Secret Darling | 20th Chapter

shineshen1

:: SECRET DARLING | 20th Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | Jungkook | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by a p p i n e e | Café Poster Art

.

Summary :

Shin Minhee tak pernah terbiasa melakukan interaksi dengan laki-laki semenjak ia dikecewakan oleh cinta pertamanya, sebelas tahun silam. Kini saat ada seorang lelaki lain yang hadir di hidupnya, akankah ia mampu membuka hati untuk kedua kalinya? Ataukah selamanya memang begini takdirnya, terperangkap kasih sang cinta pertama yang kini ikut kembali—menelusup hari-harinya dan memberinya harapan, seperti masa lalu.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter | 14th Chapter | 15th Chapter | 16th Chapter | 17th Chapter | 18th Chapter | 19th Chapter

.

“Tunggu, siapa yang kau maksud?” Kai balik bertanya dengan kerutan dalam yang tercetak di keningnya. “Jika terlalu sore, aku akan terlambat menemput noona-ku untuk datang ke pembukaan kafe miliknya. Dia sangat galak padaku—oh tentu galak hanya padaku saja, karena dia langsung pura-pura menjadi kakak yang manis selama aku di depanmu,” Kai mencibir sesaat. “Memangnya kau kira aku sedang membicarakan siapa?”

“Soojeon,” jawab Sehun tanpa dosa. “Kwon Soojeon. Apa sampai dengan saat ini kau masih sering memikirkannya?”

Raut wajah Kai berubah mendung tiba-tiba. “Entahlah, Sehun.”

“Aku juga tidak tahu kalau hubungan antara kakak-kakak kalian bisa sedekat itu,” timpal Sehun datar. “Siapa sangka jika mereka semua ternyata saling mengenal. Khususnya kakak keduamu, Kai. Siapa sangka noona-mu itu adalah teman lama Yuri noona dan Jessica noona?”

Kai hanya mengangkat bahunya bingung, tanpa sedikitpun memecah konsentrasi mengemudinya.

Sehun kembali menolehkan kepalanya pada Kai. “Hari ini kakak keduamu mengadakan acara pembukaan kafe. Kemungkinan besar Yuri noona akan datang ke sana. Bagaimana dengan Soojeon, Kai? Apakah menurutmu dia mungkin akan ikut ke acara itu?”

“Entahlah. Sudah lama aku tak berkomunikasi lagi dengannya. Bahkan sampai detik ini aku masih belum mengerti dengan masa lalu Soojeon dan kedua sahabatnya itu, Sehun,” ujar Kai datar. “Alasan mengapa empat tahun yang lalu mereka berbalik pihak, menjadi begitu membenci Soojeon.”

“Kau yakin dengan apa yang kau lihat saat itu?” tanya Sehun lagi, kali ini ia memandang Kai dengan serius. “Kau yakin mereka telah melakukan sesuatu yang jahat pada Soojeon?”

Kai gamang menjawab pertanyaan Sehun. Ia hanya menggumam, membuat Sehun semakin yakin bahwa saat itu Kai memang tak terlalu banyak tahu tentang masalah yang menjerat Soojeon, Krystal dan Sulli.

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum samar. “Lalu selama kalian berkencan?”

“Itu bukan kencan, Sehun!” tampik Kai. “Aku hanya menemaninya selama beberapa waktu untuk tahu apa yang terjadi, bukan berarti aku dan dia berkencan. Lagipula apa menurutmu gadis introvert seperti Soojeon sanggup menerima ajakan kencan dari seorang lelaki, huh?”

Sehun hanya terdiam, dan selama beberapa puluh detik kembali sibuk dengan ponselnya. Setelah itu, ia kembali fokus dengan pembicaraannya bersama Kai.

“Tapi kau pernah menyukainya, Kai,” sahut Sehun singkat.

Kai menghembuskan napas panjang mendengar kalimat Sehun. Ia tersenyum samar, “tapi ia menolakku, Sehun.”

“Kau tak pernah menyelidiki alasan dia menolakmu?” tanya Sehun.

Kai menggeleng, dan Sehun merasa ia telah menemukan dimana letak salah satu kesalahan dari semua masalah ini.

Sehun tersenyum miring. “Kurasa suatu hari nanti kau harus membicarakan semuanya dengan salah satu dari mereka tentang masalah ini, bahkan bila perlu bersama mereka bertiga. Kau menginginkan kejelasan dari masa lalu, bukan?”

“Ya, kurasa.” jawab Kai singkat.

Tak lama kemudian Kai menghentikan mobilnya di seberang sebuah toko bunga. Sehun yang kembali menekuni ponselnya lagi-lagi bingung dengan alasan Kai menghentikan mobilnya di sana. Namun sebelum sempat bertanya, Kai sudah terlebih dahulu melepas safety belt-nya dan turun dari mobil. Sehun terpaksa mengikuti, walau dari awal hingga kini ia sama sekali tak tahu alasan Kai mengajaknya jalan-jalan sore hari ini.

“Yah, Kai! Kau mau kemana?” tanya Sehun terburu-buru.

Kai menekan tombol alarm pada kunci mobilnya lalu menjawab pertanyaan Sehun, “ke toko bunga. Itulah tujuanku.”

“Toko bunga?” tanya Sehun bingung. “Untuk apa?”

“Kau lupa? Malam nanti ada acara pembukaan kafe kakakku,” jawab Kai sambil bersiap untuk menyeberang jalan. “Aku harus membeli karangan bunga. Kau tidak keberatan menemaniku, kan?”

“Kau tidak bilang itu padaku sejak awal,” cibir Sehun sambil bergegas menyusul langkah Kai yang sudah menyeberangi jalan.

Toko bunga itu tampak tak terlalu luas. Toko itu diapit oleh toko roti dan toko buku di kedua sisinya. Namun penataan yang tepat membuat toko itu terlihat mungil dan segar. Sehun sendiri merasa nyaman saat memasuki toko itu. Wangi bunga-bunga yang segar dan warna-warni kelopaknya membuat Sehun tertarik. Lelaki itu sibuk memperhatikan buket yang diisi oleh berbagai macam bunga di depan toko, sedangkan Kai sibuk memberikan pesanannya pada seorang bibi penjaga toko.

 

“Tertarik dengan bunga-bunga ini, Tuan?” tanya seorang anak kecil tiba-tiba. Sehun menolehkan kepalanya sedikit kaget, lalu memberikan senyumnya tatkala ia menemukan seorang anak lelaki dengan celemek mungil yang melingkari tubuhnya.

 

.

.

| 20th Chapter |

.

.

 

 

“Tertarik dengan bunga-bunga ini, Tuan?” tanya seorang anak kecil tiba-tiba. Sehun menolehkan kepalanya sedikit kaget, lalu memberikan senyumnya tatkala ia menemukan seorang anak lelaki dengan celemek mungil yang melingkari tubuhnya.

“Oh, ya. Bunga-bunganya bagus. Kau yang merawatnya sendiri?” Sehun memuji sekaligus melontarkan pertanyaan balik dengan ramah.

Anak lelaki itu menggeleng, lalu menunjuk satu persatu bunga-bunga yang ada di sana. “Semua bunga ini nenek dan hyeong yang merawat. Aku hanya membantu sedikit saja.”

“Siapa namamu?” tanya Sehun sambil menyejajarkan tingginya dengan tinggi anak itu.

“Namaku Jisung,” jawab anak lelaki itu, membalas senyum Sehun.

“Jadi… Toko bunga ini milik nenekmu?” tanya Sehun lagi. Ia melirik sejenak sosok wanita paruh baya yang masih sibuk mencatat semua pesanan Kai dari balik meja kasir, lalu kembali memandang Jisung lagi.

“Ya,” jawab Jisung. “Sungjae hyeong akan membantu nenek merawat tanamannya, sedangkan aku akan membantu merangkai bunganya.”

“Sungjae itu kakakmu?” tanya Sehun lagi.

“Bukan, dia kakak sepupuku. Tapi aku memanggilnya ‘hyeong’, karena ia tinggal bersamaku dan nenek,” jelas anak lelaki bernama Jisung itu. “Tuan, apa Tuan ingin membeli bunga juga?”

“Oh, sebenarnya aku hanya mengantarkan temanku ke sini,” jawab Sehun sambil tersenyum salah tingkah.

“Teman Tuan adalah kakak yang itu?” tanya Jisung sambil menujuk Kai.

Sehun mengangguk. “Ya. Dan sebenarnya… Kami sebaya, Jisung,” Sehun berdehem singkat, menunjukkan keberatan hatinya dipanggil ‘Tuan’ oleh Jisung.

“Aku tahu kalau kalian sebaya,” kekeh Jisung. “Tuan, sepertinya teman Tuan memberi banyak pesanan, ya?”

Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Oh, aku kurang tahu, Jisung. Tapi mengingat acara kakaknya nanti malam… Kukira, iya.”

Anak lelaki bernama Jisung itu membulatkan mulutnya lalu mengangguk-angguk.

Uhm, Jisung. Menurutmu bunga mana yang paling indah di toko ini?” tanya Sehun ragu-ragu.

“Eh? Tuan mau membali bunga?” tanya Jisung cerah.

“Oh, ya, ehm… Sebenarnya aku belum tahu,” gumam Sehun. “Tapi… Kurasa aku sedang mempertimbangkannya, Jisung.”

“Kenapa harus dipertimbangkan, Tuan?” kekeh Jisung. “Tuan bisa memberikan bunga itu untuk noona yang akan menjadi kekasih Tuan, bukan begitu?”

“Eh?” Sehun terkejut. “Uhm, aku tidak punya kekasih, Jisung. Aku memiliki, eh, maksudku, seseorang yang—”

“Jisung, apa kau berbuat jahil lagi pada hyeong ini?” tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul di antara mereka. Sehun ikut kaget dengan kedatangan laki-laki itu. Tapi melihat celemek dan sarung tangannya yang sedikit kotor oleh tanah, sepertinya Sehun tahu siapa dia.

“Ah, tidak, dia anak yang baik,” sahut Sehun buru-buru. “Dia hanya bertanya sedikit padaku, apakah aku ingin memesan bunga juga atau tidak.”

Laki-laki itu terkekeh singkat. “Oh, Tuan, maafkan jika dia bertanya yang aneh-aneh. Entah mengapa dia anak kecil yang sedikit mau tahu, jadi—”

Hyeong, aku bukan anak nakal!” potong Jisung dengan nada sedikit jengkel. “Aku hanya mengobrol sebentar dengan hyeong ini. Mengapa tidak boleh?”

“Ya, ya, aku percaya padamu, Jisung,” sahut laki-laki itu mengalah. Laki-laki itu lalu kemudian kembali menoleh pada Sehun, “oh, apakah anda ingin memesan bunga juga?”

Sehun tergagap ketika diberi pertanyaan yang sama berulang-ulang. “Oh, ya, sebenarnya—”

“Sehun, apa yang sedang kau lakukan?” potong Kai yang tiba-tiba ikut bergabung bersama mereka. Kai ikut tersadar dengan kehadiran Sungjae dan Jisung, lalu melempar senyum pada mereka. “Oh, kalian pasti cucu Bibi Park.”

Sungjae dan Jisung mengangguk bersamaan, lalu membalas senyum Kai.

“Sungjae-ya, Jisung-ah! Apa yang sedang kalian lakukan di sana?” tanya Bibi Park tiba-tiba. Sungjae dan Jisung cepat-cepat menghampiri nenek mereka, bahkan sampai melupakan Kai dan Sehun yang masih terdiam bingung di depan toko.

“Kau mengobrol dengan mereka?” tanya Kai setelah mereka berdua cukup lama saling terdiam dengan keadaan bingung.

“Ah, ya, sebenarnya awalnya aku hanya mengobrol dengan Jisung. Lalu Sungjae datang, dan ikut bergabung sebentar,” jawab Sehun.

Kai mengerutkan keningnya. “Jisung? Sungjae? Astaga, kau berkenalan dengan mereka?”

“Anak lelaki itu yang lebih dahulu menyebut namanya dan nama kakaknya,” koreksi Sehun. “Lalu dia banyak bertanya, apakah aku ingin membeli bunga atau tidak.”

“Lalu jawabanmu?”

“Aku—ah ya, astaga! Aku bahkan belum menjawab pertanyaan mereka,” Sehun tiba-tiba teringat, lalu memandangi Sungjae dan Jisung yang hendak melangkah menuju bagian belakang toko dengan perasaan tak enak hati.

“Belikan saja satu buket untuk Minhee,” canda Kai. “Minhee adalah anak perempuan yang manis. Dia pasti menyukai bunga.”

Sehun melirik Kai sebentar, lalu memutar matanya. Ia berbalik hendak menyeberangi jalan, kembali menuju tempat di mana mobil Kai diparkirkan. Kai buru-buru menyusul langkah Sehun.

“Kau tidak mau membelikan gadis itu bunga?” tanya Kai sambil mengangkat sebelah alisnya.

Are you kidding? She will judge me as a greasy playboy,” Sehun mendengus seraya melanjutkan langkahnya.

“Tapi bagaimana jika dia malah menganggapmu sebaliknya?” tanya Kai lagi. “Bukankah kau bilang kemarin adalah hari peringatan pernikahanmu dengannya? Jika kau memberinya bunga, dia akan semakin tersanjung. Mengertilah sedikit hati wanita, Man!”

Di samping mobil Kai, langkah Sehun sempat terhenti. Ia menatap Kai sangsi, sedangkan Kai berusaha membuat wajahnya agar terlihat semeyakinkan mungkin.

“Kau pasti sedang bercanda, Kim Kai,” Sehun menggelengkan kepalanya. “Sekarang cepat buka pintunya. Cuaca panas, Kai. Aku ingin segera tiba di apartemen.”

Kai memutar matanya. “Geez, you are ice boy.”

Tak ada pilihan lain bagi Kai selain menuruti permintaan Sehun. Bahkan Sehun mendahului Kai masuk ke dalam kendaraan itu, dan lagi-lagi mengeluh kepanasan. Cahaya matahari yang terperangkap di dalam membuat mobil itu terasa layaknya ruangan sauna.

“Kai, di mana karangan bungamu?” tanya Sehun tiba-tiba saat Kai baru saja menghidupkan mesin mobil. Sehun baru tersadar saat Kai memasuki mobil itu dengan tangan kosong.

“Karangan pesananku cukup banyak dan sedikit rumit, jadi semuanya baru bisa diambil tiga jam lagi,” jawab Kai. “Sehun, apa kau serius tidak berminat membelikan Minhee satu buket bunga pun?”

“Selain bunga, adakah ide yang lain?” tanya Sehun sambil menopangkan kepalanya di atas permukaan jendela mobil Kai yang licin.

Kai berpikir sebentar, lalu menggeleng. “Bunga, bunga, bunga. Sejauh ini, kupikir itu adalah kejutan yang terbaik, Sehun.”

“Kejutan?” tanya Sehun.

Kai mengangguk seraya mulai mengeluarkan mobilnya dari barisan parkir. “Ya, kejutan. Minhee pasti menyukai kejutan. Benar, kan?”

“Kejutan seperti apa?” tanya Sehun lebih rinci.

“Seperti—” Kai menggumam saat mobilnya mulai menyusuri jalan raya yang lengang, “contohnya, kau datang ke apartemen sambil membawa buket bunga itu. Lalu kau akan bertemu Minhee di sana. Dia melihat kedatanganmu di mulut pintu, sedangkan kau menyembunyikan buket itu di balik punggungmu. Lalu… Ya, kau bisa pikirkan kelanjutan kejutan itu sendiri nantinya.”

Sehun terdiam sesaat, sedangkan toko bunga milik nenek Jisung semakin jauh dari posisi mereka.

Sounds so cheesy,” gumam Sehun.

That’s not cheesy, Sehun,” tolak Kai. “That’s romantic.”

Sehun terdiam kembali, menimbang-nimbang usulan Kai.

Mobil Kai berhenti kembali, kali ini karena tertahan oleh lampu merah. Sehun masih terdiam di samping kursi kemudi, sedangkan Kai mengatur tape mobilnya untuk memutar beberapa lagu dari radio lokal.

Namun dengan gerakan tiba-tiba, Sehun membuka pintu mobil itu, lalu turun. Kai terkejut dengan tindakan Sehun yang tiba-tiba itu. Dengan panik ia masih memanggil-manggil nama Sehun, sedangkan lampu lalu lintas telah berganti warna menjadi hijau. Kai panik di kursi kemudinya, sebab Sehun meninggalkan satu pintu mobil Kai dalam keadaan terbuka, sedangkan kendaraan-kendaraan yang ikut mengantre di belakang mobil Kai mulai ribut membunyikan klakson mereka.

Sehun mendengar bunyi klakson di lampu merah bersahut-sahutan, namun ia tetap berlari. Mungkin saja Kai akan menjitaknya dengan diktat kuliah paling tebal esok hari, namun setidaknya saat ini ia tak peduli. Saat ini ia sibuk merancang bayangan kejutan yang manis untuk Minhee, dan semuanya diawali dari membeli bunga di toko tersebut. Mungkin Sungjae atau Jisung dapat memberi rekomendasi pilihan jenis buket yang terbaik untuknya, namun apa yang harus ia katakan pada kedua orang itu? Jenis buket terbaik untuk menyatakan cinta pada seorang gadis?

 

“Hai, Tuan. Ternyata kau kembali,” sambut Jisung cerah begitu melihat Sehun tiba-tiba sampai di depan toko itu lagi.

Sehun masih mengatur napasnya yang berantakan, sedangkan Jisung memandangi ekspresi Sehun dengan bingung.

“Sungjae hyeong! Tuan muda yang tadi kembali lagi!” panggil Jisung. Anak itu meletakkan gembor bunga yang berada di tangannya begitu saja, lalu berlari kecil masuk ke dalam toko sambil terus memanggil-manggil nama kakaknya.

Sehun masih terengah-engah di depan toko, sedangkan ia tak melihat si bibi pemilik toko ada di balik meja kasir. Sehun sedang menopangkan kedua telapak tangannya di atas lutut, tepat saat ia melihat Jisung datang kembali seraya menyeret lengan Sungjae.

“Oh, Tuan Muda, ada yang bisa dibantu?” tanya Sungjae ramah begitu ia tiba di depan Sehun.

“Aku—sudah—berubah—pikiran,” sahut Sehun masih dengan napas yang terengah-engah. Sehun menegakkan kembali posisi tubuhnya dan memandang Sungjae.

“Berubah pikiran?” Sungjae bingung pada awalnya. “Oh, Tuan Muda ingin membeli bunga?”

Sehun mengangguk. Melihat jawaban Sehun, Jisung langsung menarik tangan Sehun gembira dan membawanya masuk ke dalam toko. Anak lelaki itu kemudian sibuk berceloteh tentang berbagai macam bunga yang tersedia di toko neneknya. Sungjae menyusul di belakang mereka sambil melempar senyum tak enak hati pada Sehun atas kelakuan Jisung.

“Jadi, Tuan Muda ingin membeli bunga yang mana?” tanya Jisung gembira setelah sebelumnya sibuk berceloteh panjang lebar.

“Oh, aku tidak tahu,” Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia menolehkan kepalanya pada Sungjae, “Sungjae-ssi, aku bisa meminta bantuanmu sedikit?”

Sungjae sedikit terkejut saat ada pelanggan yang meminta bantuan padanya. “Oh, tentu saja, Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?”

“Sungjae-ssi, aku tak terlalu banyak tahu tentang bunga…” sahut Sehun ragu. “Apakah kau punya rekomendasi buket yang bagus untuk menyatakan cinta pada seorang gadis?”

 

 

Sehun keluar dari balok elevator dengan langkah terburu-buru. Bahkan ia nyaris tersandung besi rel pintu eletator, namun beruntung ia masih bisa menjaga keseimbangannya. Sehun melanjutkan lari kecilnya menuju pintu apartemennya. Melihat pintu kayunya yang masih tertutup, perasaan Sehun kembali meragu.

Ia meraih kenop pintu dengan cepat, lalu mencoba memutarnya. Gagal. Pintu masih terkunci, indikasi bahwa Minhee pulang terlambat lagi hari ini. Sehun hanya bisa mengeluh kecewa. Bayangan kejutan yang tadi digambarkan oleh Kai terasa buyar, tak sesuai harapannya. Sehun membuka pintu itu dengan anak kunci miliknya, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke apartemen dengan pelan.

 

Sehun menjejakkan langkah pertamanya, dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamunya. Bahkan ia juga berusaha menjangkau pandangan menuju ruang-ruang yang lebih dalam, memerhatikan dengan seksama bagaimana bentuk huniannya bersama Minhee selama ini. Apartemen itu cukup luas, bahkan mungkin bisa dikatakan terlalu luas untuk pasangan muda seperti mereka. Sehun dan Minhee memiliki kesibukan masing-masing di kampus, mereka hanya memiliki waktu bertemu yang sempit di apartemen ini. Mereka belum pernah mendekorasi ulang sudut apartemen ini, semuanya masih utuh seperti saat pertama kali mereka memasukinya. Sehun menarik senyumnya kecil, lalu menutup pintu utama yang masih terbuka di belakangnya.

Sehun meletakkan tasnya di atas sofa ruang tamu, lalu dengan tangan masih memegang buket bunga, ia melangkah menuju dapur. Segelas jus akan mengobati rasa hausnya yang sedari tadi ia tahan, dan mungkin Minhee juga menyimpan beberapa bungkus camilan di dalam kulkas.

Sehun agaknya lupa dengan buket bunga yang masih ada di tangannya. Ia baru tersadar saat melintasi kamar Minhee yang pintunya terbuka, lalu melihat bayangan dirinya melintas di  permukaan cermin. Sehun kembali memundurkan langkahnya ke belakang, dan melihat buket bunga yang masih ada di tangannya lewat cermin Minhee. Sehun terkekeh pelan, namun ada suatu hal lain yang justru menggelitiknya saat ia mulai melupakan soal buket bunga itu. Minhee membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar, bukan kebiasannya. Pasti gadis itu berangkat terburu-buru tadi pagi.

Sehun melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar Minhee, bermaksud untuk menutup pintu itu. Namun langkahnya justru terhenti di mulut pintu, saat ia melihat suatu objek yang tidak seharusnya. Pandangannya membeku, dan perasaannya terasa kebas tiba-tiba kala atensinya tertambat. Sehun tak bisa merasakan apa-apa saat perlahan ia malah memasuki kamar Minhee, mendekati objek yang menambat pandangannya.

Wajah Sehun menghadap salah satu sisi dinding kamar Minhee sekarang, dan ekpresinya berubah kaku saat memandangi beberapa lembar foto lama yang tertempel di permukaan dinding tersebut. Sebuah foto menambat pandangannya lebih lama, dan dengan perlahan namun pasti, Sehun menarik foto itu hingga terlepas dari dinding.

Itu adalah foto yang sama dengan foto yang menambat pandangan mata Minhee beberapa hari lalu. Foto lama yang diambil nyaris sebelas tahun lalu, masih tampak bagus walaupun sudah ditumpuk bertahun-tahun bersama puluhan barang Minhee yang sudah tak terpakai lagi. Melihat objek itu membuat perasaan Sehun kembali terhina dan terhempas dengan keras. Ada perasaan marah yang bergolak dalam darahnya, namun tak bisa ia ungkapkan dengan kata. Objek dalam foto itu seakan menginjak-injak perasaan Sehun sebagai suami Minhee dalam satu hentakan keras ke bumi. Rasa cemburu itu begitu membakarnya, membuat hatinya retak.

 

Sehun tak begitu mau mengingat apa yang selanjutnya ia lakukan saat rasa cemburu membakar hatinya hingga nyaris hangus. Tanpa sadar Sehun melempar buket bunga yang masih ada di tangannya itu hingga terhempas keras membentur sisi lain tembok kamar Minhee, membuat kelopak-kelopak cantik itu berguguran dari putiknya.

Sehun melangkah keluar dari kamar Minhee sambil membawa foto itu dalam genggaman tangannya, lalu bergegas kembali ke lobi utama apartemen. Ia ingin pergi mencari Minhee. Dimanapun keberadaan gadis itu, ia akan mencarinya. Sehun butuh penjelasan mengapa Minhee masih saja menyimpan kenangan masa lalunya bersama ‘pacar’ masa kecilnya, di saat Sehun sudah hadir dan lebih berhak memiliki hati gadis itu sepenuhnya. Sehun begitu membenci kehadiran Jungkook, demi apapun. Ia benci melihat Minhee masih mau berbicara dengan Jungkook lagi, bahkan ia benci melihat Minhee masih mau membalas tatapan mata lelaki itu. Lelaki itu bahkan tak pantas muncul di hadapan Minhee lagi, tak sadar dirikah ia sudah menelantarkan hati Minhee selama bertahun-tahun?

Itulah alasan mengapa hati Sehun terbakar ketika melihat betapa berani lelaki itu meninggalkan satu jejak ciuman di pipi gadisnya.

 

 

Minhee melangkahkan kakinya pelan, semakin menjauhi halte. Pandangan gadis itu tertunduk ke bawah. Beberapa kali ia sempat membetulkan letak tali tas selempang yang nyaris merosot dari bahunya. Hari ini adalah hari yang amat sangat melelahkan. Minhee harus mengikuti tiga kelas hari ini, dan ternyata tiga kelas itu diisi penuh oleh kuis mendadak. Padahal ia sama sekali tak memiliki persiapan. Nilainya pasti hancur, dan ia bahkan tak tahu harus bagaimana meratapi indeks nilainya akhir semester nanti. Ditambah lagi durasi latihan drama yang ditambah dua kali lipat, Minhee tak sempat makan siang, dan kini Minhee bersumpah bahwa tubuhnya benar-benar telah kehilangan tujuh perdelapan energinya.

Minhee melangkah memasuki lobi apartemennya dengan langkah gontai. Pandangannya masih menunduk, jadi ia tak sempat sadar ketika seorang lelaki menubruk bahunya dari arah berlawanan. Minhee terhuyung dan nyaris jatuh, andai saja lelaki itu tak berbalik dengan cepat dan menahan tangannya. Minhee terlalu lelah, ia masih jua tak mengangkat kepalanya ketika ia sudah berdiri berhadapan dengan lelaki itu. Minhee rasa ia mengenali siapa lelaki itu lewat bau parfum yang begitu familiar terekam oleh indera penciumannya, namun ia tak begitu yakin.

 

“Minhee?” tanya lelaki itu sambil mengguncang pelan bahu Minhee.

Minhee mendongakkan kepalanya perlahan, dan menemukan wajah Sehun. Minhee sempat mengerutkan keningnya ketika melihat wajah Sehun yang berbah datar saat menatap matanya, juga genggamannya yang semakin erat pada bahu Minhee.

Explain this?” pinta Sehun datar sembari memperlihatkan foto yang sejak tadi ada di genggaman tangannya pada Minhee. Setelah dapat memfokuskan pandangannya, raut wajah Minhee berubah seketika.

Minhee tergagap. “Oppa, ini tidak seperti yang kau pikirkan—”

“Kau masih menyimpan foto seperti ini dalam kamarmu?” tanya Sehun dengan nada tajam. “Lalu kau mengatakan padaku bahwa kau mencintaiku?”

Oppa, itu foto lama,” Minhee tergagap. “Oppa…”

Sehun meremas foto itu dalam satu genggaman tangan, lalu menghempaskannya begitu saja ke arah Minhee. Minhee terpaku, matanya mengikuti gerak saat gumpalan kertas itu jatuh ke lantai.

“Benda ini hanya simbolis, kau tahu?” ucap Sehun datar sambil melepaskan cincin pernikahan miliknya. Ia kembali menghempaskan benda logam itu ke arah Minhee. Benda itu jatuh membentur lantai marmer dengan suara berdenting, begitu menyakitkan di telinga gadis yang sedang terluka. Airmatanya menitik melihat logam putih itu terasa tak memiliki arti apa-apa lagi ketika sudah tergeletak di atas lantai.

“Kau masih terlalu muda untuk tahu apa yang disebut dengan cinta dan pernikahan, Shin Minhee. Seharusnya kau tak penah menerima pernikahan itu. Kau bisa saja lari dari rencana pernikahan itu, pergi bersama Kookie-mu. Maka kau bisa melanjutkan cinta masa lalu kalian yang dulu sempat terputus, tanpa perlu menodai pernikahanmu denganku,” ujar Sehun dengan nada datar. Minhee seakan bisa merasakan emosi terpendam Sehun dalam semua kalimat itu, membuat airmatanya mengalir semakin deras tanpa disadari. Namun Minhee tak bisa melakukan apapun. Lidahnya mendadak kelu, membuatnya bisu. Ia hanya bisa menangis, tanpa sanggup membalas tatapan terluka Sehun.

“Dan aku tak perlu repot-repot belajar mencintaimu, Minhee. Memang sudah terlambat atas perasaanku, namun aku bersedia mengajukan pembatalan pernikahan jika memang kau menginginkannya. Lupakan bahwa aku pernah mencintaimu, Shin Minhee. Selamat tinggal,” Sehun mengakhiri kalimatnya. Lelaki itu pergi seraya menghempaskan bahu Minhee, membuat Minhee benar-benar terhuyung ke atas lantai kali ini.

Dengan pandangan mengabur karena airmata, gadis itu mencoba meraba keberadaan cincin Sehun di atas lantai. Isakan perih Minhee tak bisa berhenti. Beberapa orang yang melintas di lobi ikut memandangi Minhee dengan iba, namun mereka memilih untuk tak ikut campur. Ketika Minhee berhasil mendapatkan cincin itu kembali, gadis itu bergegas bangkit dari simpuhnya dan berlari secepat yang ia bisa untuk mengejar langkah Sehun. Walau ia harus menebar isakannya sepanjang jalan, membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya menoleh untuk tahu apa yang terjadi pada gadis itu. Walau pandangan matanya semakin mengabur oleh airmata, sehingga beberapa kali ia terpaksa bertubrukan dengan orang lain yang berpapasan dengannya. Langkah Minhee terlalu lemah untuk mengejar langkah Sehun yang cepat. Minhee tertinggal jauh, ia bahkan tak tahu Sehun ke mana.

 

Minhee tak sadar dirinya telah tiba di sebuah persimpangan jalan raya. Trotoar berakhir, namun ia masih terus berlari. Ia mengabaikan lampu merah yang berpendar untuk para pejalan kaki, nekad menerobos jalan raya walau klakson dari puluhan kendaraan menjeritinya. Sebuah klakson besar berteriak memperingatinya, namun Minhee terus melangkah maju. Minhee tak bisa mendengar apapun, dan ia juga tak bisa melihat apapun. Rasa sakit menuntunnya untuk melakukan apa saja, asal ia bisa menyusul dan tak kehilangan jejak langkah Sehun.

 

“Mine!!” seru seorang lelaki sambil menarik Minhee dengan sigap ke depan. Minhee kehilangan keseimbangan. Gadis itu jatuh telungkup di atas trotoar dan lututnya sempat membentur tepiannya yang keras, namun bukan rasa sakit itu yang menuntun tangisannya mengalir lebih deras lagi. Tapi rasa gagal karena ia tahu ia tak berhasil mengejar langkah Sehun dan menjelaskan segalanya.

“Kau mau bunuh diri, hah?!” tanya lelaki itu sedikit emosi sambil mengguncang keras kedua bahu Minhee. Minhee menggelengkan kepalanya kalut, namun ia tak mau bicara.

“Aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama, Mine. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu lagi, dan kau juga harus berjanji,” bisik lelaki itu sambil menuntun Minhee bersandar dalam dekapannya.

Minhee tahu betul siapa lelaki itu, lelaki yang berjanji tak akan meninggalkannya lagi. Namun Minhee terlalu lelah untuk memberontak. Ia hanya bisa menangis, menumpahkan airmata pada mantel milik lelaki itu.

Pengakuan lelaki itu seakan menghancurkan cinta menyakitkan yang sedang Minhee rasakan perihnya. Cinta menyakitkan itu memang menyiksanya, namun cinta itu pulalah yang membuatnya bertahan selama empat bulan terakhir. Ia telah kehilangan cinta menyakitkan yang membuatnya bertahan walau dirongrong rasa perih.

Minhee kehilangannya. Minhee telah kehilangannya.

 

***

 

“Apa? Kau ingin mengundurkan diri?” tanya Sulli terkejut. Gadis bermata indah itu memandangi sosok gadis lain yang terdiam kosong di hadapannya dengan lekat sampai ia membuka mulutnya lagi, “apa kau serius, Minhee? Apa kau lupa bahwa drama ini adalah proyek besar kita?”

Minhee masih menundukkan kepalanya, tak sanggup membalas tatapan Sulli. Ia tahu, Sulli pasti memendam kekecewaan yang amat besar padanya. Minhee menggelengkan kepalanya. “Maaf, Eonni. Tapi aku tak bisa melanjutkannya lagi.”

“Kenapa?” tanya Sulli lebih lanjut. “Apakah latihan ini terlalu menekanmu? Membuatmu merasa tak nyaman?”

Minhee lagi-lagi menggelengkan kepalanya pelan. “Aku hanya tak bisa melanjutkannya lagi.”

“Tapi kau pasti punya alasan untuk berhenti, Minhee,” sahut Sulli lagi.

“Tak bisa,” lirih Minhee dengan suara kecilnya. Gadis itu mulai terisak lagi, membuat Sulli sedikit panik saat tahu bahwa adik angkatannya itu menangis.

“Hei, hei. Jangan menangis,” sahut Sulli sambil mengelus punggung Minhee. “Kau punya masalah, hm?”

“Maaf, Eonni… Tapi—” Kata-kata Minhee terputus. Gadis itu menyeka airmatanya sesaat, “Eonni, apa kau mengerti bagaimana perasaanku sekarang?”

Sulli terpana sesaat mendengar pertanyaan Minhee yang terdengar aneh. Ia terkekeh kecil, mencoba memperbaiki suasana hati Minhee walau sedikit. “Oh, Minhee, kau bahkan belum menceritakan apapun padaku. Bagaimana mungkin aku tahu tepat bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Bagaimana rasanya jika kau baru saja menghancurkan kepercayaan seseorang?” tanya Minhee dengan suara seraknya. Atensinya kembali kelam dan kosong.

Sulli mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Minhee. “Menghancurkan kepercayaan seseorang?”

“Dan kau rasa kau tak akan pernah bisa memperbaiki segalanya,” lanjut Minhee pelan. Minhee menangkat kepalanya, menatap Sulli. “Itu refleksi atas diriku saat ini, Eonni, jika kau bertanya bagaimana keadaanku.”

Sulli semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Minhee, mengapa gadis junior itu menyeretnya pada tema seperti ini. Sulli memandangi iris hitam kecokelatan Minhee dalam-dalam, namun ia tak bisa menemukan jawaban yang berarti dari sana.

“Katakan permintaan maafku pada semua kru yang tersisa karena aku telah lari dari tanggung jawabku sebagai pemeran utama, Eonni,” Minhee kembali berbicara saat ia mulai bangkit dari duduknya. Sulli ikut bangkit menyusul Minhee, walau kepala gadis itu masih dipenuhi tanda tanya di balik keputusan Minhee untuk mengundurkan diri dari proyek drama mereka.

“Tapi kau pasti punya alasan, Minhee,” sahut Sulli menginterupsi. “Kami bisa menerimanya jika memang kau punya alasan. Hanya tolong katakan saja, kami akan mengerti.”

Minhee tersenyum getir sembari menyeka semua airmatanya. “Karena aku bukan aktris yang baik, Eonni.”

Sulli mengerutkan keningnya. “Minhee…”

“Carilah gadis yang lebih baik daripada aku,” sahut Minhee sebelum melangkah meninggalkan Sulli. Gadis itu menyeka airmatanya, membuat Sulli semakin penasaran sekaligus bingung.

“Minhee…?”

 

 

Selepas mengajukan pengunduran diri pada Sulli, Minhee bergegas keluar dari ruang teater. Gadis itu terpaksa menahan kesedihannya, ia hanya bisa menangis dalam hati. Minhee menyusuri jalan menuju gerbang kampus dengan perasaan kacau. Pandangannya setengah menunduk, setengah tak sadar, sebelum akhirnya ada seorang gadis yang setengah berlari sempat menubruk bahu kirinya dari arah belakang.

“Maaf,” sahut gadis itu singkat tanpa menoleh. Minhee tak mengucapkan apapun, sebab gadis itu juga sepertinya tak mengharapkan respon dari Minhee. Ia terus melangkah mengejar ketertinggalannya akan sesuatu, sedangkan Minhee hanya menatap kepergian gadis itu dengan tatapan bisu.

 

“Sehun-ah! Tapi kau sudah berjanji akan membantuku mengerjakan tugas ini! Aish!” Minhee mendengar seruan dari gadis itu lagi. Mendengar nama lelaki yang tersebut dari mulut gadis itu membuat airmata Minhee hendak meleleh lagi, namun entah mengapa ada perasaan kuat yang membuatnya begitu ingin untuk mengikuti langkah gadis yang tadi menubruk bahunya itu. Gadis itu menyebut nama Sehun, dan tiba-tiba saja Minhee juga yakin bahwa gadis itu akan membawanya bertemu Sehun lagi.

“Sehun-ah! Kalau begitu kembalikan cola yang kemarin sudah kubelikan untukmu! Kau menipuku!” seru gadis itu lagi. “Sehun-ah! Berhenti berlari! Aku tahu kau adalah mantan atlet atletik saat sekolah dasar dulu, dan sudah jelas bahwa aku tak bisa menyusul langkahmu! Sehun-ah, berhenti main kejar-kejaran seperti anak kecil! Godness!”

Setelah berlari kecil mengikuti si gadis pirang beberapa puluh meter jaraknya, mata Minhee berhasil menangkap seseorang yang dikenalnya berdiri di ujung koridor. Seorang lelaki bertubuh jangkung dengan senyum lebar yang terpeta di wajahnya. Lelaki itu kemudian melepas tawanya pada sang gadis yang sedari tadi Minhee buntuti. Minhee berangsur melambatkan kecepatan langkahnya, dan ia terpaku seketika ketika menyadari segalanya. Minhee telah menyadari satu hal. Siapa gadis yang sejak tadi ia buntuti. Siapa gadis yang telah membawanya kembali bertemu dengan Sehun.

 

“Kau selalu payah dalam sprint,” ejek Sehun pada gadis yang baru saja berhasil tiba di dekatnya itu.

“Kalau kau sudah tahu, mengapa kau masih mengajakku bermain kejar-kejaran, Bodoh,” gerutu gadis itu datar. Ia menyerahkan suatu gulungan kertas pada Sehun sambil kembali menggerutu, “ini. Sekarang bantu aku mengerjakan tugas ini.”

“Itu tugasmu, kenapa jadi aku yang harus susah payah?” tanya Sehun tanpa dosa.

“Tapi kemarin kau sudah berjanji padaku,” gerutu gadis itu lagi. “Aku akan menjitakmu sepuluh kali jika kau masih pura-pura tidak tahu.”

Minhee menggigit bibir bawahnya saat ia terpaksa melihat itu semua di depan matanya sendiri. Rasa pedih itu begitu terasa menghujam hatinya, menghancurkan harapan yang ia coba bangun kembali. Matanya tidak salah melihat, itu semua realitas. Hanya saja mungkin rasanya terlalu pahit untuk Minhee kecap.

Sehun tertawa lagi mendengar gerutuan sahabat perempuannya itu, dan saat itulah matanya tak sengaja menangkap kehadiran Minhee yang berjarak beberapa puluh meter saja dari posisi mereka. Sehun melihat tatapan kosong Minhee yang bermuara pada kedekatannya dengan Daeun, membuatnya merasa bersalah, namun ia mencoba meredamnya seolah-olah itu bukanlah sebuah kekeliruan. Oh, mungkin saja itu memang sebuah kekeliruan, hanya saja Sehun merasa tak ada salahnya membuat Minhee mengerti rasa sakit saat melihat orang yang dicintainya masih mempedulikan masa lalu.

Dan Sehun memutuskan sengaja melakukannya. Ia sengaja mengacak puncak kepala Daeun untuk menunjukkan betapa ia menghargai gadis masa lalunya itu, di depan mata Minhee. Ia sengaja membiarkan rasa sakit itu menusuk hati Minhee dan menggoresnya menjadi suatu luka yang dalam, menyakiti Minhee walau hanya lewat satu tarikan napas.

“Baiklah, aku akan membantumu,” sahut Sehun dengan volume suara yang sengaja dikeraskan, supaya Minhee bisa mendengar itu. “Kita selesaikan di kantin sambil makan siang bersama. Kau setuju, Daeun?”

“Ide bagus,” sambut Daeun ceria sambil menautkan lengannya pada lengan Sehun, lalu menariknya pergi. Ia menyambut ajakan Sehun, tanpa tahu bahwa kepergian mereka memberikan suatu luka baru di hati seorang gadis yang hanya bisa meratapi perasaannya.

Sehun masih memandangi Minhee dengan tatapan yang sama dinginnya dengan kemarin, sebelum ia mulai berpaling dan mengajak Daeun membicarakan beberapa tema obrolan yang tak mampu lagi dijangkau Minhee. Minhee terdiam membeku di posisinya, dengan tatapan yang masih tertuju pada objek yang sama. Ia merasakan sakit yang terlalu dalam, membuatnya sesak tanpa bisa meratapi.

 

Jadi begini rasa sakitnya?

Minhee bertanya dalam hatinya sendiri, sementara Sehun dan Daeun semakin jauh dari jangkauan pandangannya. Gadis itu menundukkan kepalanya kembali, menatap sepatunya hingga perlahan pandangan itu kembali melebur oleh airmata. Minhee terlalu banyak menangis semenjak kemarin, membuat matanya cukup sembab dan perih. Ia sadar menangis tak akan bisa mengembalikan segalanya, ia sadar menangis tak akan cukup membuat Sehun kembali memasangkan cincin pernikahan di jari manisnya, ia sadar menangis akan semakin memperburuk keadaannya, namun Minhee tak punya pilihan. Menangis adalah satu-satunya cara Minhee meratapi kesedihannya.

Jika memang Sehun sengaja melakukan semua hal tadi untuk membalaskan sakit hatinya pada Minhee, ia berhasil. Minhee merasakan sakit yang sama, bahkan lebih dalam dari yang bisa Sehun bayangkan dan rasakan. Perasaan gadis itu begitu rapuh, dan Sehun sudah cukup menghancurkannya pada kesempatan pertama.

Sehun telah melanggar janjinya pada Minhyuk.

 

 

“Minhee-ya!”

Minhee masih terus melangkahkan kakinya tak peduli, seolah-olah suara itu hanyalah angin lalu. Minhee berjalan layaknya mayat hidup, sama sekali kehilangan semangatnya. Ia mengabaikan dunia yang masih terus berputar di sekitarnya. Ia menganggap dirinya sendirian. Ia menganggap ia tak memilik siapa-siapa lagi.

“Shin Minhee, aku memanggilmu!” panggil lelaki itu lagi, namun kali ini ia juga berhasil menahan langkah Minhee. Lelaki itu pada akhirnya berhasil menggenggam tangan Minhee erat, sedangkan Minhee mencoba tak peduli.

“Minhee, ada apa denganmu?” tanya lelaki itu lagi sambil menunduk sedikit, memperhatikan wajah Minhee lamat-lamat. Minhee hanya balas menatap lelaki itu dingin, membuat lelaki itu sedikit tercenung.

“Minhee…”

“Lepaskan aku, Oppa,” tukas Minhee pelan. “Aku harus pulang.”

“Minhee, aku akan mengantarmu,” putus lelaki itu. “Kau akan pulang ke apartemen? Atau kau ingin aku mengantarmu ke rumah orangtuamu? Atau ke rumah Minchan, eh?”

“Aku bisa pulang sendiri,” tolak Minhee datar. “Lepaskan aku, Oppa. Tinggalkan saja aku sendiri, seperti apa yang telah sahabatmu lakukan.”

Kai tertegun mendengar kata-kata Minhee. Kecemasannya pada gadis itu semakin menjadi, bukan keputusan baik jika ia menyerah pada kekeraskepalaan gadis itu dan membiarkannya pulang sendirian.

“Minhee, jangan samakan aku dengannya,” sahut Kai. “Aku mencoba menolongmu. Aku tahu Sehun sudah terlalu banyak menyakiti hatimu, dan aku di sini untuk membantu Minhyuk. Aku ingin melindungimu.”

“Walaupun kau bukan suamiku?” lirih Minhee kecil. Kai sadar saat gadis itu menggunakan sebelah tangannya yang terbebas untuk menghapus airmatanya, membuat Kai semakin merasa tak enak hati atas kesalahan yang diperbuat Sehun. Kesalahan sahabatnya.

“Dia bahkan membenciku, Oppa. Mengapa kau masih peduli padaku?” tanya Minhee sambil menatap Kai sesaat. “Just leave me alone, Oppa. Thanks.”

“Maafkan Sehun, Minhee,” ucap Kai tak tahan lagi. Lelaki berkulit tan itu menatap iba pada gadis berhati rapuh yang ada di hadapannya, namun Minhee sama sekali tak membalas. Gadis itu hanya menundukkan kepalanya semakin dalam, menolak kontak mata dengan Kai.

“Biarkan kakak kalian tahu,” sahut Kai lagi. “Katakan semuanya pada Luhan dan Minhyuk, atau bila perlu pada orangtua kalian juga. Mereka semua berhak tahu, Minhee. Mereka semua bisa membantumu.”

“Dengan mengatakannya pun tak akan bisa memperbaiki segalanya, Oppa,” respon Minhee datar, lalu tersenyum getir.

“Mengapa kau terlalu cepat mengambil spekulasi seperti itu?” tanya Kai miris. “Minhee, just tell them.”

“Lalu semuanya akan kembali baik-baik saja seperti semula?” Minhee kembali bertanya. Gadis itu mengangkat kepalanya, menggeleng pada Kai sambil memperjelas raut getirnya. “Nope.”

 

Kai kembali tercenung saat Minhee berusaha melepaskan tautan tangan mereka. Genggaman Kai merenggang, sehingga Minhee bisa melepasnya dengan mudah kini. Gadis itu menghadiahkan kembali sebuah senyum getir yang nyata sebelum melangkah meninggalkan Kai, Kai yang masih membatu tanpa tahu harus membujuk Minhee dengan cara apa lagi.

“Minhee…”

Gadis itu tak mau merespon panggilan Kai lagi. Ia terus melangkah, seakan membiarkan angin menghembus setiap langkahnya. Awan mendung yang menggantung di atas sana menjadi satu-satunya hal yang akan menemani Minhee sepanjang perjalanan, ke mana pun gadis itu pergi. Kai tidak mengejarnya lagi. Ia hanya mampu memandang Minhee iba, iba karena keyakinan yang selama ini digenggamnya telah hancur sebagai kekuatan.

 

 

Minhee tak banyak bicara selepas berpisah dengan Kai. Ia hanya sempat membalas singkat sapaan Ryu Sujeong, teman lamanya, saat tak sengaja bertemu di halte. Setelah itu bibir gadis itu kembali membisu, tidak mengucapkan kata ataupun isakan sepanjang sisa perjalanan.

Turun dari bus, gadis itu sempat mendongak memandangi cuaca mendung yang menggantung di atas langit sana, namun beruntung ia telah sampai ke huniannya sebelum hujan menyentuh bumi. Gadis itu merapatkan mantel tipisnya sambil melangkah pelan menuju gedung apartemennya, tak sadar saat seseorang masih terus memandanginya dari balik kaca sebuah mobil. Seseorang itu adalah Kai, dan beberapa saat sebelumnya Kai memutuskan untuk membuntuti bus yang ditumpangi Minhee. Kai harus memastikan Minhee sampai di tujuan dengan selamat.

Kai sadar jika hubungan Sehun dan Minhee memang sedang tidak baik. Kemarin sore Sehun datang ke rumahnya, berbohong pada ibu Kai bahwa ia harus menginap karena orangtua dan kakaknya sedang ada urusan di luar kota, sementara ia ditinggal sendirian karena kuliah adalah sesuatu yang mustahil ia tinggalkan. Namun Kai sudah mengenal Sehun bertahun-tahun lamanya, kepercayaan Kai pada Sehun tak jatuh semudah ibu Kai mempercayai Sehun yang langsung mempersilahkan Sehun menginap selama beberapa hari di kediaman keluarga Kim.

Sehun langsung menutup pintu kamar tamu saat Kai nyaris berhasil menyusulnya, dan Sehun menolak membukakan pintu saat Kai mengetuknya cukup keras. Sehun menolak diintrogasi malam itu, dan itu membuat Kai sedikit kesal. Begitupun dengan pagi harinya, saat Sehun mendahului Kai pergi ke kampus meskipun mereka memiliki jadwal kelas yang sama. Lagi-lagi Kai bertambah kesal karena Sehun seakan sengaja menghindarinya, menghindari segala pertanyaan yang mungkin akan Kai tanyakan padanya.

Namun sedikit rasa penasaran Kai terjawab saat ia tak sengaja melihat kedekatan Sehun dan Daeun yang tak biasa di kantin tadi siang, membuat teka-teki dalam kepala Kai semakin berdenyut minta dipecahkan. Semuanya berujung ketika sore tadi ia bertemu dengan Minhee di dekat gerbang kampus, dengan keadaan Minhee yang menyedihkan. Gadis itu kehilangan semangatnya seakan-akan ia kehilangan nyawa. Saat itu Kai tersadar, memang ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh Sehun. Dan itu menyangkut hubungannya dengan gadis bernama Minhee.

 

Kai masih bertahan di dalam mobilnya hingga mentari tenggelam di balik peraduan. Semburat jingga mewanai langit sore Seoul, membuat Kai kembali teringat dengan berbagai serpihan masa lalunya. Di perjalanan pulang, lelaki itu sengaja membelokkan mobilnya menuju arah Hangang Park, mencoba mengenang masa lalu. Kai memiliki banyak kenangan di tempat itu, layaknya Sehun. Sejak usia sekolah, mereka sering menghabiskan waktu di sana. Entah kapan terakhir kali Kai mengunjungi tempat itu, ia pun sudah tak ingat persis. Sudah bertahun-tahun lamanya ia tak berkunjung ke sana.

 

Angin musim semi yang segar berhembus saat Kai menurunkan kakinya dari dalam mobil. Hangang Park seakan menyambutnya kembali. Wangi bunga-bunga yang nyaris mengering menjelang bulan Juni masih cukup jelas teraba oleh indera penciuman, membuat Kai semakin ingin menjelajahi taman yang menyimpan banyak serpihan masa lalunya itu.

Hangang Park bertambah indah, setidaknya begitulah pikir Kai. Banyak dari dekorasi taman yang sudah diubah. Tidak membuat bingung, namun justru membuatnya semakin penasaran untuk menelusuri perubahan apa saja yang telah dibuat pemerintah pada taman ini dari keadaan terakhir yang dilihatnya di masa lalu. Kai berjalan menyusuri Sungai Han, melewati deret demi deret bangku taman yang kosong dan beberapa tiang lampu taman yang mulai memendarkan cahaya. Kai terdiam di salah satu sisi, tangannya bersandar pada pagar pembatas, dan matanya bebas menjelajah permukaan Sungai Han sejauh yang ia bisa. Kai menarik senyumnya tipis saat benaknya menyimpulkan bahwa keadaan Hangang Park yang telah berubah tak cukup kuat untuk memusnahkan semua kenangan masa lalunya.

 

“Kai?” Kai mendengar suara halus seorang wanita dari balik punggungnya. Rasanya suara itu begitu familiar, Kai mencoba mengingatnya lebih dalam. Namun Kai tak bisa menahan rasa penasarannya untuk mengetahui siapa wanita itu, jadi ia segera membalikkan punggungnya beberapa detik setelah wanita itu memanggil.

Kai sedikit tercekat saat kembali berhadapan dengan wajah itu, wajah yang begitu familiar di masa lalu. Hangang Park seakan mengembalikan semua serpihan itu.

Gadis itu mengulas senyumnya yang hangat, lalu ikut menyandarkan tangannya pada pagar pembatas. Di samping Kai.

“Sedang apa kau di sini?” tanya gadis itu, masih dengan intonasi suara yang tak pernah berubah dari masa lalu. Gadis itu terkekeh. “Kukira aku akan salah orang. Tapi ternyata, ini benar dirimu.”

Kai melirik gadis itu dan menarik senyumnya dalam diam. “Aku baru saja menyelesaikan tugas muliaku.”

Gadis bersurai kelam itu menoleh pada Kai dan memandangnya penasaran. “Tugas mulia?”

Kai mengangguk. “Ya. Tugas mulia untuk menjaga kekasih sahabatku, saat dia sedang tidak bisa menjaga gadisnya.”

Gadis itu melempar senyumnya. “Sahabatmu? Siapa? Masih tak berubah dari masa lalu, hm?”

“Ya, Sehun,” jawab Kai. “Kenapa memangnya?”

“Oh, jadi dia sudah punya pacar?” tanya gadis itu lagi. Kai hanya menangguk sebagai jawabannya. Soojeon tidak tahu apa-apa, jadi tak ada salahnya Kai menyebut Minhee sebagai ‘kekasih’ Sehun.

“Memangnya dia sedang pergi ke mana? Sampai harus kau yang menjaga gadisnya,” celoteh gadis itu lagi.

“Oh, sekarang kau lebih banyak bicara, ya,” celetuk Kai lalu terkekeh pelan. Gadis itu memandang lelaki yang ada di sebelahnya, lalu menyipitkan mata pura-pura kesal.

“Kau meledekku, ya?”

“Tidak, hanya saja—” Kai kembali terkekeh sambil menolehkan kepalanya menatap gadis itu, “dari yang terakhir kuingat, Kwon Soojeon adalah gadis yang begitu introvert.”

Gadis itu menghela napasnya sejenak sebelum memulai kata-katanya. “Semenjak masuk kuliah, aku belajar tentang banyak hal.”

“Contohnya?” tanya Kai lebih lanjut.

“Untuk mendapatkan kesempatan pergi ke Berklee, aku harus memperbaiki hubungan sosialku dengan orang lain,” jawab gadis itu sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. “Selain dengan mempelajari kontrol nada sempurna, berusaha keras untuk memiliki absolute pitch, serta meningkatkan prestasiku, tentu saja.”

“Kau benar-benar ingin pergi ke sana, ya?” tanya Kai lagi.

“Ya. Mengapa tidak?” Gadis bernama Soojeon itu menjawab sekaligus melemparkan pertanyaan balik untuk Kai.

“Atau tujuan utamamu memang untuk bertemu Krystal?”

“Aku serius, akademi musik itu memang telah menjadi impianku sejak dulu. Selain itu, aku juga benar-benar serius ingin bertemu dengan sahabat lamaku, Krystal Jung,” jelas Soojeon lagi. “Masalah ini sudah terlarut begitu lama, Kai. Aku tak bisa membiarkannya mengendap lebih lama lagi, atau sebongkah hati yang telah terbunuh akan semakin tenggelam dalam kematian.”

Setelah mendengar kata-kata Soojeon, mereka tak saling melempar kata lagi. Kai tak tahu apa yang harus ia katakan untuk menyambung percakapan, jadi ia lebih memilih untuk menundukkan kepalanya. Sedangkan Soojeon tampak tak terlalu tertarik dengan kelanjutan percakapan mereka; ia membiarkannya menggantung begitu saja, dan ia lebih tertarik menelusuri sudut Sungai Han beserta Hangang Park lebih jauh lagi melalui pandangan matanya.

 

Gadis itu tak memiliki banyak perubahan fisik. Ia masih seorang gadis yang cantik—paduan dari sedikit darah Barat yang ia dapatkan dari neneknya—hanya saja ia terlihat jauh lebih hangat sekarang. Adapun secara psikologis, Kai merasakan Soojeon telah lebih banyak berubah. Gadis itu lebih banyak berbicara dibanding masa lalu, lebih terbuka tentang kata-kata, dan tak lagi terlalu banyak memendam perasaannya.

“Kai,” panggil Soojeon tiba-tiba. Kai menolehkan kepalanya tepat ketika Soojeon menyambung kembali kata-katanya, “apa kau ada pesan untuk Krystal?”

Kai tercenung sesaat mendapat pertanyaan seperti itu dari Soojeon. Laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya dari Soojeon, menatap permukaan tenang Sungai Han yang memantulkan warna lembayung langit sore. Laki-laki itu menghela napasnya panjang, membuat Soojeon ganti memandanginya.

“Pesan apa?” Setelah menunggu cukup lama, Soojeon hanya mendengar balasan pertanyaan untuknya. Giliran Soojeon yang menghela napasnya, lalu mengalihkan tatapannya sejenak dari Kai.

“Pesannya terserah padamu,” jawab Soojeon cepat tanpa berpikir terlalu lama. “Atau kau merasa pesan itu begitu privasi, sehingga lebih suka membicarakannya berdua langsung dengan Krystal? Oh, kau bisa menitipkan surat. Tenang saja, suratmu akan tiba sebelum segelnya rusak.”

Kai tertawa kecil mendengar celotehan Soojeon. Gadis itu hanya mengulaskan senyumnya sambil memandangi Kai lagi.

“Kenapa tertawa?”

Kai mencoba berkata di tengah gelak tawanya yang masih tersisa. “Aku… Aku hanya tak menyangka kau akan berubah menjadi orang seperti ini, Soojeon. Sangat tidak Kwon Soojeon sekali, ya.”

Soojeon mengerucutkan bibirnya kecil. “Memangnya kenapa denganku saat ini?”

“Kapan terakhir kali kita bertemu dan saling berbicara?” Kai kembali menimpali pertanyaan Soojeon dengan tema berbeda. “Sudah bertahun-tahun yang lalu, sepertinya.”

“Pembicaraan kita hanya bertahan beberapa bulan setelah kelulusan, Kai,” tambah Soojeon. “Kita sama-sama tahu bahwa kita diterima di Hanguk University, tapi kita sengaja tak mengungkit itu, dan tepat di hari pertama kuliah kita tidak saling berbicara lagi.”

“Namun untuk pertama kalinya, hari ini, aku ingin tahu alasan dibalik semua pengakuanmu itu,” sambung Soojeon lagi. Kai baru saja akan menimpalinya dengan pertanyaan, namun Soojeon segera melanjutkan kalimatnya. “Pengakuanmu di depan semua orang bahwa kau adalah pacarku. Mengapa, Kai? Kita sama sekali tidak berkencan, namun kau mengatakan semua itu pada orang lain.”

Kai sejenak terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan Soojeon. Laki-laki itu kembali memandangi permukaan Sungai Han yang memantulkan warna lembayung semakin gelap, namun tak bisa memungkiri untuk melirik Soojeon dari sudut matanya.

“Aku…” Kai menggumam sesaat, “aku punya alasan sendiri, Soojeon. Mengapa kau begitu ingin tahu?”

Soojeon menggeleng pelan. “Aku harus tahu, Kai. Kau yang mengajakku terjebak dalam permainanmu ini, jadi aku harus tahu.”

Kai kembali meragu. “Aku melakukan itu karena aku… Aku… Aku tahu aku bersalah, Soojeon. Aku mendekatimu dengan harapan bisa memperbaiki semuanya. Tentangmu, tentang Sulli, tentang Krystal, tentang segalanya. Semenjak hari itu aku tak bisa berpikir tenang, Jeon. Semenjak wisuda kelulusan yang menorehkan luka lebih dalam di hatimu, aku tahu aku yang bersalah di balik semua penderitaanmu atas kelakuan Krystal.”

 

Mendengar kata-kata Kai, Soojeon sedikit terkesiap, membuatnya nyaris melelehkan airmatanya lagi. Ia kembali teringat pada wisuda terakhir yang dilaluinya sebelum hari ini, wisuda SMA-nya. Momentum yang seharusnya membahagiakan, momentum yang seharusnya mengharukan, momentum yang seharusnya meninggalkan kesan sempurna dalam hatinya sebelum melepas sang sahabat melanjutkan studi ke negeri orang.

Semuanya berubah hari itu, sama sekali tak memenuhi harapan kecil Soojeon. Membahagiakan untuk Soojeon saat menemukan bahwa ia dan Krystal termasuk dalam deretan dua puluh besar lulusan terbaik, dan seharusnya ketika mendengar pengumuman itu mereka bertiga langsung berpelukan dengan riang. Namun tidak hari itu. Ketika Krystal menyampaikan pidatonya sebagai lulusan terbaik peringkat kelima, Krystal mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Soojeon lebih dalam, membuat Soojeon menangis di kursi kelulusannya.

Saat itu semua hadirin koor tertawa dan melepaskan ratusan tepuk tangan untuk pidato Krystal yang sedikit menggelikan atau aneh, itu terjadi karena mereka tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh gadis itu. Gadis itu terlalu jujur berkata, berlainan dengan dugaan semua hadirin bahwa ia sengaja menggunakan konotasi atau melontarkan berbagai kata-kata kosong untuk menambah durasi pidato. Hanya Soojeon, Sulli dan Kai yang mengerti maksud sebenarnya dari kata-kata Krystal dan juga senyum palsu gadis itu selama berada di mimbar pidato.

 

Mengingat itu, Soojeon jadi ingin menangis lagi. Gadis itu terpaksa menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan genangan air di pelupuk matanya dari perhatian Kai. Soojeon telah banyak merubah kepribadian sosialnya, maka ia tak ingin kembali memperlihatkan sisi rapuhnya di depan Kai. Tidak ingin.

“Baiklah, sampaikan salamku saja untuknya, Jeon,” ucap Kai tiba-tiba, menghapus ilusi menyedihkan Soojeon sejenak. Gadis itu menyeka airmatanya diam-diam sebelum kembali menatap Kai yang masih ada di sisinya. Lelaki itu tersenyum, membuat luka Soojeon semakin nyata.

Ada perasaan yang selama ini masih disembunyikan Soojeon rapat-rapat dalam hatinya. Ia masih memungkiri bahwa ia juga mencintai Kai, tak berbeda dari masa lalu, dan itu masih berlaku hingga detik ini. Soojeon masih menyimpan perasaannya untuk Kai, setelah tahun-tahun yang telah terbuang percuma di antara mereka. Maka hingga detik ini, tatapan Soojeon pada Kai tak pernah berubah dari masa lalu. Tatapan sendu, penyesalan karena tak berhasil memiliki.

 

“Kapan kau akan berangkat?” tanya Kai.

“Mungkin… Musim panas nanti. Tahun ajaran baru di Barat berlaku selesai liburan musim panas, setahuku,” jawab Soojeon dengan suara kecil, tak ingin menunjukkan suara seraknya pada Kai.

“Baiklah, beritahu aku jika kau akan berangkat,” Kai mengerling, lalu memulai langkahnya. Ia bersiap pergi, membuat hati Soojeon sedikit mencelos melihat kepergian lelaki itu.

“Kau akan datang?” tanya Soojeon pelan.

“Ya, tentu saja,” jawab Kai sambil menolehkan kepalanya lagi ke arah Soojeon. “Jangan lupa menghubungiku lagi, Jeon. Oh ya, kau masih menyimpan nomor ponselku, kan?”

Soojeon menggeleng gelagapan.

“Oh, astaga,” keluh Kai sambil memutar langkahnya kembali pada Soojeon. “Mengapa kau menghapusnya?”

Soojeon memandangi Kai, namun tak berkata apa-apa saat Kai menuliskan deretan nomor di atas kulit tangan bagian bawah milik gadis itu. Dekat dengan nadi Soojeon. Kai melakukan itu secara spontan tanpa memikirkan izin dari gadis itu, dan gadis itu juga tidak melancarkan protes apapun.

“Dari mana kau mendapatkan pulpen?” tanya Soojeon polos.

Kai tersenyum kecil. “Oh, aku selalu membawanya kemanapun setiap hari, Kwon Soojeon.”

Soojeon kembali terdiam sampai Kai selesai menuliskan deretan nomor ponselnya di atas kulit hasta gadis itu.

“Ingat untuk jangan pernah menghapusnya sebelum kau salin di kontak,” Kai mengingatkan sekali lagi, kali ini sambil benar-benar beranjak meninggalkan Soojeon.

Soojeon menganggukan kepalanya, walaupun Kai yang sudah mulai jauh tak menolehkan kepalanya sekali lagi untuk melihat anggukan itu. Perlahan senyum Soojeon terulas untuk sang lelaki.

“Aku akan mengingatnya selalu, Kim Kai.”

 

 

 

| T B C |

 

 

 

Hai, semua  :)

Woah, rasanya udah lama banget ngga jumpa kalian di sini😄

Terakhir aku posting di sini kapan ya? Sekitar bulan Oktober tahun lalu kalo ngga salah…

Maaf, kali ini aku melanggar kata-kata aku sendiri soal ‘aku ngga akan posting Secret Darling di sini lagi’… Kemaren aku sudah mempublikasi sekitar 4 chapter di blog pribadiku, dan di chapter 20 ini aku mau coba double posting di sini. Coba nanti aku liat yah, pemirsa di sini masih excited sama Secret Darling atau engga😄

Soalnya ada juga pembacaku di sini yang belum muncul di wp pribadiku… Apa sebagian dari kalian ngga ngeh ya sama author’s note-ku di chapter 16? Hehe.

 

Pemberitahuan kedua : Terhitung dari publikasi chapter 20 ini, aku akan hiatus sampai bulan April mendatang dikarenakan aku akan menghadapi ujian-ujian akhir.

Sistem yang sama aku berlakukan juga di wp pribadi aku, yaitu publikasi chapter 21 akan aku pending sementara waktu.

 

Sekali lagi terima kasih banyak buat semua pembacaku yang sudah memberikan semangat buatku dan meninggalkan jejak nyata di chapter-chapter Secret Darling selama ini.

Tolong terus alirkan semangat untukku, ya🙂 Eksistensi kalian melalui jumlah komentar yang masuk sangat mempengaruhi aliran semangat untuk aku.

Silahkan cuap-cuap lebih banyak denganku di @shineshen97 atau jika ada pertanyaan boleh mengajukan komentar. Jawabannya akan aku tampilkan di chapter depan🙂

 

With love,

shineshen

122 thoughts on “Secret Darling | 20th Chapter

  1. Btw. Waktu pas sehun ngasih boneka ke minhee. Kan bakalan ada ciuman di depan pintu apartemen. Itu gak jadi ya? Oiya itu sehun cemburuan tingkat akut ye sampai setega itu masa ngelepasin cincinnya? Jahat banget sehun:( kl emang cinta seharusnya ga sampe lepas cincin nikah:(

  2. akhirnya yang di tunggu-tunggu kai/soojeon moment nongol juga hihi😀 yaah walaupun sekedar percakapan singkat tapi cukup sweet😀 okeeh semoga ajah nanti mereka di end chap bisa jadian hah berharap banget hihi😀

    • interaksi antara Kai dan Soojeon jarang aku tampilkan secara detail. aku sih lebih geregetan sama pairing yg satu ini😄 perasaannya saling sembunyi di balik bayangan. lol ~

      oke! makasih yaa🙂

  3. Ping-balik: Secret Darling | 23rd Chapter | EXO Fanfiction World

  4. aku nangis kak baca nya:'””) makasih kak udah buat aku nangis:”’) aku bener bener sedih mereka berantem ya ampun baper banget kak baca nih ff T_____T

  5. Lama lama aku greget sama sehun minhee, rasanya pengen “minhee udah sama jungkook” terus “sehun sama daeun aja sonoh”… Aku kesel kenapa minhee itu ceroboh banget, trus kenapa sehun ngambil keputusan asal banget iyasih sakit hati tapi kan kasian ㅠㅠ kapan mereka bahagianya ㅠㅠ disini jongin tercinta banget wihiii baik suami ke 2 setelah pcy -,-

    • yahahaha.. iya, banyak juga pembaca yg udah ngalah😀 udah pada lelah😀 katanya biarin aja Minhee sama Jungkook ketimbang sakit hati mulu sama Sehun😄

      btw ini justru baru mau masuk konflik yg sebenarnya😀 hahaha.. klimaks😀

      oke deh, makasih yaa🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s