Truly, I Love You (chapter 17-2)

tumblr_m6i3bpFAWZ1rzh15to1_500

Do Kyungsoo | Sakura (OC)

say it before its too late

Sakura’s POV

Aku sedang menuangkan air ke gelas ketika kyungsoo turun dengan pakaian yang sudah diganti. Aroma sabunnya yang menyeruak itu bahkan tercium olehku dari dari jarak beberapa meter. Kyungsoo hanya melihatku sekilas sebelum duduk di kursinya. Aku hanya menghela nafasku dengan keras dan ikut duduk di hadapannya, aku tak tahu apa salahku padanya sehingga membuatnya bersikap begini, uh memangnya aku tak bisa?

Kami berdua menikmati makan malam dalam keheningan, dan aku sungguh-sungguh kalau suasana memang benar-benar hening, luar biasa hening. Awalnya tadi aku sempat berniat membuka pembicaraan menyenangkan saat makan malam ini, melihat bagaimana hubunganku dengan kyungsoo benar-benar kelihatan tidak baik-baik saja dengan pertengkaran-pertengkaran aneh yang terjadi diantara kami. Tapi melihat kyungsoo membalas sikapku tadi saat ia pulang, aku jadi kehilangan seluruh mood-ku untuk hanya sekedar berbasa-basi dengannya.

“aku minta maaf.” Kata kyungsoo tiba-tiba membuatku terbelalak melihatnya.

Kyungsoo kali ini menatapku, benar-benar menatapku dengan sangat dalam. Dia juga sudah tak lagi mengaduk piringnya, dan sumpitnya sudah tertata rapi di tempatnya. Dari yang kulihat, kyungsoo bahkan seperti tidak menyentuh makanannya, mungkin menyentuhnya dan hanya memakannya sedikit.

“sikapku padamu tadi. Maaf.” Kyungsoo masih menatapku, aku melihat ketulusan dimatanya.

“tidak apa-apa. Kau juga sudah biasa kan begitu, lagi pula tinggal bersamamu selama ini juga sudah membuatku banyak belajar.” Balasku sedikit sarkastik. Tapi aku memang membicarakan kebenaran.

“kau marah padaku?” Tanya kyungsoo.

“tidak.” Ucapku sembari menggeleng. “kan aku bilang aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang begitu.”

Kyungsoo menundukkan kepalanya, sekilas ada penyesalan yang tergambar dalam matanya.

“kyungsoo, jujur aku ingin sekali berbicara dari hati ke hati denganmu. Apa kau tak merasa kalau hubungan kita memburuk akhir-akhir ini? Kita bahkan bertengkar hampir setiap hari.” Aku menelan ludahku, kurasa atmosfer berubah tegang setelah aku berkata demikian. Kyungsoo menatapku lebih dalam. Dan tiba-tiba saja dia berdiri,

Kyungsoo mendekat ke tempatku, “kaja.” Katanya sembari menggenggam tanganku.

Dia setuju dengan ideku? Aku menatapnya bingung, “ayo kita bicara.” Ucap kyungsoo menjawab pertanyaanku yang bahkan belum sempat kulontarkan padanya.

Aku mengikuti kyungsoo menaiki tangga, dia menggenggam tanganku sangat erat. Rasanya sudah lama sekali sejak dia menggandengku seperti ini. Kami duduk di sofa seperti biasanya. Dan percayalah rasanya aku juga sudah lama sekali tidak duduk disini. Aku terlalu sering menghabiskan waktuku di kamar.

Kyungsoo mengambil tempat disebelahku, kemudian dia menggeser tubuhnya dan menghadapku. Aku juga melakukan hal yang sama. “apa yang mau kau bicarakan?” tanyanya langsung.

Author’s POV

Ditanya demikian malah membuat sakura tegang, dia memang menginginkan ini tapi dia tak menyangka D.O akan menjadi semudah ini untuk diajak bicara mengingat sifatnya yang cukup keras kepala dan egois. Sakura menatap D.O, ini kesempatan yang memang diinginkannya dan kalau bukan sekarang sakura mungkin tak akan lagi menemukan kesempatan baik seperti ini. Sakura menarik nafasnya dan membuka mulutnya, “aku lelah sekali menghadapimu.”

D.O mengerutkan keningnya begitu mendengar ucapan sakura, mereka berhadapan dan benar-benar saling menatap satu sama lain.

“aku lelah saat kau terus saja memahariku untuk soal chen, maaf aku mengatakan namanya lagi, aku tak tahu apa masalahmu dengannya, tapi bisakah kau percaya padaku? Aku pergi dengannya karena aku merasa bersalah atas janji yang memang kubatalkan sebelumnya, dan aku juga membatalkannya karena aku menjagamu. Aku selalu mendahulukanmu dari apapun. Aku tak peduli kau melakukan yang sama atau tidak denganku tapi aku selalu menghormatimu kyungsoo, aku akan mengaku salah kalau aku memang salah dan aku akan menentang kalau aku merasa aku benar.”

Suara sakura sedikit bergetar, ada banyak sekali emosi yang ia tuangkan dalam setiap perkataannya.

“aku tahu diantara kita memang masih tak mau mengalah pada ego masing-masing, tapi aku mencoba. Aku mencoba untuk mengalah dan menghormatimu. Aku tak memiliki siapa-siapa di Negara ini dan kau tahu persis soal itu. Juga orang yang mengetahui soal pernikahan ini tak banyak, tapi aku selalu mencoba menjaga jarak dengan laki-laki manapun termasuk chen karena aku menghormatimu. Aku memang sering melakukan kesalahan, tapi yang selama ini terjadi sering sekali kau memarahiku dengan begitu berlebihannya, aku sadar aku salah tapi bisakah kau mencoba untuk sedikit menjaga perasaanku kyungsoo? bisakah kau berhenti menuduhku banyak hal terutama soal chen? Aku tidak pernah dan tidak akan pernah dengan sengaja mencoba dekat-dekat dengannya.”

Walau tak mengatakannya dengan jelas, ada banyak sekali maksud tersirat yang ada dalam ucapan sakura. entah D.O sadar atau tidak, sakura memang sedang mengutarakan perasaannya. Perasaan cintanya pada laki-laki dingin dihadapannya.

D.O mengangkat tangannya dan menyentuh wajah sakura, mengelus pipi gadis itu yang selalu kemerahan dan tak henti menatapnya. D.O kehilangan kata-katanya, dia sadar selama ini memang banyak perlakuannya yang berlebihan terhadap sakura. dia sadar banyak sekali kata-katanya yang mungkin saja menyakiti perasaan gadis itu dan memang benar, sakura memang tersakiti. D.O tak mengucapkan apa-apa, dia langsung menarik sakura ke dalam pelukannya.

Rasanya sudah terlalu lama sejak terakhir mereka berpelukan seperti ini. Entah memang benar-benar lama atau tidak, tapi rasanya perasaan nyaman yang selalu D.O dapatkan ketika memeluk sakura seperti ini sudah lama sekali tak dirasakannya. Mencium aroma tubuh sakura, mengelus rambutnya panjangnya yang berbau strawberry, dan merasakan hembusan nafas sakura di dadanya. D.O menyukai perasaan itu. D.O begitu menyukai perasaan nyaman itu.

Sakura mengangkat tangannya, membalas pelukan hangat D.O. sakura menyukainya, menyukai setiap perasaan yang meluap-luap dalam rongga dadanya ketika D.O memeluknya seperti ini. Sakura menyukai aroma tubuh D.O, elusan laki-laki itu dirambutnya, dan perasaan hangat yang diberikan D.O secara ajaib pada tubuhnya.

Bermenit-menit tanpa ada pembicaraan sama sekali. Mereka diam dalam kesunyian, saling memuja dalam keheningan, dan berkata-kata dalam setiap kehangatan yang tercipta. “hm.” Gumam sakura. walau merasa nyaman tapi terlalu lama begini juga membuat debaran dadanya hebat tak terkontrol. Dan ia yakin D.O menyadarinya.

“sst. Berhentilah berdebar dan diam sedikit lagi.”

Sakura menenggelamkan kepalanya lebih dalam di dada D.O, benar sekali apa yang dipikirkannya, D.O pasti merasakan degup jantungnya yang sangat hebat itu.

Sekian menit lagi berlalu, dan mereka masih berada di posisi yang sama. Begini memang sangat menyenangkan dan juga menegangkan disaat yang bersamaan, batin sakura. ia tak merasa bosan, ia malah merasa tak ingin melepas D.O dari jangkauan pelukannya. Ia ingin sekali D.O terus memeluknya hangat seperti ini.

“sakura aku….” D.O menggantung kalimatnya. D.O merasa ada yang aneh dengannya, kenapa sekarang malah dia yang tegang begini. Pikirnya.

“apa? Kenapa tiba-tiba kau berdebar keras begini?” Tanya sakura.

Sial. Batin D.O

Laki-laki itu melepas pelukannya dan langsung menghindari tatapan mata sakura. walaupun kemudian, dia membalas juga tatapan gadis itu dengan ragu.

“kau mau bilang apa?” Tanya sakura penasaran.

“tidak jadi. Lupakan saja.” Jawab D.O

D.O menghembuskan nafasnya pelan, dia yakin sakura masih penasaran apalagi gadis itu tak henti menatapnya. Tapi ia memutuskan untuk tak meneruskan ucapannya itu, entah setan darimana, tadi D.O sempat berpikir untuk menyatakan sesuatu pada sakura. sesuatu yang bahkan ia belum pastikan pada dirinya sendiri. Sesuatu yang masih terus membuatnya bertanya-tanya bahkan setelah banyak hal yang berlalu. Sesuatu yang membuatnya selalu berpikir keras dan ia tak suka itu. Sesuatu yang ada di hatinya tapi sulit sekali selaras dengan akal pikirannya.

“kau tak mau mengatakan apa-apa kyungsoo? aku kan sudah mengatakan segala keluhanku.” Ujar sakura.

D.O mendesah, rasanya terlalu banyak yang harus dikatakannya, dan memikirkannya saja sudah membuatnya lelah. “aku minta maaf atas segala sikapku selama ini padamu, kadang apa yang keluar dari mulutku bukanlah yang benar-benar ingin aku katakan. Aku bukan laki-laki yang pintar merangkai kata, aku mengatakan apa yang aku rasakan. Dan kalau itu malah berakhir menyakitimu. Aku minta maaf tapi…”

D.O mengambil jeda beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya, di sisi lain dengan seksama sakura memerhatikan D.O

“tapi untuk soal chen, aku hanya tak bisa menawarnya. Kau mungkin menganggap dia hanya temanmu dan tak lebih, tapi dia tidak berpikir hal yang sama sakura. aku laki-laki, aku tahu betul caranya bersikap padamu jauh berbeda dengan kepada gadis lain. Saat kalian berdua pergi bersama, kau mungkin hanya menganggapnya sebagai pembayaranmu atas janji yang sudah kau batalkan sebelumnya, tapi tahu kah kau chen mungkin saja menganggap itu lebih dari segalanya?”

Sakura menatap D.O dengan tatapan matanya yang seperti anak kecil yang sedang diceramahi ibunya. Dia menggeleng pelan,

D.O menghembuskan nafasnya lagi. “aku tak melarangmu berteman dengan siapapun, tapi kau harus lebih alert terhadap hal seperti ini sakura. kau sudah memberinya harapan walau kau tak sadar itu.”

Sakura menundukkan kepalanya, dia memang benar-benar tak merasa ada yang aneh dengan pertemanannya dengan chen. Tapi kalau dipikirkan lebih jauh lagi, mungkin hal yang sudah disebutkan D.O tadi memang terjadi dan seperti kata D.O barusan, sakura mungkin memang hanya tak sadar.

“lalu soal aku yang sering bersikap berlebihan padamu. Aku juga minta maaf. Aku sudah pernah bilang padamu, kau tanggung jawabku selama disini. Suka atau tidak, aturanku lah yang harus lebih dahulu kau dengar sebelum siapapun. Aku hampir bosan mengatakan padamu soal aturanku, aku benci sekali merasa khawatir dan karena itulah aku sangat tidak suka kau pergi dan sama sekali tidak memberitahuku sama sekali. Dan kau harusnya sadar kau melakukan itu berulang-ulang kali.”

“aku kan sudah berjanji tak akan melakukan itu lagi.” Balas sakura dengan suara pelan.

“tapi kau melanggarnya kan?”

Kali ini sakura yang mendesah dalam. “maaf.”

Mereka saling terdiam beberapa saat sebelum D.O membuka mulutnya lagi.

“apa kau sudah puas sekarang? Aku sudah mengatakan segalanya. Apa lagi yang kau inginkan sekarang?”

“aku ingin sekali mendengar penjelasan darimu soal yunju.” Tanpa keraguan sakura mengutarakan isi hatinya. Dia lelah kalau terus bertanya-tanya tanpa mengetahui kebenaran yang ada. Sakura lelah menebak banyak hal yang tak pernah ia tahu tepat atau tidak, dan sakura juga mulai merasa lebih baik menyerah daripada ia harus terus memperkirakan banyak hal.

“dia bukan siapa-siapa.” Ucap D.O pendek.

Sakura mendengus, “aku bosan mendengar kata itu dari semua orang. Dan aku mau kau menjelaskan secara rinci siapa itu yunju.”

D.O mendesah, “aku yakin suho sudah menceritakannya dengan jelas, aku malas membicarakannya. Dia memang bukan siapa-siapa dan aku hanya menganggapnya sebagai temanku saja.”

“apa yunju menganggap hal yang sama juga?” sakura membalikkan ucapan D.O

“harusnya iya karena aku tak pernah melakukan apapun yang mungkin saja akan membuatnya berpikir lebih. Dan kalau mungkin aku memang melakukannya secara tak sadar, maukah kau percaya padaku?”

Mereka saling bertatapan, mencari kesungguhan di dalam tatapan masing-masing. Dan keraguan yang sakura kira akan tergambar jelas di mata D.O, tidak dilihatnya sama sekali.

“yang aku tahu, yunju tidak menganggapmu hanya sebagai teman biasa. Aku tak tahu bagaimana selama ini kalian berhubungan mengingat dia juga teman sekelasmu, tapi aku selalu saja merasa tertekan kalau mengingat kau dan dia pernah berteman dengan sangat baik, aku hmph—“

D.O membungkam mulut gadis dihadapannya itu dengan ciuman hangat. Dia memang selalu saja heran dengan sakura yang tak henti-hentinya menanyakan yunju yang sesungguhnya memang bukan siapa-siapa. Yang D.O ingat yunju hanya lah orang baik yang sejak lama ia kenal. Ia tak pernah berpikir sejauh yang sakura pikirkan. Ia tak tahu sejauh mana yang sudah sakura bayangkan akan terjadi pada dirinya dan yunju tapi selama ini yang terjadi, D.O memang selalu berusaha menjaga jaraknya dengan gadis manapun, selain ia memang tidak terlalu suka berhubungan dengan gadis-gadis di sekolahnya, walau hanya untuk ngobrol, dia juga sama seperti sakura walau tidak terlihat di permukaan tapi D.O berusaha menghormati kehadiran gadis itu dalam hidupnya.

D.O merapatkan tubuhnya, dan sakura melakukan hal yang sama. Walau awalnya gadis itu menolak, tapi yang D.O rasakan, sakura baru saja membalas ciumannya. D.O mengelus pipi sakura lembut dan gadis itu sudah melingkarkan tangannya di leher D.O, saat laki-laki itu membuka matanya, D.O tersenyum kecil ditengah ciuman mereka begitu melihat sakura sudah menutup matanya dan menikmatinya.

Sakura menarik tubuhnya, mengambil nafas. Wajahnya memerah begitu mata mereka bertemu. D.O tersenyum kecil dan kembali merapatkan sakura dan mengunci bibir gadis itu lagi. Terkadang banyak hal yang memang selalu lebih baik tidak dikatakan, mereka sudah cukup bicara, mereka sudah cukup saling mendengar, dan mereka sudah cukup saling menasihati. Karena terkadang ada hal yang bisa di mengerti hanya dengan perbuatan karena sekali lagi, ada terlalu banyak keraguan yang akan muncul dari semua kata yang terlontar.

Silahkan Tanya D.O kenapa dia mencium sakura, dan jawabannya adalah ia juga tak tahu. Ia hanya ingin menjelaskan pada gadisnya kalau ia pantas dipercaya dan sakura sudah seharusnya berhenti merasa khawatir dan berpikir terlalu banyak. D.O hanya ingin menjelaskan itu tanpa harus mengeluarkan banyak kata yang mungkin saja akan terdengar seperti kepuara-puraan yang menyebalkan dan D.O berharap sakura akan cepat mengerti dengan cara begini.

Sakura ingin menarik bibirnya, tapi D.O menahannya. Tangan D.O sudah melingkar sempurna di pinggang sakura, dan tak membiarkan gadis itu berhenti walau sejenak. Sakura mencubit bahu D.O yang serta-merta membuat laki-laki itu berhenti. Sakura menarik tubuhnya dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Wajahnya persis seperti udang rebus yang biasa disajikan di restoran seafood. Merah dan memang benar-benar merah. D.O menarik lagi sudut bibirnya, dan diam-diam dalam hati memuji gadis dihadapannya itu, ‘dia mengagumkan.’

Sakura membetulkan posisi badannya, dia sudah tidak lagi menghadap D.O, terlalu malu bahkan hanya untuk melirik laki-laki itu walau sekelebat saja. Kesunyian kembali tercipta di antara mereka berdua. Sakura menarik nafasnya dalam, berusaha menenangkan debaran dalam dadanya yang tak juga berhenti berdetak hebat sejak tadi.

“aku ingin kau berjanji satu hal lagi padaku.” Ucap D.O memecah keheningan mereka. Dia menelan ludahnya, karena jujur saja dadanya juga berdebar hebat dan D.O tak ingin sakura tahu itu.

“apa?” sakura bertanya tanpa memandang D.O, rasanya ia sudah tak tahan lagi dan akan segera meledak karena jantungnya terlalu berdebar.

D.O memegang tangan sakura, menariknya dan membuat gadis itu menghadap kearahnya. D.O menatap sakura tepat di matanya. “berjanji untuk percaya padaku dengan apapun yang aku lakukan.”

Sakura mengedipkan matanya cepat, berpikir sejenak maksud ucapan D.O, sakura masih dia beberapa menit kemudian sampai D.O menggoyangkan telapak tangannya ke depan wajah sakura.

“eoh?”

“kau mau berjanji padaku kan?” D.O mengulang kata-katanya.

Sakura kembali diam, dia mengerti ucapan D.O tapi ia tak bisa berhenti heran kenapa D.O menyuruhnya berjanji begitu. Apa maksud sebenarnya? Tanya sakura dalam hati.

“uhm. Memang apa yang akan kau lakukan kyungsoo? kenapa aku harus berjanji begitu?” tanya sakura beruntun.

D.O mendesah, “aku tak akan berbuat yang aneh-aneh. Aku hanya butuh kau percaya padaku. Itu saja.”

Sakura menatap D.O, jujur dia masih bingung tapi sakura mengangguk pelan. Apapun maksud sesungguhnya di balik ucapan D.O, dan sebenarnya tanpa perlu D.O minta. Sakura memang selalu mencoba percaya pada laki-laki itu, walau berat tapi sakura sungguh mencoba.

D.O tersenyum, dia mengelus wajah sakura dan mengacak pelan rambut gadis itu. “gomawo.” Katanya masih dengan senyuman.

Wajah sakura memerah begitu melihat D.O tersenyum. Selain jarang, memang sudah lama sekali ia tak melihat D.O tersenyum. Sakura berteriak dalam hatinya senang, D.O memang tampan dan melihatnya tersenyum tulus seperti ini rasanya seperti melihat pelangi sehabis hujan. “kau harus sering-sering tersenyum kyungsoo.” ucapnya. D.O tak menanggapinya apa-apa dan hanya mencubit kecil pipi sakura.

“kau juga berhentilah cengeng.”

Sakura menggembungkan pipinya, D.O berdehem sebentar karena rasanya banyak sekali kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya.

D.O’s POV

Ck. Dia menggemaskan sekali.

Aku menarik nafasku dalam, gila sekali kalau wajahku memerah juga sepertinya. aku memang senang melihatnya bersemu seperti ini, dia jadi tambah menggemaskan tapi aku tak senang kalau aku yang juga harus ikutan bersemu.

Harus kukatakan sakura adalah gadis yang hebat. Aku banyak sekali berubah sejak aku mengenalnya. Aku tak begitu suka perubahan tapi bersamanya rasanya perubahan itu bagaimana pun jenisnya begitu kunikmati. Aku senang sakura mau mengatakan segalanya padaku, segala kekesalannya yang ia rasakan padaku. Aku senang dia mau jujur.

Aku tidak pernah suka dengan ide pernikahan yang dulu gencar sekali di katakan orang tuaku. Aku benci sekali. Ide pernikahan bagiku bukan sesuatu yang bisa dibuat main-main. Aku benci karena ide ini tercetus semata-mata karena alasan bisnis. Tapi harus kuakui, walau aku tidak suka dan bahkan membencinya, aku bahagia karena gadis ini adalah sakura. sejak dulu aku memang sudah mengenalnya tapi aku tidak pernah benar-benar dekat dengannya. Hanya sesekali noona sering menelpon sakura dan tiba-tiba saja memberikan teleponnya padaku dan memaksaku mengatakan ‘hai’.

Hanya sebatas itu dan tidak pernah lebih.

Sakura datang dan hidupku berubah. Banyak.

Aku tidak pernah benar-benar tahu sifat sakura sebelum ini. Dulu, aku hanya bertemu dengannya saat keluargaku berkunjung ke negaranya. Hanya itu, dan di sana pun walau dia selalu mengajakku bermain, aku tak pernah bicara banyak dengannya. Yang aku tahu, dulu sakura sangat cerewet dan harus kuakui sifatnya itu masih bertahan sampai sekarang.

Sejak hari pernikahan, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak memulai jenis hubungan apapun dengan sakura. jahat memang tapi itu lebih baik daripada aku harus berpura-pura baik padanya tapi sebenarnya hatiku berkata lain. Nyatanya, waktu yang bicara banyak. Seiring berjalannya, waktu membuktikan banyak hal. Aku terlalu terbiasa dengan kehadirannya dan bahkan merindukannya saat aku tak melihatnya. Sakura merubah terlalu banyak hal dalam diriku. Aku tak suka perubahan tapi kurasa aku lebih suka diriku yang sekarang.

-0-

Author’s POV

Sejak pagi buta D.O sudah keluar rumah. Dia melajukan mobilnya kencang membelah jalanan seoul yang masih lengang. Tadi sebelum berangkat dia sempat menengok ke dalam kamar sakura dan dilihatnya gadis itu masih terlelap nyenyak di kasurnya. Setelah mengecup pelan kening sakura, D.O pergi.

Sebelum sampai di tempat tujuan D.O menyempatkan untuk membeli sebuket bunga. Dia memang tak tahu hal apa yang sebaiknya dibawa saat menjenguk orang yang sakit, makanya D.O memutuskan untuk membawakan bunga saja. D.O melihat arlojinya begitu ia berhasil memarkirkan mobilnya. Dia hanya akan sebentar di rumah sakit. Pikirnya. D.O langsung menuju ruangan yang kemarin juga dikunjunginya. Pagi itu belum banyak orang yang berlalu lalang di rumah sakit.

D.O mengintip sebentar sebelum mengetuk pintu kamar. Dilihatnya kamar rawat tersebut hanya ada pasien yang masih terlelap.

“D.O-ya?” panggil seseorang.

D.O menoleh dan mendapati yunju sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan cup kopi dan beberapa roti di dalam kantong yang dibawanya. D.O tersenyum menyapa.

“apa yang kau?—“

“aku mampir sebentar.” Potong D.O cepat. “kemarin aku kesini dan belum membawa apa-apa. Jadi uhm, ini.” D.O menyerahkan buket bunga di tangannya.

Yunju mengerjapkan matanya beberapak kali tak menyangka. Benar-benar di luar dugaannya kalau D.O akan datang lagi dan bahkan membawa bunga. “masuklah, ayah pasti senang bertemu denganmu.”

“tidak. Uhm aku harus ke sekolah.”

“sebentar saja D.O-ya, kemarin aku menceritakan kedatanganmu pada ayah dan dia sangat ingin bertemu denganmu.”

D.O mendesah dan dia mengangguk pelan.

-0-

Sakura’s POV

Aku sudah tak melihat kyungsoo sejak pagi tadi, ahjumma bilang kalau kyungsoo sudah pergi pagi-pagi sekali. Walau heran aku tak bertanya lebih lanjut, mungkin dia memang harus cepat-cepat ke sekolah. Namun, ketika aku sampai beberapa saat yang lalu di sekolah, di tempat parkir tak ada mobilnya. Dia kemana? Tanyaku dalam hati. Karena penasaran aku pergi ke kelasnya dan kyungsoo juga tak dapat kutemukan di sana. “hai.” Sapa seseorang sembari menepuk pundakku.

Aku menoleh dan melihat suho oppa yang sepertinya baru saja datang. “sedang apa kau di sini?” tanyanya.

“uhm tadinya aku ingin mencari kyungsoo, tapi sepertinya dia belum datang.”

Suho tertawa kecil, “kau mengatakannya seolah-olah kalian tidak tinggal serumah.”

“aku memang tidak melihatnya sejak sarapan tadi.”

Suho mengerutkan keningnya sembari menatapku. “kalau begitu mungkin D.O memang sedang pergi ke suatu tempat.”

Aku tersenyum simpul, “mungkin.” Entah apa tapi firasatku mengatakan ada sesuatu yang salah.

Suho mengacak rambutku lembut. “kalau dia sudah datang, akan kusampaikan kalau kau mencarinya.”

“terima kasih oppa. Aku kembali ke kelas dulu. Bye.” Aku melambai pelan dan berlalu.

Aku tak mengerti apakah ada yang salah denganku atau memang ada yang salah dengan keadaan di sekelilingku. Semalam kyungsoo banyak sekali mengatakan hal-hal aneh, dia bilang untuk percaya padanya atas apapun yang akan dilakukannya. Kurasa aku memang selalu percaya padanya. Hanya saja, aku juga tidak bias membohongi perasaanku saat aku merasa kyungsoo menyembunyikan sesuatu dariku. Dan itulah yang kurasakan sekarang.

Aku kembali ke kelas dan mendapati chen yang sedang berbincang dengan eunyeol. “hai.” Sapaku. Mereka menoleh dan tersnyum kearahku.

“kenapa wajahmu begitu?” Tanya chen

“ha?”

“wajahmu tidak seriang biasanya. Ada apa?”

“tidak ada. Aku hanya mengantuk.” Aku tersenyum di akhir ucapanku.

“oke. Aku ke kembali ke kelas dulu ya. Eunyeol-ah, nanti malam akan kuambil bukunya ya.” Ujarnya kemudian chen berlalu.

Aku melihat kepergian chen dan menoleh lagi kea rah eunyeol. “buku apa?”

“sejarah. Dia bilang, dia harus meneliti sesuatu dan butuh buku sejarah itu. Aku kebetulan punya.”

Aku hanya memberikan oh panjang sebagai komentar. Aku kembali ke kursiku dan mengecek handphone. Tidak ada tanda-tanda kyungsoo akan mengirim pesan. Aku mendesah dalam. Aneh sekali perasaanku hari ini.

-0-

Author’s POV

“jadi kau yang namanya D.O?” dengan suaranya yang berat dan lemah. Tuan seo menyapa D.O yang akhirnya bias ia temui. D.O hanya tersenyum simpul. “sudah lama sekali kurasa sejak kau berkunjung ke rumah kami. sebelum istriku meninggal, dia sering sekali cerita tentangmu. Ternyata kau memang persis seperti yang dia ceritakan. Kau anak yang baik dan tampan.”

“eng.. kurasa itu berlebihan tuan seo.”

“panggil saja aku paman. Atau kalau kau mau memanggilku ayah juga aku malah senang. Terima kasih sudah mau datang D.O-ya, kurasa aku akan bias tenang kalau menginggalkan putriku bersamamu.”

“ye?” D.O terbelalak. Matanya yang besar tak mampu menyembunyikan rasa kagetnya. Dia berharap apa yang barusan didengarnya hanyalah kesalahan. D.O melirik yunju yang ternyata sama kagetnya dengannya, tapi ada senyum simpul di wajah yunju tidak sepertinya yang merasa benar-benar kaget. Sepertinya yunju malah senang dengan ucapan ayahnya. Pikir D.O

“appa, kurasa kau sebaiknya kembali istirahat. D.O juga harus berangkat ke sekolah kan?”

“iya.” Jawab D.O pendek, dia masih syok.

“baiklah. Kau akan kesini lagi kan D.O? aku akan sangat senang kalau kau mau mengunjungi orang tua yang penyakitan ini.”

D.O hanya mengangguk pelan. Dia menelan ludahnya. Ada kesalahpahaman di sini dan parahnya D.O tak tahu harus meluruskannya bagaiamana.

-0-

295 thoughts on “Truly, I Love You (chapter 17-2)

  1. oke dan ini salah paham ayah yunju sama yunju mulai baper, padahal d.o gak berfikirab kesana. padahal sakura sama kyungsoo kan lagu akur2nya

    btw fighting thor buat ff nya, di tunggu chap selanjut nya. penasarn banget nihhh. jangan lama2 yaa hihi

  2. Author semangat ya buat ff nya kami para readers setia menunggu, D.o jadi terikat oleh ayahnya yunju nih gimana kalau dia pesan ke d.o sebelum dia meninggl untuk jaga yunju wah bahaya nih , author hwaiting !!!

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s