Diposkan pada Freelance

The Unforgettable [freelance]

The Unforgettable

1957640_1409033326019640_1990786101_o

Tittle          : Yang Tidak Terlupakan

Author         : Bacon_Mexotic

Genre          : Romance,sad

Length         : One Shoot

Rating                   : 13+ Older

Cast            :

– Byun Baekhyun as Baekhyun

– Yurael (OC)

– Another cast find by your self

Yehet, akhirnya bisa juga bikin FF oneshoot. Semoga ceritanya menarik. Mian yah kalo banyak typo bertebaran. The last Happy Reading ^^

Moccolatte Cafe di pinggiran Kota Seoul, 21.00 KST, 2 tahun yang lalu…

Author POV

    Sepasang kekasih tengah terduduk menikmati secangkir latte yang telah dihidangkan di depan mereka. Tidak lupa sepotong cake bernuansa coklat putih juga telah terhidang di atas meja menemani cangkir kedua pasangan tersebut.

Alunan musik natal mengalun lembut membuat para pengunjung cafe enggan untuk pergi dan berjalan di bawah hujan salju yang mulai turun di kota Seoul. Yayayah, malam natal ini pastilah akan sangat romantis terutama untuk mereka yang memiliki kekasih.

Namja itu terlihat sangat ceria, ini adalah malam natal jadi dia sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk yeoja yang sangat dicintainya. Tapi ekspresi yeoja itu tidak terlihat seceria kekasihnya. Wajahnya tampak tegang, dia juga terlihat murung dan entah mengapa matanya terlihat basah.

“Oppa..” akhirnya yeoja itu mulai membuka pembicaraan.

“nee chagi?” jawab namja itu dengan semangat.

“naega…”

“chageppa, aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu.” Potong namja itu. Malam ini dia merasa sangat bersemangat.

“Merry christmas chagi, jeongmal saranghae yeongwonhi.” Lanjut namja itu sambil menyodorkan sebuah kotak merah, didalamnya sebuah kalung perak nan cantik tergelatak begitu manis. Belum lagi liontin hijau berbentuk daun membuat kalung itu semakin sempurna.

“Igo..” hanya kata-katalah itulah yang terucap dari mulut yeoja itu.

“Ini adalah kejutan kecil untukmu. Kau tahu, arti dari liontin itu?” tanya namja itu.

Yeoja itu tidak menjawab, dia hanya menggeleng.

“ini adalah daun semanggi. Biasanya daun semanggi itu daunnya berjumlah 4. Beberapa orang mengatakan jika daun semanggi berjumlah 5, dia bisa mengabulkan apapun permintaan pemiliknya. Yah mungkin ini seperti tahayul. Tapi aku ingin memberikan daun semanggi berjumlah 5 agar kau selalu bisa menyukaiku seperti aku yang akan selalu menyukaimu.” Jelas namja itu.

Yeoja itu hanya menatap liontin kalung yang ternyata memiliki suatu arti yang sangat berharga juga indah.  Liontin yang berisi suatu harapan. Dalam hati dia merasa senang sekaligus sakit. Dia tahu dan sadar betul mulai saat ini dia tidak bisa menerima apapun pemberian dari namja itu lagi.

“Mian oppa, tapi aku tidak bisa menerimanya.” Ucap yeoja itu membuat namja yang ada di depannya sedikit terkejut.

“Wae?? Kau tidak menyukainya?” tanya namja itu lirih. Raut kekecewaan nampak pada ekspresinya.

“Anhi.. “ Jawab yeoja itu. Dia terdiam sesaat lalu kembali berkata,      “Byun Baekhyun-sshi aku ingin kita putus.”

Apartment Mewah di kota Seoul, 18:00 KST, Saat ini..

Baekhyun POV

“Andwae..andwae..Yurael jebal. Yurael..yurael..YURAELLLL”

Jantungku berdegup kencang, keringat dingin mulai membasahi tubuhku. Tidak kusangka kejadian dua tahun lalu masih sangat membekas.

Yurael, aku masih tidak mengerti mengapa dia mengatakan itu. Dia tidak memberikan alasan apapun. Dan tiba-tiba saja dia menghilang bagaikan di telan bumi. Sungguh disayangkan rasa cintaku untuknya tidak bisa ikut lenyap bersama kepergiaan yeoja yang paling kusayangi.

Malam ini tepat dua tahun sejak kejadian itu terjadi. Malam natal yang sangat menyedihkan.

XOXO..XOXO

Handphone ku melantunkan dering panggilan masuk. Aishh, sungguh menyebalkan.

“Yeoboseo.” Ucapku.

“Yeobeoseo, Yaa Baekhyun kau ada dimana hah? Semua orang menunggumu.” Teriak seseorang dari seberang sana.

“Dirumah tentu saja. Memang seharusnya aku ada dimana?”

“Aissh, Yaa kau tidak lupa janji kita hari ini kan?”

“Yakso? Urin?” tanyaku sembari mengingat-ngingat. Sial, aku lupa.

Hari ini aku berjanji untuk berkumpul bersama teman-teman band ku.

“Ahh, mian. Aku lupa.”

“Aigoo, kau ini. Sejak kejadian itu kau sering sekali lupa. Cepatlah datang, kami semua menunggumu. Jangan sia-siakan hidupmu Baekhyun.” Ucap Chanyeol dengan nada menasihati.

“Arra, aku akan segera ke sana.”

“Baiklah, jangan terlalu lama. Segeralah datang.” Ucapnya sambil menutup telepon.

Chanyeol benar. Aku tidak boleh terus-terusan begini. Mungkin aku tidak bisa menjadi Baekhyun yang dulu yang selalu ceria dan tertawa. Tapi setidaknya aku masih bisa menjadi seorang mantan anggota band.

Dengan cepat ku raih handukku dan bergegas untuk mandi. Setelah itu aku berpakaian lalu memakan roti dan jus jeruk. Ku ambil kunci motor di atas meja dikamarku dan saat itu aku menemukannya.

Sebuah kalung yang entah sudah berapa lama tergeletak disana. Hatiku berdesir perih. Denyut nyeri menjalar di jantungku. Aku masih tidak bisa mengatasi sakit hatiku.

Entah berapa lama aku memandang kalung itu dan tanpa pernah ku tahu alasannya dengan reflek tanganku mengambil kalung itu dan menyimpannya di kantung jaketku. Dalam hati aku berharap bisa bertemu dengan Yurael sekali lagi untuk memberikan kalung yang sempat ditolaknya dulu.

Ku nyalakan motor ku dan mulai melaju dengan hati yang masih terasa perih.

Moccalatte Cafe, 19:00 KST

Aku tidak mengerti mengapa mereka memilih tempat ini. Tempat favoritku juga Yurael. Dengan langkah enggan ku paksakan kakiku untuk masuk ke dalam cafe.

“Baekhyun..” Seseorang berteriak memanggil namaku dengan suaranya yang sangat familiar.

Dengan cepat aku mencari sumber suara itu dan menghampiri Chanyeol yang tengah melambai ke arahku.

“Sudah lama tidak berjumpa. Kau tidak merindukan kami?” ucap Chanyeol saat aku duduk di salah satu kursi kosong yang memang sudah disediakan untukku.

Aku hanya bisa tertawa. Sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan.

“Baekhyunie, apakah kau masih tidak bisa melupakan yeoja itu?” tanya Suho hyung membuatku semakin terluka.

Aku tidak menjawabnya. Aku hanya diam. Kebisuanku pasti sudah menjawab pertanyaannya.

“Apakah hidupmu harus berubah hanya karena kepergiannya? Apakah kau tidak bisa menjadi Baekhyun yang dulu? kami mengkhawatirkanmu.” Kali ini Kris Hyung yang berkata.

“kami mengerti kau sangat menyukainya, tapi mau sampai kapan kau seperti ini? Sudah dua tahun kau bersembunyi dalam lukamu. Kau bahkan tidak pernah mau menemui kami. Tidak bisakah kau melupakannya? Setidaknya demi hidup mu? “ Luhan hyung juga  ikut bertanya.

“Arra. Tapi ini sangat sulit untukku. Dia adalah segalanya, aku tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa dia. Hidup tanpanya seakan membunuhku.” Jawabku dengan suara tercekat.

Tanpa ku sadari cairan hangat mulai mengalir.

Mendengar jawabanku mereka hanya terdiam dan memandangku dengan tatapan penuh cemas. Mianhe, aku benar-benar menjadi namja lemah saat yeoja itu pergi meninggalkanku.

Detik demi detik mulai berlalu. Suasana yang tadinya menyedihkan mulai berubah ceria. Mereka mulai bercerita dan tertawa. Tapi aku tetap tidak bisa ikut tertawa bersama mereka.

Aku hanya ingin pulang dan tidur dikamarku. Tapi aku tahu, itu akan membuat mereka semakin khawatir juga kecewa.

“Baekhyun, apakah kau benar-benar tidak mau kembali lagi menjadi vokalis di band kita?” tanya Luhan hyung tiba-tiba. Aku bisa merasakan mereka menatapku dan menunggu jawabanku.

“Anhi, aku rasa aku tidak bisa. Ku dengar kalian sudah menemukan vokalis baru?”

“Nee, tapi akan lebih menyenangkan jika kau mau kembali.” Jawab Kris hyung.

“Yaa Baekhyun, apakah kau serius?” tanya Chanyeol.

“Nee. Mianhe Chanyeol, ku rasa aku tidak bisa bernyanyi lagi.” Balasku.

“Arra. Jika itu memang pilihanmu. Aku bisa apa.” Ucap Chanyeol dengan nada ceria yang terdengar di paksakan.

“Gomawo. Oh yah, siapa vokalis barunya?”

“Ah, namanya Do Kyungsoo. Dia tinggal di daerah gangnam.” Jawab Suho hyung.

Gangnam? Kenapa harus kota itu. Gangnam, tempat tinggal Yurael. Kuharap ini hanya kebetulan saja.

“Kau pasti akan senang dengannya. Dia adalah namja yang sangat baik juga ceria. Akan ku perkenalkan kau dengannya.” Ucap Luhan hyung.

“Apakah dia akan kemari?”

“Yap. Saat ini dia sedang di jalan. Wae?”

“Tidak, aku hanya bertanya.”

“Nah itu dia.” Ucap Suho hyung sambil menunjuk ke arah seorang namja yang baru melewati pintu cafe. Namja itu mungkin tinggi nya sama denganku.

Yah dia terlihat menarik, syukurlah mereka menemukan seseorang yang bisa menggantikan aku.

“Kyungsoo..!! “ Panggil Luhan hyung sambil melambaikan tangan ke arah namja itu.

Namja itu melihat ke arah kami lalu tersenyum. Tapi dia tidak menghampiri kami. Dia berjalan kembali keluar. Ada apa dengannya?

Aku masih melihat ke arah pintu, beberapa saat kemudian dia kembali masuk. Tapi kali ini dia menggandeng seorang yeoja. Yeoja yang sangat ku kenal. Yeoja yang paling kucintai seumur hidupku.

Melihatnya membuatku merasa sakit. Aku sakit karena aku tahu sekarang dia bukan milikku lagi. Aku bisa melihat mereka juga sedikit terkejut saat melihat Yurael bersama namja itu.

Aku ingin pergi tapi teman-temanku menahanku untuk tetap tinggal dan duduk.

“Andwae Baekhyun. Kau tidak boleh pergi kau harus menghadapi ini. Inilah caranya agar kau bisa melupakan dia. Mian mungkin ini akan membuatmu semakin terluka. Tapi dan kurasa nantinya ini akan membuat hatimu sedikit lebih baik.” Ucap Suho hyung.

Aku berpikir sejenak, yah mungkin saja. Lagipula ada sesuatu yang ingin kuberikan pada Yurael. Sepertinya tuhan memang sudah merencanakan ini.

“Kalian tidak menungguku lama bukan? “ tanya namja itu sambil menarik kursi kosong di sebelahku dan duduk di kursi itu. Sementara Yurael duduk di sebelah namja itu.

“Tentu,tentu. Kami juga baru datang beberapa waktu yang lalu.” Balas Chanyeol dengan nada cerianya seperti biasa.

“Ahh syukurlah kalau begitu.” Dia melihat ke arah ku, lalu bertanya, “neo.. pasti Byun Baekhyun?”

“Nee. Kenalkan aku Byun Baekhyun, tapi bagaimana kau bisa mengenalku?” tanyaku penasaran. Mungkinkah Yurael pernah menceritakan tentangku?

“Mereka yang memberitahuku.” Balasnya singkat.

“Ahh, arraseo.” Ucapku kecewa. Ternyata buka Yurael.

“oh yah kenalkan aku Do Kyungsoo. Bangapda Baekhyun-sshi.”

“Bangapda Kyungsoo-sshi.” Balasku sambil melemparkan sebuah senyum ke arahnya.

“Lalu, nuguya?” tanya Suho hyung berpura-pura tidak tahu ke arah Yurael.

“Ah, kenalkan dia Yurael. Dia Te…”

“Tunangan. Kenalkan aku Yurael, tunangannya Kyungsoo. Senang berkenalan dengan kalian.” Potong Yurael dengan suaranya yang sangat familiar.

“Yaa Kyungsoo, kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau sudah bertunangan?”

Bisa kulihat Kyungsoo nampak terkejut dengan pernyataan Yurael juga pertanyaan dari Kris hyung. Mungkinkah ucapan Yura hanyalah kebohongan?

“Ahh itu, mian aku malu untuk mengatakannya.” Jawab Kyungsoo membuatku semakin hancur juga terluka.

Betapa menyedihkannya hidupku.

“Hei, bagaimana kalau kita tampil sekarang? Sekalian mempromosikan Kyungsoo.” Usul Suho hyung tiba-tiba.

“Disini? Sekarang?” tanya Kyungsoo terkejut.

“nee, wae? Kau takut yah?” Goda Chanyeol.

“Anhi, tentu saja tidak sama sekali.” Balas Kyungsoo.

“Kalau begitu ayo.” Ujar Luhan hyung sambil berdiri diikuti Chanyeol, Kyungsoo, Kris hyung juga Suho hyung.

Mereka mulai berjalan ke arah panggung. Aku kembali bertanya-tanya, mungkinkah mereka sengaja meninggalkan kami berdua?

“Lama tidak berjumpa.” Ucapku membuka percakapan.

Dia hanya melihat sekilas ke arahku lalu kembali menatap ke arah panggung.

“Chukae..” Ucapku lagi. Aku benar-benar merindukannya. Aku hanya ingin mendengar suaranya.

“Gomawo.” Balasnya singkat.

“Neo.. wae?” tanyaku lagi. Sungguh aku hanya ingin berbincang dengannya.

“Naega? Wae?” dia malah balik bertanya.

Aku menghembuskan napasku. Berusaha mengeluarkan semua beban yang sudah ku alami.

“Dulu mengapa kau meninggalkanku tanpa alasan? Mengapa kau pergi begitu saja? Lalu sekarang mengapa kau harus muncul dengan tunanganmu? Begitu cepatnya kah kau melupakanku?” deretan pertanyaan begitu saja keluar dari mulutku.

“Baekhyun-sshi” panggilnya formal.

“saat ini aku sudah menjadi tunangan orang lain. bukankah itu artinya kau tidak berhak bertanya apapun lagi padaku?”

“Yah mungkin memang begitu. Tapi aku berhak untuk tahu jawaban dari pertanyaanku karena bagaimanapun aku masih sangat menyukaimu.” Balasku.

“Dengarkan aku Baekhyun-sshi. Aku tidak pernah menyukaimu sedikitpun. Sama sekali tidak.” Ucapnya lantang.

“Kau bohong. Aku tidak percaya ucapanmu. Kau sedang bohong.”

“I’m not. Aku benar-benar berkata jujur.”

“Jika kau tidak menyukaiku, mengapa kau menerima pernyataan cintaku hah?”

“Ah itu. Perlu kau tahu, Byun Baekhyun-sshi. Namja populer di sekolah, anak orang kaya juga vokalis band EXO. Pasti menyenangkan menjadikanmu sebagai target permainan. Yah, aku dan teman-temanku menjadikanmu sebagai target permainan. Dan permainannya adalah mendapatkan hatimu.” Jelasnya membuatku tak percaya setengah mati.

“Kau bohong, kau pasti bohong. Jika aku hanyalah target permainanmu, mengapa kau mau menjadi pacarku selama 3 tahun? Mengapa kau tidak segera memutuskanku?” tepisku berusaha untuk membuat Yura mengaku kalau ucapannya hanyalah kebohongan.

“Kau pasti benar-benar sudah buta Baekhyun-sshi. Alasannya begitu mudah tapi kau tidak tahu? Kau sangat royal padaku, apapun yang ku inginkan pasti akan kau berikan. Bahkan tanpa memintapun kau akan tetap memberikannya. Menyenangkan bukan? Uangmu lah yang aku cintai.” Ucapnya sambil menyunggingkan senyum licik yang tidak pernah ku lihat sebelumnya.

“Aku tidak menyangka ternyata kau nappeun yeoja. Lalu mengapa sekarang kau bisa bertunangan dengan Kyungsoo? Apakah kau memanfaatkannya juga?”

“Anhi. Aku benar-benar menyukai Kyungsoo apa adanya. Pribadinya benar-benar berbeda denganmu. Dia lebih baik daripada dirimu. Karena itulah kuputuskan untuk hidup dengannya.” Balasnya.

“Yurael….” panggilku kecewa juga penuh marah.

“Jika akhirnya akan seperti ini, harusnya kau tidak usah muncul dihadapanku.” Bentakku padanya.

Dia hanya tertawa kecil mendengar ucapanku. Seakan-akan merasa puas dengan apa yang sudah aku alami karenanya.

Aku benci dia selamanya.

Author POV

Setelah mendengar semua ucapan Yurael, Baekhyun segera bergegas pergi meninggalkan yeoja yang sangat dicintainya. Bahkan dia tidak memperdulikan tatapan teman-temannya yang baru turun dari panggung.

Sementara itu, Yurael hanya menatap penuh puas saat melihat Baekhyun pergi penuh dengan kekecewaan juga amarah. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya yeoja itu pikirnya. Hanya dia dan Tuhan-lah yang tahu.

Di Tempat Kediaman Baekhyun, Seoul…

       Baekhyun membanting pintu apartmentnya dengan keras. Hatinya benar-benar sakit. Semua yang diucapkan Yurael padanya benar-benar keterlaluan. Seandainya dia tahu semuanya akan seperti ini akan lebih baik jika dia tidak pernah bertemu dengan yeoja itu.

Rasa sakit di hatinya semakin berdenyut, dengan penuh rasa kecewa dia meninju kaca juga cermin dengan tangannya. Berharap semua kekesalannya akan lenyap. Rasa sakit karena pecahan kaca yang menancap ditangannya bukanlah apa-apa dibandingkan dengan rasa sakit dihatinya. Air mata hanya bisa mengalir menemani seorang namja yang sangat terluka.

Berkali-kali telepon milik Baekhyun bergetar memunculkan nama Chanyeol juga para hyungnya. Tapi Baekhyun sudah tidak perduli. Dia melempar telepon itu membuat isinya berserakan.

Dan mulai saat itu juga hidupnya sudah berakhir.

Baekhyun POV

Tiga minggu setelah kejadian itu, Kediaman Baekhyun, Seoul, 19:00 KST

Sejak kejadian itu aku tidak pernah keluar dari apartmentku. Aku sudah memvonis hidupku sendiri. Aku sudah lama mati, itulah yang ku katakan pada diriku. Tidak ada lagi yang tersisa. Hanya luka itulah yang ada.

Aku tahu sikapku ini pastilah sudah membuat keluarga juga teman-temanku merasa cemas. Tapi aku bisa apa. Aku sudah tidak bisa kembali pada hidupku seperti semula. Seperti saat yeoja itu masih ada disisiku.

TING TONG..TING TONG…

Suara bel apartment ku berbunyi. Nuguya? Siapa yang datang kali ini? Appa? Umma? Chanyeol? Suho Hyung? Kris Hyung? Atau temanku yang lainnya?

Aisshhh, jebal. Kumohon jangan perdulikan aku lagi. Aku sudah mati.

TING TONG..TING TONG..TING TONG…

Aku tidak akan pernah membuka pintu itu. Sampai kapan pun tidak.

TING TONG..TING TONG..TING TONG..TING TONGGGGG…

Aishhh, ini benar-benar membuatku kesal. Apa sih? Tidak bisakah mereka mengerti aku? Tidak bisakah mereka menganggap aku sudah mati?

Dengan langkah gontai ku paksakan untuk membuka pintu.

KLEK

Di balik pintu itu berdiri seorang namja, tingginya melebihi aku. Parasnya sangat rupawan. Dan entah mengapa wajahnya mengingatkanku akan seseorang. Siapa dia?

“Nuguya?” tanyaku.

“Baekhyun-sshi?” tanyanya balik.

“Dia sudah mati.” Balasku singkat.

“Jinjja? Otteokajji? Benarkah dia sudah mati?” tanyanya lagi.

“Hmm..” balasku singkat dan bersiap menutup pintu., tapi ditahan oleh namja itu.

“Benarkah kau bukan Byun Baekhyun? Apakah kau mengenal noona ku?” tanyanya lagi.

“Noona mu? Nuguya? Aku tidak kenal. Pergilah.” Balasku tidak perduli. Mengapa pula aku harus mengenal noona nya.

“Jebal, noona ku saat ini sedang sekarat. Dia terus memanggil seseorang yang bernama Baekhyun. Aku ingin mempertemukan Yura noona dengan namja bernama Baekhyun sekali ini saja.” Ucapnya lagi dengan suara tercekat menahan tangis.

Yura Noona? Sekarat? Yura? Yurael kah?

“Yura noona? Apakah noona mu Yurael?” tanyaku. Dalam hati aku berharap bukan Yurael.

“Nee. Dia Yurael. Noonaku satu-satunya. Kau Baekhyun bukan? Jebal, tolonglah dia.” Pintanya sambil menangis.

“Masuklah dulu. “ ucapku. Begitu banyak yang ingin kutanyakan padanya.

Saat memasuki apartment ku matanya melebar terkejut melihat betapa berantakannya ruangan itu. Pecahan kaca berserakan dimana-mana.

“ Mian, tempat ini menjadi tidak terawat sejak noona mu meninggalkanku.” Ucapku.

Dia tidak menjawab hanya terdiam dan berjalan mengikuti ku. Mungkin dia mengerti bagaimana keadaanku.

Kami berdua duduk di sebuah sofa di ruang depan.

“Mian hanya ini yang bisa ku hidangkan.” Ucapku sambil meletakkan dua kaleng cola.

“Hmm, gomawo.” Balasnya.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Sehun.” Balasnya singkat sambil tersenyum.

Ah ternyata dia Sehun. Dongsaeng yang sering diceritakan Yurael. Namja itu pasti sudah tumbuh semakin dewasa dan semakin rupawan. Dia tampak berbeda dengan foto yang ditunjukkan oleh Yurael padaku.

“Bukankah Yurael sudah bertunangan dengan kyungsoo?  Lalu tadi kau bilang dia sekarat dan memanggil namaku? Kau pasti bohong. Tiga minggu yang lalu dia masih baik-baik saja dan bahkan dia berhasil membuat hidupku hancur dengan ucapannya.”

Bisa kulihat ekspresi Sehun berubah. Kemarahan tampak tersirat diwajahnya.

“Berhentilah memanggil noona ku seperti itu. Dia bukanlah yeoja seperti itu. Dengarkan aku hyung, noonaku tidak pernah bertunangan dengan Kyungsoo. Dia tidak pernah menyukai orang lain selain dirimu.” Ucapnya membuat aku terkejut setengah mati.

Jinjja? Yura tidak pernah bertunangan? Benarkah itu?

“Jika dia tidak bertunangan mengapa dia berbohong waktu itu? Lalu mengapa dia memutuskanku? Jebal, jangan berbohong. Hatiku sudah sakit dengan apa yang dikatakan noona mu.”

“Biar ku ceritakan kebenarannya. Dua tahun yang lalu pada tanggal 24 Desember dia tiba-tiba saja sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Saat itulah dia mengetahui kalau hidupnya tidak lama lagi. Dokter mengatakan kalau umurnya tidak akan lebih dari 1 tahun. Sejak pulang dari rumah sakit kami semua menangis. Aku tidak percaya 1 tahun lagi noona ku akan pergi.

Dia terus menangis dan mengatakan kalau dia tidak mau mati. Dia masih ingin hidup. Awalnya dia tidak bisa menerimanya tapi pada akhirnya dia menerima itu. Dia minta agar kami melupakan tentang penyakitnya dan bersikap biasa saja. Kami menuruti permintaannya. Tapi dia tetap menangis. Aku mengkhawatirkan noonaku.

Dia mengatakan padaku masih ada yang membuatnya berat, dan itu adalah dirimu Baekhyun hyung. Dia tidak mau mebuatmu merasakan apa yang kami rasa, kehilangan orang yang kau cintai. Akhirnya dia memutuskan untuk membuatmu membencinya. Pada tanggal 25 desember dia mengajakmu betemu dan berniat memutuskanmu dan menghilang selamnya.

Selama itu kondisi noona ku tidak stabil. Kadang membaik juga tiba-tiba memburuk. Setiap hari dia berdoa semoga kau sudah lupa padanya juga meminta agar tuhan membuatnya bisa bertahan lebih dari setahun.

Menjelang satu tahun, kami merasa takut. Tapi keajaiban terjadi, malam natal yang seharusnya menjadi malam terakhir untuk noona ku sama sekali tidak terjadi. Tuhan mengabulkan doa’a nya. Dia berhasil melewati satu tahun.

Setelah itu, dia menyuruh ku mencari tahu tentangmu. Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau sudah bisa melupakannya? Apakah kau hidup dengan baik? Menjadi penyanyi? Bahagiakah?

Kulakukan apapun permintaan noonaku. Kenyataan bahwa kau sangat menderita membuat kondisi noona ku semakin menurun. Dia menangis kembali. Akhirnya dia berencana untuk bertemu denganmu kembali dan membuatmu semakin membencinya. Sungguh ironis bukan? Noona ku harus menerima kenyataan takdir yang sangat menyakitkan.

Dengan bantuan teman-temanmu juga Kyungsoo hyung, akhirnya dia berhasil membuatmu membencinya. Sesampainya di rumah dia menangis dengan derasnya. Aku tidak tega melihat noona ku seperti itu. Seandainya bisa aku berharap tuhan mengganti posisi kami. Lebih baik aku yang sakit dari pada noonaku.

Sejak kejadian itu kondisinya terus memburuk. Sampai saat ini noona ku masih dirawat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kondisinya akan membaik. Setiap hari dia memanggil nama mu dalam tidurnya.

Berkali-kali aku memintanya untuk mengijinkanku membawa mu untuk bertemu dengannya. Tapi dia selalu melarang ku. Dia mengatakan kalau itu akan membuatmu sangat terluka. Dia tidak menginginkan hal yang lain. Dia hanya ingin kau bahagia.

Saat ini kondisinya semakin memburuk, noona ku sekarat. Tapi dia masih memanggil namamu. Aku merasa sakit, bukankah Tuhan tidak adil? Mengapa dia harus mengambil noona ku secepat ini? Jebal, temuilah dia untuk yang terakhir. Buatlah dia tersenyum untuk terakhir kalinya. Jebal…”

Penjelasan Sehun jelas saja membuat aku merasa sakit juga menyesal. Betapa bodohnya aku tidak menyadari kalau Yurael sedang sakit. Betapa bodohnya aku menganggapnya sebagai nappeun yeoja.

Tangisku pecah,Tuhan mengapa kau tidak memberitahuku dari awal?

“Mian, aku sama sekali tidak tahu.. Mianhe, jeongmal mianhe.” Ucapku denagn airmata yang masih mengalir.

“Hyung, ppali. Kita harus menemui noonaku.” Ucapnya sambil bangkit berdiri.

“Hmm..” Dengan cepat ku ambil kunci motorku dan bergegas pergi. Ku injak pedal gas motorku agar bisa melaju lebih cepat berharap Tuhan masih mengijinkanku untuk bertemu dengan yeoja yang paling kucintai,Yurael.

Rumah Sakit Seoul, Malam Natal 20:00 KST

       Yeoja itu terbaring lemah. Selang-selang pernapasan menancap pada tubuh mungilnya. Yeoja itu tampak sakit juga rapuh. Rambut cantiknya kini sudah hilang, tapi dia masih tetap yeoja yang kucintai. Aku merasakan sakit saat melihatnya tidak berdaya seperti itu.

“Noona..” Panggil Sehun saat kami sampai diruangannya.

Yurael membuka matanya perlahan, dia tampak terkejut saat melihatku.

“Yaa, Se…hun..mengapa kau membawanya kemari?” ucap Yura lemah.

“Hentikan Yura. Hentikan. Kebohonganmu sama sekali tidak membuatku bahagia. Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal? Wae Yura? WAEE???” tanyaku dengan suara terisak. Lagi-lagi air mata sudah mengalir.

“Inilah alasan mengapa aku tidak mau memberitahumu.” Balasnya sambil menyeka air mataku. Bisa kulihat matanya juga basah. Dia juga menangis.

“ aku akan lebih sakit jika ku tahu kebenarannya saat kau sudah pergi.” Balasku lalu memegang tangannya lembut. Bisa ku lihat air matanya mulai mengalir deras.

“Oppa, aku tidak mau mati..” Ucapnya sambil menangis. Hatiku terasa sakit. Aku memeluknya. Sungguh, aku pun tidak mau kehilangan yeoja itu.

“berjanjilah kau akan hidup dengn baik.” Ucapnya lemah. Aku mulai merasa takut saat dia mengatakan itu.

“Oppa, saranghae yeongwonhi.” Bisikknya ditelingaku.

“ Na do, saranghae yeongwonhi Yurael.” Balasku memeluknya semakin erat.

Bisa kurasakan tubuhnya semakin melemah. Pelukannya semakin melonggar. Aku mulai takut. aku sangat ketakutan. Napas yeoja itu semakin lemah.

“yurael..” Panggilku lembut. Dia tidak menjawab dan hanya terdiam

“Yurael..” Panggilku lagi. Berharap dia akan menjawab panggilanku kali ini. Tapi sia-sia saja. Berapa kalipun aku memanggilnya yeoja itu tidak menjawab.

Tuhan, apakah ini saatnya kau mengambil Yuraelku?

“Yurael, jebal…” ucapku pelan. Perlahan-lahan pelukannya mulai lepas.

“Yurael.. andwae.. Yura..Jeball..ANDWAE…” Aku mulai histeris. Begitu juga dengan Sehun dan orang tua Yura.

Pada akhirnya aku tetap harus kehilangan yeoja yang kucintai. Sungguh ironis memang. Tapi itulah kenyataannya.

2 Tahun Kemudian, Moccolatte Caffe, 19:00 KST

       Hari ini tepat 2 tahun kepergian Yurael. Yah, aku sudah berjanji padanya untuk melanjutkan hidupku. Setelah dia pergi, aku kembali meneruskan impianku. Menjadi penyanyi besar. Tapi aku tetap tidak bisa kembali pada band ku.

Kali ini aku sudah membuat sebuah lagu yang ku ciptakan khusus untuk Yurael. Yah, album pertamaku ini adalah duet antara aku juga Kyungsoo dan Jongdae teman sekolahku. Hari ini aku berjanji untuk bertemu dengan mereka.

“Baekhyun.” Panggil seseorang.

Kualihkan pandanganku. Ternyata itu Kyungsoo, teman-teman band EXO ku, juga Jongdae. Aku tersenyum menyambut kedatangan mereka.

“Sudah lama?” tanya Jongdae.

Aku hanya menggeleng. Mereka duduk bersamaan.

“Jadi, apa judul lagunya?” tanya Suho hyung.

“Miracle In December.” Balasku sambil tersenyum.

“Untuk Yurael?” tanya Kyungsoo.

“nee.” Balasku ceria.

“Isinya tentang apa?” kali ini Kris hyung yang bertanya.

“Mencintai seseorang yang sudah tidak ada. Aku yakin, albumnya akan laris dipasaran.” Ucapku optimis.

“Tentu saja, kau kan tampan jadi saat seorang yeoja melihat lagu mu, mereka akan berkata ‘aigoo, tampan sekali penyanyinya, ayo kita beli kasetnya.’” Ucap Luhan hyung sambil memperagakan dan menirukan gaya seorang yeoja.

Sontak kami tertawa bersama.

Aku menatap ke luar cafe, jalanan dipenuhi romansa natal.

Yurael, aku sudah menepati janjiku. Kau bahagiakan disana? Apakah kau sedang melihat aku saat ini? Kau lihat aku bahagia bukan?

Aku yakin kau juga bahagia disana.

Yurael, sampai kapan pun aku akan selalu mencintaimu. Karena kaulah satu-satunya yang tidak terlupakan dalam hidupku.

Finish

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

2 tanggapan untuk “The Unforgettable [freelance]

  1. akan lebih baik kalo yurael jujur dari awal dan baekhyun tetap mendampinginya selama sisa hidupnya
    dan banyak kenangan indah yang mereka bisa lakukan bukannya malah menyakiti pasangan demi kebahagian yang menipu

    tapi keren kok ceritanya terharu banget

  2. Uh sangat mengharukan yurael harus meninggalkan baekhyun karena ia mengidap penyakit mematikan . Ugh sedih banget kukira awalnya yuraek sangat kejam pada baekhyun tapi ia sangat mencintai baekhyun ia tak ingin baekhyun terluka.
    Next fanfictnya kutunggu ya
    Fighting 🙂 🙂

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s