US | Love in Seoul – Part 4

poster us-prolog

US | Love in Seoul  – Part 4

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung
  • Jessy

Genre : Romance, marriage-life, family

Rating : PG-13

Length : Chapter / Series

Note : Do not copycat without my permission.

Link : prolog | part 1 | Part 2 | Part 3 

Prev part.

“Minri-ya,” bisik Baekhyun. “Aku membawakan stroberi untukmu.”

“Aku sudah tidak menginginkannya.”

Kasur sedikit bergerak membuat Minri bisa membayangkan bahwa Baekhyun sedang turun dari kasur, lalu mengembalikan stroberinya ke kulkas. Minri benar-benar akan tertidur, tapi sesuatu yang dingin dan lembab menyentuh bibirnya. Aroma stroberi.

Minri membuka mata perlahan, dan mendapati Baekhyun duduk di tepi ranjang di dekatnya. Dan menciumnya. Yaampun. Bibirnya manis sekali.

“Kau mungkin memang tidak menginginkannya, tapi anakku ingin menyicipi stroberi di tengah malam.” Baekhyun meneruskan ciumannya. Minri tertawa pelan sembari mendorong dada Baekhyun.

“Dasar modus. Bilang saja kalau kau mau menciumku.”

“Kau tahu saja.” Dan Baekhyun tertawa renyah, sebelum kembali ke kasurnya dan memerangkap tubuh istrinya dalam pelukan. “Selamat tidur.”

***Part 4***

“Pagi, Ahn.” Minri masuk ke dalam toko bunga dengan membawa satu kantung belanja yang isinya roti dan beberapa kotak susu.

“Pagi, Eonni.” Sungyoung berdiri sebentar tanpa menatap Minri, karena mungkin gadis itu sedang fokus pada layar ponselnya. Sesekali dia tersenyum.

Minri menyadari bahwa Sungyoung tampak lebih bahagia. Dan Minri bersyukur dalam hati karena ada seseorang yang bisa membuat gadis itu tersenyum. Sungyoung meletakkan ponselnya di atas meja saat ada pembeli yang masuk.

Gadis itu tidak tahu bahwa layar ponselnya menyala. Minri dan rasa penasarannya melirik ke layar ponsel itu. Satu nama pengirim pesan yang terpampang disana membuat Minri tersenyum lebih lebar lagi.

Eonni, kenapa?” tanya Sungyoung saat dia selesai dengan pekerjaannya kemudian mengambil ponselnya lagi.

“Tidak.” Minri mengambil satu kotak susu instan khusus ibu hamil, lalu menancapkan sedotan disana. “Aku hanya senang kau mendengarkan kata-kataku beberapa waktu lalu.”

Ne?”

“Tentang pendamping hidup.”

Sungyoung tampak salah tingkah. Pipinya pun merona. Membuat Minri semakin yakin bahwa nama pria yang mengirimkan pesan padanya adalah pria yang telah mencuri hati seorang Ahn Sungyoung.

Minri berpikir untuk melakukan satu hal.

***

“Heh?” Chanyeol menatap layar ponselnya dengan mata yang membulat. Minri mengiriminya pesan. Dan mengajaknya makan malam bersama.

“Kau kenapa? Jangan bilang kau terkejut karena anjing tetangga yang mati,” ucap Baekhyun tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Pekerjaan mereka bisa dibilang cukup banyak, tapi Chanyeol sejak tadi hanya bersantai dan berkirim pesan entah dengan siapa (dia bahkan tersenyum sebelum pesan terakhir yang didapatnya).

“Baek, sepertinya Minri salah kirim pesan padaku.” Chanyeol menyerahkan ponselnya pada Baekhyun, membuat Baekhyun terpaksa menghentikan pekerjaannya sesaat. Lalu menyambut ponsel Chanyeol. Pria berwajah manis itu mengerutkan keningnya, lalu menatap Chanyeol.

“Tidak. Lihat saja, dia menyebut namamu di awal kalimat. Ini sudah jelas kalau Minri mengirimkan pada orang yang tepat.”

“Baek, jangan salah paham, oke? Aku tidak punya hubungan apapun dengan istrimu. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba dia—”

“Sebentar.” Baekhyun mengangkat telapak tangannya di depan wajah Chanyeol saat ponselnya berbunyi. Baekhyun segera mengangkat telpon yang ternyata dari istrinya itu. Baekhyun tidak perlu bingung berlama-lama tentang pesan singkat yang baru saja dikirim Minri pada Chanyeol karena wanita itu telah menjelaskan pada Baekhyun sedetail-detailnya, membuat Baekhyun tersenyum mengerti. Chanyeol pasti mengiranya sudah gila.

“Baiklah, daah. Aku sayang padamu.” Baekhyun meletakkan ponselnya di meja, lalu kembali menatap Chanyeol.

“Hubunganmu dengan istrimu baik-baik saja, kan? Siapa yang menelponmu tadi? Kau tidak menghianati Minri dengan mempunyai wanita simpanan kan?”

Baekhyun meremas kertas yang tidak terpakai di mejanya. Kemudian membentuknya menjadi seperti bola salju lantas melempar pada Chanyeol. Tepat mengenai dahinya yang mengkilap.

“Buang jauh-jauh pikiran jelekmu itu, Yeol. Aku tidak mungkin dan tidak ingin menghianati istriku sendiri. Dialah yang tadi menelpon.”

“Oh, baguslah—eh, kau tidak menanyakan kenapa dia mengajakku makan malam?”

“Tidak perlu. Aku sudah tahu kenapa.”

“Kenapa?”

“Datang saja malam ini ke apartmenku.” Baekhyun kembali pada pekerjaannya tidak peduli bahwa Chanyeol masih punya berpuluh-puluh pertanyaan untuk dilontarkannya pada Baekhyun.

“Kalian memang pasangan yang mencurigakan.”

***

Sungyoung merapatkan jaketnya saat dia melangkahkan kaki memasuki gedung apartment. Gadis itu mengerutkan kening saat melihat pria jangkung yang dikenalnya berdiri di depan pintu lift.

“Chanyeol-ssi?

Chanyeol menoleh ke samping, senyumnya mengembang melihat Sungyoung berada di depannya sekarang. “Kau mau kemana?”

Keduanya melangkahkan kaki ke dalam lift. Kemudian Chanyeol menekan angka 4. Sungyoung tidak perlu bicara kemana dia akan berhenti karena mereka akan pergi ke lantai yang sama.

“Aku akan menemui keluarga Byun.”

“Maksudmu Byun Baekhyun?”

Atau mungkin mereka akan ke tempat tujuan yang sama. Sungyoung tertawa pelan lalu melambaikan tangannya.

“Aku diundang makan malam oleh Minri Eonni. Pasti nanti aku akan bertemu Chanhee dan Baekhyun juga. Maka dari itu aku katakan kalau aku akan menemui keluarga Byun.”

“Kenapa Minri juga mengundangku,” gumam Chanyeol.

“Hah?”

“Tidak, tidak apa-apa. Aku juga akan ke rumah Baekhyun sekarang.”

“Benarkah? Kebetulah sekali.”

Tring!

Pintu lift terbuka. Chanyeol melangkahkan kakinya lebih dulu, kemudian disusul Sungyoung. Keduanya berjalan beriringan sembari bercerita ringan tentang apa yang menurut mereka menarik untuk diperbincangkan.

Seorang remaja, tampak tergesa-gesa. Anak itu berlari dengan kecepatan yang cukup kencang sembari menatap ponselnya, kalau dibiarkan saja maka akan terjadi kemungkinan kalau anak itu akan menubruk mereka berdua. Saat anak itu mendekat. Chanyeol merangkul bahu Sungyoung dan dengan gerakan cepat membawa gadis itu ke tepi.

“Hey, jangan berlarian di koridor—” ucap Chanyeol cukup nyaring. “Kau tidak apa-apa?”

Sungyoung mengedipkan matanya cepat. Jaraknya dan Chanyeol begitu dekat. Punggungnya bahkan menempel di dada pria itu, membuat jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya.

Sungyoung menurunkan lengan Chanyeol, lalu memberi jarak.

“A-aku tidak apa-apa. Terimakasih.”

Sungyoung berjalan lebih dulu. Dia mengipas wajahnya dengan tangan. Hanya beberapa saat bersentuhan dengan Chanyeol membuat tubuhnya kepanasan. Huh.

Chanyeol memperhatikan tangan lancangnya, lalu meletakkannya di dada. Degupan jantungnya terasa aneh. Dan tiba-tiba saja dia tersenyum seperti idiot. Chanyeol menyusul Sungyoung, dan kembali menyejajarkan langkah mereka.

***

“Kenapa Eomma memasak banyak hari ini?” tanya Chanhee sembari menjingkitkan kakinya. Anak itu memperhatikan meja makannya yang penuh. Tampak lebih banyak dari biasanya.

“Chanyeol Ajussi dan Sungyoung Noona akan makan malam bersama kita.”

“Benarkah? Asyik!” Chanhee melompat kecil, kemudian kembali ke ruang tengah. Sementara Baekhyun mulai memasuki area dapur.

“Chanhee tampak senang sekali,” ucap Baekhyun sembari membantu Minri menata meja makan.

“Ya, dia menyayangi Chanyeol dan Sungyoung seperti keluarga.”

“Mereka memang sudah kita anggap sebagai keluarga, kan?” tanya Baekhyun dengan satu tangan yang merangkul bahu Minri.

“Tentu.” Minri menepuk lengan Baekhyun pelan.

Ting Tong.

“Kurasa itu salah satu dari mereka.” Baekhyun baru akan melangkah ke luar saat suara Chanhee terdengar sampai ke dapur.

Waaah!! Noonaaa! ajussi!!

“Atau mungkin mereka datang bersama,” tambah Minri. “Aku selesai sebentar lagi. Kau keluarlah, mengobrol dengan mereka sebentar.”

Well,” Baekhyun berjalan mendekat pada Minri kemudian mencium pipinya. “Panggil aku kalau kau perlu bantuan.”

Minri mengangguk kecil, lantas kembali menyiapkan peralatan meja makan. Setelah itu dia mencuci beberapa piring yang terpakai. Minri belum selesai dengan pekerjaannya, namun seseorang tiba di dapur membuat Minri menoleh.

“Sungyoung-ah, terimakasih sudah datang,” Minri tersenyum senang, namun tetap meneruskan pekerjaannya.

“Harusnya aku yang berterimakasih. Memangnya Eonni sedang merayakan apa?” Sungyoung berjalan mendekat, lalu membantu mengelap piring yang sudah di cuci.

“Kami…” Minri berhenti beberapa saat, “Kami hanya sedang membagikan kebahagiaan.” Minri mengusap pelan perutnya.

Arraseoyo… semoga kehadiran adik Chanhee membawa kebahagiaan juga untuk orang yang menyayanginya.”

“Terimakasih doanya.”

Sungyoung berjalan ke depan meja makan saat mereka berdua selesai mencuci piring. Gadis itu memperhatikan hidangan di meja makan, membuatnya menelan ludah.

“Aku tidak menyangka Eonni bisa memasak.”

Minri berdiri di samping Sungyoung, lalu tertawa pelan. “Aku harap aku tidak membuat kalian keracunan.”

Eonni… “ Sungyoung menoleh pada Minri dengan was-was, tapi wanita itu tampak tertawa bahagia.

“Baekhyun membantuku,” jelas Minri. Dan itu cukup membuat Sungyoung mengerti. “Ja! Mari sekarang kita panggil ketiga laki-laki yang ada di ruang tengah.”

Eomma,” panggil Chanhee pelan. Anak itu tampak seperti orang yang sedang mengintip.

Minri menoleh ke sumber suara. Dia tidak hanya melihat Chanhee disana, melainkan dua pria dewasa yang juga hanya memunculkan kepalanya di perbatasan dapur. Mereka tampak konyol, membuat Minri ingin tertawa. Sungguh.

“Hey, tidak boleh menguping pembicaraan wanita,” ucap Minri. Chanhee lebih dulu memasuki dapur, lalu menghampiri Minri.

“Chanhee hanya penasaran dengan apa yang Eomma dan Noona bicarakan, maafkan Chanhee.”

Minri mencubit pelan hidung Chanhee, lantas mengiring anak itu ke tempat duduknya. Chanhee duduk manis dengan tangan berlipat. Dia mengayunkan kakinya yang menggantung.

“Dan kalian?” tanya Minri sembari menatap dua pria dewasa yang hanya berdiri diam.

“Aku mengikuti apa yang Chanhee lakukan.” Baekhyun tersenyum lebar. Seolah lupa bahwa mereka sedang punya tamu.

“Dasar kekanakan, kau bahkan akan mempunyai dua orang anak.” Minri duduk ke kursinya, lalu disusul Baekhyun.

“Yeol, apa kau hanya akan berdiri disana?” tanya Baekhyun.

“Ya—eh tidak, tidak.” Chanyeol pun duduk di antara kursi Sungyoung dan Baekhyun. Sungyoung tertawa pelan dan saat itu Chanyeol menoleh. Chanyeol tidak tahu sejak kapan dia menyukai tawa gadis itu. Dan hatinya kembali berdebar.

Malam itu, kediaman keluarga Byun tampak ramai. Tawa dan kebahagiaan begitu terasa di atmosfer. Chanyeol dan Sungyoung beberapa kali terlibat obrolan. Mereka seperti tidak canggung lagi.

“Jadi Minri sedang mengandung adik Chanhee? Waah! Selamat, Byun. Kau memang lelaki sejati.” Chanyeol menepuk pundak Baekhyun, membuat lelaki berwajah manis itu agak tersedak.

“Ya, dan aku menunggu giliranmu.”

Ish!” Chanyeol meneruskan makannya.

“Aku serius. Sudah saatnya kau menikah, benar kan Sungyoung-ah?” tanya Baekhyun.

Ne??” Sungyoung tampak tercengang. Pertanyaan itu terasa mengejutkannya. Dia menoleh pada Chanyeol, lalu mengangguk dengan tawa canggung.

Minri, Baekhyun dan Chanhee berkumpul di ruang tengah. Beberapa kali Minri menoleh ke arah dapur. Dia merasa tidak enak pada tamu yang diundangnya karena merekalah mencuci piring makan mereka berlima.

“Aku khawatir mereka tidak mau makan malam bersama kita lagi, Baek.” Minri menatap Baekhyun yang sedang tertawa geli.

“Tenang saja. Hal itu tidak akan terjadi. Lagipula mereka sendiri yang ingin melakukannya.”

Kembali pada lima menit yang lalu dimana saat Baekhyun bercanda akan meminta Chanyeol mencuci semua piring kotor yang ada di meja.

“Yeol, Minri sedang hamil muda. Aku tidak ingin membuatnya kelelahan. Apa kau mau membantuku mencuci piring?”

“Baek—“ Minri menyenggol lengan Baekhyun.

“Heh? Kau serius?” tanya Chanyeol dengan mata membulat.

“Chanhee juga ikut! Chanhee mau membantu Appa.”

“Aku juga…”

What?” Minri memperhatikan tempat cuci piringnya yang sempit. Dan… yang benar saja! Dua pria dewasa, satu orang gadis dan satu anak kecil akan mencuci piring bersama. Mereka seperti tidak punya kerjaan saja. Yang ada, mereka malah akan memecahkan piring-piringnya, oh tidak. “Oke, oke, Baekhyun hanya bercanda. Biar aku yang membereskannya nanti.”

Eum… begini saja, kita melakukan suit. Siapa yang kalah harus mencuci piring. Pria melawan pria dan wanita melawan wanita.” Baekhyun masih saja bersikeras. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan Baekhyun?

Ide gila, pikir Minri. Bagaimanapun, keberadaan Chanyeol dan Sungyoung adalah sebagai tamu. Tidak seharusnya mereka membereskan piring kotor.

Call!

Dan yang lebih gila, mereka semua menyetujuinya.

***

“Ah, hari yang indah.” Baekhyun menghempaskan tubuhnya di samping Minri. Setelah mencuci muka, Baekhyun bersiap akan tidur. Namun tampaknya Minri sibuk memainkan tab-nya.

Baekhyun mengintip layar tab itu, kemudian merebahkan kepalanya ke paha Minri. “Bukumu menjadi best seller lagi. Selamat, ya.”

Minri memegang pipi Baekhyun sembari tersenyum. “Aku juga tidak menyangka, Baek.”

Baekhyun mengangkat tubuhnya lalu mengecup bibir Minri dengan kilat.

“Kau memang hebat.”

“Penerbit mengadakan acara fansign untukku besok.” Minri meletakkan tab-nya, lalu memainkan rambut Baekhyun.

“Benarkah? Bagus sekali!”

“Apa kau bisa datang?”

Baekhyun bangkit dari berbaringnya. Dia memeluk Minri erat, lantas mengusap punggung wanita itu.

“Akan kuusahakan.”

Minri melepaskan pelukan mereka. “Ini bukan acara besar, Baek. Kau tidak perlu memaksakan diri.”

“Tapi acara itu penting untukmu, dan kau penting untukku jadi acara itu juga penting untukku.”

Heh?

Baekhyun mencium gemas bibir Minri. Sementara wanita itu masih mengerjap, memikirkan kalimat Baekhyun sebelumnya.

“Ayo tidur.” Baekhyun berbaring di samping Minri. Kemudian Minri menurunkan tubuhnya.

“Baek, aku serius kalau—“

“Diam dan tidurlah. Kau butuh istirahat. Besok akan menjadi hari yang sibuk.”

“Baiklah.” Minri menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun, lantas memejamkan mata.

“Selamat tidur.” Baekhyun mengecup dahi Minri, lalu meletakkan satu tangannya ke punggung wanita itu.

“Selamat tidur, Baekhyun.”

***

“Ahn Sungyoung!”

Sungyoung baru saja keluar dari gerbang kampusnya. Seorang pria yang berdiri di depan mobil hitam memanggilnya. Gadis itu mengerutkan kening karena bingung. Namun tetap menghampiri pria itu.

“Ada perlu apa kau kesini, Chanyeol-ssi?”

“Aku ingin bicara denganmu, sebentar.”

“Aku harus ke toko sekarang.”

“Akan kuantar. Masuklah.” Chanyeol membukakan pintu mobil bagian depan, sementara Sungyoung masuk dengan ragu.

Chanyeol menyalakan mesin mobil kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil itu melaju melalui arah yang berlawanan dengan Flower Shop namun masih bisa sampai dengan jarak yang lebih jauh. Sepertinya banyak yang ingin dibicarakan Chanyeol.

“Ada apa, Chanyeol-ssi?”

“Aku ingin kau mengosongkan acaramu malam ini karena aku… akan mengajakmu makan malam. Berdua. Apa kau mau?”

Sungyoung menelan air ludahnya. Wajahnya menoleh ke arah jendela. Sungyoung tahu Chanyeol hanya mengajaknya makan malam. Tapi dalam hatinya, momen itu akan terasa spesial. Sungyoung tidak pernah makan malam berdua bersama seorang pria. Tiba-tiba saja wajahnya menghangat.

“Ahn Sungyoung?” panggil Chanyeol.

“Y-ya?” Sungyoung menoleh dengan mata yang mengerjap. Dia lupa menjawab tawaran Chanyeol.

“Aku sangat  berharap agar kau mau menerima ajakanku.” Dalam setiap kata dari mulut pria itu penuh dengan harapan dan ketulusan. Sungyoung tidak mungkin mengecewakan Chanyeol.

“Aku bukan orang yang spesial,” gumam Sungyoung.

“Dengar, Ahn.” Chanyeol menghentikan mobilnya saat lampu lalu lintas berubah merah. Dia menghadapkan tubuhnya pada gadis itu. Dengan tatapan mengintimidasi dan tangan yang lancang memegang tangan gadis itu. “Bagiku, kau lebih dari spesial. Apa aku harus mengaku kalau aku tidak bisa berhenti memikirkanmu?”

“Kenapa… aku?”

“Ya, kenapa kau?” Chanyeol membalik pertanyaan gadis itu membuat Sungyoung berkerut bingung. “Perkataan Baekhyun membuatku berpikir untuk mencari pendamping hidup.”

“Benarkah?”

“Dan kurasa aku sudah menemukannya.” Chanyeol kembali menginjak pedal gas. Sementara Sungyoung lagi-lagi memerah dengan senyuman yang tergaris di bibir merahnya. Secara tidak langsung pria itu seakan melamarnya. Kalau benar itu terjadi, apakah Sungyoung benar-benar siap?

Sungyoung menyadari bahwa jalanan telah mengarah pada toko bunga tempatnya bekerja sampingan. Mobil berhenti dengan lembut di pelataran toko. Sungyoung baru akan keluar dari mobil saat tangan Chanyeol menahan lengannya, membuat gadis itu kembali duduk.

Chanyeol memutar badannya, menyelipkan sedikit bagian tubuhnya ke bangku di antara Chanyeol dan Sungyoung duduki. Satu tangannya meraih dua tas jinjing berbahan kertas kemudian menyerahkan kepada Sungyoung.

“Aku ingin kau mengenakan ini nanti. Kuharap kau suka.” Chanyeol dan senyum lebarnya sedikit membuat Sungyoung tercengang.

“Terimakasih.” Sungyoung membungkuk kecil, kemudian keluar dari mobil.  Tak lama setelah itu mobil Chanyeol melesat hingga menghilang tak terlihat. Sungyoung menatap toko bunga yang ternyata tutup. Untungnya Sungyoung memiliki kunci cadangan.

Semenjak pulang dari Kampus, Sungyoung sama sekali belum memeriksa ponselnya. Benar saja ketika dia menyalakan ponselnya ada empat pesan yang belum terbaca. Satu dari Minri dan sisanya adalah pesan singkat Chanyeol.

Minri Eonni:

Ahn, aku lupa memberitahumu kalau hari ini aku tidak bisa ke toko. Aku akan menghadiri fansign buku terbaruku. Aku sangat gugup >,<

Sungyoung segera mengetik pesan jawaban. Dia harap belum terlambat mengirim pesan pada wanita itu.

Reply:

Eonni-ya, fighting~!

Kemudian Sungyoung membuka pesan singkat lainnya.

Chanyeol – Park:

Ahn Sungyoung, apa kelasmu sudah selesai? Bisakah kita bertemu?

Chanyeol – Park:

Maaf kalau aku mengganggu waktumu. Tolong balas pesanku:/

Chanyeol – Park:

Aku jemput di Kampusmu. Sekarang.

Dengan senyuman yang merekah, Sungyoung kembali memasukkan ponsel itu ke sakunya. Dia merasa sedikit tidak enak karena mengabaikan pesan Chanyeol. Tapi untunglah mereka bisa langsung bertemu.

Sungyoung meletakkan paper bag yang diberi Chanyeol di bawah meja. Lalu mulai bersiap untuk bekerja.

Ting.

Bel pertama di hari ini. Sungyoung memasang senyum terbaiknya. Dengan hati yang berbunga, suara riangnya menyapa.

“Selamat Siang. Selamat datang di Byun Family Florist. Ada yang bisa saya bantu?”

***

Minri membelah kerumunan yang cukup ramai di gedung penerbit. Tidak menyangka bahwa acaranya akan seramai itu. Minri membuka mantelnya setelah ia tiba di dalam. Salah seorang staff yang merupakan tim dari acara itu menyambut Minri dengan ramah. Minri di persilakan duduk.

Salah seorang pria berjas licin, memakai kaca mata hitam dan alat komunikator mulai mengatur kerumunan membentuk barisan.

Minri mengusap tengkuknya pelan. Sungguh, perasaannya berlipat-lipat lebih gugup dari saat Baekhyun melamarnya. Bicara tentang pria itu. Apa mungkin dia akan datang?

Minri memegang microphone yang tersedia ketika seorang pengarah acara memberinya isyarat. Kerumunan mulai tertib hingga Minri bisa memulai sambutannya. Dia mengungkapkan ucapan terimakasih kepada orang-orang yang membantunya. Bercerita sedikit tentang kehidupan keluarganya dan kaitannya dengan novel yang ditulisnya.

Tepuk tangan memenuhi ruangan itu seperti suara ombak yang bersahutan. Minri tidak dapat menahan senyumnya. Beberapa orang memotretnya dan Minri tidak segan untuk memberikan senyum. Sungguh, dia tidak sepopuler itu.

Barisan memanjang terbentuk. Saatnya sesi menandatangani buku. Tanpa terasa beberapa jam berlalu. Belum ada tanda-tanda bahwa Baekhyun akan datang. Meskipun merasa pegal, Minri harus tetap mendongak, tersenyum dan menjawab pertanyaan dari pembaca.

“Siapa namamu?” tanya Minri sambil membuka halaman paling depan.

“Tolong tulis saja ‘I love our family’.” Minri mengerutkan kening saat dia rasa dia mengenali suara itu. Meskpun tidak begitu mengerti, Minri tetap memberikan tanda tangan. “Nona, aku fans beratmu. Bolehkah kita berfoto bersama?”

Minri mendongak. Dengan perasaan terkejut sekaligus bahagia. Senyumnya terlalu lebar. Seluruh dunia pasti tahu bahwa wanita itu sangat bahagia.

“Baekhyun?!”

Eomma…

“Dan Chanhee—anakku…” Anak kecil itu bersembunyi di punggung Baekhyun, lalu memiringkan kepalanya sembari tersenyum menggemaskan.

Minri berdiri dari kursinya, lantas memeluk Baekhyun singkat. “Terimakasih sudah datang.” Minri melepaskan pelukannya. Namun tiba-tiba saja Baekhyun mencium pipinya, membuat suara tepuk tangan bersahutan. Pipinya terasa memanas.

“Baek, disini banyak orang,” bisik Minri.

“Dunia harus tahu kalau aku suamimu.” Baekhyun tertawa pelan, lantas menepi. Dia membuat antrian yang tersisa menunggu sedikit lebih lama.

“Tuan, Nona dan adik kecil, bolehkah Saya berfoto besama kalian?”

“Boleh, Baek?” tanya Minri.

Sure.”

Baekhyun, Minri dan Chanhee dalam perjalanan pulang menuju tempat tinggal mereka. Saat itu langit mulai menjingga. Chanhee bersenandung riang di bangku belakang sembari menatap jalanan yang ramai.

“Kau tidak apa-apa? Kau tampak kelelahan.”

“Aku hanya melewatkan makan siang.” Baekhyun menoleh sengit, buru-buru Minri menambahkan “Aku tidak apa-apa. Sungguh.”

“Harusnya kau bilang padaku tadi agar aku membelikanmu makanan.”

Baekhyun berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Saat itu pula Minri memajukan tubuhnya. Dia baru akan mengecup pipi Baekhyun namun Baekhyun memundurkan kepalanya.

“Ada Chanhee.”

Rasanya Minri ingin bersembunyi di bagasi mobil. Bagaimana dia bisa lupa dengan anaknya sendiri yang ada di bangku belakang.

“Chanhee tidak akan mengintip. Eomma dan Appa boleh berciuman.” Anak itu berbalik menghadap sandaran bangku lalu menutup kedua matanya. “Chanhee hitung sampai sepuluh ‘ya.”

“Byun Chanhee!” Minri bersorak tidak setuju. Namun tanpa Minri tahu Baekhyun telah berada di depan wajahnya.

“Anak itu tidak akan berbohong.”

Baekhyun mencium Minri di kening, kedua pipi lalu berlama-lama di bibir hingga sampai di hitungan ke sepuluh, Baekhyun menggigit gemas bibir Minri lantas menjauh. Minri segera menghadap jendela sembari memegangi bibirnya. Dasar Baekhyun. Selalu saja berhasil membuatnya terbuai.

Appa! Chanhee rasa Chanhee melihat mobil Chanyeol Ajussi tadi.”

Jinjja? Ke arah mana?”

“Mungkin ke sana.” Tunjuk Chanhee dengan jarinya yang mungil.

“Apa mungkin…” Minri menatap Baekhyun sembari tersenyum. Arah yang ditunjuk oleh Chanhee  bertepatan dengan tempat tinggal Sungyoung. Minri rasa kedua orang itu memang memiliki hubungan yang khusus. Semoga saja.

***TBC***

Haaai!! Aku tau ini telat banget banget banget;-; hiks. Maafkan aku.

Aku mau fokus sama kuliah dulu, tugas akhir (you-know-what). Tapi rasanya ga enak hati ngegantungin kalian sama kisah ini/?

Masih suka sama ff ini? Masih mau di lanjutin?

Keep support and comment ya.

Dan juga, MAAF BANGET GABISA BALES KOMEN KALIAN. HIKS  (tapi tenang aja aku baca komentar kalian semua kok!)

Makasih udah mau nunggu dan baca ff ini. Salah khilaf mohon maaf. See you next part.

Charismagirl, 2015.

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

59 thoughts on “US | Love in Seoul – Part 4

  1. Ping-balik: US | Love in Seoul – Part 6 [end] | EXO Fanfiction World

  2. DAEBAK. TERNYATA UDAH ADA CHAPTER 4 AMA 5 NYAAA HUAAAAA KARIIIMMM MAAPKEUN DIRIKU /.\ KUOTA AKU ABIS DAN AKU KETINGGALAN HING /.\ capslock jebol wkwk😄
    Huaaaaaaaa aku seneeenggg banget baca chapter iniii duh aku baper baca scene pcy ama asy nyaaaaaa mereka unyuk bangett :3
    Jadi di chapter ini lebih ceritain tentang mereka berdua ya?
    Minri nya sukses yaaa sampai ngadain fansign gitu wkwkwk :3
    Seneng pokoknya liat keluarga mereka jarang banget nemuin ff nya bbh ysng karakternya kaya gini /? Iya gentle2 gimana gituuu wkwkwk
    Oke oke mau baca chapter 5 nya dulu, once again maaf kalo aku telat pake banget buat komen yaa karim maniss :3
    Fighting!!!

    Smooch !❤

  3. Ping-balik: US | Love in Seoul – Part 5 | EXO Fanfiction World

  4. huaaaaaaaa😄 lanjut lanjut lanjut !!😄
    suka banget ma nih cerita😄 bikin deg deg an mulu😄
    si chan mau jemput sungyoung yah??
    aduh😄 gua kan chanbaek shippers :”
    gapapa lah :v ceritanya bagus soalnya😄

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s