Secret Darling | 21st Chapter

shineshen1

:: SECRET DARLING | 21st Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | Jungkook | OC(s) | etc.

Genre : Marriage Life | Romance | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by appinee | Café Poster Art

.

Summary :

Shin Minhee tak pernah terbiasa melakukan interaksi dengan laki-laki semenjak ia dikecewakan oleh cinta pertamanya, sebelas tahun silam. Kini saat ada seorang lelaki lain yang hadir di hidupnya, akankah ia mampu membuka hati untuk kedua kalinya? Ataukah selamanya memang begini takdirnya, terperangkap kasih sang cinta pertama yang kini ikut kembali—menelusup hari-harinya dan memberinya harapan, seperti masa lalu.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter | 14th Chapter | 15th Chapter | 16th Chapter | 17th Chapter | 18th Chapter | 19th Chapter | 20th Chapter

.

“Kai,” panggil Soojeon tiba-tiba. Kai menolehkan kepalanya tepat ketika Soojeon menyambung kembali kata-katanya, “apa kau ada pesan untuk Krystal?”

Kai tercenung sesaat mendapat pertanyaan seperti itu dari Soojeon. Laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya dari Soojeon, menatap permukaan tenang Sungai Han yang memantulkan warna lembayung langit sore. Laki-laki itu menghela napasnya panjang, membuat Soojeon ganti memandanginya.

“Pesan apa?” Setelah menunggu cukup lama, Soojeon hanya mendengar balasan pertanyaan untuknya. Giliran Soojeon yang menghela napasnya, lalu mengalihkan tatapannya sejenak dari Kai.

“Pesannya terserah padamu,” jawab Soojeon cepat tanpa berpikir terlalu lama. “Atau kau merasa pesan itu begitu privasi, sehingga lebih suka membicarakannya berdua langsung dengan Krystal? Oh, kau bisa menitipkan surat. Tenang saja, suratmu akan tiba sebelum segelnya rusak.”

Kai tertawa kecil mendengar celotehan Soojeon. Gadis itu hanya mengulaskan senyumnya sambil memandangi Kai lagi.

“Kenapa tertawa?”

Kai mencoba berkata di tengah gelak tawanya yang masih tersisa. “Aku… Aku hanya tak menyangka kau akan berubah menjadi orang seperti ini, Soojeon. Sangat tidak Kwon Soojeon sekali, ya.”

Soojeon mengerucutkan bibirnya kecil. “Memangnya kenapa denganku saat ini?”

“Kapan terakhir kali kita bertemu dan saling berbicara?” Kai kembali menimpali pertanyaan Soojeon dengan tema berbeda. “Sudah bertahun-tahun yang lalu, sepertinya.”

“Pembicaraan kita hanya bertahan beberapa bulan setelah kelulusan, Kai,” tambah Soojeon. “Kita sama-sama tahu bahwa kita diterima di Hanguk University, tapi kita sengaja tak mengungkit itu, dan tepat di hari pertama kuliah kita tidak saling berbicara lagi.”

“Namun untuk pertama kalinya, hari ini, aku ingin tahu alasan dibalik semua pengakuanmu itu,” sambung Soojeon lagi. Kai baru saja akan menimpalinya dengan pertanyaan, namun Soojeon segera melanjutkan kalimatnya. “Pengakuanmu di depan semua orang bahwa kau adalah pacarku. Mengapa, Kai? Kita sama sekali tidak berkencan, namun kau mengatakan semua itu pada orang lain.”

Kai sejenak terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan Soojeon. Laki-laki itu kembali memandangi permukaan Sungai Han yang memantulkan warna lembayung semakin gelap, namun tak bisa memungkiri untuk melirik Soojeon dari sudut matanya.

“Aku…” Kai menggumam sesaat, “aku punya alasan sendiri, Soojeon. Mengapa kau begitu ingin tahu?”

Soojeon menggeleng pelan. “Aku harus tahu, Kai. Kau yang mengajakku terjebak dalam permainanmu ini, jadi aku harus tahu.”

Kai kembali meragu. “Aku melakukan itu karena aku… Aku… Aku tahu aku bersalah, Soojeon. Aku mendekatimu dengan harapan bisa memperbaiki semuanya. Tentangmu, tentang Sulli, tentang Krystal, tentang segalanya. Semenjak hari itu aku tak bisa berpikir tenang, Jeon. Semenjak wisuda kelulusan yang menorehkan luka lebih dalam di hatimu, aku tahu aku yang bersalah di balik semua penderitaanmu atas kelakuan Krystal.”

Mendengar kata-kata Kai, Soojeon sedikit terkesiap, membuatnya nyaris melelehkan airmatanya lagi. Ia kembali teringat pada wisuda terakhir yang dilaluinya sebelum hari ini, wisuda SMA-nya. Momentum yang seharusnya membahagiakan, momentum yang seharusnya mengharukan, momentum yang seharusnya meninggalkan kesan sempurna dalam hatinya sebelum melepas sang sahabat melanjutkan studi ke negeri orang.

Semuanya berubah hari itu, sama sekali tak memenuhi harapan kecil Soojeon. Membahagiakan untuk Soojeon saat menemukan bahwa ia dan Krystal termasuk dalam deretan dua puluh besar lulusan terbaik, dan seharusnya ketika mendengar pengumuman itu mereka bertiga langsung berpelukan dengan riang. Namun tidak hari itu. Ketika Krystal menyampaikan pidatonya sebagai lulusan terbaik peringkat kelima, Krystal mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati Soojeon lebih dalam, membuat Soojeon menangis di kursi kelulusannya.

Saat itu semua hadirin koor tertawa dan melepaskan ratusan tepuk tangan untuk pidato Krystal yang sedikit menggelikan atau aneh, itu terjadi karena mereka tak mengerti apa yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh gadis itu. Gadis itu terlalu jujur berkata, berlainan dengan dugaan semua hadirin bahwa ia sengaja menggunakan konotasi atau melontarkan berbagai kata-kata kosong untuk menambah durasi pidato. Hanya Soojeon, Sulli dan Kai yang mengerti maksud sebenarnya dari kata-kata Krystal dan juga senyum palsu gadis itu selama berada di mimbar pidato.

Mengingat itu, Soojeon jadi ingin menangis lagi. Gadis itu terpaksa menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan genangan air di pelupuk matanya dari perhatian Kai. Soojeon telah banyak merubah kepribadian sosialnya, maka ia tak ingin kembali memperlihatkan sisi rapuhnya di depan Kai. Tidak ingin.

“Baiklah, sampaikan salamku saja untuknya, Jeon,” ucap Kai tiba-tiba, menghapus ilusi menyedihkan Soojeon sejenak. Gadis itu menyeka airmatanya diam-diam sebelum kembali menatap Kai yang masih ada di sisinya. Lelaki itu tersenyum, membuat luka Soojeon semakin nyata.

Ada perasaan yang selama ini masih disembunyikan Soojeon rapat-rapat dalam hatinya. Ia masih memungkiri bahwa ia juga mencintai Kai, tak berbeda dari masa lalu, dan itu masih berlaku hingga detik ini. Soojeon masih menyimpan perasaannya untuk Kai, setelah tahun-tahun yang telah terbuang percuma di antara mereka. Maka hingga detik ini, tatapan Soojeon pada Kai tak pernah berubah dari masa lalu. Tatapan sendu, penyesalan karena tak berhasil memiliki.

“Kapan kau akan berangkat?” tanya Kai.

“Mungkin… Musim panas nanti. Tahun ajaran baru di Barat berlaku selesai liburan musim panas, setahuku,” jawab Soojeon dengan suara kecil, tak ingin menunjukkan suara seraknya pada Kai.

“Baiklah, beritahu aku jika kau akan berangkat,” Kai mengerling, lalu memulai langkahnya. Ia bersiap pergi, membuat hati Soojeon sedikit mencelos melihat kepergian lelaki itu.

“Kau akan datang?” tanya Soojeon pelan.

“Ya, tentu saja,” jawab Kai sambil menolehkan kepalanya lagi ke arah Soojeon. “Jangan lupa menghubungiku lagi, Jeon. Oh ya, kau masih menyimpan nomor ponselku, kan?”

Soojeon menggeleng gelagapan.

“Oh, astaga,” keluh Kai sambil memutar langkahnya kembali pada Soojeon. “Mengapa kau menghapusnya?”

Soojeon memandangi Kai, namun tak berkata apa-apa saat Kai menuliskan deretan nomor di atas kulit tangan bagian bawah milik gadis itu. Dekat dengan nadi Soojeon. Kai melakukan itu secara spontan tanpa memikirkan izin dari gadis itu, dan gadis itu juga tidak melancarkan protes apapun.

“Dari mana kau mendapatkan pulpen?” tanya Soojeon polos.

Kai tersenyum kecil. “Oh, aku selalu membawanya kemanapun setiap hari, Kwon Soojeon.”

Soojeon kembali terdiam sampai Kai selesai menuliskan deretan nomor ponselnya di atas kulit hasta gadis itu.

“Ingat untuk jangan pernah menghapusnya sebelum kau salin di kontak,” Kai mengingatkan sekali lagi, kali ini sambil benar-benar beranjak meninggalkan Soojeon.

Soojeon menganggukan kepalanya, walaupun Kai yang sudah mulai jauh tak menolehkan kepalanya sekali lagi untuk melihat anggukan itu. Perlahan senyum Soojeon terulas untuk sang lelaki.

“Aku akan mengingatnya selalu, Kim Kai.”

 

.

.

| 21st Chapter |

.

.

 

 

Kai kembali mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota Seoul di bawah langit yang sudah gelap. Kali ini ia mengemudi pulang menuju rumahnya, dan ia tak bisa memungkiri bahwa perasaannya masih sedikit berputar-putar selepas pertemuannya dengan Soojeon di Hangang Park. Pertemuan itu begitu tak disengaja, ia pun tak mengerti mengapa Soojeon bisa berada di satu tempat dan satu waktu yang sama dengannya. Perasaan yang telah terkubur bertahun-tahun lamanya itu seakan menguar kembali, memunculkan sensasi asing yang tak bisa ia mengerti.

Kai memukul ringan setir mobilnya, berharap putaran arus perasaan itu kembali tenang seperti sedia kala. Tak lagi mengganggunya. Namun harapan itu nihil karena putaran arus itu malah semakin nyata bercokol dalam kepalanya, perlahan turun dan kembali menyerang hatinya.

Apakah ia masih menyimpan hatinya untuk gadis introvert itu?

 

Kai berhasil tiba di kediaman keluarga Kim dengan selamat, dan beruntung sejauh ini bayang-bayang gadis itu tak sampai mengacaukan konsentrasi mengemudinya terlalu jauh. Kai menghentikan mobilnya di depan pintu garasi, menahan waktu membunyikan klakson sebagai tanda pada orang rumah bahwa ia sudah pulang. Lelaki itu masih tercenung di kursi mobilnya dengan membiarkan deruman mesin menyala.

Tak lama kemudian Kai menyadari siluet seseorang berpostur tinggi sepertinya melintas di samping mobil. Kai mengendikkan kepalanya cepat, dan seketika menyadari bahwa orang itu adalah Sehun. Ya, sudah beberapa hari ini Sehun menginap di rumahnya. Hingga detik ini Kai masih belum berhasil mendapatkan alasan mengapa lelaki itu meninggalkan Minhee di apartemen, namun ia menduga bahwa masalah itu cukup serius. Kai tahu Sehun tak mungkin pulang ke rumah orangtuanya, ia bisa menebak bagaimana reaksi Luhan saat melihat kepulangan Sehun tanpa Minhee. Satu-satunya jalan adalah menginap di rumah Kai, meskipun ia harus berbohong tentang kenyataan yang terjadi pada anggota keluarga Kim yang lain.

 

“Sehun!” panggil Kai cepat sebelum Sehun berhasil mencapai pintu pagar. Lelaki berkulit pucat itu seketika membalik tubuhnya menghadap Kai yang baru saja turun dari pintu kemudi mobilnya. Wajah Sehun masih memandangi Kai tanpa ekspresi, seolah-olah mereka orang asing dan tak mengenal satu sama lain. Kai semakin terganggu.

“Sehun, kau belum mengatakan alasanmu,” ucap Kai menuntut penjelasan. “Kau pasti meninggalkan Minhee di apartemen, kan? Baiklah, kau bebas menginap di rumahku sampai kapanpun asalkan sekarang kau mengatakan alasan mengapa kau kabur dari apartemenmu.”

Sehun masih memandangi Kai tanpa ekspresi, sebelum akhirnya lelaki berkulit pucat itu mengalihkan pandangannya dari temu tatapnya dengan Kai. Kai semakin curiga pada kelakuan Sehun.

“Sehun, jawab aku!”

 

“Kai, Sehun, sedang apa kalian di sini?” Terdengar suara kakak kedua Kai yang tiba-tiba ikut bergabung di antara mereka. Otomatis kedua lelaki itu memandang ke arah sang wanita, membuat sang wanita yakin bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh adiknya itu.

“Aku baru saja keluar rumah untuk membuang sampah, lalu kulihat kalian berdiri di sini dengan atmosfer tegang,” ujar wanita itu mencoba mencairkan suasana, menjelaskan alasan mengapa ia tiba-tiba hadir di sana dengan sekantung plastik besar berwarna hitam. “Ada apa dengan kalian? Kalian tidak masuk ke dalam?”

“Aku baru saja akan masuk, Noona,” jawab Sehun lalu tersenyum tawar. “Kai, Noona, sebaiknya aku masuk sekarang. Permisi.”

“Silahkan, Sehun.” Kakak Kai tersenyum mempersilahkan Sehun untuk mendahului mereka masuk ke dalam rumah, sedangkan Kai malah memandangi Sehun dengan ekspresi jengkel.

Wanita itu segera menyadari perubahan ekspresi Kai, ia mengerutkan keningnya, semakin bingung dengan permasalahan apa yang sedang terjadi di antara kedua anak lelaki itu.

“Kai, ada apa sebenarnya?” tanya wanita itu penasaran.

“Entahlah, Noona,” jawab Kai datar. Lelaki itu memutar langkah menuju mobilnya kembali, membuat kakaknya semakin bingung.

“Kai!”

“Aku pun tak mengerti ada apa dengan dia, oke?” Kai menjawab pertanyaan kakaknya dengan perasaan jengkel. Sang kakak menatap Kai tak mengerti, namun tetap menyingkir dari depan mobil Kai saat adiknya itu kembali menghidupkan mesin mobil yang tadi sempat mati.

Kai sedikit berlebihan saat menstarter mobilnya. Wanita itu sampai terkejut saat Kai melajukan mobilnya secara tiba-tiba ke dalam pintu garasi. Oke, sekarang ia mulai kesal pada adik lelakinya itu.

“Kai!” serunya lagi untuk kedua kali. “Jika kau kesal padanya, jangan lampiaskan padaku! Dasar adik menyebalkan!”

 

***

 

Gadis itu memasuki gerbang kampusnya dengan perasaan yang masih berantakan. Semuanya tak pernah jauh berbeda semenjak tragedi itu, tragedi yang membuat Sehun marah besar dan memutuskan meninggalkannya. Ia tak pernah bisa baik-baik saja semenjak Sehun pergi, keadaannya jauh lebih parah dibanding saat ia pergi meninggalkan Sehun. Bukankah ia sudah pernah bilang, ia adalah wanita dengan hati yang rapuh?

Minhee mengalah pada rasa sakitnya. Ia membiarkan ingatan demi ingatan itu menusuk hatinya lebih dalam, membiarkan rasa sakit itu semakin menenggelamkannya dalam kesengsaraan. Ia membiarkan kepalanya masih mengingat kejadian saat Sehun menyakitinya, menurutnya itu lebih baik dibanding ia tak mengingat Sehun sama sekali.

Walaupun hati kecilnya terus berbisik: kau salah, Minhee. Mengingatnya malah akan membuatmu semakin terluka. Kau menyakiti dirimu sendiri.

 

Hari ini Minhee memutuskan untuk kembali ke jadwal kuliahnya yang lama. Keluar dari kru drama membuatnya tak lagi memiliki tanggung jawab untuk meneruskan jadwal kuliahnya yang baru, maka ia memutuskan untuk kembali ke jadwalnya yang lama. Kembali sekelas dengan Melanie, Mingyu, serta beberapa temannya yang tak pernah terpilih menjadi pemeran drama sejak awal.

Dan ia akan kembali sekelas dengan Minchan. Ia tak sabar ingin segera bertemu dengan Minchan. Betapa ia merindukan sahabatnya itu, sahabat yang selalu menjadi buku hariannya di saat ia bahagia atau saat ia harus meneteskan airmata. Minchan memang bukan orang paling pengertian di dunia, namun kehadirannya mampu membuat Minhee menghirup udara lebih banyak. Gadis itu melegakan Minhee hanya dengan kehadirannya saja.

 

Gadis dengan nama keluarga Shin itu melangkahkan kakinya menuju salah satu kelas yang ia yakini sebagai jadwal pertama kelas lamanya hari ini. Dalam hati ia juga menyimpan was-was, takut bertemu Jungkook ataupun Eunjee di sepanjang perjalanan. Mereka pasti akan bertanya macam-macam padanya mengapa ia memutuskan tak bergabung lagi menjadi kru drama. Bukannya ia tak ingin menjawab, ia hanya sedang tak mampu menjawab. Keadaan hatinya yang sedang parah tak membantunya, ia benci ditanyai.

Minhee sedikit mengintip saat akan menjejakkan langkah pertamanya di atas lantai ruang kelas itu. Awalnya ia merasa asing karena cukup lama tak bertemu pemilik wajah-wajah yang ada di sana, namun perlahan perasaan hangat mulai memeluknya ketika ia meyakinkan hati lebih kuat. Formasi penghuni kelas sejak awal tak banyak berubah. Masih ada Melanie Lee si gadis half-American, Kim Mingyu si anak laki-laki yang selalu membicarakan wanita di manapun ia berada, Jung Jaehyun si anak laki-laki yang supel dan selalu tersenyum, dan banyak lagi sosok-sosok yang tak mungkin ia sebutkan satu persatu. Dan Minhee tak bisa mengabaikan hatinya yang semakin melambung haru ketika matanya berhasil menangkap siluet seorang gadis yang masih ia ingat dengan baik. Gadis mungil yang selalu cerewet, bukan orang paling pengertian di dunia tapi ia mampu mengerti kepribadian Minhee yang sulit. Park Minchan, sahabatnya sejak pertama kali ia mengenal masa remaja.

Minhee melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas secara perlahan, berharap tak banyak orang yang menyadari kedatangannya. Namun asanya gagal total saat mata Mingyu si cassanova berhasil menyadari kedatangannya. Saat Mingyu memerhatikannya lamat, otomatis mata semua anak di kelas ikut memerhatikan obyek yang ia pandangi. Minhee sedikit salah tingkah, langkahnya membatu di tengah ruangan kelas saat puluhan tatapan anak satu kelas menguhujaninya dengan tanda tanya. Oh ayolah, Minchan malah tidak memandanginya. Gadis itu justru sibuk berkutat dengan buku komiknya. Dasar sahabat tidak peka.

 

“Shin Minhee?” Lagi-lagi Mingyu yang pertama kali bersuara. “Kau? Bukankah kau punya kebijakan kelas yang baru?” Dan saat itulah Minhee baru melihat Minchan ikut memandaginya. Gadis itu tampak kaget.

“Minhee? Kau tidak bersama Eunjee?” tanya Junhoe, setelah lama ia ikut memperhatikan kedatangan Minhee. Oke, baiklah, Minhee memang pernah mendengar desas-desus bahwa Junhoe menyukai Eunjee.

Uhm… Mana… Jungkook?” Melanie ikut bertanya namun nada suaranya terdengar gamang dan sedikit aneh.

Mihee berdehem sejenak. “Mereka masih ikut kebijakan kelas yang baru,” jawab Minhee pelan sambil memainkan tas selempangnya.

“Lalu bagaimana denganmu?” tanya Melanie.

“Aku…” Minhee menggumam sesaat, “aku… Aku mundur. Aku tak lagi menjadi kru drama. Aku mengundurkan diri.”

“APA?!” Minhee mendengar satu kelas berseru kaget. Gadis itu memandang teman-temannya dengan sedikit salah tingkah, apalagi menyadari mata Melanie yang membelalak lebar melebihi reaksi teman yang lain.

“Kau mundur dari peran utama?!” Melanie berseru syok. “Astaga, apa yang ada di pikiranmu, Minhee?!”

Minhee hanya mampu menundukkan kepalanya, merasa tak mampu menjawab pertanyaan itu.

“Melanie, jangan berteriak-teriak pada Minhee, oke?” Jung Jaehyun melerai dengan nada suara pengertiannya seperti biasa.

“Oh, dia gadismu, Jaehyun?” sindir Melanie.

“Melanie!” Kali ini Jaehyun ikut terpancing, ia berseru kesal.

“Astaga, astaga, sudahlah jangan bertengkar!” Minchan akhirnya maju. Mata gadis itu melirik Jaehyun dan Melanie secara bergantian. Ia melangkah mendekati Minhee, namun tak cukup membuat dengungan pertanyaan dalam kelas itu berhenti.

Minhee memandang Minchan, kemudian menundukkan kepalanya kembali. Minchan tahu Minhee pasti punya alasan mengapa ia mengundurkan diri dari drama kampus. Ia bisa membaca itu, namun masih tak cukup kuat untuk menebak apa alasannya.

“Minhee-ya, ikutlah denganku. Membicarakan segala sesuatunya di kelas ini sedang tak aman. Kau mengerti, kan?” bisik Minchan lalu tersenyum tipis.

Minhee menganggukan kepalanya. Diam-diam ia mengikuti langkah Minchan yang membawanya keluar dari kelas itu. Membiarkan Melanie masih terus berdebat dengan Jaehyun, juga Junhoe yang sedikit kelimpungan menggali informasi tentang Eunjee.

Minchan membawanya menuju salah satu sudut ujung koridor yang aman, cukup jauh dari kelas mereka sebelumnya. Selama itu pula jantung Minhee kembali berdetak dengan keras, memikirkan segala hal yang harus ia ceritakan pada Minchan. Sahabatnya itu belum tahu apapun hingga detik ini. Ia belum tahu tentang kehadiran Daeun, belum tahu bahwa belakangan ini Minhee semakin dekat dengan Jungkook, juga tentang Sehun yang meninggalkannya, dan yang terparah melemparkan cincin pernikahan miliknya di depan mata Minhee. Mengingat kejadian sore itu membuat Minhee kembali terluka. Betapa hancur perasaannya ketika Sehun pergi, membuat pernikahan mereka benar-benar ada di ujung tanduk kali ini. Minhee tak tahu apakah semuanya masih bisa diselamatkan atau tidak. Terlalu banyak kata terlambat.

 

“Minhee, ada apa denganmu?” Pertanyaan Minchan membuat Minhee kembali ke dunia nyatanya seketika. Gadis itu mengerjapkan matanya, dan untuk pertama merasa sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi. Ketika melihat pandangan serius Minchan, ia baru menyadari semuanya.

“Aku…” Minhee menggumam ragu-ragu. Rasa sesak itu kembali mengganggunya, lidahnya juga terasa kelu untuk menceritakan segala perasaannya saat ini. Semuanya masih terasa begitu asing, bahkan ia tiba-tiba saja merasa canggung untuk bercerita pada Minchan karena selama ini ia memang sudah terbiasa memendam sendirian permasalahannya.

“Kau mundur dari drama?” tanya Minchan dengan nada tak percaya.

Minhee menganggukkan kepalanya pelan, sepintas rautnya terlihat menyesal atas hal itu.

“Ada apa?” tanya Minchan lagi. “Apa kau merasa tidak nyaman berada di dekat Jungkook?”

“Bukan,” jawab Minhee cepat. Sejurus kemudian kening Minchan tampak mengerut, namun ia tak mengatakan apa-apa.

“Banyak hal yang belakangan ini tak sempat kuceritakan padamu, Minchan,” Minhee melanjutkan kata-katanya, mulai berani untuk menceritakannya lebih jelas. Gadis itu mengangkat pandangannya, menatap Minchan sendu. “Tentang pernikahanku. Kami berpisah. Semuanya hancur…”

“Berpisah?!” Minchan terlihat kaget. “Minhee, jangan main-main dengan kata itu. Apa maksudmu dengan ‘berpisah’?”

“Kami memang berpisah.” Suara Minhee mulai terdengar bergetar. Gadis itu mengambil sesuatu dari dalam saku kecil tasnya, lalu menunjukkannya perlahan pada Minchan. Minchan tercekat memandang dua buah logam melingkar yang ada dalam genggaman tangan Minhee.

“Kau…”

Minchan tak sempat melanjutkan kalimatnya karena Minhee sudah terlebih dahulu memeluk dirinya dengan tiba-tiba. Minchan masih tercekat saat Minhee memeluknya begitu kuat, Minchan membiarkannya karena ia tahu itu adalah pelampiasan dari sebuah rasa frustasi. Hatinya ikut terluka saat membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Minhee saat ini, ketika sayup ia mulai mendengar isakan Minhee dari balik bahunya.

“Dia membenciku, Minchan,” Minhee berjuang keras mengucapkan kata itu di sela sesenggukannya yang terdengar menyedihkan. “Aku hancur mendengarnya berkata begitu. Dia membenciku, Minchan. Dia membenciku. Dia bahkan tak sudi lagi menyimpan cincin ini sebagai tanda bahwa dia pernah terikat bersamaku.”

Rasa sesak ikut bersarang di dada Minchan saat ia mendengarkan semua kata-kata Minhee. Sebagai sahabat, Minchan tahu betapa besar Minhee mencintai Sehun, seberapa dalam gadis itu telah jatuh pada perasaannya. Minhee tak pernah punya waktu yang cukup untuk mengatakan itu semua pada Sehun, meskipun ia selalu berangan bisa mengatakannya semudah Sehun mengatakan cinta pada gadis itu. Namun kini agaknya semua kesempatan itu telah tertutup. Minhee tak pernah punya kesempatan untuk mengatakan betapa rasa cintanya pada Sehun telah menenggelamkannya begitu dalam, seakan ia tak mampu menghirup udara lagi.

Airmata mulai mengambang di pelupuk mata Minchan, menunggu untuk jatuh. Kesakitan Minhee adalah kesakitannya juga, bagaimanapun ia telah menjadi bagian dari hidup sahabatnya itu selama beberapa tahun ke belakang. Jadi sekarang sedikit banyaknya ia bisa merasakan betapa rasa sakit itu mencekik Minhee hingga ia seakan tak mampu bernapas. Ditinggalkan oleh Sehun adalah kehilangan yang saat ini terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kehilangan yang dulu pernah Minhee rasakan karena Jungkook.

Minchan tak berkata apa-apa saat ia membiarkan airmata itu turun dari matanya. Ia hanya menggenggam bahu Minhee kuat, membiarkan Minhee menangis semakin keras di bahunya.

“Dia bukan laki-laki yang terbaik untukmu, Minhee,” Minchan berkata lirih, namun cukup jelas untuk bisa Minhee dengar. “Jika dia yang terbaik untukmu, dia tidak akan pernah mencampakkan perasaanmu seperti ini. Jika dia membencimu, biarkan hatimu membencinya juga. Lupakan dia.”

Minhee menggelengkan kepalanya. Ia tidak mampu, ia tidak sanggup. Minhee tak bisa bangkit dan menatap mata Minchan langsung. Ia tahu Minchan sama terlukanya sekarang, namun ia tak bisa menjadi setegar yang Minchan katakan.

Minhee masih menikmati rasa sakit yang semakin menekan dadanya ketika matanya tak sengaja menangkap pemandangan yang lain. Atensinya terpaku, menghiraukan pandangannya yang masih mengabur oleh airmata. Beberapa meter di depan sana, semuanya terasa seperti déjà vu. Ia kembali melihat pemandangan itu, ia kembali merasakan sakitnya. Ia tak pernah pangling mengingat sosok gadis itu, sebagaimana Sehun yang tak pernah pangling mengingat sosok Jungkook.

 

Minhee kembali melihat Daeun. Gadis bermata kecil dengan surai pirang itu ada di depan sana, berjarak beberapa puluh meter saja dari posisi Minhee menapak. Dan sama seperti kejadian yang merobek hati Minhee kemarin, gadis itu tak sendiri. Entah sudah seberapa dekat kembali hubungan antara gadis itu dengan Sehun, Minhee tak tahu pasti. Minhee tak pernah diizinkan untuk tahu. Yang jelas Minhee hanya bisa melihat bahwa mereka berdua semakin dekat. Kenyataan itu menyakiti hati Minhee melebihi apapun, membuat tanpa sadar Minhee mencengkram bahu Minchan lebih kuat daripada sebelumnya. Gadis itu terus terisak, walau matanya tak bisa berhenti menyaksikan saat Sehun merangkul gadis itu dengan tangan kirinya. Mereka berjalan beriringan menuju suatu tempat yang tak Minhee ketahui, dengan membawa beberapa berkas di tangan mereka masing-masing. Mereka tampak akrab, dekat… Dan Minhee merasakan cemburu mengaliri darahnya seiring detak jantungnya yang semakin tak stabil.

“Minhee-ya, ada apa denganmu?” tanya Minchan cemas ketika menyadari perilaku Minhee yang berubah. Sahabatnya itu tak lagi menangis sesenggukan, hanya isakan kecil yang terdengar darinya sekarang. Namun justru hal itulah yang membuat Minchan cemas.

Minchan berusaha melepaskan pelukan Minhee, namun gadis itu masih bergeming, masih tetap memeluknya kuat. Firasat Minchan semakin tak enak. Beberapa kali ia menegur Minhee, namun Minhee tak merespon. Gadis itu membatu, dan Minchan tak juga tahu apa penyebabnya.

“Minhee…?” Sekali lagi Minchan menegur Minhee, namun gadis itu tak merespon jua. Minchan tak pernah tahu apa yang ada di pikiran Minhee sekarang. Telinga gadis itu seolah berdengung, membuat panggilan Minchan mengabur tanpa suara. Minhee membatu melihat kedekatan Sehun dan Daeun di depan sana, rasanya menyakitkan namun ia tak bisa berhenti. Lagi dan lagi, gadis itu menyakiti dirinya sendiri.

 

Seorang lelaki sebaya mereka tampak menegur Sehun dan mengganggu perjalanan mereka selama beberapa menit. Sehun berbincang sebentar dengan teman lelakinya itu sambil membuka beberapa lembar dari berkas kuliahnya, sedangkan Daeun menunggu di sisi lain sambil menyandarkan tubuhnya pada suatu pilar. Posisi Daeun tepat berhadapan dengan Minhee, sehingga Minhee bisa melihat bagaimana ekspresi gadis itu dengan jelas. Gadis bersurai pirang itu tampak bahagia, tak berhenti menyunggingkan senyum sembari membolak-balik berkas kuliah miliknya sendiri. Beberapa kali Daeun menoleh ke arah Sehun, mungkin untuk mengecek apakah perbincangan dua anak lelaki itu sudah selesai atau belum. Beberapa saat kemudian obrolan antara dua anak lelaki itu sepertinya sudah selesai, dan lelaki asing itu menepuk bahu Sehun layaknya teman. Mereka bertiga sempat berbincang ringan sebentar, hingga si lelaki asing itu menunjuk Daeun dan bertanya sesuatu pada Sehun. Sehun tampak sedikit kaget mendengar kata-kata teman lelakinya itu, lalu sesegera mungkin ia menggelengkan kepalanya sambil mengibaskan telapak tangannya di udara. Sebuah tanda penolakan… Atau penyangkalan?

Minhee mengarahkan pandangannya ke arah lain setelah ia merasa pengamatannya sudah cukup. Gadis itu masih memeluk Minchan dengan erat, namun kini ia sudah tak lagi mencengkram bahu sahabat bertubuh mungilnya itu. Minchan mengakhiri kepanikannya, namun ia masih tak bisa menghapus rasa cemasnya pada Minhee. Minhee masih juga tak merespon panggilannya, dan Minchan sedikit bersyukur ketika perlahan sahabatnya itu mulai melepaskan pelukannya. Minchan menatap Minhee khawatir, ia melihat tatapan gadis itu kosong. Hampa.

“Minhee…?” panggil Minchan untuk kesekian kalinya. Minhee masih tak merespon, ia hanya terdiam.

 

Mengingat bagaimana cara Daeun tersenyum, Minhee tak bisa melupakan bahwa ia juga seorang wanita. Ia wanita dan ia tahu mengapa Daeun tersenyum seperti itu. Ia tahu apa alasannya. Alasan yang berasal dari hati. Karena mereka sama-sama wanita, Minhee mengerti apa yang sedang Daeun rasakan.

Lalu mengingat bagaimana cara Sehun merangkul Daeun tadi…

Minhee memejamkan matanya, membiarkan rasa sakit itu menusuknya semakin dalam.

 

Jika Daeun memang menyimpan hati pada Sehun, apakah Sehun juga merasakan hal yang sama?

 

***

 

Sekali lagi, apartemen itu telah berubah menjadi sepi dan dingin kini. Tak lagi dipenuhi oleh aura hangat seperti berbulan-bulan yang lalu, seperti saat awal-awal pasangan muda itu datang dan menempatinya. Keadaan apartemen itu bersih, terlalu bersih. Sama sekali tak ada tanda-tanda bahwa sang nyonya rumah mengabaikan perawatan interiornya, hanya saja terlihat jelas bahwa interior yang tertata apik itu tampak beku. Tak tersentuh.

Minhee tak begitu suka menyalakan lampu ruangan ketika sedang tak membutuhkannya, dan berhubung selama ini ia mengurung dirinya di dalam kamar, maka lampu di ruangan yang lain mayoritas sengaja dia padamkan. Berbalik dengan kenyataan di masa lalu, Sehun dan Minhee seringkali berdebat soal lampu. Sehun lebih suka membiarkan lampu-lampu dalam keadaan menyala, dengan alasan: ‘toh bukan kita yang membayar tagihan listriknya, Minhee. Jadi biarkan saja.’

Sedangkan Minhee selalu berpendapat sebaliknya: ‘tapi membiarkan lampu menyala tanpa fungsi yang jelas itu pemborosan energi, Oppa!’

Tak ada yang menentang anggapan Minhee itu lagi sekarang. Tak ada Sehun yang bersikeras membiarkan lampu-lampu tetap menyala. Hanya ada Minhee sendirian di apartemen ini, jadi dengan leluasa ia membiarkan lampu-lampu itu padam. Dinginnya suasana tentu menjadi teman hatinya yang sedang temaram.

Minhee masih datang ke kampus beberapa kali demi memenuhi jadwal kuliahnya, walau sejujurnya ia tak terlalu berminat datang ke tempat itu lagi. Sehun membuatnya merasakan sakit hati. Sakit hati yang berujung pada penyesalan, alih-alih benci. Maka sebisa mungkin ia menghindari pertemuan dengan Sehun selama di kampus. Sedikit sulit karena terpaksa beberapa kali Minhee harus bertemu dengan Sehun yang entah mengapa sering berkeliaran di sekitar kawasan fakultas sastra. Bisa juga terjadi saat Minhee yang berkeliaran terlalu jauh dari fakultasnya, sehingga tanpa sadar mulai memasuki kawasan fakultas teknik. Selain itu, semuanya akan menjadi semakin bermasalah ketika Minhee harus melihat Sehun kala bersama Daeun.

Rasanya menyakitkan. Boleh jadi itu adalah perasaan yang dulu sempat Sehun rasakan setiap ia melihat kedekatan Minhee dan Jungkook. Kini Minhee mengerti alasan mengapa Sehun mati-matian membenci Jungkook. Sebenarnya Minhee juga bisa membenci Daeun, hanya saja hati gadis itu terlalu murni untuk membenci kehadiran seseorang. Atau mungkin belum. Minhee belum menemukan alasan yang tepat untuknya membenci Daeun, selain karena ia cemburu.

 

Entah sudah berapa kali Minhee mensyukuri kamar tidur yang selalu membuatnya nyaman itu. Kamar tersebut mempunyai jendela besar yang menghadap langsung ke wajah distrik Yeongdeungpo, memberikannya akses yang bagus untuk melihat pemandangan seisi kota. Beberapa hari belakangan ini Minhee semakin sering duduk di depan jendela itu sambil menyesap minuman hangat, sementara ia membiarkan AC membekukannya dengan suhu udara di bawah normal.

Melihat pemandangan distrik Yeongdeungpo membuat Minhee takjub sekaligus sedih. Ia takjub, sebab sejak kecil ia dibesarkan di distrik Nowon yang selama ini sedikit jauh dari hiruk pikuk jantung kota. Pemandangan yang biasa ia dapatkan hanya berkisar deretan pemukiman, bukannya gedung-gedung pencakar langit dengan segala kesibukan kota yang memusingkan. Namun di sisi lain ia juga sedih karena Sehun tak ada di sampingnya. Minhee tahu bahwa Sehun sedang berada di salah satu lokasi di bawah sana, namun ia tak berhasil menebak itu di mana. Hingga detik ini Minhee masih belum tahu di mana keberadaan Sehun, di mana ia tinggal. Ia tak mungkin bertanya pada orang lain, itu akan membocorkan keadaan bahwa hubungan mereka sedang retak—bahkan kini mereka berpisah. Ia merasakan sakitnya, namun ia masih berat hati membaginya dengan orang lain. Setidaknya untuk saat ini.

Gadis bersurai cokelat gelap itu lepas dari kegemingannya saat perutnya mulai merasa lapar. Entah sudah berapa hari ia enggan menyentuh makanan. Ia hanya mau makan saat Minchan datang padanya dan memaksanya makan bersama, selebihnya ia mengabaikan keadaan perutnya sendiri. Menyesap teh terus-menerus mungkin tidak terlalu bagus. Kandungan kafeinnya sering membuat ia mengalami kesulitan tidur. Ia akhirnya bangkit dan keluar dari kamar untuk mencari sebungkus biskuit yang masih ia simpan di lemari pendingin.

Ia kembali menghadapi ruangan apartemennya yang sepi dan dingin. Gadis itu tersenyum sedih, lalu melangkahkan kakinya menuju dapur. Seringkali ia mengingat kejadian manis apa saja yang pernah terjadi di dapur ini. Sisa-sisa kenangan masa lalunya bersama Sehun. Memandangi meja makan membuatnya semakin sedih. Gadis itu cepat-cepat berlalu dan melangkahkan kakinya menuju kulkas. Sekali lagi ia membatu saat menyentuh handle pintu lemari itu. Beberapa notes masih tersemat bersama magnet batang di permukaan pintunya, membuatnya kembali teringat pada kepingan-kepingan masa lalu itu. Dadanya sesak menahan kesedihan dan tangis yang nyaris tumpah. Ia gadis yang lemah hati, ia tahu. Ia tahu saat ia bisa merasakan lelehan airmata membasahi permukaan pipinya.

Minhee memalingkan wajahnya untuk menyeka airmata itu. Dan saat itulah matanya membentur pintu kamar tamu—pintu kamar Sehun. Entah apa yang membuat Minhee akhirnya menghampiri pintu kamar itu, berharap Sehun sudah tak menguncinya lagi. Pintu itu memang tertutup, namun Minhee berharap ia dapat memasukinya. Ia tahu mengingat segala masa lalunya bersama Sehun akan semakin menusuk jantungnya, menyesakkan paru-parunya, dan menorehkan luka yang semakin dalam di hatinya. Namun ia tak punya pilihan. Ia datang ke sana karena ia merindukan Sehun. Sangat.

 

Gadis itu melupakan sejenak soal perutnya yang kelaparan dan biskuit beku yang masih ada di dalam lemari pendingin. Ia melangkah pelan mendekati pintu itu dan mengulurkan tangannya takut-takut untuk menyentuh kenopnya. Selintas nostalgia kembali berputar di kepalanya, menggelitik memorinya yang kesepian.

Ia selalu berharap bisa menyentuh kenop itu lagi, lalu menemukan Sehun sudah mendahuluinya membuka pintu. Berharap menemukan Sehun masih ada di dalam sana, hubungan mereka baik-baik saja, dan lelaki itu tetap di sana ada untuknya. Minhee berharap Sehun tak pernah membencinya, meninggalkannya, atau bahkan mengembalikan cincin pernikahannya ke tangan Minhee.

Minhee menyentuh kenop itu. Besinya terasa dingin. Entah sudah berapa lama tak ada tangan hangat yang menyentuh permukaan metal itu. Masih tak ada gerakan memutar dari dalam sana.

Minhee memutuskan untuk memutar kenop itu seraya memberi dorongan kecil. Pintu itu berhasil terbuka. Sehun tidak menguncinya. Dan juga tak ada tenaga yang menarik pintu itu ke dalam. Minhee membukanya, dan ia melakukannya sendiri. Tak seperti ekspektasinya, tak ada Sehun di dalam sana. Kosong.

Ruangan itu juga dingin, namun sedikit pengap karena sudah berhari-hari tak ada sirkulasi udara yang terjadi. Lampu kamar Sehun padam, tak seperti biasanya. Kini kamar itu tidak terlihat berantakan, sungguh. Entah kapan Sehun membereskannya agar tampak lebih rapi. Minhee tak membiarkan lampu itu menyala. Masih dalam keadaan remang lewat cahaya seadanya yang menembus lewat jendela, ia menempatkan dirinya masuk semakin dalam ke kamar itu. Ia menyentuh bed cover yang ada di sana. Gadis itu tersenyum—tersenyum sedih. Rasa kerinduan itu semakin nyata, mulai menyiksanya.

Minhee tak sengaja melihat mantel yang biasa Sehun gunakan tergantung di pintu lemari. Minhee tak ingat mengapa Sehun meninggalkan mantel itu di sana, ia pun tak ingat apakah Sehun memakai mantel di pertemun terakhir mereka sebelum perpisahan. Minhee melangkah, meraih mantel itu. Memandanginya lama sebelum mulai mendekap mantel itu dalam tangisnya yang lagi-lagi nyaris tumpah, wujud putus asa atas rasa rindu yang mencekik hari-harinya. Minhee masih begitu mengingat aroma yang menguar dari mantel itu, membuat ingatannya semakin penuh dengan sosok pemiliknya.

Laki-laki itu, yang kini merantai hari-harinya semakin berat semenjak ia pergi, meninggalkan satu lubang besar yang membuat Minhee meratapi. Ia sedih, sedih sekali. Dan ia bingung, ia tak tahu harus berbuat apa. Ia putus asa mengharapkan Sehun kembali dan memeluknya seperti sedia kala, seakan tak ada hal menyakitkan apapun yang pernah terjadi di antara mereka.

Ia hanya ingin semuanya kembali utuh.

 

Minhee menumpahkan bulir demi bulir airmatanya dalam mantel hangat itu, seakan mantel itu adalah pengganti pelukan Sehun yang selalu menenangkan gulananya. Ia tak peduli jika saja airmatanya kering, ia tak peduli jika energinya akan terbuang percuma bersama seluruh tangis dan kesedihan itu. Ia hanya ingin menunjukkan betapa ia menyesali semuanya, ia sedih menemukan kenyataan ini, ia ingin kembali, namun sayang waktu tak semudah itu berbaik hati pada anak manusia yang hanya bisa menyesali kepingan tempo hari seperti dirinya.

Tiba-tiba Minhee bangkit, ia membuka lemari pakaian Sehun dan mencari-cari sesuatu di antara tumpukan baju hangat. Tumpukan yang tadinya tersusun dengan rapi itu menjadi sedikit berantakan sekarang, namun Minhee tak peduli dan ia terus mencari. Syal rajut berwarna putih itu akhirnya tampak, dan Minhee langsung menariknya keluar. Beberapa tumpukan perlengkapan musim dingin milik Sehun terjatuh, namun Minhee mengabaikannya. Ia mendekap syal rajut berwarna putih itu erat-erat, lalu merosot jatuh di atas lantai yang dingin. Syal rajut itu hadiah ulangtahun darinya untuk Sehun, ia bahkan masih ingat jejak-jejak kenangan mereka yang tertulis maya di atas lembaran benang-benang halus itu. Minhee menangis lagi, kali ini dengan isak menyedihkan yang tak mampu lagi ia sembunyikan.

 

 

Malam belum begitu larut, namun suasana sepanjang koridor apartemen itu sudah sepi. Mayoritas penghuni lantai apartemen ini adalah pasangan muda, mereka semua pekerja karir dan kini semua dari mereka pasti sudah mengunci diri di apartemen masing-masing untuk mengistirahatkan diri. Lagipula jam pulang kantor sudah lewat sejak tadi, dan memang kebetulan tak ada anak-anak yang tinggal di lantai itu.

Minhee menyeret kopornya keluar, masih dengan ekspresi bisu. Ia berhenti sesaat di muka pintu, berbalik untuk mengunci pintu itu dari luar sebelum akhirnya meninggalkan apartemen dingin itu. Perasaan sang gadis masih kacau balau sebenarnya, namun ia memang tak pernah punya pilihan. Ia terpaksa mengikuti pasangannya yang sudah terlebih dahulu meninggalkan apartemen mereka, atau ia akan semakin terluka ketika mengingat segalanya. Segala hal yang membuat memori masa lalu mereka berputar.

 

“Oh, Nona.” Sapaan seorang wanita di kondisi malam hening seperti ini tentu saja mengejutkan Minhee. Gadis itu bahkan menjatukan anak kunci dari tangannya, sebelum akhirnya ia membungkuk untuk mengambil anak kunci itu dari atas lantai lalu berbalik untuk tahu siapa wanita yang tadi menyapanya.

Minhee mengerutkan keningnya. Wanita tua yang menyapanya itu tampak sudah memasuki usia lanjut.

“Oh, Nenek,” balas Minhee pelan. Ia mencoba tetap bersikap ramah. Ia tersenyum singkat sebelum menundukkan kepalanya untuk memasukkan anak kunci tadi ke dalam tas.

Nenek itu tersenyum sambil membelai bulu-bulu kucing Persia yang ada dalam gendongannya. “Nona, dari yang terakhir kuingat, kau tinggal di apartemen ini bersama seorang laki-laki, kan?”

Minhee mengangguk sedikit gugup. “Ah, ya. Dia suamiku.”

“Oh, pemuda tampan itu adalah suamimu?” Nenek itu tampak terkejut. “Kupikir kalian adalah sejenis—uhm—kekasih. Wajah kalian masih terlihat sangat muda untuk membangun rumah tangga.” Nenek itu terkekeh.

“Ya, kami memutuskan untuk—uhm—menikah muda,” Minhee terkekeh salah tingkah. “Mengantisipasi ada kemungkinan buruk yang akan terjadi di antara kedua orang yang saling mencintai… Benar begitu, kan, Nek?”

Nenek itu kembali tersenyum ramah sambil terus membelai kucing menggemaskan yang sedang memejamkan kedua matanya tersebut. “Kalian sungguh pasangan muda dengan pemikiran yang dewasa… Apa kalian masih sekolah?”

“Oh, kami sudah kuliah,” jawab Minhee. Ia tampak sudah lebih bisa mengendalikan kegugupannya dibanding sebelumnya.

“Kau sendirian, Nona?” Nenek itu mulai bertanya lebih lanjut.

Minhee menolehkan kepalanya untuk melirik kopornya, lalu mencoba tertawa kecil seadanya. “Ah ya, suamiku sudah berangkat ke tempat itu lebih dulu.”

“Oh, kalian berencana untuk bulan madu?” tebak nenek itu sambil terkekeh.

Minhee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tema pembicaraan ini sungguh jauh di luar ekspektasinya. “Ah ya, begitulah…”

“Ah, tentu saja. Jika kalian adalah cucuku, aku juga pasti akan cepat-cepat meminta cicit dari kalian,” kekeh nenek itu lagi. Minhee semakin salah tingkah.

“Ah, masalah anak… Kukira itu masih terlalu jauh dari bayangan kami, Nek…” Minhee terkekeh salah tingkah.

“Anak adalah hal yang akan semakin mengikatkan hubungan kalian,” ucap nenek itu. “Jadi sekarang kau mengerti, kan, mengapa para orangtua selalu ingin segera mendapatkan cucu dari anaknya yang baru saja menikah?”

Minhee terdiam, seperti baru tersadar akan sesuatu. Perlahan gadis itu mengulaskan senyumnya, teringat bulan-bulan pertama pernikahannya yang ketika itu begitu ramai dicecar oleh pertanyaan ‘cucu’ dari kedua keluarga besar. Jadi itu alasannya. Minhee baru mengerti. Namun sepertinya terlalu terlambat bagi Minhee karena ia baru mengetahui segalanya sekarang.

Jika saja saat itu Minhee bisa mengesampingkan rasa egonya terhadap masa depan, mungkin saja kejadiannya tak akan berakhir seperti ini. Tidak ada perpisahan, setidaknya itulah yang Minhee harapkan. Ada darah daging di antara mereka tentu akan menjadi hal yang akan menyatukan mereka selamanya. Namun Minhee terlambat. Ia memang gadis yang selalu terlambat.

“Ah, baiklah, kami akan berusaha,” ucap Minhee tanpa berpikir. Gadis itu cepat-cepat menutup mulutnya sendiri ketika kata-kata itu sudah terlanjur meluncur, dan nenek itu terkekeh begitu saja mendengar ucapan polos Minhee.

“Nenek… Maaf, maksudku bukan begitu…” lanjut Minhee pelan dengan rasa malu yang tak mampu ia tutupi. Wajah gadis itu memerah.

“Sudahlah, tak ada yang perlu dikhawatirkan, Nona. Kita sama-sama wanita, aku mengerti bagaimana perasaanmu,” balas nenek itu ringan. “Baiklah. Selamat jalan, Nona. Semoga liburanmu menyenangkan.”

Minhee menanggukan kepalanya dan mencoba terlihat ceria, meskipun hatinya kembali mendung. Ia merasa sedikit bersalah karena telah berbohong pada nenek itu. Siapa yang ingin bulan madu? Ia bahkan sedang meratapi suaminya yang kini meninggalkannya entah kemana.

“Terima kasih, Nek,” sahut Minhee lalu mengulum senyum tulusnya. “Oh ya, apa aku perlu mengantarkanmu?”

“Ah, tidak perlu,” jawab nenek itu ringan. “Apartemen anakku tak jauh dari sini, bahkan tak berbeda lantai. Terima kasih sudah menjadi teman obrolanku yang singkat, Nona.”

“Sama-sama, Nek,” balas Minhee. Lalu mereka berpisah ketika Minhee memastikan nenek itu bisa kembali ke apartemen anaknya melalui jalur yang benar. Minhee memasuki balok elevator sambil menyeret kopornya, lalu menekan tombol yang akan membawanya menuju lobi. Ia harus keluar… Harus, sebelum perasaan itu semakin membunuhnya.

 

 

Tak sampai dua jam kemudian, Minhee sudah sampai di tempat tujuannya. Destinasi terakhir dari hatinya yang terluka. Tak ada tempat yang lebih baik daripada rumah orangtuanya. Tempat itu adalah benteng terakhir Minhee untuk bertahan dari rasa sakit yang semakin merongrong jiwanya, menyelamatkannya sebelum terlambat dari kehancuran.

Minhee menapaki jalur-jalur batu menuju teras rumahnya, setelah sebelumnya berhasil melewati pagar kecilnya yang tak terkunci. Di waktu semalam ini orangtuanya belum mengunci pagar? Pasti ada sesuatu. Di samping itu, Minhee sedikit bersyukur sebab ia tak harus menghadapi kesulitan saat akan melewati pagar rumahnya.

Minhee berjalan pelan-pelan sambil terus menyeret kopornya, sementara matanya menjelajah halaman depan rumahnya yang sudah lama tak ia lihat. Masih tak banyak berubah. Orangtuanya selalu berusaha menanam tanaman hias semenjak bertahun-tahun yang lalu, namun sepertinya mereka memang tidak punya bakat berkebun, jadi setiap tanaman hias yang coba mereka rawat pasti berakhir dengan kondisi layu. Beberapa tanaman yang saat ini tumbuh subur di halaman rumah Minhee adalah hasil berkebun neneknya yang tinggal di Mokpo. Namun semenjak neneknya mulai sakit-sakitan, beliau mulai jarang berkunjung ke rumah Minhee dan lebih banyak menghabiskan masa tuanya di Mokpo dengan ditemani salah seorang anaknya yang telah berkeluarga.

Ada beberapa rumpun tanaman bunga yang sempat menambat pandangan Minhee. Musim semi, Minhee segera teringat. Bunga-bunganya yang cantik sedang bermekaran dengan indah, membuat ketertarikan muncul di hati Minhee untuk pergi ke sana dan menyentuh kelopak-kelopaknya yang tampak segar terkena embun malam. Namun Minhee mengurungkan niatnya saat melihat beberapa serangga bersayap berkerumun di sekitar lampu taman, dekat dengan rumpun-rumpun bunga itu. Minhee tak pernah menyukai jenis serangga apapun sejak dulu, dan tak akan pernah berubah kenyataannya meskipun  kini ia telah tumbuh dewasa. Minhee mengernyit, lalu melanjutkan langkah menuju teras rumahnya.

Ah, bunga. Minhee lagi-lagi teringat. Bayangan buket bunga yang tergeletak di lantai kamar apartemennya saat pertama kali ia membuka pintu. Kelopak-kelopak cantiknya lepas, berguguran dan berserakan di sekitarnya. Minhee masih ingat saat ia bersimpuh dan menyentuh kelopak-kelopak itu dengan hati yang semakin remuk. Buket itu menghempas keras dinding beberapa saat yang lalu, Minhee tahu. Tak ada kenyataan yang mengelabuhi Minhee, Sehun yang melakukan itu. Lelaki itu yang membeli bunganya, lalu menghancurkannya pula dengan tangannya sendiri. Minhee menyukai bunga, sungguh. Ia menyayangkan mengapa buket itu hancur sebelum ia bisa melihatnya saat masih utuh. Namun ia juga tak bisa menyalahkan Sehun, meskipun ia tahu laki-laki itu menggagalkan sendiri kejutannya soal sebuket bunga di sore hari.

Minhee tahu, Sehun tak akan melakukannya jika emosi tidak sedang menekan dadanya kuat-kuat. Ini adalah kali ketiga Minhee melihat bagaimana Sehun melampiaskan emosinya. Pertama kali, ia melukai buku jarinya sendiri dengan cara meninju dinding pintu kamar Minhee; kedua, ia berteriak frustasi saat tak kunjung berhasil menemukan dimana keberadaan Minhee; dan kali ketiga ini adalah yang terparah, emosi menekan Sehun untuk menghancurkan kejutan manisnya sendiri.

Minhee tersudut dengan keras. Rasa sedih dan bersalah tak mampu ia bendung. Airmata itu tumpah, seraya tangannya bergerak perlahan mencoba mengumpulkan kembali guguran kelopak-kelopak itu dalam plastik buket. Pada akhirnya Minhee tak pernah membuang buket itu. Ia terus menyimpannya di atas meja kamar selama berhari-hari, tak peduli meski kelopak-kelopak itu mulai layu.

 

Minhee kembali terlempar ke dimensi waktu yang saat ini tengah dijalaninya. Ia sudah tiba di teras rumahnya. Namun ia tercenung melihat pintu rumahnya tertutup dengan rapat, serta lampu-lampu yang ada di bagian dalam rumah dipadamkan. Bagaimana jika rumahnya sedang kosong? Semua orang-orang rumahnya sedang pergi? Mulai muncul kekhawatiran di dalam hati Minhee. Jika itu terjadi, ia tak tahu harus meminta perlindungan ke mana lagi. Ia sungguh sedang tidak ingin kembali ke apartemen.

Minhee berdiri di depan pintu rumahnya. Tangan gadis itu terulur, mencoba memutar kenop pintu tersebut. Namun nihil; ternyata tepat seperti dugaannya, pintu itu dalam kondisi terkunci. Minhee mencoba mengetuk pintu beberapa kali, namun tak membuahkan hasil apa-apa. Minhee semakin khawatir jika rumah ini memang sedang kosong. Ia nyaris saja kehabisan harapan, andai saja ia tak segera teringat untuk menghubungi Minhyuk. Minhyuk adalah satu-satunya orang yang paling mungkin ia mintai bantuan. Setidaknya Minhyuk tidak akan terlalu syok ketika mendengar berita kepulangan Minhee ke orangtua mereka. Yang Minhee khawatirkan adalah perasaan orangtuanya. Ia tak mampu membayangkan andai saja kedua orangtuanya tahu ia telah memutuskan kembali ke rumah.

Minhee menunggu Minhyuk mengangkat panggilannya dalam gelisah. Nada sambung terus berdengung dari speaker ponselnya, semakin lama membuat Minhee semakin frustasi mengingat Minhyuk tak kunjung mengangkat panggilannya.

Mungkin kakaknya itu tidur terlalu lelap, sampai-sampai telinganya tuli untuk sekedar mendengar deringan ponselnya yang menjerit ketika ada panggilan yang mencoba masuk. Nada sambung itu masih terus berdengung, namun agaknya Minhee mulai menipiskan harapannya ketika suara Minhyuk tak kunjung terdengar menyapa.

Minhee menghembuskan napasnya keras. Masih dengan menempelkan ponsel ke sisi wajahnya, gadis itu mendongak untuk melihat jendela kamar Minhyuk yang ada di atas sana. Tepat saat itu pula, tiba-tiba Minhee melihat lampu kamar Minhyuk menyala. Minhee cukup tersentak melihat harapannya membuahkan hasil. Ia nyaris menyeru lega, andai saja ia tak ingat bahwa ini sudah hampir tengah malam. Minhee tak mungkin menjerit dan membangunkan tetangga, hanya karena ia terlalu senang Minhyuk tak pergi meninggalkan rumah seperti dugaan awalnya.

Minhyuk masih tak mengangkat panggilan Minhee, hingga suara operator terdengar memotong beberapa saat kemudian. Minhee masih menempelkan ponsel itu di telinganya, namun kini dengan pandangan yang sudah diturunkan—menghadapi pintu—untuk segera menyambut pertemuannya dengan Minhyuk. Jantung Minhee sedikit berdebar mengingat pertemuan terakhirnya dengan Minhyuk sebelum hari ini. Saat itu Minhee juga sedang terlibat selisih paham dengan Sehun, dan kini ia terjebak di kondisi yang sama. Bedanya, kali ini mungkin kondisinya jauh lebih parah. Jika sebelumnya Sehun masih mengharapkannya kembali, kini justru sebaliknya—Minhee yang mengharapkan lelaki itu kembali, sedangkan sepertinya lelaki itu sudah bahagia dengan kehidupannya yang tanpa Minhee.

Minhee memberengutkan wajahnya sedih, menahan panas yang menjalar di permukaan wajahnya. Napasnya mulai kembang kempis menahan sesak yang semakin terasa ketika ia bisa merasakan langkah Minhyuk yang semakin mendekat pada pintu. Sebentar lagi Minhyuk muncul dari balik pintu itu, dan Minhee masih tak tahu apa yang harus ia lakukan.

 

Klek!

Minhee mendengar suara gerandel pintu yang dibuka dari sisi dalam, membuat jantungnya semakin menderu. Perasaan tak sabar, sakit, lemah, serta ingin mengadu bergemuruh dalam dadanya. Ia masih seorang adik perempuan yang rapuh, biar bagaimanapun Minhyuk adalah abangnya dan Minhee merasa perlu sekali mengadukan kesedihannya kali ini. Kakak lelaki memang bukan tempat terbaik untuk menumpahkan isi hati, hanya saja Minhee tahu Minhyuk pasti bisa melakukan sesuatu untuk menenangkan hatinya dan membuatnya merasa dilindungi.

Perlahan Minhee mengambil sesuatu yang sejak tadi sudah disiapkannya dalam saku kecil tas. Tangannya menggenggam, mempersiapkan benda itu dan menahannya sebelum jatuh. Bukan efek dramatis yang diinginkannya kelak, ia hanya ingin menunjukkan pada Minhyuk apa yang sedang terjadi—seandainya ia tak mampu menjelaskannya nanti. Minhyuk pasti mengerti, walau ia hanya disajikan isyarat bisu.

 

Minhee menahan gugupnya sendiri saat melihat pintu itu akhirnya terbuka. Wajah Minhyuk langsung terlihat dari balik sana, berusaha tetap tampak berekspresi datar meskipun raut kagetnya melihat kemunculan Minhee di hadapannya tak mampu ia tutupi seluruhnya. Sebelumnya lelaki itu memang sudah curiga, ia curiga mengapa Minhee menghubunginya tengah malam begini—sungguh bukan kebiasaan Minhee. Minhyuk langsung bangkit dari tidurnya begitu melihat nama Minhee tercantum di layar sebagai pihak yang menghubunginya, mengabaikan pusing yang menyerang kepalanya saat ia memaksa mengumpulkan kesadaran secara spontan.

Ingatan Minhyuk seketika terlempar ke kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu Minhee yang baru berusia lima belas tahun tengah bertengkar hebat dengannya, lalu memutuskan pergi dari rumah walau jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Minhyuk yang gengsi tentu tak mau susah-susah mencari Minhee, membuat keadaan semakin parah karena saat itu orangtua mereka sedang tidak berada di rumah. Saat jam semakin mendekati waktu tengah malam, Minhyuk akhirnya panik karena Minhee tak kunjung kembali ke rumah. Saat orangtua mereka kembali ke rumah, Minhyuk terpaksa berbohong bahwa adiknya itu sudah tidur. Minhyuk tak bisa tidur malam itu, mencoba memikirkan di mana keberadaan adiknya sebelum orangtua mereka sadar anak gadisnya menghilang.

Tepat beberapa menit sebelum tengah malam, ponsel Minhyuk berbunyi dan alangkah kaget sekaligus leganya Minhyuk saat tahu bahwa Minhee yang menghubunginya. Minhee menghubunginya untuk minta dibukakan pintu rumah, sedangkan ia menunggu di teras dalam kondisi menggigil kedinginan. Minhyuk melupakan kekesalannya pada Minhee saat gadis itu pergi. Begitu mereka bertemu, Minhyuk langsung menarik Minhee dalam pelukannya dan tak bisa berhenti mensyukuri keadaan adiknya yang baik-baik saja.

Sama seperti malam ini. Begitu Minhyuk bangkit dari tempat tidurnya, Minhyuk bergegas mengintip teras depan dari jendela kamarnya meskipun langkahnya masih terhuyung-huyung. Dan sama seperti malam itu, Minhyuk melihat Minhee berdiri di teras—adiknya itu menggigil kedinginan dengan ponsel yang ia dekapkan ke pipi dan raut gelisah. Minhyuk bergerak secepat mungkin ke lantai bawah, meskipun ia harus terbentur-bentur beberapa furnitur rumah akibat terlalu buru-buru. Dan di sinilah ia sekarang, berdiri berhadapan dengan adiknya kembali. Mereka sama-sama mematung untuk beberapa saat, dan Minhyuk sedikit terhenyak melihat bagaimana raut sembab dan kusut itu membayang di wajah adiknya.

Pasti ada sesuatu yang terjadi. Pasti.

 

Minhee menggigit bibir bawahnya, lalu menghamburkan diri ke dalam pelukan Minhyuk secara tiba-tiba. Gadis itu memeluk abangnya kuat, disusul dengan isak tangis yang mampu Minhyuk dengar beberapa saat kemudian. Minhyuk kembali terpaku. Kepalanya pusing memikirkan segala spekulasi yang saling berperang, sementara hatinya ikut pilu mendengar tangisan adiknya yang bercampur dengan gigil kedinginan.

Masih dalam kebekuan Minhyuk, telinganya tiba-tiba menangkap ketika ada suara denting logam yang terjatuh di atas lantai. Entah bagaimana caranya Minhyuk masih bisa mendengar dentingan itu dengan jelas, bahkan lebih jelas dibanding isakan Minhee yang teredam di dadanya. Minhyuk menurunkan pandangannya ke bawah—ke arah lantai—dan saat itulah ia kembali terhenyak menatap dua buah logam melingkar yang tergeletak setelah menyelesaikan pantulan terakhirnya di atas permukaan lantai. Sesuatu dalam dada Minhyuk bergemuruh melihat dua bongkah logam itu tergeletak di lantai, dingin, seakan tak memiliki arti apa-apa lagi. Ia seorang abang dari pihak wanita yang sedang tersakiti di sini, membuatnya merasa terhina saat mengambil konklusi bahwa adiknya telah dicampakkan.

Minhyuk mengepalkan kedua tanggannya kuat, lalu tanpa sadar membanting punggung Minhee hingga membentur dinding teras rumah mereka. Minhee menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan isakannya yang masih tersisa, dan di sisi lain ia sungguh tak berani membalas tatapan Minhyuk. Mata kakaknya itu berkilat marah, menunjukkan emosi yang tidak main-main. Minhyuk belum pernah terlihat semarah ini. Belum pernah.

 

“Apa yang sudah ia lakukan padamu, Minhee?!” bentak Minhyuk dengan suara yang semakin menciutkan nyali adiknya. Bahu Minhee bergetar di bawah cengkeraman jemari Minhyuk, sedangkan Minhyuk tak berhenti menghujamkan tatapan keras pada adiknya meskipun gadis itu sudah gemetar ketakutan.

“JAWAB!!” Minhyuk membentak sekali lagi, membuat Minhee semakin menciut ketakutan. Minhee menggeleng lemah, namun semakin lama gelengan itu semakin keras.

“Dia menyakitimu lagi?” tanya Minhyuk lagi. Masih dengan nada keras, namun kali ini dengan volume suara yang mulai diturunkan. Minhyuk tersenyum sinis dengan sisa-sisa luka hati yang masih berdenyut di jantungnya. “Geez! Suamimu memang brengsek, Minhee.”

Minhee menggelengkan kepalanya, lalu memeluk Minhyuk lagi. Minhee menundukkan kepalanya menyesal ketika bisa merasakan bagaimana emosi dan rasa murka itu menjalari setiap jengkal tubuh abangnya kini, namun ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk meredam semuanya. Minhyuk semurka ini karena ia begitu menyayangi Minhee, semua orang pasti tahu itu.

“Aku ke sini bukan untuk memintamu menghakiminya,” ucap Minhee pelan, sedih. “Aku datang sebagai adikmu, karena aku butuh perlindunganmu. Aku percaya, sampai kapanpun kau adalah satu-satunya orang yang mampu melindungiku. Karena kau kakakku, Oppa. Karena kau kakakku satu-satunya…”

Mendengar kata-kata Minhee, batin Minhyuk serasa terhantam palu godam raksasa dengan keras. Entah bagaimana perkataan Minhee telah berhasil membuka mata hatinya untuk rehat sejenak dan mengingat kembali kepingan-kepingan kejadian di masa kecil mereka.

Sesuatu yang selama ini telah begitu banyak menghilangkan kepercayaan Minhee padanya, sesuatu yang tak pernah bisa lelaki itu ubah sampai dengan detik ini.

 

 

| T B C |

 

 

 

 

Untuk berbagai pertanyaan yang telah aku rangkum melalui postinganku di wordpress pribadi, kalian bisa klik ini: Secret Darling | 21st Chapter (Shen’s Storyland).

Mohon maaf jika ada pertanyaan yang tidak ikut terangkum dari postingan chapter lalu di wordpress EFW ini. Seperti yang sudah aku bilang berkali-kali, ada sebagian komentar kalian yang tidak bisa aku baca karena kerancuan format kotak komentar di blog ini (dan aku sayangkan itu tak kunjung diperbaiki). Aku hiatus selama beberapa minggu kemarin, jadi aku tidak bisa stalk laman notifikasi setiap hari.

Namun mulai chapter ini, aku usahakan membalas komentar kalian secara langsung saat aku membuka laman notifikasi.

 

[INFO] Ada info untuk kalian bahwa di final chapter nanti aku memiliki rencana untuk memberi sandi pada postingan tersebut. Nantinya pembaca dapat meminta sandi padaku melalui e-mail, dengan cara menjawab 10 pertanyaan yang berkenaan dengan Secret Darling. So, read the chapters attentively, guys! Bisa jadi nanti hal-hal yang akan kamu temui di cerita muncul sebagai pertanyaan 😉

 

Alright, silahkan cuap-cuap lebih banyak denganku di @shineshen97 atau jika ada pertanyaan boleh mengajukan komentar 🙂

 

With love,

shineshen

 

212 thoughts on “Secret Darling | 21st Chapter

  1. setelah sekian lama absen dari ff ini,,,pas baca lagi…
    tidaaakkk…
    sedih banget,,,
    hampir netes ni air mata,,,
    dr awal soalnya aq ngikutin banget,,,dan si tengah seperti ini,,,’tidaaakkk..
    perlu di lanjutin nih…
    gomawoyo..

  2. Finally setelah penantian yang panjang~ :”D /alay
    Oke, kakak selalu bisa bikin aku baper di setiap chapter ff ini😢
    Gilaak ni masalah gaada habis2nya 😥
    Sehun udah keras atinya dan Minhee baru sadar😢
    Hah…. aku gabisa berkata apa2 lagi kak.. /sok puitis/
    Wkwkwk yaudah deh aku dah kebelet penasaran sama next chapter><

  3. Yailah udh coment tapi gk ke kirim -___- , sehun sama minhee pasangan labil ihh kesel sendiri bacanya , mereka berdua tuh selalu di bayang2 sama org2 di masa lalu jadina kesalahpahaman yg ngebuat hubungan mereka retak , jadi makin gk suka sama daeun gue

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s