Angel of Death – [2/2] END

AoD

Angel of Death – [2/2] END

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Rating : PG-15

Length : Twoshoot

Genre : Romance, fantasy, marriage-life, angst.

Note : do not copycat without my permission. Enjoy!!

Link : prolog | part 1

Kau membangun kebahagiaan dalam hidupku, maka saat kau pergi, segalanya dari diriku harus ikut bersamamu.

 *last part*

Minri memang tidak mencurigai Baekhyun berselingkuh. Tapi sudah sangat lama sekali Minri penasaran dengan pekerjaan Baekhyun. Mungkin agak konyol ketika seorang istri tidak tahu apa pekerjaan suaminya, tapi, kenyataannya demikian. Baekhyun menyimpan rahasianya terlalu rapat dan rapi hingga Minri tidak bisa menyetuhnya sama sekali.

Maka di pagi itu, Minri menyiapkan beberapa hal untuk melakukan penyelidikan. Salah satu keahlian yang dapat membawanya menjadi penulis seperti sekarang adalah berimajinasi tinggi. Minri juga telah banyak membaca novel bertemakan agen dan detektif. Beberapa bisa dijadikannya referensi untuk mengungkapkan rasa ingin tahunya. Dia mempelajari beberapa hal.

Pertama yang harus dilakukannya adalah menyelipkan alat pelacak agar ia dapat dengan mudah menemukan keberadaan Baekhyun. Minri menyelipkan alat pelacaknya di kantong mantel Baekhyun. Untungnya, Baekhyun sama sekali tidak mencurigai hal itu.

Minri sedikit merubah penampilannya. Dia melakukan penyamaran dengan memakai baju tertutup, topi—dengan rambut yang digulung, dan kacamata berkaca transparan karena kalau dia memakai kacamata hitam penampilannya akan kentara dengan orang-orang.

Saat Baekhyun pamit keluar—tidak lupa ciuman di kening Minri—Minri pun juga ikut bersiap. Dia mengikuti Baekhyun dengan pelan dan hati-hati. Mereka melewati jalan menuju pabrik lama yang sudah tidak beroperasi. Minri yang semakin penasaran itupun mempercepat langkahnya.

Tak lama kemudian Baekhyun berhenti, membuat Minri refleks bersembunyi di balik dinding beton. Tidak ada yang menarik dari tempat itu. Hanya hamparan tanah kosong dan beberapa alat pabrik yang sudah tidak terpakai. Baekhyun hanya berdiri sembari melipat kedua tangannya di depan dada seperti menunggu sesuatu atau… seseorang.

Seorang wanita bergaun panjang dengan warna merah muda lembut datang dari sisi kanan Baekhyun. Wanita itu sangat bersinar di bawah matahari. Terlalu cantik dan kontras dengan latar pabrik tua. Dia menghampiri Baekhyun, lantas tersenyum.

Baekhyun tidak sedang bekerja. Dia hanya melakukan pertemuan rahasia dengan wanita asing itu. Siapa dia?

Baekhyun meminta wanita itu mendekat. Mereka terlibat pembicaraan yang serius. Wanita itu lagi-lagi tersenyum. Semuanya tampak biasa saja. Sampai ketika Baekhyun memeluknya. Pikiran Minri mendadak berkabut. Dia tidak punya petunjuk yang memberitahukan identitas wanita cantik itu.

Baekhyun tidak pernah menceritakan soal keluarganya, teman atau kerabat dekat. Yang Minri tahu Baekhyun hanyalah pria yang tersesat, yang berasal dari tempat yang jauh sekali.

Dan satu hal yang membuat Minri merasa terhempas dan tidak berarti, Baekhyun berciuman hangat dengan wanita itu.

***

“Baekhyun… jadi, kau ingin melindungi manusia itu daripada dirimu sendiri? Apa kau tidak ingin lagi menjadi Dewa yang dihormati seperti dulu? Apa kau begitu mudahnya menyerah memperjuangkan kejayaanmu kembali?”

“Tidak… tidak… aku tetaplah Dewa kegelapan. Aku diciptakan untuk merenggut kebahagiaan. Aku adalah sumber kesengsaraan. Persetan dengan rasa cinta. Aku tidak butuh itu semua!”

“Kalau begitu bergegaslah. Jemput jiwa wanita itu. Maka Dewa langit akan kembali menjadikanmu Dewa seutuhnya.”

Baekhyun bicara dengan seorang Dewa melalui kekuatan pikirannya. Begitu mengganggu dan membuatnya gelisah.

Baekhyun tahu bahwa akhirnya dia akan menghancurkan kebahagiaan Minri. Dia tahu dia akan merenggut kehidupan Minri, membuat segala perjuangan hidup wanita itu menjadi sia-sia. Dan membuat perasaan cinta Minri padanya sudah tidak lagi berarti.

Baekhyun harusnya mempersiapkan diri untuk kembali ke kehidupannya yang semula. Yang penuh kegelapan, rasa sakit dan kesengsaraan. Tidak seharusnya dia tersenyum dan tertawa lantas menjadi manusia lemah yang dikendalikan oleh cinta.

Ada alat pelacak dalam bajunya dan segala rencana yang disusun Minri telah Baekhyun ketahui namun Baekhyun sama sekali tidak menghalangi wanita itu melakukannya.

Baekhyun memanggil salah satu temannya. Dewi Bintang. Meminta bantuan Dewi Bintang untuk melakukan sesuatu agar Minri membencinya. Karena dengan begitu Baekhyun merasa lebih tenang saat merenggut jiwa wanita itu.

“Manusia yang kau ceritakan sedang mengawasi kita,” ucap Dewi Bintang.

“Kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan,” ucap Baekhyun lantas melangkah mendekat hingga mereka berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.

“Kau akan membuatnya terluka. Dia telah jatuh terlalu dalam di lembah cintamu.”

“Diamlah.” Baekhyun merasa goyah untuk mengangkat lengannya. Kenapa? Kenapa dewa kematian seperti Baekhyun harus lemah hanya karena seorang wanita, seorang manusia.

“Jujur saja. Kau memiliki perasaan cinta padanya kan?”

“Tidak mungkin.” Dengan sekali gerakan Baekhyun memeluk wanita di depannya dengan erat. Mendekapnya. Seolah wanita itu sumber kebahagiaannya.

Baekhyun menjauhkan tubuhnya sedikit, memberi jarak. Lalu dia mendekatkan wajahnya.

“Apa yang kau lakukan?” bisik Dewi Bintang. “Berciuman tidak ada dalam daftar perjanjian kita.”

“Bersikaplah seolah sungguh terjadi. Dia pasti mengira kita berciuman.”

Baekhyun bisa mendengar isakan tertahan dari wanita itu meskipun jarak mereka cukup jauh. Dengan mata terbuka, air mata mengalir, jatuh ke bumi. Namun suara hatinya begitu menyayat hati. Menyesakkan.

Apa aku melukai perasaannya terlalu parah? Apa aku telah mematahkan hatinya berkeping-keping?

***

Pintu perlahan terbuka, pemilik rumah itu memasuki rumahnya dengan langkah terseret. Wanita itu melemparkan tasnya ke sofa, lantas berjalan menuju kamar. Saat pintu kamarnya tertutup. Punggungnya menyandar di pintu, lalu merosot ke lantai. Ia melepaskan topi hingga rambutnya yang panjang tergerai. Lalu melemparkan topinya ke sembarang arah.

Dengan kaki yang ditekuk, wanita itu terus mengeluarkan air mata tanpa suara. Kesalahan apa yang ada pada dirinya hingga Baekhyun membutuhkan pelukan wanita lain. Minri memang tidak secantik wanita yang dipeluk Baekhyun tadi. Tapi apa kebersamaan mereka selama ini sudah tidak ada artinya? Sejak kapan Baekhyun mempunyai wanita lain?

Minri berlama-lama menangis dalam kamarnya. Hingga waktu berlalu tanpa disadarinya. Dinding yang bisu menemaninya menghabiskan detik-detik kepedihan. Jam dinding seakan meledeknya betapa menyedihkannya dia saat ini.

Dia belum bisa membayangkan bagaimana harus bersikap saat bertemu Baekhyun nanti—kalau memang pria itu pulang. Pandangannya pada pria itu seketika berubah. Baekhyun telah membohonginya. Dan Minri tidak mengerti mengapa selama ini Baekhyun bersikap seolah menyayangi Minri sepenuh hati, menjadikannya wanita paling beruntung di dunia. Sangat sulit mencari jawabannya kecuali Minri menanyakannya pada Baekhyun langsung.

Baekhyun belum pulang, bahkan ketika mentari telah digantikan bulan.

***

“Minri-ya, apa kau di dalam?”

Minri keluar dengan mata yang sedikit bengkak. Dia harap Baekhyun tidak menyadari hal itu. Minri bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Jadi dia menghampiri Baekhyun, duduk di samping pria itu, di sofa ruang tengah.

Perlu kekuatan yang besar untuk mengangkat kepala dan menatap pria itu. Baekhyun bisa saja membaca ke dalam matanya tentang apa yang telah diketahuinya. Jadi, Minri memilih untuk menunduk, menatap bunga tulip plastik di atas meja.

“Darimana saja, Baek? Tumben baru pulang.”

“Pekerjaanku sedikit lebih banyak hari ini.”

“Oh.”

“Kau kenapa? Matamu sembab,” tanya Baekhyun setelah dia melepaskan mantelnya.

“Aku baik-baik saja. Sudah larut malam, aku ingin tidur.” Minri beranjak dari sofa, lalu tangan Baekhyun mencekal lengannya, cukup erat hingga berbekas. “Lepaskan aku.”

“Kau tampak berbeda.”

Harusnya kau katakan hal itu pada dirimu sendiri.

“Lepaskan aku,” ucap Minri, lagi.

Baekhyun menarik tangan Minri lebih keras hingga tubuh wanita itu tersentak. Baekhyun berdiri dan menatap Minri—lebih tepatnya memaksa wanita itu menatapnya.

Katakan apa yang harusnya kau katakan! Suara hati Baekhyun menjerit begitu keras. Baekhyun harus mendengar pernyataan secara langsung bahwa wanita itu membencinya atau ingin meminta berpisah dengannya.

“Kau mengkhianatiku.” Minri terus mempertahankan tatapannya meskipun air mata mulai menggenang. Dengan bibir bergetar, dia kembali mengulang kalimatnya. “Kau bohong padaku. Kau… kau punya wanita lain selain aku!”

Mengapa air mata wanita itu begitu menyakitkan di mata Baekhyun? Seolah pedang tajam yang mengancam angkuh di depan lehernya. Baru kali ini ia benci melihat tangisan. Karena wanita itu membuatnya goyah.

“Apa selama ini kau pernah menanyakan perasaanku?” tanya Baekhyun.

Bagai batu besar yang telah menghantam hatinya yang retak, Minri merasa pecah berkeping-keping. Matanya berkedip sekali membuat air mata mengalir begitu cepat di pipinya.

“Kau benar. Aku memang bodoh.” Minri menunduk dengan pandangan kosong. “Kau bahkan tidak pernah mengatakan bahwa kau mencintaiku.”

“Park Minri!” Baekhyun mendekatkan wajahnya. Mata pria itu tampak tersiksa. Ia berperang pada dirinya sendiri. “Katakan kalau kau membenciku!”

Minri tersenyum pahit. “Dengan begitu kau akan tenang meninggalkanku? Perasaan cinta terlalu mulia untuk dipermainkan. Sekali aku memutuskan untuk mencintai, maka sulit bagiku seketika membenci.”

“Kau tidak harusnya mencintaiku.”

“Kau yang membuatku terus menumbuhkan perasaan itu!! berhentilah memintaku membencimu!!” Minri menarik tangannya yang sudah terasa keram. “Lepaskan aku.”

Baekhyun melepaskan tangannya lalu memegang tengkuk wanita itu. Dia mencium bibir wanita itu dengan kasar. Sementara Minri tidak ada daya untuk menndorong pria itu. Sampai pada ciuman itu melembut dan Minri merasakan kepedihan. Ada rasa sakit yang tidak bisa dia ceritakan.

Suasana berubah menghangat. Gairah menyatu dalam keringat. Dalam sentuhan pria itu, dia tahu Baekhyun masih menginginkannya. Baekhyun memiliki perasaan yang sama. Tapi ada hal yang tidak diketahuinya yang membuat Baekhyun harus mengorbankan perasaannya sendiri.

Apa rahasia terbesar Baekhyun sebenarnya?

***

Pagi kembali menyambut. Minri membuka matanya yang terasa berat. Ada rasa nyeri di beberapa bagian tubuhnya. Ingatannya melayang pada kejadian tadi malam membuatnya seketika merasakan kehangatan di wajahnya.

Dia tahu, Baekhyun menyentuhnya berawal dari keadaan berkabut emosi. Tapi kenyataan yang membuat hatinya berbunga, Baekhyun mengatakan bahwa dia tidak pernah mencintai wanita manapun. Baekhyun telah meluruskan bahwa wanita yang dilihat Minri bukan wanita simpanan Baekhyun atau siapapun. Sesederhana itu, Baekhyun menghancurkan rencananya untuk membuat Minri membencinya. Sesederhana itu pula Minri kembali mempercayai Baekhyun sebagai suami terbaik untuknya.

Pria itu menguasainya, melakukan segalanya dengan rasa cinta. Bahkan, saat gelombang percintaan mereka pada puncaknya, Baekhyun menyebut namanya.

Minri membalikkan badannya menghadap Baekhyun. Wajah pria itu tampak damai saat dia sedang tidur. Tangan kanannya terangkat menyentuh pipi pria itu. Pagi ini, pagi pertama Minri bangun lebih dulu, dan melihat Baekhyun tidur.

Minri cukup terkesiap saat mata pria itu perlahan terbuka, tapi Minri sama sekali tidak menghentikan kegiatannya. Tatapan teduh pria itu membuat Minri merasa sejuk. Minri merapatkan tubuhnya, lalu memeluk pria itu.

“Selamat pagi, Minri.”

“Selamat pagi, Baekhyun.”

Baekhyun memejamkan matanya lagi, membuat Minri tertawa pelan.

“Aku harus pergi ke supermarket hari ini. Kalau kau masih mau tidur, terserah. Akan kusiapkan sarapan di atas meja makan nanti.”

Minri beruntung karna Baekhyun terus memejamkan matanya, karena keadaannya yang sangat memalukan untuk dilihat. Minri meraih bajunya lantas memakainya sebelum berlari ke kamar mandi.

Baekhyun masih memejamkan mata meskipun Minri telah selesai mandi dan pamit pergi.

***

Kau melanggar kesepakatan.

Kau meniduri wanita itu, maka ketahuilah kau sudah tidak punya kekuatan, Byun Baekhyun.

Maka sia-sia saja kau kembali menjadi malaikat.

Kau lemah. Kau memang payah.

Minri membeli keperluan untuk membuat pesta kecilnya. Wanita itu bersenandung sambil memilah-milah barang yang ada di supermarket. Seorang pria memperhatikannya dari jauh. Aura kegelapan mengelilingi pria itu. Minri berbalik, merasa ada yang memantaunya namun mengendikkan bahu saat tidak ada siapapun disana.

Pria itu mengangkat jarinya menunjuk Minri. Wanita itu mendorong kereta belanjaannya dan dia akan melewati tumpukkan daging kaleng yang sangat tinggi. Tumpukkan itu mulai goyah. Minri melupakan satu hal, maka dari itu dia mundur dua langkah untuk mengambil krim kue.

Praang Praang!!

Minri membelalakan matanya saat melihat kaleng daging berjatuhan di sampingnya, lalu lemari besi di seberang kaleng itu ikut jatuh membuat keadaan kacau balau. Kalau saja Minri melewati area itu, mungkin saja dia akan cidera berat.

Pria yang memperhatikan Minri, menghilang dalam sekejap.

Minri bernafas lega setelah kejadian di supermarket telah beres. Meski sempat membuatnya shock, beberapa orang yang berada disana ikut menenangkannya. Minri yang penasaran mengapa kaleng yang tampak stabil itu bisa sampai jatuh begitupun lemari di depannya, ikut melihat CCTV yang dipasang tidak jauh dari tempat kejadian. Dari penglihatannya, tidak ada suatu materi apapun yang berpotensi menyebabkan peristiwa itu. Bahkan Minri meminta tayangan peristiwa beberapa detik itu diulang beberapa kali. Dia tetap tidak menemukan jawabannya.

Minri sedang berada di jalan dengan membawa dua kantong penuh belanjaan di kedua tangannya. Wanita itu menuju halte yang tidak jauh dari supermarket. Minri tersenyum saat sebentar lagi dia akan mencapai halte. Ada beberapa orang yang juga menunggu disana. Tidak ada kursi yang tersisia hingga Minri harus rela menunggu sambil berdiri.

Wanita itu meletakkan kantong belanjaannya di trotoar, kemudian memijat lengannya yang pegal. Meskipun lelah, senyum di wajahnya tidak pudar saat dia memikirkan kebahagiaan telah menantinya di rumah.

“Nona, sepertinya itu kaleng minuman Anda yang terjatuh.”

Seorang pelajar berseragam bicara pada Minri membuat Minri menoleh ke belakang. Minri memang membeli minuman jus stroberi tadi.

“Ah iya, terimakasih.”

Minri berjalan beberapa meter ke belakang mengambil minuman itu. Dia menggengamnya sambil tersenyum. Minuman kesukaan Baekhyun, batinnya.

BRUUUKKK!!

“AAAAAA!! AWAAAS!!”

“ASTAGAA!!”

Minri seketika menoleh saat suara jeritan dan benda berat yang jatuh begitu mengejutkannya. Billboard jatuh tepat di tempatnya tadi berdiri. Padahal sama sekali tidak ada angin kencang. Beberapa orang disana tampak terkejut dan memilih segera menyingkir saat petugas keamanan sebuah toko menghampiri tempat kejadian. Minri pun berlari menghampiri tempat itu dan mengambil kantong belanjaannya yang untungnya tidak terkena jatuhan papan Billboard yang besar itu.

“Kenapa bisa terjadi, Tuan?”

“Saya rasa tiangnya memang sudah berkarat, Nona. Anda tidak apa-apa?”

Minri membungkuk kecil, lalu meninggalkan tempat itu dengan hati yang gelisah.

***

“Wanita yang kau nikahi itu, mendapat peristiwa gambaran kematian dari dewa kematian yang menggantikanmu. Atas perintah Dewa langit.”

“A-apa?! Mereka tidak boleh menyakiti Minri?!”

“Tenanglah, mereka hanya ingin mempermudahmu.”

“Mempermudahku? Yang benar saja. Yeol, kumohon, bantu aku. Aku tidak bisa berbuat banyak dengan keadaanku yang lemah ini.”

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa, Baek. Aku tidak boleh mencampuri urusan manusia.”

“Wanita itu sedang berurusan dengan para Dewa. Kau tahu itu.”

“Maafkan aku.”

….

Sreet!

Baekhyun bangun tiba-tiba dari sofa dengan nafas yang terengah-engah. Dia baru saja bicara dengan temannya melalui pikirannya membuat kepalanya terasa pening. Dengan berusaha keras Baekhyun kembali ke kasurnya. Dia tidak punya selera untuk menyentuh makanan yang telah Minri siapkan di atas meja. Kesehatannya mendadak memburuk. Detak jantungnya pun melemah.

Seberkas cahaya menyilaukan bersinar dari luar jendela, kemudian angin berhembus. Sesosok jangkung yang dikenalnya, melayang di depannya.

“Baek, kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali.”

“Aku sudah tidak bisa kembali, Yeol. Aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku akan menghabiskan waktuku disini.” Baekhyun menarik selimutnya hingga menutupi dada.

“Kau masih bisa menjadi seperti semula. Kau bisa memulainya dari awal dengan berguru pada Dewa langit. Memohonlah padanya.”

“Kau yakin?”

“Tentu. Kau harus kembali, Baek.”

Chanyeol mengeluarkan botol gelap dari jubahnya. Dia meletakkan botol itu di atas nakas. Baekhyun mengerutkan keningnya sembari menatap benda itu.

“Aku mengambilkan tetesan embun dari taman langit untukmu. Kau bisa memiliki kekuatanmu lagi tapi hanya hingga fajar tiba. Manfaatkanlah waktu dan kekuatanmu untuk mengambil jiwa wanita itu. Dengan begitu, hukumanmu selesai dan kau kembali menjadi malaikat.”

“Aku pulaaaang…”

Suara Minri terdengar hingga kamar. Baekhyun menoleh pada botol yang diberikan Chanyeol, lalu tak lama kemudian Chanyeol pamit dan menghilang hanya dalam kedipan.

“Baek, kukira kau pergi.”

Minri menghampiri Baekhyun, lalu duduk di tepi kasur. Wanita itu menatap Baekhyun dengan kening berkerut. Dia menyadari wajah Baekhyun yang pucat, seketika membuatnya khawatir.

“Kau sakit?” Minri menempelkan punggung tangannya di dahi Baekhyun, namun tidak ada yang salah dengan suhu tubuh pria itu.

“Aku baik-baik saja.” Baekhyun menggenggam tangan Minri dengan kedua tangannya, lalu tersenyum. “Oh iya, tumben sekali kau ke supermarket pagi-pagi.”

“Itu…” Minri menyelipkan rambutnya ke belakang telinga—sebuah kebiasaan yang dilakukannya saat dia merasa malu. “Aku ingin membuat pesta kecil di rumah ini. Memang sedikit kekanakan tapi, aku ingin membagi kebahagiaanku saat umurku bertambah. Apa boleh, Baek?”

Baekhyun mengusak kepala Minri. Rasanya Baekhyun ingin menangis. Wanita itu tidak akan bisa mewujudkan keinginannya jika hari itu Baekhyun mengambil jiwanya. Baekhyun menarik wanita itu ke dalam pelukannya, menyentuh helaian rambut wanita itu yang terurai.

“Ya, tentu saja boleh. Aku akan membantumu menyiapkan pesta kecil di hari istimewa-mu itu.”

“Terimakasih, Baekhyun. Kau memang pria terbaik setelah Ayah. Aku beruntung memilikimu dalam hidupku.”

Dalam keheningan, tanpa Minri tahu, Baekhyun meneteskan air matanya. Baekhyun telah memantapkan pilihannya. Dan dia tidak akan menyesali pilihannya itu.

***

“Baekhyuniee~yaa! Krim kuenya tinggal sedikit, kenapa kau mencolekan ke wajahku. Ish!”

Baekhyun tertawa pelan saat Minri terus-terusan mengoceh dengan krim di hidung dan pipinya. Wajahnya tampak lucu dan manis.

Kedua orang itu sedang membuat kue di dapur dan malah membuat keadaan dapur berantakan. Bubuk tepung bertaburan di atas meja hingga ke lantai. Belum lagi yang ada di baju mereka berdua.

Besok adalah hari dimana pesta kecil yang Minri inginkan akan terwujud. Mereka telah menyulap rumah sederhana itu menjadi ramai. Berbagai dekorasi bergantungan di dinding dan atap—di dominasi dengan warna merah muda.

“Akhirnya selesai!” Minri bersorak gembira, kemudian mencium bibir Baekhyun dengan gemas. Baekhyun menahan kepala wanita itu saat dia melepaskan ciumannya hingga mereka berhadapan dengan dahi yang saling menempel.

Minri mengedip lambat. Waktu seakan berhenti beberapa saat ketika mereka bertatapan. Lalu Baekhyun mencium kening Minri.

“Aku sayang padamu.”

Minri melingkarkan kedua tangannya di tubuh Baekhyun. Dia tidak ingin kehilangan momen itu. Maka dari itu dia membiarkan dirinya terhanyut oleh waktu dalam pelukan pria yang dicintainya itu.

***

“Waktunya hampir tiba Byun Baekhyun. Dan kau tidak mempersiapkan apapun.” Sesosok pria berjubah putih mondar-mandir di depan Baekhyun dengan tangan berlipat di dada.

“Saya sudah memutuskan untuk melindungi wanita itu.”

Jika kau tidak mengambil nyawanya, kau akan diasingkan ke tempat yang jauh. Atau mungkin dilenyapkan.” Pria itu berhenti dan menatap Baekhyun dengan mata birunya.

“Anda sudah memperingatkan Saya akan hal itu, Yang Mulia.”

“Kau diciptakan bukan untuk menjadi lemah. Kau berada di garis keturunan Dewa kegelapan. Maka kerjakanlah tugasmu!”

“Saya akan bertahan sampai akhir, tanpa harus menyakiti wanita itu. Maafkan Saya. Berilah Saya waktu satu hari, sampai wanita itu melewati hari pertamanya di umur dua puluh dua.”

“Apa boleh buat. Aku akan mengubahmu menjadi manusia sepenuhnya, tapi kau hanya bisa bertahan dengan sisa kekuatanmu sendiri. Selain itu, aku tidak bisa berbuat apapun lagi.”

….

Minri menyandar di dinding samping pintu kamarnya yang terbuka setengah. Pembicaraan Baekhyun dengan orang asing—entah siapa—membuat tanda tanya besar di kepalanya. Matanya terpaku pada lantai, tanpa kedip. Dia pasti sedang bermimpi, pikirnya. Minri bertindak konyol dengan mencubit pipinya sendiri, hingga membuatnya kesakitan dan sadar bahwa dia tidak sedang berada di alam mimpi.

Minri memasuki kamarnya perlahan dan menemukan Baekhyun menghadap tembok. Tidak ada siapapun disana. Baekhyun tidak mungkin gila karena lima menit terakhir mereka berinteraksi, Baekhyun baik-baik saja.

“K-kau bicara dengan siapa, Baek?” tanya Minri.

Baekhyun berbalik pada Minri, saat itu pula tubuhnya ambruk. Minri mengambil langkah cepat, menyelamatkan tubuh Baekhyun yang nyaris membentur lantai meskipun pada akhirnya mereka berdua harus terduduk di lantai.

“Baekhyun! Baekhyun! Apa yang terjadi?”

Minri menepuk pelan pipi Baekhyun. Tangannya gemetar.

“Baekhyun, kumohon sadarlah.” Minri meraih ponselnya di saku. Dia sempat salah menekan tombol beberapa kali. Dia akan menghubungi petugas medis namun baru saja dia akan menekan tombol hijau, tangan Baekhyun menahannya.

“K-kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku tidak apa-apa.”

“Kau membuatku takut, Baek.” Minri menempelkan pipinya ke kepala Baekhyun, memeluk pria itu begitu erat sementara Baekhyun menepuk punggungnya pelan, sampai wanita itu merasa sedikit tenang.

“Aku akan menceritakan semuanya padamu tentang siapa aku sebenarnya.”

***

Minri menutup mulutnya dengan satu tangan. Tatapan tidak percaya mengarah pada Baekhyun.

Bagaimana bisa?

Tidak mungkin.

Baekhyun pasti berbohong.

Berkali-kali suara hatinya menjerit saat tiap kalimat yang diucapkan pria itu mengejutkannya. Namun, Minri tidak menemukan kebohongan dalam matanya. Hingga Minri hanya bisa terdiam seperti patung.

“Maafkan aku, Minri-ya.”

“Jadi selama ini kau tinggal bersamaku, bersikap menjadi suami dan menikahiku dengan tujuan terakhir merenggut jiwaku? Kau akan membunuhku?”

“Ya karena memang…” garis hidupmu telah tercatat. “Maaf.”

“Kalau kau tidak melakukannya, berarti dirimulah yang dalam bahaya.” Minri menatap cemas pada Baekhyun.

“Kau tidak membenciku setelah mengetahui hal ini?”

Minri menggeleng dan tersenyum lembut. “Sudah sepatutnya kau melakukan tugasmu.” Lalu wajahnya kembali muram. “Kau bilang kau sudah tidak punya kekuatan? Apa tidak ada cara lain untuk membuat hidupmu lebih lama, Baek. Kau tidak akan meninggalkanku begitu saja kan.” Minri mendekat pada Baekhyun, menggenggam tangan pria itu. Air mata kembali menggenang.

“Maafkan aku.”

Keheningan kembali menggerogoti malam itu. Sudah hampir tengah malam, dan sebentar lagi Minri akan berumur dua puluh dua.

“Kau bilang kau akan kembali menjadi Dewa kalau kau mengambil jiwaku.” Baekhyun menoleh pada Minri, hingga mereka bertatapan. “Lakukanlah, Baek.”

Baekhyun tersenyum, lalu meletakkan tangannya di kedua pipi wanita itu. “Aku tidak akan melakukannya. Aku mencintamu, Minri-ya. Dan aku senang memiliki perasaan itu.” Baekhyun mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka bersentuhan.

“Aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun. Tetaplah disampingku. Aku mohon.” Air mata menggenangi mata wanita itu. Perasaan cemas dan ketakutan terpancar di mata hazel-nya.

Baekhyun memejamkan matanya erat, saat jantungnya mulai melemah. Hingga rasa sakit mendera sekujur tubuhnya. Baekhyun mengerang.

“Baekhyun!!”

Minri membuka laci di samping tempat tidur dengan tergesa-gesa. Tangannya terhenti saat dia menemukan pisau lipat dari dalam sana.

“Lakukan sekarang, Baek!” Minri menyerahkan pisau itu pada Baekhyun. “Aku rela kau mengambil jiwaku kalau itu bisa membuatmu bertahan. Kita bisa bertemu di dunia yang lain…” Dengan wajah yang penuh air mata, Minri terus memaksa Baekhyun untuk membunuhnya. “Baekhyun!!”

Namun jelas, apapun yang terjadi Baekhyun tidak akan menyakiti wanita itu. Satu-satunya wanita yang dicintainya, yang memiliki hatinya sepenuhnya.

Detak jam dinding terdengar semakin nyaring di telinga Baekhyun. Tubuhnya semakin melemah dalam pelukan Minri.

“Aku… mencintaimu, Minri. Aku bahagia pernah hidup menjadi manusia bersamamu meskipun hanya sebentar. Hiduplah bahagia, sayangku.”

Genggaman tangan Baekhyun di tangan Minri terasa melonggar. Minri tidak bisa berpikir jernih lagi.

Prang~

Suara pisau jatuh ke lantai bagaikan petir yang menyambar. Minri seketika kehilangan seluruh warna hidupnya saat Baekhyun perlahan menutup mata.

“Aku juga mencintaimu, Baekhyun. kau bilang kau akan membantuku mewujudkan pesta kecilku. Baek… aku mohon, kembalilah.”

Detik jam terus bergerak maju. Sosok Baekhyun di tangan Minri mulai menjadi ringan. Seberkas cahaya keluar dari mulut pria itu, melayang di udara hingga akhirnya naik ke langit. Berkedip seperti bintang. Kini tersisa Minri sendirian.

Kau membangun kebahagiaan dalam hidupku, maka saat kau pergi, segalanya dari diriku harus ikut bersamamu.

***

Ting Tong!

Seorang gadis berambut sepunggung menekan bel rumah Minri berkali-kali, namun tidak ada jawaban.

Eonni~ apa kau di dalam?”

Gadis itu mengambil ponsel dari dalam tasnya, lalu mencoba menghubungi Minri. Panggilan tersambung, tapi sayang, Minri tidak mengangkat telponnya.

Aku biasa meletakkan kunci di bawah keset. Stt! Hanya kau yang tahu rahasia ini.

Seolah diberikan petunjuk, ucapan Minri terlintas di kepalanya. Sungyoung mundur selangkah, lalu mengangkat keset di depan pintu. Benar saja, ada kunci rumah disana. Gadis itu mengambilnya, lalu membuka pintu rumah itu.

Eonni… kau sibuk ya?” Sungyoung memperhatikan keadaan rumah itu yang begitu banyak hiasan dinding. Sungyoung datang karena beberapa hari yang lalu Minri mengundangnya untuk pesta. Sungyoung bahkan sudah membawakan hadiah untuk wanita yang sudah dia anggap seperti keluarganya.

Sungyoung tampak sedikit lancang karena dia mulai menelusuri bagian rumah itu. Pintu sebuah ruangan—sepertinya kamar pribadi Minri—yang sedikit terbuka membuatnya penasaran hingga dia menghampiri pintu itu.

Satu hal menarik yang ditemukannya, ada pisau yang jatuh di tepi tempat tidur dan secarik kertas putih yang ditahan oleh beban botol kecil (tampak seperti botol obat) hingga dia lebih mendekat ke kasur.

Oh ayolah, Minri yang sedang berulang tahun mengapa dia yang terasa dikerjai.

Kertas itu adalah sebuah surat. Sungyoung mengambil, lantas membacanya.

Kepada siapapun yang menemukan surat ini, saat kalian membacanya aku pasti sudah pergi.

Maaf tidak sempat pamit pada kalian. Baekhyun mengajakku pergi begitu tiba-tiba.

Mungkin, aku tidak akan kembali. Sampaikan maaf dan terimakasihku kepada teman-teman yang lain.

Aku sayang kalian semua.

-Minri, Park.

***

Flashback

Posrche hitam melintas begitu cepat di jalanan Seoul yang sepi. Cuaca tengah malam begitu dingin dan terasa menusuk permukaan kulit.

Minri mengendarai mobilnya secepat dia bisa hingga dia tiba di sebuah tempat yang tinggi, jauh dari keramaian. Mobil itu berhenti di depan jurang.

“Dia mempermudah pekerjaanku,” ucap Dewa kematian pengganti Baekhyun.

“Aku akan ikut bersamamu, Baekhyun.” Seulas senyum terpatri di wajah Minri sebelum dia menginjak pedal gas begitu dalam. Mobil hitam itu meluncur bebas ke bawah, beberapa detik melayang di udara hingga sesaat kemudian terdengar bunyi ledakan.

******

Ekstra scene

Apakah cinta sejati punya kekuatan begitu besar?

Apakah cinta sejati bisa mempertemukan kita kembali?

Udara yang sejuk. Air biru mengalir. Hamparan rumput yang hijau. Bunga beribu warna. Dan makhluk yang mempesona. Minri tidak akan pernah melihat hal sesempurna itu di bumi.

“Kita dimana, Baek? Kenapa kita harus bersembunyi seperti ini?”

“Taman langit. Tempat para Dewa dan Dewi. Semua makhluk punya tempatnya masing-masing di masa tertentu.”

“Jadi disini tempat tinggalmu? Taman langit benar-benar indah ya, Baek.”

“Ya, tempat tinggalku dulu. Aku senang bisa menunjukkan tempat ini padamu, Minri-ya.” Baekhyun tersenyum melihat wanita itu tak henti-hentinya mengagumi tempat itu. “Kurasa kita harus pergi sekarang.”

“Ke mana?”

“Ke taman yang lain. Tempat para manusia.” Baekhyun menggenggam lembut tangan wanita itu.

Tidak peduli dimanapun mereka berada. Asalkan mereka bisa bersama, kebahagiaan turut menyertai mereka berdua.

***End***

Haaai!! Finally end! Terserah mau bilang itu sad ending apa happy ending yang penting akunya bahagia *lol* iyadong bahagia karna ini fanfic akhirnya bias selesai dengan… yabegitulah. Perjuangan. Mwahaha.

Maafkan aku yang telat post >,<

Semoga kalian menikmati ff aku yaa. Makasih udah meluangkan waktu buat baca ff-agak-absurd punyaku ini.

Punya ide buat next project? Aku kepikiran ngepost US versi series sih. Masih inget sama Chanhee gak? Chanhee nangis nih kalo pada lupa sama Chanhee yang lucu dan emesin ini;-; hiks /ga

Aku liat ada beberapa reader yang nggak aku kenal._. /(emang yang lain kenal?) ya maksud aku usernamenya baru aku liat. Kenalan yuks! Hai, namaku Rima, kelahiran 1993. Istrinya Baekhyun. Tolong jangan panggil ‘thor’ lebih baik unnie atau kak aja. Mohon pengertiannya. Salam kenal;) mari berteman.

THANKS FOR ALL!! LOVE YAA❤ mwah

XOXO

©Charismagirl, 2015.

101 thoughts on “Angel of Death – [2/2] END

  1. oh gitu asal usul baekhyun. Seorang dewa kematian yang goyah hatinya lantaran seorang manusia. Aku suka, meskipun cuma dua chapter, tapi menurut aku alurnya nyampe ke pembaca. Endingnya mati dua-duanya, tapi happy ending

  2. huwaaa….
    sedih bacanya…
    tapi,,,happy ending dimanapun mereka berada…
    sisi lain baekhyun,,,hahahah..
    minri dan baekhyun fighting (apa sihhh,,,wkwkwk)
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s