Diposkan pada Chapter, Family, Romance, SCHOOL LIFE

Daddy & Baby [Chapter 5/END]

request-pc56

Nealra Present Daddy & Baby with

Kim Suho||Park Chanyeol||Do Kyungsoo||Kim Jongin||Oh Sehun

and Park Jungnam||Jung Soojung||Joy Park||Kim Namjoo||Park Chorong||Kim Yesung||Lay Zhang

special Kim Junho

in Romance||School-life||Family||PG-13||Chaptered

Casts belong to their self and GOD. Story is author mine

Poster by arin yessy @ Poster Channel

FF ini adalah versi cowok dari My Future & Generation

Previous Chapter 4

Tanpa pemberitahuan sebelumnya, chap 5 menjadi the last chap. Seperti yang diketahui, author hiatus hampir 3 bulan. Dan akhirnya semua ide mengenai D&B melayang entah kemana. Jadi dengan sangat disayangkan, D&B harus diakhiri dengan cara yang seperti ini. Mian kalau banyak yang kecewa. Di SMA ini author sadar betapa sulitnya menyeimbangkan waktu antara dunia real dan tulisan author.

See ya in my next FF~

HAPPY READING!

Pagi ini, penghuni apartement bernomor 305 itu tampak cemas. Mereka telah bersiap untuk ke sekolah tapi sesuatu menahan mereka.

“Jongin belum bisa dihubungi?” tanya satu-satunya wanita di rumah itu, Jung. Chanyeol menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan kakaknya.

“Kejadian ini sama seperti saat Jongin diputuskan Soyu. Dia hilang dan baru pulang pagi harinya” Seru Suho, cemas. Kyungsoo mengangguk.

“Apa Jongin kembali diputuskan? Oleh siapa? Soojung?” Sehun menyahut. “Mungkin saja” Timpal Kyungsoo.

Kyungsoo sendiri tidak hanya mengkhawatirkan Jongin melainkan ia juga mengkhawatirkan Joy “Joy ingin datang kesini untuk bertemu Jongin, tapi Jongin bahkan tidak jelas rimbanya. Dia pasti akan sangat kecewa” Kyungsoo mendesah pelan.

Tidak berselang lama terdengar suara bel. Chanyeol berniat untuk mengeceknya, mungkin saja itu Jongin, tapi Kyungsoo segera menahannya “Biar aku saja!”

Seperti dugaan Kyungsoo, orang itu adalah Joy. Ia tidak ingin berlama-lama dan segera membuka pintu. Tapi jauh dari yang ia bayangkan, saat ini Joy tengah merangkul Jongin yang dalam keadaan pingsan “Kyungsoo sunbae, Jongin oppa pingsan” cemas Joy.

Sesaat, Kyungsoo terpaku. Ia sulit mencerna kejadian beruntun yang baru saja terjadi ini.

“Sunbae!” Panggil Joy menyadarkan Kyungsoo. Tanpa berkata apa-apa, Kyungsoo segera mengambil alih Jongin dan membawanya masuk. Joy menyusul di belakang.

Semua orang tampak terkejut dengan kedatangan Jongin dalam keadaan mabuk. Mereka segera membawa Jongin ke dalam kamarnya lalu membaringkan Jongin. Sehun merapikan selimut Jongin tepat saat Jongin sadar.

“Sehun, Kau!” Jongin menarik kerah Sehun, membuat semua orang yang ada disitu terkejut. Chanyeol buru-buru melepaskan cengkraman Jongin.

“Apa yang terjadi, Jongina?” Sahut Suho, terkejut sekaligus cemas.

Sementara Joy juga tampak terkejut melihat Jongin. Kyungsoo buru-buru menarik Joy untuk keluar.

“Kau sebaiknya duluan saja ke sekolah. Toh Jongin tidak akan ke sekolah” ucap Kyungsoo. Joy mengangguk kecewa “Sunbae tetap akan ke sekolah kan?”

“Iya. Nanti kita bicara lagi di sekolah” Kyungsoo menepuk bahu Joy. Joy pun pamit.

Sementara Kyungsoo kembali ke kamar. Jongin meracau tidak jelas karena pengaruh alkohol yang ia minum. Tapi tampak sekali kalau Sehun lah orang yang sedari tadi Jongin maksud.

Suho duduk di samping Jongin “Kenapa, Jongina?” tanyanya penuh pengertian. Ia merasa Jongin seperti ini pasti ada alasannya.

“Hyung~” suara Jongin melemah, tatapan marahnya pun menjadi sendu. “Soojung menolakku”

“Seperti yang sudah diduga” Sahut Chanyeol.

“Masih banyak gadis lain, Jongina” ucap Suho, lembut. Jongin menggeleng. Matanya berkaca-kaca “Ini bukan masalah itu, hyung. Aku mungkin bisa melupakannya atau tetap berusaha mendekatinya, tapi fakta kalau Soojung menyukai Sehun membuatku tidak punya pilihan apapun”

Soojung menyukai Sehun. Kata itu terngiang-ngiang di kepala mereka semua. Terlebih lagi Sehun selaku orang yang dimaksud.

“Bukankah Soojung dan Sehun tidak dekat, tapi justru kalian lah yang dekat. Kenapa Soojung menyukai Sehun?” tanya Chanyeol. Jongin tertawa sinis “Aku juga tidak tahu bagaimana pemikirinnya. Hanya karena Sehun bisa merawat bayi dengan baik, dia malah menyukai Sehun. Parahnya dia menyuruhku membantu hubungannya dengan Sehun” Jongin menangis dalam tawa pahitnya.

Semua terdiam. Tak ada yang menyangka hal ini bisa terjadi pada salah satu dari mereka. Cukup lama mereka terdiam sementara Jongin telah kembali ke alam bawah sadarnya.

~*~

            Kyungsoo dan Joy sama-sama terdiam dalam waktu yang cukup lama. Mereka memilih memandangi siswa-siswa yang berlalu lalang di bawah atau menatap langit cerah dengan awan putih.

Joy mendesah “Sepertinya Jongin oppa sedang dalam keadaan yang sulit. Aku memaklumi itu walaupun aku tidak tahu masalahnya. Aku tetap mendukung dan menyukai Jongin oppa seperti sebelum-sebelumnya”

Kyungsoo menatap Joy sekilas yang tengah memandang langit biru “Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kau ingin datang lagi besok?”

Joy menggeleng “Aku belum tahu ingin datang lagi atau tidak, yang pastinya aku tidak akan datang dalam minggu ini. Mood Jongin oppa sedang buruk. Tapi, sunbae harus ingat kencan besok!”

Kyungsoo mengangguk malas “Iya. Aku akan datang” Joy tersenyum senang, lalu kembali merenung seperti sebelumnya.

Kyungsoo juga kembali merenung. Sama halnya dengan Sehun yang tengah berada di kelasnya, 2-1. Ia tidak ke kantin dan hanya menghabiskan waktunya di kelas untuk membaca buku atau lebih tepatnya melamun.

“Hai, Sehuna!” Sapaan siswi bernama Jung Soojung menyadarkan Sehun dari lamunannya.

“Oh, hai” Balas Sehun, gelagapan. Kata-kata Jongin masih terngiang-ngiang di kepalanya. Sementara Soojung tengah tersenyum manis kepada Sehun “Kau tidak ke kantin?” Sehun menggeleng “Aku harus pergi” ucapnya lalu melesat keluar. Soojung menatap kepergian Sehun dengan sendu.

~*~

            Jung tengah membuatkan makan siang untuk Junho ketika Jongin dengan mata bengkaknya keluar dari kamar. Ia duduk lalu membaringkan kepalanya di meja makan dengan lemas

“Ingin kubuatkan makanan?” tanya Jung, masih sibuk dengan bubur Junho. Jongin mengangguk “Ne, nuna”

Bubur Junho telah jadi. Ia meletakkannya di meja lalu mengambil panci untuk membuat nasi goreng. Jongin tersadar “Tidak perlu, nuna!” Ia segera merebut panci itu lalu meletakkannya kembali. Jung hanya mengangguk kemudian beralih pada Junho.

Jongin menghela nafas lega “Hampir saja rumah menjadi kapal pecah”. Jongin pun memeriksa lemari dan menemukan ramen. Mau tidak mau ia harus makan ramen.

Sementara Jung tengah menyuapi Junho yang menjadi super aktif di bulan ke tujuhnya ini. Jung agak kesulitan memberi makan Junho karena setiap ia menyuapi bubur, Junho berusaha untuk menggenggam sendoknya membuat mulut Junho penuh dengan bubur. Jung hanya tersenyum melihat tingkah Junho.

Bel berbunyi. Jung buru-buru mengeceknya dan betapa terkejutnya ia mendapati siapa orang itu “So Ahjussi!” . Jung kembali ke dalam lalu membawa Junho ke dapur.

“Jongin, tolong jaga Junho. Aku ada tamu” Setelah mengucapkan itu, Jung buru-buru pergi tanpa menunggu jawaban Jongin. Jongin sendiri masih terpaku. Ia tersadar lalu berdecak menatap Junho “Mana bisa aku menjaganya”

Jongin tampak tidap peduli pada Junho yang tengah duduk di atas meja sambil sesekali menatap Jongin. Ia memilih melanjutkan makannya.

Junho merangkak dengan susah payah menghampiri Jongin. Ia memukul-mukul cup ramen Jongin yang tentu saja membuat Jongin terkejut “Bodoh! Ini panas. Kalau terkena airnya kau akan terluka” Jongin segera menyingkirkan cup ramennya sementara Junho justru tertawa mendengar bentakan Jongin.

Jongin mendesah lemah sambil mengacak rambutnya, frustasi “Kenapa aku harus menjaganya?”

Ia mengakhiri makannya lalu mengamati Junho yang tampak asik bermain dengan bayangannya sendiri melalui pantulan kaca meja. Sesekali Jongin tersenyum melihat tingkah Junho walau sesaat kemudian, ia kembali jutek.

Jongin menghembuskan nafasnya. Ia merasa mual dan segera ke kamar mandi. Rupanya efek semalam masih terasa. Jongin kembali ke ruang makan. Matanya membulat mendapati Junho berada di ujung meja dan tampak ingin meraih sesuatu yang terjatuh di bawah meja. Jongin segera menangkap Junho sebelum bayi itu mendarat di lantai.

“Kau benar-benar memusingkan” Jongin mengacak rambutnya lalu membawa Junho ke ruang tengah.

Sementara Jung tampak gugup dan juga takut. Ia berjalan di koridor apartement lantai 46, satu lantai di atas apartementnya. Tampak seorang pria yang Jung panggil sebagai So Ahjussi mengekor di belakangnya. Mereka sampai di depan apartement bernomor 356.

Jung tampak ragu menekan bel, berbeda dengan So Ahjussi yang segera menekan bel. Jung mengusap tangannya yang sangat berkeringat.

“Agasshi, kau tidak sedang berbohongkan? Sebaiknya agasshi kembali ke Tokyo, lalu melanjutkan rencana pertunangan” ucap So Ahjussi. Jung mengerucutkan bibirnya “Aku dan Yesung oppa telah berpacaran. Kami akan segera menikah. Jadi berhentilah menyuruhku untuk kembali. Beritahu juga pada ibu dan ayah kalau aku hidup bahagia bersama Yesung oppa di sini”

Bersamaan dengan itu, pintu terbuka menampakkan wajah Yesung. Ia sedikit terkejut mendapati So Ahjussi. Ia menunduk kecil untuk memberikan salam “Apa yang anda lakukan disini, Tuan So?”

“Apa benar kau dan Jung agasshi telah berpacaran?” tanya So Ahjussi, tanpa basa-basi. Yesung terkejut campur bingung mendengar pertanyaan So Ahjussi. Jung segera merangkul Yesung “Kami benar-benar berpacaran. Aku tidak akan kembali dan hidup bahagia bersama Yesung oppa. Benarkan, oppa?” Jung menatap Yesung, memohon.

Yesung terdiam cukup lama lalu mengangguk “Iya. Itu benar” So Ahjussi tampak terkejut. Ia pamit dan berkata akan memberitahukan kabar bahagia ini pada ayah dan ibu Jung.

Jung mendorong Yesung masuk ke dalam lalu menutup pintunya. Ia berbaring di sofa sambil menghembuskan nafas lega “Terima kasih, oppa. Tapi, apa kita benar-benar berpacaran?” tanya Jung penuh harap.

Yesung berdecak sambil menggeleng “Sebaiknya kau segera menyelesaikan urusanmu di sini, lalu kembali lah ke Tokyo. Orang tuamu mencemaskanmu. Ketika Tuan dan Nyonya Park mengkonfirmasi ulang, aku akan mengatakan yang sebenarnya”

“Aku juga mau kok menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Tapi kan oppa yang tidak bisa bekerja sama. Tujuan utamaku adalah untuk mendapatkan oppa. Yang lainnya itu hanya fan-meet”

“Jung, menikahlah dengan orang yang sesuai denganmu lalu kau bisa melanjutkan mimpimu menjadi penulis yang terkenal. Dengan dukungan suami, kau bisa meraih mimpi” Yesung memberikan nasihat. Jung tersenyum “Rencana yang sangat bagus oppa. Apalagi kalau orang yang kunikahi adalah oppa”

Sekali lagi Yesung mendesah berat “Pulanglah. Bagaimana kalau Junho menangis dan mencarimu”

“Aku melupakannya. Sebenarnya ada Jongin sih, tapi aku ragu padanya. Kalau begitu aku pulang dulu yah” Jung melangkah ringan meninggalkan apartement Yesung. Sementara Yesung tampak tersenyum dalam diam.

~*~

            Sudah seminggu ini Suho kerja sambilan di kafe. Ia menghampiri meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan lalu membersihkan meja itu. Ia kembali teringat masalah di rumah “Jongin pasti dalam keadaan yang sangat sulit sekarang. Ia benar-benar mencintai Soojung, hal itu terbukti dari bagaimana ia mencoba berubah demi Soojung. Tapi Soojung justru menyukai Sehun. Sehun sendiri pasti tidak ingin hal ini terjadi. Dia juga pasti tengah cemas sekarang. Sehun memiliki hati yang lembut, ia pasti bingung harus melakukan apa” Suho mendesah.

“Kerja!” Senggolan Lay menyadarkan Suho.

“Mian” Suho tersenyum kikuk lalu membawa gelas-gelas tadi ke belakang.

Chorong yang sedari tadi memperhatikan Suho, menghampirinya “Apa kau ada masalah?” tanya Chorong, perhatian. Suho kembali mendesah “Sebenarnya bukan aku, tapi adik-adikku”

“Adik-adikmu? Apa mereka yang bersamamu di amusement park dulu?”

Suho mengangguk “Tampaknya mereka terlibat cinta segitiga yang cukup rumit. Mereka kembar tapi beda. Mereka sering bersama tapi jarang bercekcok. Melihat masalah ini, aku benar-benar khawatir pada mereka berdua”

Chorong menepuk pundak Suho “Cobalah berpikir dengan jernih. Pasti ada jalan dibalik permasalahan pelik itu” Suho tersenyum “Terima kasih”

~*~

            Chanyeol, Kyungsoo, dan Sehun pulang bersama-sama. Mereka disambut oleh Junho dan Jung. Chanyeol segera menggendong Junho lalu menciumnya gemas. Sementara Sehun yang biasanya juga ikut mencium Junho malah tampak tidak bersemangat. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan lemas. Kakak-kakaknya menatap Sehun, iba.

Jung teringat dengan kejadian tadi “Keberadaanku sudah diketahui” ucap Jung. Kyungsoo dan Chanyeol menatap Jung terkejut “Jadi nuna akan kembali ke Tokyo?” tanya Chanyeol.

Jung menggeleng sambil tersenyum “Yesung oppa membantuku dan akhirnya aku tidak perlu kembali ke Tokyo”

Kyungsoo buka suara “Aku minta maaf, nuna. Aku yang menyebabkan Junho hilang dan aku juga yang menyebabkan keberadaan nuna diketahui”

Jung menggeleng “Tidak masalah. Justru aku senang karena Yesung oppa ingin membantuku. Kalau So Ahjussi tidak datang, berarti aku akan kehilangan momen tadi. Setelah ini kita hanya harus hati-hati terhadap Kepolisian. Kepala Polisi Do sangat berbahaya” kalimat terakhir Jung mengundang tawa kedua adiknya.

~*~

            Suho pulang tepat sebelum makan malam. Semua telah berkumpul di meja makan kecuali Jongin yang memilih mengurung diri sejak tadi. Berkali-kali Jung mengajaknya makan bersama tapi Jongin tampak tidak peduli. Merekapun memutuskan untuk makan tanpa Jongin.

Suho memperhatikan satu persatu adik-adiknya dalam keheningan makan malam ini. Tampak jelas kerutan masalah di wajah mereka bertiga. Suho menghela nafas berat yang disadari oleh Jung. Jung tak berkata banyak dan hanya bisa merasa iba kepada mereka.

Makan malam telah selesai, Suho berniat membawakan makanan pada Jongin. Ia menuju ke dapur untuk mengambil makanan itu, saat Jung tengah mencuci piring.

“Kau harus bisa bersabar dan tidak terlalu memusingkan dirimu. Bisa jadi kau yang akan kewalahan. Bersantailah”ucap Jung pada Suho, sambil mencuci piring. Suho mengangguk “Aku akan mencobanya tapi tetap saja aku tidak bisa membiarkan masalah mereka. Nuna juga harus lebih bersabar menghadapai masalah nuna. Chanyeol pasti akan sedih saat nuna sedih”

“Aku selalu memikirkannya. Chanyeol jadi murung dan banyak pikiran karena aku. Aku akan mencoba yang terbaik dan menyelesaikan masalah ini secepat mungkin” Jung tampak bersemangat mengakhiri ucapannya.

Suho pun berlalu. Ia memasuki kamar Jongin setelah Jongin membukanya. Jongin kembali berbaring di kasurnya sambil menutupi dirinya dengan selimut. Suho meletakkan makanan yang dibawanya lalu duduk di pinggir kasur Jongin.

“Jongina, makanlah. Kau bisa sakit kalau membiarkan dirimu seperti ini” Terdengar suara lembut Suho. Jongin tak bergeming.

“Jongina, aku tidak akan menyalahkanmu atau menyalahkan siapapun. Perasaan seseorang tak akan bisa ditebak. Tapi aku sangat bangga padamu saat kau mencoba untuk berubah. Dia belum menemukan sisi terbaikmu. Walau begitu, akan ada orang lain yang lebih baik darinya yang bisa melihat sisi terbaikmu. Percayalah itu. Jangan terpuruk hanya karena ini. Dan Sehun juga tidak menginginkan hal ini terjadi” Suho mengakhiri ucapannya sambil menepuk bahu Jongin.

Suho berdiri “Makanlah, Jongina” Ia pun keluar dari kamar Jongin.

Sementara Jongin sama sekali tidak tertidur. Di dalam selimut yang menutupinya, matanya berkaca-kaca memikirkan ucapan Suho.

~*~

            Jongin keluar dari kamarnya dengan menggunakan seragam lengkap ditambah wajah yang lusuh dan sorot mata yang tak bernyawa. Berbeda dengan orang-orang yang melihatnya keluar. Semua tampak bahagia.

“Apa kau sudah merasa baikan?” tanya Jung. Jongin mengangguk datar. Mereka makan bersama. Meja makan dipenuhi canda tawa Chanyeol yang melihat kelakuan Junho. Suho juga tampak tersenyum melihat anaknya. Sementara Sehun, Jongin, dan Kyungsoo memilih fokus pada makanannya.

~*~

            Jongin memasuki kelas disusul Sehun yang mengekorinya. Tampak wajah senang Soojung menyambut kedatangan dua namja itu “Jongin, kau baik-baik saja sekarang?” tanyanya, menghampiri Jongin.

“Jangan bertanya padaku” Sinis Jongin dengan penakanan di setiap kata-katanya. Soojung benar-benar terkejut. Ia tak pernah menyangka Jongin akan berkata seperti itu.

“J-jongin” Panggil Soojung, takut. Tapi Jongin tampak tidak peduli lalu meninggalkan Soojung menuju ke tempat duduknya. Soojung benar-benar tak habis pikir. Ia beralih menatap Sehun yang kini telah duduk di bangkunya.

“Apa yang terjadi pada Jongin?” tanya Soojung setelah ia tepat berada di depan Sehun. Sehun hanya menggeleng lalu kembali fokus pada buku yang baru saja dibacanya.

Soojung kembali ke tempat duduknya dengan ekspresi kecewa. Sejak kemarin, Sehun tampak menjauhinya, dan semakin hari, semakin menjauhinya “Ini tidak bisa dibiarkan. Jika semakin lama Sehun semakin menjauhiku, aku tidak akan bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Sebaiknya aku ungkapkan perasaanku sekarang”

Soojung berdiri dengan mantap. Ia menghampiri Sehun “Sehun, sepertinya kita perlu bicara” Soojung berusaha mengontrol degupan jantungnya. Sehun menatapnya malas lalu mengangguk. Ia keluar disusul Soojung. Sementara Jongin memperhatikan kedua manusia itu. Ia tampak penasaran dan memilih mengikuti mereka.

Sehun menghentikan langkahnya di belakang gedung sekolah “Apa yang ingin kau katakan?” tanya Sehun, tanpa basa-basi.

Soojung menghela nafas lalu berkata dengan gugupnya “Sehun…. aku menyukaimu”. Sehun tak menunjukkan perubahan apapun. Ia masih menatap Soojung dengan malas “Maaf. Aku tidak bisa menerimamu. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Kau kuanggap sebagai sahabat. Dan aku sudah memiliki wanita yang kusukai”

Soojung terdiam. Rasanya sakit. Sangat sakit. Matanya mulai berkaca-kaca “Be-benarkah kau menyukai gadis lain?”

Sehun mengangguk “Kau cukup dekat dengannya. Bisakah kau membantuku mendekati gadis itu?”

Dan Soojung kembali serasa ditikam dalam-dalam “Kau tidak punya hati nurani?” Soojung berusaha menahan air matanya yang akan segera tumpah. Ekpresi Sehun masih tidak berubah “Aku tidak punya hati nurani? Apa maksudmu?”

Air mata Soojung mengalir sempurna “Bagaimana bisa kau menyuruh orang yang menyukaimu untuk membantumu dengan gadis lain? Apa kau tidak punya perasaan?”

Sehun tersenyum tipis “Ah~ Jadi kau tidak punya hati nurani. Aku mengerti sekarang”

Tangisan Soojung terhenti, ia tak mengerti apa maksud ucapan Sehun “Kenapa aku yang tidak punya hati? Apa yang kau bicarakan?”

Sehun menatap Soojung tajam “Bagaimana bisa kau menyuruh Jongin untuk membantumu agar bisa dekat denganku? Bukankah kau sudah tahu kalau Jongin menyukaimu? Kau yang tidak punya hati nurani!”

“Aku dan Jongin berbeda. Aku sangat menyukaimu…”

Sehun memotong ucapan Soojung “Jadi, Jongin tidak benar-benar menyukaimu? Coba kau pikir Jung Soojung. Jongin berubah karena dirimu. Karena dia ingin terlihat baik di hadapanmu. Karena dia benar-benar menyukaimu” Bentak Sehun.

Soojung terdiam. Air matanya kembali mengalir. Kakinya goyah. Ia terduduk di rerumputan sambil menerawang kebersamaannya bersama Jongin “Sehun benar. Sehun benar”

~*~

            Sehun berjalan sendiri kembali ke rumah. Tampak Jongin mengejarnya dari belakang “Sehun! Sehun!”

“Jongin?” Jelas sekali raut kebingungan di wajah Sehun. Jongin tersenyum tipis “Mian. Tapi aku mendengar semua yang kau bicarakan dengan Soojung di belakang gedung sekolah”

Sehun membulatkan matanya “Ba-bagaimana…”

“Terima kasih” Jongin merangkul Sehun sambil melanjutkan perjalanan mereka. Sehun tak dapat berkata apa-apa.

“Aku pikir kau juga menyukai Soojung. Aku takut menghadapi kenyataan kalau kalian berdua bersama. Maaf, sempat tak percaya padamu. Dan seperti yang Suho hyung katakan, dia belum melihat sisi terbaikku. Aku tidak peduli lagi padanya. Aku akan menjalani hidupku untuk diriku sendiri” Jongin tersenyum lebar mengakhiri ucapannya.

“Baguslah, Jongin” Sehun ikut tersenyum.

“Tapi, kata-katamu tadi membuatku speechless. Aku tidak melihat sosok Sehun yang polos. Kau benar-benar hebat” Jongin mengacak rambut Sehun, yang dibalas tawa oleh Sehun.

~*~

            Kyungsoo menatap lurus gadis yang ada di depannya. Sejak setengah jam lalu, mereka tidak benar-benar mengobrol. Hanya sang gadis lah yang mengajukan pertanyaan sementara Kyungsoo menjawab seadanya.

Gadis itu, Kim Namjoo, meminum minumannya lalu beralih menatap Kyungsoo, segan-segan “Sunbae, apa alasanmu makan malam bersamaku?”

“Aku dan Joy membuat taruhan lalu aku kalah” Jawab Kyungsoo, jujur. Namjoo mengangguk “Hanya karena alasan itu?”

Kyungsoo balas menatap Joy seolah berkata ‘memangnya apa lagi?’

Namjoo menunduk kemudian kembali menatap Kyungsoo sambil tersenyum “Jadi sunbae benar-benar menyukai Joy, yah”

Mata Kyungsoo membulat “A-apa maksudmu?” Terlihat jelas bagaimana Kyungsoo salah tingkah hanya karena satu kalimat itu. Namjoo tersenyum tulus “Tidak perlu menyangkal, sunbae. Semua juga bisa langsung menyadari hal itu. Aku sebagai sahabat Joy mendukung hubungan sunbae dan Joy. Menurutku, sunbae adalah pria yang tepat untuk Joy. Dan aku yakin Joy juga sebenarnya tertarik pada sunbae. Walau dia masih terbayang-bayang oleh masa lalunya dan Jongin sunbae. Tapi, dia pasti akan segera melirik sunbae”

Kyungsoo hanya bisa tersenyum mendengar semua penuturan Namjoo. Ia tak menyangka adik kelasnya ini bisa berbesar hati. Ia merasa perlu banyak belajar.

~*~

            Jung berdiri di depan pintu apartement bernomor 356. Ia memain-mainkan gantungan kunci boneka smurf dengan jari telunjuknya sambil memastikan apakah si pemilik rumah sudah datang. Beberapa kali ia menghela nafasnya karena kebosanan.

“Jung, apa yang kau lakukan?” Sebuah suara menginterupsi kegiatan Jung. Ia menatap si pemilik suara dengan mata berbinar-binar “Oppa~ Akhirnya kau pulang. Kenapa kau bisa terlambat, oppa?”

“Aku harus mengurus nilai siswa yang belum lengkap. Tapi, apa yang kau lakukan disini?” Yesung membuka pintu apartementnya. Ia memasuki apartement itu disusul Jung yang tengah mengekorinya “Temani aku di acara fansign yah, oppa?!”

Yesung mengambil air minum lalu meminum segelas air itu “Kau bisa sendiri kan?”

“Tidak bisa, oppa. Nanti aku tersesat” Jung memeluk bantal sofa dengan gaya imutnya. Yesung menggeleng “Aku banyak kerjaan” Ia memilih memasuki kamarnya.

Tapi Jung tidak akan menyerah semudah itu. Ia berdiri di depan pintu kamar Yesung “Oppa, aku tidak akan dan tidak bisa pergi fansigning tanpa oppa. Oppa, jebal, ikutlah! Oppa! Oppa!” Jung menggedor-gedor pelan pintu kamar Yesung.

Tak ada jawaban dari dalam. Jung kembali menggedor-gedor pintu itu “Oppa, aku benar-benar tidak akan pergi kalau oppa tidak menemaniku. Dan aku tidak akan pindah dari depan kamar oppa”

“Oppa! Oppa!” Jung terus saja menggedor-gedor pintu kamar Yesung.

Cklek. Yesung membuka pintu kamarnya “Baiklah” angguk Yesung, malas.

“Terima kasih, oppa” Jung memeluk Yesung dengan senangnya.

~*~

            Dengan satu set gelas di tangan kirinya, Lay berjalan melewati Suho sambil menepuk pelan kepala juniornya di cafe ini “Cepat! Kita akan terima gaji!”

Suho sedikit tersentak. Ia mengangguk sambil tersenyum kecil, menyadari bahwa dia akan gajian. Suho buru-buru mengelap semua meja di dalam cafe.

Ia menghampiri Chorong setelah menyelesaikan pekerjaannya. Chorong tersenyum manis “Bagaimana? Melelahkan?”

Suho berpikir sejenak “Tidak juga. Hari ini aku merasa lebih bersemangat”

“Karena kau akan terima gaji kan?” Celetuk Lay yang tiba-tiba muncul lalu merangkul Suho. Ketiga orang itu tertawa riang.

“Selamat atas gaji pertamamu” ucap Chorong. Suho mengangguk.

“Bagaimana rasanya dapat gaji pertama?” Kini Lay yang bertanya. Suho tersenyum “Rasanya seperti mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Sangat menegangkan. Bahkan lebih dari saat aku ayahku memberikan mobil padaku”

“Uang yang kau dapat dari hasil kerja kerasmu sendiri lebih ternilai dibanding uang yang diberikan orang tua kita, bukan? Rasanya sangat melegakan juga membanggakan” timpal Chorong.

“Benar. Sangat membanggakan” Suho tersenyum bahagia. Ini bukan tentang uang, tapi tentang mendapatkan sesuatu setelah berusaha keras. Ia jadi semakin bangga pada Chorong dan Lay yang telah membiayai diri mereka sendiri selama ini.

~*~

            Yesung menunggu di pojok ruangan selama acara fansign berlangsung. Ia kagum pada Jung yang telah memiliki banyak penggemar. Selama ini, Jung tidak pernah menetap lebih dari setahun di manapun itu, setelah Yesung menyelesaikan kuliahnya dan memilih untuk meninggalkan perlindungan keluarga Park, sekaligus memutuskan hubungan Yesung dan Jung.

Jung mencari Yesung kemana saja dan tak pernah lelah mengejar pria itu. Walau sudah berkali-kali ditolak, tapi Jung tak pernah menyerah. Bahkan saat ini pun, ia masih berharap bisa bersama cinta pertamanya itu.

Fansign-ing berakhir setelah berjam-jam lamanya. Yesung terbangun dan mendapati ruangan itu telah kosong. Yesung segera keluar untuk menemukan Jung, tapi Jung tidak ada. Ia menghampiri salah satu staf yang tengah mengurus properti “Permisi. Apa anda melihat Penulis Park?”

“Sepertinya dia di ruang istirahat” Jawab staf itu sambil menunjuk arah menuju ke ruang istirahat. Yesung berterima kasih lalu segera menyusul ke ruang istirahat.

Keadaan sangat sepi. Hanya ada beberapa kru yang tersisa, itu pun semua ada di depan. Tidak ada yang berada di daerah belakang. Yesung membuka pintu itu dan betapa terkejutnya ia mendapati Jung yang tangan dan kakinya tengah terikat kuat. Sementara mulutnya telah dilakban.

“Keluar dari sini!”Seorang pria yang berada di samping Jung menodong-nodongkan pisau yang ada di tangannya ke arah Yesung.

Yesung terdiam. Sementara ia dapat menyadari bahwa Jung sangat ketakutan. Matanya berair dan sangat berharap Yesung bisa menolongnya.

“Apa yang kau lakukan padanya?” Bentak Yesung, mencoba menahan emosinya.

“Memangnya apa yang kulakukan? Aku akan membawa Jung…” Pria itu mengelus pipi Jung, membuat Yesung mengepalkan kedua tangannya kuat.

“…Lalu aku akan menikahinya. Aku telah membaca semua tulisan Jung dan aku tahu dia adalah orang yang menarik. Setelah menemuinya saat fansign di Tokyo lima tahun lalu, aku langsung jatuh cinta. Aku harus mendapatkan Jung” Pria itu tersenyum evil.

Pria itu kembali melanjutkan sambil menatap tajam Yesung “Dan kau menginginkan Jung menghilang dari sisimu, bukan? Aku telah mengikuti Jung selama ini dan aku tahu kalau kau selalu menolaknya. Jadi, kau bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk terbebas darinya. Bukankah itu ide yang bagus?”

Yesung menatap Jung sekilas, yang tengah menatapnya dengan mata yang berair serta tatapan sedih. Ia beralih menatap pria tadi. Pria itu kembali mengelus pipi Jung. Jung berusaha menghindar tapi ia tidak berdaya.

“A-aku…” Yesung menatap pria itu tajam “Aku juga mencintai gadis itu. Aku mencintai Park Jungnam. Jauh sebelum dia mulai menulis, aku telah berada di sampingnya dan aku akan selalu berada di sampingnya”

Jung dan pria itu sama-sama terkejut. Saat inilah Yesung mengambil kesempatan untuk menendang pria itu sehingga pisau yang ada di tangannya terjatuh. Yesung buru-buru meringkus pria itu.

~*~

            Setelah mendapatkan gaji pertamanya. Suho membeli camilan yang cukup banyak untuk adik-adiknya, tak lupa ia membeli susu untuk Junho.

Semua tampak bahagia malam itu, Jongin asyik mengganggu Sehun. Sementara Chanyeol sibuk bermain bersama Junho. Walau sebenarnya, masih ada dua orang yang belum pulang.

Tidak berselang lama, Kyungsoo tiba “Hyung, ada surat untukmu. Penjaga bilang ini harus segera diberikan padamu” Kyungsoo menyerahkan surat itu. Baru saja ia ingin membuka surat itu, Jung bersama Yesung mengalihkan perhatian mereka.

Tampak Jung dengan wajah yang berantakan tengah dipapah oleh Yesung “Tadi ada kecelakaan” ucap Yesung, menjawab tanda tanya dari semua penghuni rumah.

Chanyeol segera menghampiri kakaknya dengan cemas “Nuna, apa yang terjadi?”

“Ada fans yang sangat menyukai Jung sampai-sampai dia berniat menculik Jung” Jawab Yesung. Chanyeol segera memeluk nunanya “Nuna~”

“Apa nuna terluka?” tanya Suho. Chanyeol melepaskan pelukannya lalu menatap kakaknya, ingin mengetahui jawaban itu juga. Jung menggeleng dengan lemas sambil berusaha tersenyum “Aku tidak terluka kok. Aku hanya masih sedikit syok”

“Syok? Memangnya apa yang orang itu lakukan, nuna?” Tanya Jongin, penasaran campur khawatir. Jung menggeleng “Bukan orang itu, tapi…”

“Yesung oppa bilang dia juga mencintaiku dan ingin selalu berada di sisiku” Jung mengucapkan kalimat itu dengan sangat riang, membuat semua terdiam. Tampaknya bukan Jung lagi yang syok, melainkan keenam namja yang tengah menatap khawatir Jung.

~*~

            Suho juga mendapat surat. Surat itu ia buka masalah Jung berakhir. Dan ternyata surat itu berasal dari Jessica Jung.

            Suho, hari ini tepat tujuh bulan umur Junho. Aku harap dia baik-baik saja bersamamu, karena ini artinya, sudah 2 bulan kau menjaga Junho. Aku masih belum bisa menjaganya sekarang. Kuharap kau bisa menjaganya lebih lama.

            Kau juga harus memeriksakan Junho secara rutin ke dokter. Ia lahir tanggal 19 Oktober 2014, jadi ingat untuk melalukan check up setiap bulan. Aku mengandalkanmu, Kim Suho.

Daddy & Baby

Wah~ Endingnya benar-benar aneh, bukan?

Sekali lagi author minta maaf untuk ending yang tiba-tiba ini. Sebagai gantinya, akan ada chap spesial yang mungkin mirip seperti epilog, tapi author lebih suka bilang spesial chapter.

Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah mengikuti dari chap 1 *bow

BYE BYE~

Iklan

Penulis:

I Like writing... I Love my family and my friends... I'm K-Pop Lovers and Ulzzang Lovers

14 tanggapan untuk “Daddy & Baby [Chapter 5/END]

  1. Kece badaii… Kirain aku, endingnya junho bakalan dibawa sma jessica, trus yesung sma jung, trus kai sma soojung.. Tpii bagus dehh.. Gomawo ne udh capek2 buat nih ff.. Fighting!!!

  2. Yah tamat deh,ih jessica unnie tega banget sama suho
    dia gak sayang tuh sama junho
    Gak rela tamat heheheh….
    tapi bagus kok endingnya,semua kembali sperti semula.
    Yah kirain endingnya si chorong bakalan sama si suho.
    udah deh segitu aja dari aku
    annyeong~😊

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s