Secret Darling | 22nd Chapter

shineshen1

:: SECRET DARLING | 22nd Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | Jungkook | OC(s) | etc.

Genre : Romance | Family | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by appinee | Café Poster Art

.

Summary :

Shin Minhee tak pernah terbiasa melakukan interaksi dengan laki-laki semenjak ia dikecewakan oleh cinta pertamanya, sebelas tahun silam. Kini saat ada seorang lelaki lain yang hadir di hidupnya, akankah ia mampu membuka hati untuk kedua kalinya? Ataukah selamanya memang begini takdirnya, terperangkap kasih sang cinta pertama yang kini ikut kembali—menelusup hari-harinya dan memberinya harapan, seperti masa lalu.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter | 14th Chapter | 15th Chapter | 16th Chapter | 17th Chapter | 18th Chapter | 19th Chapter | 20th Chapter | 21st Chapter

.

Minhee menahan gugupnya sendiri saat melihat pintu itu akhirnya terbuka. Wajah Minhyuk langsung terlihat dari balik sana, berusaha tetap tampak berekspresi datar meskipun raut kagetnya melihat kemunculan Minhee di hadapannya tak mampu ia tutupi seluruhnya. Sebelumnya lelaki itu memang sudah curiga, ia curiga mengapa Minhee menghubunginya tengah malam begini—sungguh bukan kebiasaan Minhee. Minhyuk langsung bangkit dari tidurnya begitu melihat nama Minhee tercantum di layar sebagai pihak yang menghubunginya, mengabaikan pusing yang menyerang kepalanya saat ia memaksa mengumpulkan kesadaran secara spontan.

Ingatan Minhyuk seketika terlempar ke kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat itu Minhee yang baru berusia lima belas tahun tengah bertengkar hebat dengannya, lalu memutuskan pergi dari rumah walau jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Minhyuk yang gengsi tentu tak mau susah-susah mencari Minhee, membuat keadaan semakin parah karena saat itu orangtua mereka sedang tidak berada di rumah. Saat jam semakin mendekati waktu tengah malam, Minhyuk akhirnya panik karena Minhee tak kunjung kembali ke rumah. Saat orangtua mereka kembali ke rumah, Minhyuk terpaksa berbohong bahwa adiknya itu sudah tidur. Minhyuk tak bisa tidur malam itu, mencoba memikirkan di mana keberadaan adiknya sebelum orangtua mereka sadar anak gadisnya menghilang.

Tepat beberapa menit sebelum tengah malam, ponsel Minhyuk berbunyi dan alangkah kaget sekaligus leganya Minhyuk saat tahu bahwa Minhee yang menghubunginya. Minhee menghubunginya untuk minta dibukakan pintu rumah, sedangkan ia menunggu di teras dalam kondisi menggigil kedinginan. Minhyuk melupakan kekesalannya pada Minhee saat gadis itu pergi. Begitu mereka bertemu, Minhyuk langsung menarik Minhee dalam pelukannya dan tak bisa berhenti mensyukuri keadaan adiknya yang baik-baik saja.

Sama seperti malam ini. Begitu Minhyuk bangkit dari tempat tidurnya, Minhyuk bergegas mengintip teras depan dari jendela kamarnya meskipun langkahnya masih terhuyung-huyung. Dan sama seperti malam itu, Minhyuk melihat Minhee berdiri di teras—adiknya itu menggigil kedinginan dengan ponsel yang ia dekapkan ke pipi dan raut gelisah. Minhyuk bergerak secepat mungkin ke lantai bawah, meskipun ia harus terbentur-bentur beberapa furnitur rumah akibat terlalu buru-buru. Dan di sinilah ia sekarang, berdiri berhadapan dengan adiknya kembali. Mereka sama-sama mematung untuk beberapa saat, dan Minhyuk sedikit terhenyak melihat bagaimana raut sembab dan kusut itu membayang di wajah adiknya.

Pasti ada sesuatu yang terjadi. Pasti.

Minhee menggigit bibir bawahnya, lalu menghamburkan diri ke dalam pelukan Minhyuk secara tiba-tiba. Gadis itu memeluk abangnya kuat, disusul dengan isak tangis yang mampu Minhyuk dengar beberapa saat kemudian. Minhyuk kembali terpaku. Kepalanya pusing memikirkan segala spekulasi yang saling berperang, sementara hatinya ikut pilu mendengar tangisan adiknya yang bercampur dengan gigil kedinginan.

Masih dalam kebekuan Minhyuk, telinganya tiba-tiba menangkap ketika ada suara denting logam yang terjatuh di atas lantai. Entah bagaimana caranya Minhyuk masih bisa mendengar dentingan itu dengan jelas, bahkan lebih jelas dibanding isakan Minhee yang teredam di dadanya. Minhyuk menurunkan pandangannya ke bawah—ke arah lantai—dan saat itulah ia kembali terhenyak menatap dua buah logam melingkar yang tergeletak setelah menyelesaikan pantulan terakhirnya di atas permukaan lantai. Sesuatu dalam dada Minhyuk bergemuruh melihat dua bongkah logam itu tergeletak di lantai, dingin, seakan tak memiliki arti apa-apa lagi. Ia seorang abang dari pihak wanita yang sedang tersakiti di sini, membuatnya merasa terhina saat mengambil konklusi bahwa adiknya telah dicampakkan.

Minhyuk mengepalkan kedua tanggannya kuat, lalu tanpa sadar membanting punggung Minhee hingga membentur dinding teras rumah mereka. Minhee menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan isakannya yang masih tersisa, dan di sisi lain ia sungguh tak berani membalas tatapan Minhyuk. Mata kakaknya itu berkilat marah, menunjukkan emosi yang tidak main-main. Minhyuk belum pernah terlihat semarah ini. Belum pernah.

“Apa yang sudah ia lakukan padamu, Minhee?!” bentak Minhyuk dengan suara yang semakin menciutkan nyali adiknya. Bahu Minhee bergetar di bawah cengkeraman jemari Minhyuk, sedangkan Minhyuk tak berhenti menghujamkan tatapan keras pada adiknya meskipun gadis itu sudah gemetar ketakutan.

“JAWAB!!” Minhyuk membentak sekali lagi, membuat Minhee semakin menciut ketakutan. Minhee menggeleng lemah, namun semakin lama gelengan itu semakin keras.

“Dia menyakitimu lagi?” tanya Minhyuk lagi. Masih dengan nada keras, namun kali ini dengan volume suara yang mulai diturunkan. Minhyuk tersenyum sinis dengan sisa-sisa luka hati yang masih berdenyut di jantungnya. “Geez! Suamimu memang brengsek, Minhee.”

Minhee menggelengkan kepalanya, lalu memeluk Minhyuk lagi. Minhee menundukkan kepalanya menyesal ketika bisa merasakan bagaimana emosi dan rasa murka itu menjalari setiap jengkal tubuh abangnya kini, namun ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk meredam semuanya. Minhyuk semurka ini karena ia begitu menyayangi Minhee, semua orang pasti tahu itu.

“Aku ke sini bukan untuk memintamu menghakiminya,” ucap Minhee pelan, sedih. “Aku datang sebagai adikmu, karena aku butuh perlindunganmu. Aku percaya, sampai kapanpun kau adalah satu-satunya orang yang mampu melindungiku. Karena kau kakakku, Oppa. Karena kau kakakku satu-satunya…”

Mendengar kata-kata Minhee, batin Minhyuk serasa terhantam palu godam raksasa dengan keras. Entah bagaimana perkataan Minhee telah berhasil membuka mata hatinya untuk rehat sejenak dan mengingat kembali kepingan-kepingan kejadian di masa kecil mereka.

Sesuatu yang selama ini telah begitu banyak menghilangkan kepercayaan Minhee padanya, sesuatu yang tak pernah bisa lelaki itu ubah sampai dengan detik ini.

 

.

.

| 22nd Chapter |

.

.

 

 

Oppa, berhenti! Aku tidak mau!” Minhee berusaha sekeras mungkin membentuk kuda-kuda di atas tanah guna menahan langkah Minhyuk. Tangan gadis itu mencengkeram lengan abangnya kuat-kuat demi memadamkan niat yang berkobar di kepala sang abang.

“Minhee, berhenti membelanya! Astaga!” Minhyuk berseru keras, kali ini cukup menghentak Minhee. Gadis itu mendongak menatap abangnya, ragu dan ciut meskipun masih ada gurat tak terima di sana.

“Aku tidak membelanya,” sangkal Minhee dengan suara yang sedikit bergetar. “Aku hanya tidak mau kau memulai keributan konyol dengannya di area kampus. Kalian bukan anak kecil, oke? Kalian sudah dua puluh dua tahun!”

“Siapa yang mau memulai keributan dengannya?” Minhyuk memicing. “Aku hanya ingin datang padanya dan mempertanyakan tentang dirimu, Minhee. Apa alasan dia meninggalkanmu, itu saja!”

Minhee mendesah dan mengalihkan pandangannya dari Minhyuk selama beberapa saat. Beberapa orang yang melintas di dekat mereka mulai memandangi mereka heran, mungkin bertanya-tanya mengapa mereka saling berteriak di tengah jalanan kampus seperti ini. Namun Minhee tak punya pilihan; memang sudah menjadi kewajibannya untuk menahan semua tindakan nekat Minhyuk kali ini. Gadis itu hanya memandang balik orang-orang itu, berusaha memancarkan aura ‘apapun-yang-kami-lakukan-sebaiknya-kau-tak-usah-peduli’. Namun pandangan galak gadis itu tampaknya gagal, karena pada dasarnya ia memang bukan sosok yang pantas untuk berlagak galak.

 

Oppa, serahkan saja padaku,” Minhee akhirnya membuka suara lagi, mencoba meyakinkan Minhyuk dengan tatapannya. “Aku akan menyelesaikan semua, empat mata dengannya.”

Minhyuk tertawa sinis meledek adiknya. “Oh ya? Aku tak yakin kau berhasil, karena kenyataannya kini bahkan ia sudah mencampakanmu, Minhee. Kau dengar itu? Dia bahkan tak mau peduli lagi denganmu, jadi bagaimana mungkin ia masih mau mendengarkan penjelasanmu, huh?”

Oppa!” Kali ini Minhee berseru kesal. “Oppa, ini rumahtanggaku!” bisik Minhee kesal.

“Oh, aku masih berwenang atas segalanya, Shin Minhee,” timpal Minhyuk sambil tetap berusaha melanjutkan langkahnya. Lagi-lagi ia mendecak kesal saat Minhee bersikeras menahan langkahnya. “Shin Minhee, lepaskan aku!”

“Kau memang abangku, Shin Minhyuk. Tapi ini masalah pribadiku, ini urusanku!” Minhee berseru tertahan. “Dan apa? Kau ingin menghajar suamiku?”

“Dia memang pantas mendapatkannya,” sinis Minhyuk singkat. Minhee memutar matanya lalu mencubit lengan Minhyuk, membuat Minhyuk mengaduh seketika.

Oppa, bersikaplah sedikit dewasa,” pinta Minhee. “Bicara baik-baik dengannya, atau semua perseteruan ini tak akan pernah berakhir.”

Minhyuk melengoskan wajahnya dengan kasar, tanda bahwa ia menolak argumentasi Minhee.

“Minhee, tak sadarkah kau bahwa aku melakukan semua ini untukmu?” Minhyuk bertanya pelan. Lelaki itu masih menghadapkan wajahnya ke arah lain, sengaja tak mau menatap Minhee. Pandangan Minhee pada sosok Minhyuk mengendur dari ketegangan, dan kini ia mulai menatap abangnya teduh. Ia luluh sekaligus penasaran ketika mendengar pernyataan Minhyuk. Ini semua untuknya?

“Aku tidak terima ia meninggalkanmu begitu saja,” Minhyuk melanjutkan kalimatnya dengan pelan, lalu menghela napasnya berat. “Aku telah menjadi abangmu selama hampir sembilan belas tahun. Aku mengerti betul bahwa kau adalah gadis yang manis. Kau sama sekali tak pantas dicampakkan seperti ini, apalagi oleh lelaki sepertinya. Kau mengerti, kan, apa maksudku?”

Minhee menatap Minhyuk dengan perasaan yang bercampur. Timbul sedikit haru sekaligus penyesalan dalam hatinya. Selama ini ia selalu menganggap Minhyuk abang yang super menyebalkan, selalu menentangnya, dan membuatnya stress sepanjang mereka menjalani hidup sebagai kakak beradik. Namun kini sosok Minhyuk di matanya membuat ia memiliki pandangan baru yang berbeda, saat Minhyuk bersikeras ingin membelanya dan tak terima saat tahu Sehun meninggalkannya begitu saja. Benarkah selama ini Minhyuk sesayang itu pada dirinya? Lalu mengapa selama tahun-tahun ke belakang sikapnya begitu menyebalkan di depan Minhee?

Dan berbagai kejadian yang terjadi di masa kecil mereka, bagaimana? Apa Minhyuk mampu menjelaskannya dan membandingkannya dengan kata-kata yang baru saja ia lontarkan?

 

“Bertahun-tahun aku menyia-nyiakan adik perempuan yang manis sepertimu,” Minhyuk berujar lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih rendah. “Lalu perasaan sesal itu baru datang ketika aku melihatmu sudah berdiri di atas altar, bersiap mengucapkan sumpah pernikahan bersama suamimu. Aku merasa kau seakan ingin meninggalkan keluarga kita, kau sudah dewasa, dan kau akan memiliki keluarga kecil sendiri. Seketika aku merasa menyesal karena selama ini tak bisa melindungimu dengan baik sebagai kakak, dan aku baru merasakan sesal itu saat tahu bahwa sebentar lagi posisiku untuk melindungimu akan terganti oleh lelaki lain yang berstatus sebagai suamimu.”

Perlahan Minhyuk menatap Minhee lagi, lalu menyentuh pipi adik satu-satunya itu. Tatapan Minhyuk sudah tampak teduh kini, tak lagi dikuasai emosi. Minhyuk tampak sedih, dan itu membuat Minhee merasa sedikit menyesal karena telah menuntun Minhyuk merasakan kesedihannya lagi. Ia ingat—pantas saja sepanjang hari pernikahan Minhee yang lalu, Minhyuk tampak diam dan tak banyak meledeknya macam-macam. Ia terus melemparkan senyum ketika Minhee memandangnya, membuat Minhee sempat merasa aneh dengan perilaku abangnya kala itu. Namun kini Minhee sudah menemukan apa jawabannya, jawaban di balik perubahan sikap Minhyuk setelah adiknya menikah.

 

“Dan kini saat kau kembali untuk memintaku melindungimu, aku pasti akan melakukannya dengan sepenuh hati. Aku menyayangimu, Minhee. Maafkan aku atas tahun-tahun buruk yang pernah terjadi di antara kita,” Minhyuk berkata sekali lagi. Selanjutnya ia mengusap pelan pipi Minhee, lalu mulai melangkah tanpa tahanan dari Minhee lagi. Gadis itu tanpa sadar melepaskan genggamannya pada lengan sang abang, membiarkan sang abang pergi untuk menemui laki-laki yang sudah menghancurkan nyaris separuh hidup Minhee.

Minhee baru tersadar ketika langkah Minhyuk sudah semakin jauh. Memanggil nama Minhyuk sudah tak ada gunanya lagi. Minhee hanya bisa terdiam saat satu kali panggilan tak cukup membuat abangnya itu berbalik.

Oppa!”

 

 

Minhyuk memacu langkah kakinya dengan gelisah. Napasnya mulai terengah meskipun ia belum sempat melangkah jauh. Ia sengaja menulikan telinganya dari panggilan cemas Minhee, berusaha tak peduli meski sekeras apapun adiknya itu mencoba melindungi Sehun.

Cinta. Alasan naif apa lagi yang dimiliki Minhee selain cinta?

Minhyuk tak tahu kapan ia mulai menyadarinya, yang jelas ia tahu bahwa kini adiknya itu sedang memiliki cinta yang ia pendam di dalam hati untuk Sehun. Namun hingga detik ini juga, ia masih tak bisa menemukan alasan mengapa Minhee begitu mencintai Sehun. Meskipun telah membuatnya meneteskan airmata, sejauh ini Sehun masih satu-satunya lelaki yang mampu membuat hati Minhee kembali utuh dari kehancuran yang pernah dialaminya dahulu. Minhyuk terkadang menyesali mengapa adiknya adalah tipe perempuan yang terlalu menyimpan erat rasa cintanya pada seorang laki-laki, tak berani meninggalkan bayangannya sementara ia sendiri telah dicampakan jauh. Minhee tak belajar dari pengalamannya di masa lalu, ketika ia ditinggalkan cinta pertamanya—si bocah Busan itu.

Cih. Minhyuk mendengus.

 

Mata Minhyuk menyalang kesana kemari, mencoba mencari sosok Sehun di antara lautan kepala manusia yang sedang berada di kantin. Langkah tergesa dan otot wajah menegang mengindikasikan perasaannya yang sedang tidak bagus. Beberapa temannya bahkan mengurungkan niat menyapanya ketika melihat bagaimana ekspresi Minhyuk sekarang.

Sejujurnya sedikit sulit membayangkan bagaimana ekspresi pemuda seperti Shin Minhyuk saat memendam suatu amarah. Di kalangan teman-temannya, ia termasuk sosok yang jarang menampilkan emosi yang meletup-letup. Ia lebih suka tergelak ramai-ramai saat membicarakan sesuatu yang tidak penting. Jadi intinya, mereka semua seakan pangling melihat sosok Minhyuk hari ini. Jauh dari kesan ramah dan tenang, lelaki itu kini tampak nyalang.

Minhyuk nyaris melangkahkan kakinya keluar dari arean kantin, andai saja panggilan seorang perempuan tak menahan langkahnya lebih dulu. Perempuan itu duduk di salah satu kursi kantin, memanggil namanya sambil melambaikan tangannya agar Minhyuk menyadari. Minhyuk menoleh, dan memandangi gadis itu setelahnya. Mencermatinya. Mencoba mengenalinya. Awalnya ia memang berniat tidak memedulikan panggilan gadis itu, namun entah apa yang kemudian membawanya mendekat pada gadis berambut sebahu itu. Minhyuk bahkan tak kenal siapa dia.

 

“Shin Minhyuk?” Gadis itu menyebutkan namanya dengan nada bertanya.

Minhyuk mengerutkan keningnya, meneliti wajah gadis berkulit porselen itu. “Ya?”

“Oh, syukurlah aku tidak salah orang,” Minhyuk mendengar gumaman lega gadis itu, yang ia tahu sebenarnya tak ditujukan kepada dirinya. Gadis itu menuding kursi kosong yang ada di hadapannya, “Minhyuk-ssi, bisa kau duduk sebentar?”

Minhyuk mengerutkan keningnya semakin dalam, namun ia masih bergeming dan tak semudah itu menuruti titah si gadis. Persis kebiasaan Minhee. “Ada keperluan apa denganku?”

“Aku butuh bicara sebentar denganmu,” ucap gadis itu, memandang Minhyuk yakin. “Oh astaga, aku minta waktumu sebentar, Minhyuk-ssi. Ini menyangkut Shin Minhee. Dia adikmu, kan?”

“Minhee?” Minhyuk balik bertanya. Gadis itu hanya mengangguk sebelum akhirnya ia berhasil meyakinkan Minhyuk untuk berbincang sebentar dengannya.

“Ada apa dengannya?” tanya Minhyuk langsung. Namun kemudian ia mengernyitkan keningnya kembali ketika ia membuka suara kedua, “tunggu! Darimana kau kenal adikku?”

Gadis itu menghela napasnya panjang sebelum mulai menjelaskan semuanya dari awal. “Namaku Sulli. Sulli Choi, tingkat akhir seni teater,” Sulli menghentikan sesaat perkelanan singkatnya. “Dan aku pembina tim proyek drama untuk tahun ini, tim drama tempat adikmu bergabung selama ini.”

“Apa?” Minhyuk tampak kaget mendengar penjelasan singkat Sulli. “Adikku? Drama? Sejak kapan? Ia bahkan tak memberitahu apa-apa padaku.”

“Dia tidak memberitahu pihak keluarga?” Sulli akhirnya membelalakan matanya. Minhyuk hanya mengangguk; namun jauh di dalam kepalanya, otaknya yang sedang berpikir mengapa Minhee tak pernah bilang apapun padanya selama ini.

“Astaga, jadi selama ini apa alasannya ketika ia selalu pulang terlambat?” Sulli kembali bertanya.

“Dia—” Minhyuk memutus kata-katanya. Tunggu, bukankah selama ini Minhee tinggal bersama Sehun? Jelas sekali alasan mengapa selama ini keluarga mereka tidak mengerti apa-apa mengenai kegiatan proyek drama Minhee, karena Minhee sendiri tak pernah bicara banyak pada keluarganya—termasuk masalah kuliahnya. Jadi, apakah soal drama ini Sehun sudah mengetahuinya?

“Minhyuk-ssi?” Sulli mencoba memecahkan lamunan Minhyuk karena tiba-tiba saja Minhyuk mematung seperti batu. Sulli menyerah karena lambaian tangan di depan wajah Minhyuk saja tak cukup, sedangkan ia tak mungkin menyentuh Minhyuk karena ia bahkan tak cukup mengenal siapa pemuda itu.

“Minhyuk-ssi?” panggil Sulli sekali lagi. Merasa ingat dengan kejadian yang membekukan sosok Minhee beberapa waktu yang lalu, Sulli sadar untuk menolehkan kepalanya ke belakang. Mungkin saja ada sesuatu yang menambat pandangan Minhyuk di belakang sana—seperti kasus Minhee saat itu—namun ternyata Sulli tak menemukan kejadian aneh yang berarti. Hanya ada beberapa orang lain yang berseliweran di belakang sana, sibuk dengan kudapan yang akan mereka beli di konter kantin. Tak ada yang aneh. Sulli kembali menatap Minhyuk.

“Minhyuk-ssi?”

“Ah, ya!” Minhyuk akhirnya sadar ketika Sulli sudah memanggilnya tiga kali. Untuk pertama raut wajah Minhyuk tampak bingung, membuat Sulli tersenyum kecil. Astaga, Minhyuk memang tak memiliki perbedaan yang berarti dengan sosok adiknya.

“Oh, astaga, maaf tadi aku melamun sebentar,” Minhyuk menambahkan dengan salah tingkah.

Sulli hanya terkekeh sedikit, lalu menganggukkan kepalanya. “Ya. Dan maaf juga karena telah membuatmu kaget. Tadi aku hanya sedikit cemas, sebab tiba-tiba saja kau mematung seperti batu.”

“Hah?” Minhyuk sedikit terpana. Sulli tak bisa menahan tawanya melihat bagaimana ekspresi Minhyuk saat ini.

“Minhyuk-ssi, ada apa denganmu?” Sulli berkata dengan sisa kekehnya.

“Oh, Sulli-ssi, maafkan aku,” ucap Minhyuk salah tingkah. Wajah pemuda itu mulai dirambati semburat merah. Oh, sungguh malu ia ditertawakan Sulli!

Minhyuk mencoba mengesampingkan perasaan-perasaan aneh yang bergelayut di benaknya secara tiba-tiba. Dasar perasaan aneh, sungguh datang di saat yang tidak tepat. Saat ini bukan waktu yang tepat baginya untuk meneliti perasaan aneh itu. Pertemuannya dengan Sulli hari ini sama sekali tidak disengaja. Dan kemungkinannya, ini hanya sekelebat perasaan iseng yang terasa ketika ia bertemu dengan gadis cantik seperti Sulli. Minhyuk harus cepat-cepat menarik perasaannya kembali pada realitas, mengingat tentang nasib adiknya yang kini sedang ia pertaruhkan.

Minhyuk menggelengkan kepalanya ringan dan mengalihkan pandangannya dari sosok Sulli, sedangkan gadis itu sendiri masih memandangi Minhyuk dengan ekspresi tanya yang terpeta di wajahnya. Tepat saat itu juga Minhyuk menemukan apa yang ia cari. Sesuatu—atau mungkin seseorang—yang menjadi alasannya untuk mendatangi tempat ini. Minhyuk tak dapat menutupi ekspresi tertegunnya saat melihat sosok itu melangkah memasuki kantin, bersama seorang gadis yang membuntut langkahnya dari belakang. Untuk sejenak kening Minhyuk berkerut—bertanya-tanya dalam hati siapa sosok gadis itu. Sosok itu jelas bukan Minhee.

Sulli yang masih bisa melihat bagaimana ekspresi Minhyuk sekarang ikut mengerutkan keningnya. Gadis itu mencoba mengikuti arah pandang Minhyuk, namun ia merasa tak menemukan hal aneh bahkan tak tahu ke mana arah pandang Minhyuk bermuara. Gadis itu hanya bisa diam, menyimpan pertanyaannya sendiri di dalam kepala.

“Sulli-ssi, apa urusan kita sudah selesai?” Pertanyaan Minhyuk cukup sukses membuat Sulli mengangkat alisnya di detik pertama. Sulli menatap Minhyuk, menemukan sirat tak nyaman dalam iris hitam kecokelatan lelaki itu.

Sulli mengangguk ragu-ragu, membuat Minhyuk mengulaskan senyumnya tipis. Tipis sekali.

“Baiklah, kalau begitu aku harus pergi. Aku masih ada urusan.” Minhyuk memohon diri. Sulli mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu mengangguk untuk kedua kalinya. Minhyuk tersenyum sekali lagi pula, namun kali ini lebih lebar dan tulus dibanding sebelumnya.

Sulli tak menjawab, dan hanya memperhatikan saat Minhyuk mendorong kursinya menjauh dari meja lalu bangkit dari duduknya. Sulli mengangkat pandangannya, mengikuti gerakan Minhyuk dan lelaki itu juga tampaknya tak terlalu peduli Sulli mengikuti gerakannya atau tidak.

Minhyuk mengeluarkan dirinya dari jangkauan pandang Sulli. Minhyuk sadar pandangan itu terus saja mengikutinya—oh, mungkin gadis berambut sebahu itu masih terlalu penasaran dengan ucapan pamit Minhyuk yang tiba-tiba. Minhyuk sedikit geli, ia merasa sepertinya urusan gadis itu dengannya belum sepenuhnya terkatakan. Hanya saja melihat gelagat Minhyuk yang ingin segera menarik diri, maka mau tak mau Sulli menyetujuinya saja. Ah, ia sangat berterimakasih atas pengertian dan kepekaan Sulli yang satu itu.

 

“Oke, aku yang akan memesankanmu cokelat blender saja,” Minhyuk mendengar suara si gadis—gadis yang sedang bersama seseorang itu, seseorang yang dicarinya. Ia melihat lelaki itu menangguk setuju, seiring dengan langkah si gadis yang menjauh darinya. Sedangkan Minhyuk kebalikannya, ia semakin mendekatkan langkahnya dengan si lelaki itu. Minhyuk mencoba meredakan emosinya yang tiba-tiba saja menggelegak aneh, berbeda kontras dengan emosinya saat bertemu dengan Sulli tadi.

Lelaki itu bergeming di posisinya. Ia sibuk dengan sesuatu di layar ponselnya, sehingga ia tak merasa jika Minhyuk sebentar lagi tiba di tempat dirinya berpijak. Beberapa kali Minhyuk menghela dan menghembuskan napasnya dengan ritme yang teratur, metode sederhana untuk menenangkan dirinya sendiri.

 

“Sehun,” sahut Minhyuk dengan nada setenang mungkin. Ia melihat lelaki berkulit pucat itu mematung dengan segera ketika mendengar namanya dipanggil, terlebih lagi saat ia menyadari siapa orang yang saru saja memanggilnya. Gerakan ibu jari lelaki itu di layar ponselnya terhenti, seiring dengan pertemuannya dengan wajah seseorang yang memanggilnya tersebut. Kakak iparnya, eh?

“Bisa minta waktumu sebentar?” Minhyuk yang lagi-lagi bersuara. Minhyuk memandang Sehun dengan tenang, namun Sehun tak bisa berbohong soal aura menusuk yang ia dapatkan lewat iris hitam kecokelatan itu. Iris yang serupa dengan milik Minhee. Sehun mulai cemas.

“Ya, tentu saja.” Sehun juga mencoba tenang ketika berhadapan dengan Minhyuk. Lelaki itu mengunci layar ponselnya, lalu menjatuhkan benda itu begitu saja ke dalam tasnya. Sehun merasa ia memandang Minhyuk dengan tatapan yang datar-datar saja, namun ia tak yakin Minhyuk tak mampu menemukan manipulasi ekspresinya tersebut.

Minhyuk tersenyum miring. “Kupikir kau sudah tahu apa yang ingin kubicarakan.”

Sehun hanya mengerling sedikit pada Minhyuk, lalu selebihnya kembali mengalihkan atensinya dari tatapan mata Minhyuk. Tatapan mata itu begitu menusuk, membuatnya tak nyaman.

“Bisa minta tempat yang lebih baik, Minhyuk?” pinta Sehun sambil melirik lingkungan ramai yang ada di sekitar mereka.

“Oh, tentu saja, Tuan Oh,” jawab Minhyuk sarkastik. Tiba-tiba kakak Minhee itu meraih kerah baju Sehun dan tanpa banyak basa-basi lagi segera menyeret langkah Sehun menuju salah satu sudut sepi di bagian tenggara kantin. Sehun mengikuti langkah Minhyuk dengan ringan, masih dengan ekspresi wajah yang datar. Ia bahkan sama sekali tak takut dengan ancaman perbuatan anarkis Minhyuk yang sudah di depan mata. Ia diam bukan karena takut. Ia diam karena menganggap sebagian kesalahannya memang pantas dibalas, dan mungkin ini adalah saat dimana ia akan mendapatkan hukuman untuk yang satu itu.

Setelah merasa cukup, Minhyuk menghentikan langkahnya dan kembali mengeratkan cengkeramannya di kerah baju Sehun. Emosi yang membakar binar kesabaran dalam iris mata Minhyuk tampak semakin nyata, namun bukan itu yang membuat Sehun terintimidasi. Minhyuk tersenyum sinis saat melihat Sehun sengaja menghindari tatapan matanya.

“Ciut melihat emosiku?” tanya Minhyuk dengan nada meremehkan.

“Aku hanya tak mau melihat iris matamu,” jawab Sehun datar. “Iris matamu mengingatkanku pada Minhee.”

Minhyuk tertawa remeh dan sinis mendengar jawaban Sehun. “Minhee? Cih. Kau masih mengingatnya?”

Sehun hanya membalas tatapan Minhyuk selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali memutus kontak matanya dengan sirat kemarahan itu. Raut wajah Sehun semakin dingin, kini ia hanya mengerling cuek seperlunya pada Minhyuk.

“Omong kosong, Oh Sehun. Jangan bawa-bawa nama adikku lagi dalam setiap perkataanmu. Aku tak sudi!!” Minhyuk membentak dengan nada yang semakin menusuk. Sehun merasakan cengkeraman Minhyuk pada kerah bajunya semakin erat, namun ia tak melakukan apa-apa.

“Apa kau melakukan itu semua karena gadis tadi?” Minhyuk kembali bertanya. Nada suara Minhyuk agak melunak, namun masih setajam tadi. “Gadis tadi, eh? Siapa dia?”

“Apa pedulimu?” tanya Sehun datar. “Hanya sekedar info saja, kau tak berhak tahu banyak hal tentangnya. Namun satu hal yang mungkin bisa kau tahu, perannya dalam hidupku tak jauh berbeda dengan peran Jungkook dalam hidup Minhee.”

Minhyuk mengerutkan keningnya, semakin menajamkan tatapan menyelidiknya pada sosok lelaki lain di hadapannya itu. “Apa maksudmu, huh?”

Sehun kembali membalas tatapan mata Minhyuk yang menghujamnya sedari tadi, namun kali ini pandangannya lebih berani. Bahkan ia juga menyeringai samar, namun agaknya Minhyuk sedang tak sadar akan hal tersebut.

“Aku baru saja memberi petunjuk padamu tentang bagaimana hubungan Jungkook dan Minhee selama ini di belakangmu. Kau tak pernah sadar sudah seberapa jauh hubungan mereka di masa lalu, bukan?” ucap Sehun lagi.

Minhyuk tercenung mendengar kata-kata Sehun, dan sesaat kemudian Sehun merasa cengkeraman Minhyuk pada kerah bajunya semakin merenggang. Pandangan Minhyuk meredup untuk beberapa saat, membuat Sehun semakin berani melawan atensi itu kini. Pendar kemurkaan itu lenyap sedikit demi sedikit, hingga kini hanya menyisakan ruang kosong dari sisa-sisa emosi yang mulai padam.

Minhyuk tak tahu mengapa pikirannya tiba-tiba mengosong setelah mendengar Sehun mengatakan hal itu, kata-kata yang seakan kembali melemparkannya ke dalam bayang-bayang masa lalu. Kekecewaan tak terobati Minhee di masa lalu adalah satu-satunya memori yang berhasil melumpuhkan emosi Minhyuk. Rasa bersalah itu seakan palu godam yang menghantam Minhyuk, menyadarkan bahwa adiknya itu juga pernah memendam kekecewaan yang begitu besar pada sosok abangnya di masa kecil. Kekecewaan yang pada akhirnya membawa nama Jungkook dalam kehidupannya, sejak hari itu hingga hari ini.

 

“Sehun!”

Panggilan seorang gadis kontan menyadarkan mereka berdua dari lamunan masing-masing. Mereka berdua menoleh bersamaan ke arah datangnya suara si gadis, sejenak sama-sama terkejut melihat sosok gadis dengan surai pirang itu tengah melangkahkan kakinya cepat-cepat mendekati mereka. Beberapa detik kemudian gadis itu sudah menggenggam erat pergelangan tangan kiri Sehun, membuat Minhyuk terhenyak saat melihat pemandangan tersebut. Ada suatu rasa kecewa yang jatuh ke dasar ulu hatinya saat melihat gadis itu dengan tegas menyentuh Sehun, di depan mata Minhyuk sendiri. Cengkeraman Minhyuk pada kerah Sehun sudah berhenti sedari tadi ternyata, ia juga tak sadar kapan ia melepaskannya.

“Shin Minhyuk?” Gadis pirang itu mengernyit saat meneliti wajah Minhyuk yang masih sekaku perkamen kulit.

“Oh, aku sedikit ingat siapa kau,” balas Minhyuk kemudian, melempar senyum enggan pada gadis itu. “Kau beberapa kali terlibat kelas yang sama denganku. Tapi aku tak pernah tahu siapa kau. Dan memang—aku juga tidak berminat untuk mencari tahu.”

Napas Daeun mulai naik turun saat Minhyuk ikut melemparkan pandangan beku itu padanya. Saat ia tiba, ia merasa jelas ada perbedaan atmosfer di antara kedua lelaki itu. Namun ia tetap memberanikan diri memosisikan dirinya sendiri di antara Sehun dan Minhyuk, bahkan menggenggam pergelangan tangan salah satu lelaki itu sebagai wujud keberaniannya.

“Apa yang terjadi di sini?” tanya Daeun hati-hati. Ia masih memandangi Minhyuk penuh waspada, serta mengerling beberapa kali pada sosok Sehun yang masih terdiam tenang.

“Oh, tidak perlu khawatir terlalu jauh, Nona. Hanya urusan kecil antara lelaki,” jawab Minhyuk sambil tersenyum tawar. “Kau wanita, kan? Jadi kusarankan kau tidak perlu bertindak terlalu banyak…”

Kata-kata Minhyuk melambat saat ia melihat Sehun memberi kode kecil pada Daeun agar mundur dan menggeser posisinya ke belakang tubuh lelaki itu. Sehun bahkan berdiri di depan gadis itu sekarang, menjadi penengah agar sosok Minhyuk tak lagi berhadapan langsung dengan gadis itu.

Rahang Minhyuk kembali mengeras.

“Jangan libatkan dia. Dia tidak tahu apa-apa,” ucap Sehun datar. Mendengarnya, Minhyuk kembali mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh—mencoba menahan emosi yang kembali bergejolak dalam dirinya.

Sehun membela gadis itu? Lelucon macam apa ini?!

 

Di sisi lain, Daeun menolehkan kepalanya khawatir mendengar kata-kata Sehun. Ketegangan kembali menguar di antara dua lelaki itu, sedangkan ia tak bisa berbuat apa-apa untuk memisahkan mereka. Lelaki itu tampaknya begitu sinis saat ia datang dan mencoba membela Sehun, lalu jauh bertambah sinis saat melihat bagaimana Sehun mencoba melindungi dirinya.

Ada kenyataan yang membuat Daeun semakin merasakan kekhawatirannya, namun di sisi lain ia juga bisa merasakan ada kehangatan perlahan merayap di palung hatinya. Sehun berdiri di depannya, ia memisahkan Daeun dari si lelaki sinis yang jelas-jelas sama sekali tak suka dengan kehadiran Daeun. Sehun melindunginya—kenyataan yang membuat hatinya menghangat.

“Kau…” Minhyuk kembali bersuara, namun kali ini ia lebih memilih menelannya kembali dengan seluruh perasaan tercekat yang mendesak dadanya. Ia kecewa melihat semua kenyataan ini, sungguh kecewa. Jadi hal inikah yang adiknya tangisi setiap malam?

Minhyuk memang bukan pihak langsung yang merasakan bagaimana rasa sakit itu saat menusuk hati, tapi ada di posisi ini saja sudah cukup membuat Minhyuk mengerti. Adiknya merasakan sesak dan kesakitan yang jauh lebih parah dari ini. Pantas saja ia memutuskan pergi, karena memang tak ada hal yang patut dipertahankan lagi.

“Oh ya, aku mengerti,” sahut Minhyuk setelah sekian menit mereka menghabiskan waktu untuk saling terdiam satu sama lain. Sehun menatap Minhyuk yang sudah memulai langkahnya, bersiap pergi dari tempat itu. Sedangkan Daeun juga ikut menatap Minhyuk dari balik punggung Sehun.

“Pantas saja ‘ia’ lebih memilih untuk meninggalkanmu,” lanjut Minhyuk sambil memandangi Daeun lekat-lekat—tatapan sinis yang terlalu kentara. Membuat gadis pirang itu mengernyit.

Sehun tak membalas perkataan Minhyuk. Ia hanya diam, terus mendengarkan semua ocehan Minhyuk.

“Kau memang brengsek, Oh Sehun.” Minhyuk menyudahi pertemuannya dengan Sehun dengan satu kalimat tajam dan singkat. Lelaki itu berjalan menjauhi Sehun dan Daeun yang masih membeku di posisi mereka sebelumnya, masih bergeming meskipun Minhyuk sudah melangkah semakin jauh. Masih ada hal yang berkecamuk di pikiran mereka masing-masing, membuat mereka bergeming sebelum menyelesaikan pemikiran itu sementara. Mencoba stabil akan keadaan.

 

Daeun mencoba membuka suara lebih dulu. Ia sudah menyiapkan pertanyaan dalam benaknya tentang siapa sosok ‘ia’ yang tadi Minhyuk sebut dalam kalimatnya. Gadis itu nyaris menyuarakan pertanyaan yang masih panas di kepalanya itu, andai saja ia tak cepat-cepat tersadar bahwa mungkin belum saatnya ia mengetahui lebih jauh tentang hal tersebut. Ia menyadari sosok ‘ia’ itu mungkin saja masih berkaitan dengan privasi Sehun, dan bukanlah hal bijak untuk cepat-cepat memburu jawaban itu dari Sehun. Kondisi mereka masih belum baik semenjak pertemuan dengan Minhyuk tadi, terlebih lagi kondisi Sehun.

 

“Sehun,” Daeun memberanikan diri untuk membuka suara lebih dulu, sesuai dengan instruksi otaknya sedari tadi. Ia memandang Sehun ragu-ragu, sedikit menunduk di sisa-sisa keraguan itu.

“Terima kasih,” Daeun kembali bersuara.

Sehun mengerutkan keningnya mendengar ucapan terimakasih Daeun. Baru saja ia akan bertanya, terimakasih atas hal apakah yang baru saja Daeun ucapkan, namun gadis itu sudah memotong niat bertanya Sehun terlebih dahulu. Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap Sehun ragu-ragu dengan iris cokelat gelapnya yang bersinar redup.

“Terima kasih sudah melindungiku tadi.”

 

***

 

Minhee benar-benar merasa buruk malam ini. Sedari tadi kepalanya tak bisa berhenti disesaki pikiran, pikiran-pikiran yang jelas saja menyiksanya. Minhee berkali-kali mendengus, membuang napasnya keras-keras, sembari tangannya bergerak menyisiri surai cokelat gelapnya kasar-kasar menggunakan sikat rambut. Rambutnya sedang rontok habis-habisan belakangan ini—entahlah, karena efek stress mungkin—dan Minhee tak peduli meskipun semakin banyak helai demi helai rambut yang berguguran ketika ia menyisirnya kasar dengan sikat rambut.

Hal yang dilakukan Minhee saat stress adalah menyakiti dirinya sendiri, dan ia tidak peduli—kalian harus ingat hal itu.

 

Kejadian di kampus siang tadi masih terus berputar-putar di kepalanya. Tentang Minhyuk yang meninggalkannya, dan ia tentu saja tak tahu kemana kakaknya itu pergi. Ia sudah mencari Minhyuk sebisanya—bertanya pada beberapa orang yang ia kenal sebagai teman kakaknya—namun tak ada satu pun yang mengatakan mereka melihat Minhyuk.

Minhee terus melangkah dan melangkah, hingga kakinya menjerit lelah. Ia terpaksa menenangkan hatinya sesaat, duduk untuk mengistirahatkan kakinya. Di benaknya tersimpan gundah gulana kekhawatiran yang begitu besar, kekhawatiran untuk dua lelaki yang paling penting untuknya di dunia ini—selain ayahnya, dan juga Jungkook sang cinta pertama. Minhyuk dan Sehun. Naluri Minhee mengatakan Minhyuk pasti pergi untuk mencari Sehun, namun sialnya ia sama sekali tak bisa menebak kira-kira di mana keberadaan dua lelaki itu. Berpuluh-puluh menit ia menunggu, sampai akhirnya ia memutuskan untuk melangkah menuju kelasnya sendiri. Jadwal kelasnya yang dulu, dan ia akan segera bertemu Minchan di sana. Tepat saat masih di perjalanan, Minhee bertemu dengan sesuatu yang tak pantas ia lihat.

Dari jauh Minhee melihat Sehun tengah melintasi suatu koridor, dengan kehadiran Daeun di sisinya. Meskipun hatinya masih dibakar cemburu, entah mengapa pemandangan seperti itu tak begitu menimbulkan gejolak kesakitan yang berarti dalam dadanya. Ia hanya sekedar mendengus melihat mereka, lalu membelokkan langkah menuju arah yang lain. Sepertinya Minhee sudah kebal terhadap rasa sakit itu sendiri, sebab ia selalu membiarkan rasa itu menyiksanya pelan-pelan. Minhee bahkan tak pernah menunjukan reaksi berarti ketika ia melihat Daeun dekat-dekat dengan Sehun. Ia hanya bisa meratap dan bersedih akan perasaannya sendiri, namun ia tak pernah bisa bertingkah lebih. Minhee sakit hati namun ia sama sekali tak berminat memancing keributan. Seharusnya Sehun beruntung telah dicintai oleh gadis seperti Minhee—

 

“Minhee…” Minhyuk yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya dan langsung memanggil namanya membuat Minhee kaget. Pemikiran gadis itu buyar seluruhnya. Ia bahkan nyaris menjatuhkan sikat rambutnya ke atas lantai, membuat Minhyuk meringis minta maaf.

“Ketuklah pintu dahulu sebelum masuk, Oppa,” protes Minhee datar. Ia hanya mengerling tanpa ekspresi pada refleksi Minhyuk yang terpantul lewat permukaan cermin riasnya.

“Ya, maaf,” ucap Minhyuk setengah hati. “Kau tahu aku sedang buru-buru. Aku perlu bicara denganmu, Minhee-ya.”

“Tentang apa?” selidik Minhee langsung. Reaksi gadis itu masih datar-datar saja.

Minhyuk menghela napasnya. “Please, Minhee. Aku harus segera menyampaikan ini padamu sebelum aku berubah pikiran.”

Minhee mengangkat sebelah alisnya. Ia segera meletakkan sikat rambut di atas meja rias, lalu memutar tubuhnya hingga kini sepenuhnya menghadap Minhyuk. Lelaki itu langsung masuk ke kamarnya, mendahului izin yang bahkan belum diberikan si empunya kamar.

“Apa?” Minhee menuntut kejelasan saat Minhyuk sudah tiba di hadapannya. Lelaki itu mengambil posisi berlutut agar wajahnya sejajar dengan adiknya yang kini masih duduk di kursi meja rias.

Minhyuk menghela napas ragu beberapa kali, membuat Minhee semakin bingung sekaligus curiga.

“Cepat katakan, Oppa.”

“Minhee, lepaskanlah bebanmu malam ini,” ujar Minhyuk sambil meraih kedua bahu Minhee.

Minhee mengerutkan keningnya dalam, merasa tak mengerti dengan arah pembicaraaan Minhyuk.

“Jalan-jalanlah malam ini, aku tahu besok kau tak ada jadwal kelas,” lanjut Minhyuk sambil memberi tatapan serius pada Minhee. Oh, Minhee bahkan nyaris tergelak. Ada apa dengan kakaknya ini?

“Dari mana kau tahu besok aku tak punya jadwal kelas?” Minhee menahan gelak tawanya demi tatapan serius Minhyuk.

“Kau tak perlu tahu,” jawab Minhyuk sekenanya. “Yang jelas, keluarlah malam ini. Aku sudah menghubungi seseorang untuk menemani sekaligus menjagamu untuk jalan-jalan ke luar malam ini. Dia akan tiba sebentar lagi.”

Minhee mengerutkan keningnya semakin dalam, kemudian tertawa kaku dengan nada yang dipaksakan. “Seseorang? Astaga, kau serius? Apa orang itu Sehun? Oppa, seharusnya kau tahu jika kau ingin membuat beban pikiranku lepas, maka—”

“Dia bukan Sehun,” Minhyuk memotong kata-kata Minhee, lalu bangkit dari posisi berlututnya. “Hell, kau kira aku sudi menyerahkan dirimu lagi padanya?”

Tawa kaku Minhee berhenti. Gadis itu cukup terhenyak mendengar jawaban Minhyuk, menyadari seberapa keras abangnya itu membenci Sehun saat ini. Minhee kini memandangi kakaknya lekat-lekat, antara terkejut dan bingung. Jadi lelaki itu bukan Sehun? Lalu siapa dia? Kai?

 

“Jungkook. Dia akan datang sebentar lagi,” Minhyuk menghela napasnya susah payah, demi mengucapkan kalimat itu. Minhee membulatkan mata mendengar Minhyuk pada akhirnya mau menyebut nama lelaki itu lagi; meski Minhee telah meyakinkan dirinya sendiri sejak bertahun-tahun yang lalu bahwa Minhyuk tak akan pernah merubah pandangannya pada Jungkook sampai kapanpun. Minhee kira Minhyuk akan selamanya membenci Jungkook, menjauhkan adiknya sejauh-jauhnya dari jangkauan lelaki itu, dan tak akan pernah sudi membiarkan Minhee bertemu dengan Jungkook lagi.

Well, malam ini Minhee rasa abangnya itu benar-benar telah berubah menjadi sosok yang aneh—sosok yang tidak seperti biasanya. Minhyuk bahkan baru saja menyuruh Minhee pergi… Bersama Jungkook?

 

“Jungkook?” tanya Minhee setengah tak percaya. “Kau serius?”

“Iya, aku serius,” jawab Minhyuk singkat. “Jangan sampai aku berubah pikiran, Minhee. Jalan-jalanlah malam ini bersamanya. Aku yakin dia bisa menjagamu—err, setidaknya untuk malam ini. Lupakan masalahmu dengan Sehun.”

“Kenapa kau—”

“Sudahlah, cepat bersiap sebelum aku berubah pikiran,” Minhyuk memaksakan senyumnya. “Aku tunggu sepuluh menit lagi di lantai bawah. Kau harus datang. Jangan gunakan pakaian yang berlebihan, dan kurasa kau juga butuh mantel tebal.”

“Oke,” balas Minhee ragu-ragu.

Minhyuk bangkit, membalikkan langkahnya menuju pintu, lalu keluar. Pintu kamar itu bahkan ditutupnya kembali, meninggalkan Minhee sendirian di dalam kamar dengan pikiran yang masih berputar-putar. Ia tak langsung mengganti pakaiannya sesuai instruksi Minhyuk, gadis itu justru tercenung sambil memperhatikan bayangan dirinya di permukaan cermin lamat-lamat. Memperhatikan bayangan dirinya dalam balutan piyama bermotif kekanak-kanakkan, dan masih bergeming. Minhee mengatur ritme napasnya, sebelum kemudian membuang pandangannya sendiri ke lain arah.

 

Malam ini Minhyuk bahkan menyuruhnya pergi bersama Jungkook. Jalan-jalan ke luar. Minhee bahkan sedang tak ada mood untuk jalan-jalan malam ini. Besok ia memang sedang tak ada jadwal kuliah, dan yang ia inginkan mulai malam ini hingga esok hari adalah bergelung di balik selimut tebalnya. Tak memikirkan apapun—tidur, lebih tepatnya—dan tak berharap salah satu mimpinya mengingatkan ia akan sosok lelaki yang menjadi penyebab ia merasa sakit hati.

Beberapa malam yang lalu ia memang ingin bertemu Sehun—sangat ingin sekali. Namun semenjak siang tadi—ketika ia kembali melihat Sehun bersama Daeun—ia merasa tak lagi memiliki minat bertemu dengan lelaki itu. Yang sedang Minhee inginkan sekarang adalah melepas jauh-jauh beban pikirannya mengenai Sehun, dan untuk yang satu itu kata-kata Minhyuk beberapa saat yang lalu ada benarnya juga. Namun pergi bersama Jungkook? Apa itu ide terbaik?

Jungkook memang satu-satunya teman yang bisa membuat Minhee tersenyum belakangan ini, selain Minchan tentu saja. Semenjak kembali ke jadwal kelas lamanya, Minhee belum bertemu dengan Jungkook lagi. Entah kebetulan atau apa—yang jelas saat Sehun pergi, Jungkook juga ikut tak hadir dalam hari-harinya.

Minhee bahkan nyaris lupa dengan sosok Jungkook, namun beberapa menit yang lalu timbul sebersit rasa kecewa dalam hatinya—apakah selama ini Jungkook tak berusaha menemuinya?

 

Minhee menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba tidak peduli. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Jungkook, dan ia bisa menanyakan hal-hal itu padanya nanti. Sekarang yang harus ada di pikirannya adalah bagaimana caranya melupakan masalah hanya dengan ‘jalan-jalan’. Walaupun tidak begitu yakin metode dari Minhyuk akan berhasil, setidaknya itulah yang Minhee harapkan. Hubungan yang semakin mencapai titik jenuh membuat Minhee merasakan lebih dari kata lelah. Ia sudah terlampau frustasi, hampir tak lagi memikirkan bagaimana kesedihan ynag mengiris-iris hatinya bagai sembilu.

Waktu terus berjalan, dan Minhee tak yakin apa yang harus ia lakukan. Waktu yang diberikan Minhyuk tinggal tersisa lima menit, dan Minhee sama sekali belum melakukan apa-apa. Gadis itu hanya sibuk bergelut dengan pikirannya sedari tadi. Sebelum mulai melangkah mendekati lemarinya, gadis itu memandangi cermin sekali lagi—menghela napas dalam-dalam, meyakinkan pada diri sendiri bahwa metode penenangan diri malam ini akan berhasil.

Minhee hanya mengganti satu stel piyama beruangnya dengan jeans sederhana dan raglan biru muda kesukaannya. Sejenak Minhee terdiam bimbang di depan tumpukan mantel-mantelnya, namun gadis itu tak berpikir dua kali saat otaknya menyarankan ia memakai mantel Sehun. Aroma apel bercampur mint yang menguar dari mantel itu selalu menenangkan, meskipun sampai detik ini ia tak tahu jenis parfum apa yang dipakai Sehun untuk menghasilkan aroma seperti ini. Sehun sedikit alergi dengan parfum yang beraroma macam-macam—begitu kata Luhan. Jadi perpaduan apel dan mint merupakan kombinasi paling sempurna untuk seseorang yang sedikit alergi dengan parfum seperti Sehun.

Minhee tak menyemprotkan parfum miliknya sendiri ke tubuhnya. Ia membiarkan aroma apple mint itu menyelubungi tubuhnya. Ia tak melakukan apapun pada rambutnya, kecuali mengikatnya simpel. Sebagai sentuhan terakhir, ia melilitkan syal berwarna putih kapas ke lehernya. Syal yang beberapa waktu lalu dihadiahkannya untuk Sehun. Ia memutuskan membawa pulang syal itu daripada membiarkannya berbau apek dalam lemari Sehun di apartemen.

Juga tak ada sepatu spesial yang ia gunakan. Hanya sepatu ketsnya yang biasa, bukan sepatu tumit datar dengan aksen manis pemberian ibunya. Sedangkan ia adalah tipe gadis yang selalu benci sepatu bertumit tinggi.

 

Malam ini Minhee tampil begitu apa adanya. Tak ada hal spesial yang Minhee rasakan, hanya saja jantungnya sedikit berdegup lebih kencang saat langkah kaki membawanya turun tangga ke lantai bawah. Gadis itu mendapati kakaknya sudah menanti di ujung tangga dengan tatapan tak sabar. Minhee terlambat delapan menit.

“Kau tahu, ini keputusan yang sulit untukku,” bisik Minhyuk saat mereka sudah bertemu di ujung tangga. “Membiarkan kau berjalan bersama Jungkook lagi, aku tak tahu apa yang tengah merasuki diriku sampai aku mengizinkan kalian seperti ini.”

Minhee tersenyum tipis pada Minhyuk, namun sama sekali tak membalas kata-kata kakaknya itu.

“Hanya saja di waktu seperti ini aku berpikir—” Minhyuk menghentikan langkahnya, berdiri di depan pintu yang masih tertutup dan menggenggam kenopnya, “—hanya dia orang yang paling cocok untuk menemanimu saat ini. Kuharap spekulasiku tak salah.”

Minhee menghela napasnya panjang, sebelum mulai menautkan kelingkingnya diam-diam pada kelingking Minhyuk. Kelingking mungilnya menarik kelingking dari tangan besar Minhyuk, hingga tautan kelingking mereka terangkat ke posisi yang cukup atas sekarang. Minhyuk menatap tautan kelingking itu, sedangkan Minhee menatap iris hitam kecokelatan kakaknya lekat-lekat.

“Terima kasih sudah hadir untukku dan selalu berusaha menghiburku, Oppa,” ucap Minhee tulus. Gadis itu menghambur tiba-tiba ke dalam pelukan Minhyuk. Minhyuk cukup terkejut, namun rasa hangat yang mengalir di hatinya jauh mengalahkan rasa keterkejutan itu. Minhyuk membalas pelukan adiknya, lalu mengelus surai cokelat gelap Minhee dengan penuh kasih sayang.

With my pleasure, Dear,” balas Minhyuk pelan.

Mereka berdua saling melepaskan pelukan, dan Minhee yang pertama kali terkekeh canggung. Selanjutnya Minhyuk ikut tersenyum, dengan semburat canggung yang sama.

“Pergilah,” sahut Minhyuk sambil mengacak pelan puncak kepala Minhee. “Sudah lama kau tidak keluyuran di jalan saat malam-malam liburan, seperti kegiatan remaja sepertimu kebanyakan.”

“Kau mengusirku?” Minhee pura-pura tersinggung. “Oh, apa kau ingin berkencan juga setelah aku pergi?”

Minhyuk tertawa lepas, sementara Minhee merasa begitu lega karena mendengar suara tawa Minhyuk yang lepas itu. Sama sekali tak tersirat beban sama sekali, berbeda dengan fakta-fakta yang terjadi pada mereka belakangan ini.

“Oh, ya, kau pintar sekali menebak,” ucap Minhyuk di tengah gelak tawanya yang masih tersisa. “Aku memang ada janji dengan Seulgi nanti, pukul delapan.”

“Seulgi?” Minhee mengerutkan keningnya bingung. “Oh, astaga, kau baru saja ganti pacar lagi?”

“Sudahlah, anak kecil. Bukan urusanmu,” canda Minhyuk sambil membuka pintu depan.

“Tapi, Oppa, astaga! Kau bahkan baru saja—”

 

“Oh, hei, selamat malam, Mine.”

Ucapan Minhee otomatis terhenti saat ia mendengar suara itu. Suara itu yang memanggilnya. Minhee menolehkan kepalanya, dan sudah melihat Jungkook di sana. Di depan pintu, sambil melemparkan senyuman canggung padanya. Minhee terpaku.

“Oh, malam, Jungkook,” balas Minhyuk, menyela. “Oke, kalian bisa pergi sekarang. Aku mau siap-siap dengan kencanku sendiri. Semoga malam kalian menyenangkan!”

Minhyuk tersenyum lebar sebelum menutup paksa pintu rumahnya, meninggalkan Jungkook dan Minhee saling terdiam kebingungan di teras rumah—tepatnya di depan pintu.

Jungkook melirik Minhee canggung, lalu tersenyum. “Hei, Mine.”

“Hei, Jungkook,” balas Minhee tak kalah canggung. Ia dan Jungkook sudah tak bertemu berapa hari, eh? Ia sendiri bahkan sudah mulai lupa.

“Ingin jalan-jalan malam ini?” tanya Jungkook setelah sebelumnya dua kali berdehem. Pertanyaan basa-basi, klise sekali.

“Oh, yeah,” jawab Minhee sekenanya. “Lalu… Kita mau kemana sekarang?”

Jungkook terdiam sejenak untuk berpikir. Sesaat kemudian senyumnya muncul. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan di Myeongdong? Kudengar sedang ada festival jalanan di sana. Aku yakin malam ini pasti ramai, kita bisa membeli jajanan di sana.”

“Oke…” respon Minhee dengan senyum.  “Kurasa itu ide yang bagus.”

“Oke, kita ke sana,” balas Jungkook, mencoba tak lagi sekaku tadi. Begitupun dengan Minhee. Namun mendadak tubuhnya terasa kaku lagi saat merasakan genggaman tangan Jungkook di tangannya sendiri, begitu hangat dan bersahabat. Minhee mematung untuk beberapa detik, hanya beberapa detik, sebelum akhirnya mulai membalas genggaman itu. Membuat senyum kembali muncul di wajah keduanya.

Kontradiksi rasa gundah dan bahagia menyiksa batin Minhee selama perjalanan. Bukan karena ia masih memikirkan permasalahannya dengan Sehun. Bukan.

Hanya saja ia masih tak percaya, malam ini ia membiarkan Jungkook kembali menggenggam tangannya, setelah dulu ia sempat merasa hancur karena kepergian lelaki itu di masa kecil mereka. Bertahun-tahun, yang bisa Minhee ingat dari perjumpaan terakhir mereka adalah saat Jungkook melepaskan tautan tangan mereka—tepat di depan halaman rumah Minhee. Serta taksi yang melaju membawa Jungkook, ibu dan bibinya. Minhee masih ingat saat ia berusaha mengejar laju taksi itu, namun ia tak pernah berhasil, dan ia berakhir dengan tersuruk di atas aspal. Jatuh telungkup di atas boneka beruang madunya. Membuat kedua lututnya terluka dan mengeluarkan darah. Saat ia menangis lebih dari sebab rasa perih.

 

Please trust me again, Minhee, Jungkook berbisik dalam hatinya. I promise that I will always protect you. Forevermore.

 

 

| T B C |

 

 

 

 

[INFO] Mengenai sandi yang akan aku berlakukan di final chapter nanti, akan aku beritahukan selanjutnya setelah aku mempublikasi chapter 28. Banyak yang sudah meminta alamat email aku, namun aku bahkan belum membuat akun email khusus untuk menampung request password kalian kelak. Aku memang berencana membuat saluran khusus supaya notifikasi yang masuk tidak berpengaruh pada akun-akun pribadiku. Nanti alamatnya akan aku beritahukan di postingan khusus yang bersisikan tata cara meminta password.

Dan juga info tambahannya, aku akan memberlakukan sistem skor minimal agar kalian bisa lolos seleksi mendapatkan password. Sistemnya seperti ‘KKM’ di sekolah. Bagi yang mampu melampaui skor minimal akan langsung aku kirimkan passwordnya apa, sementara buat yang ngga lolos aku belum merencanakan lebih lanjut gimana bentuk ‘remedial’nya 😀

 

Untuk semua pertanyaan kalian di chapter yang lalu telah kubalas satu persatu secara langsung. Jadi silahkan dicek jika kalian ingin tahu bagaimana jawaban aku😉

Silahkan cuap-cuap lebih banyak denganku di @shineshen97 atau jika ada pertanyaan boleh mengajukan komentar, dan akan aku balas kemudian. Terima kasih🙂

 

With love,

shineshen

 

347 thoughts on “Secret Darling | 22nd Chapter

  1. bukankah kw menyebalkan.sehunie aisshhh jinjja!!! knp ko diam sj spert org bodo oh maaf maaf kceplosan . trllu emsi sn sehun tdk mlkukn pa apa demi mmprthnkn cntax. dab mlh lari bgt. aarrgghhh

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s