The Dark Rose Part IB [freelance]

the-dark-rose-part-ii

|| Author : Deerexo (http://www.deerexo17.wordpress.com) ||

|| Title : The Dark Rose Part IB||

|| Length : Chaptered ||

|| Rated : WARNING! PG-17||

|| Main Cast : EXO’s Byun Baek Hyun and Kim Hye Ra OC ||

|| Minor Casts : EXO and SM Family ||

||Theme : School Life, Family problem, Hate-Love, Romance ||

|| Credit Poster : Ladyoong at HSG ||

|| Disclaimer : The characters are belong to God and theirselves. I only have the storyline and don’t copy-paste or remake it. ||

|| Author’s note : Please leave your comment after you read this. And give me your advice and critics about my fanfiction. Commentar is so allowed^^ ||

Part 1A

Baek Hyun masih menciumi bibir dan leher gadis itu seperti orang kesetanan. Dia sudah lama tidak merasakan rasa seperti ini, rasa manisyang menyelimuti bibirnya. Tangan kirinya menekan leher gadis itu kuat-kuat untuk mempermudah aksesnya menyerang gadis itu. Dan tangan kanannya melingkari pinggang Hyera dengan sempurna.

Oh Tuhan, so kissable.

Sebuah alarm di kepala Baek Hyun berbunyi dan dia langsung tersadar sepenuhnya. Baek Hyun melepas bibirnya dari bibir Hyera untuk mencegahnya melakukan hal-hal yang berbahaya selanjutnya. Hyera sedikit protes dengan aksi itu namun belum sempat dia menyuarakan pendapatnya, keseimbangannya sudah goyah. Baek Hyun membawa gadis itu ke dalam pelukannya agar ia tak perlu melihat bibir gadis itu lagi.

Ini terlalu berbahaya baginya dan tubuh Baek Hyun merasa terbakar di bagian tertentu. Dia mulai menyesali insiden malam ini. Malamnya dengan Hyera.

***

Untuk kesekian kalinya Baek Hyun menyesal akan apa yang telah dibuatnya malam ini dengan Hyera. Untunglah sebuah alarm di kepalanya berbunyi dan mengingatkan Baek Hyun untuk menghentikan ciuman itu.  Baek Hyun hanya menciumnya sampai…err sebatas leher.

Bibir Hyera terlihat bengkak dan di lehernya ada tanda kemerahan yang tercetak sempurna.

Haruskah dirinya meminta maaf?

Baek Hyun meringis ketika merasakan hembusan napas Hyera yang hangat di lehernya. Setelah insiden accident kiss itu Hyera menyandarkan kepalanya di bahu Baek Hyun dan memeluknya dengan amat erat. Tentu saja, Hyera masih dalam keadaan tidak sadar.

Bagaimana kalau Hyera sadar keesokan paginya dan melihat ada tanda kemerahan di leher jenjangnya yang putih?

Baek Hyun punya 2 pilihan. Meninggalkan gadis itu setelah mengantarnya pulang atau menunggu gadis itu dan menjelaskan apa yang terjadi setelah dia sadar.

Jika Baek Hyun memilih opsi pertama tentu itu kelihatan tidak bertanggung jawab sama sekali dan terkesan tidak gentleman. Namun opsi kedua membuatnya bingung setengah mati. Apa yang akan dikatakannya pada Hyera?

“Hyera-ssi. Semalam kau menciumku dan aku terbawa suasana.”

Sepertinya terlalu blak-blakan.

“Hyera-ssi. Maafkan aku kalau aku menciummu semalam.”

Bukankah Hyera yang memulai ciuman itu? Jadi untuk apa Baek Hyun meminta maaf?

Baek Hyun mengerang dan mengacak rambutnya frustasi.

Lebih baik dia membawa Hyera pulang dan menunggu gadis itu sadar lalu menjelaskan semuanya. Dia akan menerima segala resikonya. Toh ini juga salahnya, harusnya dia tak terbawa suasana sampai sejauh itu.

Pertama dia harus menelpon Lu Han untuk menanyakan alamat Hyera. Lu Han merupakan ketua kelas di kelas 3-2 yang merupakan kelas Jong Dae dan Hyera sendiri, jadi Lu Han pasti memiliki arsip alamat rumah Hyera yang dibutuhkan Baek Hyun saat ini.

Baek Hyun mengambil ponselnya di saku celana dan dengan cepat dia mencari nama Lu Han di phonebook. Setelah tersambung Baek Hyun menempelkan ponselnya di telinga.

Yeoboseyo?

“Lu Han, kau tahu alamat rumah Hyera? Cepat beritahu padaku.”

“Ada apa Baek Hyun? Kenapa tiba-tiba sekali.”

“Nanti ku jelaskan. Cepat!”

“Baik. Aku kirim lewat pesan saja.”

Kurang dari 1 menit pesan Lu Han sudah masuk ke ponsel Baek Hyun, dia membaca sekilas, dan tanpa membalas pesan itu Baek Hyun langsung mengangkat gadis itu dengan gaya bridal style dan menidurkannya di kursi belakang.

Rumah Hyera terletak di distrik Gangnam, Baek Hyun sudah bisa menebak itu sejak awal melihat tas, blazer dan sepatu ber-merk yang digunakan gadis itu. Bahkan Baek Hyun melihat merk Tiffany’s and Bulgary’s.

Mobil Aston Martin milik Baek Hyun membelah jalanan kota Seoul secepat yang ia bisa. Baek Hyun sudah melewati 150 km/jam yang artinya melanggar lalu lintas. Sangat beruntung tidak ada polisi yang sedang berjaga, kalau tidak dia pasti sudah masuk kantor polisi karena aksi sudah melanggar hukum.

Mobil itu berbelok ke arah kiri dan langsung memasuki kawasan perumahan elite. Baek Hyun sudah tak asing lagi dengan daerah ini. Karena apartemennya sendiri terletak di daerah seperti ini.

Akhirnya Baek Hyun sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Rumah berdominasi warna coklat itu tidak memiliki pagar dan langsung menghadap ke pintu depan.

Baek Hyun keluar dari mobil dengan terburu-buru lalu melirik kanan-kiri untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang sedang memandang mereka. Tidak lucu ketika seseorang memergokinya melihat bersama gadis yang setengah sadar ke dalam rumah.

Setelah dirasa cukup aman, Baek Hyun melingkarkan tangan Hyera ke lehernya dan menyelipkan tangannya sendiri ke lekukan paha dan leher Hyera lalu menggendongnya. Dia menggendong gadis itu dengan hati-hati agar Hyera tak terbangun.

Namun begitu Baek Hyun akan menekan bel intercom, dia mendengar 2 orang sedang berseteru di dalam rumah. Suara seorang wanita dan lelaki.

“Aku tak bisa mengurus Hyera! Kau ibunya seharusnya kau lebih memperhatikannya!”

“Apa tanggung jawabmu sebagai ayahnya? Aku sibuk mengurus client perusahaan”

“Tapi aku benar-benar tidak bisa mengurus Hyera”

Mendengar itu semua membuat Baek Hyun sedikit ragu untuk melanjutkan rencananya. Logikanya mengatakan jika dia bersikeras mengantar Hyera ke dalam rumahnya, orang tuanya bisa saja berpikiran yang tidak-tidak apalagi jika melihat tanda kemerahan itu di leher Hyera. Belum lagi sepertinya orang tua Hyera sedang bertengkar hebat.

Uh, matilah Baek Hyun jika tertangkap basah.

Tangannya mulai pegal karena masih dalam posisi menggendong gadis itu, Baek Hyun tak tahu apa yang harus dilakukannya. Semua terasa ambigu untuknya.

Tiba-tiba tangannya terasa basah. Baek Hyun menunduk untuk melihat wajah Hyera dan melihat ada air mata di sudut matanya. Gadis ini menangis lagi dan rasa kasihan itu muncul dalam benaknya. Bagaimanapun juga Hyera masih remaja dan pasti terlalu sakit untuk mengalami ini semua.

Kim Hyera, apakah ini yang kau alami setiap hari?

Sebuah ide terlintas di kepalanya begitu saja. Seolah ada seseorang yang menyalakan lampu di atas kepalanya dan memunculkan ide brilian. Baek Hyun membawa Hyera kembali ke mobilnya dengan langkah pelan. Dia tak ingin langkahnya terdengar oleh siapapun.

Dan Baek Hyun merasa ini ide yang cukup bagus yaitu membawa Hyera ke apartemennya.

***

Sinar matahari yang datang menembus celah-celah jendela membuat Hyera mengernyit karena menganggu tidur pulasnya. Kepalanya terasa berat belum lagi badannya terasa remuk seperti baru saja selesai lari marathon 10 putaran. Hyera tak ingin bangun namun suara berisik dari arah lain membuatnya mengerjapkan matanya.

“Sakit..” erangnya sambil mencoba duduk bersandarkan kepala tempat tidur.

Matanya mengawasi setiap sudut ruangan. Dinding putih, kasur hitam, dan rak buku yang menjulang tinggi dengan deretan buku yang rapi.

“INI BUKAN KAMARKU!” teriak Hyera begitu sadar sepenuhnya dimana ia sekarang.

Oke sepertinya hari ini akan menjadi sangat buruk untuk Hyera. Dia terjebak di kamar entah siapa dan parahnya ini kamar laki-laki, dilihat dari beberapa brand aftershave dan sebuah hoodie yang tersampir di sofa.

“Kau sudah bangun?”

Hyera tersentak dan menoleh melihat seorang lelaki berdiri di ambang pintu dengan pakaian olahraga.

“KAU?!”

Melihat pemuda seperti Byun Baek Hyun merupakan gagasan terakhir yang terlintas di otaknya. Bukannya dia berharap yang tidak-tidak tapi Hyera sudah menduga bahwa lelaki yang membawanya kesini adalah lelaki brengsek bukan lelaki cerdas dan terpuji seperti Baek Hyun.

“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan.”

Belum sempat Baek Hyun berkata tentang tadi malam Hyera sudah menyerangnya dengan membabi buta.

“KAU MESUM!” Hyera melempar Baek Hyun dengan bantal.

“APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!” kali ini sebuah guling.

“BERANI-BERANINYA KAU MEMBAWAKU KESINI!!” dan yang terakhir adalah selimut putih yang digunakannya. Hyera langsung menyadari bahwa dia masih berpakaian lengkap.

Baek Hyun melindungi dirinya dari serangan brutal itu dengan mengelak kesana kemari agar lemparan itu meleset. Dan betul, semua benda itu tidak mengenainya sama sekali. Baek Hyun memang memiliki refleks yang sempurna.

“Dengarkan aku!—Hey berhenti!” ucapan Baek Hyun terpotong karena Hyera sudah mengambil bantal kedua. Cepat-cepat Baek Hyun menjelaskan,”Ini soal kita!”.

Biarpun masih tak percaya dengan lelaki dihadapannya ini Hyera mencoba mencari tahu apa maksud dari Baek Hyun membawanya kesini, oleh sebab itu ia membiarkan Baek Hyun menjelaskannya,“Tentang apa?”

“Tentang tadi malam, Hyera-ssi”

Baek Hyun berjalan menghampiri Hyera yang sekarang sedang menatapnya penuh perhitungan seolah-olah Baek Hyun akan berbuat jahat kepadanya. Baek Hyun mengerti itu, lagipula dia memang berbuat jahat padanya.

“Kau mau mandi dulu? Aku punya beberapa kaus untuk kau gunakan tapi aku tak bisa memberimu pakaian dalam wanita. Untuk yang satu itu aku tak punya dan tak akan pernah punya.”

Hyera tentu menatap Baek Hyun tajam. Lelaki berperilaku terpuji seperti Baek Hyun ternyata bisa membicarakan hal berbau pervert seperti itu.

“Aku ingin pulang saja.”

“Dengan penampilan seperti itu?”

Setidaknya apakah dia ingin pulang dengan rambut yang benar-benar berantakan, bau alkohol, dan seragam kusut seperti itu?

“Ya.”

Benar-benar gadis yang tidak bisa di atur.

Baek Hyun tak habis pikir dengan gadis di depannya ini. Apa sulitnya mandi di apartemennya? Baek Hyun hanya berusaha menjadi lelaki yang sopan dan ramah terhadap tamunya. Tidak lebih.

“Kau yakin tidak ingin mendengar kejadian tadi malam?” kata Baek Hyun begitu melihat Hyera bangkit dari tempat tidurnya dan merapihkan penampilannya sedikit.

Otak Hyera memang dipenuhi beribu pertanyaan tentang tadi malam. Seingatnya baru saja dia meneguk segelas tequilla kemarin malam lalu esok paginya dia terbangun di apartemen milik Baek Hyun.

“Tidak. Aku sama sekali tidak ingin tahu.”

Pernyataan Hyera sedikit membuat Baek Hyun terkejut.

Hyera sendiri sudah memutuskan bahwa ini tidak penting lagi. Kejadian ini lebih baik dilupakan saja daripada membahasnya karena Hyera yakin akan muncul masalah baru ketika mereka membicarakan kejadian tadi malam.

“Tapi kau harus tahu.” Baek Hyun memperingatkan.

Hyera mencoba mengalah.

“Baiklah. Apa yang terjadi tadi malam?”

Dan bukannya menjawab Baek Hyun justru terdiam. Pikirannya berkecamuk antara membeberkan fakta yang sebenarnya atau berbohong demi kebaikan dirinya sendiri? Hyera belum melihat tanda kemerahan itu di lehernya tapi tetap saja jika dia pulang nanti dia pasti akan melihatnya.

Baiklah..

Sepertinya berkata jujur merupakan hal yang tepat saat ini.

“Kau mabuk dan aku menolongmu.”

“Lalu?”

Kau menggodaku dengan menciumku…

Kau menciumku…

Bibirmu menyentuh bibirku…

Semua kalimat itu sudah ada di ujung lidahnya, siap untuk diucapkan. Tidak, Baek Hyun tidak merasa takut tapi tidak enak hati lebih tepatnya. Tak masalah dengan dirinya berciuman dengan seorang gadis karena semalam memang bukan ciuman pertamanya.

Baek Hyun menghela napas panjang sebelum menjawab,”Kau menciumku, Hyera-ssi

Membeku. Itulah yang Baek Hyun lihat dari Hyera begitu mendengar kalimat yang dilontarkannya. Gadis itu menatap Baek Hyun seduktif dan matanya yang coklat membulat sempurna.

“Dan aku minta maaf untuk lehermu. Aku terbawa suasana.” Baek Hyun melanjutkan dengan nada pelan namun tegas.

Hyera langsung berlari ke arah cermin di kamar Baek Hyun dan mengecek lehernya. Hyera langsung lemas ketika melihat tanda kemerahan itu tercetak cukup panjang di leher sebelah kanannya. Bahkan warnanya terkesan membiru.

“Berani-beraninya kau mengambil kesempatan! Dasar brengsek!” Hyera langsung memukul dada Baek Hyun dengan membabi buta.

Pukulan itu tidak ada apa-apanya untuk Baek Hyun, dibanding sakit Baek Hyun lebih merasa geli.

“Aku tidak menciummu! Kau pasti mengada-ngada!”

“Tapi faktanya kau yang menciumku duluan” Baek Hyun berkata tenang dan masih membiarkan Hyera menumpahkan segala emosinya kepadanya.

Melihat mereka seperti itu terasa sangat aneh. Mereka bahkan belum sempat berkenalan meskipun sudah tahu nama masing-masing tapi mengingat apa saja yang sudah mereka lakukan membuat kata “teman” saja tidak cukup bukan?

Baek Hyun berkata canggung,”Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Kau benar-benar lelaki brengsek Byun Baek Hyun,” geram Hyera,”Aku membencimu!”

Gadis itu langsung mundur 3 langkah karena menyadari posisinya yang terlalu dekat dengan Baek Hyun sekarang. Dia tidak mau berdekatan dengan lelaki itu lagi.

Lelaki bermata sipit itu menatapnya.

Kemudian Hyera melihat Baek Hyun berjalan ke arah lemarinya dan mengeluarkan sebuah syal berwarna hitam yang biasa Baek Hyun gunakan di musim dingin. Baek Hyun pun berjalan mendekati Hyera dan mengalungkan syal itu ke lehernya.

“Pakailah untuk menutupi lehermu.”

“……”

“Kau mau aku antar pulang?”

Hyera mendongak menatap Baek Hyun.”Tidak usah.”

Dan sebelum Baek Hyun sempat berkata apapun Hyera sudah menghilang di balik pintu apartemennya. Meninggalkannya sendirian di apartemennya ini.

Baek Hyun langsung merebahkan dirinya di ranjang King size miliknya dan memejamkan mata lalu menghirup udara dalam-dalam. Aroma gadis itu masih ada dan sekarang berputar di sekelilingnya, membuat Baek Hyun pusing.

“Ini rumit.” bisiknya pada diri sendiri.

Untungnya ini hari minggu dan Baek Hyun bisa lebih bersantai di apartemennya.

Merasa mengantuk Baek Hyun membenarkan posisinya untuk membuatnya lebih nyaman. Tapi tangannya menyentuh sesuatu yang padat dan berkilau. Diraihnya benda itu dan rasa kantuk itu hilang digantikan rasa tertegun ketika melihat sebuah kalung dengan tulisan hangul:

김혜라

Ini kalungnya?

***

KIM HYERA memasuki lingkungan sekolah dengan gayanya seperti biasa. Wajah datar. Tatapan tajam dan pandangan meremehkan kepada orang-orang yang melewatinya. Tak ada yang menyapanya dan tak ada satupun yang tersenyum padanya.

Semua orang menghindarinya, selalu. Itu membuat Hyera tersenyum.

Langkahnya yang pelan langsung berhenti begitu melihat sekumpulan laki-laki sedang duduk di kelasnya. Kalau melihat Jong In, Lu Han dan Se Hun yang memang teman sekelasnya itu sudah biasa untuknya tapi satu orang yang sedang duduk di tengah-tengah mereka dan sedang menatapnya intens membuatnya terperanjat.

Byun Baek Hyun.

Pandangan mereka bertemu dan waktu seolah berhenti saat itu juga.

Tentu, Baek Hyun masih mengingat kejadian yang mereka alami dengan sempurna. Dan Baek Hyun ingin sekali mengenyahkan pikiran nakal yang menghampirinya kemarin malam jika mengingat bibir lembut wanita itu menyentuh bibirnya.

Damn! Dia merasa bodoh memikirkan itu semua.

“Baek, hari sabtu pagi kenapa kau tidak lari pagi seperti biasa?” tanya Se Hun.

Hyera yang mendengarnya berdeham salah tingkah dan berjalan ke tempat duduknya. Hyera mengeluarkan buku dari dalam tasnya dan berpura-pura membaca buku itu.

Tapi dia merasa penasaran dengan apa jawaban Baek Hyun untuk pertanyaan Se Hun dan Hyera menajamkan pendengarannya, walaupun dia sudah bertekad untuk melupakan kejadian kemarin.

Awas saja jika dia berbicara macam-macam!

“Aku sedang malas” jawab Baek Hyun seadanya dan Se Hun mengerti bahwa Baek Hyun tidak ingin membahas ini lebih jauh.

“Baek kau berhutang penjelasan padaku.” Lu Han menatap Baek Hyun.

Baek Hyun mengerutkan dahi.”Penjelasan? Penjelasan apa?”

Lu Han memandang ke sekeliling kelas dan mendengus begitu melihat Hyera sedang membaca di tempat duduknya. Jika Hyera tidak ada disana maka Lu Han sudah menanyakan apa maksud Baek Hyun menanyakan alamat rumah gadis itu kepadanya.

“Tentang kau meminta alamat—KENAPA KAU MENGINJAK KAKIKU?!” Pertanyaan Jong In dipotong oleh Lu Han yang menginjak kakinya di bawah meja.

Lu Han melotot dan mengarahkan dagunya ke tempat Hyera duduk. Mengisyaratkan agar Jong In tidak menanyakan hal itu selagi ada Hyera disini.

O-oh Jong In langsung mengangguk paham.

“Kai bodoh!”

Itu Se Hun. Dengan beraninya Se Hun mengejek Jong In seperti itu. Jong In memang selalu dipanggil Kai oleh teman-temannya yang lain. Namun Jong In sama sekali tak menyukai panggilan itu karena kedengarannya seperti “key” dalam bahasa Inggris yang berarti kunci. Memangnya dia penjaga kunci Lotte World?

“Apa kau bilang? Aku tak suka dipanggil Kai! Berhenti memanggilku seperti itu Oh Se Hun.”

Se Hun tertawa menyeringai.”Kai. Kai. Kai. Everybody loves Kai” ejeknya puas.

“Kalian ini sungguh berisik!” Lu Han menegur dua orang yang sedang saling memukul satu sama lain itu.

Xiao Lu, kau diam saja!”

Jong In menyebutkan nama panggilan Lu Han. Xiao Lu yang berarti Rusa Kecil. Lu Han tidak suka itu! Bagian mana dari dirinya yang disamakan dengan rusa dan ditambah dengan kecil?

For God’s Sake!Lu Han akan menendang kaki mereka berdua!

Baek Hyun hanya diam dan memilih memperhatikan Hyera yang sepertinya sedang membaca sebuah buku di tempat duduknya. Gadis itu kelihatan biasa saja dan kelihatannya sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian yang mereka alami kemarin.

Bukan sombong tapi Baek Hyun tak percaya ada gadis yang biasa saja setelah dicium olehnya.

Seolah merasa ada yang memperhatikannya Hyera menoleh ke arah 4 orang itu dan benar saja, Baek Hyun memang sedang menatapnya. Pandangan mereka bertemu sekali lagi. Dan jantung Hyera berdetak lebih cepat dari biasanya.

What’s going on with me?

Hyera cepat-cepat membuang muka dan melanjutkan kegiatan membaca pura-puranya.

“Aku keluar dulu.” Hyera mendengar Baek Hyun berbicara kepada teman-temannya dan dengan sengaja Baek Hyun melewati meja Hyera.

Sebuah ide jahil menyala terang di otaknya. Entah mengapa sepertinya Baek Hyun ingin sekali menggodanya, dan dia tahu apa yang harus dilakukannya. Kuncinya adalah kalung yang sekarang ada padanya. Lelaki itu tertawa hambar dalam hati.

Hyera menegang ketika langkah Baek Hyun semakin mendekat.

“Kalungmu ada padaku, Hyera-ssi”

Kalimat itu membuat Hyera menoleh ke arah Baek Hyun dan langsung berdiri dari tempatnya. Baek Hyun pun ikut berdiam diri disamping meja Hyera, menatap gadis itu.

Bodoh! Bagaimana bisa kalungnya ada pada Baek Hyun? Hyera sudah bertingkah bahwa kejadian kemarin bersama Baek Hyun tidaklah penting. Namun sepertinya Baek Hyun tidak melupakannya begitu saja. Hal mengerikan lainnya adalah bahwa Hyera tidak mengerti motif apa Baek Hyun melakukan ini.

Lu Han menatap interaksi yang terjadi antara Baek Hyun dan Hyera dari tempat duduknya. Mencoba menerka-nerka apa yang terjadi dengan dua orang yang memiliki sifat bertolak belakang seperti Baek Hyun dan Hyera.

“Temui aku sepulang sekolah di Hangang Park.” Baek Hyun tersenyum manis pada Hyera.

Mata Hyera membulat sempurna.

“Apa maksud dari senyum itu?”

“Hanya tersenyum, Hyera-ssi

Tapi Hyera tahu bahwa ada maksud tertentu dibalik senyum sok manisnya itu. Ingin sekali Hyera membuka sepatunya dan melemparnya tepat di muka Baek Hyun agar lelaki itu tidak bisa tersenyum lagi.

Baek Hyun menyeringai dan pergi meninggalkan Hyera ke kelasnya di 3-1. Sebelum keluar kelas dia mendapati Jong Dae sedang berjalan ke arahnya. Jong Dae tersenyum lebar kepadanya dan tangannya mengibaskan sebuah amplop coklat. Mau tak mau Baek Hyun ikut tersenyum.

“Hasil Olimpiade kemarin, Baek” seru Jong Dae di depan kelas.

Se Hun, Lu Han dan Jong In berjalan ke depan kelas, melihat hasil Olimpiade kedua teman mereka.

“Tentu saja sekolah kita menang.” Jong Dae berteriak senang.

Yehet!” Se Hun ikut bersorak.

Dan akhirnya kejadian itu di akhiri dengan sebuah pelukan khas laki-laki dan sorakan kemenangan yang tiada hentinya untuk Baek Hyun dan Jong Dae.

Hyera yang melihat itu langsung tersenyum miris. Entah kapan dia bisa berpelukan seperti itu dengan teman-temannya. Lagipula dia tidak punya teman sama sekali, jadi haruskah sekarang dia mencari teman? Jawabannya tidak. Hyera sudah memutuskan bahwa sendiri adalah yang terbaik.

Hyera masih memandang ke arah Baek Hyun yang sedang tertawa senang dikelilingi teman-temannya. Lelaki itu tidak mudah ditebak. Satu sisi dia bisa saja kelihatan cerdas dan sopan tapi satu sisi dia bisa kelihatan seperti seorang yang suka mempermainkan wanita.

Oh, dia akan bertemu lagi dengan Baek Hyun sepulang sekolah dan itu membuatnya cemas.

He is such a pretty good bad boy.

TBC

Hellooo~

Readers, sumpah mati aku ga percaya kalau kalian suka sama ff buatanku ini:3 makasih banget ya yang mau commentar dan like, kalian best readers^^

Dan buat sidersnya semoga aja mau commentar ya! J

Bonus bocoran part II :

“Percaya diri sekali kau”

“Ini, ambil kalau kau bisa.” Baek Hyun mendekatkan tangannya pada Hyera.

Kejadian intim ini membuat mereka seakan de javu.

Posisi mereka salah. Benar-benar amat salah.

“Aku pindah ke Seoul dan bersekolah di Kyung-Hee High School”

Semoga kalian suka dan don’t forget to Read,Comment and Like JI hope get 50-70 responses.

6 thoughts on “The Dark Rose Part IB [freelance]

  1. Hehe langsung baca yg ini, belum baca yg sebelumnya :v
    Ff inu bakal jadi salah satu yang ditunggu-tunggu ^o^
    Bakal ga sabar buat baca kelanjutannya
    Semangat yaa buat ngelanjutinnya, keren ini…

  2. Kyaaa hyera dan baekhyun ? Kkk baekhyun ada-ada saja ya .
    Kkk apakah mungkin baekhyun menyukai hyera ? Dan membuat satu rencana yang memudahkan ia untuk dekat dengan hyera .
    Next chapternya ya thor.
    Fighting ♥♥

  3. Kyyyyaaaa ini kereeen sumpah aku baru baca sekarang dari part sebelumnya ini ceritanya bener-bener kereenn jarang banget nemuin ff yg bad nya itu cewek nya😀 soalnya kebanyakan ff lebih cenderung cast cowok nya yang bad😀
    Terus di lanjut ya thor ff nya semanggaaatt😀

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s