US | Love in Seoul – Part 2

poster us-prolog

US | Love in Seoul  – Part 2

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Jessy

Genre : Romance, marriage-life, family

Rating : PG-13

Length : Chapter / Series

Note : Do not copycat without my permission.

Link : untuk prolog dan part 1, silakan cek di library. atau klik charismagirl pada categories.

***

“Kita belum berkenalan,” ucap Chanyeol pada Sungyoung yang tampak melamun. “Namaku Chanyeol, Park Chanyeol.”

“Eh—Ahn Sungyoung.”

Sungyoung menyambut uluran tangan lelaki itu. Tangan mungilnya tenggelam dalam balutan tangan Chanyeol. Ada perasaan nyaman ketika dia menggenggam tangan lelaki itu.

“Senang berkenalan denganmu.”

“Ya, aku juga—“ Sungyoung menoleh ke arah pintu saat pelanggan masuk. Gadis itu menarik tangannya, lantas mengucapkan selamat datang.

Chanyeol memperhatikan Sungyoung dari jauh. Cara gadis itu menyapa, tersenyum dan bahasa tubuhnya. Diam-diam mengagumi gadis itu.

Sungyoung mencuci tangannya di wastafel. Ada sebuah goresan yang membuat tangannya perih hingga ia meringis. Chanyeol menghampiri gadis itu, dan dengan lancang menarik tangannya. Belum sempat Sungyoung melayangkan protes, Chanyeol telah meniup jari-jarinya.

“Kurasa kau tertusuk duri. Apa disini ada kotak P3K?” Chanyeol menatap Sungyoung dengan matanya yang besar itu.

“Ada. Tapi—”

“Dimana? Biar aku yang ambilkan.”

“Tuan, ini hanya luka kecil.” Sungyoung tersenyum, lantas menarik tangannya. Chanyeol mengedipkan matanya. Dia menggaruk tengkuk belakangnya lalu menatap ke arah lain. Gadis itu benar, hanya luka kecil, tapi Chanyeol sudah merasa begitu khawatir padanya. Padahal mereka baru berkenalan beberapa menit yang lalu. “Boleh aku bertanya?” Sungyoung membawa plester dan sebotol obat luka dari dalam.

“Soal apa?”

“Maaf, bukannya bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi, ada apa Tuan kesini?” Sungyoung meneteskan obat luka lalu menutupnya dengan plester.

“Aku ingin bertemu Chanhee.”

“Ah, anak itu. Sepertinya kalian cukup dekat.” Sungyoung mengangguk mengerti, lalu akan kembali ke dalam meletakkan obat lukanya sebelum suara Chanyeol membuatnya sedikit berdebar.

Eum… sebenarnya aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin mengucapkan terimakasih. Ibuku menyukai bunga-bunga pilihanmu. Dan beliau menitipkan pelukan.” Chanyeol menutup mulutnya. Tidak seharusnya dia bicara seperti itu. Gadis itu pasti sudah menuduhnya mencuri kesempatan.

“Eh?”

“Harusnya aku tidak menceritakan pada Eomma bahwa bunga yang kubawa adalah hasil kerja gadis manis dengan senyum menawan. Kenapa Eomma harus menitipkan pelukan, sih.” Chanyeol memukul pelan kepalanya. “Lupakan saja apa yang aku katakan tadi, Oke.”

Gadis manis dengan senyum menawan? Apa dia sungguh-sungguh berkata seperti itu pada ibunya? Mengapa pria itu bercerita begitu gamblang seperti anak kecil yang tidak bisa berbohong. Astaga. Sungyoung merasa tersanjung dan salah tingkah.

***

Chanhee keluar dari gerbang dalam sekolah. Dia berjalan menuju bangku panjang yang ada di halaman luar. Seperti biasa Chanhee menunggu ayahnya menjemputnya disana. Anak itu memutuskan untuk membaca komik superhero-nya untuk menghilangkan kebosanan.

Baru beberapa menit dia duduk disana, sebuah suara tangis seorang gadis membuatnya menghentikan kegiatannya. Anak itu berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar.

Dalam jarak beberapa meter dari tempat Chanhee berdiri, ada Jessy yang sedang terduduk di dekat pohon besar disana sembari memeluk lulutnya. Chanhee memasukkan komiknya ke dalam tas, lalu menghampiri Jessy.

“Jessy,” bisik Chanhee. “Jessy kenapa?”

Jessy mendongakkan kepalanya. Matanya sembab penuh air mata. Sementara Chanhee yang penasaran semakin mendekat, lalu jongkok di depan gadis itu.

“Buku diary-ku hilang. Aku yakin tadi aku membawanya.” Jessy kembali menangis. Kali ini lebih keras.

Tangan mungil Chanhee bergerak mengusap rambut Jessy yang kecoklatan. Chanhee sempat kagum karena rambutnya itu terasa seperti sutra di tangan Chanhee. Rambut yang dulu sering menjadi tempat pendaratan pesawat kertasnya.

“Aku akan membantumu.”

Jessy mengangkat kepalanya. Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Lalu memandangi Chanhee dengan mata yang mengerjap. Sebenarnya dia tidak terlalu yakin dengan anak jahil macam Chanhee akan membantunya. Tapi siapa lagi?

“Sungguh?”

Chanhee mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengulurkan jari kelingkingnya. “Aku akan membantu Jessy sampai bukunya ketemu. Aku janji.”

Seulas senyuman terpatri di wajah Jessy membuat matanya melengkung. Kalau sudah tersenyum seperti itu Jessy akan tampak manis sekali.

***

Minri menggerakkan bola matanya dengan liar. Wajahnya tampak cemas dan panik. Baekhyun mengulurkan satu tangannnya menggenggam tangan Minri yang terasa menegang.

Begitu banyak anak-anak di jalan, namun tidak ada Chanhee disana. Minri berusaha mengusir semua pikiran buruknya tentang Chanhee.

“Kita pasti menemukan Chanhee,” ucap Baekhyun berusaha menenangkan. Lelaki itu mengusap punggung tangan Minri.

“Apa kita perlu lapor polisi sekarang?” tanya Minri dengan wajah yang hampir menangis.

“Jangan sekarang. Aku yakin kita bisa menemukannya. Percayalah.”

“Aku takut terjadi sesuatu pada anak itu.”

Stt! Jangan berpkiran buruk.”

Baekhyun menepikan mobilnya di samping jalan. Lantas merengkuh Minri dalam pelukannya. Melihat istrinya seperti itu membuat Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa selain memberikan sebuah kenyamanan dengan pelukannya.

Baekhyun harusnya kembali ke kantornya sekarang. Jam makan siang sudah habis. Namun, dia tidak bisa kembali bekerja sementara Chanhee belum diketahui keadaan dan keberadaannya. Dia telah meminta izin pada pimpinan Zhang dan pimpinan berlesung pipi itu pasti mengerti.

Lelaki itu melepaskan pelukannya. Dia mengusap pipi Minri yang sedikit lembab, lantas memberikan kecupan di dahinya.

“Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah.”

Kemudian Baekhyun kembali menjalankan mobilnya.

***

Chanhee dan Jessy menyusuri sekitar taman sekolah. Tanpa terasa beberapa jam telah terlewat. Chanhee baru ingat harusnya sekarang dia telah dijemput ayahnya. Tapi janjinya kepada Jessy untuk membantu mencari buku diary Jessy sampai ketemu, membuat Chanhee tidak bisa meninggalkan gadis itu begitu saja. Chanhee akan minta maaf pada ayahnya nanti. Atau mungkin pada ibunya juga.

Kedua anak itu telah keluar dari area sekolah. Letak taman sekolah yang berbatasan langsung dengan taman kota membuat mereka berdua tidak menyadari akan hal itu. chanhee merasa kakinya mulai pegal. Anak itu berhenti, lantas duduk di salah satu bangku taman. Sementara Jessy berada beberapa langkah di depannya.

“Kau yakin terakhir kali mengeluarkannya saat bermain di taman?” tanya Chanhee.

Jessy menoleh ke belakang. Gadis itu menghampiri Chanhee lalu duduk di sampingnya. Dia menggerak-gerakkan kakinya yang menggantung.

“Aku yakin.”Jessy menghela nafas. Sebenarnya dia juga sudah lelah, tapi baginya buku itu adalah salah satu benda berharga yang dimilikinya. Jessy melirik Chanhee dengan ekor matanya. Anak lelaki itu berkeringat dan wajahnya tampak memerah. “Apa Chanhee haus? Aku punya dua kotak susu dalam tasku.”

Jessy membuka tasnya lalu mengeluarkan dua susu kotak rasa coklat. Dia menyodorkan salah satu minuman itu pada Chanhee.

“Terimakasih Jessy,” ucap Chanhee sembari menyambutnya.

Gadis berambut cokelat itu menggelengkan kepalanya. “Jessy-lah yang seharusnya berterimakasih pada Chanhee.”

Kedua anak itu saling melempar senyum. Lalu bersama-sama menghabiskan susu kotak mereka. Setelah itu mereka melanjutkan pencarian. Kedua kaki mungil itu tidak tahu lagi sudah berapa ribu langkah yang mereka ambil. Lelah. Namun Chanhee senang karena dia bersama Jessy, seperti sedang berpetualang bersama.

Chanhee berjalan beberapa langkah di depan Jessy. Anak lelaki itu sesekali menunduk di sela semak-semak, bahkan tanpa sadar dedaunan kering hinggap di rambutnya.

Chanhee berhenti saat dia mendengar Jessy menjerit. Dia berbalik, menemukan anak gadis itu terduduk di tepi semak dengan pergelangan kaki yang terjerat. Chanhee menghampiri Jessy dengan setengah berlari.

“Apa yang terjadi? Jessy tidak apa-apa?”

“Kakiku sakit sekali. Tadi aku tersandung batu lalu terjatuh di semak ini, Chanhee-ya….” Jessy tampak ingin menangis.

Stt! Aku akan membantumu melepaskannya. Jangan menangis, ya.” Chanhee duduk di rerumputan, tangan mungilnya mematah beberapa ranting pohon yang menjerat pergelangan kaki Jessy. Chanhee melihat adanya goresan di kaki gadis itu. Ayolah, Chanhee hanyalah anak lelaki kelas satu Sekolah Dasar. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

“Jessy masih bisa berdiri?” Chanhee mengulurkan tangannya di depan wajah Jessy, lalu gadis itu menyambutnya lantas bangkit dari duduknya.

Chanhee menyipitkan matanya saat ia melihat sebuah benda asing, namun tepat seperti apa yang dicarinya–buku merah muda bersampul Barbie yang tergeletak tidak jauh dari kumpulan tanaman bunga terompet.

“Jessy! Apakah itu bukumu?” tunjuk Chanhee.

“Benar! Yeah! Chanhee telah menemukannya!” Jessy memeluk Chanhee singkat (seketika lupa rasa sakit dikakinya), lalu menghampiri bukunya. Gadis itu tidak tahu bahwa wajah Chanhee memerah karena alasan lain, bukan karena kepanasan.

“Ayo pulang.”

Chanhee keluar dari area taman. Dia memandangi jalanan di sekitarnya. Merasa tidak asing dengan jalan itu. Sementara dia berpikir, seorang yang dikenalnya baru saja keluar dari toko bunga. Benar. Toko bunga.

“Sungyoung Noona!”

***

“Sungyoung Noona!”

Sungyoung menoleh ke arah sumber suara. Betapa hatinya lega saat melihat Chanhee dalam keadaan baik-baik saja–bersama dengan seorang anak gadis seumuran dengannya, entah siapa–melambaikan tangan tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Chanhee dan anak gadis berambut cokelat itu berlari kecil menghampiri Sungyoung. Sungyoung melebarkan tangannya memberikan pelukan selamat datang sembari mengusap kepala Chanhee.

Noona, aku malu,” protes Chanhee sembari berusaha melepaskan pelukan Sungyoung.

Sungyoung melepaskan pelukannya lalu memandangi Chanhee dengan wajah penuh tanda tanya. Gadis itu menatap Chanhee dan Jessy secara bergantian. Lalu dia mengerti mengapa Chanhee malu dipeluk seperti itu.

Noona, perkenalkan, ini teman Chanhee namanya Jessy.”

“Halo, namaku Jessy.” Anak gadis itu membungkuk dalam pada Sungyoung, membuat Sungyoung tersenyum kecil.

“Hai Jessy, namaku Sungyoung. Kau boleh memanggilku Eonni.”

Arraseoyo,” ucap Jessy.

“Hai Chanhee,” sapa Chanyeol yang sedang berdiri di pintu toko. Chanhee tersenyum lebar lantas melompat ke pelukan Chanyeol. Lelaki jangkung itupun menggendong Chanhee dengan senang hati.

Ajussi! Kenapa ajussi ada disini? Sudah lama tidak berkunjung ke rumah Chanhee.” Chanhee mengerucutkan bibirnya, membuat Chanyeol gemas lalu mengacak pelan rambut anak itu.

“Nanti Ajussi ke rumah Chanhee, jangan cemberut begitu.” Chanyeol mendekatkan wajahnya ke telinga Chanhee, kemudian berbisik. “Temanmu sedang melihati kita.”

Chanhee menoleh pada Jessy. Dia berbisik pada Chanyeol, meminta pria itu menurunkannya.

“Ah! Kalian pasti belum makan. Aku punya makanan untuk kalian. Ayo masuk.”

“Sungyoung-ssi, aku harus pergi.”

Ne? A-ah… baiklah.” Sungyoung tersenyum kemudian membungkuk sopan. Setelah Chanyeol pamit, tersisa Sungyoung, Chanhee dan Jessy disana.

Sungyoung masuk lebih dulu ke dalam toko itu, kemudian Chanhee dan Jessy mengekor di belakangnya. Sementara Sungyoung masuk ke ruang belakang, Chanhee dan Jessy mengambil tempat duduk di meja kasir. Kaki mereka terasa pegal. Dan Sungyoung benar, mereka belum makan.

Sungyoung kembali ke ruangan depan toko dengan membawa dua mangkuk jajangmyeon di tangannya.  Mata Chanhee tampak berkilat senang. Tangan mungilnya menyambut makanan yang Sungyoung sodorkan.

“Makanlah Jessy.” Sungyoung menyodorkan satu mangkuk jajangmyeon pada Jessy yang tampaknya masih malu-malu.

Noona, dimana Eomma?” tanya Chanhee dengan mulut penuh. Dia tampak lucu dengan saus makanan mengenai pipinya yang gembul.

Sungyoung melebarkan matanya. Dia lupa satu hal. Astaga! Dia harus segera menghubungi Minri.

***

Posche hitam berhenti tiba-tiba di depan Byun Fam Florist. Seorang wanita yang keluar dari sana tampak tergesa-gesa. Wanita itu–Minri– segera masuk ke dalam toko bunga itu. Bahunya merosot ketika dia melihat Chanhee disana. Dia bersyukur, keadaan anak lelaki itu tampak baik-baik saja.

“Chanhee-ya….” Minri segera menghampiri Chanhee dan memeluk anak itu. Chanhee belum selesai dengan makanannya. Hingga saus di pipi anak itu tanpa sengaja mengenai baju Minri. Tapi Minri tidak peduli. “Syukurlah kau baik-baik saja, Honey.” Minri merasa pandangannya buram karena terhalang air mata. Sebenarnya dia tidak ingin menangis seperti ini di depan anaknya. Tapi dia tidak bisa menahan perasaan bahagianya yang meluap-luap.

“Maafkan Chanhee, Eomma. Chanhee tidak bermaksud membuat Eomma sedih.” Anak itu mengusap punggung Minri dengan tangannya yang mungil. Dalam beberapa jarak dari sana, Baekhyun tersenyum tipis.

Chanhee tidak apa-apa. Kenyataan itu sudah cukup membuat semua suasana kacau beberapa waktu lalu, teratasi.

“Jangan menghilang lagi,” ucap Minri sembari mencubit pelan hidung Chanhee.

Ne, Eomma. Aku janji.” Minri menghilangkan jejak air mata di pipinya dengan punggung tangan. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Jessy. Sejak kapan anak itu ada disini, pikir Minri.

“Maafkan Jessy, Bibi. Ini semua karena Jessy. Chanhee membantu Jessy mencari buku diary Jessy yang hilang.” Gadis kecil berambut merah itu baru saja membuat sebuah pengakuan, menundukkan wajahnya dengan jari-jari yang tertaut. Minri menggenggam tangan anak itu sembari tersenyum.

“Tidak ada yang salah Jessy.”

Jessy mengangkat wajahnya, air muka rasa bersalah itu berganti dengan kebingungan. Senyuman di wajah Minri membuat Jessy lega hingga bibir merah mudanya melengkung ke atas.

“Nah, sekarang habiskan makanan kalian. Kita akan mengantarkan Jessy ke rumahnya. Orang tuanya pasti khawatir juga.” Baekhyun merangkul pinggang Minri, membuat wanita itu menoleh.

“Yaey! Setuju!” Chanhee bersorak lalu kembali ke kursinya.

“Chanhee menyukai Jessy, tidak salah lagi.” Baekhyun berbisik di telinga Minri, sebelum melayangkan kecupan singkat di pipi wanita itu–tidak ada seorang pun yang menyadari bahkan ketika Minri mencubit pinggang Baekhyun.

***

Baekhyun, Minri, Chanhee dan Jessy berada dalam mobil. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Jessy.

Jessy mengarahkan Baekhyun pada sebuah jalan di daerah Gangnam dengan jejeran gedung bertingkat yang banyak, membuat Baekhyun berasumsi bahwa Jessy dan keluarganya tinggal di sebuah apartment.

Baekhyun membanting stirnya ke kiri saat Jessy memintanya berhenti, di depan gerbang sebuah rumah berwarna putih dengan halaman yang penuh tanaman. Dugaan Baekhyun salah.

“Kita sudah sampai?” tanya Chanhee, yang kemudian dijawab Jessy dengan anggukkan.

Baekhyun menghentikan mesin mobilnya saat dia sudah parkir dengan benar di depan rumah itu. Ada satu mobil yang lebih dulu berada disana. Baekhyun yakin itu milik orang tua Jessy.

Ting Tong!

Minri menekan bel rumah itu beberapa kali, sebelum terdengar suara langkah kaki lantas pintu terbuka lebar. Menampakkan sosok pria tinggi–lebih tinggi dari Baekhyun tapi tidak mencapai tinggi badan Chanyeol. Pria berkulit putih susu, berwajah tampan dan … Astaga, demi Tuhan! Mereka mengenal lelaki itu.

Daddy!” Jessy melompat ke tubuh pria itu. Lalu dia diangkat tinggi-tinggi sambil dicium pipinya.

“Jessy… Dad khawatir sekali padamu. Kemana saja putri Dad ini?” Pria itu mengusap kepala Jessy. Belum menyadari adanya kehadiran keluarga kecil yang telah mengantarkan Jessy pulang, sebelum dia mendengar suara seorang wanita yang dikenalnya, suaranya masih sama dengan terakhir kali mereka bertemu, beberapa tahun yang lalu.

“Oh Sehun.

Pria yang disebut Sehun itupun segera menoleh ke sumber suara. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada wanita, dan pria beserta anak kecil yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya.

“Minri!–Baekhyun-ssi! Puji Tuhan.”

Chanhee mendongakkan kepalanya, memandangi wajah orang tuanya lalu ayah Jessy. Dia rasa ayahnya tidak pernah bertemu dengan ayah Jessy. Tapi mengapa sekarang tampaknya mereka sudah lama saling kenal?

Sehun menurunkan Jessy dari gendongannya, lalu menuntun tangan Jessy sambil berjalan ke arah pintu. Benar, yang dilihatnya adalah benar, Baekhyun dan Minri. Keluarga kecil yang bahagia, sekarang mereka sudah memiliki anak.

Menilik ke masa lalu dimana Sehun pernah menjalin hubungan khusus dengan Minri, sementara Baekhyun hanyalah teman se-apartemen Minri saat mereka tinggal di Manhattan. Sudah sangat lama sekali mereka  tidak bertemu. Minri menemukan kebahagiaannya dan Sehun memenuhi janjinya untuk hidup bahagia, bersama istrinya.

“Siapa tamu yang datang….” Seorang wanita yang muncul dari dalam membeku di tempatnya berdiri.

“Soojung-ssi,” gumam Minri seraya tersenyum.

Benar-benar terasa seperti nostalgia.

“Astaga!” pekik Soojung cukup heboh, kemudian menghampiri Minri dengan wajah tidak percaya. “Astaga.” Wanita itu menghampiri Minri, lalu menyentuh lengannya.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,” ucap Baekhyun menginterupsi keterkejutan Soojung. Ini kebetulan atau bagaimana? Susah dijelaskan dalam waktu singkat.

Minri merengkuh Soojung ke dalam pelukan sesama wanita. Minri menepuk pelan punggung wanita itu. Minri telah membaca situasi. Jessy memanggil Sehun dengan sebutan ‘Dad’ lalu Soojung keluar dari rumah yang sama. Mereka benar-benar menikah, simpul Minri. Dan memiliki putri yang cantik.

“Silakan masuk,” ucap Soojung dengan ramah.

Kunjungan tidak terduga, pikir Minri. Mereka hanya berniat mengantarkan Jessy. Mungkin sedikit berkenalan pada ayah dan ibunya, lalu pulang. Tapi ternyata, dia tidak menyangka, bahwa Jessy yang selama ini berteman dengan Chanhee adalah putri Sehun dan Soojung. Minri memang tidak pernah bertemu dengan orang tua Jessy, karena setiap pertemuan para orang tua murid, Jessy selalu datang bersama wanita yang merupakan bibinya sendiri—Sooyeon. Soojung dan Sehun adalah orang sibuk.

“Sudah lama sekali,” Sehun memulai pembicaraan saat mereka semua sudah berada di ruang tamu. Chanhee duduk di pangkuan Baekhyun dengan mata yang menatap ke segala arah, kepada semua hal yang baru. “Senang bertemu dengan kalian.”

“Chanhee-ya, sini….” Jessy melambaikan tangannya pada Chanhee. Anak gadis itu sudah mengganti baju seragamnya dengan piyama. Chanhee turun dari pangkuan Baekhyun–dia menatap kedua orang tuanya, meminta izin dan satu anggukan kecil membuat Chanhee segera melesat dari ruang tamu, menghindari pembicaraan para orang dewasa yang tidak dia mengerti.

“Aku menyesal karena tidak pernah datang ke pertemuan orang tua murid.” Soojung meletakkan nampan berisi tiga gelas minuman dingin, lalu meletakkannya satu per satu ke atas meja.

“Chanhee dan Jessy berteman dengan baik. Betapa mengejutkannya bahwa ternyata Jessy adalah putri kalian.”

“Chanhee… .Ya, aku pernah sekilas mendengar nama putra kalian dari Jessy. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sangat menyesal akan hal ini.” Sehun mengusap punggung tangan Soojung, menenangkan wanita itu karena emosinya kian menguar.

“Chanhee bilang Jessy punya adik,” ucap Baekhyun, membuat Minri menoleh. Minri tidak akan lupa hal itu. Chanhee selalu menceritakan pada kedua orang tuanya setelah Jessy bercerita tentang adiknya.

“Hansoo sudah tidur.”

“Apa aku boleh melihatnya?” tanya Minri, sedikit ragu.

“Tentu saja.”

Minri senang, Sehun telah bahagia, menemukan orang yang tepat untuk hidupnya. Dan mereka lebih dari sekedar serasi, selain dari sudut pandang fisik.

“Begitu panjang waktu berlalu, banyak hal yang telah terjadi pada kita. Aku tidak tahu lagi harus berkata apa selain… senang bertemu dengan kalian lagi.”

***

Setelah satu jam melakukan kunjungan dadakan di rumah Sehun, mereka bertiga–Minri, Baekhyun dan Chanhee akhirnya pulang ke tempat tinggal mereka. Minri tampak sedikit aneh. Beberapa menit yang lalu Baekhyun yakin kalau istrinya itu baik-baik saja, namun dalam perjalanan pulang, wajahnya pucat. Keringat membanjiri dahi dan telapak tangannya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Baekhyun, segera menggapai tangan Minri—menggenggamnya lembut.

“Kurasa hanya kelelahan.” Minri menyapu keringat dengan punggung tangan. Baekhyun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Chanhee tampak terkantuk-kantuk duduk di belakang.

Lalu Minri mual.

“Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai.” Baekhyun menginjak pedal gas lebih dalam. Dia tidak akan mengetahui apa yang terjadi jika hanya bertanya pada Minri karena wanita itu pasti bilang baik-baik saja. Baekhyun tahu bahwa Minri tidak ingin membuatnya khawatir. Tapi Baekhyun jauh lebih khawatir jika tidak mengetahui yang sebenarnya.

Mereka telah tiba di tempat tinggal mereka dalam kurun waktu dua puluh menit kemudian, jalanan cukup padat membuat Baekhyun tidak bisa menaikkan kecepatan kendaraannya lebih tinggi lagi.

Chanhee telah belajar mandiri. Dia akan melakukan apapun semuanya sendiri, termasuk hari ini ketika pulang ke rumah, dia melepas sepatu lalu meletakkannya di rak, melepaskan pakaian kotor lalu mandi. Setelah itu menuju meja makan, dimana disana telah tersedia ayam goreng yang telah mereka beli saat perjalanan pulang tadi.

“Kau yakin baik-baik saja?” tanya Baekhyun ketika mereka bertiga telah berada di meja makan. Minri tampak sedikit lebih baik. Rona wajahnya kembali.

Minri mengangguk lalu mengambil potongan ayam. “Makanlah Baek, jangan melihatiku terus.”

“Kuharap kau tidak apa-apa,” ucap Baekhyun lalu mulai makan dengan tenang.

Chanhee menatap kedua orang tuanya sesaat, lalu kembali fokus pada makanannya. Ayam-ayam di atas meja terlalu enak untuk diabaikan. Dia makan dengan lahap, tidak peduli saus mengenai bajunya–dan untuk hal ini Minri harus sedikit mengomel. Chanhee harus mengganti bajunya lagi sebelum tidur.

Minri mual lagi. Dia menutup mulutnya dengan tangan kanan. Dia belum makan banyak, tapi rasanya perutnya tidak bisa menerima makanan lagi.

Eomma kenapa?” Chanhee mengambilkan tisu lalu menyerahkan pada Minri. Anak itu telah menghabiskan makanannya, dan dia melompat dari kursi lalu menghampiri Minri.

“Mungkin kekenyangan,” jawab Minri seadanya.

Eomma baru makan satu potong,” ucap Chanhee memperhatikan piring Minri. “Bahkan belum menghabiskannya.”

“Baek, pastikan Chanhee menghabiskan makanan dan mengganti bajunya, setelah itu antarkan Chanhee tidur.” Minri menarik nafasnya, lalu berdiri pelan. “Aku ke kamar dulu.”

Minri meninggalkan Chanhee dan Baekhyun di ruang makan. Baekhyun melihati istrinya yang melangkah terburu-buru menuju kamar, sampai sosok itu hilang di perbatasan ruang makan.

Appa, apakah Appa tahu apa yang terjadi pada Eomma?”

Eomma baik-baik saja Chanhee-ya. Ja! Sekarang Chanhee ganti baju, gosok gigi lalu tidur.” Baekhyun mengusap kepala anak itu sembari tersenyum meyakinkan anak itu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Meskipun pikiran dan hati Baekhyun sendiri menolak.

***

Jam menunjukkan pukul 1 dini hari ketika Baekhyun mondar-mandir dalam kamarnya sembari memegang ponselnya. Minri baru bisa tidur setengah jam yang lalu. Tadinya wanita itu mual terus-menerus membuat Baekhyun khawatir. Dia sempat memberi usul membawa Minri ke rumah sakit. Tapi Minri tidak menginginkannya.

Baekhyun membuatkan minuman ginseng hangat, dan sangat besyukur minuman itu dapat membuat Minri lebih baik hingga akhirnya tertidur.

“Kyungsoo-ya!”

Ada apa?” suara Kyungsoo terdengar malas dan mengantuk.

“Maaf mengganggumu,” ucap Baekhyun sembari melirik Minri yang tidur dengan nafas teratur.

Ya, pukul dua malam mana mungkin tidak mengganggu,” sahut Kyungsoo sebal.

“Aku boleh bertanya padamu?”

Astaga! Bicaralah.”

“Begini, beberapa jam yang lalu Minri mengalami mual. Dia tidak bisa makan banyak. Apa yang kau ketahui tentang hal itu?”

Terdengar Kyungsoo berdeham, kemudian disusul suara gemersik yang diasumsikan Baekhyun bahwa Kyungsoo sedang bangkit dari kasurnya. Dan membawa percakapan itu ke arah yang lebih serius.

Pertama, kupikir istrimu hanya masuk angin. Tapi, Baek, kalau aku boleh berpendapat–

“Kau sudah melakukannya,” potong Baekhyun.

Dengar dulu,” suara Kyungsoo tampak gemas. “Istimu sedang… mengulang gejala saat mengandung Chanhee.”

“Semua orang mengandung juga seperti it–Apa?! Apa kau bilang?”

Dasar tidak peka. Sudah ya, aku tidur lagi. Selamat malam. Dan selamat atas anak keduamu!

“Ya–Ya! Kyungsoo! Aish–” Baekhyun melirik Minri, kemudian menghampiri wanita itu. Dia menatap sosok Minri yang tidur tenang. “Kyungsoo bilang kau sedang hamil.” Baekhyun menggumam. Dia menaikkan selimutnya. Memperhatikan wajahnya. Dia menyelipkan rambut wanita itu ke belakang telinga, sembari berpikir. Kedua ujung bibirnya terangkat, sebelum dia melayangkan kecupan lama di kening Minri. “Terimakasih. Kau tahu? Aku sangat bahagia. Dan Chanhee pasti juga bahagia mendengar hal ini.”

Baekhyun kembali ke tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Mungkin besok dia harus meminta Minri memeriksakan kesehatannya. Agar Baekhyun dapat mengetahui secara pasti tentang kebenarannya.

“Selamat malam, sayangku.” Baekhyun menghadapkan tubuhnya pada Minri. Menatap wajah cantik yang selalu membuatnya jatuh cinta. Lalu perlahan matanya berpejam, membawa dirinya ke dalam alam bawah sadarnya. Dia bermimpi indah.

***TBC***

YEAY CHANHEE PUNYA ADEK! Mari kita tumpengan/? Eh emang bener? Jangan-jangan Minri cuma masuk angin. Huaha. Okay, tunggu episode selanjutnya!

Maaf menunggu lama. Dan sepertinya aku akan kembali dua minggu kemudian(lagi). Hiks;_; gapapa kan ya…

Ditunggu cuap cuapnya di kotak komentar. Terimakasih!~

©Charismagirl, 2015.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

57 thoughts on “US | Love in Seoul – Part 2

  1. Haii eonni 👐 woahhh chanhe pnya adikk 😁 haha tpi klau cma msk angin gimna?😜 ahh ternyata jessy anaknya sehun 😄 ffnya tmbh seru, penggunaan katamya jg eonni! Fighting ya eonni💪

  2. Ping-balik: US | Love in Seoul – Part 6 [end] | EXO Fanfiction World

  3. kayanya chanhe bakalan punya adik baru hehe:D
    jadi sehun itu masa lalunya minri ?? lalu knpa mereka gak nikah ???
    makin seru aja ff nya ka
    fighting yaaa ka🙂🙂

  4. sukaaa….
    adik chanhee?? wahhhh..hebattt baek (nah loh,,,hahahaha)
    di chap sebelumnya pengen komentar ayah nya jesse,,tapi lupa…hehehe
    sehun datang lagi..horeeeee…
    hehehe…tambah geje…
    baca chap selanjutnya dulu ya chingu…
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s