Secret Darling | 23rd Chapter

secret-darling

:: SECRET DARLING | 23rd Chapter ::

.

.

.

Author : shineshen

Cast : Sehun | Jungkook | OC(s) | etc.

Genre : Romance | Family | Friendship

Rating : Teen

.

Poster by thebrightflame | Poster Channel

.

Summary :

Shin Minhee tak pernah terbiasa melakukan interaksi dengan laki-laki semenjak ia dikecewakan oleh cinta pertamanya, sebelas tahun silam. Kini saat ada seorang lelaki lain yang hadir di hidupnya, akankah ia mampu membuka hati untuk kedua kalinya? Ataukah selamanya memang begini takdirnya, terperangkap kasih sang cinta pertama yang kini ikut kembali—menelusup hari-harinya dan memberinya harapan, seperti masa lalu.

 

Link to previous : Teaser | 1st Chapter | 2nd Chapter | 3rd Chapter | 4th Chapter | 5th Chapter | 6th Chapter | 7th Chapter | 8th Chapter | 9th Chapter | 10th Chapter | Kai’s Side Story | 11th Chapter | 12th Chapter | 13th Chapter | 14th Chapter | 15th Chapter | 16th Chapter | 17th Chapter | 18th Chapter | 19th Chapter | 20th Chapter | 21st Chapter | 22nd Chapter

.

Malam ini Minhee tampil begitu apa adanya. Tak ada hal spesial yang Minhee rasakan, hanya saja jantungnya sedikit berdegup lebih kencang saat langkah kaki membawanya turun tangga ke lantai bawah. Gadis itu mendapati kakaknya sudah menanti di ujung tangga dengan tatapan tak sabar. Minhee terlambat delapan menit.

“Kau tahu, ini keputusan yang sulit untukku,” bisik Minhyuk saat mereka sudah bertemu di ujung tangga. “Membiarkan kau berjalan bersama Jungkook lagi, aku tak tahu apa yang tengah merasuki diriku sampai aku mengizinkan kalian seperti ini.”

Minhee tersenyum tipis pada Minhyuk, namun sama sekali tak membalas kata-kata kakaknya itu.

“Hanya saja di waktu seperti ini aku berpikir—” Minhyuk menghentikan langkahnya, berdiri di depan pintu yang masih tertutup dan menggenggam kenopnya, “—hanya dia orang yang paling cocok untuk menemanimu saat ini. Kuharap spekulasiku tak salah.”

Minhee menghela napasnya panjang, sebelum mulai menautkan kelingkingnya diam-diam pada kelingking Minhyuk. Kelingking mungilnya menarik kelingking dari tangan besar Minhyuk, hingga tautan kelingking mereka terangkat ke posisi yang cukup atas sekarang. Minhyuk menatap tautan kelingking itu, sedangkan Minhee menatap iris hitam kecokelatan kakaknya lekat-lekat.

“Terima kasih sudah hadir untukku dan selalu berusaha menghiburku, Oppa,” ucap Minhee tulus. Gadis itu menghambur tiba-tiba ke dalam pelukan Minhyuk. Minhyuk cukup terkejut, namun rasa hangat yang mengalir di hatinya jauh mengalahkan rasa keterkejutan itu. Minhyuk membalas pelukan adiknya, lalu mengelus surai cokelat gelap Minhee dengan penuh kasih sayang.

“With my pleasure, Dear,” balas Minhyuk pelan.

Mereka berdua saling melepaskan pelukan, dan Minhee yang pertama kali terkekeh canggung. Selanjutnya Minhyuk ikut tersenyum, dengan semburat canggung yang sama.

“Pergilah,” sahut Minhyuk sambil mengacak pelan puncak kepala Minhee. “Sudah lama kau tidak keluyuran di jalan saat malam-malam liburan, seperti kegiatan remaja sepertimu kebanyakan.”

“Kau mengusirku?” Minhee pura-pura tersinggung. “Oh, apa kau ingin berkencan juga setelah aku pergi?”

Minhyuk tertawa lepas, sementara Minhee merasa begitu lega karena mendengar suara tawa Minhyuk yang lepas itu. Sama sekali tak tersirat beban sama sekali, berbeda dengan fakta-fakta yang terjadi pada mereka belakangan ini.

“Oh, ya, kau pintar sekali menebak,” ucap Minhyuk di tengah gelak tawanya yang masih tersisa. “Aku memang ada janji dengan Seulgi nanti, pukul delapan.”

“Seulgi?” Minhee mengerutkan keningnya bingung. “Oh, astaga, kau baru saja ganti pacar lagi?”

“Sudahlah, anak kecil. Bukan urusanmu,” canda Minhyuk sambil membuka pintu depan.

“Tapi, Oppa, astaga! Kau bahkan baru saja—”

 

“Oh, hei, selamat malam, Mine.”

Ucapan Minhee otomatis terhenti saat ia mendengar suara itu. Suara itu yang memanggilnya. Minhee menolehkan kepalanya, dan sudah melihat Jungkook di sana. Di depan pintu, sambil melemparkan senyuman canggung padanya. Minhee terpaku.

“Oh, malam, Jungkook,” balas Minhyuk, menyela. “Oke, kalian bisa pergi sekarang. Aku mau siap-siap dengan kencanku sendiri. Semoga malam kalian menyenangkan!”

Minhyuk tersenyum lebar sebelum menutup paksa pintu rumahnya, meninggalkan Jungkook dan Minhee saling terdiam kebingungan di teras rumah—tepatnya di depan pintu.

Jungkook melirik Minhee canggung, lalu tersenyum. “Hei, Mine.”

“Hei, Jungkook,” balas Minhee tak kalah canggung. Ia dan Jungkook sudah tak bertemu berapa hari, eh? Ia sendiri bahkan sudah mulai lupa.

“Ingin jalan-jalan malam ini?” tanya Jungkook setelah sebelumnya dua kali berdehem. Pertanyaan basa-basi, klise sekali.

“Oh, yeah,” jawab Minhee sekenanya. “Lalu… Kita mau kemana sekarang?”

Jungkook terdiam sejenak untuk berpikir. Sesaat kemudian senyumnya muncul. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan di Myeongdong? Kudengar sedang ada festival jalanan di sana. Aku yakin malam ini pasti ramai, kita bisa membeli jajanan di sana.”

“Oke…” respon Minhee dengan senyum.  “Kurasa itu ide yang bagus.”

“Oke, kita ke sana,” balas Jungkook, mencoba tak lagi sekaku tadi. Begitupun dengan Minhee. Namun mendadak tubuhnya terasa kaku lagi saat merasakan genggaman tangan Jungkook di tangannya sendiri, begitu hangat dan bersahabat. Minhee mematung untuk beberapa detik, hanya beberapa detik, sebelum akhirnya mulai membalas genggaman itu. Membuat senyum kembali muncul di wajah keduanya.

Kontradiksi rasa gundah dan bahagia menyiksa batin Minhee selama perjalanan. Bukan karena ia masih memikirkan permasalahannya dengan Sehun. Bukan.

Hanya saja ia masih tak percaya, malam ini ia membiarkan Jungkook kembali menggenggam tangannya, setelah dulu ia sempat merasa hancur karena kepergian lelaki itu di masa kecil mereka. Bertahun-tahun, yang bisa Minhee ingat dari perjumpaan terakhir mereka adalah saat Jungkook melepaskan tautan tangan mereka—tepat di depan halaman rumah Minhee. Serta taksi yang melaju membawa Jungkook, ibu dan bibinya. Minhee masih ingat saat ia berusaha mengejar laju taksi itu, namun ia tak pernah berhasil, dan ia berakhir dengan tersuruk di atas aspal. Jatuh telungkup di atas boneka beruang madunya. Membuat kedua lututnya terluka dan mengeluarkan darah. Saat ia menangis lebih dari sebab rasa perih.

 

Please trust me again, Minhee, Jungkook berbisik dalam hatinya. I promise that I will always protect you. Forevermore.

 

.

.

| 23rd Chapter |

.

.

 

 

“Aku yakin kau sedang punya masalah dengan Minhyuk.”

Jung Daeun sebenarnya tengah berbicara pada Sehun, namun ia terlihat lebih mirip layaknya tengah bermonolog saat ini. Mereka berjalan menelusuri trotoar jalanan dan sedari tadi hanya Daeun yang mengoceh; sementara di sampingnya, Sehun hanya diam, sama sekali tak berminat menjelaskan sesuatu pada Daeun mengenai pertikaiannya dengan Minhyuk tadi siang.

Daeun menoleh pada Sehun, mengerutkan kening. “Lalu apa itu, Sehun? Kupikir masalah itu sudah gawat. Selama beberapa kali satu kelas dengan Minhyuk, aku baru sekali ini melihatnya begitu marah seperti tadi.”

Sehun hanya menggeleng pelan sebagai responnya. Ia menelengkan kepalanya ke arah jalan raya, sengaja menghindari tatapan Daeun. “Jangan bahas itu lagi.”

“Bagaimana mungkin aku tak membahasnya?”Intonasi suara Daeun naik satu tingkat. “Kau dan Minhyuk nyaris terlibat baku hantam tadi. Apa aku tak boleh bertanya? Aku cemas!”

“Itu hanya sebuah masalah kecil,” balas Sehun acuh tak acuh.

“Sehun, dengar. Hari ini aku mengajakmu makan malam bukan tanpa alasan.”

“Lalu apa? Kau ingin mengorek masalahku dengan Minhyuk?”

Daeun terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Ia bingung dengan keadaan lelaki yang ada di sebelahnya itu. Siang tadi ia masih terlihat baik-baik saja, meskipun menjadi sedikit lebih pendiam setelah pertemuan tak menyenangkan mereka dengan Minhyuk. Namun malam ini—saat ia sengaja mengajak Sehun makan malam untuk mendiskusikan masalah itu—Sehun berkali-kali lipat jauh lebih dingin dibanding sosoknya tadi siang. Daeun semakin bingung harus bersikap apa lagi.

Pada akhirnya gadis itu memutuskan mengalah dan menghembuskan napas sebagai simbolis.

“Baiklah, lupakan saja, Sehun,” ucap Daeun singkat. Simpel.

Sehun mau tak mau menoleh mendengar kalimat menyerah Daeun. Gadis itu telah menjadi salah satu orang terdekatnya semenjak bertahun-tahun yang lalu—tepatnya sejak sembilan tahun yang lalu—sehingga bisa dibilang ia banyak tahu soal tindak-tanduk Sehun. Sehun adalah tipikal pemuda yang keras kepala. Namun ia juga seorang laki-laki yang bisa menempatkan diri di situasi yang berbeda; ia bisa menjadi laki-laki yang dingin dan cuek, sedangkan di sisi lain ia bisa menjadi pelindung yang hebat. Sekarang Sehun tengah menunjukkan sisi dinginnya, dan Daeun tahu tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalah dan membiarkan Sehun memikirkan masalah itu sendirian.

Lamunan Daeun terhapus saat tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan hangat menyentuh bahu kanannya. Ia tersentak kaget, dan Sehun mati-matian menahan tawanya melihat respon Daeun. Daeun menoleh pada lelaki itu sambil memasang wajah tertekuknya.

“Kau!” seru Daeun tertahan sambil menghempaskan tangan Sehun dari bahunya dengan kasar. “Jangan pernah mengagetkanku lagi, Oh Sehun! Jangan pernah!”

Sehun terkekeh sejenak. “Astaga, responmu itu benar-benar berlebihan.” Dan kemudian lelaki itu melepaskan tawanya.

Kening Daeun berkerut. Nah, benar, ‘kan? Beberapa menit yang lalu Sehun tampak begitu menjengkelkan dengan lagak dinginnya, namun sekarang lelaki itu malah terpingkal-pingkal dengan mengeluarkan suara tawanya yang menyebalkan.

Oke, menyebalkan, tapi Daeun selalu menyukai dan merindukannya.

Gadis itu mengulas senyumnya tipis—namun di saat Sehun mengerling untuk melihat ekspresinya, ia segera merubah senyum itu dengan ekspresi kecut. Sehun masih terus berusaha menghentikan tawanya, sampai akhirnya Daeun sengaja menyikut perut bagian samping sahabatnya itu keras-keras.

Sehun berhenti tertawa, dan kini ia hanya bisa meringis sakit. Daeun tersenyum lebar.

Nah, sekarang kau bisa diam, ‘kan?” Daeun berkata ringan. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, lalu kembali berjalan. Beberapa detik kemudian Sehun ikut menyusul di belakangnya.

“Hei, memangnya kita mau kemana?” tanya Sehun sambil terus mengusap perutnya kesakitan.

“Makan malam,” jawab Daeun tenang. “Kau mau menu apa? Nanti kita coba cari restoran yang cocok—”

“Bagaimana jika kita mampir ke kedai ramyeon Paman Kim?” Sehun memberi saran. “Kita sudah lama tidak ke sana, ‘kan?”

Daeun menoleh pada Sehun, lalu meletakkan satu jari telunjuknya di bawah dagu. “Oh, kau benar juga.”

“Kapan terakhir kali kita ke sana?” Sehun bertanya sambil mencoba mengingat-ingat. “Oh, ya. Sebelum kau ke LA, ‘kan?”

Daeun mengangguk.

“Aku pernah ke sana sekali, sebulan yang lalu,” ucap Sehun. Mereka menghentikan langkah di bawah sebuah halte bus. “Bersama Kai. Paman Kim menanyakanmu, tahu.”

“Oh ya?” Daeun sempat terkejut sedikit. Paman Kim—sang pemilik kedai—masih ingat padanya ternyata. Daeun banyak mengukir kenangan lama di kedai ramyeon itu memang, semasa SMA dulu. Selama tiga tahun bersekolah di SMA, nyaris setiap tiga hari sekali ia pasti mampir ke sana setiap pulang sekolah. Kebiasaan itu bahkan tak hilang meskipun ia mulai memasuki tahun terakhir, masih menyempatkan mampir ke sana seusai jadwal evening class yang menyita seluruh tenaga dan pikirannya.

Paman Kim yang baik hati bahkan rela membuka kedainya lebih lama saat Daeun tiba-tiba datang di menit-menit terakhir sebelum kedainya tutup. Daeun adalah pelanggan tetap, jadi ia punya beberapa keistimewaan. Paman Kim merupakan seorang perantau dari Provinsi Jeolla yang telah menganggap Daeun seperti keponakannya sendiri.

Ada beberapa hal yang masih diingat Daeun mengenai Paman Kim. Salah satunya adalah kebiasaan Paman Kim yang selalu menggodanya dan pura-pura lupa bahwa Sehun dan Daeun ‘hanya’ bersahabat. Memang di antara teman-teman yang selalu Daeun ajak ke kedai, Sehun adalah orang yang menempati frekuensi paling atas. Saat Sehun sedang pergi ke toilet atau sedang tak bersamanya, Paman Kim selalu menggoda hubungan di antara sepasang sahabat itu. Daeun selalu menolak keras-keras, ia bahkan sering mengomel pada paman baik hati itu karena telah menuduhnya sebagai pacar Sehun.

Memang banyak sekali orang di sekitar mereka yang sering salah paham, namun keduanya tak pernah lelah untuk mencoba menjelaskan hubungan sebenarnya antara mereka. Hanya sahabat. Hanya. Hanya. Banyak teman sekelas mereka semenjak SMP yang salah paham mengartikan kedekatan mereka—pun dengan teman-teman SMA juga guru-guru mereka selama ini. Saat mereka masuk kuliah, mereka masih dekat—namun tak dianggap memiliki hubungan khusus, tak seperti dulu. Mereka memilih jurusan akademik yang berbeda di bangku kuliah. Mereka tak lagi sekelas, tak lagi berbagi teman dan juga dosen yang sama. Namun di antara semua orang yang mengenal mereka berdua dan tahu hubungan mereka sebagai sahabat, hanya dua orang yang tak pernah terpengaruh dengan seliweran kecurigaan orang lain yang bertebaran—Luhan dan Kai.

Luhan dan Kai adalah orang terdekat Sehun yang lain, dan mereka benar-benar mengerti Sehun. Luhan adalah kakak Sehun satu-satunya, sedangkan Kai adalah sahabat Sehun sejak mereka duduk di taman kanak-kanak. Luhan dan Kai tak pernah menaruh kecurigaan sedikit pun atas hubungan persahabatan itu. Luhan tak pernah terpikirkan untuk sekedar mengorek tentang ketertarikan Sehun pada seorang gadis, sedangkan Kai justru sebaliknya—ia memang tak curiga Sehun menaruh hati pada sahabat perempuannya, namun ia justru curiga bahwa Daeun lah yang menyimpan perasaan itu.

Entahlah, mungkin saja Daeun hanya salah menyimpulkan arti pandangan Kai pada dirinya selama ini—pandangan yang tak pernah berubah semenjak pertemuan mereka di hari pertama, semenjak Sehun datang padanya dan menawarkan diri menjadi teman. Daeun mungkin salah, atau perasaannya yang memang lebih peka—tapi ia merasa Kai tidak pernah menyukai kehadirannya di dekat Sehun. Tak berubah sampai detik ini.

 

“Jadi kita ke kedai Paman Kim sekarang?” Pertanyaan Sehun membuat Daeun tersadar seketika. Gadis itu gelagapan, dan Sehun sempat menatap gadis itu dengan kening yang berkerut.

“Ada apa? Aku tidak mengagetkanmu lagi, ‘kan?” Sehun bertanya lagi, sedangkan Daeun menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

“Tidak, tidak.” Daeun masih terus menggelengkan kepalanya, berharap Sehun tak curiga bahwa sedari tadi ia banyak melamun. Bahkan mungkin ia tak memerhatikan semua perkataan Sehun soal kunjungan-kunjungan mereka ke kedai ramyeon Paman Kim di masa lalu—ia sama sekali tak fokus dengan dunia yang sekarang sedang dipijaknya.

“Oke… Ayo sekarang kita lihat pukul berapa ini,” Sehun berkata pada dirinya sendiri, lalu mengecek jam tangan biru turquoise yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Daeun ikut melirik jam tersebut karena ia sendiri sedang tidak memakai jam tangan.

“Sudah pukul tujuh,” ucap Daeun, menyuarakan jam waktu yang tertera di sana.

“Jadi ke sana? Semoga saja kedainya belum tutup,” ucap Sehun, menolehkan kepalanya untuk melihat jawaban Daeun.

Daeun menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang. “Tapi, bagaimana jika kita kembali terlalu malam nanti? Kedai itu berlokasi di dekat SMA kita, ‘kan? Cukup jauh kalau dihitung-hitung dari sini…”

Tak lama kemudian sebuah bus berhenti di halte tersebut, lalu menurunkan beberapa penumpang.

“Jadi apa keputusannya? Kita makan malam di sana?” tanya Sehun sekali lagi. “Cepatlah, tentukan keputusanmu. Jika kau terlalu lama memutuskannya, kita akan ketinggalan bus ini dan kuperkirakan bus selanjutnya baru akan tiba dua puluh menit lagi. Akan jadi semakin malam.”

“Menurutmu kita harus ke sana?” Daeun menoleh pada Sehun, ragu.

Sehun memutar matanya. “Astaga. Ya, aku pribadi ingin ke sana. Sekarang aku tunggu jawabanmu, dan kuharap kau juga memiliki jawaban yang sama sepertiku.”

Daeun terdiam, ia berpikir sekali lagi. “Tapi…”

Penumpang terakhir sudah turun, dan si sopir bus sudah akan menekan tombol di kemudinya yang berfungsi sebagai penutup pintu otomatis. Sopir itu kelihatannya sama sekali tidak peduli dengan keberadaan dua orang yang masih bergeming ragu-ragu di depan pintu bus.

Sehun memutar matanya, tak sabar menunggu Daeun yang terlalu banyak mempertimbangkan segala hal.

“Kau terlalu lambat, Nona Jung. Ayo!”

 

***

 

Di tempat lain, Minhee juga terjebak di situasi yang tak jauh berbeda bersama Jungkook. Angin malam musim panas bertiup lembut, mengiringi perjalanan mereka menyusuri bahu jalan yang dipenuhi oleh para pedagang kaki lima. Malam ini bisa disebut festival jajanan—sebab puluhan atau bahkan ratusan pedagang tumpah ruah di jalanan kosong bersama para pembeli dagangan mereka. Berbagai kudapan ringan dijual di sana, namun agaknya Minhee tak tertarik. Sejak tadi mereka hanya saling berdiam diri.

Beberapa menit yang lalu Minhee baru saja menyadari bahwa tangannya berada dalam genggaman Jungkook. Rasanya memang hangat—serupa dengan suasana hatinya—namun ia sama sekali tak bisa merasa nyaman. Entah kenapa benaknya tiba-tiba disinggahi oleh sosok Sehun, membuat Minhee merasa telah ‘berkhianat’ bila membiarkan laki-laki lain menggenggam tangannya seperti itu. Maka ketika Minhee sudah tersadar dengan perilaku refleks Jungkook itu, ia cepat-cepat menegur Jungkook, dan tautan di antara kedua tangan hangat itu terlepas seketika. Jungkook salah tingkah, membuatnya tak banyak bicara sepanjang sisa perjalanan. Sementara Minhee—berada di antara rasa gelisah dan salah tingkah—memutuskan untuk menggenggam kedua ujung mantelnya sendiri, menjauhkan kemungkinan tangannya akan bersentuhan kembali dengan Jungkook.

Namun kediam-diaman itu membawa efek yang sangat buruk. Mereka jadi kehilangan kesempatan untuk berkomunikasi, sebab diri mereka masing-masing juga telah menutup kesempatan bagi yang lain.

Diam-diam Jungkook mengerling sedikit ke arah Minhee, namun gadis itu sama sekali tak menyadari jika sedang diperhatikan. Tatapannya memindai sok sibuk ke arah para pedagang jajanan kaki lima, namun Jungkook bisa merasakan tatapan Minhee yang kosong. Gadis itu pura-pura sibuk memilih jajanan, supaya Jungkook tak bisa mengusik benaknya yang sedang berkelana di kegelapan langit malam. Entah apa atau siapa yang tengah dipikirkan gadis itu, yang jelas hal itu cukup membuat Jungkook kecewa karena merasa diabaikan—maka secara tidak sadar Jungkook tiba-tiba menghela napasnya panjang. Minhee menyadarinya, lalu dengan cepat menoleh pada Jungkook.

“Ada apa, Jungkook?” tanya Minhee polos.

Jungkook menggelengkan kepalanya sambil terkekeh ringan. “Tidak apa-apa, Mine.”

“Apa aku jadi terlalu pendiam malam ini?” tanya Minhee spontan. Jungkook cukup terkejut Minhee melontarkan pertanyaan retorik seperti itu—seakan gadis itu tahu penilaian Jungkook mengenai dirinya malam ini.

“Ah, ya. Kukira begitu, Mine,” Jungkook terkekeh salah tingkah. “Apa kau sedang punya masalah?”

Minhee tertegun sesaat mendengar pertanyaan spontan Jungkook. Pandangan gadis itu kemudian turun—membentur blok trotoar yang tengah mereka jajaki kini. Minhee memperhatikan langkah mereka yang tanpa disengaja membentuk satu ritme; lalu mengulas senyum saat menyadarinya.

“Sedang ada,” jawab Minhee sambil mengalihkan tatapannya sekilas untuk memandang wajah Jungkook. “Tapi bukan apa-apa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Jungkook.”

“Terkadang aku rindu mendengarmu memanggilku Kookie lagi,” celetuk Jungkook.

Minhee tersenyum. Ia menatap Jungkook lagi—kali ini lebih lama—lalu menyahut ringan, “oh, baiklah, aku akan memanggilmu Kookie lagi.”

Jungkook tersenyum senang. Tanpa sadar ia merangkul bahu Minhee, lalu membawanya melangkah lebih cepat. Minhee sempat tertegun dengan perilaku Jungkook padanya, namun ia diam saja. Ia membiarkan tangan kanan Jungkook bertengger di bahu kanannya, begitu ringan; seringan langkah mereka yang terkadang dihujani tatapan iri dari beberapa pasangan muda-mudi yang melihat betapa serasi dan lucunya interaksi antara mereka berdua.

“Kebetulan kemarin aku dan kakak baru saja membeli kue jahe yang enak di sekitar sini,” celoteh Jungkook, sementara ia terus merangkul Minhee di bahu. Mereka lalu berhenti di depan sebuah toko kue, mencium bau harum jahe yang kental di setiap daun pintu toko itu mengayun terbuka.

Minhee tersenyum sumringah, lalu mengangguk. Tanpa basa-basi lagi Jungkook mengajak Minhee memasuki toko itu. Suara lonceng di daun pintu bergemerincing saat mereka mendorong pintu masuk, membuat Minhee teringat akan Ahreum Bakery—toko kue langganan ibunya, sekaligus tempat di mana ia memesan kue ulangtahun untuk Sehun sekitar dua bulan yang lalu.

Mengingat segala hal tentang Sehun selalu membuat Minhee jatuh dalam kesedihannya lagi. Tanpa kata gadis itu menekuk bibirnya ke bawah dalam sudut yang halus—tak terlalu kentara. Ia merindukan Sehun. Namun apa mau dikata, mereka tak lagi bersama. Kenyataannya kini ia sendiri sedang melewati malam jalan-jalan yang menyenangkan bersama lelaki lain, sementara Sehun… Ah, sanggupkah Minhee membayangkannya? Bagaimana jika malam ini Sehun juga sedang melewati malam jalan-jalan yang menyenangkan bersama gadis lain?

 

“Mine…”

Panggilan Jungkook tak urung membuat kesadaran Minhee kembali. Gadis itu mengerjapkan matanya selama beberapa kali—mencoba mengembalikan fokus. Ia melihat Jungkook sedang tersenyum sumringah di depannya, dan tangannya menunjuk beberapa kue yang dipajang di etalase toko.

“Kau mau kue yang mana?” tanya Jungkook semangat. “Cheesecake, brownies, muffin, macaroon, atau red velvet? Oh, atau pancake—”

“Kue jahe saja, Kookie,” potong Minhee singkat lalu memberikan senyumannya yang sederhana. Jungkook membalas senyum itu dengan perasaan lega dan senang yang tak terkira. Di matanya, senyum sederhana Minhee tampak begitu manis dan ia akan selalu merindukan itu—seumur hidupnya.

“Baiklah, tunggu sebentar, ya.” Jungkook mengelus pelan punggung tangan Minhee dengan ibu jarinya sebelum pergi meninggalkan Minhee menuju konter pemesanan.

Minhee mengangguk. Ia kemudian berbalik, mencari kursi kosong. Selanjutnya ia hanya bisa terdiam seraya memerhatikan punggung pemuda itu dari kursi yang tengah didudukinya. Menyadari kasih sayang Jungkook padanya yang tak pernah berubah sejak dulu. Perlahan ia menatap punggung tangannya—tempat di mana Jungkook mengusapnya beberapa saat lalu sebelum ia meninggalkan Minhee menuju konter pemesanan. Sentuhan itu begitu mengejutkan, seakan mengirimkan jutaan elektron listrik ke seluruh tubuhnya beserta radiasi rasa hangat yang tiba-tiba saja melingkupi sekeliling tubuhnya. Minhee merasakan wajahnya yang memanas, nyaris meneteskan airmata.

Oh, apa hatinya sudah bisa menerima kehadiran Jungkook lagi kini? Lalu bagaimana dengan Sehun? Apakah mereka akan berpisah—dalam artian yang sebenarnya?

 

Apa aku telah berkhianat?, Minhee terus mengulang pertanyaan itu dalam hatinya setiap ingatannya mengilas balik masing-masing kebersamaannya dengan Sehun dan Jungkook. Pertanyaan yang harus secepatnya ia jawab. Berharap semua getaran hatinya sedari tadi salah, berharap getaran itu bukanlah cinta lama yang kembali bersemi di hatinya; namun hanya sekedar rasa rindu begitu besar kepada sahabat yang merangkap sebagai cinta pertamanya.

Cinta pertama yang tak pernah bisa ia miliki.

 

“Mine, ini kue pesananmu,” sahut Jungkook ceria. Lelaki itu baru saja tiba, dan belum menyadari pikiran Minhee yang sedang kembali dalam kemelut gundah gulana. Minhee cepat-cepat menyadarkan dirinya, lalu membalas senyum ceria Jungkook.

Minhee menerima kantung kue yang disodorkan Jungkook. Ia bisa membaui aroma harum kue jahe yang semerbak dari dalam kantung kertas tersebut. Wangi jahe sudah cukup membuat Minhee merasa lebih baik, dan kini gadis itu bisa mengulaskan senyumnya lagi.

“Terima kasih, Kookie,” ucap Minhee tulus. Jungkook menatap senyum Minhee, segaris senyum yang berarti segalanya untuknya.

“Sama-sama,” jawab Jungkook. Mereka berdua kemudian melangkah keluar dari toko tersebut. Menikmati kue masing-masing sambil mengobrol di sepanjang jalanan Myeongdong lebih mengasyikkan menurut mereka, ketimbang duduk diam mengamati orang-orang yang berseliweran di trotoar.

Tak lama, Jungkook berhasil membuat Minhee kembali melupakan sesaat gundah gulana yang sempat menggelayuti perasaan gadis itu. Mereka sudah asyik mengobrol dan tergelak di beberapa kesempatan, sembari sesekali saling bertukar kue. Mereka membicarakan banyak hal—terutama tentang masa lalu mereka di sekolah dasar. Dan Minhee terlihat begitu menikmatinya, menikmati membicarakan masa lalu yang sempat ia ukir bersama Jungkook. Masa kecil yang terasa sama manisnya dengan macaroon yang kini tengah jadi camilan milik Jungkook.

 

“Tunggu, macaroon ini rasanya manis sekali,” protes Minhee saat ia menyuapkan setangkup macaroon pertama ke dalam mulutnya—sebuah macaroon berwarna oranye. Minhee mengernyit merasakan rasa manis yang begitu menggigit lidahnya. “Kenapa kau selalu suka makanan super manis sejak dulu?”

Jungkook menyuapkan setangkup macaroon berwarna merah ke dalam mulutnya sebelum menjawab pertanyaan Minhee. “Karena aku suka manis. Manis lebih baik dibanding pahit, asin, atau masam.”

Minhee menggigit kue jahenya sebagai penetralisir atas rasa macaroon Jungkook yang kelewat manis—untuk seleranya. “Kau tidak khawatir akan sakit gigi?”

Jungkook menggelengkan kepalanya dengan kalem. “Aku selalu rutin ke dokter gigi.”

Minhee mengangguk-anggukan kepalanya, sementara ia kembali menggigit kecil kue jahe hangatnya.

Mereka terus melangkah sepanjang trotoar yang berangsur semakin sepi; keluar dari kawasan festival makanan. Hanya beberapa orang saja yang berpapasan dengan mereka, dan mereka baru tersadar ketika camilan milik masing-masing telah habis.

“Kookie, sepertinya kita salah jalan,” sahut Minhee, lalu membuang bungkus makanannya ke salah satu tempat sampah yang berjajar di sisi jalan.

Jungkook ikut mengedarkan pandangannya, lalu menggaruk pelan tengkuknya yang tidak gatal. “Uhm, ya. Sepertinya. Mau kembali, Mine?”

Minhee mengangguk cepat, sementara secara spontan ia menggenggam salah satu ujung mantel Jungkook. “Ayo kembali.”

Jungkook mengiyakan keinginan Minhee, lalu mereka kembali berbalik menuju arah sebelumnya. Suasana di sekitar mereka berangsur kembali ramai. Mereka menghela napas lega, lalu memutuskan diam istirahat sebentar di bawah sebuah tiang lampu jalan.

“Mine, camilan kita sudah habis. Kau mau lagi?” tawar Jungkook. Matanya memindai beberapa pedagang camilan di sekitar mereka, lalu sesaat kemudian terhenti di netra hitam kecokelatan milik Minhee.

Minhee ikut terdiam berpikir. Sebenarnya ia tidak lapar, hanya saja ia butuh camilan untuk mencairkan ketidaknyamanan andai-andai saja ia kehabisan bahan obrolan dengan Jungkook nanti. Matanya ikut memindai pedagang camilan di sekitar mereka. Sesaat matanya tertumbuk pada seorang penjual tteokboki—namun ketika ia memandang Jungkook kembali, gadis itu mengurungkan niatnya.

“Kenapa? Kau mau tteokboki?” tanya Jungkook, menebak isi pikiran Minhee.

Minhee menggeleng cepat-cepat. “Oh, tidak. Tadinya aku memang ingin, tapi rasanya lebih baik aku makan camilan yang ringan-ringan saja—”

“Bagaimana kalau itu?” tanya Jungkook sambil menunjuk barang dagangan seorang pedagang permen kapas. Matanya bersinar penuh harap, membuat Minhee luluh. Minhee tahu, sebenarnya yang menginginkan permen kapas itu adalah Jungkook sendiri—mengingat bagaimana kegilaan lelaki itu pada makanan manis. Tapi mau tak mau Minhee mengalah, membiarkan Jungkook membeli permen kapas itu untuknya alih-alih untuk dirinya sendiri.

Minhee mengangguk pelan.

“Oke, kau tunggu di sini saja. Biar aku yang ke sana,” ujar Jungkook. Lagi-lagi lelaki itu memberikan sentuhan terakhirnya di punggung tangan Minhee sebelum beranjak pergi. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini Minhee memberikan responnya dengan sebuah genggaman renggang di tangan Jungkook. Jungkook melempar senyumnya yang lembut untuk Minhee, sebelum akhirnya menarik tangannya pergi.

Tautan tangan mereka terlepas, dan itu sempat membuat tangan Minhee mengambang lemah di udara. Minhee membalas senyuman Jungkook dengan senyuman sederhana lagi—namun kali ini dengan sinar mata yang lebih redup. Selepas Jungkook pergi, Minhee hanya terdiam di bawah bayangan tiang lampu jalan.

Setelah beberapa saat lamanya, Minhee mulai menangkupkan tangannya bosan sembari matanya memerhatikan Jungkook yang sedang mengantre sendirian di konter pedangang permen kapas—sementara pengantre lainnya rata-rata para gadis ataupun mereka yang membawa pasangan.

Minhee mulai tak enak hati. Beberapa saat lamanya ia sempat menimbang-nimbang tentang apa yang harus ia lakukan pada menit-menit selanjutnya. Tetap diam di tempat seperti pesan Jungkook, atau ikut menyusul ke sana dan tak membiarkan Jungkook mati kutu karena mengantre sendirian.

Pada akhirnya Minhee memilih opsi kedua. Meninggalkan posisinya, dan menyusul Jungkook. Jungkook sepertinya tidak mengawasinya yang sedang menunggu, jadi ia bisa memanfaatkan keadaan untuk diam-diam menyusul ke samping Jungkook. Memberikan kejutan kecil—apa salahnya.

 

Gadis itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel, lalu mulai melangkah menuju posisi Jungkook di mana ia berdiri dan mengantre. Karena jaraknya cukup jauh beberapa meter di depan sana, Minhee mencari hiburan dengan cara melempar tatapan secara random pada keadaan di sekelilingnya. Toko-toko yang berjajar di sisi trotoar, pedagang kaki lima yang sedang menjajakan barang dagangannya di sisi jalan, pasangan-pasangan dan beberapa orang lain yang berjalan sendirian maupun berkoloni, dan—

matanya tertumbuk secara tak sengaja pada satu titik. Langkahnya ikut berhenti, terpaku secara tiba-tiba. Seluruh sendi anggota gerak bawahnya terasa beku dan kaku, tak mampu lagi membawa kakinya melangkah. Perlahan Minhee menengokkan kepalanya secara lebih tegas, sementara matanya menyipit—mencoba memperjelas pandangannya pada sosok itu. Sosok yang sedang berdiri di depan pintu kedai ramyeon bersama seorang gadis. Gadis yang memiliki perawakan begitu familiar dalam mata dan ingatan Minhee.

Minhee berganti memutar tapak sepatunya. Menghadap secara lebih jelas ke arah dua orang itu, berharap matanya hanya salah mengenali orang. Berharap matanya yang berkhianat, alih-alih objek dari matanya yang tertumbuk. Berharap perasaan sesak ini hanya kekhawatiran semata, berharap rasa sakit ini hanyalah—oh!

Ini bukan mimpi, Minhee, batin Minhee berucap pada dirinya sendiri. Ini bukan mimpi, dan matamu sama sekali tak salah. Semua itu kenyataan. Kenyataan.

Apakah aku sedang dikhianati di sini?

 

Tanpa sadar Minhee melangkahkan kakinya maju, mendekat ke arah dua orang itu. Pandangan matanya masih tertumbuk di sana, tak berpindah satu jengkal pun. Pandangan mata yang kosong, kecewa, dan—terluka.

Oh!

Tepat di tengah zebra cross langkahnya terhenti. Tak memedulikan orang-orang yang sibuk mengeluhkan ulahnya yang menubruk bahu sembarang orang. Minhee menghentikan langkahnya saat lelaki bersurai kecokelatan itu melepaskan pelukannya dari seorang gadis bersurai pirang, lalu menangkupkan kedua telapak tangannya ke sisi pipi si gadis. Memandang intens saat si gadis mulai berkata-kata dengan gugup di hadapannya, menyusun kata demi kata penuh susah dan payah, sebelum akhirnya si lelaki menutup kata yang belum selesai terkatakan dengan lengkap itu dengan satu kecupan panjang di dahi si gadis.

Minhee menghela napasnya tajam. Entah mengapa udara di sekitarnya terasa menyusut, seakan tak membiarkannya bernapas lagi. Menikam jantungnya, mengerontangkan paru-parunya. Ia terbatuk-batuk kecil sembari memeluk bahunya sendiri yang gemetar menyaksikan pemandangan menyakitkan itu. Mencoba menahan lesakan airmata yang berlomba-lomba menjebol pelupuk matanya, namun gagal. Udara di sekitarnya semakin menyusut, memaksanya berhenti bernapas.

Pandangannya begitu jelas, tanpa cela. Matanya tidak salah, apalagi berkhianat. Ialah yang telah terkhianati malam ini, menorehkan luka yang begitu dalam dan nyata. Pertahanan diri dan kesabaran yang selama ini masih dipupuknya mati-matinya runtuh layu seketika. Melihat lelaki yang dicintainya melepas ciuman pada seorang gadis lain begitu menyakitkan—meskipun hanya di dahi dan ia masih belum tahu apa maksud dari ciuman dahi itu.

Hatinya sudah terlanjur koyak, dan ia nyaris kehabisan alasan.

 

Minhee menelan satu napas kecewanya, lalu berjalan mundur secara perlahan. Matanya masih lekat memandangi lelaki yang kini tengah memberikan sebuah ciuman dahi pada seorang gadis lain—gadis yang selama ini diketahui sebagai sahabat lamanya. Minhee terbatuk-batuk kehabisan napas sekali lagi, tubuhnya mulai gemetar, dan kepalanya mendadak pusing. Memikirkan beban dan spekulasi yang tak terhitung banyaknya, membuat Minhee muak dan merasa ingin mati saja.

Seandainya ia bisa, ia sudah berhenti memandangi kesakitan itu sejak tadi. Namun nyatanya ia tak bisa. Meskipun memandanginya membuat Minhee merasakan kesakitan lebih nyata, ia tak punya pilihan lain.

Mundur… Ia akan mundur. Mundur… Karena ia telah kalah.

 

Minhee tak bisa mendangar apapun ketika puluhan orang yang berdiri di trotoar menjeritinya, bersamaan dengan raung klakson besar yang mencoba memperingatinya. Decit ngilu rem yang ditarik paksa secara mendadak dan gesekan hitam memanjang di permukaan aspal tak juga membuat Minhee sadar untuk segera menyelamatkan dirinya sendiri dari maut yang bersiap mendekatinya dalam hitungan milidetik. Sinar terang kekuningan menyoroti seluruh tubuhnya, namun gadis itu masih terdiam tanpa respon. Hanya langkahnya yang terlalu lambat berjalan mundur ke belakang.

Pengereman yang terlambat tak cukup membantu. Jeritan ngeri orang-orang berujung ketika suara benturan keras terdengar dari arah jalan raya dan diakhiri saat sosok tubuh seorang gadis terpental dan mendarat kasar di atas aspal keras.

 

Minhee mengerjapkan matanya, dan sesuatu yang pertama kali ia lihat adalah hamparan langit. Langit terbalik; tubuhnya telentang, menghadap langit yang kosong tanpa satu pun bintang di atas sana. Minhee menggerakkan kepalanya sedikit, dan ia mendapati puluhan orang-orang berdiri di trotoar—memandang miris padanya.

Detik kedua, yang ia rasakan adalah pening luar biasa menyerang kepalanya; membuatnya hanya bisa merintih pelan di tengah sakit luar biasa yang memaksa tubuhnya diam tak berkutik. Tubuhnya lemah. Kulitnya terluka dan berdarah. Tulangnya terasa bagai retak.

Detik ketiga, ia merasakan ada lelehan hangat yang mengalir dari kepalanya, bercampur dengan airmata yang masih membentuk alur bening di pipinya. Lelehan itu anyir, lengket. Dan semakin banyak lelehan itu membasahi kulitnya, semakin besar pula rasa sakit yang harus ia rasakan.

 

Dengan kesusahan yang amat sangat, Minhee mencoba menggerakkan tangannya yang terbebas—walau rasa ngilu membuatnya nyaris urung karena tak tak tahan lagi. Menyentuh permukaan syal putih yang terasa lembab—syal putih yang kini tak lagi putih, ternodai oleh darah merah pekat yang menggenang di sekitarnya. Perlahan ia menutupi separuh wajahnya dengan syal itu, menghirup aroma parfum Sehun yang masih menguar sedikit demi sedikit—semakin samar dengan anyir darah yang semakin banyak merembesi syal. Seolah aroma itu dapat memberinya kekuatan lebih untuk bertahan dari rasa sakit, walaupun yang ada rasa sakit itu semakin dalam menusuk jantungnya.

Bayangan saat gadis bersurai pirang itu membenamkan wajahnya dalam pelukan Sehun mengaburkan ekspektasi Minhee bahwa hanya ia satu-satunya gadis yang akan bertahan dalam pelukan Sehun selamanya. Bayangan saat aroma parfum khas Sehun yang dihirup gadis itu jauh lebih banyak dan puas dibandingkan dengan dirinya yang begitu menyedihkan mengais sisa-sisa aroma parfum Sehun yang tertinggal dari sepotong syal. Minhee memejamkan matanya menahan sakit, dan airmata itu kembali mengalir; bersatu dengan darahnya yang menggenang.

Bercak-bercak cahaya terang mulai mengganggu pandangannya. Kepalanya yang pening luar biasa membuatnya begitu berat untuk terus membuka mata. Di detik-detik akhir, Minhee masih bisa mendengar gemuruh langkah orang-orang yang berlari mengerubunginya dan juga suara beberapa petugas keamanan yang sibuk berkoordinasi satu sama lain untuk mengamankan situasi yang berubah kacau. Namun di sisa-sisa kesadarannya, tiba-tiba Minhee mendengar suara seorang lelaki yang memanggil namanya dengan panggilan yang begitu khas.

 

“Mine! Mine! Minhee!! Shin Minhee!!”

 

Suara itu begitu jauh untuk bisa Minhee raih. Di sela kelopak matanya yang nyaris menutup, Minhee masih bisa mengenali sosok Jungkook yang berlari dan menerobos kerumunan orang—bahkan barikade petugas keamanan yang mencoba mengamankan lokasi kecelakaan. Lelaki itu berlutut di samping Minhee, menyentuh kedua sisi pipinya yang berlumuran darah anyir.

“Minhee, bertahanlah!”

Untuk pertama kalinya ia mendengar Jungkook memanggilnya ‘Minhee’ lagi—sejak pertemuan pertama mereka sebelas tahun yang lalu. Jungkook berlutut dan memegang kedua pipi gadis itu, membiarkan tangannya ternoda oleh darah pekat Minhee yang masih terus mengalir.

Jungkook meneteskan airmatanya frustasi. Ini adalah kali kedua ia merasa amat sangat takut kehilangan orang yang begitu dicintainya, di mana kali pertama adalah saat ia harus kehilangan ayahnya yang meninggal di penjara—sebelas tahun silam.

“Bertahanlah, Minhee! Aku mencintaimu, dengar? Aku bahkan sangat mencintaimu, Minhee. Kau harus bertahan, karena jika tidak, maka aku akan… Akan… Oh Tuhan…” Jungkook susah payah menyusun kalimatnya yang tercecer tak karuan.

Minhee tersenyum tipis memandangi Jungkook, membasahi tangan lelaki itu lagi dengan setetes airmatanya.

 

“Mana permen kapasnya, Kookie?”

Jungkook menggelengkan kepalanya mendengar suara Minhee yang begitu lemah untuk didengar. Rasanya Jungkook ingin sekali membawa gadis itu dalam dekapannya, namun ia takut ia akan semakin menyakiti raga gadis itu. Hatinya remuk menyaksikan Minhee menderita. Suara sirine ambulans sudah terdengar dari kejauhan, membuat detik demi detik waktu terasa begitu lambat. Menyiksa sang lelaki yang kini tengah dirongrong ketakutan luar biasa.

Saat Jungkook menegakkan kembali kepalanya untuk memberikan ciuman terakhir di pelipis Minhee yang dibaluri darah, ia terpaku melihat mata Minhee sudah terpejam rapat.

 

 

“Sudah selesai?” Pertanyaan Sehun kontan membuat Daeun tersadar dari ilusinya. Saat gadis itu mengerjapkan matanya, ia melihat justru Sehunyang sudah selesai dengan mangkuk ramyeon-nya.

“Sejak tadi kulihat kau hanya mengaduk-aduk makananmu,” Sehun melanjutkan kalimatnya, sementara Daeun hanya terdiam. “Kau sedang tidak ingin makan ramyeon, ya?”

Daeun menggeleng. “Ah, tidak. Hanya saja aku sedang memikirkan… Oh, tidak, lupakan saja.”

Daeun bangkit dari kursinya, berjalan mendahului Sehun menuju meja kasir. Melihat pergerakan Daeun, Sehun bangkit lebih cepat dan menahan tangan gadis itu.

“Malam ini biar aku saja yang traktir,” ucap Sehun, sementara genggaman tangannya untuk menahan langkah Daeun masih belum terlepas. Perlahan, tangan Daeun yang sejak tadi terasa beku dan dingin mulai dirambati rasa hangat yang menyenangkan.

Sehun tersenyum sekali lagi, dan melepaskan tautan tangannya. Lelaki itu berjalan ke meja kasir, melewati Daeun begitu saja, dan sama sekali tak menyadari gelojak hati yang dialami sahabat perempuannya. Dari jauh Daeun menatap punggung Sehun, mengulas senyum getir dan menyesali hatinya yang menderu tanpa perintah saat lelaki itu menggenggam tangannya tadi.

Meskipun itu hanya sebuah bentuk gerak refleks si lelaki, tetapi tubuh Daeun tetap meresponnya berlebihan. Jantung yang bertalu-talu, paru-paru yang kembang kempis mencari pasokan udara lebih banyak, hati yang melambung dan menderu begitu bahagia…

Daeun menundukkan kepalanya, menatap lantai kedai yang sedang dipijaknya saat ini.

 

Terjadi perubahan rencana untuk makan malam mereka. Setelah tiba di kedai langganan mereka semasa bersekolah dulu, ternyata kedai itu sudah tutup. Kedai itu tutup lebih awal, membuat mereka terpaksa harus berputar-putar di sekitar sana untuk mencari kedai ramyeon yang kelihatannya cocok dengan selera mereka. Lalu mereka menemukan kedai ini, dan mereka memutuskan makan malam di tempat ini juga.

 

Tanpa kata Daeun berjalan mendahului Sehun keluar dari kedai itu. Di depan pintu kedai bagian luar ia terdiam menunggu Sehun selesai dengan pembayaran, sementara ia kembali melanjutkan gundah gulananya yang tadi sempat terinterupsi.

Perasaan ini… Apakah salah?

Ia telah melewati tahun-tahun sebagai sahabat Sehun. Dimulai dari pertemuan mereka di bangku sekolah menengah pertama, di mana Daeun menjadi anak baru di kelas Sehun. Saat anak lelaki itu menjadi orang pertama mengulurkan tangan padanya—sebab ia duduk di samping kiri kursi Daeun—namun Daeun hanya membalas seperlunya. Saat itu Daeun masih ingat, tatapan Kai—yang saat itu duduk di sisi lain kursi Sehun—begitu menusuk dan penuh intimidasi saat melihat pancaran kegembiraan di mata Daeun begitu tahu anak lelaki sekeren Sehun mau menyapanya lebih awal. Membuat Daeun sebagai anak baru merasa ciut dan terpaksa berpura-pura tak peduli dengan sapaan hangat Sehun.

Daeun tak begitu dekat dengan anak lelaki mana pun di kelas itu. Ia membiasakan diri untuk bergaul dengan teman-teman perempuannya, sedangkan Sehun juga lebih banyak berkumpul dengan para anak lelaki di waktu senggang pelajaran mereka. Setiap Daeun ingin selangkah lagi lebih mendekatkan dirinya pada Sehun, ia selalu dibentengi dengan tatapan mengintimidasi Kai. Lagi-lagi Daeun ciut, dan tak berani melirik Sehun terang-terangan selama ada Kai di dekatnya.

Kedekatan mereka baru berawal saat pelajaran olahraga di hari Kamis yang panas. Mereka dan teman-teman sekelas mereka yang lain ditugaskan untuk lari mengelilingi lapangan olahraga outdoor selama enam kali, namun kebanyakan dari mereka mulai mengeluh kelelahan di saat mereka baru berhasil mencapai empat kali putaran di lapangan luas dan panas tersebut. Menjelang putaran kelima, Sehun tiba-tiba tersuruk jatuh. Daeun yang kebetulan sedang berada di belakang Sehun, langsung bergerak cepat dan membantu Sehun berdiri. Akhirnya ia bersama dengan guru olahraga mereka sama-sama memapah Sehun menuju ruang kesehatan. Selama Sehun diperiksa oleh dokter sekolah, Daeun hanya bisa bergeming di depan pintu ruangan bagian luar. Setelah dokter itu menyadari Daeun terus berdiri di luar, ia akhirnya mempersilahkan Daeun ikut masuk dan menunggu Sehun sampai kesadarannya pulih.

Beruntung hari itu Kai sedang tidak masuk. Jika tidak, pasti bukan Daeun yang menolong Sehun dan menunggu bocah lelaki itu sampai kesadarannya pulih. Dan mereka tak akan bisa dekat sampai detik ini.

 

“Daeun, kau melamun?”

Pertanyaan Sehun membuat Daeun cukup terkejut di posisinya. Gadis itu menolehkan kepalanya ke samping dan menemukan Sehun baru saja menutup pintu kedai di belakangnya.

“Tidak.” Daeun menggeleng cepat.

Sehun mengerutkan keningnya. “Tapi sejak tadi aku memanggilmu, dan kau tidak merespon sama sekali. Sejak tadi kuperhatikan tingkahmu aneh sekali.”

Daeun tidak membalas kata-kata Sehun lagi. Pun ketika lelaki itu mengajaknya beranjak dari depan pintu kedai tersebut, Daeun hanya diam dan hal tersebut membuat Sehun bingung.

“Daeun, kau kenapa?” tanya Sehun, lalu mengambil posisi berdiri di hadapan gadis itu. Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya, menatap netra cokelat kenari milik Sehun. Penuh keragu-raguan di sana; membuat Sehun mengerutkan keningnya semakin dalam saat merasakan itu.

“Sehun, maafkan aku,” ucap gadis itu tiba-tiba lalu menghambur ke pelukan Sehun. Sehun hanya bisa terdiam membisu selama beberapa detik, sementara ia membiarkan gadis itu memeluknya semakin erat. Samar-samar ia mulai mendengar suara isakan tertahan saat gadis itu membenamkan wajah dalam pelukannya.

“Hei, hei, kau itu kenapa?” tanya Sehun, sedikit khawatir melihat gadis itu menumpahkan tangis dalam pelukannya. “Apa kau baru saja patah hati?” Sehun mencoba menggodanya untuk mencairkan suasana.

“Jika aku mengatakan semuanya padamu sekarang, apa kau masih mau mendengarkanku?” tanya Daeun di sela isaknya. Sehun semakin bingung dengan arah pembicaraan Daeun, namun untuk menguak semuanya maka mau tak mau ia harus mengiyakan semua kata-kata Daeun.

“Ya, katakan saja.”

“Sehun, kurasa aku… Aku…” Gadis itu berkata terbata, sementara ia memeluk Sehun semakin erat; seakan tak sanggup untuk melepaskan lelaki itu lagi. Sehun baru saja akan menenangkan gadis itu dan meyakinkannya lagi untuk mengatakan apa saja—saat tiba-tiba gadis itu menyambung kembali kalimatnya,

“kurasa aku menyukaimu.”

 

Sehun membeku selama beberapa detik setelah ia mendengar kelanjutan kalimat yang tadi sempat menggantung itu. Perlahan ia melepaskan dirinya dari pelukan Daeun, lalu menatap lekat pada netra cokelat gelap milik gadis itu. Gadis itu tampak begitu salah tingkah, bahkan tak berani membalas tatapan Sehun.

“Kenapa?” Kening Sehun berkerut saat ia melepaskan pertanyaan itu.

“Karena… Karena aku…” Daeun menyusun kalimatnya susah dan payah. Seluruh kata-katanya bagai tercekat dan tertahan di tenggorokan. “Karena aku sudah menyukaimu sejak dulu. Baiklah, aku jujur. Aku sudah tertarik padamu sejak pertemuan di hari pertama, hanya saja… Aku begitu takut dan cemas karena… Karena aku hanya anak baru. Dan Kai… Kai sepertinya tidak pernah suka aku dekat denganmu…”

“Kai sudah pernah bilang padaku bahwa ia curiga kau menyukaiku,” sahut Sehun tenang, sementara kedua telapak tangannya menangkup pipi gadis yang berdiri di hadapannya itu. “Dia terus mengulanginya selama puluhan atau bahkan ratusan kali—dan terakhir kali ia mengatakannya sekitar sebulan atau dua bulan yang lalu.”

“Lalu… Kau?” Daeun bertanya ragu-ragu, dan juga malu.

Sehun tersenyum tipis. “Maafkan aku, aku tidak bisa…” Sehun menghentikan kalimatnya ketika melihat kilatan kecewa di mata sahabat perempuannya itu. “Daeun, aku memang menyayangimu, tapi untuk konteks sebagai… Sahabat. Maaf, tapi aku sudah… Aku sudah punya gadis lain, dan aku amat sangat mencintainya. Meskipun semuanya baru terasa jelas saat kami sudah… Saat kami sudah tak bersama lagi. Aku, aku yang bodoh karena telah mencampakkannya begitu saja.”

Sehun merasa begitu bersalah ketika melihat tatapan Daeun yang memendam kekecewaan begitu besar. Sehun tersenyum lebih lebar untuk mengusir patah hati sahabatnya.

“Tapi apapun yang terjadi, kau tetap sahabatku,” ucap Sehun sungguh-sungguh. “Aku tak akan melupakanmu seumur hidup, dan… Oh ya, tentu saja cintamu juga. Terima kasih sudah mencintaiku.” Sehun menutup kata-katanya dengan memberikan satu ciuman di kening sahabat perempuannya itu. Ciuman yang bisa berarti permintaan maaf—untuk cinta yang tak bisa ia balas—dan juga janji untuk terus menyayangi gadis itu sebagai satu-satunya sahabat perempuan yang pernah ia miliki seumur hidup.

Daeun merasakan tubuhnya yang berangsur menemukan ketenangan saat itu juga. Ia memejamkan matanya, membiarkan setetes airmata mengalir untuk terakhir kalinya sebelum alur di pipinya mengering.

‘Terima kasih sudah mencintaiku’—rasanya kalimat itu cukup menenangkan, meskipun tak cukup melegakan. Mengetahui cintanya tak terbalas tentu membuatnya kecewa, namun memangnya apa lagi hal yang bisa ia lakukan?

Sebagai seorang perempuan yang ‘mencintai’ sahabatnya dengan tulus, ia hanya bisa berharap semoga sabahatnya bisa meraih kebahagiaan dengan siapapun orang yang dicintainya. Di sisi lain ia juga berdoa supaya persahabatan mereka akan terus terjaga, meskipun sempat goyah dengan perasaan cinta sepihak. Suatu saat nanti ia juga pasti akan menemukan cinta yang lain, persis seperti cinta sang sahabat yang telah ia relakan untuk gadis lain. Pasti.

 

Tiba-tiba suara benturan keras yang berbarengan dengan decitan ngilu rem terdengar begitu memekakkan telinga, membuat Sehun melepaskan ciumannya seketika. Beberapa saat lamanya mereka sama-sama kaget, dan mencoba saling bertanya melalui pesan atensi; sementara orang-orang di sekitar mereka ramai-ramai berlari menuju jalan raya. Mereka berdua mengerling ke arah orang-orang yang berkumpul dan membentuk suatu kerumunan di jalan raya, menyebabkan kemacetan yang tak begitu berarti.

Daeun mengerjap kaget. “Sehun, astaga, ada kecelakaan.”

Mereka mendengar orang-orang ramai-ramai mendengungkan kabar satu sama lain di sekitar mereka. Korban kecelakaan itu adalah seorang gadis, dan hal pertama yang Sehun rasakan dalam hatinya adalah suatu debaran yang tidak biasa.

Tanpa kata Sehun segera melangkahkan kakinya menuju kerumunan itu, bersatu dengan arus orang lain yang semakin banyak mengerubungi tempat kejadian. Entah mengapa perasaannya digelayuti firasat yang begitu buruk, ia gelisah dan ingin rasanya cepat-cepat tiba di depan si korban. Ia ingin memastikan bahwa firasatnya salah. Ia ingin memastikan bahwa gadis korban kecelakaan itu bukanlah seseorang yang dikenalnya—berharap firasatnya salah besar.

Namun kerumunan yang terlalu ramai mempersulit Sehun untuk mencapai garis terdepan. Ia tertahan oleh beberapa orang, ditambah lagi barikade petugas keamanan yang berjaga. Ia hanya bisa melihat tubuh seorang gadis terkulai di atas aspal, berbalut mantel gelap dengan genangan darah di sekitar tubuhnya. Sepatu kets yang dipakai gadis itu mengingatkan Sehun pada Minhee.

Tidak, tidak, itu bukan Minhee. Memangnya sedang apa gadis itu di sini?

 

Sementara dari sisi lain, Sehun melihat seorang lelaki baru saja tiba dan langsung tersuruk berlutut di samping sang gadis. Sehun tak bisa melihat dengan jelas sosok lelaki itu—hanya surai sewarna ravennya saja yang sedikit mengingatkan Sehun pada seseorang. Sehun juga tak bisa mendengar jelas apa yang dikatakan oleh lelaki itu pada si gadis, yang jelas lelaki itu tampak frustasi melihat keadaan gadisnya. Lelaki itu menyentuh gadisnya begitu ragu, seakan takut memperparah jengkal tubuh gadisnya yang sudah dipenuhi luka dan darah. Sehun meringis pilu, pun saat lelaki itu meraungkan sesuatu—yang sepertinya nama si gadis—yang mungkin merupakan wujud rasa frustasi saat menemukan kedua mata gadis itu telah menutup. Entah karena ia kehilangan kesadaran atau bahkan nyawa, Sehun terlalu ngeri jika harus membayangkannya.

Kehilangan seseorang yang dicintainya begitu dalam… Bagaimana jika Sehun yang harus kehilangan Minhee dengan cara seperti itu?

 

“Sehun, jangan…”

Sehun merasakan lengan mantelnya secara perlahan ditarik-tarik oleh seseorang—yang ternyata Daeun. Daeun terlihat ketakutan dan pucat di tengah kerumunan orang-orang, terus menarik lengan mantel Sehun agar menjauh dari tempat itu. Anyir darah mulai tercium, dan Sehun menyadari wajah Daeun yang semakin pucat.

Sehun menuruti keinginan Daeun untuk menjauh dari lokasi itu; dan setelah cukup jauh, Sehun baru bisa menanyakan mengapa Daeun begitu pucat saat berada di dekat lokasi kecelakaan tadi.

“Aku takut darah…” bisik Daeun parau, sementara dari kejauhan mereka melihat paramedis yang segera bertindak menolong korban kecelakaan tadi. Daeun memandang sendu pada Sehun. “Setiap melihat genangan darah, aku selalu ingat eomma.”

Sehun segera teringat salah satu kenangan menyakitkan Daeun—terkelam di masa lalu gadis itu, jika boleh dikatakan. Kenangan yang berhubungan dengan genangan darah, saat Daeun harus kehilangan ibunya di usia belia.

“Oke, maafkan aku yang tadi tiba-tiba langsung ikut berlari bersama orang-orang ke sana. Aku hanya penasaran,” Sehun meminta maaf atas kelakuannya tadi dan tersenyum singkat pada Daeun.

Daeun mengerutkan keningnya. “Penasaran?”

Sehun mengulaskan senyumnya lagi, kali ini begitu tipis. “Aku hanya berharap… Gadis itu bukan gadis yang aku cintai. Menghapuskan firasat burukku saja. Aku pasti sudah gila jika berada dalam posisi lelaki tadi.”

“Lelaki tadi?” Daeun lagi-lagi bingung. Ia memang tak sempat menyaksikan apa-apa tadi, karena ia terdesak kerumunan orang-orang yang begitu ramai dan berisik di sekitar lokasi kejadian.

“Ya, sepertinya dia kekasih si gadis korban kecelakaan,” Sehun menarik spekulasinya sendiri. “Aku tak tahu gadis itu selamat atau tidak, yang jelas ia kehilangan kesadarannya.”

“Semoga ia selamat,” doa Daeun tulus. Sehun mengangguk mengiyakan, mencoba menghapus firasat buruk yang masih bercokol di kepalanya.

 

Tidak, tidak mungkin itu Minhee, Sehun mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tidak mungkin gadis yang dicintainya itu berada di tempat ini. Jika memang itu benar dia, memangnya apa yang ia lakukan di sini?

 

 

 

| T B C |

 

 

A/N:

Oh, hai, maaf aku ngaret postingnya. Ada beberapa hal yang memang sempat menjadi faktor aku menunda posting chapter 23 di sini. 

Oke.

 Yep, ini klimaks kedua yang sejak jauh hari sudah aku bilang.

 

Aku ngga banyak kasih author’s note kali ini.

Untuk Q&A chapter 22 kemarin tidak aku share di sini, karena semua pertanyaan kalian di chapter yang lalu telah kubalas satu persatu secara langsung. Jadi silahkan dicek jika kalian ingin tahu bagaimana jawaban aku ;)

Silahkan cuap-cuap lebih banyak denganku di @shineshen97 atau jika ada pertanyaan boleh mengajukan komentar, dan akan aku balas kemudian. Terima kasih :)

 

 

With love,

shineshen

279 thoughts on “Secret Darling | 23rd Chapter

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s