Diposkan pada avyhehe, EXO-K, Mistery, MULTICHAPTER, Series

Lifetime [Part 1]

lifetime

AUTHOR: Avyhehe / Avy

LEGTH: Series

GENRE: Romance/Friendship, Supranatural

RATED: PG-13

Tokoh: Kim Jongin, Byun Baekhyun, Kim Jongdae (EXO), Han Hyori (OC)

others will revealed soon.

Disclaimer: Mine.

Author’s Note: Sebenarnya ini fanfic remake, cast aslinya anak-anak shinee, tapi belum sempat saya tamatin. Enjoy, and don’t forget to leave a comment! ^^

Credit poster: PosterBySifixo@PosterChanel

(thank you so much for this gorgeus poster, dear!)

DON’T BE A SILENT READER, PLEASE

avy present

~LIFETIME~

Part 1

| Warning: This story is only a work of fiction. |

Hidup di dunia tanpa menyadari arti dunia

Ibarat berkunjung di perpustakaan besar

Tanpa menyentuh buku-bukunya

 

Aku hidup dalam kegelapan. Umurku masih tergolong muda, namun sudah berbuat banyak kejahatan. Semua itu berawal dari kejahatan kecil , dan lama kelamaan merambah ke kejahatan yang lebih besar. Mulai dari mencuri sesuatu yang kecil, seperti mencuri uang milik orang tuaku, hingga berlanjut ke tingkatan mencuri yang lebih besar—mencuri nyawa orang lain. Pertama kalinya adalah ketika aku kalap dan membunuh teman sebangkuku sendiri karena dia menghinaku dan membuatku sebal. Itu awalnya. Lama-kelamaan, aku menjadi terbiasa. Aku mulai membunuh siapapun yang aku mau, berbuat keonaran di tempat mana saja yang aku mau, menyiksa orang, memutilasi orang, bahkan membobol bank. Aku menjadi buronan yang paling dicari di negaraku. Entah, menjadi kriminal mempunyai kepuasan tersendiri.

Mungkin kalian ingin bilang, jika aku seperti iblis? Tidak. Aku bukan hanya seperti iblis, Karena akulah iblis itu sendiri.

Namun kejahatanku itu tidak bertahan lama, sepertinya Tuhan sudah marah padaku.

Suatu hari, kurasakan jiwaku terlepas dari ragaku. Hal terakhir yang bisa kuingat, aku mati karena overdosis.

Iblis yang terlahir dari neraka pun, pasti akan berakhir di neraka pula.

Aku memijakkan kakiku ke sebuah dataran yang panas. Panasnya seperti bara api dan bahkan bisa melelehkan telapak kakiku dalam waktu sepersekian detik. Aku mendongak ke atas dan melihat ke sekeliling. Gelap. Hmm… mungkinkah in kehidupan setelah kematian? Huh, percayakah kau akan hal itu?

Aku mendengar seseorang memanggilku. Entah kenapa kakiku bergerak sendiri ke arah suara itu berasal. Aku merasa terpanggil. Kulangkahkan terus kakiku yang terasa terbakar ini, menuju ke sebuah titik cahaya di antara kegelapan yang menyelimutiku.

Langkahku terhenti. Deg. Perasaan apa ini? bulu kudukku langsung merinding.

Tiba-tiba, kegelapan yang menyelimutiku tersibak begitu saja dan aku disuguhi pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya, teriakan-teriakan miris yang belum pernah kudengar sebelumnya, juga jeritan-jeritan yang memekakkan telinga.

Kakiku gemetaran. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisku. Bahkan, seorang iblis pun akan takut luar biasa jika melihat…

“Welcome to Hell.”

Seseorang berwajah mengerikan yang mengenakan jubah hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya, berjalan mendekatiku. Er—aku tidak yakin dia berjalan atau melayang karena kakinya yang tidak menyentuh tanah sama sekali.

“Selamat datang di neraka, kau adalah tamu kehormatan di tempat ini. Blacklist utama kami. Dan itu artinya…” orang berjubah hitam itu menyeringai, “Kau akan selamanya menghuni tempat ini.”

Glek. Aku menelan ludahku. Tidak! Tolong, dimanapun lebih baik daripada disini. Ya Tuhan, aku menyesal! tolong ampuni aku!

Kakiku yang gemetar hebat tidak sanggup lagi menopang berat tubuhku, dan akhirnya aku jatuh terduduk di tanah yang panas. Sekujur tubuhku serasa lemas. Aku menangis tanpa suara. Sebenarnya aku tahu, semua itu hanyalah sia-sia.

“Tolong, siapa saja, keluarkan aku dari sini!” gumamku yang entah kepada siapa.

“Kau sendiri yang memilih jalanmu, dan kau sendiri-lah yang akan menuai perbuatanmu,” orang berjubah itu terkekeh, membuat wajahnya semakin seram. Ia lalu mengangkat sebuah gada besi sebesar bola voli dan mengayunkannya padaku.

PRAK!!

Rasa sakit yang tidak pernah kubayangkan langsung menderaku saat otakku hancur berkeping-keping.

“AARRRGH!!”

“UWAAAHH…!!”

“TIDAAAK…! —!”

Teriakan-teriakan yang tak pernah berubah sejak pertama kali aku menginjak tempat ini. Rintihan kesakitan yang tak pernah berubah. Jeritan meminta pertolongan yang tak pernah berubah. Siksaan dimana-mana. Ceceran darah dan organ tubuh dimana-mana. Dimanapun yang terlihat hanya kobaran api yang menyaingi tinggi rumah, menyelimuti tempat ini.

Pemandangan yang kujamin bisa membuatmu bergidik. Dataran yang sepanas bara api. Juga terdapat kolam berisi lava yang menggelegak dan siap meledakkan bola-bola api. Sejauh mata memandang, hanya warna oranye dan merah yang mendominasi.

Beragam siksaan bisa kau lihat disini. Aku bisa melihat tetangga di sebelahku. Dia orang yang suka menyiksa binatang. Sekarang, dia disiksa oleh binatang itu sendiri. Aku bisa melihat dagingnya dikoyak oleh seekor anjing sebesar beruang, dan anjing itu menelan potongan dagingnya. Orang itu berteriak-teriak kesakitan. Anjing itu kini menusuk mata orang itu dengan kuku tajamnya, kemudian menariknya kembali hingga mata orang itu tercabut keluar. Si anjing lalu memakan mata yang tertancap di kukunya itu seperti memakan sebutir anggur. ugh! aku benar-benar ingin muntah.

Lalu, persis di depanku, terdengarlah suara rintihan yang sangat nyaring. Seorang perempuan, yang entahlah—aku tidak tahu dosa apa yang diperbuatnya—digantung terbalik dengan rantai, lalu tubuhnya yang tergantung itu dicelupkan ke dalam kolam lava yang sangat besar dan menggelegak, hingga ketika tubuhnya diangkat lagi, daging-daging yang awalnya melapisi tubuhnya sudah tidak melekat pada tempatnya semula. Daging-daging itu lumer ke dalam kolam saking panasnya temperatur kolam itu, dan hanya menyisakan kerangka tubuhnya saja.

Crek!

Tangan dan kakiku sendiri dirantai dengan kuat dan ujungnya terpasak kuat di tanah, melarikan diri jelaslah tidak mungkin.

Sekelebat, aku melihat pedang raksasa tengah terayun ke arahku, dan detik kemudian… kepalaku tertebas hanya dalam sekejap mata, menggelinding, dan teronggok begitu saja di atas tanah. Berteriak saja aku tidak sempat, karena pita suaraku putus.

Dan lagi-lagi, kepalaku yang seharusnya sudah putus itu tumbuh kembali, dan ditebas lagi oleh pedang itu diikuti rasa nyeri yang benar-benar tidak bisa kudeskripsikan.

Semua siksaan itu terjadi berulang-ulang, berkali-kali, bertahun-tahun, hingga aku tak bisa menghitung waktu lagi.

Kim Jongin.’

Aku membuka kedua mataku. Sebuah suara memanggil namaku.

Kim Jongin, kau akan diberi sebuah kesempatan.’

Tuhan, kau-kah itu? tanyaku dalam hati. Sekujur tubuhku merinding—karena takut, karena kesakitan, karena segalanya.

Bukan, aku hanyalah utusan. Angkatlah wajahmu. Kau tak ingin selamanya berada disini kan?’

Tentu saja aku tak ingin! Siapa juga yang mau disini.

Baiklah, kau akan hidup kembali. Namun dalam masa yang berbeda ,dan dalam wujud yang berbeda. Perbaikilah dirimu. Kesempatan yang diberikan hanya sekali. Jika kau tidak bisa merubah dirimu, kau akan kembali ke tempat ini.’

Benarkah itu? Aku bertanya-tanya cemas dalam hati.

‘Ya. Tapi waktu yang diberikan padamu tidak banyak. Lakukanlah yang kau perlu dalam jangka waktu yang singkat itu.’

Setelah percakapan selesai, tiba-tiba aku melihat ledakan cahaya di depanku. Reflek aku pun menyipitkan mata untuk mengurangi rasa silau.

‘Ingatlah, jangan biarkan kegelapan mengekangmu, Kim Jongin. Justru berusahalah mengekang kegelapan.’

——–

KRRIIIINGG…!!!

Dasar! Mengganggu saja. Mimpi indahku langsung lenyap seketika.

KRRIIIINGG…!!!

“Berisik! dasar benda terkutuk !” aku memukul sekuat tenaga jam beker di sebelahku dan kembali mengubur diri ke dalam selimut. Oh, betapa hangatnya…

“BANGUNN! KIM—JONG—IIINN…!!!’

Ahh… baru sebentar saja menemukan kenikmatan kembali di dalam selimut, tiba-tiba sesuatu yang keras menghantam tubuhku.

DZIGHH! Lelaki itu menendangku dengan sangat keras hingga aku terpental dari tempat tidur dan menabrak dinding kamar.  “Aaarggh!” aku mengerang kesakitan dan mengusap-usap pinggangku yang nyerinya bukan main lantaran menabrak dinding dengan cara yang sangat kasar. Saat rasa nyeri itu mulai hilang, aku berusaha bangkit berdiri dan langsung menatap tajam lelaki itu.

“Argghhh!!!! Kim Jongdae…!! lain kali carilah cara yang lebih baik untuk membangunkanku, atau aku tak akan segan-segan mencabulimu!” kataku dengan suara bergetar sambil menahan amarah. Kukatupkan rahangku keras-keras, lalu menerjang lelaki itu dengan sekuat tenaga.

“Tidak ada cara membangunkan yang lebih efektif selain ini, HAHAHA.” Jongdae tertawa setan.

“Dasar setan kecil!!” aku menyemburnya kesal, tapi tawanya malah semakin keras. Ah, kenapa hidupku suram sekali! Aissh… aku tidak pernah bermimpi punya saudara seperti dia.

“Mukamu kucel sekali, Kai.” Baekhyun melempar tasnya persis di bangku sebelahku ketika bel masuk berdering. Aku menatapnya malas.

“Oh, aku tahu. Pasti kau dibangunkan oleh Hyung-mu lagi, kan?” tanyanya tepat sasaran, detik kemudian dia terkekeh geli dan mencubit pipiku.

Aku menepisnya dengan kasar. “Yah! Apa-apaan kau ini!”

“Ah, sepertinya temanku satu ini sedang dilanda PMS, hahaha…” Baekhyun tertawa. Aku jadi semakin sebal. Enak saja! aku ini kan lelaki tulen.

“Kalau kau menggangguku ters seperti itu, aku pindah tempat duduk saja!” ujarku emosi tanpa melihatnya, dengan sebelah tangan yang meraih tas sekolahku.

“Ya, jangan marah dong, Kai! Nanti kau bisulan.”

Aku mendecak kesal, dan langsung saja kutatap mata Baekhyun dalam-dalam. “Hari ini aku sedang tak ingin diganggu, Baek. Jadi, bersikaplah yang manis dan duduklah dengan tenang!” omelku. Kusandarkan tubuhku ke kursi sambil menghela nafas dalam-dalam hingga dadaku terasa sesak. Melihatku yang tidak berniat menggubrisnya itu, Baekhyun memanyunkan bibirnya. Hell, bahkan dalam kondisi sedang emosi seperti ini, aku tak bisa menahan diri untuk tertawa saat melihat tingkahnya itu.

“Mau apa kau? Semanyun apapun bibirmu, jangan harap aku akan menciummu.” godaku dengan seringai khas-ku.

“Aishh!” Baekhyun memukul pundakku sebal. Aku hanya tertawa tanpa suara. Haha… dasar Byun Baekhyun.

Sudah seminggu ini kami menjadi murid ajaran baru di SMA Seuta. Minggu lalu, aku masih mengenakan seragam SMP. Namaku Kim Jongin, 16 tahun, murid tahun ajaran baru yang siap menantang segala bahaya.

Aku akan sedikit bercerita tentang diriku. Namja yang selalu duduk di sebelahku ini adalah Byun Baekhyun, sahabatku sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Seperti kalian lihat, dia adalah tipe orang yang sangat cerewet. Namun kalau bukan tanpa mulutnya yang elastis itu, hari-hariku akan membosankan setengah mati.

Aku juga memiliki seorang Hyung yang sangat menyebalkan. Dia memiliki hobi yang sangat aneh, yaitu menggangguku, seolah-olah tidak punya pekerjaan penting selain itu. Dia memang seorang pengangguran. Namanya adalah Kim Jongdae, tiga tahun lebih tua dariku dan sekarang sudah resmi menjadi anak kuliahan—mungkin kau akan membayangkan sosoknya seperti oom-oom bermuka mesum, dan hal itu memanglah benar. Namun meski begitu tubuhnya lebih kecil dariku. Sialnya, tubuhnya yang kecil itu tidak menghambatnya untuk berkelakuan seperti setan.

Yah, meski marga kami sama dan nama kami terdengar mirip, sebenarnya dia hanyalah kakak sepupuku yang menumpang tidur di rumahku. Rumahnya yang asli berada di pedesaan, jauh dari peradaban manusia. Kebetulan karena dia kuliah di Seoul, akhirnya dia menumpang hidup di dirumahku hingga lulus kuliah nanti.

“BANGUUUN… KIM—JONG—IIINNN…!!”

Beginilah keadaanku sehari-hari. Setiap pagi selalu dibangunkan oleh orang yang sama dengan cara yang sama pula. Bahkan menabrak dinding dengan gaya yang sama! Akh! Lama-lama hidungku yang aslinya memang sudah pesek ini pasti semakin melesak ke dalam jika dia terus membangunkanku dengan cara seperti ini.

Masih sedikit sebal, dengan cepat aku mengganti piyama yang kukenakan dengan sehelai kaos kutang lalu turun ke lantai bawah menuju dapur. Di sana aku melihat Jongdae yang sudah bersiap di depan meja makan sambil menyisir poninya dengan jari.

“Pagi, chagi.” sapanya.

“Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan menggelikan itu!” sungutku sembari membuka tudung saji. Jongdae terkekeh.

“Apa ini?!” seruku kaget begitu melihat sebakul nasi gosong di balik tudung saji dan telur dadar yang bentuknya tidak jelas. Entahlah, aku tidak yakin benda itu adalah telur dadar, setidaknya aromanya masih seperti telur.

“Karyaku.” Jawab Jongdae polos. Tanpa diberi aba-aba, ia pun menyidukkan nasi ke atas piringku, namun dengan cekatan aku segera menepisnya. “Andwae!!” bentakku, “Kenapa kau yang memasak? Mana Han Ahjumma??” ya, Han Ahjumma adalah pembantu di rumah kami.

“Oh, kau belum diberitahu ya? tadi pagi, subuh-subuh sekali, Han ahjumma minta izin pulang kampung karena sepupunya ada yang meninggal.” ucap Jongdae sambil mengunyah nasi buatannya dengan berat hati. Aku tahu dia pasti nyaris pingsan memakan masakannya sendiri, tapi ia terlalu malu untuk mengakuinya.

Aku mendengus, “Cih, berarti aku harus bertahan dengan masakanmu yang hancur lebur itu? Beri saja aku uang! Aku ingin makan di luar!” tanpa menyentuh sesendok nasipun, aku menenggak susuku secepat kilat, dan menyambar tas ransel hijau yang kuletakkan di kursi tamu dan berjalan keluar rumah.

“Hei!” panggil Jongdae.

Aku menoleh dengan malas, “Wae ?!” responku ketus.

“Kau tidak mabuk kan? Masa berangkat ke sekolah hanya memakai kutang.”

“…”

Sialan! Kai mengumpat dalam hati. Kalau saja Hyung-nya itu mengingatkannya untuk memakai seragam lebih awal, dia pasti tidak akan menemukan gerbang sekolah yang ditutup persis di depan matanya. Barusan, sedetik setelah Kai tiba di depan sekolah, satpam penjaga gerbang menyeringai padanya dan menutup gerbang persis di depan mukanya. Bayangkan, di depan mukanya!

“Park ahjussi! Tolong bukakan!” Kai berteriak histeris dari luar pagar sambil menggoyang-goyangkan jeruji gerbang. Namun satpam sekolah, Park Ahjussi, hanya melempar tatapan prihatin pada murid terlambat itu, kemudian menyeringai. “Maaf, Kai. Tapi lima menit setelah bel masuk pintu ini sudah harus ditutup,” setelah mengatakan itu ia kembali ke pos jaganya di samping gerbang, melanjutkan kegiatannya menyeruput kopi sambil membolak-balik Koran.

Kai menendang pintu gerbang di hadapannya dengan penuh amarah. Kelelahan, ia menyandarkan punggungnya pada tembok di samping gerbang itu sambil melipat tangannya. Tetesan keringat mengaliri dahinya. Sia-sia saja ia berdesakan di dalam bus, berlarian setengah mati dari halte ke sekolah untuk mengejar bel masuk, tapi hasilnya sama saja. Dia tetap terlambat.

Tap… tap… tap… Terdengar suara langkah kaki yang berat mendekat. Kai menoleh. Dilihatnya Rain songsaenim telah bertengger di balik gerbang sekolah. Guru killer itu menatapnya sambil memelintir kumisnya yang tebal. Aura disekelilingnya terlihat sangat suram.

“YAHHH…!!!” teriaknya dengan suara yang menggelegar bagaikan guntur di pagi buta, “Aku mengenalimu, KIM JONGIN! siswa kelas 1-B yang bermasalah dan satu-satunya murid ajaran baru yang memiliki hobi terlambat!!” Rain memasang tampang mengerikan ala Hitler dengan sambaran petir sebagai backgroundnya. “Ikut saya sekarang!!” ujarnya dengan nada memerintah yang sanggup membuat seisi sekolah keder, namun tidak bagi siswa bernama Kai yang berdiri di hadapannya.

“Haisshhhh…!” Kai menggumam tidak jelas, dengan pasrah ia mengikuti langkah Rain seonsaeng yang entah akan membawanya kemana.

Menyebalkan! Dikala semua orang sedang enak-enak duduk di dalam kelas, aku malah terperangkap di dalam toilet yang bau ini!

Kai melemparkan tongkat pel yang digenggamnya dengan kesal. Kemudian ia membungkuk untuk meraih botol karbol yang diletakkan di sudut kamar mandi.

Sial! Aku merasa diperalat oleh guru tak berguna itu! batinnya sambil membayangkan wajah Rain songsaenim. Tangannya meremas botol karbol ditangannya hingga bentuknya menjadi tidak karuan.

Akhirnya, karena menyadari bahwa tidak ada gunanya menggerutu terus, dengan separuh hati Kai kembali mengepel lantai secara asal-asalan. Mulai dari lantai dekat deretan wastafel, sampai ke lantai di dalam bilik-bilik kamar mandi yang totalnya berjumlah empat buah, dan semuanya menguarkan bau yang sangat tidak sedap.

Rain songsaenim memang terkenal tidak memiliki belas kasihan pada murid-murid yang melanggar aturan. Bahkan murid-murid ajaran baru sekalipun. Tidak salah dia diangkat sebagai guru tatib oleh kepala sekolah, karena hukuman yang diberikannya memang selalu daebak.

Brak!                                                                 

Mendadak saja pintu kamar mandi yang tengah di-pel oleh Kai terbuka lebar, dan sesosok manusia langsung nyelonong masuk ke dalam. Saat melihat sosok Kai yang sedang mengepel sambil membokonginya, mata sosok itu langsung membelalak.

“KAI?!” teriaknya kaget sambil menunjuk-nunjuk Kai.

“Baekhyun?” balas Kai yang tak kalah kagetnya.

“Sedang apa kau disini?”

“Apa kau buta? Kau tidak melihat kain pel yang sedang kupegang?”

Baekhyun tertawa gegulingan melihat muka Kai yang ditekuk tujuh itu. Kai yang sebal pun menyodok pantat Baekhyun menggunakan tongkat pel. “Jangan mentertawakanku! sedang apa kau di sini?!”

“Ah, aku bosan dengan pelajaran biologi! gurunya tidak jelas, makanya aku kabur kesini.” Baekhyun mengusap pantatnya yang sakit sehabis disodok oleh Kai. Ia lalu berjalan santai menghampiri salah satu wastafel dan membasuh mukanya sambil bercermin. “by the way, ada yang ingin dibantu, Kai? aku malas kembali ke kelas.”

Seketika, Kai membuang tongkat pelnya. “Tentu saja ada! Bantu aku keluar dari sini, aku sudah tidak tahan lagi dengan baunya!”

Baekhyun terlihat kecewa, “Wah, kalau itu aku tidak bisa, teman. Rain songsaenim sedang berjaga di luar kamar mandi,” ia menunjuk ke arah luar dengan dagunya, “sepertinya kau memang ditakdirkan untuk bersih-bersih!” tambahnya menyebalkan, ia pun membungkuk untuk mengikat tali sepatunya tanpa memperdulikan raut wajah Kai yang sudah sangat memerah karena kesal. “OK, Jam pelajaran kedua aku tunggu kau di kelas ya! sudah kujagakan tempat untukmu. Semangat mengepel Kai, fighting!! Baekhyun berbalik pergi seraya melemparkan blowkiss-nya pada Kai sambil terkikik geli.

“Awas kau, Baekhyun!”

Setelah mengumpat-umpat temannya yang tidak membantunya sama sekali, Kai kembali mengepel lantai kamar mandi yang kembali kotor karena ulah jejak sepatu Baekhyun. Ia bersumpah akan mencekik temannya itu sekembali ke kelas nanti.

Tap…tap…

lagi-lagi terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke kamar mandi, namun kali ini iramanya sangat cepat. Sepertinya pemilik langkah itu sedang tergesa-gesa. Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka dengan keras dan…

BRAAKK!!

“Ugh…!”

“Kyaaaaa…!!!”

yeoja asing yang baru saja memasuki kamar mandi itu langsung bertabrakan dengan Kai karena tidak melihat jalan. Ia pun berusaha bangkit setelah sebelumnya sempat terpental dan terjatuh. Setelah berhasil berdiri dengan sempurna, dia langsung memukuli Kai dengan map yang dibawanya tanpa ampun.

Buk! Buk!

Kai yang tidak siap menerima pukulan itu refleks berjalan mundur. Dia meringis sambil melindungi kepalanya. “Astaga! santai saja nona!” sedangkan yeoja itu terus memukulinya dengan map tanpa henti. Lima menit kemudian barulah yeoja itu berhenti memukul.

“Sudah selesai?” tanya Kai kesal.

“Wah, maafkan aku, kukira kau hantu.” yeoja itu hanya meringis saat mendapati Kai yang berada dihadapannya dan seratus persen manusia.

“Aigoo!! Apa hantu bisa merasa sakit saat dipukuli?!” Kai yang mendengarnya langsung marah-marah tidak jelas dan meraih kembali kain pelnya yang sempat terjatuh. Astaga, lengkap sudah kesialannya hari ini. Terlambat, disuruh mengepel toilet, dan mendapat pukulan dari seseorang yang tidak dikenalnya—yang menurutnya sangat pahit itu.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf,” yeoja itu menundukkan kepalanya berkali-kali, “Kau juga dihukum disini?” tanyanya tiba-tiba. Kai menaikkan alisnya bingung.

“Ehm—maksudku, apa kau terlambat dan disuruh menggosok toilet oleh Rain songsaenim?  kalau iya, berarti kita senasip,” yeoja itu langsung memberikan penjelasan saat ditatap oleh Kai dengan penuh tanya. “Ah ya, namaku Han Hyori , senang berkenalan denganmu.” ucapnya sambil mengulurkan tangannya, namun Kai tidak menggubrisnya.

“Kim Jongin. Kai.” balasnya pada akhirnya karena yeoja itu tidak kunjung menarik kembali tangannya. Yeoja bernama Hyori itu tersenyum.

“Sini aku bantu.” Hyori merebut tongkat pel yang sedang dipegang Kai, kemudian menggosok sisa-sisa lantai kotor dengan hati yang tulus. “dan kau, tolong ambil sikat WC itu lalu bersihkan semua toilet di dalam bilik, baunya itu benar-benar tidak enak!” ujarnya sambil menjepit hidung dengan jarinya.

“Hey, siapa kau?! berani-beraninya memerintahku! ” Kai melotot dengan tampang gahar, namun seketika itu juga kakinya diinjak oleh Hyori. Mau tak mau, akhirnya dia menuruti juga perintah gadis itu.

‘Huh, sial sekali nasibku.’

Bel pulang sudah berdering. Semua anak berhamburan keluar gerbang tanpa perlu dikomando. Park ajusshi sampai kewalahan mengatur mereka, malah ujung-ujungnya dia sendiri terseret keluar oleh segerombolan murid yang sudah gatal ingin pulang itu.

Namun ada beberapa murid yang masih bertahan di dalam sekolah. Mereka adalah anak-anak rajin yang mengikuti pelajaran tambahan dan ekskul. Atau hanya sekedar nongkrong-nongkrong saja di pinggir lapangan karena malas pulang.

“Hei, Baekhyun, bisa cepat sedikit tidak?” Kai memandangi jam tangannya dengan kesal sambil sesekali melirik ke arah temannya yang masih sibuk merapikan tasnya. Kelas 1-B saat itu benar-benar lengang. Teman sekelas mereka yang lain sudah pulang dan yang tersisa di dalam kelas hanya tinggal mereka berdua.

Baekhyun mendongak sesaat dan menghentikan pekerjaannya membereskan barangnya, “Sudah kubilang kau pulang duluan saja! ah ya, aku lupa memberitahumu kalau hari ini aku ikut tambahan dan ekskul. Jadi kau pulang saja sana.”

Kai mendecak, tega sekali temannya itu mengusirnya. Yah, sebenarnya dia masih disini bukan karena ingin menunggu Baekhyun, tapi karena tidak mau cepat-cepat pulang. Entah kenapa, hari ini dia benar-benar malas melihat muka hyungnya yang hobi mengerjainya itu.

“Ya sudah, aku pulang dulu. Besok masuk pagi ya! aku mau menyalin PR-mu!” setelah mengatakan itu, Kai beranjak pergi.

“Huu! kerjakan saja sendiri!” sahut Baekhyun dari dalam kelas. Tak sampai semenit kemudian, dia sudah selesai merapikan buku-bukunya dan hendak menyusul Kai keluar kelas.

Baru beberapa langkah Kai dan Baekhyun menjauhi kelas, mereka sudah disambut oleh seorang siswa tengah berlari tergopoh-gopoh menuju ke arah mereka. Peluh menetes deras dari dahi siswa itu. Dia memegangi lututnya dan berusaha mengatur nafasnya. Kai mengangkat alisnya heran, “Ada apa?”

“Kai… gawat…” siswa itu kembali panik dan menatap Kai lekat-lekat, “Sekolah kita diserang!”

______________

To Be Continued

______________

geje kah? hahaha… sebenernya ff ini buat temen saya, dan karena bingung mau bikin yang model apa, akhirnya jadi nge remake ff lama. tapi tenang aja, yang versi lama aja belom tamat kok.

to all my readers, mohon memberi komen ya, buat kelangsungan ff ini.

respon dikit, saya discontinued. hahaha *ketawa setan*

Iklan

Penulis:

Writer - Painter - Gamer - Reader

12 tanggapan untuk “Lifetime [Part 1]

  1. kayaknya nih author pernah ke neraka deh :’D bisa2nya nggambarin secara detail tentang siksa neraka.
    tunggu kelanjutannya thor, jangan diolor2 lagi

  2. Bagus kak, banyakin baek nya /plak/ jelas” maim cast nya jongin..

    Gambaran nerakanya keren, kak!! Pasti waktu member shine yg main taemin yah kak? Ahaha

  3. Agak serem ya pas baca kai di siksa gtu di neraka jadi takut,tapi cerita nya bagus next chap nya jangan lama-lama ya thor,hwaiting

  4. keren astaagaaa!
    apalagi pas dibagian yang dineraka itu,kebayang banget ngerinya terus kesiksanya kai disitu omg this fix is fanfuckintastic--!!!!
    baru kali ini baca fanfic yg bertemakan kaya gini, biasanya kan yg uda biasa gituya kaya malaikat kematian,malaikat yg diutus buat nyelesain misi,dll lah. penggambarannya ngena banget sampe” aku parno sndiri ngebayangin kai disambut sama penjaga neraka gitu kan ya astagfirullah-

    kerenlah pokoknya!two thumbs!
    next jgn lamalama yang kak;>

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s