Posted in charismagirl

US | Love in Seoul – Part 3

poster us-prolog

US | Love in Seoul  – Part 3

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Jessy

Genre : Romance, marriage-life, family

Rating : PG-13

Length : Chapter / Series

Note : Do not copycat without my permission.

Link : prolog / 1 / 2 /

she’s act more cute than before

Baekhyun kembali ke tempat tidurnya. Menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. Mungkin besok dia harus meminta Minri memeriksakan kesehatannya. Agar Baekhyun dapat mengetahui secara pasti tentang kebenarannya.

“Selamat malam, sayangku.” Baekhyun menghadapkan tubuhnya pada Minri. Menatap wajah cantik yang selalu membuatnya jatuh cinta. Lalu perlahan matanya berpejam, membawa dirinya ke dalam alam bawah sadarnya. Dia bermimpi indah.

***Part 3***

Minri merasakan penerangan mengusik tidurnya. Perlahan dia membuka mata. Dia tidak menemukan Baekhyun di kasurnya, namun dapat mendengar keributan yang berasal dari luar kamarnya.

Chanhee-ya, dasimu terbalik.”

Appa! Rotinya gosong.”

Minum susunya dulu, Appa akan membuatkan lagi, sebentar.”

Apakah Chanhee tidak boleh membangunkan Eomma?

Dengan kepala yang masih terasa pening, Minri melangkah menuju pintu kamarnya. Dia bertahan sebentar untuk mengumpulkan kesadarannya sebelum membuka pintu. Penciumannya disambut oleh aroma roti gosong. Dia tidak mengerti mengapa Baekhyun sama sekali tidak membangunkannya padahal hari ini adalah hari kerja.

“Baek, kau menyiapkan semuanya sendiri?” ucap Minri saat dia baru saja mencapai dapur.

“Halo sayang, selamat pagi!” jawab Baekhyun.

Eomma!”

Chanhee duduk di meja makan, lengkap dengan seragamnya. Namun rambutnya tidak disisir. Di hadapan anak itu terhidang satu gelas susu vanilla dan roti yang terlalu matang, hingga Chanhee hanya menusuk-nusuk roti itu dengan garpunya.

“Maaf aku bangun terlambat, sini biar aku yang menyelesaikannya. Kau juga harus bersiap-siap, Baek.” Minri mengambil tempat di samping Baekhyun.

“Aku hanya tidak ingin mengganggu tidur nyenyakmu.” Baekhyun mencium pipi Minri.

“Tapi aku harus mengurus Chanhee–oh tidak! Chanhee akan terlambat.” Minri mengangkat roti panggangnya lalu meletakkan ke piring Chanhee. Anak itu segera menyantapnya, namun harus memberikan tiupan pada makanannya itu sebelum memasukannya ke dalam mulut.

Ting Tong!

“Siapa yang bertamu sepagi ini,” gumam Minri.

“Biar aku yang membukanya.” Baekhyun melesat keluar dapur menuju ruang tengah, samar-samar terdengar suara beberapa orang yang Minri kenali. Tamu paginya tidak datang sendiri, pikir Minri.

Eomma, aku sudah selesai.” Chanhee beranjak dari kursi lalu berlari kecil. “Jessy!” pekikan Chanhee terdengar sampai dapur. Minri menyusul anak itu beserta Baekhyun.

Ada Jessy dan ayahnya yang tampan.

“Jessy bilang dia ingin berangkat bersama Chanhee. Apakah tidak apa-apa?” tanya Sehun.

Minri memperhatikan Chanhee yang tampak menunggu jawabannya. Baekhyun belum benar-benar siap. Chanhee mungkin saja terlambat kalau menunggu Baekhyun. Tidak ada salahnya kalau membiarkan Chanhee berangkat dengan Jessy, anak itu akan senang sekali.

“Apa tidak merepotkanmu?” tanya Minri pada Sehun.

“Tidak. Chanhee anak yang baik, dan aku tahu itu. Dia tidak akan merepotkan.”

“Baiklah.” Kemudian terdengar sorakan bahagia dari kedua anak itu. Minri berdiri di samping Baekhyun, sementara Chanhee berada di hadapannya. Kemudian Minri menunduk, menyejajarkan tingginya dengan Chanhee. “Jangan nakal, ya.”

Ne, pasti Eomma.” Chanhee mencium pipi Minri, kemudian Baekhyun. “Daaah!” Anak itu melambai riang, hingga akhirnya pintu tertutup, menyisakan Minri dan Baekhyun berdua.

“Sekarang kau juga harus berangkat.”

“Tidak, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

“Heh? Aku tidak apa-apa, kenapa aku harus ke rumah sakit.”

“Kau harus memeriksakan kandunganmu.”

“Kan–kandungan?”

“Kupikir Chanhee benar-benar memiliki adik.” Baekhyun mengusap perut Minri yang masih datar. Namun Minri menahan tangan pria itu.

“Bagaimana kalau itu hanya pendapatmu saja. Aku takut kau kecewa.”

“Kalau belum saatnya, mengapa aku harus kecewa. Lagipula aku masih punya banyak waktu untuk membuat Chanhee kedua dan Chanhee seterusnya.” Minri menghadiahi Baekhyun dengan sebuah cubitan ringan di lengannya.

Baekhyun tertawa, membuat Minri tidak bisa menahan senyumnya. Kemudian pria itu memeluknya erat. Berbagi kehangatan di tubuhnya, sehangat mentari pagi yang sedang tersenyum di balik jendela.

***

“Selamat pagi, Sungyoung-ah,” sapa Minri dengan riang. Sungyoung menoleh dari pekerjaannya menyemprot bunga. Gadis itu balas menyapa dengan senyuman. Baekhyun berada di samping Minri, merangkul pinggang wanita itu dengan posesif.

Tidak biasanya mereka terlambat. Dan Baekhyun harusnya berada di kantornya sekarang. Keduanya tersenyum senang, seperti ada berita bahagia yang ingin mereka siarkan kepada dunia.

“Baiklah, aku harus pergi,” ucap Baekhyun lantas mengecup kening Minri. “Sungyoung-ssi, tolong jagakan ibu hamil ini, oke. Aku pergi dulu.”

“I-ibu hamil? Maksudnya, Eonni….” Sungyoung meletakkan semprotan bunga ke atas meja lalu menghampiri Minri. “Waaa chukkae!” gadis itu memeluk Minri dengan erat.

“Kalau begini, aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun,” ujar Baekhyun, membuat Sungyoung segera memberi jarak.

“Siap! Aku akan menjaga Eonni.” Sungyoung tertawa pelan. Setelah itu Baekhyun berlalu, meninggalkan kedua wanita itu dalam toko. “Apa Chanhee sudah tahu hal ini?”

“Belum. Aku akan mengatakan padanya saat dia pulang sekolah nanti.”

Sungyoung mengecek ponselnya. Ada catatan yang membuatnya menepuk dahinya. Minri menyadari kegelisahan gadis itu.

“Kau kenapa?”

“Aku lupa, kalau hari ini aku harus membeli keperluan bulanan.”

“Pergilah. Lagipula kau tidak punya jadwal kuliah kan hari ini.”

“Aku sudah berjanji pada Baekhyun Oppa untuk menjaga Eonni.

“Astaga kau ini, aku wanita yang sudah memiliki putra. Dan ini adalah kehamilan kedua, kau tidak perlu khawatir.”

“Bagaimana kalau—”

“Harusnya kau khawatirkan dirimu sendiri. Kau gadis muda berjalan sendirian di swalayan. Bagaimana kalau kau diganggu oleh pemuda genit?”

Eonni jangan menakutiku.”

“Maksudku, Ahn, sudah saatnya kau memilih seorang lelaki untuk menjadi pendampingmu kelak. Hidup sendirian di kota sebesar Seoul tidaklah mudah.”

Sungyoung menerawang ke luar jendela. Pikirannya mulai mencerna apa yang dikatakan Minri. Lalu seseorang yang tidak terduga ikut melintas dipikirannya. Chanyeol.

***

Awal bulan memang waktu yang tepat untuk berbelanja keperluan bulanan. Suasana supermarket di tempat Sungyoung berada sekarang tampak begitu ramai pengunjung. Sungyoung sedang mendorong kereta belanjanya sembari menyusuri jejeran minuman dingin di sampingnya.

Gadis itu memberikan pertimbangan pada minuman cappucino dan vanilla latte kemasan kotak. Dia menghampiri minuman itu, kemudian mendongak. Dia sudah memutuskan untuk mengambil vanilla latte. Namun ternyata letak minuman itu sulit dijangkau olehnya. Gadis itu menoleh ke kiri dan kanan barangkali ada petugas yang bisa membantunya. Sayangnya tidak ada petugas di sekitar situ.

Sungyoung mencoba menjangkau kotak itu. Kakinya melompat kecil. Dia hampir menyentuhkan tangannya pada minuman yang diinginkannya saat seseorang—yang lebih tinggi—mendahuluinya, membuat Sungyoung sontak menoleh.

“Kau menginginkan ini?” Pria jangkung itu menyodorkan kotak minuman pada Sungyoung.

Gadis itu terbengong beberapa saat sebelum menyambut minuman kesukaannya dari tangan pria itu.

“Terimakasih Chanyeol-ssi.”

“Kau sering belanja disini juga?” tanya Chanyeol. Dia juga mendorong kereta belanjaannya yang masih terisi sedikit.

“Ya, rutinitas bulanan.” Sungyoung melirik isi belanjaan Chanyeol, ada seperangkat alat tulis bermotif batman. Dan benda itu sangat tidak cocok untuk pria seumuran Chanyeol. “Kau membeli benda itu?” tunjuk Sungyoung.

“Oh, ini untuk Chanhee. Motif batman mengingatkanku pada anak itu.”

“Kupikir untuk keponakanmu atau mungkin anakmu,” ucap Sungyoung seraya menatap Chanyeol canggung. Raut muka pria itu berubah serius. “M-maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. Kalau saja kau tersinggung.” Sungyoung mendorong lagi kereta belanjaannya ke area makanan ringan. Chanyeol mempercepat langkahnya hingga mereka berjalan berdampingan.

“Aku tidak tersinggung. Apa yang kauucapkan memang benar, harusnya di umur seperti ini aku sudah memiliki anak.”

“Kau masih kelihatan sangat muda dan aku yakin banyak wanita yang tertarik padamu.”

Ne?”

Sungyoung menoleh dengan mata mengerjap. Chanyeol merasa gemas dengan gadis itu, ia menahan tangannya untuk tidak mencubit hidung gadis itu. Takut kalau nanti dia dikira lelaki yang tidak sopan.

“Apa aku mengatakan hal yang salah?” tanya Sungyoung.

“Tidak,” jawab Chanyeol dengan senyuman lebarnya. Tanpa tahu bahwa senyum itu telah membuat Sungyoung berdebar. “Setelah ini kau mau kemana?”

“Mungkin aku harus meletakkan belanjaanku di flat dulu kemudian kembali ke toko.”

Chanyeol mengangguk mengerti. Dia merogoh saku celananya kemudian mengambil ponsel. Jari-jarinya mengetikkan beberapa kata di kotak pesan sebelum mengirimkannya kepada seorang wanita yang dikenalnya.

Mereka berdua telah selesai dengan kegaiatan belanja mereka, keduanya bersama-sama  menuju meja kasir. Kemudian membayar. Belanjaan Sungyoung tampak begitu banyak hingga Chanyeol menawarkan bantuan untuk membawakannya. Sungyoung sempat menolak, namun Chanyeol bersikeras membantunya. Gadis itu tidak punya pilihan lain selain menerima bantuan pria itu.

“Aku akan mengantarmu pulang.”

“Hah?”

“Tapi sebelumnya kita makan siang bersama di restoran favoritku. Aku yang traktir.”

Pria itu melesat  lebih dulu menuju mobilnya bahkan ketika Sungyoung belum sempat menerima atau menolak ajakannya. Sungyoung menyentuh kedua pipinya yang hangat sebelum akhirnya ikut melangkah masuk ke dalam mobil pria itu.

Sungyoung merasa mereka seperti pasangan yang baru menikah. Belanja bersama, makan siang bersama dan yang terpenting pria itu membuatnya nyaman.

“Nona Ahn, pasang sabuk pengamanmu.”

“Ah iya, baiklah.”

***

Minri masih sibuk melayani pelanggan saat ponselnya bergetar di atas meja. Dia sempat melirik nama yang tertera di ponselnya, lalu mempercepat pekerjaannya.

“Terimakasih. Selamat datang kembali.” Minri membungkuk pelan pada pelanggan yang terakhir. Hingga tersisa dia sendiri.

Ada dua pesan di ponselnya. Yang pertama dari Chanyeol dan yang kedua dari nomer yang tidak dikenal.

Chanyeol Park:

Minri, aku bertemu dengan pegawaimu di supermarket. Aku akan mengajaknya makan siang bersama, jadi tidak perlu khawatir kalau dia kembali lama.

098-xxx-xx

Hai Minri, ini aku Sehun. Aku akan mengantarkan Chanhee ke apartemen kalian langsung nanti sore. Chanhee bersamaku, dia sedang asik bermain bersama Jessy dan Hansoo. Tolong beritahu Baekhyun agar dia tidak usah menjemput ke sekolah.

Minri membalas satu per satu pesan itu kemudian mengirimkan satu pesan untuk Baekhyun. Dia baru akan menyimpan ponselnya, namun sepertinya dia harus mengirimkan satu pesan lagi untuk Sungyoung.

***

Sungyoung berjalan di samping Chanyeol dengan pandangan sedikit menunduk. Saat ini mereka berdua sedang berada dalam gedung flat sederhana tempat Sungyoung tinggal. Chanyeol membawakan barang belanjaan Sungyoung di kedua tangannya. Meskipun-Sungyoung yakin—belanjaannya berat, namun Chanyeol tampak baik-baik saja.

Gadis itu merogoh saku celananya, mengambil kunci flat, kemudian membuka pintunya. Dia masuk lebih dulu, lantas membukakan pintu lebih lebar agar Chanyeol  bisa masuk dengan mudah bersama dengan barang bawaannya.

“Masuklah,” ucap Sungyoung.

Chanyeol melangkahkan kaki ke dalam. Flat sederhana tempat tinggal gadis itu tampak rapi. Hanya ada beberapa buku di sudut ruangan, yang sepertinya belum kembali ke tempatnya.

“Apa aku adalah pria pertama yang masuk ke tempat ini?”

Pertanyaan Chanyeol membuat Sungyoung menoleh dengan kening mengkerut. Sungyoung tidak mengerti mengapa Chanyeol harus menanyakan hal itu. Namun tiba-tiba Sungyoung merasa jantungnya berdegup lebih cepat.

“Iya, kau yang pertama.” Sungyoung mengambil alih belanjaannya dari tangan Chanyeol, kemudian membawanya ke dapur untuk meletakkannya di lemari penyimpanan. Jarak dari ruang tengah dan dapur tidaklah jauh atau bisa dibilang ruangan itu adalah satu kesatuan.

Chanyeol duduk di sofa panjang. Sungyoung bisa melihat pria itu dari tempatnya berdiri. Fakta bahwa hanya ada mereka berdua dalam ruangan itu membuat Sungyoung gugup. Lelaki itu seperti belum mau pulang. Sungyoung bingung ingin melakukan apa. Akhirnya dia memutuskan untuk membuatkan Chanyeol mocca hangat. Setelah itu kembali ke ruang tengah.

Mocca?” tanya Sungyoung sembari menyodorkan gelas di depan Chanyeol.

Thanks.” Chanyeol menyambut minuman itu, kemudian menyentuhkan permukaan gelas dengan telapak tangannya.

Sungyoung tidak sengaja melirik jam dinding, namun seketika membuatnya terkesiap. Dia seharusnya kembali ke toko sekarang. Sungyoung meraih ponselnya di dalam tas kemudian mengaktifkan layarnya. Ada satu pesan yang belum terbaca.

Minri Eonni:

Ahn, hari ini toko tutup lebih awal. Jadi kau tidak perlu kembali ke toko setelah berbelanja. Nikmati waktumu untuk istirahat, ya ^^.

Pesan dikirim satu jam yang lalu, itu berarti pada saat Sungyoung baru selesai berbelanja. Ah, dia benar-benar lupa pada ponselnya. Sungyoung mengirimkan pesan balasan pada Minri disertai permintaan maaf.

“Sungyoung,” panggil Chanyeol. “Terimakasih mocca-nya. Aku pulang dulu.”

“Ya, terimakasih juga karena sudah mengantarku dan makan siang tadi….”

Chanyeol tersenyum, lantas berdiri. Entah keberanian dari mana Chanyeol menyentuhkan telapak tangannya ke puncak kepala Sungyoung,

“Senang menikmati waktu bersamamu,” ucap Chanyeol sebelum dia melangkahkan kakinya keluar flat. Meninggalkan Sungyoung yang masih terpaku di tempatnya. Suara pintu yang ditutup menyadarkan Sungyoung dari lamunannya. Tak lama setelah itu bibirnya melengkung ke atas. Lebih baik  sekarang dia mempergunakan waktunya untuk istirahat. Seperti kata Minri. Karena tanpa tahu sebab yang pasti tubuhnya kembali menghangat.

***

“Baek…” Minri mengait lengan Baekhyun, lantas berjalan bersama menuju konter kedai es krim. Minri memilih bersinggah di tempat itu saat Baekhyun menjemputnya ke toko bunga. Dan toko bunga tutup lebih awal.

Minri memilih salah satu menu es krim favoritnya begitupula dengan Baekhyun. Selama menunggu pesanan mereka dibuatkan, Baekhyun dan Minri hanya berdiri di depan kasir.

“Kau bersikap agak manja hari ini,” ucap Baekhyun sembari menyelipkan rambut Minri ke belakang telinga.

“Eum, maaf,” Minri melepaskan kaitan lengannya lalu mundur satu langkah kecil. Dia kira Baekhyun tidak suka dengan sikapnya. Minri juga tidak mengerti mengapa dia harus bersikap seperti itu pada Baekhyun,  terutama tidak hanya ada mereka berdua disana.

“Aku tidak bilang kalau itu hal yang salah, Minri-ya.” Baekhyun kembali mengaitkan tangan Minri ke  lengannya. “Pasti karena bayinya ya,” bisik Baekhyun sembari tersenyum.

“Tuan, nona, ini es krimnya,” ucap salah satu pegawai, kemudian menyerahkan kedua pesanan mereka.

Minri dan Baekhyun duduk di salah satu meja yang berada disana. Minri menikmati es krimnya dengan lahap. Sementara Baekhyun memperhatikan wanita itu dengan kedua tangan yang terlipat di dada.

“Kau tidak makan es krimmu, Baek? Nanti meleleh bagaimana?” tanya Minri.

“Kau mau menghabiskannya untukku?” tawar Baekhyun sembari menyodorkan mangkuk es krimnya pada Minri. Minri menatap Baekhyun dengan curiga. Tidak biasanya lelaki itu menawarkan es krim miliknya.

“Kau serius?” Minri menarik mangkuk es krim milik Baekhyun.

“Ya, kau tahu tidak, kita seperti sedang kencan anak muda.” Baekhyun memajukan badannya, kemudian mengangkat satu tangan untuk menyapu tepi bibir Minri. Wanita itu memegang tangan Baekhyun, lantas tersenyum.

“Bagaimana kalau kita kencan sungguhan?”

“Hee? Chanhee—”

“Chanhee akan diantar Sehun langsung ke apartment. Mereka akan menelpon kalau pulang nanti. Kita punya banyak waktu untuk berdua.”

Call!” Baekhyun mencubit pelan pipi Minri, kemudian kembali ke tempat duduknya, menunggu Minri menghabiskan es krimnya.

Setelah itu mereka benar-benar pergi ke tempat yang biasa dikunjungi anak muda. Pertama, Baekhyun harus melepas tuxedo-nya, agar mereka tidak terlihat begitu formal. Mereka berdua menikmati waktu bersama sampai tidak terasa matahari mulai bergulir ke bagian bumi yang lain.

***

Bib.

Pintu apartmen terbuka saat Baekhyun memasukkan kode pengaman di pintu tersebut. Baekhyun dan Minri masuk ke dalam tempat tinggal mereka. Minri menghempaskan tubuhnya di sofa, kemudian disusul Baekhyun.

“Kau senang?” tanya Baekhyun sembari mengusap puncak kepala Minri.

Eung!” Minri mengangguk cepat kemudian tertawa. “Kau membuatku hampir lupa kalau aku sedang mengandung adik Chanhee.”

“Ngomong-ngomgong, Chanhee masih belum pulang?”

“Akan kutanyakan pada Sehun. Sebaiknya kau mandi dulu, Baek.”

“Mau mandi bersama?” Baekhyun beranjak dari sofa. Pria itu mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.

“Kita baru saja berkencan.” Minri berdiri, lalu melingkarkan lengannya ke leher Baekhyun membuat pria itu mengangkat sebelah alisnya. Apa istrinya sedang menggodanya?

“Tapi kita sudah menikah, dan punya satu orang anak serta satu lagi calon anak.” Baekhyun memajukan wajahnya, namun Minri menahan bibir pria itu dengan jarinya. Baekhyun mengangkat wajahnya lebih tinggi hingga bibirnya menyentuh kening wanita itu.

“Kau selalu punya cara untuk mencium wajahku. Padahal aku berniat menciummu lebih dulu,” ucap Minri kemudian melepaskan lengannya dari leher Baekhyun.

“Aku bukan orang yang suka menunggu, kau tahu itu.”

“Ya, Baek. Aku tahu. Kau bahkan tidak bisa menunggu lebih lama untuk menikah denganku. Bukan begitu?”

Baekhyun mengangguk pelan. Pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Minri. Kemudian menatap wajah Minri. Wanita itu tersenyum sebelum melayangkan satu kecupan di bibir Baekhyun.

“Mandilah. Aku akan membuatkan segelas susu stoberi hangat untukmu.”

Geurae.”

Baekhyun melangkahkan kakinya ke dalam kamar sementara Minri mengetik pesan di ponselnya. Setelah itu Minri ke dapur, membuatkan segelas susu stoberi hangat untuknya dan Baekhyun. Serta menunggu kedatangan Chanhee.

Eomma..Appa… Chanhee sudah selesai! Eomma bisa bercerita sekarang pada Chanhee.” Chanhee berlari kecil ke ruang tengah setelah ia selesai dengan kegiatan mandinya.

Chanhee tiba lima belas menit yang lalu. Saat itu Minri dan Baekhyun sedang menonton TV, Chanhee pulang hanya bersama Sehun karena Jessy harus pergi ke tempat les  piano. Minri mengatakan pada Chanhee bahwa ada yang ingin dibicarakannya. Namun Chanhee harus menyimpan rasa penasarannya sampai ia selesai mandi dan mengganti baju seragamnya dengan piyama tidur.

Chanhee mengambil tempat duduk di tengah, antara Minri dan Baekhyun. Baekhyun merangkul bahu kecilnya.

“Coba tebak, apa yang akan Eomma katakan pada Chanhee,” ucap Baekhyun.

Chanhee meletakkan telunjuknya di dagu. Sesaat kemudian dia menggeleng. “Apa Eomma akan memarahi Chanhee karena seharian ini Chanhee asik bermain dengan Jessy dan adiknya?” Chanhee mendongak pada Minri dengan raut wajah sedih.

“Bukan itu, Honey.” Minri menggenggam tangan mungil Chanhee. “Apa Chanhee masih menginginkan kehadiran seorang adik?”

“Tentu saja, Eomma!” Chanhee tersenyum lebar sembari menggoyangkan kakinya yang menggantung di sofa.

“Baguslah, karena dalam beberapa bulan ke depan, keinginan Chanhee akan terwujud.”

“Benarkah? Eomma sedang mengandung adik Chanhee? Yaeyy!!” Chanhee bersorak membuat sofa yang mereka duduki sedikit bergoyang. Anak itu melompat kecil ke pelukan Minri, lalu mencium pipi ibunya.

Chanhee merangkul keduanya. Bibirnya mulai berceloteh tentang apa saja yang akan dilakukannya ketika adik kecilnya lahir nanti. Anak itu tampak senang sekali. Hingga saat tidur pun, Chanhee tersenyum.

Minri yakin, Chanhee sedang bermimpi indah.

***

“Baek, aku mau stroberi,” ucap Minri dengan bibir mengerucut.

“Tengah malam begini? Astaga…”

Minri memberengutkan wajahnya, lalu membelakangi Baekhyun. Dia  terlalu malas berjalan ke dapur. Masih mending Minri hanya meminta Baekhyun mengambilkannya, bukan beli keluar. Tapi sepertinya Baekhyun tidak akan mengabulkan permintaannya. Minri harus melupakan keinginannya.

“Sayang….”

“Tidur sana!”

“Kau marah padaku?” Baekhyun memegang bahu Minri. Namun gadis itu masih tidak ingin berbalik. Baekhyun menarik kembali tangannya. Lalu Minri perlahan memejamkan mata. Semoga stroberi mampir ke dalam mimpinya nanti.

“Minri-ya,” bisik Baekhyun. “Aku membawakan stroberi untukmu.”

“Aku sudah tidak menginginkannya.”

Kasur sedikit bergerak membuat Minri bisa membayangkan bahwa Baekhyun sedang turun dari kasur, lalu mengembalikan stroberinya ke kulkas. Minri benar-benar akan tertidur, tapi sesuatu yang dingin dan lembab menyentuh bibirnya. Aroma stroberi.

Minri membuka mata perlahan, dan mendapati Baekhyun duduk di tepi ranjang di dekatnya. Dan menciumnya. Yaampun. Bibirnya manis sekali.

“Kau mungkin memang tidak menginginkannya, tapi anakku ingin menyicipi stroberi di tengah malam.” Baekhyun meneruskan ciumannya. Minri tertawa pelan sembari mendorong dada Baekhyun.

“Dasar modus. Bilang saja kalau kau mau menciumku.”

“Kau tahu saja.” Dan Baekhyun tertawa renyah, sebelum kembali ke kasurnya dan memerangkap tubuh istrinya dalam pelukan. “Selamat tidur.”

***TBC***

Haaai!! maafkan aku. ini telat banget ;-; hiks.

Karena sekarang aku udah ga punya modem, ngepost pun pake wifi hape dan bukan laptop pribadiku…..(ceritanya panjang). Intinya aku bersyukur bisa post lanjutannya.

Gimana? Ada yang benar soal tebak-tebakan Minri hamil atau cuma masuk angin? Wkwk. Masih suka sama ff ini? Masih mau di lanjutin?

Keep support and comment ya.

Dan juga, MAAF BANGET GABISA BALES KOMEN KALIAN. HIKS. PADAHAL AKU MAU TAPI APALAH DAYAAA (nangis kejer TT) (tapi tenang aja aku baca komentar kalian semua kok!)

Makasih udah mau nunggu dan baca ff ini. Salah khilaf mohon maaf. See you next part.

Charismagirl, 2015.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Iklan

Penulis:

My name is Rima [Park Minri], 93-line. I live in Banjarmasin-Indonesia. I'am SHAWOL especially flame, I really really love Choi Minho. He's my inspirasion. I love SHINee, SHINee is Lee Jinki, Kim Jonghyun, Kim Kibum, Choi Minho, Lee Taemin. And I just wanna share my imagination. With Love ~charismagirl~

55 thoughts on “US | Love in Seoul – Part 3

  1. bikin iri aja pasangan baek dan minri 🙂 sweet bgt
    dan semoga aja chanyeol dan sungyoung cepet diresmikan akwkwk

  2. aaaaahhhh…
    sukaaa…
    mau lahhhh satu suami kaya baekhyunnnn
    hehehehe…
    ini ga bisa dibiarin….harus dibaca lanjutannya…
    hahaha…
    gomawoyo…

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s