cukup untuk melindungi dirinya.

Ting Tong!

Bel rumahnya berbunyi, tepat saat televisi menampilkan iklan komersial. Raut bingung terpatri di wajahnya. Dalam hatinya bertanya-tanya siapakah yang rela menembus derasnya hujan dan berkunjung ke rumahnya di malam hari seperti ini. Dia rasa tidak akan ada yang mau melakukannya kecuali hal itu memang mendesak. Hati kecilnye bergemuruh cemas. Rasa takut perlahan muncul.

Sembari merangkai tanda tanya di kepalanya, Minri melompat dari sofa. Meletakkan selimut tebalnya dengan sembarangan lantas melangkah menuju pintu. Dia mengintip di lubang kecil sebelum membuka pintu itu.

Seorang lelaki berkemeja putih berdiri di depan pintu rumahnya. Dia basah kuyup. Dia memeluk dirinya sendiri dengan bibir yang bergetar. Minri memperhatikan wajahnya. Lelaki itu … tampan. Tidak. Dia lebih dari sekedar tampan, untuk membuat Minri melongo bodoh di depan pintu rumahnya.

Minri akhirnya sadar bahwa dia harus cepat-cepat masuk kalau tidak ingin membuat angin malam yang dibawa hujan menyentuh kuitnya dan berakhir membuatnya sakit.

Sebenarnya Minri bingung mengapa tiba-tiba ada lelaki asing berdiri di depan rumahnya dengan keadaan basah kuyup.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Minri. Dia menggosok-gosok lengannya. Ugh, sungguh di luar begitu dingin, batinnya.

“Aku ingin berteduh… “ Ucap lelaki itu dengan suara bergetar.

Minri membelalakkan matanya. Lelaki itu pasti kedinginan sekali. Tidak ada salahnya membantu sedikit. Lagipula wajahnya yang tampan itu sama sekali tidak menggambarkan dirinya seorang kriminal.

Minri membuka pintunya lebih lebar lalu membiarkan tetesan air dari baju lelaki itu membasahi lantai rumahnya. Lelaki itu menyeret langkahnya pelan menuju ruang tengah. Minri segera berlari ke dalam kamarnya. Mengacak-acak isinya –dia tidak peduli karena sudah membuatnya berantakan. Dia harus bergegas sekarang.

Setelah menemukan handuk besar yang dicarinya, Minri kembali ke ruang tengah lantas menyerahkan handuk itu pada lelaki asing yang sedang duduk di sofa single.

“Ini Tuan, keringkan tubuhmu.”

Lelaki itu menyambutnya, kemudian menyelimuti tubuhnya yang basah itu.

Minri menunggu dan terus memperhatikan laki-laki itu. Dia tidak tahu harus bicara apa. Terlalu shock dengan kehadiran lelaki tampan di tengah hujan begini.

“Namaku Baekhyun.” Lelaki itu mendongakkan kepalanya, menatap Minri.

Minri yang kebetulan memperhatikan lelaki itu, tertangkap basah telah memandanginya. Dia jadi salah tingkah dan mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Ah? Minri. Namaku Park Minri.

Minri mengulurkan tangannya. Dia tahu bukan saatnya sesi berkenalan formal seperti ini. Tapi tangannya tergerak ingin melakukannya. Dan seketika tubuhnya menegang saat laki-laki itu menyambut uluran tangannya. Dingin. Entah bagaimana bisa membuat jantungnya berdegup-degup menggedor tulang rusuknya.

Minri memberanikan diri mendongakkan kepalanya. Menatap laki-laki itu–menatap jauh ke dalam matanya!

Harusnya dia tidak melakukannya. Karena pada akhirnya dia tahu bahwa dia tidak bisa berhenti. Laki-laki itu membiarkan Minri menatapnya, walaupun dia tidak tersenyum, tapi Minri merasa terikat pada sesuatu. Hatinya telah terjerat pada lelaki itu.

Dan dia tidak pernah tahu bahwa hidupnya sekarang berada di tangan lelaki itu.

*End?*

HAAAALOOOO!! Lama tak jumpa/? Masih ingat sama saya? Hiks ;_; maafkeun kalo fanfic nya membingungkan. Sejujurnya itu prolog project fanfic yang sudah sangat lama, tapi gak kebikin juga. So, nikmatilah kegantungannya. Mwahaha ;ketawalo;

aku udah bikin lanjutannya(makanya judul di atas ganti jadi prolog), tapi kayaknya cuma oneshoot. kalo ga ada halangan aku post dlm waktu 1 atau 2 minggu

Bisa dikatakan saya sedang semi hiatus, tau dong ya anak semester 8 (ciyee/-_-) segimana sibuk dan pusingnya. Doain skripsiku lancar yak :”

Mari berkicau di kotak komentar.

Makasih ^o^/

Kangen kalian semuaaaa!!

© Charismagirl, 2015.

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

89 tanggapan untuk “[Prolog] Angel of Death

  1. wahhh…
    lagi sibuk skripsi ya..
    semangattt…
    pantes jarang liat ff nya,,,heheh
    sukaa sama prolognya…
    jadi pengen lanjut baca…
    lanjut dulu ya….
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s