A Good Husband or A Little Brother? [Chapter 1]

chanyeol-husb

Author: Mingi Kumiko

Main Cast: Park Chan Yeol and Shin Hye Jung

Genre: Marriage life, Romance

Rating: PG-17

Summary:

Seharusnya bukan begini takdir yang dijalani seorang pria jangkung penerus bisnis keluarga bernama Park Chan Yeol. Kekasih yang akan ia nikahi meninggal dunia sebulan sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.

Keluarganya pun sepakat untuk tetap menggelar resepsi pernikahannya karena anggaran besar telah dikeluarkan untuk pernikahan mereka. Namun sang mempelai wanita bukanlah gadis pilihannya, melainkan Shin Hye Jung, kakak dari kekasihnya yang juga anak salah seorang rekan bisnis ayahnya.

.

.

Dua mempelai yang baru saja menggelar resepsi pernikahan dengan mewah nan meriah itu kini tengah berjalan berdampingan menuju kamar. Diikuti oleh kedua pasang orang tua yang saat ini telah resmi menjadi besan.

“Ahh, akhirnya kalian menikah juga…” ucap Tuan Shin –ayah dari pengantin wanita.

“Nikmati malam pertama kalian dengan sebaik-baiknya, oke?” Tuan Park –ayah dari pengantin pria menimpali.

 

Keduanya –para pengantin– pun mendadak terkesiap, detak jantungnya sama-sama berpacu, mencoba memikirkan dengan keras perkataan apa yang paling tepat untuk menimpali ujaran kedua orang tua mereka.

Yeah, of course, dad…” jawab Chanyeol dengan ekspresi wajahnya yang kelewat aneh, seperti dibuat-buat.

“Ya sudah, kami tak akan lama-lama di sini. Yang ada nanti, kami akan mengganggu kalian. Selamat malam, anak-anak…” ujar Tuan Shin, kemudian beliau pun mengajak ketiga orang (istrinya sendiri dan Tuan Park beserta istri.) untuk segera meninggalkan Hyejung dan Chanyeol agar bisa segera beristirahat.

 

Mereka berdua terus saja menatap lamat-lamat punggung orang tua dan mertua mereka yang perlahan-lahan hilang di balik pintu. Setelah itu, Hyejung pun lekas-lekas melepas rengkuhan tangannya pada lengan Chanyeol.

 

Seketika suasana canggung menyelimuti mereka, tak tahu apa yang kini harus dilakukan, apalagi diutarakan. Chanyeol mengerlingkan matanya ke segala arah sambil sesekali meremas kain sprei warna putih yang membentang penuh menutupi kasur. Berbeda dengan Hyejung yang hanya menggigiti bibir sambil memainkan kuku-kuku jemarinya.

“Baiklah, aku yang lebih tua di sini. Mau tidak mau aku lah yang harus bicara duluan. Bagaimana baiknya sekarang, kau mau tidur seranjang bersamaku, atau memilih mempertahankan gengsi dan pergi keluar kamar?” celetuk Hyejung, ia bicara seringkas dan sejelas mungkin. Yang pasti dengan intonasi suara rendah dan tetap lembut.

“Aku takut menggigil jika tidur di luar…” jawab Chanyeol yang polos sambil menunduk.

“Oke, ya sudah… Aku ganti baju dulu. Sebaiknya kau juga, mana mungkin kau akan nyaman tidur menggunakan tuxedo?”

Ne, jaljjayo, Hyejung-ssi…

 

14 Desember 2013

“Seolhyun-a, aku tak akan terkejut kalau nantinya kau akan mengataiku pria gila setelah aku mengungkapkan hal ini. Tapi kumohon percaya, aku benar-benar serius.” ucap Chanyeol sambil mengusap lembut tangan Seolhyun yang tengah digenggamnya.

Ya, Oppa! Kamu apa-apaan sih? Aneh! Membuatku bingung saja.” balas Seolhyun yang masih belum mengerti maksud perkataan Chanyeol.

Tiba-tiba Chanyeol bersimpuh di hadapan Seolhyun, ia raih keempat jari Seolhyun dengan kelima jarinya, kepalanya terdongak untuk menatap wajah gadis manis yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Ia menghembuskan napas, mencoba membuang semua keraguan di dalam hatinya. Ini bukan saatnya ragu-ragu. Tentu lebih baik mengungkapkannya sekarang karena belum tentu kau masih punya hari esok, bukan?

“Mau kah kau… menikah denganku?” tanya Chanyeol sedikit terbata-bata.

Oppa…” Seolhyun masih tak percaya atas apa yang barusan tadi ia dengar. Ia kelewat terkejut dan tak sanggup menahan harunya.

“Lalu, apa jawabanmu, chagi?”

“Tentu oppa, aku bersedia menikah denganmu.”

 

Setelah mendengar jawaban itu, Chanyeol pun segera berdiri, senyumnya yang merekah dan matanya yang memantulkan sorot gembira dapat dengan jelas dilihat oleh Seolhyun. Chanyeol pun mendekapnya erat, menyalurkan seluruh kehangatan pada kekasihnya itu.

 

20 Desember 2013

Sudah sekitar seminggu Seolhyun terbaring lemah di kasur rumah sakit. Setelah kasus tabrak lari yang menimpanya, hingga kini masih belum ada kemajuan pada kondisinya.

 

Anggota keluarganya silih berganti menungguinya. Namun yang paling sering ialah sang kakak pertama, Shin Hye Jung. Melihat kondisi adiknya yang belum juga menemui titik sadar, ia merasa sangat sedih. Bahkan ia bela-belakan mengambil jadwal cuti agar bisa terus menungguinya.

 

Sang kekasih, Chanyeol, tentu saja sangat terpukul atas kejadian pahit yang menimpa kekasihnya itu. Padahal, dalam waktu dekat ini mereka akan menikah.

“Seolhyun-a… segeralah sadar, kau ingat, jadwal pernikahan kita tinggal sebulan lagi. Kau harus cepat bangun, setelah itu makan yang banyak agar kondisimu cepat pulih.” Chanyeol berucap sambil terisak lirih. Di belakang, ada Hyejung yang tengah duduk menyelesaikan pekerjaannya. Menunggui Seolhyun berhari-hari membuat urusannya di kantor terbengkalai, jadilah kini ia harus lembur di rumah sakit agar pekerjaannya beres.

 

Perlahan, tangan Seolhyun bergerak-gerak. Chanyeol pun dibuatnya terperanjat kaget, sekaligus gembira. “Hyejung noona, lihatlah, cepat!” pekik Chanyeol. Hyejung yang mendengar itu pun segera menyingkirkan laptopnya yang ia letakkan di atas paha dan bergegas menghampiri Seolhyun.

“Seolhyunku sadar!” timpal Chanyeol lagi.

 

Seolhyun membuka matanya pelan-pelan, saat sudah sepenuhnya sadar, ia pun menengok samping, dua orang yang menungguinya dapat ia lihat. Mereka menyambut tatapan Seolhyun dengan senyuman bahagia, apalagi Hyejung, setitik air mata turut membasahi pipinya.

Oppa, eonnie…” ucap Seolhyun lirih dan sedikit kurang jelas karena terhalang tabung.

“Mungkin aku bangun karena Tuhan memberiku kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal terlebih dulu pada kalian.” katanya.

 

Seketika, air mata Chanyeol dan Hyejung pun deras mengalir. “Kau tak boleh bicara macam itu, dik… Kau pasti punya harapan hidup, kau pasti akan sembuh.” sahut Hyejung yang tak menyukai adiknya bicara ngelantur seperti tadi.

“Aku… tidak kuat lagi, eonnie…” ucap Seolhyun dengan nafasnya yang tersengal.

 

“Cepat panggil dokter, Chanyeol-a!” pinta Hyejung saking paniknya. Chanyeol yang disuruh pun bergegas lari dan menjalankan perintah Hyejung.

“Seolhyun-a, kau pasti akan tetap hidup. Kau ingat, bulan depan adalah hari pernikahanmu dengan Chanyeol. Apa kau tak ingin duduk bersebelahan bersama Chanyeol, menjadi raja dan ratu sehari? Bertahanlah, dik!”

 

Seketika dokter pun datang dan langsung menangani Seolhyun. Ia kerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelamatkan Seolhyun.

“Chanyeol Oppa…” Seolhyun memanggil Chanyeol lirih.

“Kenapa, chagi?”

“Maafkan aku, bukannya aku tidak mau menikah denganmu, tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain.”

“Kau tidak boleh bilang begitu!”

“Aku ingin… Hyejung eonnie menggantikan aku, duduk di sandingmu sebagai raja dan ratu sehari. Dia wanita yang baik, dia…”

 

TIIIITT

Bunyi pendeteksi jantung yang kini hanya menunjukkan garis lurus itu berhasil memengangkan telinga. Seolhyun kini telah tiada, meninggalkan raga yang kini tak bernyawa. Seketika mata Hyejung dan Chanyeol pun beranak sungai. Kepergian Seolhyun yang tiba-tiba itu membuat hati mereka berdua bak tersayat sembiri.

 

Orang tua dan saudara-saudara Seolhyun pun telah datang, mereka memasuki ruang Seolhyun dulu dirawat dengan mata sembab, bahkan masih ada yang menangis tersedu-sedu.

“Hyejungie… kenapa bisa begini?!” tangis Yuna –anak kedua dari keluarga Shin pecah. “Tadi di menit-menit terakhirnya ia sempat bengun dan mengucapkan selamat tinggal pada kami berdua. Kenapa dia harus pergi secepat ini, hiks…” timpal Hyejung.

 

***

Seminggu setelah kepergian Seolhyun, keluarga Shin masih berkabung. Tapi secara tiba-tiba, Tuan Shin mengajak Chanyeol sekeluarga untuk makan malam bersama. Tak ada yang tahu apa tujuan beliau. Ketika istrinya bertanya, beliau hanya menjawab, “nantinya kalian akan tahu sendiri.”

Waktu jamuan makan malam pun akhirnya tiba. Tuan rumah dan tamu yang diundang pun telah duduk manis di meja makan.

Eqhemb…” deheman keras Tuan Shin langsung membuat seisi meja makan mendongak dan menatap beliau.

“Sebenarnya tujuanku mengumpulkan semuanya di sini adalah untuk membahas tentang batalnya pernikahan Seolhyun dan Chanyeol.” tukas beliau.

“Ya, akhir-akhir ini aku juga memikirkan itu. Bagaimana baiknya? Padahal, kita telah menyiapkan semuanya.” timpal ayahnya Chanyeol.

 

Hyejung mendadak terkesiap, terbesit di pikirannya pesan Seolhyun sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, tentang Seolhyun yang menginginkan Hyejung untuk menggantikannya menikah dengan Chanyeol. Tapi segera ia buang jauh-jauh ingatan itu dan menyimak ucapan ayahnya.

“Saat aku menungguinya, tak sengaja aku menemukan sepucuk surat yang berisi tulisan tangan Seolhyun,

Aku tidak mengerti kenapa aku ingin menulis ini. Tapi tiba-tiba saja firasatku buruk, entah mengapa di sela pemikiranku tentang pernikahanku dengan Chanyeol oppa yang kurang lebih satu bulan lagi, aku terus memikirkan Hyejung eonnie.

Aku merasa tidak enak dengannya karena aku harus mendahuluinya. Habisnya, eonnie terlalu serius bekerja. Padahal dia itu cantik, baik, pintar memasak, yang jelas dia figur istri sempurna!

O iya, tentang emfisema(*) yang kuderita beberapa tahun yang lalu, aku pikir itu sudah sembuh total. Tapi kenapa ya, akhir-akhir ini aku merasakan sesak dan susah bernapas lagi? Tapi masa iya, penyakit itu kembali menyerangku? Ah, ini tidak seru!

Kalau emfisema ini tiba-tiba merenggut nyawaku dalam waktu dekat ini, bagaimana? Aku akan gagal menikah. Haha, bodoh! Kenapa aku justru berpikiran aneh macam itu? Tapi yang jelas, bila suatu hari aku kalah dari emfisema ini, aku akan menitipkan Chanyeol oppa pada Hyejung eonnie. Ya, semoga saja ini hanya firasatku semata.

 

Seisi ruangan hening tatkala selesai mengetahui isi surat yang Seolhyun tulis sebelum ia dengan tragis tertabrak mobil yang sampai saat ini masih belum diketahui siapa pengendaranya.

 

Hyejung dan Chanyeol pun saling bertukar pandang, tak mereka sangka, hal yang mereka kira tak akan terungkit itu kini tengah dibahas oleh kedua keluarga.

“Hyejung, Chanyeol, kenapa wajah kalian jadi aneh begitu?” celetuk Yuna.

“Amboi~ jangan-jangan, kalian berdua memang sudah mengetahui hal ini?!” timpal istri Tuan Shin, ibunya Hyejung.

 

Hyejung yang merasa dalam keadaan terdesak pun meneguk liur dan mengedip-kedipkan matanya. Bibirnya tergigit oleh giginya sendiri, menahan ngeri.

“Apa… Seolhyun mengatakan sesuatu sebelum ia meninggal? Kamu bilang sebelumnya Seolhyun bangun dan mengucapkan selamat tinggal pada kalian?” oceh Yuna pada Hyejung.

“Kenapa kalian berdua hanya diam? Apa itu benar?” sahut Tuan Park sembari menatap jeri Chanyeol dan Hyejung secara bergantian.

“Apa tidak bisa… mencari topik lain untuk dibahas?” Chanyeol akhirnya angkat bicara.

“Sebentar dulu, nak… Ini adalah masalah yang serius!” tegur Tuan Park.

 

“Aku belum siap menikah dan aku tidak mau jodohku diatur, eomma, appa.” titah Hyejung tersebut membuat suasana semakin menegang.

“Aku tak mau tahu, pernikahan ini harus tetap dilangsungkan, kami sudah mengeluarkan anggaran besar untuk ini.” hardik Tuan Shin.

“Lagipula, ini adalah permintaan terakhir Seolhyun. Apa salahnya? Kalian berdua kan sudah mapan, sudah sama-sama matang untung menikah.” timpal istri Tuan Park.

Eomma…” celetuk Chanyeol yang sedikit kurang setuju dengan hipotesis ibunya.

“Masih ada waktu 3 minggu untuk masa pendekatan dan perkenalan, mungkin tak butuh waktu lama karena kalian sudah mengenal satu sama lain, bukan?”

 

Keputusan sepihak tanpa persetujuan kedua pemeran utama pun telah ditetapkan. Tak ada celah untuk menolak. Yang bisa lakukan hanyalah menerima dan menjadikan perjodohan tersebut sebagai hubungan yang menyenangkan.Ya, semoga saja.

 

***

Dengan mata masih menempel, rambut acak-acakan, Hyejung terbangun dari tidurnya yang untuk pertama kali bersama seorang lelaki berada di sebelahnya. Ia mengucek matanya dan melakukan sedikit peregangan. Saat ia tengok ke samping, dilihat lah Chanyeol, lelaki jangkung yang berusia lebih muda satu tahun darinya itu masih tertidur pulas dengan posisi memunggungi Hyejung.

“Chanyeol-a, bangun, hey! Sudah pagi, waktunya bekerja!” gugah Hyejung sambil menggoyangkan badan Chanyeol pelan. Mereka memang tak mengambil cuti seminggu setelah menikah seperti yang dilakukan para pekerja pada umumnya. Bukan karena mereka tak diberi, tapi keduanya sama-sama bersi kukuh untuk menolak. Bulan madu itu bisa lain kali, kalau pekerjaan, mana bisa ditunda? Ya, itulah hipotesis aneh oleh keduanya.

 

Chanyeol pun mengulat sambil melakukan peregangan, matanya masih susah untuk dibuka. Tangannya menutup mulutnya yang tengah menguap.

“Kusuruh kau bangun dan segera mandi untuk bekerja, bukannya malah terus-terusan melakukan peregangan!” omel Hyejung karena Chanyeol yang terus sama mengulur waktu dan tak segera bergegas mandi.

“I, iya, aku mandi sekarang,” Chanyeol pun sedikit gagap tatkala mendengar sentakan tegas Hyejung padanya.

.

.

Chanyeol pun telah siap dengan tampilan rapihnya untuk ke kantor, walaupun tatanan dasinya sedikit acak-acakan karena tak terbiasa dengan dasi baru pemberian ayah mertuanya. Sekarang ia bingung, apa yang harus ia lakukan. Langsung pergi tanpa pamit pada Hyejung, atau menengok sekilas ke meja makan dan bertanya apakah Hyejung memasak untuknya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Kenapa hubungannya dengan Hyejung mendadak jadi secanggung ini? Padahal dulu, ketika Seolhyun masih ada, Hyejung lah yang selalu ia mintai saran bagaimana cara membuat Seolhyun memaafkannya atas ketidaksengajaan yang telah ia lakukan, walaupun itu tidak sering.

 

“Hyejung-ssi… aku berangkat,” ucap Chanyeol lirih dari depan pintu kamar. Sambil menyisir poni, ia pun mengerlingkan mata ke segala arah, menatap langit-langit ruangan berwarna putih, entah apa tujuannya.

YA! Seenaknya saja meninggalkan rumah, sarapan dulu! Kalau kau kelaparan di kantor, aku lah yang akan dimarahi ayahmu.” lagi-lagi Hyejung mengomel dan membuat Chanyeol tunduk. Ia pun bergegas ke meja makan, sarapan, seperti perintah Hyejung.

 

Kini di meja makan telah terhidang nasi dengan tiga lauk berbeda yang terdiri atas olahan sayur dan daging, kemudian ada buah-buahan juga.

“Kalau pagi biasanya kau minum apa? Teh, kopi, atau susu?” tanya Hyejung pada Chanyeol yang sibuk menatap lamat makanan-makanan yang tersedia di meja.

“Teh…” jawabnya sedikit sungkan.

“Pakai gula? Sedikit, atau banyak? Atau malah tidak pakai?”

“Aku suka teh manis.”

“O, oke! Selagi menunggu airnya mendidih, makanlah dulu.”

Eo? Tidak ikut makan?”

“Nanti saja…”

“Aku tak terbiasa makan duluan,”

Oh god… Baiklah, aku juga akan makan.”

 

Hyejung pun akhirnya duduk pula di meja makan untuk sarapan.

“Lauk untukku, yang mana?” tanya Chanyeol polos.

“Kau makan semua juga tidak apa-apa. Tenang, aku sama sekali tak mencampurkan racun pada masakanku.” celoteh Hyejung kemudian memasukkan sesendok nasi beserta lauk ke dalam mulutnya.

Eits, tunggu…” tegur Hyejung sebelum Chanyeol menelan nasi dan sayuran pada sendoknya.

“Kenapa?” bingung Chanyeol.

“Apa lidah dan bibirmu itu terlalu berat untuk memanggilku dengan nama yang biasanya?”

“Maksudnya?”

“Ya, seperti yang kau ucapkan barusan. Aku tak suka mendengarnya, ‘Maksudnya?’ bagaimana kalau, ‘Maksud noona apa?’. Bukankah dulu kau memanggilku dengan sebutan noona? Bukan ‘Hyejung-ssi’ atau malah ‘-nya’.”

“Aku merasa agak aneh dan bingung untuk panggilanku padamu…”

“Oke, oke, panggil aku ‘yeobo’ atau ‘chagi’ saat ada orang tua kita saja. Sandiwara. Kalau mereka sedang tak mengawasi kita, panggil aku sesuka hatimu. It’s simple, so simple!”

“Iya, Hyejung noona…”

 

Sarapan akhirnya selesai, segera lah Hyejung letakkan secangkir teh manis di hadapan Chanyeol. “Terima kasih banyak…” ucap Chanyeol sambil langsung mendongak dan menatap hangat Hyejung. “Tunggu, kau yakin, merasa nyaman dengan dasi yang tengah kau kenakan?” tanya Hyejung ketika tak sengaja melihat tatanan dasi Chanyeol yang kurang rapih.

“Dasinya masih kaku, kan ini baru…”

“Ya sudah, kau pakai yang lama saja dulu. Yang itu akan kucuci nanti, besok bisa kaugunakan.”

“Tidak perlu, noona…” tolak Chanyeol halus.

“Chanyeol-a, kau kan seorang manager, panutan karyawan. Kalau sang teladan tidak rapih, lalu bagaimana pengikutnya?” tutur Hyejung yang lagi-lagi membuat Chanyeol tertunduk kaku. Untuk kesekian kalinya, Chanyeol menuruti petuah Hyejung. Benar-benar seperti adik kecil yang butuh banyak perhatian dari kakak perempuan yang sangat peduli.

 

Noona berangkat bersamaku saja ya?” tawar Chanyeol.

“Kau akan mengantarku?”

“Hmmm, iya…”

“Oke, terima kasih ya?”

 

***

Di kantor tempat Hyejung bekerja.

“Ada rencana honey moon ke mana, chingu?” tanya Min-ah, sahabat terdekatnya di kantor.

“Entahlah? Aku tak ada waktu memikirkan itu.” jawab Hyejung dan tetap terfokus pada layar komputer sambil menarikan jemarinya di atas keyboard.

“Lho, lho, kok gitu sih? Memangnya kenapa, suamimu belum kepikiran?”

“Kami berdua sama sekali tak membahas itu. Kau tahu sendiri, aku menikah dengannya atas dasar paksaan. Karena ini permintaan adikku sebelum ia meninggal. Aku harus menggantikannya menjadi istri dari kekasihnya.”

“Jadi… bagaimana malam pertama kalian?”

“Ada guling yang menyekat tubuhku dan tubuhnya.”

“Astaga… kau benar-benar konyol, Hyejung!”

“Mana pula aku peduli. Aku juga tak benar-benar tertarik padanya. Dia bukan tipeku, dia terlalu imut dan kurang tegas. Sama seperti Seolhyun. Tadi pagi saja, aku benar-benar merasa seperti seorang ibu baginya.”

“Hahaha…” Min-ah hanya menimpali dengan tawa garing.

 

***

Pada hari Minggu, Hyejung dan Chanyeol sama-sama tidak bekerja karena libur. Seperti biasa, Hyejung selalu bangun di pagi hari untuk bergegas mandi. Selesai mandi dan berganti baju, ia kembali ke kamar untuk bersih-bersih.

 

Saat hendak menarik dan melipat selimut, ia pun urung melakukan hal tersebut karena Chanyeol yang masih nyenyak terlelap sambil bergelung kemul.

“Anak ini, mentang-mentang libur, tidurnya dipuas-puaskan, dasar!” tangan Hyejung bersedekap, meggerutu sebal. Akhirnya ia putuskan untuk tak membersihkan kasur terlebih dahulu, melainkan menyapu ruangan lain serta memasak sarapan, lantas mencuci baju yang kotor.

 

Pukul dua belas siang, cuaca panas akibat teriknya sinar matahari memasuki rumah Hyejung. Ia menyeka peluh di dahi seraya menumpukan tangannya pada mesin cuci. Ia sedang menunggu mesin pengering pakaian selesai berputar.

 

Hyejung pun iseng menuju kamar, siapa tahu Chanyeol sudah bangun. Jadi, ia bisa minta bantuan padanya agar pekerjaannya lebih ringan. Namun sayang, setelah pintu terbuka, didapatilah Chanyeol yang masih tertidur sambil memeluk guling. Hyejung lagi-lagi menggeram, ia memukul pintu untuk menyalurkan kemarahannya.

“Menyebalkan sekali sih anak itu, apa ibunya tak pernah mengomelinya karena masih saja tidur di siang bolong seperti ini?!”

 

Malam hari.

Chanyeol mengerjapkan matanya, dengan rasa kantuk yang sudah tidak lagi bersisa, ia segera bangun. Jam berapa ini? Pikirnya pertama kali. Saat ia menoleh ke sisi kanan, terkejut lah ia, ini sudah pukul tujuh malam.

“Matilah aku!” Chanyeol menepuk jidatnya. Ia pun langsung membuka pintu kamar untuk pergi ke kamar mandi. Langkahnya pun ia urungkan tatkala melihat Hyejung yang duduk di sofa, hanya berdiam diri, ekspresinya pun datar, seperti patung.

“Hyejung noona…” panggil Chanyeol sedikit ragu. Suara berat Chanyeol berhasil memecahkan lamunan Hyejung, ia pun mendongak, lalu menatap Chanyeol dengan tajam.

“Sudah puas kau, tidur hampir seharian penuh, huh?! Kau sudah seperti pengonsumsi narkoba, tidur dan tak bangun-bangun!” omel Hyejung keras, tanpa ampun.

“Aku lelah karena kemarin terus bekerja, noona…” jelas Chanyeol dengan wajah tertunduk. Entah mungkin karena dia merasa bersalah, bisa jadi pula karena ia terlalu takut menatap air muka Hyejung yang menyiratkan, akan kubunuh kau setelah ini, bocah tengik sialan!

“Masa bodoh, aku tidak peduli padamu!” hardik Hyejung kemudian pergi berlalu dari hadapan Chanyeol. Dengan hati yang masih mangkal tentunya.

 

“Hyejung noona ternyata aslinya segalak itu ya?” gumam Chanyeol sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Namun dengan cepat ia lupakan omelan Hyejung barusan dan segera menuju kamar mandi, seperti tujuan awalnya.

 

Saat ia memasuki kamar mandi, mendadak saja ia tercengang karena melihat sesuatu yang tak biasa ia dapati. Kamar mandinya jadi bersih dan wanginya semerbak. Ia pun coba membuka closet. Benda warna putih itu awalnya agak kotor dan berwarna putih kecoklatan, namun sekarang tiba-tiba kembali berwarna putih bersih, layaknya baru.

“Apa…, Hyejung noona yang membersihkan semuanya?”

Sekelebat rasa bersalah berkecamuk di pikirannya.

Matilah kau akibat menanggung malu, Park Chan Yeol!

 

Hyejung terus saja mendiami Chanyeol sepanjang malam. Tak ada teguran tegas ketika Chanyeol melakukan sebuah kesalahan, makan malam apalagi, meja makan kosong, hanya ada sisa makanan pagi tadi, itu pun sudah dingin dan tentu tak enak lagi jika dimakan malam ini. Chanyeol terus menunggu Hyejung datang ke kamar untuk melepas lelah, di saat itulah ia akan meminta maaf sekalian berterima kasih karena Hyejung telah membersihkan rumahnya dengan sangat bersih, kelewat bersih malah.

 

Namun sudah lama menunggu, Hyejung tak kunjung datang juga. Chanyeol pun mulai gusar. Apa istrinya itu benar-benar tidak mau melihatnya? Ia pun menggigit bantal saking gundahnya. Chanyeol putuskan untuk keluar kamar dan mengajak Hyejung bicara. Sebagai lelaki, ia memang harus bersikap jantan.

 

Ia pun mendapati Hyejung telah tertidur di atas sofa tanpa berbalut selimut. Chanyeol lekas menghampirinya, sejenak ia terdiam, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Membangunkannya, atau memilih kembali ke kamar tanpa berbuat apa-apa?

Tapi dengan cepat ia tepis kedua pilihan tersebut. Ia lebih memilih mengangkat tubuh Hyejung menuju kamarnya. Membaringkan tubuhnya di tempat yang seharusnya.

 

Chanyeol merebahkan tubuh Hyejung di kasur mereka yang empuk dan nyaman itu. Kemudian ia tarik selimut untuk menutupi bagian kaki sampai dadanya.

“Dia tidur di sofa karena ingin menghindariku. Kalau suatu waktu dia bangun dan mendapati aku ada di sampingnya, pasti ia akan lebih marah lagi. Aish, apa boleh buat, aku terpaksa tidur di luar malam ini.” Chanyeol pun akhirnya melangkah menuju ruang tamu untuk tidur. Tapi paling-paling juga ia akan begadang malam ini. Hari ini telah ia habiskan dengan tidur, agak mustahil kalau nanti ia mengantuk lagi.

Ups! It’s TBC~

See you next chapter, guys^^

42 thoughts on “A Good Husband or A Little Brother? [Chapter 1]

  1. wkwkw keren bngt hehe ^.^ , aku sih kasihan bngt sma yeol ._. dimarahin mulu hehe
    tpi keren kok asli ^.^
    semoga akhir nya mereka bisa saling mencintai ._.

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s