US | Love in Seoul – Part 5

poster us-prolog

US | Love in Seoul  – Part 5

Author : Charismagirl

Main cast :

  • Byun Baekhyun
  • Park Minri
  • Byun Chanhee

Support Cast :

  • Park Chanyeol | Ahn Sungyoung

Genre : Romance, marriage-life, family

Rating : PG-13

Length : Chapter / Series

Note : Do not copycat without my permission.

Link : Prolog | 1 | 2 | 3 | 4

***

Appa! Chanhee rasa Chanhee melihat mobil Chanyeol Ajussi tadi.”

Jinjja? Ke arah mana?”

“Mungkin ke sana.” Tunjuk Chanhee dengan jarinya yang mungil.

“Apa mungkin…” Minri menatap Baekhyun sembari tersenyum. Arah yang ditunjuk oleh Chanhee  bertepatan dengan tempat tinggal Sungyoung. Minri rasa kedua orang itu memang memiliki hubungan yang khusus. Semoga saja.

[Part 5]

“Chanyeol… ada apa kemari?” Sungyoung hampir menutup kembali pintu flat-nya saat mengetahui siapa yang telah berkunjung. Dengan rambut tergerai dan tanpa make-up, kepercayaan dirinya menyusut. Oh ayolah, siapa yang tidak malu saat lelaki tampan mengunjungimu dalam keadaan ‘terlalu’ apa adanya seperti ini.

Sungyoung tidak pernah punya tamu khusus di Seoul. Suatu hal yang langka di hari yang petang saat bel flat-nya berbunyi.

“Aku hanya ingin mengantarkan kimchi dan bulgogi dari Eomma.” Chanyeol tersenyum lebar, tanpa tahu bahwa Sungyoung sudah berdebar.

“Untukku?” tanya Sungyoung sembari menunjuk dirinya sendiri. Dan Chanyeol mengangguk mantap sebagai jawaban.

Tangan gadis itu terulur menyambut tempat makanan berbungkus kain merah yang dibawa Chanyeol. Bibirnya tersenyum lembut, membawa senyum itu sampai ke matanya membuat Chanhyeol merasa sejuk dan terpaku beberapa saat di depan pintu.

“Aku tidak tahu mengapa ibumu sampai mau repot memberiku makanan ini tapi tolong ucapkan terimakasih setulus hati dariku.”

“Aku menceritakan tentangmu semuanya pada ibuku,” ucap Chanyeol dengan gamblang, matanya menatap Sungyoung dengan intens.

“Apa?! Ma-maksudku.. terimakasih..makanannya.” Sungyoung mengerjapkan matanya cepat. Ditatap seperti itu membuat pipi dan seluruh tubuhnya terasa menghangat.

“Ah, jangan lupa besok malam. Aku akan menjemputmu. Dah… aku pulang dulu.”

“Hati-hati di jalan,” bisik Sungyoung saat punggung Chanyeol semakin menjauh. Eum… sepertinya dia akan makan enak malam ini.

***

Baekhyun kembali ke dalam kamarnya setelah meneguk segelas air dingin di dapur. Dia mendapati Minri duduk bersandar di kepala ranjang sembari memainkan tab. Hari sudah cukup larut, namun Baekhyun sempat melihat lampu kamar Chanhee masih dalam keadaan menyala. Ini aneh.

“Minri sayang, apa Chanhee sudah tidur?”

Minri mendongakan kepalanya, melihat jam dinding, lantas mengangguk.

“Kurasa sudah. Tadi aku mematikan lampu kamarnya, dan mengucapkan selamat malam.”

“Benarkah?”

“Baek, kau suka yang putih atau merah muda?” Minri menunjukkan layar tab-nya, menampilkan gambar topi rajut bayi yang lucu.

Baekhyun menghampiri wanita itu, menundukkan kepalanya sembari mencium puncak kepala wanita itu.

“Kau tahu mana yang terbaik untuk anak kita.”

“Merah muda ‘ya?” wanita itu menyengir, membuat Baekhyun gemas.

“Aku tahu kau akan memilih yang mana.” Baekhyun tertawa pelan, lalu mencium bibir Minri dengan gemas.

“Harusnya kau memilih putih, jadi kita beli dua-duanya.” Ucap Minri sembari mengendikkan bahu.

“Kau ini.” Baekhyun mencubit pelan hidung Minri. “Ngomong-ngomong, aku memeriksa Chanhee dulu, kurasa anak itu belum tidur.”

Arrasseo, byun Appa…” Minri mengusap perutnya dengan senyum bahagia dan Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk ikut tersenyum juga.

Baekhyun keluar kamar, lalu melongokan kepala ke dalam kamar Chanhee. Ternyata benar, Chanhee belum tidur. Anak itu duduk di meja belajarnya sembari memegangi pensil.

“Chanhee belum tidur?” Baekhyun masuk sepenuhnya ke dalam kamar Chanhee, lantas duduk di kasur dengan sepray bergambar batman—karakter kesukaan Chanhee.

Appa, Chanhee berasal dari mana?”

Ne?” Baekhyun menggaruk tengkuknya, mengapa tiba-tiba Chanhee menanyakan hal seperti ini padanya. Aish.

Mengapa adik Chanhee ada dalam perut Eomma? Apa Eomma menelannya?” Anak itu menyentuhkan ujung pensil di depan bibirnya.

“Chanhee sayang, nanti, saat Chanhee sudah besar, Appa akan menjawab pertanyaan Chanhee. Sekarang tidur, ya. Besok Chanhee harus sekolah.”

“Chanhee sudah besar, Appa. Chanhee sudah bisa melakukan semuanya sendiri, tanpa bantuan Eomma. Chanhee bisa mencari kaos kaki Chanhee sendiri.” Chanhee meletakkan pensilnya, lalu berjalan menuju Baekhyun. Dia menaiki kasurnya dan masuk ke dalam selimut.

Appa… ayo cerita.”

“Suatu malam—”

“Malam?”

“Oh ayolah sayang, sekarang tidur.”

Appa belum cerita apapun.”

“Bagaimana kalau Appa ceritakan tentang ibu beruang?”

“Beruang?”

“Ibu beruang yang melahirkan beruang.”

Call!

Baekhyun harus memutar otaknya lebih cepat. Mengarang cerita bukan keahliannya. Harusnya Baekhyun meminta bantuan Minri soal ini. Tapi untunglah, Chanhee tidak bertanya macam-macam lagi, karena dia terlelap bahkan sebelum Baekhyun menyelesaikan ceritanya.

***

Keesokkan harinya (Hari yang dijanjikan Chanyeol untuk pergi berkencan bersama Sungyoung).

Aish! Kenapa aku sampai lupa.” Sungyoung merutuki dirinya di depan cermin dengan handuk yang menggulung rambutnya. Dia melupakan satu hal penting. Paper bag.

Dua hari yang lalu Chanyeol memberinya sesuatu yang mungkin bisa dipakai Sungyoung untuk makan malam hari ini. Namun, Sungyoung tidak menyangka bahwa dia akan lupa membawanya pulang. Bagaimana ini?

Lima menit berlalu dihabiskannya mondar-mandir sembari berpikir. Dia tidak punya pilihan selain  kembali ke toko dan mengambil paper bag itu. Sungyoung melepaskan handuknya, lalu menggantungnya asal di samping lemari. Dia mengenakan kaos santai, jaket tebal dan celana panjang serta sepatu kets.

Dia harus bergegas.

Tepat saat Sungyoung membuka pintu. Sosok Chanyeol yang tampan, berjas licin abu-abu dan rambut yang tersisir rapi berdiri di hadapannya.

Bernapas Ahn, bernapas. Batinnya pada diri sendiri.

“Kau mau pergi?” tanya Chanyeol sembari memperhatikan Sungyoung dari atas ke bawah lalu kembali ke atas lagi. Dia rasa bukan pakaian ini yang diberikannya pada Sungyoung beberapa hari yang lalu.

“Ya, maaf, aku harus bergegas.” Sungyoung menutup pintu flat-nya, lantas bergegas turun. Chanyeol mengekor di belakang Sungyoung dengan wajah yang cemas.

“Apa terjadi sesuatu?”

Paper bag. Aku meninggalkan paper bag yang kau beri, di toko bunga. Maafkan aku membuat makan malam kita menjadi sedikit lebih lambat.”

Sungyoung melihat ke kanan dan kiri, memastikan bahwa tidak ada kendaraan yang lewat. Dia akan menyeberang namun Chanyeol tiba-tiba menarik tangannya hingga tubuh gadis itu terbawa tepat di hadapan Chanyeol.

“Kau tidak perlu memakai itu semua. Ikut aku.” Chanyeol membawa Sungyoung ke dalam mobilnya, lalu mendudukkan gadis itu di bangku depan.

“Yeol, t-tapi penampilan kita benar-benar bertolak belakang. Aku malu.”

“Sebentar.” Chanyeol melepaskan jasnya, menyisakan kemeja hitam pas badan. Pemandangan itu membuat Sungyoung menelan ludahnya. Untuk pertama kalinya Sungyoung ingin menyentuh permukaan tubuh pria itu.

Buang jauh-jauh pikiranmu, Ahn.

Chanyeol mengarahkan cermin mobil ke wajahnya, lantas menyisir rambutnya dengan tangan, membuatnya sedikit berantakan. Meskipun begitu Sungyoung tercengang. Bagaimana bisa pria itu begitu menawan dengan rambut yang berantakan. Sialan.

“Bagaimana? Kita sudah pantas jalan-jalan bersama ‘kan?”

“Ah?kurasa I-iya,” Sungyoung mengedip cepat, secepat Chanyeol mengganti sepatu hitam mengkilapnya dengan sepatu converse hitam biru tua. Sekarang pria itu tampak benar-benar kasual dan … seksi.

“Aku punya rencana bagus untuk kita berdua.”

***

Taman hiburan malam bukanlah ide buruk untuk menjadi tempat kencan. Melihat penampilan Chanyeol yang santai membuat Sungyoung merasa lebih dekat mengenali pria itu. Karena biasanya Sungyoung menemui Chanyeol bersama dengan jasnya yang licin dan dasi yang kaku.

“Kau suka daging asap, Ahn?”

Sungyoung mengangguk pelan, lalu Chanyeol membawanya ke depan stand daging asap. Penjual menyodorkan sepotong yang telah matang pada Chanyeol, lalu pria itu memberikannya pada Sungyoung.

“Enaknya,” gumam Sungyoung merasakan daging yang hangat itu melewati tenggorokannya.

Mereka berlama-lama di depan stand itu. Chanyeol tertawa saat saos menempel di pipi Sungyoung. Dia mengambil sapu tangan di sakunya, lalu membantu gadis itu membersihkan sisa-sisa saos.

Mereka berhenti saat perut mulai terasa penuh. Chanyeol mengeluarkan dompetnya. Dia membayar lebih banyak. Meskipun penjual telah memberikan kembaliannya, Chanyeol tidak mau mengambil. Bukannya bersikap sombong, tapi Chanyeol hanya merasa kebahagiaan yang dirasakannya sekarang tidak sebanding dengan uang itu. Karena begitu berharganya.

Lampu lampion berkelip indah di sepanjang taman. Sungyoung berlari kecil, menikmati angin berhembus menerpa wajahnya. Chanyeol mengeluarkan ponselnya dan memotret gadis itu tanpa sepengetahuannya. Tawanya lagi-lagi membuat Chanyeol berdebar.

“Apa kau masih bisa makan es krim?” tanya Sungyoung.

Ne.”

Call! Ayo makan es krim!”

Dengan masing-masing memegang es krim di tangan, keduanya menikmati pemandangan sungai Han yang indah. Lampu seperti air terjun menghionptis mereka berdua.

“Aku tidak menyangka kita akan berkencan seperti ini.” Kedua matanya tidak lepas dari warna-warni lampu air terjun buatan.

“Karena melamar di restoran mewah sudah terlalu mainstream.”

“Hah?” Sungyoung menghadapkan wajahnya pada Chanyeol, lalu pria itu balas menatapnya. Chanyeol menghabiskan eskrimnya dengan cepat.

“Sungyoung-ah, maukah kau menikah denganku?” Chanyeol mengambil cincin di sakunya, lalu membuka kotak itu. Kilauan permata putih tampak begitu menawan.

Sungyoung berhenti menjilati es krim, lalu mendongak memandang Chanyeol. Dentuman jantungnya seperti detak jam yang menghitung saat-saat itu. Karena tidak begitu fokus, Sungyoung tidak sadar bahwa Chanyeol telah memasangkan cincin di jarinya.

“Karena kau sudah memakainya. Anggap saja kau sudah menerimanya.”

“Apa?” Sungyoung menelan ludahnya “Kau curang.” Gadis itu mengangkat tangannya dan menatap benda berkilau yang tampak begitu indah di jarinya. Gadis itu diam-diam mengagumi. Bukan tentang nilai mahalnya cincin itu, tapi makna yang terkandung di dalamnya. Dia dilamar seorang pria yang dicintainya. Yang benar saja! Dreams come true!

“Baiklah, kalau kau tidak ingin, buang saja ke sungai.” Chanyeol mengangkat satu alisnya. Harusnya tidak seperti itu. Harusnya semua berakhir dengan romantis.

“Tidak mau!” Sungyoung menggenggam tangannya lalu mengamankannya di dada. Dan secara tidak langsung dia telah menerima lamaran Chanyeol. Mukanya memerah.

“Aku hanya bercanda.” Chanyeol tersenyum lembut, lalu menyapukan es krim ke hidung Sungyoung, membuat gadis itu mengerutkan hidungnya lucu. “Janji tidak akan melepaskannya?”

Satu anggukkan kecil dari gadis itu membuat Chanyeol merasa akan musim semi sepanjang tahun.

Sebelum Sungyoung sempat menarik napas, Chanyeol telah mencium hidungnya, menghilangkan jejak es krim. Kemudian pria itu beralih ke bibirnya, mengecup bibir gadis itu dengan lembut beberapa kali. Rasa manis es krim terbagi dari mulut mereka. Lalu seolah kekuatannya tersedot habis, Sungyoung menjatuhkan es krimnya. Dia berpegang di kepala belakang pria itu, mengacak rambutnya yang gelap.

Ciumannya terasa begitu manis. Dan Sungyoung tidak ingin malam itu berlalu begitu cepat.

***

Hari berikutnya dimana mentari bersinar cerah sekali, dimana Sungyoung tersenyum jauh lebih cerah dari hari-hari sebelumnya.

“Terimakasih sudah berkunjung,” ucap Minri saat seorang pelanggan telah selesai membeli se-bucket besar bunga mawar putih, merah dan merah muda. Minri memperhatikan benda asing yang baru dilihatnya di salah satu jari Sungyoung.

Eonni, persediaan mawar merah tinggal sedikit,” ucap Sungyoung sembari menghitung dengan jari-jarinya. Dia tidak tahu kalau Minri diam-diam tersenyum.

“Ahn! Ada serangga di tanganmu.”

“Mana?! Mana!!” Sungyoung mengibaskan tangannya kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memastikan bahwa serangga yang Minri maksud sudah pergi. Tapi wanita itu tampak tertawa. Sungyoung merasa baru saja di kerjai. Gadis itu mengerucutkan bibirnya. “Eonni~

“Ah, bukan serangga.” Minri menarik satu tangan Sungyoung, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan. Cincin yang tersemat di jari Sungyoung berada di hadapan mereka berdua. “Jadi… apa yang belum aku ketahui tentang ini?”

Sebelum sempat mengucapkan apapun, Sungyoung melingkarkan tangannya di bahu Minri, memeluk erat wanita yang dianggapnya sudah seperti kakaknya sendiri itu. Minri melakukan hal yang sama sembari mengusap punggung Sungyoung.

Eonni… Chanyeol melamarku.”

“Aku turut berbahagia, Ahn. Aku harap Chanyeol adalah pria terbaik untukmu.”

Sama sekali tidak ada hal mengharukan yang diucapkan Minri, namun Sungyoung merasa air matanya sebentar lagi akan tumpah.

“Terimakasih, Eonni.”

“Aku penasaran bagaimana cara Chanyeol melamarmu.”   Minri menjauhkan tubuhnya dari Sungyoung.

“Aku bisa menceritakan semuanya pada Eonni. Atau sebagian saja.” Sungyoung merasa pipinya memanas, mengingat ciuman manis bercampur eskrim di bibirnya.

“Ey, memangnya apa yang aku tidak boleh ketahui…” Minri mencubit pelan pipi Sungyoung, sementara gadis itu menghindar. Minri berhenti mengejar Sungyoung, ketika pelanggan masuk ke dalam toko mereka.

***

Langit sudah gelap saat Baekhyun memasuki gedung apartment-nya. Tubuhnya terasa begitu letih karena dia harus lembur menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Baekhyun berhenti sesaat untuk melenturkan otot-otot bahunya. Kenyataan bahwa ada yang menyambutnya dengan senyuman hangat seolah mengisi energinya untuk segera sampai ke tempat tinggalnya itu. Baekhyun mempercepat langkahnya.

“Aku pulaaang….” Seru Baekhyun saat ia baru saja memasuki apartment-nya. Tampak sepi dan tidak ada suara apapun. Baekhyun melangkah lebih dalam.

“Kau sudah pulang? Selamat datang~!” Minri baru keluar dari kamar Chanhee menghampiri Baekhyun dengan setengah berlari. Dia sempat tersandung kakinya sendiri, membuat Baekhyun terkesiap dan refleks memegangi tubuh wanita itu.

“Kau harus lebih hati-hati, Sayang.” Minri berdiri tegak lantas tersenyum dengan wajah tidak bersalah.

“Maaf,” ucapnya lantas memeluk Baekhyun erat.

Baekhyun melesakkan kepalanya di sela leher wanita itu, menghirup aroma sampo yang begitu menyegarkan. Hidungnya menyusuri pelan leher wanita itu, membuat Minri sedikit  geli.

“Kau sudah makan?” tanya Minri. Dia memberi jarak pada tubuh mereka berdua.

“Sudah,” jawab Baekhyun lalu mengecup gemas bibir Minri. Minri membantu Baekhyun melepaskan dasi dan jasnya, lalu memeluk Baekhyun lagi mengayunkan pelan tubuh mereka berdua.

“Chanhee baru saja tidur. Anak itu ingin menunggumu pulang, tapi kurasa dia sudah lelah makanya aku memintanya untuk tidur.”

Baekhyun kembali mendekatkan wajahnya pada Minri, namun wanita itu menutup mulutnya dengan satu tangan.

Huek!

“Kau kenapa? Kau tidak apa-apa?” Baekhyun memegang kedua bahu Minri. Raut mukanya berubah khawatir. Baekhyun mencoba membantu wanita itu untuk duduk di sofa namun tampaknya Minri tidak beranjak sesentipun dari tempatnya berdiri. “Harusnya kau istirahat yang cukup. Tidak perlu menungguku. Kesehatanmu dan bayi kita sangatlah penting. Aku tidak ingin—”

Minri meletakkan telunjuknya di depan bibir Baekhyun, lalu beralih ke dada Baekhyun. “Kau juga hal yang sangat penting. Kau bekerja keras untuk kami semua. Tak banyak yang bisa aku lakukan untukmu, selain menunggumu pulang, dan memelukmu. Jadi, biarkan seperti itu.”

“Terimakasih, Minri-ya.” Baekhyun memeluk Minri singkat, lalu menatap wanita itu lagi. “Ngomong-ngomong kau sudah tidak mual lagi?” Minri balas menatap Baekhyun dengan mata mengedip lambat. Lantas tertawa.

“Aku bercanda, Baek.”

“Kau ini.” Baekhyun memegang tengkuk wanita itu lalu tersenyum setengah. “Ini hukuman karena kau telah mengerjaiku.”

“Hmmpph, Baek… Hahaha… ampunhhmpp…” Baekhyun menciuminya tanpa henti tidak hanya di bibir, tapi leher dan bahunya juga menjadi sasaran.

Setelah Baekhyun berhenti, Minri melingkarkan tangannya di pinggang pria itu, lantas menyandar nyaman di dadanya.

“Aku sayang padamu, Baekhyun.”

“Aku juga sayang padamu, pada kalian semua.”

***

Tiga bulan berlalu. Selama itu pula Sungyoung sibuk belajar mempersiapkan diri melewati ujian akhir di universitas. Usahanya tidak sia-sia. Karena namanya terpampang diurutan sepuluh teratas dari ratusan mahasiswa yang mengikuti ujian. Orang pertama yang diberinya kabar bahagia itu adalah Chanyeol.

Hari kelulusan pun tiba. Sungyoung berharap Chanyeol dan keluarga Byun akan datang. Dia tidak perlu bucket bunga—karena hampir setiap hari Sungyoung berhadapan dengan itu semua. Sungyoung hanya butuh kehangatan keluarga dan mungkin beberapa pelukan.

Sungyoung menunggu dengan bosan di depan gedung universitas. Dengan topi toga dan tanda kelulusan gadis itu harusnya bahagia. Tapi orang-orang yang diharapkannya hadir belum juga muncul.

Teman-temannya berfoto bersama keluarga mereka masing-masing. Sedikit membuatnya iri.

Noona!” Suara Chanhee membuyarkan lamunannya. Dia mendongak dan tersenyum lebar melihat kedatangan keluarga Byun dan juga Chanyeol. Chanhee mengenakan jas hitam rapi dan celana panjang yang senada. Kalau seperti itu, Chanhee benar-benar mirip dengan Baekhyun. Anak itu manis sekali!

“Ahn…”

Eonni!” Sungyoung melompat ke pelukan Minri, hampir saja membuat wanita itu terhuyung ke belakang. “Terimakasih sudah datang. Kalian memang keluarga bagiku.”

“Aku harap aku tidak menangis.” Minri balas memeluk Sungyoung lalu tertawa pelan. Selama kedua wanita itu berpelukan, ada tiga orang lelaki yang sedang menatap mereka dan dua diantaranya juga menunggu pelukan.

Noona, peluk aku juga.” Chanhee mengerucutkan bibirnya, membuat Sungyoung tertawa pelan. Tanpa Chanhee minta pun, Sungyoung pasti akan memeluknya.

Sungyoung membungkukkan tubuhnya, lantas memeluk Chanhee. Tangan mungil anak itu menepuk bahunya pelan. Rasa-rasanya Chanhee sudah tumbuh besar dan lebih tinggi dari sebelumnya.

Chukkaeyo, Noona.”  Ucap Chanhee sembari tersenyum.

“Selamat, ya.” Baekhyun menepuk puncak kepala Sungyoung lalu turun ke bahu gadis itu. Baekhyun tahu, Sungyoung sudah berusaha begitu keras untuk mencapai di titik ini. Kalau Sungyoung benar-benar mengganggap mereka keluarga, maka Baekhyun merasa gadis muda itu adalah adik iparnya.

“Chanyeol…” hanya satu kata itu yang meluncur dari mulut Sungyoung saat dia bertemu pandangan dengan pria tinggi yang berdiri di belakang Baekhyun, memegang bucket bunga yang cukup besar dan tersenyum lembut padanya. Pria itu melangkah maju menghampirinya hingga berada tepat di depannya Sungyoung mendongak.

“Selamat atas kelulusanmu.”

Sungyoung mengambil bunga dari tangan Chanyeol, kemudian memeluk pria itu dengan erat dengan lengannya. Dia masih bisa melakukannya meskipun menggenggam bucket bunga. Minri tentu saja tidak ingin melewatkan momen itu. Dia pasti memotretnya.

“Aku bangga padamu, Ahn.” Chanyeol mengusap belakang kepala gadis itu. Kemudian memberi jarak untuk sekedar saling menatap. Chanyeol memajukan wajahnya, mencium kening gadis itu. “Kita akan menikah, dua minggu lagi.”

“A-apa?” Sungyoung menatap Chanyeol dengan tidak percaya.

“Aku menunggu hari ini untuk mengatakannya padamu. Aku tidak ingin menganggu konsentrasi belajarmu kalau mengatakan ini dari awal.”

“Kau benar-benar pengertian. Tapi, apa mungkin persiapannya hanya dua minggu ‘Yeol?”

“Kalau kau menanyakan tentang kesiapan mental maka sepenuhnya aku siap bersamamu.”

Chanyeol baru akan mencium bibir gadis itu saat suara Chanhee menyadarkan mereka berdua.

Aaack!” Chanhee menutup kedua matanya dengan tangan. Lalu Minri dan Baekhyun tertawa.

“Lakukanlah. Chanhee tidak akan mengintip.” Ujar Minri.

A-aniyo… lebih baik kita berfoto bersama.”

***

Sungyoung berada di apartment Minri. Hanya ada Sungyoung Minri dan Chanhee dalam apartment itu.

“Ahn, sebaiknya kau berhenti bekerja denganku. Sebentar lagi kau akan menjadi istri Chanyeol.”

“Kenapa? Aku senang bekerja di toko bunga itu.”

“Bukan aku tidak ingin memperkerjakanmu lagi. Tapi, usia kandunganku mulai membesar dan aku rasa Baekhyun tidak setuju kalau aku terus bekerja. Jadi, aku akan menyewakan tempat itu pada orang lain. Bagaimana?”

Sungyoung tampak menunduk sedih. Begitu banyak kenangan yang tercipta di toko bunga itu. Sungyoung sudah sangat betah bekerja disana.

“Ahn, kau tetap bisa merawat bunga-bunga karena Chanyeol…. telah membuatkan taman kecil di balkon apartmentnya.” Minri berbisik di akhir kalimatnya. “Jangan bilang bahwa aku sudah mengatakannya padamu. Ini rahasia.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

“Semua terserah Eonni. Aku senang pernah bekerja bersama Eonni dan aku menunggu adik Chanhee.”

“Sekarang aku lega. Ngomong-ngomong persiapan kalian sudah sampai mana?”

Sungyoung menggaruk pipinya, merasa malu karena dia sama sekali tidak tahu tentang persiapan apa saja yang sudah dilakukan Chanyeol. Chanyeol bilang akan mengajaknya ke toko gaun hari ini, tapi pria itu belum juga menghubunginya.

Sungyoung telah bertemu dengan keluarga Chanyeol. Ayah, Ibu dan kakak perempuan Chanyeol. Mereka bersikap begitu baik pada Sungyoung, bahkan Sungyoung hampir menangis saat dipeluk ibu Chanyeol. Baru pertama kali bertemu, wanita itu sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Betapa beruntungnya.

“Mungkin hari ini kami akan mencoba baju pernikahan.”

“Wah! Aku tidak sabar menunggu kau mengenakan gaun. Pasti cantik sekali.”

Eonni bisa saja. Kalian harus datang tepat waktu ya,” ujar Sungyoung memperingatkan.

“Siap. Kami juga akan menyiapkan kado untukmu.”

***

Dua minggu itu berlalu begitu cepat. Sampai-sampai Sungyoung tidak sempat melingkari tanggal di kalendernya.

Hari pernikahannya telah tiba. Sungyoung tidak menyangka dia benar-benar akan menikah dengan seorang pria yang telah lama membuatnya terpesona. Meskipun perkenalan mereka bisa dibilang cukup singkat. Tapi Sungyoung sudah yakin pada dirinya bahwa Chanyeol adalah yang terbaik.

Gaun putih berornamen biru muda membalut tubuh Sungyoung yang mungil. Gadis itu tampak seperti putri. Bercahaya di bawah sinaran mentari pagi. Dan tentu saja, pangeran tampan di sampingnya telah siap mengucapkan janji pernikahan bersamanya. Chanyeol mengenakan tuxedo putih—yang tidak pernah Sungyoung bayangkan—betapa mempesonanya pria itu.

Mereka berdua sepakat untuk memilih taman belakang rumah Chanyeol yang luas sebagai tempat acara pernikahan mereka. Tidak begitu mewah namun terkesan manis, dipenuhi bunga kesukaan Sungyoung.

Detik-detik berlalu begitu sakral. Mereka berdua mengucap janji. Hingga kata ‘bersedia’ terucap di bibir mereka berdua, lalu mereka telah dinyatakan resmi menjadi suami istri. Kenyataan itu membuat Sungyoung ingin menitikkan air matanya—air mata kebahagiaannya.

“Aku mencintaimu, Ahn.” Chanyeol memegang kepala gadis itu lalu mencium keningnya lama, hingga tepuk tangan tamu undangan menyadarkan mereka berdua.

Aku mencintaimu, Park Chanyeol.

***

Langit telah menjadi gelap. Kerlipan bintang mulai terlihat. Suasana kamar Chanyeol begitu canggung dan sepi. Hanya terdengar suara deru pendingin ruangan. Padahal ada dua orang yang sedang berada di dalam sana.

Sungyoung memegang ujung selimut yang menutup badannya sampai hidung. Sesekali matanya melirik ke samping. Tidak ada yang bicara sejak Sungyoung dan Chanyeol berbaring di kasur yang sama itu. Keduanya tampak lucu memakai piyama pasangan, yang telah disiapkan oleh ibu Chanyeol.

”Ahn, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Chanyeol sembari menoleh.

Sungyoung menelengkan kepalanya, menatap pria tampan yang berada di sampingnya. Sulit dipercaya bahwa pria itu sekarang telah resmi menjadi suaminya. Mereka adalah pasangan suami istri. Sungyoung menyadari bahwa hidupnya telah berubah. Dia tidak tinggal di flat lagi.

“Entahlah, aku hanya merasa asing berada satu kasur dengan… pria.” Jawab gadis itu, dengan jujur.

“Kalau kau merasa tidak nyaman, aku bisa tidur di sofa.” Chanyeol menggaruk tengkuknya sembari menyengir. Dia menyibak pelan selimutnya, namun Sungyoung menahan tangannya.

“Bu-bukan itu, suamiku.”

Chanyeol mengerjapkan matanya “Kau bilang apa—aniyo, kau memanggilku apa?”

“Suamiku.” Sungyoung mengulang perkataannya lalu menarik selimut sampai ujung kepala, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.

Chanyeol tertawa pelan, lalu kembali berbaring. Dia membuka selimut yang menutup tubuh Sungyoung perlahan, menatap wajah gadis itu, sangat cantik dengan rona merah muda yang samar.

“Berarti, mulai sekarang kau harus membiasakan tidur dengan pria. Jangan menjerit saat bangun pagi nanti kalau kau menemukanku memelukmu seperti ini.” Chanyeol memeluk Sungyoung dengan cukup erat, membuat gadis itu dapat menghirup aroma maskulin dari tubuh Chanyeol. Sungyoung tersenyum malu sembari memukul pelan dada Chanyeol.

“Aku tidak akan menjerit.” Daripada memikirkan hal-hal yang janggal di pagi hari, Sungyoung malah membayangkan akan menemukan wajah tampan Chanyeol saat membuka mata dan itu sudah cukup membuatnya bahagia.

Chanyeol melepaskan pelukannya, lalu membuat gadis itu sepenuhnya menghadap padanya. Sungyoung mengerjapkan matanya dengan polos, Chanyeol mendekatkan wajahnya, mencium bibir gadis itu. Sungyoung mengerjap beberapa saat sebelum akhirnya memejamkan mata, mengikuti permainan lelaki itu.

Chanyeol menciumku. Rasanya lebih manis dari malam itu. Padahal kami tidak makan es krim.

Suara kecapan dari bibir mereka yang beradu memenuhi kamar itu. Sungyoung memutus tautan bibir mereka saat dia rasa dia memerlukan udara. Chanyeol tersenyum, jarinya bergerak menyapu ujung bibir Sungyoung yang sedikit lembab.

Chanyeol kembali mengejutkannya. Lelaki itu menggulingkan tubuhnya hingga ia berada di atas Sungyoung. Tubuh jangkung itu memerangkapnya. Segala pesona yang dimiliki lelaki itu membuat Sungyoung tidak bisa berbuat banyak, termasuk menolak jika pria itu akan menciumnya lagi.

Dan Chanyeol menciumnya lagi. Lagi. Lagi.

Ciuman itu terasa semakin panas saat Chanyeol menyelipkan lidahnya, mengajak lidah gadis itu untuk berperang.

Eunghh…” Sungyoung tidak bisa berhenti. Dia tidak ingin berhenti. Bibir lelaki itu seperti candu. Kedua tangannya berada di belakang kepala lelaki itu, menjambak rambutnya, menahan kepala lelaki itu agar tidak kemana mana.

“Chan—yeol.”

***

Berbulan-bulan berlalu. Minri menikmati masa-masa janinnya yang semakin membesar. Chanhee dan Baekhyun kompak membantu Minri dalam hal apapun, Minri merasa begitu bahagia.

Tapi suatu siang, saat Minri tiba-tiba merasa pusing. Perutnya berkontraksi, membuatnya meringis menahan sakit. Rasa sakit itu hampir membuatnya pingsan. Minri yakin belum saatnya Minri melahirkan. Malangnya saat itu Baekhyun tidak ada di rumah. Dengan tenaganya yang tersisa Minri menelpon Baekhyun. Minri hampir saja menjatuhkan ponselnya saat dia melihat tetesan darah di lantai keramik rumah.

“Baekhyun, tolong aku….”

*TBC*

Apa yang terjadi pada Minri dan bayinya … *smirk*ups*

Haaai!! Aku tau ini telat banget banget banget;-; hiks. Maafkan aku.

PART DEPAN ADALAH ENDING. Mohon bersabar. Aku mau ujian dulu :’) doain ya.

Masih suka sama ff ini?

Keep support and comment ya.

Dan juga, MAAF BANGET GABISA BALES KOMEN KALIAN. HIKS  (tapi tenang aja aku baca komentar kalian semua kok!)

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI!! ^^ (bagi yang merayakannya)

Makasih udah mau nunggu dan baca ff ini. Salah khilaf mohon maaf. See you next part.

Charismagirl, 2015.

40 thoughts on “US | Love in Seoul – Part 5

  1. Ping-balik: US | Love in Seoul – Part 6 [end] | EXO Fanfiction World

  2. EONNIYAAAA!!!
    Aku bener2 telat. Banget. Sorry puppyeyes
    Oke, ga perlu kujelasin apa aja alasan yg bikin aku telat komen. Aku percaya eonni pasti ngerti😉
    HUAAAAA~ baru awal udah disodorin tampilan ala singa seorang ahn sungyoung. Tega banget sumpah. Asy jelek banget tau!!-_-
    Mana yg bertamu ternyata….cowok-paling-ganteng-di-dunia-abad-ini-versi-ahn-sungyoung *brb bekep mulut*
    Park eommoni!~ you’re the best!!
    Belum pernah ketemu padahal eh udah dikirimin makanan aja. Duh/\
    Eyy, jadi mereka berdua sama2 terpesona sama senyuman masing2 begitu? Kok maniiiis?~
    Duh, pcy~ padahal asy cuma bantu pilihin bunga aja, eh sampe segitunya. Kan jadi malu/\

    Chanhee kok emesin? Baru kelas 1 SD tapi udah cerdas banget ngomongin soal biologi. Sistem reproduksi lagi kkk
    Poor bbh~ untung caranya jitu. Coba kalo nggak, atau salah ngomong. Bisa diomelin pmr abis2an dia ;D

    Ahn sungyoung ceroboh!! Bisa2nya lupain soal paperbag astaga/\
    Padahal pcynya udah bisa dipastikan super duper ganteng pakai pakaian formal. Tapi sendirinya duh.
    Dan sekalipun pcy udah ubah penampilannya jadi sedikit berantakan, tetep aja ga sepadan:/
    Yak!!! Masih sempet2nya mikir buat nyentuh dada orang. Huaaa, jgn bikin karakter asy jadi mesum disini;-;

    Taman hiburan malam. Well, gak kupungkiri. Pertama kali aku baca itu berasa kayak baca “tempat hiburan malam” dalam artian negatif. Duh maafkeun/\
    Asy bener2 jadi bocah deh. Makan mulu duh/\
    pcy beneran bahagia, duh padahal baru jalan sama makan daging asap aja/\
    Suasananya romantis banget! Serius. Belum apa2 udah dibikin melting duluan
    Eh tapi ada rasa mau ketawa pas baca narasi yg bilang pcy abisin eskrimnya dulu baru bener2 ngelamar. Ternyata eskrim lebih berharga ya kkk ;D
    Konyol. Pas poin utamanya itu emg ga ada romantis2nya sama sekali, tapi seru! Aku suka. Ya walaupun bagian pcy malah nyuruh buang cincinnya itu salah kuartikan kalo pcy ga bener2 pengen asy jadi istrinya, tapi aku suka bgt respon asy. Karakter rumah ajaib banget! Udah kayak anak kecil yg nggak suka mainannya diambil ;D
    Jadi cincin lamarannya gak berniat diganti sama cincin nikah nih sampe ga boleh dilepas? Kkk
    HUAAAAA, FIRST KISS ASY!!!!!/\

    Btw, ini asy sengaja apa gimana sih main2in tangannya gitu? Duh, berasa sebenernya punya niatan mau pamer sama pmr;D
    Soal ciuman jelas harus jadi rahasia kan. Kan malu kalo diceritain/\

    Bbh suami yg selalu tanggap. Pmr harus hati2 makanya. Pmr kan lagi hamil.
    Pmr ini sengaja bikin bbh khawatir ya? Kasian tau udah panik begitu! Astaga/\
    Ihiyy hukumannya kiss attack~
    Manisnyaaaaa~😉

    Eyy, jadi diem2 pas asy fokus ujian, pcy fokus ngurusin pernikahan gitu? Curang! Ga bilang2 dulu pout
    kupikir asy bakal peluk chanhee duluan, taunya peluk pmr dulu kkk
    Ini cuma bbh yg ga dipeluk ya? Ah! Sayang banget :p
    Pmr ini, cuma peluk padahal udah difoto2 ajapout
    Nikah?! Baru juga lulus. Belum mikirin buat kerja dan sbgainya. Ish pcy ini-_-

    Sayang bgt toko bunganya dijual:/
    Eyy, pmr kasih tau rahasia orang. Nanti pcy marah lho. Kan jadi ga surprise lagi

    FINALLY!!!! Akhirnya pcy nyatain cinta juga!! Duh, nyatain cinta aja nungguin pas udah resmi. Whoa, nikah!!!!! ;D

    EONNIII!!!!! Kenapa beneran dibikinin scene first night?! Kan jadi malu, mana disini……asy yg dijelasin bener2 terpesona, duh/\

    PMR MAU LAHIRAN!!!!
    Eonni?!?!?! Pake scene lahiran jihye aja udah cukup menegangkan! Ini kenapa malah ditambahin ga ada siapa2 dirumah?! Yak!!! Siapa yg nyuruh!! Ish, eonni mah;-;
    Mana naro tbc-nya disitu lagi. Double ish!!
    Mana (lagi) nanti lanjutannya bakal lama diposting pout
    Boleh aku minta bocoran setelah sidang—ups kabooooor
    Setelahnya, aku makasih banget karna kurasa chapter ini spesial buat asypcy. Makasiiiiiih banget. Dan maaf komenku mengular panjang begini isinya ga penting semua

    Udah segitu aja. Nanti kalo ada komen tambahan mari bicarakan di forum lain;)
    Semangat buat sidangnya, eonniku sayang~ smooch smooch smooch

    With♡
    Asy rp

  3. Ya allah demi apaa part 5 udh adaaaa??? Yaa ampun aku baru tauu ya ampunn..
    CHANYEOL SUNGYOUNG?? AAAAA hihihi kerennnn ya ampun itu adegan pas mereka lagi dikasur.. parahhh hahahaha ngebayangiinnya aja merinding..
    Minri?? Kenapaa?? Ya ampun Baek cepet itu minri mau melahirkannn!!
    Kaka part 6nya kpnn?? Aku penasaran parahh.. 짱!!♥♥

  4. akhirnya sungyoung dan chanyeol menikah (padahal broken heart) *wkwkapaini😀
    apa yg terjadi sma minri ? smga di baik2 ajaa
    ditunggu part selanjutnya ka

Your Comment Please

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s