Letter Form Nowhere : Epilogue

Untitled-1

EPILOGUE| by Apreelkwon
Kai – Sehun – Chanyeol – Krystal – Seulgi | Romance – Friendship | PG | After Story

“Years will come and years will go, good days and bad days too”

Letter Form Nowhere -After Story.

read too : Letter From Nowhere


Recomended Song :

Ada dua teori yang selama ini berkembang diluar sana. Tentang ke-absahan persahabatan antara perempuan dan laki – laki. Mereka bilang mustahil untuk kami –perempuan dan laki – laki untuk menjalin persahabatan murni tanpa cinta, aku setuju. Pasalnya aku sendiri mengalami hal semacam ini, ketika kau sering menghabiskan waktu bersamanya, terbiasa menjadi orang yang mengerti akan dirinya sehingga kau tamak dan merasa kau mencintainya. Aku pernah mencintai sahabatku sendiri, jadi mungkin benar adanya bahwa tidak ada persahabatan murni antara perempuan dan laki – laki.

Kemudian semua itu terpatahkan ketika waktu berjalan dan 10 tahun berlalu, aku masih memiliki seorang perempuan disampingku dan dia adalah sahabatku, ya.. sahabat murni. Setidaknya kalian diluar sana mulai saat ini harus percaya, cinta atau tidak, sayang atau tidak, kekasih atau bukan, perempuan dan laki – laki masih bisa menjalin persahabatan murni dalam jangka waktu yang panjang.

Perasaan seperti bertahan 10 tahun lamanya. Aku, Sehun, Chanyeol Hyeong, Seulgi, Soojung dan tidak lupa sahabat tercinta kami Wendy, masih berada disatu lingkaran persahabatan. Kami berenam masih sahabat, meski satu sudah berada sangat jauh dari kami. Dan dua….

Sudah mengikrarkan janji menjadi, pasangan hidup.

Percaya atau tidak, salah satu dari kami berakhir dengan memutuskan untuk hidup bersama selamanya. Terkadang sebuah pernikahan terjadi bukan hanya karena cinta semata, percayalah. Terbiasa bersama, saling mengenal, memiliki tujuan hidup yang sama, itu lebih penting dari sekedar pengungkapan kata cinta semata layaknya anak SMA.

Dan begitu waktu berlalu diantara kami.

.

.

Tahun ke-12

“10 menit sudah berlalu, kau butuh berapa lama lagi Kim Jongin?”

Memakai dasi adalah satu dari sekian banyak hal yang sampai hari ini tidak bisa Jongin lakukan sendiri. Maka dari itu, 10 menit yang Soojung berikan tidak pernah cukup. Tidak pernah. Jongin hanya tersenyum kearahnya ketika dia membuka pintu kamar dengan suara setengah berteriak dan mendapati Jongin masih berdiri didepan cermin dengan dasi belum bertaut.

“Mungkin hanya butuh sekitar 5 menit jika kau tadi bersedia memasangkanku dasi,” jawab Jongin sambil tersenyum kearahnya.

Dua belas tahun berlalu sejak pertama kali mereka bertemu dilapangan hijau Seungri saat penerimaan murid baru. Soojung sekarang sudah tumbuh menjadi wanita, sungguh seorang wanita. Dengan gaya elegant seperti tokoh utama dalam drama yang sering kalian lihat. Hanya saja jika didepan sahabatnya dia tetap saja Jung Soojung yang lama.

Masih berdiri diambang pintu, Soojung berdecak sebal mendengar jawaban Jongin tapi kemudian melangkah mendekat sambil tersenyum. “Seharusnya tadi kau minta bantuanku,” Jawab Soojung.

“Apa aku masih harus meminta bantuan? Bukankah kita sahabat?” sengaja Jongin memberi penekanan pada kalimat terakhir yang membuat mereka tertawa.

“Sekarang kau harus melakukannya,” jawab Soojung ketika dia sudah berdiri tepat didepan Jongin untuk memasangakan dasi.

“Baiklah Nyonya Kim-”

Belum selesai Jongin dengan kalimatnya, tapi Soojung sudah memotong. “Sst~ hari ini hari pernikahan Oppa ku, jadi lupakan status kita sekarang dan mari kembali ke masa SMA kita dulu,” potong Soojung sambil tertawa.

Wae?

“Aku masih merasa bersalah karena tidak menepati janjiku,”

“Untuk menikah dihari yang sama? Lagi pula orang bodoh mana yang membuat janji semacam itu, terlebih kau sendiri yang melanggarnya,”

“Aku tidak akan melanggarnya andai saja calon istrinya tidak bersikeras menyelesaikan sertifikat jaksanya terlebih dahulu,”

“Aku mengerti, lagi pula terlalu lama menunggu satu tahun,” jawab Jongin sambil tersenyum.

Soojung selesai dengan urusan dasi kemudian meninju pundak Jongin pelan. “Kau memang yang selalu mengerti, Tuan Kim. Berbeda dengan Sehun yang tidak pernah berhenti mengungkit masalah pelanggaran perjanjian ini, padahal Chanyeol oppa sendiri tidak masalah,”

Jongin hanya menggerakan bahunya pelan. Dia kembali menatap pantulannya dicermin. Lihat, untuk keberapa kalinya dia berpakaian rapih seperti ini. Kemeja putih, Jas hitam, dasi, dan tidak lupa bunga yang disematkan disaku kiri sebagai tanda dia adalah orang terdekat mempelai lelaki. Hari ini, adalah hari yang mereka nantikan, pernikahan Chanyeol, satu – satunya dari mereka yang belum menikah. Setelah melewati masa sulit, perjuangan diluar negeri, penantian masa studi calon pengantinnya, belum lagi jika mengingat dulu Chanyeol memiliki tragedi dengan adiknya sendiri, akhirnya Chanyeol menemukan pasangan hidupnya dan memutuskan mengikrarkan janji hari ini.

“Aku masih ingat ketika pertama kalinya berpenampilan seperti ini di pernikahan Sehun, hahahha,

Sekali lagi Jongin memastikan penampilannya, ketika kemudian dia mendapati pantulan Soojung berdiri disampingnya. Soojung dengan dress putih dan blazer hitam, ditambah rambut coklat tuanya yang tergerai manis, semakin memberikan kesan bahwa seorang Jung Soojung telah tumbuh dewasa.

“Hahaha,” Jongin tiba – tiba tertawa. “Kenapa canggung sekali mendapati bayangan kita dalam satu cermin seperti ini,”

“Kenapa?” tanya Soojung sambil merapihkan tatanan rambutnya.

“Karena aku sadar kita sudah melewati waktu sangat lama bersama, ternyata,

“Hari ini tepat 12 tahun kita bersama, kita berenam,” jawab Soojung sambil tersenyum. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada satu figura disamping cermin. Foto bersama mereka beberapa tahun lalu, ketika mereka berenam piknik bersama di Villa keluarga Wendy. “Aku penasaran secantik apa Wendy jika dia masih bersama kita,”

“Mungkin akan lebih cantik darimu,” timpal Jongin sambil menyambar arloji diatas meja rias tidak lupa senyum jahil terpatri disana.

“Aku maafkan karena itu Wendy,” Soojung melemparkan tatapan sebal pada Jongin. “Ayo cepat, aku kesini untuk menjemputmu karena yang lain sibuk dengan persiapan disana bukan untuk menemanimu berdandan dan bernostalgia seperti ini,”

“Maafkan aku Nyonya Kim, ayo,” Jongin meraih tangan Soojung kemudian menautkannya, satu cincin terlihat melingkar di jari manis Jongin. Begitupula dengan milik Soojung.

Oho! Singkirkan tangan nakalmu Kim Jongin, aku tidak-”

“Oke aku mengerti,” potong Jongin sambil tertawa pelan kemudian melangkah mendahului Soojung.

Mereka sudah tidak sendiri.

.

.

Tahun ke-7

“Ayo kita buat perjanjian,”

Seulgi masih sibuk dengan laptop dan kesepuluh jarinya tengah berlari cepat diatas keyboardnya, ketika Sehun memecah sepi diantara mereka.

“Perjanjian apa?” tanya Seulgi masih belum melepaskan pandangannya dari layar laptop. Bukan tanpa alasan Seulgi begitu fokus. Masalahnya dia sedang mengejar target penyusunan skripsi agar bisa secepatnya mendapatkan tiket wisuda. Sehun juga, mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, café, apartement Sehun, tempat part time Jongin untuk bergelut dengan penelitian masing – masing.

Target mereka, lulus tahun ini.

“Berapa bulan lagi kita menuju wisuda?” tanya Sehun kemudian.

“Jika sesuai jadwal 10 bulan lagi, omg dan itu mengingatkanku hanya sedikit waktu tersisa untuk menyelesaikan semua ini,”

“10 Bulan,” ucap Sehun pelan sambil memainkan bolpoinya. “Saat kelulusan nanti, mari kita bertaruh,”

“Apa?”

“Membawa kekasih sebagai pendamping,”

Akhirnya Seulgi mengalihkan perhatiannya dari layar laptop lalu memandang Sehun dengan tatapan kaget, “Eung?”

“Yang masih sendiri saat kelulusan dia yang kalah. Dan yang kalah harus menuruti semua permintaan yang menang,”

“Ya! Oh Seh-”

“Tapi jika kita berdua masih sama – sama sendiri, maka kita yang menjadi pasangan, lalu setelah mendapatkan pekerjaan kita menikah,” lanjut Sehun sambil menatap Seulgi dengan wajah menahan tawa. “Keren bukan?”

“KAU GILA! Kau fikir cinta dan pernikahan adalah permainan?” Seulgi setengah berteriak ketika mengucapkan kalimat awal, tapi ketika atensi pengunjung café beralih padanya dia segera menurunkan volumenya. “Kau gila!” lanjut Seulgi, tidak lupa dia menambahkan hantaman buku tebal dikepala Sehun.

“Bukan begitu, karena kau dan aku sama – sama tidak ingin berakhir menjadi suami istri, itu malah akan menjadi motivasi terbesar untuk skripsi ini. Begini, Kau sangat tidak mau berakhir denganku maka dari itu kau akan semangat mencari pacar dan setelah punya pacar kau akan memiliki seseorang yang menyemangatimu maka skripsi ini akan segera selesai, yang artinya kau akan wisuda tahun ini dan lebih detailnya lagi kau memiliki kesempatan untuk melamar di perusahaan yang kau idamkan itu. Karena tahun ini mereka tengah membuka lowongan,”

Seulgi menggeleng pelan ketika mendengar penuturan Sehun kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya. “Aku fikir hanya Soojung yang memiliki ide perjanjian gila, ternyata kau lebih gila,”

“Bagaimana?”

“NO!” jawab Seulgi tegas.

“Berarti kau sungguh ingin berakhir menjadi istriku?”

“NO!” jawab Seulgi lebih tegas.

“Lalu-”

“Oke deal, hentikan pembicaraan tentang taruhan gila ini,”

“Oke Call, ” jawab Sehun tertawa puas.

Selama ini Sehun merasa bahwa Seulgi adalah sosok sahabat yang selalu mementingkan apa yang temannya fikirkan. Membantu Sehun, Jongin, Soojung. Seulgi selalu seperti itu. Membuatnya tidak peka dengan lingkungan, bahwa sudah saatnya Seulgi memikirkan dirinya sendiri dan membuka hati untuk menyambut orang lain dihatinya. Mungkin Sehun harus melakukan hal seperti ini untuk memberitahu bahwa banyak lelaki yang menaruh hati padanya.

Sehun menceritakan perjanjian mereka pada yang lain, ketika mereka berempat tengah melakukan video call dengan Chanyeol. Dan reaksi mereka? Mereka malah berharap keduanya tidak mendapatkan pasangan dan berakhir menjadi sepasang suami istri.

Dan 10 bulan yang mereka tunggu datang. Soojung dan Jongin menghadiri kelulusan Sehun dan Seulgi, ketika mereka dikenalkan pada dua sosok baru.

“Kenalkan dia pacarku, Lee Jinki,” Seulgi mengenalkan lelaki dengan senyum manis yang berdiri didepannya.

“Dan ini kesayanganku, Park Sooyoung,” tidak kalah, Sehun juga mengenalkan sosok perempuan dengan rambut pirang yang terlihat begitu manis.

“Padahal aku berharap perjanjian kalian berakhir dengan ending yang berbeda,” ucap Jongin ketika menjabat tangan Jinki.

.

.

Tahun ke-8

Chanyeol melanjutkan karirnya diluar negeri bukan berarti memutuskan komunikasi mereka. Seperti hari ini, disalah satu café, mereka tengah melakukan video call bersama Chanyeol. Duduk melingkar dengan laptop dan webcam yang tersambung, melalui itulah mereka saling bertukar sapa dan menanyakan kabar masing – masing.

“Kapan kau menikah?” tanya Chanyeol kemudian yang sontak membuat pandangan mereka tertuju pada Seulgi kemudian berganti pada Sehun.

“Aku tidak mungkin secepat itu Sooyoung masih kuliah,” jawab Sehun sambil tersenyum. Kemudian atensi mereka beralih pada Seulgi.

“Soojung bilang Jinki sukses dengan karirnya di perhotelan, kau tidak mungkin melepaskannya kan Seul?” tanya Chanyeol lagi.

Seulgi tersenyum, kemudian mengangguk pelan. “Dia terlalu sempurna untuk ditinggalkan begitu saja, tapi aku belum berfikir untuk segera menikah. Kami sama sekali belum membicarakan itu. Dan lagi pula, seharusnya Oppa terlebih dahulu yang menikah dibanding kami,”

“Tentu,” jawab Chanyeol pasti.

Sontak mereka berempat mengalihkan pandangannya pada layar laptop –wajah Chanyeol, ketika mendengar jawabannya. Chanyeol yang menyadari atensi keempat adiknya segera sadar dan tertawa pelan.

“Ini berita bagus bukan, terutama untukmu Soojung-ah,

“Jadi?”

“Namanya Amy, dia orang Kanada. Aku telah mengenalnya selama 8 bulan,”

“Orang asing?” kali ini Soojung yang angkat bicara ketika sang kakak menyebutkan identitas perempuan yang tengah dekat dengannya.

Chanyeol mengangguk pelan, “Aku fikir tidak masalah, sekarang banyak terjadi pernikahan seperti itu,”

“Ayah dan Ibu sudah tahu?”

Kali ini jawabannya sebuah gelengan, “Tidak dalam waktu secepat itu juga, hanya saja aku ingin mengabari kalian terlebih dahulu,”

Mereka mengangguk. Seulgi dan Sehun terdengar mengucapkan selamat dan kembali menyakan ini itu tentang si perempuan. Dan nampaknya perbincangan ringan mereka akan berlanjut jika saja Jongin tidak menginterupsi mereka dengan satu pernyataan.

“Boleh aku melakukan satu pengakuan?” ucap Jongin.

Sehun, Seulgi dan Chanyeol menghentikan perbincangan mereka lalu mengubah perhatian pada Jongin. “Sebenarnya aku ingin mengatakan ini sejak lama, tapi aku merasa tidak enak untuk beberapa hal,” lanjutnya.

“Apa yang ingin kau katakan? Jangan berbelit – belit,” Sehun menyela kalimat Jongin sambil menatap sahabatnya penasaran.

Jongin belum menjawab, dia malah tersenyum kemudian detik selanjutnya dia meraih tangan Soojung yang duduk disampingnya kemudian tersenyum kearah layar laptop. “Maafkan aku Hyeong, aku sedang menjalin sebuah hubungan dengan adikmu sekarang,”

“Akhirnya,” Seulgi yang pertama merespon sambil tersenyum.

.

.

Tahun ke-12

Sepuluh menit kemudian Jongin dan Soojung tiba di gedung tempat pernikahan Chanyeol akan digelar. Mereka segera memacu langkah mengejar waktu, Soojung bahkan tidak jarang terus mengeluh karena Jongin terlalu lama. Beberapa kali dia juga nampak menerima telfon dan mengabari bahwa mereka sedang didalam lift menuju aula acara berlangsung.

Sesampainya di lantai yang mereka tuju, Soojung segera memimpin jalan menuju ruangan dimana mereka akan berkumpul. Tentu saja ruangan pengantin pria dimana dua sahabat mereka sudah menungguh. Sehun dan Seulgi sudah disana.

Jongin merasakan sensasi menakjubkan, dia tersenyum tanpa komando. Sudah dua kali dia menghadiri pernikahan sahabatnya dan sekarang Chanyeol, membuatnya tersadar jika mereka sudah melewati banyak waktu bersama. Dan Jongin masih tidak habis fikir dari dia, Chanyeol dan Sehun, ternyata Sehun yang pertama kali melangkah ke pelaminan. Sekarang bahkan dia sudah memiliki seorang gadis kecil. Oh Sehun sudah menjadi seorang Ayah.

“Ya! Kenapa kalian lama sekali?” suara Seulgi menyambut mereka ketika pintu ruangan berhasil Soojung dorong.

“Salahkan lelaki yang masih belum bisa memasang dasi sendiri ini,” delik Soojung kearah Jongin yang kemudian direspon oleh tawa Jongin.

“Memasang dasi itu keahlian perempuan, untuk apa aku handal jika ada perempuan disampingku, Kau setuju, Sehun Appa?” Jongin melempar pertanyaan pada Sehun yang tengah duduk disalah satu sofa, yang kemudian Jongin pun bergabung disana. “Dimana Chanyeol Hyeong?,” tanya Jongin lagi kali ini lebih pada Seulgi yang tengah merapihkan sesuatu dimeja sudut ruangan dan Soojung sekarang sudah bergabung disana.

“Dia tampak terlalu khawatir, mungkin mengunjungi ruangan calon istrinya bisa menjadi solusi agar dia kembali tenang,” jawab Seulgi. “Dia sama sekali tidak bisa memberikan solusi, padahal dia pernah diposisi seperti ini sebelumnya,” lanjut Seulgi yang kali ini kalimatnya dia tujukan untuk Sehun.

Sontak jawaban Seulgi membuat Jongin tertawa kemudian memperhatikan sahabatnya ini. Penampilan Sehun sama dengan dirinya, masih sama muda seperti dirinya, masih sama tampan seperti dirinya hanya saja ada satu pembeda besar diantara mereka. Kehadiran sosok imut dipangkuannya yang sekarang tengah menatap Jongin intens. “Aku masih tidak percaya kau sudah menjadi Ayah,”

Sehun menatap Jongin, tersenyum pelan kemudian menatap putri pertamanya yang tengah terduduk di pangkuannya. “Kau tidak percaya bukan? Aku sendiri kadang tidak percaya ketika dia menyuruhku menggendong Arin,”

“Arin-ah, apa kau percaya memiliki Ayah seperti ini?” Jongin bertanya pada putri mungil Sehun, Oh Arin, yang dijawab senyuman manis dengan kedua pipi chubby yang menggembung. “Tapi setidaknya kau memiliki Ibu yang meyakinkan,” lanjut Jongin sambil menjawil pipi putih itu pelan.

“Jangan main – main dengan putriku,” protes Sehun yang tidak ditanggapi oleh Jongin.

“Soojung-ah, cepat susul Sehun,” ucap Jongin kemudian yang menghentikan aktivitas Soojung dan Seulgi menyusun entah apa itu. Mereka hanya berempat diruangan, seharusnya ada Chanyeol tapi ternyata dia tengah mengujungi kamar pengantin wanita sebelum acara dimulai.

“Aku sedang memikirkannya,” jawab Soojung sambil tersenyum pelan diikuti oleh Seulgi kemudian.

“Kehadiran mereka adalah yang terbaik, percayalah,”

Seulgi dan Soojung melanjutkan perbincangann mereka mengenai kehadiran bayi yang akan memberikan efek luar biasa –menurut teori Seulgi. Sedangkan Jongin dan Sehun kembali terjun dalam perbincangan ringan, sesekali mereka bahkan bermain dengan Arin yang sedang belajar berbicara. Dimana setiap kalimat yang gadis kecil ini ucapkan pasti akan mengundang tawa mereka yang berada diruangan.

Mereka masih melanjutkan gurauan bersama Arin, ketika pintu ruangan itu kembali terbuka disusul dengan kehadiran Chanyeol dan seorang perempuan. Seperti pengantin kebanyakan, Chanyeol terlihat begitu tampan dengan setelah tuxedo dan aura bahagianya. Ketika masuk ruangan dan mendapati Soojung juga Jongin sudah ada disana, sontak Chanyeol tersenyum bahagia. “Akhirnya kau datang juga,” ucap Chanyeol sambil menghampiri Jongin kemudian memeluknya. “Apa harus Soojung yang menjemputmu agar kau cepat sampai sini, huh!

“Karena hanya Soojung yang bisa membuat Jongin bergerak cepat,” sahut Sehun.

“Jangan berkata seperti itu, kau bisa membuat sebuah kesalah pahaman pada seseorang Sehun-ah,” ucap Soojung sambil menjatuhkan pandanganya pada sosok perempuan yang berdiri tidak jauh darinya. Perempuan dengan senyum manis, rambut ikal yang dia ikat rapih dan dress putih membuat penampilannya sungguh manis untuk dilihat.

“Kau tidak perlu cemburu, Nara­. Tahu kan seperti apa hubungan Soojung – Jongin, lagi pula Soojung-”

“Aku tahu Oppa, aku tahu tentang hubungan kalian semua tidak perlu khawatir. Lagi pula Soojung eonni tidak mungkin tertarik dengana Jongin Oppa, ketika dia sudah memiliki Myeongsoo Oppa yang begitu sempurna. Aku benar Eonnie?” jawab perempuan bernama Nara itu sambil tersenyum kemudian memacu langkahnya menuju sofa dimana Jongin dan Sehun duduk lalu menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Jongin.

“Tentu saja, Jongin bukan apa – apa jika dibanding suamiku,” respon Soojung membela ketika nama suaminya disebut.

Kim Myeongsoo. Siapa sangka lelaki yang pernah menjadi bahan tragedi antara Soojung dan Chanyeol, akan menjadi suaminya dan pernikahan mereka sudah menginjak tahun pertama. Sebelumnya Soojung memang sempat menjalin hubungan dengan Jongin, tapi kemudian mereka sadar jika status sepasang kekasih tidak akan pernah cocok untuk mereka. Sampai beberapa tahun setelah mereka berpisah dan mengembalikan status sebagai sahabat, Soojung bertemu dengan Myeongsoo dan semua perasaan itu kembali muncul.

“Jangan dengarkan dia Nara, apapun menurutnya, aku adalah calon suami paling sempurna untukmu,” kali ini Jongin yang mengeluarkan kalimatnya sambil mengecup pelan dahi perempuan yang duduk disampingnya. Shim Nara, perempuan yang Jongin yakin akan menjadi calon istrinya kelak.

Semua berjalan nampak tidak seperti rencana, karena pada dasarnya manusia hanya bisa berencana dan semua berjalan sesuai skenario pemilik alam. Kenyataan Soojung dan Jongin pernah menjalin hubunga selama beberapa tahun, berakhir dengan mereka menemukan cinta baru yang menurut hati lebih pantas.

Chanyeol yang menemukan cintanya pertama kali sejak terjatuh pada Soojung, juga tidak berjalan mulus. Meski kabar putusnya Chanyeol dengan gadis Kanada itu membawa berita bahagia bagi Soojung. Lalu beberapa tahun kemudian setelah kembali ke Korea, Chanyeol bertemu dengan perempuan lain dan hari ini akan resmi menjadi istrinya. Perempuan bernama Lee MiJoo.

Beda cerita dengan Seulgi dan Sehun, mereka yang memutuskan untuk hidup bersama. Bahkan kehadiran Arin memperkuat apa yang mererka ikrarkan dua tahun yang lalu. Seulgi memang pernah sangat mencinta Jinki, Sehun juga pernah sangat mencinta Wendy lalu juga mencintai Sooyoung. Tapi sekali lagi, cinta dan pasangan hidup bukanlah tentang memilih, tapi tentang takdir. Dan takdir mereka bersatu dua tahun yang lalu.

“Soojung dengan Myeongsoo, Jongin dan Nara, dan yang paling tidak aku percaya adalah Sehun dan Seulgi. Aku sungguh tidak percaya Kau menikah dengan Seulgi,” Chanyeol mengungkapkan perasaannya sambil melihat mereka bergantian. “Bahkan setelah kehadiran Arin,”

“Jangankan Oppa, aku sendiri tidak pernah terbayang akan menjadi istri seorang Oh Sehun,” jawab Seulgi sambil tersenyum. Dia menghampiri Sehun, meraih Arin medekapnya kemudian memberikan ciuman kilat untuk Sehun.

“Aku fikir Jongin akan berakhir dengan Soojung tapi kemudian kalian menemukan pasangan masing – masing. Tapi aku fikir, ini memang benar. Myeongsoo tepat untuk Soojung dan kau Nara, kau tepat telah memilih Jongin,”

“Tentu Oppa,” jawab Nara sambil tersenyum.

“Oh hentikan senyumanmu Nara, kau akan membuat semua orang jatuh cinta padamu,” ucap Soojung saat melihat Nara tersenyum.

“Lihat, seperti itu juga aku jatuh cinta padanya,” respon Jongin ketika mendengar pujian tentang senyuman calon istrinya.

Detik selanjutnya terdengar ketukan menginterupsi dari pintu masuk disusul dengan kehadiran sosok lelaki dengan penampilan sama seperti Sehun juga Jongin. Dia adalah Kim Myeongsoo, suami Jung Soojung. “Aku fikir acaranya akan segera dimulai, Ayo..” ucap Myeongsoo yang kebetulan hari itu dia memiliki peran penting dalam acara pernikahan Chanyeol.

Chanyeol merasakan tubuhya kembali menegang. Ditatapnya Myeongsoo kemudian mengangguk pelan,“Baiklah” melangkah dari ruangan, Chanyeol akan mengubah statusnya. Dia sudah memiliki seseorang disampingnya yang akan menjadi teman sepanjang hidupnya dan kelak menjadi Ayah untuk anak mereka.

Myeongsoo membiarkan Chanyeol berjalan didepan, dia menunggu Soojung, tersenyum kemudian merangkul tubuh perempuan itu sambil ikut meninggalkan ruangan. “Apa kau seperti itu juga dihari pernikahan kita?” tanya Soojung sambil mengarahkan pada Chanyeol.

“Sangat,” jawab Myeongsoo pelan.

Nara dan Jongin menyusul dibelakang mereka, dengan tangan saling bertaut satu sama lain, lagi yang sesekali Naa menyandarkan kepalanya dibahu bidang Jongin. “Ayo kita menikah Oppa,” ucap Nara pelan ditengah langkah mereka meninggalkan ruangan.

“Kapanpun kau mau tuan putri,” jawab Jongin yang sontak mengundang tawa Nara.

Di sisi lainnya, Sehun dan Seulgi menyusul. Melihat sahabatnya dari belakang, sekali lagi Seulgi merasa tersentuh dan sadar bahwa mereka sudah berjalan sangat jauh selama ini. Seulgi bahkan masih tidak percaya, bahwa dia bersama Sehun sekarang.

Sambil mendepak Arin, Seulgi tersenyum menyadari semua kenyataan ini. “Semua terlihat mengesankan bukan?”

“Aku bahkan tidak pernah membayangkan akhir yang indah seperti ini,” jawab Sehun sambil tersenyum kemudian merangkul Seulgi. “Ayo cepat kita susul mereka,”

Officially END.

Noted : Oke, hutang aku untuk Letter From Nowhere resmi lunas. Dan… haruskah kita mengucapkan selamat tinggal untuk fanfic ini, karena they’re officially meet the ending. Dan bagaimana dengan Epilognya? Untuk epilog ini aku lebih konsen ngebangun cerita mereka setelah beberapa tahun kemudian. Ini sungguh menarik..!! I love off all them.

Jadi ijinkan saya sedikit bercerita tentang ending mereka.

Semoga format ending ini ada beberapa orang yang terkecoh, karena emang ini tujuan aku, hehehe. Berakhir dengan Chanyeol menemukan pengganti Soojung dan dia sudah bisa menerima Soojung sebagai murni adiknya.

Apa ada yang kaget dengan keputusan aku membuat Sehun dan Seulgi bersatu? Kemudian Soojung Jongin berpisah? tbh, Sehun dan Seulgi itu lebih masuk akal untuk berakhir bersama di banding Jongin – Soojung. Hubungan mereka seperti yang Jongin bilang diawal, udah ga berdasarkan hanya cinta. Sehun dan Seulgi dari jaman SMA udah saling mengerti satu sama lain, mereka bahkan punya tujuan hidup sama, mereka saling menyayangi, mereka saling melindungi, saling mengerti, selama 10 chapter LFN Sehun selalu jadi prioritas Seulgi dan Sehun selalu concern about Seulgi. Ini yang bikin aku memutuskan membuat mereka berakhir bersama.

Berbeda dengan Jongin dan Soojung, aku rasa mereka cocok murni menjadi sahabat dan perasaan cinta itu muncul karena mereka terlalu sering bersama dan merasa bias dengan perasaan tersebut. Terlihat dari seperti apa perlakuan Jongin ke Soojung di LFN, dia bahkan pernah terang – terangan ngaku suka dan menyerah karena Soojung ga notice. Beda dengan Seulgi – Sehun, kata tidak pernah terucap dari bibir mereka tapi perlakuan menjawab semuanya.

Jadi, seperti inilah mereka berakhir,

bagaimana?

Leave your thought dear,, ^^

das

53 thoughts on “Letter Form Nowhere : Epilogue

  1. Terkecoh beneran ini wkwk awalnya aku kira sehun-seulgi eh taunya kok jongin sama soojung pake tua nyonya kim segala tapi kok mereka ga serumah makanya aku sempat heran :v

    Yap aku juga lebih setuju sehun-seulgi yang berakhir bersama soalnya mereka saling mengerti satu sama lain kkk

    Happy ending, ditunggu karyanya selanjutnya kak!

  2. yaampun kak ngecoh bgt sumpah.. tp dr awal baca yg soojung sama jongin itu aku udah nebak yg bersama itu paling sehun ama seulgi soalnya aneh aja klo jongin langsung ama soojung,tp baca terus baca aku kekecoh terus,smpe ending bener deh sehun ama seulgi..wuh ff kakak beda bgt sensasi bacanya,gag kya ff lain yg gmpang ketebak..sukses buat kakak ya ^^

  3. Epilog nya gak kalah keren. Akhirnya sudah kejawab semua. Aku kira Soojung berakhir sama Jongin. Karena diawal Jongin manggil Soojung ‘Nyonya Kim’ Kekekeke.. ^^
    Aku lupa kalau marga Jongin dan Myungsoo sama yaa..
    Okelah, aku ucapkan goodbye untuk LFN. Fanfic yang menyenangkan.
    Akan lebih bagus jika ini dijadikan novel loh eon, kan lumayan..
    Tinggal ganti cast aja. Dan alurnya diperjelas. Ff ini bagus banget!!
    Keep writing ya Eon!

  4. Huaa ceritanya bagus banget dari cap 1 aja aku udah nanggis sayang banget udah ending kapan ada seosen ke2nya tor hihi

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s