Achievement [freelance]

aaw

Tittle : Achievement

Scriptwriter (Author) : ( @hoyagan )

Main Cast : Do Kyungsoo – Lee Jieun

Genre : Romance, Friendship, School-life

Duration : Oneshoot

Rating : PG

{First Big Thanks for my sisters, admins here, KJ for Nice poster, and Readers. Sorry for Typo(s) dan kurang seru. Storyline is Mine and my sist’s. Hope you like and Mind to review? Gomawo^^)

Summary :

 

“Achievement? Meaningful? – Do Kyungsoo”

**I use IU’s Point of View**

“Dan…. Pemenanganya adalah– ”

“ –Do Kyungsoo!”

Gemerang banyak pasang tangan saling berbentur mendengar nama pemenang baru saja diumumkan. Kecuali aku, hanya terdiam menunggu. Menunggu sang pemenang yang nyaris 5 menit tak nampak batang hidungnya.

Finished ……

*

“Mau sampai kapan kau jadi fansnya?”

“Mwoya?”

“Do Kyungsoo tak akan merubah sikapnya. Sekalipun kau datangkan malaikat maut padanya”

Ya… Laki-laki itu, Do Kyungsoo, yang baru saja memasukan persegi panjang tipis dan besar ke tempat sampah. Sebuah kertas yang terukirkan goresan namanya. Sebuah piagam hasil kemenangannya-yang mungkin sudah tak terhitung berapa jumlahnya.

Tapi…

Kenapa dia membuangnya?

Sama sekali tidak merasa berdosa. Kurasa jalan pikirannya hanya sebesar bola tenis.

Mengabaikannya, seperti tidak ada niatan hidup. Diatas keinginan orang lain dengan keras payah menggapainya.

Impossible.

Barisan A selalu menyinarkan daftar nilanya. Kupikir setahun mengenalnya bukanlah waktu yang sebentar. Tapi sampai sekarang pun aku belum tahu penyebabnya.

Penyebab Kyungsoo selalu membuang kertas ukiran pena atas namanya itu.

*

Satu jiwa tersisa dikelas. Entah berjiwa atau tidak. Kyungsoo disana, duduk termenung ditemani semilir angin kusen jendela. Menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan yang ia lipat diatas meja.

“Kau masih berjiwa?” suaraku diambang pintu memecah.

Kyungsoo seperti mendengar suaraku, namun hanya menengok seadanya. Membuang mukanya-yang nampak tak bergairah, Ia pun bangkit dari kursinya, menghampiriku. Berdiri disampingku seperti mengucapkan sesuatu-yang tak begitu jelas.

“Apa pedulimu?”

Dan dia pergi ketika aku menoleh padanya.

Aku sempat berpikir apakah seorang teroris bertingkah laku layaknya namja itu? Mengingat dimana aku mengenal Kyungsoo pertama kali, dibandingkannya yang sekarang, mungkin kau anggap jiwanya adalah Galaxi.

*

“Dan…. Pemenanganya adalah– ”

“ –Do Kyungsoo!”

Terulang, lantunan yang sama, dari orang pemegang jadwal acara itu. Berdiri puluh meter dari Namsan Tower, sebuah lomba menyanyi yang tak terlalu besar diadakan. Jangan kalian bertanya apa yang terjadi selanjutnya.

Do Kyungsoo tak pernah mengindahkan kata ‘Menang’ seumur hidup aku mengenalnya.

*

Aku berniat menyapa lokerku-tempat pertama yang selalu kutemui-sebelum masuk ke ruang kelas. Sekaligus, menyapa laki-laki misteriusku diantara satu deret pintu hijau yang sama.

Bingo!

Sedetik tak pernah absen. Kyungsoo baru saja menutup lokernya, dan pergi tanpa melihatku sebelumnya. Tak berselangsebuah kertas kaku berisi tinta banyak warna melayang turun ketika Kyungsoo melangkah. Ragu mengambil langkah, meneliti besar keingintahuan. Aku menangkap kertas itu.

Bukan

Ini bukan sebuah puisi bergambar pelangi ataupun matahari dengan mata, hidung, dan mulut tersenyum seperti wajah bayi.

Ini sebuah foto

Tak asing

Miliknya

Do Kyungsoo

Bersama perempuan

Paruh baya

Apa aku lantas berpikir ini pacarnya?

Demi gajah hompimpa mungkin tawa seseorang meledak jika bersamaku membayangkan itu sekarang. Aku pun membalikkan telapak tanganku kemudian,

“Achievement? Meaningful? – Do Kyungsoo”

 

 

 

*

Senang tak terbendung mendengar namaku dan Kyungsoo disebutkan oleh guru favoritku di depan sana, Seo Songsaenim. Aku menengok Pada Kyungsoo, berpikir bagaimana ekspresi setelahnya.

Selamat! Kau Nihil!

Hanya sebongkah patung tak bergerak, bahkan layak tak bernafas. Sama sekali tak merespon macam apapun sambutan kebahagiaan yang disertakan untuknya. Utamanya, ketika Seo Songsaenim memanggil kami-Aku dan Kyungsoo-untuk menerima ucapan selamat darinya.

Kau tahu?

Kami berdiri bersama.

Aku berjalan ke depan, Kyungsoo memilih ke belakang. Meninggalkan kelas tanpa pesan.

*

“Annyeong”

Tak ada salahnya mencoba menyapa seseorang yang sedang tertidur. Barang mengganggu, memang itu tujuanku. Menyapa namja dengan kepalanya yang tersandar pada punggung kursi taman. Menatapku sekilas, lalu kembali merenggangkan lehernya. Aku lantas mencubit kesal. Melimpahkan-sedikit-amarah padanya.

“Aight!”

“What’s your want?”

Gerak cepat aku mengambil sisi bebas disebelahnya. Tidak peduli akan raut kesalnya yang terakhir kutemukan saat zaman Athena memimpin perang. Dia terheran melihatku tak merespon apapun, walaupun wajahnya masih sama lurus.

“Siapa yang menyuruhmu duduk?”

“Waeyo? Memangnya tidak boleh?”

“Memang tidak boleh”

“Berhentilah memarahiku!”

“Siapa peduli? Ini tempatku. Tak ada yang menyuruhmu duduk, kan?”

“Why so meanie?” puncak tempramen Kyungsoo membawa emosiku.

Tetap lagi, hanya memandang tanpa lekukan. Tersadar suaranya pun ikut terbawa hembusan angin, lama kian.

Barang mencoba melirik namja disampingku, aku segera memutar bola mataku kilat-menetralkan sengatan listrik yang baru saja menembus jantungku. Mata bulatnya membuat siapapun pasti langsung terpaku pada tatapan pertama. Matanya seperti seorang bidadari tersenyum, Indah.

Dadaku mulai tak terbakar ketika ia kembali tertidur.

Dan lama waktu kami lewati dengan keheningan. Aku hanya sedang mengulang memori beberapa menit yang lalu. Menyadari, Kyungsoo merespon ucapanku lagi. Bahkan kali ini tidak seperti tiga hari, tiga minggu, atau tiga bulan yang lalu. Dia membiarkanku berada di dekatnya sekarang. Bukan mengusirku ataupun melarikan diri.

Perlahan susah memandagi wajahnya lamat. Sesadar tanganku mencoba mendekati wajah putihnya.

Dekat

Dekat

Dekat

Dan

Gagal

Segera terhempas pulang ketika Kyungsoo membuka matanya. Hanya mampu membuang mukaku ke arah lain. Aku yakin wajahku seperti udang rebus sekarang. Memalukan!

“Kyungsoo-ssi”

“Tidak perlu seformal itu”

“Baiklah” aku menarik nafasku dalam-dalam. Aku semakin merasa canggung di dekatnya.

“…”

“Ada apa?” Kali ini Kyungsoo memecah keheningan.

“Ini… Seo Songsaenim–”

“–Untukmu” Bukan aku yang mengucapkannya. Itu suara Kyungsoo.

Seperti sudah mengetahui gelagatku kemudian, dia bahkan menolak kotak yang kupegang tanpa membuka matanya. Dia pasti sudah mengetahui tujuanku berbiacara dengannya kala itu-memberikan kado dari Seo Songsaenim.

“Kenapa kau tidak mau menerimanya?”

“Apa itu sesuatu yang berarti?”

Aku diam. Bukan karena aku tak bisa membalasnya. Aku benar-benar bingung dengan pertanyaan yang terlontar darinya tadi.

Berarti?

Sesuatu yang berarti?

Apa Motivasinya mengucapkan hal itu?

Patrick Star?

Jieun Bodoh!

Kenapa malah itu yang terbayangkan?

“Tidakkah ini bentuk penghargaan atas usaha kerasmu?” Ucapku banyak menit terlewatkan.

Mendengar itu, dia bangun dari tidurnya. Menatapku sekilas yang kembali membuatku membuang muka yang sudah matang ini. Rebuslah aku hidup-hidup! Dia justru mengulas bulan sabit dari bibirnya yang berbentuk hati.

Oh Fortuna, Injak Kyungsoo dengan seekor badak sekarang.

“Kenapa tersenyum seperti itu?” Tanyaku dengan susah payah menahan malu.

“Berapa orang lain menghargaimu?” Dan dia pergi begitu saja.

MWOYA????

Aku terdengar seperti wanita jalang yang berkeliaran di malam hari asal pandangnya. Bisakah dia mengulang ucapannya tadi? Jika iya aku mungkin aku akan menendangnya ke bulan.

Tapi, apakah itu mengingat akan sesuatu?

*

“Argh!” Kyungsoo merengis sambil memegangi hidungnya.

Dia baru saja menabrak benda di tanganku yang –dengan sengaja– kutegaskan ketika dia hendak melewati pintu.

“Kenapa kau– ” Kyungsoo menghentikan ucapannya ketika melihat sebuah foto ditanganku.

Ya… Foto yang tak sengaja kulihat melayang di depan pintu lokernya.

Foto akan visual wajahnya dengan seorang wanita paruh baya, yang sempat kupikir sebagai pacarnya. Foto dimana wanita itu tersenyum lembut, dan Kyungsoo di belakangnya melingkarkan penuh kedua tangannya di pinggang wanita itu.

“Wanita ini pacarmu, kan?”

BODOH!

PABO!

PERGI KAU KE NERAKA, LEE JIEUN!

Jangan yakinkan padaku bahwa pikiran namja yang berdiri terkejut di depanku sekarang sedang merumus seribu hujatan mengenaskan untukku. Percayalah… Aku hanya lupa teks awalku.

Dewi Fortuna mencintaiku!

Kyungsoo hanya mengambil foto ku genggam, dan menyimpannya di saku celana. Tanpa merubah raut apapun.

“Ikut aku”

*

Kyungsoo menggandeng setangkai mawar putih dan satu buah Jeruk mandarin yang ia beli di sebuah toko bunga dan toko buah selama perjalanan kami. Sepanjang aku mengenalnya, aku tidak pernah melihatnya berbelanja

Mungkin dia ingin berkebun.

Di Pemakaman.

Tunggu…

Dia membawaku ke sebuah pemakaman umum dan sebuah batu nisan yang kulihat bertuliskan nama seorang wanita. Kyungsoo meletakkan kedua barang ditangannya di depan ukiran sebuah nama disana. Lalu berbicara dengan benda mati itu.

“Apa kabarmu? Aku membawa seseorang yang tidak begitu spesial. Dan aneh”

Masuklah kau ke jurang, Do Kyungsoo!

“Dia bilang, aku harus menerima hadiah dari orang yang menghargai bakatku jika aku berhasil. Apa itu berarti?”

Aku menoleh pada Kyungsoo-dengan berat ingin mencekiknya. Tapi itu hanya niatan debu belaka, ketika tertegun melihat setetes bulir bening dari pelupuk itu jatuh bebas dari mata bulatnya. Jika aku bertanya kenapa dia menangis, aku yakin dia akan meninggalkanku sekarang. Aku semakin memperhatikannya. Bingung dengan apa semua gelagat dan ucapannya.

“Dia tak pernah melihat hasilku hingga sekarang”

*

Kyungsoo menuntunku sampai pintu gerbang rumah. Aku sering pulang bersamanya, walaupun dia tidak berjalan disampingku. Benar-benar namja yang sulit ditebak. Hampir setiap saat dia membuatku kesal. Tapi ia masih membiarkanku berada disampingnya, bahkan terkadang mengukir bulan sabit itu.

“Kyungsoo-ya” Manik bulat itu menangkap iris coklatku secara lembut. “What a win at your vision?” sekarang dia menatapku tajam. Apa aku mengatakan hal yang salah?

Bisakah matahari tidak perlu tenggelam? Kyungsoo justru mengukir bulan sabit di bibirnya untukku. Kemudian menyentuh puncak kepalaku, mengusapnya gemas layaknya anak kecil yang menghempaskan kebahagiaannya pada boneka tidurnya. Banyak menit aku menunggu jawaban dari hati yang nampak itu, dia malah meninggalkanku masih dengan seribu pertanyaan dalam benak.

Jika saja ada mobil yang sedang lewat sekarang, aku berharap supirnya lantas menabrakmu.

*

Malam hari yang tenang setelah berkutat panjang dengan mesin lembar kerja. Aku menjinjing buku kesayanganku ke Sungai Han, yang kebetulan tak jauh dari rumahku. Aku sering melepas penat disini.

Brukkk!!!

Seorang namja menghempaskan sebuah kotak berpita merah ke tempat kosong disampingku. Aku menatapnya heran, yang hanya dibalas dengan tatapan datar, seperti orang yang sedang dirasuki hantu. Bagaimana dia tahu aku disini?

“Sudah kubilang ini untukmu”

Geurae!

Dia adalah Kyungsoo. Mengetahui aku meletakkan kado dari Seo Songsaenim diatas meja kelasnya sebelum pulang sekolah, ketika ia meninggalkan kelas tanpa membawa tasnya-yang aku yakin dia pasti akan kembali setelahnya.

Tapi

Darimana dia tahu bentuk kotak hadiah Seo Songsaenim?

Seburuknya penglihatanku, aku masih mampu memastikan dia tak pernah melihat wujudnya seperti saat pertama aku ingin memberikan kado itu padanya.

“Ini dariku”

“Kau pikir aku buta?”

“Hatimu memang buta”

“Aku sudah pernah mengatakannya padamu–”

“–Bahkan jika itu dari temanmu?” Aku memotong ucapannya tak dapat menahan kesalku.

“Aku tak punya teman”

“Lalu kau anggap aku apa?” Kali ini dia benar-benar menaikan suhu otakku. Bentakan itu tak bisa terbenam lebih lama.

“Untuk apa kau selalu berlatih keras, mengikuti banyak perlombaan, mendapat barisan A, tapi itu semua tak ada harganya untukmu?”

“Apa pedulimu?”

“Lebih baik kau berikan suara emasmu padaku daripada kau mempergunakannya sia-sia” Genangan dimataku mengalir sempurna di hadapan Kyungsoo.

“Kau pernah bilang padaku jika suatu saat nanti ingin pergi ke Amerika dan jadi bintang besar, ‘kan?” Ucapku menahan isakan yang setengah mati.

“…”

“Orang lain sudah menjauh karena kau selalu merebut tempat teratas yang seharusnya milik mereka! Tapi kau menginjak itu semua begitu saja dan tak memberi orang lain kesempatan satu kalipun. BODOH!”

“…”

“Atau perlu kau jangan pernah bernyanyi lagi!” Isak tangisku sudah tidak bisa tertahan lagi. Aku membentaknya. Lalu meninggalkan patung di hadapanku. Sendiri di tengah malam yang cukup sunyi.

*

Angin berhembus membawa dentangan pelan melewati telingaku. Aku melihat Kyungsoo keluar kelas, dengan wajahnya yang nampak seperti hujan. Ia seperti buah penuh ulat.

Aku mengikuti langkah gontainya, hingga ke rooftop sekolah. Hanya memandangi langit yang tak begitu cerah, aku mencoba mendekatinya dengan berat. Seperti ada dinding besar di hadapanku sekarang.

Ternyata Kyungsoo menyadari kehadiranku…

Dia menoleh kecil kearah belakang, tempatku berdiri sekarang. Sekian detik dia mengabaikanku lagi. Awalnya aku berpikir ingin menjatuhkan dia dari sini juga. Tapi ada niatan aku ingin pergi dari perasaan berat ini.

“Kyungsoo-ssi”

Aku memanggilnya dengan sebutan itu lagi. Berharap ia akan membalasnya seperti kala itu, membuatku tak secanggung ini. Tapi Kyungsoo tetap diam. Tak memperdulikanku sama sekali. Adakah  pesawat yang lepas landas diatas sini sekarang? Aku mohon lindas dirinya.

“Mian– ”

“Aku memang bodoh”

Dalam hal ini kesamaan kami, sering memotong pembicaraan satu sama lain. Terlebih dia berkata layaknya sambil menusukkan tombak di dadaku sekarang.

“Aku memang tak berguna”

“Aku memang hanya pandai menyia-nyiakan”

Berhentilah menjatuhkan dirimu! Aku membenci itu Do Kyungsoo

 

 

Udara dingin menusuk kulitku terganti. Aku membuka mataku lebar-lebar ketika mengetahui Kyungsoo sedang memelukku sekarang.

Dia sungguh tak marah padaku. Terasakan lembut peluk dan usapan tangannya di ubun-ubunku. Dan mata bidadari itu kembali bertemu dengan manikku yang sudah bersama laut kemerahan. Kyungsoo menatapku lamat.

.

.

.

Duduk menikmati semilir angin langit tak begitu bersinar. Hangat bersama namja ini. Walaupun lama kami terjalin dalam keheningan.

“Mianhada” Aku mulai memecahkan sunyi itu. Kyungsoo masih memilih diam. “Tak seharusnya aku membentakmu kemarin” Kupikir dia menatapku. Mengarahkan pandang pada awan-awan di depan sana. Lee Jieun kau memalukan!

“Tapi aku perlu bentakanmu” Dia mulai mengeluarkan suara khasnya.

“Ribuan kali aku memutar amarahmu, ternyata adalah pasangan pelosok jiwa sunyi itu” Seumur hidupku tak pernah mengetahui Kyungsoo masuk kelas Bahasa. Tapi memang tidak pernah. Aku tahu Kyungsoo kurang menyukainya. Dia selalu tertidur selama jam itu.

“Achievement feared” jawabnya ragu. “Kau? Kalah?” Kepolosanku lagi membuat gema kecil di belakang bibir hatinya. Kyungsoo terkekeh geli. “Ani” Dia tersenyum dengan raut wajahnya yang menunjukkan kepada hatinya yang kelam. Aku tahu dia menahan sedih.

“Makam itu… Menyimpan sosok membeku dalam sebuah foto… Membuat setengah mati langkahku tertahan… Wanita yang kusebut sebagai Ibu”

Meteor tepat meledakkan jantungku. Apa yang dia maksud pacarnya dalam benakku?

“Hari terakhir sebelum ibu meninggal, Aku berhasil memenangkan kontes itu. Kontes menyanyi menuju pelatihan besar di Amerika. Impian yang ibu minta padaku” Kyungsoo menghela nafas sepanjang ia mampu. Seperti….. .Aku tak akan menyebutnya unta.

“Bertepatan dengan Hari kelulusan Noona-ku. Ayah mengendarai mobilnya kesana, disamping ibu ingin melihat kemenanganku pertama. Ternyata pilihan ibu benar. Kebahagiaan mereka hanya puncak disana”

Sekali lagi dia menarik nafas Panjang terhembus semakin berat. “Bibir jurang menanti kedatangan mereka. Mereka pergi. Sebelum melihat pencapaian terbesarku disana”

“Kalut menggapai sebuah penghargaan kala kenangan pahit itu terbenak”

Memori yang tertangkap dan tak bisa hilang-bahkan untukku juga merasakannya. Kelu merenggut senyum Kyungsoo seketika, walaupun ia masih bisa menegakkan badannya. Aku yakin Kyungsoo mati-matian menahan tangisnya. Namun itu pun tak berhasil akhirnya.

Aku hanya memeluk lututku, tak kuat menahan bulir Kristal dalam pelupuk. Membayangkan aku berada dalam posisi Kyungsoo, mungkin aku lebih memilih untuk bungkam dari dunia yang menginginkan suaraku.

Tapi Kyungsoo masih bisa bernyanyi, bahkan mengukir prestasi. Tak ada kabut menghantui perasaanya dalam hal itu.

“Dalam kata ‘Penghargaan’ selalu tertanam sosok ibu. Aku tak ingin mengingatnya”

“Kau Bodoh!”

“Kenapa kau ikut mengubur impian ibumu bersama mayatnya?” Kami berbicara tanpa saling menatap satu sama lain. Kyungsoo menatap langit yang sama kelam dengan hatinya kini.

“Penghargaan adalah awal dari sebuah hal yang besar. Kau tak akan memulai perjalanan tanpa pacuan itu”

“Sama seperti impian ibumu. Bukankah kau pasti memulainya dari sebuah penghargaan kontes?”

Aku percaya Fortuna selalu bersama Kyungsoo. Dia sekarang tersenyum lembut menoleh perlahan padaku. Apa kali ini aku benar? Senyum itu membuatku tak ingin jauh darinya, selalu disampingnya, entah sebagai apa aku tak perduli. Aku akan menemani Kyungsoo menggapai impiannya-dan juga ibunya.

*

“Mr.Kyungsoo, apa yang membuat anda mampu menggapai kesuksesan di Amerika?” seseorang dari dalam Televisi berbicara dengan seorang namja putih yang sangat aku kenal.

“Saat SMA, seorang gadis pernah mengatakan padaku, Penghargaan adalah awal dari sebuah hal yang besar. Kau tak akan memulai perjalanan tanpa pacuan itu”

“Hingga aku berusaha keras melakukannya, dan mampu berada disini sekarang”

“Siapa wanita yang kau maksudkan itu?”

“Dia adalah gadis yang sekarang tumbuh menjadi inspirasiku. Pupuk dalam bungaku. Wanita yang kunikahi Tahun lalu. Aku mencintainya” Jawab namja putih itu dengan senyum khasnya.

Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Namja yang dulu bersama aura hitam, kini menjadi putih bersinar. Dia berhasil, menggapai impiannya, dan juga ibunya. Dia sudah menjadi penyanyi besar sekaligus menjadi suamiku, Do Kyungsoo.

-End –

One thought on “Achievement [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s