US | Love in Seoul – Prolog

poster us-prolog

US | Love in Seoul – Prolog

Author : Charismagirl

Main Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Other Cast :

  • Ahn Sungyoung
  • Park Chanyeol

Rating : PG-13

Length : Chapter/series.

Note : Do not copycat without my permission. Setelah sukses dengan You and Him, You and I dan US berseries, sekarang aku coba bikin yang chapter dimana akan aku kasih beberapa konflik. Gak terlalu berat kok. Enjoy the prolog first…

Ini hanyalah segelintir kisah cinta di sudut kota Seoul

Siang yang cerah di musim panas, di hari minggu. Cuaca yang bagus untuk beraktivitas. Kesibukan tampak mewarnai salah satu daerah di timur kota Seoul. Seorang wanita sibuk menata toko yang baru selesai direnovasi—Flower Shop. Keputusannya untuk membangun sebuah toko bunga bukanlah sekedar keinginan karena suaminya mendukung penuh atas usahanya itu. Mereka mencari tempat bersama, menentukan dekorasi serta interior bangunannya. Ya, walaupun sebenarnya wanita itu lebih berhak menyatakan keinginannya, namun dia tetap memerlukan pendapat suaminya.

“Nona, dimana saya harus meletakkan meja ini?” Tanya seorang pekerja yang tampak lebih tua dari Minri.

“Disana saja Tuan, terimakasih.” Minri membungkuk pelan. Wanita itu dengan buku kecil dan pulpen di tangannya sedang sibuk menghitung jenis bunga yang ada di toko itu. Kemudian dia mencatat beberapa peralatan tambahan yang akan dibutuhkan.

Setelah semalaman berseluncur di internet, pikirannya seolah mendapat banyak inspirasi. Semangatnya untuk bekerja sedang berada pada titik tertinggi. Semuanya hampir selesai. Bangunan, bunga, dan papan nama. Minri memerlukan satu hal lagi. Dia memang ingin membangun usaha sendiri, namun dia butuh teman yang mungkin akan memberinya pendapat soal tata cara merawat tanaman agar tidak cepat layu. Dan dia memerlukan orang yang menguasai bidang itu. Salah satu orang yang diinginkannya sampai sekarang belum juga menghubunginya. Minri sedikit menyesal karena dia tidak meminta identitas orang itu, Minri hanya sempat menyerahkan kartu namanya.

Eomma!” Anak kecil dengan suara yang tidak asing memeluk kakinya dari belakang membuatnya cukup kaget dan hampir menjatuhkan pulpennya.

Minri berbalik lantas berjongkok. Dia menyimpan pulpen dan buku kecil itu di kantong celana lantas mengacak rambut anak itu dengan gemas. Anak itu tersenyum senang. Usapan tangan ibunya membuatnya merasa nyaman.

“Chanhee sayang,” ucap Minri lalu mencium pipi Chanhee. Wanita itu berdiri, bersamaan dengan itu seorang pria dari belakang menyelipkan lengan ke pinggangnya yang ramping. “Astaga! Kalian suka sekali mengejutkanku.”

“Bagaimana persiapannya?” Tanya pria itu sembari memperhatikan ke sekitarnya. Papan nama bertuliskan ‘Byun Fam Florist’ terpampang di dalam, di dekat meja kasir. Dan satu lagi yang lebih besar akan dipajang di depan toko.

“Hampir selesai,” jawab Minri. “Lepaskan tanganmu, Baek. Banyak orang disini,” bisik Minri.

“Semua orang sudah tahu kalau aku adalah suamimu.”

“Tapi kan—“

Stt!” Baekhyun meletakkan telunjuknya di depan bibir Minri. Kemudian pria itu melepaskan rangkulannya dan menuntun tangan Chanhee. “Coba tebak untuk apa kami kesini?”

“Menjemputku? Aku kan belum selesai dengan pekerjaanku. Aku sudah bilang kalau nanti aku biasa saja minta jemput atau pulang naik bis.”

“Kami akan menculik Eomma ke suatu tempat.” Chanhee menarik tangan ibunya lalu membawa wanita itu keluar toko. Sementara Minri pasrah hingga mereka tiba di depan mobil Baekhyun. Minri mengerutkan keningnya, bingung.

“Heh?”

“Ayo makan es krim!” sorak Chanhee yang kemudian membuka pintu mobil dan melesat masuk ke kursi bagian belakang mobil.

Minri tersenyum mengerti. Jadi mereka datang untuk mengajak Minri makan es krim. Hari minggu memang hari yang tepat untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Biasanya Chanhee akan menonton kartun sampai tengah hari setelah itu mereka bertiga jalan-jalan ke suatu tempat yang menarik. Hanya saja hari ini Minri begitu sibuk. Jika semua persiapan sudah selesai, Minri berencana meresmikan tokonya besok.

“Sebentar,” ucap Minri kemudian melesat masuk ke dalam toko. Dia berbicara beberapa saat pada pekerja disana sebelum masuk ke dalam mobil Baekhyun.

***

Di waktu yang sama, di tempat yang lain. Seorang gadis tengah membereskan buku-bukunya. Kelas kuliahnya baru saja selesai. Gadis bermarga Ahn itu melirik temannya—gadis berambut pirang sebahu- yang tampak tidak beranjak sedikitpun dari bangkunya. Di kelas besar itu hanya tersisa mereka berdua.

“Serius sekali. Yak! Sebaiknya kau selesaikan saja bacaanmu di rumah. Kelas ini akan dipakai jurusan fisika sebentar lagi.”

Gadis berambut pirang itu tidak menggubris perkataan Sungyoung, membuat Sungyoung penasaran dengan apa yang sedang dibacanya. Buku bersampul merah muda lembut, bernuansa musim semi. Ah, pasti novel romance.

“Seseorang yang kau pilih adalah seseorang yang membuatmu nyaman, dalam keadaan apapun, menerimamu apa adanya dan tahu segala sudut kekuranganmu bahkan sebelum kau mengetahuinya.”

“Apa yang kau bicarakan?” Sungyoung mengerutkan keningnya. Dia menutup resteling tasnya lalu bersiap pergi dari sana.

Gadis berambut sebahu itu menyelipkan pembatas di sembarang halaman pada novelnya, lantas tersenyum. “Aku baru saja membaca kutipan paragraf akhir.” Kemudian gadis itu meregangkan tubuhnya dan berdiri. “Aku ingin sekali bertemu dengan pengarang buku ini.”

“Memangnya siapa sih?” Sungyoung mengambil buku itu kemudian membaca sampul depan. Dia merasa tidak asing dengan nama pengarangnya, kemudian dia membuka profil penulis di halaman akhir. “Mwo?” Sungyoung membulatkan matanya, tidak percaya.

“Ada apa, Ahn?”

“PMR itu Park-Minri?”

Yeah, wanita yang mengambil jurusan akutansi di Amerika, lalu berakhir menjadi penulis. Hidup memang susah di tebak, ya.”

“Kurasa aku bisa mempertemukanmu dengan wanita itu.”

“Kau bisa mempertemukannya denganku karena selama ini kau menyembunyikan bahwa dirimu ternyata adalah adik dari wanita itu. Yang benar saja Ahn, jangan bercanda.”

“Kau yang terlalu cepat menyimpulkan. Dasar.” Sungyoung memasang wajah datarnya. “Tapi janji, ya. Jangan membuatku malu.”

“Iya, iya, dasar bawel. Cepat katakan padaku. Kau membuatku penasaran.”

Sungyoung mengambil dompet dari dalam tasnya, lalu mengeluarkan selembar kertas persegi panjang seperti kartu kredit. Dia mengapit kartu itu di sela jari tengah dan telunjuk, memperlihatkan kepada temannya yang pirang itu.

“Aku punya kartu namanya.”

Kuharap aku bisa bertemu dengan keluarga Byun lagi. Byun Chanhee… bagaimana kabar anak itu?

***

Hyung! Aku mau ice cream vanilla.”

“Baiklah Chanhee. Tunggu sebentar.” Lelaki muda penjual es krim yang sudah kenal betul dengan Chanhee hanya tersenyum melihat tingkah anak itu. Dia melompat kecil untuk memperhatikan berbagai macam gambar es krim yang dari tadi membuatnya bingung untuk memilih.

“Chanhee, ayo duduk sini.” Minri melambaikan tangannya pada Chanhee. Dia dan Baekhyun lebih dulu duduk dan memesan dua gelas ice mocca cream.

Sembari menunggu es krimnya disiapkan, Chanhee duduk dan bersenandung kecil. Anak itu tampak ceria. Minri senang Chanhee sudah tumbuh besar dan menjadi anak yang periang. Minri beralih menatap Baekhyun, lalu menggenggam tangan pria itu. Baekhyun menoleh.

“Baek, aku akan meresmikan tokonya besok. Untuk sementara waktu biarlah aku bekerja sendirian.”

“Aku bisa membantumu di jam-jam makan siang.” Baekhyun membalut tangan Minri dengan kedua tangannya, bibirnya tersenyum teduh.

“Tidak perlu. Aku tidak apa-apa, sungguh.”

“Es Krim Chanhee!” sorak anak itu saat lelaki muda penjual es krim mengantarkan pesanan Chanhee ke meja mereka. “Gomawoyo, Hyung.”

Minri melepaskan tautan tangannya dan Baekhyun.

“Taeyong-ah,” panggil Minri saat lelaki itu baru berjalan beberapa langkah.

“Ada apa Noona?”

“Kalau kau punya waktu, datanglah ke peresmian toko bunga kami besok.”

“Waaah! Aku akan datang, Noona. Terimakasih.” Setelah itu Taeyong berlalu.

“Semua terserah padamu, asal kau tidak kelelahan.” Baekhyun mengusap kepala Minri. Wanita itu tersenyum sembari mengangguk. Dia meyakinkan Baekhyun bahwa dia pasti bisa melakukannya.

Kriing!

Minri mengambil ponsel di sakunya. Ada seseorang yang menelpon, namun bukan nomer yang dikenalnya. Wanita itu mengangkat telpon, beberapa saat setelah itu senyumnya mengembang.

“Sungyoung-ah!” Minri memegang tangan Baekhyun erat-erat seolah sebentar lagi dia akan melompat.

Hee? Noona yang membelikanku es krim?” ucap Chanhee sembari menatap Minri. Kemudian anak itu kembali melanjutkan makan es krimnya. Minri masih bicara di telpon, sementara Baekhyun mendengarkan.

Eonni! Senang bisa menghubungimu,” ucap gadis itu.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku baik-baik saja. Eonni bagaimana? Apa Chanhee masih ingat denganku?”

“Kami baik-baik saja. Tentu saja Chanhee ingat dengan Noona yang membelikannya es krim,” ucap Minri sembari tertawa pelan. “Oh iya, ada apa menelpon?”

“Sebenarnya tidak begitu penting. Salah satu temanku yang membaca novel karya Eonni ingin bukunya ditandatangani. Ugh, aku tahu ini merepotkan.”

“Tidak, sungguh tidak apa-apa. Kebetulan aku ingin bertemu denganmu. Apa kau punya waktu sore ini?”

“Sore?… Ya, kurasa aku bisa. Sampai bertemu sore nanti, Eonni.

Minri menjauhkan ponsel dari telinganya dan hampir saja menekan tombol merah. Namun Chanhee mendondongkan badannya mendekati ponsel Minri.

Noona!”

Sungyoung urung memutuskan sambungan telpon saat suara Chanhee terdengar.

Hai Chanhee. Senang mendengar suaramu lagi.

Bogoshipeo.” Chanhee mengerucutkan bibirnya, meski tahu bahwa Sungyoung tidak mungkin melihatnya. Minri tidak tahu hal apa yang membuat Chanhee dan Sungyoung tampak begitu dekat. Tapi Minri senang Chanhee seolah memiliki sosok kakak perempuan.

“Kita akan segera bertemu. Noona juga merindukanmu.”

*End of Prolog*

Gimana? Masih mau dilanjutin? AH, chapter 1 bakal aku post kalo aku sudah yakin sama alur dan akhir cerita ini. Jadi harap bersabar. Aku harap aku punya banyak waktu buat bikin ff lagi. (anggaplah hiburan disaat aku mumet mikirin proposal, seminar dan skripsi ;;—-;;)

Do not call me ‘thor’ okay 😉

Thanks for read!!

Mind to comment?

XOXO ❤

® Charismagirl, 2015.

90 thoughts on “US | Love in Seoul – Prolog

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s