Diposkan pada Freelance

Under The Tree [freelance]

UTT

Author : noonapark | Tittle : Under The Tree  | Cast : EXO’s Do Kyungsoo & Kai / Kim Jongin  | Genre : Brothership—Fantasy-Angst | Lenght : Oneshot  | Rating : General

 

– noonapark present © 2014 –

 

Also posted in my blog (http://noonapark.wordpress.com/)

 

.

.

Lelaki itu duduk termangu di tepi taman seorang diri dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Diletakkannya dengan sembarang ransel berwarna hitam miliknya tepat disamping tubuhnya.

Do Kyungsoo –lelaki itu- menarik nafas berat untuk kesekian kalinya. Kepalanya terus tertunduk, matanya memandang sendu kearah rerumputan hijau yang ia duduki saat ini.

“Aku benci Busan”gumamnya pelan.

Ia kembali terdiam.

Hingga beberapa saat kemudian, kehadiran seseorang berhasil mengalihkan perhatiannya dari rerumputan itu.

“Kau tidak pulang? Ini sudah sore”seseorang berujar pada Kyungsoo. Detik selanjutnya, seorang lelaki berkulit agak gelap itu ikut duduk disamping Kyungsoo, lelaki itu juga meniru cara duduk Kyungsoo, melingkarkan tangan di kedua lututnya yang tertekuk.

Lelaki itu menoleh karah Kyungsoo, “Kau tidak mendengarku?”

Kyungsoo mengerjap beberapa kali.

“Aku bertanya padamu, kau tidak pulang? Ini sudah sore”ulang lelaki itu lagi –kali ini dengan nada sedikit lebih keras.

Kyungsoo menghembuskan nafas agak panjang, lalu menggeleng pelan, “Pulang?”ia tersenyum tipis, “Tidak, kalau bisa aku tidak ingin pulang sekalipun”tambahnya lirih. Lalu Kyungsoo menatap kosong lurus kedepan.

Lelaki itu mendekatkan wajahnya, menatap Kyungsoo dengan tatapan menyelidik. “Kenapa? Kau berkelahi dengan orang tuamu? Terus kau kabur dari rumah? Atau..”ia menggantung kalimatnya sembari memperhatikan penampilan Kyungsoo, “kau menghamili teman sekelasmu dan kau di keluarkan dari sekolah?”

Pertanyaan terakhir dari lelaki itu berhasil membuat mata bulat Kyungsoo semakin membulat. “Apa?!”seru Kyungsoo mulai kesal. Lelaki itu hanya menatap aneh kearahnya.

Kyungsoo mendengus, “Siapapun kau! Jangan berani-beraninya kau campuri urusanku!”tegas Kyungsoo. Ia lalu berdiri, menyambar tasnya dan mengambil langkah menjauhi lelaki itu.

“Ya ya.. dan siapapun kau, sepertinya kau adalah seseorang yang kesepian!”lelaki itu berujar tanpa merubah posisi sedikitpun, tetap duduk dan menatap lurus kedepan, kearah danau kecil yang ada ditengah-tengah taman itu.

Kyungsoo yang mendengar perkataan lelaki itu langsung menghentikan langkahnya, ia diam sejenak, lalu berbalik kearah lelaki tadi. “Sudah kukatakan padamu, jangan campuri urusanku”katanya dingin

Lelaki tadi berbalik, lalu tersenyum manis kearah Kyungsoo. Dan entah mengapa senyumannya menimbulkan sesuatu yang aneh di diri Kyungsoo.

Kali ini ia beranjak dari duduknya, berdiri menghadap Kyungsoo. “Aku melihatmu sudah sekitar satu minggu ini, kau duduk disini dari siang hingga menjelang malam. Memangnya apa yang kau lakukan disini, hm?”

Kyungsoo baru saja akan membuka mulut saat tiba-tiba lelaki itu kembali bersuara, “Ah~ atau… kau terpesona dengan pemandangan disini?”terkanya, lalu tertawa, “ya ya.. tempat ini memang indah. Ini adalah satu-satunya tempat favoritku yang ada di Busan”tambahnya dengan tawa yang tersisa. Setelah tawanya mereda, kini wajahnya kembali mengukir senyuman lembut,“Kau lihat? Ada danau di tengah taman ini, ada beberapa macam bunga, dan berbagai pohon yang tumbuh. Dan sepertinya kau sangat suka duduk dibawah pohon ini”lelaki itu mendongak, memperhatikan dahan-dahan pohon yang tumbuh disampingnya.

Kyungsoo masih terdiam ditempatnya. Menatap lekat kearah lelaki itu.

“Ya! Kau tidak pulang? Ini sudah hampir malam!”

Kyungsoo mengerjap beberapa kali.

“Sudah, cepat pulang sana! Atau ibumu akan memarahimu”lelaki itu tersenyum lebar. Tanpa menunggu jawaban dari Kyungsoo, ia memutar tubuhnya, memasukkan telapak tangannya di saku celana dan melenggang pergi.

Kyungsoo hanya diam, menatap lekat punggung lelaki itu yang semakin jauh dari jangkauannya.

~oOo~

Hari selanjutnya berlalu seperti hari-hari biasa selama Kyungsoo pindah ke Busan. Sepulang sekolah ia pergi ke taman dan duduk di bawah pohon besar yang berada tak jauh dari danau.

Kyungsoo baru saja akan mengenyakkan tubuhnya ke tanah, saat tidak sengaja ekor matanya menangkap kehadiran seseorang.

“Kau?!”seru Kyungsoo. Ia sedikit mendelik kearah lelaki yang banyak bicara yang ia temui kemarin. Lelaki itu terlihat tidur dengan lelap dengan posisi duduk dan menyandarkan punggungnya pada batang pohon.

Hingga beberapa detik kemudian, lelaki itu menggeliat kecil, lalu tubuhnya jatuh ke tanah. “Aaw!”racaunya dengan mata masih setengah terpejam.

Pemandangan itu membuat Kyungsoo menahan tawanya.

“Aish! Jinja!”ia mencoba bangun, sembari menggaruk-garuk asal kepalanya membuat rambut cokelatnya kini terlihat berantakan.

Dan kali ini, Kyungsoo benar-benar tidak bisa menahan tawanya.

Setelah membetulkan posisi duduknya, lelaki itu mendongak, memperhatikan Kyungsoo yang berusaha menyembunyikan kegeliannya.

“Kau menertawakanku?”sungutnya

Bukannya menjawab, Kyungsoo semakin terbahak. Kemudian ia duduk disamping lelaki itu. “Haha, lihat! Dikepalamu?”

“Apa?”sahut lelaki itu sembari menautkan kedua alisnya

Kyungsoo menggeleng pelan, lalu tangannya terulur kearah kepala lelaki itu, dan mengambil beberapa daun kering yang bertengger disana.

“Ada daun di kepalamu”

“Oh, terima kasih”kata lelaki itu tersenyum tulus. Kyungsoo balas tersenyum, setelah itu ia memandang lurus kedepan, memperhatikan permukaan danau yang begitu tenang, dan menenangkan.

“Namaku Jongin, Kim Jongin”lelaki itu mengulurkan tangannya kearah Kyungsoo

Kyungsoo menoleh, menatap tangan Jongin dan wajahnya yang tersenyum secara bergantian. Hingga akhirnya, Kyungsoo meneriba jabatan tangan itu. “Do Kyungsoo”

.

Selama beberapa saat mereka sama-sama terdiam, memandangi permukaan danau dan menikmati hembusan angin yang begitu lembut di sore itu.

“Sepertinya.. kau lebih tua dariku, apa aku boleh memanggilmu hyung?”tanya Jongin sembari menghadapkan tubuhnya kearah Kyungsoo.

Kyungsoo menanggapinya dengan senyuman tipis dan satu anggukan pelan.

“Benarkah? Aku boleh memanggilmu hyung?!”seru Jongin sembari menggoyang-goyang lengan Kyungsoo

“Ya! Jangan berlebihan!”protes Kyungsoo sembari menarik tangannya

Jongin hanya menunjukkan cengirannya pada Kyungsoo.

“Oya, hyung, rumahmu dimana?”

Kyungsoo menatap Jongin sekilas, kemudian ia menghembuskan nafas agak panjang. “Sebenarnya..”ia menggantung kalimatnya, tatapannya kembali tertuju pada danau didepan sana, “aku berasal dari Seoul, tapi beberapa hari yang lalu orang tuaku memaksaku pindah ke Busan. Jadi..”

“Jadi karena itu setiap pulang sekolah kau langsung pergi ke tempat ini? Menyendiri dan murung disini? Karena kau tidak suka karena orang tuamu memaksamu pindah ke Busan?”cerocos Jongin

Kyungsoo melayangkan tatapan datar kearahnya, “Ya, aku tidak suka tempat ini. Sangat tidak suka!”

Jongin tampak murung, namun beberapa detik kemudian ia beranjak dari duduknya, berdiri didepan Kyungsoo. “Hyung! Lihatlah sekelilingmu!”serunya lantang sembari merentangkan kedua tangannya. Kyungsoo mendelik kearahnya, lalu memperhatikan sekelilingnya, takut kalau-kalau ada orang yang melihat lelaki cerewet ini dan menyangka bahwa Jongin adalah orang yang kehilangan sedikit kewarasannya.

“Bukankah tempat ini sangat indah?!”seru Jongin lantang. Tubuhnya kembali berputar kesana kemari, “Sudah kukatan padamu tempat ini adalah tempat paling indah di Busan! Disana ada banyak sekali pohon, bunga, disini juga banyak burung-burung dan.. heummm”ia menghirup dalam aroma taman itu. “Aromanya sungguh menenangkan”

Kyungsoo mengangkat satu alisnya, menatap aneh kearah Jongin yang terlihat begitu semangat menjelaskan tempat ini.

Kini tatapan Jongin tertuju pada Kyungsoo, “Dan di Seoul, memangnya apa bagusnya tempat itu? Gedung-gedung tinggi, suasana yang riuh dan udara yang sudah tercemari oleh kendaraan-kendaraan bermotor, ueek”Jongin berlagak seolah-olah ia sedang muntah.

Kyungsoo tertawa kecil. “Tapi tetap saja aku tidak suka tempat ini. Karena—“

“Karena kau sendiri?”terka Jongin

Kyungsoo terdiam. Yang dikatakan Jongin memang benar. Kyungsoo merasa sendiri dan kesepian disini.

Kali ini Jongin tersenyum lembut.

Hyung..”matanya menatap sendu kearah Kyungsoo. “Aku sudah tidak punya siapa-siapa”

Kyungsoo tertegun.

Jongin masih tersenyum, “Aku sudah tidak mempunyai orang tua, atau saudara”tambahnya lembut. Beberapa saat kemudian, Jongin tertawa renyah, “Tapi kau lihat? Aku sama sekali tidak merasa kesepian. Aku masih bisa tertawa, aku masih bisa bermain-main”

Kyungsoo masih terdiam ditempatnya. Memandang lekat kearah lelaki dewasa yang terlihat seperti anak kecil dimatanya itu.

Hyung.. kemarilah”Jongin berlari kecil kearah Kyungsoo, menarik paksa tangan Kyungsoo dan membawanya mendekati danau. “Sekarang buka tanganmu lebar-lebar dan arahkan kepalamu ke atas”

Walaupun bingung, Kyungsoo menuruti perkataan Jongin. Merentangkan kedua tangannya dan mendongak keatas.

“Lihatlah awan itu selama beberapa saat”kata Jongin pelan. Mereka sama-sama terdiam, memandang gumpalan awan yang menghiasi langit biru sore itu. “Sekarang tutup matamu”Jongin menutup matanya perlahan, begitu juga Kyungsoo. “Hyung… berteriaklah sekuat yang kau bisa, keluarkan semua beban yang ada didalam pikiranmu”

Kyungsoo membuka matanya, menatap Jongin bingung.

“Aku menyuruhmu berteriak, bukan untuk melihatku”kata Jongin datar, namun matanya masih terpejam. “Begini.. AAAAAA!!!!”Jongin berteriak sekeras mungkin. “AAAA!!!”ia berteriak selama beberapa kali. Kemudian membuka matanya, nafasnya tersengal-sengal namun bibirnya mengukir senyuman lebar. “Hyung.. kau harus mencobanya”ia tersenyum lebar kearah Kyungsoo.

Kyungsoo diam sejenak, ia berfikir tidak ada salahnya juga ia menuruti perkataan bocah cerewet ini.

Ia menutup kedua matanya, “AAAAA!!!”

Jongin mengikutinya, “AAAA!!!”

Kemudian Kyungsoo, “AAAA!!!”

Teriakan mereka saling bersahutan di udara.

Setelah beberapa saat, mereka membuka mata, saling memandang dan melempar tawa.

“Haha.. bagaimana perasaanmu, Hyung?”

Setelah meredakan tawanya, Kyungsoo tersenyum lembut kearah Jongin, “Aku merasa lebih baik sekarang…”

~oOo~

Semenjak keluar dari sekolah, Kyungsoo terus berlari menuju taman. Sesampainya ditaman nafasnya terlihat tersengal-sengal, keringat mengucur deras di pelipisnya. Matanya ia edarkan kesegala arah, mencari-cari keberadaan seseorang.

“Hei! Kau mencariku?”

Kyungsoo menoleh kesana kemari.

“Aku disini”

Kyungsoo mendongak, matanya membulat saat mendapati Jongin tengah bertengger di salah satu dahan pohon ditaman itu.

“Ya! Kau bisa jatuh!”seru Kyungsoo

Jongin terkekeh, lalu dengan sembrono ia melompat kebawah.

Bugh!

“Akh!”

“Jongin-ah!”seru Kyungsoo panik, ia melempar ranselnya ke sembarang arah, “Kau tidak apa-apa?”tanyanya khawatir

Jongin hanya tersenyum lebar kearahnya, “Aku baik-baik saja”

“Hah~ syukurlah”kata Kyungsoo lega

Ekor mata Jongin tidak sengaja tertuju pada satu arah. Pada tas Kyungsoo yang sedikit terbuka. Ia memicingkan mata, karena penasaran, ia mendekat kearah tas Kyungsoo dan segera membuka. “Woah! Kotak makanan!”serunya dengan mata berbinar. Jongin sedikit menggoncangnya, “Hyung, kau tidak memakannya?”

“Tidak”kata Kyungsoo malas, kemudian ia duduk dan menyandarkan punggungnya di batang pohon, lalu menutup mata. “Kalau kau mau makan saja”

“Tentu saja aku mau!”

.

Dalam hitungan menit makanan itu sudah lenyap oleh Jongin. “Ah! Aku kenyang! Hyung, makananmu sangat enak. Siapa yang membuatnya?”tanya Jongin antusias

“Aku memasaknya sendiri”sahut Kyungsoo dengan mata yang masih terpejam

Mwo?!”Jongin segera mendekat kearah Kyungsoo. “Kau bisa memasak?”

Kyungsoo mengangguk.

Jongin memicingkan mata.

Merasa suasana menjadi horor, Kyungsoo membuka matanya, saat menoleh, ia mendapati Jongin yang masih memicingkan mata kearahnya. “Kau tidak percaya?”

Jongin semakin menatap aneh kearahnya.

“Baiklah, besok aku akan membawakan makanan yang akan kumasak sendiri untukmu!”

“Benarkah?”senyum Jongin langsung mengembang.

Eoh, dan sekarang, jangan berisik karena aku ingin tidur”Kyungsoo kembali menutup matanya. Namun tidak lama kemudian, Jongin menggoyang-goyang lengannya.

“Apa lagi, Kim Jongin?!”

“Aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini”kata Jongin sembari tersenyum lebar pada Kyungsoo

“Jalan-jalan?”

“Maksudku.. jalan-jalan menggunakan sepeda”Jongin menunjuk kearah sepeda yang berada tak jauh dari mereka.

“Sepeda? Kau dapat darimana? Kau tidak mencuri kan?”Kyungsoo menatap aneh kearah Jongin

Tuk!

Sebuah jitakan mendarat tepat dikepala Kyungsoo.

“Ya! Aku ini hyung-mu!”

“Jangan cerewet! Mau tidak?!”

Kyungsoo diam sejenak seolah menimbang-nimbang, “Eum.. baiklah”

.

Hyung, kau memboncengku”ujar Jongin sembari menyodorkan sepeda bercat silver itu dihadapan Kyungsoo

Nde?! Kau yang mengajakku, seharusnya kau yang memboncengku?!”

“Tapi disini kau yang lebih tua, Hyung”Jongin mengingatkan, detik berikutnya ia sudah duduk manis di boncengan belakang. “Ayo cepat, mau jalan-jalan tidak?”

Kyungsoo memutar bola mata dengan malas, lalu mendesah pelan. “Bocah nakal”

~oOo~

“Nah, kita sudah sampai”ujar Kyungsoo sesaat setelah menghentikan sepedanya, kemudian ia turun dari sepeda.

“Woah, jadi ini rumahmu hyung? Besar sekali. Kau pasti orang kaya”gumam Jongin sembari memperhatikan rumah besar Kyungsoo dengan tatapan kagum. Kyungsoo hanya tersenyum kecil.

“Kalau begitu jangan hanya diluar, ayo masuk”ajak Kyungsoo lalu mengambil langkah menuju pintu gerbang.

Merasa tidak diikuti, Kyungsoo menoleh, dan mendapati Jongin yang masih diam ditempatnya dengan senyum mengembang.

“Kau tidak mau masuk? Ini sudah malam, Jongin-ah

“Tidak hyung, lain kali saja. Aku harus pulang”

“Tapi—“

“Aku senang bisa jalan-jalan denganmu hari ini, pergi bersepeda ke kebun the, ke ladang kentang, ke taman bermain dan lainnya. Gomawo, hyung”Jongin tersenyum lembut

Kyungsoo diam sejenak, menatap lekat laki-laki yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya. Mengisi kekosongannya.

Ya, dia begitu senang dengan kehadiran Jongin di dekatnya.

“Aku juga, aku juga senang bisa jalan-jalan bersamamu. Terima kasih, karena sudah menunjukkan tempat-tempat indah padaku”

Jongin terkekeh pelan. “Baiklah, aku harus pulang”Jongin menaiki sepedanya, lalu mulai mengayuh sepeda itu menjauhi Kyungsoo. “Jangan lupa besok bawakan makanan buatanmu!”serunya sembari melambai-lambai tanpa melihat kearah Kyungsoo

Kyungsoo terkekeh pelan, “Anak itu..”

~oOo~

“Woah!! Ini enak!”seru Jongin girang. Ia sudah menghabiskan dua kotak makanan milik Kyungsoo.

“Astaga.. kau terlihat seperti tidak pernah makan selama beberapa hari”ujar Kyungsoo menatapnya datar

Jongin terkekeh, “Besok, bawakan aku makanan lagi. Kita akan makan bersama lagi di taman ini. Di bawah pohon ini, hm?”

“Ya, tentu saja”sahut Kyungsoo. Lalu mengacak pelan rambut Jongin.

“Asih! Hyung, ketampananku bisa hilang karena perbuatanmu”gerutu Jongin sembari merapikan kembali rambutnya.

Aigoo.. rasakan ini!”Kyungsoo kembali mengacak rambut Jongin. Begitu juga Jongin, ia tidak mau kalah. Hingga pada akhirnya mereka saling membalas serangan.

Dan sore itu..

Di taman itu..

Di bawah pohon itu..

Mereka saling bertukar tawa. Tawa sepasang saudara yang menemukan teman di tengah kesepian mereka.

~oOo~

Semenjak mengenal Jongin, Kyungsoo sudah tidak lagi menghiraukan tentang orang tuanya ataupun keberadaannya di Busan. Ia sudah merasa cukup dengan keberadaan Jongin di dekatnya.

Kim Jongin. Bagi Kyungsoo, Jongin sudah seperti adik kecilnya yang cerewet dan menyebalkan. Namun juga menyenangkan.

Hari-hari ini kini ia lewati dengan penuh semangat. Sepulang sekolah ia selalu menemui Jongin di taman dan kemudian mereka akan menghabiskan waktu bersama, entah itu pergi ke kebun teh, ke sungai yang ada di ujung jalan dekat sekolah Kyungsoo, atau kemanapun.

Tak jarang saat ia tiba ditaman, ia menemukan Jongin tengah tertidur disana dengan posisi yang tak menentu. Laki-laki itu memang tukang tidur; begitu pikir Kyungsoo.

Hingga tidak terasa, sudah hampir satu bulan Kyungsoo mengenal lelaki itu.

Dan seperti biasa, setelah mengemaskan bukunya. Kyungsoo bergegas keluar kelas. Kali ini senyumnya terlihat sangat mengembang, pasalnya, pagi tadi dia memasakkan ayam spesial untuk Jongin. Karena lelaki itu memang menyukai ayam.

Kyungsoo baru saja keluar gerbang sekolah, saat sebuah suara memanggilnya.

“Kyungsoo-ya!”

Kyungsoo menoleh, dan mendapati gadis berwajah imut tengah berjalan mendekatinya. “Eoh, Sulli-ya, ada apa?”tanyanya pada Sulli –teman sekelasnya.

“Kau mau kemana?”

Kyungsoo tersenyum manis sebelum akhirnya menjawab, “Aku ingin menemui temanku”

Sulli menarik nafas berat, “Kyungsoo-ya, sebenarnya—“

“Astaga! Aku hampir terlambat!”seru Kyungsoo setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Sulli-ya, maaf. Tapi aku segera pergi. Annyeong!”

“Tapi—“Sulli tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena Kyungsoo langsung berlari secepat kilat. Gadis itu menghembuskan nafas agak panjang. Menatap Kyungsoo dengan tatapan iba.

~oOo~

“Jongin-ah, kenapa kau tidak bersekolah saja?”

Pertanyaan Kyungsoo sukses membuat aktivitas Jongin –mengunyah makanan- terhenti seketika.

“Kau bisa masuk sekolah di sekolahku, dengan begitu kita akan menjadi teman satu sekolah. Bisa jadi satu kelas. Ah! Tidak tidak! Kau pasti akan menjadi adik kelasku”Kyungsoo tertawa kecil. Tangannya masih sibuk menyumpit makanan dan memasukkan ke dalam mulutnya. “Bagaimana? Kau mau kan?”kali ini ia mendongak, menatap Jongin yang ada didepannya.

Jongin diam sejenak, lalu tersenyum simpul. “Tidak hyung, disini, di tempat ini, saat aku bisa bertemu denganmu. Aku sudah cukup senang”lalu ia kembali menyantap ayam goreng-nya.

Kyungsoo menatap lekat kearah Jongin. Entah mengapa seperti ada sesuatu yang berbeda pada Jongin saat ini. Wajahnya seperti memancarkan sinar.

Sinar yang membuat Kyungsoo menjadi tenang.

Kyungsoo tersenyum lembut. Lalu berucap, “Ya, terserah kau saja. Adik kecilku”sembari mengacak pelan rambut Jongin.

“Apa? Adik kecil?! Hyung, bahkan tubuhku lebih tinggi dari tubuhmu”

“Ya! Jangan membahas hal itu, Kim Jongin”

“Haha, kenapa? Kau tidak mau mengakuinya? Kalau tubuhmu lebih rendah dariku, hyung

“Ya! Aku ini hyung-mu. Bicara yang sopan padaku. Anak nakal!”

“Ya ya.. hyung yang tubuhnya lebih rendah dari namdongsaeng-nya”

“Kim Jongin!”

~oOo~

“Kyungsoo-ya, tunggu!”seru Sulli. Nafasnya terengah-engah sembari menumpukan kedua tangan pada lututnya.

Sang empunya nama segera menoleh. “Eo? Sulli?”

Sulli menegakkan tubuhnya, lalu berlari kecil kearah Kyungsoo yang sudah berada di luar pagar sekolah.

“Do Kyungsoo! Aku ingin bicara padamu”kata Sulli serius

“Bagaimana kalau besok? Aku ada janji dengan temanku di—“

“Teman apa maksudmu?”potong Sulli cepat

Kyungsoo menatapnya bingung, “Mwo?!”

Sulli menarik nafas cukup panjang, “Kyungsoo-ya, selama beberapa hari ini, saat aku tidak sengaja melewati jalan yang ada didekat taman. Kau tahu kan maksudku? Taman yang dibagian tengahnya ada danau itu”

Kyungsoo mengangguk pelan, “Nde. Lalu? Apa hubungannya dengan..”

“Dan aku selalu melihatmu berbicara seorang diri!”

Deg.

Kyungsoo terdiam, menatap Sulli dengan tatapan tak mengerti.

“Do Kyungsoo! Sebenarnya apa yang kau lakukan disana?! Berbicara sendiri, tertawa sendiri, makan sendiri. Apa kau sudah… Ah~”Sulli seolah tak bisa melanjutkan kalimatnya.

“A..apa maksudmu?”

“Do Kyungsoo, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?”

Kyungsoo diam selama beberapa saat. Entah mengapa tiba-tiba jantungnya terpacu dengan cepat. “Ya! K..kau bicara apa, eo?”suaranya sedikit bergetar, “Aku tidak sendiri disana! Aku bersama temanku. Tidak tidak! Dia sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Kim Jongin. Namanya Kim Jongin!”jelas Kyungsoo

M..mwo? Kim.. Kim Jongin?”ulang Sulli terbata

Nde!”sahut Kyungsoo mantab.

Sulli diam selama beberapa saat. “Tidak.. ini tidak mungkin”gumamnya pelan. Ia menatap Kyungsoo sekilas. Lalu ia mundur perlahan, memutar tubuh dan berlari meninggalkan Kyungsoo.

“Sulli-ya! Sulli-ya!”serunya. Namun Sulli seolah tak menggubris seruannya.

Kyungsoo menghela nafas cukup panjang, “Memangnya, apa yang salah dengan Jongin?”gumamnya pelan

~oOo~

Sedari tadi tatapan Kyungsoo seolah tak bisa lepas dari Jongin. Saat ini mereka tengah duduk berdampingan di tepi danau. Jongin tersenyum damai, menatap teduh ke arah danau.

“Jongin-ah..

Jongin menoleh, “Nde, hyung.. ada apa?”

Kyungsoo diam sejenak, “Ah! Tidak”ia menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis. Kemudian mereka kembali menikmati pemandangan yang tersaji didepan mereka.

“Sulli.. apa yang dimaksud gadis itu? Tidak tidak! Jongin benar-benar nyata”gumamnya dalam hati.

“Jongin-ah

Jongin menoleh malas, “Apa lagi, hyung

Kyungsoo tersenyum simpul, kemudian tangannya terulur kearah kepala Jongin.

“Ya! Kau mau apa?!”seru Jongin sembari menjauhkan kepalanya.

“Kemarilah, rambutmu berantakan”ujar Kyungsoo sembari menarik lengan Jongin. Lalu kedua tangannya dengan lembut merapikan rambut Jongin yang berantakan.

Jongin menatapnya lekat-lekat. “Hyung..

Aigoo.. di rumah kau memakai shampo apa? Kusut sekali”desis Kyungsoo.

Jongin tertawa kecil.

“Lain kali kau harus…”kalimat Kyungsoo menggantung saat tiba-tiba Jongin memeluk tubuhnya. Memeluknya semakin erat.

Kyungsoo terdiam ditempatnya.

Hyung… terima kasih. Karena kau mau berteman denganku”pelukan Jongin semakin erat. Kyungsoo tersenyum lembut. Membalas pelukan adik kecilnya itu sembari menutup kedua matanya.

“Jongin-ah..

“Kyungsoo-ya!!”

Kyungsoo menoleh, dan mendapati Sulli sudah berdiri tak jauh darinya dengan nafas yang tersengal-sengal.

“Sulli?”gumam Kyungsoo bingung

Sulli berjalan cepat kearah Kyungsoo. Kemudian duduk dihadapan Kyungsoo. Kemudian gadis itu merogoh sesuatu dari dalam ranselnya. Tidak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah kertas –koran- yang sudah sangat tua.

“Lihat ini!”ujar Sulli sembari membuka selembar koran tua itu.

Kyungsoo menatapnya bingung. Kemudian memperhatikan koran tua itu.

Harabeoji menyimpan ini dirumahnya. Sekarang kau baca bagian ini”Sulli menunjuk satu judul yang bercetak tebal di sudut bagian kiri.

Kyungsoo mengikuti arah telunjuknya.

Jantungnya mencelos saat membaca judul kalimat itu.

“Kim Jongin, anak laki-laki berumur 10 tahun yang meninggal di taman”

Kyungsoo diam selama beberapa saat. “Ti..tidak..”

Sulli menatap Kyungsoo serius. “Baiklah, aku akan melanjutnya”katanya kemudian. Sulli melanjutkan membaca isi berita koran itu. “Kim Jongin, seorang anak berusia 10 tahun. Ia adalah yatim piatu, kedua orang tuanya meninggal karena kebakaran yang terjadi di rumahnya. Ia berasal dari daerah yang tak jauh dari kebun teh. Seorang pemilik kedai pernah melihatnya beberapa kali, Kim Jongin berada di sebuah taman. Saat pemilik kedai itu bertanya padanya, anak itu menjawab bahwa ia sedang menunggu kakak laki-lakinya. Ia terus menangis sambil terus menyebut kata ‘Hyung’. Ia juga menolak saat pemilik kedai memaksa Jongin untuk pergi bersamanya. Karena saat itu tubuhnya terlingat sangat kurus dan lusuh. Hingga beberapa hari berikutnya, saat pemilik kedai itu melewati taman, ia menemukan Kim Jongin sudah tak bernyawa dengan posisi terlentang di bawah sebuah pohon yang ada di taman itu. Lalu…”

 

“HENTIKAN!”pekik Kyungsoo. Matanya memerah, nafasnya memburu.

Sulli menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kyungsoo langsung berdiri. “Jadi maksudmu Kim Jongin yang kukenal selama ini tidak nyata?! Begitu?!”serunya dengan nada marah.

Sulli berdiri, “Kyungsoo-ya, aku hanya—“

“Dia nyata! Kim Jongin yang kukenal benar-benar nyata! Kami sering naik sepeda bersama, makan bersama, tertawa bersama dan…”tenggorokan Kyungsoo tercekat. Pandangannya mulai kabur karena air yang menggenang di matanya.

“Kyungsoo-ya, dua tahun setelah kejadian itu, ada berita yang mengatakan bahwa kakak laki-laki Jongin ditemukan tewas karena kecelakaan di Seoul. Aku melakukan ini karena aku tidak mau kau terlalu larut dalam semua ini. Cobalah untuk membuka diri dengan teman-teman di sekolah kita, dan—“

“Hnetikan! Hentikan!”teriak Kyungsoo. Ia lalu memutar tubuhnya, menghadap Jongin yang tersenyum damai kearahnya. “Jongin-ah, katakan pada Sulli kalau kau benar-benar nyata! Cepatlah!”desaknya. Tapi Jongin tetap diam, masih tersenyum lembut kearah Kyungsoo.

“Ya! Hentikan! Kau mulai bicara sendiri lagi?!”seru Sulli.

Kyungsoo menatap bingung kearahnya, lalu kembali menatap Jongin. “Sulli-ya, kau tidak lihat? Jongin ada disini! Jongin-ah, katakan sesuatu padaku, katakan sesuatu pada Sulli, jangan hanya diam seperti ini, Jongin-ah!”detik itu juga air bening mulai mengalir di kedua pipi Kyungsoo

“Kyungsoo-ya..”Sulli menatap iba kearahnya.

“Jongin-ah”ia menggoyang-goyang kedua lengan Jongin. “Katakan sesuatu padaku.. jangan hanya diam.. Jongin-ah”ia tertunduk

Hyung..”Jongin tersenyum lembut. Menahan kedua tangan Kyungsoo yang mulai terkulai di sisi tubuhnya. “Terima kasih hyung, kau sudah menjadi temanku. Aku tidak akan pernah melupakanmu…”

“Jongin-ah..”perlahan Kyungsoo mendongak, tangisannya terhenti sesaat saat matanya tak lagi menangkap sosok Jongin. “Jongin-ah, diamana kau? Jongin-ah!”

“Kyungsoo-ya, hentikan. Aku akan mengantarmu pulang”ujar Sulli sembari menarik paksa tangan Kyungsoo.

“Tidak! Aku akan menunjukkan Jongin padamu!”sergah Kyungsoo

Sulli yang sudah tidak tega melihat keadaannya segera menarik tangan Kyungsoo, dan membawa paksa Kyungsoo pergi dari taman itu.

“Tidak! Jongin-ah! Jongin-ah!

~oOo~

-tiga bulan kemudian-

“Kau yakin?”wanita paruh baya itu memegang lembut pundak anak laki-laki semata wayangnya.

Nde, eomma. Aku berjanji tidak akan meminta apa-apa lagi pada eomma dan abeoji. Aku hanya meminta kalian mengabulkan satu permintaanku”

Do Kyungsoo, laki-laki itu kini berbalik menatap ibunya. Ia tersenyum simpul, “Aku hanya ingin.. eomma membelikan taman ini untukku. Hanya itu.. bagaimanapun caranya. Aku berjanji akan menuruti semua keinginan kalian”katanya, lalu tersenyum lembut sembari memperhatikan keadaan taman ini.

Taman ini masih sama, tidak berubah sedikitpun.

Danaunya, bunga-bunganya, pohon-pohonnya. Masih sama seperti saat Jongin dengan semangat mendeskripsikan tempat ini.

Ibu Kyungsoo menghela nafas sejenak, “Baiklah, eomma akan bicarakan ini pada abeoji-mu”

Kyungsoo tersenyum lembut, lalu merengkuh tubuh eomma­-nya.

Gomawo, eomma

~oOo~

Kyungsoo menuntun sepedanya mendekati taman. Lalu menaruhnya dibawah pohon besar yang biasa ia duduki saat itu. Sudah cukup lama ia tidak mengunjungi tempat ini. Tempat yang sekarang sudah menjadi miliknya.

Kyungsoo duduk dibawah pohon, menyandarkan punggungnya pada batang pohon yang menjadi saksi bisu kenangannya bersama laki-laki itu. Kim Jongin.

Ia menatap teduh kearah danau yang airnya tetap tenang dan terjaga.

“Jongin-ah.. adik kecilku yang banyak bicara. Kau tidak rindu pada hyung-mu, eo?”Kyungsoo bergumam pelan.

Hanya hembusan angin lembut yang menanggapi pertanyaannya sore itu.

Ia tersenyum getir.

Kemudian ia menutup matanya. Membiarkan suasana hening memasuki hingga relung hatinya.

Lima menit berlalu…

 

 

Kyungsoo sedikit tersentak saat merasakan sesuatu mendarat di pundaknya. Ia membuka matanya, diam sejenak.

Saat ia menoleh, ia mendapati kepala dengan rambut cokelat tengah bersandar di pundaknya.

Matanya mulai memanas. Tangannya perlahan terulur kearah rambut itu.

“Sudah kukatakan berapa kali padamu hyung, aku tidak suka saat kau memberantakan rambutku”

Kyungsoo menarik tangannya. Tertawa kecil.

Suara itu..

Pandangan Kyungsoo mulai kabur karena air yang mulai menggenang di matanya.

Hyung… terima kasih, karena kau telah menjadi temanku. Tidak.. maksudku.. terima kasih, karena kau telah menjadi hyung-ku”

Perlahan Jongin mendongak, mata teduhnya menatap Kyungsoo dalam.

Kyungsoo tersenyum, “Adik kecilku yang cerewet, jangan pernah lagi pergi tanpa izin dariku, arasseo!”

Nde, arasseo. Hyung..

Mereka saling melempar senyum. Menyalurkan rasa rindu lewat senyum lembut itu.

Hyung, aku ingin tidur di pundakmu”

Nde, tidurlah..”

.

“Terima kasih, karena kau telah menjadi adikku, Jongin-ah. Walaupun cuma bayanganmu. Kau tetap nyata bagiku. Kau benar-benar nyata bagiku”

-end-

 

Aku mau ucapin terima kasih sama admin yang udah bersedia post FF ku di blog ini ^^

Dan untuk pembaca, jangan jadi silent readers, oke! 😉

Oya, waktu itu aku kirim FF yang berjudul ‘The Deep Revenge’ dan salah satu komentarnya ada yang.. yah begitulah.

Intinya, aku juga ngga pernah maksa siapapun untuk baca tulisanku. Ada yang baca ya syukur, apalagi kalo ada yang baca sekaligus berikan tanggapan. Aku terima kasih banget. Satu komen itu bisa nambah semangat untuk aku.

Jadi bagi yang ngga suka sama tulisanku, aku selalu nerima saran dan kritik kok, bukan umpatan 🙂 apalagi kalo sampe bawa2 nama binatang. Ah, orang tuaku ngga pernah ngajarin aku kayak gitu.

Untuk seseorang yang pernah ngomong kayak gitu ke aku, maaf kalo aku ngecewain kamu pas baca FF ku. Aku Cuma nulis apa yang ada dipikiran aku, maklum aja, aku bukan penulis yang profesional, aku Cuma nyalurin hobi-ku 🙂

Dan terima kasih untuk mau menghargai tulisanku, saranghae all :-*

Iklan

Penulis:

Tidak bisa Online seharian karena hidup di dunia pesantren. harap maklum

Satu tanggapan untuk “Under The Tree [freelance]

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s