[Minri’s Diary – 12] Camping Fun

12

[Minri’s Diary – 12] Camping Fun

Author : Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri

Other Cast :

  • Ahn Sungyoung
  • Park Chanyeol

Rating : PG-13

Length : Vignette / Series

Genre : Romance, friendship

Baekhyun merencanakan berkemah tanpa kuketahui. Kurasa ini sangat menarik!

***

Berkeliling supermarket di pertengahan bulan bukanlah kebiasaanku karena Eomma biasanya mengajakku berbelanja keperluan rumah di awal bulan—dan kami pulang dengan kantung belanjaan yang banyak. Hari ini sedikit berbeda karena Baekhyun lah yang mengajakku berbelanja di akhir minggu. Entah apa tujuannya, tapi aku tetap ikut dan membantunya memilih.

Waktu telah menunjukkan hampir pukul lima sore saat Baekhyun menjemputku di depan rumah. Kali ini dia benar-benar membawa mobil sendiri. Aku cukup terkejut sekaligus bangga. Pacarku yang polos , sekarang tampak lebih dewasa. Walaupun perkataannya hampir membuatku menarik kembali ucapanku tentang dia yang tampak lebih dewasa karena ternyata Baekhyun melakukan aegyo pada Baekbeom Oppa untuk mendapat ijin membawa mobil sendiri. Tapi, yah, dia tampan dengan kemeja kotak-kotak merah dan rambutnya yang berwarna emas. Dia mewarnai rambutnya lagi, kalau kalian belum tahu.

Aku pikir nyawaku akan melayang ketika aku memutuskan duduk di bangku depan dan Baekhyun di bangku kemudi lalu hanya ada aku dan Baekhyun dalam mobil itu. Tapi syukurlah dugaanku meleset. Baekhyun sudah bisa menjalankan mobil dengan mulus. Aku tidak tahu sesering apa dia belajar membawa mobil tapi aku bangga (terimakasih pada Baekbeom Oppa yang mau mengajarinya).

Isi kereta belanja kami hampir penuh. Sebagian besar adalah makanan. Kentang mentah, telur, ramyeon kemasan mangkuk, beberapa kaleng kopi serta jus lalu makanan ringan. Dia belum memberitahuku untuk apa dia membeli semua itu. Dia bahkan membeli gas api semprot dan lembaran aluminium.

“Baek, apa Byun eomoni yang memintamu belanja ini semua?” tanyaku pada Baekhyun yang sedang memilah-milah es krim. Aku rasa ini adalah yang terakhir karena kami sudah dekat dengan kasir.

“Bukan. Tapi Chanyeol,” jawabnya tanpa menatapku. “juga berdasarkan perundingan yang kami lakukan.”

“Chanyeol?”

Baekhyun mengangguk.

“Memangnya apa yang kalian rencanakan?”

Kereta belanjaan kami telah tiba di depan meja kasir. Baekhyun mengeluarkan semua barang yang ada di dalam kereta lalu petugas mulai menghitungnya satu per satu. Aku ikut membantu.

“Nanti kuberitahu,” ucapnya sambil tersenyum sampai ke mata, manis sekali.

Setelah selesai menghitung dan membayar semuanya, Baekhyun membawa semua kantung belanjaan itu. Aku sudah menawarkan bantuan, namun ditolak olehnya. Jadi, aku hanya berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik wajahnya yang tampan hingga kami tiba di mobil.

Baekhyun mencari-cari sesuatu dalam kantung belanjaan tadi, lantas mengeluarkan dua bungkus es krim. Dia menyerahkan es krim cokelat padaku, sementara dia memegang satu lagi yang rasa stroberi lantas mengoyak bungkus dan menjilatnya.

“Buka saja. Aku membelikannya untuk Minri sebagai tanda terimakasih karena telah menemaniku berbelanja.”

Aku menuruti perkataannya. Kami menghabiskan waktu beberapa menit di area parkir sampai es krim kami habis. Aku dan rasa penasaranku harus mendapat jawaban sekarang.

“Jadi, apa yang kalian rencanakan sebenarnya?”

Baekhyun mendekatkan wajahnya padaku membuatku seketika menahan nafas. Anak ini, mau apa dia?! Aku memundurkan tubuhku hingga membentur kaca mobil. Dia mengangkat satu tangannya, lalu menyapu bibirku dengan jempolnya.

“Minri masih saja suka belepotan.”

Aku baru bisa bernafas lega setelah Baekhyun kembali duduk di bangku kemudi. Perlakuannya yang tiba-tiba hampir saja membuatku mati membeku di tempat.

“Sebenarnya aku dan Chanyeol merencanakan camping di halaman belakang rumah Sungyoung, malam ini.”

“Sungguh?! Waaa! Sudah lama aku tidak melakukan hal itu.” Aku meletakkan kedua tanganku dipipi. Rasanya senang sekali membayangkan berkemah, meski hanya di belakang rumah. Tapi sebentar… “Kalian mengajakku tidak?” harusnya aku menanyakan hal ini dari tadi karena Baekhyun sama sekali tidak memberitahukan rencananya sejak kemarin. Harapanku seketika menyusut.

“Minri… tentu saja aku mengajak Minri!” Baekhyun mencubit hidungku dengan gemas, membuatku harus mengusapnya. Lumayan terasa sakit. Ah, lupakan sakit di hidungku karena sekarang aku akan terbang, begitu senang dengan apa yang Baekhyun katakan. Seseorang tolong pegangi aku.

Gomawo!” Aku mencium pipinya kilat, lalu menatap lurus ke luar jendela. Baekhyun tidak perlu melihat wajahku yang merona.

“Sungyoung suka berkemah ‘kan?” tanya Baekhyun, membuatku harus menoleh.

“Aku rasa iya. Sungyoung sering ikut kegiatan berkemah waktu SMA dulu. Aku ingat dia selalu memakai jaket tebal dan syal, sama sepertiku. Memangnya kenapa?”

“Sungyoung belum tahu rencana kami ini.”

“Apa?!”

***

“Aku jemput jam delapan ya, Minri-ku.”

Perkataan Baekhyun yang satu itu membuatku sudah bersiap di ruang tengah dengan tas ransel berisi hotpack, beberapa obat generik, serta air mineral. Abaikan saat dia memanggil ‘Minri-ku’ atau dia benar-benar akan membuatku gila.

“Jangan lupa pakai mantel tebal, topi, dan syal! Aku tidak ingin Minri kedinginan nanti. Aku tidak ingin Minri sakit karena ikut berkemah. Minri setuju ‘kan?”

Ya, mau bagaimana lagi. Baekhyun benar. Daya tahan tubuhku tidak begitu bagus. Kesehatanku sering terganggu hanya karena angin malam. Jadi, jangan tertawa karena aku tampak seperti eskimo. Ups, maaf aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat melihat pantulan diriku di pantulan kaca lemari.

Ting tong!

Aku rasa itu Baekhyun. Aku bergegas membukakan pintu dan aku disambut dengan senyuman kotak di bibir Baekhyun. Dia bertingkah menggemaskan lagi. Ijinkan aku mencubitnya nanti.

“Ayo berangkat.”

Baekhyun menggenggam tanganku, lalu kami berjalan beriringan. Rumah Sungyoung tidak begitu jauh. Kami masih berada dalam satu blok, jadi berjalan kaki adalah pilihan yang tepat. Tidak banyak orang yang lewat, namun beberapa menatap kami dengan pandangan bingung. Aku harap orang-orang tidak berpikir kami sedang melarikan diri dari rumah.

Baekhyun berhenti di depan rumah Sungyoung, sebelum menekan bel di gerbang utama Baekhyun memegang kedua bahuku membuat kami saling berhadapan. Dia membenarkan topi rajutku dan menaikan syalku. Lalu kehangatan menjalar di tubuhku saat Baekhyun mengecup dahiku.

“Aku sayang Minri.”

“Hanya sampai situ? Aku kira Baekhyun akan mencium bibir Minri.”

Refleks aku memundurkan kakiku selangkah saat suara berat yang kukenal menginterupsi serangan pesona Baekhyun yang bertubi-tubi padaku.

“Yak Chanyeol! Sejak kapan kau berdiri disitu?” Malu. Gugup. Salah tingkah. Chanyeol pasti melihat apa yang Baekhyun lakukan padaku.

“Tidak lama setelah kalian tiba di depan gerbang.” Chanyeol memegang tali tas ranselnya lalu menghampiri kami. Dia menekan bel pintu gerbang. Tepat sekali, seseorang yang ingin kami temui yang menjawab komunikator dari dalam rumah.

Kalian bertiga?!

Aku bisa membayangkan betapa terkejutnya wajah Sungyoung mendapati kami bertiga di depan gerbang rumahnya dengan masing-masing membawa tas ransel besar di punggung. Syukurlah gadis itu tetap memperbolehkan kami masuk.

Kami tidak masuk ke dalam rumah, karena tujuan kami adalah halaman belakang. Jadi, Sungyoung keluar dan kami bicara di depan pintu.

“Ada apa ini?” tanya Sungyoung. Gadis itu memakai piyama mickey mouse biru mudanya, dengan poni yang diikat ke samping.

“Kami ingin berkemah.” Baekhyun bicara singkat. Sungyoung pasti belum mengerti jadi aku perlu menambahkan.

“Baekhyun dan Chanyeol sudah punya rencana sejak kemarin untuk berkemah di belakang rumahmu. Aku juga baru tahu tadi sore. Bagaimana? Kau setuju ‘kan?”

“Di belakang rumahku? Sekarang? Omona!” Sungyoung melirik ke dalam rumahnya. Dia hanya berpikir tentang peralatan yang akan digunakan karena dia sama sekali tidak ada persiapan. “Aku belum mempersiapkan apapun, mengapa mendadak sekali.”

“Kami sudah menyiapkan semuanya!” jawab Baekhyun dan Chanyeol dengan kompak. Sungyoung sempat melongo.

“Baiklah, baiklah. Aku ganti baju dulu.”

***

Selama menunggu Sungyoung berganti baju. Aku, Baekhyun dan Chanyeol sudah mulai melakukan aksi membangun tenda. Ada dua tenda yang kami bangun tentunya bukan untuk tidur dengan pasangan masing-masing tapi aku akan tidur dengan sungyoung serta Baekhyun dengan Chanyeol. Meskipun kami pasangan kekasih, kami tahu batasan tentang tidur bersama.

“Baekhyun, angkat lebih tinggi lagi. Kau membuat tendanya miring.”

“Tiang! Kau terlalu tinggi, turunkan lagi.”

Begitulah. Kedua lelaki itu berseteru saat membangun tenda. Aku hanya melipat kedua tangan di depan dada, sesekali memutar bola mata dan mendengus.

Sungyoung berlari kecil menghampiri kami. Sekarang pakaian kami sudah senada. Dia berdiri di sampingku, ikut memperhatikan kedua lelaki yang sedang membangun tenda—tidak ketinggalan beserta perdebatannya.

“Yak Park Chanyeol idiot! Kau tidak akan selesai kalau terus-terusan berdebat!” Sungyoung tampak kesal

Aku teringat sesuatu. Daripada terus memperhatikan kedua lelaki itu, lebih baik aku dan Sungyoung juga bekerja.

“Apa kau punya kayu bakar, Ahn?”

“Aku rasa ada karena biasanya kami melakukan pesta barbeque dengan cara manual. Rasanya lebih alami ketimbang pemanggang listrik.”

“Bukankah agak merepotkan?” tanyaku.

“Ya, tapi kami selalu berhasil memanggang tanpa membuatnya gosong. Taehyung lah yang akan paling banyak makan saat itu.”

“Ah anak itu. Kau tidak mengajaknya ikut berkemah bersama kita?” Aku melirik letak kamar Taehyung—adik laki-laki Sungyoung yang sudah menyandang status anak SMA. Lampu kamarnya masih menyala, berarti anak itu masih belum tidur.

“Dia mendapat tugas tambahan dari sekolah. Sepertinya weekend akan dihabiskannya dengan mengerjakan tugas.” Sungyoung tertawa pelan, seolah senang sekali dengan penderitaan ringan yang Taehyung hadapi.

“Kau tidak ingin membantunya?”

“Aku ingin mengajarinya tetap mandiri.”

“Ah begitu.” Aku melirik ke arah tenda. Kerja Baekhyun dan Chanyeol cepat juga. Tendanya sudah selesai. Dan aku malah lupa dengan kayu bakarnya. “Ahn, ayo ambil beberapa kayu bakar. Kita akan membuat api unggun.”

“Hey, kalian mau kemana?” tanya Baekhyun.

“Kami akan mengambil kayu bakar. Kalian siapkan kursi lipat saja. Kami tidak akan lama.” Jawabku.

Sekitar lima menit kemudian aku kembali dengan membawa beberapa potong kayu bakar, lalu meletakkannya ke rumput. Baekhyun dan Chanyeol yang duduk di kursi lipat sambil mengobrol segera menghentikan kegiatannya, lalu membantu kami menyalakan api. Baekhyun mengambil penyemprot gas. Wajahnya yang serius itu membuatku diam-diam tersenyum.

“Akhirnya menyala.” Chanyeol mendesah lega, lantas mendekatkan tangannya di sekita api, lalu menempelkannya ke pipi.

Angin malam mulai berhembus. Syukurlah aku tidak merasakan dingin karena pakaianku yang lengkap beserta sarung tangan.

“Minri, ayo duduk.” Aku tidak tahu sejak kapan Baekhyun berdiri di sampingku lalu menarik tanganku, membawaku ke kursi dan duduk di sampingnya. Kami berempat mengelilingi api unggun itu. Apinya tidak begitu besar sehingga membuatku merasa aman. Kurasa cukup menghangatkan kami berempat.

“Yeol, kulihat tadi kau membawa gitar. Mau bernyanyi bersama?” tanya Sungyoung dan langsung mendapat anggukan setuju dari Chanyeol. Lelaki jangkung itu masuk ke dalam tenda, lalu keluar dengan membawa gitar kesayangannya.

“Ayo nyanyikan sebuah lagu. Kalian berdua.” Aku menatap Sungyoung dan Chanyeol bergantian.

“Aku?” Sungyoung menunjuk dirinya sendiri. “Tidak mau. Aku tidak bisa bernyanyi. Meskipun tahu musik, aku hanya bermain biola.”

Jreng!

Petikan gitar Chanyeol menggema di halaman. Kupikir dia akan bernyanyi, namun ternyata Baekhyun lebih dulu mengeluarkan suaranya. Mereka saling memberi kode dari tadi. Aku rasa ini adalah bagian dari kejutan. Kolaborasi mereka menakjubkan. Sialan, sebentar lagi aku akan meleleh. Apa ini karena aku berada di dekat api. Maafkan aku konyol sendiri, aku tahu aku bukan sebangsa Olaf.

Baekhyun tersenyum padaku saat bagian liriknya telah habis, hanya sisa musik bagian akhir. Tangannya yang hangat memegang tanganku. Ugh, untungnya syal ini menyelamatkan wajahku yang merona. Aku melirik ke arah Sungyoung yang sama sekali tidak mengedipkan matanya. Kurasa dia terpesona dengan kekasihnya sendiri.

Chanyeol mengakhiri permainan gitarnya lalu meraih tangan Sungyoung, lantas mengecupnya lembut. Sungyoung tentu tidak dapat menahan senyumnya. Mereka manis sekali!

“Yeol…” Sungyoung menunduk, menyembunyikan wajahnya di gulungan syal.

Ne?” Lalu Chanyeol memegang pipi Sungyoung dengan satu tangannya membuat gadis itu kembali mendongak. Mereka saling menatap.

Aku menggenggam erat tangan Baekhyun. Ingin sekali tepuk tangan untuk mereka berdua. Astaga! Tapi bunyi perutku membuatku kehilangan konsentrasi untuk meresapi suasana romantis itu. Aku melirik Baekhyun, kuharap tidak ada yang mendengar bunyi perutku. Tapi aku tidak bisa menahan lebih lama lagi.

“Apa kalian lapar? Aku ingin kentang bakar.”

Call! Aku juga lapar.” Baekhyun menyengir, lalu mengambil beberapa buah kentang dari dalam kantong makanan. Aku membantunya membungkus kentang itu dengan aluminium. Lalu menusuk kentang itu satu per satu.

Aku menyodorkan satu untuk Sungyoung dan satu lagi untuk Chanyeol. Kami mengarahkan kentang itu di permukaan api unggun. Kehangatan di sekitar api membuatku percaya diri melepaskan sarung tangan. Sembari menunggu kentang itu masak, kami mengobrol ringan. Sekilas membicarakan Universitas. Kalau dihubungkan, kami semua sama-sama menginginkan jurusan Seni meskipun dalam program yang berbeda. Kuharap kami bisa berada dalam Universitas yang sama.

Aku rasa kentangku sudah matang. Jadi aku memutuskan untuk menariknya dari api. Perlahan membuka bungkusannya lalu membelah kentang itu menjadi dua. Aku tidak menyangka rasanya panas sekali mengenai jariku. Aku mengaduh, dan malah membuat kentangku terjatuh.

“Minri tidak apa-apa?” Baekhyun meraih kedua tanganku, lalu meniupnya perlahan. Dia tampak cemas. Beberapa kali dia menempelkan tanganku ke pipinya. “Minri, bicaralah, Minri tidak apa-apa ‘kan?”

Aku menatapnya sembari tersenyum, lalu menggeleng pelan. Jari-jariku sudah membaik, berkat penyelamatan spontan dari Baekhyun.

“Aku tidak apa-apa, Baek. Terimakasih.”

“Minri-ya, kau harus lebih hati-hati. Setidaknya sedikit lebih bersabar.”

“Iya, iya, aku lapar tau.”

Baekhyun mengambil kentangnya yang sempat dia letakkan di atas piring, lalu membagi dua seperti apa yang aku lakukan tadi. Asap mengepul dari kentang itu. Baekhyun meniup-niupnya, lalu menyodorkan di depan mulutku. Aku refleks membuka mulut, dan Baekhyun kembali tersenyum.

“Minri boleh menghabiskannya,” ucap Baekhyun. Tapi aku menolak. Aku juga menyomot kentangnya, lalu menyuapinya. Begitu lebih bagus.

“Ey, kalian romantis sekali,” ucap Chanyeol.

“Aku akan mengambil cappuccino dan termos air panas.”

“Ada di tasku.” Ujar Baekhyun.

Aku segera beranjak dari kursi untuk menghindari ledekan Chanyeol atau Sungyoung. Aku masuk ke dalam tenda para lelaki. Cukup mudah bagiku menemukan tas Baekhyun, namun aku belum menemukan bungkusan cappuccino-nya.

“Baek—“ aku baru saja berbalik, namun wajah Baekhyun tepat di hadapanku. Jantungku hampir meninggalkan tempatnya. Dia sungguh membuatku terkejut.

“Aku tahu Minri tidak bisa menemukannya.” Baekhyun mengambil alih tasnya, lalu membuka resleting bagian bawah tas. Ternyata ada tempat menyimpan di bawah tasnya. Unik sekali. Aku baru akan berdiri meninggalkan tenda tapi Baekhyun menahan lenganku.

Hm?

“Apa aku boleh mencium Minri?”

A-apa?! Kenapa dia menanyakan hal itu?

Aku tidak berbuat apa-apa saat Baekhyun memegang kedua pipiku. Wajahnya yang manis itu semakin dekat, dekat dan dekat lagi hingga aku memutuskan untuk memejamkan mata. Sapuan lembut bibirnya yang empuk membuatku yakin dia sungguh menciumku.

Kami bertahan beberapa detik dalam posisi seperti itu. Aku lupa dengan dinginnya angin malam yang berada di luar sana. Baekhyun membuat segalanya menghangat seperti musim semi.

“Ayo keluar.” Ucapannya lantas membuatku membuka mata. Kurasa wajahku merona lagi. Aku mengangguk mengiyakan, lalu kami keluar bersamaan tidak lupa dengan bungkusan cappuccino-nya.

Kami tertahan di depan pintu tenda (kalau bisa disebut pintu) karena aku rasa Chanyeol dan Sungyoung saling melempar senyum dan mendekatkan wajah mereka. Aku menutup mata Baekhyun dengan tanganku, dan Baekhyun melakukan hal yang sama. Kami berdua memastikan bahwa tidak ada salah satu dari kami yang mengintip.

Tangan Baekhyun rapat sekali, ish! Padahal aku ingin melihat mereka.

“Yak! Apa yang kalian lakukan disana?” tanya Chanyeol.

“Kami… kami hanya ingin menghargai privasi kalian.” Jawab Baekhyun. Woah, aku kagum dengan jawabannya. Ijinkan aku melongo sebentar. “Apa kalian sudah selesai?”

“Memangnya apa yang kami lakukan?” Chanyeol melirik Sungyoung yang semakin menenggelamkan wajahnya dalam syal, hanya tersisa mata yang juga balas melirik Chanyeol. Aku yakin mereka sungguh melakukannya.

Kissing,” jawab Baekhyun dengan polosnya. Ah tidak, dia sudah tidak polos lagi.

“Dan kalian berlama-lama dalam tenda pasti juga—“

Jadi benar.

“Ti-tidak!”

Astaga Baekhyun! Kau membuat semuanya terlihat jelas.

“Ja! Ini cappuccino-nya,” ucapku menengahi. Mengalihkan topik pembicaraan. Tapi seorang Chanyeol tidak akan menyerah semudah itu.

“Mengaku saja. Lihat, lipstick Minri sampai menempel di bibirmu.”

“Apa?!” Baekhyun menyapu bibirnya dengan punggung tangan. Seketika Chanyeol tertawa puas. Sungyoung juga tertawa dibalik syalnya. Dan akhirnya Baekhyun sadar kalau dia sedikit dipermainkan. “Sebentar, Minri kan tidak pakai lipstick!”

Kenapa kau baru sadar Byun…

Malam itu berlalu dengan indah. Taburan bintang menemani kebersamaan kami. Tawa ringan memberikan kehangatan berlebih. Kami tidak akan terlalu nyaring, takut mengganggu anggota keluarga Sungyoung. Tapi berkemah kali ini sungguh berkesan.

Malam semakin larut. Saat satu persatu dari kami mulai diserang kantuk, kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda. Dengan ucapan selamat malam dan mimpi yang indah kami menutup hari itu. Berharap besok pagi yang sejuk dan mentari yang cerah menyapa.

Selamat malam, Sahabat. Aku sayang kalian.

Dan Baekhyun, aku selalu menyanyangimu.

Goodnight.

***END***

Yeeah! Setelah sekian lama akhirnya berhasil dibuat meski dalam beberapa jam. Thanks to Uchi yang meladeni fantasiku soal kemah berkemah, beruntunglah aku langsung keidean bikin Minri’s Diary.

Ups, mungkin beberapa dari kalian nunggu US | Love in Seoul ;D maafkan aku malah bawa yang ini duluan. Eh katanya ada yang kangen sama mereka. Wkwk dan itu aku selipin kopel favorit yang lain. Semoga suka ya😉

As always, mari berkicau di kotak komentar meskipun kemungkinan aku balasnya lama atau bahkan ga kebales;_;

Don’t call me ‘thor’

THANKS FOR READ AND COMMENT! ^^/

WITH LOVE

XOXO

baekhyun handsome

© Charismagirl, 2015

67 thoughts on “[Minri’s Diary – 12] Camping Fun

  1. aaaaaaaaaaaaaaaaaak >.<!!!!
    kak riiim sukses bikin aku enviiiii uuoooooooi, mereka maniiiis sekaaaaaaaaaaaaaliiii
    lagi kangen tiba2 sama bbh eeeeh, maen kesini trnyata minri’s diary update
    aku baruu taau, i’m so sorry :-*

    maaauu kemping sama merekaaaa T_T
    minri beruntung sekaali
    kalo iya minri sebangsa olaf, dia pasti suka pelukan hangat nya baek😳
    aaaiiihh sayaang mereekaaaaa😳

    yeeesyeeeess, his golden hair T_T minta dijambaaaaaaaaaaak boong deng :-Dsebenernya._. pengeen seharian ngelus2 itu kepalasalahfokus>.<!!
    daan gak lupaa siabang tiang, gorgeos!
    both of them *nangis ajaa akuuuu

    exodus era ini emg bkin image mereka yg imut2 nan emesin luluh lantah
    they’re grown up :’) #terharu
    *berasaseperti ommaomma yg melihat anak2nya tunbuh dewasa-_____-”
    however, proud of you kaaaaaak❤
    baek sangat manis disini
    see yaaaaaaaaaaaaaaa~

  2. astagaaa. ini salah satu ff favorit aku kakk 😆 Minri’s diary 😆minri sama bekyun so sweet banget 😆😆😆

  3. eonniiiiii, sebelumnya maaf ya kalo aku bukan reader yg baik soalnya jarang ngasih kritik dan saran tapi mau gimana lagi aku nikmatin baca ffnya. gak merhatiin kekurangannya kecuali masalah typooo. maafinn yaaa eon.
    dan buat ff ini aku ngakak pass yeol bohong masalah lipstick minri wkwk baekhyun pe’aaa. wkwk asli ngefly yahh bayangin punya pavar dan temen2 yg seru kayak gituuu… ya alloh baekkkkk minta dicium benerannn

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s