Posted in avyhehe, Fantasy, SCHOOL LIFE

으르렁 Eureureong [Chapter 3]

eureureong

Previous: [Chapter 1] [Chapter 2]

AUTHOR: avyhehe / @a_vy

LENGTH: Chaptered

GENRE: Romance, School Life, Little bit action and fantasy.

RATED: PG-12

CHARACTERs: EXO members, but not yet revealed

Credit Poster: G.Lin @ cafeposterart.wordpress.com

Disclaimer: Me and those who inspired me

A/N: Sori, karena udah setahun nggak ngelanjutin fanfic ini, dan mungkin udah pada lupa semua haha… part ini malu-maluin, jadi mohon maaf sebesar-besarnya. This will be the most boring part, enjoy ~

“In case you don’t know, I’m warning you.”

“Mwo? Mengadopsiku? Serius?” Eunjoo menunjuk dirinya sendiri, terlihat sangat syok.

Kris hanya menjawabnya dengan anggukan pelan. “bagian mana dari perkataanku yang tidak kau mengerti?” tegasnya lagi.

Gadis itu terdiam sejenak. “Tapi—”

“Ssshhh… tidak ada tapi-tapian.” Kris menempelkan telunjuk di mulutnya, “aku mengerti apa yang ingin kau katakan, kau pasti tidak ingin diadopsi karena tidak ingin merepotkan siapapun, tapi percayalah, kami lebih merasa bersalah jika membiarkan anak yatim piatu sepertimu hidup seorang diri apalagi bekerja dibawah umur.”

Ucapan Kris itu kontan membuat Eunjoo terperangah.

Bagaimana orang ini bisa tahu ia anak yatim piatu?

Ani, bukan hal itu yang menjadi masalah, yang menjadi beban di pikiran Eunjoo adalah tindakan mereka untuk mengadopsinya. Ia merasa tak pantas menerima semua kebaikan itu, karena setelah menyelamatkannya, kini Luhan dan Kris malah memasukkannya ke dalam daftar keluarga mereka.

Jauh di lubuk hatinya sebenarnya ia sangat senang karena tidak hidup sendirian lagi, tapi kenapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak nyaman…? Apa karena ia merasa seperti orang yang tidak tahu diri…? Eunjoo memang terkenal sebagai gadis yang memiliki harga diri tinggi, dan tidak terlalu suka ditolong karena takut menjadi beban.

Seolah mengerti isi kepala Eunjoo, Kris mengacak-acak rambut gadis itu. “Kau tidak usah berpikir yang macam-macam soal tindakan kami mengadopsimu, aku hanya berharap kau terbiasa dengan hidupmu yang baru, Eunjoo Wu.”

Eunjoo terdiam sesaat. Detik kemudian ia lalu memutuskan untuk mengangguk pelan. “Nde… kalau begitu, khamsahamnida atas segala.” ujarnya sambil tersenyum tulus. Sebenarnya ia tahu bahwa ucapan terimakasih saja tidaklah cukup, tapi hanya hal itu yang bisa dilakukan olehnya.

Kris membalas senyum itu dan bangkit dari duduknya, kakinya lantas melangkah mendekati pintu kamar. “aku pergi ke ruang makan untuk menyusul Luhan sarapan, dan sebaiknya kau istirahat yang cukup, jika butuh apa-apa langsung saja panggil kami.”

“T—Tunggu!” cegah Eunjoh yang membuat langkah Kris mengambang di udara, “Ngg…” ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, “aku ingin bertanya sesuatu, dan mungkin pertanyaan ini terdengar agak aneh… ” ia memilin-milin selimut yang membungkus separuh tubuhnya, terlihat ragu-ragu

“Katakan saja semua yang ada di benakmu.” Kris menjawabnya dengan santai.

“Yah… itu… kalau aku boleh tahu, umurmu berapa? aku juga penasaran dengan umur Luhan.”

Dahi Kris langsung mengernyit mendengar pertanyaan aneh itu. “Oh, kenapa tiba-tiba menanyakan umur? apa kami terlihat tua?”

“Ah, Anieyo…! aku hanya… penasaran.” ringis Eunjoo lebar menyadari pertanyaannya yang memang tidak penting itu.

Kris menjawabnya dengan singkat, “umurku 18 tahun, dan Luhan setahun di bawahku.” jawabannya itu memuaskan rasa penasaran Eunjoo, yang mendengarkannya sambil memanggut-manggut. “Ah… berarti kalian lebih tua dariku, umurku 16 tahun.” ujarnya sedikit kecewa.

“Lalu?” Kris menampakkan ekspresi herannya, karena ia semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini.

“Itu artinya aku harus memanggil kalian oppa,” jelas Eunjoo sambil menampakkan ekspresi menimbang-nimbang. “Hmm, biar kucoba…. Kris oppa…Luhan oppa… aisshhh….!! kenapa lidahku terasa sangat gatal saat mengucapkannya?!”

Kris menahan tawanya, ia tidak habis pikir dengan dongsaeng barunya yang ternyata suka sekali memperhatikan hal tidak penting. “Jika tidak suka memanggil dengan sebutan semacam itu, tidak usah dipaksakan.” ujarnya pada Eunjoo, “panggil saja nama asli kami.”

Kontan saja Eunjoo mendelik lebar, “Mwo? mana bisa seperti itu, aku kan bukan orang yang kurang ajar!” serunya dengan lantang,  namun beberapa sat kemudian ia langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. “ahh… membentak orang yang lebih tua juga hal yang kurang ajar, haha… mianhae!” tawanya hambar sambil menatap Kris canggung. Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apa kau sudah selesai? aku ingin makan.” lelaki itu mengarahkan jempolnya keluar pintu kamar.

“Eh—oh… nde!” angguk Eunjoo cepat, dan detik kemudian lelaki itu pun telah menghilang dari hadapannya dalam satu kerjapan mata.

“Cepat sekali menghilangnya,” gumam Eunjoo sambil celingukan ke arah kiri dan kanannya.

Eunjoo PoV

Sudah genap seminggu aku tinggal bersama Luhan dan Kris, sudah seminggu pula aku menjadi bagian dari keluarga ini. Lama-kelamaan aku jadi terbiasa. Kondisi badanku juga semakin membaik dari hari ke hari, bahkan sekarang aku sudah bisa berkeliaran di sekitar rumah mereka.

Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali. Rencananya aku ingin keluar rumah dan berlari-lari sebentar di sekitar halaman karena badanku yang terasa sangat kaku. Hah! sudah seminggu ini aku terbujur di ranjang seperti orang yang tidak berguna, dan kupikir olahraga sedikit bisa membuat tubuhku segar.

Tapi sebelum melakukan kegiatan apapun, aku ingin sarapan terlebih dahulu. Perutku yang rewel ini sepertinya sudah merengek-rengek minta diberi makan. Aku pun mengubah haluanku menuju ruang makan tanpa berpikir panjang.

“Sudah bangun?” sapa seseorang yang tengah duduk di salah satu kursi makan sambil menyeruput teh hangat. Aku melonjak kaget, tak kusangka Kris sudah berada di ruang makan pagi-pagi buta begini. Kupamerkan cengiran kudaku dan menarik sebuah kursi, lalu duduk di hadapannya.

Dia melirikku sekilas, menyodorkan sebuah piring berisi potongan roti tawar ke arahku, lalu kembali menyeruput tehnya lagi. Anehnya, meskipun kelaparan, roti-roti itu tidak kusentuh sama sekali. Aku malah sibuk memperhatikan Kris yang tengah meneguk tehnya, lengkap dengan ekspresi datarnya yang seperti biasa. Mungkin kegiatanku ini memang terlihat mesum, tapi entah kenapa, aku suka sekali memperhatikan Kris. Tentu saja aku tidak berpikir yang macam-macam saat memperhatikannya, karena aku hanya menyukai lingkar wajahnya yang panjang dan hidungnya yang mancung itu, benar-benar membuatnya tidak kelihatan seperti orang korea kebanyakan, haha… dan jangan lupakan alisnya yang tebal seperti karpet itu.

Haisssh, apa yang kulakukan dengan oppa ku sendiri?

Merasa diperhatikan, Kris menghentikan kegiatannya dan menatapku lurus.

“Ada yang aneh denganku?”

Karena terlanjur tertangkap basah, mau tak mau aku hanya menganggukkan kepalaku, dan berusaha memutar otak untuk mengarang alasan. “…aku memperhatikanmu karena kau terlihat seperti bapak-bapak, pagi-pagi sudah minum teh. Mianhae,” ujarku asal.

Kris tertawa pelan mendengar pengakuanku, “baru kali ini aku menemukan orang yang menganggap minum teh itu kegiatan orang tua,” ia menggeleng-gelengkan kepalanya, “ah ya, tumben sekali kau bangun sepagi ini? Luhan saja belum bangun, apa ada yang kau rencanakan?” ujarnya dengan sedikit curiga. Ah, dia sensitif sekali.

“Hari ini aku ingin olahraga sedikit, karena rasanya badanku kaku semua.” jawabku jujur, menyadari sepertinya tak ada gunanya berbohong pada lelaki ini. Ia seolah bisa menebak isi pikiranku hanya dengan menatapku.

Kris terdiam sesaat, kemudian mulai berkata dengan suaranya yang rendah, “di belakang vila ini ada hutan kecil, bagaimana kalau kita jalan-jalan kesana? Aku akan membangunkan Luhan dulu.” usulnya.

“Jinjja?? Itu ide yang bagus!” seruku semangat, “Eh—tunggu, apa katamu tadi? vila? jadi tempat ini adalah vila?”

Ia menatapku aneh. “Tentu saja ini adalah vila, menurutmu?” tanyanya balik.

“Kupikir kalian menetap disini.” ujarku sedikit kaget, “jadi dimana rumah kalian yang asli?”

“Di Seoul,” jawabnya cepat. “disini kami hanya berlibur, dan tempat ini adalah tempat favorit kami karena di pinggiran kota Daegu masih terdapat banyak hutan.”

“Oh, jadi kalian suka hutan?” responku heran, Kris dan Luhan memang tak tampak seperti keluarga pecinta alam.

Baru saja Kris hendak membuka mulutnya untuk membalasku, tiba-tiba Luhan datang menghampiri kami dan menginterupsi pembicaraan.

“Hyung! pagi ini kita sarapan apa? aku lapar sekali!” ujarnya dengan suara serak dan wajah mengantuk seperti bantal, sedangkan rambutnya terlihat mencuat kemana-mana. Ia berjalan ke arahku sambil menguap lebar-lebar seperti kuda nil, tapi tidak mengurangi tingkat aegyo-nya, dan hal itu membuatku sangat iri padanya.

“Ada daging sapi rebus di dapur, atau kau ingin makan roti saja?” Kris menunjuk sepiring roti ditengah-tengah kami berdua. Tanpa berpikir panjang Luhan menarik kursi di sebelahku dan duduk diatasnya, lalu menyabet setangkup roti dan mulai mengunyahnya pelan-pelan, “terlalu malas ke dapur, makan roti saja.” ujarnya disela-sela kunyahannya dengan wajah yang masih setengah sadar. Melihat Luhan yang asyik dengan rotinya, aku jadi terpengaruh, akhirnya aku pun ikut mencomot roti dan memakannya.

Ditengah keasyikan kami memakan roti, tiba-tiba Kris menepuk tangannya sendiri dengan suara yang keras. “Ok! jadi keputusannya sudah final, setelah sarapan kita akan berjalan-jalan ke hutan, tidak boleh ada yang bermalas-malasan di rumah.”

Luhan tersedak potongan rotinya sendiri yang baru ditelannya, terlihat sangat terkejut. “Mwo?! Yah—hyung! hari ini sudah aku punya rencana!” protesnya tidak terima dengan raut muka yang terlihat kecewa.

“Rencana apa? rencana tidur seharian seperti orang mati?” tebak Kris tepat sasaran, karena Luhan sama sekali tidak mengelaknya dan malah meringis lebar.

“Kau bisa tidur sesukamu saat kita kembali ke Seoul nanti,” sambung Kris, “ini adalah hari terakhir kita di Daegu selama liburan berlangsung, jadi manfaatkanlah waktu ini dengan baik.”

“Ara, ara,” Luhan terlihat sangat bosan dengan ceramah hyung-nya, dan perhatiannya lantas beralih padaku. Seketika itu juga wajahnya langsung berubah berseri-seri. “Ah, benar…! Eunjoo sudah sembuh kan? kita jalan-jalan bertiga, ya!” serunya dengan ekspresi yang kelewat girang, “sebenarnya aku sudah bosan jalan-jalan berdua saja dengan hyung, karena dia selalu sibuk menceramahiku sepanjang waktu,” gerutunya sambil melirik Kris diam-diam. Ia lalu menggeser tubuhnya dan mendekatkan mulutnya padaku, “asal kau tahu, Eunjoo… dia itu tipe orang yang sangat membosankan,” bisiknya dengan mengecilkan volume suaranya agar Kris tidak bisa mendengarnya.

“Aku memang mau ikut kok, hahaha…” kekehku geli, membuat Luhan membulatkan kedua matanya. “kalau begitu, tunggu apalagi?” ia bangkit berdiri dengan semangat ‘45 dan berjalan menuju pintu belakang vila.“kajja! kajja!” teriaknya seperti anak kecil yang baru diajak ke pasar malam oleh appanya.

“Tidak minum susu dulu?” tanya Kris seraya membuka pintu kulkas di sudut dapur dan mengeluarkan sebotol susu berukuran besar, namun Luhan hanya mendengus. “Aiissshh… aku bisa meminumnya saat pulang nanti!” sungutnya sambil berkacak pinggang,“, Kajja! hari ini hari terakhir kita di sini, dan sayang sekali kalau dilewatkan!”

Kris menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis, ia pun kembali memasukkannya susu yang dipegangnya ke dalam kulkas. Tatapannya beralih padaku, dan seolah mengerti dari arti tatapan itu, aku hanya mengangguk kemudian berjalan menghampiri Luhan.

“Udaranya segar sekali, awhooooo…!”

Luhan berlari secepat angin menyusuri deretan pohon pinus yang menjulang tinggi, yang tumbuh tidak teratur di sekeliling kami. Sinar matahari yang masih samar-samar merembes masuk melalui celah pepohonan, membuatku tidak bisa melihat sosoknya dengan jelas karena minimnya pencahayaan. Ia berlari terus tanpa henti, meninggalkanku dan Kris di belakang, menuju ke sebuah bukaan yang berada jauh di depan sana.

“Luhan, jangan melolong! kau bisa menakuti hewan-hewan disini!” Kris berseru mengingatkan, tapi aku tak yakin Luhan bisa mendengarnya.

“Aigoo… kenapa larinya cepat sekali…” komentarku saat melihat Luhan telah berada jauh di depan kami. Kini oppa nomor duaku itu telah berdiri di sebuah tanah lapang yang terhampar luas dan hanya dihiasi oleh rerumputan dan semak-semak rendah, sedangkan aku dan Kris masih berada di area yang ditumbuhi pepohonan lebat.

Dari kejauhan, aku melihat Luhan melambai-lambaikan tangannya ke arahku. “Eunjoo, cepat kesini! aku ingin menunjukkanmu sesuatu!” serunya samar dengan kedua corong yang terbentuk di mulutnya.

Mendengarnya, aku lantas menoleh pada Kris yang berada di belakangku. Aku menatapnya penuh harap, dan ditatap seperti itu, ia hanya mengangguk setuju.

Aku tersenyum dan segera menjatuhkan ransel kecil yang menempel di pundakku agar bebanku sedikit berkurang. Kakiku pun berlari menyusul Luhan yang telah berada jauh di depan. Rasanya benar-benar menyenangkan, karena udara pagi yang segar menampar-nampar wajahku dikala aku tengah berlari kencang, dan kicauan burung yang merdu seolah mengiringi setiap langkahku.

Ah, aku benar-benar merasa sehat.

Ya, sehat. Lebih tepatnya jauh lebih sehat dari yang pernah kurasakan. Baru pertama kali ini aku merasa kakiku seringan kapas dan tubuhku yang tak berbobot seperti bulu. Jantungku juga memompa lebih kuat dari biasanya,  membuat bagian dalam tubuhku terbakar, namun pada saat bersamaan rasa sejuk yang luar biasa menerpa bagian luar tubuhku. Sensasi ini sangatlah aneh dan asing, tapi aku benar-benar menikmatinya, seolah-olah aku dilahirkan hanya untuk berlari.

Hanya dalam kurun waktu yang sangat singkat, kakiku telah menapak dengan selamat di hadapan Luhan. Tanpa keringat, bahkan tanpa kelelahan yang berarti. Padahal aku yakin telah berlari satu kilometer lebih tanpa jeda sedikitpun, namun herannya tubuhku masih segar bugar. Kris juga telah berada di belakangku lagi, padahal aku tidak menyadari sosoknya yang sejak tadi ikut berlari bersamaku.

“Kupikir hyung tidak ingin ikut,” Luhan membulatkan matanya heran, namun setelah itu ia hanya menyunggingkan senyum lebar. “Nah, berhubung kita bertiga sudah ada disini, aku akan menunjukkan sesuatu yang menakjubkan. Ikut aku!” ajaknya sedikit memerintah, ia pun melangkahkan kakinya dan memimpin kami menyusuri padang rumput.

Di depan kami, terlihat sebuah gundukan tanah yang lumayan tinggi, yang baru kusadari sebagai sebuah bukit berukuran kecil. Luhan mengajak kami untuk mendaki bukit itu bersamanya. Saat kami telah tiba dipuncaknya, aku hanya bisa terperangah dengan pemandangan yang terhampar di hadapanku.

Persis di bawah kami, di sisi bukit yang lain, terdapat sebuah danau yang luas dengan airnya yang berwarna hijau-kebiruan, dan tampak berkilau karena memantulkan sinar matahari. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah genangan air berukuran besar yang seakan tidak ada habisnya itu. Aku menatapnya takjub, karena seumur-umur aku belum pernah melihat keajaiban seindah ini.

Luhan tersenyum puas. “Bagaimana?” ia menanyakan pendapatku sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. “ini adalah danau favoritku, karena dulu aku dan Kris hyung senang sekali bermain di sini,” ujarnya sambil memenuhi rongga dadanya dengan udara sebanyak-banyaknya. la lalu melirik sekilas kearah Kris,“Yah, dulunya. Hanya saja, semenjak beberapa tahun yang lalu, hyung selalu malas kuajak kesini karena katanya tempat ini sangat kekanakan.”

‘Kekanakan? Yang benar saja!’ Aku menoleh pada Kris dan menatapnya aneh,  tapi sudahlah… sifatnya kan memang seperti bapak-bapak.

Tanpa berpikir panjang, aku berjalan menuruni bukit itu untuk menghampiri tepian danau, dengan Luhan yang mengekorku di belakang. Namun saat aku sudah sampai di tepinya, tiba-tiba sebuah dorongan yang sangat  kuat menghantam punggungku, dan detik berikutnya tubuhku sudah terpelanting masuk ke dalam air jernih yang dinginnya serasa membekukan aliran darah itu.

“YAH!! Luhan oppa!!!” seruku keras pada seseorang yang baru saja mendorongku masuk ke dalam danau. Sial, aku benar-benar basah kuyup, dan dinginnya juga membuatku nyaris mati.

“Hahahaha… daebak!” seru Luhan bahagia karena membuatku menderita, lalu tiba-tiba saja telunjuknya mengarah ke kepalaku,  “ah, Eunjoo! ada katak di rambutmu!” ujarnya seperti orang yang belum pernah melihat katak, dan ia pun tertawa lagi.

Saking kesalnya, aku sudah tidak perduli lagi dengan ‘sesuatu’ di kepalaku itu. Berbekal dengan perasaan dongkol, aku berjalan ke tepian dengan tubuh basah kuyup dan menghampiri Luhan yang masih sibuk tertawa, mencekik lehernya dengan sebelah tangan, kemudian menyeretnya dengan kasar menuju air tanpa ampun.

“Akkhhhh… aigooo… aku tak bisa bernap—khh…” Luhan terlihat meronta-ronta, ia berusaha melepas lenganku yang melingkari lehernya dengan sekuat tenaga, namun usahanya itu sia-sia belaka karena tenagaku memang sekuat kuli bangunan. Apalagi saat sedang kesal. Huh, salah sendiri sudah membuatku marah.

“Rasakanlah air yang dingin ini!” seruku keras sambil melontarkan tubuh Luhan yang ceking itu ke arah danau. Aku merasa sangat puas saat tubuhnya tercebur ke dalam air, apalagi wajahnya langsung berubah sepucat kapas karena airnya yang memang sedingin es. Aku ingin tertawa, tapi sepertinya Luhan tidak memberiku waktu untuk hal tersebut karena tepat setelah kulempar tubuhnya ke air, ia segera berlari mengejarku sambil mengacung-acungkan ranting pohon yang ditemukannya mengambang di permukaan air. Pada akhirnya, kami berdua malah asyik bermain air dan berkejar-kejaran di sekitar danau itu, seperti dua bocah TK yang tengah berdarmawisata.

dan saat itu aku tidak menyadari jika Kris tengah memandangi kami dengan penuh arti.

Besok adalah hari terakhir mereka di Daegu, dan mereka harus secepatnya kembali ke pusat kota Seoul karena rumah keluarga Wu yang asli berada di sana. Sejujurnya, Eunjoo baru beberapa hari mengenal Kris dan Luhan, sehingga tidak begitu mengerti dengan latar belakang mereka. Bahkan ia tidak tahu jika Kris dan Luhan masih memiliki orang tua atau tidak, karena ia tidak pernah bertemu dengan anggota keluarga mereka yang lain. Namun sepertinya hal itu tidak dipermasalahkan oleh Eunjoo, karena ia sendiri sudah cukup senang dengan fakta bahwa ia memiliki keluarga yang baru. Selain itu, Kris dan Luhan adalah orang yang sudah menyelamatkan hidupnya dari ambang kematian, dan bagaimana mungkin ia bisa curiga pada kedua orang itu?

Malam itu, Eunjoo tengah mengepak barang-barangnya karena besok pagi mereka sudah harus berangkat. Entah bagaimana caranya barang-barangnya yang lama telah berada di dalam kamarnya sekembalinya dari hutan, dan ia hanya berasumsi mungkin Kris-lah yang menyuruh orang lain untuk mengambil barang-barangnya dari kontrakan dan memindahkannya kesini.

Saat memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, tiba-tiba sebuah benda berbentuk persegi meluncur jatuh ke atas lantai. Eunjoo memungut benda yang ternyata adalah pigura itu, sebuah pigura sederhana tanpa ornamen yang membingkai foto keluarga di tengahnya. Pada foto itu terdapat seorang lelaki dan seorang wanita yang berdiri berdampingan dengan wajah tersenyum, si wanita tengah menggendong sesosok balita berumur empat tahun di lengannya.

“Eomma, appa…” Eunjoo tersenyum dan bergumam pelan saat menatap foto itu. Foto itu adalah satu-satunya benda berharganya, karena tanpa foto itu ia tak akan pernah bisa mengingat orang tuanya. Setelah puas menatap foto itu, Eunjoo memasukkannya kembali ke dalam koper, namun tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Cengkraman tangannya langsung mengendur, dan pigura yang dipegangnya pun terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

Saat ini jantungnya seakan diremas oleh sebuah tangan yang tak kasat mata, dan terasa sangat nyeri, bahkan ia merasa jantungnya nyaris meledak. Sambil memegangi dada kirinya, Eunjoo berusaha menghampiri ranjangnya dan duduk di tepinya dengan napas terengah-tengah. Keringat dingin mengalir membasahi tengkuknya, dan pupil matanya mengecil.

“Apa yang terjadi dengan tubuhku?” tanya Eunjoo pada dirinya sendiri, kepalanya berdenyut hebat.

hyung…”

Luhan berjalan mondar-mandir di sekitar meja makan dengan ekspresi cemas, pandangannya terfokus pada jendela lebar di ruang makan yang mengarah langsung ke halaman belakang vila. Halaman itu terlihat gelap karena hari semakin malam, namun tidak benar-benar gelap karena masih disinari oleh bintang-bintang dan cahaya bulan.

Luhan terlihat sangat gelisah, tatapannya terpaku pada langit malam yang mulai tertutup sekumpulan awan. Kris berjalan santai menghampirinya dan menepuk pundaknya. “kau duduk saja di meja makan, tenangkanlah dirimu,” ujarnya pada Luhan, “aku akan memasakkanmu daging,” tambah lagi sambil berjalan lurus menuju dapur yang bersebelahan dengan ruang makan dan  menyalakan kompor gas di hadapannya. Luhan mencoba menuruti perkataan Kris, diraihnya sebuah kursi dan diudukinya, namun perasaan tidak nyaman masih menghantuinya.

Sambil memanaskan teflon di atas kompor, Kris mencuri-curi pandang pada Luhan yang duduk di ruang makan. “Kau kenapa? ini bukan pertama kalinya untukmu, kan?” ujarnya pada Luhan yang masih terlihat gelisah.

“Sebenarnya aku tidak apa-apa, hyung. Hanya saja aku mengkhawatirkan keadaan Eunjoo.” lelaki berwajah cute itu menghela nafasnya, dan semakin membenamkan punggungnya ke sandaran kursi.

“Tidak usah khawatir secara berlebihan seperti itu. Ini memang malam purnamanya yang pertama, tapi Eunjoo tidak akan menggigit setiap manusia yang ditemuinya,” ucap Kris santai sambil memasukkan potongan daging sapi ke dalam teflon yang mulai panas. “yah, paling-paling dia nanti menyerbu ke arah dapur dan mencari daging sepertimu.”

Luhan mengiyakan perkataan Kris untuk menepis rasa cemasnya, “mungkin kau ada benarnya, hyung. kalau begitu aku membantumu memasak saja agar cepat selesai, karena aku juga mulai lapar. Lihat! bulannya sudah kelihatan,” ujarnya seraya bangkit berdiri dengan tatapan yang terarah kembali keluar jendela. Kali ini langitnya benar-benar telah jernih, menampakkan sebuah bulan purnama yang berbentuk bulat sempurna.

“Sini, cepat bantu aku,” Kris memberi instruksi sambil menyodorkan sebuah penjepit pada Luhan, “pindahkan daging-daging ini ke atas piring.”

BRAKK!!!

Belum sempat Luhan memindahkan daging-daging yang telah matang itu ke sebuah piring, terdengarlah suara jeblakan pintu yang membuka dengan sangat keras. Dengan sigap, Kris segera menarik pundak Luhan hingga adiknya itu mundur beberapa langkah dari hadapan penggorengan yang masih dipenuhi daging sapi matang.

Deg. Jantung Luhan seolah berhenti saat matanya menangkap sekelebat bayangan hitam yang bergerak cepat mendatangi mereka. Bayangan itu lalu berhenti persis di hadapan penggorengan, dan saat menyadari ternyata bayangan itu adalah Eunjoo, Luhan pun menghela napas lega.

“Astaga, kau mengagetkanku saja!” ujarnya seraya mengusap dadanya yang seakan nyaris copot, lalu ia pun berjalan mendekati Eunjoo yang tengah berdiri membelakanginya. Namun baru saja ia bergerak beberapa langkah, tiba-tiba Kris menarik kerah belakang bajunya dan membuat gerakannya terhenti.

“Wae, hyung?” tanyanya heran saat melihat tingkah hyungnya.

“Jangan dekati dia dulu,” Kris berbisik sambil mengedikkan kepalanya pada Eunjoo,” sebaiknya tunggu dulu sampai setidaknya ia menghabiskan semua daging di penggorengan.”

Awalnya Luhan tak mengerti dengan maksud ucapan yang dilontakan Kris, namun detik berikutnya Eunjoo berhenti memakan daging dan menoleh untuk menatap mereka berdua.

Deg.

Mendapati sosok Eunjoo yang terlihat mengerikan seperti tengah kerasukan sesuatu, jantung Luhan pun nyaris berhenti untuk yang kedua kalinya. Mata gadis itu kini berubah warna menjadi putih keperakan dan terlihat kosong, sedangkan mulutnya dipenuhi oleh daging sapi yang dikunyahnya dengan sederetan taring tajam yang sepertinya baru saja tumbuh.

“Astaga…” reflek Luhan menutup matanya menggunakan kedua tangan, “Makhluk apa itu…? mengerikan sekali!” gumamnya dengan intonasi penuh horror, ia pun beringsut menjauhi Eunjoo dengan langkah berjingkat dan langsung berlindung di balik punggung Kris. Melihat Luhan yang tengah meringkuk ketakutan itu, Kris mati-matian menahan tawanya. “Aigooo… kenapa ketakukutan begitu? padahal dulu kau juga seperti itu!”

Luhan tidak menggubris Kris yang menggodanya, ia malah kembali heboh saat Eunjoo tiba-tiba berjalan menghampiri mereka dengan tatapannya yang kosong dan mengerikan itu. “H…Hyung! dia berjalan ke arah sini!” bisik Luhan dengan tubuh yang semakin merapat ke punggung Kris, dan matanya terpejam dengan erat.

Kris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dan seolah menyadari sesuatu, pandangannya pun berpindah pada penggorengan berisi daging yang tadinya diserbu oleh Eunjoo.

Ah… pantas saja, ternyata daging-daging itu sudah habis tak bersisa.

“Lapar….. ” Eunjoo mulai bergumam dengan kedua tangan yang menggapai-gapai ke depan seperti sesosok zombie, “… aku masih lapar…rrhhhh…”

Setelah menghela napas panjang, Kris lalu beranjak meninggalkan Luhan dan menghampiri Eunjoo–yang entah kenapa berubah menjadi seperti zombie itu–dan menuntun gadis itu pada sebuah benda persegi yang berada di sudut dapur.

“Di dalam kulkas itu masih ada banyak daging, tapi mentah…” ujar Kris dengan telunjuk yang mengarah pada kulkas di hadapannya, namun baru saja ia selesai berucap, Eunjoo sudah menyerbu kulkas itu.

“Hyung!! kau ada dimana?!” pekik Luhan yang baru saja membuka matanya, dan merasa kebingungan saat mengetahui Kris yang dijadikannya sebagai tameng telah menghilang dari hadapannya. Ia celingukan kesana-kemari mencari sosok Kris, dan langsung menelan ludahnya saat mendapati orang yang dicarinya tengah berdiri di sebelah Eunjoo. Gadis itu sendiri kini tengah terlihat sibuk mengacak-acak isi kulkas dan menghabiskan semua potongan daging yang ditemukannya.

“Hyung, ah–!” Luhan sedikit memekik saat tiba-tiba tubuh Eunjoo limbung dan kehilangan keseimbangan, namun dengan sigap Kris segera menangkapnya. Ternyata, gadis itu kini tengah tertidur pulas di lengannya.

Luhan menghampiri mereka berdua dan mendengus pelan. “Huh… rupanya dia kekenyangan!” gerutunya kesal saat mendapati sebuah gelembung ingus mencuat dari hidung Eunjoo. Tawa Kris meledak, dan ia pun membawa gadis itu menuju kamarnya diikuti dengan Luhan yang mengekor di belakangnya.

“Aku yakin setelah ia terbangun nanti, akan ada banyak pertanyaan yang harus kita jawab,” gumam Luhan saat melihat Kris yang tengah membaringkan Eunjoo di ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dada, “apa kita harus mengatakan hal yang sebenarnya padanya, hyung?” tanyanya seraya menghempaskan dirinya ke sebuah sofa di sudut ruangan.

Kris hanya mengangguk pelan. “sepertinya memang harus, karena cepat atau lambat ia akan mengerti,” air mukanya terlihat serius, “nanti biar aku saja yang menjelaskan semuanya.”

Mungkin saat ini kehidupan seorang Eunjoo tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, karena pagi ini, ia baru saja mendapati sebuah fakta yang sangat mengejutkan.

Ia bukan lagi seorang manusia.

.

“YAH!! jangan membohongiku dengan hal konyol seperti itu!” seru Eunjoo setelah Kris bercerita padanya tentang hal-hal yang tidak bisa dipercayai oleh akal sehat manusia, terutama pada bagian yang mengatakan bahwa ia bukanlah seorang manusia lagi, melainkan seorang werewolf. Lelucon apa itu? Ia bahkan nyaris menendang Luhan yang terus-menerus memaksanya untuk membuka mulutnya lebar-lebar, atau memintanya membuka bajunya, sambil mengucapkan hal-hal   yang aneh seperti, “aku ingin melihat taringmu,” atau, “aku ingin melihat dadamu yang mungkin saja ditumbuhi bulu.”

Crap! Semua ini benar-benar membuat Eunjoo merinding dan kesal, namun seketika itu juga tubuhnya langsung melemas saat melihat mata Luhan yang tiba-tiba berubah warna, setelah ia benar-benar menendang perut lelaki itu.

“Aiiisshh, apphooooo…!” rintih Luhan seraya memegangi perutnya yang baru saja ditendang oleh Eunjoo. Ia meringis kesakitan, dan Kris membelalakkan matanya saat menyadari mata adiknya itu kini berubah warna menjadi keemasan dengan empat buah taring mini yang mencuat dari mulutnya.

“Haishh! sudah berapa kali kubilang, jangan berubah seenaknya!” omel Kris dan langsung menjewer kedua telinga Luhan. “bagaimana jika kau berubah seperti ini dihadapan orang banyak? apa kau ingin identitasmu ketahuan?” berondongnya lagi dengan muka yang terlihat gemas.

“Hyunnggg…aaaaahh…lepaskan aku….!” Luhan merintih lagi, “jangan salahkan aku, ini semua gara-gara tendangan Eunjoo yang daebak itu! padahal meski dikeroyok segerombolan preman sekaligus, aku tidak pernah berubah seperti ini!” ujarnya membela diri, sedangkan ia terus meronta dan berusaha menepis tangan Kris yang masih menempel di telinganya dengan sekuat tenaga.

Eunjoo yang menyaksikan pertengkaran kedua lelaki di hadapannya itu hanya bisa menganga lebar dengan perasan ngeri. Saat ini, banyak sekali pertanyaan yang muncul dibenaknya.

Apakah yang mereka katakan itu benar adanya? Apakah mereka benar-benar bukan manusia? dan..  apakah ia kini juga bukan manusia?

Kris menghentikan kegiatannya menyiksa Luhan dan beralih menatap Eunjoo yang masih kebingungan, “mianhae, sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal itu,” ia meminta maaf pada Eunjoo dengan penuh rasa sesal, “tapi aku tidak ingin kau mati, dan tidak ada hal lain yang bisa kulakukan, jadi kuharap kau mau mengerti.” ia menghela napasnya, “tapi kalau kau ingin marah, kau boleh melampiaskannya padaku.”

Eunjoo hanya bisa terdiam karena ucapan Kris. Kepalanya pun menunduk ke arah selimut yang membalut tubuhnya. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab seperti apa, karena sebenarnya ia tidak benar-benar marah. Ia hanya kaget dan belum bisa menerima semua kenyataan gila itu.

“Kurasa kita harus memberinya waktu untuk sendirian, hyung.” Luhan memegang sebelah pundak Kris sambil setengah berbisik, “tunggu sampai ia–”

“Tidak apa-apa.” potong Eunjoo cepat, yang dengan sukses membuat Luhan dan Kris menatapnya bingung. Melihat reaksi itu kedua orang itu, Eunjoo pun mengulangi perkataannya lagi. “kubilang, tidak apa-apa.” ia mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah mereka, “karena aku benar-benar tidak peduli saat ini aku menjadi monster seperti apa, yang penting aku bersyukur masih bisa hidup.”

Agak lama, Luhan dan Kris saling melempar pandangan dalam diam. Setelah itu mereka berdua mengangguk, dan memutuskan untuk menghampiri Eunjoo lalu merangkul pundak gadis itu secara bersamaan, “Gomawo,” ujar kedua lelaki itu secara bersamaan, “gomawo karena sudah menerima dirimu sendiri, dan kami berdua,”

______________

To be Continued

______________

Akh, apa-apaan ini? *nangis bombay di pelukan Luhan* ceritanya ancur lebur, apalagi di bagian terakhir yang udah berasa kayak script drama kacangan huhuhu… mungkin ini karma gara2 udah setahun nggak ngelanjutin penpik ini, saya udah lama nggak ngetik, dan sekalinya ngetik jadinya nggak banget deh. makin ngebosenin yah? *ketawa garing* alurnya juga lambat banget, maaf karena lagi stuck, haha…

tapi ada kabar menggembirakan untuk kita semua lohh… karena di part depan Kai dan Chanyeol bakal nongol!! *teriak pake toa sambil jumpalitan* saya juga udah berasa kayak sembelit setaun nungguin mereka muncul, tapi memang alur ceritanya berkata lain, jadi mereka baru bisa nongol di chapter 3 nanti.

ok, see you next chapter, dan jangan lupa leave comment~

Iklan

Penulis:

Writer - Painter - Gamer - Reader

9 thoughts on “으르렁 Eureureong [Chapter 3]

  1. God, ini sudah sekian lamaa 😀
    aku kira gak bakal bertemu eunjo, krislu laagi :’) #terharu /berasareunian /
    kalo gak lanjut sayang banget ceritanya bagus, terlebih ini udah exodus era jadi berasa dinostalgiain pas jaman2 mereka msih pake seragam itu 😳 unyu2 emesin khas abg labil
    thanks for share authornim ❤

    waaawwaaaw dari dulu aku selalu suka scene2 yg melibatkan perubahan iris mata dan pendeskripsianmu selalu bagus
    well, sayaaang sama kris 😦 aku suka dia disini
    dengan karakter dinginnya tapi bikin semuanya terlihat santai ituu *aaaaaaaaaaaakk>.<!! *bunuhhayatidirawarawa
    dan jgn lupakan scene mereka jalan2 bertiga :’) trust me itu gak membosankan sama sekali
    see u next chap~
    sukses teruus yaaa author ❤

  2. Werewolf?! Aku kira vampire -,-
    Ceritanya seru, dan alur susah aku tebak –
    Jadi bikin penasaran –

    Keep writing thor!! ^^

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s