[3rd] Dark of The Blood(The Blonde Man and His Glassess Friend)

dark-of-the-blood1

Nealra Present Dark of The Blood-The Blonde Man and His Glassess Friend

Main Casts :
Kim Junhee(OC)||Park Chanyeol||Kim Jongin||Oh Sehun||Tao

Mayor Casts :
Kang Minah(OC)||Kris||Prof. Kim Jongwon(OC)||Byun Baekhyun

Minor Casts :
Lee Minho||Kim Woobin||Kang Minhyuk||Park Jimin

in Supernatural||Fantasy||School-life||Romance||Chaptered

The casts belong to their self and GOD. Storyline belong to Nealra

And Poster by Jungleelovely @ Poster Channel

Previous Chapter 2-Dark In Shadow

 

Rumah dengan desain eropa klasik yang menyatu padukan keanggunan warna putih itu berada dalam ketegangan. Beberapa tetua saling berdebat berusaha memenangkan argumennya masing-masing. Sementara kedua pemuda yang berada di ruangan samping ruang tersebut hanya bisa menghela nafas bosan menunggu hasil tetua mereka.

“Tepat setelah aku menginjakkan kaki di negara ini, aku malah harus menunggu hasil perdebatan mereka” Laki-laki berambut kemerahan dengan bola mata pastel merah berucap sambil menghela nafas. Sudah hampir sejam kakinya bertengger di atas meja yang ada di depannya. Kebosanan membuatnya tak bisa bersikap biasa.

“Kau lebih baik. Sedang aku? Negara ini adalah negaraku. Sudah 50 tahun lamanya aku tidak kembali. Tapi yang aku dapatkan malah seperti ini” Laki-laki lain yang tengah duduk sambil menyilangkan kakinya dengan rambut blonde dan kulit putih pucat itu memandang malas teman yang baru dikenalnya beberapa jam ini.

“Setidaknya mereka harus memberikan pekerjaan yang pantas akan kedatangan kita dan kesabaran kita untuk menunggu” Laki-laki berambut kemerahan memain-mainkan sebuah gelas berisi cairan merah di atas udara tanpa menyentuhnya.

“Ya. Kau benar, Tao” Angguk laki-laki berambut blonde.

Cklek. Pintu terbuka yang sekaligus menandakan perdebatan di ruangan sebelah telah berakhir. Seorang pria tinggi dengan kulit putih pucat dan rambut jingga keemasan memasuki ruangan dimana Tao dan pria blonde berada. Tatapannya tampak serius mengarah pada kedua pria tersebut. Dan dengan spontannya Tao serta pria blonde memperbaiki posisi mereka.

“Jadi, bagaimana keputusannya, Kris?” tanya Tao.

Pria tinggi itu, Kris, berdehem lalu kemudian menjawab pertanyaan Tao “Nasib bangsa vampir berada di tangan kalian berdua. Benda yang dapat menghancurkan bangsa kita kembali muncul dan akan segera diserahkan pada organisasi besar yang percaya terhadap keberadaan bangsa kita, vampir. Benda itu akan digunakan untuk membasmi kita secara besar-besaran”

“Apa yang bisa kami lakukan terhadap sebuah organisasi besar?” Pria blonde bertanya.

“Saat ini, benda tersebut belum sampai ke tangan organisasi itu. Benda itu masih dimiliki oleh Prof. Kim Jongwon. Aku akan mengirimkan beberapa vampir untuk mengambil benda itu dari Prof Kim. Dan setelah benda itu berada di tangan kita, tugas kalian selanjutnya adalah membawa benda itu ke Roma dan menyerahkannya pada sang tetua. Sayangnya para pemburu vampir di Roma telah mengetahui tentang benda itu. Kalian harus memastikan benda itu sampai pada sang tetua, karena jika benda itu sampai di tangan pemburu vampir yang ada di Roma, semua akan semakin kacau” Jelas Kris, serius.

“Kami besar di Roma di bawah bimbingan sang tetua, jadi itu bukanlah masalah besar bagi kami” Ucap Tao dengan bangganya.

“Baguslah kalau kalian berpikir seperti itu” Kris tersenyum tipis. Kemudian ia berdehem “Dan aku perlu mengenalkan kalian pada vampir yang bertugas mengambil benda itu dari Prof Kim” Tepat setelah Kris selesai mengucapkannya, pintu berwarna putih yang ada di ruangan itu tersibak, menampakkan tiga pria tinggi.

“Mereka adalah Lee Minho, Kim Woobin, dan Kang Minhyuk yang bertugas mengambil benda itu dari Prof. Kim” Kris memperkenalkan ketiga pria itu. Tao dan si pria blonde memilih diam.

Kris beralih menatap ketiga pria yang baru masuk, berniat mengenalkan Tao dan si pria blonde “Dan mereka adalah utusan dari Roma yang akan membawa benda itu ke Roma, Tao dan Sehun”

~-~

                Tidak jauh dari sebuah gerbang besar berwarna cokelat, tampak ketiga pria yang tengah memperhatikan gerbang tersebut. Ketiga pria tampan yang tengah bersantai dalam mobil tapi tampak awas akan segala kemungkinan. Tidak berselang lama, sebuah motor pengantar surat berhenti di depan gerbang besar itu.

Mereka segera turun dari mobil, pria bernama Lee Minho entah bagaimana telah berada di samping tukang surat itu, tepat saat pintu dibuka oleh seorang wanita berumur, Lee Minho mendorong wanita itu dalam diam masuk ke dalam rumah. Sementara Kim Woobin yang baru saja sampai mengurus si tukang surat. Ia menarik tukang surat itu ke dalam rumah dan segera melumpuhkannya dengan menekan titik lumpuhnya.

Ketiga pria itu memasuki rumah tersebut. Sebuah rumah yang sangat besar walau sedikit tidak terurus. Bagaimana tidak, hanya seorang wanita berumur dan pria berumur yang dipekerjakan sebagai pembantu di rumah besar itu.

Langkah ketiga pria itu terhenti setelah menemukan orang yang mereka cari, Prof. Kim. Lelaki tua itu tampak percaya diri dengan sebuah senapan khusus di tangannya. Ia menyeringai berani “Kalian adalah vampir bodoh dan menjijikkan yang berani masuk ke rumahku!”

“Benarkah?”Lee Minho telah berada di belakang Prof Kim sambil menyeringai. Ia memukul tangan Prof Kim, membuat senapan tersebut tergeletak jatuh. Ia kemudian mendorong lelaki tua itu hingga jatuh tersungkur.

Kang Minhyuk mengambil senapan tadi “Jadi senapan ini yang banyak membunuh kaum kita?” Ia menyerahkan senapan itu pada Kim Woobin, dan dengan cepat senapan itu telah menjadi patahan-patahan tak berguna.

“Kau sudah tahu apa yang kami inginkan, bukan?” Lee Minho tak berniat untuk basa-basi. Tapi tampaknya Prof Kim tidak ingin bekerja sama. Ia menatap satu persatu pria yang ada di sekelilingnya dengan tajam “Apa pun yang kalian inginkan, aku tak akan memberikannya”

 Brukk.Tanpa dikomando, Kim Woobin menendang kepala pria tua hingga membentur lantai. Tampak jelas cairan kental berwarna merah mengalir dari sela rambut putih pria itu. Ia bangun dengan sekuat tenaga, lalu berusaha menjauh tapi ia kembali terjatuh membuatnya merangkak menjauhi ketiga pria tinggi yang ada di depannya “Aku tidak akan membiarkan bangsa kalian yang menjijikkan mengambil darahku” Jelas sekali bagaimana Prof Kim menatap mereka dengan tatapan benci.

Kang Minhyuk tertawa sinis “Tidak akan ada yang mau mencicipi darah menjijikkan milikmu, Prof. gadungan”

“Aku bukanlah Prof. gadungan. Aku bahkan telah menciptakan benda yang dapat membunuh bangsa kalian. Setelah ini, kau tidak akan bisa tertawa seperti itu lagi” Bentak Prof. Kim, sangat marah. Sementara ketiga pria tadi hanya tertawa sinis sambil memandang rendah pria tua yang ada di hadapannya.

Kim Woobin mendekati Prof. Kim membuat pria berambut putih yang agaknya mulai berubah menjadi merah itu berusaha mundur dengan badan yang bergetar, takut. Ia bukan satu kali berada dalam posisi ini, tapi keadaannya cukup berbeda. Ia tak punya siapa-siapa yang bisa menolongnya saat ini. Dan dia sendiri tampaknya sadar kalau ini akan menjadi akhir dari hidupnya.

“Katakan dimana benda itu!” Pelan tapi penuh dengan penekanan. Sosok Kim Woobin yang jarang berbicara itu tampak sangat menakutkan. Tapi kembali Prof. Kim diam tanpa berkata apa-apa. Dan sekali lagi, tendangan keras dan cepat membuatnya terserat beberapa langkah ke belakang. Cairan merah di kepalanya semakin mengalir dengan deras.

“Sudahlah. Dia tidak akan buka suara. Lebih baik kita cari sendiri” Lee Minho memberi komando. Merekapun berpencar, meninggalkan Prof. Kim yang telah berlumuran darah.

Kang Minhyuk mencari di daerah dapur. Ia tiba-tiba mencium sesuatu yang aneh. Tidak berselang lama, Lee Minho menyusul dirinya di dapur setelah selesai mencari di setiap kamar.

“Aku pikir ada yang aneh” Kang Minhyuk berucap.

“Aneh? Apa mungkin kau mencium keberadaan benda itu?”

“Tidak. Aku mencium bau vampir lain disini. Vampir yang bukan darah murni” Kang Minhyuk mengutarakan kata demi kata dengan hati-hati.

“Apa maksudmu? Mana mungkin di rumah pemburu vampir ada vampir yang bukan darah murni. Vampir yang bukan darah murni tidak akan bisa memasuki rumah ini…”

“Kecuali dia memang sudah berada dalam rumah ini” Potong Kang Minhyuk. Lee Minho terdiam sejenak, kemudian berkata “Lupakan. Itu bukan urusan kita. Tujuan kita adalah menemukan benda itu”

“Tunggu!” Minhyuk tampak serius. Sementara Minho berdehem seolah mengatakan kenapa.

“Aku mendengar Prof. Kim menelpon seseorang bernama Kim Junmyun, dan menyuruh orang itu untuk memberitahukan bahwa mereka akan mengirim benda tersebut kepada organisasi besar” Jawab Kang Minhyuk, serius.

Dan benar saja, Prof. Kim memang tengah menelpon seorang bernama Kim Junmyun “Junmyuna, yang paling penting kau harus menjaga benda tersebut agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Kau juga bisa meminta bantuan Junhee”

Brukk. Sambungan terputus bersamaan dengan hilangnya nyawa Prof. Kim setelah dipukul dengan kuat oleh Kim Woobin. Kang Minhyuk dan Lee Minho menyusul di belakang Kim Woobin.

“Ayo kita kembali!”

~-~

            Sesuai dengan informasi yang telah diberikan oleh Lee Minho, Kris membuat rencana baru sebagai pengganti rencana yang telah gagal. Rencana baru itu adalah dengan mengirim Tao dan Sehun untuk turun secara langsung menangani Kim Junmyun yang diketahui menyimpan benda itu. Hal ini dikarenakan, Lee Minho cs mungkin sudah dikenali oleh pemburu vampir dan hal itu akan menyulitkan mereka.

“Kim Junmyun adalah anak dari Prof. Kim Jaejong. Salah satu pemburu vampir yang cukup terkenal. Prof. Kim Jaejoong dan istrinya meninggal dalam sebuah insiden 13 tahun yang lalu. Kim Junmyun sendiri mungkin tidak mengenal baik siapa Prof. Kim Jongwon, karena setelah kedua orang tuanya meninggal, mereka tidak pernah lagi berurusan dengan vampir. Kim Junmyun memiliki seorang adik bernama Kim Junhee yang saat ini bersekolah di asrama EXO High School” Kris menjelaskan latar belakang Junmyun pada Tao dan Sehun.

Pria tinggi berambut jingga keemasan itu kemudian melanjutkan “Kalian juga tidak boleh melepaskan pengawasan kalian dari Kim Junhee, karena tepat setelah Prof. Kim menelpon Junmyun hari itu, Junmyun buru-buru menemui Junhee di asrama. Gadis itu mungkin tahu sesuatu” Tao dan Sehun mengangguk mengerti.

Sejak hari itu, mereka mencari tahu keberadaan Kim Junmyun yang tiba-tiba lenyap ditelan bumi. Sehun memberikan saran untuk mengirim surat ancaman kepada Junhee untuk mendesak gadis itu mengaku, walau tampak hal itu juga tidak mempan pada Junhee.

Dua bulan lamanya, kedua pria itu tinggal di Korea. Mereka mendapat petunjuk mengenai keberadaan Junmyun, tapi tak benar-benar bisa menemui lelaki itu. Tao memutuskan untuk menemui Junhee secara langsung.

“Semakin lama kita disini, maka tetua di Roma akan semakin bergejolak. Kita harus segera menyelesaikan ini” Tao berucap, yang dibalas anggukan oleh pria blonde yang tengah menatap langit biru melalui jendela besar di ruangan bergaya klasik eropa itu.

“Aku akan menemui Kim Junhee secara langsung. Dia pasti akan mengaku jika kita sedikit memaksanya” Saran Tao. Sehun terdiam lalu kemudian mengangguk “Terserah kau saja. Aku sendiri akan mengunjungi vampir buangan yang bersekolah di EXO High School lalu menemui salah satu suruhan yang berkata telah mengetahui keberadaan Junmyun”

“Vampir buangan itu? Apa dia mau mengikuti kata-kata vampir setelah meninggalkan dunia vampir secara sukarela dan terobsesi menjadi manusia biasa?” Tao merespon.

“Entahlah. Tapi Kris menyuruhku untuk mengancamnya. Aku akan membunuh kakaknya kalau dia tidak ingin bekerja sama kali ini” Jawab Sehun tak berekspresi.

“Kakak vampire buangan itu cukup baik dan orangnya sangat asyik. Tapi, perannya memang sangat dibutuhkan. Jika benar Kim Junhee mengetahui keberadaan benda itu, maka vampir buangan itu akan menjadi kartu as terbaik kita. Dia pasti lebih mudah mendekati Kim Junhee karena identitasnya yang memang adalah siswa asli sekolah itu” Tao bergumam mengeluarkan pendapatnya. Sehun mengangguk tanpa ekspresi.

Tao menjalankan rencananya untuk menemui Junhee secara langsung. Sementara Sehun juga menemui vampir buangan yang dimaksudnya. Setelah menemui vampir itu, ia segera menemui salah satu suruhannya yang berkata mengetahui keberadaan Junmyun.

“Jadi, Park Jimin, apa kau sudah mengetahui keberadaan Kim Junmyun?” tanya Sehun. Pria itu, Park Jimin mengangguk pasti “Saya telah mengetahui keberadaannya”

Semua terjadi dengan sangat cepat, siapa sangka rencana kedua ini kembali gagal. Karena tidak dapat menahan emosinya, Sehun melemparkan kepingan vas yang salah satu pecahannya tepat mengenai jantung Junmyun sebelum ia memberitahukan dimana keberadaan benda itu.

Saat ini, mereka kembali menyusun rencana baru. Rencana yang dipastikan harus berhasil.

“Kita harus membuat Kim Junhee mengatakan keberadaan benda itu  sekaligus memastikan dia tidak berbuat konyol” Sehun berucap.

“Jadi, apa kau punya rencana?” tanya Kris, tampak menggoda. Sehun mengangguk dengan serius “Kita harus mengirim seseorang untuk menyamar dan mencoba mendekati Kim Junhee. Intinya, dia akan mengatakan keberadaan benda itu secara sukarela. Begitu rencananya”

“Tapi, siapa yang akan menyamar? Kim Junhee telah mengenal wajah Tao” Ragu Kris.

Sehun menghela nafas kemudian berkata “Aku yang akan menyamar dan memasuki sekolah itu. Aku akan mempertanggung jawabkan kesalahanku yang menyebabkan kematian Kim Junmyun”

“Sayangnya selama dua bulan ini, semua sudah tahu bagaimana sikapmu yang sangat tidak bersahabat itu, Sehun” Kris tidak menanggapi serius ide Sehun, yang justru dibalas Sehun dengan senyuman misterius “Aku adalah vampir berdarah murni yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran seseorang. Mudah bagiku untuk mengendalikan pikiranku sendiri”

Kris berpikir cukup lama sebelum akhirnya menatap kedua pemuda yang jauh lebih muda di hadapannya “Baiklah. Kita akan menggunakan rencanamu, Sehun. Tapi satu hal, bisa jadi ini adalah rencana terakhir kita, karena pemburu vampir pasti sedang mencari benda itu”

“Aku kan kupastikan semua berjalan sesuai rencana” Sehun menekan ucapannya.

“Tapi, kau harus berhati-hati untuk tidak terperangkap ke dalam lingkaran itu. Begitu pun denganmu, Tao” Kris menatap Sehun dan Tao dengan ekspresi yang sulit diartikan. Sehun sendiri memilih untuk tidak memikirkan kata-kata itu.

“Aku akan segera pulang membawa kabar baik” Sehun berucap dengan bangga.

~-~

            Sehun telah resmi menjadi siswa EXO High School. Ia sekelas dengan Kim Junhee, sementara teman sebangkunya bernama Byun Baekhyun, siswa penyendiri yang memilih menghabiskan waktunya untuk membaca buku. Sesuai dengan penampilannya yang berkaca mata dan pakaian yang selalu rapi atau bisa dikatakan terlalu rapi.

Ia mengamati Junhee beberapa hari ini. Gadis itu cukup populer karena tugasnya sebagai wakil ketua kelas yang melebihi tugas ketua kelas, ia juga memiliki sifat yang baik, serta kecantikannya yang cukup menonjol dibanding siswi lain. Mungkin sulit mendekatinya tapi ia tak akan menyerah sebelum mencoba.

Hari ini diadakan Out School Day. Sehun memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa lebih dekat dengan Junhee.

Malam tiba, para lelaki bertugas untuk mencari makanan di dalam hutan sementara para gadis menunggu di tenda. Sehun tak ketinggalan mencari makan.

Ia sengaja memisahkan diri di tengah pencarian karena ia harus menemui Tao. Sesuai dengan janji yang telah mereka buat. Tao membawakan Sehun sebuah tempat air minum yang diyakini berisi cairan kental berwarna merah.

“Kau tahukan apa isinya?” Tanya Tao. Sehun mengangguk.

“Jangan lupa untuk membaginya dengan vampir buangan itu. Kris yang berkata seperti itu” Tao mengingatkan.

Sehun segera kembali ke rombongan sebelum ada yang menyadari kepergiannya. Tak sengaja ia mencium bau vampir yang tidak dikenalnya, vampir yang tidak berdarah murni, disusul bau darah segar.

~-~

            Junhee baru mengetahui kematian kakaknya setelah seminggu. Dan Sehun tak benar-benar yakin mengenai apa yang akan dipikirkan gadis itu.

Tidak berselang lama, kasus kematian yang diyakini ulah vampir yang tidak berdarah murni terungkap. Sehun telah mengetahui siapa pelakunya setelah Tao menceritakan semuanya saat ia membawakan darah pada Sehun.

Hari itu, Sehun benar-benar sangat kelaparan. Ia meminum darah tersebut di pojok asrama yang berdekatan dengan taman depan. Tampak bibir tipis Sehun menjadi kemerahan dan tampaklah taring yang tidak biasa di dalam mulutnya.

“Se-sehun…” Seorang pria berkaca mata dengan buku di tangannya, menatap Sehun dengan mata yang melotot ketakutan sekaligus tidak percaya.

Sehun menyeringai “Kau melihatnya, Baekhyun?” Baekhyun terduduk di tanah, ia tak sanggup lagi menahan berat tubuhnya.

Darah yang baru saja diminumnya mengalir ke seluruh tubuh Sehun. Darahnya bergejolak dan ia tak kuasa menahan keinginannya untuk meminum darah lagi. Pelan tapi pasti, Sehun mendekati Baekhyun yang tengah menatap Sehun dengan wajah pucatnya.

“Ini tidak akan lama” Sehun berbisik pelan, lalu menggigit leher Baekhyun dan menghisapnya tanpa perlawanan, tentu saja setelah ia menghipnotis teman sebangkunya itu. Sehun mengeluarkan taringnya yang ia tancapkan tidak terlalu dalam “Ini adalah rahasia kita berdua, bukan begitu, Byun Baekhyun?” Baekhyun hanya bisa mengangguk dengan tatapan kosong.

~-~

            Kembali hari ini Tao mengunjungi Sehun untuk membawakan darah, walau ia tak benar-benar kelaparan karena darah Baekhyun telah cukup mengeyangkannya. Sebagai darah murni, ia punya kesempatan untuk membunuh mangsanya saat itu juga-yang nantinya akan menyebabkan pilihan lain- atau membiarkan mangsanya mati karena anemia setelah ia menghisapnya beberapa kali.

Pertemuan mereka diakhiri setelah dirasakannya keberadaan Junhee mendekati mereka. Tao memilih bersembunyi di balik pepohonan, sementara Sehun berpura-pura menatap langit.

Keberadaan Junhee telah terlihat. Sehun berbalik lalu melambaikan tangannya pada Junhee dengan ceria “Kim Junhee”

“Hai, Oh Sehun” Balas Junhee ikut tersenyum.

Tao yang masih bersembunyi berniat untuk menggoda Junhee sekaligus mengetahui seberapa percayanya dia terhadap Sehun. Ia menampakkan dirinya di belakang Sehun, seolah berusaha berbuat jahat terhadap Sehun.

Tampak jelas ekspresi terkejut sekaligus khawatir Junhee. Ia berjalan cepat menghampiri Sehun.

“Junhee~” Junhee memeluk Sehun dengan erat.

Jujur saja Sehun dan Tao tak membayangkan Junhee akan berekspresi seperti ini. Tao memilih kembali bersembunyi di balik bayangan sembari memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Ada apa, Junhee?” tanya Sehun setelah Junhee melepas pelukannya. Junhee menggeleng dengan wajah memerahnya, mungkin ia baru sadar kalau yang dipeluknya itu adalah seorang pria normal. Tapi ia lega setelah melihat Tao tak ada lagi.

“Apa yang kau lakukan disini?” Junhee melontarkan pertanyaan sebelum menjawab Sehun tadi.

“Aku baru saja menemui keluargaku. Tapi karena pemandangannya yang sangat indah. Aku jadi betah berlama-lama” Sehun tersenyum manis.

“Pemandangannya memang sangat indah, tapi kau tetap tidak boleh berlama-lama sendirian disini” Junhee menasehati Sehun layaknya ibu yang pengertian. Sehun tertawa kecil sambil mengacak lembut rambut Junhee “Baiklah, wakil ketua kelas”

“Ayo kita kembali ke kelas!” Ajak Junhee sambil menggandeng tangan Sehun. Tanpa sadar, Sehun mengukir sebuah senyuman.

Sementara Tao mendapatkan ide dari kejadian tadi “Beginilah caranya. Sehun dapat mendekati Junhee dengan memanfaatkanku. Sepertinya aku benar-benar akan kembali ke Roma dengan hasil yang memuaskan” Tao tersenyum bangga.

~-~

            Toilet pria itu cukup lenggang, memang belum waktunya istirahat. Hanya dua orang siswa yang berada di dalam toilet itu. Seorang siswa berambut blonde bersama teman sebangkunya yang makin hari semakin pucat dan kurus di balik kaca mata dan seragam kelonggarannya

“Sehun, tidak bisakah kau menjadikanku vampir seperti dirimu?” Siswa berkaca mata tampak bersungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Bukankah sudah kukatakan kalau aku hanya bisa menjadikanmu vampir yang tidak berdarah murni, dimana vampir itu hanya hidup untuk darah” Sehun mencuci tangannya sambil sesekali menatap wajah teman sebangkunya itu melalui pantulan cermin.

“Aku hanya begitu capek menjadi manusia tidak berguna seperti ini. Aku ingin tampak mengagumkan seperti dirimu” Baekhyun menyandarkan dirinya pada wastafel.

“Menurutku kau mengagumkan. Membiarkanku menghisap darahmu kapanpun aku mau dengan sukarela. Itu sangat mengagumkan di mata para vampir” Sehun tersenyum.

“Lagipula tidak ada artinya aku hidup di dunia ini. Setidaknya setelah aku mati nanti, akan ada orang yang mengingat diriku”

“Ya. Aku akan mengingat dirimu. Tapi, dengan syarat, kau hanya boleh mati di tanganku” Sehun kembali tersenyum pada Baekhyun, tulus.

~-~

            Hari ini, Junhee dan Chanyeol kembali ke kamar Soyoung, tapi mereka tidak sendiri, Jongin juga ikut. Mereka berpapasan dan berdebat cukup lama. Akhirnya diputuskan untuk pergi bersama.

Sebagai wakil ketua OSIS, Chanyeol bisa mendapatkan kunci cadangan apapun yang dia mau. Dan pada kesempatan ini, mereka bisa memasuki kamar Soyoung.

Bau anyir menyerebak tepat setelah Chanyeol membuka pintu kamar itu. Mereka mulai berpencar mengelilingi kamar yang sebenarnya sangat kecil itu. Chanyeol memasuki tempat tidur. Keadaan sangat gelap.

“Akh!” Ringisnya ketika kepalanya terantuk di lampu gantung membuat kunci di tangannya ikut jatuh entah kemana. Ia segera menyalakan lampu lalu mencari kunci itu. Ia berjongkok kesana kemari sembari melihat bagian bawah meja dan mata lelaki itu membulat.

“Junhee! Jongin! Kemari!” Teriaknya. Junhee dan Jongin segera menghampiri Chanyeol.

Chanyeol memperlihatkan bagian bawah meja kepada Junhee dan Jongin, dan merekapun sama terkejutnya seperti Chanyeol mendapati genangan darah. Jongin menyentuh lantai yang berada di depan meja “Darah di bagian lantai ini mengering. Sepertinya polisi tidak menemukan fakta ini”

“Berarti Soyoung pada awalnya diserang di kamar lalu dia mundur dan masuk ke kamar mandi” Junhee menjabarkan. Chanyeol mengangguk “Berarti mungkin saja kalau pintunya tetap terkunci karena…”

“Penyerang masuk melalui jendela” Sambung Jongin lalu memeriksa jendela yang ternyata tidak terkunci “Dan keluar melalui jendela juga. Jika melalui jendela, penyerang bisa langsung kabur ke hutan”

Hal ini mengingatkan Junhee saat ia bertemu dengan Tao di hutan. Mungkin saja pelakunya adalah Tao, tapi ia mengingat sebuah mata merah yang muncul dalam kegelapan. Sosok yang mungkin seperti Tao, tapi mungkin juga tidak.

“Sebaiknya kita kembali. Bahaya kalau penjaga sekolah mendapati kita disini” Chanyeol bersuara yang dibalas anggukan oleh kedua temannya.

Tepat saat mereka keluar, terdengar langkah kaki menghampiri mereka dari balik pepohonan. Ketiga orang ini tampak bersiaga.

“Hai, semua!” Dan orang itu adalah Sehun yang tengah tersenyum manis pada Jongin, Junhee, dan Chanyeol.

“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Junhee. Sehun tersenyum kaku “Aku baru saja kembali dari kamar Baekhyun, dan aku penasaran akan ke arah mana aku jika melewati bagian belakang kamar Baekhyun, dan ternyata aku sampai di asrama perempuan”

“Benar. Kamar Baekhyun berada di pojok asrama laki-laki, makanya bisa saling berhubungan” Angguk Chanyeol.

“Kalian sendiri apa yang kalian lakukan? Apa rumor kalau kalian mencari tahu siapa pembunuh Soyoung itu memang benar?” Tanya Sehun. Jongin mengangguk “Tapi kau tidak perlu memikirkannya, sebaiknya kita kembali”

“Tunggu! Baekhyun bilang padaku kalau dia melihat Soyoung memberikan surat izinnya pada piket di hari Out School Day, karena hari itu dia juga tidak ikut Out School Day. Tapi yang mencurigakan, ada seseorang yang mengikutinya” Jelas Sehun, yang sontak menarik perhatian ketiga orang yang ada di hadapannya ini.

“Aku akan menemui Baekhyun” Setelahnya Jongin segera pergi meninggalkan ketiga orang di belakangnya. Junhee mengikuti bersama Chanyeol dan Sehun.

“Aku juga ingin mengetahui apa yang sebenarnya dilihat oleh Baekhyun” Ucap Junhee setelah ia berhasil mensejajarkan jalannya dengan Jongin.

Tiba-tiba, Sehun mencium bau vampir yang tidak dikenalnya. Ia tampak gelisah. Matanya mendelik kesana kemari dan jalan makin cepat. Sehun benar-benar merasakan firasat yang buruk. Tak sabar lagi, ia berlari cepat. Disusul Jongin dengan ekspresi yang sulit dimengerti. Junhee dan Chanyeol juga mengikuti di belakang.

“Apa yang terjadi, Oh Sehun?” Teriak Junhee berusaha mengejar mereka yang cukup jauh di depan.

Sehun telah sampai di depan kamar Baekhyun. Ia segera membuka pintu kamar itu. Dan tampaklah seorang wanita yang terduduk di lantai dengan tangan yang penuh darah. Sementara di sampingnya terbaring seonggok mayat pria yang dipenuhi darah.

“Kang Minah apa yang terjadi?”Panik Jongin.

Sementara Sehun mengepalkan tangannya kuat-kuat, ia tak bisa lagi menahan emosinya “BAEKHYUN!”

TBC

Author sempat baca ulang chap ini sebelum di post, dan author makin sadar kalau fict author ini terinspirasi dari anime Shiki dan Vampire Knight. Terutama di chap ini, mengenai Sehun dan Baekhyun, jadi bagi yang udah nonton Shiki dan Vampire Knight, author Cuma mau bilang kalau ceritanya sama sekali tidak sama kok.

Di awal chap tidak nyambung kan sama yang di akhir chap sebelumnya? Jadi, readers tetap harus mengingat-ngingat kejadian di chap sebelumnya. Itu sangat penting untuk dapat mengerti alur fict ini.

Thanks buat semua readers yang udah komen di chap sebelumnya. And, now, comment please!!!

24 thoughts on “[3rd] Dark of The Blood(The Blonde Man and His Glassess Friend)

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s