Letter From Nowhere : #8 Letter – Menyingkap Tirai Kebenaran (2)

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 .

.

.

Peringatan! chapter kali ini lumayan panjang dari biasanya. So take your time guys ^^

.

.

Menyingkap Tirai Kebenaran (2)

Malam beranjak larut, kafetaria rumah sakit yang pelayanannya 24 jam pun sudah sepi dari kunjungan saudara pasien, tapi semua itu tidak mengusik tiga sahabat ini untuk beranjak dari sana. Seulgi, Jongin dan Sehun masih menikmati waktu saling diam mereka tanpa berbuat apapun. Bahkan minuman yang mereka pesan 20 menit yang lalu belum mereka sentuh sama sekali, asap hangat yang menghilang menandakan minuman dalam gelas kertas itu sudah menjadi dingin.

Setelah berhasil memaksa Sehun dan mengirimkan pesan singkat pada Soojung kemana mereka pergi, Seulgi mengajak dua sahabat laki – lakinya duduk dipojok dekat jendela kafetaria rumah sakit. Seulgi ingin semuanya selesai dengan satu sama lain tahu apa yang sebenarnya terjadi. Oke mungkin ini juga salah Seulgi, dengan hanya diam sebagai orang yang tahu duduk perkara masalah mereka. Maka dari itu, Seulgi tidak ingin membuat dosa miliknya menjadi semakin besar dengan hanya diam dan merahasiakan apa yang sebenarnya terjadi, meski orang yang bersangkutan menyuruhnya untuk diam.

“Apa kita membereskan masalah ini melalui telepati?” ucap Seulgi kemudian memecah keheningan diantara mereka. Jongin yang sedari tadi hanya memandangi kopinya terperanjat dengan suara Seulgi yang membangunkannya dari lamunan. Sedangkan Sehun hanya menggerakan bahunya kemudian menghembuskan nafas gusar, dia tidak suka dengan kondisi canggung seperti ini.

“Kau yang mengajak kami, jadi bukankah seharusnya kau yang memulai Seul?” jawab Sehun sambil meraih gelas kertas didepannya berniat untuk menyesap kopi yang sedari tadi dia diamkan. Tapi saat menyadari kopi sudah tidak mengepul dan gelasnya sudah dingin, Sehun meletakan kembali dengan gusar. “Aku disini hanya pendengar yang baik, jadi katakan apa yang ingin kalian ucapkan,”

“Pendengar yang baik?” tanya Seulgi. “Disini yang punya masalah kalian bedua, seharusnya aku yang jadi pendengar. Oke, aku memang berniat mengatakan sesuatu, tapi tunggu sampai Soojung dan Chanyeol Oppa datang. Jadi sekarang katakan yang ingin kalian berdua katakan,”

“Aku tidak ada,” ucap Sehun cepat.

“Tidak mungkin,” sanggah Seulgi. “Jongin?”

Seulgi mengalihkan pandangan tajamnya pada Jongin yang sedari tadi hanya duduk dalam diam. Entahlah, mungkin Jongin terlalu canggung dengan sikap dingin Sehun. Melihat semua ini, Seulgi semakin merasa bersalah mengingat seperti apa dulu Sehun dan Jongin. “Katakan semuanya Jongin,” lanjut Seulgi.

Jongin tersenyum dengan paksa kemudian menatap Seulgi dan Sehun bergantian, “Apa yang harus aku katakan?”

“Apapun itu,”

“Baiklah, aku minta maaf,” ucap Jongin kemudian sambil menghembuskan nafas berat.

Seulgi memutar bola matanya mendengar apa yang Jongin ucapkan, sedangkan Sehun hanya berdecak kesal sambil mendelik tajam kearah Jongin.

“Bukan itu yang ingin aku dengar Jongin. Katakan atau tanyakan apapun, bukan kata maaf karena kau tidak bersalah sama sekali. Kalaupun harus ada yang meminta maaf, itu adalah aku dan,” Seulgi menggantung kalimatnya kemudian memandang Jongin dan Sehun bergantian. “Wendy,”

Sehun memandang Seulgi ketika perempuan didepannya itu melanjutkan kalimatnya. Telinga Sehun cukup sensitif untuk nama yang satu itu, untuk Wendy. “Apa maksudmu Seul?”

“Aku tidak akan mengatakan apapun sebelum kalian mengungkapkan apa yang kalian rasakan,” jawab Seulgi pasti tanpa tergoyah dengan tatapan tajam Sehun.

Sehun masih menatap Seulgi tajam, dia mencium sesuatu yang sahabatnya ini sembunyikan. Apapun itu yang Seulgi sembunyikan, Sehun tidak menyukainya. Sudah menjadi perjanjian, bahwa tidak akan ada rahasia diantara mereka dan Sehun menepatinya, jadi sekarang Seulgi memiliki rahasia? Sehun melipat tangannya didada dengan masih terus menatap Seulgi yang sekarang terlihat sibuk menghindari kontak mata dengan Sehun.

“Kau duluan Jongin,” ucap Sehun kemudian sambil masih terus memaku matanya pada Seulgi.

Jongin mengubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman, ini akan menjadi pembicaraan yang berat pikirnya. “Baiklah,” ucap Jongin pelan. Dia menatap sahabatnya bergantian, sebelum akhirnya mulai menyuarakan perasaan terpendamnya.

“Mungkin terdengar klise jika aku mengatakan semua ini. Hanya saja, beberapa hari ini aku merasakan sedikit perasaan lega ketika satu persatu dari kalian muncul didepanku. Aku merindukan kalian,” Jongin membuka perasaannya.

“Bodoh aku mengatakan ini, juga sungguh aku tak tahu malu. Tapi melihat kita berkumpul tadi, aku merasakan satu kehilangan akan persahabatan lama kita. Aku tahu, akulah yang membuat semuanya menjadi rumit maka dari itu aku terlalu enggan untuk menyuarakan semua ini, bahkan aku terlalu malu untuk menunjukan wajahku pada kalian beberapa tahun terakhir,”

Jongin menghentikan kalimatnya, dia mengusap wajahnya pelan sambil kemudian menarik nafas panjang.

“Jika kalian ingin menyalahkanku, tidak masalah. Aku memang bersalah, tapi asal kalian tahu tiga tahun terakhir hidupku berantakan. Aku tidak bisa membedakan mana dimensi nyata dan mana dunia ciptaan bawah sadarku, semua berjalan dalam ritme yang bersamaan. Setelah kejadian itu suara hujan menjadi trauma terbesar dalam hidupku, suara musik juga seperi benih – benih dosa bagiku, aku berlari dari semua kenyataan, aku meninggalkan cita – citaku, aku menjauhi kalian dan aku menghidarimu Oh Sehun,” Jongin kembali menghentikan kalimatnya, kali ini dengan perlahan dia menatap sahabat yang duduk disampingnya –Sehun, meski yang bersangkutan masih terus memaku matanya pada Seulgi.

“Semua bilang itu bukan kesalahanku, tapi jika dipikir dengan logika semuanya tidak akan terjadi jika aku tidak membawanya dibawah hujan. Aku ingin bertanggung jawab dengan semua itu agar perasaan bersalah ini lenyap, tapi keluarganya meyakinkanku semua ini bukan salahku. Setelah kejadian itu mereka menghilang, pihak kepolisian juga menyimpulkan ini kasus kecelakaan murni, kasus terlupakan tapi rasa bersalahku masih berbekas, lalu apa yang bisa aku lakukan? Sedangkan bertemu kalian saja aku tidak sanggup,” Jongin menundukan kepalanya dadanya naik turun dengan cepat, nafasnya memburu ini sudah sangat lama sejak dia kembali mengingat kejadian hari itu. Hatinya terlalu sakit untuk mengungkit luka lama, tapi ini yang mereka inginkan sekarang bukan?

“Aku tidak pernah menghindarimu Jongin, tapi kau yang menghilang,” Seulgi berbicara sambil mencoba menatap tepat pada mata Jongin.

“Aku bersembunyi Seul, dunia terlalu menakutkan bagiku. Aku bahkan melewatkan moment kelulusan SMA kita padahal kabar tersebar aku dan dia adalah dua murid predikat terbaik. Tapi tidak adil jika aku ada disana sedangkan dia tidak ada, dan semuanya karena aku,”

“Aku pulang kerumah orang tuaku di Busan setelah kasus itu ditutup. Seharusnya tahun itu aku dan dia sama – sama berkuliah di jurusan Seni, Universitas yang kami daftarkan bersama. Tapi, aku kembali berfikir tidak adil jika aku melanjutkan impianku sedangkan impiannya hancur karena aku-”

“Itu bukan salahmu Jong-” Seulgi belum selesai dengan kalimatnya tapi satu tangan Jongin membuatnya berhenti.

“Ijinkan aku mengatakan semuanya tanpa ada yang menyela,” lanjut Jongin. “Maka dari itu, aku memutuskan menahan jadwal kuliahku. Bisa kalian bayangkan seperti apa perasaan keluargaku? Kakakku sukses dengan karirnya sedangkan anak bungsunya terpuruk dengan kondisi menyedihkan. Setiap hujan aku akan meringkuk didalam kamar menghindari suara rintik air, setiap melakukan perjalanan dan melewati jembatan tanganku menggigil, butuh tiga tahun lamanya agar aku bisa menerima semua itu kembali normal, bisa kalian bayangkan?. Dan tahun ini, dengan dorongan keluargaku aku kembali membangun keberanian. Kembali ke Seoul tinggal bersama Kakaku, aku melanjutkan kuliah disini,”

“Setiap hari peringatannya tiba, Soojung atau Chanyeol hyeong akan membujuku untuk datang, tapi aku belum pernah datang. Kenapa? Aku takut teringat akan kenyataan bahwa aku seorang pembunuh,”

“Maafkan aku Oh Sehun, kau kehilangan orang yang kau cintai karena aku, maka dari itu aku mengerti mengapa kau begitu membenciku bahkan sampai hari ini. Karena aku, Wendy harus pergi,” Jongin mengakhiri kalimatnya dengan permintaan maaf pada Sehun.

Sedangkan Sehun yang sedari tadi berpura – pura tidak memperhatikan apa yang Jongin ucapkan, merasa jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Dia tidak tahu temannya menderita sebegitu sakitnya, sedangkan Sehun dan yang lain masih menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Yang Sehun tahu, Jongin pergi melarikan diri. Dia tidak tahu bahwa kenyataannya temannya sedang mencoba mendapatkan kembali kesadarannya.

“Aku tidak pernah tahu,” bisik Sehun pada dirinya sendiri. Dipandanginya Seulgi yang sekarang tengah menatap lurus Jongin dengan butir air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Apa yang ingin kau katakan Seul?” tanya Sehun dengan suara bergetar.

Seulgi mengerjapkan matanya beberapa kali, mengusap air mata yang mengalir berusaha menghentikannya, tapi apa daya air mata terus keluar bahkan suara isakan mulai terdengar dari Seulgi, “Maafkan aku Jongin,” ucap Seulgi ditengah tangisnya.

.

————

.

Semalam Wendy bermimpi, ada seorang lelaki paruh baya yang menghampirinya ketika dia tengah terduduk entah dimana. Lelaki paruh baya itu tersenyum manis kemudian menyapanya ramah dia bahkan tahu nama Wendy secara lengkap. Selanjutnya mereka berdua duduk bersama berbagi balok kayu kemudian saling berbincang tentang segala hal. Sampai kemudian lelaki itu membelai pucuk kepala Wendy lembut sambil sekali lagi tersenyum sangat manis kemudian berkata,

“Kau sudah melakukan yang terbaik, apa kau tidak ingin istirahat untuk perjuangan selama ini?” Wendy ingin menjawab pertanyaanya itu, apakah ini tentang sekolahnya, pertemanannya atau malah penyakitnya?

Belum sempat Wendy membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan sosok asing itu, pandangan Wendy berubah menjadi gelap. Nafasnya tercekat seakan ada besi yang menusuk paru – parunya, membuatnya sulit untuk bernafas. Sekalipun Wendy berhasil menghirup oksigen, seketika perih menjalari sekujur tubuhnya. Belum cukup disitu, dia merasakan sekujur tubuhnya panas dan dadanya berdebar sepuluh kali lebih cepat.

Ada apa ini? Apa yang di maksud lelaki tadi dengan istirahat adalah menyerah memperjuangankan kesembuhannya?

Masih dalam kegelapan dan sakit luar biasanya, Wendy merasakan tusukan demi tusukan menghujani tubuhnya, rasanya sakit tapi ada rasa nyaman ditiap jejak tusukan itu. Kemudian berlanjut dengan satu sengatan mengejutkan yang membuat Wendy rasanya ingin menjerit keras tapi ada yang menahan mulutnya untuk bersuara. Tusukan, sengatan, nafas sesak, tubuh panas, semua silih berganti menghujami tubuhnya, ketika semua fase itu selesai perlahan pandangan Wendy kembali. Rasa sakit yang tadi menyiksanyapun menghilang, kini tubuhnya terasa begitu ringan. Tubuhnya tidak lagi panas, nafasnya tidak lagi menyakitkan dan mulutnya bisa lagi bersuara.

“Wendy,” satu suara pelan menghampiri gendang telinga Wendy. Perlahan Wendy sadar dari perjalanan singkatnya, bertemu lelaki tua kemudian merasakan sensasi kesakitan sampai pada fase tubuhnya terlampau ringan.

Saat Wendy membuka matanya perlahan, dia sadar bahwa dia tidak kemana – mana, dan tidak pernah ada Lelaki paruh baya itu. Dia hanya bermimpi, yang Wendy dapati didepannya adalah Sang Ibu, Ayah dan kakaknya Irene. Mereka tengah terduduk disamping ranjang Wendy dan menatapnya khawatir.

“Mom,” ucap Wendy dengan suara parau.

“Bagaimana keadaanmu?”

Wendy tidak bisa menjawab, dia masih merasakan sensasi tubuhnya melayang semuanya terasa hanya ilusi bagi Wendy. Sebagai jawaban, dia hanya bisa tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Baiklah, sekarang kau istirahat saja. Sakitnya sebentar lagi akan hilang, kau sudah terbiasa bukan?”

Sekali lagi Wendy mengangguk. Ya, benar tadi bukanlah mimpi melainkan halusinasi alam bawah sadar Wendy ketika tubuhnya menerima obat – obatan. Sebelumnya, rasa sakit dan efek yang ditimbulkan tidak separah ini, apa mereka menambah dosis obat? Yang berarti kondisi Wendy memburuk?

Ayah dan Ibunya bangkit dari duduk kemudian beranjak keluar ruangan. Irene yang memang selalu berada disisi Wendy tetap duduk disana sambil menggenggam tangan adiknya erat. “Apa kali ini sangat sakit?” tanya Irene sambil menghapus jejak peluh didahi Wendy.

Wendy kembali mengangguk. “Rasanya berbeda,” jawab Wendy masih dengan suara parau.

Irene masih dengan tangan menggenggam Wendy, mengangguk membenarkan jawaban sang adik. “Mereka menaikan dosisnya,” jawab Irene jujur.

“Pantas,”

Wendy masih ingin berbincang dengan Irene menanyakan tentang kondisinya, tentang mengapa mereka menaikan dosis pengobatan menjadi lebih menyakitkan. Tapi, sekali lagi alam bawah sadar merenggut Wendy. Ketika membuka mata Wendy mendapati dirinya tengah terbang diatara awan – awan putih yang berkoloni.

.

.

Rasanya sungguh sulit menjadi orang yang serba tahu dan menyimpan rahasia orang banyak. Semuanya terasa menjadi beban, dan Seulgi merasakan semua itu. Dia tahu tentang rahasia mereka, dia juga bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dari membaca prilaku seseorang. Sungguh, dulu semua ini sangat membantu Seulgi untuk membuat teman baru, tapi sekarang? Semuanya menjadi beban yang membuatnya sulit hanya untuk memejamkan mata.

Tanpa terasa waktu berlari begitu cepat, kejadian api unggun sudah berlalu sangat lama, juga kenyataan Seulgi tahu tentang rahasia terbesar Wendy. Pertemanan mereka kembali berjalan seperti biasa, mungkin menurut kasat mata. Tapi, menurut pengamatan Seulgi mereka sudah tidak sama lagi. Dengan dirinya tahu apa yang terjadi pada Wendy, membuat Seulgi tidak bisa memperlakukan temannya itu seperti dulu, setidaknya Seulgi selalu mencoba melindungi Wendy dari hal yang harus dia jauhi, meski berulang kali Wendy mengingatkan untuk tidak terlalu perhatian padanya, tapi Seulgi tidak bisa. Seulgi juga merasakan ada perbedaan pada Sehun, dia merasa temannya menjadi lebih pendiam dan jarang berbicara. Belum selesai pada Sehun, Seulgi juga mendapatkan perasaan tidak enak dengan Chanyeol setiap berada disamping Soojung. Sampai suatu hari Seulgi tanpa sengaja menyuarakan perasaannya.

Oppa kalian berdua lebih terlihat seperti sepasang kekasih dari pada kakak adik,” satu kalimat yang sontak membuat Chanyeol terdiam kemudian menatap Seulgi sengit. “Aku hanya bercanda Oppa,” ucap Seulgi saat mendapati Chanyeol tidak nyaman.

“Hati – hati dengan candaanmu, Seul,”

Sejak hari itu Seulgi sudah tidak bisa memandang persahabatan mereka dengan kacamata yang sama. Dia merasa dengan perlahan ada benteng yang akan menghalangi mereka. Memang benar adanya, peremuan dan laki – laki tidak ditakdirkan untuk bersahabat.

Tahun lalu Chanyeol lulus dan sekarang tengah melanjutkan kuliah jurusan seni musik. Dan tahun ini, mereka menginjak tahun terakhir menjelang kelulusan. Wendy semakin sering absen dari kelasnya, kadang menggunakan alibi mengurus kuliahnya yang akan dilakukan diluar negeri, mengunjungii saudara, mengikuti test atau hal – hal lain yang berhubungan dengan sekolah. Mereka percaya karena melihat Wendy sebagai murid Top, tapi tidak dengan Seulgi. Dia merasa ada yang sedang tidak beres dengan sahabatnya yang satu ini.

Dan kemudian kebenaran itu tiba, ketika Seulgi tengah berkonsultasi pada guru bimbingannya mengenai fokus yang harus dia ambil, Seulgi mendapatkan satu pesan singkat dari kakak Wendy –Irene.

From : Irene Eonni.

Seul, kau bisa kerumah sakit? Wendy ingin meminta bantuanmu. Itupun jika kau tidak sibuk, terimakasih sebelumnya.

Jika pesan bersangkutan dengan Wendy, Seulgi tidak bisa menganggapnya sepele lagi. Dengan segera dia meninggalkan sekolah dan disini sekarang, berlari diantara lorong – lorong putih yang sudah sangat familiar baginya. Ya sejak kenyataan tentang kondisi Wendy, Seulgi jadi sering menemaninya berobat jalan.

Seulgi sampai didepan pintu kamar rawat Wendy, berhenti disana Seulgi mengatur nafasnya sebelum memutuskan masuk kedalam. Setelah nafasnya kembali normal, perlahan Seulgi mendorong pintu kemudian menyapa pelan ketika orang didalam ruangan itu tersenyum padanya.

“Kau datang Seul,” ucap Irene ceria menyambut kedantangan Seulgi.

“Kebetulan di sekolah sedang tidak terlalu sibuk jadi aku bisa ijin dengan mudah Eonni,” jawab Seulgi. “Hai Wen, apa kabarmu,” sapa Seulgi ketika dia sampai disamping tempat tidur Wendy.

“Baik, apa tidak masalah kau ijin Seul?” tanya Wendy.

Seulgi menggeleng pelan kemudian duduk disamping tempat tidur Wendy. “Hari ini jadwal konsultasi fokus, aku sudah selesai jadi dari pada diam di sekolah aku memutuskan kesini,”

“Baguslah jika tidak mengganggumu,” jawab Wendy bahagia.

Seulgi memperhatikan sahabatnya ini, dulu dia selalu iri dengan kulit putih Wendy tapi sekarang entah kenapa kulit putih itu nampak mengerikan. Semuanya menjadi terlampau putih –pucat. Bentuk muka Wendy juga semakin tirus, nampaknya pengobatan ini banyak menurunkan berat badannya. Seulgi merasa rindu dengan sosok Wendy yang dulu selalu tampil rapih, rambut hitam, wajah berseri belum lagi bibirnya yang merona pink cerah, sekarang dia tampak pucat dan kurus. Sebegit jahatnya kah penyakit tuan putri ini sampai merubah temannya menjadi menyedihkan? Sekuat tenaga Seulgi mempertahankan senyumnya.

Eonni, bisa kau tinggalkan aku dengan Seulgi? Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan,” ucap Wendy pada kakaknya. Dengan segera Irene mengangguk setuju, kemudian meninggalkan Wendy dan Seulgi berdua didalam kamar.

“Ada apa?” tanya Seulgi.

“Sudah seminggu ini mereka menaikan dosis obatnya,” Wendy menjawab sambil menghembuskan nafas berat. “Halusinasiku bertambah parah, ini yang membuatku sulit untuk kembali kesekolah,”

Seulgi menggeleng pelan sambil menggenggam tangan Wendy, “Orang tuamu dengan sempurna menyusun cerita absenmu, jadi jangan khawatirkan sekolah. Setelah semuanya membaik, kau bisa kembali kesekolah dengan tenang,”

“Tapi aku takut itu tidak terjadi,” jawab Wendy pelan yang sontak membuat Seulg terdiam. “Orang tuaku mungkin selalu berbohong dengan mengatakan semuanya baik – baik saja, tapi tidak dengan tubuh dan kakakku. Aku merasakan semuanya tidak baik – baik saja, dan Eonni bilang aku terkendala donor untuk melanjutkan pengobatan,”

Seulgi terdiam, apa yang dikatakan Wendy terlalu mengejutkan untuk dia dengar. Apa ini artinya kesempatan Wendy untuk bertahan semakin tipis? Atau mungkin Wendy masih bisa bertahan asal terus melakukan pengobatan ini? Seulgi ingin bertanya ini dan itu, tapi dia takut ketika bibirnya berucap air mata akan mengalir di pipinya. Maka dari itu, Seulgi memutuskan diam sambil terus menggenggam erat tangan Wendy. Sahabatnya sedang tidak butuh kalimat basa – basi sekarang.

“Aku mungkin saja bisa bertahan, tapi tidak boleh meninggalkan tempat tidur ini dan terus menelan obat – obat itu,” lanjut Wendy. “Menurutmu Seul, apa aku masih tetap dikategorikan hidup dengan tidak meninggalkan ruangan ini?”

“Aku tidak tau Wen,” jawab Seulgi pelan.

“Dalam halusinasiku kemarin malam, seorang Pak Tua menghampiriku. Dia mengelus pelan rambutku kemudian berkata bahwa aku sudah melakukan yang terbaik dan sekarang waktunya istirahat,” Wendy menghentikan kalimatnya dia merasakan genggaman Seulgi semakin kuat dan sahabatnya ini hanya menunduk dalam diam. “Kau takut Seul? Aku lebih takut, tapi aku lelah dengan semua ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mendapati ribuan tusukan dan sengatan menyakitan luar biasa, aku lelah,”

“Tunggu Wendy, kita bisa menunggu,” Seulgi akhirnya berani berbicara, matanya mulai berkaca tapi sekuat tenaga dia tahan agar tidak tumpah.

“Aku tahu,” jawab Wendy sambil tersenyum.

“Apa kau tidak akan memberitahu yang lain?”

Wendy terdiam, dia terlihat menimbang apa yang seharusnya dia lakukan, sampai akhirnya satu gelengan kecil keluar sebagai jawaban. “Aku akan memberitahu mereka, tapi biar aku yang lakukan Seul, jangan dirimu,”

“Oke,”

“Lalu, tujuanku memanggilmu hari ini,” Wendy kembali menggantung kalimatnya. Dia melepas genggaman tangan Seulgi kemudian meraih benda yang dia simpan tepat dibawah bantalnya. Sebuah jurnal berwarna coklat tua dengan pita penutup berwarna merah sebagai pelindungnya. “Aku titip ini padamu,”

Seulgi menerima benda itu dengan pandangan heran, “Untuk?”

“Kau sudah memegang rahasia terbesar dalam hidupku, maka dari itu buku ini akan menjadi bagain dari rahasia lainnya. Didalamnya terdapat catatan – catatan rahasiaku untuk kalian, mungkin nanti yang lan juga akan aku beritahu tapi sekarang aku berikan itu padamu Seul,”

Seulgi menggeleng pelan, kemudian menaruh buku itu diatas pangkuan Wendy. “Aku sudah telalu banyak menyimpan rahasia kalian, aku takut tidak bisa menjaganya,”

“Aku percaya padamu Seul, lagi pula ini bukan rahasia untuk selamanya, aku akan berikan juga pada yang lain. Tapi sekarang kau yang pegang. Aku mohon, Seul..”

Wendy menggenggam erat tangan Seulgi penuh permohonan. Seulgi tidak tahu apa yang tertulis dibalik sampul gelap itu, hanya saja dia percaya didalamnya banyak tertulis rahasia yang suatu saat nanti harus dia ungkapkan didepan sahabatnya. Seulgi tidak mau menambah beban hidupnya, tapi juga tidak tega menolak permintaan Wendy. Dengan berat hati dia mengambil benda itu kemudian mengangguk sebagai jawaban.

“Terimakasih Seulgi,”

.

.

Perjuangan Wendy dengan halusinasi berat dan obat – obatan keras itu sedikit memberikan hasil. Setidaknya, hari ini dia bisa keluar dari kamar rawatnya dan dengan bantuan Irene, Wendy bisa mengunjungi sekolah –meski tidak ada niatan baginya untuk masuk kelas. Waktu menunjukan pukul 13.45 ketika hujan turun dan Wendy tengah menikmati kesendiriannya dikamar mereka. Beruntung Seulgi dan Soojung masih sibuk dengan kelasnya, jadi Wendy bisa leluasa disini tanpa dijatuhi banyak pertanyaan dari Seulgi.

“Kau mau berkeliling?” Irene muncul dari balik pintu dengan dua cangkir teh ditangannya, kemudian memberikan satu pada Wendy. “Sepertinya asrama sedang sepi, jadi jika kau rindu dengan lingkungan sekitar sini, aku bisa menemanimu,” lanjut Irene ketika dia sudah duduk disamping Wendy.

“Tidak usah eonni, kelas sebentar lagi bubar,”

“Lalu, kita kembali kerumah sakit?”

Wendy menggeleng pelan. “Kita disini saja dulu, Soojung dan Seulgi ada jadwal tambahan sampai petang, jadi kamar kosong,”

“Kenapa kau tidak ingin bertemu mereka?”

“Aku takut tidak bisa menjawab pertanyaan mereka, aku takut mereka akan banyak bertanya melihat penampilanku sekarang,”

Irene meletakan cangkir tehnya kemudian menepuk pelan bahu sang adik. “Kuatlah Wen, kau sudah melalui semua ini sejak lama, kau gadis yang kuat,”

“Aku tahu,” jawab Wendy sambil tertawa kecil.

Selanjutnya mereka kembali terdiam, Wendy memandangi jendela yang basah karena air hujan. Titik demi titik tetesan air hujan itu bergabung kemudian menjadi aliran sungai kecil diatas kaca. Hujan itu sangat indah, tapi seumur hidupnya Wendy selalu menghindari hujan. Karena dia masih ingin hidup. Tapi sekarang, entah kenapa rasanya Wendy ingin merasakan sensasi berlari dibawah derasnya air hujan.

“Wen, minum ini,” Irene menepuk pelan bahu adiknya, kemudian memberikan gelas berisi air mineral dan lima buah pil berbeda warna dan bentuk. “Kau sudah berjanji pada mereka untuk tidak melewatkan jam minum obatmu,”

Wendy menghembuskan nafas berat. Dia memang bisa keluar dari kamarnya dan mengunjungi asrama, tapi obat – obatan ini masih terus menghantui hidupnya. Wendy hanya ingin melalui hari ini dengan biasa, tanpa rasa khawatir, tanpa rasa takut, sesak nafas, sakit tusukan dan halusinasi berlebihan yang akan terjadi jika dia meminum obat itu. Bisakah untuk kali ini saja dia melewatkannya?

“Seulgi dan Soojung baru pulang pukul 8, aku fikir ada waktu untukmu istirahat disini sebentar,” lanjut Irene seakan mengerti kekhawatiran Wendy.

“Bisakah aku melewatkannya hanya untuk sekarang? Eonni tidak akan pernah tahu seperti apa efek yang obat itu berikan padaku, aku hanya ingin menikmati hari ini tanpa efek samping mereka,”

“Tapi kau sudah berja-”

Eonni bisa merahasiakannya dari mereka. Bukankah eonni paling mengerti dengan kondisiku? Percuma aku keluar dari kamarku jika masih harus berurusan dengan obat – obat ini, aku mohon.”

Irene memadang adiknya cemas. Dia bimbang antara menginjinkan dan tidak, tapi sepenuhnya dia mengerti dengan perasaan Wendy. Sudah sangat lama dia berjuang dengan keadaan ini, apa ada baiknya membiarkan Wendy melakukan hal yang dia inginkan?

“Aku akan mengambil dua dosis untuk nanti malam sebagai gantinya,” lanjut Wendy sambil meraih botol kecil tempat obat – obat itu kemudian dia simpan pada saku bajunya. Irene menghembuskan nafas berat kemudian mengangguk setuju.

Eonni bisa aku minta tolong untuk secangkir teh lagi?” memotong pertanyaan Irene, Wendy menunjukan cangkir tehnya yang sudah kosong. Dia memiliki rencana lain, setidaknya 15 menit cukup untuk Irene menuju pantri dan membawakannya secangkir teh hangat.

“Baiklah, tunggu disini,” jawab Irene yang disetujui anggukan kecil Wendy.

Melihat kakaknya pergi dan memastikan pintu sudah kembali tertutup, Wendy meraih baju hangatnya kemudian keluar dari kamar menuju belakang asrama yang berlawanan arah dengan langkah Irene menuju pantri. Ditengah langkahnya menuju halaman belakang asrama, Wendy merogoh sakunya mengambil ponsel kemudian mengetikan pesan singkat untuk seseorang –Jongin.

Kau masih ada kelas? Aku ada dibelakang asrama perempuan. Bisa bertemu? Aku merindukanmu Jongin, tapi jangan bilang pada yang lain aku ada disini. Aku tunggu.

Wendy sampai dihalaman belakang, menjauhi cipratan air hujan, Wendy melangkah menuju pelataran dan duduk diatas lantai marmer yang dingin. Ini tidak akan lama fikirnya, Jongin adalah tipikal orang yang akan berlari sekencang mungkin untuk membantu sahabatnya, termasuk kasus Wendy kali ini.

Entahlah apa yang merasuki otak Wendy, ketika melihat tetesan air hujan dari kamar asramanya dia memiliki keinginan untuk merasakan seperti apa berada dibawah air hujan, meski ia tahu dengan resiko yang akan muncul jika dia memaksa. Maka dari itu, untuk menghindari hal tidak diinginkan Wendy mengambil botol obat dari kakaknya yang sudah dia simpan didalam saku bajunya. Wendy hanya berharap Jongin akan mengabulkan permintaannya tanpa banyak bertanya.

“WENDY SON!” satu teriakan terdengar melawan suara rintik hujan.

Dengan seragam setengah basah, Jongin berlari kearah Wendy membelah hujan dari arah lapangan asrama perempuan. Dia berlari begitu cepat juga senyum yang terpatri diwajahnya. Melihat Jongin semakin mendekat, Wendy bangkit kemudian melambaikan tangannya.

“Ya ampun, kapan kau datang dari London?” tanya Jongin antusias ketika dia berhasil sampai ditempat Wendy kemudian menjatuhkan pelukan pada sahabatnya ini.

“London?” tanya Wendy bingung.

“Jangan pura – pura bodoh, aku tahu kau merahasiakan tentang beasiswamu diluar negeri tapi kemarin Seulgi menceritakan semuanya pada kami, jadi bagaimana persiapan kuliahmu?”

Seulgi? Fikir Wendy dalam hati. Temannya yang satu itu, selalu bisa diandalkan. “Ehm, sudah selesai tapi masih ada tes – tes lainnya menyusul,” lanjut Wendy sambil tersenyum.

Jongin yang sudah melepas pelukannya dari Wendy memandangi sahabatnya itu dengan seksama. Entah kenapa Jongin mendapati banyak perbedaan dari sahabatnya ini, tubuhnya begitu kurus, wajahnya pucat juga rambutnya sudah tidak sehitam dulu.

“Apa persiapan disana sangat menguras fikiranmu Wen?” tanya Jongin kemudian.

Wendy menangkap sinyal yang Jongin maksudkan, pasti karena penampilannya. Padahal Wendy sudah berusaha keras dengan memasang foundation warna beige untuk menutup pucatnya, bibirnya juga sudah dia polesi lipglos orange, tapi entah kenapa Jongin masih bisa menangkapnya.

Wendy mengangguk. “Ehm, disana sangat memusingkan. Aku juga susah untuk tidur pulas disana,”

“Apa harus seperti itu? Kau sedang merancang masa depan atau menghancurkan masa depan?” satu pertanyaan Jongin berhasil menghujam benak Wendy. Benar juga apa kata Jongin, apa yang sedang Wendy lakukan sekarang? Apa dengan dia bertahan dengan obat – obatan ini akan memberikan masa depan padanya? Atau dengan menyerah dia bisa setidaknya tahu pasti apa yang akan terjadi? Wendy terdiam menyelami arti kata Jongin.

“Wendy?” tegur Jongin sambil menepuk bahu sahabatnya. “Jadi berapa lama kau disini? Kapan masuk lagi kelas?”

Wendy menggelengkan kepalanya. “Aku belum tahu,”

Jongin baru akan membuka mulutnya untuk pertanyaan lain, tapi Wendy dengan segera menggenggam tangannya. “Kau tahu Jongin kenapa aku hanya memberitahumu sekarang?” Jongin menggeleng. “Aku ada satu permintaan,”

“Katakan,” ucap Jongin.

“Di London air hujan membeku bahkan sebelum sampai kebumi. Ketika sampai disini dan hujan menyambutku aku ingin menikmati hujan ini,”

Jongin mengerutkan keningnya. “Bukannya kau memiliki sesuatu yang buruk dengan air hujan?”

Wendy menggeleng sambil tertawa kecil. “Kau percaya dengan leluconku Kim Jongin?”

“Sialan,” ucap Jongin sambil mengacak rambut Wendy pelan, kemudian meraih tangan Wendy untuk digenggamnya. “Jadi? Putri Duyung siap merasakan petualangan hujannya berama pangeran Kim?”

Wendy tersenyum cerah, dia mengangguk kemudian menggenggam dengan erat tangan Jongin. Jongin mendahului masuk kedalam deras hujan, kemudian dia menarik pelan Wendy kearahnya. Masih sambil berpeganan tangan, mereka membelah hujan berlari melewati lapangan asrama perempuan menuju jalan utama.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Wendy merasakan sensasi itu. Ketika tetes demi tetes air hujan membasahi tubuhnya, kemudian dingin menyerap sisa kehangatan juga aroma tanah basah yang menghampiri indra penciumannya. Untuk pertama kali Wendy merasakannya.

“Terimakasih Kim Jongin,” ucap Wendy sambil tersenyum cerah.

“Apa?” tanya Jongn yang tidak mendengar jelas apa yang Wendy ucapkan.

“Terimakasih,”

.

.

Bersambung

how bout this chapter? Leave your love guys ^^

XOXO

59 thoughts on “Letter From Nowhere : #8 Letter – Menyingkap Tirai Kebenaran (2)

  1. Hai thor😀
    Aku baru bisa komen di sini. Soalnya baru samalem nemu ni ff.
    Dan kesan pertama liat ni ff, aku langsung bilang “gila castnya 94line favorite gua dan oppa besuara bass favorite gua juga”
    Sumpah castnya menarik binggow.
    Terus mulai baca setiap part, dan ternyata bener2 keren thor. Suka banget sama ceritanya yang alurnya maju mundur.

    Di lanjut ya thor😀

  2. trus sehun nyalahin jongin? Aduuh makin penasaran euy .. blom lagi soojung chanyeol, huff
    kalo surat dari wendy itu? Yg dititip ke seulgi?
    Fighting please update soon ^^

  3. Oh jadi wendy yang minta buat ngerasain air hujan. Jadi itu bukan sepenuhnya kesalahan jongin kan? Trus kenapa sehun marah banget? apa si sehun itu cuma salah paham aja? Tapi sehun udah ngertikan kalau dia cuma salah paham aja? Ngebingungin hfftt ff nya. Lanjut ya thor,ff nya keren😉

  4. yaa ampun jongin semenderita itukah dirimu:( kasiankasian, wendy pasti gak tahan pengen banget kaya temennya yang bisa main hujan”an..
    Buku yang dikasih seulgi itu isinya surat” yang dikasih ke jongin kan ? firsatku sih gitu trus seulgi banyak banget nyimpen rahasia, bisa dijadiin diary berjalan aku juga gak😀

    Nih juga aku penasran siapa yang bakal jadi pasangan nantinya hehe
    next chap ditunggu^^

  5. aaah sedih banget part ini, beneran thor. nggak bisa bayangin reaksi jongin setelah membawa wendy di bawah air hujan, makannya dia merasa bersalah banget, tapi itu kan kemauan wendy sendiri untuk merasakan air hujan ,yg bisa membuat dia sakit dan akhirnya meninggal, next chap thor ,di tunggu pasti tambah sedih banget

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s