Posted in Baek Hyun, charismagirl

Angel of Death [1/2]

AoD

Angel of Death [1/2]

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : PG-15

Length : Twoshoot

Genre : Romance, fantasy, marriage-life, angst.

Note : do not copycat without my permission. Enjoy!!

Link : prolog

Baekhyun menatap wajah wanita itu—wajah cantik yang tersenyum dalam tidur. Baekhyun kehilangan kepercayaan dirinya. Perjanjian untuk mengambil jiwa wanita di depannya ini, tidak lagi mudah baginya. Tapi Baekhyun harus melakukannya kalau dia ingin dunianya kembali. Dan Baekhyun harus benar-benar memilih.

***

Pertemuan enam bulan lalu membuat si wanita penulis—Minri dan Baekhyun—si pria asing yang datang di tengah hujan, pada sebuah ikatan yang tidak terduga. Pernikahan. Mereka menikah setelah tiga bulan Baekhyun tinggal menetap di rumah Minri.

Malam itu—hari dimana Baekhyun datang ke rumah Minri—mereka bicara sepanjang malam dan anehnya Minri sama sekali tidak mengantuk. Anggap saja cappuccino yang diminumnya saat itu sangat memberikan pengaruh besar.

Baekhyun menceritakan pada Minri bahwa dia adalah korban penculikan yang kemudian di buang jauh dari kota asalnya–Baekhyun bohong tentang hal ini. Tapi Minri mempercayai semua perkataan yang keluar dari mulut pria itu. Seolah-olah otaknya sudah tidak bisa berpikir dengan benar. Karena tanpa pengaruh sihir, pria itu telah mempengaruhi kerja fungsi organ di tubuhnya.

Minri bahkan ingin melapor polisi malam itu juga. Tapi Baekyun mencegahnya. Dan Minri tidak berbuat apapun lagi setelah itu. Dia terlalu sibuk menata hati dan pikirannya.

Kemudian Minri mengizinkan Baekhyun tinggal di rumahnya–dengan tidur di kamar yang berbeda tentu saja. Minri tidak mempermasalahkan seberapa lama Baekhyun tinggal disana, karena lelaki itu sama sekali tidak menyusahkannya.

Lalu Baekhyun bilang dia dapat pekerjaan–entah apa itu.

Hari demi hari terus berlanjut. Minri tidak bisa membohongi perasaanya bahwa dia mencintai lelaki itu.

Baekhyun peduli padanya, menjaganya, membuatnya merasa aman. Baekhyun menyayanginya–itu yang Minri tahu. Setidaknya perasaan Minri tidak sia-sia.

Hingga suatu hari Baekhyun mengajaknya menikah. Dan Minri tidak punya jawaban lain selain, “Ya.”

***

Cuaca hari ini cerah, kata prakiraan cuaca di berita pagi.

Minri baru bangun dari tidurnya, tapi dia sama sekali belum ingin membuka mata. Wanita itu merasa nyaman di dalam selimut bulu tebalnya.

Matahari mulai masuk memancar ke dalam ruangan pribadinya. Dia mengernyit saat penerangan itu cukup mengganggu. Kemudian dia berbalik, merasakan tubunya menyentuh tubuh hangat yang lain.

Wanita itu membuka matanya. Menemukan Baekhyun yang sedang menatapnya. Selalu, setiap pagi. Minri sempat bertanya-tanya dalam hati tentang waktu istirahat pria itu karena Minri tidak pernah melihat secara langsung Baekhyun tidur.

“Selamat pagi,” sapa Baekhyun sembari mengusak puncak kepala Minri.

Wanita itu belum sepenuhnya sadar, hingga dia hanya menggumam sembari tersenyum. Baekhyun menurunkan tangannya untuk merangkul pinggangnya, menarik tubuhnya kian mendekat.

Minri suka aroma tubuh Baekhyun, dia suka kehangatan tubuh Baekhyun. Semuanya, tidak terbantahkan.

Minri sudah merasa mendapatkan energi, dia menggulingkan tubuhnya ke atas tubuh Baekhyun. Rambutnya yang panjang dia sampirkan ke bahu.

“Selamat pagi.”

Baekhyun merengkuh wajah gadis itu dengan kedua tangannya, menarik wajahnya mendekat hingga akhirnya menyatukan bibir mereka dalam ciuman hangat. Kemudian Baekhyun membalik keadaan hingga Minri yang berada di bawah. Ciuman itu terus berlanjut sampai Minri kira dia perlu asupan oksigen untuk bernapas.

Sembari terus mengatur nafas, Minri bangkit dari tempat tidur. Dia berjalan ke arah jendela, kemudian membuka tirainya.

“Kau tidak pergi bekerja hari ini, Baek?” tanya Minri kemudian berjalan ke meja rias, mengambil jepit rambut. Dia menggulung rambutnya ke atas, menjalinnya longgar.

“Aku akan pergi sebentar lagi.” Baekhyun duduk, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Matanya tidak beralih sedikitpun memperhatikan Minri–wanita yang berstatus sebagai istrinya.

“Kau bisa terlambat.” Minri mengulurkan tangannya untuk menarik Baekhyun dari tempat tidur. “Siapa suruh menciumku selama itu,” gumam Minri. Tapi telinga Baekhyun terlalu tajam untuk menangkap hal-hal demikian hingga dia menanggapinya dengan sebuah tawa ringan.

Baekhyun menyambut uluran tangan Minri, lalu dengan tiba-tiba menarik tubuh Minri hingga Minri terduduk di pangkuan Baekhyun. Gadis itu memekikan kalimat protes.

“Oke, oke, maaf.” Dengan tawa yang masih tersisa, Baekhyun mengecup pipi gadis itu dengan kilat. Lalu membiarkannya bangkit berdiri.

“Aku akan menyiapkan sarapan,” ucap Minri sembari melangkah keluar kamar dengan wajah merona.

Dia masih merasa berdebar ketika Baekhyun menyentuhnya seperti Baekhyun pertama kali menciumnya –saat malam pertama setelah pernikahan mereka. Tapi Baekhyun tidak pernah melakukan lebih dari itu. Lelaki itu hanya sampai batas mencumbu lehernya.

Bisa dikatakan bahwa mereka tidak pernah melakukan hal yang lebih dari itu–you know what I mean. Dan Minri sama sekali tidak tahu alasan mengapa Baekhyun tidak ingin melakukannya.

***

Hari ini Minri membuat sarapan sedikit lebih lama. Dia membuat banyak kimbab. Dia berencana membawanya ke gedung penerbit dan membagikan kepada teman-temannya disana. Entahlah, mood-nya begitu bagus. Apa mungkin karena Baekhyun? Bisa saja.

Minri sedang menggulung kimbab saat dirasakannya sepasang lengan melingkar di pinggangnya yang ramping. Dia tentu tahu siapa pemilik lengan dengan jari-jari yang indah itu.

“Baek,” sapa Minri.

“Kau membuat banyak makanan hari ini.” Komentar Baekhyun sebelum mengecup ringan bahu Minri. Lalu menumpukan dagunya disana. Minri membiarkan Baekhyun bergelut manja meskipun dia agak merasa geli dengan deru nafas Baekhyun yang hangat itu.

Hng!” Minri mengangguk, “aku akan membagikan makanan ini pada pekerja di gedung penerbit. Sudah lama aku tidak kesana.”

“Begitu.”

Minri memotong kimbabnya, mengambil salah satu potongan kimbab itu untuk kemudian menyuapi Baekhyun yang masih berada di belakangnya dengan pelukan yang semakin erat saja.

“Bagaimana?” tanya Minri memastikan. Dia menolehkan kepalanya pada Baekhyun–yang sekarang masih mengunyah.

“Enak.” Kemudian Baekhyun menelannya.

“Baguslah.” Minri tersenyum senang, kemudian mengambil wadah yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Tapi Baekhyun membuatnya sama sekali tidak bisa beralih sejengkalpun. “Baek, bisa kau lepaskan aku? Aku tidak bisa bergerak.”

Baekhyun melonggarkan pelukannya, perlahan melepaskannya. Dia mengambilkan wadah yang tadi ingn Minri ambil, lantas membantu gadis itu menyusun kimbabnya, memasukkan ke dalam wadah.

“Aku suka memelukmu.” Ucap Baekhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari susunan kimbab.

Aku juga suka dipeluk olehmu, batin Minri.

Minri mengambil wadah yang lain, lalu menyusunnya. Dia menepuk-nepuk tangannya saat semuanya sudah selesai.

“Ayo sarapan,” ucap Minri. Dia menarik tangan Baekhyun, membawa laki-laki itu ke salah satu bangku di meja makan.

Ada roti selai stroberi yang sudah tersedia di piring Baekhyun, dan susu rasa vanilla di sampingnya. Minri duduk di kursi yang lain. Dengan tangan yang menopang dagunya, Minri memperhatikan Baekhyun.

“Kau tidak sarapan?” tanya Baekhyun.

Minri menggeleng pelan, tidak henti-hentinya tersenyum. Merasa begitu bahagia dengan hidupnya sekarang. Walaupun sebenarnya masih banyak keinginan lain yang ingin diwujudkannya bersama Baekhyun. Tapi dia tetap bersyukur dengan keadaannya sekarang.

“Kau juga harus sarapan.” Baekhyun menyodorkan rotinya yang tersisa setengah di depan mulut Minri. Gadis itu mengendikkan bahu sesaat sebelum membuka mulutnya. Dia mengernyitkan kening sebelum menelannya.

“Aku tidak suka selai stroberi.”

“Tapi kau tetap membuka mulutmu tadi.”

Itu karena kau membuatku kehilangan fokus.

Baekhyun tertawa lantas melanjutkan sarapannya. Sementara Minri mengolesi rotinya dengan selai coklat. Yeah, dia suka coklat–manis, daripada stroberi yang kecut.

Pagi itu cuaca cerah–benar kata pembaca berita–secerah suasana hati Minri. Dan dengan langkah riang Minri pergi ke gedung penerbit.

***

“Kau sudah siap melakukannya, Baek?” tanya pria jangkung pada pria yang lebih pendek—yang sedang bersandar di tepian pembatas jembatan Sungai Han.

“Aku hanya tinggal menunggu waktunya kan? Tentu saja aku bisa.” Baekhyun menatap kosong aliran sungai yang tenang. Angin berhembus pelan, menerbangkan jubah hitamnya yang panjang.

“Tapi kau pernah gagal, hingga kau mendapatkan misi ini.”

“Kesalahan terbesarku. Aku tahu, Yeol.” Baekhyun mendelik pada Chanyeol. Merasa sedikit kesal karena pria itu telah mengungkit-ungkit kesalahannya.

Baekhyun tidak punya teman selain Chanyeol. Semua dewa menganggapnya payah. Nama hebatnya telah tercoreng, namun Chanyeol percaya pada Baekhyun. Dewa juga diciptakan bukan pengendali segala hal. Maka, wajarlah jika dewa bisa berbuat kesalahan.

“Kau tidak punya kerjaan?”

“Aku punya banyak kerjaan, semenjak Dewi Bunga ditugaskan bersamaku. Kau tau ‘kan? Si cerewet itu.”

“Kenapa?”

“Karena dia akan memintaku memeriksa satu per satu bunga yang telah diciptakannya. Memberinya nama. Lalu memprotesku karena nama yang kuberikan tidak sesuai keinginannya.” Chanyeol menggelengkan kepalanya. Dewi Bunga memang sedikit lebih muda (kalau saja umur mereka bisa dihitung).

“Dia datang,” bisik Baekhyun.

Angin berhembus lebih kencang. Tak lama setelah itu cahaya memancar dari langit. Baekhyun dan Chanyeol menghalau cahaya itu dengan tangannya. Kemudian muncullah sesosok peri, dengan mahkota biru muda.

“Park Chanyeol! Seenaknya saja kau bersantai disini. Urus pekerjaanmu di hutan barat.”

“Yayaya, aku pergi dulu, Baek.” Chanyeol berbalik dan berbisik, membuat Baekhyun hampir saja menyemburkan tawanya. “Dia lebih cocok jadi penyihir daripada Dewi.”

***

Minri memasuki gedung penerbit, setelah sebelumnya menyapa ramah para penjaga keamanan yang berjaga di depan gedung. Kedua tangannya penuh dengan rantang makanan.

Dia melewati beberapa meja pekerja. Lalu berhenti di sebuah meja yang penuh dengan peralatan milik perempuan dan hampir semuanya berwarna biru. Dengan santai dia meletakkan rantang makanannya, membuat si pemilik meja memekik kesal–sedikit terganggu.

“YAK!”

Minri tertawa pelan, membuat gadis si pemilik meja mendongakkan kepalanya dari layar monitor.

“Minri Eonni?”

“Benar sekali, dan kau berteriak padaku.”

“Maaf,” ucap gadis itu lantas berdiri. “Mana kutahu kalau kau tidak bersuara apapun.”

“Kau semakin cantik, Youngie.” Kedua gadis itu berpelukan sebentar.

“Kau lebih cantik lagi, semenjak menikah. Aku serius.” Sungyoung melepaskan pelukan, lalu mengintip rantang yang di bawa Minri. “Apa yang kau bawa?”

“Sesuatu yang bisa mengganjal perut. Aku tidak tahu ini enak atau tidak tapi.. coba saja. Baekhyun bilang ini enak.”

“Kudengar ada yang membawa makanan.” Seorang lelaki menyelinap di antara mereka berdua. Tubuhnya yang tinggi itu membuat Minri dan Sungyoung terhuyung.

“Jongin! lama tidak bertemu.” Minri memukul lengan Jongin pelan. Tapi Jongin tidak peduli. Dia terlalu antusias dengan makanan yang dibawa Minri.

“Ya, kau jarang sekali kesini.” Jongin membuka rantang pertama. “Boleh aku membawanya ke mejaku?”

“Tentu. Tolong bantu bagikan pada yang lain, ya.”

“Aku yakin Jongin akan menghabiskan semuanya,” sela seorang pria berperawakan pendek, bermata belo dan rambut gelap. Namanya Kyungsoo.

“Hai Kyung!” sapa Minri.

“Hai Minri. Senang bertemu denganmu.” Kyungsoo mengambil alih rantang yang ada di tangan Jongin, membuat Jongin menatap bingung lantas mendengus, “biar aku yang membagikan pada karyawan lain.”

“Yak! Kau tidak percaya padaku?” ucap Jongin dengan sengit.

Kyungsoo hanya mengendikkan bahu kemudian berlalu. Minri dan Sungyoung saling menatap sebelum tertawa pelan. Kedua orang itu memang jarang terlihat akur. Tapi ketahuilah, mereka adalah teman baik.

***

“Lama tidak bertemu.” Yixing mengulurkan tangannya, kemudian disambut Minri. Minri mengedarkan pandangannya ke ruangan Yixing. Tidak banyak yang berubah semenjak terakhir kali Minri datang—tiga bulan yang lalu.

Yixing adalah direktur utama di perusahaan penerbit itu. Hubungan mereka bisa dikatakan cukup dekat karena Minri merupakan seorang penulis yang membawa nama perusahaan penerbit Yixing dikenal oleh orang banyak.

Meskipun dekat, hubungan mereka tidak lebih dari hubungan rekan kerja. Karena Yixing telah berstatus menikah. Istrinya cantik dan baik. Minri pernah bertemu sekali saat hari pernikahan mereka.

“Duduklah. Kau ingin minum sesuatu?”

“Tidak, terimakasih.” Minri menduduki kursi di depan Yixing. Dia memutar pelan kursi itu hingga membuat dirinya nyaman berada di ruangan itu.

“Uang royalti bukumu sudah kukirim. Kau sudah melihatnya?” Yixing mengambil segelas kopi hangat yang telah tersedia di mejanya kemudian meneguknya pelan.

“Ya. Kau selalu tepat waktu.” Minri tertawa pelan.

“Dengan uang itu kurasa cukup untukmu mencari tempat tinggal baru. Apartment misalnya.”

“Aku sudah merasa sangat nyaman tinggal disana. Dan aku sudah bersuami. Kau ingat? Aku harus membicarakan dengan suamiku juga tentang hal ini.”

“Aku tahu. Dan aku baru sekali bertemu dengannya. Kurasa dia bukan orang yang suka bersosialisasi.”

“Kau benar. Tapi dia orang baik.”

“Tentu saja. Kalau dia tidak baik, mana mungkin kau mau menikah dengannya. Aku benar kan?”

Minri mengangguk pelan. Memikirkannya saja membuat Minri tersenyum. Selain baik, Baekhyun juga sangat tampan, ucapnya dalam hati. Minri merasa begitu beruntung memiliki pria sesempurna Baekhyun.

Well, aku pamit. Jaga dirimu. Salam untuk istrimu, Oppa.”

“Sering-seringlah kemari. Kau membuat para pekerja menjadi bersemangat karena makanan yang kau bawakan.”

“Kau bisa saja.”

***

“Sehun-ssi, disini.” Minri mengangkat lengannya, memanggil salah satu pelayan di restoran favoritnya. Seorang pelayan berbadan tinggi, berkulit seputih susu menghampirinya. Lelaki itu tersenyum saat menghampiri meja Minri.

“Minri-ya,” ucap lelaki itu. “Tak usah sok formal padaku,” sambung Sehun dengan wajah datar.

“Ya, Oh Sehun.” Minri tertawa pelan. Sehun memberikan buku menu pada Minri. Sembari menunggu wanita itu memilih, Sehun mengajaknya mengobrol.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Sehun.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”

“Kau terlihat semakin bahagia.” Komentar Sehun. Minri tersenyum tipis. Tanpa menanggapi ucapan Sehun, Minri menyebutkan pesanannya lalu Sehun mencatat. “Tunggu sebentar.” Sehun kembali beberapa menit kemudian, lalu duduk di bangku depan Minri.

“Sehun-ah, aku tidak mengerti mengapa kau harus bekerja di restoran besar ini yang jelas-jelas milik ayahmu sendiri.” Minri menyomot cake yang berada di depannya, menikmati betapa lembut dan manisnya cake itu saat berada dalam mulutnya.

“Aku bisa menggoda gadis cantik setiap hari,” canda Sehun.

Mwo? Yak!! Kau sudah berpacaran dengan Hana bertahun-tahun—”

Arraseo, arraseo. Kau membuat kita menjadi pusat perhatian karna suaramu itu.” Sehun hampir melayangkan jitakannya pada Minri, namun urung mengingat mereka sudah cukup dewasa untuk tidak bertengkar ala anak sekolah. Sehun dan Minri sudah berteman sejak lama.

“Lantas, apa yang membuatmu tidak ingin berhenti dari pekerjaan ini? Kau bahkan bisa menduduki kursi manajer, tapi kau malah memilih menjadi pelayan.”

“Aku tidak ingin terus-terusan hidup dengan uang orang tuaku. Aku ingin merasakan betapa sulitnya mencari uang dengan keringat sendiri. Hingga aku bisa mengumpulkan uang untuk pernikahanku nanti.”

Minri melengkungkan bibirnya ke bawah. Tangan kanannya meraih tisu yang ada di meja. “Sehun-aaa… kau membuatku terharu.”

“Yak! Aish! Jangan sampai orang-orang mengira aku telah melakukan sesuatu yang salah padamu.”

Minri tertawa pelan. Ya, dia sungguh terharu. Tapi menampilkan drama melankolis di tengah restoran yang ramai bukanlah ide bagus. Minri tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi.

“Bagaimana kehidupan pernikahanmu?”

“Jika setiap pagi saat bangun tidur, dan sebelum lelap aku melihat wajah orang yang kucintai menurutmu apa yang aku rasakan?” Minri tersenyum malu sambil meneguk jus-nya sementara Sehun sempat terbengong beberapa saat sebelum tersenyum. Wanita itu memancarkan kebahagiaan padanya.

“Ah, kau membuatku iri, Minri-ya. Kau membuatku termotivasi untuk segera menikah.”

Uhuk!

Minri seketika tersedak. “Kau tidak sedang memikirkan … hal-hal yang berbau dewasa ‘kan?”

“Aku sudah menjadi pria dewasa, apa masalahnya.” Sehun meleletkan lidah pada Minri, membuat wanita itu gemas. Tangannya benar-benar ingin mencubit Sehun sekarang. “Kau pasti sering melakukan-nya ‘kan?”

“Oh Sehun! Singkirkan topik pembicaraan itu!!”

—-

“Aku pulang…” Minri melepaskan sepatunya kemudian menaruhnya di rak. Aroma daging panggang yang entah berasal dari mana membuatnya menelan ludah. Saat di Kafe dia hanya memesan sepotong red velvet dan jus jeruk. Minri menghampiri sumber bunyi desisan penggorengan, di dapur dia menemukan Baekhyun memakai apron dan memegang spatula.

“Kau sudah pulang? Ayo makan bersama.”

Minri duduk di meja makan. Dia memperhatikan Baekhyun yang sedang memunggunginya. Pesona pria itu semakin bertambah saja. Dia memang tipikal suami idaman. Suatu hari Baekhyun pasti memasak untuk anaknya juga.

Anak?

“Minri-ya, kau melamun?”

“Ah, i-iya?” Minri mengedipkan matanya dengan cepat. Sejak kapan Baekhyun duduk di depannya dan menatapnya seperti itu.

“Aku tanya padamu, bagaimana aktivitasmu hari ini?” Baekhyun menyumpit daging panggang dari penggorengan ke atas piring Minri. Melihat wanita itu sama sekali tidak menyentuh sumpitnya, Baekhyun berinisiatif menyuapinya.

“Sangat menyenangkan. Akhirnya aku bertemu dengan orang-orang yang kurindukan.”

Minri membuka mulutnya saat Baekhyun menyodorkan sepotong daging di depan mulutnya. Matanya menatap Baekhyun penuh cahaya. Astaga! Enak sekali, batinnya.

“Kau suka?”

Minri menganggung cepat, lalu mengambil sumpit di samping piringnya. Lantas makan dengan lahap. Baekhyun tertawa pelan melihat hal itu.

“Baek, apa kau mau jalan-jalan sore ini?”

“Kemana?” tanya Baekhyun, tampak tidak tertarik.

“Kemana saja.”

“Baiklah.”

“Yaey! Kau memang terbaik.”

Waktuku sudah tidak banyak, gumam Baekhyun.

Maka sore itu ketika mentari berwarna jingga cerah Baekhyun dan Minri berjalan di sekitar taman. Seperti biasa, Baekhyun akan berpakaian warna hitam, tertutup rapat dengan leher yang tinggi hingga yang telihat hanyalah wajahnya saja.

Minri menatap keluarga kecil yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri, sedang bersenda gurau. Bibirnya membentuk seulas senyum tipis. Tangan kanannya menarik tangan Baekhyun untuk mendekat pada keluarga kecil itu.

Wush~

Tepat ketika mereka berada di depan keluarga kecil itu, angin berhembus membuat suasana mendadak canggung.

“Apa mereka anak kembar?” tanya Minri pada ibu yang memegang kereta dorong yang berdampingan. Ibu dari anak-anak itu menatap Baekhyun tanpa kedip membuat Minri berdeham. “Ah, ini suami saya.”

Wanita itu membungkuk kecil. Baekhyun tidak tersenyum sedikitpun. Dia menunduk memperhatikan anak-anak yang berada dalam kereta dorong. Tak lama kemudian, kedua anak itu menangis hampir bersamaan.

“Eh, kenapa mereka menangis?”

Saat Baekhyun mendekatkan tangannya untuk mengusak kepala anak itu, tangisnya semakin nyaring.

Anak kecil tahu kalau aku bukan manusia.

Ibu dari anak kembar itu menenangkan anak-anaknya kemudian pamit sementara Baekhyun dan Minri mengambil jalan yang berlawanan arah.

“Anak-anak tadi manis sekali ‘kan?” Minri menatap Baekhyun dengan senyum manisnya. Baekhyun tidak menjawab. Dia hanya merangkul pinggang Minri lalu melanjutkan jalan-jalan mereka.

Langit semakin gelap, perlahan tapi pasti mentari mulai meredup kemudian digantikan oleh lampu-lampu taman yang berwarna warni. Minri menghadapkan tubuh Baekhyun padanya. Kedua kakinya menjingkit kecil.

Baekhyun memahami situasi itu, hingga dia menunduk dan menyentuhkan bibir mereka. Degupan jantung Baekhyun terasa lebih keras dan lebih keras lagi membuatnya harus menjauh dan terbatuk kecil.

“Kau tidak apa-apa? Apa kau sakit?” Minri memegang bahu Baekhyun. Selama bersama, Baekhyun tidak pernah terserang penyakit apapun.

Baekhyun pun mulai merasakan keanehan pada dirinya. Hingga terlintas di pikirannya bahwa waktunya semakin dekat. Dia harus bersiap-siap.

***

“Sebenarnya kau mau kemana? Kita sudah tiga kali memutari daerah ini.” Chanyeol mengekori rekan kerjanya dengan bibir menggerutu. Si wanita cerewet yang cantik itu terus membawanya ke tempat yang aneh di sudut Bumi. Chanyeol bisa saja membiarkan wanita itu bekerja sendirian,tapi Chanyeol tidak akan pernah bisa membantah perintah dari Dewa langit—untuk bekerja bersama wanita itu.

“Aku menebarkan benih mawar biru beberapa minggu yang lalu. Harusnya sekarang sudah tumbuh.” Dewi Bunga menyusuri sebuah daerah yang agak jauh dari keramaian. Banyak bunga yang tumbuh di daerah itu. Ada beberapa rumah sederhana dengan jarak yang cukup lengang.

Dengan perpindahan sebesar kecepatan cahaya, kedua makhluk itu tidak akan pernah terlihat keberadaannya. Mereka bukan sosok yang bisa dilihat oleh manusia. Satu hal menguntungkan bagi mereka. Karena kalau saja manusia melihat mereka, pastilah mereka disangka orang yang tidak waras karena pakaian yang mereka kenakan.

“Disana!”

“Yak! Tunggu aku.”

Wush!

Angin berhembus saat keduanya seolah berlomba di udara. Dewi Bunga berhenti di depan sebuah rumah. Populasi mawar biru tumbuh subuh di halaman rumah sederhana itu. Wanita itu tersenyum puas dengan hasil pekerjaannya.

“Bagaimana kau menyebut nama bunga langka itu, Park Chanyeol?”

Chanyeol menghampiri tanaman yang menawan itu, lalu mendekatkan wajahnya menghirup aromanya. “Ocean Rose.”

Dewi Bunga terdiam sembari menatap Chanyeol.

Wow. Kali ini kau memberikan nama yang tepat. Bagus sekali. Aku suk—“

Hah?!!! Si-siapa wanita itu?” Chanyeol terbengong melihat seorang gadis yang berjalan ke arahnya atau tepatnya ke rumah yang halamannya ditumbuhi mawar biru. Tangan kanannya menunjuk seorang gadis yang masih beberapa meter berada di belakang Dewi Bunga, kemudian menembus Dewi Bunga seolah melewati angin. “Sejak kapan kau bisa menggandakan diri?” tanya Chanyeol kepada Dewi Bunga.

“Apa maksudmu, Chanyeol?”

“Cepat kesini!”

Dalam satu kedipan, Dewi Bunga berdiri di samping Chanyeol, berhadapan dalam jarak beberapa meter dengan gadis yang di tinggal di rumah itu.

“Dia… dia….”

“Kalian memiliki wajah yang serupa!” Sambung Chanyeol dengan lantang. Gadis manusia berambut sepunggung itu berhenti sesaat sembari menoleh ke belakang, karena samar-samar dia mendengar suara orang bicara. Dia sempat mengendikkan bahu, lalu meneruskan perjalanannya. Gadis itu berjalan lurus melewati Chanyeol dan Dewi Bunga.

Chanyeol menggeleng tidak percaya. Bahkan dalam jarak dekat, detail kedua wanita itu benar-benar mirip.

“Aku pulaaang….” Teriak gadis itu saat ia memasuki rumahnya.

Sungyoungie Nuna! Mana buku musik yang kutitipkan padamu?” suara lelaki remaja menyahut.

“Astaga Taehyung! Nuna-mu baru tiba. Bukannya menanyakan keadaanku lebih dulu, kau malah mementingkan buku musikmu. Ish! Menyebalkan.

“Dan yang lebih mengejutkan, Dewi Bunga, cara bicara dan sifat kalian juga mirip.”

***

“Youngie…”

Eonni, kau belum tidur?”

Ne, aku tidak bisa tidur. Baekhyun tertidur di sofa dan sekarang aku tidak tahu harus membangunkannya atau membiarkannya tidur semalaman di sana.”

Kalian tidak sedang bertengkar ‘kan?” tanya Sungyoung.

“Tidak. Tapi akhir-akhir ini agaknya kami banyak kehilangan momen bersama.”

Dia tidak mungkin punya wanita lain ‘kan?” Sungyoung bicara dengan sangat pelan, nyaris berbisik tapi telinga Minri masih bisa mendengar dengan jelas. Pembahasan yang terlalu sensitif untuk pasangan yang sedang dilanda kegelisahan.

“Katakan padaku kalau kau hanya bercanda,” ucap Minri nyaris putus asa.

Eonni mian,” terselip rasa penyesalan dalam nada bicara Sungyoung. “Aku tidak bermaksud menuduh Baekhyun yang bukan-bukan. Sungguh. Ya, aku hanya bercanda. Tenang saja. Hal itu tidak akan pernah terjadi.”

Minri tertawa pelan. “Bicaramu cepat sekali.” Komentarnya. “Ada yang ingin kukatakan padamu, entah ini pantas dibicarakan atau tidak, aku…”

Ada apa Eonni, kau membuatku penasaran.

“Aku tidak pernah bercinta dengan suamiku.”

Apa?! Yang benar saja!!” Minri menjauhkan ponselnya dari telinga saat dirasa suara Sungyoung cukup melengking dan nyaris membuat gendang telinganya terkoyak.

“Pelankan suaramu! Ish!”

Maaf,” kali ini Sungyoung bicara lebih pelan. “Apa Eonni serius?!

Minri hanya menggumam. Kemudian Sungyoung bicara panjang lebar. Dia tidak menyangka bahwa Baekhyun tidak pernah menyentuh Minri. Tidak sampai berhubungan layaknya suami istri.

Minri tidak pernah mengungkit ataupun mempermasalahkan hal itu. Baekhyun pasti punya alasan. Pasti. Dan Sungyoung benar, Minri harus menanyakannya nanti.

Kreek~

Pintu kamarnya terbuka. Sosok Baekhyun dengan rambutnya yang berantakan berdiri di depan pintu. Minri mengedip cepat, kemudian memutus panggilan dengan Sungyoung. Dia menjadi sedikit sangsi kalau saja Baekhyun mendengar pembicaraannya dengan Sungyoung tadi.

“Baekhyun,” panggil Minri.

“Aku ketiduran di sofa lagi ya,” ucap Baekhyun. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kasur lalu menghempaskan tubuhnya pelan di samping Minri.

“Mungkin kau kelelahan.” Minri merebahkan tubuhnya setelah dia meletakkan ponselnya di atas nakas.

Tubuh mereka saling berhadapan. Kesunyian melanda beberapa saat sebelum Baekhyun mengulurkan tangannya, melingkar di pinggang Minri. Kemudian bibirnya mengecup kening wanita itu.

“Tak ada wanita lain di hidupku.”

Minri melebarkan matanya. Sungguh, keyakinannya semakin kuat kalau Baekhyun memang telah mendengar pembicaraannya dan Sungyoung—entah mulai mana.

“Baek, aku tidak bermaksud menuduhmu berselingkuh,” ucap Minri.

“Stt… tidurlah.” Baekhyun mengusap punggung Minri membuat wanita itu perlahan terbawa ke dunia mimpi. Kehangatan tubuh Baekhyun yang selalu menemaninya saat tidur sungguh membuat tidurnya berlipat-lipat lebih nyenyak.

“Mimpi indah, suamiku. Aku mencintaimu,” gumam Minri sebelum dia benar-benar terlelap.

Baekhyun memegangi dadanya yang terasa sakit. Sebuah suara menggema di kepalanya, mengatakan padanya bahwa tiga hari lagi Minri berulang tahun. Itu berarti waktunyapun tersisa tiga hari sebelum dia menjalankan misinya.

Baekhyun menatap wajah wanita itu—wajah cantik yang tersenyum dalam tidur. Baekhyun kehilangan kepercayaan dirinya. Perjanjian untuk mengambil jiwa wanita di depannya ini, tidak lagi mudah baginya. Tapi Baekhyun harus melakukannya kalau dia ingin dunianya kembali. Dan Baekhyun harus benar-benar memilih.

***TBC***

HAAIII KETEMU LAGI ^^/ aku gak jadi bikin oneshoot, soalnya kurang greget kalo langsung tamat. Hehehe seneng dong ya. Hip Hip Huraaay!!/?

Semua tokoh dan penggambaran yang macem-macem, aneh, di luar akal, semuanya cuma imajinasiku yang terbatas ini. Maapkeun /\

Mau di lanjutin._.? Ya kalo gak ada halangan aku post lanjutannya seminggu kemudian. Keep support ya ;]

Dan aku ucapin makasih banyak buat doanya di kotak komentar prolong. Maaf ga sempet balesin. Tapi makasiiiih :’)

Silakan berkicau di kotak komentar. Sampai jumpa di part selanjutnya. Selamat menebak nebak akhir ceritanya. Hahahaa

Sayang kalian semuaaa!!

©Charismagirl, 2015.

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

109 thoughts on “Angel of Death [1/2]

  1. ini bikin deg2an aja….
    baekhyun nya bener2 beda dari yang sebelum2nya..
    tpai bikin greget juga…
    dar gimanaaa gt,,,hehehe
    lanjut ya chingu…
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s