When We Meet Again

When We Meet Again

Author: Charismagirl

Cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Xi Luhan
  • (find by yourself)

Genre : Romance, friendship

Length : drabble

Rating : R

Note : FF ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan fanfic saya yang sebelumnya. Spesial untuk yang berulang tahun tanggal 20 April. (Walopun ujung2nya kebanyakan momen BBH-PMR-_-). Happy reading.

***

Ini bukan cerita tentang kisah percintaanku dengan Byun Baekhyun. Bukan ungkapan protesku pada Baekhyun yang terlalu sibuk pada dunia keartisannya hingga tidak sempat menyanyakan kabarku apalagi bertemu. Tapi tenang saja, lelaki itu akan selalu masuk ke dalam kisahku karena dia sudah menjadi bagian dari hidupku. Dia masuk ke dalam hidupku dengan semena-mena, membuat pikiran dan hatiku hanya terisi olehnya. Ups, aku rasa aku terlalu dramatis disini.

Ini hanyalah secercah kerinduanku pada seorang lelaki yang sudah kuanggap kakak. Yang beberapa bulan lalu dinyatakan keluar dari agensi yang sama dengan Baekhyun. Kurasa kalian mulai mengerti kemana arah pembicaraan ini. Dan tentu saja kalian tahu siapa orang yang kumaksud.

Aku berjalan di tepian trotoar dengan membawa sekotak kue tart cokelat. Tenang saja, aku bukan ingin meracuni orang dengan membuat kue sendiri. Aku membelinya di toko kue milik keluarga Kyungsoo dan akan memberikannya pada seorang yang sedang berulang tahun hari ini. Sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju kafe dimana seseorang (mungkin) sedang menungguku. Kami telah membuat janji untuk bertemu.

Sebenarnya, kalau saja Baekhyun tidak mengatakan bahwa orang ini sedang ada di Korea, mungkin sekarang aku akan berada di China. Berada di tengah orang-orang asing yang sama sekali tidak aku mengerti mereka bicara apa.

Beberapa hari yang lalu, aku membicarakan tentang hal pergi ke China bersama Baekhyun. Tapi lelaki itu menolak karena dia punya pekerjaan lain di Jepang. Aku ingin pergi sendiri. Aku bilang aku bisa sendiri (sebenarnya aku tidak yakin). Dan dia menolak mentah-mentah permintaanku yang satu itu. Dasar pelit.

Aku mengutak-atik ponselku untuk menghubungi Baekhyun. Terdengar bunyi ‘tut’ tiga kali sebelum si pemilik ponsel mengangkat ponselnya. Respon yang cukup cepat untuk orang sesibuk Baekhyun.

“Minri-ya…” panggilnya dengan nada manja. Ah, suara ini. Suara yang sangat kurindukan. Tidak terasa bibirku terangkat. Astaga! Bukan saatnya untuk merasa tersipu hanya dengan  mendengar suaranya. Ada hal yang lebih penting ingin aku bicarakan dengannya. Tujuan utamaku menelponnya.

“Baek, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Aku duduk di tepi kasur sembari memandang keluar jendela. Ada mobil yang masuk ke pagar rumahku membuat keningku berkerut.

“Kelihatannya serius. Kau bukan ingin memutuskan hubungan kita ‘kan? Please, kita hanya tidak bertemu seminggu dan aku masih sangat-sangat mencintaimu. Dan kalau kau sungguh ingin melakukan itu setidaknya jangan—”

“Byun Baekhyun,” sanggah Minri. “Kau. Masih. Saja. Cerewet. Siapa juga yang ingin putus hubungan denganmu.”

“Kukira….” Kudengar kekehan pelan dari mulutnya. “Lalu kau ingin membiacarakan apa? Sebentar, sebelum kau menjawab, lebih baik kau bukakan pintu untukku sekarang. Aku ada di depan rumahmu.”

“ASTAGA BAEKHYUN! KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU KAU DI DEPAN RUMAHKU?!”

Dengan kecepatan penuh aku menuruni tangga lalu menuju pintu rumah. Aku membuka pintu. Seketika terpaku melihat sosok lelaki berperawakan sedang mengenakan kacamata hitam dan jaket bertuliskan supreme kesukaanya.

Dia tersenyum padaku, lantas melepas kacamatanya. Dengan gerakan cepat dia memelukku erat hingga tubuhku sedikit terangkat, lantas mendorongku ke dalam rumah tanpa melepaskan pelukan.

“Belum juga dipersilakan masuk,” gumamku.

“Kau ingin memperlakukan kekasihmu seperti tamu asing?” Dia memundurkan badannya, dengan bibir mengerucut. Baekhyun, kau bukan anak kecil. Hentikan wajah itu atau aku akan mencubitmu!

“Ada apa kemari?” tanyaku.

“Besok sampai tiga hari ke depan aku akan pergi ke Jepang untuk acara fanmeeting. Aku ingin mengajakmu kesana. Kau mau ikut?” Baekhyun menarik tanganku pelan, menuntunku agar duduk. Kemudian dia menyusul.

Aku menatapnya sembari berpikir. Tiga hari ke depan berarti…

“Aku tidak mau ikut.” Jawabanku membuatnya mengangkat kening, sebelum dia bertanya mengapa aku akan menjelaskannya. “Sebenarnya yang ingin aku bicarakan denganmu di telpon tadi adalah aku ingin pergi ke China. Tadinya aku akan mengajakmu, tapi berhubung kau ada pekerjaan di negara lain, jadi ijinkan aku pergi sendiri.”

“Apa?! Tidak boleh!”

“Wae?!” balasku tidak kalah sengit.

“Bicara dengan Lay Hyung saja sering membuatmu frustrasi dan sekarang kau ingin ke China, ke tempat asing dengan bahasa yang sama sekali tidak kau mengerti. Kau hanya tahu xie xie(terimakasih) dan gege(kakak laki-laki). Yang benar saja. Memangnya apa yang membuatmu ingin pergi kesana?”

“Aku ingin bertemu Oppa. Tiga hari lagi dia ulang tahun. Aku tidak mungkin bertemu dengannya di Korea sekarang ini.”

“Maksudmu… Luhan Hyung?”

Aku mengangguk sebagai jawaban. Syukurlah Baekhyun langsung mengerti. Dia menunduk sesaat, sebelum kembali mendongak dan menatapku.

“Kau tetap tidak boleh pergi.”

“Ayolah. Aku bisa menjaga diri. Aku akan membawa kamus kemanapun. Ah! Aku akan mengajak Sungyoung. Bagaimana?”

“Kalian sama-sama buta dengan bahasa China.”

“Baekhyunie…” aku mengerucutkan bibirku. Dengan menekan seluruh gengsiku, aku memasang wajah memelas. Sungguh, aku sendiri sakit perut membayangkannya.

Baekhyun menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya, membuatku melongo melihat wajahnya yang cukup dekat. Lalu dia mengecup bibirku.

“Kau tidak perlu pergi ke sana, karena Luhan Hyung sendiri yang akan kesini.”

“Benarkah? Waaaah!!” Kurasa wajahku berbinar. “ Ish! Kenapa kau tidak bilang sejak tadi, hingga membuatku memelas padamu. Kau curang!”

“Eyy, jadi kau marah padaku? Jujur saja ya,” Baekhyun menghentikan bicaranya, lalu mendekat padaku membuatku perlahan mundur di atas sofa itu. “kau membuatku cemburu. Kau bilang ingin bertemu Luhan Hyung sampai rela pergi ke China. Sementara aku yang jelas-jelas berada di daerah yang sama denganmu, kau tidak pernah mencariku.”

“Itu karena aku tahu kau sibuk,” jawabku sebal. Dia mau apa sih! “Dan Oppa akan berulang Tahun!”

Arraseo, arraseo.” Baekhyun menarikku dengan tiba-tiba ke dalam pelukannya. Aku terdiam beberapa saat sebelum mengangkat kedua lenganku, melingkarkannya ke punggung Baekhyun. Aku memejamkan mata, menyesap aroma tubuhnya yang bercampur parfum yang khas.

“Aku sangat merindukanmu, Baekhyun.” Aku mencengkeram bajunya saat Baekhyun akan melepaskan pelukan kami. Tidak bisakah dia membiarkan momen ini sedikit lebih lama? Sepertinya benar-benar tidak bisa. Baekhyun melepaskan pelukannya, dan menurunkan lenganku di punggungnya, dengan caranya. Aku menyerah, lalu melepaskan pelukan. Setelah cukup berjarak, Baekhyun menatapku lama. Dia memegang kedua pipiku lagi, lantas memajukan wajahnya perlahan, hingga bibirnya menyentuh bibirku. Aku memejamkan mata menikmati detik-detik berlalu.

“Aku juga merindukanmu, Minri-ya.”

Tapi kau harus pergi lagi.

***

“Ahn Sungyoung, kau dimana? Kenapa kau tidak membalas pesanku?” tanyaku melalui saluran gelombang telpon. Kami berdua sepakat akan menemui Luhan bersama. Tapi sudah lewat dari waktu yang kami janjikan, dia bahkan batal menjemputku. Jadi kusempatkan untuk menelponnya selama perjalanan ke Kafe.

“Pesan?” Sungyoung memberi jeda, “Eonni, maaf aku akan sedikit terlambat. Ada hal yang harus kukerjakan. Kalau aku tidak sempat datang, sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuk Oppa. Dan bilang aku sangat ingin bertemu.”

Arraseo. Kuharap kau bisa datang. Sungyoung-ah, fighting!

Setelah itu aku menutup telpon dan melanjutkan perjalanan. Tersisa beberapa blok lagi sebelum aku sampai di Kafe. Aku memilih berjalan kaki, karena kupikir aku akan terlambat menunggu angkutan umum. Aku tidak ingin Oppa menunggu terlalu lama.

Aku berhenti di depan Kafe sebentar untuk memastikan bahwa tempat yang aku tuju adalah benar. Kemudian dering bel berbunyi menandakan pintu terbuka. Aku masuk lantas mengedarkan pandangan mencari sosok lelaki yang sedang berulang tahun. Aku berharap aku saja yang menunggunya, namun mataku terhenti pada sesosok lelaki bertopi hitam yang sedang memandang ke luar kaca. Aku membuatnya menunggu. Aku menghampiri meja itu, lalu meletakkan kotak kue di atas meja, membuatnya menoleh.

Oppa!” sapaku cukup nyaring dengan senyum yang tidak bisa dikendalikan. Astaga, betapa aku ingin bertemu dengan orang ini.

“Minri-ya, duduklah.”

Aku duduk di kursi sampingnya. Lantas memperhatikan wajahnya. Tidak ada yang berubah. Dia tetap tampan seperti saat terakhir kali aku bertemu.

“Bagaimana kabar Oppa?

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana? Hubunganmu dengan Baekhyun juga baik-baik saja ‘kan?” Dia tersenyum setelah menanyakan hal itu.Aku tersenyum sembari mengangguk.

“Oh iya, ada apa Oppa ke Seoul?”

“Aku ingin bertemu kalian semua. Dan sedikit ada pekerjaan disini.” Tidak salah lagi. Pasti dia punya pekerjaan hingga mengharuskannya berada di Seoul sekarang.

“Apa Oppa merasakan hal yang sama dengan kami disini? Kami sangat merindukanmu, Oppa.” Aku berusaha menahan nada bicaraku agar terdengar normal. Tapi mataku tidak bisa diajak kompromi. Air mata mengaburkan sedikit pandanganku. Aku terkekeh pelan untuk mengalihkan perhatian. Sungguh aku tidak bermaksud membuat suasana menjadi canggung dan sedih.

“Aku juga merindukan kalian.”

“Bolehkah aku memeluk Oppa?”

“Asalkan Baekhyun tidak mengomeliku habis-habisan setelah ini,” ucap Luhan sembari tertawa. Dia membuka lengannya. Lalu aku memeluknya.

“Happy birthday, Luge.”

Apapun keputusan yang kau ambil. Aku akan selalu mendukungmu. Meskipun kita tidak akan bertemu sesering dulu. Aku pasti merindukanmu. Datanglah sering-sering ke Seoul.

Selamat Ulang Tahun, Luge. Terimakasih telah lahir ke dunia ini. Aku akan mendoakan semua yang terbaik untukmu. Kami semua menyayangimu.

Gomawo, Minri-ya.” Suara Luhan menyadarkanku dari lamunanku. Aku menyapu sudut mataku yang sedikit berair.

“Maaf, aku terbawa suasana,” ucapku dengan tawa pelan lalu kembali ke tempat dudukku.

Oppa!” seorang gadis tiba-tiba menyelip dan memeluk Luhan, membuatku terkesiap. “Maaf aku terlambat, di luar sudah mulai rintik-rintik hujan.”

“Ahn Sungyoung,” panggil Luhan. Sungyoung melepaskan pelukannya dan menyengir. Kurasa Luhan cukup gemas akan hal itu hingga ia mengacak pelan rambut Sungyoung, lalu mencium puncak kepalanya. “Kau masih saja berisik dan mengejutkan.”

“Akhirnya  kau datang.” Aku menariknya pelan agar ia duduk atau mereka berdua akan menarik perhatian.

“Selamat Ulang Tahun, Oppa.” Sungyoung tersenyum dan menjabat tangan Luhan.

“Terimakasih banyak. Aku merasa tidak enak membuat kalian berdua repot menemuiku.”

“Astaga, sama sekali tidak. Kami memang sangat ingin bertemu dengan Oppa. Sungguh.”

Sementara Luhan dan Sungyoung mulai mengobrol. Aku menangkat tangan memanggil pelayan, lantas memesan makanan.  Jujur saja, perutku lapar sekali. Apalagi sejak pagi aku belum makan apapun.

Kami mengobrol banyak sambil menunggu makanan kami selesai dibuat. Untunglah, saat ini tidak banyak yang datang ke Kafe ini,  jadi kami bisa dengan bebas mengobrol.

“Woooah, ada yang berpesta tapi tidak mengajak kita?”

“Kalian?! Sejak kapan kalian tiba di Seoul? Dan kenapa kalian tahu kami ada disini?” tanyaku bertubi-tubi pada lelaki berambut emas yang entah muncul darimana. Dia bersama sahabat karibnya si lelaki jangkung kesayangan Sungyoung.

“Kau salah kirim pesan padaku dua kali,” ucap Baekhyun sembari mencubit hidungku pelan. Dia mengambil tempat duduk di sampingku. Apa aku seceroboh itu mengirimkan pesan?

“Hai Baekhyun!” sapa Sungyoung.

“Dia tidak memanggilku Oppa,” gerutu Baekhyun, membuatku terkekeh.

“Harusnya kau menyapa kekasihmu dulu.” Chanyeol memeluk leher Sungyoung dari belakang, lalu menunduk dan mencium pipinya membuat Sungyoung membatu dengan mata mengerjap.

Mana aku tahu kalau dia ada di belakang.

Hyung!” sapa Chanyeol lantas menoleh pada Luhan. Tak lama kemudian pesanan kami tiba.

“Kami tidak jadi makan disini, tolong makanannya di bungkus saja.” Baekhyun bicara pada pelayan itu, membuat piring berisi makanan enak itu batal menyentuh meja. Dan tentunya batal masuk ke dalam perutku!

“Baek! Aku sudah lapar. Aku belum makan dari tadi pagi—“

“Apa?!”

“Ah, anu… itu…” kenapa aku harus mengatakan hal itu. Bodoh. Dia akan mengomel lagi. Lihat saja.

“Baiklah, aku tidak akan mengocehimu disini. Hyung, kita ke apartment saja. Semua member ingin bertemu denganmu. Dan kurasa mengadakan pesta kecil—“

“Stt!” Chanyeol mencubit lengan Baekhyun.

Kejutan yang tidak lagi menjadi kejutan. Dasar Baekhyun. Susah sekali ya menahan mulut untuk tidak bicara yang harusnya dirahasiakan.

Luhan tertawa pelan, lalu merangkul kedua lelaki yang berada beberapa tahun di bawahnya itu. Mereka tertawa bersama, membuatku ikut tertawa. Kebersamaan ini terasa begitu hangat.

Aku harap persahabatan mereka tidak pernah putus sekalipun terhalang jarak.

***HappyLuhanDay*** 

Gue cuma kangen sama Luge, hehehe.

HBD Luge ;3

Charismagirl, 2015.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

31 thoughts on “When We Meet Again

  1. yah jadi kangen luhan tao lay :’)
    semoga keadaan mereka sebenernya sama kaya yg di ff ini
    maksudnya hub persahabatannya bukan asmaranya hahaha

  2. ahh aku jadi penasaran sama member lain dia pada inget ga yaa sama ulang tahun nya luge. apalagi sama sehun aku penasaran bgt..

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s