Meet Again

meetagainnn

Meet Again by ilachan
Baekhyun || Romance || Vignette || G
Summary: Setelah tadi hidungnya mendapatkan suntikan energi dari bau kopi yang semerbak di seluruh ruangan, kini giliran mata Baekhyun yang memberikan suntikan perasaan aneh yang tiba-tiba membuatnya antusias.


Recommend song: Beautiful by Baekhyun 


Apa cita-citanya?

Kalau ada orang yang bertanya, apa cita-cita seorang Byun Baekhyun, dia pasti akan menjawab kalau dia ingin menjadi penyanyi terkenal. Ya, itu adalah kata-kata paling percaya diri yang pernah Baekhyun utarakan bahkan sejak ia masih menjadi anak kelas empat sekolah dasar. Dan siapa sangka, ucapan anak bau kencur menjadi kenyataan beberapa tahun kedepan, dengan hutang kerja keras dan bumbu keberuntungan, hingga menjadi Baekhyun yang seperti sekarang ini. Byun Baekhyun, Asian ballad prince, main vocal EXO grup terkenal di seluruh asia dan dunia, adalah dirinya. Ya, sekarang dia sudah menjadi penyanyi terkenal, dan pada saat itulah dia menyadari bahwa ia punya cita-cita lain.

Apalagi yang di cita-citakan oleh seorang penyanyi terkenal selain tidur siang. Menyempatkan tidur siang bagi seorang artis terkenal semacam dia bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Mustahil sekali untuk mendapatkan waktu beristirahat disela-sela kesibukannya yang padat. Jangankan untuk tidur siang, untuk tidur cukup setiap malam saja hampir tidak mungkin. Jadwal mereka ynag sudah tertata padat merayap mulai dari pagi sampai ketemu pagi, memungkinkan mereka hanya dapat tidur paling beruntung selama tiga jam saja. Nah kalau sudah bertepatan dengan nasib sial berada di tangan mereka, waktu istirahat tiga jamnya juga raib dimakan jadwal.

Seperti halnya hari ini, Baekhyun dan EXO kembali ke rutinitas mereka yang menggila. Mereka tidak sempat untuk menarik nafas santai, bahkan untuk mengaduh lelah pun mereka tak di ijinkan. Mereka harus tetap tampil tampan, bugar, sehat dan bersemangat meskipun otak, jiwa, dan raga mereka sudah meraung ingin beristirahat, berlibur atau melarikan diri kemanapun itu dari hiruk pikuk pekerjaan selebritas mereka.

“Aku ingin makan spageti.” kata Chanyeol tiba-tiba memecahkan suasana keheningan di dalam mobil. Saat ini Baekhyun, Chen, Chanyeol dan manajer mereka sedang berada diperjalanan menuju ke salah satu stasiun televisi untuk melakukan rekaman acara.

“Bilang saja kalau kau ingin pulang dan makan spageti buatan mama mu yang konon legendaris.” kata Chen menimpali, dan Chanyeol mendesah panjang.

“Kau benar, dan aku rindu jitakan tangan Yoora.”

Baekhyun terkekeh pelan lalu melihat keluar jendela, menatap langit yang berwarna biru pucat. Jangankan Chanyeol, Baekhyun juga merindukan ketenangan rumahnya dan sup rumput laut buatan ibunya. Enak sekali dimakan, apalagi di cuaca dingin seperti ini, dan…

Baekhyun menguap lebar, kelopak matanya menjadi semakin berat dan otaknya sudah seperti mobil yang kehabisan aki. Dia butuh sesuatu untuk memulihkan tenaganya, atau setidaknya dia butuh sesuatu untuk mengurangi rasa kantuknya.

Hyung!”

Wae Baekhyun?” sahut manajer Hyung dari kursi kemudi.

“Bolehkah kita mampir sebentar di salah satu café? Tampaknya aku butuh secangkir kopi.”

“Aku juga.” kata Chen.

“Aku juga.” tambah Chanyeol.

Baekhyun samar-samar mendengar manager hyung mendesah panjang, tahu kalau dibalik tengkoraknya sebenarnya dia punya pikiran tak sepakat karena cafein kopi tidak baik untuk kesehatan mereka atau semacamnya. Tapi apa boleh buat, tiga lawan satu, dia harus mengalah.

“Kita tak punya banyak waktu Baek.” kata manajer Hyung memperingatkan ketika Baekhyun memasang topi dan masker di wajahnya, bersiap turun dari mobil, “Kuberi kau waktu paling lama lima menit.”

“Oke.” kata Baekhyun asal lantas melintasi trotoar dan menerobos pintu café.

Udara hangat dan wangi kopi langsung menyeruak hidung Baekhyun ketika ia membuka pintu. Tubuhnya tiba-tiba menemukan kembali tenaganya, seolah aroma kopi yang melayang di ruangan itu memberikan suntikan energi melalui pernapasan. Tanpa basa-basi dia berjalan menuju konter dan semakin mengeratkan topinya ketika berpapasan dengan seorang gadis remaja, takut kalau dia dikenali.

“Satu Frappuccino, dua Macchiato dan satu Green Tea Latte.” kata Baekhyun pada penjaga konter yang mencatat pesanannya, lantas menyarankan Baekhyun untuk duduk sambil menunggu pesanannya di buat. Baekhyun mengangguk singkat, lalu mengenyakkan di salah satu kursi yang mejanya tak jauh dari konter. Mata lelahnya menatap ruang café degan bosan. Memperhatikan pola lantai kayunya, menilai aksen ruangannya yang di dominasi warna coklat, mengukur selera desainer interior café, hingga membandingkan luas ruang café ini dengan dorm mereka. Jelas matanya yang bosan tidak menemukan hal yang menarik di sekelilingnya, bahkan langit-langi café yang tinggi juga tak memberikan kesan baik untuknya. Mood-nya tampak buruk hingga pada akhirnya, iris matanya menemukan hal lain.

Di sisi lain ruangan café terdapat sebuah panggung musik kecil yang diatasnya terdapat seorang gadis yang bernyanyi dengan gitarnya secara live. Dia hanya mengenakan kaos putih panjang dengan jeans hitam yang robek di lututnya. Rambutnya yang berwarna coklat teruarai asal, tampak lembut dibawah siraman lampu panggung.  Dia bernyanyi dengan penuh perasaan, nampak menghayati apalagi ditambah dengan bagaimana dia memejamkan matanya ketika lagu  mencapai nada tinggi. Lebih dari itu, petikan sinar gitarnya yang menggetarkan gendang telinga Baehyun, mengirimkan desiran aneh di sekujur pria itu. Entahlah, rasa-rasanya Baekhyun melihat dirinya bercahaya diatas panggung itu, hingga menyilaukan matanya meskipun berada di kejauhan.

Setelah tadi hidungnya mendapatkan suntikan energi dari bau kopi yang semerbak di seluruh ruangan, kini giliran mata Baekhyun yang memberikan suntikan perasaan aneh yang tiba-tiba membuatnya antusias. Gadis itu. Matanya sulit mengarah ke objek lain, selain dia. Dibalik topinya yang tersemat rendah di kepalanya, Baekhyun diam-diam memperhatikan lamat-lamat. Mulai dari bagaimana cara dia menutup mata ketika mencapai nada tinggi, tersenyum simpul disela jeda singkat, jarinya yang lincah memetik senar, hingga suara lembutnya dengan manis menggelitik telinganya bagai madu, menghangatkan jiwanya, membuat Baekhyun ingin berlama-lama disana. Gadis itu sukses menjungkir balikkan mood Baekhyun secara singkat setelah beberapa saat yang lalu hatinya mengeluh lelah.

“Permisi, ini pesanan anda.” seorang pelayan wanita meletakkan kopi pesanan Baekhyun di meja, bertepatan dengan gadis itu turun dari panggung.

“Berapa semuanya?” kata Baekyun, matanya masih memperhatikan gerakan gadis gitaris itu. Dia sedang berjalan kearahnya.

“Dua puluh ribu won.”

Gadis itu berjalan dengan santai, menyapa beberapa pegawai yang lewat lalu menguncir rambut  coklat panjangnya dengan asal sambil terus berjalan kearahnya. Apa? Apa dia benar-benar berjalan ke arahnya?

“Apa?”

“Dua puluh ribu won, tuan.” ulang si pelayan dan pada saat itulah Baekhyun menyadari kalau dia sedang berada di tengah percakapan dengan orang lain.

“Oh, uhm.” guman Baekhyun, “Maaf. Ini bayarannya.” lalu Baekhyun mengarahkan pandangannya lagi kepada gadis gitaris itu, yang kini berjalan melewati mejanya, ternyata menuju pintu depan hendak keluar.

“Uh,permisi” kata si pelayan gugup ketika Baekhyun bangkit dari kursinya dan sudah siap dengan jinjingan kertas karton yang berisi kopi.

“Ya? Ada apa lagi?” Baekhyun mengeluh di dalam otaknya, karena dirinya terus diintrupsi hingga  kehilangan momen si gadis gitaris.

“Astaga, apakah kau Byun Baekhyun? Omo. Ternyata dugaanku benar,” kata si pelayan cukup lantang untuk mencuri perhatian seluruh pengunjung café, “Anyeong oppa, aku adalah fans EXO.” katanya sambil membungkuk berkali-kali, hingga Baekhyun takut kalau punggungnya akan sakit.

Ah,” hanya itulah kata yang bisa Baekhyun ucapkan, “Jadi kau adalah fansku? Terimakasih.” katanya seramah mungkin, profesionalitas yang biasanya ia tampilkan ke depan kamera kini muncul dan tiba-tiba saja beberapa orang sudah berkerumun di dekatnya, mengangkat kamera ponselnya, membuat susah Baekhyun yang hendak pergi.

“Astaga dia benar-benar Baekhyun dari EXO.”

“Aku tak mengenalinya.”

“Tentu saja dia tidak dikenali, dia memakai masker dan topi sangat rendah.”

Baekhyun hanya bisa tersenyum meskipun hanya mata kecilnya yang menunjukkan lengkungan. Dengan ramah dan sopan dia menjawab beberapa pertanyaan singkat fans-nya yang kebetulan ada di tempat itu. Apa yang sedang ia lakukan, minuman apa yang ia pesan dan apakah ia sudah makan, Baekhyun menjawabnya satu persatu dengan sabar sampai akhirnya matanya menemukan si gadis gitar itu berdiri di paling luar kerumunan.

Gadis itu jelas-jelas membalas tatapan Baekhyun yang tersembunyi di balik bayangan topinya. Hanya beberapa detik tatapan mereka terikat, namun berbagai sensasi aneh muncul di dalam tubuh Baekhyun. Dia berjalan dengan pelan mendekati Baekhyun dan bergabung dengan kerumunan yang melingkarinya. Secara magis, Baekhyun merasa hanyut kedalam wangi kehadirannya yang malu-malu. Sama seperti yang Baekhyun lihat ketika gadis itu berada di atas panggung, dia memancarkan cahaya yang cukup menyilaukan mata hatinya. Sensasi lain yang Baekhyun rasakan adalah, jantungnya terus saja meloncat-loncat senang di dadanya, dan bahkan semakin keras ketika langkah gadis itu maju satu dua mendekatinya.

“Byun Baekhyun, aku juga fan mu.” katanya sambil tersenyum malu yang lantas membuat hati Baekhyun meleleh.

Uh uhmm.” Baekhyun merasakan sekujur tubuhnya mati rasa, kecuali di bagian dadanya yang terus saja berdebar-debar tak karuan. “Terima kasih. Terimakasih sudah mendukungku dan EXO.” Baekhyun mengakhiri kalimatnya dengan mengigit bibirnya, dia tak mengerti. Dia bukanlah tipikal pria pemalu yang suka bersembunyi di punggung orang semacam Tao. Dia bukanlah tipikal orang yang gampang gugup seperti Kyungsoo yang sering melupakan hafalan wawancara. Lantas, kenapa dia bisa bertingkah seperti ini hanya karena gadis itu mengatakan bahwa dia adalah salah satu fansnya. Baekhyun harusnya bisa mengatasi satu gadis, karena menurut Baekhyun berhadapan dengan seribu penonton bukanlah hal yang susah.

Ketika hendak mengatakan suatu hal yang lain, tiba-tiba ponselnya berdering. Baekhyun sudah menduga, siapa lagi yang menelfonnya kalau bukan manager Hyung.

“Aku hanya minta satu cup kopi. Bukan satu galon Byun Baek. Cepat kembali!”

***

“Kenapa kau lama sekali.” kata manajer Hyung, menangkap mata Baekhyun dari kaca spion, tampak tak senang. Tapi Baekhyun hanya bisa membalasnya dengan cengiran.

“Salah satu pelayan mengenaliku, dan akhirnya beberapa orang mencegat jalanku. Aku bisa apa?” lalu Baekhyun menyeruput kopi hangatnya. “Ah, rasanya enak sekali.”

“Aku tak pernah tahu kau menyukai kopi.” kata Chen, masih menikmati kopinya juga.

“Aku selalu menyukai kopi Jong Dae-ah, apa kau tak tahu? Minuman kesukaanku adalah kopi.” kata Baekhyun ceria lalu kembali menyeruput minumannya. Dia benar-benar menikmati kopinya dan sesekali menghirup aromanya, yang mengingatkan Baekhyun akan si gadis gitaris tadi. Tapi sayang pertemuan mereka terlalu singkat dan bahkan Baekhyun tidak tahu namanya. Tentu saja, dirinya akan tampak konyol jika tiba-tiba menanyakan nama salah satu fansnya di depan banyak orang dan bahkan dia sempat berpikir meminta nomor ponselnya? Itu adalah pikiran terliar yang pernah terlintas di kepalanya.

“Kenapa kau tiba-tiba senang seperti itu?” kata Chen, matanya yang menyelidik menilai Baekhyun.

“Secangkir kopi membawakan kebahagiaan.”

“Dia tampaknya mulai tak waras.” sahut Chanyeol dari kursi depan, “Dan sejak kapan kau menyukai kopi? Aku pikir minuman kesukaanmu adalah Bubble tea.”

“Mulai hari ini dan seterusnya, kopi adalah minuman kesukaanku. Ah, apakah aku harus mem-posting selca dengan kopi di Instagram biar semua orang tahu?” lanjut Baekhyun yang berkata lebih kepada dirinya sendiri karena teman-temannya sudah tak tertarik dengan celotehan Baekhyun tentang kopi favoritnya atau semacamnya.

Dia berubah menjadi aneh sejak keluar dari café.

***

“Byun Baekhyun tampak semangat sekali hari ini.” kata Suho.

“Iya, dia bangun lebih awal dibanding hari-hari sebelumnya.” kata Kyungsoo.

“Dia terus saja berbicara soal even fan sign ini.” kata Suho.

“Dan dia terus saja mengomel soal kopi.”

“Apa?” Suho memutar lehernya pada Chanyeol yang mengangguk-angguk. Saat ini mereka berada di acara meet and greet dan fan sign yang di sponsori salah satu merk kosmetik. Acara mereka akan dimulai beberapa menit kemudian, dan sekarang mereka sedang berdiri di belakang panggung. Hanya empat orang yang menghadiri fan sign di tempat ini. Dan salah satunya adalah Baekhyun.

“Dan sejak kapan Byun Baekhyun menyukai kopi?” kata Suho, kini matanya memperhatikan sosok manusia yang bernama Baekhyun itu tertawa dan membuat lelucon bersama manajernya.

“Sejak kemarin.” kata Chanyeol, “Dia berubah aneh dan bersemangat juga sejak kemarin. Padahal dia beberapa hari yang lalu terus saja mengeluh ingin melarikan diri ke Mesir atau semacamnya.”

“Yeah, dia benar-benar semangat.” kata Kyungsoo. “Dia seperti punya batre cadangan.”

***

Baekhyun tidak bisa berhenti tersenyum, dan memang seharusnya begitulah yang dia lakukan. Karena pekerjaannya yang paling penting untuk saat ini adalah tersenyum ramah kepada fans-fansnya yang sedari tadi telah sabar mengantri untuk mendapatkan tanda tangannya.

Lebih dari itu, Baekhyun yang antusias dan semangat secara mendadak, tentunya punya alasan yang kuat. Ya, itu karena Baekhyun kemarin sempat berkata kepada orang-orang yang ada di café untuk meminta mereka datang pada acara fan sign kali ini. Tentu saja, hati kacil Baekhyun menginginkan lebih. Dia ingin si gadis gitaris itu datang pada acara fansign dan hanya pada saat momen itulah Baekhyun bisa tahu namanya dan berbicara lagi padanya.

Dengan sabar, mereka meladeni satu persatu pertanyaan dan menorehkan tinta tebal pada buku, kertas dan foto yang mereka bawa. Beberapa menit berlalu, Baekhyun belum juga menemukan gadis itu berdiri di hadapannya. Setengah jam berlalu, senyum Baekhyun mulai pudar karena rahangnya sudah kaku karena terlalu banyak tersenyum. Setengah jam lebih, Baekhyun mendesah pelan sedikit kecewa, bagaimana kalau ternyata gadis itu tak datang. Hingga akhirnya, barisan fans makin tipis dan Baekhyun merasakan kalau harapannya pupus.

“Oppa, apa kau lelah?”

“Iya, aku lelah.” kata Baekhyun sambil menarik foto besar dirinya yang disodorkan oleh si gadis untuk ditanda tangani. “Siapa namamu dear?”

“Choi Shin Seul.” katanya singkat.

“Nama yang cantik.” kata Baekhyun basa basi lalu dia membubuhkan tanda tangan besar untuk Choi Shin Seul.

“Apa kau mengantuk Oppa? Aku membawakan kopi untukmu.” kata Choi Seul sambil meletakkan dua cup kopi di atas meja lalu pada saat itulah, untuk pertama kalinya Baekhyun mendongak dan melihat wajah fan-nya itu.

Hati Baekhyun terasa meleleh ketika mendapati gadis itu tersenyum. Ketika mata mereka bertemu, jantungnya berdegub tak nyaman dengan tempo cepat, seperti kemarin. Tanpa berpikir panjang, Baekhyun tersenyum ke arahnya dan berdo’a semoga senyumannya tersimpan  jelas di dalam memorinya.

“Ah, kau penyanyi café itu.”

Perkataan Baekhyun yang tiba-tiba itu membuat si gadis tertegun, “K-kau mengingatku?”

“Tentu saja, siapa yang bisa melupakan wajah dari suara indah yang seperti kau miliki?”

Seul tersenyum senang lantas diam-diam menyentuh pipinya yang terasa terbakar.

“Beberapa hari lagi, OST yang aku nyanyikan akan rilis. Aku harap kau mau mendengarkan laguku dan terus mendengarkannya setiap hari.”

“Tentu saja, oppa. Aku adalah fan-mu. Dan dengan senang hati aku akan mendengarkan lagumu setiap hari.” katanya ramah, dan mengakhiri ucapannya dengan senyuman manis. Sial, dada Baekhyun berdegub sakit lagi.

“Dan aku adalah fan mu.” katanya sedikit rendah.

“Apa?”

“Aku adalah fan mu, nona Choi. Sejak pertama kali aku melihatmu bernyanyi dan bermain gitar, aku langsung menyukaimu.”

Well, Baekhyun Baekhyun. Sepertinya dirimu harus menghentikan segala ucapan berbahayamu sebelum hal yang lebih tak terduga keluar dari mulut embermu, rutuk Baekhyun di dalam hati. Sedangkan disisi lain, Seul tidak bisa berkata-kata. Dia terlalu sibuk menyentuh pipinya yang terbakar dan sebisa mungkin tidak menangis konyol karena terlalu bahagia mendengar pujian Baekhyun.

“Terima kasih, suatu kehormatan untukku.”

“Aku senang bertemu denganmu.” kata Baekhyun tulus, hingga efeknya terasa sampai ke ulu hati Seul.

“Te-terima kasih. Aku juga senang bertemu langsung denganmu oppa.”

Sebenarnya Baekhyun ingin berkata-kata lebih banyak, tapi apa boleh buat, salah satu staf menghampirinya dan menyuruh Choi Seul untuk pindah karena dia sudah terlalu lama berdiri di depan Baekhyun.

“Uhm, Oppa aku harus pergi, terimakasih banyak.” katanya membungkuk ramah beberapa kali kepada Baekhyun dan di balas anggukan ringan lalu mengucapkan kalimat yang membuat isi perut Choi Seul menghilang.

“Sama-sama, lain kali aku akan membeli kopi sendiri di café mu. Dan tetaplah menjadi fan setiaku, beautiful.”

***

“BYUN BAEKHYUN! BERHENTI MENGAJAKKU KE CAFÉ DAN PERGI BELI KOPI SENDIRI SANA!”

Ya, itu adalah raungan keras dari Park Chanyeol seteleh beberapa hari terus saja dengan patuh menemani Baekhyun membeli kopi di café yang sama, padahal rasanya juga tak ada istimewanya dan nyaris sama dengan rasa kopi aneh yang pernah Minseok buat. Secara rutin, Baekhyun terus saja pergi ke café yang sama yang kopinya pernah mereka beli, entah itu lima hari sekali, seminggu sekali atau seminggu dua kali.

Dan sejak saat itu, para fans mengetahui kalau Baekhyun sangat menyukai kopi karena dia sering mengunggah foto-foto kopi dengan caption yang membuat fans bertanya-tanya apa maksud tersembunyi Baekhyun sebenarnya.


Baekhyunee_exo : What a perfect day with perfect coffee. You  complete me🙂

Baekhyunee_exo: Welcoming me. Dududurududu I’m so excited. Good morning😀

Baekhyunee_exo: I think that it is luck I’ve meet you.

Baekhyunee_exo: When we meet again, I shall tell you, fly to you.

Baekhyunee_exo: Please stay by my side. You’re Beautiful.😄

-fin-

Hello ilachan here🙂

sorry lagi lagi muncul dengan cerita yang ulala gile abis. hihihi. maen-maen ke blog ku juga ya
iruza izate. 

see yaa ilachan🙂

14 thoughts on “Meet Again

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s