The Smartass Project 3

smartass

The Smartass Project 3 by ilachan
Baekhyun, Chanyeol, Kyungsoo || Comedy, Friendship, Sliceoflife, Schoollife || G
Foreword:
Bagaimana jadinya jika kau mengerjakan tugas kelompok dengan ketiga siswa terpintar di sekolahmu? Apa kau akan bahagia? Mungkin tidak!

Index: 
Prolog
//1//2// –


Akhirnya waktu yang paling menegangkan dalam hidupku terjadi juga. Aku masih tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku hanya berdua bersama Kyungsoo, mengerjakan tugas sastra yang bagiku adalah pelajaran paling sulit selama satu semester sedangkan disisi lain itu adalah pelajaran paling mudah bagi Do Kyungsoo.

Kyungsoo mengajakku pergi kerumahnya (dan aku benar-benar tidak bisa menolaknya bahkan dengan alasan apapun) untuk mengerjakan tugas. Rumah Kyungsoo rupanya tidak terlalu jauh dari sekolah. Kami berdua hanya berjalan selama sepuluh menit lalu aku sudah mendapati diriku berdiri di depan pintu rumah Kyungsoo.

Jika dilihat dari rumahnya, Kyungsoo adalah anak dari keluarga sederhana. Tak ada yang istimewa dari rumahnya dan tampak seperti rumah di perumahan seperti pada umumnya. Tapi siapa sangka rumah sesederhana ini adalah tempat dimana si manusia jenius seperti Do Kyungsoo tinggal.

Do Kyungsoo mengetuk dua kali pintu rumahnya dan tak lama kemudian seorang wanita paruh baya dengan rambut keriting dan mata belo mirip seperti Kyungsoo mucul dibalik pintu. Dia mengenakan dress berwarna biru beserta dengan apron yang melingkar di pinggangnya.

Ini adalah ibu Kyungsoo!  Pekikku didalam hati.

Mata besarnya beberapa saat memperhatikan Kyungsoo dan tersenyum lalu berpindah padaku dan matanya semakin melebar. Dia maju ke arahku dan langsung menggapai kedua tanganku.

“Oh, Soo Soo kau pulang membawa teman?” beliau tidak bisa menyembunyikan seringainya. “Dan siapa namamu nak?”

“Ma, ijinkan kami masuk dulu.”

“Oh, iya iya.” Beliau tersenyum malu dan menggeretku masuk kedalam rumah. “Mari masuk nak anggap saja dirumah sendiri. Dan minggir kau Kyungsoo, kau menghalangi jalan Nona ini.”

Aku yakin benar kalau Kyungsoo mengumpat didalam pikirannya. Dia memutar matanya kesal tapi untung saja tak ada protes yang keluar dari mulutnya. Akhirnya dengan berat hati dia mengikutiku masuk kedalam rumah dan menutup pintu dengan gerakan sewajarnya.

Di sisi lain, alam bawah sadarku ingin memberontak. Bayangkan saja, saat ini aku digeret paksa masuk kedalam rumah Do Kyungsoo oleh ibunya. Aku ingin menolak tapi, disini aku berjuang sendirian tanpa pembelaan. Kalau saja ada Baekhyun atau Chanyeol mungkin mereka sedikit membantuku. Tapi sekarang? Aku seperti tawanan baru keluarga Kyungsoo. Ibunya terus saja menarik lenganku dan aku baru tahu kalau beliau dari tadi terus saja tersenyum. Aku tak mengerti dia tampak begitu bahagia.

“Kau mau minum apa nak?” Ibu Kyungsoo akhirnya melepaskanku setelah kami sampai di ruang makan.

“Air putih saja. Terimakasih.” kataku canggung, sambil menarik salah satu kursi makan.

“Oh, kau pemalu sekali. Apa kau mau kue? Atau makanan lain mungkin? Kau mau aku buatkan pudding mangga?” Mata ibu Kyungsoo tampak cerah berbinar penuh semangat. Kedua tangannya saling bertemu di dadanya, memandangku dengan penuh harap. Beliau menungguku mengatakan sesuatu.

“Uhm.. Tidak usah repot-repot.” kataku lirih membuatnya sedikit kecewa, “Baiklah. Cukup kue saja, kupikir.” tambahku buru-buru dan langsung membuatnya tersenyum lagi.

“Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu.” kata beliau cerah, lalu menghilang menuju pintu dapur menginggalkan aku sendirian bersama Kyungsoo yang sedari tadi mengekor dibelakangku.

Setelah mendapat cipratan aura bahagia yang tadi dibawa ibunya, aku seperti memasuki dimensi lain ketika aku menyadari bahwa aku sekarang berdua bersama Kyungsoo. Dia sungguh jauh berbeda dengan ibunya. Ibunya adalah orang yang hangat. Beliau punya kemampuan untuk membuat orang yang disekelilingnya menjadi nyaman bahkan kepada orang yang baru pertama kali bertemu. Sedangkan di sisi lain, Kyungsoo diibaratkan sebagai penghancur atmosfir hangat yang dibawa ibunya. Tiba-tiba suasana berubah menjadi canggung, mirip dengan situasi yang biasanya aku rasakan sebelum-sebelumnya.

“Aku mau ganti baju dulu.” kata Kyungsoo, tanpa menatapku. Dia meletakkan tasnya di salah satu kursi disampingku lalu dia ikut menghilang dari ruang makan.

Aku membenturkan dahiku sedikit keras keatas permukaan meja kayu, merasa sedikit depresi. Aku masih sulit menerima kenyataan bahwa mulai sekarang dan beberapa jam kedepan aku akan menghabiskan waktu bersama Kyungsoo, si setan sekolah. Di dalam hati aku masih meratapi keputusanku mengijinkan Chanyeol pergi berkencan bersama Yejin. Tapi di sisi lain aku juga bersyukur kalau mereka berdua menjadi akur lagi.

Aku menghela nafas, menegakkan kembali tubuhku lalu merogoh sesuatu dari saku.

Aku memutar-mutar flash disk milik Baekhyun di tanganku, lalu aku teringat dengan ekspresi Baekhyun tadi saat bertemu denganku di koridor. Dia tampak letih dan kurang bersemangat jika dibandingkan dengan dirinya yang biasanya. Atau mungkin dia seperti itu karena memang lelah? Tapi menurut sepengetahuanku jarang ada kata lelah yang melekat pada Baekhyun, bahkan dia juga jarang mengeluh. Ingat, di tubuhnya menyimpan zat kimia  bernama norepepinephrine yang bisa membuatnya semangat terus atau semacamnya.

Atau mingkin… Baekhyun tidak bisa ikut kerja kelompok karena memang ada masalah yang penting? Aku menghawatirkannya sebenarnya. Ah, tapi itu juga bukan urusanku. Itu urusan pribadinya dan aku tidak punya hak ikut camput. Tapi… aku penasaran.

Aku menggeleng pelan, seolah menepis konflik internal yang terjadi di dalam otakku. Tak lama berselang, Ibu Kyungsoo kembali datang dengan membawa minuman dan sepiring kue kering. Beliau meletakkan nampannya diatas meja dengan hati-hati lalu duduk berseberangan denganku. Astaga, senyumnya masih tak tertinggal dari wajahnya.

“Jadi, kau sudah lama berteman dengan Kyungsoo nak?” katanya ramah dan aku tidak bisa menyembunyikan senyum masam ku.

Duh, sebenarnya aku bahkan bukan temannya. “Aku hanya teman sekelas dan partner kerja kelompok saja.”

“Oh ya? Kau tahu, aku sangat terkejut ketika Kyungsoo membawa teman kerumah,” Ibu Kyungsoo terkekeh sejenak, “Dia tidak pernah mengajak teman pergi kerumah kecuali Baekhyun dan Chanyeol tentunya.”

Ah, aku mengerti. Pasti Ibu Kyungsoo terkejut karena mengira anaknya punya teman baru selain anggota smartass.

“Jadi, bisakah kau menceritakan bagaimana Kyungsoo ketika di sekolah?” Lanjut Ibu Kyungsoo. Matanya yang ramah menatapku dengan intens, membuatku sedikit bergidik tanpa alasan. Apakah orang ini baru saja menanyakan pendapatku bagaimana kelakuan dan mulut pedas anaknya beraksi disekolah?

Lagi-lagi aku tersenyum masam menanggapi, “Kyungsoo adalah anak yang pintar…”

“Ah, aku tahu itu. Maksudku, aku sungguh penasaran bagaimana dia memperlakukanmu.” katanya hampir tak sabar. Sebisa mungkin aku tidak melongo mendengarkan perkataannya. Apakah itu berarti dia menyuruhku mengadukan bagaimana mulut tajam Kyungsoo melukai perasaanku?

“Kyungsoo adalah orang yang susah bergaul.” kataku datar, tak tahu lagi harus berkata bagaimana. Posisiku disini serba salah dan demi tuhan aku di interogasi oleh ibu Kyungsoo tentang Kyungsoo didalam rumah Kyungsoo dan Kyungsoo bisa saja sewaktu-waktu muncul dibalik pintu ruang makan. Ini adalah situasi yang paling tidak nyaman yang pernah aku rasakan.

“Iya nak. Kyungsoo memang anak yang susah bergaul dan seperti punya penyakit sosial. Dia hanya punya teman Baekhyun dan Chanyeol selama tiga tahun ini. Makanya aku heran sekali ketika dia mengajakmu kemari. Aku pikir kau sudah cukup dekat dengannya?”

Hati kecilku spontan berteriak ‘TIDAAAAKK!!’ tak sepakat.

“Tidak, aku…” bagaimana bisa aku berkata padanya kalau aku dan anaknya kalau bisa saling menghindar saja, “Aku bahkan baru-baru ini menyapanya. Sekitar tiga atau empat hari…”

“Benarkah? Itu adalah hal yang mengejutkan.” aku mengangkat alisku bingung lalu beliau melanjutkan. “Dia.. Maksudku kalian baru baru ini saling mengenal tapi Kyungsoo sudah mengajakmu bermain di rumah bukankah dia benar-benar tertarik padamu? Bahkan menurutku kalau Kyungsoo menyapamu saja itu sudah lebih dari cukup mengingat kalian saling mengenal hanya selama empat hari.”

“Begitu kah?” aku merasa tidak yakin. “Tapi Kyungsoo mengajakku kemari bukan untuk bermain atau semacamnya. Ini karena ada tugas yang harus diselesaikan.”

“Dia akan menghindarinya kalau dia merasa tak nyaman denganmu.” potong Ibu Kyungsoo cepat. “Dengan otaknya yang seperti itu dia tidak butuh bantuan orang lain apalagi menyangkut pelajaran. Kalau bukan dia ingin berteman denganmu, dia tak akan susah-susah mengeluarkan energinya untuk mendekatimu.”

Astaga, aku benar-benar kehilangan kata. Baru saja ibu Kyungsoo meyakinkanku kalau anaknya cukup menyukaiku? Beliau adalah orang kedua setelah Baekhyun yang mengatakan hal demikian. Setengah hati kecilku merasa senang bahkan aku tidak bisa menutupi senyum simpul yang muncul di raut wajahku. Tapi tetap saja, aku masih tidak yakin kalau aku benar-benar bisa berteman dengan Kyungsoo. Dia adalah tipikal orang yang susah diajak bicara dan kalaupun sekali bicara kata-kata yang dia ucapkan cukup menyakitkan.

“Tapi, aku susah berkomunikasi dengannya.”

“Tidak susah mengajaknya bicara. Kau hanya perlu memberikan pertanyaan sederhana dan dia akan terbuka padamu dengan sendirinya.” Beliau tersenyum padaku lalu tatapannya mengarah ke pintu ruang makan, “Ah, Kyungsoo. Aku menyajikan kue buatanmu pada nona ini. Tak papa kan?”

“Kue ini, kyungsoo membuatnya?”

“Iya. Dia adalah koki di rumah ini.” kata Ibu Kyungsoo, mengerling padaku lalu berdiri. “Aku harus menjemur pakaian dulu. Kalian berdua bersenang-senanglah.” lalu Ibu Kyungsoo pergi ke arah pintu dapur, meninggalkan aku dan Kyungsoo sendirian lagi.

Kyungsoo dengan gerakan canggung berjalan menghampiriku sambil mengguman, “Padahal ini kue percobaan.”

“Bolehkah aku mencicipinya?”

Beberapa saat dia hanya menatapku datar, menimang-nimang, haruskah dia mengijinkan kue buatannya aku makan. Tapi pada akhirnya dia menarik piring dan mendekatkannya padaku, “Cobalah.” katanya singkat dan aku tak sungkan sungkan mengambil satu potong.

Tampilannya tak begitu menarik sebenarnya. Hanya kue kering coklat dengan taburan kacang almon dan choco chip diatasnya. Tapi setelah makanan itu masuk kemulutku, rasanya benar-benar nikmat. Rasa pahit dan manis coklat bercampur dengan gurih kacang langsung meleleh di lidahku. “Ini enak sekali.” kataku lalu aku mengambil satu potong lagi. “Rasanya seperti kue-kue yang dijual di toko. Apa benar-benar kau yang memasak ini?”

“Tentu saja iya.” kata Kyungsoo sedikit tersinggung, “Tapi aku tak menyangka kalau kau suka.” dia mengakhiri kalimatnya dengan nada rendah. Aku tahu kalau dia sekarang sedang merasa malu atau semacamnya, entahlah.

“Kau bisa menjual kue-kue ini.” kataku asal, agak lupa kalau yang aku ajak bicara adalah Kyungsoo. Sepertinya coklat sudah mempengaruhi sistem syarafku dan aku bahkan sudah mau menghabiskan potongan kedua.

“Aku.. Tidak ingin.” katanya pelan sambil diam-diam menarik kursi disampingku dan duduk disebelahku. “Kau tahu sendiri kalau aku tak banyak bicara.”

Aku menghentikan kunyahanku lalu menoleh padanya sedikit cepat, membuatnya berjengit. Oh Kyungsoo yang malang, dia pasti merasa tak nyaman sekali berada di dekatku.

Uhm, tapi kau baru saja sudah banyak bicara padaku. Kau hanya perlu membiasakan diri berbicara pada orang lain.”

“Aku tahu. Tapi itu susah,” katanya lalu menyibukkan diri dengan mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya. “Baekhyun sudah berulang kali bilang itu padaku dan…”

“Kau kurang percaya diri,” kataku sembari menarik laptop dari tasku. “Dan rasa takutmu kepada orang lain adalah sebuah sugesti kuat. Kalau kau ingin menghilangkan rasa ketakutanmu itu, dirimu sendiri juga perlu sugesti kuat lainnya untuk menghapus sugesti yang buruk.”

“Yeah,” kata Kyungsoo hampir berbisik. “Pembicaraan ini sungguh tak nyaman.”

Aku mengeluh dalam hati dan memejamkan mata sejenak. Oh, aku pasti sudah keterlaluan. Aku mungkin sudah mendorong titik batas kesabaran Kyungsoo dan bahkan membawa topik krusial yang sulit untuk dirinya. Aku menjadi serba salah sekarang ingin menjauhinya dan membuatnya aman tapi disisi lain aku ingin mendekatinya dan membuatnya lebih nyaman padaku. Ini lebih sulit daripada yang aku bayangkan.

“Kalau kau merasa tak nyaman denganku,” kataku hati-hati. “Kalau kau ingin, kita bisa menanggalkan acara kerja kelompok ini. Lagi pula kata Baekhyun tugasnya sudah hampir selesai. Ini dia flashdisk titipan Baekhyun.” Lalu aku mendorong flashdisk itu kearahnya.

Beberapa saat Kyungsoo menatap flashdisk dengan pandangan yang susah di artikan lalu ganti menatapku cemas. “Sebenarnya bukan ini maksudku.”

Aku sontak mengangkat alisku bingung. “Kau bilang aku membuatmu tidak nyaman.”

Uh, iya tapi tidak juga.” Kyungsoo menunduk dan bermain dengan ujung bukunya. Astaga, dia benar-benar mengabaikan pandanganku. Aku kini tahu kenapa dia mengambil tempat duduk disampingku. Bukan karena dia ingin dekat denganku tapi dia tidak mau punya resiko berkontak mata. Sebegitu takutkah dirinya padaku?

“Aku serius Kyungsoo. Kalau kau benar-benar merasa tidak nyaman didekatku aku akan pergi. Oh, tapi jangan kira aku marah padamu. Aku sama sekali tidak marah.” tambahku buru-buru ketika dia bereaksi aneh.

“Tidak. Kau tidak boleh pergi,” katanya, dia hanya berani menatap dinding dibelakangku alih-alih wajahku. “Jangan terbebani dengan perasaan tak nyaman meskipun aku merasa begitu. Bicaralah seperti biasanya. Aku ingin kamu berbicara dengan normal seperti halnya kau berbicara pada Baekhyun dan Chanyeol.”

Aku memutar leher, dan menyibukkan diri dengan menghidupkan laptop yang ada dihadapanku. Sebisa mungkin aku tidak tersenyum lebar karena kata-kata Kyungsoo membuatku senang. Dia pasti merasa iri pada Baekhyun dan Chanyeol yang dengan gampangnya akrab dengan orang baru. Mungkin dirinya sedikit merasa terintimidasi dengan kehadiran sifat dua temannya yang berbanding terbalik dengan watak asli dirinya, sehingga dia ingin mencoba punya teman baru layaknya Baekhyun dan Chanyeol.

Okay, kalau begitu aku akan tetap tinggal.” nadaku terdengar riang, dan mulai mengeluarkan satu persatu buku yang aku butuhkan.

Aku masih ingat apa yang dikatakan oleh Ibu Kyungsoo kalau ingin mendekati Kyungsoo kau hanya perlu memberikan dirinya pertanyaan-pertanyaan yang simpel lalu dia akan membuka diri padamu dengan sendirinya. Dan ternyata benar. Aku hanya melempar pertanyaan-pertanyaan ringan seperti definisi dan istilah-isitilah yang tidak aku pahami pada tugas dan dia langsung berucap panjang yang mirip dikutip dari buku. Dia bahkan memberikan contoh konkret dengan berbagai macam sumber akurat yang dia tahu.

Aku datang padanya dengan berjalan, dia menghampiriku dengan berlari. Itulah Kyungsoo. Sebelumnya aku berpikir kalau aku akan kesulitan dan sangat menderita bekerja kelompok dengannya, tapi ternyata dia sangat membantu banyak dan dia cukup bisa berperilaku ramah. Mungkin yeah, satu atau dua kali kata-kata pedasnya tak tertinggal sebagai bumbu penyedap.

Lalu Baekhyun tadi sempat mengatakan bahwa Kyungsoo adalah tipikal perfectionist jika berkaitan dengan pelajaran atau ilmu-ilmu. Dan ternyata itu tepat sekali. Aku sudah mengecek isi flashdisk Baekhyun dan aku sudah membaca daft laporan tugas sampai selesai. Menurut pendapatku, apa yang Baekhyun kerjakan sudah lebih dari cukup dan menurutku itu adalah laporan tercerdas yang pernah aku baca. Aku bahkan sulit menerima fakta bahwa laporan itu adalah laporan tugas kelompokku, mengingat bobotnya seperti tesis mahasiswa. Tapi Kyungsoo? Dia membuatku kehabisaan kata-kata. Dia dengan gampangnya menampik beberapa tulisan yang Baekhyun buat dengan menambahkan sumber ini itu yang semakin membuatku tidak mengerti.

“Astaga Kyungsoo,” dengan terang-terangan aku berdecak kesal, “Aku sudah bilang kalau kata Baekhyun laporan ini sudah selesai. Itu berarti tugas kita sudah selesai. Kau tak perlu menambahkan entah apalah itu. Dengan laporan ini saja aku yakin kelompok kita akan mendapat nilai A.”

“Aku tahu,” katanya cuek tapi jarinya masih saja bergerak cepat diatas keyboard laptop.

“Kalau kau tahu, segera hentikan semua ini. Aku benar-benar lelah.” Aku bersandar di kursi dengan malas dan sesekali memijat keningku. Aku merasa sangat pusing dan otakku nampaknya sudah menyublim hilang dari tengkorak. Kerja kelompok ini masih berlangsung selama dua jam dan aku sudah seperti mayat hidup. Jika aku menuruti keinginan Kyungsoo, bisa-bisa aku masuk kerumah sakit jiwa pada keesokan harinya.

“Kau payah sekali.” kata Kyungsoo sarkastik tapi aku sudah terlalu lemah untuk menanggapinya.

“Terimakasih atas pujiannya yang mulia.”

Dia terkekeh lalu berbicara, “Kau jangan ikut-ikutan Baekhyun.”

“Terserah. Aku setuju dengan Baekhyun. Kau memang seperti raja. Kau selalu bersikukuh keinginanmu harus terpenuhi.”

“Itu namanya ambisi.”

“Itu namanya egois.”

“Ambisi dan egois punya definisi yang berbeda nona.”

Aku mengangkat tangan sebelum Kyungsoo berkata lebih panjang, “Hentikan dengan celotehan ilmiahmu itu. Rasanya kepalaku mau meledak.”

“Aku tak menyangka orang yang punya IQ rendah sangat gampang menderita.”

Aku memutar mataku dan mendelik padanya. Kyungsoo masih serius dengan laptopnya tapi ujung bibirnya tertarik keatas. Aku yakin dia sebisa mungkin tidak tertawa dengan lelucon sarkatisnya. Oh, dia bahkan berani mempermainkanku sekarang.

“Sialan kau.”

Lalu kata-kata terakhirku membuatnya meledak tertawa. Aku tak menyangka kalau tanggapannya akan seperti itu. Aku bahkan heran sendiri bahwa kalimat singkatku bisa membuat Do Kyungsoo si manusia batu yang dingin menjadi lembek sekaligus hangat disekelilingku.

“Aku tidak sedang melucu Mr. Do. Aku benar-benar serius dengan kata-kata terakhirku.”

“Aku tahu. Aku juga serius dengan leluconku dengan orang yang punya IQ rendah.”

“Kau memang jahat.” kataku pura-pura kesal.

Lalu Kyungsoo mengatakan hal yang membuatku tersenyum semakin lebar, “Terimakasih atas pujiannya yang mulia.”

Aku meraih buku dan menyibukkan diri membaca isinya dengan asal . Sebisa mungkin aku tidak menancapkan ujung buku ke kepala Kyungsoo, karena orang ini berubah menjadi mengesalkan. Bukan mengesalkan dalam artian yang buruk, tapi kebalikannya. Tiba-tiba aku merasa gemas padanya dan ingin menarik pipinya yang lucu. Aku senang kalau dia sudah mulai nyaman denganku dan tiba-tiba aku teringat pada Baekhyun. Atas nasehat-nasehatnya, aku harus berterimakasih padanya.

“Baekhyun sepertinya punya masalah,” kataku sedikit mengguman, mengingat kejadian di koridor beberapa saat yang lalu. “Dia pergi dari sekolah dengan tampang cemas dan tampak terburu-buru.”

“Dia selalu seperti itu.”

“Maksudmu dia selalu seperti itu?”

“Ketika dia sudah berjanji mau bermain bersama aku dan Chanyeol dia sering membatalkannya secara tiba-tiba. Dia selalu bilang kalau itu adalah urusan penting. Dan yeah, kita tak mungkin melarangnya untuk tidak pergi kan. Itu urusan pribadinya. Dan sebagai gantinya Chanyeol pergi kencan dengan Yejin dan akhirnya aku menghabiskan waktuku dirumah.”

Alisku membuat garis keras, dahiku mengkerut, “Apa kau tidak penasaran apa yang Baekhyun sebenarnya lakukan?”

Kyungsoo menoleh padaku dengan tatapan datar, “Tidak.”

Astaga, aku hampir lupa kalau semua anggota smartass hanya punya otak kiri di dalam tengkorak mereka. Mereka tidak punya simpati yang berasal dari otak kanan. Harusnya aku tak heran kalau mereka tidak cukup peduli juga dengan urusan satu sama lain. Aku menggeleng pelan. Ternyata kedekatan mereka, yang konon dikatakan sahabat setia ternyata hubungan mereka tak sampai menyentuh batas emosional paling dalam. Mereka mungkin memang perhatian dan peduli dengan lainnya, tapi itu sepertinya hanya dilakukan Baekhyun. Kyungsoo dan Chanyeol tidak sampai berpikir sejauh itu.

“Bagimana kalau ternyata Baekhyun benar-benar punya masalah?”

“Kalau dia punya masalah, dia pasti akan cerinya.” kata Kyungsoo ketus, kembali dengan laptopnya lagi.

“Bagaimana kalau ternyata Baekhyun tidak mau cerita pada kalian?”

“Itu berarti dia tidak butuh bantuan kami.”

“Astaga Do Kyungsoo!” aku sedikit membentaknya dan dia menatapku ngeri, “Kau adalah sahabat Byun Baekhyun. Sebagai sahabat kau harus mau tahu masalahnya dan membantunya meskipun dia tak memintanya.”

“Itu..,” dia bingung dengan perubahan nada suaraku yang tiba-tiba menjadi tajam, “Itu urusan pribadinya bukan? Aku tidak bisa untuk…”

“Setidaknya kau harus memberikan sedikit perhatian padanya. Tak taukah kamu bahwa Baekhyun sangat peduli tentangmu?” ketika aku mengatakan ini, aku teringat Baekhyun menceritakan bagaimana Kyungsoo sebenarnya. Dia tampak sangat peduli dengan Kyungsoo dan bahkan dia tak mau punya teman lain selain Kyungsoo karena dia takut akan meninggalkan Kyungsoo jika dia punya teman lain.

“Bukankah kau itu sedikit berlebihan?” katanya sedikit hati-hati.

“Apa?”

“Percayalah padaku. Baekhyun sudah biasa seperti itu. Dia pulang terburu-buru karena takut telat mengikuti les musiknya atau semacamnya. Dia adalah yang tersibuk diantara kami. Jadi, janganlah terlalu heran dengan Baekhyun yang seperti itu. Itu sudah biasa.” Kyungsoo kembali dengan laptopnya dan membiarkan tampang bingungku menggantung.

“Kau yakin dia seperti itu karena mengikuti les musik?”

Yeah.”

Aku menggaruk pelipisku, sedikit tidak percaya. Tapi aku harus percaya pada Kyungsoo juga bukan? Mereka sudah berteman selama lebih dari tiga tahun.

“Lalu, aku pernah mendengar rumor bahwa Baekhyun adalah trainee SM Entertainment. Apakah itu benar?”

Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku untuk mengetahui seluk beluk anggota smartass lebih dalam, mengingat latar belakang mereka juga jarang ada yang tahu. Sebenarnya sedikit orang yang tahu tentang anggota smartass kecuali kalau mereka adalah anak-anak jenius dan populer. Apalagi rumor Baekhyun menjadi trainee SM Entertainment adalah rumor yang paling terkenal dan sering dibicarakan di sekolah. Aku rasanya harus mengklarifikasi rumor ini dari mulut sahabatnya langsung.

“Tidak. Kau menduganya dari mana?”

“Entahlah, semua orang mengira begitu. Apalagi Baekhyun memang punya bakat musik yang luar biasa.”

“Mungkin dia orang yang sibuk dan terlihat sangat menggilai musik bahkan kemana-mana membawa harmonika di sakunya. Setiap ada acara disekolah dia selalu tampil dengan biola atau pianonya. Dia selalu menjadi penampilan yang paling ditunggu-tunggu ketika ada pentas seni, meskipun sebenarnya dia bukanlah anggota klub musik. Tapi anehnya cita-cita Baekhyun bukanlah untuk menjadi musisi apalagi seorang Idol. Jadi dia tidak mungkin menjadi trainee meskipun CEO SM Entertainment yang memintanya langsung.”

Aku berkedip dua kali meresapi kalimat yang baru saja Kyungsoo katakan. Ini adalah fakta yang cukup mengagetkan. Kalau menjadi seorang musisi atau Idol bukanlah keinginan Baekhyun, lantas buat apa dia menggilai musik hingga mengikuti berbagai macam les musik?

“Lalu apa cita-cita Baekhyun?”

“Dia ingin kuliah di hukum dan lulus menjadi hakim.”

“Hakim?”

Yeah. Mungkin dia terinspirasi dari ayahnya. Ayahnya adalah seorang advocator dan politisi yang sekarang menjadi salah satu dewan yang duduk di parlemen. Sedangkan ibunya adalah dekan di Seoul university. Kakaknya, Baekbom adalah seorang pengacara. Dia pasti terpengaruh keluarganya dan memutuskan untuk menjadi hakim. Kau mungkin terkejut kalau dia bukanlah dari bagian keluarga seniman mengingat kemampuan bermian musiknya dan pitch perfect yang dia miliki.”

Aku mengangguk antusias dengan kata-kata Kyungsoo. Ya, Baekhyun punya bakat musik yang keren dan dia ternyata bukanlah bagian dari keluarga seniman? Itu sungguh luarbiasa. Lalu aku membayangkan Baekhyun yang seperti itu, sering membuat onar kelas, membuat ricuh koridor dan tiba-tiba suatu saat nanti dia duduk di meja hakim? Aku pikir menjadi seorang entertainer akan lebih cocok untuknya.

“Lalu kenapa dia mengikuti les musik kalau dia sendiri tidak mau menjadi musisi?”

Kyungsoo memutar matanya, nampaknya dia mulai kehilangan kesabaran mendengar pertanyaanku bertubi-tubi. “Kenapa kau tak menanyakannya pada Baekhyun sendiri?”

Aku mengedikkan bahu, “Mungkin saja kau tahu. Kau kan sahabatnya.”

“Entahlah aku juga tak mengerti. Mungkin hanya sekedar hobby. Dia adalah anak dari keluarga kaya. Jadi terserah dia mau bagaimana. Mungkin mengikuti les adalah salah satu cara dia menghamburkan uang?”

Sudah aku duga kalau jawaban Kyungsoo akan seperti itu. Tuduhanku padanya sebagai orang yang tidak punya perasaan ternyata tepat sasaran. Aku menjadi merasa kasihan pada Baekhyun bahwa teman-temannya tak begitu paham tentang dirinya, sepaham Baekhyun kepada mereka. Tapi aku tidak tahu lagi dengan Chanyeol, apakah dia lebih mengetahui Baekhyun lebih banyak dari Kyungsoo? Aku belum memastikan.

“Lalu bagaimana dengan keluarga Chanyeol? Apa ayah Chanyeol juga seorang pejabat kementrian atau semacamnya seperti ayah Baekhyun?”

“Kau penasaran sekali.”  kata Kyungsoo mengguman. Aku hanya bisa tersenyum lemah menimpali karena aku rasa aku harus tahu tentang mereka. Entah kenapa.

“Bukan. Background keluarga Baekhyun berbeda dengan keluarga Chanyeol. Keluarga Chanyeol adalah keluarga pengusaha. Ayahnya pemilik sebuah café di daerah Hongdae, sedangkan ibunya pemilik restoran Italia. Kakak perempuan Chanyeol menjadi seorang presenter berita dan Chanyeol sendiri, kau tahu kalau dia ingin jadi dokter.”

“Tunggu sebentar,” tanganku terangkat mencoba menahan Kyungsoo berbicara lagi, “Kakak perempuan Chanyeol menjadi presenter berita? Jangan bilang kalau dia adalah Yoora, Park Yoora yang itu.”

“Yeah, Park Yoora yang itu.” kata Kyungsoo acuh tak acuh, masih sibuk dengan laptopnya. Aku sedikit heran dia masih punya konsentrasi tinggi sementara disisi lainnya aku mengganggunya dengan serangan pertanyaan.

Mulutku terbuka menyusul jawaban Kyungsoo. Aku tak menyangka kalau Chanyeol adalah saudara kandung dari Park Yoora. Park Yoora adalah presenter berita baru yang cukup terkenal dan cantik. Dia cukup dikenal masyarakat, bahkan ayahku sendiri adalah penggemarnya. Astaga, kalau saja ayahku tahu kalau salah satu teman sekelasku adalah adik kandung Park Yoora mungin beliau akan memaksaku meminta foto atau tandatangannya. Saat aku pertama kali melihat Park Yoora muncul di televisi satu tahun yang lalu, yang aku ingat adalah wajahnya yang mirip dengan Park Chanyeol. Aku kira kemiripan wajah mereka dan nama marga mereka hanya kebetulan belaka semacam lelucon long lost sibling atau sejenisnya. Tak kusangka ternyata mereka benar-benar saudara kandung. “Aku kira kemiripan mereka terjadi secara kebetulan,” kataku lebih kepada diri sendiri, “Aku tak menyangka kalau keluarga anggota smartass benar-benar…”

Smartass?”

Aku menoleh pada Kyugnsoo dan dia menatapku heran dan menyelidik. “Er…” Oh tidak! Jangan bilang kalau dia akan marah mengetahui kalau aku menyebut mereka sebagai smartass.

“Siapa yang kau sebut smartass?”

Secara mental aku ingin membenturkan kepalaku di dinding terdekat, bagaimana bisa aku berbicara seceroboh itu? “Uhm… itu…”

“Apa kau menyebut kami sebagai smartass?” mata Kyungsoo masih menancap ke kepalaku. Ekspresi dan nada suaranya datar, sangat sulit diartikan apakah dia marah atau tersinggung. Dengan ragu aku mengangguk sambil berdoa agar dia tidak marah. Kalau sampai dia marah, maka pendekatan sulit yang aku lalui beberapa saat yang lalu terasa sia-sia. Tapi kemudian Kyungsoo kembali mengacuhkanku dan melanjutkan mengetik sesuatu di laptopnya.

“Menarik.” katanya singkat.

Apa dia marah? Apa dia tersinggung? Atau jangan-jangan di pikirannya dia sedang menyusun rencana untuk membunuhku?

Aku menelan ludahku, gugup. Dalam hati aku merutuk mulutku yang dengan gampang menggelincirkan perkataan yang mungkin saja Kyungsoo anggap tidak pantas. Akhirnya aku tak punya pilihan lain selain tutup mulut dan menunggu ada topik penting yang patut dibicarakan. Beberapa saat berlalu aku hanya duduk diam dan membolak-balik halaman buku tanpa maksud. Sedangkan Kyungsoo sedari tadi dia terus mengetik sesuatu di laptopnya, ruang makan kala itu menjadi sepi dan hanya terdengar jari-jari Kyungsoo yang lincah menekan papan kunci.

Aku tidak suka terjepit diantara keheningan canggung apalagi yang aku hadapi adalah si batu Do Kyungsoo. Dia bisa saja berucap pedas secara tiba-tiba dan yang lebih menyulitkanku adalah ekspresi wajahnya sulit diterka. Aku tiba-tiba langsung mengagumi bagaimana cara Baekhyun menyelidiki apa yang Kyungsoo dan orang lain pikirkan tanpa bertanya. Aku mencobanya dengan kemampuan nalarku yang paling rasional tapi tetap saja membaca pikiran seseorang bukanlah sesuatu yang mudah. Baekhyun benar-benar hebat. Sepertinya dia lebih cocok menjadi seorang psikolog daripada menjadi seorang hakim.

“Kalau kau?”

“Eh?” Kyungsoo tiba-tiba mengajukan pertanyaan ambigu untuk memecah keheningan. Aku tidak bisa menahan wajah bingungku menghujam padanya.

“Kalau kau sendiri bagaimana?” kata Kyungsoo, “Kau mau kuliah dimana dan mengambil jurusan apa setelah lulus?”

Aku memasang senyum masam, “Entahlah belum ada dipikiranku.”

“Tak kusangka kau tidak punya cita-cita.”

Aku merutuki Do kyungsoo dalam pikiranku, lagi-lagi dia mengatakan hal mengesalkan. Tapi aku tak bisa menyalahkannya karena aku memang merasa hopeless. Aku sudah cukup  menderita menjadi orang bodoh dengan IQ rendah yang membuatku sulit hidup. Aku sudah cukup berkecil hati saat membawa topik menggelikan ini di bahas dengan seseorang yang hebat seperti Do Kyungsoo. Aku sudah cukup hina dengan semua itu dan tidak mau ditambahi dengan rasa sia-sia. Baru kali ini aku merasa benar-benar tidak berguna.

“Lalu kenapa kau tidak bercerita padaku, apa yang akan kau lakukan setelah lulus?” Aku benar-benar tidak bisa menekan jauh rasa amarahku dan sebisa mungkin menekan nada suaraku setenang mungkin meski akhirnya juga tak berhasil.

Do Kyungsoo hanya membuang nafasnya percuma, mengacuhkanku dengan mengetik beberapa kalimat di laptopnya lalu berkata, “Entahlah, aku merasa bingung dengan pilihanku.”

Wae? Kau bisa melakukan segalanya dengan otak brilianmu .”

“Justru itu, aku tidak punya kemampuan spesifik semacam Baekhyun. Aku kadang iri dengannya.”

Tatapan pitamku jadi hilang. Jawaban Kyungsoo membuat mood-ku berubah drastis membingungkan. Bagaimana bisa? Dia dikaruniai kemampuan superior dan dia bisa melakukan segala hal, kuliah di jurusan apapun yang ia mau dengan nilai yang selalu nyaris sempurna disetiap semester. Dan dia masih saja bingung? Tapi setelah aku pikir-pikir, aku juga akan bingung jika aku menjadi Do Kyungsoo. Terlalu banyak kemampuan yang aku punya hingga aku bingung memilih mana yang aku ambil. Do Kyungsoo bisa saja menjadi dokter dengan nilainya yang seperti itu. Dia juga bisa menjadi pengacara, tapi sayangnya dia tidak pandai berbicara. Dia bisa saja menjadi arsitek, mengingat perhitungan matematika adalah keahliannya. Dia bisa menjadi ilmuan, rekor nilai Fisika dan Kimianya tidak bisa dipatahkan. Dia bisa saja menjadi juru masak, kue buatannya sungguh enak sekali. Dia bisa saja menjadi dosen fisika, matematika, sejarah dan lain sebagainya dengan otaknya yang seperti itu. Yeah, mungkin kecuali satu. Dia tidak bisa menjadi model. Ukuran tubuhnya kurang memenuhi syarat.

Aku tiba-tiba kehilangan kata-kata. Kyungsoo dan aku ternyata punya kesamaan, sama-sama bingung mempertimbangkan jurusan apa yang akan dipilih setelah sekolah nanti. Bedanya, Kyungsoo terlalu bingung memilih jurusan karena semua semua jurusan cocok untuknya. Sedangkan aku, terlalu bingung memilih jurusan karena merasa semua jurusan tidak cocok untukku. Persamaan dengan dasar alasan yang kontras. Bisakah Kyungsoo tidak membuatku lebih tak berguna lagi? Jika di ibaratkan, aku seperti serpihan keripik di dasar toples. Tak enak lagi karena itu adalah makanan sisa dan tentunya lebih baik dibunang saja karena membuat toples terlihat kotor.

Menyedihkan.

Tanpa sadar aku mengetuk kepalaku dengan sampul buku. Talk show yang baru saja aku lalui dengan Kyungsoo memberikanku banyak informasi tentang smartass. Bagaimana latar belakang mereka, bagaimana keinginan mereka setelah lulus nanti. Setelah sekian lama aku merasa berkecil hati dan minder akan mereka, kini aku semakin merasa kecil jika dibandingkan dengan mereka bertiga.

Mereka sungguh beruntung. Mereka punya daftar panjang hal yang secara umum diketahui atau tidak yang bisa membuat orang lain merasa iri. Dan yeah, hati kecilku berkata kenapa aku tidak bisa seperti mereka. Chanyeol dengan keluarga terkenalnya, Baekhyun dengan latar belakang keluarga terhormatnya, dan Kyungsoo…. Kira-kira apa pekerjaan ayah Kyungsoo?

“Uhm, kalau boleh tahu. Ayahmu bekerja sebagai apa?” Aku berkata cukup pelan dan mencoba menutupi rasa penasaranku yang sudah menggapai tenggorokan, mau tumpah. Menurut perkiraanku ayah Kyungsoo adalah seorang ilmuan yang baru saja menemukan revolusi pangan untuk mencegah krisi pangan yang akan melanda dunia puluhan tahun kedepan atau semacamnya. Karena yang pasti, otak yang brilian miliknya berasal dari gen yang hebat.

Aku menyesali ucapanku setelah Kyungsoo meresponku hanya dengan memberikan tatapan menyelidik. Apa yang dia pikirkan? Di dalam diriku, secara mental aku sudah bersiap kalau perkataannya yang lebih pedas lagi akan datang. “Kau tidak lupa nama kepala sekolah kita kan?”

“D-D-Do Seungsoo.” aku tergagap, dan tentunya tampak bodoh, “Adalah ayahmu?”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku ingin mati.

***

“KENAPA KAU TAK PERNAH BERCERITA PADAKU SEBELUMNYA JIEUN!”

Pagi-pagi sekali aku menyeret Jieun keluar dari kelas dan membawanya ke halaman sekolah. Aku seperti bom nuklir yang dalam hitungan detik siap meledak. Aku merasa marah dan gusar dan tentunya telihat kolot. Bagaimana bisa aku tak menyadari kalau Do Kyungsoo adalah putra dari Do Seungsoo, si kepala sekolah yang sudah menjabat selama dua tahun ini. Pasti Kyungsoo menganggapku sebagai orang yang paling bodoh yang pernah dia temui sepanjang hidupnya. Aku sangat yakin tentang itu.

Sedangkan disisi lain, Jieun menatapku dengan aneh. Perpaduan antara ingin tertawa, prihatin dan bingung.

“Itu adalah salah satu pengetahuan umum sekolah dan kau tak mengetahui itu?” Jieun terkekeh, bahkan kini dia mulai tertawa memgang perutnya.

“Aku kira itu rumor bodoh dari gadis pecinta gosip,” aku menendang salah satu batu menjauh dari kakiku lalu melanjutkan, “Kau tahu sendiri smartass punya banyak rumor yang menempel di dahi mereka.”

Jieun masih saja tertawa tapi menanggapi, “Logikamu kau buang kemana? Do Seungsoo dan Do Kyungsoo punya banyak persamaan.”

“Aku tak berpikir sejauh itu karena Ayah dan anaknya tidak punya wajah yang mirip. Do Kyungsoo lebih mirip seperti ibunya.” kataku dengan kalimat akhir yang mengguman tapi sukses membuat tawa Jieun berhenti.

“Kau tahu seperti apa wajah ibunya?”

Aku mengangguk, “Yeah, aku kemarin pergi kerumah Kyungsoo untuk mengerjakan tugas sialan itu.”

Rahang Jieun jatuh, “Kau pergi kerumahnya? Whoa. Sejauh itukah hubungan pertemanan kalian?”

“Aku bukan teman mereka.” kataku sedikit tersinggung.

“Setelah sekian banyak perhatian yang mereka berikan padamu, kau masih menganggap mereka bukan teman?”

“Kita hanya teman kerja kelompok dan tak lebih dari itu.”

“Kenapa kau seperti berkelit dari mereka.”

Berkelit. Kata Jieun yang satu itu, entah kenapa membuatku panas. “Aku tak berkelit Jieun. Meskipun sebenarnya aku tak mengerti maksud dari kata berkelitmu itu. Tapi yang jelas, aku memang bukan teman mereka dan sepertinya aku tak akan pernah menjadi teman mereka. Mereka… punya strata sosial yang berbeda denganku. Itu membuatku tidak nyaman.”

“Kau tahu, kau tak punya kepercayaan diri yang cukup. Kau adalah teman yang baik, dan tentu saja mereka mau berteman deganmu.”

“Kau mengatakan aku baik, hanya karena kau adalah temanku Jieun. Lagi pula, kau tak tahu apa yang mereka pikirkan terhadapku. Jadi, hentikan memberikan asumsi sumbang dan tak punya bukti yang jelas.”

“Begitu pula denganmu,” kata Jieun sedikit cepat, “Kau juga tak tahu apa yang mereka pikirkan tentang dirimu.”

“Kalau begitu tidak bisakah kita menghentikan topik ini?” sambarku cepat, terkesan marah. Yeah, entah kenapa aku merasa marah. “Membicarakan mereka bertiga sudah membuatku pusing.”

Aku meninggalkan Jieun yang hendak berbicara sesuatu lagi. Aku mengabaikannya dan tanpa menyesal meninggalkannya berdiri mematung dibawah pohon halaman sekolah. Aku merasa muak dan entahlah, perkataan Jieun tak membuatku merasa lebih baik. Dia seolah menekanku agar menerima kenyataan kalau para smartass mau berteman denganku. Hah. Ide apa yang merasuki otak Jieun. Dia tidak tahu siapa anggota smartass sebenarnya, dan sepertinya fakta-fakta yang baru aku ketahui tentang mereka hanyalah pucuk gunung es-nya saja.

Mereka adalah kelompok hebat dan menempati piramida paling tinggi di dalam susunan strata sosial. Jika dibandingkan dengan mereka, tentunya aku tak pantas disandingkan. Aku adalah salah satu penghuni dari strata piramida paling bawah. Keluargaku bukanlah kalangan pejabat, ayahku hanyalah pegawai kantoran biasa, dan ibuku hanya pemilik kedai makanan kecil. Jika mereka mengetahui fakta bagaimana keluargaku sebenarnya, apakah mereka benar-benar mau berteman denganku? Aku pikir tidak.

Aku menekuk mukaku ketika berjalan di sepanjang koridor dan hendak pergi ke kelas. Aku berjalan pelan sambil mengamati pola lantai sekolah seolah itu adalah objek yang paling menarik untuk diperhatikan. Hingga pada akhirnya aku dikagetkan dengan kaki besar yang menghalangi jalanku. Aku berhenti dan mendongak.

Aku menemukan Chanyeol berdiri didepanku dengan raut muka sendu. Oh tidak. Tidak bisakah aku berhenti berurusan dengan mereka? Apa lagi yang dia inginkan dariku? Apa dia baru bertengkar dengan Yejin lagi?

“Ada apa?”

“Apa yang terjadi dengan Baekhyun?” kata Chanyeol sedikit pelan dan aku mendelik padanya.

“Apa kau tidak salah memberikan pertanyaan padaku?”

“Kyungsoo bilang, kau kemarin melihat Baekhyun pulang,” kata Chanyeol suaranya berubah serius,  “Kau bilang dia terlihat terburu-buru atau semacamnya.”

“Ya, tapi Kyungsoo bilang dia biasa seperti itu karena buru-buru menghadiri les musik atau semacamnya.”

“Tapi dia tidak sedang mengikuti les musik.” katanya lirih.

“Apa? Apa yang coba kau tanyakan padaku?” aku menjilat bibirku gusar dan mood-ku yang sedari tadi sudah rusak kembali membangkitkan amarah, “Dengar. Aku tak peduli dia ikut les musik, les bahasa asing atau semacamnya. Aku bukan ibunya, berhenti menanyakan Baekhyun padaku. Aku juga bukan teman kalian, jadi berhenti menggangguku!”

Chanyeol mengerjap dan kaget mendengarkan perkataan terakhirku. Begitu pula denganku, aku juga terkejut dengan apa yang baru saja aku ucapkan lalu buru-buru mengabaikannya dan segera ingin pergi. Tapi sebelum aku bisa melangkah lebih dari dua kali, tangan Chanyeol yang besar sudah mencengkram salah satu lenganku dengan kuat. Dia mengoyak badanku sedikit keras, menarikku berdiri kembali di hadapannya. Matanya yang tadi terlihat sendu tidak lagi ada dan digantikan dengan tatapan tajam menusuk.

“Aku tidak peduli apa yang sedang kau pikirkan nona. Tapi aku disini hanya ingin meminta bantuanmu. Aku tak akan memaksamu untuk menurutiku tapi aku harap kau mendengarkan perkataanku dan setelah itu kau boleh pergi.”

Aku tak merespon kata-katanya karena sepertinya otakku berhenti memproses. Dia menyuruhku untuk tetap tinggal dan apa boleh buat, karena tubuhku juga terasa kaku. Akhirnya aku diam saja menunggu Chanyeol untuk berkata lagi.

“Dengar,” aku perhatikan dia menjilat bibirnya tampak hilang dan bingung, “Baekhyun sudah tidak mengikuti les musik atau semacamnya selama satu tahun ini. Aku ingin kau menjelaskan padaku tentang apa yang Baekhyun katakan padamu kemarin dan seperti apa dia sebelum dia meninggalkan sekolah.”

“Aku tak tahu kenapa kau bertindak serumit ini.” aku menarik lenganku dari tangan Chanyeol tapi tidak berhasil. Dia tetap membuatku bergeming dan mencegahku pergi, “Kenapa kau tidak menanyakan pada Baekhyun saja? Bukankah kau adalah sahabatnya? Kenapa harus bertanya padaku?”

“Karena,” beberapa saat Chanyeol mengehela nafas dan menutup matanya. Aku merasakan bahwa dia sebenarnya sebisa mungkin untuk tidak berteriak diwajahku. Entah apa yang membuatnya panik seperti ini?

“Baekhyun tidak masuk sekolah hari ini dan kau harus percaya padaku bahwa yang membuat Baekhyun berlari dan mengabaikan tugas kelompok kemarin bukanlah hanya untuk menghadiri les musik atau semacamnya.”

Nafasku tercekat. Kemungkinan buruk yang kemarin sempat melintasi kepalaku kembali berputar. Aku pikir aku terlalu bereaksi berlebihan, sama seperti yang Kyungsoo katakan. Dan ternyata….

“Apakah maksudmu… Baekhyun ada dalam masalah?” aku hampir tak bisa mengenali suaraku. Tenggorokanku tiba-tiba mengering dan membuatku kesulitan berbicara.

Chanyeol mengangguk enggan lalu berkata, “Iya, dan aku butuh bantuanmu.”

 

-tbc-

 

Aku rasa chapter ini adalah chapter yang paling membosankan -__-V Sorry pemirsah

salam, ilachan🙂

32 thoughts on “The Smartass Project 3

  1. hai…. aku reader baru disini dan aku udh baca chapter awal sampe chapter sekarang dan mian baru commment dichapter ini .aku meunggu next chapter nya yah ??? soal nya penasaran apa yang terjadi sama baekhyun tpi insting ku mengatakan hal yang gaje abaikan ditungguuu

  2. thor kapan lanjut? penasarab banget, suka banget sama ceritanya
    apalagi kyungsoo si gabung sama baek dan chan jadi.seru banget ceritanya,.kumohon lanjutin ya rhor :))

  3. Woaahh.. Chapter nya DAEBAK bangeeet.. Thor Lanjutin dong.
    Ceritany semakin menegang niih,, Apakah Baekhyun ada rasa ya Sama..???
    Ahh, nggk tau Ahh.??
    Thor gue mohon lanjutin Chapter nya ya.??
    Kok jadi ngemis kayak Gini sih:(:):(
    Thor Please,, Lanjutin Yeah,,. FF nya. Pokoknya aku akan slalu Update tentang Chapter ini, awas Thor,kalok Nggk di lanjuti Chapter nya, aku mungkin akan marah Sama Kamu.. Wkwkwk.:^:^;)
    Ku tunggu Next nya ya Thor. Fighting.✊✊✊✊💗💗

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s