A Good Husband or A Little Brother? [Chapter 2]

chanyeol-husb

Author: Mingi Kumiko

Main Cast: Park Chan Yeol and Shin Hye Jung

Genre: Marriage life

Rating: PG-17

Summary:

Seharusnya bukan begini takdir yang dijalani seorang pria jangkung penerus bisnis keluarga bernama Park Chan Yeol. Kekasih yang akan ia nikahi meninggal dunia sebulan sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.

Keluarganya pun sepakat untuk tetap menggelar resepsi pernikahannya karena anggaran besar yang telah dikeluarkan untuk pernikahan mereka. Namun sang mempelai wanita bukanlah gadis pilihannya, melainkan Shin Hye Jung, kakak dari kekasihnya yang juga anak salah seorang rekan bisnis ayahnya.

Chapter 1

Pagi hari.

Dengan mata masih menempel, Hyejung menggeliat sambil mengerjapkan mata, ketika melihat langit-langit kamar, mendadak ia terkejut. Ia ingat betul, kemarin malam ia tidur di sofa, tanpa bantal, tanpa selimut. Ia pun segera menoleh ke samping, menerka-nerka kini Chanyeol tengah berada di sampingnya. Namun dugaannya itu meleset, Hyejung hanya sendirian di atas ranjang tersebut.

 

Saat hendak pergi ke kamar mandi, dengan iseng ia berbelok ke ruang tengah, ia menengok sofa dan didapatilah Chanyeol yang tengah diam layaknya patung dengan mata terbuka lebar.

“Hai noona,” sapa Chanyeol ketika ia menangkap mata Hyejung yang tengah menatapnya. Namun dengan cepat Hyejung memalingkah wajah dan segera berjalan dengan cepat untuk menghindari Chanyeol.

Noona!” pekik Chanyeol memanggil Hyejung, namun yang dipanggil sama sekali tak menggubris panggilan itu.

 

Setelah sarapan dan menyiapkan teh manis –yang entah nanti Chanyeol meminumnya atau tidak, Hyejung pun segera bergegas ke kantor tanpa pamit pada Chanyeol terlebih dahulu. Ia keluar lewat pintu belakang, jadi suaminya yang ada di ruang tengah itu tak akan tahu.

 

***

Hyejung menghabiskan waktu istirahatnya di taman kantor sembari menyedot jus buah kemasan yang tadi ia beli di kantin. Karena bosan duduk sendirian, akhirnya ia putuskan kembali ke ruangan, siapa tahu ada rekan yang bisa melenyapkan kejenuhannya.

 

Sesampainya ia di ruangan, ia mendadak kecewa karena tak ada satu pun orang di sana. Karena malas pergi lagi, ia pun memilih duduk dan menghadap komputer berlayar hitam –tidak dihidupkan. Ia pun merogoh tasnya, mencari ponsel, tapi sebelum ponselnya berhasil ia ambil, Hyejung melihat kertas bergaris yang terlipat ada dalam tasnya. Padahal ia ingat betul, ia tak pernah meletakkannya di situ. Karena penasaran, akhirnya ia ambil kertas itu dan membukanya.

 

Noona, maafkan aku. Aku semenyebalkan itu ya sampai kau jadi semarah ini padaku? Bukan maksudku untuk berbuat seperti itu. Kenapa tak membangunkan aku saja? Pasti aku akan membantumu membersihkan rumah. Tapi noona benar-benar hebat! Bagaimana bisa kau membersihkan rumah hingga sedemikian rupa, sendirian pula! Apalagi sekarang closet dan kamar mandinya jadi bersih. Aku jadi tidak malas lagi untuk mandi. Kekeke~

Terima kasih banyak noona,

dan sekali lagi… Maafkan aku juga, maafkan bocah ingusan yang bisanya cuma tidur seharian macam aku ini.

Chanyeolie ^^

 

Usai membaca surat dari Chanyeol tersebut, Hyejung tak sanggup untuk tak menggelengkan-gelengkan kepala dan terkekeh kecil. “Bukan hanya wajahnya, bahkan kepribadian dan caranya meminta maaf pun benar-benar lucu.” gumam Hyejung.

 

Surat itu ditulis oleh Chanyeol pagi tadi, ketika Hyejung tengah mandi. Kemudian, secara diam-diam ia masuk kamar dan memasukkan kertas itu ke tas Hyejung.

Beep… Beep…

Ponsel Hyejung bergetar, pertanda ada panggilan masuk. Ia pun kembali merogoh tasnya setelah tadi urung karena lebih memilih membaca lipatan kertas kecil yang ternyata adalah surat dari Chanyeol untuk dirinya. Ketika dilihat, ternyata Chanyeol lah yang menelponnya. Dengan sedikit keraguan, Hyejung pun menekan tombol hijau pada ponselnya.

“Ya, halo?” sapa Hyejung.

“Noona,”

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Maksudmu?”

“Maaf noona, aku lupa mau bicara apa. Kututup saja ya, nanti kalau sudah ingat kuhubungi lagi.”

 

Dengan cepat Chanyeol memutus panggilan itu. Hyejung pun hanya bisa mengernyitkan dahi, menatap sinis ponselnya sendiri. “Dasar suami nggak jelas!”

 

***

Pukul enam sore. Urusan Hyejung dengan pekerjaan di kantor telah selesai, ia pun membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja ke tempat asalnya. Ia menyampirkan tasnya dan lekas bergegas pulang.

 

Noona,” panggil seseorang dari belakang tatkala ia berjalan lurus menuju pintu utama. Hyejung yang merasa suara itu terarah padanya pun menoleh, mencari siapa pemilik suara tersebut.

Eo, Chanyeol-a?” Hyejung menyambut Chanyeol yang tengah berjalan menghampirinya dengan wajah terkejut, tak percaya.

“Kenapa kau di sini?” tanya Hyejung.

“Menjemput noona…” jawab Chanyeol.

 

BUG!

Pukulan yang kencang dan keras itu didaratkan Hyejung di lengan Chanyeol.

YA! Kenapa noona memukulku, sih? Sakit tahu!” Chanyeol mengomel protes.

“Kau ini bagaimana sih? Semua orang tahu kau, semua orang tahu kalau anak pendiri Kibyeong Corporation adalah suamiku. Kau pikir wajar seorang suami memanggil istrinya dengan panggilan ‘noona’? Nggak usah terlalu polos bisa tidak sih?!” jelas Hyejung dengan suara yang dilirihkan agar tak seorang pun kecuali Chanyeol mendengarnya.

“O iya, ya? Maaf aku lupa.” Chanyeol menepuk jidatnya.

“Ya sudah, langsung pergi saja, kajja!” ajak Chanyeol dan langsung menarik pergelangan tangan Hyejung agar mengikuti langkahnya.

.

.

Setelah mencuci muka dan mengoleskan krim malam pada wajahnya, Hyejung pun merebahkan tubuhnya di kasur yang telah ditempati Chanyeol juga.

Noona sudah baca suratku belum?” tanya Chanyeol.

“Sudah.” jawab Hyejung singkat, pandangannya terfokus pada sebuah katalog terbaru.

“Hmmm, bagaimana?” tanya Chanyeol lagi.

“Lucu, kok.” jawab Hyejung tanpa sekali pun menoleh, tetap terfokus pada katalognya.

Noona!” Chanyeol memanggil dengan sedikit memekik, saking kesalnya.

 

Hyejung pun akhirnya menutup katalog tersebut, kemudian menoleh untuk menatap Chanyeol.

MUACH!

Ciuman sekilas itu didaratkan Chanyeol tepat di bibir Hyejung.

Omo!” Hyejung terkejut bukan kepalang.

“Punya nyali kau, huh?!” protesnya.

“Ayolah, noona…, Itu cuma ciuman yang singkat, tidak seberapa berbekas,”

“Oke, fine.” Hyejung pun menarik otot matanya ke samping, meletakkan katalognya di meja dan memilih untuk langsung tidur saja.

 

Chanyeol pun demikian. Ketika dirasa Hyejung telah memejamkan mata, ia pun mengerling, iseng melirik istrinya itu.

Noona, boleh tidak aku singkirkan guling ini?” tanya Chanyeol. Pertanyaan itu sontak membuat Hyejung membuka matanya –terbangun. “Bukan kah kau sendiri yang meletakkan guling itu untuk menyekat tubuh kita?” balas Hyejung. “O iya, ya? Aku lupa.” kata Chanyeol, kemudian ia pun memindahkan guling itu –yang awalnya berada di tengah kasur, menjadi ada di pinggiran kasur.

 

Hyejung pun kembali memejamkan matanya. Berharap gangguan dalam bentuk apapun dari Chanyeol tidak akan ada lagi.

Noona, bisa lebih dekat denganku tidak?”

Tanpa membuka mata terlebih dulu, Hyejung menggeser tubuhnya sendiri menjadi agak menengah pada kasur.

“Kalau aku memeluk noona saat tidur…, boleh tidak?”

 

Hyejung benar-benar jera kali ini, ‘bocah’ di sampingnya itu benar-benar terasa mengganggu. Ia membuka mata, lantas menolehkan wajahnya ke arah Chanyeol.

“Iya…” dengan air muka sebal, Hyejung menjawab pertanyaan terpolos dari Chanyeol yang pernah ia dengar.

 

Chanyeol pun langsung mengubah posisi tidur –yang awalnya telentang menjadi miring. Langsung saja ia rengkuh pinggang Hyejung dengan tangan kanannya. Sementara itu, wajahnya makin mendekat saja, ia ciumi rambut Hyejung yang beraroma mawar –aroma itu berasal dari sampo yang tadi ia gunakan untuk keramas.

 

Tanpa Chanyeol duga sebelumnya, Hyejung yang awalnya ia pikir tak peduli dengan apapun yang ia lakukan, mendadak mengelus pipinya lembut, walaupun tetap dalam keadaan mata terpejam.

“Aku telah menjaganya untukmu, Seolhyunie…”

Nampaknya Hyejung tengah mengigau, dan tanpa ia ketahui, Chanyeol mendengar apa yang ia katakan itu. Ia langsung tercengang mendengar hal tersebut, langsung lah ia eratkan rengkuhan tangannya pada pinggang Hyejung, kemudian tersenyum sendu menatap wajah Hyejung dari samping.

“Terima kasih, noonaJaljjayo,”

***

 

Di kantor tempat Chanyeol bekerja.

“Hanya sebatas memeluknya ketika tidur? Kenapa tidak langsung saja, sih?!” celoteh Youkyung (sekretaris Chanyeol).

“Yang benar saja? Aku mana berani! Kemarin saja, saat tiba-tiba aku menciumnya, dia mendelik, kemudian menegurku, “Punya nyali kau, huh?!” aku langsung merinding!” jelas Chanyeol.

“Hahaha, kenapa kesannya, kau malah jadi seorang suami yang takut pada istrinya begitu? Benar-benar konyol!” ejek Youkyung.

“Jangan tertawakan aku begitu dong…, kau pikir mudah apa? Kau kan juga belum menikah, huuuh~” Chanyeol balik mengejek sekretarisnya yang berpenampilan tomboy itu.

“Kalau mendengarkan ceritamu tempo hari, sepertinya…, Hyejung eonnie itu memperlakukanmu layaknya, hmmm…, adik kecil yang butuh bimbingan, atau mungkin seorang balita yang masih minta disuapi ketika hendak makan, wae geurae? Kau kurang bisa menunjukkan sisi kejantananmu!”

“Aku sudah bilang padamu, You… dia terlalu tangguh. Kau tahu sendiri kan, dulu sebelum aku sadar dan menambatkan hatiku pada Seolhyun, sudah berapa hati wanita yang kupermainkan? Tapi entah kenapa, di hadapan Hyejung noona, aku benar-benar merasa ciut…”

“Bahkan kau masih memanggilnya noona, cobalah bereksperimen, panggil dia ‘yeobo’, atau mungkin ‘chagi’ begitu!”

“Hmmm, bolehlah… Tapi lain kali, hahaha~”

“Kau bosnya, Yeol!” Youkyung mendengus kesal.

 

***

Pukul enam sore, saatnya Chanyeol untuk pulang dari kantor setelah seharian berkutat dengan tumpukan dokumen yang harus ia periksa satu-persatu hari ini. Entah mengapa, selama diperjalanan ia selalu ingin cepat sampai rumah. Bukan hanya hari ini, namun hal itu telah berlangsung beberapa hari belakangan. Ia membayangkannya, sambutan Hyejung dengan senyuman termanisnya, melepaskan dasi, kemudian meletakkan jas yang membuatnya gerah ke tempat yang seharusnya. Hyejung melakukan itu semua setiap hari. Belum lagi, hidangan makan malam yang telah tersaji di atas meja makan, masakan-masakan yang sungguh menggugah selera, segelas teh manis hangat yang melengkapi hidangan ternikmat di malam hari. Itulah yang membuat Chanyeol benar-benar betah menghabiskan sepanjang malam di rumah, bersama sang bidadari cantik, Shin Hye Jung.

Noona…, I’m coming!!!” seru Chanyeol sembari menginjak gas mobil, mempercepat lajunya.

 

Sesampainya di rumah, Hyejung pun menyambutnya dengan ucapan penuh perhatian, “Kau lelah ya? Mandi lah dulu, kemudian makan. Aku sudah menyiapkannya di meja.”

“Oke, noona…” Chanyeol mengangkat pipi dan menyipitkan matanya ke arah Hyejung.

“Wajah macam apa sih yang kau tunjukkan itu?” bingung Hyejung sambil memukul pelan bahu suaminya itu. “Hehehe, tidak kok, noona…, ya sudah, aku mandi dulu.”

 

Selesai mandi dan berganti pakaian –kaus longgar tipis warna putih dan celana pendek selutut warna hitam– Chanyeol pun berjalan ke meja makan sambil terus mengacak pelan rambutnya yang basah setelah keramas dengan handuk kecil.

Noona, kau di mana? Kok nggak ikut makan?” pekik Chanyeol karena heran, biasanya Hyejung selalu ada di meja makan setelah ia mandi.

“Aku sudah makan. Maaf, tadi aku lapar sekali. Kau makan sendiri saja ya?” balas Hyejung dari kamar yang tertutup pintunya. Chanyeol pun merasa aneh dengan tingkah Hyejung kali ini, tumben sekali ia bilang lapar, padahal Chanyeol tahu benar-benar, ‘noona-nya’ itu sangat bisa menahan lapar karena sebelum menikah dengan Chanyeol, Hyejung telah terbiasa melakukan diet ketat. Lihat saja postur tubuhnya. Orang awam tak akan percaya bahwa dia bukanlah seorang model atau profesi sejenis yang mengharuskan seseorang punya postur tubuh ideal.

 

Tingginya semampai –kurang lebih 170 cm, terakhir kali ia mengukur berat badan itu minggu lalu, dan jarum pada alat pengukurnya menunjukkan angka 47. Kakinya jenjang, pinggangnya ramping sekali, perutnya rata, seperti tak tersisa setitik pun lemak. Belum lagi, kulitnya yang seputih susu, berbeda dengan Seolhyun yang hanya sekedar putih dan manis, Hyejung lebih dari itu. Rambutnya bergelombang dengan warna kecoklatan yang kadang ia gerai dan menjuntai indah.

 

Cukup logis bukan, ketika Chanyeol mendapatkan sebuah, atau mungkin beribu alasan untuk bahagia mendapatkan seorang Hyejung menjadi istrinya. Mungkin memang terlalu kejam ketika seseorang mengumpamakan cinta dengan keindahan paras, seperti tak mengerti bagaimana sosok cinta yang sebenarnya. Namun bagi Chanyeol, Hyejung benar-benar figur istri sempurna. Ia mampu menjaganya, mengurusnya, dan bahkan sesekali, Hyejung bisa membuat seulas senyum di bibir Chanyeol terukir.

“Dengan kebaikan Hyejung noona, aku akan selalu mengingatmu, Seolhyunie…”

 

Seusai makan, Chanyeol pun mengambil langkah menuju ruang tengah, hendak menonton TV. Mengetahui berita yang sedang marak akhir-akhir ini mungkin bisa sedikit mengenyahkan rasa bosannya, sambil menunggu makanan yang ada di perutnya turun juga. Ia ingat betul tentang sebuah teori yang mengatakan bahwa, tidur setelah makan dapat membuat perut buncit. Jadi, ia menghindarinya.

.

.

Pukul 9 malam, masih terlalu cepat untuk memutuskan pergi ke kamar dan tidur. Tapi apa boleh buat, selain sudah mengantuk, Chanyeol juga tak punya pekerjaan lain yang harus dilakukan.

 

Chanyeol mendorong knop pintu lalu menutupnya pelan, berjaga-jaga saja, siapa tahu Hyejung sedang tidur. Jelas ia tak mau kalau nanti tiba-tiba istrinya itu terbangun karena suara pintu yang ia tutup kelewat keras, lalu mengomel bak ibu yang mendapati anaknya tengah bermain lumpur dan bajunya menjadi kotor.

 

Saat ia berbalik menghadap kasur, mendadak saja sebuah pemandangan mencengangkan tertangkap kedua bilik matanya. Sesuatu yang bahkan membayangkannya sekali pun ia tak pernah. Hal yang membuatnya meneguk liur dan membelalakkan mata lebar-lebar.

 

Hyejung telah ada tepat di depan matanya, meskipun sedikit jauh, karena Chanyeol masih saja berdiri tertegun di sebelah bingkai pintu. Terbesit dalam pikirannya, Hyejung yang mengelus paha mulusnya dengan ekspresi wajah dibuat se-sexy mungkin (semacam menggigit bibir dan menurunkan alis), menyibakkan rambutnya yang tergerai, kemudian jari telunjuknya terulur, menyuruh Chanyeol lebih mendekat lagi. Tapi lekas-lekas ia singkirkan fantasi liar yang berkelebat di kepalanya itu. Hyejung tidak lah sepanas itu.

 

Tapi sungguh, demi apapun. Hyejung berpenampilan sangat sexy, hmmm… atau mungkin lebih menjurus ke vulgar? Entahlah. Hot pants super mini, tank-top ketat hingga membuat lekuk tubuhnya kentara jelas dan terlalu ke bawah hingga membuat bagian atas dadanya nampak jelas. Hanya itu yang membalut tubuhnya malam ini.

Tapi kenapa?

Dalam rangka apa?

Untuk apa?

Rentetan pertanyaan itu terus saja menari-nari di pikiran Chanyeol.

“Kenapa berdiri di situ terus?” tegur Hyejung, akhirnya…

Eo, gwaenchana…,” Chanyeol segera sadar dari lamunan pornonya. Dengan ragu ia melangkah menuju kasur.

 

Ia pun akhirnya membaringkan tubuhnya di sebelah Hyejung yang duduk menyandar di atas kasur, masih asyik membolak-balikkan lembar demi lembar katalog yang belum tuntas ia baca karena kemarin Chanyeol terus saja mengganggunya.

 

Chanyeol tidur dengan arah menyamping –sama sekali tak menghadap Hyejung. Takut kalau-kalau nanti ia tak sanggup mengendalikan dorongan hormon testosterone-nya. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah meremas dan menggigiti guling yang sedang ia peluk.

Noona,” panggil Chanyeol tanpa perlu berbalik, benar-benar tidak sopan.

“Apa?” sahut Hyejung yang juga tak menoleh dan tetap fokus pada katalognya.

“Apa tidak kedinginan?” tanya Chanyeol.

“Kenapa pertanyaanmu aneh?”

 

DEG!

Nampaknya Chanyeol salah dalam merangkai kata untuk menyampaikan pertanyaannya. Atau mungkin Hyejung saja yang terlalu pintar hingga bisa mengerti ke arah mana kah pertanyaan Chanyeol tertuju. Who knows?

 

Dengan segenap keberanian yang telah terkumpul, Chanyeol pun akhirnya bangun dan menatap Hyejung. Dengan degup jantung yang tidak karuan, ia mulai berucap, “Salah tidak sih, kalau aku bilang…, noona menggodaku.” ujar Chanyeol.

“Maksudmu?” Hyejung memicingkan mata, sejujurnya ia paham dengan apa yang Chanyeol katakan. Ia hanya bingung, ujaran apa yang tepat untuk menimpali ucapan Chanyeol barusan.

 

Tanpa menjelaskannya lebih lebar lagi, Chanyeol secara kasar menarik lengan Hyejung hingga kini tubuhnya jadi telentang. Ia pun menunduk, kemudian segera meraup bibir bawah Hyejung hingga menimbulkan desahan. Yang jelas, ciuman ini lebih berani daripada kemarin malam. Ia terus saja menekan bibir Hyejung dengan bibirnya, melumatnya, menguasainya.

 

Hyejung pun mengendurkan bibirnya dan berhenti balas melumat bibir Chanyeol. Mata keduanya yang awalnya sama-sama terpejam kini pun telah terbuka dan saling menatap dengan pandangan yang sama –sendu. Seperti masih belum bisa percaya bahwa mereka telah melakukannya hingga sejauh itu, sedalam itu.

Noona…, apa boleh, aku…, berbuat lebih dari ini?” tanya Chanyeol terbata-bata.

“Maaf, aku tidak mau digauli oleh seorang lelaki yang memanggilku dengan sebutan ‘noona’,” tolak Hyejung mentah-mentah, kemudian memberi tatapan remeh –seakan mengejek– pada Chanyeol.

Yeobo…” ucapan itu dengan refleks terlontar dari mulut Chanyeol. Hyejung yang mendengarnya pun langsung terkekeh kecil. Mendadak saja ia dorong leher Chanyeol dengan tangan yang melingkar di area tengkuknya. Mendorong hingga kepala Chanyeol tersungkur di bahunya. Tangan Chanyeol pun menggeladik, coba menggerayahi ke bagian punggung Hyejung.

Jaljjayo…” bisik Chanyeol pelan, bahkan hampir bisa disebut berbisik tepat di telinga Hyejung. Keduanya pun kembali menutup mata, mulai melakukan sesuatu yang menyenangkan.

.

.

EPILOG

Jam istirahat, di taman belakang kantor.

“Tadi malam Chanyeol menciumku.” kata Hyejung pada Mina.

“Itu bukan sesuatu yang perlu disombongkan. Paling-paling juga, ciumannya cuma sekilas, bahkan terkesan kaku. Aku benar, ‘kan?” balas Mina ketus, dan Hyejung pun mengangguk membenarkan.

“Cobalah untuk sedikit menggodanya, sesekali menjatuhkan harga dirimu di hadapannya, itu tidak masalah, kok!” oceh Mina sembari menjumput sebuah kentang goreng di tangannya.

“Memangnya itu boleh?”

YA! Kalau tidak ada satu pun dari kalian yang bertindak dengan agresif, sampai kapanpun, kalian akan tetap menjalani bahtera rumah tangga layaknya kakak sebatang kara yang harus mengurusi adiknya.”

“Lalu, dengan cara apa aku mesti melakukannya?”

“Kau tahu, kau memiliki postur tubuh yang diidam-idamkan hampir setiap wanita. Gunakanlah itu! Begitu saja masih tanya,”

“Hmmm, mungkin nanti malam aku akan mencobanya…”

 

– END –

Oke, oke, oke…, aku tahu sekali mungkin ending ini tak sesuai dengan harapan kalian. Tapi serius deh, aku tuh paling gak bisa bikin fan fiction dengan chapter panjang-panjang, maafkan diriku😦

Overall aku serahkan pada kalian, mau menghina ceritaku, cara penulisanku yang kurang gimana gitu, atau terkesan aneh. Aku bakal terima dan aku jadikan motivasi untuk menjadi lebih baik. Tapi aku cuma minta satu dari kalian yang ingin mengkritik, kasih tahu aku di mana letak kesalahannya, jangan cuma bilang, “Hm, kok agak gimana gitu ya?”. “Kayaknya ada yang kurang.”, atau sekedar “Alurnya kecepetan.”

Tolong kasih tahu aku harus gimana, please. Makasih semua, maaf sekali lagi😦

39 thoughts on “A Good Husband or A Little Brother? [Chapter 2]

  1. Walopun sdkit trlalu cepet alurnya tp untung perasaan chanyeolie cepet berubah.. bagus thorr ceritanyaa.. klo memungkinkan tolong buat sekuelnya dongg.. hehe

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s