US | Love in Seoul – Part 1

poster us-prolog

US | Love in Seoul – Part 1

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Jessy

Genre : Romance, marriage-life, family

Rating : PG-13

Length : Chapter / Series

Note : Do not copycat without my permission.

Link : Prolog

***

Where’s Chanhee?

Pagi hari di bawah langit Seoul yang cerah. Kesibukan kota tampak kentara. Keluarga kecil Byun sedang berada dalam perjalanan menuju sekolah Chanhee. Biasanya Chanhee hanya diantar oleh Baekhyun, tapi kali ini Minri ikut–karena dia punya urusan di tempat lain.

Kalau dulu Minri bekerja hanya sebagai penulis novel, maka sekarang dia punya pekerjaan lain. Dia dan Baekhyun sepakat membangun sebuah toko bunga. Minri bekerja setiap hari disana, dari pagi sampai sore—mungkin di hari besar Minri akan tutup lebih awal. Wanita itu bisa memanfaatkan waktunya untuk menulis, sekaligus mengurus toko bunga, karena Minri tidak mungkin selamanya mengurung diri dalam apartemen—Ia akan benar-benar kesepian.

Minri tidak sendiri, dia mempunyai seorang pekerja di toko bunga miliknya yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri–seorang mahasiswi jurusan pertanian yang sedang meniti pendidikan di kota besar Seoul. Minri sangat senang ketika gadis itu menyetujui tawarannya..

“Chanhee, kita sebentar lagi sampai. Ayo siap-siap dan simpan mainanmu.” Minri membalikkan badannya ke belakang dimana Chanhee duduk sendirian (dia asik bermain dengan PSP-nya). Baekhyun berada di bangku kemudi.

“Satu level lagi, Eomma,” jawab Chanhee tanpa menatap Minri.

Minri kembali menatap jalan sembali menghela nafas. Di sampingnya Baekhyun tersenyum menenangkan sembari menepuk lengan Minri. Baekhyun tahu wanita itu pasti kesal. Tapi Minri tidak pernah mengomel pada Chanhee. Entah kenapa, rasanya anak itu terlalu manis untuk diomeli.

“Chanhee belum pernah melihat ibu marah ‘kan? Chanhee tau tidak, kalau ibumu marah, dia akan sangat menakutkan.”

“Baek–” Protes Minri sembari memandang Baekhyun ‘jangan katakan hal yang tidak-tidak pada anak kita.’

Chanhee menekan tombol ‘pause’pada PSP-nya, merasa tertarik dengan apa yang dikatakan Baekhyun.

“Memangnya Eomma dulu pernah marah pada Appa?” tanya Chanhee sembari mengerjap polos.

Tentu saja! Dia bahkan mendiamkanku seharian penuh.

Baekhyun teringat akan kejadian dulu. Saat mereka tinggal satu apartemen di Manhattan. Minri masuk ke dalam kamar mandi Baekhyun secara diam-diam karena air pancuran di kamar mandi miliknya tidak berfungsi. Baekhyun marah besar pada Minri. Akhirnya mereka bertengkar. Minri mendiamkan Baekhyun seperti tembok. Dan hari itu, mereka pertama kalinya berciuman (dengan segala emosi yang meletup-letup). Ugh, kejadian itu masih melekat di kepala Baekhyun.

“Pernah.” Baekhyun membelokkan mobilnya ke halaman sekolah Chanhee. Sebuah sekolah dasar yang cukup besar. Chanhee sekarang sudah berada di kelas 1. “Chanhee ingat tidak, waktu Chanhee sakit karena Appa tidak menjemput Chanhee?” Baekhyun mencari sebuah alasan yang lebih tepat ketimbang menceritakan kejadian yang tidak seharusnya didengar anak-anak seusianya.

“Chanhee ingat! Chanhee sampai menangis karena takut kalian bertengkar.”

“Nah!” seru Baekhyun sembali membalikkan badannya memandangi Chanhee yang menyandar di bangku belakang dengan tatapan ‘minta maaflah pada ibumu’.

Arraseoyo, maafkan Chanhee ya, Eomma.” Chanhee mematikan PSP-nya (dan terpaksa merelakan satu level-nya yang berharga). Dia memasukkan mainannya itu ke dalam tas batman hitam-nya. Chanhee menyelipkan kepalanya di antara Baekhyun dan Minri lantas mengecup pipi kedua orang tuanya satu per satu.

Minri tersenyum sambil mengusak kepala Chanhee. Anak itu juga tersenyum. Kalau begini, Minri pasti lupa akan kekesalannya.

Chanhee melompat kecil keluar mobil. Anak itu membenarkan posisi tas ranselnya.

Annyeong Eomma, Appa…” Chanhee melambaikan tangannya pada Baekhyun dan Minri dibalik kaca jendela mobil yang terbuka setengah. Anak itu berbalik dan melangkah riang ke dalam sekolahnya.

“Jessy!” seru Chanhee saat dia bertemu dengan Jessy si rambut merah—yang sekarang rambutnya merah kecoklatan—yang juga baru datang. Teman perempuannya di taman kanak-kanak itu ternyata memilih sekolah dasar yang sama dengannya. Kebetulan sekali.

Minri melihati mereka berdua dari dalam mobil. Kepalanya menggeleng pelan saat Chanhee menarik rambut Jessy lalu berlari meninggalkan gadis itu–yang sekarang juga mengejarnya. Dari dulu Chanhee suka sekali menjahili Jessy.

“Kau tahu siapa anak gadis itu? Chanhee tampak dekat dengannya.” Komentar Baekhyun. Ternyata dia juga memperhatikan hal yang sama.

“Kau ingat Jessy? Teman sekelas Chanhee yang sering diceritakan Chanhee saat di rumah.”

“Oh, anak gadis berambut merah itu. Kenapa mereka bisa bersekolah di sekolah yang sama lagi, ya?” heran Baekhyun. Pria itu menyalakan kembali mesin mobilnya, bergerak menuju tempat selanjutnya–toko bunga.

“Minri-ya, apa kau merasakan hal yang sama denganku?” tanya Baekhyun. Minri mengerutkan keningnya, belum mengerti dengan arah pertanyaan Baekhyun. Lagipula Minri bukan orang yang bisa membaca pikiran. Mana dia tahu.

“Apa maksudmu Baek?”

“Aku merasa tidak asing dengan wajah Jessy. Maksudku dia mirip seseorang yang pernah kutemui. Tapi aku lupa itu siapa.”

Minri mengingat-ingat bagaimana rupa wajah Jessy. Kulitnya yang putih nyaris pucat, matanya sipit dan hidung mungilnya. Minri juga merasa mengenali wajah itu.

“Kalau diperhatikan, kurasa memang mirip seseorang.”

“Benar ‘kan!”

Siapa ya?

Sementara Minri berpikir, Baekhyun sudah menghentikan mobilnya di depan toko bunga milik mereka. Masih pagi. Tidak banyak aktivitas yang sedang berlangsung di sekitar daerah itu. Jalanan masih tampak sepi.

Minri menyadari mobilnya sudah berhenti lantas terkesiap. Dia baru akan keluar mobil, tapi tangan Baekhyun menahannya. Pria itu menariknya dengan tiba-tiba lantas mencium bibir Minri. Minri yang merasa belum siap, hanya bisa melebarkan matanya –dia tersedak nafasnya sendiri.

Pria itu mengulur waktu, memelankan pergerakan bibirnya membuat Minri terbawa suasana, lantas memejamkan matanya. Mereka tidak tahu menahu bahwa dalam jarak beberapa meter dari mereka ada seorang gadis yang memperhatikan mereka dengan mulut terbuka.

Beberapa menit terlewat. Minri memukul pelan bahu Baekhyun saat pria itu melepaskan tautan bibir mereka. Minri mengatur nafasnya yang telah dicuri seenaknya oleh Baekhyun.

“Kurasa tidak ada salahnya jika aku minta ciuman selamat pagi dari istriku sendiri.”

“Mestinya bilang dulu padaku.” Minri mengerucutkan bibirnya, kemudian menatap lurus ke depan. Dia melihat seorang gadis tampak terpaku beberapa meter dari letak mobil Baekhyun.

Uh-Oh! Rupanya ada yang melihat mereka berdua.

“Sungyoung melihat kita, Baek.” Minri menatap Baekhyun dengan wajah datar.

“Gadis itu? Dia bukan anak kecil. Melihat hal yang seperti tadi adalah hal wajar.” Baekhyun menyapu ujung bibir Minri dengan jempolnya lantas tersenyum.

“Tapi aku malu, Baekhyun.” Minri memukul lengan Baekhyun sekali lagi sebelum membuka pintu mobil.

Baekhyun membelokkan mobilnya ke arah jalan. Dia tersenyum singkat sebelum melesatkan mobilnya ke jalanan. Minri memperhatikan mobil itu sampai hilang, terhalang oleh mobil yang lain.

Teringat sesuatu, Minri menoleh pada gadis yang masih berdiri diam seperti patung.

“Sungyoung-ah, kau tidak ingin terus-terusan disana bukan?”

Sungyoung mengerjapkan matanya kemudian menyengir, samar-samar tampak rona dipipinya. Dia menghampiri Minri dengan langkah cepat.

“Kau kuliah siang hari ini?” tanya Minri sembari membuka pintu toko bunganya yang digembok. Dia tidak akan membahas kejadian yang dilihat Sungyoung tadi. Tidak akan.

Ne Eonni, Itulah mengapa aku kesini pagi-pagi.”

Pintu itu terbuka. Aroma berbagai macam bunga menyambutnya seperti dia sedang berada di toko parfum saja. Minri menyalakan lampu dan menyiapkan segala sesuatu.

Sungyoung meletakkan tas selempangnya di salah satu meja disana, kemudian membantu Minri menyusun pot bunga dan memungut beberapa daun yang jatuh. Minri memberikan kebebasan jam kerja pada Sungyoung. Meskipun tidak terikat kontrak dan semacamnya, gadis itu tetap melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.

“Kau sudah sarapan? Aku membawa kimbab. Kau mau?” Minri mencuci tangannya di wastafel terdekat kemudian mengeluarkan kotak makanan yang dia bawa.

“Terimakasih Eonni.

“Tidak usah sungkan.”

Minri dan Sungyoung duduk bersama di meja kasir. Kedua wanita itu terlibat dalam obrolan ringan sembari memakan sarapan mereka.

Keduanya menoleh ke arah pintu ketika pintu itu terbuka. Pelanggan pertama mereka, seorang lelaki tinggi dengan figur wajah yang tampan. Dan Minri mengenali orang itu.

“Chanyeol-ssi!” Minri bangkit dari tempat duduknya, lantas mengelap tangannya dengan tisu.

“Minri-ssi,” Chanyeol menghampiri mereka berdua. “Aku butuh bantuanmu. Aku ingin se-bucket bunga untuk ulang tahun ibuku.”

Arraseo. Aku punya seorang yang handal dalam memilihkan bunga untukmu.” Minri tersenyum pada Sungyoung. “Sungyoung-ah?”

Ne?” Sungyoung mengerjapkan matanya seperti tersadar dari sesuatu. Sejak tadi dia hanya melamun sembari memperhatikan lelaki tinggi –pelanggan pertama mereka. Sungyoung tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah menarik lelaki itu. sampai Minri menyadarkannya. Ugh, apa dia tertangkap basah sudah memandangi wajah orang yang bahkan belum dikenalnya secara resmi?

“Bisa kau membantuku Nona?” tanya Chanyeol sembari tersenyum lebar.

Sungyoung merasa jantungnya mulai bermasalah. Daripada dia melongo seperti orang bodoh, lebih baik dia beranjak dari kursinya. Gadis itu membungkuk singkat pada lelaki di depannya.

“Tentu saja, Tuan. Aku akan membantumu.”

Minri menyembunyikan senyumnya. Dia menyadari sesuatu yang berbeda dari tatapan gadis itu. Rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Dan Chanyeol bukanlah orang yang salah untuk masuk dalam daftar orang-orang yang menarik perhatian.

***

Minri sedang asik berkutat di depan layar laptopnya ketika tiba-tiba sebuah suara membuyarkan konsentrasinya. Suara menggemaskan yang sudah tidak asing di telinganya.

Eomma~!!

Minri menoleh ke arah pintu dan mendapati Chanhee tersenyum polos–membuat wajahnya mirip sekali dengan ayahnya. Anak itu berlari kecil menghampiri Minri. Dari luar kaca, Baekhyun yang menurunkan kaca mobilnya hanya tersenyum dari sana. Lelaki itu memberi isyarat bahwa dia harus kembali bekerja, dan Minri menjawab dengan sebuah anggukan.

Pria itu hanya bisa mengantarkan Chanhee sampai disitu, meskipun demikian Minri tetap bersyukur Baekhyun bisa meluangkan waktunya yang supersibuk untuk Chanhee.

Minri menutup laptopnya kemudian memutar bangku. Dia merentangkan tangannya, menyambut Chanhee sudah siap memeluknya. Minri mengusak rambut Chanhee yang sedikit berkeringat.

“Chanhee lelah?” tanya Minri sembari melepaskan tas ransel anak itu dari punggungnya. “Kalau Chanhee mau kita bisa pulang sekarang.”

Chanhee menggeleng. Dia menghampiri tanaman baby breath. Kumpulan bunga putih yang kecil itu memang indah dan banyak yang meminatinya. Minri tidak tahu sejak kapan anak itu tertarik dengan tanaman. Entah untuk menghilangkan kebosanan atau apa, Chanhee sering memperhatikan tanaman yang ada di toko. Dan Minri harus bersyukur karena Chanhee tidak membuatnya rusak.

Noona!” Chanhee menghampiri Sungyoung yang baru tiba. Chanhee berteman baik dengan Sungyoung. Walaupun anak itu sering berbuat hal yang menyebalkan menurut Sungyoung, tapi dia menyayanginya seperti adiknya sendiri.

“Chanhee-ya, kau sudah datang?” Sungyoung meletakkan barang belanjaannya di atas meja. Dia baru saja pulang dari supermarket, membeli beberapa peralatan tambahan untuk toko bunga seperti pot, alat peyiram dan botol penyemprot.

Noona bawa apa?” tanya Chanhee sembari mendongak. Dia perlu menjinjitkan kakinya untuk melihat barang-barang yang ada di atas meja. “Apa ada es krim?”

Chanhee…” tegur Minri. Anak itu tampak memperlambat pekerjaan Sungyoung. “Lebih baik kau kerjakan tugas sekolahmu.”

Chanhee menjauh dari meja dengan wajah murung. Minri sedikit menyesal karena hal ini. Tapi anak itu memang harus mengerjakan kewajibannya agar dia bisa mandiri.

“Nanti Noona belikan es krim kalau Chanhee sudah selesai mengerjakan PR. Bagaimana?”

Call!” Chanhee tersenyum lebar kemudian menghampiri tas batman-nya. Dia mengeluarkan buku dan alat tulis dengan semangat, lalu duduk di meja pojok. Dekat bunga mawar putih.

Minri menoleh pada Sungyoung. “Jangan terlalu memanjakannya, Sungyoung-ah,” ucap Minri pelan.

“Tidak apa-apa Eonni. Aku sayang Chanhee dan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri.”

“Terimakasih sudah menyayangi Chanhee. Chanhee juga sayang padamu, kau tahu.”

***

Matahari telah merangkak ke arah barat, perlahan membuat langit Seoul berwarna jingga berpendar. Para pekerja perusahaan nasional maupun swasta telah selesai dengan pekerjaan mereka. Hal yang paling menyenangkan setelah bekerja adalah pulang ke rumah, melepas lelah dan berkumpul bersama keluarga.

Tak terkecuali Baekhyun.

Pria itu menjemput anak dan istrinya di toko bunga. Minri sedang bersiap-siap menutup toko saat mobil Baekhyun telah terparkir manis di depan toko itu. Pria berambut gelap itu keluar dari mobilnya.

Chanhee berseru kemudian menghampiri ayahnya. Kedua lelaki itu menunggu di depan pintu mobil, sementara Minri menyelesaikan pekerjaannya–menggembok tokonya kembali.

Chanhee membuka pintu belakang mobil kemudian menelusup masuk. Anak itu cepat-cepat mengambil PSP-nya dari dalam tas. Hal yang paling sering dia lakukan saat dia berada dalam mobil adalah bermain PSP.

Baekhyun membukakan pintu depan untuk Minri, setelah itu dia memutar ke bangku kemudi. Setelah memastikan semuanya sudah siap, Baekhyun menyalakan mobilnya dan melesat di jalan raya.

“Sungyoung pulang lebih dulu?” tanya Baekhyun.

“Ya, Sungyoung ada kelas siang sampai sore, makanya aku sendirian–eh maksudku aku bersama Chanhee setelah gadis itu pergi.”

Baekhyun mengangguk mengerti.

“Baek, apa tadi pagi Chanyeol datang terlambat?” tanya Minri tiba-tiba. Chanyeol dan Baekhyun bekerja di tempat yang sama.

“Ya, dia bilang dia memberi kejutan pada ibunya dulu.”

“Aku tahu,” ucap Minri. “Dia beli bunga di toko kita tadi pagi. Dan aku meminta Sungyoung membantu lelaki itu memilih variasi bunganya.” Minri memberi jeda. “Sepertinya Sungyoung tertarik pada Chanyeol. Kurasa mereka cocok.”

“Kau berniat menjodohkan mereka?”

“Chanyeol belum menikah. Sungyoung gadis yang manis dan sebentar lagi Ia selesai dengan studinya. Menurutmu bagaimana?”

“Asalkan mereka berdua sama-sama suka. Mengapa tidak?” Baekhyun mengusak kepala Minri. Jauh sebelum Minri mengungkap tentang Chanyeol dan gadis bermarga Ahn itu, Baekhyun memang sudah berencana mengenalkan mereka berdua.

Baekhyun kembali fokus pada menyetirnya, kemudian bertanya, “Kalian sudah makan?”

“Belum.”

“Bagaimana kalau kita ke restoran dulu?”

“Setuju!” seru Chanhee sembari berdiri, namun matanya tak terlepas dari layar mainannya itu.

“Pizza,” ujar Minri sembari menyengir. Baekhyun menahan diri untuk tidak mencubit pipi gadis itu, karena sekarang dia sedang dalam keadaan menyetir.

“Aku mau bibimbab,” sahut Chanhee dengan nada merajuk. Baekhyun bingung harus menjalankan mobilnya ke arah mana, karena di tempat berjualan pizza, tidak ada yang menjual bibimbab, begitupun sebaliknya.

Minri menghela nafas. Baekhyun tahu gadis itu benci sayur, makanya dia memilih pizza itu pun hanya dengan toping daging dan mayones. Berbeda dengan Chanhee yang sekarang mulai meminati yang namanya sayur. Walaupun pada kenyataannya anak itu juga benci dengan mentimun –persis seperti Baekhyun.

“Baiklah, sekarang kita sepakati saja. Kita singkirkan menu pizza dan bibimbab. Beralih ke menu lain yang kita semua suka.”

Sembari menjalankan mobilnya pelan, Baekhyun melihat Minri dan Chanhee sedang berpikir. Sampai akhirnya sebuah jawaban kompak yang diinginkan Baekhyun terlontar dari mulut keduanya.

Chicken!”

“Itu dia.” Baekhyun tersenyum senang. Walaupun sering berdebat, setidaknya mereka masih punya kesamaan. Chicken salah satunya.

***

Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Chanhee telah tidur pulas di dalam kamarnya. Sebenarnya Minri tidak enak hati jika terus membuat Chanhee pulang sore bersamanya. Anak itu pasti kelelahan (meskipun dia bisa istirahat sebentar di toko bunga). Tapi meninggalkan Chanhee sendiri di apartemen adalah hal yang berbahaya.

Baekhyun dan Minri sedang berada di atas kasur. Baekhyun membaca buku sembari menyandar, sementara Minri sibuk dengan laptopnya. Dia sedang menyelesaikan karyanya yang kedua.

Sekitar sejam yang lalu mereka tidak bicara karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Baekhyun menggeliatkan badannya lantas menutup bukunya. Dia mendekatkan duduknya pada Minri lantas memeluk pinggang gadis itu sembari menyandarkan kepalanya di bahu.

“Sudah waktunya tidur, sayang.”

“Sedikit lagi, Baek.” Minri menyenggol pelan pinggang Baekhyun karena deru nafas lelaki itu di bahunya membuatnya geli dan kehilangan fokus.

“Apa kau tidak lelah seharian bekerja?” Baekhyun menaikkan bibirnya ke leher gadis itu, menghirup aroma bunga yang menguar dari sana.

“Selama itu menyenangkan, aku tidak merasa lelah. Lagipula pekerjaanmu jauh lebih melelahkan daripada aku. Jadi kau boleh tidur duluan dan–Baek!” Minri menoleh garang ketika Baekhyun menggigit telinganya. Dan pria itu hanya menunjukkan respon dengan senyum polos tanpa rasa bersalah.

Oh baiklah, batin Minri. Menyerah.

Dia mematikan laptopnya setelah sebelumnya menyimpan file yang telah dikerjakannya. Lantas meletakkan benda elektronik itu di atas nakas.

Minri menyusup ke dalam selimut, kemudian berbaring. Kasur adalah tempat terbaik untuk istirahat. Dan Baekhyun benar. Sudah waktunya untuk tidur. Matanya mulai terasa berat dan perlahan terpejam. Minri kembali membuka matanya. Ada hal yang ingin ditanyakannya pada Baekhyun.

“Apa sebaiknya kita tutup saja toko bunganya, Baek?”

“Kenapa?” tanya Baekhyun sembari memandangi wajah Minri dengan dahi mengkerut. Tangannya menyusup di bawah selimut, merangkul ringan pinggang wanita itu. “Kita bahkan belum 3 bulan membukanya.”

“Aku kasihan pada Chanhee, anak itu harus merelakan waktu siangnya di toko. Harusnya dia istirahat di rumah.” Minri memandangi langit-langit kamar dengan pandangan yang menerawang.

“Tapi kulihat Chanhee senang berada disana, apalagi dia berteman baik dengan Sungyoung. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.” Baekhyun mengusap kepala Minri, lalu memutus jarak di antara mereka. Lelaki itu menelungkupkan badannya di samping Minri sementara kepalanya menyelip di antara ceruk leher Minri.

“Baiklah, ayo tidur.” Minri bermaksud mendorong tubuh Baekhyun. Tapi lelaki itu semakin erat dengan pelukannya.

“Byun Baekhyun…”

Baekhyun mengangkat kepalanya sembari tersenyum setengah. Dia mencium bibir Minri, membawanya ke dalam ciuman yang hangat dan dalam. Atmosfer terasa menjadi panas. Dan untuk beberapa menit (atau mungkin beberapa jam) sepertinya Minri harus melupakan rasa kantuknya.

***

Seperti hari-hari biasanya. Chanhee diantar kedua orang tuanya ke sekolah. Dan dia akan dijemput Baekhyun jika sudah waktunya, lalu Baekhyun menurunkan anak itu di toko bunga yang dikelola istrinya.

Tapi, kali ini Baekhyun hanya datang sendirian, dengan wajah panik. Chanhee tidak bersamanya–tidak ada anak kecil yang memanggil ‘Eomma’ dengan suara menggemaskan seperti biasanya–membuat Minri berasumsi bahwa sesuatu telah terjadi.

“Chanhee tidak ada di sekolahnya.”

“Apa?!” Minri melepaskan semprotan bunganya lalu menghampiri Baekhyun. “Apa kau sudah mencarinya di sekitar sekolah?”

“Tidak ada murid kelas satu yang tersisa.”

Minri merasa kakinya melemas. Jangan katakan bahwa hal buruk telah menimpa anak itu. Chanhee tidak pernah pulang lebih dulu sebelumnya. Dia rela menunggu berjam-jam karena dia yakin orang tuanya pasti menjemputnya.

Sungyoung baru keluar dari ruangan belakang. Dia tampak tergesa-gesa. Pasalnya, samar-samar dia mendengar bahwa Chanhee tidak ada di sekolahnya. Gadis itu sempat membungkuk pada Baekhyun sebelum menghampiri Minri dan menenangkannya –wajahnya tampak pucat.

“Aku akan mencarinya,” ucap Baekhyun lantas berbalik. Namun, tangan Minri terulur untuk menahan lengan pria itu.

“Aku ikut.”

Minri menepuk pelan bahu Sungyoung. “Aku percayakan toko bunga ini padamu.”

Baekhyun dan Minri berjalan cepat menuju pintu. Bersamaan dengan itu, mereka berpapasan dengan Chanyeol yang baru masuk ke toko. Apa yang membawa pria tinggi itu kesana?

“Chanyeol-ah, kebetulan sekali. Tolong bantu Sungyoung disini. Aku dan Minri akan mencari Chanhee.”

“Chanhee? Apa yang terjadi?”

“Aku harus bergegas.” Tanpa bisa menjelaskan lebih banyak, Baekhyun dan Minri pergi dari sana, menyisakan Sungyoung dan Chanyeol –dengan segala kecanggungannya.

“Semoga tidak terjadi apa-apa,” gumam Sungyoung sembari menangkupkan kedua tangannya.

Chanyeol memanjatkan doa yang serupa. Kemudian memutuskan untuk menoleh, memperhatikan gadis itu dalam diam.

“Kita belum berkenalan,” ucap Chanyeol pada Sungyoung yang tampak melamun. “Namaku Chanyeol, Park Chanyeol.”

“Eh—Ahn Sungyoung.”

Sungyoung menyambut uluran tangan lelaki itu. Tangan mungilnya tenggelam dalam balutan tangan Chanyeol. Ada perasaan nyaman ketika dia menggenggam tangan lelaki itu.

***TBC***

cast

Menunggu ff ini? Kkkk maaf lama. Maaf kalo ada typo, karna kali ini aku ga sempet edit dengan teliti /\ hiks ;_; diriku semakin sibuk saja.

Huehe ayo tebak Jessy itu siapanya siapa(?) Yang tau diam aja yak! *loh?* terutama seseorang berinisial S-_- jangan jadi cenayang disini.

Chanhee kemana >,< anakku kemanaaa??

Well, daripada semakin ga jelas, mari sekarang berkicau di kotak komentar!

See you next part! Pyeong~ (aku kembali 2 minggu kemudian aja gimana?) huaha😄

Charismagirl, 2015.

94 thoughts on “US | Love in Seoul – Part 1

  1. Ping-balik: US | Love in Seoul – Part 6 [end] | EXO Fanfiction World

  2. Kyaaaa seneng sama ff yang genre nya marriage life gini. Feelnya dapet banget ka. Sweet banget keluarga byun ini.

    Keep writing and fighting^

  3. aku baru baca ff ini ka
    baca di prolognya udah menarik jadi aku langsung next ke chapter 1😀😀
    oh iya awalnya aku fikir chanhe itu perempuan hihihi dan ternyata dia laki2😀

  4. huwaa…
    chanhee hilang???? tidakkkk…
    hehehe…lebay…
    part 2 nya santay..jadi bacanya juga santay nih🙂
    lovely like always🙂
    gomawoyo…

  5. Ping-balik: US | Love in Seoul – Part 5 | EXO Fanfiction World

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s