[END] Letter From Nowhere : #10 Letter – Dan Semua Kembali

Fanfic / Chaptered/ Friendship – Family – School Life / General / Kai – Sehun – Chanyeol – Soojung – Seulgi – Wendy

“Dear My Friend….”

Thanks to Sifixo@Poster Channel for wonderful poster

Recomended Backsong : SHinee – Color Of Seaseon

Prev. Chapter : 1 . 2 . 3 . 4 . 5 . 6 . 7 .8 . 9

.

.

Dan Semua Kembali

Kedua kakinya melangkah menapaki setiap lapisan jalan aspal yang menuntunnya sampai pintu depan rumah. Tapi fikirannya terbang, membuka kembali lembar demi lembar masa lalu yang selalu menjadi mimpi paling indah dalam hidpunya. Seulgi sangat mencintai bagian hidupnya yang satu itu. Mungkin benar adanya, masa – masa remaja adalah masa dimana kita tumbuh tanpa memikirkan banyak masalah dan menikmati apa yang ada didepan mata –mungkin. Bagi Seulgi semua itu benar adanya. Dengan beranjak dewasa, terlalu banyak gang pemikiran yang dia temui dan mau tidak mau harus dia masuki.

Rumah sederhana dengan benteng batako dan nomor rumah dengan bingkai kayu coklat sudah berada didepan mata Seulgi, rumahnya. Dia tidak langsung mendorong pintu pagar, tapi melihat kearah rumah terlebih dahulu. Lampu rumahnya masih terang benderang. Seulgi kemudian beralih pada jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, sudah hampir jam 11, biasanya Ayahnya sudah pergi dan meninggalkan rumah dalam keadaan gelap gulita. Ada apa dengan malam ini? –fikir Seulgi.

Kenyataan Ayahnya mungkin ada dirumah, membuat Seulgi malas untuk masuk kedalam rumah. Saat ini terlalu banyak rasa dalam hatinya sampai dia tidak tahu harus mendeksripsikan dengan kalimat apa. Tidak ingin memperburuk keadaan dengan ulah yang akan menyambutnya saat memasuki rumah, Seulgi melanjutkan langkahnya melewati benteng diam rumahnya.

“Satu jam, ya satu jam. Mari kita cari udara segar,” ucap Seulgi pada dirinya sendiri.

Melewati pintu pagar rumahnya, Seulgi terus berjalan sambil merapatkan jaket yang melekat pada tubuhnya. Jika terus berjalan lurus, diatas sana ada lapangan luas dengan beberapa pohon pinus lengkap dengan lanskap pemandangan malam Seoul. Mungkin itu bisa meredakan sedikit rasa penat dalam benak Seulgi. Mencoba menenangkan diri, alibi Seulgi dalam hatinya.

“Kau melewatkan rumahmu Nona,” satu suara menghentikan langkah Seulgi. Dia terdiam tidak ada niatan sama sekali untuk membalik badan, karena sesungguhnya dia tahu suara siapa itu. “Kau mau pergi kemana Seul?” ucap suara itu lagi yang sekarang sudah berada tepat disamping Seulgi –oh Sehun.

Seulgi melirik lelaki yang beridiri disampingnya itu kemudian melemparkan satu senyuman sambil melanjutkan langkahnya, yang tentu Sehun juga ikut melangkah menciptakan ritme yang sama. “Ayah masih dirumah, aku malas harus berurusan dengannya sekarang,”

“Kau bisa menginap dirumahku,” ucap Sehun.

tsh! Terimakasih Tuan Oh!” ucap Seulgi sambil diselingi tawa kecil.

Percakapan kecil itu berhenti. Menyisakan diam diantara mereka yang masih terus melangkah menapaki jalan lurus. Seulgi masih bermain dengan sisa fikiran dan perasaan tidak enaknya. Sedangkan Sehun sedang mencoba meluruskan benang – benang kusut didalam otaknya dan mencoba mencari Seulgi diujung tali benang itu.

“Sesuai tebakanku, tempat ini pasti tujuanmu,” ucap Sehun ketika Seulgi menghentikan langkahnya dan lapangan luas dengan pemandangan kerlip lampu Seoul menyambut mereka. “Ceritakan padaku yang mengganggumu Seul,” lanjut Sehun.

Seulgi belum menjawab pertanyaan sahabatnya, dia malah terus mengambil langkah mendahului Sehun. Berjalan kepinggiran lapangan lalu duduk tepat dibawah salah satu pohon pinus yang mulai meranggas.

“Jadi seperti apa rasanya?” Sehun masih berdiri ketika dia kembali melontarkan satu pertanyaan pada Seulgi. “Menjadi orang yang tahu segalanya, di percaya juga paling penting,” lanjut Sehun kali ini dia sudah terduduk tepat disamping Seulgi.

Seulgi menghembuskan nafas panjang, kemudian menggeleng pelan. “Maaf untuk semua tindakan bodohku. Sepanjang jalan aku berfikir apa yang membuatku selama ini diam dan membuat kita renggang seperti ini. Kau tahu Sehun, aku lebih memilih menjadi orang yang tidak tahu apa – apa dibanding menjadi yang paling tahu dan pemegang rahasia seperti sekarang ini. Aku yakin, kau, Soojung, Chanyeol Oppa terlebih Jongin pasti sangat membenciku sekarang,”

“Kalau aku membencimu aku tidak akan disini sekarang,” Sehun menghentikan kalimat panjang Seulgi yang mungkin berupa curahan hatinya saat ini. Dengan cekatan, Sehun mengusap pucuk kepala Seulgi pelan lalu menjatuhkan tangannya dipundak Seulgi menepuknya beberapa kali. “Kau pasti sangat kesulitan selama ini, sahabatku,” lanjut Sehun.

“Bukan aku yang kesulitan Sehun, tapi aku penyebab semua kesulitan itu,” jawab Seulgi.

“Jujur aku sempat kecewa padamu ketika faktanya kau tahu semua tentang Wendy,” Sehun membuka pembicaraan.

“Aku tahu,” jawab Seulgi pelan, tapi telinga Sehun mendengarnya kemudian dia menggeleng pelan memberikan gesture pada Seulgi untuk jangan dulu berkomentar.

“Aku tadi hanya diam, tapi dalam hati aku berdebat. Kenapa Seulgi hanya diam, kenapa dia tidak memberitahu kami sejak awal, aku bahkan sempat mengeluarkan kalimat menyudutkan padamu tadi. Maaf Seul,” Sehun tersenyum tipis dan Seulgi mengangguk sebagai responnya. “Tapi kemudian aku berfikir, jika aku diposisimu apa yang akan aku lakukan? Mungkin aku akan memberitahu semuanya pada kalian, tapi semua tindakan akan ada akibatnya bukan? Mungkin saja Wendy akan menjauh dari kita karena dia merasa berbeda. Aku fikir itu juga akan buruk, kita berpisah mungkin. Setidaknya sekarang kita masih memiliki kenangan baik dengan Wendy, begitu pula sebaliknya,” Sehun menghembuskan nafas panjang mengakhiri kalimatnya. Kemudian dia menengadah kelangit malam dan mendapati satu bintang berkelip disana. Dia tersenyum.

“Tapi sekarang Jongin yang terluka,” ucap Seulgi.

“Aku juga menyesal untuk yang satu itu,”

“Dia menyerah untuk mimpinya menjadi penari karena Wendy juga tidak bisa menjadi musisi, pendidikan bukan lagi prioritas buatnya padahal dia paling pintar diantara kita, belum lagi ketakutannya terhadap hujan dan jembatan. Aku menghancurkan hidup seseorang Sehun,”

“Untuk Jongin, aku fikir aku yang paling bersalah. Tiga tahun aku menjauhinya seakan dia musuh bebuyutanku, aku juga merasa bersalah untuk Jongin,”

“Aku tidak pernah tahu jika diam ini akan membuat Jongin seperti itu,”

“Itu bukan salahmu Seul, dan lagi-” Sehun menggantungkan kalimatnya, dia meraih tangan Seulgi kemudian menggenggamnya erat. “Jongin masih ada bersama kita bukan? Kita masih bisa membantunya memperbaiki hidupnya,”

“Dengan?”

“Kita mulai dengan berkumpul seperti dulu, aku fikir Jongin akan mulai menata hidupnya jika kita kembali bersama – sama, bukan begitu?”

Seulgi memandang Sehun untuk beberapa detik, kemudian dia menggeleng pelan untuk jawabannya. “Mungkin iya untuk Jongin, tapi aku tidak yakin dengan Soojung dan Chanyeol Oppa, aku tidak yakin mereka bisa seperti dulu,”

“Dan ini adalah peristiwa yang tidak pernah terbayang olehku sama sekali,”

“Kau sama sekali tidak bisa merasakannya?” tanya Seulgi

“Apa?”

“Perlakuan Chanyeol Oppa terhadap Soojung menurutku sudah lebih perhatian dari sekedar kakak – adik, aku sudah menyadarinya sejak lama. Awalnya aku fikir itu memang caranya menyampaikan perasaan sayang, tapi ketika hari itu tiba, aku fikir tebakanku benar,”

Sehun bergumam pelan sebelum merespon kalimat Seulgi. Dia befikir apa benar teori Chanyeol – Soojung? Apa benar Chanyeol mencitai Soojung sebagai perempuan? Sehun memang tidak sepeka Seulgi dalam segala hal, tapi dia lelaki, mungkin dia bisa tahu seperti apa perasaan Chanyeol. “Atau mungkin Chanyeol Hyeong tidak bisa membedakan perasaan sayangnya?”

“Itu konyol,”

“Bisa saja itu terjadi,”

“Lalu aku tanya, apa kau bisa membedakan rasa sayangmu antara aku dan Wendy?” tanya Seulgi sambil kembali menatap Sehun.

Diam.

Terdapat jeda diantara pembicaraan mereka sebelum akhirnya Sehun mengeluarkan kalimatnya. “Entahlah,” satu jawaban yang sontak membuat Seulgi membulatkan kedua matanya. Namun dengan segera Sehun menangkup wajah Seulgi lalu tersenyum. “Aku menyayangi kalian berdua sebagai sahabatku, termasuk Wendy. Dia juga sahabatku bukan?”

.

.

Seminggu berlalu sejak pembicaraan mereka berlima di rumah sakit terjadi. Jongin sudah mendengar semua kebenarannya, tapi tidak banyak yang berubah. Dia masih kuliah seperti biasa, kerja part time kemudian kembali kerumah seperti itu setiap hari. Kabar baiknya, Ibu Soojung sudah sembuh, Soojung bahkan mengabari mereka sudah tidak dirumah sakit tapi kembali ke rumah. Baguslah –fikir Jongin. Tapi kabar buruknya, dia belum mendengar lagi bagaimana penyelesaian masalahnya dengan Chanyeol, meski Soojung bilang sekarang Chanyeol juga sudah kembali dengan mereka –tinggal bersama.

Untuk Sehun dan Seulgi. Seulgi menghantui setiap hari Jongin dengan permintaan maafnya, kadang hanya melalui pesan singkat atau telfon, tapi tidak jarang dia datang ke restoran ketika sudah akan tutup kemudian menghabiskan waktu berjam – jam untuk membicarakan penyesalannya yang sering Jongin belokan untuk mengingat masa SMA.

Sedangkan Sehun, dia sering datang ketika Seulgi pulang tengah malam. Menjemput layaknya seorang kakak yang selalu menjaganya. Disini Jongin sering merasa lega, Baguslah ada yang selalu menjaganya ketika kalut seperti ini. Karena Jongin pernah mengalami masa sulit, sendirian itu sungguh menyiksa.

Kemarin malam Seulgi kembali berkunjung, menemuinya didepan restoran tapi tidak lama karena dia langsung pergi. Dia hanya mengingatkan apa Jongin sudah membaca Jurnal Wendy.

Belum.

Jongin belum membacanya. Entahlah apa yang membuat Jongin ragu, dia hanya merasa sudah cukup tahu dengan apa yang Seulgi katakan, tidak perlu dia tahu lebih banyak lagi.

“Jurnal Wendy?” tanya Seulgi lagi. Malam ini Jongin tidak kerja part time sampai malam, dia tidak sengaja bertemu Seulgi ketika berniat membeli camilan keluar.

Jongin menggeleng. “Aku belum membacanya,”

“Kenapa?”

“Ehm…” Jongin menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menatap Seulgi. “Kenapa aku harus membacanya, kau sudah menceritakan semuanya Seul. Lagi pula…” Jongin menggantungkan kalimatnya lalu menggerakan tangannya membentuk gesture untuk melupakan apa yang barusan dia ucapkan. “Kau dan aku sama – sama mengerti Seul, ada baiknya kita mencoba menata hidup untuk kedepannya.”

“Aku menghancurkan hidupmu,”

“Bukan, tapi kalian semua yang menghancurkan hidupku,” ucap Jongin yang sontak membuat Seulgi berhenti melangkah. Jongin menyadari, kemudian dia tersenyum dan melarat kalimatnya. “Aku hanya bercanda, aku sendiri yang menghancurkan hidupku Seul, berhenti merasa bersalah,”

“Bacalah Jurnal itu,”

Dan sekarang ketika Jongin berniat pergi ke restoran untuk melakukan pekerjaannya, hujan turun dan tentu saja ketakutannya pada hujan langsung menghentikan semua kesadarannya. Ah, sampai kapan ketakutan ini akan berhenti, fikir Jongin.

Terdiam dikamar ditemani suara rintik hujan, mata Jongin mendapati jurnal Wendy yang masih tersimpan diatas meja belajarnya. Satu rasa penasaran menggelitik Jongin untuk membuka dan membaca setiap lembaran jurnal. Rentetan kenyataan yang ditulis sendiri oleh Wendy. Haruskah? Dia kembali bertanya. Tapi Seulgi secara khusus memberikan padanya terlebih dahulu yang berarti banyak yang harus Jongin ketahui didalam sana.

Menghembuskan nafas panjang, Jongin bangkit dari tempat tidurnya kemudian beranjak mendekati meja belajar dan meraih jurnal itu. Sampulnya terbuat dari kain beludru berwarna coklat yang begitu lembut dikulit. Menyentuhnya saja membuat Jongin tersenyum. Ah, ini benda kesayangan Wendy –batin Jongin. Benda yang mungkin menjadi saksi perjalanan Wendy selama ini.

Perlahan Jongin membuka pembatas jurnal yang menjaganya tetap tertutup. Halaman pertama jurnal terlihat disobek secara paksa, mungkin Wendy melakukannya. Beralih pada halaman lainnya, Jongin mulai disambut dengan catatan peristiwa yang dialami Wendy. Berbeda dengan buku harian pada umumnya, Wendy tidak pernah menulis detail waktu kapan semua itu terjadi. Untuk keterangan waktu, dia hanya menuliskan keadaan sekitarnya. Misal pada halaman yang sedang Jongin baca, Wendy menulisnya seperti ini.

Sore hari ketika hujan turun begitu deras

Kabar bahagia, Ayah setuju untuk usulku kembali ke Seoul dan bersekolah disana. Tenanglah, nilaiku lebih dari cukup untuk masuk sekolah bergengsi itu. Kau senang mendengarnya? Jadi bantulah aku kali ini. Aku akan patuh dengan semua peraturanmu, dan kau.. mari kita saling menghargai.

Ps: mari berkemas pindah ke Seoul.

Wendy menulis diary seakan dia sedang bercerita dengan seseorang. Dan jika Jongin menebak, ini ditulis sebelum mereka masuk SMA. Menyadarinya, dengan segera Jongin mengusap lembaran diary itu seakan mencoba merasakan perasaan lama Wendy dulu.

Jongin kembali membuka halaman – halaman selanjutnya, karena isinya hampir sama dan hanya berkisah dengan kejadian sehari – hari, Jongin melewatinya dan beralih pada halaman yang lebih menceritakan pada mereka.

Aku menulis ini sebelum jam kelas pertama

Namanya Kim Jongin, teman satu kelas dan tempat duduk kami berdekatan. Dia bilang kami teman! Kau dengar itu, kali ini aku akan memiliki teman.

Ini hari ketika Jongin bertemu dengan Wendy didepan kelas mereka. Ah, menyadari betapa bahagianya Wendy hari itu, membuat Jongin lega karena dia mempelakukan dia layaknya seorang teman sejak itu. Baguslah, tapi dari semua halaman yang dia baca, dia masih tidak tahu pada siapa ‘kau’ dalam tulisan Wendy ini.

Malam setelah memenuhi peraturanmu

Sungguh aku sudah memaksa Ayah agar mengijinkan aku tinggal di asrama, tapi semua itu sungguh sulit. Mungkin seperti usul kakak, mari kita gunakan sedikit kekerasan.

Kau jangan berulah! Dukung aku!

Jongin mengernyitkan kedua alisnya, tulisan ini sedikit ambigu. Entahlah kekerasan apa yang Wendy gunakan disini, yang pasti usaha dia berhasil karena pada akhirnya dia tinggal di asrama bersama Soojung dan Seulgi, hanya mereka bertiga.

“Siapa yang dia maksud Kau,” tanya Jongin sambil terus membalik pada halaman selanjutnya. Dia mulai terjun pada dunia Wendy dan melupakan kenyataan diluar sana hujan turun sangat lebat.

Sebelum makan siang,

Mari aku kenalkan sahabat – sahabatku. Pertama Kim Jongin, lelaki tampan dan pintar yang pertama kali menyapaku. Aku sangat menyukainya –dalam arti sahabat, dia sangat perhatian pada kami dan senyumnya sungguh menular.

Kedua, Oh Sehun. Jika wanita diciptakan untuk berpasangan dengan laki – laki, maka tuhan menghadirkan Sehun untuk menjadi partner Jongin. Sungguh mereka berdua tidak ada tandingannya.

Ketiga Chanyeol Oppa. Akhirnya aku memiliki Oppa, kemampuan gitarnya sungguh luar biasa. Aku akan sering bernyanyi denganya.

Keempat Jung Soojung. Dia adik Chanyeol Oppa, gadis dengan seribu kharisma. Sungguh, dilihat dari setiap sudut dia sungguh sempurna.

Terakhir Kang Seulgi. Ah.. aku sungguh merasa nyaman setiap bersamanya. Seulgi memiliki aura yang akan membuat orang cerita banyak padanya. Tapi aku khawatir Seulgi akan tahu tentangmu, jadi diam jangan berulah!

Aku khawatir Seulgi tahu tentangmu,” Jongin mengulang kalimat yang tertulis pada akhir halaman itu. Sepertinya Jongin mendapatkan titik terang, pada siapa Wendy bercerita. “Apa Kau disini mengacu pada penyakitnya?” tanya Jongin lagi sambil membuka lembar – lembar selanjutnya. Dia awalnya hanya berniat untuk membaca acak, tapi dia penasaran pada siapa Wendy bercerita disini.

Hujan.

Hujan, dan mereka menikmati bermain dibawah hujan. Aku juga ingin bergabung, sungguh! Tapi… aku sudah berjanji padamu untuk menghargai masing – masing kepentingan. Karenamu aku tidak ikut dengan mereka.

Ps. Jongin menyebutku putri duyung.

Jongin membulatkan mulutnya kemudian mengangguk mengerti ketika dia membaca halaman itu. Sekarang dia siapa tahu pada siapa Wendy bercerita. Ya, pada penyakitnya. Karena Wendy tidak boleh terkena hujan. Disini dia masih sangat optimis untuk menghargai hidup dan bersahabat dengan penyakitnya. Lalu kenapa pada akhirnya dia memutuskan menyerah? Kemudian penuturan Seulgi malam itu kembali terlintas, mungkin benar Wendy mulai lelah dengan perjuangan atas penyakit yang terus merajainya.

Jongin menghembuskan nafas panjang, dia sedikit mengalihkan perhatiannya dari buku harian Wendy dan kembali menyadari keberadaan sang hujan. Dengan cepat tubuhnya bereaksi pada ketakutan ini. Sebelum semuanya semakin berulah, Jongin menggeleng kepalanya cepat kemudian kembali berfokus pada jurnal didepannya. Kali ini Jongin membaca secara acak, niatan dia asal teralihkan perasaan takutnya.

Malam hari, ketika aku terbangun tiba – tiba

Soojung marah padaku? Aku juga sedikit iri padanya. Ah, aku terjebak dalam kepolosan seorang Wendy. Sadarlah, laki – laki dan perempuan tumbuh bersama bisa merasakan itu.

Jika itu benar Soojung, apa yang akan kau lakukan?

Jongin menghentikan jarinya. Dia termenung membaca tulisan Wendy kali ini. Kapan ini terjadi, fikirnya.

“Kapan Soojung dan Wendy pernah bersitegang?” tanya Jongin mencoba mengira – ngira.

Jongin mulai tidak sabar, dia membaca cepat – cepat setiap lembarnya. Dia melewatkan halaman yang hanya berisi tulisan Wendy tentang sekolah dan tentang penyakitnya yang mulai berulah. Jongin tidak berani membaca secara detail keluhan Wendy tentang penyakitnya. Cukup Seulgi saja yang menjadi orang serba tahu. Sekarang yang membuat Jongin penasaran adalah, ada apa antara Soojung dan Wendy. Jika diingat kembali, dulu mereka terlihat baik – baik saja.

Jongin terus melewati halaman demi halaman, sampai pada satu tulisan yang menghentikan gerakan jarinya. Tulisan itu hampir berada diakhir halaman buku, tapi disana menuliskan segalanya.

Entahlah,

Aku tidak pernah berani menuliskan ini sejak pertama aku tahu. Tapi sekarang sepertinya aku akan menuliskannya.

Bagaimana jika aku berada diposisi ada seseorang yang menyukaiku tapi aku menyukai orang lain dan orang itu menyukai orang lain kemudian orang lain itu juga menyukai yang lain.

Oh sungguh, seorang Wendy seharusnya jangan memikirkan tentang cinta. Karena kau cinta sejatiku. Tidak pernah terfikir aku akan memiliki seseorang.

Tapi aku terjebak dalam kondisi seperti ini.

Baiklah aku jabarkan.

Seulgi bilang, Sehun menyukaiku. Tapi aku… aku merasa nyaman dengan Jongin. Sayangnya seluruh hati Jongin hanya milik Soojung. Sekarang aku penasaran pada siapa hati Soojung berlabuh.

Mari kita hentikan semua ini.

“Bagaimana dia tahu semua ini?” tanya Jongin dengan sedikit terhenyak.

.

.

Hari dimana Ibunya kembali kerumah, saat itu juga Chanyeol meminta maaf atas semua kekacauan yang dia ciptakan. Hari itu suasana rumah sungguh diliputi rasa haru. Untuk pertama kalinya Soojung melihat Chanyeol menangis begitu sakit. Dalam pelukan Ibu, Chanyeol menumpahkan semua rasa penyesalannya. Dia menangis, menyesal membuat Ibunya sakit, dia menangis karena membuat Ayahnya lelah dan dia menangis karena merindukan suasana rumah seperti yang dulu.

Chanyeol, Ayah dan Ibu.

Sedangkan Soojung hanya menyaksikannya dari lantai atas tanpa berniat sama sekali untuk turun dan bergabung dengan mereka. Sesungguhnya Soojung ingin turun dan segera menghambur kedalam pelukan sang Kakak, tapi dia takut apa yang dilakukannya akan menghancurkan benteng pertahanan yang sudah kakaknya buat.

“Kerja yang bagus Oppa,” ucap Soojung sebelum melangkah masuk kedalam kamarnya dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

Malam itu, untuk kesekian kalinya Soojung menangis karena Chanyeol. Bukan karena Soojung menyesali keluarganya mulai kembali pada keadaan semula, tapi dia merasa kakaknya menanggung sakit begitu banyak. Sungguh Soojung menyayangi Chanyeol sebagai kakak laki – lakinya, bukan sebagai Pria yang dia tanamkan cinta begitu saja. Sebelum memejamkan matanya, malam itu Soojung berharap Chanyeol menemukan kebahagiannya.

.

.

Malam berlalu begitu saja. Soojung menyadari satu ketukan dipintunya, masih terlalu pagi untuk sarapan dan masih terlalu cepat untuk ibunya kembali berkecimpung didapur. Suara ketukan masih terdengar, tidak ada sapaan dari luar sana yang bisa jadikan Soojung tebakan siapa.

“Sebentar,” teriak Soojung dengan suara parau.

Dia bangkit dari tempat tidurnya, meraih ikat rambut di nakas kemudian mengikat rambut coklatnya dengan kilat. Tidak lupa dia juga meneguk air mineral yang selalu ada dikamarnya untuk sedikit menjernihkan tenggorokannya. Selanjutnya Soojung membuka pintu kamarnya dan Chanyeol –masih dengan pakaian tidurnya, berdiri disana menyambut dengan senyuman manis.

“Selamat pagi,” ucap Chanyeol.

Soojung terperanjat. Seakan semua hanya mimpi mendapati sosok Chanyeol berdiri didepannya tersenyum seperti biasa dan lagi dia membangunkan Soojung seperti biasanya. Mulut Soojung bungkam, dia tidak bisa berkata – kata, tapi otaknya penuh.

“Sarapan pagi sebentar lagi siap, sebelum Ayah atau Ibu berteriak membangunkan bisakah kita membicarakan sesuatu?” ucap Chanyeol lagi.

“A..Apa?” tanya Soojung terbata.

“Bukankah masih banyak yang harus kita bicarakan Soojung-ah,

“Kenapa harus sekarang?”

“Sebelum semua terlambat,”

“Apa yang-” Soojung belum selesai dengan kalimatnya, tapi dengan segera Chanyeol memotong dan memaksa masuk. Tidak lupa dia mengunci pintu dan meninggalkan mereka berdua didalam kamar. “Oppa…

Chanyeol tidak menanggapi protes Soojung. Dia dengan segera berjalan menuju tempat tidur Soojung kemudian duduk ditepiannya. Chanyeol juga melambaikan tangannya mengajak Soojung duduk disampingnya. “Kemarilah, kita mulai pembicaraan”

“Kenapa harus sekarang dan harus disini?” tanya Soojung gamang.

“Kau sungguh sudah tidak mempercayai Oppamu ini?”

“Belum lagi,” jawab Soojung singkat.

“Baiklah,” Chanyeol mengalah. “Maafkan aku Soojung-ah, untuk semua kekacauan ini. Aku sudah merenungkan semuanya dan menyesalinya. Seperti permintaanmu, keluarga ini memang lebih berharga dibandingkan ego gilaku. Asal kau tahu, aku sudah mengatakan semuanya pada Ayah dan Ibu. Aku sudah meminta maaf mereka. Sekarang giliranmu,”

“Apa?” tanya Soojung masih dengan posisi berdiri tidak jauh dari pintu kamarnya.

Chanyeol menaikan pandangannya kemudian tersenyum. “Maaf sudah membuatmu kecewa,” Soojung tidak menjawab. Chanyeol bangkit dari duduknya, dia berencana mendekati Soojung tapi ketika melihat adiknya menatap dengan mata berlinang, Chanyeol menghentikan langkahnya. “Maaf karena malam itu aku meluapkan semuanya tanpa berfikir panjang. Seharusnya aku memikirkannya terlebih dahulu, imbasnya aku membuat kita menjadi canggung seperti ini. Soojung-ah,

Soojung masih terdiam.

“Sehun mengatakan mungkin aku tidak bisa membedakan antara mana cinta pada perempuan, mana cinta pada adik. Benar mungkin kata Sehun, aku terlalu mencintaimu sebagai adiku dan tidak ingin kau terluka karena lelaki lain,” Chanyeol mengambil nafas panjang. “Tapi, meskipun perasaan ini-”

“Tidak! Sehun benar,” ucap Soojung menyela kalimat Chanyeol. Dengan segera dia menghambur kearah Chanyeol kemudian memeluknya erat, dan tanpa terasa air mata mulai menetes. “Sehun benar, Oppa hanya terlalu menyayangiku dan khawatir lelaki lain tidak bisa menjagaku sepertimu. Sehun benar. Tidak apa dengan yang sudah berlalu, aku memaafkanmu Oppa tapi jangan lagi semua itu berulang. Kau tau betapa aku sakit melihat kita menjadi seperti kemarin. Aku merindukan ketika Oppa menjadi orang yang selalu ada dan melindungiku, aku merindukanmu Oppa…

Chanyeol menghembuskan nafas panjang. Dia membalas pelukan Soojung kemudian mengelus pucuk kepala Soojung pelan. “Ayah dan Ibu sudah memafkanku. Jadi apa sekarang kau juga memaafkanku?” tanya Chanyeol lagi.

Soojung tidak menjawab, tapi dia mengangguk dengan cepat.

Chanyeol kembali mempererat pelukannya pada Soojung kemudian mengecup rambut Soojung. Satu perasaan lega terasa menutupi sedikit rasa sakitnya. Chanyeol tersenyum. “Maafkan aku adiku, Oppa berjanji kedepannya tidak akan ada lagi hal semacam ini. Aku berjanji,”

Soojung ikut mengangguk menyetujui.

“Ayo turun, aku sudah dengar Ayah membuka pintu kamarnya,” ucap Chanyeol sambil melepaskan pelukan Soojung, menatap lekat wajah adiknya kemudian menghapus jejak air mata. “Ah, betapa aku merindukan wajah ini,” ucap Chanyeol lagi sambil tersenyum.

Menyakisakan kakaknya berdiri dan tersenyum didepannya, sontak Soojung kembali merasakan kedua matanya kembali basah. Tapi dengan segera Chanyeol menghapusnya.

“Stop!” ucap Chanyeol sambil menghapus air mata yang keluar. “Seorang Jung Soojung bukan orang yang cengeng,”

“Semua ini gara – gara Oppa,

.

.

“Aku sudah membacanya, sebaiknya kau simpan ini Seul. Cukup kita berdua yang tahu,”

Jongin dan Seulgi sedang duduk disalah satu pojok cafe menunggu para sahabatnaya. Kemarin Soojung menelfon mereka satu persatu dan mengajak untuk berkumpul. Seulgi bilang Soojung dan Chanyeol sudah kembali seperti biasa. Itu bagus, tapi entah kenapa Jongin merasa ada hal buruk lain ketika mendengar suara Soojung ditelfon kemarin. Ada rasa khawatir, tapi entahlah.

“Kau sudah membacanya?” Seulgi meraih jurnal Wendy yang Jongin sodorkan kemudian dengan cepat menyimpan kedalam tasnya.

Jongin mengangguk. “Jadi kau juga sudah tahu masalah itu? Aku heran dari mana Wendy tahu, padahal selama ini aku tidak pernah mengeksposnya,”

“Mungkin Wendy membaca dari gelagatmu setiap dekat dengan Soojung. Jadi apa kau masih merasakannya? Chanyeol Oppa sudah melepasnya, kau akan mengejarnya?”

“Siapa?”

“Tentu saja Soojung, siapa lagi,”

Jongin tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak. Aku sudah menangani perasaan itu sejak lama, aku fikir dengan kita berkumpul seperti sekarang saja sudah cukup. Aku bahagia kita bisa seperti ini lagi,”

Seulgi tersenyum, dia meraih tangan Jongin kemudian menepuk – nepuknya beberapa kali. “Bagus Kim Jongin,”

“Tapi Seul, ada yang ingin aku tanyakan,”

“Apa?”

“Kenapa halaman pertama di Jurnal Wendy sepertinya di robek dari sana?”

“Ah,” Seulgi bergumam kemudian beralih pada tasnya, dia mengeluarkan secarik kertas yang sudah dia lipat – lipat. “Ini,” Seulgi kemudian memberikan kertas itu pada Jongin. “Halaman pertamanya berisi wasiat untuku,”

Jongin meraihnya kemudian membaca tulisan dalam kertas itu. Tidak banyak, hanya berupa ucapan terimakasih. Tapi seperti Seulgi bilang, kertas ini memang berupa wasiat, karena disana dengan khusus tertulis nama Seulgi.

“Wendy sungguh sangat percaya padamu Seul,” ucap Jongin sambil mengembalikan kertas itu.

“Bukan Cuma Wendy, aku fikir kalian juga,” jawab Seulgi yang kemudian diikuti anggukan kecil Jongin.

Tidak lama kemudian terdengar dering bel yang menempel dipintu masuk, beririgan dengan sepasang manusia melangkah masuk kedalam cafe. Soojung dan Chanyeol. Soojung terlihat berjalan didepan kakanya beberapa langkah, sedangkan Chanyeol beranjak menuju kasir dan memesan minuman sebelum mengambil duduk bersamaan dengan Seulgi dan Jongin.

“Kau tahu aku rasanya ingin menangis melihat kalian berdua berjalan beriringan seperti itu,” ucap Seulgi spontan sambil menutup mulutnya dramatis, ketika Soojung duduk tepat disampingnya.

“Kenapa? Kau berlebihan,” jawab Soojung singkat.

“Aku bahagia bodoh, aku terharu,” lanjut Seulgi sedangkan Soojung hanya mengumbarkan senyum manisnya. “Malam ketika kita berkumpul, Sehun dan aku mengkhawatirkan kondisimu dan Chanyeol oppa, tapi melihat kalian berdua hari ini… ah,”

“Keren bukan?” tanya Soojung pada Seulgi dan Jongin bergantian. Kemudian dia beralih melihat Chanyeol yang masih sibuk didepan counter pemesanan. “Dia memang lelaki paling keren yang pernah aku temui. Kau tahu bagaimana tampannya dia ketika hari itu dengan senyuman meminta maaf padaku? Ah, nampaknya aku tidak akan sembarangan memberikan dia pada perempuan lain,”

“Maksudmu?”

“Bukan apa – apa, mana Sehun?”

Mendengar pertanyaan Soojung dengan segera Seulgi meraih ponselnya dan mengecek barang kali ada pesan masuk dari Sehun tapi, nihil. “Entahlah, mungkin dia masih dijalan,” jawab Seulgi kemudian.

“Hai semuanya,” sapa Chanyeol ketika dia menghampiri kumpulan itu kemudian mengambil duduk tepat disamping Jongin. “Sehun?” sebuah pertanyaan yang kemudian dijawab gelengan kecil Soojung.

Oppa, kau tampak sangat bersinar hari ini? Wae?

Mendengar kalimat Seulgi dengan cepat Chanyeol menangkup wajahnya kemudian tersenyum begitu manis. “Benarkan, aku juga baru menyadari aku ini begitu tampan, hahahha

Seulgi mengangguk setuju, “Benar, ini baru Chanyeol Oppa, ah.. lama tidak bertemu Oppa, apa kabar?” Seulgi kembali mengeluarkan satu lelucon menyinggung masalah Chanyeol dengan Soojung kemarin.

“Sangat baik, kau-” Chanyeol mengalihkan perhatiannya kemudian meraih pundak Jongin dengan erat. “Apa kabarmu anak muda,”

“Sangat baik… aku rasa hari ini aku memiliki banyak energi positif,” jawab Jongin sambil tersenyum.

“Benar! Kau tahu, aku seperti baru bangun dari tidur panjang dan merasakan semua hawa positif, hahahha

Jongin dan Chanyeol saling melempar tawa untuk lelucon tentang betapa bahagianya mereka hari ini, sedangkan Soojung dan Seulgi hanya bisa ikut tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Satu langkah awal untuk kembali ke semula sudah terlihat.

Sehun tidak lama kemudian ikut bergabung, dengan senyum lebar terpasang diwajahnya dia duduk diantara Soojung dan Chanyeol. Menyapa mereka satu – persatu dengan suara riang, termasuk Jongin. Dalam hati kecilnya Jongin berbisik, apa bisa dia Sehun kembali seperti dulu? Setidaknya dengan mereka berkumpul seperti ini, sedikit rasa rindu Jongin terpenuhi.

“Menyenangkan bukan kita bisa berkumpul lagi seperti ini?” Soojung kemudian menyuarakan perasaannya. Dia menatap sahabatnya satu persatu kemudian mereka mengangguk dengan senyuman. “Aku juga,”

“Ah kemarin kau bilang ingin menyampaikan sesuatu,” Seulgi kali ini bertanya mengingatkan kalimat Soojung beberapa hari yang lalu.

Soojung mengangguk pelan. sebelum menjawab pertanyaan Seulgi, Soojung melirik Chanyeol terlebih dahulu yang dibalas anggukan pelan kakaknya. “Sebenarnya, aku ingin memberitahu kalian, ah bukan seharusnya Chanyeol Oppa yang ingin memberitahu sesuatu. Jadi-”

“Aku akan menetap di LA untuk satu tahun kedepan, jadi aku minta tolong pada kalian untuk menjaga adikku,”

Soojung belum selesai dengan kalimatnya, tapi dengan segera Chanyeol memotong dan mengatakan hal yang sebenarnya. Alasan untuk pekerjaan mungkin menjadi alibi terkuat, tapi sesungguhnya Chanyeol sedang mencoba menyembuhkan hatinya dan berusaha mencintai Soojung sebagai adiknya murni.

“Kenapa tiba – tiba?”

.

.

Mereka menghabiskan waktu berkumpul sepanjang hari. Bercerita, tertawa, mengenang masa lalu, sampai akhirnya mereka juga melakukan perpisahan kecil dengan Chanyeol, mengingat kepergiannya tinggal dua hari lagi. Jongin kembali teringat pesan Chanyeol, untuk menjaga Soojung. Tentu saja, mereka sudah berkumpul seperti ini sekarang. Semuanya tentu akan mudah.

Masih memacu langkahnya menuju halte bus terdekat, Jongin tiba – tiba dikagetkan dengan rintik hujan yang turun. Ini tidak baik, dia terjebak ditengah hujan ditempat ramai seperti ini bukan sesuatu yang baik. Tubuhnya mulai bergetar, dengan segera Jongin memacu langkahnya mencari tempat berteduh. Tapi belum sempat Jongin melangkah, satu tangan menahannya.

“Suaranya atau airnya?” satu suara bertanya tepat dari samping kiri Jongin. Sehun berdiri dengan senyum terpatri diwajahnya.

“A..apa?” balas Jongin dengan suara bergetar, dia mulai merasakan efek dari air hujan.

“Yang membuatmu takut hujan. Suara hujan atau ketika air hujan membasahi tubuhmu?” tanya Sehun lagi.

Jongin belum menjawab. Dia menarik nafas yang mulai tersengal kemudian menggeleng pelan. “Entahlah,” jawabnya kemudian.

Sehun dengan cekatan mengambil satu benda dari tasnya –sebuah headphone, lalu dia berikan pada Jongin. “Pertama pakai ini, aku ingin memasangkannya langsung dikepalamu. Tapi banyak orang yang takutnya mengira kita…”

Jongin masih tidak mengerti dengan apa yang Sehun lakukan. Tapi dengan segera dia meraih headphone itu kemudian dia pasangkan dikepalanya. Sehun mengangguk puas. Dan ketika ada bus lewat –yang entah menuju kemana, Sehun menarik tangan Jongin menaiki bus itu duduk berdua disalah satu kursi paling belakang.

“Kau sudah tidak mendengar suara hujan, kau pun tidak basah, jadi apa takut itu masih ada?” Sehun bertanya lagi namun Jongin tidak bisa menjawab, dia hanya memandangi Sehun dengan tatapan heran. “ya..! aku mencoba menghilangkan rasa takutmu pada hujan,” ucapnya dengan nada suara yang bersahabat.

Jongin tersenyum. Dia kembali mengingat kenangan ketika pertama kali bertemu dengannya dilapangan sekolah, persis seperti sekarang. Nada suara penuh percaya diri, akrab dan bersahabat. Kemudian bayangan Sehun didepan apartemennya yang dingin juga membuat Jongin menyadari, abu – abu diantara mereka telah selesai dan kembali putih.

Jongin melepas headphone dari kepalanya, kemudian dia kembalikan pada Sehun. “Terimakasih, kau sudah peduli dengan ketakutanku,”

Sehun menggeleng cepat sambil meraih headphone yang disodorkan Jongin. “Bukan! Seharusnya aku yang berterimakasih. Kau masih mau menerimaku seperti ini, padahal aku-”

“Sudahlah jangan dibahas lagi,” Jongin memotong kalimat Sehun sambil dengan pela meninju bahu sahabatnya. “Yang lalu biarlah berlalu, sekarang kita tata kembali kedepannya seperti apa,”

Sehun tersenyum. Menghembuskan nafas panjang kemudian mengangguk setuju. “Lalu aku bersyukur karena telah memiliki sahabat seperti kalian, anggap saja tiga tahun kemarin adalah ujian ketahanan kita,”

“Boleh juga,”

“Tapi sungguh Jongin, aku minta maaf,”

“Tidak, aku juga minta maaf padamu…”

Keduanya berhenti. Melakukan lempar maaf adalah sesuatu yang menggelikan jika dilakukan oleh dua orang pria. Menyadari mereka melakukan hal bodoh, sontak keduanya tertawa.

“Sungguh jika ada yang melihat kita mungkin mereka kira kita gay,” ucap Sehun frontal.

Jongin bergidik kemudian menggeleng pelan. “Terimakasih, tapi membayangannya saja sudah membuatku takut,”

Kemudian mereka kembali tertawa.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan pada Soojung?” tanya Sehun ketika mereka sudah berhenti saling menertawai kelakuan aneh masing – masing.

Jongin tercekat, “Soojung? Apa?”

“Ehm… Seulgi sudah menceritakan banyak padaku, tentang…”

Jongin tertawa kemudian mengibaskan tangannya pelan. “Seulgi sepertinya trauma dengan mendiamkan kenyataan. Tidak, aku sudah sangat lama menghapus perasaanku pada Soojung. Itu ketika masih SMA, jadi semua sudah tidak ada,”

“Kau yakin?”

“Kenapa kau dan Seulgi seakan memaksaku untuk menjadi kekasih Soojung?”

“Kapan? Aku hanya bertanya bung!

Masih duduk di bangku belakang bus yang entah membawa mereka kemana, perjalanan berlanjut dengan Sehun dan Jongin yang kembali berbagi cerita dan saling melempar olokan seperti dulu. Langkah lainnya untuk kembali ke semula nampaknya berhasil.

.

.

“Jadi Chanyeol Oppa yang bertanggung jawab untuk debut internasional grup itu?”

“Ehm,”

“Woah, dia sungguh sukses menapaki karir sebagai musisi,”

Seulgi, Soojung, Sehun dan Jongin tengah berdiri dipinggir jalan salah satu jembatan dekat Bandara. Mereka baru saja mengantar Chanyeol pergi, untuk kembali mengepakan sayap karirnya. Mereka sebagai adik juga sahabat hanya bisa mendukung dengan senyuman, meski tadi Soojung menangis begitu hebat.

“Kau dan Chanyeol Hyeong sudah melewati phase hidup paling berharga, persaudaraan kalian takan terpisahkan,” ucap Jongin sambil mengusap pucuk kepala Soojung pelan.

“Aku tahu, Oppa juga berjanji tidak akan melakukan hal bodoh semaca itu lagi,”

“Kau masih menangis Jung Soojung?” Sehun berdiri menghampiri Soojung kemudian merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Soojung. “Eiy.. berhenti menangis,”

“Diam kau Oh Sehun!” teriak Soojung sambil mendorong Sehun menjauh. Menyaksikan itu, Seulgi dan Jongin hanya bisa tertawa yang kemudian Sehun juga ikut bergabung.

“Soojung, lalu apa yang akan kau lakukan pada MyeongSoo?” Seulgi bertanya, pertanyaan yang sontak membuat Soojung mengerutkan keningnya juga membuat diam Sehun dan Jongin.

“Memang apa yang harus aku lakukan padanya?”

“Bukankah kau tertarik padanya? Akan kau lanjutkan?”

Soojung menggeleng pelan. “Aku sudah tidak memikirkannya. Dia yang membuat aku dan Chanyeol Oppa mengalami tragedi,” jawab Soojung sambil membalikan badannya menatap para sahabatnya. “Dan lagi, aku dan Chanyeol Oppa membuat satu perjanjian,”

“Perjanjian?”

Oppa berpacaran, aku juga. Aku akan menemaninya, dan…”

“Dan?”

“Aku ingin kelak, kami menikah dihari yang sama,” jawab Soojung sambil tersenyum.

“YA! JUNG SOOJUNG!” Seulgi merespon dengan sedikit berteriak.

“Tenang Kang Seulgi. Di hari yang sama dengan pasangan yang berbeda, aku dengan calonku, Oppa dengan calonnya. Kau berfikir aneh seperti apa?”

Heol! Perjanjian macam apa itu,”

“Terserah aku, yang penting Chanyeol Oppa setuju,”

“Masalahnya bagaimana kalau Chanyeol Hyeong sudah memiliki pasangan dan kau belum? Kau tega membuatnya menunggu?”

Soojung mendelik kearah Sehun kemudian tersenyum lebar. “Itu tidak akan terjadi,”

.

.

THE END.

p.s : Dan selesaiiiii…….!!!!!! Butuh berapa minggu ini dari Chapter 9 ke Chapter 10? Ah, makasih buat yang terus nunggu, yang terus nanyain di twitter, yang terus ngingetin di komen, yang terus ngehantuin di ask.fm hahahha, jadinya aku berasa dikejar hutang dan selesai…. MAKASIHH SEMUAAA ^^{}

Chapter 10 ini ga terlalu banyak masalah, karena emang semua masalah mereka udah solved di chapter 9. Jadi disini aku cuma menjabarkan bagaimana mereka memulai langkah baru untuk cerita baru. Ah… bagaimana? ada yang merasa kurang puas? Kalau mau ada yang complain atau nanya2, hantuin aja ke ask.fm

Apa lagi ya…

Niatnya mau aku list satu2 ID yang udah setia sama cerita ini, tapi tunggu nanti deh di Epilogue. APA??!!! hahaha, yaa.. tunggu epilogue dari Letter From Nowhere yaa,, /Menunggu lagi/

hahahha

Bye~

53 thoughts on “[END] Letter From Nowhere : #10 Letter – Dan Semua Kembali

  1. Barh baca ff nya ‘3’ nunggu nunggu dari waktu itu :v kapan epilognya thorrr “^”
    Jan buat nunggu lama lama thor ;D
    Entah knpa aku suka karakter wendy semuanya juga suka :v
    Kalo bisa kai sama krystal. Seulgi sama chanyeol. Sehun sama aku ‘3’ haha
    Semangat author ^^ saya lupa pake id apa disini kalo ga salah sih ojung :v

  2. Aaaaaaah akirnya the end😂 sumpah ini ff yg paling gua suka, ceritanya bagus bangeet. Akan ku tunggu epilognyaa hahaha

  3. Ahhh….. akhirnya selesai juga, udah lama nunggu. jadi ikut lega bcanya.. masih ada epilogue kan, eon?? jangal lama2 ya,eon. nanti keburu lupa ceritanya.. heheh

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s